Issuu on Google+

tgl 11-17 Nopember 2012 edisi 1

Rp. 5.000


jurnal news inspirasi baru

Bedah Utama

edisi 01 tgl 11-17 Nopember 2012

sisi lain kehidupan di Muara Fajar oleh: khairil alfi “pemandangan

yang

menakjubkan, aroma yang menusuk hidung , mejadi ciri khas Desa Muara Fajar yang tak kan pernah terlupakan “ Itulah hal yang dirasakan oleh para peserta pratikum jurnalistik UIN SUSKA RIAU saat memasuki Desa Muara Fajar. Pratikum diadakan tgl 16 oktober 2012 di TPA Muara Fajar, dengan tujuan untuk melihat sisi kehidupan para pemulung dan masyarakat sekitar yang bekerja dan tinggal di sekitar TPA Muara Fajar. Sebelum pratikum dimulai, seluruh mahasiswa jurnalistik semester V berkumpul di teater FDIK, untuk mendapatkan materi tambahan tentang pratikum yang diadakan kali ini. semua peserta mendengarkan dengan seksama materi yang disampaikan. Materi yang disampaikan pemateri membahas mengenai jurnalistik multi media dan apa saja yang harus dilakukan dan diperhatikan ketika berada di tempat tujuan. Pemberian materi berakhir hingga siang, dan dilanjutkan dengan makan siang serta istirahat sejenak. Setelah istirahat kami pun berangkat menuju tujuan yakni ke desa Muara Fajar dengan menggunakan bus kampus. Ketika berada di gapura desa Muara fajar para peserta langsung disambut oleh wangi-wangian yang begitu khas , yang membuat para peserta menutup hidungnya masingmasing. Wangi-wangian tersebut tidak

seorang pemulung yang sedang memilih sampah-sampah yang organik dan non organik lain adalah aroma sampah yang wilayah dan masyarakat sekitar. berada di sekitar jalan. Mereka bekerja dari jam delapan pagi Di kiri dan kanan jalan banyak dan berakhir pada jam 8 malam. terdapat sampah-sampah yang Siang hari yang begitu cerah, bertumpukan. para peserta merasa matahari yang menyinsing di ubuntakjub dengan pemandangan yang tak ubun kepala, panas yang begitu pernah di lihat sebelumnya, yakni menyengat membuat kulit terasa sampah yang mencapai ketinggian terbakar, sebuah nuansa yang jarang seperti sebuah bukit atau bukit di temukan didaerah-daerah lain, bau sampah. Setelah menempuh busuk yang sagat menyengat yang perjalanan satu jam setengah, kami membuat hidung terasa tidak sanggup pun sampai di TPA Muara Fajar. lagi untuk menjalankan fungsinya Sesampainya disana kami pun menghirup udara. langsung turun, bau menyengat dari di bawah payung berwarna merah sampah pun langsung menyambut kuning dengan kerangka yang tak kami di iringi dengan pemandangan dapat menahan lagi beban di atas nya. yang jarang, bahkan tidak pernah terlihat ketidak kokohan payung kami saksikan sebelumnya, hamparan tersebut, terlihatlah sosok seorang sampah yang begitu luas yang wanita yang berbadan besar, dengan terbentang didepan mata para peserta. menggunakan baju kecoklat-coklatan. TPA Muara Fajar merupakan memakai sepatu bot yang tempat pembuangan akhir sampah- berlobang-lobang, sehingga air busuk sampah dari seluruh daerah kota dari sampah tersebut mudah saja Pekan Baru, yang berdiri pada tahun masuk, dan mengotori kaki si pengais1987, Dengan luas area 8,6 hektar, ngais sampah, dan di tambah lagi yang berada di daerah Rumbai. TPA dengan sapu tangan yang terlihat tersebut di kelolah Oleh Pemerintah bewarna-warni, merah, kuning, hijau, Kota Pekanbaru. dan ditambah dengan warna coklat Para pekerja di TPA Muara yang didapat saat memegang sampah Fajar kebanyakan adalah pemulung, dan sarung tangan yang berlobangdan beberapa orang pengurus dari lobang, itu lah dia wanita yang Dinas Kebersihan Pekan Baru. berpropesi sebagai pemulung “lina� pemulung ini berasal dari berbagai warga muara fajar yang keseharian


jurnal news inspirasi baru nya mencari barang-barang bekas di atas tumpukan sampah, Lina tinggal di kilometer 10 di desa Muara Fajar, ia menjalani profesi sebagai pemulung sudah cukup lama. Banyak hal yang sudah dialami oleh lina sebagai pemulung, baik itu suka maupun duka. Semua itu ia jalani tidak lain adalah untuk menghidupi keluarganya. Lina mengatakan bahwa tempat ini kurang diperhatikan oleh pemerintah, terlihat dari segi keselamatan dan keamanan para pekerja dan tidak didukungya sarana kerja yang mendukung seperti tempat yang cukup aman dan nyaman bagi para pemulung. Tidak jauh dari tempat lina bekerja saya pun tertarik dengan apa yang dilakukan seorang pemulung, ia bekerja memilih sampah yang masih bisa diolah dan tidak bisa diolah, ia bekerja dengan penuh canda tawa, ia tidak menghiraukan pa yang dipegang serta apa yang dirasakan hidungnya, ia hanya bekerja dengan penuh semangat dan penuh dengan kegembiraaan. Mamak April (37 tahun), itulah nama pemulung tersebut. Ia menggunakan baju bewarna kuning dan duduk dibawah payung yang kelihatanya souvenir dari matahari, yang jelas terpampang bacaan matahari. Ia bekerja dari pagi sampai dengan malam hari, bekerja memisahkan sampah-sampah yang masih bisa diolah dan tidak bisa di olah lagi. Dengan memperoleh upah tiga puluh sampai dengan enam puluh ribu perhari.ia menjadi pemulung sejak 9 tahun yang lalu semenjak di PHK dari tempat kerja lamanya. Dan ia memilih bekerja sebagai pemulung karena sulitnya mencari pekerjaan. Dan di tanbah Mamak April juga mengatakan, bahwa para pemulung disini tidak diperhatikan oleh pemerintah, terlihat dengan jelas bahwa para pemulung tidak diberikan peralatan-peralatan bekerja yang layak, seperti sarung tangan dan sepatu dari karet dan masker mulut. bahkan mereka bekerja tanpa memakai sarung tangan, yang mana hal tersebut dapat membuat tangan mereka alergi dan tertimpa penyakit kulit lainya.

Bedah Utama menurut april hal itu tidak berpengaruh lagi karena mereka sudah kebal dari penyakit kulit lainya, karena mereka sudah terbiasa. Menurut Bapak Fauzi pengurus TPA dari pemko Pekan Baru, sampah yang masuk di TPA Muara Fajar meningkat dari tahun ke tahun. dari data tahun 2011 bulan agustus sampah yang masuk mencapai 5.750.302 kg, sedangkan tahun 2012 jumlah sampai bulan agustus 6.767.000 kg. dengan ratarata sampah yang masuk perharinya 130-150 ton perharinya. Di TPA ini terdapat beberapa tempat seperti Tempat penimbangan sampah,

edisi 01 tgl 11-17 Nopember 2012 tempat poengolahan air tinja yang terdiri dari beberapa kolam yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Beliau juga membenarkan bahwa pemulung disini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Setelah sekitar satu jam lebih kami di sana, akhirnya kami pulang dengan membawa pengalaman yang menarik dan pengajaran yang berharga tentang semangat untuk hidup, rela melakukan pekerjaan apapun yang pastinya halal, tidak memperdulikan gengsi, atau rendahnya status daripekerjaan tersebut. Tetap berusaha untuk yang terbaik,,,,,


jurnalinspirasi news baru

potrait potret di Muara Fajar

edisi 01 tgl 11-17 Nopember 2012


jurnal news