Page 1

BULETIN JUM’AT KELUARGA MUSLIM INDONESIA DI SENDAI

8 Januari 2016 28 Rabiul Awal 1437

http://kmi-s.ppisendai.org/

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ‫ ﷻ‬yang atas limpahan rahmatNya-lah Buletin Jum’at KMIS edisi ke-25 ini dapat hadir di hadapan pembaca, semoga penerbitannya bisa istiqomah. Setelah sebelumnya pernah disajikan pembahasan mengenai ilmuwan muslim (Muhammad bin Musa Al Khwarizmi), pada edisi kali ini disajikan pembahasan mengenai 2 orang ilmuwan lain yang berasal dari daerah yang sama, tetapi dari zaman setelahnya, yakni Al-Biruni dan Ibnu Sina, yang keduanya menekuni bidang astronomi.

Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Biruni & Ibnu Sina Abu Rayhan Biruni (‫ابوریحان بیرونی‬, biasa ‎disebut Al-Biruni, berarti “dari pinggiran kota”, yang dimaksud adalah kota Kats di Khwarazm) dan Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Al-Hasan bin Ali bin Sina (biasa disebut Ibnu Sina, keturunan Sina, atau Avicenna oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa abad pertengahan).

M. Keduanya berasal dari daerah yang sekarang termasuk di Negara Uzbekistan; Al-Biruni berasal dari da era h Khwar azm dan Ib nu Sinaberasal dari daerah Bukhara. Pada masa mereka lahir, wilayah ini termasuk dalam kekuasaan Keka isa ran Samaniyah ya ng berbangsa Iran, tetapi beribukota di Asia Tengah – ketika Ibnu Sina lahir, ibukotanya di Bukhara. Pada Al-Biruni lahir sekitar tahun 973 M, masa itu, mayoritas Bangsa Iran sementara Ibnu Sina lahir di 980 masih menganut akidah Ahlus

2016/1/8

BULJUM KMIS

1


Sunnah wal Jamaah, dan mengakui lain. Ketika Al-Biruni tinggal di kekhalifan Bani Abbasiyah yang Bukhara, dia sering bertukar berpusat di Baghdad. pikiran dengan Ibnu Sina mengenai berbagai hal. Astronomi termasuk Al-Biruni dan Ibnu Sina dikenal di dalam bidang yang sama-sama sebagai dua di antara ilmuwan ditekuni oleh mereka berdua. terbesar di Zaman Abbasiyah. Akan tetapi, berbeda dengan Di bidang astronomi, Al-Biruni berbagai ilmuwan di abad menurunkan berbagai rumus sebelumnya, mereka tidak pernah matematis yang memungkinkan melakukan riset di Baghdad. Sejak penggunaan astrolab (peta langit) zaman dahulu, Bukhara termasuk untuk berbagai keperluan, sebuah pusat ilmu pengetahuan di termasuk di antaranya daerah Asia Tengah – ahli hadits perhitungan posisi (lintang, bujur paling terkenal dalam Islam dan ketinggian), perhitungan berasal dari daerah ini. Di masa waktu (termasuk waktu sholat), pemerintahan Kekaisaran perhitungan arah (termasuk Samaniyah, posisi Bukhara sebagai kiblat). Ibnu Sina menunjukkan pusat ilmu pengetahuan semakin bahwa bintang-bintang meningkat dan bahkan bisa menghasilkan cahaya sendiri dan dibilang menyaingi Baghdad. Ibnu bukan, sebagaimana bulan, Sina berasal dari Bukhara, memantulkan cahaya matahari. sementara Al-Biruni di masa mudanya pun pernah tinggal di Penguasa Ghazni, Sultan Mahmud Bukhara (sekitar tahun 995 - 998 bin Sebuktegin (‫)محمود بن سبکتگین‬, M) dan menekuni berbagai bidang mengundang berbagai ilmuwan ilmu. Al-Biruni termasuk ilmuwan dari berbagai daerah yang terpenting di bidang antropologi. ditaklukannya untuk melanjutkan Selain itu, bidang keahlian Al- pendalaman ilmu di Ghazni. AlBiruni mencakup ilmu fiqh, Biruni menyambut undangan ini, matematika, geodesi, dan lain-lain. sementara Ibnu Sina menolak dan Ibnu Sina termasuk ilmuwan melanjutkan sisa hidupnya terpenting di bidang kedokteran mengembara menuntut dan dan filsafat. Selain itu, bidang mengajarkan ilmu ke berbagai keahlian Ibnu Sina mencakup tempat di utara Iran. Quran-hadits, geografi, dan lain-

2016/1/8

BULJUM KMIS

2


Berbeda dengan dinasti penguasa Samaniyah yang berbangsa Iran, dinasti penguasa Ghazni berasal dari Bangsa Turk. Meskipun begitu, mereka banyak mengambil kebiasaan Bangsa Iran, termasuk kebiasaan lama Kekaisaran Persia dalam mempelajari astrologi. Penguasa-penguasa Ghazni pun banyak memerintahkan para ilmuwan untuk mempelajari astrologi.

ini sangat sulit diteliti secara ilmiah, dan kemampuan untuk mengaitkan, misalnya, bintang apa memiliki efek cuaca di daerah mana tidak dimiliki manusia saat itu. Di masa modern, astronom bisa melihat bagaimana efek gravitasi planet-planet menyebabkan pergeseran perihelion bumi yang, dalam jangka waktu sangat panjang, bisa mengakibatkan perubahan jadwal musim, tetapi secara umum efek Ilmu ramalan, termasuk astrologi, benda-benda langit (selain tentunya dilarang dalam Islam. Di matahari dan bulan, yang telah dalam beberapa hadits dikatakan: dipahami manusia dari zaman prasejarah) sangat kecil. “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya Sementara itu, Al-Biruni menjadi selama 40 hari tidak diterima.” ilmuwan kenegaraan di Ghazni dan [HR. Muslim no. 2230] bahkan menulis sebuah buku yang terkenal berjudul “Pengenalan “Barangsiapa yang mendatangi Astrologi (Kitab at-Tafhim lil Awa’il dukun atau tukang ramal, lalu ia Sina’at at-Tanjim)” dalam Bahasa membenarkannya, maka ia berarti Arab. Meskipun sepintas ini telah kufur pada Al Qur’an yang t e r l i h a t s e b a g a i d u k u n g a n telah diturunkan pada terhadap astrologi, sejarawan Muhammad.” [HR. Ahmad no. berpendapat bahwa buku ini lebih 9532] bersifat sebagai hujatan terselubung terhadap astrologi. AlMengenai ilmu astrologi, sebagai Biruni menulis buku ini karena astronom, Ibnu Sina tidak perintah penguasa, tetapi buku ini menafikan bahwa ada sebagian besar berisi mengenai kemungkinan benda-benda langit pengenalan matematika dan memiliki peran terhadap astronomi, dan astrologi hanya kehidupan di bumi. Tetapi, peran menjadi selipan, dengan kurang

2016/1/8

BULJUM KMIS

3


dari 20% buku ini membahas astrologi. Dalam pembahasan yang pendek itu, Al-Biruni juga sangat hati-hati untuk hanya mengutip apa yang dikatakan para astrolog dan menuliskan itu sebagai kutipan. Di tengah-tengah itu, AlBiruni juga menjelaskan pendapat pribadinya mengenai astrologi (terjemahan penulis, dari teks terjemahan Bahasa Inggris).

dalam ilmu eksak, tetapi keyakinan saya dalam hasil-hasilnya dan para pelakunya sangat lemah. Dan di sini, astrologi melampaui batasbatasnya dan mengatakan hal yang ia tidak bisa memiliki pengetahuan tentangnya, karena ia mencoba mengatakan hal-hal yang terlalu rinci. Karena itu, ia melanggar azas-azas yang telah dijelaskan (mengenai ilmu eksak) dan menjadi sekadar ramalan.”

“Banyak orang berpendapat bahwa efek dari bintang termasuk

Penulis: Hafiyan

Kolom Ekonomi Syari’ah Untuk bisa mengerti konsep ekonomi Islam, mungkin cara terbaik untuk memulainya adalah dengan mengetahui perspektif Islam terhadap segala apa yang ada di alam semesta. Allah berfirman:

dalamnya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS. Al-Ma’idah: 120]

Kita manusia hanya sebatas pihak yang dititipkan. Walaupun di dunia kita terlihat memiliki harta dan sebagainya, namun sejatinya semua itu adalah milik Allah yang ‫السامو هات َوا َأل ه‬ ُ ‫ ه هلِل ُم‬dititipkan sementara kepada kita. ‫رض َوما ف ههي َّن ۚ َوه َُو‬ َّ ‫كل‬ karena itu, sedianya kita ingat ‫ عَ ٰىل ُ ه ل‬Oleh ‫ك ََش ٍء قَدير‬ bahwa semua kegiatan ekonomi dan finansial di hidup kita juga “Milik Allah kerajaan langit serta harus dikembalikan ke prinsip bumi dan apa yang ada di utama ini.

Buletin ini diterbitkan oleh: Keluarga Muslim Indonesia di Sendai, Jepang http://kmi-s.ppisendai.org/

Buletin Jum'at KMI-S Edisi 8 Januari 2016  
Buletin Jum'at KMI-S Edisi 8 Januari 2016  
Advertisement