Issuu on Google+

Langkah Pintar Mengutip Zulisih Maryani A. Pengertian Kutipan Dalam penulisan ilmiah seringkali dipergunakan kutipan-kutipan untuk menegaskan isi uraian atau untuk membuktikan apa yang dikatakan. Akan tetapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kutipan? Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari penulis lain, atau ucapan seseorang yang terkenal. Jadi, pengutipan dapat dianggap sebagai bentuk lain pengacuan yang dilakukan untuk menunjuk argumen dengan langsung menyajikan bukti hakiki yang dinyatakan orang lain. Walaupun kutipan itu diperkenankan, tidaklah berarti bahwa sebuah tulisan seluruhnya dapat terdiri atas kutipan. Penulis harus bisa menahan diri untuk tidak terlalu banyak mempergunakan kutipan agar karangannya tidak dianggap sebagai himpunan dari berbagai macam pendapat. Kutipan hanya berfungsi sebagai bahan bukti untuk menunjang pendapat penulis, sedangkan garis besar kerangka tulisan dan kesimpulan merupakan pendapat penulis sendiri. B. Prinsip Mengutip 1. Mengutip sehemat-hematnya Tulisan bukanlah kumpulan dari kutipan-kutipan mentah, melainkan suatu karya kreatif yang memadukan apa yang oleh penulisnya didengar, dilihat, dibaca, ditelaah, dan didiskusikan menjadi suatu bangunan yang sama sekali baru. Menulis yang baik sukar diselesaikan jika taraf kemampuan penulisnya belum melebihi taraf membuat catatan-catatan dan mengumpulkan kutipan-kutipan. Itulah sebabnya, walaupun kutipan tidak dihindari dalam menulis, mengutip selalu dilakukan dengan sehemat-hematnya. 2. Mengutip jika dirasa sangat perlu semata-mata Ide, pendapat, atau kesimpulan orang lain dapat juga dikemukakan kembali tanpa mengutip seluruh kata yang digunakan. Parafrase adalah tidak lain dari mengutip ide, pendapat, atau kesimpulan orang lain tidak menurut kata-katanya, melainkan menurut pokok-pokok pikiran atau semangatnya. Ide, pendapat, atau kesimpulan itu kemudian diungkapkan kembali menurut jalan pikiran pengutip, dengan kata-katanya sendiri, dan dalam bahasa yang biasa digunakan oleh pengutip. Oleh sebab itu, mengutip kata demi kata tidak sering dilakukan dan hanya dilakukan jika dirasa sangat perlu semata-mata, yaitu jika dengan kata-kata atau bahasa sendiri justru oleh pengutip dikhawatirkan semangat dan kekuatan dari ide, pendapat, atau kesimpulan itu menjadi kurang dapat diungkapkan sebagaimana mestinya. 3. Terlalu banyak mengutip akan mengganggu kelancaran bahasa Kutipan yang terlalu banyak akan mengakibatkan kurang lancarnya uraian. Hal semacam ini akan segera dirasakan oleh pembaca yang kritis, yang ibaratnya penumpang mobil yang sensitif, yang segera merasa tidak enak ketika melewati jalan yang sebentar-sebentar berganti antara jalan yang beraspal yang lancar dan tidak bersuara dengan jalan kerikil yang bergelombang dan berisik. C. Di Mana Kutipan Ditempatkan 1. Kutipan akan dijumpai paling banyak dalam bagian pokok atau bagian teks yang membahas landasan teori. Pada bagian ini diuraikan teori-teori yang relevan, dianalisis, dibandingkan, dan kemungkinan dibangun teori baru.


2. Bagian penyajian juga banyak mengutip karena mungkin perlu dikemukakan sumber-sumber otentik dari data yang disajikan. 3. Dalam lampiran mungkin juga disertakan kutipan, misalnya anggaran dasar suatu organisasi dan peraturan tata tertib suatu lembaga. 4. Catatan kaki kadang-kadang juga diisi dengan kutipan dengan maksud lintas bacaan yang agak lengkap, dan bahan itu dipandang tidak pada tempatnya jika disajikan dalam teks. Perlu diperhatikan bahwa sama sekali tidak lazim mengutip dalam bagian pendahuluan atau dalam bagian kesimpulan dan saran. D. Jenis Kutipan 1. Kutipan Langsung Kutipan langsung adalah kutipan yang persis seperti kata-kata yang digunakan dalam bahan asli. a. Kutipan langsung pendek Kutipan langsung dinyatakan sebagai kutipan langsung pendek jika tidak melebihi empat baris ketikan. Kutipan semacam itu cukup dijalin ke dalam teks dengan memberikan tanda kutip atau tanda petik di antara bahan yang dikutip. Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas (dengan catatan kaki) atau dalam kurung ditempatkan nama keluarga atau nama akhir penulis, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu (dengan catatan perut). b. Kutipan langsung panjang Kutipan langsung yang lebih dari empat baris ketikan disebut disebut kutipan langsung panjang. Kutipan semacam ini tidak dijalin dalam teks, tetapi ditempatkan dalam alinea baru yang berdiri sendiri dan diketik dengan jarak baris satu spasi pada garis tepi baru. Indentasi dari kalimat pertama adalah tujuh ketukan dari garis tepi yang asli atau tiga ketukan dari garis tepi baru. Kutipan langsung panjang tidak ditulis di antara tanda petik. Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas (dengan catatan kaki) atau dalam kurung ditempatkan nama keluarga atau nama akhir penulis, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu (dengan catatan perut). Kutipan langsung tak dapat dihindari dalam hal-hal sebagai berikut: 1) untuk mengutip rumus-rumus; 2) untuk mengutip peraturan-peraturan hukum, perintah-perintah, anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; 3) untuk mengutip peribahasa, sanjak, dan karya drama; 4) untuk mengutip beberapa landasan pikiran yang sudah dinyatakan dalam kata-kata yang sudah pasti; 5) untuk mengutip beberapa pernyataan ilmiah yang jika dinyatakan dalam bentuk lain dikhawatirkan kehilangan kekuatannya. Pembetulan terhadap kesalahan dalam kutipan langsung dibolehkan sejauh tidak mengubah kata, bilangan, dan tanda-tanda dalam teks asli. Pembetulan dapat disisipkan langsung di belakang kata yang dibetulkan, di antara tanda kurung persegi []. Pembetulan yang sering dilakukan ialah penyesuaian ejaan sehingga pembaca sekarang dapat membaca teks lama dengan mudah. Cara membetulkan dapat dilakukan dengan tiga macam: (1) dengan


menyisipkan kata sic yang artinya �begitu�; (2) langsung memberikan pembetulan di belakang kata yang salah; dan (3) mengadakan pembetulan dengan sedikit ulasan. Jika sudah dipilih salah satu cara pembetulan, cara itulah yang digunakan secara mantap di seluruh teks. Pembuangan bagian kalimat, atau penghilangan kalimat dari suatu paragraf dilakukan dengan tanda elipsis. Jika dari bagian yang dikutip ada bagian kalimat yang dihilangkan, penulisan bagian itu diganti dengan tiga buah titik. Jika unsur yang dihilangkan itu terdapat pada akhir sebuah kalimat, ketiga titik itu ditambahkan sesudah titik yang mengakhiri kalimat itu. Jika bagian yang dihilangkan itu kalimat atau baris, kalimat atau baris yang dihilangkan itu diganti dengan titik-titik sepanjang satu baris. Untuk kutipan sanjak, pencantuman nama pengarang dan judul karyanya langsung di bagian bawah kanan blok kutipan merupakan pola yang sudah dibakukan. Ucapan-ucapan seperti kuliah, pidato, pembicaraan, dan wawancara, sebelum dikutip harus terlebih dahulu dicek kepada yang bersangkutan untuk memastikan keabsahannya. Pencantuman sumber dari kutipan ucapan dapat diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung. 2. Kutipan Tidak Langsung/Parafrase Kutipan ini merupakan kutipan tidak menurut kata-kata, tetapi menurut pokok pikiran, yang dinyatakan dalam kata-kata dan bahasa sendiri. Walaupun yang kita kutip ditulis dalam bahasa Inggris, misalnya, parafrasenya dituliskan dalam bahasa Indonesia sebab bahasa Indonesia merupakan standar karya tulis ilmiah di negara kita. Untuk membuat kutipan tidak langsung, kutipan itu dijalin dalam teks, kutipan tidak diapit dengan tanda kutip. Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas (dengan catatan kaki) atau dalam kurung ditempatkan nama keluarga atau nama akhir penulis, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu (dengan catatan perut). Jenis kutipan tidak langsung/parafrase: a. Parafrase panjang Parafrase panjang adalah kutipan tidak langsung yang melebihi satu alinea. b. Parafrase pendek Parafrase yang terdiri atas satu alinea disebut parafrase pendek. Jika akan memparafrase, satu alinea penuh disediakan semata-mata untuk parafrase, tidak dicampur dengan pendapat sendiri. Akan lebih baik jika parafrase dalam alinea itu hanya berasal dari satu sumber, walaupun dalam alinea-alinea pendek. E. Tanggung Jawab Pengutip Pengutip bertanggung jawab penuh akan ketepatan dan ketelitian kutipannya. Terutama dalam kutipan tidak langsung atau parafrase, unsur ketepatan harus dijamin dari kepahaman pengutip terhadap pokok-pokok pikiran dalam bahan yang dikutip. Adalah lebih baik sama sekali tidak mengutip daripada mengutip sesuatu yang kurang dipahami. Dalam kutipan langsung, unsur ketelitian harus ditekankan. Nama sumber dari bahan yang dikutip sama sekali tidak boleh salah eja. Demikian juga dengan pernyataan kutipan: ejaan, tandatanda tulis, kapitalisasi, pendeknya segala sesuatunya, kecuali beberapa penyimpangan seperti dibicarakan di depan, harus menunjukkan ketelitian yang setinggi-tingginya. Satu segi tanggung jawab lain selain ketepatan dan ketelitian adalah penerimaan atau penolakan pengutip terhadap bahan yang dikutip. Jika tidak ada ulasan apa pun dari pengutip, pengutip dianggap menyetujui penuh apa saja yang telah dikutipnya. Apabila bahan-bahan yang dikutip disajikan sebagai bahan untuk diperbandingkan dengan bahan lain, harus ada kesimpulan


dari perbandingan itu. Pendirian pengutip akan terlihat dari kesimpulan itu. Apabila pengutip menolak suatu pendapat, dia wajib mengemukakan alasan daripada penolakannya. Ulasan dapat juga diberikan untuk menyetujui suatu pendapat yang dikutip. F. Contoh Penulisan Sumber Kutipan (dengan Catatan Perut) Penulisan sumber kutipan ada beberapa kemungkinan seperti berikut. 1. Jika sumber kutipan ditulis mendahului kutipan, cara penulisannya ialah nama keluarga atau nama akhir penulis diikuti dengan tahun penerbitan dan nomor halaman yang dikutip yang keduanya diletakkan di dalam kurung. Contoh: Sebagaimana dikemukakan oleh Stenberg (1984:41) bahwa ”In Piaget’s theory, children’s intellectual functioning is represented in terms of symbolic logic.” 2. Jika sumber kutipan ditulis setelah kutipan, nama keluarga atau nama akhir penulis, tahun penerbitan, dan nomor halaman yang dikutip diletakkan di dalam kurung. Contoh: “The personality pattern is inwardly determined by and closely associated with the maturation of the physical and mental characteristics which constitute the individual’s hereditary endowment” (Hurlock, 1979, 1979:19). 3. Jika sumber kutipan merujuk sumber lain atas bagian yang dikutip, sumber kutipan yang ditulis tetap sumber kutipan yang digunakan oleh pengutip, tetapi dengan menyebutkan siapa yang mengemukakan pendapat tersebut. Contoh: Chomsky (Yelon&Weinstein, 1977:62) mengemukakan bahwa “…children are born with innate understanding of the structure of language.” 4. Jika penulis terdiri atas dua orang, nama keluarga atau nama akhir kedua penulis tersebut harus disebutkan. Misalnya, Sharp&Green (1976:1). Kalau penulisnya lebih dari dua orang, yang disebutkan adalah nama keluarga atau nama akhir dari penulis pertama dan diikuti oleh singkatan dkk. (dan kawan-kawan) atau dengan singkatan universal et al. (berasal dari perkataan Latin et alii atau et aliae yang berarti ’dan orang-orang lain’). Contoh: McClelland et al. (1960:35) 5. Jika masalah yang dikutip dibahas oleh beberapa orang dalam sumber berbeda, cara penulisan sumber kutipan itu adalah dengan menuliskan nama keluarga atau nama akhir tiap penulis yang diikuti koma kemudian tahun terbit dari sumber yang bersangkutan. Untuk memisahkan antara sumber yang satu dan yang lain ditandai dengan tanda titik koma. Keseluruhan sumber diletakkan dalam tanda kurung yang sama. 6. Jika sumber kutipan adalah beberapa karya tulis dari penulis yang sama, cara penulisannya dengan menambah huruf a, b, dan seterusnya pada tahun penerbitan. Contoh: Kemampuan berbahasa seseorang dapat diukur dari pemerolehan TOEFL-nya” (Alwasilah, 1991a) dan ”tindak berbahasa yang ditunjukkannya sebagai communicative competence-nya (Alwasilah, 1991b).


7. Jika yang diutarakan adalah pokok-pokok pikiran seorang penulis, tidak perlu ada kutipan langsung, cukup dengan menyebutkan sumbernya.


Langkah Pintar Mengutip