Issuu on Google+

Gratis!

Seperti air hujan menghapus jejak kaki

Langkah Buletin

September, 2010


Editorial

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H Minal Aidin Walfaizin Mohon Maaf Lahir dan Batin

Koordinator Langkah Wakil Koordinator

Keuangan

Daftar Isi Nelly Sukma Ismara

Dara Umi Sukmawati

Pemimpin Redaksi

Setelah sebulan penuh kita melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, sungguh terasa kemenangan bagi kita di akhir Ramadhan tersebut. Itulah momentum umat muslim di dunia dalam merefleksikan diri atas kesucian hatinya terhadap hubungan kepada Tuhan maupun hubungan kepada sesama. Di saat-saat itu pula Buletin Langkah tidak mendiamkan diri dari rutinitasnya. Dengan mengucapkan syukur dan menghela nafas semangat, Buletin Langkah edisi September dapat dipublikasikan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Di bulan September ini kami, segenap Tim Buletin Langkah maupun anggota Langkah lainnya mengucapkan “Mohon maaf yang setulus-tulusnya kepada publik, dan kepada seluruh pembaca. Minal Aidin Walfaizin.� Kami sebagai manusia, karena pada dasarnya manusia memiliki ketersinggungan, kesalahan, maupun kekhilafan, merasa membutuhkan jalinan sesama manusia dengan baik. Kehadiran Buletin Langkah tidak ingin membiarkan diri kesalahan-kesalahannya tercecer di publik. Kami akan selalu berusaha membenahi kesalahan-kesalahan yang tertuang di Buletin Langkah menjadi ketidaksalahan.

Hal

Esai Vagina yang Haus Sperma: Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami

2-6

Seperti Ruang

11

(Katrin Bandel)

Fredy Wansyah

Tirena Oktaviani

(Den Bagus)

Cerpen Tukang Becak

(Ratu Anggita Partawijaya)

Para Pekerja lainnya

Fresty Deriyanti Zulfikar Tnuk Dicky Kreebo Fusila Insani Wahid Ibrahim

Kami menerima kritik, saran, ide, maupun tulisan berupa esai, puisi, dan cerpen. Silakan kirim ke email komsas_langkah@yahoo.com

8

Cerbung Legenda Sang Raja Garuda

16-17

Puisi Puisi Aditya Ameng Layaran Puisi Angga Norfauzan Puisi Nelly Sukma Ismara

7 13 14

(Dicky Kreebo)

Puisi Terjemahan Puisi-Puisi Yehuda Amichai

(Wahid Ibrahim)

10


Esai

Halaman 2

Buletin Langkah, September 2010

Vagina yang Haus Sperma:

Katrin Bandel

Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdebat dengan seorang kawan mengenai karya Ayu Utami. Setelah membaca beberapa tulisan saya yang mengkritik karya itu dan mempertanyakan politik sastra seputarnya, kawan saya tersebut dapat memahami pandangan saya. Tapi meskipun demikian, baginya novel Ayu Utami tetap memiliki sebuah kelebihan: Menurut pengamatannya, novel Saman merupakan karya pertama yang dengan cukup tepat merepresentasikan gaya hidup kelompok masyarakat tertentu, yaitu gaya hidup yang dipilih sebagian perempuan kelas menengah perkotaan di Indonesia (terutama Jakarta). “Memang seperti itulah gaya hidup dan pergaulan sebagian kerabat dan kenalan saya di Jakarta”, jelas kawan saya itu dengan merujuk pada deskripsi kehidupan keempat tokoh perempuan muda dalam novel Saman dan Larung. “Baru dalam novel Ayu Utami saya menemukan representasi realitas yang saya kenal tersebut.” Mungkin penilaian kawan saya tersebut ada benarnya. Tidak banyak novel yang menggambarkan kehidupan perempuan kelas menengah perkotaan Indonesia sebelum terbitnya Saman (1998), apalagi dengan fokus perilaku seks. Menurut pandangan saya, pada dasarnya gaya hidup perempuan kelas menengah bukan tema yang tidak menarik atau tidak relevan sebagai tema utama sebuah novel Indonesia. Namun ada hal yang bagi saya terasa sangat mengganggu pada novel Saman/Larung dan wacana seputarnya. Baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, novel Ayu Utami tersebut umumnya tidak diperkenalkan dan dibicarakan sekadar sebagai representasi gaya hidup sekelompok perempuan perkotaan (yaitu kelompok masyarakat yang relatif kecil). Karya Ayu Utami kerapkali diperkenalkan sebagai karya feminis yang dengan berani dan subversif menyuarakan perlawanan baik terhadap tabu seputar seksualitas maupun terhadap rejim Orde Baru. Disamping itu, bahasa dan gaya tulisnya konon mengandung pembaharuan yang mengagumkan. Sejauh ini saya belum pernah membaca pembahasan yang dapat menerangkan secara argumentatif mengapa karya Ayu Utami dapat disebut feminis atau pembaharuan bahasa dan gaya tulis apa yang dilakukannya. Tulisan yang saya baca sering begitu saja mengasumsikan kelebihan-kelebihan tersebut. Dalam pembahasan berikut saya ingin menjelaskan mengapa penilaian tersebut, khususnya penilaian bahwa karya Ayu Utami adalah karya feminis, merupakan penilaian yang salah dan menyesatkan. Disamping itu saya ingin menunjukkan bahwa kesan yang menyesatkan tersebut bukanlah hal yang bisa dilepaskan dari tanggung jawab Ayu Utami dan komunitasnya. Baik dalam novelnya, maupun dalam sebuah esei seputar proses kreatifnya, Ayu Utami sendiri dengan cukup jelas menyampaikan harapannya agar novelnya dibaca sebagai karya feminis dan sebagai pembaharuan gaya tulis. Pesan serupa juga disampaikan dalam sebuah tulisan yang mengawali resepsi novel Ayu Utami di luar Indonesia, yaitu tulisan Goenawan Mohamad berjudul “Ayu Utami The Body Is Heard” dalam buku 2000 Prince Claus Awards. Saya sudah cukup sering menulis dan berbicara tentang Ayu Utami dan Komunitas Utan Kayu. Masih perlukah pembahasan itu diperpanjang? Bukankah masih banyak karya sastra lain yang lebih menarik dibahas? Bagi saya, Ayu Utami tetap relevan dibahas bukan karena karyanya luar biasa menarik atau karena tidak ada karya lain yang pantas dibahas, tapi karena sampai saat ini penilaian menyesatkan yang saya sebut di atas tetap memiliki pengaruh yang cukup besar. Tidak jarang saya menjumpai orang yang secara spontan menghubungkan feminisme dengan Ayu Utami, kadang-kadang bahkan sambil menyamakan feminisme dengan pembebasan seksual atau dengan seks bebas. Definisi feminisme yang keliru tersebut cukup merugikan menurut pandangan saya karena menimbulkan kesan seakanakan “maju” atau “terbelakang”nya seorang perempuan tergantung terutama pada perilaku seksualnya. Disamping itu, di dunia sastra dan kritik sastra (termasuk dunia akademis) pun pandangan tentang kelebihan-kelebihan karya Ayu Utami tetap kuat. Hal itu bukan hanya menguntungkan Ayu Utami dan komunitasnya secara finansial dan dari segi reputasi, tapi juga mempengaruhi penilaian terhadap karya sastra lain. *** Pada bulan Maret-April 2008 sebuah esei saya yang berjudul “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa” diterbitkan di koran Republika. Esei tersebut menimbulkan perdebatan yang cukup sengit di sebuah mailing list, yaitu mailing list jurnalperempuan@yahoogroups.com. Di sini saya tidak bermaksud melanjutkan perdebatan tersebut secara keseluruhan, tapi saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk secara khusus membahas salah satu teks yang memiliki peran penting dalam wacana seputar representasi Ayu Utami dan karyanya di Eropa. Teks tersebut adalah tulisan “Ayu Utami The Body Is Heard” oleh Goenawan Mohamad yang dimuat di buku 2000 Prince Claus Awards. Buku yang diterbitkan dalam rangka merayakan dan mendokumentasikan pemberian penghargaan Prince Claus kepada ke-11 pemenang (satu pemenang utama dan 10 pemenang lainnya, di antaranya Ayu Utami) pada tahun 2000 tersebut tidak dijual secara bebas, juga tidak dapat diakses lewat internet. Karena keterbatasan akses itu, dalam esei “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa” saya terpaksa hanya menggunakan beberapa bagian dari teks tersebut, yaitu bagian yang sempat dikutip oleh penulis lain. Namun saat ini buku 2000 Prince Claus Awards sudah berhasil saya dapatkan. Maka kesempatan ini akan saya manfaatkan untuk membahas teks tersebut secara lebih menyeluruh.

Doc: Erica Leighton

Oleh

Tulisan Goenawan tersebut relatif pendek (2 halaman), tidak jauh berbeda daripada tulisantulisan lain dalam buku itu (kecuali tulisan tentang pemenang utama). Novel Saman (yaitu satusatunya karya fiksi Ayu Utami yang sudah terbit pada saat itu) hanya dibahas secara amat singkat di akhir tulisan tersebut. Selain itu Goenawan merujuk pada beberapa esei Ayu Utami, namun tidak menyebut judulnya dan di mana esei tersebut diterbitkan. Oleh karena itu, pembacaan Goenawan terhadap esei tersebut sulit dinilai. Referensi lengkap juga tidak disebut untuk buku bawah tanah tentang Suharto (“a readable booklet on Suharto's business empire”) yang konon ditulis Ayu Utami. Yang pasti, penyebutan tulisan-tulisan tersebut menimbulkan kesan bahwa Ayu Utami sudah cukup lama aktif di dunia penulisan pada saat dirinya menerima Prince Claus Award. Hal itu berseberangan dengan kenyataan bahwa Ayu Utami tidak dikenal di dunia sastra Indonesia sebelum novel Saman memenangkan sayembara roman DKJ pada tahun 1998. Fokus utama tulisan Goenawan Mohamad adalah posisi Ayu Utami di masa Orde Baru, khusunya hubungannya dengan kekuasaan. Goenawan menggambarkan Ayu Utami sebagai penulis muda yang aktif dalam perlawanan terhadap rejim Orde Baru. Sebagian besar dari tulisan Goenawan yang pendek itu menggambarkan keterlibatan Ayu Utami di AJI dan ISAI . Sejauh mana deskripsi tersebut tepat dan sesuai dengan kenyataan, sulit saya nilai. Yang pasti, representasi Ayu Utami sebagai disiden politis tersebut kemudian dikutip dan direproduksi oleh beberapa penulis dan institusi di Eropa. Secara khusus, Goenawan Mohamad kemudian berfokus pada persoalan bahasa dalam kaitannya dengan kekuasaan dan dengan tubuh perempuan. Sayang sekali pembahasan tersebut bersifat sangat abstrak dan umum, sehingga sulit dipahami secara konkret apa yang dimaksudkan oleh Goenawan. Menurut pandangannya, di bawah rejim Orde Baru dimana katakata sering “dikorbankan” (“words [...] became victims of sacrifice”), manusia selalu terancam “kehilangan diri” dalam menggunakan bahasa (“The speaker [...] loses his selfhood.”) Ayu Utami, begitu penjelasan Goenawan selanjutnya, menggeluti dunia penulisan agar tidak kehilangan diri (“Not to lose her selfhood, that is what pushes Ayu further into writing.”). Mengenai cara Ayu Utami melakukan hal itu Goenawan Mohamad mengatakan: “For a writer, however, there was a risk that the first casualty of such a confrontation would be his or her own relation with words. She or he could be drawn into imitating the regime's practice i.e. treating language as a mere sequence of messages. Ayu was one of the very few Indonesian writers who resisted the prevailing trend. The literary is political only when it stays 'literary', meaning that it is free from what she calls 'functional language'.” (Goenawan Mohamad 2000, hlm. 81)


Esai

Halaman 3

(Yang dimaksudkan dengan “confrontation” di kalimat pertama adalah konfrontasi dengan rejim Orde Baru.) Argumentasi tersebut terkesan ganjil bagi saya. Mengapa Goenawan berpendapat bahwa rejim Orde Baru menggunakan bahasa “sekadar sebagai rangkaian pesan”? Bukankah justru sebaliknya, yaitu rejim Orde Baru dengan sengaja dan terencana menggunakan bahasa sebagai alat ideologis, dalam arti bahwa bahasa Orde Baru sering sama sekali tidak menyampaikan sebuah pesan secara apa adanya? Bukankah misalnya kata “pembangunan” sering bermakna penggusuran dan korupsi, “persatuan dan kesatuan” bermakna kekerasan dan pembungkaman, dan sebagainya? Bukankah bahasa Orde Baru penuh eufemisme (misalnya istilah seperti “lembaga pemasyarakatan”) dan kebohongan (misalnya pemalsuan sejarah seputar peristiwa 65)? Menurut pengamatan saya, tulisan yang menjadi ancaman bagi rejim Orde Baru justru tulisan yang menggambarkan realitas sehari-hari di Indonesia secara apa adanya. Maka tidak mengherankan bahwa karya sastra yang dilarang atau disensor umumnya karya realis yang menyampaikan secara terbuka apa yang umumnya disembunyikan dalam wacana publik. Contohnya adalah karya Pramoedya Ananta Toer dan puisi Wiji Thukul, juga trilogi Ahmad Tohari yang sempat disensor. Sebelum menyampaikan argumen di atas seputar bahasa yang digunakan Ayu Utami, Goenawan Mohamad menyebut usahanya bersama kawan-kawan (termasuk Ayu Utami) untuk “tidak membiarkan rejim meraih kemenangan total dalam perang informasi” (“not to give the regime the pleasure of getting a total victory in the information war”). Perang informasi itulah yang kemudian, menurut argumentasi Goenawan dalam kutipan di atas, mengandung risiko bagi penulis. Saya dapat menerima argumen Goenawan Mohamad bahwa ideologi yang dominan, dalam hal ini ideologi Orde Baru, sulit ditolak. Ideologi dominan umumnya hadir dalam kegiatan dan bahasa sehari-hari tanpa kita sadari. Mengambil jarak dan membangun sikap kritis terhadap ideologi itu adalah pekerjaan yang cukup berat. Namum lompatan argumentasi seputar gaya tulis Ayu Utami sulit saya ikuti. Goenawan tidak menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan sastra yang “tetap 'sastrawi'” dan “bebas dari 'bahasa fungsional'”. Disamping itu, kalau memang gaya bahasa Ayu Utami memiliki kelebihan tertentu yang membuatnya lebih subversif atau lebih ampuh dalam perlawanan terhadap rejim Orde Baru, seharusnya hal itu dijelaskan, bukan sekadar diasumsikan. Dan saya tidak menemukan penjelasan semacam itu dalam tulisan Goenawan Mohamad tersebut. Karena itu, menurut pandangan saya, pernyataan bahwa Ayu Utami merupakan “salah satu dari sangat sedikit penulis Indonesia yang melawan kecenderungan umum” adalah pernyataan yang sangat berlebihan. Bukankah banyak penulis, mungkin bahkan sebagian besar sastrawan Indonesia, bersikap kritis pada rejim Orde Baru terutama sekali pada tahun-tahun terakhir rejim tersebut? Dan bukankah dalam situasi dimana kebebasan berpendapat sangat terbatas, banyak penulis memilih untuk tidak menyampaikan kritik mereka bukan sebagai protes yang lantang dan apa adanya, tapi mencari gaya dan cara penyampaian yang berbeda? Dalam hal apakah gaya tulis Ayu Utami begitu khas sehingga pantas disebut “melawan kecenderungan umum”? Lebih jauh lagi, Goenawan Mohamad kemudian menghubungkan persoalan perlawanan terhadap rejim Orde Baru dan persoalan bahasa Ayu Utami yang konon menjadi terobosan baru tersebut dengan keperempuanan Ayu Utami: “For this reason, I believe, she wrote a novel that uses words differently; making a paradigm of, as she puts it in an essay, kudangan. Kudangan is a moment when a Javanese mother, holding and touching her baby joyously and excitedly, sings words that carry nonverbal signification and sensuousness. In Ayu Utami's highly acclaimed novel, 'Saman', one can feel the sensuous materiality of the words in its syntaxes. My impression is that her experience as a woman in today's Indonesia has urged her to reinstall the presence of the body in language, as if insisting, to paraphrase Hélène Cixous's slogan of 1974, that her body 'must be heard'.” (Goenawan Mohamad 2000, hlm. 81) Feminis Perancis Hélène Cixous terkenal terutama karena tulisan-tulisannya mengenai écriture féminine, “penulisan feminin”. Salah satu esei Cixous seputar tema tersebut yang paling sering disebut adalah “Le rire de la Méduse” (“The Laugh of the Medusa”, 1975 ). Dari esei itulah Goenawan mengutip pandangan Cixous mengenai tubuh dan bahasa. Écriture feminine merupakan konsep yang cukup rumit dan sulit dipahami. Menurut Cixous dan beberapa pemikir pascastrukturalis lainnya, bahasa yang umumnya kita gunakan adalah bahasa yang maskulin dan logosentris, atau “phallogosentris”. Kebiasaan berbahasa yang dominan membuat kita berbicara/menulis seakan-akan kebenaran bersifat tunggal dan bisa diekspresikan secara linear, berjarak (objektif) dan terstuktur. Écriture féminine adalah usaha untuk mencari dan mengembangkan bahasa yang berbeda, yaitu bahasa yang mampu mengakomodasi dorongan-dorongan bawah sadar, yang tidak mengharuskan rasio menguasai atau menindas tubuh, dan yang lebih menghormati pluralitas dan ambiguitas. Seperti apakah “bahasa feminin” tersebut? Sudah adakah penulis yang berhasil menciptakannya? Sampai saat ini pertanyaan tersebut tetap terbuka. Maka pernyataan Goenawan Mohamad tentang bahasa Ayu Utami di atas merupakan klaim yang luar biasa! Menurut pandangan Goenawan, Ayu Utami terdorong untuk “menghadirkan kembali tubuh dalam bahasa” (“reinstall the presence of the bodyin language”), sesuai dengan harapan Cixous agar perempuan membuat “membuat tubuhnya didengar”. Lebih jauh lagi, di mata Goenawan, Ayu Utami bukan hanya berusaha menciptakan bahasa baru yang diimpikan Cixous tersebut tapidia benar-benar

Buletin Langkah, September 2010 Sudah berhasil menciptakannya! Paling tidak itu yang disampaikan oleh judul tulisan Goenawan, yaitu “The Body Is Heard” tubuh bukan lagi mesti didengar, tapi sudah didengar! Klaim tersebut sangat berlebihan menurut pandangan saya, terutama karena Goenawan Mohamad sama sekali tidak memberikan argumentasi yang lebih mendetil ketimbang sekadar asumsi-asumsi abstrak dan sulit diikuti dalam alinea yang saya kutip di atas. Apa yang dimaksudkan dengan “sensuous materiality of the words in its syntaxes” yang konon bisa dirasakan dalam novel Saman? Dengan cara apakah Ayu Utami menghadirkan tubuh dalam bahasa? Seperti apa sebetulnya bahasa yang digunakan Ayu Utami dalam novel Saman? Ayu Utami sering memakai kata atau ekspresi yang kurang lazim digunakan (misalnya “selarit matahari”, “ceruk jalan” , dsb.), atau yang bahkan sama sekali tidak biasa digunakan dalam bahasa Indonesia (misalnya “bujet” ). Dia sering menggunakan perbandingan yang unik atau ganjil, misalnya “pucat bagai cicak” atau “wajahnya padam seperti api sumbu yang ditangkupkan stoples bening” . Disamping itu, dalam novel tersebut kita sering menemukan kalimat-kalimat “berfilsafat” yang terkesan abstrak atau “puitis”, tapi tidak begitu jelas maksudnya (paling tidak bagi saya), misalnya: “Tak pernah ada yang salah dengan cinta. Ia mengisi sesuatu yang tidak kosong. Tapi yang terjadi di sini adalah asmara, yang mengosongkan sesuatu yang semula ceper. Dengan rindu. Belum tentu nafsu.” Itukah écriture féminine? Ciri khas apa yang membuat bahasa Ayu Utami tersebut “lebih perempuan” daripada bahasa penulis lain? Dan di manakah perlawanan terhadap rejim Orde Baru yang konon hadir dalam bahasa Ayu Utami? Tulisan Goenawan tidak memberikan jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan tersebut. Yang saya temukan di situ hanya asumsi dan renungan abstrak yang tidak dipertanggungjawabkan lewat argumentasi dan bukti. *** Goenawan Mohamad dalam tulisannya yang saya bicarakan di atas hanya secara sekilas saja menyebut tema seksualitas dalam karya Ayu Utami. Fokusnya adalah representasi Ayu Utami sebagai peserta aktif dalam perjuangan melawan rejim Orde Baru. Mungkin fokus semacam itu dianggapnya lebih cocok dalam memperkenalkan Ayu Utami di luar negeri dan mempertanggungjawabkan pemberian Prince Claus Award. Namun di Indonesia unsur yang paling banyak disebut seputar kedua novel Ayu Utami, Saman (1998) dan Larung (2001), adalah “keterbukaan baru” dalam representasi seksualitas. Pada bagian-bagian novel yang menceritakan keempat tokoh perempuan Shakuntala, Laila, Yasmin dan Cok, seks menjadi tema utama. Perilaku seksual yang diceritakan hampir sepenuhnya bertentangan dengan norma masyarakat (Indonesia), dalam arti bahwa yang diceritakan bukanlah hubungan heteroseksual yang disahkan oleh surat nikah. Shakuntala mempunyai kecenderungan biseksual, Laila jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sudah menikah, namun akhirnya berhubungan seks dengan Shakuntala, Yasmin menghianati suaminya dengan sekaligus “memurtadkan” seorang pastor, lalu mewujudkan fantasi sadomasokisnya dengan bekas pastor tersebut, dan Cok gemar berganti-ganti pasangan. Kiranya tidak salah kalau kita menyimpulkan bahwa dalam kedua novel tersebut seksualitas direpresentasikan dengan cara yang provokatif. Namun representasi seksualitas tersebut bukan hanya bersifat provokatif, tapi juga dengan sangat jelas dihubungkan dengan persoalan gender dan dengan feminisme. Seperti yang dikemukakan antara lain oleh Kris Budiman dalam bukunya Pelacur dan Pengantin Adalah Saya (2005), perlawanan terhadap ideologi patriarki alias falosentrisme terungkap dengan cukup eksplisit pada beberapa bagian kedua novel Ayu Utami tersebut. Khususnya, stereotipe perempuan sebagai pihak yang pasif di hadapan laki-laki yang aktif digugat antara lain dalam deskripsi hubungan seksual dimana vagina digambarkan sebagai bunga karnivora yang menjebak dan menghisap “binatang yang [...] bodoh, dan tak bertulang belakang” alias penis. Deskripsi itu bersama beberapa bagian novel yang lain menurut Kris Budiman “menunjukkan bahwa modus relasi seksual perempuan vis-a-vis laki-laki sebetulnya bukanlah intrusi atau secara pasif 'di-coblos', melainkan secara aktif mengkonsumsi, 'meng-hisap'” . Representasi perilaku dan orientasi seksual yang demikian beragam dan gugatan terhadap stereotipe perempuan yang pasif dengan mudah dapat membawa kita pada kesimpulan bahwa novel Ayu Utami jauh dari nilai heteronormatif dan falosentris, atau bahwa Ayu berhasil menciptakan representasi seksualitas yang berbeda (“lebih perempuan”) daripada yang kita kenal selama ini (di Indonesia). Saman dan Larung hadir sebagai novel yang jelas-jelas minta dibaca sebagai novel feminis. Feminisme macam apakah itu? Tampak dengan cukup jelas bahwa Ayu Utami terpengaruh oleh teori yang sama atau sejalan dengan yang dikutip Goenawan Mohamad dalam tulisannya yang saya bahas di atas. Ide-ide yang diungkapkan dalam kedua novel itu tampaknya sengaja disesuaikan dengan teori-teori feminisme Perancis (feminisme pascastruktural), paling tidak secara permukaan. Seperti yang sudah saya bicarakan secara sekilas di atas, menurut


Esai

Halaman 4

pemikiran Cixous dan pemikir lain yang “sealiran” (terutama Luce Irigaray), cara berpikir yang dominan dalam masyarakat modern (Barat) bersifat maskulin atau falosentris. Cirinya antara lain kepercayaan pada kebenaran yang tunggal, hierarki yang kaku dan pandangan humanis tentang individu yang bebas dan mandiri. Bagi pemikir tersebut, femininitas menjadi semacam konsep alternatif yang dipertentangkan dengan maskulinitas yang dominan itu - sebuah sikap hidup yang dinilai lebih positif. Salah satu adegan novel Ayu Utami yang tampaknya terpengaruh oleh konsepkonsep tersebut adalah bagian novel Larung dimana Shakuntala membandingkan sikap hidupnya sendiri dengan sikap hidup abangnya. Penggambaran sifat si abang itu merupakan semacam karikatur maskulinitas dalam pemahamannya yang paling negatif: Si abang selalu berusaha membuktikan diri, “mencoba segala hal hingga maksimal” , khususnya dalam dua wilayah yang “khas lakilaki”, yaitu kemampuan berereksi dan kebolehan membawa sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Mengenai latihan ereksi abangnya, dengan nada sedikit mengejek Shakuntala mengatakan: “ia bisa menyuruh-nyuruh bagian-bagian tubuhnya seperti seorang komandan memerintah batalyon dan kompi” . Perbandingan dengan dunia militer itu pun tentu merupakan unsur konstruksi maskulinitas yang sangat sesuai dengan stereotipe negatif yang ingin dibangkitkan di sini. Disamping itu, si abang memiliki kepercayaan pada akal/rasio yang amat berlebihan, yakin “bahwa akal akan menaklukkan badan” , dan dia bahkan “tak mau percaya bahwa ada otot sadar dan otot tak sadar. Semua otot adalah sadar, ia bersikeras” . Berkat latihannya, dengan kekuatan akal (yaitu dengan mengulang-ulang kata “ngaceng”) dia dapat memerintah alat vitalnya untuk berdiri. Pendek kata, tokoh abang Shakuntala tampil sebagai wujud atau lambang falosentrisme par excellence. Dan penilaian yang ingin disampaikan terhadap sikap hidup semacam ini pun tampak dengan amat jelas. Karena begitu berlebihan, sifatnya terkesan konyol, dan akhirnya bahkan membawa celaka: Si abang meninggal disebabkan sebuah kecelakaan lalulintas ketika dia mencoba merealisasikan ambisinya untuk mengelingi pulau Jawa “dengan kecepatan puncak” di atas sepeda motornya. Berseberangan dengan sikap abangnya, bagi Shakuntala “keputusankeputusanku diperintah oleh dorongan tubuh untuk menari. Sebab bagiku menari adalah menjadi. [...] Tubuhku hanya ingin menjadi. Tapi apa salahnya menjadi tidak genap?” . Dalam sebuah esei berjudul “Membantah mantra, membantah subjek” di jurnal Kalam (edisi 12, 1998) Ayu Utami secara langsung menghubungkan sikap tokoh Shakuntala dalam novel Saman dengan sikapnya sendiri sebagai pengarang. Di bagian lain dari esei yang sama Ayu mengatakan: “Mengarang, bagi saya, adalah kesediaan melibatkan, meleburkan diri, dan menerima kemungkinan-kemungkinan yang tak direncanakan” sangat mirip dengan ungkapan Shakuntala di atas. Dengan pilihannya untuk “menjadi tidak genap” (seperti novel Ayu yang diterbitkan sebagai “fragmen”), biseksualitasnya, dan pemberontakannya terhadap nilai-nilai patriarkal, Shakuntala menjadi semacam tokoh perempuan ideal yang sekaligus melambangkan “filsafat posmo” yang dipilih Ayu sebagai kredo kepengarangannya. Seperti yang dilakukan Goenawan Mohamad dalam tulisan “Ayu Utami The Body Is Heard”, Ayu Utami sendiri pun mempersoalkan gaya tulisnya dan menggambarkan gaya tulis tersebut sebagai pilihan yang istimewa dan baru. Dalam eseinya, Ayu menceritakan betapa dia “sengaja” memilih menulis “novel polifonik” dengan “diksi yang berbeda bagi masing-masing Aku”. Namun dia juga mengaku bahwa “novel itu tidak sepenuhnya menurut padaku”, kadang-kadang cerita berkembang di luar rencananya sendiri. Pengakuan tersebut tentu sama sekali bukan sesuatu yang luar biasa. Bahwa dalam proses menulis ada hal-hal yang dengan sadar diatur dan diciptakan, dan ada pula hal yang timbul begitu saja tanpa sengaja, merupakan pengalaman yang pasti dikenal hampir setiap penulis. Yang terkesan sedikit ganjil bagi saya adalah penilaian yang secara implisit terkandung dalam ungkapan Ayu tentang pengalaman mengarangnya tersebut. Bukan saja dengan sangat percaya diri dia menilai novelnya sendiri sebagai “novel polifonik” (yang berarti memuji diri sendiri sebagai “pembaharu”, pembawa gaya tulis yang masih belum lumrah di Indonesia), juga ceritanya mengenai perkembangan alur novel yang di luar rencana semula terkesan amat tidak kritis. Menurut pengakuannya, pada titik tertentu tokoh-tokoh novelnya seakan-akan mulai memiliki hidup dan kemauannya sendiri, sehingga sebagai pengarang dia “terpaksa” “takluk [p]ada ciptaannya”. Meskipun menggunakan kata “terpaksa”, cukup jelas bahwa dia tidak menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang negatif. Malah timbul kesan bahwa dia sangat membanggakannya. Sepertinya dia merasa tidak perlu bersikap kritis terhadap bagian teks yang muncul “di luar rencana” itu, seakan-akan apa yang mengalir dari tangannya bersumber pada semacam “jenius” di kedalaman dirinya yang tak perlu diragukan. Padahal dalam esei yang sama, bahkan pada alinea yang sama, dia merujuk pada pemikiran Roland Barthes tentang matinya sang Pengarang! Saya tidak percaya pada “jenius” semacam itu. Namun saya yakin bahwa dalam setiap teks pasti ada hal-hal yang disampaikan secara eksplisit, dan ada yang ikut tersampaikan dengan tersembunyi atau tanpa sengaja. Dan menurut pengalaman saya, hubungan antara kedua jenis “isi teks” itu sering penuh ambivalensi. Misalnya dalam sebuah novel dengan pesan yang jelas, mungkin saja kita menemukan bagian yang secara agak tersembunyi justru berlawanan dengan pesan tersebut. Ambivalensi semacam itu biasanya sangat menarik disoroti dan diteliti, dan itulah yang ingin saya lakukan dalam pembahasan saya terhadap novel Ayu Utami.

Buletin Langkah, September 2010 Dalam hal representasi seksualitas, novel Ayu Utami memiliki pesan yang cukup eksplisit, yaitu apa yang sudah saya sebut di atas: membicarakan seks dengan keterbukaan yang provokatif, memprotes stereotipe pasif perempuan, menolak falosentrisme pada umumnya, mengakui orientasi seksual yang plural. Namun ambivalensi tak terlalu sulit dicari. Berikut ini saya akan mengemukakan beberapa hal yang justru bertentangan dengan pesan eksplisit tersebut. Dalam representasi hubungan homoseksual antar-perempuan (lesbianisme), novel Saman/Larung ternyata justru mereproduksi stereotipe yang sangat tidak menguntungkan bagi perempuan, khususnya lesbian. Tokoh Laila digambarkan sebagai seorang perempuan yang sama sekali tidak memiliki kecenderungan menjadi seorang lesbian. Dia heteroseksual 100%. Namun pada saat sedang patah hati karena dikecewakan oleh pacarnya, dia tidak menolak ketika didekati secara seksual oleh Shakuntala. Hubungan seks antara kedua perempuan itu pun terjadilah. Stereotipe yang direproduksi di sini adalah anggapan bahwa perempuan cenderung menjadi lesbian karena dikecewakan oleh laki-laki! Disamping itu, sebuah prasangka yang sering kita dengar dari orang awam tampaknya justru terbukti benar di sini, yaitu kekhawatiran bahwa lesbianisme dapat “menular” sehingga berbahayalah bagi perempuan “normal” (baca: heteroseksual) seperti Laila untuk bergaul dengan orang seperti Shakuntala. Alasan Shakuntala mengajak Laila bercinta adalah untuk mengajari kawannya itu mengenal tubuhnya sendiri. Menurut penilaian Shakuntala, Laila belum pernah mengalami orgasme, dan keadaan itu tidak boleh dibiarkan berlangsung lebih lama. Argumentasi ini terasa janggal bagi saya: bukankah untuk mengenal tubuhnya sendiri dan mengalami orgasme seorang perempuan tidak mesti berhubungan seks, apalagi melakukan hubungan seks yang tidak sesuai dengan orientasi seksualnya sendiri? Kalau Laila memang begitu lugu atau kaku sehingga dia tidak berinisiatif untuk mengeksplorasi tubuhnya sendiri, bukankah cukup kalau Shakuntala menyarankan padanya untuk mencoba masturbasi, seperti yang misalnya dilakukan tokoh Lara pada Mei dalam situasi yang serupa dalam novel Tujuh Musim Setahun karya Clara Ng ? Meskipun hampir seluruh kisah keempat sahabat Shakuntala, Laila, Cok dan Yasmin itu berkisar pada pengalaman seksual mereka, masturbasi hampir tidak pernah disebut, paling tidak masturbasi yang dilakukan perempuan. Misalnya pada bagian akhir Saman yang terdiri dari email Yasmin dan Saman, Saman memberitahukan bahwa dia masturbasi, dan Yasmin membalas bahwa dia membayangkan Saman pada saat dia melakukan hubungan seks dengan suaminya hanya tokoh laki-laki yang melakukan masturbasi! Absennya masturbasi tersebut dapat dihubungkan dengan sebuah gejala lain yang terdapat pada representasi kenikmatan seksual dan orgasme perempuan dalam novel Saman/Larung. Dalam buku hariannya, tokoh Cok menceritakan pengalamannya ketika sebagai murid SMA dia mulai melakukan hubungan seks. Karena tidak mau kehilangan keperawanannya, pada awalnya hubungan dengan pacarnya berbentuk tindakan sang pacar merangsang alat kelaminnya dengan menggosokkannya pada payudara Cok dan seks anal. “Lalu kupikir-pikir, kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? Enak di dia nggak enak di gue”, begitu kesimpulan Cok mengenai pengalaman itu, dan dia pun memutuskan untuk berhenti menjaga keperawanannya . Di sini timbul kesan bahwa dalam hubungan heteroseksual, perempuan hanya dapat merasa nikmat dan mencapai orgasme apabila terjadi koitus (penetrasi penis ke dalam vagina), sedangkan laki-laki mempunyai alternatif lain untuk mencapai orgasme. Hal yang sama terjadi pada Laila saat dia berhubungan seks dengan pacarnya Sihar tanpa terjadinya penetrasi. Di sini pun Sihar mencapai orgasme, sedangkan Laila tidak . Tentu saja kisah pengalaman seksual semacam itu dapat dikatakan cukup realistis sebab mungkin saja laki-laki, dalam hal ini pacar Cok dan Sihar, hanya mementingkan kenikmatannya sendiri dan tidak memperhatikan kebutuhan seksual pasangannya. Namun peristiwa hubungan seks yang kurang memuaskan itu sama sekali tidak dihubungkan dengan sebuah kelalaian, dalam arti bahwa seharusnya si gadis pun dirangsang, misalnya dengan jari atau mulut, sehingga tanpa terjadinya koitus pun dia dapat mencapai orgasme. Seperti juga masturbasi, praktek seks di luar koitus menjadi monopoli laki-laki. Dalam sebuah email pada Saman, Yasmin menulis: “Orgasme dengan penis bukan sesuatu yang mutlak.” . Kalimat ini tampaknya berlawanan dengan apa yang saya kemukakan di atas. Apakah ini merupakan kalimat pembuka untuk bercerita tentang masturbasi atau tentang praktek seksual lain yang memberi kenikmatan pada perempuan tanpa terjadinya koitus, misalnya seks oral? Ternyata tidak. Yasmin melanjutkan emailnya: “Aku selalu orgasme jika membayangkan kamu. Aku orgasme karena keseluruhanmu.” Ternyata sekadar rayuan gombal untuk meredakan rasa rendah diri Saman karena tak mampu membuat Yasmin mencapai orgasme. Paling tidak, kata “orgasme” dalam konteks ini bisa dipahami sekedar sebagai ungkapan metaforis, bukan sebagai kata untuk menyebut pencapaian puncak seksual secara fisik.


Esai

Halaman 5

Lalu bagaimana dengan hubungan seks yang terjadi antara Shakuntala dengan Laila? Jelaslah di sini tidak terjadi koitus, dan praktek seksual yang saya sebut sebagai monopoli laki-laki dalam hubungan heteroseksual di atas mestilah digunakan oleh kedua perempuan itu. Namun justru adegan itu diceritakan dengan sangat singkat dan kabur. Dengan “kesopanan” yang terasa janggal dalam sebuah karya yang begitu “terbuka” mengenai seks di bagian-bagian lain, narasi diputuskan pada saat Shakuntala membuka baju dan mulai berdekatan dengan Laila . Narasi kemudian malah dilanjutkan dengan cerita metaforis mengenai vagina sebagai bunga karnivora yang sudah saya sebut di atas, yaitu cerita yang justru mempersoalkan hubungan seksual antara perempuan dan laki-laki! Hanya kalimat terakhir yang, mungkin, dapat dibaca sebagai semacam keterangan mengenai apa yang terjadi antara Shakuntala dan Laila: “Tapi klitoris bunga ini tahu bagaimana menikmati dirinya dengan getaran yang disebabkan angin” . Apa perlunya “pengaburan” semacam itu? Mengapa misalnya cara abang Shakuntala melatih ereksinya diceritakan dengan begitu gamblang, sedangkan untuk mendeskripsikan rangsangan pada klitoris saja diperlukan metafora aneh yang kurang mengena tentang “angin” yang menggetarkannya?! Bahwa cerita tentang bunga karnivora ditempatkan pada adegan itu bukanlah sebuah anakronisme. Setelah Shakuntala memutuskan bahwa Laila perlu diberi “pelajaran seks” sebelum menemui Sihar lagi, dia melanjutkan: “Setelah itu kamu [Laila] boleh pergi: Sebab vagina adalah sejenis bunga karnivora ...” Artinya, lewat hubungan seks antar-perempuan Shakuntala bermaksud mengajari Laila mengenai hakekat hubungan seks “secara umum”, dan yang dimaksudkan dengan seks “secara umum” itu adalah hubungan heteroseksual. Heteronormatifitas yang tampak sangat jelas dalam adegan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Laila tertarik pada sisi maskulin dalam diri Shakuntala, dan pada saat hubungan seks dimulai, Laila “tak tahu lagi siapa dia. Apakah Tala apakah Saman apakah Sihar” . Hubungan homoseksual di sini sekadar semacam variasi dari heterosexual matrix. Seperti yang sudah diutarakan di atas, metafora bunga karnivora dapat dipahami (dan tampaknya dimaksudkan) sebagai gugatan terhadap stereotipe kepasrahan perempuan. Perempuan yang sering diibaratkan bunga yang madunya diisap kumbang, yaitu sebagai pihak yang pasif, di sini disulap menjadi pihak yang aktif sebagai bunga penghisap “cairan dari makhluk yang terjebak rongga di balik kelopakkelopaknya yang hangat”. Tapi di sisi lain, di sini pun sekali lagi ejakulasi laki-laki menjadi pusat segala kenikmatan: “Otot-ototnya yang kuat [...] akan memeras binatang yang masuk, dalam gerakan berulang-ulang, hingga bunga ini memperoleh cairan yang ia hauskan. Nitrogen pada nepenthes. Sperma pada vagina.” . Vagina yang haus akan sperma itukah representasi seks versi perempuan, versi yang tidak falosentris? Dilihat dari segi biologis, representasi tersebut bisa dikatakan tidak sesuai dengan anatomi tubuh dan fungsi seksual perempuan. Dalam merasakan kenikmatan seksual dan mencapai orgasme ketika berhubungan seks, bagi seorang perempuan semprotan sperma ke dalam vagina jelas tidak terlalu berpengaruh, atau mungkin bahkan bisa dikatakan tidak berarti sama sekali. Misalnya kalau si laki-laki belum/tidak berejakulasi atau berejakulasi ke dalam kondom, hal itu tentu tidak menjadi halangan bagi pasangan perempuannya untuk mencapai orgasme. Yang terasa mengganggu pada gambaran sterotipikal tentang perempuan sebagai bunga dan lakilaki sebagai kumbang antara lain adalah implikasi yang timbul karena gambaran itu diambil dari alam. Bunga sudah secara alami diam di tempat, dan kumbang sudah secara alami berpindah dari satu bunga ke bunga lain. Jadi dalam penggunaan pengupamaan semacam itu terdapat asumsi bahwa sifat pasif pada perempuan dan sifat aktif serta tidak setia pada laki-laki pun merupakan sifat alami (kodrati). Ayu Utami mengganti bunga yang pasif itu dengan jenis bunga yang ganas dan aktif namun cerita mengenai “kehausan” bunga itu akan cairan kembali membawa kita pada persoalan kodrat. Bukankah akhirnya kontraksi otot vagina (yang terjadi ketika perempuan mengalami orgasme) terkesan sebagai semacam “naluri alam” untuk menghisap sperma, dalam arti bahwa orgasme perempuan terjadi bukanlah demi kenikmatan, tapi demi masuknya sperma ke dalam rahim, atau dengan kata lain: demi kelanjutan umat manusia? Dari sebuah novel yang mengangkat seksualitas perempuan sebagai salah satu tema utamanya saya tentu saja mengharapkan perhatian terhadap beberapa persoalan dasar yang menjadi ciri khas pengalaman seksual perempuan. Salah satunya adalah kenyataan bahwa perempuan dapat melakukan hubungan seks, dan bisa hamil karenanya, tanpa menikmatinya dan tanpa mencapai orgasme. Cerita mengenai vagina sebagai bunga karnivora menghubungkan kenikmatan/orgasme perempuan dengan ejakulasi laki-laki. Tapi bukankah setiap perempuan menyadari bahwa tanpa “diperas” sekalipun, “binatang bodoh tak bertulang belakang” itu tetap akan memuntahkan cairannya! Dengan kata lain, pengibaratan vagina sebagai bunga karnivora hanyalah sekedar sebuah permainan imaji yang tidak sesuai dengan realitas pengalaman perempuan. Representasi seksualitas dalam novel Saman/Larung berpusat pada hubungan heteroseksual, khususnya pada koitus. Kecenderungan itu bahkan dapat ditemukan pada representasi tingkah laku seksual yang jauh menyimpang dari norma, yaitu hubungan sadomasokis Yasmin dengan Saman. Dilihat secara sekilas, di sini sekali lagi kita menemukan pemberontakan atau pemutarbalikan terhadap relasi kekuasaan laki

Buletin Langkah, September 2010 -laki-perempuan yang normatif: Yasmin mengambil peran sebagai penyiksa, Saman sebagai korban. Kutipan berikut ini adalah deskripsi Yasmin tentang pengalaman itu dalam sebuah suratnya kepada Saman: “Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. Kamu biarkan jarijariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia menginterogasi mata-mata yang tertangkap. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu, atau membiarkan kamu tak memperolehnya, membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harafiah.” (Larung, hlm. 157) Meskipun permainan seks yang digambarkan di sini jauh dari imaji normatif tentang persetubuhan, sekali lagi pusatnya adalah koitus. Dan siksaan yang diceritakan dengan paling rinci dan jelas adalah penundaan atau pencegahan orgasme Saman, sehingga timbul kesan bahwa coitus interuptus menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi seorang laki-laki. Penderitaan itu terkesan jauh lebih hebat daripada misalnya penderitaan Laila atau Cok yang terangsang dan birahi, namun tidak mencapai orgasme dalam permainan seks, seperti yang sudah saya sebut di atas. Ternyata dalam hubungan seks yang didominasi oleh seorang perempuan ini pun koitus digambarkan sebagai satu-satunya cara berhubungan seks, dan orgasme laki-laki menjadi pusat perhatian. Apakah Yasmin mencapai orgasme, sama sekali tidak dipersoalkan! Disamping Shakuntala, Laila, Yasmin dan Cok, masih ada seorang tokoh perempuan lain yang tingkah laku seksualnya dipersoalkan dengan cukup rinci. Tokoh yang saya maksudkan adalah Upi, seorang gadis cacat mental yang diberi perhatian khusus oleh Romo Wis (Saman). Upi menjadi tokoh yang cukup penting bagi representasi seksualitas dalam novel Saman/Larung. Karena cacat mental, Upi digambarkan sebagai semacam wujud seksualitas yang tidak terkekang, yang “alami”. Bahwa birahi Upi dipahami terutama sebagai persoalan alam atau persoalan biologis, terlihat misalnya pada deskripsi Upi sebagai gadis “yang mentalnya tersendat namun fisik dan estrogen dan progesteronnya tumbuh matang” (Saman, hal. 76-77), juga pada keterangan ibu Upi bahwa sang gadis biasanya mengalami semacam masa birahi, yaitu dia menjadi beringas kirakira seminggu sebelum haid. Representasi seksualitas yang “alami” tersebut dalam beberapa hal tidak jauh dari seksualitas tokoh perempuan yang lain. Upi mencari kepuasan seksual secara aktif dan agresif seperti Cok dan Shakuntala, dan dia menggabungkan pemuasan birahi dengan tindakan penyiksaan seperti Yasmin, yaitu penyiksaan terhadap binatang. Namun ada hal yang khas pada representasi seksualitas Upi: gadis itulah satu-satunya tokoh perempuan yang diceritakan beronani. Masturbasi dilakukannya dengan cara menggosokkan selangkangannya pada pohon, tiang listrik, pagar atau sudut tembok , dan selain itu dia gemar “memperkosa” binatang. Tidak diterangkan dengan rinci apa yang dimaksudkan dengan “memperkosa” di sini, hanya satu kasus yang digambarkan dengan jelas, yaitu “ia mengempit seekor bebek di pangkal pahanya sambil mencekik leher binatang itu” . Seksualitas Upi awalnya digambarkan seperti berikut: “Gadis itu terkenal di kota ini karena satu hal. Dia biasa berkeliaran di jalan-jalan dan menggosok-gosokkan selangkangannya pada benda-benda [...] seperti binatang yang merancap. Tentu saja beberapa laki-laki iseng pernah memanfaatkan tubuhnya. Konon, anak perempuan ini menikmatinya juga. Karena itu, kata orang-orang, dia selalu saja kembali ke kota ini, mencari lakilaki atau tiang listrik” (Saman, hlm. 68). Di sini timbul kesan bahwa pada awalnya Upi tidak birahi pada lakilaki, tingkah laku seksualnya berfokus pada tubuhnya sendiri. Seks baginya bukan interaksi dengan orang lain, melainkan stimulasi tubuhnya sendiri yang memberi kenikmatan. Segala macam rangsangan psikologis yang biasanya sangat berpengaruh dalam perilaku seksual manusia yang sehat mental, tampaknya tak begitu penting baginya. Seksualitasnya sepenuhnya persoalan tubuh. Dan hubungan seks dengan laki-laki yang kemudian terjadi atas inisiatif para laki-laki yang birahi, dinikmatinya bukan karena sifat hubungan pribadinya dengan laki-laki itu tetapi semata-mata karena rangsangan seksual yang diterimanya. Tapi interpretasi dan intervensi yang kemudian dilakukan Romo Wis sangat jauh dari gambaran awal tentang seksualitas Upi tersebut. Karena kelakuan Upi kadang-kadang agresif dan membahayakan orang lain, keluarganya menguncinya dalam sebuah bilik. Wis pun tidak mampu mencari solusi lain pengobatan di rumah sakit terlalu mahal tapi dia memutuskan untuk meringankan penderitaan Upi dengan membuatkan “penjara” yang lebih luas dan bersih untuknya. Dalam pembuatan tempat tinggal Upi itu, kebutuhan seksual Upi juga diperhatikan. Wis mengenal tingkah laku seksual Upi (kutipan di atas adalah cerita seseorang padanya), dan dia sendiri pun sempat dikagetkan oleh pendekatan seksual Upi: Upi tiba-tiba meraba kemaluannya . Sebagai “solusi”, tempat tinggal Upi yang


Esai

Halaman 6

baru dilengkapinya dengan sebuah patung yang dipresentasikannya pada Upi dengan kata-kata berikut: “Upi! Kenalkan, ini pacarmu! Namanya Totem. Totem Phallus. Kau boleh masturbasi dengan dia. Dia laki-laki yang baik dan setia.” . Kalau pada awalnya masturbasi digambarkan sebagai perilaku seksual Upi yang utama, sedang seks dengan laki-laki hanya kebetulan dikenalnya, maka dalam ucapan Wis ini kita temukan asumsi bahwa seksualitas Upi adalah birahi pada laki-laki. Masturbasi mengalami degradasi, dalam arti: masturbasi hanya menjadi pengganti seks yang “sungguhan”, yaitu seks dengan seorang laki-laki. Anehnya, meskipun konon dibuat untuk keperluan masturbasi, patung itu tidak dilengkapi alat kelamin! Artinya, yang dibuatkan Wis adalah simbol laki-laki atau simbol phallus, bukan alat yang secara teknis pantas digunakan sebagai alat masturbasi. Atau mungkin Upi diharapkan menggosokkan selangkangannya pada patung yang terbuat dari batang pohon itu seperti sebelumnya dia menggosokkannya pada benda lain hanya saja batang pohon itu kini telah disulap menjadi “laki-laki”. Mungkinkah batang pohon itu akan mampu memberikan kenikmatan yang lebih pada Upi hanya karena sudah dijadikan simbol “laki-laki baik dan setia”? Seksualitas Upi yang pada awalnya digambarkan sebagai semacam hasrat primitif untuk memperoleh kenikmatan dengan merangsang alat kelamin, diarahkan dan dipersempit menjadi hasrat heteroseksual. Penggunaan kata “phallus” dan “totem” bisa dipahami sebagai rujukan pada psikoanalisis dan pada totemisme, kepercayaan kuno yang sering diasosiasikan dengan “manusia primitif”. Karena kedua kata itu digunakan sebagai nama patung laki-laki yang diharapkan menjadi objek birahi Upi, pesan yang tersampaikan adalah bahwa hasrat heteroseksual-lah yang paling wajar, alami dan asli. Keterpusatan psikoanalisis pada penis atau phallus yang banyak dikritik feminis di sini diulangi tanpa sifat kritis sama sekali, phallus malah dijadikan totem, pusat pemujaan! Memang pembuatan patung “Totem Phallus” itu dan pemahaman seksualitas Upi yang terkandung di dalamnya diceritakan sebagai buah pikiran dan perbuatan Romo Wis. Namun karena dalam novel “polifon” ini tidak terdapat suara lain yang menyoroti peristiwa itu dari perspektif lain, itulah satu-satunya versi yang tersampaikan. Bahwa interpretasi Wis terhadap seksualitas Upi merupakan penyempitan, sama sekali tidak dipersoalkan, sehingga saya rasa tidak terlalu mengada-ada kalau kita menganggap penyempitan itu tidak disadari penulis. *** Kembali pada persoalan ambivalensi yang saya sebut di atas. Saya telah memperlihatkan bahwa dalam novel Saman/Larung disamping pesan-pesan eksplisit dan provokatif yang menentang falosentrisme (menempatkan perempuan sebagai pihak yang aktif, dan mengakui berbagai macam orientasi seksual) pada banyak adegan yang membicarakan seksualitas justru terdapat kecenderungan falosentis dan heteronormatif. Tentu adanya ambivalensi semacam itu tidak bisa begitu saja dijadikan indikator kegagalan sebuah karya. Ambivalensi merupakan hal yang lumrah, dan kita akan sulit mencari karya sastra yang bebas darinya. Dalam eseinya yang sudah saya kutip di atas, Ayu mengatakan: “Saya berharap kritikus yang mencoba mendekati novel Saman dengan mencari subjek tunggal dan utuh pengarangnya akan kecewa. Sebab bukan itu sikap saya terhadap karya”. Bukankah menolak keutuhan dan ketunggalan subjek berarti membuka diri untuk menerima segala ambivalensi dan pertentangan dalam diri dan dalam karya dengan sadar dan lapang dada? Seorang perempuan bisa saja menggabungkan feminisme dan falosentrisme dalam dirinya, misalnya dengan memperjuangkan kebebasan perempuan, tapi sekaligus justru merindukan laki-laki yang dominan. Ambivalensi semacam itu adalah bagian dari kehidupan, konsekuensi dari kenyataan bahwa hidup manusia tidak sepenuhnya dapat dikuasai oleh akal seperti abang Shakuntala memerintah alat kelaminnya. Sebagai kritikus saya kecewa pada karya Ayu Utami justru karena ambivalensi yang seharusnya dipeluk dengan sadar dalam sebuah karya yang konon tanpa subjek tunggal dan utuh itu, ternyata kurang diolah. Saya tidak menemukan indikasi bahwa ambivalensi dalam representasi seksualitas di novel Saman/Larung merupakan ambivalensi yang disadari. Karena itu, mungkin lebih tepat kalau pesan eksplisit mengenai seksualitas yang terdapat dalam novel itu kita sebut sebagai sebuah pretensi. Kritik terhadap falosentrisme hanya terjadi di permukaan, atau dengan kata lain, kritik itu dengan sengaja dimasukkan dalam beberapa adegan. Di level yang lain, yang justru jauh lebih penting secara tekstual, novel Ayu justru sangat falosentris. ***

Katrin Bandel Kritikus Sastra.

Buletin Langkah, September 2010 Apakah keluhan saya seputar representasi seksualitas dalam novel Ayu Utami tidak terlalu mengada-ada? Bukankah seperti yang saya katakan di atas, gaya hidup perempuan kelas menengah perkotaan Indonesia sebelumnya belum banyak diangkat sebagai tema novel, khususnya dengan fokus terhadap kehidupan seksual? Bukankah usaha untuk menggali tema tersebut dan untuk meninggalkan tabu seputar seksualitas, pantas dihargai? Saya rasa kritik saya tidak mengada-ada. Bukan sayalah yang menciptakan ekspektasi yang berlebihan terhadap karya Ayu Utami, yaitu bahwa karya tersebut merupakan karya feminis yang subversif dan penuh terobosan baru. Ekspektasi tersebut dengan sengaja ditimbulkan oleh novel itu sendiri dan oleh tulisan-tulisan di seputarnya, termasuk tulisan Goenawan Mohamad yang saya bahas di awal esei ini. Maka sudah sewajarnya kalau tidak terpenuhinya ekspektasi tersebut saya keluhkan dan pemujaan yang berlebihan saya kritik.*** ___________________________________________________ Daftar Pustaka Ayu Utami, Saman, Jakarta 1998. ---, “Membantah mantra, membantah subjek” Kalam edisi 12, 1998. ---, Larung, Jakarta 2001. Bandel, Katrin, “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa”, Republika 23 Maret, 30 Maret dan 6 April 2008. Clara Ng, Tujuh Musim Setahun, Jakarta 2002 Kris Budiman, Pelacur dan Pengantin Adalah Saya, Yogyakarta 2005. Goenawan Mohamad, “Ayu Utami The Body Is Heard”, 2000 Prince Claus Awards, The Hague 2000, hlm. 78-81.

Doc: Erica Leighton


Puisi

Halaman 7

Buletin Langkah, September 2010

Puisi-Puisi Aditya Ameng Layaran SRANGENGE SELAT SUNDA "Sehingga, langkah ini tak menepi di pelabuhanmu� Aku mulai menakar jejak kepergianmu, setelah kau pulang. Awan-awan senja seakan jadi pijak. Dan pada musim penghujan kau turun dengan begitu arif. Disambut ombak-ombak yang menggulungku Jemarilah yang menentukan aku merindumu. Di atas awan hingga hujan-hujan jatuh. Kemudian menjadikan gersang ranah itu. Kemarin. Sekarang aku menjadi malam bagimu. Dimana semua terbuai kenangan. Gelisah di antara hening sudut ruang. Jatinangor, 2009

AMSAL SUNGAI -tuk suluh Lalu kujatuhkan air mata pada hulu yang menjadikannya pesan pada muara Jatinangor, Juli 2008

Metamorfosa Rindu Serupa metamorfosa rindu di mana keringat pergi memuncak bersama udara, melupakanmu Kanekes, Des 2008

Di Balik Bayang Sehabis gerhana di wajahmu musim-musim merantau pada ranah lain lalu entah angin mana kau tiupkan hingga luka kemarin seakan menjadi lautan kata, menenggelamkan rindu sejenak Bandung, 2009

Aditya Ameng Layaran Mahasiswa Sastra Sunda, Unpad.


Cerpen

Halaman 8

Buletin Langkah, September 2010

Oleh Ratu Anggita Partawijaya

Tukang Becak Siang itu, panas matahari sangat menyengat. Entah berapa derajat. Mungkin 27-28 derajat celcius. Mungkin juga 100 derajat celcius. Tetapi Pak Maman tidak peduli. Langit nampak memburu biru. Angin musim panas mengusir awan putihteman setia langit. Hanya warna biru cerah yang terlihat. Umbul-umbul bendera bekas perayaan kemerdekaan masih menyisakan keanggunannya yang tertiup angin di ruas-ruas jalan sampai terpasang di depan rumanrumah warga. Mungkin mereka ingin menunjukkan rasa nasionalisme. Rasa hormat pada kemerdekaan yang telah diraih sungguh-sungguh oleh pahlawan bangsa. Mungkin juga bagi sebagian orang hanya ikutikutan meramaikan suasana dan merasa perlu untuk memerlihatkan 'nasonalisme' itu kepada kalangan mayoritas. Mungkin juga mereka berpikirlebih baik memasang bendera daripada menanamnya lama-lama di dalam lemari hingga jamuran. Tapi, hari itu sudah lewat. Jadi biarkan umbul-umbul bendera itu menarinari bebas. Pak Maman, seorang tukang becak yang sudah lima tahun menekuni pekerjaan ini, mengipasi dirinya karena kepanasan. Mungkin sebentar lagi kiamat akan datang, pikirnya. Dilapnya keringat yang mengalir dari kepala ke lehernya. Percuma memang melakukan itu tetapi setidaknya baju Pak Maman tidak akan basah oleh keringat. Pak Maman seorang tukang becak yang berpangkalan di dekat rel kereta api. Setiap hari dia rela bekerja pagi, siang, dan malam hanya untuk membiayai keluarganya. Meskipun dia tahu kalau istrinya sudah tidak setia lagi. Demi anak satu-satunya, Pak Maman selalu bersemangat untuk mencari uang. Tidak peduli panas atau hujan atau pun terjadi bencana alam sekalipun. Yang penting anaknya bisa makan dan sekolah. Senyum anak satu-satunya itu adalah kekuatan baginya. Sudah sesiang ini tetapi Pak Maman belum mendapat satu orang pun pelanggan. Dia menghela nafas panjang dan berdoa pada zat yang maha kuasa. Lapar yang terasa diperutnya sudah tidak dipikirkannya lagi. Yang terlihat dibenaknya hanya anak satu-satunya yang bernama Dani. Dani sudah menduduki bangku SMP kelas 2, dia adalah anak yang cerdas dan sangat menyayangi Pak Maman. Pak Maman sudah bekerja mati-matian demi menyekolahkan anaknya. Istri yang dianggapnya setia dan sepenanggungan ternyata hanya menjadi perempuan egois. Sebulan yang lalu istri Pak Maman pergi tanpa pamit dan tidak pernah kembali sampai detik ini. Pak Maman tidak gentar. Dia bisa mencari uang dan mengurus Dani sendirian. Meskipun, isak tangis Dani selalu terdengar jika malam datang menghampiri. Dani memang selalu teringat ibunya. Padahal ibunya tidak pernah peduli padanya. Pak Maman selalu ikut bersedih melihat anak semata wayangnya merindukan sosok ibu. Tapi tidak ada yang bisa Pak Maman lakukan selain bekerja.

Umbul-umbul bendera yang ada di depan pangkalannya terus berdansa dengan angin kencang. Terik matahari masih menyoroti jalan. Pak Maman duduk dalam becaknya dan memerhatikan jalan berdebu. Teman satu profesinya melakukan hal yang sama. Tidak ada pelanggan yang datang. Mereka menunggu seperti Pak Maman. Tukang becak tidak pernah berebut pelanggan karena sudah ada gilirannya masing-masing. Kebetulan Pak Maman mendapat giliran pertama untuk narik pelanggan. Dari kejauhan, seorang perempuan membawa bayi dipangkuannya sedang berjuang menghadapi panasnya matahari. Dengan cepat, Pak Maman menghampiri perempuan itu dan menawarkan jasa angkutnya. “Ibu, mau naik becak? Kalau jalan, kasihan bayinya..” tawar Pak Maman tanpa basa-basi. “Iya, pak! Saya sudah tidak sanggup lagi berjalan.” Pak Maman pun mengambil becaknya dan membawa seorang Ibu muda dan anaknya naik ke dalam becak. “Mau kemana, Bu?” tanya pak Maman. “Saya mau ke Cicadas. Bapak turunkan saja di depan angkot (angkutan kota).” Pinta ibu muda tersebut dengan ramah. “Baik bu!” Pak Maman pun mengayuh becaknya dengan semangat membara dihatinya. Akhirnya rezeki saya datang juga, batinnya bahagia. Siang pun berganti sore. Matahari yang tidak bersahabat kini terasa dekat dengan Pak Maman dan tukang becak lainnya. Hari ini uang yang terkumpul lumayan banyak. Setengahnya akan disetorkan kepada bandar becak dekat rumahnya, setengahnya lagi adalah hak untuk Pak Maman sendiri. Bersyukurlah Pak Maman karena bandar becaknya adalah seorang Haji yang baik hati dan ramah. Semakin sore semakin banyak orang yang baru pulang dari pabrik dan menaiki becak untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Pak Maman mengayuh becak. Mengayuh becak lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi. Hingga tiba saatnya Pak Maman untuk pulang ke rumahnya yang sangat sederhana. Rumah Pak Maman tidak jauh dari pangkalan becaknya. Itu sebabnya Pak Maman tidak terlalu mengkhawatirkan Dani karena jika sesuatu terjadi, maka Pak Maman bisa melesat cepat ke rumahnya. Kelelahannya hari ini telah terobati karena Dani memenangkan lomba cerdas cermat di sekolahnya. Betapa bangga dan bahagia hati Pak Maman. Dia sungguh bersyukur mempunyai anak yang begitu cerdas. Kehilangan sosok ibu tidak menjadikan Dani anak yang pemalas atau pemberontak. Dani selalu menurut pada kata-kata ayahnya. Pak Maman memeluk putranya erat-erat. Air mata bahagia menetes dari matanya. Ternyata anak seorang tukang becak bisa begitu berprestasi. Tidak sia-sia Pak Maman bekerja banting tulang demi menyekolahkan Dani. “Nak, Bapak punya sedikit rezeki. Kamu mau minta dibelikan apa?” tawar Pak Maman dengan tulus. Dani menggeleng. “ Terima kasih, pak! Dani cuma mau Bapak sehat saja. Jadi, bisa menyekolahkan Dani setinggi-tingginya. Menjadi sarjana seperti bapak.” Hati Pak Maman terenyuh kembali. Dipeluknya Dani. “Kalau Dani sudah bekerja Bapak tidak perlu bekerja untuk Dani lagi, tetapi Dani yang bekerja untuk bapak.” Pak Maman baru tersadar kalau ternyata anak yang disayanginya ini sudah tumbuh dewasa dan mengerti pengorbanannya selama ini. Keesokan harinya Pak Maman begitu bersemangat untuk tetap mengayuh becak. Mengantar para pelanggan ke mana saja. Urat-urat ototnya mengeluarkan tenaga yang jauh lebih besar daripada hari-hari yang lalu. Dia tidak peduli pada alam. Hujankah? Panaskah? Gempa bumikah? Pak Maman tidak peduli. Bekerja siang dan malam. Tanpa merasa lelah. Terbayang kata-kata Dani yang membuatnya terharu dan terus berjuang. Lembayung kuning mulai terlihat di langit yang berwarna keemasan. Adzan magrib berkumandang di masjid-masjid. Pak Maman membasuh muka dan lengannya bersiap untuk bersujud pada yang telah memberinya rezeki selama ini. “Dani...bapak sudah pulang. Bapak membawa makanan!” Teriak pak Maman sambil memasuki rumah sederhananya. Tetapi suara Dani tidak terdengar di telinganya. Pak Maman pun meletakan makanan di atas meja dan melangkah ; mencari Dani di dalam kamar. “Dani...” Pak Maman terkejut melihat anak semata wayangnya terbaring di atas tempat tidur reyot (tempat tidur yang sudah lama digunakan pak Maman dan anaknya untuk beristirahat). Nafasnya tercekat. Debaran jantung memenuhi seluruh


Cerpen

Halaman 9

organ tubuhnya yang lelah. Dani menggigil kedinginan. Pelan-pelan Pak Maman mendekati Dani. Keningnya berkerut. Seakan tidak percaya yang dilihatnya sekarang terbaring lemah adalah anaknya. “Nak, apa...apa yang terjadi?” tanya pak Maman pada anak kebanggaanya. Dani melihat bapaknya dengan lemah. Pak Maman meletakkan tangannya ke kening Dani. Panas. Suhu tubuh Dani sangat panas: seperti panas matahari yang setiap hari menghunusnya di jalan kala mengantar pelanggan becaknya. “Kau kenapa, Nak?” Pak Maman mengulangi pertanyaannya dengan kekhawatiran yang mendalam. “Kepala Dani sakit, pak! Sangat sakit...” rintih Dani. “Sekarang kamu makan dulu ya! Bapak sudah membawa makanan untukmu.” Pak Maman pun melangkah cepat dan mengambil bungkusan kresek yang di dalamnya terdapat nasi, daging ayam, dan sambal terasi. Makanan ini dibeli pak Maman dari warteg (warung tegal) yang biasa dikonsumsinya selama 5 tahun ini. Sudah lama rasanya Dani tidak makan daging ayam. Jadi, karena mendapat uang lebih, Pak Maman ingin menyenangkan hati Dani sekaligus memberinya hadiah karena telah berprestasi. Pak Maman terkejut dengan keadaan anaknya yang tiba-tiba terserang penyakit. Seharusnya Dani dibawa ke rumah sakit tetapi Pak Maman tidak punya uang sebanyak itu. Untuk makan saja susahnya minta ampun. Apalagi untuk pergi ke Dokter di rumah sakit sana. Gelar Sarjana mesin yang disandangnya sudah tidak berguna lagi. Siapa yang bisa menjamin jika menjadi sarjana akan hidup nyaman? Tidak! Itu semua omong kosong. Buktinya Pak Maman tidak pernah berhasil untuk bekerja di perusahaan mana pun dan akhirnya menjadi seorang tukang becak. Seandainya saja Pak Maman lebih cerdas, mungkin anaknya tidak akan menderita seperti ini, mungkin istri yang dicintainya tidak akan meninggalkannya begitu saja, mungkin ekonomi keluarganya akan jauh lebih baik, dan segala kemungkinan yang terlintas dalam pikiran. Tetapi Pak Maman berbesar hati. Dia sangat bersyukur bisa menjadi tukang becak karena ternyata istri yang dicintainya itu tidak setia dan meninggalkannya begitu saja setelah merasakan ekonomi pak Maman yang segala kekurangan, anak yang selalu bersamanya ini tidak pernah mengeluh apapun atau malu mempunyai bapak seorang tukang becak. Anak semata wayangnya ini bisa berprestasi dengan fasilitas yang sangat kurang memadai. Itu yang selalu disyukurinya. Jika Pak Maman adalah orang kaya, sekaya-kayanya orang kaya. Mungkin istri yang tidak pantas dikatakan sebagai seorang istri itu pun tidak akan memperlihatkan ketidaksetiaannya kepada Pak Maman. Mungkin, anak kebanggaannya akan memakan segala tipu daya dari pergaulan bebas yang akan menyeretnya pada kebodohan yang dapat menciptakan sifat kurang ajar padanya atau ibunya. Mungkin saja, keluarganya lebih hancur lagi daripada saat ini. Tetapi yang tidak bisa diterima adalah keadaan anaknya sekarang. Mau bagaimana? Apa yang harus dilakukan? Membeli obat warung sangat berbahaya karena Pak Maman tidak tahu apa yang diderita oleh anaknya. Pak Maman bingung. Dia berjalan hilir mudik di rumahnya yang sederhana. Sesekali memerhatikan Dani yang sudah tertidur karena lelah menahan sakit dikepalanya. Air mata Pak Maman mengalir lagi. Dia berdoa pada yang kuasa. Berharap mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

Buletin Langkah, September 2010

Dielusnya rambut Dani dan berkata, “Sabar ya, nak! Besok bapak akan membawa uang dan kita akan pergi ke rumah sakit. Bapak janji!” “Kenapa kau, Man?” tanya Wastu, teman Pak Maman sesama tukang becak. “Anak saya sakit dan saya bingung...” “Sakit apa dia? Sudah ke rumah sakit?” Pak Maman menggeleng. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa. “Saya tidak punya uang. Padahal saya sudah berjanji akan membawanya ke rumah sakit. Ternyata janji kosong yang saya ucapkan.” Wastu menepuk bahu Pak Maman. “Sabarlah! Mungkin hari ini kau akan dapat rezeki yang banyak.” Pak Maman tersenyum tetapi hatinya semakin gelisah. Hari itu Pak Maman hanya mendapatkan Rp 30.000,sedangkan setengahnya harus dibayarkan pada bandar becak. Badannya yang ringkih, bajunya yang sudah kotor, perut yang kelaparan, ditambah lagi selalu terbayang wajah Dani yang menderita membuat Pak Maman ingin berteriak. Berteriak pada bumi dan seisinya. Mempertanyakan keeksistensian Tuhan. “ D i m a n a Tu h a n d i s a a t s a y a b e n a r - b e n a r membutuhkannya?” gumam Pak Maman. Tetapi Tuhan memang benar-benar ada. Tiba-tiba saja Pak Maman teringat Pak Haji Bonobandar becak yang baik hati itu. Siapa tahu Pak Maman bisa meminta bantuan padanya. Meminjam uang untuk membawa Dani ke rumah sakit. Rumah Pak Haji Bono ada di belakang stasiun. Tanpa pikir panjang lagi, Pak Maman mengayuh becaknya menuju rumah Pak Haji Bono. “Woy, Man! Mau kemana?” tanya Wastu dengan terkejut yang melihat Pak Maman mengayuh becaknya dengan cepat. “Ke rumah pak Haji!” Jawab Pak Maman sambil berteriak. Wastu lega mendengar hal itu dan dia kembali membawa pelanggan ke tempat tujuannya. “Begitu...” ucap pak Haji Bono mengerti. Pak Maman mengangguk sopan. “Tentu saja bisa, Man! Saya akan memberikan uang itu bukan meminjamkannya. Jadi, pergunakanlah uang itu dengan sebaik-baiknya. Bawa Dani ke rumah sakit yang bisa dipercaya.” “Benarkah, Pak Haji?! Saya sangat berterima kasih. Semoga Pak Haji mendapatkan gantinya yang lebih besar daripada ini.” Ujar Pak Maman dengan sumeringah. “ Amien, Man!” Pak Haji Bono tersenyum. Stasiun kereta api telah terlewat. Dengan perasaan bahagia, Pak Maman mengayuh becak dengan cepat. Akhirnya, Tuhan membuka jalan untuk menyelamatkan anak dan hidupnya. Dia sangat bersyukur bisa mendapatkan uang ini. Uang untuk pengobatan Dani. Tunggulah Dani! Bapak akan pulang cepat dan membawamu ke rumah sakit. Pintu rel kereta api terbuka, Pak Maman yang mengayuh becak dengan terburu-buru tidak melihat kereta api bisnis sedang melaju kencang ke arahnya. Semakin dekat dan semakin dekat. Bandung, 20 Agustus 2009

Ratu Anggita Partawijaya Seorang perempuan yang biasa saja. Telah Menyelesaikan Studi di Fak. Ekonomi, Unpad.


Puisi

Halaman 10

Buletin Langkah, September 2010

Terjemahan

Puisi-Puisi Yehuda Amichai AKU TAK TAHU APAKAH SEJARAH TERULANG SENDIRI aku tak tahu apakah sejarah terulang sendiri tapi aku tahu bahwa kau tak melakukannya aku ingat saat kota terbelah tak hanya antara orang-orang Yahudi dan Arab, tapi antara aku dan kau, saat kita bersama-sama di sana. kita menjadi para biang kerok bagi tiap diri kita membangun sebuah rumah dari pertempuran ganas seperti orang-orang dari utara jauh mereka membangun rumah yang aman dan hangat dari balok es kota telah menyatu kembali tapi kita masih belum bersama-sama di sana kini aku tahu sejarah tak terulang sendiri seperti yang selalu aku tahu bahwa kau tak mau melakukannya

YERUSALEM di atas atap di Kota Tua cucian-cucian tergantung selama sinar matahari petang: seperai putih milik seorang wanita, yang menjadi musuhku sebuah handuk milik seorang pria, yang menjadi musuhku untuk menyeka basah keningnya, di langit Kota Tua sebuah layang-layang. di ujung lain dari benang, seorang anak aku tak bisa melihat karena tembok itu. kami telah mengibarkan banyak bendera, mereka telah mengibarkan banyak bendera. agar kami dapat berpikir bahwa mereka senang. agar mereka dapat berpikir bahwa kami senang. Yehuda Amichai (1924-2001), sastrawan Ibrani, dilahirkan di W端rzburg, Jerman. Pada tahun 1935, ia dan keluarganya berimigrasi ke Palestina, tahun berikutnya, mereka ke Yerusalem. Di sana, selama Perang Dunia II, ia bergabung sebagai pasukan relawan kerajaan Inggris. Ia mengajar kesusastraan di Hebrew University of Jerusalem, termasuk, sempat memberikan kuliah New York University, Berkeley, Yale. Ia wafat di Jerusalem. Diterjemahkan oleh

Wahid Ibrahim. Manusia Langkah, Mahasiswa Sastra Arab, Unpad.


Esai

Halaman 11

Oleh

Den Bagus

Buletin Langkah, September 2010

Seperti Ruang

Ranah sastra dapat dikatakan memiliki ruang tersendiri bagi setiap individu. Diamsalkan kapal, ia adalah kabin berikut pelbagai kelengkapan yang menjadikannya penuh sesak estetika sebuah ruangan. Dan di sana kerap individu menghabiskan banyak waktu untuk sekedar ngaso, bersenandika, serta seabrek kegiatan lain demi memuaskan hasrat manusiawi dirinya pribadi. Namun tak dapat dikesampingkan syak wasangka terhadap individu (dalam hal ini penyair) yang rajin bergelut di ruang ini kerap dianggap mengacuhkan keadaan sekitar. Baik itu dalam ruang lingkup kepenulisannya maupun konteks sosial tempatnya hidup bertautan satu sama lain, jika tak pantas disebut bersenyawa. Lelaku kepenyairan yang terkesan menyimpang ini memiliki pangkal bala dalam diri “bakal penyair” yang diharuskan memilih jalan yang akan ditempunya kelak. Entah itu jalan yang gelap dan penuh keterasingan atau jalan terang benderang dengan berbagai kegemerlapan, salah satunya mestilah ditempuh oleh seorang penyair (Langgeng PA : 2010). Kemudian, jika jalan kepenyairan yang gelap dan menghablur beserta seluruh kesendirian tersebut menjadi pilihan, apakah ia harus terlepas dari segala macam pertautannya dengan ruang sosial tempatnya hidup dan mengidupi diri? Dan apakah seluruh keanomaliannya sekalipun tak bisa disentuh dari luar dunia kepenyairannya? Hal ini mungkin yang menjadi maksud awal dalam esai Dicky Kribo (selanjutnya disebut Dicky) yang berjudul “Sastra Seperti Apa?” pada Buletin Langkah edisi Mei 2010. Dengan berbagai pernyataan yang diungkap olehnya untuk melindungi jalan kepenyairannya yang (bisa) dikatakan orang dadais itu, Dicky melancarkan counter attack yang langsung menohok jantung pertahanan pemberi kritik tersebut. Tentu fatal akibatnya bila hal itu tak mampu diantisipasi dengan strategi bertahan yang apik oleh “lawan”. Namun serangan ini jelas dirancang oleh Dicky dengan terbata-bata, setidaknya ia tak mampu menghabisi lawan yang berada di ujung tanduk. Alih-alih menghabisi, Dicky malah kelihatan ragu akan semua yang telah ia lakukan. Ibakah ia? Merunut pada persepsi Dicky bahwa puisi atau cerpen yang diciptakan “untuk masyarakat” haruslah dibuat dengan jelas dan tidaklah membingungkan para pembaca, adalah salah satu serangan balik yang dilancarkan terhadap lawannya. Namun keraguannya terpampang jelas dalam finishing touch yang malah dibumbui antitesis berbentuk kesadaran? bahwa karya sastra adalah bebas nilai, kemudian menjadi bumerang bagi pembelaan (kilah?) yang digalangnya semenjak awal. Bangun serangan cantik yang menurut saya mengadopsi gaya permainan total football Belanda dengan serangan silih berganti dari setiap lini itu terkesan sia-sia dengan membangun antitesis tersebut. Amatlah gegabah jika menganggap Dicky sedemikian tendensius, lantas menganggap apa yang ia kemukakan hanyalah pembelaan belaka. Serta merta simpulan itu saya tarik atas dasar keuletan Dicky dalam mendedahkan persoalan realis yang setidaknya tidak setiap penulis mengetahui hal tersebut. Apresiasi besar saya berikan pula atas pilihan Dicky terhadap penulis J.K Rowling yang dijadikannya contoh sebagai penggubah tulisan (dengan kesan) sederhana namun memiliki banyak pesan dan juga tidak melepaskan tulisannya dari konteks sosial saat ini.

Sekali lagi Dicky begitu cerdas menggalang serangan. Dengan penjelasan tentang dua hal tersebut, ia coba memainkan ball possession menunggu kesempatan lain untuk menyerang. Barangkali kali ini ia akan habis-habisan mencabik lawannya, kemudian mengakhirinya dengan sebuah seringai kemenangan. Namun amatlah disayangkan, pada kesempatan akhir ini pun, sekali lagi, ia menunjukan “kekejamannya” hanya dengan sebuah pisau tumpul yang tak mampu merobohkan lawan, justru menggiringnya kian tersudut. Di akhir esai ini dengan pernyataannya yang benar-benar terasa Gambar: Peter Blake enteng, Dicky berujar bahwa jauhnya masyarakat kini dengan sastra disebabkan oleh tingginya estetika sastra di mata mereka, juga metafor berlebihan bentukan para penulis yang malah membuat sastra kian tidak dimengerti dan urung dijamah masyarakat. Atas “benang merah” yang diurainya itulah saya teringat pada silang pendapat antara Damhuri Muhammad dan Yopi Setia Umbara dalam rubrik Khazanah, Pikiran Rakyat, pada April 2009. Dalam peristiwa bermanfaat itu akhirnya dapat kita tarik kesimpulan bahwa beban yang dikandung puisi sangatlah berat. Tak mampu dipandang dari satu sisi perspektif, sebab ia memikul desakan gerak transformasi sosial dan kultural masyarakat yang melahirkannyaselain desakan lain penulisnya sendiri. Sebagaimana penuturan Damhuri Muhammad pada esai selanjutnya (Ikhtiar Menyelamatkan Puisi : 2009) bahwa tidak ada alasan untuk bermain-main, apalagi mendistorsi-apalagi menyudutkan-martabat kepenyairan menjadi puisi-puisi yang hanya mahir berbicara tentang hujan, salju, embun, atau bunga mawar. Seperti yang dideskripsikan Dicky sebagai puisi kamar untuk onani pribadi. Sebab sastra (apapun bentuknya) memiliki ruang tersendiri di setiap diri individu. Entah ia nyaman atau tidak berlama-lama di sana, tergantung selera dan kemauannya. Tak bisa kita membujuk apalagi memaksakan kehendak. Semua kembali pada individu tersebutsebab ialah si empunya ruangan itu. Jika hendak membuka ruang sastra dalam diri individu lainnya, mungkin bisa dimulai dengan membuka ruang diri bagi individu tersebut. Bandung, Agustus 2010 Esai Dicky Kribo sebelumnya dapat diunduh di : http://www.ziddu.com/download/9998921/BuletinLangkahM ei2010.pdf.html

Den Bagus Lahir 23 Maret, 1990. Blog: dedenbagoes.multiply.com bergiat di Majelis Sastra Bandung.


Ruang Pembaca...

Mulai edisi depan, Oktober, kami sediakan kolom “Ruang Pembaca” sebagai media apresiasi, komunikasi, maupun interaksi antar pembaca dan pembaca dengan Manusia Langkah (sebutan untuk anggota Langkah). Silakan kirim melalui message Facebook Langkah (Komsas Langkah) atau email komsas_langkah@yahoo.com dengan subjek Ruang Pembaca maksimal 100 karakter (dengan spasi). Sertakan alamat dan nama lengkap. Mulai edisi depan, Oktober, kami sediakan kolom “Ruang Pembaca” sebagai media apresiasi, komunikasi, maupun interaksi antar pembaca dan pembaca dengan Manusia Langkah (sebutan untuk anggota Langkah). Silakan kirim melalui message Facebook Langkah (Komsas Langkah) atau email komsas_langkah@yahoo.com dengan subjek Ruang Pembaca maksimal 100 karakter (dengan spasi). Sertakan alamat dan nama lengkap. Mulai edisi depan, Oktober, kami sediakan kolom “Ruang Pembaca” sebagai media apresiasi, komunikasi, maupun interaksi antar pembaca dan pembaca dengan Manusia Langkah (sebutan untuk anggota Langkah). Silakan kirim melalui message Facebook Langkah (Komsas Langkah) atau email komsas_langkah@yahoo.com dengan subjek Ruang Pembaca maksimal 100 karakter (dengan spasi). Sertakan alamat dan nama lengkap.


Puisi

Halaman 13

Buletin Langkah, September 2010

Angga Norfauzan Pemilik Nomor 2010 Hallo? Dasar kau bekicot racun..(ringtone) Iya, ada apa? Aduh, maaf saya harus mengurusi tabung kompor yang meledak di mana-mana dan masalah tetangga saya Hallo? Mohon maaf, saya tak banyak waktu untuk berbicara, soalnya saya harus menyelesaikan masalah di kantor Pajak, KPK, dan Instansi Keamanan Masyarakat Hallo, hallo? Iya hallo, kenapa? Maaf Saya harus segera berangkat ke kantor, membangunkan bawahan saya yang sedang tertidur dan mengabsensi apakah mereka masuk kantor atau tidak Hallo? Aduh, maaf saya sangat buru-buru. Saya harus mengujungi Bapak Century dan Lapindo Hallo? apakah ini dengan nomor 2010 Iya kenapa? O iya, saya lupa bertanya, sebenarnya Anda ini siapa dari kemarin telepon saya terus? Nama saya rakyat Indonesia Tut.. (telepon ditutup oleh pemilik nomor 2010) Mencoba ditelepon kembali, pijit nomor 2 tit, 0 tut, 1 tit, 0 tut Hallo? Maaf, nomor yang anda tuju sudah tidak aktif atau nomor sudah tidak berlaku, terima kasih Tut.. tut.. tut.. (ditutup entah sama siapa) Gimana ini padahal nama saya rakyat Indonesia, bukan teroris. Jatinangor, 2010

Angga Norfauzan Aktif di Langkah. Mahasiswa Sastra Arab, Unpad.


Puisi

Halaman 14

Buletin Langkah, September 2010

Puisi-Puisi Nelly Sukma Ismara

Senin Dia diam padaku hari ini Sedari aku melihatnya di seberang jalan hingga lonceng tertawa aku tak tanya apa dan mengapa sia-sia dia pasti diam saja sudahlah memang dunia penuh orang gila le.co Goog

m

GSSTF, Februari 2010

Kata Andai kata diciptakan untuk kita berkata-kata lalu mengapa kau diam saja ketika aku menginginkan kau Berkata meski hanya satu kata dan mengapa kau pandai melaknat Jutaan kata hanya demi sepotong kata. 2010

Nelly Sukma Ismara Koordinator Langkah. Mahasiswa Sastra Inggris, Unpad.


n Tire : o Inf

v k ta O a

i ian


Cerbung

Halaman 16

Buletin Langkah, September 2010

Legenda Sang Raja Garuda (Bag. II)

Gambar: “Sweet Dream� by Sheis Pretty

Oleh Dicky Kreebo ... Sukmari dan Para Naga Di sebuah negeri hiduplah seekor naga jantan bernama Sukmari. Sukmari berukuran sangat kecil dan panjangnya sekitar tiga puluh senti, sisiknya berwarna biru, memiliki dua tanduk kecil di kepala, berbentuk seperti ular. Sukmari adalah sekor naga campuran. Ayahnya berasal dari negeri Soren, sedangkan ibu Sukmari berasal dari negeri China. Kalau dibandingkan dengan naga-naga Soren yang lain, bentuknya lebih menyerupai Dinasourus bersayap sedangkan di China naga-naga lebih menyerupai ular besar bertanduk yang bias menyemburkan Api. Sukmari lahir sebelum pemerintahan Dambu dimulai. Setiap Naga yang Lahir, sebelum Pemerintahan Dambu, memiliki tubuh yang kecil. Naga-naga itu dibuat berukuran kecil oleh para penyihir yang mengatasnamakan keadilan dan keamanan bagi umat manusia. Sebelum pemerintahan Dambu, Ilustrasi: Fredy Wansyah negeri Soren dikuasai oleh para penyihir Kondi. Para dewan Penyihir Kondi menginginkan naga-naga, semuanya, di sihir menjadi berukuran sangat kecil. Pada jaman dewan Kondi setiap orang bebas memelihara naga. Beberapa masyarakat sangat menyukai pemerintahan di bawah dewan Kondi namun beberapa msyarakat juga menentangnya dengan sangat keras. Setelah memimpin negeri Soren dengan cukup lama akhirnya dewan Kondi harus takluk di bawah pemerintahan Dambu. Pemerintahan Dambu tidak bisa memimpin jika tidak dibantu para Naga yang bersatu memberikan kekuatan kepada Dambu. Dengan kekuatan yang diberikan para naga Dambu mereka berhasil melakukan kudeta. Dambu bersama pengikutnya melakukan serangan mendadak ke Istana dewan Kondi. Dambu memberikan imbalan kepada para naga yang membantunya. Setelah Dambu memimpin, dikeluarkannya sebuah peraturan pemerintahan yang memperbolehkan naga kembali berukuran besar. Namun dambu ternyata tidak menepati seluruh janjinya kepada para naga untuk memberikan kebebasan bagi mereka mengembangbiakkan keturunanya. Para naga hanya bisa dipelihara oleh orang-orang yang berada di dalam Istana Dambu atau orang-orang yang telah diberikan kuasa untuk memelihara naga. Dambu berusaha membunuh seluruh naga yang dipelihara masyarakat. Kedua orang tua Sukmari ikut terbunuh, dalam tindakan operasi pembunuhan itu. Masyarakat menyebut operasi tersebut dengan sebutan 'Zathana' diambil dari bahasa kuno yang berarti pemusnahan. Hanya sedikit naga yang selamat. Naga-naga yang selamat disembunyikan oleh para pemiliknya. Sukmari masih begitu sangat kecil ketika saat operasi Zathana berlangsung. Setelah adanya operasi Zathana banyak para naga yang hanya berumur muda. Sekarang umur sukmari sudah 100 tahun. Seekor naga dapat hidup sampai ribuan tahun lamanya. Namun bisa juga hanya sampai lima menit saja. Beberapa naga suka untuk mengakhiri hidupnya ketika para pemiliknya mati. Hal-hal itu biasanya dilakukan oleh naga yang tidak memiliki keturunan. Naga adalah makhluk cerdas yang memiliki kebebasan dan tingkat stress yang tinggi. Naga suka sekali bermain-main dengan pikirannya sendiri. Ketika mereka memutuskan mati maka kematian adalah jalan terbaik bagi mereka atau alasan lain yang berhubungang dengan keselamatan manusia ataupun pemiliknya Sukmari merupakan seekor naga yang memiliki kemampuan merubah unsur sebuah benda dengan semburan api yang dimiliki olehnya. Selain merubah unsur, Sukmari terkadang mampu memprediksi apa yang akan terjadi di masa akan datang, atau biasanya disebut dengan ramalan. Tiap naga memiliki keahliannya masing-masing. Kadang keahlianya bisa bertambah dengan bertambahnya pengalaman dan umurnya. Pada dasarnya naga memiliki kemampuan menyerap ilmu dengan cukup baik. Sehingga naga biasa berguru dengan Naga yang lain untuk mempelajari keahlian yang lain. Namun karena sifat naga yang kompleks, mereka hanya akan memilih keahlian sesuai dengan kepribadian dan keperluan. Namun bagi beberapa naga mereka memilih keahlian berdasarkan ramalan dari hati mereka. Hati naga memiliki bisikan alam. Hati naga mampu menyerap energi yang dimiliki alam. Dengan alasan itu para dewan penyihir Kondi membuat mantra khusus untuk para Naga. Mantra tersebut berfungsi untuk mengecilkan volume tubuh Naga. Sehingga dengan mengecilkan tubuh para naga, para dewan kondi bisa memperkecil kematian umat manusia. Karena semakin besar ukuran hati naga, maka akan semakin besar pula energi yang mampu mereka serap. Dengan semakin sedikitnya energi yang diserap maka makin sedikit peluang naga untuk memiliki kekuatan yang dahsyat. Para Dewan Penyihir Kondi trauma denga peristiwa yang menimpa umat manusia pada jaman kuno. Pada saat itu para naga mengamuk dan membunuh begitu banyak manusia.


Cerbung

Halaman 17

Buletin Langkah, September 2010

Dahulu kala, pada jaman kuno, naga dibagi menjadi dua golongan. Salah satunya, golongan yang sangat dekat dengan para manusia. Dan, golongan yang sangat menolak manusia. Naga yang menolak berhubungan baik dengan manusia dikarenakan bagi para naga tersebut manusia hanyalah sekedar seonggok daging yang bisa dijadikan santapan. Jumlah naga yang menolak manusia jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang mau berhubungan baik dengan manusia. Bagi para naga yang mau berdampingan hidup dengan manusia, mereka memandang bahwa manusia adalah makhluk imut dengan kemampuan berpikir yang luar biasa dan harus dilindungi. Masyarakat Soren menyebut kelompok naga yang ingin bersanding dengan manusia dengan sebutan 'inklet', dan 'soreaun' untuk kelompok yang menolak keberadaan manusia. Di jaman kuno, para soreaun melakukan serangan secara besar-besaran ke beberapa desa. Naga soreaun menculik dan membunuh begitu banyank manusia. Dalam catatan sejarah, hampir 800 manusia dibunuh oleh para naga Soreaun. Entah alasan apa yang membuat para naga membunuh manusia, belum ada alasan yang jelas dalam catatan sejarah para naga membunuh dan menculik manusia pada saat itu. Meskipun para naga Soreaun tidak menyukai keberadaan manusia. Kelompok soreaun tidak pernah membunuh manusia. Dengan kejadian tersebut seluruh naga di negeri soren mengadakan sebuah pertemuan 'deksrotna' antar naga. Pertemuan yang mencetuskan sebuah mantra sakti untuk mengubah tubuh para naga menjadi kecil. Mantra kuno tersebut diberikan kepada seorang penyihir putih. Namun mantra tersebut tidak serta merta digunakan pada saat itu juga. Pertemuan yang mayoritas dari kelompok naga Inklet, selain menghasilakn mantra kuno, pertemuan itu juga menghasilakn kesepakatan bersama bahwa di tiap desa harus dilindungi minimal dua ekor naga. Sehingga mantra kuno merasa tidak diperlukan untuk digunakan. Sejarah terus berkembang. Zaman pun juga mulai berkembang. Naga-naga, manusia, dan para penyihir berkembang dengan pesat. Para penyihir putih semakin banyak. Mereka menamai diri mereka dengan Kondi. Para penyihir Kondi akhirnya memutuskan untuk mengunakan mantra kuno tersebut setelah terbentuknya sebuah dewan di negeri Soren yang semakin berkembang. Penyihir Kondi menginginkan ketentraman selalu terjaga. Sehingga Para penyihir Kondi memilih untuk mengkecilkan semua naga yang ada di Soren. Meskipun banyak mendapatkan perlawanan dari kelompok soreaun, pada saat itu naga-naga menjadi berukuran kecil. Para naga Inklet memutuskan agar hidup selalu dekat dengan manusia. Mereka berbagi kepintaran, energi, bahkan sampai masalah bertani. Naga-naga menjadi peliharaan para manusia. Namun naga Soreaun yang menolak keberadaan manusia mereka tetap tingal di daerah pegunungan Est. Menurut dongeng negeri Soren, pegunungan Est adalah tempat pertama kali diturunkanya naga dari Langit. Para naga biasanya selalu berkumpul di pegunungan Est setiap bulan purnama. Bersambung...

Dicky Kreebo Mahasiswa Sastra Rusia, Unpad. Aktif di Langkah dan beberapa komunitas film. Email: dickykribo@hotmail.com

Kolom cerbung ini ditulis oleh beberapa Manusia Langkah, yang telah ditentukan dan disepakati bersama. Penanggung Jawab, yakni Dicky Kreebo. Setiap edisi Buletin Langkah akan ditulis oleh Penulis yang berbeda-beda. Di edisi pertama ditulis oleh Dicky, dan rencananya di edisi kedua ini ditulis oleh Zulfikar Tnuk. Namun berhubung suatu hal yang tidak dapat merealisasikan rencana tersebut, maka edisi kedua ini ditulis oleh Dicky Kreebo.

Penjara itu kete rbatasa K eterbata n (S. Ananta san itu guna. “Cat penjara atan dalam Ingatan�)


ah k g Lan n kah i t g m e n l o Bu pot.c as La d a nlo .blogs Koms w do gkah ook: n a n b k Sila urnallalui face di J mela atau


Buletin Langkah edisi September