Page 1

Edisi 27| 20 Desember 2013 | 17 Safar 1435

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Lidah memang tak bertulang, demikian ungkapan yang lazim beredar di telinga. Goresan yang disebabkan lidah sering kali lebih membekas ketimbang sayatan benda tajam sekalipun. Maka, Islam menganjurkan lebih baik diam daripada berbicara tak tentu arah, apalagi berkata keburukan.

Menjaga Lisan Imam al-Ghazali, dalam magnum opusnya Ihya Ulumiddinmemaparkan sejumlah kiat agar tak mudah terpeleset lidah. Kesemua langkah itu pada hakikatnya merupakan upaya pengendalian diri untuk mengatur dan mengelola pergerekan lidah dengan baik.

itu, jauhi perbincangan yang tak penting atau sekadar hura-hura. Di antara kesalahan lidah, kala membicarakan hal-hal yang tak perlu. Rasulullah SAW pernah menegaskan, sebaik-baik keislaman seorang ialah saat ia meninggalkan perkara yang tak perlu. Termasuk, berbicara yang tidak membawa manfaat.

Langkah pertama, ungkap sosok Suatu ketika, seperti dinukilkan kelahiran Thus 1058 M/150 H Anas bin Malik RA, Rasulullah


pernah mengomentari seorang sahabat yang terdiam kala sang ibu mengusap wajahnya. Sahabat itu, mengikatkan ke perut untuk menahan rasa lapar. Peristiwa itu terjadi ketika Perang Uhud. “Tidakkah engkau ketahui mengapa ia terdiam saja? Mungkin, ia tidak ingin berbicara yang tidak perlu atau ia menolak dari hal-hal yang membahayakan dirinya.”

“Tidak ada kebaikan pada banyaknya suatu obrolan kecuali dalam perbincangan itu ada perintah untuk bersedekah, berbuat baik, atau perintah untuk mendamaikan sesama manusia.” Dan ketiga, menurut figur yang pernah menjadi kanselir di Madrasah Nizhamiyah Baghdad itu, jangan sampai lidah terpancing dengan obrolanobrolan yang berkaitan dengan perkara batil. Kerap berbicara batil bisa mengantarkan seseorang ke api neraka. Penegasan ini seperti yang diabadikan dalam Alquran.

Cara yang kedua, menurut tokoh yang bermazhab Syafi'i ini, jaga diri boros berbicara. Membicarakan apa pun dengan cara yang berlebihan pula. Biasanya, ini dilakukan untuk menarik perhatian seseorang. Surah al-Muddatsir ayat 42-45 Padahal, topiknya sangat tidak mengisahkan tentang penting dan tidak ada kaitannya perbincangan antara ahli surga dengan objek yang diajak bicara. dan penghuni neraka. Ketika Tuntunan untuk tidak boros penghuni neraka ditanya, apa pembicaraan tersebut sesuai pasal mereka masuk siksaan dengan seruan Alquran dalam tersebut? “Dahulu kami tidak surah an-Nisaa ayat ke-114. pernah melakukan shalat, tidak memberi makan kepada orang miskin, dan kami biasa mengobrolkan hal-hal yang batil dengan orang-orang yang membicarakannya.”


Syekh al-Ghazali yang berjuluk hujjat al-Islam mengatakan, cara yang keempat, jangan berdebat berlebihan. Debat memang berguna bagi murid yang sedang belajar. Tetapi, bagi seorang alim, debat adalah sesuatu yang harus ia hindari. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, walaupun perdebatan itu benar, Tuhan akan berikan kepadanya tempat paling tinggi di surga.� Al-Ghazali menambahkan, cara yang kelima, jauhkan sebisa mungkin perkataan yang di dalamnya terkandung unsur permusuhan, kedengkian, menyakitkan, serta menjatuhkan harga diri orang lain. Menghargai seseorang lewat perkataan yang sopan dan santun akan sangat berdampak bagi kelanggengan silaturahim. Bahkan, berulang kali Rasul pernah mencontohkan agar tidak menghujat para sahabatnya. “Janganlah kau kecam sahabat-sahabatku.� Untuk langkah yang keenam, Imam al-Ghazali yang terkenal dengan julukan Algazel di dunia Barat mengatakan, caranya tetap

sederhana dan apa adanya dalam gaya berbicara. Tidak usah lebay. Rasulullah pernah memperingatkan tentang sejelek-jelek umatnya, salah satunya, mereka yang memperoleh kenikmatan pada pagi hari lantas banyak melebihlebihkan pembicaraannya.

Sedangkan, langkah yang keenam, ujar tokoh yang wafat pada 505 H/ 1111 M itu, menghindari ucapan-ucapan kotor. Kata-kata kotor adalah kata-kata yang apabila diucapkan dianggap tidak sopan. Sedangkan, kata-kata kasar adalah kata-kata yang sebaiknya tidak diucapkan karena ada katakata lain yang jauh lebih halus. Seorang mukmin harus bisa menyampaikan makna ingin diutarakannya dengan bahasa yang halus. Termasuk poin keenam adalah mengekang diri untuk tidak gampang melaknat sesama. Rasulullah, seperti riwayat Bukhar dari Tsabit bin adDhahak, menegaskan bahwa efek dari laknatan seorang mukmin kepada sesama, nyaris


sama dengan membunuhnya. (Republika.co.id) ***

Hadis motivasi ْ َ‫ب ْالع ِْل ِم َس َّهل‬ ُ ‫ت لَ ُه َط ِري‬ ‫ْق ْال َج َّن ِة‬ ِ َ‫َمنْ َسلَ َك َمسْ لَكا ً فِيْ َطل‬ “Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dimudahkan baginya jalan menuju syurga”.

Buletin Jum’at Online Keluarga Muslim Indonesia di Sendai Diterbitkan oleh Divisi Dakwah Keluarga Muslim Indonesia di Sendai 2013-2014

Buletin Jum'at KMI-S edisi 27  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you