Page 1

Edisi 13| 13 September 2013 | 7 Dzulqaidah 1434

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sebelum menemui ajalnya, khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq RA. pernah memanggil Umar ibn al-Khaththab RA lalu menyampaikan wasiat kepadanya. “Wahai Umar, Allah itu mempunyai hak (diibadahi) pada siang hari yang Dia tidak menerimanya di malam hari. Sebaliknya, Allah Swt juga mempunyai hak (diibadahi) pada malam hari yang Dia tidak mau menerima di siang hari. Ibadah sunnah itu tidak diterima sebelum ibadah wajib itu dilaksanakan.�

Manajemen Waktu Wasiat Abu Bakar tersebut menyadarkan Umar bahwa rotasi waktu itu penuh nilai dan harus dimaknai sedemikian rupa, sehingga manusia tidak merugi dalam hidupnya.

Menurut Yusuf al - Qaradhawi, pesan Abu Bakar tersebut mengandung arti bahwa sebagai calon khalifah, Umar harus bisa membagi waktu: kapan harus menunaikan kewajibannya kepada Allah SWT, kewajiban Umar melihat pesan Abu Bakar kepada rakyatnya, dan tersebut sebagai isyarat kewajiban kepada dirinya pentingnya manajemen waktu sendiri. dalam memimpin umat.


Sedemikian pentingnya waktu itu, Ibn al-Qayyim al-Jauziyah menegaskan menyia-nyiakan waktu (idha’atul waqti) itu lebih berbahaya daripada sebuah kematian, karena menyianyiakan waktu itu dapat memutus hubungan engkau dengan Allah dan akhirat.

sedikit anak-anak muda kita banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, bermain-main, dan berleha-leha.

Kesadaran wal ashri (pentingnya nilai waktu) cenderung tergradasi karena aneka permainan duniawi yang menghibur dan Sedangkan kematian hanya memperdayakan, seperti memutusmu dari kehidupan sinetron, aneka games, dan dunia dan keluarga saja. Orang sebagainya. yang menyia-nyiakan waktu Dalam memanajemeni waktu, akan kehilangan kesempatan Umar bin Abdul Aziz pernah untuk berinvestasi bagi berkata: “Siang dan malam itu kehidupan akhiratnya. bekerja untukmu, karena itu Oleh karena itu, Ibn Mas’ud ra beramallah dalam keduanya.” pernah berkata: “Aku tidak Sebagai manifestasi dari aplikasi menyesali sesuatu selain kepada manajemen waktu, ketika hari yang mataharinya telah diamanahi sebagai khalifah, terbenam dan umurku Umar bin al-Khaththab pernah berkurang, tetapi di hari itu memberikan nasehat kepada amalku tidak bertambah.” Abu Musa al-Asy’ari: “Pemimpin Manajemen dan disiplin waktu yang paling bahagia menurut menjadi sangat penting, jika Allah SWT adalah orang yang seorang Muslim berusaha mampu membuat rakyatnya menggapai kesuksesan hidup bahagia. dunia dan akhirat. Pemimpin yang paling Namun dalam faktanya, banyak menderita menurut Allah adalah orang terlena dan mengabaikan p e m i m p i n y a n g m e m b u a t nilai waktu. Waktu berlalu tanpa rakyatnya sengsara. Hendaklah makna dan amal shaleh. Tidak e n g k a u t i d a k m e l a k u k a n


penyimpangan, sehingga engkau dapat menyimpangkan para pekerjamu, tak ubahnya engkau seperti binantang ternak.”

telah ditentukan waktuwaktunya, kita dididik untuk disiplin waktu secara baik dan benar. Muslim yang melaksanakan shalat dengan Semua itu tidak mungkin dapat benar mestinya tidak pernah direalisasikan tanpa manajemen mengabaikan waktu. waktu yang efisien dan efektif. Kata kunci manajemen waktu Penyegeraan penyelesaian adalah disiplin dan penyegeraan kewajiban dan tugas juga penyelesaian kewajiban, tugas, merupakan tradisi Nabi SAW dan pekerjaan. yang patut diteladani. Beliau bukan hanya memerintahkan Nabi Muhammad Saw adalah umatnya untuk misalnya figur teladan yang paling disiplin menyegerakan membayar waktu, lebih-lebih setelah hutang, mengurus janazah, dan ditetapkannya shalat lima waktu sebagainya, melainkan juga sebagai fardhu ‘ain (kewajiban memberi nilai plus kepada personal). umatnya yang bangun tidur Maka apabila kamu telah lebih awal. menyelesaikan shalat(mu), Bahkan Nabi SAW pernah ingatlah Allah di waktu berdiri, meminta kepada Allah agar di waktu duduk dan di waktu umat diberkahi dalam waktu berbaring. Kemudian apabila pagi (bersegara menuntaskan kamu telah merasa aman, maka persoalan. Doa beliau: “Ya Allah, dirikanlah shalat itu berkahilah umatku pada waktu (sebagaimana biasa). paginya.” (HR. Abu Daud, atSesungguhnya shalat itu adalah Turmudzi, dan Ahmad) fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang Implikasi manajemen waktu yang beriman. (QS. an-Nisa’ [4]: dalam Islam sungguh sangat 103) serius sekaligus indah, karena salah satu karunia yang akan Melalui aneka ibadah, terutama diaudit oleh Allah di akhirat shalat, yang dalam al-Qur’an


kelak adalah pemanfaatan umur Demi masa. Sesungguhnya kita, tentu termasuk waktu, manusia itu benar-benar dalam selama hidup di dunia. kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan Dalam hal ini Nabi SAW amal saleh dan nasehat bersabda: “Tidaklah kedua kaki menasehati supaya mentaati seorang hamba itu melangkah kebenaran dan nasehat sebelum ditanya tentang empat menasehati supaya menetapi hal: tentang umur, untuk apa kesabaran. (QS. al-‘Ashr [103]: 1dihabiskan? Tentang (kesehatan) 3) fisik, untuk dipergunakan? Tentang harta, darimana Waktu menjadi bermakna jika diperoleh? Dan Untuk apa dilandasi iman yang kokoh, dibelanjakan? Dan tentang ilmu, ditindaklanjuti dengan aneka apakah sudah diamalkan? (HR. kesalehan, dikembangkan al-Turmudzi dan al-Thabarani). dengan pencarian kebenaran secara akademik, dan diperindah Karena itu, agar fungsional dan dengan kesabaran sebagai bermakna, manajemen waktu moralitas kehidupan. harus senantiasa dikawal dengan kesadaran wal ashri, melalui Mudah-mudahan kita semua reformasi iman, amal shaleh, mampu memanej waktu dengan saling berwasiat kebenaran dan optimal dan efektif, sehingga saling membelajarkan hidup kita menjadi lebih berkah kesabaran. dan bermakna. Wallahu a’lam. ***

Buletin Jum’at Online Keluarga Muslim Indonesia di Sendai Diterbitkan oleh Divisi Dakwah Keluarga Muslim Indonesia di Sendai 2013-2014

Buletin Jum'at KMI-Sendai Edisi 13