Issuu on Google+

www.millemama.com

Edisi 01 – Februari 2013 Terbitan bulanan

Millemama Jendela Komunikasi Millenium Mama yang Peduli dengan Ruang Bermain layak layak Anak

10 ALASAN PENTINGNYA BERMAIN di Luar Rumah

BERMAIN di Luar Ruangan secara PSIKOLOGIS

Tips AMAN BERMAIN di Musim HUJAN

Inspirasi Inspirasi BEKAL PIKNIK Bersama si Kecil PELAJARAN BERMAIN sebagai Orang Tua


• dari dari Millemama • HALO Millemamas Millemamas ! Buletin Millemama hadir untuk menyambung silaturahmi antara mama-mama di era millennium yang peduli dengan keberadaan ruang bermain non komersil layak untuk anak di lingkungan perkotaan. Di edisi perdana ini, Millemama ingin berbagi informasi mengenai pentingnya kesempatan anak untuk bermain di ruang terbuka untuk mendukung tumbuh kembang fisik dan mental yang optimal. Millemama juga ingin berbagi sejumlah tips bagi para mama yang ingin menikmati indahnya ruang terbuka hijau bersama si kecil di sela-sela kesibukan rumah tangga atau urusan kantor yang menggunung. Bagi para mama yang tertarik untuk berbagi cerita dan pengetahuannya dengan millennium mama lainnya, silakan menghubungi kami ya! Akhir kata, selamat membaca! Salam hangat,

Majalah Millemama

1


• Kata Kata editor • nak saya yang berumur tiga tahun luar biasa senangnya jika diajak bermain keluar rumah. Banyak hal yang biasa saja buat saya, menjadi luar biasa buat dia. Sekadar kucing liar yang mengeong, rumput basah, bahkan bunyi gemerisik daun ditiup angin menjadi hal yang amat sangat menarik buat dia. Namun seribu alasan dalam pikiran saya untuk malas mengajaknya keluar rumah. Debu dan polusi yang membuat batuk, banyaknya kendaraan bermotor lalu-lalang yang membuat saya khawatir atas keselamatan dia (dan saya!), kerepotan, kebosanan, lalu lanjut ke keluhan atas kurangnya tempat bermain di luar ruangan untuk anak. Tentunya yang aman, nyaman dan tidak mahal!

Akhirnya sudah dapat diduga saya pun ambil jalan pintas, ajak saja anak bermain di mall sekalian berbelanja mingguan. Anak main di playground komersil ditunggui ayahnya dan saya bisa berbelanja dengan tenang. Satu kayuh, dua tiga pulau terlampaui! Sementara itu, sehari-hari juga saya malas mengajak anak bermain di luar rumah karena kelelahan yang luar biasa dengan beragam aktivitas dan pekerjaan rumah tangga. Maka dari itu saya seringkali mengizinkan anak untuk menghabiskan sebagian besar waktunya dengan asuhan media elektronik: TV, DVD, laptop, tablet, bahkan hp saya pun bisa alih fungsi jadi babysitter nya! Terus terang saya tidak akan menyalahkan diri sendiri atau bendabenda elektronik tersebut. Tetapi bayangkan tempat bermain yang hijau dan luas serta dilengkapi berbagai mainan yang merangsang perkembangannya. Surga bermain anak-anak! Dan saya pun

ingin melepaskan diri dari kemalasan mengajak anak bermain di luar rumah serta dari ketergantungan terhadap benda-benda elektronik tersebut. Saya punya harapan dan ternyata saya tidak sendirian. Kawan saya ternyata punya mimpi yang lebih besar untuk mewujudkan harapan ini. Dan Millemama pun lahir karena mimpi. Senang sekali akhirnya Millemama dapat mengeluarkan terbitan perdana untuk berbagi suka duka, tips, informasi serta ilmu dari para pakar mengenai pentingnya bermain di luar ruangan yang alami bagi anak. Sekali lagi, bagi mama yang ingin berbagi informasi, cerita, komentar, dan saran dapat menghubungi alamat email kami.

Selamat membaca! Sri Rezeki Maretini Millemama.news@gmail.com

Majalah Millemama

2


edisi kali ini No. 01 / Februari 2013

Millemama www.millemama.com Millemama Indonesia

1 2 3

Kata Millemama

4 5 6

Pesan Anda

@Millemama_INA

Kata Editor Daftar Isi Redaksi Anda dan Millemama Profil Millemama

Artikel

12

Cerita Ringan Pelajaran Bermain Sebagai Orang Tua

14

Psikologi Pentingnya Bermain di Luar Ruangan dari Sudut Pandang Psikologi

18

Inspirasi bekal piknik Simple Sleeping Bag Bento

19

Kesehatan Tips Bermain Aman di Musim

Hujan

21

Ruang Terbuka Hijau Siaga Bencana dengan Ruang Terbuka Hijau

24

Pemimpin redaksi Riela Provi Driandra Editor Sri Rezeki Maretini Art director Nico Prananta ARTIKEL Kolom cerita ringan Febty Febriani Kolom psikologi Agnes Mari Sumargi Kolom piknik & boga Riela Provi Diandra Kolom kesehatan Dr. Mulki Angel Kolom ruang terbuka hijau & bencana Risye Dwiyani Kolom topik hangat & ulasan taman Sri Rezeki Sirkulasi & distribusi Annisa Dewi Dea Paramita Fani Deviana Lativa Sovianavratilova Lyly Freshty Mia Mulyawati Sarityastuti Santi Saraswati Kontak Redaksi, Kerjasama, Sirkulasi, Iklan Millemama.news@gmail.com Millemama@ymail.com

Topik Hangat 10 Alasan Pentingnya Bermain di Luar Ruangan

25

Ulasan Taman Kita Taman Perrin Idola Kami

Majalah Millemama

3


• Pesan Anda • Halo teman2 yang kreatif… Salut banget nih dengan ide dan kegiatan kalian, doa aku semoga pilot project-nya dapat terwujud dalam waktu dekat. Aku mau sedikit memberi usul untuk pendanaan nih, gimana kalau kalian posting pilot project itu dalam website ini: http://wujudkan.com/ . Tampaknya cukup menjanjikan juga kemungkinan mendapatkan dananya Selain itu mungkin bisa menggunakan koneksi kalian ke komunitas2 Indonesia di luar negeri. Siapa tau ada yang tertarik dengan proyek kalian dan mau menjadi donatur Sukses terus ya… Sofi, via website Millemama

wah salut, luar biasa! semoga menginspirasi banyak orang dan inshaAllah bermanfaat banget. terus berjuang dan semangat ya. Diding Sakri, via website Millemama

Wah luar biasa sekali.. Semoga sukses dan terwujud. InsyaAllah kontributif! Galuh Syahbana, via website Millemama

Proud of U @Millemama_INA, TOP 20 seleksi CommunityEnterprise dr British Council. Terus wujudkan ruang hijau nonkomersial yg layak tuk anak. Lyly, via twitter

@Millemama_INA keren! Darko Milicic @nabun, via twitter

let's facilitate our children to live and learn with nature! Delik Hudalah, via twitter

Dear @Millemama_INA, aku mau berpartisipasi dlm Laba-laba Millemama, bagaimana mekanisme pengambilan/pengantaran barangnya? Linda Ayu Kristiani, via twitter

Kirimkan pesan Anda kepada millemama.news@gmail.com atau twitter @Millemama_INA

Majalah Millemama

4


• Anda Anda & Millemama • INGIN BERPARTISIPASI pada kegiatan Millemama? Banyak caranya: 1. Ikut berperan pada kegiatan LABALABA Millemama. Menyumbang barang-barang layak pakai untuk diperjual-belikan kembali dan sebagian dari hasil penjualannya akan disumbangkan untuk kegiatan Millemama.

3. Apapun profesi Anda, sumbangkan tulisan Anda berkaitan dengan tempat bermain alami (taman umum, hutan raya, lokasi wisata) di Indonesia. Jika tulisan Anda lolos saringan, maka akan diikutkan pada edisi Majalah Millemama berikutnya.

2. Follow twitter @Millemama_INA dan berikan komentar Anda sehubungan dengan Millemama dan berbagi informasi tentang aktivitas di luar rumah dan untuk pengembangan taman bermain alami yang lebih baik.

Sumbangan tulisan, komentar, saran, kritik, informasi, kerjasama dan surat pembaca dapat dikirimkan ke alamat email millemama.news@gmail.com Untuk informasi lebih lanjut dapat membuka website Millemama di www.millemama.com

Majalah Millemama

5


• Profil Profil •

Sejarah Millemama dibentuk pada 5 Mei 2012 oleh sembilan ibu muda yang pernah sama-sama kuliah di Teknik Planologi, Institut Teknologi Bandung angkatan 2000. Menjadi seorang ibu membuka mata Millemama mengenai pentingnya aktivitas bermain bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak-anak. Seiring dengan kesibukan mengasuh buah hati serta

mengurus rumah tangga, Millemama pun menyadari keterbatasan akses anak-anak terhadap ruang bermain non-komersial yang layak anak di kotakota besar di Indonesia. Berangkat dari hal tersebut, Millemama tertarik untuk memberikan kontribusi lebih lanjut bagi peningkatan akses ruang bermain terbuka non-komersial bagi anak-anak yang hidup di perkotaan.

Penggerak Millemama Founder, Coordinator – Riela Provi Driandra Pengalaman melahirkan dan membesarkan kedua putranya saat sedang studi pasca sarjana di negeri Sakura membuat Riela semakin menyadari pentingnya sebuah kota dengan sejumlah ruang publik yang aman dan nyaman bagi anak dan para ibu. Berbekal pengetahuan dan pengalamannya terlibat dalam sejumlah kegiatan komunitas untuk menciptakan ruang kota yang aman dan nyaman bagi anak di lingkungan Asia-Pasifik, dia pun mengajak para sahabatnya saat kuliah di ITB untuk membentuk komunitas ibu muda yang peduli terhadap ruang anak yang layak khususnya di kota-kota besar Indonesia, yang dinamakan Millemama. Melalui Millemama, Riela berharap bisa melihat anak-anak Indonesia, tanpa perduli status sosial dan ekonominya, dapat bermain bebas di lingkungan alam

Majalah Millemama

6


maupun buatan meskipun mereka hidup di tengah-tengah kota besar. Setelah lulus dari program doktor Universitas Chiba-Jepang, dia melanjutkan kegiatan penelitiannya mengenai kota yang dapat mendukung pergerakan mandiri anak-anak di dalamnya serta karakteristik ruang bermain yang aman dan nyaman untuk anak di universitas yang sama. Anissa Dewi Wahana bermain merupakan komponen penting dalam membantu perkembangan kreativitas anak. Sebagai seorang ibu yang juga sedang merangkap peran sebagai mahasiswi di University of Auckland, program studi Development Studies, Anissa menyadari betul perlunya penyediaan taman bermain yang dapat mengasah keterampilan, keaktifan dan keriangan anak saat bermain. Selama beberapa bulan tinggal di negeri Kiwi, Anissa merasa beruntung karena putrinya dapat bermain sepuasnya di playground yang tersebar gratis di hampir setiap taman kota. Disamping sebagai tempat bermain bagi anak, playground di Auckland juga digunakan sebagai sarana bertemu para ibu, dan juga tempat belajar bagi mahasiswa sepertinya. Ajakan teman-teman di komunitas Millemama membuat Anissa tergerak untuk dapat membantu mewujudkan gerakan peduli pentingnya taman bermain di Indonesia khususnya (untuk saat ini) di daerah perkotaan. Dengan bergabung dalam komunitas ini, Anissa berharap dapat turut berkontribusi dalam pilot project penyediaan ruang bermain anak yang dapat dinikmati anak-anak dari segala kalangan. Dengan latar belakang pekerjaan di bidang kebijakan inovasi teknologi, Anissa berharap dapat membantu memberi ide dan masukan mengenai wahana ruang dan alat bermain anak yang inovatif, aman sekaligus merangsang kreativitas anak. Dea Paramita Kecintaannya pada dunia anak diwujudkan dengan partisipasinya menjadi asisten pengajar di dua sekolah dasar dan menengah di Canberra, Australia pada tahun 2008 hingga 2009. Berlatar belakang pendidikan Teknik Planologi di ITB, ia melihat Canberra sebagai ibu kota Australia memiliki tata ruang yang sangat terencana dan terimplementasikan dengan baik. Hal ini terlihat salah satunya pada pemenuhan kebutuhan ruang bermain, yang sangat mudah ditemukan di lingkungan perumahan. Kenyataan yang bertolak belakang terjadi di kota besar Indonesia pada umumnya. Namun dirinya tetap optimis akan perbaikan di masa depan. Melalui Millemama, dirinya berharap inisiatif terbentuknya komunitas ini akan membawa angin segar bagi pemenuhan ruang bermain anak-anak khususnya di daerah perkotaan. Salah satu yang disukainya di waktu senggang adalah menulis. Pengalaman menyelesaikan studi sekaligus melahirkan anak pertamanya di benua kangguru dituangkannya dalam buku Antologi: Suka Duka Hidup di Australia, yang diterbitkan oleh Forum Lingkar

Majalah Millemama

7


Pena Australia tahun 2011. Setelah memperoleh gelar Master of Environmental Management and Development dari The Australian National University pada tahun 2010, saat ini ia bekerja pada konsultan yang bergerak di bidang kebijakan publik di Jakarta. Fani Deviana Terinpirasi dari film favorit putri semata wayangnya “Barney�, Fani berkeinginan untuk dapat menyediakan ruang bermain yang children friendly. Ia berharap banyak tersedia ruang bermain dimana anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara alami sesuai dengan fitrahnya terutama di lingkungan tempat tinggal atau skala perumahan. Mengapa? Menurut Fani, terutama karena sarana prasarana dengan skala kecil tersebut jarang terjamah oleh program pemerintah kota atau daerah. Sementara itu, kenyataan yang ada adalah waktu yang dihabiskan anak-anak sebagian besar yaitu berada di lingkungan tempat tinggalnya. Fani juga pernah terlibat dalam Yayasan Anak Jalanan di daerah Dago Bandung, di mana sebagian besar mereka berada pada usia produktif untuk belajar dan bermain. Kerasnya kehidupan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang keras. Akan tetapi hal itu sangat berbeda ketika melihat mereka menyalurkan karakternya dengan memanfaatkan fasilitas ruang bermain, salah satunya bermusik. Sayangnya, fasilitas tersebut hanya dapat mereka nikmati dari donasi, tanpa itu akses mereka minim terhadap pemenuhan ruang bermain yang dapat menunjang perkembangan mereka. Berbekal pendidikan yang diperolehnya di Teknik Planologi ITB serta bekerja sebagai peneliti dalam lingkup perumahan dan lingkungan, Fani bergabung dengan Millemama agar dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyediaan ruang bermain anak yang children friendly dan accessible. Lativa Sovianavratilova Sebagai ibu dari dua orang anak, Lativa menyadari bahwa kebutuhan utama anak adalah bermain. Ini disadarinya dari kedua putrinya yang tidak pernah berhenti bermain setiap saat, setiap waktu. Namun ia menyadari bahwa dari bermain itulah anak-anak mempelajari berbagai hal: kemampuan bersosialisasi, komunikasi dan life skill lainnya yang sangat mereka butuhkan. Oleh karena itulah ketersediaan ruang bermain menjadi sangat penting, karena anak membutuhkan ruang yang cukup dan ideal agar kebutuhan bermainnya terpenuhi. Melalui Millemama ia ingin berkontribusi untuk mewujudkan ketersediaan ruang bermain anak-anak. Hal ini diwujudkan melalui kerjasama dengan institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan dan terutama dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan orangtua, khususnya ibu, mengenai pola pengasuhan dan pendidikan anak yang sesuai dengan fitrah dan kebutuhan anak. Lativa memperoleh gelar sarjana dan magister dari Teknik Planologi ITB. Di sela-sela waktunya menemani

Majalah Millemama

8


putri-putrinya bermain, Lativa bekerja di Pusat Komunikasi Publik, Kementerian Pekerjaan Umum. Lyly Freshty Bagi Lyly, menjadi ibu rumah tangga berarti memiliki kuantitas waktu bermain yang lebih panjang bersama anak. Menjelajahi ruang bermain di setiap sudut kota sudah menjadi bagian dari rutinitasnya sehari – hari. Apalagi sejak memilih metode homeschooling untuk pendidikan anaknya, maka sebisa mungkin ia menjadikan outdoor life sebagai kegiatan utama pada masa prasekolah. Lyly yang pernah merasakan bagaimana hidup di pedesaan, menghabiskan sebagian besar masa kecilnya dengan bermain di alam. Sayangnya, anaknya yang tumbuh di kota Surabaya itu tak memiliki pengalaman serupa karena cepatnya laju pembangunan kota. Ruang terbuka (hijau) walau selalu diminati adalah barang langka di suatu kota. Betonisasi ruang terbuka ini bahkan sampai ke area bermain anak sehingga membuatnya menjadi artifisial dan tidak alami lagi. Bersama Millemama, teman-temannya sesama alumni sarjana Planologi ITB, Lyly ingin membangun kepedulian kita semua terhadap pentingnya keberadaan ruang bermain yang luas dan layak untuk tumbuh kembang anak yang sehat. Mia Mulyawati Mia adalah orang pertama di Jurusan Planologi ITB angkatan 2000 yang menikah dan memiliki anak di usia 20 tahun. Saat ini Mia menjalani karir sebagai ibu rumah tangga dan mengelola usaha sampingan yang tidak terlalu menyita waktu. Mia sangat peduli terhadap kebutuhan playground bagi anak-anak. Hal ini ia rasakan sendiri karena kurangnya penyediaan playground di lingkungan sekitar rumahnya. Sewaktu anaknya masih kecil, ia kesulitan mencari playground di sekitar rumah dan akhirnya harus pergi ke mal yang notabene harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Padahal jika tersedia ruang bermain di lingkungan rumahnya, maka anaknya dapat bermain di sana setiap hari dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Dengan adanya komunitas ini, Mia berharap dapat berkontribusi menyediakan playground bagi anak-anak, dimulai dari playground sederhana dan dapat digunakan oleh siapa saja, sehingga kita bisa melihat keceriaan anak-anak bermain di tempat tersebut. Sarityastuti Santi Saraswati Setelah menjalani masa kuliah di Planologi ITB, minatnya semakin tumbuh terhadap isu-isu perencanaan kota, khususnya perencanaan infrastruktur dan lingkungan hidup perkotaan. Hal inilah yang yang kemudian mendorongnya untuk melanjutkan

Majalah Millemama

9


studi MSc Urban Environmental Management di Wageningen University, Belanda. Saat ini Sari bekerja sebagai perencana sarana dan prasarana kota di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Menjadi seorang ibu dari Farand Mekka Arashya kemudian membuka matanya terhadap dunia tumbuh kembang anak. Menjalani profesi sebagai seorang ibu dan perencana kota, ia ingin melakukan kegiatan positif bagi anak-anak di lingkungan perkotaan. Ia berharap bersama Millemama bisa berkontribusi terhadap peningkatan kualitas dan aksesibilitas ruang bermain yang memadai, khususnya bagi anak-anak kurang mampu di perkotaan. Sri Rezeki Maretini Memulai karirnya sebagai ibu rumah tangga di negara yang terkenal dengan patung anak laki-laki, wafel dan cokelat olahan lezat, kemudian kembali ke Indonesia, Sri Rezeki atau yang akrab disapa Kiki semakin menyadari mewahnya ketersediaan ruang bermain anak di kota-kota besar di Indonesia. Padahal ia percaya bahwa tingkat kebahagiaan, kecerdasan fisik dan emosional, serta kesehatan khususnya kasus obesitas anak sangat dipengaruhi oleh kelayakan ruang bermain. Ia berpendapat bahwa ruang bermain yang layak adalah hak setiap anak. Hal ini sangat penting bagi optimalnya tumbuh kembang mereka dan berpengaruh bagi pembentukan karakter mereka nanti ketika dewasa. Keterbatasan ekonomi hendaknya tidak menjadi penghalang setiap anak untuk dapat bermain. Lulus dari Planologi ITB tahun 2005 dan Master of Rural Economics and Management pada tahun 2009 dari Universitas Gent. Atas ajakan sahabatnya untuk bergabung dengan Millemama, demikian pula ia bermimpi kebahagiaan tak hanya dimiliki anaknya, tetapi juga anak-anak lainnya.

Aktivitas Millemama Millemama memfokuskan kegiatannya pada upaya perbaikan ruang bermain anak di daerah perkotaan di Indonesia. Tiga kegiatan utama Millemama: A. Ruang bermain alami di perkotaan Tujuan kegiatan ini adalah memberikan kontribusi terhadap upaya peningkatan kuantitas dan kualitas ruang alami dan hijau yang bisa diakses oleh anak di lingkungan perkotaan. Saat ini, bekerja sama dengan warga di Komplek Puslitbang Jalan dan Jembatan di Ujung Berung Bandung, Millemama berusaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ruang bermain alami anak non komersial di lokasi komplek tersebut melalui sumber pendanaan yang berkelanjutan dari community garage sale (penjualan

Majalah Millemama

10


barang lama/secondhand layak pakai). Millemama menerima donasi barang layak pakai untuk dijual kembali dan hasil penjualannya akan digunakan untuk mendanai perbaikan ruang bermain alami di lokasi tersebut. B. Ruang bermain di lingkungan pendidikan Tujuan kegiatan ini adalah memberikan kontribusi terhadap upaya peningkatan kuantitas dan kualitas ruang bermain informal dan formal anak di lingkungan perkotaan. Pada tahap awal, Millemama tengah memfokuskan upayanya pada kegiatan ini, yaitu dengan dilakukannya pilot project untuk renovasi playground di PAUD AzZahra yang berlokasi di belakang Masjid Darul Al-Hikam, Dago, Bandung. Kami telah menjalin komunikasi dan bekerja sama dengan pihak PAUD. Saat ini desain playground telah rampung dan tahap perbaikan telah selesai dilaksanakan. C. Peningkatan kapasitas Tujuan kegiatan ini adalah memberikan kontribusi terhadap upaya peningkatan pengetahuan para ibu, tenaga didik dan anak, khususnya mereka yang minim akses terhadap perkembangan informasi. Contoh bentuk kegiatannya dapat berupa penyuluhan, seminar, diskusi dan lain-lain. Kegiatan pendukung Millemama: Kegiatan yang termasuk kegiatan pendukung adalah kegiatan yang pelaksanaannya dapat menjadi kontribusi bagi terselenggaranya kegiatan A,B,dan C. Kami telah melakukan identifikasi beberapa kegiatan untuk dilaksanakan, diantaranya: produksi pin, kaos, maternity mark, dan garage sale. M

Majalah Millemama

11


• Cerita Cerita Ringan • Febty Febriani, biasa dipanggil Fety, ibu dari satu orang anak yang juga sedang menunaikan tugasnya sebagai seorang mahasiswi S3 di sebuah universitas di Chiba, Jepang.

Pelajaran bermain sebagai orang tua Berawal dari keinginan untuk mengenalkan nada dan irama lagu ke Fatah (15 bulan), saya dan suami akhirnya mengenalkan video-video live streaming kepada Fatah, putra pertama kami. Mulailah di suatu pagi rutinitas itu berjalan. Dua kali sehari Fatah mendengarkan dan melihat Youtube dari layar 15 inchi laptop milik ayahnya. Pilihan lagu adalah wewenang kami. Pilihan kami tentu saja tetaplah dalam koridor usia Fatah. Setelah rutinitas itu berjalan beberapa saat, Fatah akhirnya hafal saat-saat orangtuanya membolehkan dia berdiri di depan meja setinggi perutnya sambil menatap gambar bergerak dari layar 15 inchi itu. Saat pagi sebelum dia berangkat ke sekolah dan saat malam ketika kami bersama-sama istirahat di ruang keluarga mungil apartemen sederhana kami. Selang beberapa lama, saya mengamati perubahan sikap Fatah. Dia menjadi balita yang mudah marah dan tidak sabar saat saya atau ayahnya agak lama menghidupkan laptop dan memilihkan lagu untuknya. Selain itu, kepalanya menjadi terlalu miring ke kiri saat menatap layar 15 inchi itu. Ternyata, kebiasaan memiringkan

kepala ke kiri ini berlanjut meskipun dia tidak berhadapan dengan laptop. Sinyal “ada sesuatu yang salah dengan pola asuh kami� menggaung di hati saya. Akhirnya saya dan suami berdiskusi dan bersepakat pada hal yang baru: kami tidak membolehkan Fatah menatap layar laptop lagi. Konsekuensi ini berarti saya dan suami juga tidak boleh berada di depan layar laptop, saat Fatah masih bangun. Sebagai penggantinya, kadang-kadang, kami memilih untuk mendengarkan nada dan lagu kepada Fatah dengan melalui handphone yang diletakkan di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Fatah. Saya, suami dan Fatah sama-sama hanya mendengar,

Majalah Millemama

12


tanpa melihat video lagu itu. Konsekuensi lain adalah saya dan suami mesti menjadi teman bermainnya Fatah. Berat memang awalnya memulai konsekuensi itu. Fatah beberapa kali menangis keras, saat tidak dibolehkan berada di depan layar laptop. Selain itu, saat ini musim dingin sedang menghampiri bumi sakura sehingga pilihan bermain bersama kami masih terbatas di dalam apartemen sederhana kami. Meninggalkan aktivitas menonton video, membuat saya dan suami mestilah kreatif mendesain kegiatan bersama kami. Segala penjuru apartemen kami jadikan sebagai tempat bermain. Mendengarkan lagu sambil bernyanyi dan berjoget bersama, membaca buku-buku balita bersama, bermain tunggangan di kasur, bermain kuda-kudaan, menyediakan banyak mainan edukatif

yang murah untuk Fatah, melibatkan Fatah saat saya memasak di pagi hari dan masih banyak lagi. Ternyata energi anak berusia 15 bulan itu sangat besar. Ada tawa gembira di wajahnya saat saya atau suami benar-benar menjadi teman bermain baginya. Itu artinya harus tidak terdengar nada bosan dari desahan nafas saya atau suami saat membacakan buku yang sama atau mesti berjoget mengiringi nada sebuah lagu berulang kali. Jika tidak, Fatah akan menjadi sebal kepada kami. Kami belajar satu hal dari kejadian ini bahwa bermain bersama Fatah berarti saatnya menjauhkan hati dan pikiran kami dari handphone, laptop, dan urusan-urusan orang dewasa. Saya pikir, bukan hanya Fatah yang mempunyai pikiran seperti ini. Semua anak rasanya menginginkan orang tua adalah miliknya seutuhnya saat sesi bermain bersama, entah di dalam atau di luar ruangan. Anak-anak kita tentu saja tidak mau tahu dengan urusan dan kesibukan kita sebagai orang tua. Saat bermain, bagi dia, orang tua adalah teman bermainnya, bukan dosen di sebuah universitas atau peneliti di sebuah lembaga penelitian atau mahasiswa S3 yang sedang sibuk dengan penelitiannya. Ya, hanya teman bermain, tidak lebih dari itu. Sebagai orang tua, kami sedang belajar menyediakan hati dan pikiran yang utuh hanya untuk bermain dengan si balita 15 bulan itu saat sesi bermain bersama. Tidak mudah, memang. Kami juga sedang belajar untuk menjadi terlatih dan terbiasa. M •M

Majalah Millemama

13


• Psikologi •

Aktivitas Anak di Luar Ruangan dari Sudut Pandang Psikologi

Agnes Maria Sumargi Pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, yang saat ini sedang menempuh studi S-3 di University of Queensland, Australia. Ibu dari 1 orang anak ini memiliki ketertarikan dalam bidang perkembangan anak, pendidikan anak usia dini, dan pendidikan pengasuhan anak bagi orangtua.

Banyak orangtua berpikir bahwa kegiatan untuk anak sebaiknya terpusat di dalam ruangan supaya anak lebih banyak belajar dan perilakunya lebih terkendali. Namun pada kenyataannya, tidak semua anak bisa beraktivitas dengan tenang di dalam ruangan. Malah perilakunya dapat menyulitkan karena anak mulai bosan dan berulah. Bukan berarti bahwa aktivitas bermain dalam ruangan (seperti membaca, menggambar, menonton televisi yang bersifat edukatif, bermain puzzle dan alat permainan lainnya) harus ditiadakan, tetapi sebaiknya diseimbangkan dengan aktivitas di luar rumah. PERKEMBANGAN ANAK

Perlu diingat bahwa perkembangan anak itu meliputi beberapa aspek,

Majalah Millemama

14


yakni perkembangan fisik, kognitif (kemampuan berpikir dan bahasa), sosial, dan emosi. Perkembangan fisik menyangkut perkembangan badan, termasuk perkembangan otot-otot besar (motorik kasar) dan otot-otot kecil seperti otot tangan (motorik halus). Bermain bola, misalnya, merangsang perkembangan motorik kasar karena anak menggunakan kaki untuk berlari dan menendang. Menyusun balok dan merangkai manik-manik merangsang perkembangan motorik halus. Perkembangan kognitif merupakan perkembangan kemampuan berpikir dan bahasa. Anak belajar memecahkan masalah dengan bermain puzzle atau tebak-tebakan. Anak juga mengembangkan kemampuan bahasanya dengan menceritakan sesuatu kepada orang lain dan bernyanyi. Perkembangan sosial dan emosi menyangkut hubungan dengan orang lain dan diri sendiri. Bermain drama atau pura-pura, misalnya, menunjang

perkembangan sosial dan emosi anak karena anak berkomunikasi dengan orang lain, mengenali dan merasakan emosi dalam permainan peran atau saat mengalami konflik dengan orang lain. Orangtua perlu memaksimalkan semua aspek perkembangan ini, tidak hanya dengan kegiatan di dalam ruang, tetapi juga dengan kegiatan di luar ruang. APA MANFAAT BERAKTIVITAS DI LUAR RUMAH BAGI PERKEMBANGAN ANAK? Aktivitas di luar rumah akan merangsang perkembangan fisik anak. Anak usia dini perlu belajar mengontrol gerakan-gerakan tubuhnya (motorik), sehingga aktivitas di luar ruang seperti bermain bola, berlari, memanjat, melompat, meluncur di seluncuran, dan berayun akan sangat penting untuk perkembangan fisik anak. Sama seperti orang dewasa yang dianjurkan untuk rajin berolah raga, anak pun membutuhkan aktivitas fisik untuk menyehatkan tubuhnya. Bahkan lebih dari itu, dengan tubuh yang sehat dan gerakan yang lincah, anak akan mengembangkan rasa percaya diri. Aktivitas di luar rumah juga akan merangsang perkembangan sosial dan emosi anak. Anak bisa mengekspresikan emosinya dengan bebas di luar ruangan dengan tertawa dan berteriak

Majalah Millemama

15


(yang dapat menganggu orang lain apabila dilakukan di dalam ruangan). Anak bisa pula bertemu dengan anakanak lain saat bermain di taman bermain, sehingga memicu perkembangan sosialnya. Banyak jenis permainan berkelompok (permainan bersama dengan anak lain), seperti kejar-kejaran, memerlukan ruang luas, sehingga anak-anak akan lebih leluasa melakukannya di luar rumah. Aktivitas di luar ruangan bisa pula memperkaya perkembangan kognitif anak, karena banyak hal yang bisa dilihat, didengar dan dirasakan oleh anak saat berada di luar ruangan (baca: di alam). Anak bisa tergelitik rasa ingin tahunya dengan melihat barisan semut atau menyaksikan burung berterbangan di udara. Anak dapat berkreasi dan berimajinasi dengan berjalan di atas batu-batu, mengumpulkan kayu dan berbagai jenis dedaunan. Dengan kata lain,

pengalaman anak akan semakin diperkaya dengan berada di luar ruangan. Selain itu, dengan membiarkan anak bermain di luar ruangan, secara tidak langsung orangtua mendekatkan anak dengan alam yang bisa saja ditindaklanjuti dengan pengajaran spiritual, seperti menunjukkan kebesaran Tuhan atau membicarakan pentingnya mencintai lingkungan. APA YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT ANAK BERAKTIVITAS DI LUAR RUMAH? Tergantung pada usia anak, orangtua perlu melakukan pengawasan (supervisi) saat anak beraktivitas di luar rumah. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindarkan anak dari bahaya kecelakaan. Anak-anak usia balita belum sepenuhnya mampu berpikir apakah tindakannya (misalnya, melompat dari satu tempat ke tempat yang lain) bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Batasan yang jelas terkadang juga diperlukan. Misalnya, dengan meminta anak tidak keluar dari pagar pembatas saat bermain. Apabila anak bermain di taman bermain, ada baiknya memastikan keamanan alat-alat permainan di taman. Misalnya, seluncuran tidak patah dan ada tempat mendarat yang empuk. Orangtua juga perlu memperhatikan suasana di tempat bermain, apabila terlalu padat dengan anak-anak, maka orangtua perlu mengarahkan anak yang masih kecil untuk bermain ke tempat yang lebih sepi. Untuk anak-anak yang lebih besar, orangtua perlu menyiapkan mental

Majalah Millemama

16


anak dengan memberitahukan terlebih dahulu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang perlu anak lakukan agar terhindar dari bahaya kecelakaan dan terhindar dari konflik dengan anak lain. Batasan waktu juga perlu dibicarakan karena terkadang anak asyik bermain sehingga lupa waktu. Anak akan jauh lebih patuh dengan batasan apabila ia setuju dengan batasan tersebut dan mendapat peringatan sebelum aktivitas bermainnya dihentikan.

Melakukan kegiatan bersama dengan anak di luar ruangan dapat mempererat hubungan antara orangtua dengan anak. Orangtua bisa mengajak anak bermain bola, bersepeda, bermain air dan pasir di pantai, berkebun, memberi makan binatang, dan segudang aktivitas lainnya di luar rumah. Selain anak merasakan kedekatannya dengan orangtua, melalui kegiatan bersama ini anak mendapat pengajaran mengenai nilai-nilai dan ketrampilan hidup dari orangtuanya secara langsung.

Jadi, siapa bilang aktivitas di luar rumah tidak bermanfaat? Mari kita seimbangkan hidup demi anak-anak kita! •M M

Majalah Millemama

17


• Inspirasi Bekal Piknik • Oleh Mommy Kelinci Ibu dari dua orang putra yang kini menetap di negeri Sakura. Di sela-sela aktivitas penelitiannya di sebuah universitas, ia menyempatkan diri untuk membuatkan kyara okazu (lauk berkarakter) dan kyara bento (bekal berkarakter) untuk putra sulungnya yang kini berusia empat tahun.

Simple Sleeping Bag Bento Bahan 2 buah roti butter roll 2 buah permen keju (candy cheese) atau kalau tidak ada bisa pakai keju lembar 1 buah kiwi hijau Bahan dekorasi Saus tomat secukupnya Alat dekorasi 1 buah tusuk gigi 1 buah cetakan bentuk bintang (atau bentuk lain)

2. 3.

4. 5. 6.

Cara membuat 1. Ambil satu buah permen keju, belah dua, dan gambar bentuk wajah orang tidur dengan tusuk gigi yang sudah dicelupkan ke saus tomat, sisihkan. Ambil permen keju yang tersisa, belah dua dan cetak sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Ambil satu buah roti butter roll, buat lubang di tengah-tengah roti, letakkan di dalam kotak bekal lalu isi dengan permen keju yang bergambar wajah orang tidur seperti diilustrasikan pada gambar. Ambil roti butter roll sisanya, potong dua, dan letakkan di atas dan bawah butter roll yang berisi wajah orang tidur. Hias kantong tidur ini dengan keju cetak. Sobek kecil-kecil sisa keju bekas cetakan, tabur di atas buah kiwi yang telah dipotong dua. Anda dan si kecil pun siap berangkat bermain ke luar rumah! • M Majalah Millemama

18


• Kesehatan Kesehatan • Oleh Dokter Qkey Mahasiswi S3 fakultas kedokteran di salah satu universitas negeri di Jepang. Seorang ibu dari satu putra yang senang belajar berbagai hal terutama mengenai tumbuh kembang anak dan seluk beluk dunia anak.

Bermain Aman di Musim Hujan Bermain adalah kebutuhan yang sangat penting bagi setiap anak. Apalagi kegiatan bermain di luar rumah (outdoor) yang dapat merangsang kemampuan motorik mereka. Sayangnya musim hujan yang bahkan sampai berakibat banjir di beberapa wilayah Indonesia seperti akhir-akhir ini memicu kekhawatiran bagi orang tua untuk membiarkan anak bermain di luar rumah. Kekhawatiran utama tentunya karena orang tua tidak ingin anak sakit. Hmmm seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, mari kita mengenal salah satu penyakit yang terkait dengan musim hujan dan bagaimana cara pencegahannya. Kali ini saya akan membahas mengenai penyakit yang bernama Leptospirosis. Leptospirosis adalah penyakit yang dsebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira. Penyebaran penyakit ini adalah dari hewan ke manusia. Bakteri

tersebut dapat menyebar melalui urine (air kencing) dari hewan yang telah terinfeksi, yang kemudian dapat mencemari tanah ataupun air. Bakteri ini dapat bertahan selama bermingguminggu sampai berbulan-bulan. Beberapa hewan yang dapat menjadi sumber penyebaran penyakit ini adalah hewan pengerat (tikus, kelinci, dll), babi, sapi, kuda, anjing, hewan liar, dll. Hewan yang telah terinfeksi bisa saja tampak tidak memiliki gejala sakit, namun mereka dapat terus menyebarkan bakteri ke lingkungan bahkan hingga bertahun-tahun lamanya. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan urine atau cairan tubuh lainnya (kecuali ludah) dari hewan yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak dengan air, tanah atau makanan yang telah terkontaminasi. Risiko penularan menjadi tinggi pada manusia yang memiliki luka terbuka, walaupun luka dalam bentuk kecil.

Majalah Millemama

19


Meminum air yang terkontaminasi terutama saat dalam kondisi banjir (dimana infeksi ini lebih mudah terjadi) juga memberikan risiko tinggi. Masa inkubasi (periode dari dimulainya infeksi hingga timbulnya gejala penyakit) adalah dari 2 hari sampai dengan 4 minggu. Leptospirosis dapat terjadi dalam 2 fase. Pada fase pertama, beberapa gejala yang harus diperhatikan antara lain demam, nyeri otot, sakit kepala, muntah, diare. Kemudian jika terjadi fase kedua, pada tingkat yang lebih parah dapat muncul gejala kuning,

kegagalan ginjal atau kegagalan hati atau meningitis dan perdarahan pada paru. Salah satu gejala yang juga perlu dicermati pada penyakit ini adalah timbulnya photophobia (sensitif terhadap cahaya). Pengobatan penyakit ini adalah dengan antibiotik. Orang yang menjadi suspek penderita Leptospirosis harus segera menuju sarana kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan yang segera. Tanpa pengobatan yang adekuat, penyembuhan dapat berlangsung lama.

Namun, tentunya ada upaya pencegahan agar kita dan anak tetap dapat bermain di musim hujan ini. Pencegahannya adalah sebagai berikut: 1. Hindari berenang ataupun bermain di area genangan air hujan. 2. Gunakan pakaian lengkap termasuk jas hujan dan alas kaki tertutup (sepatu boot) pada saat berada di luar rumah. 3. Rutin periksakan hewan peliharaan ataupun hewan ternak ke dokter hewan. Tetap semangat bermain walaupun di musim hujan. Be safe and healthy, always!•M M

Majalah Millemama

20


• Ruang Terbuka Hijau • Oleh Risye Dwiyani Ketua Bandung Disaster Study Group (BDSG) dan Konsultan di World Bank Jakarta Twitter: @ichiewitchie

Siaga Bencana dengan Ruang Terbuka Hijau Banyak dari kita yang sudah mengetahui bahwa Indonesia rawan bencana. Tetapi mengetahui saja tidak cukup. Bagi para ibu, paling tidak tanggung jawabnya adalah mempersiapkan diri dan keluarga agar menjadi tangguh terhadap bencana. Sebut saja dua jenis bencana yang sering merepotkan keluarga, terutama di wilayah perkotaan yang cenderung padat permukimannya, yaitu gempa dan kebakaran. Di dalam rumah, gempa bisa sangat membahayakan karena dapat memecahkan kaca jendela dan menjatuhkan benda-benda yang posisinya tidak stabil. Apalagi bila konstruksi bangunan rumah tidak

tahan gempa, bisa jadi yang jatuh bukan buku dan perabotan lagi, tetapi atap rumah juga bisa roboh. Tidak ada seorang pun yang ingin tertimpa benda-benda berat tersebut. Gempa juga dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama bila rumah dilengkapi dengan aliran listrik dan gas. Bila terjadi kebakaran di dalam rumah, tentunya insting manusia langsung mengatakan untuk lari keluar rumah. KESIMPULAN PERTAMA, yaitu mengingat betapa bahayanya gempa dan kebakaran di dalam rumah, satu ruangan lega yang paling dirindukan ibu-ibu semua: Ruang Terbuka Hijau (RTH)!

Majalah Millemama

21


Contoh RTH favorit kebanyakan anakanak adalah lapangan dan taman – ya, untuk bermain. Namun fungsi RTH ternyata tidak hanya itu. Ada yang berfungsi estetis – penyejuk mata, ada yang juga menyediakan ruang cukup untuk kegiatan fisik dan sosial seperti berolahraga dan sebagai tempat berkumpulnya komunitas tertentu (termasuk ibu-ibu arisan!). Selain itu, ada juga yang berfungsi ekonomi, seperti untuk rekreasi dan tempat menanam sayuran dan buahbuahan. Fungsi penting dari RTH yang kadang terlupakan oleh para pembuat kebijakan adalah FUNGSI EKOLOGISNYA. Sebuah kota harus menyediakan ruang cukup bagi hewan dan tumbuhan untuk tetap hidup dan berkembang biak dengan subur sehingga ekosistem seimbang, serta menyediakan ruang sebagai kawasan resapan air. Apabila hujan turun, air akan diresap oleh tanah (serta tumbuhan diatasnya) dan disimpan untuk musim kemarau.

Bayangkan ekstrimnya – bila hujan mengguyur sebuah kota yang seluruhnya tertutup beton, maka kota itu akan seperti mangkuk porselen kosong yang dipenuhi kuah soto alias banjir‌aduh! Selain sebagai pengurang risiko banjir, ruang terbuka hijau yang banyak ditumbuhi pepohonan juga dapat mengurangi risiko bencana lain, seperti longsor dan tsunami (contoh peredam tsunami: hutan bakau). Kembali ke kesimpulan pertama tadi, ada satu lagi fungsi RTH yang masih relatif jarang terdengar, yaitu sebagai tempat ketahanan bencana. Jadi selain sebagai kawasan resapan air yang dapat mengurangi risiko banjir, fungsi ketahanan bencana RTH yang mulai umum dipraktekkan di berbagai negara adalah sebagai tempat pengungsian sementara. RTH ini menjadi lokasi berlindung sementara bagi pengungsi dari bahaya kebakaran yang ditimbulkan gempa atau bahaya apapun terkait gempa. RTH juga menjadi lokasi dimana pertukaran informasi terjadi dan bantuan

Majalah Millemama

22


sementara diberikan. Pemerintah dari berbagai negara memiliki standar ukuran tempat pengungsian sementara (rata-rata standar ukurannya paling tidak 1 m3 per orang) dan radius pelayanannya masing-masing (contoh untuk wilayah Beijing radiusnya harus kurang dari 500 meter atau 5-10 menit jalan kaki). Namun, biasanya memang tempat pengungsian sementara di RTH tidak menyediakan alat pendukung untuk kehidupan dalam jangka waktu panjang.

Bukan berarti lalu kita harus memutuskan untuk bertempat tinggal di sebuah RTH, bukan. Fungsi rumah pada awalnya juga toh untuk perlindungan dari berbagai ancaman, seperti dari perampok atau hujan badai. Tinggal pintar-pintarnya kita menempatkan dan membangun rumah yang aman dari ancaman tersebut, tanpa mengabaikan keselamatan ‘penduduk’ di dalamnya.

Di Jepang, beberapa taman difungsikan bukan hanya untuk bermain atau tempat pengungsian sementara, tetapi juga untuk tempat penyimpanan alat-alat darurat bencana dan pusat pendidikan kebencanaan.

Ini mengarah ke KESIMPULAN KETIGA, yaitu: kalau membangun rumah jangan lupa beri porsi cukup untuk RTH-nya, atau paling tidak kalau mencari rumah jangan terlalu jauh dari RTH seperti taman atau lapangan.

KESIMPULAN KEDUA: Betapa banyaknya kegunaan sebuah RTH!

The Tokyo Rinkai Disaster Prevention Park: RTH untuk Bencana Di Tokyo, salah satu RTH yang fungsi utamanya untuk penanggulangan bencana adalah The Tokyo Rinkai Disaster Prevention Park. Bila terjadi bencana besar, tempat ini akan menjadi pusat informasi dan koordinasi tanggap darurat. Berbagai fasilitas penanggulangan bencana disediakan untuk digunakan dalam situasi bencana, yang dalam situasi normal pun digunakan sebagai alat pendidikan bencana dan latihan penanggulangan bencana. Contoh fasilitas: tenda, keperluan sanitasi, dan heliport. (website: http://www.ktr.mlit.go.jp/showa/tokyorinkai/english/index.htm)

Sayangnya, taman atau lapangan sudah menjadi barang langka di kota-kota besar di Indonesia. Bila sulit untuk mencari rumah dengan RTH di sekelilingnya, tidak ada salahnya Anda mengajak tetangga sebelah untuk sama-sama memperjuangkan diadakannya RTH demi keselamatan dan kenyamanan keluarga. Baiklah ibu-ibu, selamat menilik ulang RTH sekitar rumah ya! • M

Rinkai Disaster Prevention Park (Foto: Nur Hamidah BDSG)

Majalah Millemama

23


• Topik Topik Hangat •

10 Alasan Pentingnya Bermain di Luar Ruangan Berdasarkan hasil penelitian CNI (Children’s Nature Institute) dan C&NN (Children & Nature Network), berikut adalah 10 alasan mengapa anak-anak perlu bermain di luar ruangan: 1. Anak usia sekolah 4-12 tahun yang berpartisipasi pada program pendidikan lingkungan di sekolah mendapat hasil yang lebih baik pada uji matematika, literasi (membaca) dan ilmu sosial. 2. Anak-anak dan orang dewasa lebih mudah berkonsentrasi dan memiliki atensi yang lebih baik setelah menghabiskan waktu di alam. 3. Alam kaya akan sumber stimulasi multisensorik yang amat penting bagi perkembangan otak anak usia dini. 4. Permainan anak di area alami lebih kreatif dan egaliter (kesetaraan secara sosial) dibandingkan pada area yang terstruktur atau tertutup. 5. Tinggal di kondisi lingkungan yang lebih alami melindungi anak-anak dari efek negatif tekanan hidup. 6. Pemandangan yang alami dapat mengurangi tingkat stress dan mempercepat pemulihan dari penyakit, cedera atau dari pengalaman buruk. 7. Bahan dasar utama bagi pengembangan kecerdasan, emosional, kepribadian dan kejiwaan berakar pada lingkungan alami yang sehat, kaya dan mudah diakses. 8. Kedekatan dengan alam mendukung disiplin diri. 9. Alam meningkatkan fungsi kognitif anak-anak. 10. Anak yang didiagnosa dengan attention-deficit/ hyperactivity disorder (ADHD) atau attention-deficit disorder (ADD) menunjukkan pengurangan gejala setelah bermain di lingkungan alami. •M M Jodi Valenta, wirausahawati, blogger, ibu dari dua anak. Sumber: http://www.kidsdiscovernature.com/2009/08/10-reasons-why-kids-should-play-outside.html

Majalah Millemama

24


• Ulasan Ulasan Taman Kita •

Taman Perrin Idola Kami

Oleh Sri Rezeki Ibu rumah tangga dengan satu orang anak.

Sewaktu Sewaktu saya kecil, bertiga dengan sepupu yang sekaligus adalah sahabat terbaik saya, saya senang sekali bermain di sawah dan di pinggir sungai sekalipun orang tua melarang keras. Larangan tersebut seringkali mental jika saya terbayangbayang hijaunya sawah, indahnya juntaian ranting ke sungai, merdu dan beningnya air yang mengalir di sungai itu. Orang tua tentu saja khawatir jika kami bertiga keluar rumah terlalu lama, tetapi tidak pernah terpikirkan untuk mengajak orang dewasa untuk bergabung bersama kami. Seingat saya pula, tidak tersedia taman umum di sekitar tempat tinggal untuk tempat kami bermain saat itu sehingga alternatif tempat kami bermain adalah lahan kosong penuh semak belukar yang tidak terurus. Beranjak makin besar, saya ingat senangnya bersepeda sambil membuat peta kompleks perumahan kami lengkap beserta gambar sungai yang dulu suka kami kunjungi. Sepupu laki-laki mengayuh sepeda dan saya menggambar di boncengan. Kertas peta yang telah dibuat kemudian kami buat gosong dengan membakar pinggirannya, seakan-akan itu adalah

peta yang sudah tua umurnya. Seingat saya pada saat itu saya tidak hobi lagi main ke sungai karena air sungai mulai berbau akibat limbah industri dan air sungai menjadi butek karena tanah pinggiran sungai yang terbawa arus. Sementara itu, luas lahan sawah yang biasa kami jadikan tempat bermain semakin berkurang karena ada rencana pembangunan kompleks

Majalah Millemama

25


perumahan baru. Dan saat ini setahu saya bahkan sawah itu sudah tidak ada sama sekali, berganti menjadi kompleks perumahan menengah ke atas. Berlanjut ke masa kini saat saya sudah menjadi seorang Ibu, saya beruntung sekali saat ini tinggal berdekatan dengan tiga taman yang bisa menjadi alternatif tempat bermain anak saya. Salah satu taman yang tidak pernah bosan kami kunjungi adalah Taman Perrin. Dinamakan demikian berdasarkan nama orang yang menyumbangkan sebagian besar lahannya kepada dewan kota untuk dijadikan lahan yang dapat digunakan untuk kepentingan publik. Taman Perrin memiliki beragam alat permainan yang dirawat dengan baik, arena lintasan rel untuk bersepeda, area untuk duduk dan perlengkapan untuk memanggang makanan (barbecue), keran air minum, WC umum, dan lintasan lari sepanjang 400 meter. Selain itu untuk melindungi pengguna taman dari sengatan sinar

matahari, maka pepohonan di sekitar taman ini dibiarkan tumbuh lebat. Jika hari sudah gelap dan waktu maghrib sudah menjelang, maka akan terlihat dan terdengar suara kelelawar ramai bersahutan baru bangun dari tidurnya. Sepertinya itu saatnya mereka mulai sibuk mencari makan. Anak saya pertama kali melihat kelelawar sewaktu menginap di rumah neneknya. Dia terpekik kegirangan saat melihat ada kelelawar terbang tinggi di langit-langit rumah. Di Taman Perrin ini dia bisa puas sekali melihat kelelawar yang menggantung terbalik di pohon lalu terbang tinggi ke angkasa dengan lengkingan suaranya. Permainan yang terdapat di Taman Perrin ini beragam, mulai dari ayunan untuk balita sampai untuk orang dewasa, perosotan, arena panjatpanjatan sarang laba-laba (spider web), palang untuk menggantung seperti monyet (monkey bar), miniatur rambu-rambu lalu lintas, dan mainan lainnya yang bahkan saya tidak tahu namanya. Tetapi saya yakin, tanpa

Majalah Millemama

26


adanya peralatan inipun anak saya akan menikmati bermain disini karena banyak hal lainnya yang bisa dia lihat seperti bermacam-macam tumbuhan yang bentuknya beragam dan binatang-binatang yang tidak sengaja kami temui. Sulit sekali bagi saya untuk mencari kekurangan taman ini. Mainan dan perlengkapan taman yang terawat baik, WC yang terawat dan cukup bersih, arena yang cukup rindang dengan pepohonan tanpa terkesan menyeramkan, tingkat polusi kendaraan bermotor yang rendah, dan area yang cukup luas untuk berbagai aktivitas luar ruangan untuk seluruh keluarga dari tua sampai muda. Ini adalah tempat favorit yang kami tuju jika suami dan saya kebingungan mencari aktivitas luar rumah dalam jangkauan berjalan kaki. Karena tentu saja ongkos transportasi yang kian

menjadi pertimbangan kami dalam memilih aktivitas di luar rumah. Sudah tiga hari tiga malam kota yang kami tinggali ini diguyur hujan deras dan badai, kemarin sore setelah hujan reda dan matahari muncul, saya pergi mengunjungi Taman Perrin untuk melihat keadaannya. Setahu saya memang lokasi taman ini yang rendah sengaja diperuntukkan sebagai daerah serapan air hujan dan tidak dibangun untuk tempat tertutup karena memang sangat berpotensi terkena banjir. Benar saja, seluruh area taman bermain sampai lintasan lari pada hari ini tergenang air dan bahkan saya tidak bisa mengambil foto karena jalanan ditutup untuk umum karena faktor keamanan. Sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa wilayah serapan air sangat penting perannya sehubungan dengan banjir.

mahal dan faktor keterbatasan waktu

Majalah Millemama

27


Awalnya saya kepingin sekali mengulas mengenai taman di dekat rumah ibu mertua saya di Jakarta tetapi saya pikir akan tidak imbang ulasan saya ditambah lagi saya tidak memiliki dokumentasi foto-foto yang cukup. Selain itu, kenangan saya terhadap taman tersebut kurang menyenangkan karena got yang berbau kurang sedap, panas karena kurang terlindungi dari panas matahari, dan mainan yang berkarat dan kotor. Apalagi pulangnya saya membawa oleh-oleh bentol gigitan nyamuk yang membuat saya berpikir berulang kali untuk bermain disana lagi. Namun demikian, saya yakin masih banyak taman-taman umum di Indonesia yang layak untuk dikunjungi dan saya berharap Anda dapat berbagi dengan kami. •M M

Ingin berbagi tulisan mengenai ulasan taman/hutan di sekitar lingkungan Anda? Silakan kirimkan tulisan beserta foto atau ilustrasi yang mendukung ke millemama.news@gmail.com

Majalah Millemama

28


Millemama magazine