Issuu on Google+


2 www.bipnewsroom.info

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009

Menjaga Warisan Budaya Bangsa Beberapa waktu lalu, Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan batik Indonesia sebagai satu dari 76 warisan budaya nonbenda milik dunia. Penetapan itu sangat menggembirakan kita semua, karena selain mempertegas posisi bahwa batik adalah karya asli bangsa Indonesia, juga menunjukkan bukti bahwa mutu karya bangsa ini dihargai sangat tinggi oleh masyarakat internasional. Ada dua ‘amanat’ penting di balik pengakuan dunia terhadap eksistensi batik Indonesia. Pertama, kita sebagai pemilik batik seharusnya bangga memakainya sebagai busana seharihari. Kedua, kita wajib menjaganya agar kelestarian batik bisa dipertahankan hingga akhir zaman. Dua amanat tersebut mendesak untuk dilaksanakan, karena dalam kenyataannya banyak di antara kita yang justru tidak akrab bahkan tidak mengenal batik. Kelalaian kita dalam memperhatikan batik harus dibayar mahal ketika beberapa waktu lalu motif kain tradisional ini sempat diklaim oleh orang-orang dari negara tetangga sebagai milik mereka. Meskipun akhirnya mereka mencabut klaim itu dan meminta maaf, akan tetapi pada saat yang bersamaan mereka terus mencari celah kelalaian kita dalam menjaga warisan budaya nenek moyang. Diakuinya berbagai budaya asli Indonesia lainnya seperti reog, tari pendet, beberapa judul lagu, dan angklung oleh mereka adalah bukti bahwa kita belum mampu menjaga aset budaya bangsa dengan baik. Alih-alih mengurus hak kekayaan intelektual, hak paten dan hak cipta, kita malah asyik berwacana dan berdiskusi panjang-lebar membahas masalah ini. Untuk menghindarkan klaim negara lain terhadap produk budaya nasional, tidak ada pilihan lain, Indonesia harus segera mengurus hak cipta dan atau mematenkannya di lembaga internasional. Kalau lalai, negara lain akan mengklaimnya sebagai produk budaya mereka, dan bukan tidak mungkin mendaftarkan hak cipta atau patennya terlebih dahulu. Contoh nyata adalah tempe, makanan asli masyarakat Indonesia sejak zaman baheula, kini patennya

Batik dan Generasi Muda

Libatkan Masyarakat

Batik sekarang sudah menjadi bagian masyarakat dunia, dan itu merupakan kebudayaan asli Indonesia. Tak terhitung betapa banyaknya pameran dan festival batik untuk mengenalkan karya batik ke kalangan luar negeri. Di satu sisi memang cukup bagus bisa melakukan kegiatan untuk menunjukkan bahwa Indonesia juga memiliki kebudayaan yang cukup tinggi nilainya. Namun sayangnya kegiatan yang sama tidak dilakukan untuk kalangan dalam negeri terutama untuk generasi muda. Kegiatan pameran salah satunya merupakan media untuk saling bertukar informasi serta menambah pengetahuan tentang batik untuk generasi muda.

Banyak permasalahan di Indonesia yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara sederhana. Tanpa perlu birokasi yang rumit dan cukup melibatkan masyarakat saja. Bayangkan jika sanksi sosial sudah memasyarakat atau dimasyarakatkan, tentu para penegak hukum akan lebih ringan pekerjaannya. Mereka cukup memfokuskan diri pada pekerjaan yang lebih besar dan akan pasti akan lebih produktif. Pelanggar hukum yang besar dilawan dengan sanksi hukum yang tegas dan para pelanggar kecil bisa dibuat tak berkutik dengan sanksi sosial yang diterapkan masyarakat. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana menjadikan rakyat Indonesia makin kritis dan peduli? Ada dua jalan yang dapat dilakukan oleh Pemerintah yaitu

desain: ahas/danang foto: bf-m, danag

Anita via komunika@bipnewsroom.info

dipegang oleh warga pendapatan domestik bruto Kalau lalai, tidak saja identitas negara lain. Hal hingga Rp104,6 triliun. budaya tersebut akan hilang, namun juga akan berakibat buruk hilangnya yang sama dapat Namun demikian, mendafnilai ekonomi dalam jumlah yang terjadi pada batik, tarkan kekayaan budaya ke sangat besar. tari-tarian, lagu, dan lembaga hak cipta dan paten hasil karya budaya dunia saja tidak cukup. Kita manusia Indonesia lainnya. juga harus menjaga keberadaannya dengan Tentu sangat ironis jika suatu saat kita harus mengupayakan agar kekayaan budaya tersebut mengurus izin dan membayar royalti kepada dapat terus hidup dan berkembang di tengah pemilik hak cipta atau paten di luar negeri, kalau masyarakat. Dengan menjaga kelestariannya, akan membuat dan memperdagangkan tempe, dukungan masyarakat terhadap produk budaya batik, atau menggelar kesenian reog. Namun tersebut akan terus ada, sehingga jika ada klaim hal semacam ini bisa saja terjadi jika kita tidak dari bangsa lain akan muncul reaksi keras dari segera proaktif bertindak, pada saat bangsa lain masyarakat pendukungnya. sedang berusaha sekuat tenaga untuk mendaLangkah paling rasional untuk menjaga kelespatkan hak cipta dan paten dari berbagai produk tarian budaya bangsa adalah menjadikan budaya budaya Indonesia tersebut. itu sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan Sejatinya, UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang sehari-hari. Contoh nyata adalah batik yang saat Hak Cipta telah menjamin perlindungan hak ini kembali menjadi tren dalam dunia fesyen di kekayaan intelektual komunal ataupun personal. Tanah Air. Di mana-mana, kita bisa saksikan Daerah diberi kebebasan mendaftarkan agar orang mengenakan busana batik. Dengan mendapat perlindungan sebagai kekayaan bumeningkatnya jumlah pemakai batik, dengan daya bangsa. Akan tetapi dalam prakteknya, sendirinya permintaan pasar akan bertambah, mengurus hak cipta dan paten produk budaya, sehingga produksi pun harus ditambah pula. Ini lebih-lebih di tingkat internasional tidaklah tentu akan membuat industri batik nasional terus mudah. Contoh nyata, Pemerintah Provinsi tumbuh dan berkembang, sehingga batik tidak Daerah istimewa Yogyakarta sudah sejak lama akan hilang ditelan zaman. mendaftarkan hak cipta dan paten batik gaya Analogi seperti di atas, bisa diterapkan Yogyakarta, sementara Pemerintah Provinsi Bali dalam karya budaya lainnya. Kesenian tradisimendaftarkan hak cipta tarian dan tetabuhan onal misalnya, akan tetap lestari jika masih musik Bali. Sayangnya, sampai sekarang upabanyak pihak yang mementaskannya secara ya tersebut belum berhasil. Upaya yang sama berkelanjutan. Demikian pula karya budaya dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang lainnya, akan tetap hidup jika masih ada pihak mendaftarkan angklung, namun juga belum yang menjadikannya sebagai bagian tak berhasil sampai muncul klaim dari negara terpisahkan dari rutinitas kehidupan seharitetangga bahwa alat musik tradisional itu milik hari. mereka. Dengan bahasa yang lebih sederhana, sejaContoh-contoh di atas menunjukkan tinya kita sendirilah yang menentukan eksistensi pentingnya pendataan dan perlindungan hak budaya bangsa. Mau timbul atau tenggelam, cipta atas karya pribadi dan hak paten atas tergantung bagaimana kita mengenali, karya komunal. Kalau lalai, tidak saja identitas memahami dan menjaga budaya tersebut. budaya tersebut akan hilang, namun juga Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. akan berakibat buruk hilangnya nilai ekonomi Oleh karena itu, marilah kita mengenali budaya dalam jumlah yang sangat besar. Padahal nasional kita sendiri. Setelah kenal, tentu akan kekayaan budaya Indonesia, termasuk budaya timbul rasa sayang, sehingga jika ada yang nonbenda, berpotensi besar menumbuhkan berani mengusiknya kita akan membelanya industri kreatif yang memberikan menambah mati-matian (g).

pertama, membuat iklan melalui media masa, baik koran, radio maupun televisi, dengan kemasan yang menarik dan mudah dicerna dengan topik–topik keseharian di kalangan masyarakat. Kedua, bisa dimasukkan melalui kurikulum pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA sampai di perguruan tinggi. Teguh W via komunika@bipnewsroom.info

Informasi Potensi Bencana Akhir-akhir ini banyak beredar isu akan terjadi gempa. Entah melalui SMS atau bahkan ada yang disampaikan lewat mulut tanpa tahu siapa sebenarnya penyampai informasi awalnya. Selain meresahkan warga, tentu ada satu dampak lanjutannya. Yang jelas kalo informasi sudah "jungkir balik" seperti ini, siapa lagi yang harus dipercaya.

Sekali lagi warga biasa yang jadi korban. Langkah kepolisian untuk mengusut pengirim SMS awal memang patut diapresiasi. Namun alangkah lebih baik lagi jika pemerintah bekerjasama dengan media massa untuk mengulas tentang karakter alam kita yang memang punya siklus untuk melakukan "aktifitas'nya. Contoh gunung kapan terakhir meletus, dan siklus terjadi kembali kapan dan lainnya. Budi via komunika@bipnewsroom.info

Apa kabar IGOS? Sejak tahun 2004 lalu ada gerakan Goes Open Source, dimana pemerintah bertekad menggunakan sebuah perangkat lunak yang berlisensi bebas dan terbuka. Namun hingga sekarang bagaimana implementasinya di lingkungan pemerintah sendiri? Dengan Goes Open Source

bukan berarti pemerintah hanya akan menggunakan sebuah perangkat lunak dari sebuah vendor tertentu. Karena ada banyak sekali vendor yang mampu men-suply pemerintah dengan perangkat lunak opens source. Bahkan bukan tidak mungkin vendor lokal suatu saat akan berkompetisi dengan vendor opens source internasional dalam sebuah kebutuhan pemerintah. Memang saat ini banyak perangkat lunak dalam kategori opens source. Contohnya untuk sebuah aplikasi perkantoran atau office application, tidak hanya OpenOffice yang memiliki lisensi FOSS, tetapi Koffice juga berlisensi yang sama. Abi Word juga merupakan program pengetikan yang berbasis opens source. Dari manakah kami bisa mendapatkan informasi tentang hal ini? Andy via komunika@bipnewseroom,info

Tabloid komunika. ISSN: 1979-3480. Diterbitkan oleh Badan Informasi Publik DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA Pengarah: Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika). Penanggung jawab: Freddy H. Tulung (Kepala Badan Informasi Publik) Pemimpin Redaksi: Bambang Wiswalujo (Kepala Pusat Pengelolaan Pendapat Umum). Wakil Pemimpin Redaksi: Supomo (Sekretaris Badan Informasi Publik); Ismail Cawidu (Kepala Pusat Informasi Politik Hukum dan Keamanan); Isa Anshary (Kepala Pusat Informasi Perekonomian); Gati Gayatri (Kepala Pusat Informasi Kesejahteraan Rakyat). Sekretaris Redaksi: Mardianto Soemaryo. Redaktur Pelaksana: M. Taufiq Hidayat. Redaksi: Lukman Hakim; Selamatta Sembiring; M. Abduh Sandiah; Asnah Sinaga. Reporter: Suminto Yuliarso; Lida Noor Meitania; Karina Liestya; Elpira Indasari N; Koresponden Daerah: Nursodik Gunarjo (Jawa Tengah), Yaan Yoku (Jayapura). Fotografer: Fouri Gesang Sholeh Desain/Ilustrasi: D. Ananta Hari Soedibyo (TA); Farida Dewi Maharani, Danang Firmansyah. Alamat Redaksi: Jalan Medan Merdeka Barat No. 9 Jakarta Telp/Faks. (021) 3521538, 3840841 e-mail: komunika@bipnewsroom.info atau bip@depkominfo.go.id. Redaksi menerima sumbangan tulisan, artikel dan foto yang sesuai dengan misi penerbitan. Redaksi berhak mengubah isi tulisan tanpa mengubah maksud dan substansi dari tulisan tersebut. Isi komunika dapat diperbanyak, dikutip dan disebarluaskan, sepanjang menyebutkan sumber aslinya.


3 s a t u k a t a i n d o n e s i a

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009

Dan Dunia Pun Mengakuinya memiliki sekaligus menggunakannya,” kata Doddy Supardi, Dewan Penasihat Ya y a s a n B a t i k Indonesia. Jalan Panjang Pengukuhan batik Indonesia sebagai budaya non-benda warisan

P

engukuhan batik Indonesia sebagai budaya non-benda warisan manusia oleh UNESCO diharapkan bisa memunculkan kesadaran bahwa banyak hal bisa dikembangkan dari potensi budaya Indonesia. UNESCO adalah Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang juga bertugas menanggani masalah Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan. Setelah wayang dan keris diakui UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia, batik pun mendapatkan pengakuan yang sama.

Warisan budaya tak benda kemanusiaan merupakan satu dari tiga daftar yang dibuat di bawah Konvensi UNESCO 2003 mengenai Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda untuk Kemanusiaan. Organisasi itu sebelumnya sudah mengakui wayang pada tahun 2003 dan mengakui keris pada 2005. Setelah pengakuan tersebut ada tugas berat menanti pemerintah dan masyarakat. ”Harapannya setelah ada pengakuan, maka dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan produksi dan peningkatan penjualan akibat dari kesadaran masyarakat yang tinggi untuk

Setelah pengakuan tersebut ada tugas berat menanti pemerintah dan masyarakat manusia oleh UNESCO bukan lantaran akibat adanya klaim-klaim tentang batik oleh negara lain. Ada tahapantahapan yang harus dilalui, mulai dari memasukannya sebagai nominasi, melakukan pembuktian-pembuktian hingga ke tahap pengakuan. Bahkan sejak 2008, pemerintah telah melakukan penelitian lapangan dan melibatkan komunitas serta ahli batik di 19 provinsi di Indonesia

untuk menominasikan batik kepaada UNESCO. Bahkan proses pengujian ini juga dilakukan lewat sidang tertutup. ”Kalau sebelumnya pada 11 sampai 14 Mei 2009 telah dilakukan sidang terturtup dalam penentuan ini dihadapan enam negara di Paris, maka tanggal 2 Oktober besok merupakan sidang terbuka sebagai acara pengukuhan yang akan dilakukan di Abu Dhabi,” ungkap Dody. Ciri Khas "Batik Indonesia berbeda dengan batik milik Malaysia dan China, karena negara ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki negara lain," kata Ketua Asosiasi Tenun, Batik, dan Bordir Jawa Timur, Erwin Sosrokusumo. Menurut dia, batik asli Indonesia bukan produksi pabrikan (printing/cap/kain bermotif batik), meski ada pula batik cap yang juga termasuk batik khas Indonesia. "Batik Indonesia sebenarnya sudah dikenal bangsa lain sejak zaman Kerajaan Jenggala, Airlangga, dan Majapahit, namun saat itu bahan utamanya didatangkan dari China. Penyebabnya, kain sebagai bahan dasar membatik sulit diperoleh di Indonesia. Oleh karena itu, batik memang harus diklaim Indonesia dan bukan negara lain yang mengaku-aku," katanya.

Kian Mendunia Nun jauh, di ibukota kebudayaan Eropa, Riga, Latvia, malam kebudayaan Indonesia digelar dalam resepsi diplomatik yang mendapat perhatian besar. Dubes negara-negara berpengaruh seperti AS dan Inggris hadir. Publik mengantre sampai dua gelombang. Berlangsung di venue prestisius Museum of Foreign Arts, satu bangunan berimpitan dengan Istana Presiden Republik Latvia, (5/10/2009), malam kebudayaan Indonesia tersebut menampilkan Tari Topeng, Tari Anoman, Gamelan, Pagelaran Wayang Kulit dalam bahasa Inggris, pengenalan kuliner dan keramahtamahan Indonesia serta pameran batik Sleman, Yogyakarta. "Item tersebut terakhir itu sebagai bagian dari hari batik dan pelaksanaan kampanye batik nasional sebagai salah satu produk budaya dan identitas bangsa," terang Dubes Linggawaty Hakim melalui Sekretaris I Pensosbud KBRI Stockholm Dody Kusumonegoro. Tentu penghargaan dan pengakuan internasional tak cukup untuk menjadikan batik sebagai bagian dari keseharian masyarakat. Ada tantangan lebih untuk menjadikan batik sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian. (m)

Kilau Batik Di Negeri Orang Tidak hanya di tanah air, di Amerika Serikat pun batik dikagumi banyak orang. Pameran batik di beberapa kota di AS selalu penuh pengunjung. Sementara Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela suka mengenakan batik dalam acara-acara kenegaraan.

S

ebanyak 22 kain batik koleksi ibunda Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Ny. Ann Dunham, dipamerkan di Museum Textile Washington DC, 9-23 Agustus 2009. Pameran ini puncak dari serangkaian pameran yang telah diadakan di beberapa kota di Amerika Serikat. Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Sudjadnan Parnohadiningrat mengatakan, selain untuk mempererat hubungan Indonesia-Amerika, pameran ini juga merupakan promosi terhadap batik sebagai milik budaya Indonesia. ”Batik bukan sekadar tekstil, lebih dari

itu. Batik merupakan nilai-nilai sosial, budaya, dan merupakan produk budaya sejak berabadabad lalu,” kata Sudjadnan dalam jumpa pers di Hotel Mandarin, Washington DC. Pameran pertama diadakan di Chicago pada Mei lalu, di Los Angeles pada Juni, dan New York pada Juli 2009. Menurut rencana, koleksi batik milik Ann Dunham akan dipamerkan pula di Jakarta bersamaan dengan kunjungan Presiden Barack Obama pada November 2009. Sekitar 500 hadirin menyaksikan malam budaya yang diberi tajuk ”Enchanting Indonesia”, termasuk di

antaranya Maya Soetoro Ng, adik Presiden Barack Obama selaku ahli waris dari batikbatik milik ibunya, Nyonya Ann Dunham. Ketika meninggal pada tahun 1995, Ny. Ann Dunham meninggalkan sekitar 100 kain batik, yang dia kumpulkan ketika berada di Indonesia pada tahun 1970-an hingga 1980-an. Pada umumnya, pengunjung mengaku kagum dengan corak batik yang dibuat secara tradisional dan dengan teknik yang unik. Seorang pengunjung, Peter Dunn, bahkan menyatakan, tidak ada kain di dunia ini yang lebih bagus dari batik, baik dari segi desain maupun motifnya. “Sangat indah, pantas jika UNESCO memasukkan sebagai salah satu warisan budaya dunia,” kata Dunn. Obama dan Mandela Terpesona Ada yang berkesan saat Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Sudjadnan Parnohadiningrat,

menghadiri acara buka puasa bersama di Gedung Putih. Pakaian batik yang ia kenakan, tanpa ia duga mendapat pujian khusus dari Presiden Barack Obama. “Kata Presiden Obama, baju batik yang saya kenakan sangat bagus,” ujar Sudjadnan. Sudjadnan menyatakan, bukan sekali itu saja busana batik yang ia kenakan mendapatkan pujian dari para pemimpin negara. Dalam beberapa forum resmi di AS maupun luar AS, saat ia mengenakan busana batik, banyak pemimpin negara berkomentar bahwa baju yang ia kenakan indah dan unik. “Semua menyatakan bagus, tidak ada satupun yang mencela. Namun pemimpin setingkat presiden yang memuji baju batik yang saya kenakan secara langsung ya baru Presiden Obama,” imbuh Sudjadnan bangga. Rupanya bukan hanya Presiden Obama saja yang suka

batik. Jauh hari sebelumnya, presiden Afrika Selatan saat itu, Nelson Mandela, juga jatuh cinta pada batik sejak pandangan pertama. Tokoh anti apartheid ini terpesona saat Presiden RI saat itu, Soeharto, menghadiahkan cenderamata kepadanya berupa kain batik berbagai jenis. Sejak itu, kecintaannya pada batik tak pernah luntur. Begitu cintanya, sampai-sampai Mandela menggunakan batik sebagai busana resmi dalam acara-acara kenegaraan di Afrika Selatan. Di luar AS dan Afrika Selatan, banyak pemimpin dunia yang mengagumi batik. Mantan pemimpin China Hu Jintao, mantan pemimpin Filipina Corazon Aquino, mantan PM Australia Paul Keating, mantan Direktur Bank Dunia Paul Wolfowitz, adalah tokoh-tokoh yang pernah melontarkan pujian untuk batik. Rata-rata komentarnya sama, menganggap bahwa batik sangat indah dan unik. Maka aneh, jika pemimpin negara lain memuji bahkan mau menggunakan baju batik sebagai busana resmi, sementara kita malah lebih suka pakai jas. (wahyu-multisumber)


www.bipnewsroom.info

4

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009

Membatik dan Berbagi Rejeki

Gadis remaja yang belum genap berusia 20 tahun itu sedang mencantik, menorehkan tinta pada kain dengan bantuan canting. Jarinya lincah menorehkan malam di kain. Sesekali dia meniup cantingnya, "Biar cepat kering ketika digoreskan dikain mbak," ucapnya. Rambut hitam panjang terjuntai seolah menyempurnakan padua keanggunan kain yang belum selesai ditulis semua. Ana, begitu gadis belia tersebut biasa disapa, adalah salah satu pembatik Gemawang yang tinggal di Kampung batik tulis, Dusun Banaran, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Ana belajar membatik berawal dari ajakan temantemannya. "Awalnya diajak teman melihat proses membatik, kemudian jadi tertarik," kenang Ana yang sudah setahun bergabung dalam Paguyuban Nyi Ageng Pandanaran dibawah asuhan Abdul Kholiq Fauzi. PNS Pengrajin Batik Nama terakhir disebut, Abdul Kholiq Fauzi adalah pemilik sekaligus pelopor batik Gemawang. Usaha Fauzi mempromosikan batik sedikit banyak memberikan perubahan. "Dulu, Batik Gemawang tidak mampu bertahan karena tidak

didukung SDM yang memadai. Kini pun ada bantuan modal mereka dari Pemkot," tuturnya berkisah tentang geliat Batik Gemawang. Kegiatan membatik di desa Gemawang ini dimulai tahun 2005 dengan diadakannya perlatihan membatik dari jogja. Kegiatan membatik ini sempat aktif beberapa saat namun kemudian mati suri. Tahun 2008, kelompok pembatik Desa Gemawang memang dihidupkan kembali oleh Fauzi. "Saat itu saya sudah memutuskan untuk bekerja sebagai pengrajin batik," cerita Fauzi yang dahulu menjadi pegawai negeri sipil di Kalimantan. Dengan modal dari kantung sendiri, Fauzi merekrut orangorang lama yang pernah mengikuti pelatihan membatik. "Alhamdulilah, sekarang pembatik disini sudah aktif kembali," tandas Fauzi yang tak mau menunggu lama untuk mutasi dari Kalimantan. Belajar dari Alam Batik Gemawang mempunyai ciri khas unsur Batik Kopi yaitu kembang kopi, kopi pecah, kopi mawut, dan godong kopi. Juga ada Tala Madu dan Baruklinting yang biasa digunakan untuk

kopi. Bagi pembatik makna pengantin. kopi pecah memberikan makna Motif batik selain positif. "Motif batik kopi pecah' diartikan sebagai hasil sering dianggap menyiratkan seni, oleh beberapa orang pelajaran moral bahwa dipercaya mengandung seseorang seyogyanya mau kekuatan magis. "Banyak mengorbankan kepentingan pengantin menggunakan pribadinya demi kepentingan motif magan puspa kramasyarakat luas," jelasnya man dan baruklinting tapa," kembali berfilsafat. jelas Fauzi. Bagi Fauzi yang Tampung Penganggur bukan berasal dari keSaat ini Batik Gemawang luarga asli pembatik hal sudah memiliki 8 orang pekerja itu dikembalikan kepada aktif. Selebihnya 22 orang pembelinya. Koleksi motif adalah pekerja lepas yang batik yang diproduksinya membatik di rumah. "Mereka pun tidak banyak. "Kebayang membatik di rumah adalah nyakan motif saya kemibu-ibu yang waktunya harus bangkan dari motif batik dibagi dengan yang dimiliki keluarganya. ibu saya," Sedangkan jelasnya Salah satu tujuan benyang mudamerendah. tukan Fauzi ini adalah m u d a n y a . D a r i Disini mereka semua motif menampung pengangbisa sambil yang dibuat guran dari warga Desa bergaul," Fauzi, motif gurau Fauzi. Baruklinting Gemawang. Mereka L e t a k lah yang adalah remaja putri Sanggar Batik memiliki lulusan SMK atau buruh G e m a w a n g makna paling milik Fauzi ini dalam. "Ini garmen yang terkena bersebelahan terinspirasi PHK akibat d e n g a n Legenda sekolah dasar Baruklinting, krisis moneter dan masjid. seorang Tak heran jika anak yang di sela istirahat suasana sanggar ingin diakui oleh orangtuanya," ramai. Kegiatan membatik juga jelas Fauzi. menjadi tontonan anak-anak Tak berlebihan, selain sekolah dan remaja."Banyak ingin mengikat dengan lokasi dari mereka berawal dari Ambarawa yang dekat dengan menonton akhirnya tertarik," tempatnya Batik Gemawang ungkap Fauzi. sekarang, Legenda Baruklinting Salah satu tujuan bentukan diakui Fauzi menggambarkan Fauzi ini adalah menampung semangat Batik Gemawang. pengangguran dari warga Desa "Dengan berusaha sekeras Gemawang. Mereka adalah mungkin untuk dapat diakui remaja putri lulusan SMK atau masyarakat sebagai batik khas buruh garmen yang terkena Gemawang," ungkapnya. PHK akibat krisis moneter Namun menurut beberapa waktu lalu. Fauzi, motif yang banyak digemari Modal Ketekunan adalah motif Untuk bisa membatik bertema memang harus bermodali kesabaran dan ketekunan. Paling tidak hal itulah yang diakui Fauzi. Membatik diharuskan duduk dan mencanting berjam-jam, bahkan seharian. Kendala ini lah yang membuatnya gagal merekrut pegawai, "Dari 50 orang biasanya bertahan antara 10 sampai 13 orang saja. Mereka-mereka yang mampu bertahan itulah yang saat ini membantunya memproduksi batik," kata Umi Sumiyati Adi Susilo, pengusaha Batik Semarangan 16. Saat ini Sanggar Batik 16 sudah memiliki pegawai tetap 30 orang yang selalu bekerja di tempatnya mulai dari jam 8 hingga jam 16.00. Sedangkan 20 pencantingnya bekerja di rumah masing-masing. Pecanting rumahan ini dibayar berdasarkan banyaknya kain yang

dicantingnya. "Biasanya mereka mampu menyelesaikan 1 cantingan selama 3 hari," jelas Umi. Untuk 1 kain cantingan ukuran 2,5 meter Umi mampu membayar 50.000, "Itu baru untuk proses mencantingnya saja," jelasnya. Umi harus membayar untuk ide desain, orang yang menggambar, orang yang melakukan proses pewarnaan. Begitu banyak orang yang terlibat dalam proses pembuatan batik. Pasar Lokal Cukup Besar Meskipun belum tersiar seantero Indoensia, pesanan batik untuk seragam dan pameran sudah cukup banyak. "Target saya memenuhi lemari koleksi saja, tapi sampai sekarang tidak pernah terpenuhi," terang Fauzi. Meskipun pesanan tidak rutin, tetapi selalu ada. Bahkan sejak Desa Gemawang dikukuhkan sebagai tujuan wisata dalam Paket One Day Tour (ODT), selalu ada saja orang yang berkunjung dan membeli batik produksi Sanggar Gemawang. Penggemar Batik Gemawang tidak hanya warga Semarang saja, tapi sudah merambah Jakarta, bahkan beberapa turis asing juga menyukai produk batik Fauzi. "Orang-orang Jakarta dan turis asing jika berkunjung mencari batik-batik dengan warna indigo," tambahnya. Warna-warna indigo atau indogofera adalah warna-warna yang didapat dari pewarnaan alam. Konon harganya cukup mahal. Tembus Gerai Besar Keberhasilan Batik Semarang 16 masuk ke sebuah waralaba besar dari Perancis yang beroperasi di Indonesia. Semula waralaba ini hanya hanya menjual batik printing saja, dengan kisaran harga Rp50 ribu hingga Rp150 ribu. "Alhamdulilah sekarang kita sudah dapat menggeser perlahan batik-batik printing, di gerai besar Palembang," jelasnya. Untuk batik cap Umi mampu menawarkan harga mulai dari Rp35ribu. Sedangkan untuk batik tulis sedikit sulit dijual di waralaba itu karena harga jualnya memang masih tinggi, sedangkan kebanyakan waralaba sanggup menjual dengan kisaran harga tertinggi Rp 300ribu. Kendalanya saat ini Batik Semarang 16 kekurangan stok, karena kekurangan tenaga pekerja batik cap. "Andalannya cuma satu orang saja untuk mencap, karena umumnya lelaki sulit untuk diajak terlibat dalam kegiatan membatik," jelasnya. Tapi Umi dan Fauzi masih bisa berharap dapat meraup dan membagi rejeki dengan mengembangkan batik sekaligus berbagi rejeki dengan tetangga sekitar. Alih-alih jadi pegawai, sekarang dengan membatik Fauzi bisa mengabdi untuk melestarikan warisan budaya bangsa. (faridadewi@yahoo.com)


5 s a t u k a t a i n d o n e s i a

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009

Mengubah Nasib Warga sprei batik printing. Saya tanya-tanya orang sekitar sana di mana belajar membatik, saya selalu mendapatkan jawaban tidak pasti. Begitu dicek ternyata tidak ada," ungkapnya. Kini, Umi telah pandai membatik. Orientasinya belajar membatiknya berubah. Setelah beberapa waktu, timbul keinginan untuk lebih mengenalkan batik pada masyarakat. Mulailah ia mengadakan pelatihan membatik di Semarang sehingga orang yang tertarik di bidang itu tak harus ke Jakarta seperti dirinya. "Cukup saya saja mbak yang belajar membatik ke sana-kemari. sekarang saatnya saya membuka tempat buat teman-teman lain yang ingin belajar membatik," katanya mantap

Sebelum tahun 2004, sosok Umi Sumiyati Adi Susilo bukanlah siapa-siapa, tidak banyak orang yang mengenalnya. Namun setelah bergaul dengan batik ia malah jadi "terkenal". Ketertarikan Umi terhadap batik berawal dari pertemanannya dengan Rahayu Panggardjito di tempat pelatihan pengembangan kepribadian Semarang Study Center (SSC). Suatu hari Rahayu memperlihatkan koleksi batik-batiknya ke pada Umi, "Koleksi batiknya cukup banyak, hingga ada yang berharga Rp5 juta, Rp15 juta. Bagaimana membuatnya bisa semahal itu harganya?" kenangnya kembali sembari

tersenyum. Kejadian itulah yang akhirnya memacu Umi menekuni batik. Tapi perjalanan belajar batik menghadapi banyak rintangan, "Sulit mencari tempat untuk belajar batik, tapi sudah saya bulatkan tekad untuk menekuninya." Kerja Keras Mencari kursus membatik di Semarang kala itu sangat sulit, Umi sudah mencari di tempat yang dikatakan sebagai kota batik, seperti Solo, Yogyakarta dan Pekalongan. "Aku belajar batik itu rekoso (Jawa= susah payah). Untuk memperdalam batik saya harus bolak-balik Pekalongan. Dijanjikan untuk belajar proses pewarnaan, begitu kesana ternyata kelas dibatalkan. Pembatalan itu berulang terjadi," ceritanya. Kisah itupun seolah berulang saat belajar di Solo, "Ketika itu sentra batik Laweyan Solo belum ada. Dari rumah ke rumah hanya dijumpai orang yang berdagang daster d a n

Berbagi Pengetahuan Awalnya hanya teman dan kerabat yang belajar batik dari Umi, kemudian beberapa tetangganya. Dan perjuangan Umi untuk lebih memperkenalkan batik berlanjut hingga ke lingkungan sekolah-sekolah sebagai kegiatan ektrakurikuler. Motivasinya makin memuncak dengan tidak hanya membantu menyebarluaskan cara membatik, tetapi juga ingin melestarikan batik dengan target utama generasi muda. Di tahun pelajaran 2005-2006, lembaga pelatihan yang didirikan Umi mendapat tempat di sekolah internasional SMP dan SMA Semesta Bilingual Boarding School di Semarang. Selanjutnya pelatihan batik pun dilakukan di SMP Karangturi dan SDI Al-Azhar 14 Semarang. "Di sekolah sambutannya luar biasa, ditargetkan kelas hanya 25 orang tapi pada kenyataannya yang mengikuti ekskul membatik bisa mencapai 50 sampai 100 orang," kenang Umi. Targetnya melampaui ekstra kurikuler favorit lainnya, seperti basket dan Paskibraka. Hal ini sekaligus membuktikan ketertaikan generasi pada seni membatik. Menurut Umi mengajar anak-anak sekolah itu lebih mudah, mereka lebih kreatif, "Biasanya mereka lebih senang berkreasi dengan kreativitas mereka sendiri," ungkapnya. Selain imajinasi mereka lebih luas, mereka lebih peka dengan hal-hal baru, lebih cepat menangkap, tandas Umi. Selain itu lembaganya juga menjalin kerja sama dengan Museum Ronggowarsito Jawa Tengah dalam bentuk pelatihan membatik untuk muda-mudi karang taruna, kelompok ibu PKK se-Kota Semarang, dan siswa SMA se-Kota Semarang secara berkala. Dan masih banyak daftar pelatihan yang telah adakan. "Kalo dihitung-hitung sudah sampai seribu sampai dua ribuan orang yang mengikuti pelatihan saya selama ini," ucapnya bangga. Ubah Nasib Warga Awal mula membatik di Semarang bukan dimulai dari Sanggar batik Umi. "Menurut cerita orangtua, dulu tahun 1970-1980 sudah ada kegiatan membatik di Semarang, tapi terhenti," jelas Umi. Hingga saat ini sudah ada sekitar 50 kelompok pembatik di Semarang, tapi memang masih dalam kapasitas kecil. Meskipun demikian kebanyakan pengusaha batik di Semarang menghasilkan batik yang berbeda-beda dan tidak memiliki ciri khas sendiri. Berangkat dari keinginan besar ia berupaya mengenalkan corak khusus Semarang. Melalui pelatihan-pelatihan inilah namanya semakin melambung. Beberapa hasil latihan diikutkan dalam pameran, "Sambutan dari media begitu besar. Alhamdulilah batikku mulai dikenal," ucapnya tersenyum tersipu. Umi mulai merekrut pegawai melalui pelatihan yang dia adakan di lingkungannya sekitar. "Kebetulan di lingkungan aku yang mau belajar itu para ibui b u r u m a h tangga, dimana kegiatan membatik digunakan untuk mengisi waktu luang", ucapnya. Bahkan ada satu desa yang dulu memang dikenal sebagai sarangnya preman. Seiring dengan waktu, sejak para ibu-ibu dan anak gadisnya bergabung dalam sanggar ini, desa itu mampu menghapus predikatnya sebagai sarang preman. "Mereka sudah

memiliki penghasilan dan bisa digunakan para suami-suami mereka untuk modal usaha lainnya," tutur Umi. Umi membayangkan jika semua orang bisa melakukan membatik di rumah, jumlah kelompok pembatik bertambah. Tentunya jumlah batik yang dihasilkan lebih banyak, dan jelas jumlah oarng yang diberdayakan juga semakin banyak. Masih Tradisional Tak hanya Umi, pengusaha kain Batik Daud Wiryo Hadinagoro asal Yogya juga menggunakan peluang yang sama dalam menjalankan roda ekonomi masyarakat. Jenis batik yang dikerjakan Daud adalah batik hand made yang mengandalkan warnawarna alam yang berasal dari berbagai jenis kayu. "Batik yang saya buat dikerjakan secara manual dan bukan produk massal. Jadi pembuatannya lebih lama," katanya. Harga batik buatannya di Jepang sangat mahal. Satu potong kain batik bisa mencapai Rp 40 juta. Sementara di dalam negeri harganya hanya Rp 2 juta per potong. Dengan usaha itu Daud bisa memberdayakan sekitar 40 orang-orang "pinggiran". Di bawah bimbingannya, orang-orang yang sebelumnya belum punya keterampilan, akhirnya ahli dalam membuat batik. "Orang luar negeri banyak yang tertarik dengan batik Indonesia karena memang buatan Indonesia lebih halus, warnanya lebih variatif, dan coraknya beragam," tuturnya. Menurut Umi batik memang akan berdampak positif bagi perekonomian bangsa. Pemerintah dan masyarakat pun akan terdorong untuk menjaga kelestarian batik dan mengembangkan motif batik. “Masyarakat pasti akan lebih kreatif sehingga mendorong perkembangan sentra-sentra batik dan UKM batik yang ada. Ini jelas akan meningkatkan ekonomi kerakyatan warga,� ungkapnya. Ternyata perempuan tak hanya berkiprah sebagai pengusaha, perempuan juga merupakan kelompok terbesar yang terlibat dalam proses produksi batik tradisional. Masih kentalnya, kedekatan perempuan dengan batik disebabkan membatik dapat dikatakan sebagai kerja rumahan. Kegiatan ini biasa dilakukan oleh para perempuan atau ibu rumah tangga, di selasela aktivitas mereka mengurus keluarga. Berawal dari aktivitas sampingan perempuan inilah, batik kemudian berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang dijalankan perempuan. (fdm)


6 www.bipnewsroom.info

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009

bahwa saat ini diperlukan kemasan dan pemasaran yang menarik untuk mengembangkan usahanya. ”Salah satu terobosan kami yaitu memberikan diskon 15% bagi pelanggan yang dapat menunjukkan boarding pass penerbangan maskapai ini,” katanya sambil menunjuk logo salah satu perusahaan penerbangan nasional di etalase pajang produk batiknya. Selain menjual langsung batik di showroom Gunawan juga menawarkan batik secara online di internet. Memang usaha batik milik Gunawan mempunyai website sendiri. Pengaksesnya dapat menyaksikan dan memilih produk batik melalui foto dan membeli dengan dua cara, transfer ke rekening miliknya atau langsung bayar saat barang diantar. ”Belum sebanyak penjualan konvensional, Mas, tapi hasilnya tetap lumayan lah,” kilahnya sambil menyeruput kopi hangat di kafe yang didirikan sebagai tempat pembeli batiknya melepas lelah usai belanja. Letak kafe itu tepat bersebelahan dengan gerai showroom batik. Berdaya dengan Komunitas Bagi Ir. Alpha Fabela Priyatmono, M.T., pemilik batik Mahkota Laweyan dan sesama pengusaha batik, upaya menjaga warisan tradisi tak hanya cukup dengan

Jalanan di sepanjang Kampung Batik Laweyan masih lengang pagi itu. Rumah-rumah dengan atap limasan bertembok tinggi, semakin menambah kesan sunyi dan sepi gang kecil di kawasan kampung yang menurut sejarah lebih tua dari Kerajaan Pajang. Itulah sisi lain Kota Solo, Jawa Tengah. Kisah tentang sebuah sentra industri batik yang tumbuh mengiringi perubahan kota dan berusaha memulihkan kejayaan batik di negeri sendiri. Kampung Batik Laweyan orang mengenalnya. Kampung tua di Solo ini konon dibangun semasa Kerajaan Paca, jauh sebelumnya berdirinya Kraton Kesunanan Surakarta. Di kampung ini masa kejayaan saudagar batik KH. Samanhoedi masih meleka dalam ingatan. Putusan Badan PBB untuk maslah sosial budaya, Unesco yang menetapkan batik sebagai warisan budaya nonbenda dari Indonesia juga mempengaruhi kebangkitan pengusaha batik di kampung Laweyan. Mobil dari luar kota tampak parkir di depan toko-toko batik di jalan yang sempit. Pada musim liburan panjang seperti Lebaran lalu, kawasan kampung batik Lawey a n

kian ramai. "Untuk parkir saja sulit," ujar seorang tukang parkir.

bekerja dan memproduksi batik saja. ”Saat ini telah berdiri Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) yang beranggotakan seluruh masyarakat Laweyan,” jelasnya. Pengurus FPKBL terdiri dari berbagai unsur masyarakat Laweyan, baik dari pengusaha batik, pemuda dan wirausaha sektor lainnya yang berada di kawasan Laweyan. ”Forum ini didirikan untuk membangun dan mengoptimalkan seluruh potensi Kampoeng Laweyan untuk bangkit kembali dan menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan globalisasi,” cetus Ketua FPKBL yang mewakili forum itu menerima Penghargaan Upakarti 7 Januari 2009 lalu. Pemberdayaan komunitas dengan cara sedikit berbeda di tempuh oleh Umi

Tak Sekadar Warisan Sejak pagi buta itu, di balik tembok tinggi milik saudagar batik, aktivitas ekonomi mulai bergerak. Puluhan pekerja pria dan wanita tampak tekun menorehkan canting malam (alat dan bahan pembuat batik tulis, red) di atas kain untuk membentuk lembaran ba-tik yang memikat. Di bagian lain ada yang bergerak lebih cepat dengan menggunakan cap bermotif modern untuk memenuhi selera konsumen. ”Usaha ini sudah berlangsung turuntemurun di keluarga saya,” tutur Gunawan, pemilik merek Batik Putra Laweyan, salah satu pengusaha di ”Kampung Batik” Solo. Tapi bukan berarti usaha warisan ini dikelola asal-asalan. Diantara geliat batik, hampir di semua daerah batik, Gunawan justeru kehilangan generasi dan kreatifas. Hal ini dan para diperparah dengan adanya serbuan batik print pengusaha yang diproduksi ala pabrikan b a t i k Laweyan dengan mesin. sadar

Sumiyati, pengusaha batik Semarangan. Umi yang mengembangkan batik di Kota Semarang, Jawa Tengah ini lebih memilih komunitas sebagai basis usaha batiknya. "Modal untuk membuat industri rumahan batik itu mudah," tutur Umi. Cukup dengan menyediakan tempat, beberapa canting, wajan kecil dan kompor dan keberhasilannya mengembangkan pelatihan batik, "Kita dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat," ungkapnya. Benar juga, kini Umi berhasil mendorong masyarakat desa di sekitar tempat tinggalnya untuk ikut membuat produk batik agar menambah penghasilan keluarga mereka. Ancaman Industrialisasi Di tengah geliat dan aktivitas usaha batik, dapat dikatakan bahwa hampir di semua daerah batik justeru mulai kehilangan generasi dan kreatifas. Hal ini kemudian diperparah dengan serbuan batik print yang diproduksi ala pabrikan dengan mesin. Secara umum, di Indonesia ada tiga jenis batik yang beredar, yaitu batik tulis, cap dan print. Batik jenis terakhir inilah yang menjadi ancaman. Sementara kedua jenis yang awal membutuhkan sumber daya yang sekarang seolah kian langka. Sebagaimana disampaikan oleh Umi, Sanggar Batik 16, Semarang, Jawa Tengah miliknya memproduksi dua jenis batik, yaitu batik cap dan batik tulis. Keduanya menggunakan bahan malam untuk menggambar. "Batik tulis menggunakan media canting untuk menorehkan bahan malam di kain, sedangkan batik cap menggunakan alat serupa stempel yang diolesi bahan malam," jelasnya. Keduanya sama-sama menggunakan keterampilan tangan. Jika dilihat dari hasilnya, ada sedikit perbedaan, batik cap memiliki pola lebih konsisten dibandingkan batik tulis. Akan tetapi dari segi harga, batik tulis jauh lebih mahal, karena tingkat kesulitannya lebih tinggi. "Yang paling murah itu ya harga batik print, karena cukup dengan mesin selesai semua," ungkap Umi Sumiyati sedikit dongkol. Menurut Umi, teknologi batik print hanya menguntungkan orang kaya saja. Modal awal untuk membuat usaha batik saja cukup besar, karena harus menyediakan mesin-mesin yang harganya mencapai ratusan juta. Selain itu semua pekerjaaan membatik dilakukan oleh mesin, "Itu artinya tidak banyak manusia yang terlibat didalamnya. Berbeda dengan membatik cap dan tulis, semua proses manual dan otomatis banyak melibatkan orang. Lagi pula hasil penjualan juga terdistribusi kepada pekerja langsung. Jika yang melakukan adalah mesin maka hasil penjualan batik juga harus dikurangi nilai penyusutan mesin dan pemeliharaan mesin," jelasnya panjang lebar. Serbuan kain bermotif batik alias batik printing hanya bisa dicegah jika ada niat pemerintah. "Satu-satunya cara memerangi batik printing agar batik tulis dan cap hidup adalah dengan sebanyak mungkin menggelar pameran dan acara tentang batik agar masyarakat kenal dan paham tentang batik. Hal itu perlu difasilitasi pemerintah," kata Murdijati Gardjito, Sekretaris Umum


7 s a t u k a t a i n d o n e s i a

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009

Paguyuban Pecinta Batk Indonesia Sekar Jagad. Bersahabat dengan Alam Selain soal batik print, pembatik tradisional juga tengah menghadapi dilema dalam penggunaan bahan kimia dalam proses pembatikan sintetik, yang memang jika ceroboh akan dapat merusak kulit. Namun demikian upaya ini sudah mulai diperhatikan beberapa seniman batik. “Ya, mulai dari ketakutan itulah saya mulai mencari alternatif bahan lain untuk mem-batik. Kurang lebih dua tahun saya mencoba meneliti bahan-bahan dari alam,” ujar Pramuji (39), seorang seniman batik yang mendapatkan rumus jitu pengganti warna sintetik dari bahan-bahan alami. Pram yang awalnya hanya seorang pengangguran, tapi berbakat batik, mencoba memasuki Balai Batik. Di tempat itu ia ditugaskan untuk mencari bahan alternatif lain sebagai pengganti bahan dasar sintetik. Ia pun mulai mengolah berbagai bahan alam, mulai dari daun mangga, akar mengkudu, daun pecang, kulit mahoni, dan lainnya. Dari bahan-bahan itulah maka untuk pertama kalinya seorang Pram berhasil menemukan warna-warna yang khas untuk membatik. “Saya pun mengajak banyak orang untuk warna alam, tetapi tidak banyak yang berani memproduksi sendiri. Bahkan awalnya banyak orang yang menilai, memakai bahan alam hanya akan menghasilkan warna-warna kusam dan kecoklatan. Tetapi ternyata itu tidak. Saya bisa membuat warna yang terang, bahkan warna-warni sekalipun," ungkap suami Atik Sulitianingsih ini. Tapi setelah berhasil menemukan pewarna alam, Pram tidak berhenti berkreasi di situ saja. Di samping berharap dapat memiliki rumah produksi yang luas dan gerai pribadi, ia juga berencana akan mengembangkan batik alamnya ke dalam bahan kaos. Tahun 2003, beberapa pemuda pengangguran di area rumah Pram, Jalan Pengok PJKA GK1/743 F Blok K6, Yogyakarta, dikerahkan. Sampai satu setengah tahun kemudian ia menuai benih. Mulai saat itu banyak para butik di Yogya, Jakarta, Bali, bahkan sampai ke Kanada yang memesan batik alam kepadanya. Apa yang membedakan batik ayah satu orang anak ini tidak banyak, hanya bahan pewarna saja. Sedangkan proses membatiknya sama seperti proses membatik umumnya. Menggunakan kain mori, cairan lilin, canting, perendaman dan penyemuran. Kini, dengan modal Rp10 juta, Prams Batik Natural Colour telah dapat mengantongi keuntungan bersih Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan. Dari harga batiknya yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah ini ia pun dapat memberi gaji empat pembatik dan tiga orang pewarnanya mulai dari Rp15 ribu hingga Rp25 ribu perharinya. Tentu ini sebuah hasil ekonomi yang lebih dari cukup. Bahkan, karya batiknya telah dipakai oleh beberapa menteri. Kini pun Pram dengan karyawannya sedang membuatkan kain batik yang akan disuguhkan kepada Presiden Soesilo Bambang Yudoyono. Paduan Kreasi dan Wisata Berbeda dengan industri batik di kawasan lain. Kampung Batik Laweyan tak hanya menawarkan baju atau kain batik saja. Ada beragam produk lain yang menggunakan batik sebagai pembungkusnya. Mulai dari perabot interior, lukisan, dan handycraft. ”Produknya unik. Di beberapa gerai dijual terbatas sehingga tidak ada produk yang serupa. Suasana belanjanya juga nyaman kok,” celetuk Firman (28) salah satu pengunjung sambil memilih sandal-sandal batik. ”Selain belanja, saya juga bisa melihat proses pembuatan batik” tambahnya. Memang beberapa pengusaha batik juga membawa pengunjungnya untuk lebih jauh kenal batik dengan mempraktekkan pembuatan batik. Bahkan di Gerai Batik Mahkota Laweyan, secara rutin digelar workshop pembuatan batik. ”Pesertanya masyarakat umum yang ingin belajar membatik, pelajar, dan mahasiswa. Kami menyediakan kain dan perlengkapan membatiknya,” ujar Fabela. Bahkan, ”Kalau peserta menginginkan berkeliling Kampung Katik Laweyan ia juga bisa menyediakan dokar (delman, red) untuk transportasinya,” kata Fabela yang juga dosen arsitektur sebuah universitas di Surakarta ini Menurut Fabela, konsep kampung wisata ini akan terus dibenahi dengan menawarkan berbagai romantisme. "Beberapa rumah kuno akan direnovasi, akan dijadikan semacam kafe atau lounge. Semuanya dengan nuansa kental batik”, jelasnya. Memang masyarakat perlu diajak untuk mempromosikan batik, "Karena warga memiliki akses dan jangkauan yang lebih luas, baik di dalam maupun di luar negeri," kata Sosiolog Universitas Sumatera Utara, Prof Dr Badaruddin, MA. Lebih jauh ia menjelaskan, pengenalan batik ini harus dilakukan secara serius dan berkesinambungan, sehingga negara luar dapat mengetahuinya. Setiap tanggal 25 digelar acara Salaweyan, kegiatan rutin untuk mempromosikan Kampung Batik Laweyan sebagai kampung wisata. ”Local genius Kampung Laweyan harus di jaga, tidak asal bikin batik terus dijual. Diperlukan kreativitas dalam memasarkan batik,” tegas Fabela Priyatmono. ”Kami ingin menciptakan brand untuk membangun citra Kampung Batik Laweyan yang unik dan tidak dimiliki industri batik di tempat lain,” pungkas Fabela yakin. (danang, dewi dan yuliarso)

"Jika memang ada, apa ciri khasnya? Bagaimana lekukan motifnya? Bagaimana warna khasnya? Padahal kegiatan membatik di Semarang ada sekitar tahun 1970 hingga 1980-an, yang kemudian sempat mati," tanya Umi Sumiyati Adi Susilo, pengusaha Batik Semarangan 16.

B

atik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad ke-17, yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam perkembangannya dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, dan wayang beber. "Melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini," jelas Pramuji (39), seniman batik Yogyakarta. Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional dengan ciri kekhususannya sendiri. Dari beberapa yang terkenal sebagai masyarakat batik, selain Solo, Pekalongan, dan Cirebon, adalah Yogyakarta. Batik Yogyakarta adalah salah satu dari batik Indonesia yang pada awalnya dibuat terbatas hanya untuk kalangan keluarga keraton saja. Setiap motif yang terujud dalam goresan canting pada kain batik Yogyakarta adalah sarat akan makna, adalah cerita. Hal inilah yang membedakan batik Yogyakarta dengan batik-batik lain, yang menjaga batik Yogyakarta tetap memiliki eksklusifitas dari sebuah mahakarya seni dan budaya Indonesia. "Di dalam motif batik pun terdapat banyak, seperti motif bouquet, ceplok, kawung, kelir, lereng, nitik, parang, seling, sido luhur, sogan, truntum, tumpal, udan liris, dan wirasat," kata Pram. Mencari Karakter Batik yang dihasilkan pada masa lalu memiliki motif yang berbeda-beda, tidak ada ada kesepakatan motif atau warna khas. Hingga saat ini pun masih banyak pertanyaan mengenai keberadaan Batik khas untuk kota tertentu, termasuk batik asli Semarang, misalnya.

Antara Pesisir dan Keraton Di pertengahan Juli 2007, pernah diadakan seminar membahas mengenai motif dan identitas batik Semarang. Hasil seminar tersebut mensepakati bahwa yang disebut batik Semarang adalah batik yang diproduksi oleh orang atau warga Semarang dengan motif atau ragam pola khas yang berhubungan dengan ikon-ikon Kota Semarang. Mengenai motif, beberapa pakar batik dari Yogyakarta yang melihat batik semarang mengatakan batik Semarang tidak masuk dalam kategori batik keraton. Begitu juga dengan pakar batik Pekalongan yang mengatakan batik Semarang tidak masuk dalam kategori batik pesisir. Adapula beberapa peneliti batik yang menegaskan bahwa batik semarang memperlihatkan gaya Laseman. Karakter utama Laseman berupa warna merah (bangbangan) dengan latar warna gading. Lee Chor Lin dalam Buku Specialist on Asian Textiles and Buddhist Art menuliskan bahwa karakter batik Laseman yang memiliki ciri bang-bangan mempengaruhi kreasi batik di beberapa tempat seperti Tuban, Surabaya dan Semarang. Peneliti lain, Maria Wonska-Friend menyebutkan ciri pola batik semarang berupa pola flora, yang dalam banyak hal serupa dengan pola Laseman. Namun hampir semua para intelektual pemerhati batik, perajin dan orang-orang yang peduli pada batik sepakat bahwa pada masa lalu semarag pernah punya aktivitas perbatikan. Harmen C Veldhuisen dalam buku Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java mencatat bahwa pada abad ke-19, Semarang merupakan kota dagang yang ramai dan memiliki para pembatik berpengalaman. Situasi ini menjadi alasan kepindahan pengusaha batik von Franquenmonnt dari Surabaya ke Semarang. Dalam upaya pencarian identitas batik Semarang, Pemerintah Kota Semarang melalui Disperindag bekerjasama dengan Dekranasda berupaya menumbuhkan kembali tradisi membatik dengan mengadakan pelatihan membatik. Di Semarang ada Kampung Batik, sekitar wilayah Bugangan yang diyakini sebagai sentra batik masa lalu di Semarang. Meski kenyataan sekarang masyarakat setempat kebanyakan pendatang dan jauh dari garis keturunan yang memiliki tradisi membatik. Kini nasib pencarian itu juga ditentukan oleh setidaknya pengusaha batik besar Semarang, yaitu Carolina Josephina Von Franquemont, Tan kong Tien, Neni Asmarayani, Sri Retno, dan Umi Sumiyati. (farida dewi dan yuliarso)


www.bipnewsroom.info

8

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009

Hj. Dyah Suminar

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Yogyakarta

Optimistis Batik Yogya Tembus Pasar Dunia B anyak pemerintah daerah tengah berupaya mempertahankan motif dan corak batik khas daerah. Namun jika tidak dibarengi dengan pengembangan inovasi baru, maka dunia perbatikan lokal dikhawatirkan hanya makin tenggelam. Hal ini menjadi bagian dari optimistisme Hj. Dyah Suminar, Ketua Dekranasda Kota Yogyakarta. Bahkan ia yakin bahwa ke depan generasi muda juga akan dapat terlibat lebih jauh dengan batik. “Saya yakin jika seni batik Yogya bisa mengikuti perkembangan zaman dengan memadukan unsurunsur lain sesuai keinginan pasar, maka dari segi ekonomi akan lebih menguntungkan. Jika pangsa pasarnya lebih baik dan banyak, secara otomatis akan menjadi daya tarik kepada generasi muda untuk terjun di dunia batik,� ujar Ketua PKK Kota Yogyakarta saat ditemui reporter kOmunika Yuliarso beberapa waktu lalu.Berikut petikannya:

Batik senantiasa dikaitkan dengan kultur dan nilai luhur masyarakat. Bagaimana menurut anda? Falsafah batik itu sangat tinggi. Sebenarnya, batik tak bisa dipisahkan dari rangkaian kehidupan kita. Ketika melahirkan anak, sang anak harus dipakaikan gendongan dari kain batik. Juga ketika remaja sampai acara pernikahan. Setiap masa ada motif-motif dasar batiknya. Ketika menikah kita harus mengenakan motif kain batik truntum. Ternyata, truntum atau wahyu itu memberi makna agar kita kelak menjadi pasangan yang bahagia, sido asih. Saat ini perkembangan batik kian menarik. Apalagi jika kita lihat tiga tahun terakhir, sejak Presiden Soesilo Bambang Yudoyono dan para menteri sering mengenakan batik pada acara-acara formil, maka secara otomatis hal itu berdampak kepada perkembangan batik secara tidak langsung. Sejauh mana perkembangan batik di Yogyakarta saat ini? Kita harus akui b a h w a d a h u l u batik belum memasyarakat di kalangan warga Yogya sendiri. Dalam sejarahnya batik hanya digunakan oleh kalangan raja di keraton. Penggunaan batik dan motif-motifnya juga menentukan si pemakai, artinya tidak sembarang orang dapat memakai m o t i f tertentu. Yo g y a , Cirebon,

maupun Solo memiliki pakem-pakem keraton. Seperti motif kawung, biasanya dipakai oleh para abdi keraton, karena kawung sendiri berarti abdi. Begitu juga dengan motif-motif lainnya. Jika batik Pekalongan cenderung lebih dinamis, batik Cirebon kuat pada warna tapi lebih klasik, batik Yogya selalu menggunakan motif yang baku atau pakem, seperti parang, kawung, ceplok, truntum, dan lainnya. Tapi toh lambat laun itu semua menjadi universal. Masyarakat bisa mengenakan motif apa saja dan dapat meniru dan memproduksinya sendiri. Bahkan di keraton Yogya sendiri, dahulu yang membuat batik adalah masyarakat biasa.

Ada kecenderungan masyarakat belum kenal semua dengan motif batik Yogya sehingga terlihat sulit dikembangkan? Memang, harus diakui bahwa itu adalah kesalahan kita. Kita telah keliru. Kita tidak menghargai budaya kita sendiri. Perkembangan batik kita timbul dan tenggelam. Meskipun corak dan pola yang dimiliki cukup banyak. Selain Yogya, Pekalongan, Cirebon, dan Solo sebagai kota-kota yang secara turun temurun dikenal sebagai masyarakat batik, ada pula Banyumas, Rembang, Tuban, atau Semarang, namun perkembangan batiknya timbul tenggelam. Kekeliruan paling besar adalah kita tidak mengenalkan batik secara familiar. Ambil contoh saja di Yogya ada motif-motif yang khas dan hanya dibuat oleh dan untuk kalangan keluarga kerajaan. Pangeran (sebutan untuk Sultan Yogyakarta, red) sendiri pernah bicara, silahkan jika masyarakat ingin meniru motif-motif batik kerajaan. Namun itu tidak mudah. Tingkat kesulitan untuk meniru motif keraton membuat tidak semua orang bisa membuat batik keraton, belum lagi waktu pembuatannya cukup lama. Akhirnya motif batik Yogya kurang diketahui, apalagi jika telah jadi harganya tidak terjangkau oleh masyarakat umum. Namun kita harus bertekad, kita sendiri harus mensosialisasikan dan menggunakan batik Yogya. Dalam bentuk apa? Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Yogyakarta menghimpun para pengrajin batik. Tujuan utamanya untuk menjadikan batik sebagai ikon Kota Yogya. Saya sering katakan kepada pengrajin bahwa Yogya adalah “batik�. Kita telah mengangkat 100 pengrajin, di bulan maret saya telah mengekplorasi motif Yogya dengan 509 motif Yogya. Meski demikian kita masih sedih, ketika hampir 75 persen pembeli batik kita tidak mengetahui apa yang mereka beli. Apa itu batik Yogya apa bukan? Lalu, apa itu jenis batik tulis, cap, atau printing. Maka dengan itu saya berharap, bagi semua gerai dapat memberikan edukasi bagi konsumenya. Kita mengajak seluruh pengrajin batik di Yogya untuk memperkenalkan batik Yogya kepada masyarakat. B a t i k Yogya harus dapat kita produksi d a l a m berbagai bentuk dan media, tidak hanya pada selembar kain. Dan alhamdulillah hal itu sudah kita lakukan dan kembangkan di dalam batik tulis, cap, ataupun printing. Nah sekarang, ketika semua sudah familiar dengan batik, tinggal saat

inilah waktunya kita untuk memahami batik atau budaya yang lainnya. Apa sajakah yang dilakukan Dekranasda untuk mengembangkan batik di Yogya? Kami bukan saja menghimpun tetapi juga turut mengembangkan para kelompok pengrajin batik kecil dengan berbagai sistem. Misalnya dari mendidik, meningkatkan kemampuan teknis, sampai pengembangan pemasaran. Untuk pemasaran, para pengrajin pun dapat menampung dan menjual hasil produksinya ke geraigerai Dekranasda. Disamping itu edukasi juga kita perkenalkan kepada pengrajin dengan mengenalkan motif-motif standar asli batik Yogya. Tapi itu hanya terbatas kepada batik dengan produksi cap atau stamp. Persoalannya jika sudah ke printing itu harus bekerjasama dengan pengusaha-pengusaha besar karena menyangkut biaya peralatannya yang cukup mahal. Karena alatnya mahal. Setelah ada kasus klaim batik oleh Malaysia, apa ada langkah untuk melindungi batik Yogya? Saya kira, secara umum, masing-masing wilayah harus melakukan karena mereka memiliki motif-motif dan pakem-pakem tersendiri. Begitu juga dengan batik Yogya, saat ini kita sudah melangkah ke hal itu. Kita sudah mencatat dan mamatenkan, dari nama falsafahnya. Tinggal langkah selanjutnya kita kreasikan sehingga memiliki nilai yang menguntungkan pengrajin. Yang lebih penting adalah bagaimana batik terjangkau oleh masyarakat umum, dengan kualitas yang tidak buruk. Tentang regenerasi. Benarkah kini pengrajin batik kian berkurang? Benar, para pengrajin batik kita sudah sangat langka. Hilangnya generasi batik juga sangat disebabkan akibat pendapatan yang diterima pengrajin sangat tidak sebanding dengan dedikasi dan karya mereka. Keengganan generasi muda untuk turut menekuni seni batik Yogya, bukan disebabkan karena seni batik di kota ini tidak menarik. Semakin berkurangnya pangsa pasar yang berakibat pada daya jual rendah, menjadi alasan utama generasi muda enggan untuk membatik. Maka itu, banyak kaum muda yang tidak lagi berkecimpung di pembatikan. Oleh karena itu, saya berharap, mereka dapat menjadi juragan-juragan kecil sendiri. Pemerintah provinsi tentu akan memfasiltiasi mereka, bentuknya melalui koperasi. Bagaimana Dekranasda mengantisipasi potensi kehilangan pengrajin yang kini cenderung langka? Itu tadi. Dari sisi pemberdayaan, kami juga sudah mulai memberikan kursus-kursus batik ke rumahrumah tangga. Dengan itu, minimal saya berharap dapat mengenalkan teknik pembantikan, dan sangat bersyukur dapat tertampung dalam kelompok-kelompok usaha bersama. Selain itu, Dekranas memiliki program yang kongkrit dan intensif melakukan pameran, pelatihan-pelatihan, dan juga mendatangkan para pakar dan praktisi. Selain itu Pemkot Yogyakarta mengembangkan kurikulum batik di sekolah kejuruan. Selain itu langkah yang kita telah tempuh adalah mengintruksikan bagi setiap pelajar di Yogya untuk memakai batik yang tidak seragam. Artinya mereka bebas menggenakan motif batik. Dengan mengenalkan batik kepada generasi muda itu adalah sebuah penghargaaan. Pengakuan batik oleh Unesco, apakah mempengaruhi pasar batik Yogya? Saya optimis, batik Yogya yang tadinya mati suri akan lebih terangkat, karena memiliki daya tarik tersendiri. Hal yang lebih penting adalah mengembangkan pemasaran. Kita akan kembangkan pemasarannya menggunakan teknologi internet Selain itu, acara pameran juga dikemas secara profesional sehingga nilai jualnya dan lingkupnya bukan hanya skala nasional, tetapi juga telah merambah pengunjung dari luar negeri. (Yuliarso)


Ragam Hias Dari Pulau Kalimantan Corak beragam juga dimiliki oleh batik di Kalimantan Barat. Nilai jual tinggi tetap jadi incaran para produsennya.

S

ebagian besar masyarakat Indonesia mengenal batik dalam corak tradisional maupun modern. Meski pada umumnya batik digunakan untuk kain jarik, kemeja, sprey, taplak meja, dan busana wanita, namun dalam hal corak atau motif akan sangat dipengaruhi selera konsumen dan perubahan waktu. Tak heran jika perkembangan yang cepat dialami batik baik menyangkut rancangan, penampilan, corak dan kegunaannya. Kadang ada yang disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri. Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix atau burung api. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bunga yang sebelumnya tidak dikenal seperti bunga tulip dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah misalnya dalam bentuk gedung atau kereta kuda, termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Akan tetapi batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing. Harapan Komersial Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Keberagaman corak batik yang dimiliki Kalimantan Barat, diharapkan akan dapat menggerakan sektor perekonomian seluruh wilayah termasuk kota pontianak terlebih saat ini batik merupakan komoditi kerajinan tangan yang merupakan warisan leluhur bangsa. Demikian hal tersebut diungkapkan ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya. Menurutnya pemerintah perlu memberikan rangsangan, baik berupa dukungan hingga pendanaan yang memadai dalam pelaksanaan proses industri batik tersebut agar pelestarian tenun batik ini tetap terwujud Apalagi dengan corak batik Kalimantan Barat yang beragam, dinilai mempunyai daya jual tinggi dan berpengaruh besar terhadap peningkatan pendapatan suatu daerah yang berpotensi besar dalam mengmebangkan sektor industri batik tersebut dirinya mengungkapkan sebagai warisan leluhur bangsa dan merupakan kerajinan tangan kebanggan indonesia, pangsa pasar batik dapat saja berkembang, jika pemerintah juga mampu menyediakan pasar ataupun wadah dalam pembudidayaan industri serta hasil olahan kain batik ini Acui mengungkapkan jika minimnya dukungan serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai dari pemerintah, maka dirinya pesimis pembudidayaan batik di Kalimantan Barat khususnya Kota Pontianak akan dapat berkembang. "Apalagi di zaman kemajuan seperti saat ini, tentunya menimbulkan kecemasan tersendiri, karena bagaimanapun batik merupakan warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan," ungkapnya. Gaya Kalimantan Timur Sepintas ada kesamaan antara batik Kalimantan Barat dengan Kalimantan Timur. Secara umum motif batik Kalimantan Timur dapat dilihat seperti ragam hias yang terdapat pada tameng atau ornamen pada topi khas Dayak Seraung. Motifnya cenderung sangat sederhana karena garis dan titik yang menjadi ciri khas batik pada umumnya jarang ditemukan pada batik ini. Menurut Budi Haryati dari ‘Batik Shaho’, sebagian

besar motif batik Kalimantan Timur mengadopsi motif motif dari suku Dayak, seperti Dayak Kenyah dan Dayak Shaho. Ciri khas batik dari Kalimantan Timur ini, antara lain mempunyai warna warna cerah mencolok, misalnya merah, hitam, hijau, kuning, dan biru. Bentuk motifnya juga sangat banyak, di antaranya adalah patung dan tameng. Jenis kainnya untuk batik tulis ini adalah katun dan sutera, sedangkan untuk jenis kain tissue itu merupakan kain bermotif batik. “Kalau di Balikpapan, orang lebih senang memakai kain berwarna ’jreng’ yang bermotif batik,” jelas Haryati. Keinginan Haryati mengembangkan batik ini adalah agar orang orang Kalimantan senang dengan batik daerahnya. “Tak perlu datang ke Jawa untuk membelinya, di sini pun ada. Sementara ini, bahan dibeli dari Solo dan sudah menjadi langganan,” ungkapnya menambahkan.

“Awalnya saya membuat batik untuk kebutuhan seragam sekolah dengan kain katun. Untuk yang jenis kainnya katun dan proses membatiknya menggunakan teknik printing bukan sablon, harga per meternya bisa Rp 15.000,” jelas Haryati. Untuk batik sutera harganya lebih mahal, tapi itu relatif tidak semuanya sama. Ada yang menjual batik sarimbit (sepasang untuk suami istri, red) dengan harga Rp 1,4 juta dan ada yang Rp 1,8 juta. Sedangkan harga yang sedang, seperti katun printing ada yang Rp 25 ribu dan untuk batik tulisnya mungkin lebih mahal. Sementara itu, untuk bentuk batik siap pakai juga bermacam macam, misalnya yang katun printing Rp 65 ribu per buah, untuk batik tulis bisa Rp 150 ribu dan sutera mencapai Rp 400 ribu. Pemasaran sementara ini ke sekolah sekolah dan instansi instansi. Ada yang jenis kainnya primisima, stelan selendang, dan sarung. Menurut Haryati, produksi batik dilakukan kontinyu walaupun jumlahnya tidak tentu per bulannya. Ini karena batik tidak setiap hari laku terjual, seperti di Jogja atau Solo. “Walaupun begitu, kami tetap memproduksi untuk seragam anak sekolah dan kebanyakan konsumen saya adalah orang asing yang tinggal di Balikpapan. Kadang mereka memesan taplak meja batik bermotif Kalimantan untuk meja yang memuat 8 orang. Ukuran yang demikian besar kalau di pasaran jarang ditemukan, jadi mereka harus memesan,” demikian paparnya. Haryati juga menjelaskan bahwa yang menjadi kendala utama adalah masalah SDM (tenaga kerja). Penduduk di sana kebanyakan lebih menyukai pembuatan barang yang instan. “Jadi untuk membuat barang yang terlalu rumit, mereka kadang tak telaten. Biasanya mereka cukup bekerja yang sekali jadi dan langsung mendapat uang,” ujarnya. Maka dari itu, industri kerajinan di sana jarang berkembang. Bahkan tenaga kerja bekerja tergantung pesanan. “Kalau pekerjaan banyak ya banyak juga tenaganya, itu untuk yang printing, sedangkan yang mengerjakan batik tulis baru saja melatih 15 tenaga baru,” tandas Haryati. Diakuinya, meskipun negara lain mengembangkan batik, namun Indonesia memiliki teknik membatik yang dimiliki Indonesia sangat berbeda dengan negara lain dan batik di Indonesia juga dipakai untuk acara-acara ritual adat. "Kalau kita ingin membuat batik secara populis, maka saya termasuk orang yang tidak keberatan adanya batik printing dan cap, karena batik tulis mahal. Bagaimana misalnya seragam anak SD yang menggunakan batik, misalnya harus memakai batik tulis. Mereka tidak akan sanggup membelinya, selain itu berapa lama batik tulis itu harus dibuat untuk memenuhi seragam yang demikian banyak," ujarnya. (m)

batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan

Pengembangan Desain Motif Batik Kalimantan ini merupakan pengembangan dari batik batik yang sudah ada sebelumnya di Jawa. “Hanya saja, orang orang yang mengembangkannya, termasuk saya mencoba mengadopsi motif motif ukiran kayu menjadi motif batik. Kita juga mempelajari proses pembuatannya di Balai Batik,” ujar Haryati. Motif batik dari Kaltim ini memiliki beberapa bentuk desain baru. “Awalnya ketika melatih tenaga untuk batik tulis, kebetulan saya dibantu suami, Supratono, yang kemudian membuat desain baru, yaitu motif tetes minyak dan kantong semar,” tutur Haryati yang memiliki showroom dan workshop di dekat rumah Menurut Haryati, proses pembuatan batik tulis seperti halnya pengolahan batik yang sudah ada, yaitu dipola, dicanting, diwarna sampai pada proses pencelupan dan sebagainya. “Kadang ada juga orang asing yang datang ke workshop saya untuk belajar membatik, walaupun itu hanya sekedar mencanting saja,” ujarnya bangga. Dia juga mengatakan, corak batik warna lebih disukai oleh para pemesan. Para pemesan rata-rata berasal dari pelanggan maupun orang baru yang tertarik akan merek-merek tertentu. "Dengan menjaga kualitas melalui metode pembuatannya, sehingga dapat meningkatkan order sekaligus omzet penghasilan," katanya. Dalam kesempatan yang berbeda, Ketua Komunitas Batik Surabaya (KiBaS), Lintu Tulistyantoro mengakui bahwa motif yang mirip batik juga ada di Jepang, China, India, Afrika, Jerman, Belanda, Malaysia, dan negara lainnya. Namun, teknik pembuatan dan budaya pertumbuhan batik di Indonesia memiliki kekhasan. "Batik di Indonesia merupakan teknik membuat motif kain dengan menorehkan canting berisi lilin, sedangkan di negara lain hanya merupakan cetak atau cap (print) bermotif batik, teknologi batik, dan sebagainya," katanya. Harga Bersaing Harga batik batik tersebut bervariasi karena tergantung dari jenis kain dan proses pembuatannya. Karena itu, ada yang dijual per meter, ada pula yang per potong, dan ada pula yang dipasarkan siap pakai.

s a t u k a t a i n d o n e s i a

9

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009


www.bipnewsroom.info

10

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009

Heru Pria Warjaka

Kepala Dinas Perindutrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian Pemkot Yogyakarta

“Andalan Kita Batik Tulis�

B

oleh saja negara lain mengembangkan industri batik, tetapi mereka belum tentu dengan mudah dapat menghasilkan kualitas produksi batik tulis buatan Indonesia. Selain merupakan identitas budaya, ternyata memang tidak semua orang bisa membuatnya. Bagaimana sebenarnya batik berkembang di Indonesia. Akankah batik telah menjadi industri pasar yang mengangkat perekonomian masyarakat? Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian Pemerintah Kota Yogyakarta Heru Pria Warjaka, menilai industrialisasi sektor batik tidak akan serta merta bisa menghilangkan pasar dan karakter batik tradisional. Bahkan ada nilai yang berkembang lebih. Bagaimana perkembangan usaha batik di Yogyakarta saat ini? Meski kini batik telah memasyarakat, tetapi belum begitu besar pasarnya. Memang Yogyakarta dikenal sebagai masyarakat batik. Apalagi dahulu, daerah di sekitar selatan keraton hampir semua masyarakatnya menjadi pengusaha batik. Tapi itu belum dapat kita katakan sebagai produktifitas, karena batik sendiri masih menjadi pakaian budaya. Targetnya jelas bukan ke arah konsumsi. Di tahun 1960-an, terjadi pengurangan jumlah usaha batik. Ini dimungkinkan akibat dinamika perubahan jaman, artinya banyak masyarakat yang telah beralih ke profesi yang lain. Lambat laun batik Yogya sudah mulai kehilangan SDM atau generasinya. Meski ada pendidikan batik di sekolah tingkat diploma, strata satu (Institut Seni Indonesia, red), dan sekolah

menengah kejuruan. Tapi semua itu belum dapat menjawab persoalan, karena memang, mereka yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tersebut tidak lantas keluar menjadi pembatik. Membatik bagi mereka hanya sebagai sebuah ilmu, bukan usaha atau budaya. Di sinilah mulai terjadi kesenjangan. Akan tetapi ada perkembangan menarik sejak tahun 1990-an, batik kembali berproduksi dan mulai membentuk pasarnya tersendiri. Berarti home industry pembatikan sudah berkem-bang? Sudah ada memang industriindustri di rumah tangga, tapi dengan skala kecil dan khusus. Maksudnya untuk lingkungan keraton saja. Tapi itu bukan menjadi alasan tidak berkembangnya batik di kalangan masyarakat. Meski berkembang di keraton, teknologinya hampir dikuasai oleh banyak orang, sehingga banyak warga biasa yang mengembangkan usaha batik. Jadi batik di Yogya jauh lebih kental suasana budaya ketimbang industri? Benar. Bahkan, batik adalah identitas dari kreasi dan telah menjadi kebanggaan masyarakat dengan sendirinya. Namun, secara luas, masyarakat kurang memahami batik asli mereka. Misalnya soal motif-motif yang memiliki identitas budaya. Mengapa? Karena Batik Yogya memiliki corak-corak yang spesifik. Nyatanya

masyarakat hanya mengenal corak kotemporer saja. Bagaimana sebenarnya peran usaha tersebut dalam ekonomi daerah? Memang secara sisi aspek PAD secara langsung, itu tidak tampak. Tapi paling tidak adanya penyerapan tenaga kerja. Meski kita harus sadari, jumlah kapasitas industri rumah tangga di Yogya sangat terbatas. Bahkan, untuk teknik batik tulis, tidak ada lagi industri batik yang dapat mampu menyerap tenaga kerja sampai 50-an orang, karena mereka hanya by order. Selain itu juga terjadi pergerakan ekonomi. Artinya, dari industri batik ini pendapatan masyarakat menjadi naik. Ketika perdagangan naik jelas akan menaikkan angka pajak. Tapi kan yang kita ketahui, pajak itu masuk ke pajak pusat, bukan ke daerah, sementara batik bukan masuk ke dalam objek pajak daerah. Lalu bagaimana dengan negara-negara lain yang dapat menghasilkan produk batik sendiri, sebut saja Malaysia? Tetap saja yang mereka hasilkan bukanlah batik. Mereka hanya dapat melakukan produk stamp dan printing. Dan semua negara bisa melakukan itu, bukan saja Malaysia, bahkan Cina, Jepang ataupun Amerika. Maka dari itu, dengan maraknya industri produk batik cap atau cetak. Adakah pengaruhnya bagi usaha batik di Yogya? Tentu hal itu memiliki efek samping untuk menggeliatkan kembali batik tulis yang kita miliki. Negara-negara lain, seperti halnya Malaysia memang sangat dimungkinkan dapat membuat batik. Itu dikarenakan kita memang membuka diri bagi wisatawan asing untuk belajar membatik. Te n t u s e t e l a h m e r e k a m a h i r, mereka akan mengembangkannya di negara mereka masingmasing. Ta p i toh yang dapat mereka hasilkan b a t i k printing atau cap, bukan batik tulis. Batik tulis hanya dapat dibuat oleh orangorang kita.

Contohnya Malaysia, jika kita teliti, tentu batik mereka tidak dapat dikatakan batik, karena melalui proses printing atau cap. Jadi, bisa dikatakan bahwa batik Indonesia masih punya karater dan ciri khas tersendiri? Benar. Bagi saya batik adalah sebuah proses. Sehingga jika kita memahaminya sebagai sebuah produk itu sama halnya produk hasil printing atau cap. Dinamakan sebuah proses karena didalamnya ada yang namanya seni lukis batik, melukis dalam proses batik. Sehingga menurut saya batik adalah sebuah proses yang menghasilkan corak, yang kemudian corak itu secara khusus menjadi sebuah identitas. Jadi, jika ada batik yang diproduksi dengan printing atau cap, itu sebenarnya bukan batik. Batik harus melalui proses tangan, atau yang lebih dikenal dengan proses batik tulis. Inilah yang tidak bisa di-tiru oleh bangsa lain. Atau, ti-dak sembarangan orang bisa membuatnya. Untuk menjadikan karakter khas dan identitas upaya apa yang telah dilakukan oleh Pemkot Yogyakarta? Ada proses paten yang akan kita lakukan. Harus ada tim ahli. Karena seperti saya katakan tadi, sebenarnya kita harus dapat membedakan batik dalam pengertian produk atau proses. Jika batik dianggat sebuah produk, negara-negara lain bisa saja mematenkan. Tapi jika batik dari aspek proses, saya yakin mereka tidak bisa. Namun untuk aspek proses itu sendiri butuh melakukan banyak penelitian yang mendalam, karena batik di Indonesia ini bukan dari orang per orang. Ini yang agak sulit. Seperti, kenapa batik asal usulnya dari lingkungan keraton? Bisa jadi kebutuhan pakaian keraton

memang dihasilkan dari budaya mereka sendiri. Tidak diambil dari luar. Ini yang harus diteliti. Lain halnya dengan batik di Tegal atau Pekalongan yang sudah masuk ke dalam industrialisasi atau pengembangan. Mungkin dengan itu sendiri banyak orang yang mengenal batik Tegal atau Pekalongan ketimbang batik Yogya atau Solo. Sehingga, yang harus kita perkuat adalah prosesnya. Bagaimana dengan UKM, khususnya usaha kecil. Apa saja kendala mereka? Tetap masalah klasik, yaitu permodalan. Tetapi pemerintah daerah sangat menaruh apresiasi atas keluhan-keluhan mereka itu. Banyak fasilitasi kegiatan dan hal lain yang lebih detil, misalnya dalam pengembangan keterampilan dan teknik. Untuk modal kita ada, tapi terbatas. Namun ingat ada bentuk bantuan modal yang sifatnya hibah. Seperti dalam tiga tahun ini, dari tahun 2006, kita juga melakukan Pengembangan Ekonomi Wilayah. Dengan itu kita harapkan dari setiap kelurahan akan muncul hal-hal yang produktif. Dan tahun ini saja kita telah mengucurkan Rp4,5 miliar yang dibagikan kepada 450 kelompok mikro. Didalamnya ada 4500 orang anggota. Tapi memang, dari kelompok ini tidak ada kelompok pembatik. Karena batik sudah termasuk usaha menengah, yang membutuhkan modal yang sangat besar. Apa yang akan dilakukan kedepan guna melestarikan batik Yogya sebagai budaya masyarakat? Kita akan terus memperkuat dari sisi kesinambungan, khususnya tenaga-tenaga batik itu sendiri karena memang sulit dicari lagi. Lebih penting lagi untuk memperhatikan produksi batik tulis yang kian langka. (Yuliarso)


Jawa Tengah Museum Batik Pekalongan “Kalahkan” Candi Borobudur

Museum Batik Pekalongan yang berada di Jalan Jetayu Kota Pekalongan dinyatakan sebagai juara pertama pada Lomba Sapta Pesona Tingkat Jawa Tengah, dalam kategori objek wisata budaya atau religi. Penghargaan tersebut diserahkan langsung Gubernur Jawa Tengah H Bibit Waluyo kepada Direktur Museum Batik Indonesia di Kota Pekalongan Hj. Balqis Diab SE MM, pada Kamis pekan lalu, pada kesempatan

acara silaturahmi keluarga besar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah di Hotel Patra Jasa, Semarang. Balqis ketika ditemui di ruang kerjanya di Museum Batik Pekalongan, Selasa (20/10) mengatakan, tahun ini Kota Pekalongan sebagai Kota Batik mendapat anugerah, karena batik diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. “Kemudian sekarang ini Museum Batik mendapatkan

penghargaan sebagai juara pertama Lomba Sapta Pesona Tingkat Jawa Tengah pada kategori objek wisata budaya atau religi,”katanya. Hal itu dinilai sangat membanggakan, karena Museum Batik berhasil mengalahkan Candi Borobudur dari Magelang yang pernah masuk dalam daftar tujuh keajaiban Dunia. ”Kami tidak menyangka bisa meraih prestasi setinggi ini.”tandas dia. Candi Borobudur sendiri pada kegiatan lomba tersebut hanya mampu menjadi juara kedua, kemudian juara ketiga kategori serupa diraih Benteng Pendem, Kabupaten Cilacap. Terhadap penghargaan tersebut, istri Walikota HM Basyir Ahmad itu mengaku, Kota Batik mempunyai pekerjaan rumah berat, lantaran harus mempertahankan prestasi tersebut, kemudian meningkatkan objek wisata yang ada. Oleh karena itu pihaknya mengharapkan kunjungan wisatawan baik asing maupun dalam negeri akan meningkat, dan tamu-tamu yang datang merasa senang serta betah berada di Kota Batik. Sementara Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata dan Kebudayaan Drs Doyo Budi Wibowo MM yang turut serta dalam kegiatan

tersebut menambahkan, Pemkot Pekalongan seka-rang ini memang tengah mengembangkan semua obyek wisata agar bisa menjadi daya tarik wisatawan. (tubagus ms)

Jawa Timur Pekan Budaya Kota Blitar Wujud kepedulian terhadap budaya sebagai jati diri bangsa ditampilkan Dinas Komunikasi Informatika dan Pariwisata Daerah (Kominparda) Kota Blitar dengan menggelar Pekan Budaya. Kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung ini, berlangsung mulai tanggal, 27 hingga 31 Oktober 2009. Semua kegiatan dipusatkan di area Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan (PIPP) Kota Blitar. Dr s . K a s m i a d i , K e p a l a Dinas Kominparda Kota Blitar mengatakan, event tahunan ini dilakukan karena menilai pentingnya dalam melestarikan

Mereka tinggal di sebuah rumah kelir putih di Cipedes Tengah, Sarijadi, Bandung berdiskusi, meneliti; bekerja. Mengurai aneka masalah dengan pendekatan sains dan teknologi kontemporer. BFI hadir sebagai institusi penelitian pertama di Indonesia yang mengusung pendekatan kompleksitas dalam melihat sistem sosial di Indonesia. Dari keunikan hubungan antarmanusia, pembangunan berkelanjutan, industri, sistem pemilu, pergerakan bursa saham, dan pengembangan masyarakat. Pada 2007, di bidang budaya dan hak cipta, muncul ribut-ribut soal klaim Malaysia atas lagu Rasa Sayange dan reog Ponorogo. "Orang Indonesia marah-marah, memaki Malaysia, dan menyalahkan Pemerintah RI. Tapi ngapain?" ujar Rolan, yang kini menjadi Ketua Indonesian Archipelago Culture Initiatives (IACI) dan Ketua Jaringan Budaya Indonesia (JBI). Dari situ, sekumpulan anak muda yang rata-rata berusia di bawah 30 tahun merumuskan sebuah solusi. "Kami bikin inisiatif, membangun gerakan agar hal itu tidak terulang," kata Rolan. Maka, lahirlah IACI pada akhir 2007. Inisiatif ini hadir sebagai tanggapan atas kekhawatiran kian bermunculannya klaim dan potensi budaya Indonesia yang dipatenkan negara lain. Kumpulan IACI kemudian mengeksekusi proyek Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) pada pertengahan 2008. Selain ditujukan sebagai upaya identifikasi dan perlindungan artefak budaya Indonesia, proyek ini juga memfasilitasi kebutuhan data awal bagi penelitian-penelitian saintifik yang dikembangkan BFI di bidang budaya. PDBI dikemas dengan teknologi web 2.0 dan

(de/nw)

Jika anda melihat, mendengar dan memiliki kisah unik dari seluruh nusantara untuk dituliskan dan ingin berbagi dalam rubrik keliling nusantara, silahkan kirimkan naskah kepada redaksi komunika melalui surat ke alamat redaksi atau melalui e-mail: komunika@bipnewsroom.info atau bip@depkominfo.go.id

Cara Modern Lindungi Tradisi Tak dinyana dari sosok yang kurus dan agak kecil tersimpan semangat yang menyala dalam memperjuangkan karya anak bangsa. Rolan Mauludy Dahlan (28), bersama sejawatnya di Bandung Fe Institute (BFI) diam-diam bekerja, sukarela bergiat menyebarkan semangat untuk menghargai karya batik. Buku terakhir yang dirilis kelompok ini bertajuk Fisika Batik Indonesia.

budaya bangsa. Mengingat bangsa yang besar, bangsa yang berbudaya dan memiliki peradaban. Sebagai penerus bangsa, wajib untuk selalu nguri - nguri budaya sebagai jati diri bangsa. “Sehingga agenda- agenda yang positif seperti ini sangat perlu dilakukan, khususnya yang ada di Kota Blitar,” tambah Kadin Kominparda Kota Blitar. Adapun diantara jenis seni budaya yang akan ditampilkan dalam pekan budaya nanti adalah, seni tari, jaranan, wayang orang, pidato Bung Karno, teater, ketoprak, musik band, opera van java, musik islami, puisi, campursari dan wayang kulit. Beberapa jenis seni budaya ini sebagaian hanya ditampilkan dan sebagian lagi difestifalkan. Pekan budaya akan melibatkan masyarakat dari kalangan pelajar dan mahasiswa serta masyarakat umum, baik peserta maupun penonton.

beralamat di www.budaya-indonesia.org. Situs ini melibatkan partisipasi publik dalam mengumpulkan dan mengidentifikasi data artefak seputar tarian, ornamen, arsitektur, lagu, sistem pengobatan, hingga makanan dan minuman. "Kira-kira seperti Wikipedia-nya artefak budaya Indonesia," Rolan memisalkan. Petakan Evolusi Batik Data yang ada tidak dibiarkan menganggur atau pasif, melainkan ditelisik, dianalisis, dan diolah dengan teknologi komputer untuk menambah nilai dan manfaatnya. Pekerjaan yang dilakukan para peneliti BFI itu, antara lain, menggunakan pendekatan memetika. Dalam situs www.budaya-indonesia.org, memetika dipaparkan sebagai pendekatan yang berkembang dalam tradisi Neo-Darwinian untuk memodelkan evolusi budaya berdasarkan konsep meme. Ia diperkenalkan pertama kali oleh seorang ahli biologi Inggris, Richard Dawkins. Dawkins melihat, budaya tersusun atas unit-unit yang dapat mereplikasi dirinya sendiri atau meme. Dalam evolusi budaya manusia, meme ini dapat berupa ide, gaya berpakaian, tata cara ibadah, norma, dan aspek budaya lainnya. Meme terdapat dalam kepala manusia dan terefleksikan melalui artefak budaya. Dengan strategi memetik, dapat disusun struktur pohon kekerabatan antarartefak budaya (filomemetik). Indonesia memiliki banyak variasi bahasa, motif, lagu daerah, tarian, desain rumah adat, dan lain-lain. "Pohon filomemetik adalah sebuah taksonomi hierarkis yang merepresentasikan hubungan kekerabatan antarartefak budaya," kata Rolan. Kini peneliti BFI sedang dan telah melakukan pengujian konsep pohon filomemetika itu pada tiga tipe artefak budaya Indonesia, yakni motif kain (khususnya batik), arsitektur tradisional, dan lagu daerah. Data yang termuat di PDBI menunjukkan --dalam skala kecil-- kekayaan motif luar biasa yang dimiliki Indonesia. Kain ulos dari Sumatera Utara, songket dari Palembang, batik dari Jawa, dan sebagainya.

Konsep pohon filomemetik itu dapat digunakan untuk melihat struktur kekerabatan motif-motif yang ada di Nusantara. Kajian memetik dan filomemetik yang dilakukan para peneliti BFI terhadap motif batik memopulerkan istilah batik fraktal dalam setahun terakhir ini. Libatkan Publik Publik bisa mengunggah data yang mereka temukan atau ketahui di lapangan. Situs itu menerima data berupa teks, gambar fotografis, materi audial, dan video. Medianya bisa lewat PC atau ponsel, dan petunjuk pengunggahan data terpapar secara jelas dalam website itu. Data yang diterima server PDBI lantas dipublikasikan di situs yang sama. Fitur penyuntingan disediakan untuk menambah atau mengoreksi data yang telah terpublikasikan. Hingga kini, menurut Rolan, tercatat sekitar 6.000 data artefak di PDBI. Dari jumlah itu, 60%-nya adalah hasil partisipasi publik. Meski sangat sedikit dibandingkan dengan potensi artefak budaya yang dimiliki negeri ini, kata Rolan, jumlah itu terasa penting sebagai basis data bagi upaya hukum melindungi artefak Indonesia. Rolan dan sekitar 30 peneliti lainnya berupaya menggabungkan seni dan teknologi bisa saling bersentuhan agar harmonis. Tak hanya mendata serta meneliti batik, ulos, dan songket (motif kain), tapi juga ragam kebudayaan lain seperti tarian, musik tradisional, lagu daerah, makanan/ minuman, seni pertunjukan, senjata dan alat perang, produk arsitektur, prasasti, tata cara pengobatan, bahkan naskah kuno, cerita rakyat serta bahasa daerah. Kini riset memetika soal budaya Indonesia terus dikembangkan. Untuk itu, partisipasi publik dalam menyumbang dan memperkaya PDBI, menurut Rolan, merupakan bentuk perhatian masyarakat terhadap pelestarian dan perlindungan khanazah budaya di Indonesia dari ancaman klaim pihak-pihak luar. Kelak mereka ingin membuat ensiklopedia budaya Indonesia. Kemungkinan kendalanya? "Tidak ada. Dana? Itu kan masalah klasik. Hampir tidak ada bentuk kendala yang dapat menyurutkan kerja-kerja budaya kami," kata Rolan meyakinkan. Kendala utama bagi Rolan, ialah minimnya data. Sejumlah data telah mereka kumpulkan dalam Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. "Data masih sangat sedikit, sehingga penelitian masih minim. Tapi kami coba terus menggali ke hal lain. Tak menutup kemungkinan mengenai karya sastra,” ujar pria kelahiran Sumatera ini.(m)

menggabungkan antara teknologi dan tradisi. Sebuah proyek kebudayaan besar yang tak hanya bermanfaat bagi bangsa namun bisa mencari akar budaya dunia. Kuncinya libatkan publik.

s a t u k a t a i n d o n e s i a

11

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009


12 www.bipnewsroom.info

komunika Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009

Lima belas tahun berjualan batik di atas kereta api tak membuatnya jadi kaya. Tapi berkat batik, dua anaknya berhasil lulus sarjana. “Batik, lurik, surjan, blangkon! Murah-murah, untuk oleh-oleh yang ada di rumah!” suara berat Kelik Sujarwoto (51) berusaha mengalahkan deru kereta Fajar Utama yang sedang melaju dari Yogyakarta menuju Jakarta. Seperti tak kenal lelah, lelaki kerempeng ini terus menghampiri kursi penumpang satu demi satu. Dengan gayanya yang khas, Kelik menawarkan baju, celana panjang, celana pendek, surjan, daster, saputangan, scarf, juga aneka bentuk tutup kepala seperti iket dan blangkon, yang semuanya bermotif batik gaya Yogyakarta. Satu-dua penumpang ada yang menanggapi, melihat-lihat dagangan Kelik, lalu menawar. Ada juga yang membeli beberapa potong, namun banyak pula yang merengut atau bahkan bersungutsungut karena istirahatnya terganggu. “Beginilah risiko berjualan di atas kereta api, sering dicibir dan dimarahi orang,” ujar lelaki asal Kulonprogo, Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Toh cibiran penumpang tak membuatnya kapok. Buktinya, pekerjaan mengasong batik itu sudah ia lakoni selama 15 tahun. Selama itu pula berbagai perlakuan penumpang sering ia terima, mulai yang paling menyenangkan sampai yang paling menjengkelkan. “Pernah ada penumpang yang memborong dagangan saya hingga Rp 1 juta. Wah, senang sekali saya. Tapi saya juga pernah ditempeleng penumpang karena tanpa sengaja barang yang saya bawa menyenggol bola matanya,” tuturnya terkekeh. Kelik berjualan batik di atas kereta sejak pukul 09.00 pagi sampai pukul 15.00 sore. Ia naik kereta Fajar Utama dari stasiun Wates dan turun

di stasiun Cirebon, sementara pulangnya naik kereta lain yang menuju ke timur, ke arah kotanya. Lazimnya para pedagang yang beroperasi di kereta api, ia tidak membelitiket, hanya memberi uang tips secara kolektif kepada kondektur. “Mereka (pihak kereta api—red) sudah maklum kok, kita sama-samacari rejeki,” kilah bapak dua anak ini. Setia pada Batik Berbeda dengan kawankawan pedagang lain yang sering gonta-ganti barang dagangan, Kelik terbilang setia berjualan batik. Sejak mulai berjualan tahun 1994 hingga sekarang ini, ia tetap mengasong batik. Kendati penghasilannya tak tentu, namun saingannya sedikit. “Satu kereta ini, yang jualan batik ya cuma saya. Jadi saya santai saja, karena tidak harus bersaingdengan teman-teman seprofesi,” ujarnya. Lebih dari itu, menurut Kelik, ternyata masih banyak orang luar Yogyakarta yang suka membeli batik dagangannya sebagai cinderamata. “Biasanya, karena keterbatasan waktu, mereka tidak sempat membeli oleh-oleh saat berada di Kota Gudeg. Jadi saat saya menawarkan batik di kereta api, di tengah perjalanan yang membosankan, mereka isengiseng mau membeli,” terangnya. Penumpang yang paling antusias memborong batik jualannya biasanya penumpang asal Jakarta atau luar Jawa. Sementara penumpang yang asli Yogya cenderung bersikap apatis saat ditawari batik. “Mungkin karena sehari-hari di kampung sering melihat batik, orang Yogya jadi bosan saat di kereta ketemu batik lagi, ha ha ha,” kata Kelik

terkekeh.Sayang, ia hanya berani berjualan di atas kereta api kelas ekonomi dan bisnis. Sementara di kereta api eksekutif ia tidak berani berspekulasi membeber dagangan. “Jualan di kereta

eksekutif dilarang. Selain itu, penjaganyagalak-galak. Kalau kena operasi, apalagi operasi gabungan, bisa-bisa dagangan saya disita,” begitu alasannya. Memangnya di kereta api ekonomi dan bisnis boleh berjualan sesuka hati? “Sebenarnya ada larangan juga, nggak boleh jualan di sini, tetapi praktiknya kan bisa dinego,” kilahnya sambil nyengir. Berbuah Sarjana Soal penghasilan, Kelik menyatakan seharirata-rata ia mendapatkan keuntungan bersih Rp 50– 100 ribu, alias sebulan

sekitar Rp 1,5 – 3 juta. Tapi jumlah itu sangat berfluktuasi tergantungr a m a i - t i d a k n y a penumpang. “Kalau hari Selasa sampai Jumat, bisa dapat Rp 50

ribu sudah untung, tapi kalau hari Sabtu, Minggu dan Senin penghasilan saya bisa naik dua kali lipat, bahkan lebih. Nggak bikin kaya, tapi cukup lah untuk kehidupan sehari-hari,” urainya. Seluruh penghasilan ia tabung untuk menyekolahkan anakanaknya. Siapa sangka, berkat mengasong batik, Kelik bisa menyekolahkan anak sulung dan adiknya hingga lulus sarjana. “Yang sulung lulus teknik mesin UGM, sekarang sudah bekerja di pabrik karoseri di Cikampek. Adiknya baru saja wisuda dari Fakultas Ekonomi, juga di UGM,” kata Kelik bangga. Ia mengaku, anaknya yang

kedua kini sedang merintis usaha perdagangan batik di daerah Sleman, Yogya. “Mungkin ia merasa berhutang budi pada batik, sehingga ingin membantu

mengembangkannya secara profesional. Tentu saja tidak dengan mengasong di kereta seperti saya ini,” imbuhnya. Bagaimanapun, kiprah Kelik di atas rel sangat membantu memasyarakatkan batik yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Melalui tangannya, batik tersebar makin luas ke masyarakat di seluruh penjuru Nusantara. Tapi, Kelik berharap, kesuksesannya tidak lantas membuat orang beramairamai jualan batik di atas kereta. “Kalau semua jualan batik, wah, penghasilan saya bisa melorot...,” pungkasnya. (gun)


Edisi 16/Tahun V/Oktober 2009