Page 1

Majalah Ventimiglia Edisi Khusus - Jejak Iman Harga Rp. 10.000,Gambar Cover oleh Patrisius (SMP St. Angela)

DAFTAR ISI

1 Daftar Isi 2 Redaksi Menyapa 3 Uskup Menyapa: “Sesudah Tahum Iman, Lalu?.......” AWAL JEJAK 5 Turne dari Palermo ke Borneo 7 Surat dari Sungai Banjarmasin 9 Doa dan Devosi Ventimiglia 11 Menimba Keteguhan Hati Para Perintis 13 Kisah Vikariat “Raksaasa” dan Keuskupan “Terkecil” 16 Dari Seminari Kaatsheuvel Ke Laham Menuju Banjarmasin 18 Dari Stasi Banjarmasin Menuju Prefektur Apostolik JEJAK DITERUSKAN 20 Lim Sek Tjian 22 Domba Tanpa Gembala PENGUATAN HIRARKI 24 Mgr. JMM Kusters, MSF itu Prefek Apostolik yang Sangat Baik 27 Mgr. Joannes Groen, MSF: Menuju Terwujudnya Gereja Lokal 29 Mgr. Wilhelmus Demarteau, MSF: Imam Muda Yang Berani 32 50 Tahun Konsili Vatikan II 34 Mgr. FX Prajasuta, MSF: Mental Misionaris bukan Mental Pedagang IMAN DIJEJAKKAN DALAM KEHIDUPAN 36 Perjalanan Jauh Seminari Banjarmasin 39 “Bukalah Sekolah Yang Baik, Jangan Yang Jelek” 42 Rumah Sakit Suaka Insan Membangun Pelayanan Kasih BENIH YANG BERKEMBANG 44 “Si Kembar” yang Berbeda Wajah 48 Vikariat Apostolik Samarinda 50 Keuskupan Palangkaraya 52 Amang Pandir

Susunan Dewan Redaksi Majalah Ventimiglia: Penerbit dan Penanggungjawab: Komisi Komsos Keuskupan Banjarmasin ; Ketua: P. Agustinus Doni Tupen, MSF; Sekretaris: Sri Marganing; Anggota: Anton Djoko Nugroho, Lorensius, Yosephine Laura, Kristianus Lukman, Skolastika Yeni, Victor, Ch. Vaviannurri, B. Laura Sugiharto. Editor: Anwar Yusran; Layout: Sri Marganing, FX Hariadi, Lorensius, Deto. Fotografer: Samuel Harpin Kontributor : Dionisius Agus Puguh Santosa, Agustinus Setyo Budiyono. Rekening Bank: BNI Cabang Banjarbaru: No. Rek. 0112680239. Atas nama: Agustinus Doni Tupen Alamat Redaksi: Jl. Brigjend H. Hasan Basri no. 48 Kayutangi Banjarmasin 70124; Telp. 0511-3305733; Fax: 0511-3305633; E-mail: ventimigliabanjarmasin@yahoo.co.id

Khusus Khusus - 2013 1 Edisi Edisi - 2013

1


REDAKSI MENYAPA

Ziarah Panjang Keuskupan Banjarmasin

Pembaca Ventimiglia yang terkasih Sumber Tulisan: Demarteau, WJ, MSF, Kronik Mgr. Demarteau, Arsip Mgr. Demarteau Demarteau, WJ, MSF, 1997, Mereka itu Datang dari Jauh, Sejarah Misionaris Keluarga Kudus di Kalimantan, MSF Provinsi Kalimantan, Banjarbaru. Majalah Ventimiglia, artikel Jejak Iman edisi 1 s.d. 19, Komisi Komsos Keuskupan Banjarmasin. Sinnema, P, MSF, 1995, Sebiji Sesawi:”Buku Kenangan 100 Tahun dan Karyanya di Kalimantan, MSF Provinsi Kalimantan, Banjarbaru. Situs http://msf-musafir.wordpress. com Tim Penyusun Keuskupan Banjarmasin, 2008, Mgr. FX Prajasuta, MSF, Panggilan Saya Hanya Satu: “Meneruskan Kasih Allah”, KIWIPrinting, Surabaya. Tim Penyusun Paroki, 2009, Buku Kenangan 70 Tahun Paroki St. Perawan Maria yang Terkandung Tanpa Noda:”Semakin menjadi tanda dan harapan”, Banjarmasin. Vriens, G, SJ, 1972, Sejarah Gereja Katolik Indonesia Jilid 2, Percetakan Arnoldus, Ende Foto-foto: Dokumen Kongregasi MSF, SFD dan MTB

2

Betapa indahnya edisi kali ini karena masuk ke dalam bulan Perayaan 75 Tahun berdirinya Keuskupan Banjarmasin. Oleh karena itu tidak berlebihan kami telah menyiapkan sajian khusus JEJAK IMAN sebagai kado istimewa perhelatan akbar ini. Tema JEJAK IMAN diangkat dari dasar tulisan-tulisan Jejak Iman yang telah dimuat sejak awal terbitnya Majalah Ventimiglia. Jejak Iman membentuk mozaik gambaran secara ringkas namun runut sejarah perjalanan panjang kekatolikan di Keuskupan Banjarmasin. Kami mencoba membingkai JEJAK IMAN sebagai kesatuan dengan Gereja Universal dan Gereja Lokal Indonesia. Kisah tumbuh kembang Keuskupan Banjarmasin tersebut kami sajikan dalam tulisan ringan dengan memanfaatkan materi Jejak Iman, sumber-sumber catatan sejarah serta wawancara dengan para pelakunya. Karena perjalanan JEJAK IMAN tersebut sudah lebih panjang dari berdirinya Keuskupan Banjarmasin, maka perjalanan peziarahan kami sajikan dalam potongan waktu, yakni: Awal jejak, Jejak Diteruskan, Jejak Dimantapkan, (Penguatan Hirarki) dan Iman Dijejakkan dalam Kehidupan. Hal yang paling menggembirakan dalam perjalanan peziarahan tersebut adalah ketika kita mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Oleh karena itu kiranya JEJAK IMAN ini bisa dijadikan bahan refleksi bagi Jejak Iman Peziarahan Keuskupan Banjarmasin , terlebih di usianya yang ke-75 tahun, Proficiat!

Edisi Khusus - 2013


BAPAK USKUP MENYAPA

“Setelah Tahun Iman, Lalu? ........” Paus Benediktus XVI dalam surat apostolik Porta Videi (Pintu kepada Iman) tertanggal 11 Oktober 2011 mencanangkan Tahun Iman yang berlangsung dari tanggal 11 Oktober 2012 sampai tanggal 24 November 2013. Tanggal 11 Oktober 2012 adalah Hari Ulang tahun ke-50 pembukaan Konsili Vatikan II juga ulang tahun ke-20 terbitnya buku Katekismus Gereja Katolik (KGK). Konsili Vatikan II menegaskan dan memberikan pengarahan kepada Gereja dalam proses Pembaharuan Diri (aggiornamento) yang sesungguhnya sudah dimulai sejak awal abad ke-20, sedangkan Katekismus Gereja Katolik (KGK), buah sejati Konsili Vatikan II, dimaksudkan sebagai sarana bantu untuk katekese kepada umat untuk membeberkan kepada segenap umat beriman gambaran tentang kekuatan dan keindahan iman kepercayaan kita. Pada tahun 1976, untuk memperingati 1900 Tahun wafatnya Rasul Petrus dan Paulus sebagai martir, Paus Paulus VI sudah memaklumkan Tahun Iman untuk mengajak seluruh Gereja memulihkan kembali pemahaman yang tepat atas iman kepercayaan Katolik sehingga dengan demikian juga menguatkan, memurnikan dan mengakuinya. Dengan demikian umat Katolik, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok, dapat memberikan kesaksian iman yang konsisten dalam situasi sosial. Tahun iman adalah pertama-tama panggilan untuk pertobatan sejati untuk kembali kepada Tuhan, satu-satunya Juruselamat dunia. Melalui wafat dan kebangkitan Kristus, Allah telah menyatakan sepenuh-penuhnya Kasih-Nya yang menyelamtkan, yang memanggil manusia kepada pertobatan hidup melalui pengampunan dosa (Kis 5:31). “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan selama kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Sejauh manusia bersedia dengan bebas menanggapi menanggapi uluran tangan dan panggilan kasih Allah itu, pikiran, perasaan, mentalitas dan perilakunya perlahan-lahan dimurnikan dan diubah sedemikian sehingga “ bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:20). Proses itu berjalan terus sepanjang hidup di

Edisi Khusus - 2013

3


JEJAK IMAN dunia ini hingga tiba saatnya kita “sempurna, sama seperti Bapa yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48; Porta Fidei n.6). Iman pertama-tama anugerah Allah berkat daya dan penerangan Roh Kudus. Pada hari Pentakosta Petrus mewartakan misteri iman kristiani yang paling inti dan paling dalam “bahwa Allah telah membuat Yesus yang disalibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36). Iman adalah pengakuan “bahwa Yesus adalah Tuhan, bahwa Allah telah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Rm 10:9). Roh Kuduslah yang menganugerahkan iman kepada seseorang. Karena itu Rasul Paulus berani menyatakan “dengan hati orang percaya dan dibenarkann dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rm 10:10). Maka tahap-tahap dalam proses timbulnya iman adalah: 1. Tuhan dalam Roh-Nya membuka hati seseorang terhadap pewartaan Sabda Allah (Kis 16:14)

berkat kehadiran para misionaris yang mengikuti jejak iman Pater Ventimiglia hingga terbentuklah Vikariat Apostolik Kalimantan yang meliputi hampir seluruh pulau Kalimantan. Pada tahun 1938 Roma mendirikan Prefektur Apostolik Banjarmasin. Peristiwa itu menjadi peristiwa sejarah bagi Gereja di Keuskupan Banjarmasin yang pada tahun 2013 ini genap berusia 75 tahun. Dalam rasa syukur atas 75 tahun usia Keuskupan Banjarmasin, saya mengucapkan selamat melanjutkan Tahun Iman dengan tetap mendalami, menghayati serta mengamalkan iman dalam lingkup pribadi, keluarga, komunitas dan terutama dalam ranah publik.

Pada Pesta Salib Suci, 14 September 2013

2. Orang bersangkutan bertobat dan memberikan diri dibaptis untuk pengampunan dosa-dosanya (Kis 2:38) 3. Selanjutnya dia menerima anugerah-anugerah Roh Kudus untuk mewartakan dengan bibir dan perbuatan apa yang diimaninya (Rm: 9-15). Beriman bukanlah suatu urusan pribadi belaka yang artinya hanya “rohani” . Beriman berarti dimanapun, kapanpun, dalam situasi apapun selalu berpihak pada Allah dan tetap bersama Allah “yang selalu setia dan tetap bersama kita” (1 Tim 2:13). Pengakuan Iman, Credo, “Aku Percaya” yang diucapkan dengan bibir sesungguhnya adalah pertanggungjawaban, janji setia dan kesaksian bahwa Tuhan Yesus yang kita imani telah mengalahkan kejahatan dan kematian. Apapun juga yang terjadi, seberat apapun cobaan yang menimpa, kita tetap percaya bahwa Dia telah menghancurkan kekuatan si jahat dan dalam Gereja-Nya yang kudus Dia hadir demi pengampunan dosa dan keselamatan kekal semua orang (Porta Fidei n.15). Tiga setengah abad yang lalu Pater Ventimiglia telah menjejakkan iman di bumi Kalimantan. Iman yang ditaburkan tiga setengah abad yang lalu, perlahan tapi pasti, bertumbuh dan berkembang

4

Edisi Khusus - 2013

Uskup Keuskupan Banjarmasin


JEJAK IMAN

Turne: dari Palermo ke Borneo

Perjalanan melelahkan fisik, menggetarkan sukma dan kadang mengancam nyawa menyatu dalam satu tekad dan satu kata: “turne”. Jarak antara Palermo dan Banjarmasin dewasa ini dapat ditempuh kurang lebih 24 jam. BanjarmasinJakarta-Roma-Palermo. Tiga setengah abad yang lalu, Pater Antonio Ventimiglia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menempuh jarak Palermo – Borneo untuk mewartakan Injil kepada Suku Dayak di wilayah Kesultanan Banjar. Di tahun 1659, pada usia yang sangat muda, 17 tahun, Antonio Ventimiglia memulai “turne” panjang dari Palermo. Di usia muda ini, ia membulatkan tekad menjadi biarawan “Rohaniwan Regulir Penyelenggara Ilahi” dan rindu menjadi misionaris di Timur Jauh. Ternyata kerinduan itu tidak menjadi angan-angan belaka. Beberapa tahun kemudian datang tawaran dari Pater Jenderal Theatin untuk menjadi misionaris di Timur Jauh. Gayung bersambut, dengan senang hati Pater Ventimiglia menerima tawaran itu, meskipun sanak keluarga melarangnya. Setelah mendapat restu

dari Paus Innocentius XII, Pater Ventimiglia memulai “turne”-nya dari Madrid ke Goa, India dan berkarya di situ selama kurang lebih empat tahun. Setelah empat tahun berkarya di Goa, India, Pater Ventimiglia ditunjuk menjadi misionaris di Borneo (Kalimantan). “Turne” berikutnya pun ditempuh. Perjalanan sampai ke Borneo adalah perjalanan yang penuh liku, penuh resiko serta penuh tantangan. GoaMalaka-Macao ditempuh selama dua bulan melewati Teluk Aynan yang terkenal ganas dan memakan banyak korban. Di Macao, Pater Ventimiglia harus menunggu kapal yang berlayar menuju Borneo. Selama enam bulan menunggu kapal ke Borneo, hari-harinya diisi dengan retret agung, matiraga dan berpuasa di sebuah tempat yang sepi. Banyak orang meminta bantuan, berkat dan bimbingan Pater Ventimiglia.

Selama

di

Macao,

keteguhan

hati

Edisi Khusus2013

dan

5


JEJAK IMAN ketulusan Pater Ventimiglia untuk melanjutkan “turne” ke Borneo diuji. Beberapa ujian itu antara lain: Pertama, tawaran Uskup Perancis untuk berkarya di daerahnya. Kedua, kabar bahwa orang-orang di tanah misi yang akan dikunjunginya adalah orang-orang yang sangat primitif dan ganas. Ketiga, orang-orang Portugis melarang Pater Ventimiglia ke Borneo karena khawatir kalau Pater Ventimiglia akan membuka misi sambil berdagang di Borneo. Ini akan merugikan pihak Portugis yang menguasai perdagangan di daerah ini. Keempat, tersiar kabar bahwa semua misionaris yang tidak berasal dari Portugis dilarang berkarya di daerah jajahan Portugis. Kelima, tawaran dari Raja Sukadana di Kalimantan Barat yang menginginkan kehadiran seorang pastor serta memberikan kesempatan untuk membangun Gereja dan apa saja yang dikehendaki. Akhirnya, “turne” yang dipilih Pater Ventimiglia jatuh pada Banjarmasin. Saat kapal dari Banjarmasin datang, ia mendapat berita bahwa Sultan Banjarmasin mau menjalin hubungan dagang dengan Portugis dan membagi tanah kepada orang Portugis untuk membangun benteng. Sultan mengijinkan orang Portugis datang dengan membawa serta seorang

pastor. Saat itu agama Islam dan penyebarannya merupakan tantangan berat bagi karya misi yang akan diembannya. Keyakinan bahwa penyelenggaraan Ilahi akan membuka jalan bagi penyebaran iman di Borneo telah mengantarkan Pater Ventimiglia menjejakkan langkah kakinya di Banjarmasin tanggal 2 Februari 1688. Tiga setengah abad yang lalu, pater Antonio Ventimiglia memerlukan waktu 29 tahun untuk menempuh jarak Palermo-Borneo. Sebuah “turne” yang panjang dan berliku untuk menancapkan “jejak-jejak iman” di Borneo. “Turne” menjadi kata kunci bagi “jejak iman” di bumi Kalimantan. Menempuh perjalanan panjang berbulan-bulan, berminggu-minggu, berharihari adalah warisan missioner yang diturunkan oleh para “Pembawa Kabar Gembira.” Menyusuri sungai, menaklukkan riam, menjelajah kampung-kampung, meretas belantara perawan di bumi Kalimantan adalah “irama hidup” dari para pemilik “jejak iman.” Perjalanan melelahkan fisik, menggetarkan sukma dan kadang mengancam nyawa menyatu dalam satu tekad satu kata: “Turne.” Kata ini menjadi sangat khas bagi misi di Kalimantan. Dua ratus lima puluh tahun kemudian, “jejak iman” yang dirintis oleh para pendahulu diteguhkan dengan diangkatnya Mgr. Jacobus Kusters, MSF menjadi Prefek Apostolik Banjarmasin. Secara estafet, jejak itu diteruskan oleh Mgr. Joannes Groen, MSF, Mgr. W. Demarteau, MSF, Mgr. FX Prajasuta, MSF. Kini, Mgr. Petrus Boddeng Timang menambahkan jejak langkah pertama yang telah diayun oleh Pater Ventimiglia. Ratusan imam, suster, frater, katekis dan ribuan umat juga mengayunkan langkah serta membekaskan “jejak iman” sekarang dan selanjutnya. Bola dunia terus berputar. Jaman terus berubah. Gerak langkah para misionaris masa kini “lebih cepat” seiring dengan kemajuan teknologi modern. Apakah dukungan teknologi ini menjangkau tanah misi yang semakin luas? Apakah “jejak iman” yang ditorehkan semakin dalam? Semoga jejak iman yang telah ditorehkan dengan keteguhan hati oleh sang pendahulu, Pater Ventimiglia, terus menjangkau setiap sudut hati orang di Bumi Kalimantan tercinta ini. (don/smr)

6

Edisi Khusus - 2013


JEJAK IMAN

Surat dari Sungai Banjarmasin Tiga bulan lamanya, kapten kapal Portugis, Luigi Franscesco Cottigno tinggal bersama Pater Ventimiglia. Saat kapten itu akan kembali ke Macao dan Pater Ventimiglia kembali lagi kepada orang Dayak Ngaju di pedalaman, melalui kapten Luigi, Pater Ventimiglia mengirim sepucuk surat untuk Superior di Goa-India: Bapak yang sangat saya hormati dalam Kristus. Pada kakimu aku berlutut. Aku anakmu menulis dari ujung dunia. Anakmu mohon berkat dari Bapak karena sudah memasuki tanah yang belum pernah dikunjungi. Bapak tentu sudah mendengar dari Bapak Perfektus, bahwa semuanya itu berkat penyelenggaraan Ilahi. Pada bulan Pebruari 1688 saya tiba di Banjarmasin dengan maksud membuka misi baru yang dilakukan pater-pater kita. Namun banyak tantangan menghadang karena penduduk di Banjarmasin sudah memeluk agama Islam. Selain orang-orang Banjarmasin, masih ada suku lain yaitu suku Dayak Ngaju yang tinggal di pedalaman. Saya tidak bisa mengatakan bahwa mereka menyembah berhala, karena tak ada yang berani masuk di daerah suku Dayak Ngaju karena takut dipenggal kepala. Saya tertarik untuk masuk ke daerah mereka. Setelah dua tiga kali bertemu dengan beberapa orang dari suku Ngaju di kapal, saya merasa bahwa pada masa yang akan datang akan terjadi sesuatu yang indah bagi kemuliaan Tuhan. Berhubung tidak diijinkan, saya kembali ke Macao. Dan pada tahun berikutnya, Januari 1689 saya berlayar kembali ke Banjarmasin dan tiba di Banjarmasin pada bulan Pebruari. Saya mendengar bahwa pangeran Tomugon dan Daman bersedia menerima kedatanganku. Akhirnya kedua pangeran itu dengan 100 kapal besar dan kecil bersama tokoh masyarakat datang menjemputku. Karena mereka sedang berperang melawan Sultan Banjarmasin maka rombongan seratus kapal itu tidak melewati batas kedua daerah ini. Mereka menunggu di daerah muara sungai suku Ngaju. Dua bulan lamanya mereka menunggu kedatangan saya dengan kapal Portugis. Saya diberi gelar Tatu yang berarti :Nenek. Suatu gelar kehormatan. Demi kemuliaan Tuhan saya menulis ini semua kepada Bapak yang mulia dan kepada Pater Perfektus Misi. Saya melaporkan, Tuhan yang akan dipermuliakan dan agama Katolik akan mendapat peluang besar untuk berkembang di tanah Borneo ini. Ladang ini daerah pedalaman Dayak Ngaju, Islam tidak berpengaruh. Sejauh penglihatan saya, Injil belum pernah diwartakan di sini. Maka dengan rendah hati saya mohon agar Bapak mengirim bantuan sebelum terlambat. Ladang telah terbuka. Semoga parjurit-prajurit Theatin siap datang. Semoga mereka yang mau datang sungguh-sungguh memiliki kehendak untuk melayani Tuhan dan percaya pada penyelenggaraan Ilahi.

Edisi Khusus2013

7


JEJAK IMAN Saya juga tidak dapat melupakan jasa baik Bapak Luigi Franscesco Cottigno yang menjadi alat penyelenggara Ilahi hingga misi baru ini akhirnya terbuka. Ia seorang Portugis yang belum banyak mengenal saya tetapi mau mengantar saya ke Goa dan segala biaya ditanggungnya. Saya mohon Bapak memberikan penghargaan kepadanya sebagai sukarelawan sejati. Bapak yang mulia, pada kakimu anakmu berlutut. Anakmu siap memasuki kerajaan dimana iman belum pernah diwartakan. Aku pergi sendiri. Tak seorang pater pun menemani. Aku mempunyai hati yang keras. Ya, aku sadari tidak mengerti dari mana datangnya kekuatan itu. Kekuatan itu yang membuat saya tidak takut dengan bahaya yang sangat banyak dan selalu mengancam saya. Saya tidak mempunyai orang yang menasehati saya dalam kebingungan, seorang yang akan menolong dalam bahaya, seorang yang membantu dalam kesulitan. Saya sangat mengharapkan bantuan dari Goa kendati saya tahu bantuan itu tidak akan datang secepatnya. Ketaatanlah yang membawa saya dalam pekerjaan yang sangat berat ini. Dan saya percaya, Penyelenggaraan Ilahi masih melindungi saya dalam kesendirian ini. Saya yakin, Yang Suci dan Kudus akan menopang aku dalam doa. Tetapi hari ini secara khusus saya mohon Bapak membawa saya dalam doa, juga pater-pater lain ikut mendoakan saya. Akhirnya saya menyampaikan kepada Bapak, aku anakmu yang hina dan berdosa, mempersembahkan karya misi ini dengan perantaraan Bapak kita Kayetanus (=Santo Kayetanus-red) kepada Kemurnian Santa Perawan Maria. Maka saya mohon agar Bapak meresmikan misi ini dipersembahkan di bawah perlindungan Santa Perawan Maria dan Santo Kayetanus. Pada kaki Bapak, saya menyerahkan seluruh tubuh dan jiwaku. Sudilah Bapak memberkati, memberi petunjuk dan perintah, apa yang harus saya pikirkan, ucapkan dan lakukan dengan ketaatan yang suci. Berkatilah saya, Amin. Dari Sungai Banjarmasin, di Pulau Borneo 13 Juni 1689 Anakmu yang paling hina Antonio Ventimiglia Ch. Reg

Sungai di Banjarmasin

8

Edisi Khusus - 2013


JEJAK IMAN

Doa & Devosi Pater Ventimiglia “Benar, benar, benar! Aku bersedia meninggalkan kemuliaan surga sekarang agar aku dapat bekerja di ladang Tuhan sampai akhir dunia, tanpa menuntut upah selain melakukan kehendak Tuhan untuk keselamatan sesamaku�. Itulah ungkapan yang merupakan motto hidup Pater Ventimiglia. Pater Ventimiglia pergi dari Barat ke Timur untuk mewartakan Kristus. Dalam waktu singkat banyak orang Ngaju dibaptis. Ia tinggal bersama mereka, namun hatinya selalu dekat dengan Kristus. Ia selalu berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa. Beberapa catatan kejadian yang mengungkapkan bagaimana doa dan devosi menjadi pusat hidupnya, dinyatakan demikian: Karena keadaan politik di kesultanan Banjarmasin tidak aman, maka kapal Portugis yang ditumpangi pater Ventimiglia tidak diperkenankan berlabuh. Pater Ventimiglia dan seluruh awak kapal tetap tinggal di atas kapal. Dan ketika memasuki Pekan Suci, pater Ventimiglia memimpin Ekaristi di atas kapal. Paskah dirayakan dengan meriah. Pada tiang kapal yang paling tinggi dipasang salib besar diapit dengan lilin-lilin. Pada tanggal 3 Mei 1688, pada pesta Salib Suci, kedua orang Dayak Ngaju yang pernah bertemu pater Ventimiglia, kembali lagi ke kapal membawa dua

orang teman: seorang Dayak Ngaju dan seorang lagi adalah orang Malaka. Pater Ventimiglia menjelaskan keinginannya untuk tinggal bersama mereka. Sebagai kenang-kenangan, mereka diberi rosario dan diajari menghormati salib..... Di Kalimantan, Pater Ventimiglia menjadi Bapak lima belas suku. Pada waktu itu perdagangan antar suku Melayu dan Dayak Ngaju tidak beres sistemnya. Banyak orang pedalaman menderita kekurangan kebutuhan hidupnya yang pokok. Kemiskinan dan kelaparan merajalela. Melihat keadaan yang memprihatinkan itu, Pater Ventimiglia berdoa di depan tabernakel, memohon petunjuk dari Tuhan: apa yang sebaiknya dilakukan. Tiba-tiba datang bantuan beras bagi umat. Seseorang lalu menyampaikan hal ini pada Pater Ventimiglia dan ia menjawab, “Ambillah, makanlah dan simpanlah karena Tuhan telah memperhatikan nasibmu dan memberimu makan.� Inilah kesaksian Pater Ferreria dan Bapak Cottigno yang bertemu dengan beberapa orang Ngaju yang ikut makan nasi dari beras itu, ketika mereka melewati Borneo.

Edisi Khusus2013

9


JEJAK IMAN Salib merupakan hal yang sangat berharga dan dicintai Pater Ventimiglia. Salib ini memberi semangat untuk berjuang sebagai saksi Kristus. Ketika Pater Ventimiglia datang untuk kedua kalinya di Kalimantan, beliau mengadakan novena pada Santo Yoseph. Pada hari terakhir novena, beliau membuat salib besar. Salib itu dihiasi bunga, diletakkan di atas perahu dan diarak, berlayar mengelilingi sungai. Setelah peristiwa itu, datanglah bapak Angha. Dan terjadilah hal yang dinantikan Pater Ventimiglia: beliau akhirnya dapat masuk ke pedalaman. Dalam perjalanan ke pedalaman, salib besar itu didirikan di atas kapal. Devosi Pater Ventimiglia kepada Sakramen Mahakudus sangat kuat. Sebelum merayakan ekaristi, beliau berdoa berjam-jam di depan Sakramen Mahakudus. Biasanya beliau menggunakan waktu doa pada malam hari agar tidak mengurangi waktu bagi umatnya. Selama perjalanan menuju tanah misi, Pater Ventimiglia selalu merayakan Ekaristi di Kapal. Itulah semangat kebaktian Pater Ventimiglia kepada Sakramen Mahakudus. Cintanya kepada Santa Perawan Maria tak terhingga. Sebelum berangkat ke Kalimantan, ia berlutut, berdoa memohon doa Bunda Maria serta menyerahkan misi Borneo dibawah perlindungan Santa Perawan Maria. Sebelum merayakan pesta-pesta Santa Maria, beliau selalu berpuasa. Dan pada malam hari beliau sering berdoa di depan patung Bunda Maria. Romo Mangunwijaya Pr (alm) pernah menulis bahwa mengenai kehadiran Gereja di Indonesia sangat erat terkait dengan Tiga M: “Merchant, Military and Missionary”: Pedagang, Militer dan Misionaris. Jejak Iman dan Misi Gereja tidak pernah murni di bumi ini, tak pernah lepas bebas dari kekuatan ekonomi

10

Edisi Khusus - 2013

dan militer. Godaan kerap kali datang di hati para murid Kristus dan dalam situasi seperti ini. Maka sikap yang bijak dinantikan dari para misionaris, pelayan pastoral dan murid-murid Kristus. Ketika berada di atas “kapal dagang” kehidupan kita yang sibuk dengan aneka urusan duniawi, apakah kita “menjual rosario suci, menghadiahkan rosario suci sebagai kenangkenangan, atau berdoa Rosario”? Kita sungguh bangga, Tuhan telah mengirimkan seorang perintis misi di Borneo yang saleh, murni, dan taat pada Penyelenggaraan Ilahi. Francesco Xavier de Ecens, seorang Pater Jesuit sering mengatakan Pater Ventimiglia bukan manusia melainkan Malaikat. Sementara Pater Ignatius de Zuleta merasa tidak layak kalau duduk berdampingan dengan Pater Ventimiglia. Pater D. Agustino Gallo memperhatikan kursi yang dipakai Pater Ventimiglia. Ia tidak berani duduk di kursi yang telah dipakai Pater Ventimiglia. Teladan yang bagus telah menorehkan jejak untuk kita ikuti. Saatnya kita merenungkan, apakah cinta dan kerinduan akan Tuhan menjadi pusat hidup kita ataukah irama “kapal dagang” telah menguasai seluruh sendi-sendi kehidupan kita? Bunda Maria yang menampakkan diri di Medjugorje berpesan: “Anak-anak, aku mengundangmu untuk bertobat secara pribadi. Inilah saatnya bagimu! Tanpa kalian, rencana Allah tidak dapat direalisasikan. Anak-anakku, berkembanglah dari hari ke hari dan makin dekat kepada Allah melalui doa.” Marilah berdoa Rosario sebagaimana diteladankan oleh Pater Vwentimiglia: Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu....... (don/smr)


JEJAK IMAN

Menimba Keteguhan Hati Para Perintis Misi (Karya misi di Borneo setelah hilangnya jejak Pater Ventimiglia) Upaya untuk menorehkan jejak iman di bumi Kalimantan tidak selalu menemukan tanah yang lembut untuk dipijak sehingga meninggalkan jejak di atasnya. Dalam perjalanan waktu, upaya menorehkan jejak iman ini seakan-akan terhadang bukit karang yang terjal. Mampukah jejak langkah ditinggalkan di atasnya?

Tersebarnya berita tentang kematian Pater Ventimiglia, sesudah tahun 1690, mendorong para pater dari ordo Theatin untuk mencari kebenaran berita itu dan mendapat kepastian. Pada akhir tahun 1690 Pater Gregoria Rauco berangkat dari Macao menuju Borneo bersama nahkoda kapal Kapten Araugio. Rupanya Kapten Araugio takut pada Sultan Banjarmasin. Maka ketika sampai di pelabuhan Banjarmasin, Pater Rauco tidak diijinkan turun dari kapal. Kapten tidak mau mengulangi hal yang sama seperti dilakukan dahulu terhadap Pater Ventimiglia yakni membiarkan Pater masuk ke pedalaman tanpa ijin Sultan. Pater Rauco terpaksa hanya menulis surat untuk Pater Ventimiglia dan mengirimnya melalui orang Ngaju. Ia kemudian mendapat balasan dari Pater Ventimiglia. Antar lain Pater Ventimiglia meminta agar Pater Rauco datang menemuinya bersama dengan rombongan pengantar surat ini. Pater Ventimiglia juga menceritakan keadaan di pedalaman yang sangat memprihatinkan. Banyak orang Dayak yang dulu di baptis kini kembali ke lagi ke agama asli, termasuk Pangeran Daman, kepala suku Dayak Ngaju. Dalam bagian surat selanjutnya, Pater Ventimiglia meminta beberapa potong pakaian karena sudah 11 bulan lamanya beliau tidak mengganti pakaian di badan.

Ventimiglia ini sangat mendorong hati Rauco untuk ke pedalaman. Apa boleh buat. Kapten kapal tidak mengijinkan. Maka Pater Rauco terpaksa kembali lagi ke Macao. Pada tahun 1693 ia kembali ke Madras karena sakit. Akhirnya tahun 1695 Pater Rauco kembali ke Eropa dan tak pernah kembali lagi. Orang kedua yang berusaha menemui Pater Ventimiglia adalah Pater Della Valle. Pater Della Valle berangkat dari Goa atas permintaan Pater Gallo di Goa. Pada awal tahun 1692 Pater Della Valle tiba di Banjarmasin. Ia berjuang keras untuk mendapat ijin turun dari kapal dan pergi ke pedalaman untuk bertemu dengan Pater Ventimiglia. Akan tetapi perjuangan Pater Della Valle sia-sia. Beliau tidak diijinkan turun dari kapal. Nasibnya sama dengan pendahulunya Pater Rauco. Meskipun “kegagalan demi kegagalan� dialami Pater dari ordo Theatin untuk masuk ke pedalaman Borneo, namun Kongregasi de Propaganda Fide terus mendukung misi Pater-Pater Theatin di Borneo. Pada tanggal 14 Januari 1692, pihak Propaganda de Fide secara resmi menyerahkan seluruh pulau Kalimantan kepada Pater-Pater Theatin dan tertutup bagi ordo lainnya. Pada tanggal yang sama juga diperintahkan pembukaan seminari dan selama tiga tahun Propaganda de Fide akan memberikan dana.

Cerita di pedalaman dalam surat Pater

Edisi Khusus2013

11


JEJAK IMAN Lima hari sesudah peristiwa ini, tepatnya tanggal 19 Januari 1692, Paus Innocentius XII menetapkan Borneo sebagai Vikariat Apostolik. Pater Antonino Ventimiglia diangkat sebagai Vikaris pertama untuk “The Kingdom of Borneo�. Berita pengangkatan ini tentu saja tidak sempat diterima Pater Antonino Ventimiglia. Alasan pertama, surat pengangkatan itu datang terlambat karena beliau sudah meninggal dunia. Alasan kedua, pihak pemerintah Portugis marah dengan keputusan Roma yang dianggap melanggar perjanjian. Barangkali pihak Portugis tidak mau memberikan surat pengangkatan itu. Sesudah Pater Ventimiglia meninggal PaterPater Theatin lain mencoba meneruskan karya pendahulunya di Borneo hingga tahun 1761. Dalam tahun 1706, datanglah Pater Giusseppe Maria Martelli. Beliau datang dari Bengkulu tempat ordo ini berkarya. Pater Martelli tiba di Banjarmasin pada tanggal 5 Desember 1706, dan mencoba menghubungi suku Ngaju. Orang-orang Ngaju mengisahkan bahwa sejak kematian Pater Ventimiglia, tak seorang imam Katolik pun tinggal bersama mereka. Mereka ingin agar Pater Martelli tinggal bersama mereka. Orang Ngaju berjanji untuk datang menjemput. Namun setelah satu bulan menunggu dan tidak ada orang Ngaju yang menjemput, beliau berangkat sendiri ke hulu menurut petunjuk orang Ngaju sebelumnya. Pater Giusseppe Maria Martelli berangkat pada tanggal 3 April 1707 ditemani beberapa orang Ngaju. Menurut cerita,

setelah tiga hari perjalanan, Pater ini dibunuh. Tidak ada kejelasan, siapa yang membunuh Pater Martelli. Pada tahun 1723, Pater Yohanes Rescala, Pater Abert Sadagna dan Pater Wenceslaus Lozek tiba di Banjarmasin. Mereka tidak diijinkan oleh Sultan Banjarmasin untuk turun dari kapal dan masuk pedalaman. Bahkan mereka diancam untuk dibunuh kalau melanggar larangan ini. Setelah tiga bulan, mereka kembali ke Macao. Pada tanggal 24 Juni 1761, Pater Ag. Bareto juga mencoba pergi ke Borneo, namun ia meninggal dunia dalam perjalanan. Keteguhan dan ketekunan para perintis misi di Borneo tidak menemukan kata “surut� meskipun rintangan, jalan berliku dan bukit terjal menghadang di depannya. Dengan memandang Kristus yang telah memberikan diri-Nya bagi manusia, para perintis misi melakukan tugas perutusannya sebagai muridmurid Kristus. Segala resiko dihadapi, bahkan nyawa sekalipun demi mewartakan cinta Kristus pada banyak orang. Tugas yang sama diberikan pada kita selaku murid-murid Kristus. Akankah kita bertahan meski keadaan di sekeliling tidak menyenangkan bagi kita? Akankah kita tetap bersemangat di saat orang lain menolak dan meninggalkan kita? Akankah kita tetap mencintai meskipun kita dikecewakan?...... Semoga jejak yang ditinggalkan para perintis misi menjadi inspirasi bagi kita untuk melaksanakan tugas perutusan sebagai murid Kristus. (smr)

Perjalanan Mgr. Romeijn ke Tering

12

Edisi Khusus - 2013


JEJAK IMAN

Vikariat Batavia - Pontianak - Banjarmasin

(Kisah Vikariat “Raksasa” dan Keuskupan “Terkecil”) Vikariat Apostolik Batavia

Tidaklah lengkap mengenang dan merayakan 75 tahun Keuskupan Banjarmasin, terhitung sejak didirikannya Prefektur Apostolik Banjarmasin tahun 1938, tanpa “menengok” sejarah singkat dua Vikariat yang berkaitan erat dengan Vikariat Banjarmasin. Kedua Vikariat itu adalah Vikariat “raksasa” Batavia dan Vikariat Pontianak. Vikariat Batavia, Vikariat Apostolik Pontianak boleh dikatakan sebagi “induk” karena menjadi Vikariat pertama di Nusantara (Indonesia). Vikariat Pontianak dapat dipandang sebagai “saudara sulung” untuk Vikariat Banjarmasin. Vikariat Pontianak meliputi seluruh pulau Kalimantan (wilayah Indonesia) sebelum tahun 1938, saat didirikannya Prefektur Apostolik Banjarmasin. Prefektur Apostolik Batavia (1807-1842) Sejarah mencatat bahwa komunitas orang kristiani yang pertama di Nusantara (Indonesia) sudah dimulai di Kota Barus Sumatera Barat (sekarang wilayah Keuskupan Sibolga) sekitar tahun 645 Masehi. Kabar Gembira tentang Kristus sudah diwartakan di Nusantara pada abad ke-7 Masehi di Kota Barus Sumatera Barat. Penyebaran iman kristiani di Nusantara semakin berkembang sejak jaman penjelajahan dunia. Fransiskus Xaverius, seorang imam dari Serikat Yesus (SJ) menjelajah Nusantara dari arah barat dan sampai ke timur di Amboina (Maluku) pada abad ke16. Fransiskus Xaverius berada di Maluku antara tahun 1546-1547 bersamaan dengan jaman penjelajahan dunia oleh Bangsa Portugal dan Spanyol. Sesudah

jaman penjajahan Portugal dan Spanyol, bumi nusantara dijelajah dan dijajah oleh Bangsa Belanda. Sejak jaman penjelajahan bangsa-bangsa Eropa itulah, penyebaran iman kristiani pun semakin berkembang di Nusantara. Umat bertambah. Parokiparoki bertambah di seluruh Nusantara. Roma berpikir untuk mempersiapkan keuskupan di Wilayah Nusantara ini. Maka Paus Pius VII mendirikan Prefektur Apostolik Batavia (nama lama untuk Jakarta) dan mengangkat Pastor Yakobus Nelissen menjadi Prefek Apostolik pertama pada tanggal 8 Mei 1807. Kendati tidak dinyatakan dengan jelas batas-batas wilayah Prefektur itu,, tetapi umunya diakui bahwa wilayah Prefektur Batavia dan nanti juga menjadi Vikariat Apostolik Batavia, meliputi seluruh Nusantara atau Indonesia. Itulah Prefektur dan Vikariat Apostolik “raksasa” yang pernah ada di muka bumi ini.

Edisi Khusus2013

13


JEJAK IMAN Pada tanggal 6 Desember 1917, Mgr. Yakobus Nelissen, Prefek Apostolik yang pertama meninggal dunia dan digantikan oleh rekannya Pastor Lambertus Prinsen yang menjadi Prefek Apostolik yang kedua sampai dengan tahun 1830. Karena alasan kesehatan Pastor Prinsen kembali ke Belanda dan digantikan oleh Pastor Yoannes Scholten sebagai Prefek Apostolik yang ketiga dari tahun 1830 sampai dengan tahun 1842.

Vikariat Apostolik Batavia (1842-1923) Dengan keputusan Roma tanggal 20 September 1942, Prefektur Apostolik Batavia (Jakarta) diangkat menjadi Vikariat, dan Mgr. Yacabus Groff diangkat sebagai Vikaris Apostolik pertama (18421846). Pada tahun 1847, Mgr. Groff dipindahkan oleh Roma menjadi Vikaris Apostolik di Suriname. Maka pada tanggal 4 Juni 1847 Pastor Petrus Maria Vrancken diangkat oleh Roma menjadi Vikaris Apostolik kedua untuk Batavia. Para pastor di Batavia mengadakan kunjungan ke Pontianak–Kalimantan Barat pada 1851-1852 dan ke Banjarmasin pada tahun 1853-1854. Sementara itu Mgr. Vrancken sudah berpikir untuk mendirikan semacam seminari untuk mempersiapkan imam-imam pribumi. Keinginan itu belum terealisir. Tahun-tahun terakhir Mgr. Vrancken adalah periode yang cukup berat dan kondisi kesehatan sudah lama menurun sehingga pada tahun 1871 beliau terpaksa kembali ke Belanda dengan maksud berobat. Pastor A.C. Claessens menjadi provikaris. Pada tahun 1874 Mgr. Vrancken memohon untuk diberhentikan sebagai Vikaris Apostolik, maka Pastor A.C. Claessens diangkat sebagai Vikaris Apostolik yang ketiga sampai dengan tahun 1893. Pada tanggal 23 Mei 1893 Mgr. A.C. Claessens berhenti dari jabatan sebagai Vikaris Apostolik dan digantikan oleh pater Walterus Staal, SJ, seorang yang memiliki semangat apostolis yang amat besar dan tak kenal lelah. Vikaris yang baru ini mengadakan kunjungan ke pelosok-pelosok nusantara yang belum pernah dikunjungi seorang uskup untuk menerimakan sakramen penguatan. Dalam tahun 1895 selama lima bulan Mgr. Staal, SJ mengunjungi semua gereja dan kapel di kawasan yang sekarang ini dikenal sebagai

14

Edisi Khusus - 2013

Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 1896 beliau mengunjungi Padang, Medan dan Sungaiselan, dan awal tahun 1897 mengunjungi Bengkulu dan Tanjungsakti. Tanggal 22 Mei 1897 Vikaris Apostolik Batavia berangkat ke Makasar, Ambon Mgr. Luypen, SJ (foto: G.Vriens, SJ) dan Kei dan pada pertengahan Juni 1897 tiba di Langgur. Beliau kurang memperhatikan kesehatannya. Pada pesta Hati Kudus Yesus, Mgr. Staal, SJ jatuh sakit berat. Beliau dilarikan ke Banda, tempat seorang dokter pemerintah bekerja, tetapi sudah terlambat. Tanggal 30 Juni 1897 Mgr. Staal, SJ dipanggil Tuhan dan jenazahnya dibawa ke Batavia (Jakarta). Paus Leo XIII dengan surat tertanggal 21 Mei 1898, mengangkat Pater E.S. Luypen, SJ menjadi Vikaris Apostolik Batavia. Selama 25 tahun (18981923), Mgr. Luypen, SJ memimpin Vikariat raksasa seluas Nusantara. Mgr. Luypen, SJ pada akhir masa jabatannya, sudah berpikir untuk pemekaran Vikariat Apostolik Batavia (Jakarta). Roma melalui surat tertanggal 22 Desember 1902 mendirikan Prefktur Apostolik Irian Barat yang meliputi seluruh Indonesia Timur. Dua tahun kemudian, dengan dekrit tanggal 11 Februari 1905, Kalimantan menjadi Prefektur tersendiri dengan Prefek pertama, Mgr. Pacificus Bos, O.F.M. Cap. Dalam tahun 1913 dua Prefektur Apostolik lagi didirikan yakni Prefektur Sumatera (11 Agustus 1913) dan Prefektur Nusa Tenggara, kecuali Flores (tanggal 16 September 1913) dengan nama Prefektur Apostolik Sunda Kecil. Setahun kemudian, tepatnya pada 20 Juli 1914, Pulau Flores dimasukan menjadi bagian dari Prefektur Sunda Kecil. Prefektur Apostolik Sulawesi akhirnya juga didirikan pada tanggal 19 Nopember 1919.


JEJAK IMAN Timur dan Selatan, menjadi pertimbangan Mgr. P. Bos unutk tidak membuka stasi-stasi baru. Dapat dibayangkan, perjalanan dari Pontianak ke Laham – Kalimantan Timur harus melewati Jakarta dan Surabaya. Oleh karena itu Mgr. P. Bos menginginkan kawasan Timur dilayani oleh ordo lain. Harapan itu terpenuhi karena pada tahun tanggal 27 Pebruari 1926 misionaris Keluarga Kudus tiba di Laham. Setelah setahun menemani para misionaris MSF, maka para misionari OFM Cap. Kembali ke Pontianak.

Mgr. Pacificus Bos, OFMcap (tengah, depan) (foto: http://driwancybermuseum.wordpress.com)

Ketika Mgr. Luypen, SJ selama diangkat menjadi Vikaris Apostolik Batavia yang mencakup seluruh Indonesia, jumlah umat Katolik di seluruh Indonesia pada taktu itu mencapai 48.000 orang. Setelah hampir 25 tahun memimpin Vikariat Batavia (Jakarta), umat Katolik di Pulau Jawa saja sudah mencapai 35.000 orang, belum termasuk di pulaupulau lain. Maka tidak mengherankan bahwa Vikariat “raksasa” Batavia berkembang menjadi 1 Vikariat (Vikariat Apostolik Batavia/Jakarta) dan 5 Prefektur Apostolik (Irian Barat, Kalimantan, Sumatera, Sunda Kecil dan Sulawesi).

Vikariat Apostolik Kalimantan Tanggal 11 Pebruari 1905 merupakan tanggal bersejarah bagi Gereja Kalimantan karena Roma mendirikan Prefktur Apostolik Kalimantan yang meliputi seluruh Kalimantan yang dikuasai oleh pemerintah Belanda, pater Pacificus Bos, OFM.Cap menjadi Prefek. Setelah 13 tahun, Prefektur Apostolik dinaikan tingkatnya menjadi Vikaris Apostolik. Pater Pacificus Bos, OFM. Cap ditahbiskan menjadi Uskup di Pontianak. Dari Kalimantan Barat, Kabar Gembira diwartakan sampai ke pedalaman Kalimantan Timur yakni di Desa Laham di hulu sungai Mahakam. Kesulitan transportasi dari Kalimantan Barat ke Kalimantan

Mgr. Pacificus Bos, OFM.Cap yang sudah lanjut usia, sekitar tahun 1933 merasa tidak kuat lagi sebagai pemimpin misi, maka beliau meminta ke Roma agar beliau diganti Mgr. Tarcisius Valenberg, OFM.Cap. Tanggal 21 Maret 1937, setahun sebelum Prefektur Apostolik Banjarmasin didirikan, Mgr. Pacificus, OFM.Cap, meninggal dunia pada usia 72 tahun. Pada makamnya di Pontianak, terdapat tulisan: “Inilah peristirahatan Bapak Misi di Kalimantan”. Memang. Beliau dikenang sebagai seorang bapak, baik terhadap rekan-rekan misionaris maupun umat dan masyarakat. Setiap orang yang pernah bertemu dengan Mgr. P. Bos, mereka selalu menagumi kebaikan dan kejujurannya sebagai seorang bapak. 75 tahun yang lalu, wilayah Vikariat Apostolik Banjarmasin mencakup seluruh wilayah propinsi Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur. Dalam kurun waktu 75 tahun, wilayah yang dulu hanya terdiri dari satu Vikariat, kini telah berkembang menjadi empat keuskupan. Vikariat yang semula menjadi salah satu Vikariat yang luas, kini secara geografis memang bukan menjadi wilayah keuskupan terkecil, namun jika dilihat dari jumlah umat, maka keuskupan Banjarmasin (sekarang ini) menjadi keuskupan yang paling kecil dari keuskupan-keuskupan di Indonesia karena memiliki jumlah umat paling sedikit (menurut sensus keuskupan tahun 2012, total umat Katolik Keuskupan Banjarmasin tidak mencapai jumlah 15.000 jiwa). Namun menjadi yang terkecil dalam hal jumlah umat, tidak berarti bahwa kecil pula peran yang harus dimainkan oleh keuskupan Banjarmasin. (don)

Edisi Khusus2013

15


JEJAK IMAN

Dari Seminari Kaatsheuvel Ke Laham Menuju Banjarmasin Akhir tahun 1925, tepatnya tanggal 31 Desember, diadakan pesta perpisahan bagi tiga MSF pionir yang akan berangkat ke belantara Borneo untuk memulai misi MSF di Borneo. ). Ketiga pionir itu adalah Pater Fr. Groot, MSF (30 tahun), Pater J.v.d. Linden, MSF (37 tahun) dan Bruder Egidius Stoffels MSF (27 tahun). Awal tahun 1926, tanggal 1 Januari, tahun baru, dengan semangat baru, ketiga pionir MSF ini meninggalkan negeri Belanda, berlayar dengan kapal “Rondo� dari Amsterdam menuju Tanjung Periuk Jakarta. Mereka diantar ke Amsterdam oleh pimpinan tertinggi pater jenderal waktu itu P. Anton Trampe, MSF, ditemaniP. Wortelboer, MSF dan Prokurator misi yang baru: P. A. Kouwenhoven, MSF. Perjalanan Amsterdam - Tanjung Priok Jakarta memerlukan waktu 1 bulan. Tepat tanggal 1 Pebruari 1926, tiga misionaris perdana dari kongregasi MSF tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta (waktu itu bernama Batavia). Setelah seminggu di Jakarta, tanggal 8 Pebruari dengan Kereta Api, tiga orang misionaris muda ini menuju Yogyakarta. Tanggal 19 Pebruari 1926 dengan kapal laut BPM mereka tiba di Samarinda, dan langsung menuju pedalaman Mahakam serta tiba di desa Laham pada tanggal 26 Pebruari 1926. Tanggal itu dikenang sebagai tanggal permulaan karya para Misionaris dari Kongregasi Keluarga Kudus. Itulah permulaan karya misi seluas ž dari seluruh karya misi di Kalimantan yang sebelumnya dilayani oleh misionaris Kapusin.

Tiga pionir misi MSF di Kalimantan: Pater Fr. Groot MSF, Pater J.v.d. Linden MSF, Bruder Egidius Stoffels MSF

16

Edisi Khusus - 2013

Dua puluh satu tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 11 Pebruari 1905, Prefektur Apostolik Pontianak didirikan dan Ordo Kapusin (OFMCap) mengambil alih seluruh wilayah Kalimantan (tidak termasuk Malaysia


JEJAK IMAN yang wilayah jajahan Inggris) dari Ordo Jesuit. Dua tahun setelah Prefektur Apostolik Pontianak dibentuk, para pater Kapusin membuka Stasi Laham di pedalaman Kalimantan Timur. Pada waktu itu, “turne” ke desa Laham di pedalaman Kalimantan Timur harus menempuh jarak: Pontianak-Jakarta (Batavia) dengan Kapal Laut, lalu Jakarta Surabaya dengan Kereta Api, kemudian dengan Kapal Laut ke Balikpapan/Samarinda dan selanjutnya menysuri sungai Mahakam menempuh jarak 400 km untuk tiba di Laham! Mengingat beratnya medan karya misi, pater-pater dari Ordo Kapusin sebetulnya “hanya” menawarkan wilayah misi Kalimantan Timur (tidak termasuk Kalimantan Tengah dan Selatan saat ini). Namun Jenderal MSF: Pater Anton Trampe, MSF tidak mau menerima tawaran itu dan mengambil alih seluruh wilayah Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan. Dalam kurun waktu 12 tahun, MSF Propinsi Belanda mengirim 24 imam dan 9 bruder ke Kalimantan, sehingga banyak stasi baru di buka dan berkembang menjadi paroki-paroki. Laham menjadi pusat Misi MSF dari tahun 1926 sampai dengan tahun 1932, ketika pusat misi dipindahkan Tering pada tahun 1932. Setahun sebelum pemindahan itu, stasi Banjarmasin dan Stasi Balikpapan dibuka pada 1931 dan stasi Samarinda pada tahun 1933. Dan 7 tahun setelah pembukaan sebagai stasi, Banjarmasin bahkan dijadikan pusat Prefektur Apostolik pada tahun 1938, dan kemudian menjadi pusat keuskupan Banjarmasin. Tanggal 19 Oktober 1938, Mgr. JJM. Kusters, MSF dilantik menjadi Prefektur Apostolik Banjarmasin di Gereja Keluarga Kudus Banjarmasin. ***** Kedatangan tiga pionir MSF pada bulan Februari (musim hujan) bukan tanpa pertimbangan. Perjalanan panjang “tempo doeloe” menyusuri sungai di bumi

Kalimantan haruslah pada musim yang tepat. Bulan Februari, musim hujan, permukaan air tinggi (air dalam), memungkinkan banyak kapal dapat menjangkau daerahdaerah hulu sungai, hingga menjangkau desa Laham di pedalaman Kalimantan Timur. Itulah kesempatan “emas” bagi para misionaris untuk menjumpai umat nan jauh di pedalaman. Akan tetapi “kesempatan emas” itu bukan tanpa risiko. Banjir dari hulu tidak jarang membawa serta batang-batang kayu yang hanyut. Jelajah misionaris menapaki “jejak iman” di Kalimantan “mengayun” dan “mengayuh” di antara arus pasang dan surut, antara peluang dan risiko. Pebruari 1926, tiga pioner misionaris memulai sebuah periode baru dari “jejak iman” di bumi Kalimantan “Timur” (= Timur-Tengah-Selatan) untuk merealisasikan sebuah “keputusan berani” penuh risiko yang dibuat nun jauh di tanah Belanda. 87 tahun yang silam ketiga pionir MSF ini mengawali misi MSF di ¾ pulau Kalimantan ini. Jika pada tahun 2013, umat keuskupan Banjarmasin beserta para gembalanya merayakan 75 tahun usia Keuskupan Banjarmasin, maka perayaan ini tidak terlepas dari kenangan akan kehadiran para pioner yang mempersiapkan terbentuknya sebuah Vikariat Apostolik Banjarmasin. Siapa menyangka bahwa pusat misi yang diawali di desa Laham di hulu sungai Mahakam Kalimantan Timur, mempersiapkan Banjarmasin kota perdagangan pada waktu itu menjadi pusat penyebaran kabar gembira di Vikariat yang baru itu. Jalan Tuhan seringkali berliku dan panjang. Untuk sampai ke muara Sungai Barito, para misionaris memulai langkah perdama di hulu Sungai Mahakam. Jalan Tuhan terkadang berliku dan panjang. Jalan pelayanan kadang melelahkan, diawali dengan ketidakpastian. Namun ziarah misioner Gereja, tidak pernah mengenal jalan pintas. **don**

Riam yang dilalui para misionaris

Edisi Khusus2013

17


JEJAK IMAN

Stasi Banjarmasin menuju Prefektur Apostolik Tanggal 1 Februari 1926 tiga misionaris pertama itu tiba di Tanjung Priok dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Dari Surabaya mereka naik kapal laut ke Balikpapan dan singgah di Kotabaru (Stagen) Pulau Laut Kalimantan Selatan tanggal 14 Februari, kemudian tiba di Balikpapan tanggal 15 Februari. Tanggal 26 Februari mereka tiba di Laham (Kaltim) dan tanggal itu menjadi tanggal awal misi MSF di Borneo. Sesudah tahun 1926, diputuskan bahwa sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun seorang pastor dari Laham (Pedalaman Kaltim) mengadakan turne ke Banjarmasin. Pada tahun 1929 P. Kouwenhouven MSF (Prokurator Misi) mengunjungi Banjarmasin dan berjanji untuk menempatkan seorang imam MSF bagi kelompok kecil orang Katolik di Banjarmasin. Tanggal 30 Desember 1929, sebuah rumah di Boomstraat 4 (sekarang Lambung Mangkurat 4) dibeli dengan harga Fl. 15.000. Rumah itu kemudian disewa oleh satu keluarga. Pada bulan Februari 1931 Wakil Vikaris Apostolik Pontianak mengunjungi Banjarmasin dan membicarakan beberapa hal, termasuk menyetujui renovasi rumah yang sudah dibeli di Boomstraat 4. Tanggal 5 Mei 1931, P. Pierre Vossen, MSF yang sudah berada di Banjarmasin sejak Bulan Oktober 1930, dilantik menjadi pemimpin stasi Banjarmasin. Kurang

Gereja & Pastoran Pertama di Banjarmasin

18

Edisi Khusus - 2013

lebih sebulan kemudian, tepatnya tanggal 28 Juni 1931, bagian kiri dari rumah di Boomstraat yang sudah direnovasi diberkati sebagai gereja dan tanggal itu dianggap sebagai tanggal berdirinya stasi Banjarmasin. Pater Pierre Vossen MSF memimpin pelaksanaan upacara pemberkatan. Sementara bagian kanan dari rumah itu berfungsi sebagai pastoran. Tanggal 17 Desember 1931 terjadi serah terima pimpinan atas paroki muda di Banjarmasin ini kepada P. J. Groen MSF. Tanggal 19 Desember 1931, Kardinal van Rossum meminta keterangan lebih lanjut kepada Vikaris Apostolik Pontianak mengenai bagian-bagian Kalimantan yang akan diserahkan kepada MSF. Tanggal 30 Maret 1932, data resmi mengenai pembagian Kalimantan dikirim ke Roma. Sebuah keputusan yang “lucu” dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda berkaitan dengan penyerahan sebagian wilayah misi Gereja katolik itu. Dalam keputusan pemerintah Belanda tanggal 22 Juni 1932 dinyatakan bahwa anggotaanggota MSF bukan lagi anggota Ordo Kapusin. Bagi Mgr. Demarteau MSF, pernyataan pemerintah Belanda dalam surat keputusan itu terasa “lucu” karena pemerintah Belanda tidak memahami perihal kongregasi dalam Gereja Katolik. Ordo Kapusin dan Kongregasi MSF adalah dua lembaga yang berbeda, dan tidak ada “akibat” menyangkut “keanggotaan” kedua lembaga itu dalam urusan pemisahan wilayah misi Kalimantan itu. Bulan Mei 1934, untuk pertama kalinya Pater Anton Trampe, MSF, Jenderal MSF mengunjungi Banjarmasin, setelah mengirim para misionaris untuk bekerja di Kalimantan. Beliau ditemani P. J. Groen mengunjungi Pulau Laut. Sebagaimana diketahui, tahun 1926, Misi MSF yang menangani “kawasan Timur” pulau Kalimantan (sekarang Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur), dimulai di Laham, sebuah desa kecil di Hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (sekarang ini). Laham menjadi pusat misi pada sejak tahun itu


JEJAK IMAN (1926). Namun dalam kurun waktu 12 tahun terjadi perkembangan yang berarti di “kawasan Selatan” . Maka 12 tahun setelah misi MSF di Laham, atau 7 tahun setelah “stasi Banjarmasin” secara resmi dibuka, Roma pada tanggal 21 mei 1938 secara resmi mendirikan Prefektur Apostolik Banjarmasin. Pater Jac. Kusters MSF dilantik sebagai Prefek pertama. Berita mengenai peresmian Prefektur Apostolik dan pelantikan Prefek pertama ini ditulis dalam “Borneo Post”, sebuah surat kabar harian di Kalimantan pada waktu itu. Peresmian Prefektur Apostolik Banjarmasin terlaksana pada tanggal 19 Oktober 1938. Pada tanggal itu, Mgr. van Valenberg OFM.Cap mendarat di bandara Landasan Ulin dijemput Bapa Gubernur. Pada hari yang sama P. Jac. Kusters, MSF (Prefek yang baru) juga baru tiba di Banjarmasin dengan Kapal dari Kaltim. Upacara peresmian Prefektur Apostolik Banjarmasin dan pelantikan Mgr. Jac. Kusters sebagai Prefek pertama, berjalan dengan sangat mengesan. Resepsi umum untuk peristiwa bersejarah ini berlangsung pada hari berikutnya, tanggal 20 Oktber 1938. Prefektur Apostolik Banjarmasin, sebagai Prefektur yang baru, terhitung “muda” usianya karena “hanya” 12 tahun dipersiapkan secara “intensif” sejak Misi Mgr. JMM Kusters MSF, MSF di Laham. Bahkan stasi Banjarmasin dan kemudian menjadi paroki Banjarmasin Prefek Apostolik Banjarmasin yang menjadi pusat Prefektur, baru berumur 7 tahun sejak secara resmi dibuka sebagai stasi. Apakah karena usia Prefektur yang relatif muda itu, menjadi salah satu alasan, Pater Jac. Kusters MSF yang “masih muda” (usia 33 tahun) dipilih oleh Roma menjadi Prefek Apostolik Banjarmasin? Kalaupun hal ini bukan menjadi alasan yang utama, tetaplah menjadi sebuah alasan yang realistis dari Gereja untuk mengharapkan yang lebih bagi generasi muda Katolik untuk berani memainkan peran-peran penting dalam hidup Gereja dan masyarakat. (don)

Edisi Khusus2013

19


JEJAK IMAN

Lim Sek Tjiang Tanggal 29 Mei 1938, anugerah Bintang “Pro Ecclesia et Pontifice” diberikan oleh Gereja Katolik Roma kepada Lim Sek Tjiang sebagai tanda penghargaan jasanya untuk memulai sekolah-sekolah Katolik di Banjarmasin. Anugerah “Bintang ini” merupakan salah satu catatan yang unik dari sejarah sekolahsekolah Katolik yang hadir di Banjarmasin. Bila lembar demi lembar perjalanan itu kita buka, maka semua akan bermuara pada sebuah anugerah dan mujizat dari Tuhan. Mengapa?

Pendiri sekolah bukan orang Katolik 3 Agustus 1933, sebelum Perang Dunia II, beberapa orang Tionghoa di antaranya bernama Tjoe Bian Seng, Lim Eng Hin, Liam San Tjiam membuka sebuah Sekolah Dasar di rumah eks-Kapiten Tionghoa di R.K. Ilir 481. Mereka bukan Katolik. Untuk mengelola sekolah yang didirikan, mereka meminta bantuan Pastor Joannes Groen, MSF. Selanjutnya Pastor Groen menunjuk Pastor S. Schoone, MSF yang tinggal di pastoran Katedral untuk menjadi kepala sekolah sekaligus tenaga pengajar dengan dibantu oleh Ny. Hages Vetter (Belanda), Ny. Stennekens Wilderink (Belanda), Ny. Irene Admoe Gosenson (Indonesia), Ny. Liem Swie Hee – Ang Hian Tjie Nio (Tionghoa). Meskipun Kantor P & K di Banjarmasin tidak senang dengan adanya Sekolah Katolik di kota Banjarmasin, namun sekolah tersebut dibuka oleh Asisten Residen. Sebagian besar murid bukan Katolik Sekolah yang didirikan oleh beberang orang Tionghoa tersebut memiliki jumlah murid 125 anak

20

Edisi Khusus - 2013

Lim Sek Tjiang (kanan) bersama Br. Silvester dan Br. Maternus (MTB)

laki-laki dan 84 anak perempuan. Hanya sebagian kecil dari murid-murid itu beragama Katolik. Bahkan saat itu tidak seorang pun dari tenaga pengajar yang beragama Katolik. Untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar, Pastor Schoone, MSF mulai mencari bruder untuk SD. Dengan bantuan Vikaris Apostolik Pontianak, Kongregasi Bruder Santa Maria Tak Bernoda (MTB) yang sejak tahun 1921 bekerja di Pontianak mengambil alih SD di RK Ilir. 4 Oktober 1935, 6 (enam) orang bruder mendarat di Banjarmasin dan menjadi tenaga pengajar professional untuk SD. Mereka adalah Br. Honoratus de Meester, Br. Libertus Hoppenbouwers, Br. Gaudentius de Bruyn, Br. Mauritius Broeders, Br. Adrianus Kroft dan Br. Maternus Brouwers.


JEJAK IMAN Jasa tokoh non-Katolik Sesampainya di Banjarmasin, para bruder menghadapi kesulitan yang besar. Menurut peraturan Kongregasi Bruder MTB, para bruder hanya boleh mengajar anak-anak laki-laki, sedangkan SD di Jl. R.K. Ilir adalah sekolah campuran anak laki-laki dan perempuan. Akhirnya diputuskan untuk dibuka SD baru bagi anak-anak perempuan. P. Schoone, MSF terus mulai mencari tanah untuk membangun SD Puteri ini. 5 Oktober 1935, dengan bantuan yang luar biasa dari Lim Sek Tjiang, murid perempuan pindah dari SD di R.K. Ilir ke SD di Kelayan (Rantauan Timur I). Pada saat itu jumlah murid puteri 225 orang. 29 Mei 1938, Bintang “Pro Ecclesia et Pontifice” (voor Kerk en Paus) dari Roma diserahkan kepada Bapak Lim Sek Tjiang sebagai tanda penghargaan jasanya untuk sekolah-sekolah Katolik di Banjarmasin. Gubernur Haga yang sangat anti-Katolik mencoba untuk memboikot upacara penyerahan bintang itu, namun usahanya tidak berhasil. Cikal bakal Gereja

Murid-murid puteri yang ditangani oleh Suster-Suster SFD

Tuhan bisa memakai siapa saja dan peristiwa apa saja untuk menyatakan kasihNya. Apa yang dilakukan oleh seorang yang belum mengenal Kristus akhirnya menjadi menjadi cikal bakal sekolah Katolik yang telah mengantarkan banyak orang mendalami iman, akal budi dan ilmu pengetahuan. Bahkan apa yang dilakukan oleh seorang yang mengenal Kristus menjadi cikal bakal berdirinya sebuah paroki. Pada akhirnya orang Tionghoa yang bukan Katolik itu yang menjadi sarana pewartaan bagi banyak orang hingga akhirnya mengenal dan mengimani Kristus. Sebuah anugerah yang luar biasa dari Tuhan! ***smr***

Prefek Apostolik Banjarmasin, Mgr. J.M.M. Kusters, MSF saat dilantik pada tanggal 19 Oktober 1938 mendengar bahwa di wilayah Kelayan Banjarmasin ada sekolah Katolik, ada bruder, ada suster dan ada pastor yang menangani sekolah namun tidak ada gereja dan tidak ada pastor yang khusus menangani karya misi. Padahal di daerah tersebut orang Katolik hampir tidak ada. Untuk itu Mgr. Kusters mengambil keputusan untuk mendirikan gereja yang dikenal sebagai Gereja Kelayan atau Gereja Tionghoa dengan nama pelindung “Immaculata Conceptio Beatae Mariae Virginis” sebagai paroki kedua di Banjarmasin setelah Paroki Katedral. Gereja Kelayan atau Gereja Tionghoa yang menjadi paroki kedua di Banjarmasin

Edisi Khusus2013

21


JEJAK IMAN

Domba Tanpa Gembala Saat Perang Dunia II terjadi (1941-1945), sebagian besar umat yang masih sangat muda dari segi pengetahuan dan pemahaman akan iman, terpaksa harus ditinggalkan para imamnya bagai “domba tanpa Gembala.� Dalam keadaan ini, nampak jelas bagaimana peranan umat Katolik yang dengan tekun, dan setia berusaha menjaga imannya. Beberapa hari setelah tentara Jepang menduduki Banjarmasin (10 Februari 1942), mereka memasuki Gereja Katedral dan pastoran serta mengangkut barang-barang yang dikehendaki. Buku-buku dilempar keluar, patung-patung dan salib dirusak. Yosef Toekinoen yang saat itu menjadi anggota kepolisian tidak dapat berbuat apa-apa. Namun demikian ia tidak tinggal diam. Dengan bantuan seorang perwira Jepang Katolik bernama Marauka, Toekinoen kemudian mengamankan barang-barang yang ada di gereja Kelayan. Sementara itu barang-barang yang diambil dari Gereja Katedral seperti piala-piala dan kain altar disita kembali dari pedagang-pedagang di pasar. Saat para pastor, suster dan bruder tidak ada, sekitar 30-40 umat Katolik di Banjarmasin yang terdiri dari orang pribumi dan Tionghoa berusaha menghayati iman mereka sebaik mungkin. Setiap hari Minggu mereka berkumpul di gereja Katedral untuk mengadakan ibadat sabda dan berdoa Rosario yang dipimpin oleh Onesimus Wowor. Bahkan pada masa perang itu, umat Katolik di Banjarmasin mengadakan perayaan Paskah yang meriah yang juga diikuti oleh perwira Marauka. Sayang sekali, kehadiran Marauka dalam perayaan Paskah tersebut mengakibatkan perwira itu dipindahkan keluar dari Banjarmasin.

22

Edisi Khusus - 2013

Sejak kepindahan perwira Marauka, umat Katolik mulai menghadapi berbagai macam kesulitan. Sedikit demi sedikit hak umat Katolik untuk beribadat dipersempit. Jepang memberikan keputusan resmi bahwa ijin untuk masuk gereja hanya diberikan pada hari Minggu dan hari-hari besar. Gereja juga hanya boleh dibersihkan pada hari Minggu saja. Buku-buku yang disimpan di gereja harus disensor dan Toekinoen diperintahkan melakukan pekerjaan tersebut. Tentu saja hal itu tidak dikerjakan oleh Toekinoen. Jepang berpendapat bahwa gereja menjadi milik mereka karena dahulu milik Belanda. Namun, dengan berani Toekinoen menyangkal hal itu dan menyatakan bahwa gereja adalah milik umat Katolik. Pada tahun 1942 dibentuk semacam perhimpunan umat Katolik dengan ketua Toekinoen, sekretaris Rajimin, bendahara Onesimus Wowor dan seluruh umat Katolik menjadi anggotanya. Tanggal 20 Februari 1942 perkumpulan ini secara resmi diakui oleh pemerintah Jepang dan diberi nama “Borneo Tensjoe Kokjo Kjokai� (Badan Kebaktian Katolik Borneo) serta diberi bantuan FL.1000 per tahun. Oleh pemerintah Jepang, Yosef Toekinoen diangkat menjadi pemimpin Gereja Katolik se-


JEJAK IMAN Kalimantan dan Yosef Liem Hok Tjiang diangkat menjadi pemimpin Gereja Katolik Banjarmasin. Demi keselamatan umat Katolik di Kalimantan, Toekinoen menerima pengangkatan itu meskipun ia tahu bahwa hal itu tidak sesuai dengan hukum Gereja. Setelah Perang Dunia II berakhir, Yosef Toekinoen menerima tanda kehormatan “Pro Ecclesia et Pontifice� dari Paus Pius XII. Keberanian, kesetiaan dan kasih umat yang berjuang menghayati imannya tanpa pendampingan gembala sungguh patut dipuji dan dihargai. Tidak hanya di Banjarmasin, di Tering, Kalimantan Timur, guru J. Huvang sangat aktif dan diakui oleh Jepang sebagai pemimpin di wilayah itu. Dia juga berkeliling untuk mengunjungi dan mengajar umat di desa-desa lain. Di Long Cihan, hulu riam Mahakam, Bob Nyurai yang bukan Katolik meyakinkan orang-orang di situ bahwa dunia roh yang mempengaruhi orang Dayak sudah tidak ada lagi. Ia mengajak mereka untuk meninggalkan adat lama. Hal ini mengakibatkan daerah yang semula sangat tertutup ini menjadi terbuka bagi agama Katolik.

Ribuan orang mulai belajar agama. Apabila melihat perjalanan Gereja Katolik di Kalimantan, khususnya di Banjarmasin, maka dapat kita pahami bahwa Gereja ini berkembang bukan semata-mata karena keteguhan hati para misionaris. Benih yang telah ditanam tidak akan tumbuh dan berkembang bila tidak ada yang memelihara. Benihbenih warta keselamatan yang telah ditanam oleh para misionaris, telah dipelihara oleh sekelompok kecil umat yang dengan setia dan berani mempertahankan dan menghayati imannya. Semua mengambil perannya masing-masing. Saat ini, sebagai umat Katolik, bukan senjata dan kekejian musuh yang harus kita hadapi. Para gembala juga ada di dekat kita. Kemajuan teknologi dan informasi telah memungkinkan kita untuk memperdalam iman. Bukankah perjuangan dan kesempatan kita untuk menghayati iman kita serta mewartakan kasih Kristus terbuka lebih luas? Lalu, dimana kita (=umat) akan mengambil peran? (smr)

Distributor: PT. BANJAR KENCANASAKTI - Banjarmasin Office: Jl Sutoyo S. No. 126 Banjarmasin http://www.sementigaroda.com

Edisi Khusus2013

23


JEJAK IMAN

“Mgr. Kusters itu Prefek Apostolik yang Sangat Baik”

Awal Maret 1948, saat Prefek Apostolik Banjarmasin, Mgr. J.M.M Kusters, MSF cuti ke Belanda, beliau disambut secara besar-besaran di desa kelahirannya di Boxmeer. Orang-orang berpendapat bahwa sebentar lagi Mgr. Kusters akan diangkat menjadi Vikaris Apostolik Banjarmasin. Seakan-akan sebuah “mitra” sudah diletakkan oleh orang lain di atas kepalanya. Sebaliknya Mgr. Kusters sendiri dalam catatannya, menyatakan bahwa ini merupakan sebuah beban.

Ternyata pendapat Mgr. Kusters benar. Pada 10 Maret 1949, saat Prefektur Apostolik Banjarmasin diangkat menjadi Vikariat Apostolik, Pastor J. Groen, MSF lah yang diangkat menjadi Vikaris Apostolik Banjarmasin dan sebagai Uskup titular. Tidak ada kejelasan terhadap status Mgr. Kusters. Beliau menjadi “persona non-grata” di Grave sampai di Vatikan. Ketidakjelasan status Mgr. Kusters tersebut terjadi karena beliau dianggap “cacat” di mata Dewan Jenderal MSF di Grave – Belanda dan Vatikan. Menurut Mgr. Demarteau dalam kroniknya, seseorang telah menulis kepada Dewan Jenderal MSF di Grave bahwa di kamar Mgr. Kusters tidak ada timbangan surat Mgr. Kusters dianggap kurang menaruh perhatian dan berkorepondensi dengan para misionaris. Di samping itu Mgr. Kusters dilaporkan telah memberkati perkawinan campur di dalam gereja. Mgr. Kusters juga dianggap sebagai seorang pengecut dan mengkhianati tugasnya sebagai seorang gembala karena ikut “lari” ke Jawa saat Perang Dunia II. Mgr. Kusters baru menjabat Prefek Apostolik sebagai Pro-Vikaris ad Interim menggantikan Mgr. Groen yang meninggal dunia. Seandainya saat itu teknologi komunikasi sudah secanggih saat ini, dimana komunikasi dapat dilakukan dalam dua arah secara cepat, tentu Dewan Jenderal MSF dan Vatikan dapat memahami kejadian yang sebenarnya. Saat Jepang akan masuk ke Banjarmasin, Mgr. Kusters, Pastor Schoone, bersama 5 bruder MTB dan 6 orang suster SFD, telah berketetapan untuk tinggal di Banjarmasin apapun resikonya. Namun, saat Walikota Banjarmasin mendengar bahwa tentara Jepang dengan keji membunuh semua orang yang berkulit putih di Balikpapan, maka Walikota selaku penguasa saat itu memberikan perintah keras agar Mgr. Kusters dan semua personil misi untuk lari ke Jawa. Bahkan Walikota mengancam akan menembak Mgr. Kusters jika menolak perintah tersebut. 11 Februari 1942, Mgr. Kusters, Pastor Schoone, para bruder dan suster mengungsi menuju Kuala Kapuas bersama 184 orang pengungsi lainnya. Jam 11.00 setelah satu jam keberangkatan rombongan Mgr. Kusters,

24

Edisi Edisi20 Khusus - 2013- 2013


JEJAK IMAN tentara Jepang masuk ke Banjarmasin. Setiap orang Belanda yang diketemukan pada hari-hari pertama di Banjarmasin dibunuh, termasuk walikota waktu penyerahan kuasa. Rombongan Mgr. Kusters tiba di Surabaya, pada tanggal 18 Februari 1942. Dia menginap di rumah Vikaris Apostolik Surabaya. Sesudah Belanda kapitulasi pada tanggal 8 Maret 1942, orang-orang Belanda tidak diinternir lagi, termasuk Mgr. Kusters. Ia sempat mengirim surat dan, makanan dan obatan-obatan kepada mereka yang ditahan di Banjarmasin, maupun anggur misa kepada konfrater di Samarinda. Karya sosial ini terwujud dengan bantuan seorang suster protestan Reichert (bangsa Jerman), sebagai penghubung berjalan lancar sampai tanggal 4 Maret 1943. Pada hari itu, Mgr. Kusters ditangkap dan dipenjarakan hingga 22 Januari 1944, dan akhirnya dipindahkan ke penjara polisi rahasia Kenpeitai. Di sana, ia langsung diperiksa dan ternyata polisi rahasia mengetahui segala hal yang telah dilakukan Mgr. Kusters, seperti pengiriman bahan makanan. Dia mengaku, bahwa hal itu hanyalah karya pastoral-sosial. Dia dipenjara selama 8 bulan, dan harus kerja keras, dan secara teratur mengepel penjara dengan telanjang bulat. Pada pemeriksaan kedua dia dituduh bergabung dengan komplotan anti Jepang yang dipimpin Gubernur Haga. Dia menyangkal semua tuduhan, dan terheran-heran karena tidak dipukul oleh penjaga. Tibatiba dalam keadaan tidak pasti, pada tanggal 6 Januari 1945 tanpa pemeriksaan ia dikembalikan ke kamp di Surabaya, kemudian dibawa ke kamp di Bandung. Mgr. Kusters kemudian bebas pada 1 September 1945. Sejak 10 Mei 1940 – 06 Oktober 1945 hubungan antara Dewan Jenderal MSF Grave dengan MSF Kalimantan terputus. Mgr. Kusters baru berhasil berkumpul dengan rekan-rekan pastor dan bruder di Kalimantan pada November 1945. Mgr. Kusters bersama para misionaris mulai membangun kembali kerusakan akibat perang. Balikpapan hancur total. Tarakan, Tering dan Barong Tongkok hancur sebagian. Di Banjarmasin sebagian milik gedung misi dipakai oleh tentara, dan sangat sulit untuk dikembalikan ke karya misi. Umumnya, inventaris semua pastoran, bruderan dan susteran hilang, sehingga banyak kerugian material.

dilakukan Mgr. Kusters sebelum dan sesudah Perang Dunia II kurang diperhatikan oleh Dewan Jenderal MSF. Mgr. V. Valenberg, Vikaris Apostolik Pontianak dalam suratnya kepada Mgr. Demarteau, MSF menuliskan, bahwa di Vatikan, beliau telah membela Mgr. Kusters tapi usaha tersebut sia-sia. Mgr. V. Valenberg juga menuliskan, “Seandainya saya dalam keadaan yang sama seperti Mgr. Kusters, saya pun akan lari ke Jawa.” Mengenai tidak adanya timbangan di kamar Mgr. Kusters, tidak dapat dipakai sebagai bukti bahwa beliau tidak pernah berkorepondensi dan berinteraksi dengan para misionaris. Sebaliknya, Mgr. Kusters adalah seorang administrator yang baik dan rajin berkorespondensi dengan para misionaris, pemerintah, instansi Gereja di dalam dan luar negeri. Mgr. Demarteau dalam kroniknya menulis, “Justru orangorang –orang yang sama sekali tidak atau hanya sedikit menderita karena perang, akan menuntut banyak dari orang lain, mulut mereka besar tapi hatinya kecil. Saat pelantikan Mgr. Groen sebagai Vikaris Apostolik pada 15 Oktober 1949, Mgr. Kusters mengucapkan sambutan dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Beliau menyerahkan kuasanya sebagai Vikaris Apostolik Banjarmasin kepada Mgr. Groen. Dalam laporan pelantikan yang juga dikirimkan ke Dewan Jenderal MSF, dinyatakan bahwa Mgr. Kusters adalah seorang yang sangat tulus dan rendah hati yang mau menerima dengan lapang dada segala keputusan dari Vatikan mengenai pengangkatan Mgr. Groen. Bahkan Mgr. Kusters sendiri menulis ke Belanda, “Saya tidak berbeban berat karena saya dianggap tidak layak menjadi Uskup.”

Timbangan surat yang dipakai para misionaris

Tidak dapat dimengerti juga, bahwa apa yang

Edisi Khusus2013

25


JEJAK IMAN Sungguh suatu teladan yang luar biasa dari seorang Prefek Apostolik Banjarmasin yang diangkat pada 21 Mei 1938 dalam usia yang masih sangat muda, 33 tahun. Dia berkarya di Mamahak Besar, sebuah stasi yang jauh di pedalaman Kalimantan Timur. Pengangkatan beliau yang belum lama berkarya di Kalimantan (4 tahun), mengherankan banyak orang. Namun para misionaris MSF menyambut baik ordinarius yang baru. Justru para misionaris yang berkarya di pedalaman merasakan bahwa dalam waktu yang singkat, ordinaris muda tersebut mengerti segala kesulitan, kekecewaan, dan kegembiraan, dan segala hal yang bersangkut paut dengan karya mereka sebagai misionaris. Sampai tahun 1949, Mgr. Kusters membuktikan bahwa dia adalah seorang pemimpin yang baik. Bahkan Mgr. Demarteau dalam catatannya menuliskan, “Mgr. Kusters adalah Prefek Apostolik yang baik, bahkan sangat baik.” 19 Oktober 1938, Mgr. Kusters dilantik di Gereja Keluarga Kudus Banjarmasin. Diantaranya hadir, Mgr. Tarc.van Valenberg OFMcap (Vikaris Apostolik Pontianak), Pater A. Kouwenhoven MSF (Superior Provinsi MSF Belanda), Pater A. Elfrink, MSF, yang mewakili Mgr. P. Wilekens (Vikaris Apostolik Jakarta), para misionaris MSF Kalimantan Timur diwakili oleh Pater Fr. Arts MSF, J. Romeijn MSF dan

M. Schoots MSF. (smr/lrn – disadur dari Buku “Sebiji Sesawi” dan “Mereka Itu Datang Dari Jauh”) _______ Catatan: •

Prefek Apostolik = adalah bentuk otoritas rendah untuk suatu wilayah pelayanan dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk di sebuah daerah misi dan di negara yang belum memiliki keuskupan. Prefektur apostolik dipimpin oleh seorang Prefek Apostolik, yang biasanya adalah seorang pastor dan bukan uskup. Kalau sebuah prefektur apostolik berkembang, statusnya akan ditingkatkan menjadi vikariat apostolik, dan akan dipimpin oleh orang berjabatan uskup sambil membentuk badanbadan institusi yang diperlukan untuk menjadi sebuah keuskupan penuh. Tahapannya adalah: misi, menjadi prefektur apostolik, menjadi vikariat apostolik, dan kemudian menjadi keuskupan. (sumber: Wikipedia bahasa Indonesia)

Mitra = topi Uskup yang kurang lebih sama makna dengan mahkota seorang raja.

Uskup titular = gelar untuk seorang Uskup yang diangkat tetapi tidak mempunyai keuskupan.

Persona non-grata = pribadi yang tidak bisa diterima.

Mgr. Kusters MSF (tengah depan) bersama anak-anak di Long Bagun

26

Edisi Khusus - 2013


JEJAK IMAN

Mgr. Joannes Groen, MSF:

Menuju Terwujudnya Gereja Lokal Pada tahun 1949, tidak ada perayaan ulang tahun kesebelas bagi Prefektur Apostolik Banjarmasin. Pada tahun itu, tepatnya 10 Maret 1949, Prefektur Apostolik Banjarmasin diangkat menjadi Vikariat Apostolik. Pada hari yang sama, Pater Joannes Groen, MSF diangkat menjadi Vikaris Apostolik yang pertama dengan motto tahbisan, “Lux in Tenebris” (=Cahaya dalam kegelapan – Yoh 1:5). Sebelas tahun sebelumnya, saat Prefektur Apostolik Banjarmasin didirikan, banyak orang menyangka bahwa beliaulah yang diangkat menjadi Prefek Apostolik. Namun yang terjadi tidak demikian. Justru seorang pater muda berusia 33 tahun bernama J. Kusters, MSF yang diangkat menjadi Prefek Apostolik. Keadaan ini berbalik saat pengangkatan Vikaris Apostolik. Saat banyak orang menyangka Mgr. J. Kusters, MSF yang akan diangkat menjadi Vikaris Apostolik, justru Pater Joannes Groen, MSF yang saat itu dianggap terlalu tua (58 tahun) diangkat menjadi Vikaris Apostolik. Lahir di Groothuizen (Belanda), 15 Desember 1891, Joannes Groen, masuk seminari MSF di Grave pada usia 19 tahun. Ia termasuk Vocation Tardive (panggilan terlambat), dan mengucapkan kaul pertama pada 4 Oktober 1917. Groen adalah anak buah Pater Berthier (pendiri MSF) yang “murni”. Setelah ditahbiskan menjadi imam, pada tanggal 17 Desember 1921, beliau berkarya sebagai pengajar bahasa Perancis dan Latin di seminari MSF di Kaatsheuvel, Belanda. Setelah 8 tahun mengajar dan menjadi Rektor di seminari tersebut, Pater Groen, MSF diutus ke Kalimantan (Januari 1930), untuk menjadi “Superior Missionis”, menggantikan Pastor Fr. Groot, MSF. Awalnya tinggal di Laham, dan baru menetap di Banjarmasin pada bulan Desember 1931 agar lebih mudah mengadakan kontak dengan pemerintah hingga tahun 1936, tepat saat masa jabatannya yang kedua selesai. Sesudah itu Groen menjadi pastor paroki Balikpapan. Pada tahun 1939 Pater Groen, MSF cuti ke Belanda. Keberadaan Pater Groen di Belanda selama beberapa tahun telah membawa dampak postif berupa membaiknya hubungan beliau dengan Dewan Jenderal MSF yang sebelumnya kurang mulus.

Mgr. Joannes Groen, MSF

Pada tanggal 19 November 1945, Pater Groen, MSF

Edisi Khusus2013

27


JEJAK IMAN berangkat menuju Kalimantan, bersama Pater H. Nienhuis, MSF. Berhubung hanya para tentara yang boleh masuk Indonesia pada waktu itu, mereka terlebih dahulu diangkat menjadi kapten tituler. Kedua pater ini, berangkat dari Den Haag via Dover, London, Southampton, Colombo, Singapura dan Penang (Malaysia). Di Penang, mereka ditahan bersama banyak orang Belanda lainnya selama 10 hari di bekas rumah sakit jiwa. Tentara Inggris yang berkuasa di Jawa tidak memberi izin kepada mereka untuk masuk Indonesia. Tetapi akhirnya, pada 18 Februari 1946 mereka tiba di Jakarta dan pada tanggal 8 Maret 1946, mereka tiba di Banjarmasin. Beberapa bulan kemudian, ia diangkat kembali menjadi Superior Missionis untuk anggota MSF di Kalimantan dan Jawa. Awal Januari 1949, pindah ke Kampung Baru Balikpapan Setelah diangkat menjadi Vikaris Apostolik, Mgr. Groen berangkat ke Belanda dan ditahbiskan pada tanggal 16 Juni 1949 di Kaatsheuvel oleh Uskup Hertogenbosch- Mgr Mutsaers bersama Mgr. J.Huibers dari Keuskupan Haarlem dan Mgr. Tarc.van Valenberg, OFMCap – Vikaris Apostolik Pontianak. Groen dilantik sebagai ordinarius, pada 15 Oktober di Gereja Katedral Banjarmasin. Sebagai Ordinarius Banjarmasin, beberapa karya penting telah dilakukan Mgr. Groen. Tanggal 12 Juli 1950 dibuka Seminari Menengah di Banjarmasin. Pater L. Bussemakers diangkat menjadi direktur seminari. Mgr. Groen turut mengajar di seminari tersebut. Pater G. Slot, Pater G.Borst, Pater A.Kruize, Pater Prawirosoeyono, MSF dan Mgr.Husin, MSF (alm – Uskup Keuskupan Palangkaraya) adalah alumni dari seminari yang berada di pastoran Kelayan tersebut. Pembukaan seminari di Banjarmasin merupakan langkah penting menuju terwujudnya Gereja lokal. Karya-karya lainnya adalah pembukaan sekolah guru agama di Tenggarong, pendidikan untuk calon suster dan bruder di Tering. Setelah berdirinya Republik Indonesia maka artikel 177 dihapuskan, sehingga wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah terbuka untuk para misionaris. Mgr. Groen memutuskan untuk lebih memperhatikan pelayanan pastoral di daerah-daerah yang penduduknya masih hidup menurut kepercayaan dan adat yang lama. Strategi yang terlalu berpusat pada suatu tempat perlu

28

Edisi Khusus - 2013

diubah, agar karya pastoral lebih berhasil. Sejak tahun 1950 diadakan beberapa kali kunjungan ke Kalimantan Tengah dan membuka stasi di Sampit dan Kuala Kapuas. Pada tanggal 1 April 1951, beliau mentahbiskan imam pribumi yang pertama di Kalimantan, Pastor Hendrik Timang, MSF. Sebagai superior misi, dia sangat berjasa untuk karya MSF di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Sayangnya beliau terpaksa tinggal di Eropa selama perang dunia ke II. Dia mengalami banyak kesulitan untuk menyesuaikan dengan zaman dan wajah Indonesia yang telah merdeka, disamping dengan wilayah vikariat yang sangat luas. Namun, Groen tetap dengan gigih menjalankan tugasnya. Tidak ada kata lelah dalam langkahnya, semuanya diperjuangkan demi karya dan misi di tanah Borneo. Groen meneladankan sikap pantang menyerah di tengah segala kesulitan dan kondisi daerah. Meski itu semua harus dibayar mahal, Mgr. Groen sendiri tidak dapat menyaksikan perkembangan karyakarya yang telah dirintisnya. Setelah turne di wilayah ulu riam Mahakam kesehatannya menurun. 6 April 1953, dia diopname di Rumah Sakit RKZ Surabaya. Tanggal 18 April 1953 beliau meninggal dunia karena komplikasi emboli yang diketahui saat operasi tumor di usus besar. Hari berikutnya jenazah Mgr. Groen MSF dimakamkan di kuburan “Kembang Kuning” Surabaya. Enam puluh tahun kemudian, menandai peringatan 75 tahun Keuskupan Banjarmasin, tepatnya 2 Juli 2013, sebagai penghormatan atas karya-karya monsinyur yang telah menorehkan sejarah di Keuskupan Banjarmasin, maka kerangka jenasah Mgr. Groen, MSF dipindahkan dari “Kembang Kuning” ke kuburan St. Yosef di Landasan Ulin. (smr/lrn) – disadur dari Buku “Sebiji Sesawi” dan “Mereka Itu Datang Dari Jauh”).

Sidang MAWI di Pontianak thn 1952 ki-ka: Mgr. Buis (Borneo Utara); Mgr. J.Groen MSF; Mgr Tarc v. Valenberg OFMCap (Vikap Pontianak); Mgr. Vos (Borneo Utara); & Mgr. L.v.Kessel (Vikap Sintang)


JEJAK IMAN

Mgr. Wilhelmus Demarteau MSF:

Imam Muda yang Berani “Siapa yang berkeberatan dan mempersalahkan saya, jika saya diminta berdoa untuk keselamatan Indonesia?� Tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang. Proklamasi ini tidak hanya menghembuskan angin kebebasan bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi sejumlah misionaris Belanda yang selama tiga setengah tahun penjajahan Jepang telah keluar masuk penjara atau disingkirkan tentara Jepang ke pelosok-pelosok, termasuk di pulau Kalimantan. Mgr. W. Demarteau, MSF dalam kronik Keuskupan Banjarmasin mencatat beberapa hal mengenai hari-hari dan bulan-bulan serta tahun-tahun awal kemerdekaan itu berkaitan dengan nasib para misionaris di keuskupan Banjarmasin. Tanggal 18 September 1945 tentara Jepang telah menyerahkan diri kepada tentara Australia di Banjarmasin. Pada pertengahan bulan September 1945, para pastor dan bruder MSF yang telah ditawan oleh tentara Jepang di Puruk Cahu dibebaskan. Sebagai ungkapan rasa syukur atas pembebasan itu maka pada pesta Bunda Maria La Salette tanggal 19 September, para pastor dan bruder MSF bersama dengan empat suster dari Veghel yang telah dibebaskan di Kandangan, merayakan pesta itu di Kandangan. Setelah itu mereka bersama-sama berangkat ke Banjarmasin. Semasa penjajahan Jepang, pastoran di Jl. Lambung Mangkurat no. 4 diduduki oleh Jepang dan baru dikosongkan pada tanggal 14 September 1945. Karena belum dipersiapkan lagi untuk tinggal, maka para pastor dan bruder MSF untuk sementara tinggal di rumah lain di Jl. Lambung Mangkurat hingga pada tanggal 1 Oktober 1945 pastoran itu dapat ditempati kembali.

Mgr. W.Demarteau MSF dalam misa peletakan batu pertama gereja Kampong Baru Balikpapan, 31 Januari 1960

Selama masa pendudukan Jepang (3,5 tahun)

Edisi Khusus2013

29


JEJAK IMAN tidak pernah ada lagi perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Banjarmasin. Tanggal 1 Oktober 1945, untuk pertama kali sejak masa pendudukan Jepang, misa syukur dipersembahkan kembali di dalam gereja Keluarga Kudus. Perayaan Ekaristi kali ini dirayakan dengan acara militer. Pastor J. Romeijn, MSF (di kemudian hari menjadi Uskup Keuskupan Samarinda) menjadi selebran utama, didampingi oleh diakon dan sub-diakon, dan 4 tentara Austraila sebagai “putera altar”. Selain Komandan Tentara Australia, Lt. A.C. Whitworth, hadir pula Opsir dari NICA (Netherlands Indies Civil Administration), utusan dari masyarakat Tionghoa dan Dewan Kotapraja yang mewakili orang Indonesia. Gereja dihiasi dengan empat bendera: Belanda, Australia, Inggris dan Tionghoa. Menurut Mgr. W. Demarteau, MSF (penulis Kronik Keuskupan Banjarmasin), periode 1945-1954 adalah periode “pembangunan rohani dan jasmani”. Misionaris yang ditawan selama masa pendudukan Jepang setelah dibebaskan, kembali bertugas di wilayah Vikariat Banjarmasin. Sementara itu para misionaris yang masih “menunggu” di Belanda karena situasi perang kemerdekaan, sudah mulai diijinkan datang ke Kalimantan. Tanggal 21 Mei 1947, tiba di Banjarmasin 3 orang misionaris misionaris baru dari negeri Belanda

yakni Pastor J. Hagens, MSF, Pastor M. Laseroms, MSF dan Pastor W. Demarteau, MSF. Pastor J. Hagens berangkat ke Kaltim, Pastor M. Laseroms ke Kelayan dan Pastor W. Demarteau , MSF mennjadi pastor paroki Keluarga Kudus (Katedral). Angan-angan Pastor W. Demarteau, MSF untuk bekerja di tanah misi Kalimantan akhirnya menjadi kenyataan. Akan tetapi baru tiga bulan berada di Banjarmasin, Pastor W. Demarteau, MSF mengalami peristiwa getir. Beliau terancam dikembalikan ke Belanda gara-gara merayakan misa HUT Kemerdekaan. Beberapa hari sebelum tanggal 17 Agustus 1947, Pastor W. Demarteau, MSF dipanggil ke kantor Intelijen Belanda di Kota Banjarmasin. Kepala kantor Intelijen memperlihatkan kepadanya sebuah artikel dalam surat kabar berbahasa Indonesia. Dalam artikel itu diberitakan bahwa pada tanggal 17 Agustus berhubung dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno, Pastor Demarteau telah mempersembahkan misa. Kepala Intelijen mempertanyakan kebenaran berita itu. Pastor W. Demarteau menjawab, “Saya diminta untuk akan misa tanggal 17 Agustus 1947, dan bukan untuk misa 17 Agustus dua tahun yang lalu. Siapa yang berkeberatan dan mempersalahkan saya jika saya diminta berdoa untuk keselamatan Indonesia?” Opsir Belanda itu berkata, “Jika saya mengirim surat kabar ini ke Batavia tanpa komentar pastor dan tanpa keterangan dari saya, pastor menghadapi risiko besar. Pastor dapat diusir dari Hindia-Belanda dan disuruh pulang ke negeri Belanda. Mendengar hal itu pastor W. Demarteau, MSF yang baru 6 tahun usia imamatnya sangat terkejut karena belum genap 3 bulan berada di Banjarmasin dan terancam untuk dipulangkan ke negeri Belanda gara-gara berita surat kabar itu. Tanggal 27 Juli 1941, Wim Demarteau, MSF ditahbiskan menjadi imam pada usia 24 tahun (usia yang masih sangat muda !) Hari itu, 11 misionaris MSF siap menjelajah dunia. Di kemudian hari, Mgr. W.J. Demarteau, MSF dalam kronik MSF Propinsi Kalimantan menulis riwayat singkat perutusan “keseblasan” itu sebagai berikut:

Mgr. W.Demarteau MSF dalam kunjungan ke Hulu Sungai Mahakam (30 Desember 1954 s.d. 3 Mei 1955)

30

Edisi Khusus - 2013

1. Pater J. Schipper, MSF, bertugas di Chili dari tahun 1947-1968. Beliau meninggal pada tanggal 21 September 1968.


JEJAK IMAN 2. Pater J. Reinders, MSF, bertugas di Chili dari tahun 1947-1988. Beliau meninggal tanggal 28 Maret 1988. 3. Pater J. Lengers, MSF, bertugas di Nederland dari tahun 1941-1964. Beliau meninggal pada tanggal 22 Juli 1964. 4. Pater N. Lengers, MSF, bertugas di Jawa dari tahun 1951-1972, kemudian kembali ke Nederland dan bekerja di sana. Beliau meninggal pada tanggal 25 Januari 1997. 5. Pater A. Lighthart, MSF bertugas di tiga negara: Nederland, Indonesia dan Chili. Beliau meninggal pada tanggal 31 Oktober 1994. 6. Pater A. Kempes, MSF, bertugas di Chili dari tahun 1959-1980. Beliau sudah meninggal (dalam kronik itu tidak ditulis tahun berapa meninggal). 7. Pater van Stuivenwold, MSF, bertugas sebagai dosen di seminari. Beliau kemudian meninggalkan imamatnya (keluar). 8. Pater B. Kobesen, MSF, bertugas di Chili dari tahun 1945. Beliau meninggal pada tanggal 27 Oktober 1982. 9. Pater A. Wijtvliet, MSF, pernah bertugas sebagai Superior Provinsi dan kemudian sebagai Prokurator Misi. Beliau meninggal pada tanggal 11 April 1989. 10. Pater van Deudekom, MSF, bertugas di Kalimantan dari tahun 1946-1974. Beliau meninggal pada tanggal 11 Pebruari 1975.

di bumi Kalimantan hingga saat wafatnya pada tanggal 5 Desember 2012. Sebuah perjalanan panggilan yang panjang, berliku dan disertai dengan banyak kesulitan, antara lain situasi politik setelah perang kemerdekaan Indonesia, salah satunya adalah peristiwa misa HUT kemerdekaan RI tahun 1947 itu. Perang kemerdekaan telah usai akan tetapi perang batin nampaknya berlanjut. Berdoa untuk keselamatan Bangsa Indonesia dalam Ekaristi HUT Kemerdekaan RI masih dicurigai Opsir Belanda. Namun kecurigaan itu tidak menghentikan suara kenabian sang imam muda ini untuk menjelajah bumi Kalimantan seluas Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur. Pertanyaan retoris tahun 1947 dari pastor muda Wilhelmus Demarteau, “Siapa yang berkeberatan dan mempersalahkan saya jika saya diminta berdoa untuk keselamatan Indonesia?� semestinya menjadi pertanyaan di lubuk hati umat Katolik yang mencintai negeri ini. Ada banyak jalan untuk menyelamatkan bangsa dan negara yang tercinta ini. Puluhan tahun yang silam, pastor muda Wilhelmus Demarteau, MSF yang baru tiga bulan berada di Indonesia dengan mantap berdoa untuk keselamatan Indonesia melalui perayaan Ekatisti kendati untuk itu beliau telah dicurigai, bahkan terancam deportasi kembali ke negeri Belanda. Namun tak ada kata “mundur� dari bumi Indonesia dalam kamus hidup pastor Wilhelmus Demarteau, MSF. Ketika kita menghadapi situasi terancam seperti pastor W. Demarteau, MSF apakah kita takut dan mundur? (don)

11. Pater Wim Demarteau, MSF, bertugas di Kalimantan sejak tahun 1947 sebagai pastor paroki di Katedral Banjarmasin, sampai diangkat menjadi Uskup Banjarmasin pada tahun 1954.

Menjadi misionaris di Kalimantan adalah pilihan P. Wim Demarteau, MSF, bahkan ketika masuk di Seminari kecil kala masih berumur 12 tahun. Keputusan itu telah membawa P. Wim. Demarteau, MSF mengabdikan 65 tahun imamatnya

Mgr. W.Demarteau MSF dilantik menjadi Uskup Keuskupan Banjarmasin, 1961

Edisi Khusus2013

31


JEJAK IMAN

“Jejak Iman” di Konsili Vatikan II (HUT ke-50 Konsili Vatikan II: Kado “emas” untuk Mgr. W. Demarteau, MSF)

Tanggal 14 April 1953, Mgr. Groen, MSF “gagal” menjalani operasi tumor di RKZ Surabaya. Telegram dari Surabaya memberitakan bahwa Mgr. Groen, MSF telah meninggal pada tanggal 18 April 1953, jam 10.40 WIB. Sebelum meninggal dunia, Mgr. Groen, MSF menerima Sakramen Minyak Suci dari Pater Gloudemans, MSF. Hari berikutnya, tanggal 19 April 1953, Mgr. Groen, MSF dimakamkan di kuburan Kembang Kuning Surabaya. Misa Requiem untuk Mgr. Groen, MSF diadakan tanggal 24 April 1953 di Katedral Banjarmasin. Beberapa tamu pemerintah hadir dalam misa requiem itu, antara lain Gubernur Murdjani dan Walikota Banjarmasin, Sinaga. Vikariat Banjarmasin memerlukan gembala baru. Tanggal 6 Januari 1954 P. W. Demarteau, MSF diangkat oleh Sri Paus menjadi Vikaris Apostolik Banjarmasin, namun baru diumumkan pada tanggal 17 Maret 1954 karena Pater W. Demarteau, MSF mengajukan keberatan ke Vatikan. Namun beliau sangat ditekan oleh Vatikan dan Dewan Jenderal MSF di Grave – Belanda. Dewan Jenderal MSF menjawab keberatan itu kepadanya, “Kalau Pater tidak menerima salib itu, nanti sebuah salib yang lebih berat akan diletakkan atas bahumu.” P. W. Demarteau, MSF yang kala itu masih muda (usia 37 tahun), akhirnya menyatakan siap memanggul “salib” itu dan menerima tahbisan Uskup tanggal 5 Mei 1954. Konsili Vatikan II Memanggil Setelah 8 tahun menjadi uskup Banjarmasin, pada bulan Agustus 1962 Mgr. W. Demarteau, MSF berangkat ke Roma bersama pater G. Heyne, MSF untuk mengikuti Konsili Vatikan II. Menurut keputusan Pemerintah Indonesia, setiap uskup boleh membawa

32

Edisi Khusus - 2013

seorang sekretaris. Namun di Jakarta Mgr. Demarteau menerima informasi bahwa beliau boleh membawa dua sekretaris, karena itu Br. Longinus yang sudah lama tidak cuti ke Eropa, dipanggil dan bulan Oktober bruder Longinus berada di Roma dan tinggal di sana selama satu minggu. Namun kedua “sekretaris” ini tidak betah tinggal di Roma dan “melarikan diri” untuk cuti di Belanda. “Tanpa kedua ‘sekretaris’ ini, Konsili Vatikan II tetap berjalan lancar”, demikian Mgr. Demarteau, MSF menulis dalam kronik Keuskupan Banjarmasin mengenai kedua “sekretaris” beliau. Situasi politik Indonesia dan Belanda yang mulai membaik dalam kaitan dengan persoalan Irian Jaya berdampak positif bagi peserta Konsili Vatikan II, khususnya para Uskup dan imam yang berasal dari Belanda. Presiden Soekarno mengijinkan para uskup setelah sidang Konsili Vatikan II dapat mengunjungi Belanda selama satu bulan saja karena persoalan Irian Jaya sudah beres, karena sebelumnya hubungan pemerintah Indonesia dan Belanda memburuk. Maka sesudah sidang pertama Konsili Vatikan II, para uskup dapat mengunjungi Belanda. Tanggal 25 Januari 1963 Mgr. W. Demarteau, MSF kembali Banjarmasin sambil menunggu waktu untuk sidang lanjutan Konsili Vatikan II di Roma, karena Konsili Vatikan II memang masih berlangsung dan belum ditutup. Namun tanggal 4 Juni 1963, penggagas Konsili Vatikan II, Paus Yohanes XXIII meninggal dunia. Mgr. Demarteau MSF mengirim telegram “turut berduka cita” ke Roma. Tragedi G.30.S PKI di Tengah Konsili Vatikan II

Tanggal 20 Juli 1963 Mgr. Demarteau, MSF ke di


JEJAK IMAN Semarang untuk mentahbiskan dua imam MSF: Romo H. Djayapoetranto, MSF dan Romo P.C. Yoedadiharjo, MSF pada tanggal 25 Juli 1963. Tiba-tiba berita duka datang: Mgr. Alb. Soegijapranoto, SJ secara mendadak meninggal di Belanda. Maka Mgr. Demarteau, MSF memutuskan untuk menghadiri pemakaman uskup Semarang ini. Tanggal 28 Juli pesawat Hercules yang membawa Jenazah Mgr. Alb. Soegijapranoto, SJ mendarat di Semarang. Mgr. W. Demarteau, MSF adalah satu-satunya uskup yang berada di bandara bersama rombongan penyambut. Upacara pemakaman dilangsungkan tanggal 29 Juli 1963. Setelah Upacara pemakaman, Mgr. Demarteau, MSF berangkat dari Semarang ke Roma via Belanda untuk menghadiri lanjutan Konsili Vatikan II. Dua “tokoh besar” bagi Gereja Katolik Indonesia “pergi untuk selamanya” ketika Konsili Vatikan II masih berlangsung. Pertama adalah penggagas Konsili Vatikan II, Paus Yohanes XXIII, yang “membuka jendela” Gereja bagi dunia, termasuk Gereja Indonesia yang hidup dalam negara yang pluralistik ini. Kedua adalah Mgr. Albertus Soegijapranoto, SJ yang menggagas prinsip: “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia” bagi Gereja Katolik Indonesia. Tanggal 4 September 1965, rombongan para uskup Indonesia tiba di Roma pada malam hari untuk menghadiri kembali Konsili Vatikan II selama hampir sebulan. Ketika hampir semua gembala umat Katolik berada jauh dari Indonesia, sebuah peristiwa tragis menimpah tanah air. Pada tanggal 30 September 1965, sejumlah Jenderal ditangkap dan dibunuh secara mengerikan. Peristiwa itu dikenang oleh bangsa Indonesia sebagai Gerakan 30 September PKI. Dalam catatan Kronik Keuskupan Banjarmasin, tanggal 11 Desember 1965, PKI dilarang di Banjarmasin sebagai akibat dari Gerakan 30 September PKI itu.

Karena itu para uskup tidak bisa sampai di Bruderan di Jl. Merdeka Timur. Maka mereka menginap di Pastoran SVD di Matraman. Tanggal 28 Februari, Mgr. Demarteau,MSF tiba kembali di Banjarmasin. “Udara segar, angin keterbukaan” telah dihembuskan dari Vatikan oleh bapa-bapa Konisli. Mgr. Demarteau, MSF, adalah salah satu dari bapak Konsili, yang diberi hadiah oleh Tuhan untuk “ikut merayakan” 50 Tahun Pembukaan Konsili Vatikan II pada tahun 2012. Ketika sebagai imam muda berusia 37 tahun, beliau dipilih menjadi uskup Banjarmasin. Tugas itu diemban dengan setia selama hampir 30 tahun sampai pada tahun 1983. Setelah pensiun sebagai uskup, beliau masih mengabdi keuskupan ini selama 29 tahun (1983-2012). Pengabdian yang tidak pernah mengenal “pensiun” sampai Tuhan memanggil untuk selamanya “peserta Konsili Vatikan II” dari Banjarmasin ini pada tanggal 5 Desember 2012. Tuhan telah memilih tanggal yang tepat untuk memanggil Uskup Demarteu, Bapa Konsili Vatikan II pada saat yang tepat. Tanggal 5 Desember, beliau meninggal di pavilun Dominikus RS. Suaka Insan. Setelah tiga hari disemayamkan, maka pada tanggal 8 Desember 2012, bertepatan dengan tanggal penutupan Konsili Vatikan II dan Hari Raya Maria dikandung Tanpa Noda, peti jenasah Mgr. W. Demarteau, MSF ditutup untuk selamanya di Gereja Bunda Maria Banjarbaru dan diantar ke peristirahatan terakhir di samping Grotto Maria Penuh Rahmat Banjarbaru. Jejak iman Mgr. W. Demarteau, MSF, berakhir dengan manis pada tanggal 8 Desember 2012. Itulah penyelenggaraan Ilahi. Barangkali berliau menjadi salah satu dari sedikit uskup peserta Konsili Vatikan II yang mendapat kesempatan merayakan “ulang tahun emas” Konsili Vatikan II. (don).

Konsili Vatikan II Mengutus….. Konsili Vatikan II telah ditutup tanggal 8 Desember 1965. Setelah penutupan Konsili Vatikan II, Mgr. W. Demarteau MSF (Uskup Banjarmasin) dan Mgr. Roeijn, MSF (Uskup Samarinda) tiba di Jakarta tanggal 22 Februari 1966. Jakarta penuh dengan mahasiswa yang berdemonstrasi.

Para Uskup Indonesia peserta Konsili Vatikan II

Edisi Khusus2013

33


JEJAK IMAN

Mgr. FX. Prajasuta, MSF: “Mental Misionaris, bukan Mental Pedagang” Romo FX. Prajasuta, MSF, pertama kali bertugas sebagai Pastor Paroki Buntok (1977-1981). Namun sebelum berangkat ke Buntok, Mgr. Demarteau, MSF menugaskannya untuk mencari orang trasmigran yang beragama Katolik di Paroki Pelaihari. Banyak umat Katolik dari Jawa yang terpaksa menulis di KTP beragama Islam, agar dapat ikut transmigrasi ke Kalimantan. Ada banyak kisah mengenai kehidupan para transmigran di Pelaihari dan sekitarnya dan bagaimana mereka kemudian saling mengenal satu sama lain. Di salah satu kampung transmigran, sebuah keluarga selalu berkumpul di dalam rumah. Ada tetangga yang penasaran dan mengintip. Ternyata mereka sedang berdoa Rosario. Menariknya yang mengintip itu juga orang Katolik. Peristiwa ini sungguh luar biasa dan mengharukan. Tetapi dengan cara demikian beberapa keluarga mulai berkumpul bersama. “Menjala” Umat Katolik dengan Majalah Hidup Bekas Romo Prajasuta menggunakan media majalah HIDUP bekas yang sudah lama dan tidak terpakai lagi untuk memperkenalkan iman Katolik kepada warga transmigran. Dia membawanya ke rumah keluarga Katolik di daerah transmigrasi dan meletakannya disana. Warga transmigrasi sangat terbatas bacaannya. Banyak di antara mereka yang akhirnya mengambil majalah itu. Melalui majalah HIDUP bekas, banyak orang Katolik yang hilang ditemukan kembali. Dan melalui majalah Hidup bekas itu mereka kemudian saling mengenal bahwa mereka adalah warga transmigran yang beragama Katolik. Di lain kesempatan, putra pasangan Yohanes Soeharto Pradjasuta dan R. Ay. Th. Soertini ini, mengunjungi umat di daerah transmigrasi Pelaihari dengan naik sepeda motor. Ketika bertemu dengan orang dan mereka bertanya, “Pak, mencari siapa?” beliau gantian dia bertanya, “Anda dari mana asalnya” ? Kalau orang itu menjawab dari Yogyakarta, belau baru akan mengatakan kalau dirinya Pastor. Karena beliau yakin orang Yogyakarta pasti tahu siapa itu pastor, kemudian baru beliau katakan ingin mencari orang Katolik. Pada

34

Edisi Khusus - 2013

Mgr FX Prajasuta MSF dan Paus Yohanus Paulus II

umumnya, yang Romo Prajasuta jumpai di jalan bukan orang Katolik. Namun, kemudian dengan jujur mereka mengatakan, “Kami bukan Katolik, tetapi di rumah itu sepertinya ada orang Katolik.” Di lain kesempatan beliau mengunjungi stasi Sebamban. Beliau datang ke sebuah rumah sekitar pukul 20.00. Memasuki halaman rumah, beliau mendengar keluarga tersebut sedang berdoa malam. Setelah selesai berdoa malam, Romo Prajasuta mengetuk pintu rumah itu dan dari dalam rumah penghuninya bertanya, “Siapa itu?” Romo Prajasuta menjawab, ”Saya Romo.” Pak Mitro, kepala keluarga itu akhirnya membukakan pintu, dan mengatakan bahwa pada siang hari itu, istrinya mengatakan, kalau di tempat itu tidak ada Romo. Lebih baik mereka kembali ke Jawa. Tetapi kehadiran Romo Prajasuta malam itu, membuat keluarga Pak Mitro tetap bertahan di Sebamban.

Selama tiga bulan berada di Banjarmasin dengan


JEJAK IMAN tugas khusus mencari dan menemukan orang Katolik di daerah transmigrasi Pelaihari dan daerah Sebamban Romo Prajasuta diutus ke Paroki Buntok menggantikan RP. Herman Stahlhacke, MSF. Pertama kali mengunjungi umat di stasi-stasi dan melihat cara mereka mandi dan mencuci di sungai, Romo Prajasuta kaget luar biasa. Tetapi teringat, ketika menjadi Rektor di Skolastikat MSF (19671974) di Yogyakarta, beliau selalu memberitahukan para frater untuk harus selalu bisa menerima keadaan dan orang-orang di mana pun mereka berada. “Ini saatnya kubuktikan kata-kata itu untuk diriku sendiri, Dimanapun engkau berada, kalau engkau bisa berbuat sesuatu, disitulah tempatmu� kenang Romo Prajasuta MSF. Mental Misionaris, bukan Pedagang Kadang Romo Prajasuta mendengar komentar bahwa bekerja sebagai Misionaris di Kalimantan itu tidak efisien (tidak klop dengan biaya, tenaga dan uang yang dikeluarkan). Perjalanan jauh, kondisi jalan sulit, tenaga banyak terkuras, hanya untuk mengunjungi segelintir umat. Dengan tegas, beliau mengatakan, “Kalau Anda datang bekerja di Kalimantan dengan mental pedagang, lebih baik tidak usah bekerja di Kalimantan. Nanti malah frustasi. Orang yang mau bekarya di Kalimantan harus dengan mental misionaris. Beliau sendiri mewujudkan ucapannya ini ketika menerima pengangkatan dirinya sebagai Uskup keuskupan Banjarmasin pada tahun 1983. Setelah ditahbiskan menjadi Uskup pada tahun 1983, beliau tiada henti mengunjungi umat sampai ke pelosokpelosok. Hampir selalu beliau merayakan Natal dan Paskah di pedalaman-pedalaman Kalimantan. Mgr. Prajasuta memiliki andil besar dalam proses pemekaran Keuskupan Banjarmasin menjadi dua. Prosesnya hanya berlangsung sembilan bulan, seperti usia bayi dalam kandungan. Tahun 1992 permohonan disampaikan ke Vatikan, dan tahun 1993 dikabulkan dengan terbentuknya Keuskupan Palangkaraya. Mgr. Prajasuta MSF mempunyai angan-angan bahwa Keuskupan Palangkaraya yang meliputi wilayah Kalimantan Tengah masih dapat dimekarkan lagi menjadi tiga atau empat Keuskupan, entah kapan hal itu dapat terwujud. Beliau ingat pesan mendiang Paus Yohanes Paulus II yang menginginkan agar sebanyak mungkin lahir Keuskupan-keuskupan kecil.

Proses pergantian Uskup Banjarmasin pun berjalan lancar dalam waktu yang singkat. Karena, Mgr. Prajasuta mengatakan kepada Nuntius bahwa siapa pun yang dipilih oleh Vatikan, entah biarawan atau praja, apa pun etnisnya, akan diterima dengan senang hati oleh seluruh umat Keuskupan Banjarmasin. Ini kuncinya. Hal inilah yang memperlancar proses pemilihan Uskup yang baru. Di beberapa tempat, umat harus menunggu lama karena terjadi pertentangan yang terkait masalah etnis, biarawan, sekulir, dan lain-lain. Umat di Banjarmasin cukup heterogen dan ini juga menjadi salah satu alasan bahwa mereka siap menerima Uskup yang baru, siapa pun dan dari mana pun asalnya. Pada akhir periode kegembalaannya sebagai Uskup, Mgr. FX. Prajasuta mengajak para pastor, suster, frater, katekis dan seluruh umat untuk mengarahkan perhatian kepada saudara-saudari Suku Dayak Bukit di Pegunungan Meratus. Suku ini sering disebut Dayak Meratus tetapi tidak dapat dinamakan Suku Meratus, karena Meratus merupakan nama daerah pegunungan. Suku ini juga dinamakan Dayak Banjar, dan tinggal di enklaf-enklaf dikelilingi bukit, hutan dan sungai. Pada tahun Paulus 2008, Gereja di Keuskupan Banjarmasin mulai menuangkan perhatian dan menyapa Suku Dayak Bukit di Pegunungan Meratus. Mgr. FX. Prajasuta, MSF, yang dilahirkan di Nguntoronadi, Wonogiri, 6 November 1931, menyelesaikan pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang kemudian mengikuti Novisiat MSF di Nieuwkerk (Belanda), Seminari Tinggi sebagian ditempuh di Oudenbosch. Sebagai akibat masalah Irian Barat waktu itu, bersama teman-teman lainnya dipindahkan ke Roma untuk menyelesaikan pendidikan filsafat dan teologia di Universitas Gregoriana. Tahun 1962, meraih gelar kesarjanaan spesialisasi hukum Gereja. Tahbisan imamat, pada 19 Desemberr 1959 di Basilika St. Yohanes Lateran (Katedral Keuskupan Roma). Ditahbiskan menjadi Uskup Banjarmasin pada tanggal 23 Oktober 1983. Hal tersebut menjadi perwujudan dari semangat Indonesianisasi yang berkobar pasca Konsili Vatikan II. Setelah 25 tahun menggembalakan umat di Keuskupan Banjarmasin, dia pensiun dan kini menetap di biara MSF Ventimiglia di Jalan Colombo No.6 Yogyakarta. (lrn –disadur dari Buku Sebiji Sesawi dan Buku Kenangan Pesta Perak Tahbisan Mgr. Prajasuta, MSF)

Edisi Khusus2013

35


JEJAK IMAN

Perjalanan Jauh Seminari Banjarmasin

Mgr. Demarteau, MSF dan para seminaris, 1959 (foto: doc. MSF)

Seminari merupakan awal mula seorang Imam ‘dilahirkan’ sebagai penyebar kasih Tuhan di muka bumi ini. Namun perlu diketahui bahwa pendirian seminari di Banjarmasin bukan perkara mudah bila ditelaah dari awal didirikannya. Sejarah pendirian seminari ini bermula dari niat tulus Mgr. J. Groen, MSF untuk membuka seminari sendiri di Banjarmasin pada tahun 1950. Terlebih lagi hal tersebut telah mendapat dorongan dari Mgr. G. de Jong de Ardoy di Jakarta. Benar saja niat tersebut tidak hanya sekedar sampai situ. Perjalanan seminari ini bermula dengan dikirimkannya berita singkat dari turne ke Tering Kalimantan Timur pada Tanggal 10 Juli 1950. Isi berita tersebut menyebutkan bahwa Mgr. J. Groen, MSF telah mengirimkan tiga siswa dari Kalimantan Timur sebagai calon seminaris. Pada waktu itu Seminari Banjarmasin untuk sementara ditempatkan di paroki Kelayan. Seminari tersebut diberi nama Santo Yosep. Pada waktu itu L. Bussemaker, MSF. selaku pastor Paroki Kelayan diangkat menjadi Direktur Seminari. Tim pengajarnya ialah pastor G. Slot, MSF; pastor G. Bors, MSF; pastor P.A. Kruize, MSF; dan Mgr. Groen, MSF sendiri selaku guru bahasa Latin. Seminggu kemudian Pastor L. Bussemaker, MSF menerima surat berisi program studi dari Mgr. J. Groen, MSF. Para siswa yang telah belajar bahasa Belanda di Tering, harus langsung mulai belajar bahasa Latin. Bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa pengantar. Buku-buku pelajaran telah dipesan

36

Edisi Khusus - 2013

dari Belanda. Semua pelajaran akan diberikan layaknya level SMP meskipun seluruh program kurang lengkap. Pada bulan Oktober Mgr. J. Groen, MSF kembali dari Turne. Saat itulah Pastor L. Bussemaker, MSF menyebutkan bahwa tidak siap menjalankan tugas tersebut. Namun Mgr. J. Groen, MSF meyakinkan beliau dengan mengingatkan bagaimana pater Berthier juga memulai karyanya secara miskin, namun akhirnya berhasil. Dengan penuh semangat Mgr. Groen, MSF menyerukan agar mengandalkan Allah dalam mewujudkan seminari ini. Beliau sangat yakin jika siswa dididik pada Seminari sendiri, akan cepat terbiasa dengan kongregasi. Lagi pula panggilan akan lebih cepat apabila mereka dididik oleh pastorpastor di Vikariat Banjarmasin. Belajar dari pengalaman terdahulu di mana siswa-siswa belajar di Seminari lain, tidak seorang pun yang menjadi imam. Pertimbangan inilah yang pada akhirnya mendorong Mgr. J. Groen, MSF untuk teguh membangun Seminari sendiri. Mgr.


JEJAK IMAN Benar saja niat tersebut tidak hanya sekedar sampai situ. Perjalanan seminari ini bermula dengan dikirimkannya berita singkat dari turne ke Tering Kalimantan Timur pada Tanggal 10 Juli 1950. Isi berita tersebut menyebutkan bahwa Mgr. J. Groen, MSF telah mengirimkan tiga siswa dari Kalimantan Timur sebagai calon seminaris. Pada waktu itu Seminari Banjarmasin untuk sementara ditempatkan di paroki Kelayan. Seminari tersebut diberi nama Santo Yosep. Pada waktu itu L. Bussemaker, MSF. selaku pastor Paroki Kelayan diangkat menjadi Direktur Seminari. Tim pengajarnya ialah pastor G. Slot, MSF; pastor G. Bors, MSF; pastor P.A. Kruize, MSF; dan Mgr. Groen, MSF sendiri selaku guru bahasa Latin. Seminggu kemudian Pastor L. Bussemaker, MSF menerima surat berisi program studi dari Mgr. J. Groen, MSF. Para siswa yang telah belajar bahasa Belanda di Tering, harus langsung mulai belajar bahasa Latin. Bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa pengantar. Buku-buku pelajaran telah dipesan dari Belanda. Semua pelajaran akan diberikan layaknya level SMP meskipun seluruh program kurang lengkap. Pada bulan Oktober Mgr. J. Groen, MSF kembali dari Turne. Saat itulah Pastor L. Bussemaker, MSF menyebutkan bahwa tidak siap menjalankan

tugas tersebut. Namun Mgr. J. Groen, MSF meyakinkan beliau dengan mengingatkan bagaimana pater Berthier juga memulai karyanya secara miskin, namun akhirnya berhasil. Dengan penuh semangat Mgr. Groen, MSF menyerukan agar mengandalkan Allah dalam mewujudkan seminari ini. Beliau sangat yakin jika siswa dididik pada Seminari sendiri, akan cepat terbiasa dengan kongregasi. Lagi pula panggilan akan lebih cepat apabila mereka dididik oleh pastor-pastor di Vikariat Banjarmasin. Belajar dari pengalaman terdahulu di mana siswa-siswa belajar di Seminari lain, tidak seorang pun yang menjadi imam. Pertimbangan inilah yang pada akhirnya mendorong Mgr. J. Groen, MSF untuk teguh membangun Seminari sendiri. Mgr. J. Groen, MSF yakin semua akan terwujud asal siswa Seminari dijaga dengan baik, diberikan teladan baik, cinta dan perhatian, serta bertindak tegas dan terutama bijaksana. Ketiga siswa pertama Seminari tersebut tiba di Banjarmasin pada tanggal 12 Juli 1950. Mereka adalah, Kueng Igang Bonifasius, Kueng Bulan Michael, dan Haran Banyu Daniel. Mereka belajar di ruang tamu kecil yang dikondisikan sebagai ruang kelas. Kemudian Seminari Banjarmasin dapat menyewa pasangrahan milik perusahaan minyak Belanda. Dalam hal ini

depan dari kiri: P.Bussemakers MSF, Mgr. Groen MSF, P. Slots MSF, belakang dengan seminaris: P. Borst MSF (foto: docs SFD)

Edisi Khusus2013

37


JEJAK IMAN keuskupan Banjarmasin harus membayar beberapa rupiah sebagai uang sewa tiap tahun. Setelah berjalan lima tahun, tepatnya pada tahun 1954 kondisi Seminari masih tetap tidak banyak berkembang, sehingga dipindahkannya ke SangaSanga Kalimantan Timur. Namun Seminari tidak berjalan lama di sana karena jumlah pengajar relatif minim, sedangkan di satu sisi pemerintah Indonesia belum memberi ijin untuk membantu pengajar baru. Di satu sisi di Samarinda tidak bisa membuka SMP jika Seminari tidak ditutup. Tidak berapa lama kemudian, Seminari kembali dihadapkan pada situasi darurat. Setelah pendirian Vikariat Samarinda pada tahun 1955 Seminari menjadi Seminari intervikariat. Oleh karena hal tersebut, kedua ordinaris harus mengambil keputusan yang sangat penting. Mgr. Romeijn, MSF hendak menutup Seminari dan mengirimkan para seminaris ke Nyarumkop Vikariat Pontianak, namun Mgr. Demarteau, MSF dari Vikaris Banjarmasin berkeberatan. Adapun pertimbangan pemindahan itu dikarenakan pendidikan seminaris akan lebih baik, dapat membuka SMP di Samarinda, para pastor yang yang jumlahnya relatif terbatas di Samarinda dapat lebih leluasa melaksanakan tugas lain tanpa terbebani tugas mengajar dan mengawasi para seminaris.

pada tahun 1961 Seminari di Samarinda dibuka kembali. Pastor M. Schellekens, MSF diangkat selaku direktur di Seminari tersebut. Setelah tahun 1963, semua seminaris asal Banjarmasin dan Samarinda di Nyarumkop kembali ke Samarinda. Dalam rangka mendukung pembangunan Seminari tersebut, sumbangan dari Roma untuk Seminari Banjarmasin pada tahun 1952 diserahkan oleh Mgr. Demarteau, MSF kepada Mgr. Romeijn, MSF. Tanggal 17 April 1966 gedung Seminari itu diberkati oleh Mgr. Romeijn, MSF dan dihadiri oleh Mgr. Demarteau, MSF. Berdasarkan keputusan bersama, Seminari ini tidak lagi merupakan Seminari intervikariat, namun keuskupan Banjarmasin boleh mengirimkan seminarisnya ke Samarinda. Karena keputusan tersebut, Seminari Samarinda bukan lagi menjadi bagian dari sejarah Keuskupan Banjarmasin. Pada tahun 1980, Pastor Howie Bieber, seorang imam Maryknoll mengusulkan pembukaan semacam pra-seminari di bekas bruderan MTB di jalan Veteran, Banjarmasin. Di tempat ini akan diterimakan pemuda-pemuda yang sudah memutuskan ingin menjadi imam. Hal tersebut disetujui oleh uskup dan dewannya. Namun rencana ini akhirnya dikuburkan setelah pastor tersebut mendadak pergi ke tanah airnya dan tidak kembali lagi ke Indonesia.

Tepat tanggal 20 Juli 1959 para seminaris bersama Pastor A. Kruize, MSF berangkat ke Nyarumkop menggunakan kapal. Sayangnya, setelah Perjalanan berjalan beberapa lama para seminaris dari Samarinda dan Banjarmasin kurang membiasakan diri di tempat baru ini. Mereka merasa jauh dari kampung halaman dan orangtuanya. Oleh karena hal tersebut, beberapa seminaris tidak tahan dan pulang ke Kalimantan Timur. Beberapa anak dari Kalimantan Timur bersedia jadi seminaris asalkan tidak jauh dari kampung Tiga Seminaris Pertama halamannya. B e r d a s a r k a n pertimbangan tersebut, maka

38

Edisi Khusus - 2013

(foto: docs SFD)

membangun seminaris di Banjarmasin tidak pernah mengenal kata putus asa. Proses terus berlanjut hingga suatu kali ada orang yang mendesak untuk didirikannya Seminari milik Keuskupan Banjarmasin. Usulan tersebut diterima, dan didirikan di jalan Veteran dengan nama Seminari Senakel. Pada tanggal 17 Juli 1983 diresmikan oleh Mgr. Demarteau, MSF. Direktur pertma adalah Romo YB. Mardya Utama, MSF. Pada awal pendiriannya Seminari ini memiliki 7 seminaris. Setelah bergulirnya waktu dari tahun


JEJAK IMAN

“Bukalah Sekolah Yang Baik, Jangan Sekolah Yang Jelek!”

Hollands Chinesse School di Banjarmasin, 1933

Kisah SD-SMP Bruderan dan Susteran Banjarmasin Tahun 1933 beberapa orang Tionghoa bersama seorang Pastor mengambil keputusan membuka SD di Kelayan, Banjarmasin. Mereka adalah Tjoe Bian Seng, Lim Eng Hin, Liam San Tjiam dan Pastor P. Schoone, MSF. Pada tanggal 3 Agustus 1933 sekolah dasar dibuka dalam rumah eks-Kapiten Tionghoa di R.K. Ilir 481. SD ini bernama Sekolah Belanda –Tionghoa Roma–Katolik. Pastor S. Schoone mengajar dibantu oleh Ny. Hages– Vetter, Ny. Stennekens–Wilderink, Ny. Irene Admoe Gosenson, Ny. Liem Swie Hee–Ang Hian Tjie Nio. Sekolah dibuka dengan 125 murid laki-laki dan 84 muruid perempuan, oleh Asisten Residen. Pater Schoone mulai mencari kongregasi bruder untuk SD. Dengan bantuan Vikaris Apostolik Pontianak, Kongregasi Bruder Santa Maria Tak Bernoda (MTB) di Pontianak mengambil alih SD Katolik di Banjarmasin. Pada tanggal 4 Oktober 1935, Br. Maternus Brouwers, Br. Honoratus de Meester, Br. Mauritius Broeders, Br. Gaudentius de Bruyn, Br. Libertus Hoppenbouwers danBr. Adrianus Kroft mendarat di Banjarmasin. Namun menurut peraturan Kongregasi Bruder MTB, mereka hanya boleh mengajar murid laki-laki, sedangkan SD di Jl. R.K. Ilir adalah sekolah campuran. Pimpinan Kongregasi Bruder tidak mau merubah peraturan itu. Maka P. Schoone terus mulai mencari tanah untuk membangun SD Puteri ini. Pada tanggal 5 Oktober 1935 murid perempuan pindah dari SD di R.K. Ilir ke SD di Kelayan (Rantauan Timur I). Disamping membangun,

Pater Schoone mencari suster yang bersedia mengasuh SD di Kelayan. Pada tanggal 11 Oktober 1937 tiba di Pelabuhan Banjarmasin lima orang Suster Fransiskanes Dina (SFD) yakni: Sr. Laurentine Pijnenburg, Sr. Clementia Geerden, Sr. Josephina Jacobs, Sr. Theobalda van Gool, dan Sr. Josephine Ghuis. Selama Perang Dunia II, banyak orang lari ke Jawa atau masuk pedalaman. Terpaksa sekolah-sekolah ditutup, termasuk Katolik. Pada tanggal 10 Februari 1942 sekolah ditutup dan para suster meninggalkan Banjarmasin atas perintah walikota Banjarmasin karena khawatir dengan kekejaman Jepang. Suster-suster atas perintah dokter terus dari Jawa pergi ke Belanda. Dalam tahun 1949 delapan orang suster dari Dongen kembali dari Holland ke Banjarmasin. Mereka adalah, Sr. Josephine Jacobs, Sr. Gebriel Kalkhoven, Sr. Wynanda Heidkamp, Sr. Eleuteria Gladdnines, Sr. M. Antoine Kanters, Sr. Chaterina van Bommel, Sr. Clementia Geerden, Sr. Mauritia van Bavel, Sr. Brigritte Fijneman. Tahun 1950 Kongregasi Suster Fransiskanes dari Bennebroek yang mengganti sementara para suster SFD selama para suster SFD kembali ke Belanda, meninggalkan Banjarmasin dan kembali ke Sumatra. Sekolah pun dikelola sepenuhnya oleh para Suster SFD. Tahun 1951 SMP Bruder dibuka, kemudian menyusul pada tanggal 1 Juli 1953 SMP Suster dibuka. Tahun 1973 Bruderan di R.K. Ilir pindah ke Jl. Veteran. Tahun 1974 Superior Jenderal Kongregasi Bruder MTB sudah memberitahukan kepada Mgr. Demarteau bahwa beberapa tahun lagi semua bruder MTB di

Edisi Khusus2013

39


JEJAK IMAN Banjarmasin akan pindah ke Kalbar karena tenaga mereka amat diperlukan di sana. Mgr. Demarteau berusaha menahan para bruder MTB tetapi tidak berhasil. Superior Bruder MTB menetapkan bahwa tahun belajar 1980/1981 adalah tahun terakhir bagi aktivitas bruder MTB di Banjarmasin. Maka pada tanggal 14 Juni 1981 di aula SMA di Jl. R.K. Ilir diadakan perpisahan resmi. Berhubung dengan kepidahan ini, 3 gedung SD Bruder di Banjarmasin diserahkan kepada Keuskupan Banjarmasin. SD dan SMP Bruder kemudian berubah nama menjadi SD dan SMP Marsudi Wiyata Banjarmasin.

Sang “Bayi� Sanjaya Lahir Tahun 1988, dimulailah kelas sementara untuk SD Sanjaya Banjarbaru, menambah jumlah lembaga pendidikan Katolik di Keuskupan Banjarmasin. Tiga tahun kemudian, gedung permanen untuk TK dan SD Sanjaya selesai dibangun. Pada tahun 1992, rumah di pinggir Gang Purnama no. 35 Banjarbaru dibeli oleh Keuskupan Banjarmasin. Rumah ini pertama kali ditempati oleh Bapak Ignatius Hermanto (Kepala SD Sanjaya) dan Bapak Petrus Belia Kolin (Kepala SMP Sanjaya). Bulan April 1994, pembangunan gedung SMP Sanjaya dimulai dan dipergunakan sejak tanggal 17 Juli 1994 dengan jumlah siswa sebanyak 9 orang. Pendirian SMP ini adalah wujud keprihatinan atas sulitnya lulusan SD Sanjaya melanjutkan ke SMP Katolik terdekat (Banjarmasin). Ada beberapa tokoh yang berjasa dalam pendirian SMP ini, diantaranya, Yosep Maria Moelyono, Suridi, Rosalina Rante, Alexander Baru dan Wiyono. Pada awalnya SMP Sanjaya ditangani oleh tenaga guru honor dengan upah yang sangat kecil

namun dikelolah oleh guru dan kepala sekolah dengan semangat besar. Sarana-prasarana sekolah pun terbatas dengan hanya 8 ruang kelas dan 1 ruang kepala sekolah. Gedung SMP Sanjaya Banjarbaru berdiri atas semangat Uskup Emeritus Mgr. W. Demarteau, MSF. Sejak tahun 2000 pemerintah memberikan bantuan berupa ruang laboratorium IPA beserta peralatan praktikum, ruang perpustakaan, buku-buku referensi, ruang guru, dan 3ruang kelas. Yayasan Pendidikan Katolik Sanjaya Putra Banjarbaru awalnya dikelola oleh Gereja Katolik Bunda Maria Banjarbaru. Sejak bulan Juli 1998, para suster SPM (Suster Santa Perawan Maria) mulai berkarya di Paroki Banjarbaru dan menempati rumah di Gang Purnama nomor 35 Banjarbaru (sekarang Susteran SCMM Sta. Agatha). Semenjak itu, Yayasan Pendidikan Katolik Sanjaya Putra dikelola oleh Kongregasi SPM.

Di Bawah Naungan Yayasan Sta. Maria Berbelaskasih Atas undangan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF, pada tanggal 7 Agustus 2004, hadir 2 orang suster Kongregasi SCMM (Suster-Suster Cinta Kasih dari Maria Bunda yang Berbelaskasih) di Keuskupan Banjarmasin, yaitu Sr. Dafrosa Fau, SCMM (alm) dan Sr. Angelberta Abi, SCMM. Para suster mengelola beberapa Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) yang ada di Keuskupan Banjarmasin. Pada tanggal 5 Januari 2005 diutuslah Sr. Dionisia Marbun, SCMM untuk berkarya di Banjarbaru. Tanggal 7 Juli 2006 terjadi serah terima SD 1, SD 2 dan SMP Marsudi Wiyata dari Yayasan Marsudi Wiyata kepada Yayasan Santa Maria Berbelaskasih Wilayah Timur di Banjarmasin. Nama sekolah tersebut berubah menjadi SD 1, SD 2 dan SMP Santa Angela Banjarmasin. Tiga bulan kemudian, tanggal 30 Oktober 2006, TK, SD dan SMP Sanjaya Putera Banjarbaru juga diserahkan kepada Yayasan yang sama.

Putih Abu-Abu SMAK Banjarmasin

Kegiatan di SMP Sanjaya

40

Edisi Khusus - 2013

SMA Katolik Banjarmasin dibuka secara tidak resmi pada tanggal 27 Desember 1959. Pembukaan secara resmi sekolah ini baru terjadi tanggal 17 Nopember 1960. Wacana mengenai sebuah SMA Katolik di kota Banjarmasin, bahkan di wilayah keuskupan Banjarmasin telah dimulai sejak tahun 1955/1956. Oleh


JEJAK IMAN

Suster SFD, Mgr Groen dan murid-murid

karena itu “rapat pertama” mengenai pendirian SMAK di Banjarmasin, diadakan pada tanggal 14 Juli 1956. Seperti biasanya, selalu ada pihak yang pro, yang kontra dan yang berada di tengah. Para Bruder MTB di Pontianak yang diharapkan memulai sekolah ini pun merasa “skeptis” dengan rencana pembukaan sekolah ini. Mereka lebih cenderung membuka SMEP dan SMEA. Bruder Mauritius,MTB menyampaikan prinsipnya, “Keuskupan jangan mendirikan sekolah yang disukai orang, tetapi mendirikan sekolah yang berguna untuk yang berkepentingan”. Mgr. W. Demarteau, MSF pun semula kurang berani untuk mendirikan SMAK, karena berbagai pertimbangan. Prinsip Uskup sangat tegas dan jelas, “Kalau mau membuka sekolah, bukalah sekolah yang baik, janganlah sekolah yang jelek!” Pada suatu malam datanglah seorang kenalan dekat Mgr. Demarteau MSF untuk berbicara dari hati ke hati soal pendirian SMAK. “Monsinyur berasal dari Barat dan… Monsinyur bersikap sebagai seorang Barat yang tulen. Kami orang Timur, banyak kali dikatakan sebagai yang tidak teliti, dan tidak mendasarkan keputusan kami atas data-data yang akurat. Kami berani mencoba dengan banyak resiko, kalau berhasil bagus, kalau tidak berhasil, ya apa boleh buat…...” Mgr. Demarteau di kemudian mengaku hari menulis, “Benar, sikap saya berubah mengenai SMAK ini. Lama kelamaan saya menjadi ‘berani’ mengambil banyak resiko.” Tahun 1956 Uskup Banjarmasin mengambil keputusan untuk membuka SMAK di Banjarmasin, dengan bantuan tenaga dari Bruder MTB. Tanggal 26 Agustus 1958 Yayasan Siswarta didirikan berhubung dengan pendirian SMAK ini. Tanggal 21 September 1958 Universitas Lambung Mangkurat dibuka. Bruder Mauritius,MTB

(Kepala Sekolah SMAK) menjadi Dosen pada Fakultas Ekonomi dengan surat keputusan dari Presiden Bung Karno sendiri. Sehubungan dengan pendirian universitas itu, dikatakan bahwa sekurang-kurangnya diperlukan 10 SMA untuk satu Universitas. Dan 10 SMA yang baik belum ada di Banjarmasin atau di Kalsel dan Kalteng pada waktu itu. “Hal ini pula yang mendorong kami untuk membuka SMAK itu,” ungkap Mgr. Demarteau,MSF. Maka tanggal 29 Desember 1958 diputuskan bahwa SMAK dibuka. Tetapi gedung untuk SMAK belum ada! Maka Mgr. Demarteau memutuskan untuk membangun gedung SMAK di belakang Gereja Katedral (sekarang adalah gedung Sasana Sehati). Pekerjaan dimulai tanggal 27 Juni 1959. Sebelumnya tanggal 6 Juni 1959, Keuskupan Banjarmasin mengirim berita mengenai pembukaan sekolah ini kepada Inspektur Pendidikan di Jakarta. Tanggal 18 Agustus, kegiatan sekolah dimulai di Komplek Mulawarman, sementara menumpang belajar pada sore hari di satu-satunya gedung SMA Negeri, dengan 11 guru dan 32 murid. Pada tahun 1962, untuk pertama kali SMAK mengikuti ujian dengan 40 siswa dan semuanya lulus. Proficiat. Keberanian untuk memulai dengan banyak resiko “membuahkan” hasil yang membanggakan. SMA Katolik sempat berganti nama menjadi SMA Siswarta. Pada tahun 1976 SMA Katolik ini berpindah tempat ke Jalan R.K Ilir 481 dengan 9 kelas dan bertambah lagi menjadi 13 kelas. Setelah itu dibangun aula sekaligus untuk latihan basket. Dari tahun ke tahun dibangun pula laboratoriun kimia, laboratorium fisika, perpustakaan dan diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Selatan, H. Subarjo. Setelah puluhan tahun SMAK ini dikelola langsung oleh Keuskupan Banjarmasin, maka dengan sebuah keputusan yang berani pula, Mgr. Prajasuta MSF, pada tanggal 28 Juni 2005, mempercayakan pengelolaan SMAK dan kepemilikan kepada para frater CMM. Sejak itu SMAK berganti nama menjadi SMAK Don Bosco. Pemilik yang baru, manajemen baru, spirit baru, semoga membawa pembaharuan dalam SMAK yang diawali kebih dari setengah abad yang lalu dengan sebuah keputusan berani demi melahirkan generasi terbaik “putih abu-abu”. (de’bosco/agusbli/don/lrn – dari berbagai sumber)

Edisi Khusus2013

41


JEJAK IMAN

Rumah Sakit Katolik Suaka Insan Membangun Pelayanan Kasih

Sebelum tahun 1930, umat Katolik di Kota Banjarmasin telah mendirikan “Perserikatan Sosial Katolik” atau Katholieke Sociale Bond (KSB). Salah satu tugas dari Katholieke Sociale Bond adalah merencanakan pendirian gedung gereja, pastoran, rumah sakit, rumah untuk dokter dan sekolah-sekolah. Semua bangunan itu akan didirikan di kota Banjarmasin kecuali leproseri yang menurut rencana dibangun di kota Kandangan. Bangunan Rumah Sakit Pontianak sudah diminta oleh KSB sebagai contoh. Pater J. Kusters, MSF Prefek Apostolik Banjarmasin pada tahun 1948 mencoba mendirikan Klinik Bersalin di Banjarmasin. Rumah bapak Lim Sek Tjhiang di jl. Kapten Piere Tendean ditawarkan tetapi harga yang ditawarkan NFL 70.000. Jumlah itu terlalu berat untuk Prefektur Apostolik Banjarmasin, yang secara material telah banyak menderita kerugian selama Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1950, Mgr. J. Groen, MSF pengganti Mgr. Kusters, MSF mau membuka Klinik Bersalin di Banjarmasin dengan bantuan dua bidan Belanda: Rie Hoogenveen dan Willy Besselink. Kontrak dibuat tetapi tidak ada follow-up sehingga semuanya masuk “rimba” karena semua anggota Dewan Vikariat tidak setuju dengan rencana itu. Setelah ditahbiskan menjadi Uskup Banjarmasin pada tahun 1954, Mgr. W. Demarteau, MSF langsung menuju Roma dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Nederland dengan harapan dapat mencari suster-

42

Edisi Khusus - 2013

suster yang bersedia bekerja di Rumah Sakit Katolik di Keuskupan Banjarmasin. Mgr. W. Demarteau, MSF cenderung untuk tidak membuka Rumah Sakit Katolik itu di kota Banjarmasin melainkan di Banjarbaru. Akan tetapi, Dr. Sularso (Kepala Dinas Kesehatan Kalsel) memperlihatkan sikap yang tidak simpatik akan rencana pendirian centrum medis di Banjarbaru. Pemerintah tidak membutuhkan rumah sakit lagi di Banjarbaru karena jumlahnya sudah cukup. Dokter Sularso berucap: “Kalau misi mau berbuat sesuatu di bidang medis, sebuah rumah sakit boleh dibuka di Long Nawang.” Tempat yang dimaksud adalah Sungai Kayan, jauh di pedalaman Kaltim: “tempat sampah” tentara KNIL, perjalanan dari Tanjung Redep ke Long Nawang memerlukan waktu beberapa bulan. Dokter Go Tjoen Bin terus menerus membantu Mgr. W. Demarteau, MSF untuk memperjuangkan pembangunan Rumah Sakit Katolik. Ikatan Dokter Indonesia di Banjarmasin, TNI, Partai Politik (Masyoemi, PNI, NU dan Partai Katolik) menyetujui ide ini. Namun persetujuan dari semua pihak ini, rencana pembangunan Rumah Sakit Katolik ini masih harus menunggu kepastian bahwa ada suster yang bersedia bekerja. Dalam tahun 1962, ketika Mgr. W. Demarteau, MSF menghadiri Konsili Vatikan II, dalam sebuah pembicaraan di Generalat MSF Roma, salah seorang asisten Jenderal MSF memberikan informasi bahwa para suster SPC dari Philipina sedang mencari tempat di luar Philipina bagi anggotanya. Mgr. W. Demarteau,


JEJAK IMAN MSF langsung menemui Superior Jenderal SPC dan uskup dari Cartres (Perancis) yang menginap di biara SPC di Roma ketika mengikuti Konsili Vatikan II, untuk membicarakan hal ini. Sepulangnya dari Roma, Mgr. W. Demarteau, MSF menerima surat dari Pater Jenderal MSF Roma tertanggal 4 Januari 1963 yang berisi kabar gembira bahwa Suster Jenderal SPC mengijinkan SPC Propinsi Philipina bersedia membantu menjalankan Rumah Sakit Katolik di Banjarmasin. Hati Mgr. W. Demarteau, MSF bersorak-sorai dan banyak hati lain juga bersorak-sorai. Tanggal 21 April 1962 Keuskupan membeli sebidang tanah di pinggir jalan Pembangunan seluas 62.000 meter persegi senilai Rp 6.200.000 atau USD 3.858,- Pada awal tahun 1964 Mgr. W. Demarteau, MSF mengundang para suster SPC dari Philipina. Tanggal 30 April 1964 Yayasan Suaka Insan secara resmi diririkan. Kemudian tanggal 7 Desember 1964 Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan Dokter R.M. Notosoenarjo memberi ijin untuk pembangunan Rumah Sakit Suaka Insan di Banjarmasin. Setengah tahun kemudian, tanggal 31 Mei 1965 Kementrian Kesehatan RI memberikan ijin yang sama. Dengan demikian pembangunan fisik dimulai. Tanggal 21 Mei 1966 unit klinik bersalin dan asrama untuk perawat dibangun. Sampai dengan pertengahan tahun 1966 belum ada suster SPC dari Philipina datang ke Banjarmasin “for a look on the spot”. Bulan Oktober 1966 untuk pertama kali, Sr. Marie Madeleine Demoga SPC, Superior Propinsial SPC Philipina mengunjungi Banjarmasin dan membicarakan beberapa hal pokok mengenai pembangnan Rumah Sakit. Pada tanggal 7 Juni 1967, Congregatio de Propaganda Fide di Roma memberi ijin kepada Kongregasi SPC untuk membuka Rumah Sakit di Banjarmasin, Indonesia. Tanggal 24 September 1967 enam orang suster SPC, misionaris dari Philipina mendarat di Jakarta, dan beberapa hari tinggal RS St. Carolus Jakarta. Akhirnya tanggal 2 Oktober 1967, kenam suster SPC: Sr. Noemi Arnaldo, SPC, Sr. Carmen Pangilinan, SPC, Sr. Clement Rola, SPC, Sr. Laurentia Go, SPC, Sr. M. Alexine Dario SPC dan Sr. Mary Baradero SPC, mendarat di Bandara Samsudin Noor Banjarmasin untuk memulai karya pelayanan di RS “Suaka Insan”. Setelah semua persiapan yang dianggap perlu sudah beres maka pada tanggal 24 Pebruari 1970, ketika secara resmi

Rumah Sakit Suaka Insan dibuka, terdapat 68 karyawan/ karyawati: 34 beragama Katolik, 19 beragama Islam, 11 beragama protestan dan 2 beragama Budha. Selama proses pembangunan, para suster tinggal di kompleks Gereja Kelayan, yang menjadi asrama putri sekarang. Ketika dihadapkan dengan pilihan untuk mendapatkan IMB Rumah Sakit Suaka Insan, syaratnya bahwa harus dibangun Mushola dan tidak boleh memasang salib di kamar-kamar pasien, Mgr. W. Demarteau, MSF di bawah bimbingan Roh Kudus menerima persyaratan ini dan para suster SPC pun tidak merasa kehilangan kekatolikkannya jika tidak memakai salib di luar jubahnya. Sejak awal berdirinya tradisi Konggergasi SPC tidak mempunyai tanda khusus “salib” yang khas SPC karena mereka berasal dari desa yang miskin. Meskipun begitu, mereka tetap memakai salib di balik jubah mereka yang anggun dan panjang. Para suster SPC memanggul salib secara tersembunyi dan mewartakan salib dalam kasih yang hening dan diam. Mgr. W. Demarteau, MSF memiliki visi untuk tetap membangun relasi persaudaraan Gereja Banjarmasin dengan agama agama lain dan instansi pemerintah daerah. Gereja Katolik dan Rumah Sakit Suaka Insan telah menunjukkan sikap “welcome” itu dengan memberikan ijin kepada agama Islam untuk mendirikan mushola dalam komplek rumah sakit pada tahun 1967. Spiritualitas pelayanan yang dilaksanankan oleh para Suster SPC menjadi jembatan kasih yang universal. Melayani sesama yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan agama, suku, pangkat dan golongan. Semua dilayani dengan penuh kasih sesuai dengan moto rumah sakit Suaka Insan yakni IN OMNIBUS CARITAS (segalanya dengan kasih). Kesetiaan akan komitmen ini telah menumbuhkan kepercayaan masyarakat Banjarmasin kepada para Suster SPC dan RSSI sebagai bagian dari mereka. Rumah Sakit Suaka Insan merupakan bukti bahwa pewartaan Injil tidak harus dengan menonjolkan simbol-simbol kekatolikkan kita melainkan bisa berbaur dengan masyarakat melalui nilai-nilai kasih yang diajarkan oleh Yesus sendiri, seperti tertulis dalam Injil Markus 12:31 “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”*** (Sumber: Riwayat Rumah Sakit Suaka Insan di Banjarmasin: ditulis oleh Mgr. W. Demarteau MSF).

Edisi Khusus2013

43


JEJAK IMAN

Paroki Pelaihari dan Tanjung: “Si Kembar” yang Berbeda Wajah

Paroki Ave Maria Tanjung

Paroki Santa Theresia Pelaihari dan Paroki Ave Maria Tanjung dari Dekenat Utara, lahir pada tangal 19 April 1987. Kendati tanggal kelahirannya sama bak “anak kembar”, kedua mempunyai kisahkisah awal yang unik sehingga “berbeda wajah” di samping sejumlah kesamaan. Para Suster SPM hadir di dua paroki ini dalam waktu yang hampir bersamaan (Pelaiari 1985 dan Tanjung 1986). Umat Pelaihari bersaha untuk “menyatukan umat yang tersebar” sedangkan umat Tanjung berusaha untuk “saling memelihara iman dan meneguhkan”.

Paroki St Theresia Pelaihari: Menyatukan Umat yang Tersebar Keingintahuan untuk melihat asal usul jejak iman Katolik di bumi Borneo muncul setelah 245 tahun meninggalnya Pater Antonio Ventimiglia dari Ordo Theatin. Dalam kronik Mgr. Demarteau, MSF tercatat pada 1 April 1937 Pastor M. Gloudemans, MSF pergi ke Pelaihari untuk mencari puing-puing gereja Portugis. Menurut tradisi pernah tinggal sejumlah orang DayakNgaju disana dan dibaptis oleh para pater Theatin. Di kampung Bati-Bati (dahulu namanya Kampung Gereja) sisa benteng Portugis masih kelihatan. Pastor Gloudemans mempublikasikan hasil kunjungannya dalam tulisan di sebuah majalah misi, namun Pater Wessels, SJ, ahli sejarah zaman P. Ventimiglia, sangat skeptis terhadap pendapat tersebut. Begitulah kisah tersebut masih menjadi misteri sampai sekarang. Wilayah Pelaihari dan daerah pedalaman Kalimantan Selatan, baru mendapat perhatian setelah para misionaris Kapusin membuka Stasi di Laham Kaltim tahun 1907. Pelaihari mendapat kunjungan secara teratur dua kali setahun dari para misionaris Kapusin

44

Edisi Khusus - 2013

Paroki Santa Theresia, Pelaihari

yang kemudian dilanjutkan oleh para misionaris MSF. Sebelum Perang Dunia II, tercatat dua bayi dibaptis di Pelaihari. Sesudah Perang Dunia II, wilayah Pelaihari tidak mendapat kunjungan lagi. Belajar untuk Hidup dan Berkembang, untuk Menerima dan Diterima. Jejak perkembangan iman Katolik di Pelaihari kembali muncul sekitar tahun 1970, ketika beberapa transmigran dari Jawa serta anggota TNI, Polri, Pegawai Negeri Sipil dari beberapa daerah di Indonesia masuk dan menetap di Pelaihari dan sekitarnya. Beberapa diantaranya beragama Katolik. Pada awalnya mereka belum saling mengenal. Namun setelah saling mengenal, mereka mulai mengadakan doa bersama dari rumah ke rumah. Ketika jumlahnya semakin besar, mereka berinisiatif memberi tahu pastor di Banjarmasin untuk mendapatkan pelayanan. Sejak tahun 1977, pelayanan di wilayah ini ditangani dari Katedral Banjarmasin dan Pastor Wieggers, MSF bertanggung jawab atas reksa pastoral di Pelaihari dan sekitarnya. Desa-desa yang dikunjungi para pastor antara lain Damit, Tajau Pecah dan Bumijaya, Gunung Mlati,


JEJAK IMAN Gunung Mas, Batu Ampar, Ambawang, Batutungku. Beberapa pastor yang pernah turne ke Pelaihari dan sekitarnya antara lain: Romo FX Prajasuta, MSF, Romo A. Tjokroatmodjo, MSF, Romo Y. A Husin, MSF, Romo Hastowijoyo, MSF, Romo C. Adiwijaya, MSF, Romo Suharihadi, MSF, Romo A.Rinata, MSF, Romo FX Huvang Hurang, MSF. Menurut cerita, Romo FX. Prajasuta, MSF (waktu itu belum menjadi uskup) datang ke Pelaihari menggunakan sepeda ontel. Pada tanggal 6 Agustus 1981, Mgr. Demarteau memberkati Balai Pertemuan di Damit (St.Paulus) dan di Bumijaya (St. Fransiskus Xaverius), kemudian disusul Balai Pertemuan di Tajau Pecah (St.Paulus) pada tanggal 10 Agustus 1981. Melihat pentingnya pembinaan umat, pada Tahun 1984 Keuskupan Banjarmasin mendatangkan seorang katekis lulusan Madiun bernama Benedektus Joko Sutarno untuk bertugas di Pelaihari. Agar pembinaan umat makin meningkat, Keuskupan Banjarmasin pun mengadakan pembicaraan dengan Kongregasi Suster SPM di Indonesia. Hasilnya, pada tanggal 14 Juli 1985, tiga suster SPM Sr. Petra Sumaryati, Sr. Patrisia Suwartinem, Sr. Albertine tiba di Pelaihari. Para Suster SPM dan katekis Joko Sutarno bertugas membina umat, memimpin ibadat, mengajar agama (baik umat maupun anak sekolah), bahkan menggerakkan usaha ternak gaduhan sapi bagi umat dan masyarakat. Suster-suster SPM tinggal di sebuah rumah yang dibeli oleh Keuskupan di Jl. Parit Mas 15 Pelaihari. Bagian depan rumah tersebut digunakan untuk perayaan misa, sedang bagian belakang menjadi tempat tinggal para suster. Beberapa tahun kemudian

suster SPM membuka asrama putera dan puteri di situ. Seiring dengan berkembangnya jumlah umat, akhirnya pada tanggal 19 April 1987, Keuskupan menetapkan Pelaihari secara resmi sebagai sebuah paroki. Pastor yang pertama kali ditempatkan adalah Romo Timotius Karyono Sapto Nugroho, CM. Akhir tahun 1989, Keuskupan membeli rumah baru untuk suster SPM di Jl. Gagas 32, Pelaihari. Asrama Puteri dipindahkan ke susteran yang baru, sementara itu asrama putera tetap di pastoran. Umat Katolik di Paroki Santa Theresia Pelaihari banyak belajar untuk hidup dan berkembang, untuk menerima dan diterima. Sejak tahun 1977 ketika Pastor FX. Prajasuta mulai turne secara teratur mengunjungi beberapa transmigran Katolik yang ada di beberapa desa, antara lain Damit, Tajau Pecah dan Bumijaya muncul “ketidaksenangan” dari pihak-pihak lain, namun Romo Prajasuta MSF tetap mengembangkan pelayanan di sana. Sepanjang kurun waktu awal delapan puluhan s.d. akhir sembilan puluhan beberapa tekanan dialami umat seperti penolakan perijinan pendirian kapel di Tebing Siring, pelarangan beribadat dan mengundang suster/pastor di sebuah trans, pemasangan papan nama Gereja Katolik pun baru dapat dipasang setelah tahun 1997. Begitulah sampai saat ini mereka tumbuh dan berkembang, mendapatkan buah untuk belajar sabar dan setia dalam pengharapan. Baik perjuangan untuk membangun persaudaraan ke dalam sebagai sebuah paroki maupun bersama-sama menghadapi tantangan dari luar (oZo)

Paroki Ave Maria Tanjung: Umat yang Memelihara Iman

Gereja dan Pastoran Santa Theresia, Pelaihari menjadi “langganan” banjir

Setelah tahun 1907, para Pater Kapusin di Laham melakukan turne ke Hulu Sungai. Turne itu kemudian mendapat perhatian dan dilanjutkan oleh para Pastor di Tering, kemudian dari Balikpapan, dan sejak tahun 1930 turne berasal dari Banjarmasin. Sesudah tahun 1930, setiap 2-3 bulan Pastor mengunjungi daerah Martapura, Kandangan, Amuntai, Barabai dan Hayup. Setelah tahun 1937, Tanjung mulai mendapat kunjungan.

Edisi Khusus2013

45


JEJAK IMAN Sesudah perang dunia II, Pertamina mulai beroperasi di Murung Pudak. Banyak karyawan Pertamina yang beragama Katolik. Namun, baru pada tahun 1950 Mgr. J. Groen mulai memikirkan pembukaan stasi/paroki di wilayah Murung Pudak dan sekitarnya. April 1950 Mgr. J. Groen pergi ke Murung Pudak bersama Pastor Ant.V.D. Graaf, yang tahu situasi dan kondisi di sana. Rencananya rombongan itu, akan bertemu dengan pimpinan BPM di Murung Pudak dan sekaligus mengunjungi kampung Muara-Halanung, dimana ada simpatisan agama Katolik. Mereka tidak tahu kalau daerah Halanung, merupakan daerah terlarang. Mgr. Groen dan rombongan pun ditangkap oleh TNI, namun mereka tetap diperlakukan dengan baik dan di antar ke Pos TNI di Barabai. Di sana Mgr. J. Groen menerangkan maksud perjalanan mereka ke Muara Halanung. Komandan TNI di sana merasa puas dengan keterangan itu, meski akhirnya mereka diantar ke Banjarmasin. Mgr. J. Groen marah sekali karena tidak berhasil melanjutkan perjalanan ke tujuan semula. BPM mulai membangun Gereja di Murung Pudak yang dipakai “bersama” tetapi bergantian waktu oleh Umat Protestan dan umat Katolik. Sedangkan Keuskupan mulai membangun gereja kecil di Warukin dengan bantuan tanah dari Bapak Gysbrand Van Delft. Disinilah salah satu cikal bakal perkembangan umat Katolik di Paroki Tanjung. Bagian dari Paroki Tamiang Layang Tanggal 2 Maret 1969, Pastor Stanis MSF membaptis untuk pertama kalinya beberapa umat di Stasi Santa Anna Warukin. Sejak saat itu, umat di daerah Tanjung dan sekitarnya menjadi bagian dari paroki St. Mikael Tamiyang Layang. Di Warukin, meski jarang mendapatkan pelayanan dari imam, bruder, maupun suster, para umat di sana, melaksanakan ibadat rutin. Jarak rumah umat yang jauh antar satu sama lain, tidak menjadi halangan. Dengan semangat –khususnya para Muda-Mudi Katolik (Mudika), mereka rela berjalan kaki dari rumah ke rumah, untuk menjalankan ibadat sabda. Bapak Pius, seorang yang kala itu bekerja di Pertamina Murung Pudak, turut aktif membina iman umat di Warukin, dengan hanya naik sepeda ontel. Kecintaan umat akan kasih Kristus, diantaranya adalah berkat karya dan pelayanan laki-laki berdarah Sulawesi itu. Kerja keras umat akan pewartaan Injil sangat memegang peranan. Albinus Ali Umar, Ketua Umat

46

Edisi Khusus - 2013

pertama di Stasi Warukin, adalah salah satu sosok berjasa dalam perkembangan Gereja Katolik di Bumi Nawu Raha (pendiri Desa Warukin) tersebut. Bahkan beberapa pemuda yang belum dibaptis, akhirnya merantau ke Kalimantan Timur dengan keyakinan akan kuasa dan kasih Kristus. Pius meminjamkan sebuah buku kepada seorang pemuda yatim piatu. Buku itu berjudul “Orate”, yang berisi nama-nama baptis dan doa-doa singkat dalam Gereja Katolik. Dengan buku tersebut, sang pemuda terus belajar berdoa, dan merantau ke daerah Pasir, Kalimantan Timur. Dia mengambil nama baptis dirinya dari buku tersebut. Doa Bapa Kami dan Salam Maria, yang dia pelajari dari buku itu selalu dilantunkannya setiap hari. Kepercayaannya akan kasih Kristus dan perantaraan Bunda Maria, tumbuh besar. Dalam setiap masalah di tanah rantau, doa-doa itulah yang selalu ia panjatkan. Hingga sekitar tahun 70-an, dia kembali ke Warukin dan dibaptis. Pemuda itu, kini telah berusia 55 tahun, dan di sela wawancara dengan crew Ventimiglia, dia menunjukkan buku “Orate” milik Bapak Pius. Menurutnya, nama anak laki-lakinya pun diambil dari buku itu. Kisahnya menjadi bagian dari iman dan kepercayaan yang tumbuh, dalam perjalanan Gereja Katolik di Tanjung. Di sekitar Tanjung ada 11 kampung Dayak, karenanya pada tahun 1985, Mgr. FX Prajasuta, MSF mulai menghendaki karya yang lebih intensif. Maka pada tanggal 31 Desember 1985 beliau membeli bekas bangunan bekas pabrik karet di Tanjung dengan luas tanah 10.700 m2. Pembelian resmi dilaksanakan tanggal 10 Februari 1986. Tanggal 28 September 1986, Suster SPM mulai bekerja di bidang sosial dan pastoral.

ki-ka: P. Marian MSF, Provinsialat MSF Polandia, P. Stanis MSF dan Br. Yosef Falba MSF


JEJAK IMAN Hari Lahir Paroki Tanjung Sejak, 19 April 1987, Paroki Ave Maria Tanjung resmi berpisah dengan Paroki St. Mikael Tamiyang Layang dan berdiri sebagai paroki mandiri dengan Pastor Marian Wisa, MSF sebagai pastor paroki yang pertama dan menjadi imam yang sangat dicintai oleh seluruh umat paroki. Kepribadiannya yang tegas, serta kepiawaiannya dalam berdiplomasi, menjadikan pusat paroki dapat berdiri kokoh di ibukota kabupaten. Umat mengidolakan sosok yang amat bersahaja itu. Banyak umat yang akhirnya menyisipkan nama “Marian” pada anak-anak mereka. “Dalam kurun waktu itu, banyak katekis diutus ke daerah-daerah pedalaman dan transmigrasi, ” kenang RP. Norbert Betan, SVD, saat Perayaan 25 Tahun Paroki Tanjung. Misalnya pada 1 Oktober 1987, Abdon Harum, yang baru lulus dari Sekolah Pendidikan Agama Katolik Santo Fransiskus Xaverius Ruteng, diutus ke Stasi Nawin, daerah transmigrasi Suku Flores. Ketika itu ada sekitar 30 KK, dan beberapa penduduk asli (suku Dayak Lawangan) yang menganut agama Kaharingan, namun beberapa diantaranya sudah mulai menjadi simpatisan. Tahun 1995, Abdon Harum di tempatkan di SDN Warukin, dan berkarya di stasi itu hingga sekarang. Perjalananya di dua stasi yang memiliki perbedaan untuk dalam hal budaya. Di stasi Nawin, umat yang berasal dari Flores sangat antusias dalam berdevosi kepada Bunda Maria. Pada bulan Maria, devosi itu dilaksanakan satu bulan penuh dari rumah-rumah umat. Pada hari terakhir ada ibadat penutupan di Gereja, yang juga diiringi dengan pesta umat secara sederhana. Dengan demikian devosi dapat juga menambah keakraban, persaudaraan dan cinta kasih di antara umat bagaikan Gereja Perdana. Di stasi Warukin, tugas penggembalaan lebih menantang dan unik. Menurut Abdon, hal ini dikarenakan struktur masyarakat terdiri dari berbagai denominasi Gereja, yakni Gereja Katolik, GKE, GBI, dan GPDI. “Kita selalu berjumpa dalam kegiatan keagamaan yang oikumenis. Perjumpaan semacam itu menambahkan pengetahuan dan pengalaman, namun prinsip-prinsip dasar ajaran Katolik wajib dipertahankan, ” ujarnya. Selain itu upacara adat Suku Dayak Ma’anyan di daerah ini masih sangat kental. Umat Katolik masih menjunjung tinggi adat istiadatnya. Musik daerah yang dimainkan pada saat misa sangat menarik perhatian

Umat Paroki Ave Maria Tanjung memberikan bantuan bagi korban bencana banjir di Barabai, Juni 2013

umat. Sehingga kecintaan umat akan Gereja pun bertambah. Yang paling menarik adalah banyak umat ke Gereja karena tertarik untuk menyaksikan anaknya akan membawakan tarian. Biasanya banyak tarian Suku Dayak Ma’anyan yang dipersembahkan pada saat misa dan acara-acara Gereja. Contoh lain dapat dilihat pada upacara adat Mamagar Banua (Ipaket). Ipaket adalah sebuah upacara adat yang dilaksanakan untuk memberi “makan” kepada para roh halus/makhluk gaib di desa. Masyarakat setempat percaya bahwa hal ini dapat menjaga desa dari malapetaka dan wabah penyakit. Upacara ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Juni atau Juli sesudah panen padi. Pada bagian prosesi upacara, ada kapur yang dioleskan pada ambang pintu membentuk palang. Prosesi ini menurut Pak Dewan (juga seorang Katolik), Penghulu Adat Desa Warukin mirip dengan cerita di Perjanjian Lama. Saat Tuhan menurunkan tulah kesepuluh bagi bangsa Mesi, umat Israel dihindarkan dari tulah ini karena tanda palang di pintu rumah yang dioleskan dari darah domba. Menurut Pak Dewan, kemiripan seperti inilah yang membuat agama Katolik mudah merasuk di hati masyarakat Dayak. Umat Katolik dapat hidup berdampingan dengan umat yang beragama Kaharingan. Tuhan punya banyak cara untuk menyapa umatNya, termasuk upacara Mamagar Banua. Kisah pergulatan iman di Paroki Ave Maria Tanjung ini hanyalah sebuah contoh kecil. Di wilayah Keuskupan Banjarmasin lainnya, umat Katolik dengan tekun memelihara imannya. Keterbatasan pelayanan pastor, bruder, maupun suster, yang disebabkan kondisi alam Kalimantan Selatan tidak menyurutkan semangat umat untuk memuji dan memuliakan Allah. Semoga selalu demikian. (lrn)

Edisi Khusus2013

47


JEJAK IMAN

Vikariat Apostolik Samarinda*)

Pada tanggal 18 Februari 1953, dua bulan sebelum meninggal dunia, Mgr. J. Groen, MSF telah mengangkat Pastor J. Romeijn, MSF sebagai Vikaris Delegatus untuk daerah Kalimantan Timur. Dalam rapat pleno Dewan Keuskupan pada tanggal 31 Mei 1953 juga ditetapkan hal yang sama, kecuali wilayah Kutai Selatan yang meliputi Balikpapan dan sekitarnya masuk wilayah Vikariat Apostolik Banjarmasin. Keputusan rapat ini mendahului pendirian Vikariat Samarinda, yang sedang dalam proses di Roma. Tidak lama kemudian Kongregasi de Propaganda Fide menganjurkan agar Dewan Jenderal di Grave cepat mengirim tiga nama calon Vikaris Banjarmasin yang baru. Dan pada tanggal, 06 Januari 1954 Pastor W. Demarteau, MSF diangkat oleh Sri Paus menjadi Vikaris Apostolik yang baru untuk Banjarmasin. Setelah ditahbisan pada 05 Mei 1954, Mgr. Demarteau, MSF merasakan bahwa hal utama yang paling mendesak penyelesaiannya ialah pemisahan antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan (mencakup Kalsel dan Kalteng). Tanggal 14 Mei 1954, kurang dari 10 hari setelah tahbisan sebagai Uskup Banjarmasin, Mgr. W. Demarteau, MSF berangkat ke daerah Kalimantan Timur: Balikpapan, Samarinda, Tering dan Barong Tongkoq. Selama kunjungan ini, Mgr. W. Demarteau, MSF ditemani oleh Pater Romeijn, MSF sebagai Superior Regional MSF di Kalimantan. Dalam kesempatan resepsi resmi di Samarinda, muncul pertanyaan penuh harapan: “Kapan Kalimantan Timur menjadi Vikariat sendiri?”

48

Sepulang dari turne di Kaltim, Mgr. W. Demarteau,

Edisi Khusus - 2013

MSF siap-siap berangkat ke Roma pada tanggal 26 Juni 1954. Beliau telah menerima undangan dari Kongregasi de Propaganda Fide untuk membicarakan pendirian Vikariat atau Prefektur Apostolik Samarinda yang sudah lama diusulkan oleh pendahulunya Mgr. Groen, MSF. Dalam kapitel MSF pada tahun 1947 juga pernah didiskusikan, bahwa Propinsi MSF Swiss akan berkarya pada sebagian wilayah Prefektur Banjarmasin, namun, usaha tersebut belum berhasil. Karena hal itu, kongregasi Assumpsionis pun dihubungi untuk berkarya di Banjarmasin. Sayangnya, kongregasi Assumpsionis pun juga tidak sanggup menjalankan misi ini. Di Jakarta, Internuntius sendiri mendekati MillHill, tetapi juga tidak berhasil. Namun ketika Roma mengetahui bahwa Vikaris Banjarmasin yang baru (Mgr. W. Demarteau, MSF) masih begitu muda, maka Roma memutuskan untuk tidak mendiskusikan permohonan ini dan Vikariat Samarinda belum perlu didirikan. Namun Mgr. W. Demarteau, MSF tetap ingin memperjuangkannya. Vikariat Apostolik Banjarmasin dengan luas 440.751,32 km2 atau 3 kali luas pulau Jawa (yang hanya 139.000 km2) menjadi alasan pokok bagi Mgr. W. Demarteau, MSF untuk “membagi” Vikariat Banjarmasin menjadi 2 Vikariat (Banjarmasin dan Samarinda) sehingga sang gembala dapat melayani wilayah pelayanan yang lebih kecil. Mgr. W. Demarteau, MSF tetap pada keyakinan bahwa Vikariat Banjarmasin terlalu luas untuk seorang Vikaris yang masih muda seperti dirinya. Alhasil Roma mengundang Mgr. W. Demarteau, MSF ke Roma untuk mendiskusikan hal ini.


JEJAK IMAN Akhir September 1954, Mgr. Demarteau, MSF terbang lagi ke Roma dari Amsterdam. Setelah diskusi satu jam, Vatikan setuju dengan permintaan Mgr. Demarteau, MSF. Akhirnya setelah pertemuan itu, pada tanggal 21 Februari 1955 Vikariat Apostolik Samarinda secara resmi didirikan meliputi seluruh daerah Kalimantan Timur (kecuali Kutai Selatan/Balikpapan yang masih tetap merupakan bagian dari Vikariat Banjarmasin). Mgr. W. Demarteahu, MSF diangkat oleh Roma per tanggal 21 Februari 1955 sebagai Administrator Apostolik Samarinda. 10 Juli 1955 Pastor J. Romeijn, diangkat oleh Sri Paus menjadi Vikaris Apostolik yang pertama untuk Samarinda. J. Romeijn ditahbiskan pada 15 September 1955 di Wassenaar. Pada tanggal 7 Januari 1956 bersama dengan Mgr. W.J. Demarteau, MSF, pastor-pastor dan pejabat daerah diadakan upacara serah terima dan instalasi Mgr. Romeijn, MSF sebagai Vikaris Samarinda yang baru di Gereja Tering (hulu sungai Mahakam: kurang lebih sehari perjalanan dari Samarinda dengan kapal sungai waktu itu). Menurut catatan kronik Mgr. Demarteau, MSF upacara pelantikan Mgr. Romeijn, MSF sebagai Vikaris

Apostolik Samarinda dilangsungkan di Gereja Tering karena pada waktu itu tidak ada gedung gereja di Samarinda yang cocok untuk upacara tersebut. Tidak dimasukkannya daerah Kutai Selatan (Balikpapan) ke dalam Vikariat Apostolik Samarinda, menimbulkan kekhawatiran pemerintah Kutai Selatan. (Baiklah diingat bahwa Wilayah Kalsel, Kalteng dan Kaltim waktu itu masih satu Provinsi. Baru pada tanggal 2 Desember 1956 diadakan Kongres Rakyat Kalimantan Selatan dan Tengah untuk mempersiapkan pembentukan tiga Provinsi: Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat). Menururt perjanjian internal antara Vikariat Banjarmasin dan Vikariat Samarinda, wilayah Kutai Selatan/Balikpapan baru akan menjadi bagian dari Vikariat Samarinda pada tahun 1966. Pemerintah Kutai (kendati tidak menulis permohonan hitam atas putih) menghendaki agar Kutai Selatan segera dimasukan menjadi bagian Vikariat Samarinda karena khawatir bahwa ketika terjadi pembentukan provinsi baru (provinsi Kaltim), pemerintah pusat akan mengikuti jejak Gereja. Dengan demikian income yang besar di Kutai Selatan (minyak di Balikpapan) akan menjadi milik Provinsi Kalimantan Selatan.

Mgr. Romeijn, MSF di Tering, Kaltim, 1956

Edisi Khusus2013

49


JEJAK IMAN “Permohonan” ini (yang tidak pernah tertulis dalam surat resmi) dibicarakan oleh Mgr. W. Demarteau, MSF dan Mgr. Romeijn, MSF bersama Internuntius, Mgr. Enrici di Jakarta. Internuntius tidak antusias untuk membicarakan soal ini karena pendirian Vikariat tidak ada hubungan dengan urusan pemekaran wilayah pemerintahan dan apalagi tidak ada permohonan resmi dari pemerintah kepada Internuntius pada waktu itu. Mgr. W. Demarteau, MSF dalam Kronik keuskupan menulis bahwa Internuntius tidak senang dengan campur tangan pemerintah yang melulu “berbau minyak”/ uang. Kegigihan Mgr. W. Demarteau, MSF dalam memperjuangkan pendirian Vikariat Apostolik Samarinda, menjadi teladan yang sungguh berarti bagi perjalanan Gereja di tanah Borneo. Sebuah usaha keras untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Teladan inilah yang dapat dipetik dari kegigihan Mgr. W. Demarteau, MSF. Kegigihannya menjadi buah yang melimpah. Semuanya demi pelayanan yang mengayomi semua lapisan umat di pelosok tanah Borneo.

dan di Vikariat Banjarmasin mendapat perhatian yang sangat intensif, banyak terjadi kesulitan-kesulitan dengan pemerintah, dalam hal ini Panglima Soeharjo yang melarang para misionaris tinggal menetap di pedalaman Kalimantan Timur. Usaha dengan suratsurat mosi dari masyarakat pedalaman, anggota partai Katolik, wakil presiden Djuanda, agar para pastor diijinkan kembali ke tempat tugasnya tidak dihiraukan. Dengan perantaraan Kedutaan Vatikan, Departemen Dalam Negeri turut mengirimkan surat serupa, ternyata juga tidak berhasil. Mgr. Romeijn, MSF membicarakan soal tersebut dengan Jenderal A. Yani dan Presiden Soekarno pada tahun 1963. Akhirnya, sebagian dari kesulitan dapat diatasi, walaupun harus menanti sampai bulan Maret 1965 waktu Panglima Soeharjo diganti oleh Panglima Soemitro. Namun, terjadi peristiwa yang menggembirakan pada masa penantian itu, yakni tahbisan Pastor putera asli daerah: Y.Mangun, OSCO (1963) dan Y. Husin, MSF (1964). (don/lrn –disadur dari kronik Mgr. Wilhemus Demarteau, MSF dan berbagai sumber) Keterangan *):

Setelah Pembagian Banjarmasin dan Samarinda (1955-1965) Dalam kurun waktu ini, peristiwa-peristiwa di Indonesia mempengaruhi perkembangan kedua Vikariat, Banjarmasin dan Samarinda. Kebanyakan penduduk hidup dalam tekanan psikologis yang berat. Hak azasi manusia dan kepribadian ditindas. Kebebasan dunia pers dan komunikasi dikuburkan, perbatasan Indonesia dengan luar negeri ditutup ketat, secara pelan-pelan Indonesia menjadi Negara Militer. Para misionaris MSF yang berasal dari negeri Belanda dari tahun 1958 sampai tahun 1964 tidak dapat visa lagi untuk membantu gereja di Kalimantan. Dalam periode yang sama 12 anggota MSF meninggalkan Kalimantan. Keadaaan ini mendapat tanggapan dalam kapitel umum MSF di Roma (1959) dan diputuskan akan mengirim tenaga yang berasal dari Jerman ke Indonesia. Sewaktu hubungan antara Indonesia dan Belanda kembali normal, banyak tenaga misionaris dari Belanda dikirim ke Indonesia. Walaupun perkembangan pusat Gereja Katolik di Vikariat Samarinda maju pesat

50

Edisi Khusus - 2013

Vikariat Apostolik adalah bentuk otoritas untuk suatu kawasan dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk dalam wilayah misi dan di negara yang belum memiliki keuskupan. Sifatnya sementara sampai berkembang dan memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai keuskupan.

Provinsi Kalimantan Timur


JEJAK IMAN

JEJAK IMAN

Keuskupan Palangkaraya: “Anak yang Lebih Besar dari Induk”

Setelah daerah misi di Kalimantan Timur resmi menjadi Vikariat Apostolik baru, dan terlepas dari Banjarmasin, maka Mgr. W. Demarteau, MSF lebih berkonsentrasi untuk mengembangkan misi di pedalaman Kalimantan Tengah secara intensif. Pada tahun 1952 Sampit ditetapkan sebagai stasi pusat pelayanan di wilayah sungai Mentaya, Seruyan, Katingan dan sekitarnya. Pada tahun 1965, Pangkalan Bun dibuka menjadi stasi sebagai pusat pelayanan di daerah sungai Lamandau, Arut dan sekitarnya. Daerah Palangkaraya dijadikan stasi pada tahun 1963 atas usulan gubernur pertama Kalimantan Tengah Bapak Tjilik Riwut. Dari Palangkaraya karya misi melebar ke Kuala Kapuas dan Kuala Kurun. Dalam tahun 1965 karya misi membuka karya Pastoral baru di daerah Barito Selatan yaitu wilayah Tamiang Layang dan Ampah. Perkembangan ini terus berlanjut terutama di pedalaman Kalimantan Tengah sampai Mgr. W. Demarteau, MSF mengundurkan diri sebagai Uskup dan digantikan oleh Uskup Mgr. F.X. Prajasuta, MSF yang diangkat oleh Tahtah Suci pada tanggal 6 Juni 1983 dan ditahbiskan pada tanggal 23 Oktober 1983. Perkembangan kuantitas dan kualitas umat Keuskupan Banjarmasin pada awal tahun 1993 sangat menggembirakan. Melihat perkembangan umat yang sangat pesat, terlebih di wilayah di Kalimantan Tengah, maka Mgr. F.X. Prajasuta, MSF berniat/berkeinginan agar wilayah kegembalaannya dimekarkan menjadi dua Keuskupan yakni Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangka Raya. Niat disampaikan pada tahun 1987 dan disambut baik oleh umat terutama umat di wilayah Kalimantan Tengah dan sesama Uskup di wilayah provinsi Gerejawi Kalimantan. Niat tersebut juga diutarakan dalam sidang KWI dan ditanggapi secara positif oleh para Uskup. Untuk mewujudkan

niat tersebut, maka perlu mempersiapkan semuanya dengan sungguh-sungguh diantaranya mempersiapkan sumber daya pendamping umat. Tanggal 14 Nopember 1992 atas dukungan Uskup-Uskup se provinsi Gerejawi Kalimantan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Nuntius (Duta Besar Vatikan di Jakarta) dikirimlah surat permohonan secara resmi kepada Tahta Suci di Roma. Sambil menunggu keputusan, beliau makin gencar mempersiapkan wilayah calon Keuskupan baru dengan mengadakan turne-turne ke pedalaman. Akhirnya Tahta Suci di Roma mengabulkan permohonan beliau. Pada tanggal 14 April 1993, Tahta Suci mengabulkan permohonan tersebut dan mengumumkan secara resmi, sebagai tahun berdirinya Keuskupan Palangkaraya dengan wilayah Provinsi Kalimantan Tengah dan mengangkat Mgr. Julius Aloysius Husin, MSF sebagai Uskup pertama Keuskupan Palangkaraya. Pentahbisannya dilaksanakan di Palangkaraya pada tanggal 17 Oktober 1993. Sebelumnya Mgr. Husin menjabat sebagai Vikjen/ Sekretaris Keuskupan Banjarmasin dan Pastor Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin. Keuskupan Palangkaraya merupakan Keuskupan ke 35 di Indonesia, setelah Keuskupan Dilli, Timor-Timur (setelah jajak pendapat tgl. 30 Agustus 1999 Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan RI). Pasca pemekaran kedua tersebut, Keuskupan Banjarmasin makin“kecil”dengan 7 paroki dan imam yang berkarya tinggal 11 orang. Kardinal J.Darmaatmaja pada pesta syukur tahbisan Uskup Keuskupan Palangkaraya mengatakan bahwa Keuskupan Banjarmasin telah melahirkan anak yang lebih besar dari induk. Sementara itu pada kesempatan yang sama Mgr. Demarteau, MSF mengungkapkan kegembiraannya karena telah menjadi “bidan” dari Keuskupan Banjarmasin. (smr)

Edisi Khusus2013

51


AMANG PANDIR

Amang Pandir Lupa Kisah Iman Beberapa edisi Majalah Ventimiglia nang terbit parak Sinode Keuskupan Banjarmasin manulis macam-macam sejarah wan jajak iman Keuskupan Banjarmasin. Tulisan itu mangusik Amang Pandir bakikih mancari’i silsilah puhun kaluarganya. Di teras rumah, inya mulai menyeket-nyeket di buku. Diulahnya garis mendatar, mereng, dilingkarinya sabuting ngaran, pokoknya mengalahakan urang maulah sakaripsi.

“Oii Abah, kupinya parak dingin na,” ujar Acil Bungas dari dalam rumah. “Bawakan ke teras pang kupi wan tasmakku Umanya, ada jua nang aku takunakan,” sahut Amang Pandir. Acil Bungas keluar lawang selajur mambawaakan kupi wan tasmak lakinya, ”Apa jua wahini nang digaduh Abahnya? Maitung buntutkah? Malam samalam ulun tamimpi diigut bidawang.” “Hush, diigut kuda nil selajur! Umanya…pasang buntut kada boleh Garija wan pamarintah. Nang bujur-bujur aja kita ni, biar hidup sederhana asal tahurmat ya kalu?” “Iya abahnya, tumben waras bapandir, jadi apa jua nang pian gawi itu?” “Ini lihat Umanya, aku handak banar manggawi sajarah puhun keluarga kita. Cilakanya aku kada tapi tahu lagi ngaran datu wan sabagian mamarina kita, apalagi ngaran aslinya, nang kaya saudara abah di Marabahan kita manyambat Paman Lamak wan Acil Ibung. Tambah sedih jua waktu musibah kabakaran ganal tanggal 9 Oktober 1973 semalam di Kelayan melalap 2.300 rumah, tamasuk rumah kita, ijazah wan dokumen penting umpat tabakar… hiks hiks.” “Sudahlah Abahnya, kok jadi basadih, ulun taumpat sadih jua nah…pokoknya pian tulis haja nang piyan ingat, kaina kita takunakan dangsanak kalu silaturahmi.” Imbah itu Acil Bungas mangingatakan, ”Nang baku, karena taumpat istilah Jejak Iman, pian jua manulis kisah iman kita. Masih ingatlah kapan dibaptis?” “Kalu kada ingat kita kawa maminta salinan surat Baptis di paroki wadah kita dibaptis. Disitu kita tahu jua catatan bila kita manarima Sakramen Komuni I, Karisma, bila bakawinan, pokoknya administrasinya nahap!” ujar Acil Bungas pina musti.

52

Edisi Khusus - 2013

“Bujurkah? Aku kada percaya administrasinya,” olok Amang Pandir.

mereka

punya

“Hush, ini bujuran Abahnya, pian bisa cek en ricek,” sanggah Acil Bungas kada mau mangalah. “Imbah itu karena Abah dibaptis dewasa maka tulisakan alasan-alasannya memilih menjadi Katolik. Wahini nang kaya apa kehidupan rohani pian?” “Umanya, nang kaya katekis haja pertanyaannya.” ”Kita ini sudah tuha Abahnya, jadi kawa panjang lebar manulis pangalaman hidup kita, paling kada gasan Galuh anak kita…Nah, sekarang ulun handak batakun, kapan kita saling manarimakan Sakaramen Perkawinan?” “Iiih bujur banar, itu nang harus dicatat ditulisanku ini, dasar biniku ini paling bungas wan pinter mambari inspirasi!” “Hadang dulu Abahnya, pian baluman manjawab pandiran ulun: kapan kita saling manarimakan Sakaramen Perkawinan?” Amang Pandir malirik wajah bininya, dengan pelan dijawabnya, ”…..l..u..p..a…” “Hiiiihhhh, liwar banar pian tuuuu!,” dikibitnya talinga lakinya. (oZo)

Majalah Ventimiglia Edisi 20 Tahun 2013  
Majalah Ventimiglia Edisi 20 Tahun 2013  
Advertisement