Issuu on Google+

Edu News

Edisi Kedua Juli 2012

Artikel Assalamu’alaikum.

Makna Proses Berilmu bukan Nilai Akhir

Salam Pendidikan!

Desi Wulandari Segala puji dan syukur kehadirat Allah swt yang Maha Pengasih tak

(Mahasiswi PPB 2011) Apa kabar Mahasiswa Psikologi Pendidikan dan Bimbingan? Bagaimana keadaan mental dan fisikmu? Bagaimana dengan amunisi self konsep yang akan

pandang kasih, Maha

disiapkan untuk semester berikutnya? Bagaimana dengan pemaknaan tumpukkan

Penyayang penebar sayang.

tugas – tugas yang telah dilewati dan persiapan amanah yang akan dihadapi selanjutnya? Bagaimana keadaan ruhiyahmu? Dan yang terakhir, bagaimana

Alhamdulillah, Edu News Edisi Juli bisa terbit dalam

dengan asupan ilmu yang kau dapat?

Mungkin pertanyaan – pertanyaan itu hanya sekumpulan noktah kecil dalam

bentuk online. Mudah -

lingkaran besar beragam pertanyaan yang perlu mendapat jawaban pemecahan

mudahan dapat

setepatnya. Karena, tentu kita merindukan sebuah pemaknaan yang baik dari apa

bermanfaat bagi teman-

yang kita lakukan selama berstatus sebagai mahasiswa bukan?

teman PPB semua ya ^_^.

Yap, berbicara soal makna, terdapat beberapa fenomena kehidupan di kampus kita saat ini. Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Diantaranya

Selamat membaca.. Redaksi.

tentang realitas sebagian mahasiswa kita menjadi begitu berorientasi pada nilai akhir dengan menurunkan pemaknaan sebuah proses berilmu.

Kian hari, nampaknya kita belajar di dunia pendidikan yang kian berorientasi

Supported by

hasil dibandingkan proses. Mahasiswa menginginkan pemecahan masalah saat ini juga, secepatnya juga. Misalnya disodori berbagai tips multifast diantaranya kopas ( copy/ paste ) tugas; mencari program – program cara tercepat menyelesaikan skripsi dan tesis dalam 29 hari atau kurang; menghadapi UAS tanpa belajar; enam jam bisa Bahasa Arab atau 24 jam terampil berbahasa asing. Lantas mahasiswa

(KMJ PPB FIP UPI)

jadi begitu terobsesi dengan hal yang serba seketika. Mahasiswa mulai menjadi makhluk yang mengutamakan nilai akhir ketimbang proses memahami ilmu itu sendiri. Nilai akhir itu harus diraih dengan perolehan tinggi dalam proses yang sekejap. Dengan nada getir orang menyebut kecenderungan ini sebagai “Budaya Instan”


Namun, mahasiswa sedikit terhenyak ketika menyadari ternyata

Pojok Inspirasi

belajar bukan hanya sekedar memastikan penilaian akademik yang tinggi adalah pencapaian yang terbaik. Alih-alih memahami ilmu dan

Seonggok Jagung

memanfaatkannya, kebanyakan mahasiswa justru tidak memedulikannya. Yang perlu diperhatikan, proses belajar untuk

di Kamar

berilmu adalah suatu perjalanan yang tiada henti dalam menemukan

Sajak karyaW. S. Rendra

diri. Ada makna bahwa proses belajar untuk berilmu adalah juga memiliki asas kebermanfaatan dalam mengarungi samudera

Aku bertanya ...

kehidupan. Ini berarti, mahasiswa perlu menyediakan waktu bagi sesama. Sebagai seorang anak, mahasiswa juga harus meluangkan

Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

waktu untuk membantu kedua orang tuanya, menyapa hangat dosen, teman atau orang -orang terdekat yang kebetulan

di tengah kenyataan persoalannya? Apakah gunanya pendidikan

lewat, mengingatkan teman untuk beribadah, membantu orang tua atau tunanetra

bila hanya mendorong seseorang menjadi layang –

menyeberang jalan, menyisihkan sebagian uang untuk

layang di Ibu Kota

ditabung atau disedekahkan,

kikuk pulang ke daerahnya?

melapangkan tempat duduk untuk orang lain ketika mengikuti

Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra,

perkuliahan atau seminar, mendengar dengan seksama materi yang diberikan dosen, meluangkan waktu untuk membaca buku-buku

teknologi, ilmu kedokteran atau apa saja, ketika pulang ke daerahnya lalu berkata.. “Disini aku merasa asing dan sepi !�

motivasi, dsb. Perumpamaan ini mungkin memang paling cocok untuk kita semua. Perumpamaan sederhana dalam menyelami makna proses berilmu adalah belajar dari sebatang pohon. Jika sebuah pohon diberi pupuk ala kadarnya, ia mungkin bisa bertahan, tetapi tidak berkembang dengan baik. Sebaliknya, jika diberi pupuk yang cukup dan bukan sekedar apa yang diperlukannya, maka pohon itu akan hidup dan berkembang, bahkan menghasilkan buah ilmu yang melimpah. Kemudian lihatlah ketika pada akhirnya tumbuh bunga-

Kesenjangan ..

bunga kesuksesan bermekaran mengelilinginya. (Inspired by Aan Sopiyan)

Mengapa engkau tidak mengkhwatirkan matamu yang terlalu banyak membaca? Sokrates menjawab,�Jika aku dapat menyelamatkan mata hatiku, maka aku tidak akan memedulikan sakit mataku.�


Book Review Sebagian diantara kita pasti ingin menjadi Judul

: Tips Memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah

ditawarkan sebesar ratusan ribu bahkan

Penulis

: Abdul Waid

jutaan rupiah. Memang tak dipungkiri

No. ISBN

: 9786027641297

bahwa berinteraksi dengan tulis menulis

Penerbit

: Diva Press

sangat penting. Tidak hanya mahasiswa,

Terbit

: Juni 2012

jurnalis,

Jumlah Hal : 196

juara ketika mendengar lomba karya tulis ilmiah (LKTI). Apalagi jika hadiah yang

kalangan akademisi seperti dosen, namun para guru juga

Jenis Cover : Soft Cover

dituntut untuk kompetitif dalam bidang ini. Nah buku karya Abdul Waid yang memiliki catatan prestasi memukau dalam LKTI di tingkat lokal maupun nasional ini menyajikan beberapa tips dan seni memenangkan LKTI secara mendetail dan komprehensif. Diantaranya menjelaskan letak kelemahan dan kesalahan dalam menyusun KTI, tips presentasi, langkah dasar pralomba, hingga ke persoalan mentalitas penulis, manajemen waktu, manajemen biaya dan lain sebagainya.

POJOK KARYA

Sarjana di Era Globalisasi Wahai pewaris peradaban, apa kabarmu hari ini? Kau tuntut ilmu bagaikan pahlawan Membekali diri untuk menjadi pencerah masa depan Kau amat cemerlang bagai mentari yang menyinari di pagi hari Itu mungkin dahulu Karna kau kini hanya sibuk menjadi pencerah dirimu sendiri Memperkaya ilmu tanpa kau berikan pada yang lain Dan apatis pada alam yang kini telah tercemar

Leilissani El Zudaida (PPB 2010) Tidak berbeda dengan mahasiswa lainnya, Leilissani yang akrab disapa Lisa bukanlah mahasiswa jenius layaknya Einstein. Semangat dan kesungguhan teman kita yang satu ini telah membuktikannya dengan karya nyata. Terbukti, Lisa berhasil meraih

Dahulu kau bersatu padu demi menegakkan keadilan Kini kau hanya duduk manis Melihat tapi buta, mendengar tapi tuli Membuka mulut hanya mencaci Menggunakan tangan tapi merusak

Juara 1 LKTI Nasional Teknik Konseling 2011, Juara 2 LKTI Qur’ani dalam Seleksi MTQ Nasional se- UPI 2011 dan mendapat Juara 1 Anugerah UPI kategori Makalah/ Karya Tulis untuk Mahasiswa UPI

Tahukah kau sepuluh tahun kedepan Dunia akan kau geggam Tapi sekarang saja kau acuh Dingin sampai membeku

2012. Luar biasa baget kan? Disamping prestasi lain yang berhasil

Kau bawa pergi kemana ilmu yang telah kau tanam? Tak pedulikah engkau dengan mulut yang menganga? Tak pedulikah engkau dengan penguasa yang mengacak-ngacak pendidikan dimasa kini? Tak pedulikah engkau dengan tetesan air mata yang mengemis pendidikan? Wahai kau sarjana di era globalisasi Kini ratusan juta penduduk mennunggumu Menunggu dedikasi demi perubahan dari semrawut di pagi buta 2012. Puisi karya Anesya Nur Santika PPB 2010

diraih, Mahasiswi yang memiliki motto “hidup sekali hiduplah yang berarti” ini, selain pintar menulis, juga memiliki hobi membaca, memasak dan traveling. So, d’oa tanpa usaha adalah kebohongan, usaha tanpa do’a adalah kesombongan merupakan kiat sukses ala Lisa yang patut kita teladani. Berani mencoba?


COMING Soon

“lkti” [Lomba Karya Tulis Ilmiah]

Kirim karya terbaikmu di edunews12@yahoo.com Ada hadiah menarik 

HMJ/ PPB/ FIP/ UPI Marhaban Ya Ramadhan! Ayoo, meriahkan Bulan Suci Ramadhan dengan Bakti Sosial ! Insya Allah akan dilaksanakan pada tgl 12 Agustus 2012 @ Panti Asuhan Al- Kautsar.

CP: Evi ’10 (085624028680) Aeni ’11 (085722950266)

Redaktur : Anesya Nur Santika (PPB 2010), Agni Rahmiatunnissa (PPB 2010), Felida Ekaresta Putri (PPB 2011), Hasni Nurul Wildaniah (PPB 2011), Mulyani (PPB 2011)


edunews-II-juli-2012