Issuu on Google+

V0l. 05 MEI 13, 2011

JURNAL KOMUNITAS KENDURI CINTA

KENDURI

MELANGKAH BERSAMA Forum Maiyah Kenduri Cinta edisi April 2011 Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta Pusat

B

udayawan dari Komunitas Adiluhung Nusantara, Agung Pambudi, membuka sesi awal Kenduri Cinta dengan pertanyaan: Siapa yang mau melangkah bersama? Tujuan hidup di dunia tidak lain adalah untuk hidup dalam Pribadi. Orang jawa menyebutnya sebagai sangkan paraning dumadi. Sebelum ada Nur Tajalli, belum ada Nur Muhammad, dan ketika itu Allah belum bisa disebut asma-Nya. Nabi Adam (orang jawa menyebutnya Sanghyang Adama) menurunkan Nabi Sis (Sanghyang Sita) yang kemudian menurunkan Anwar dan Anwas. Mereka berdua melahirkan dua trah, yaitu trah para Nabi dan trah para Dewa. Sanghyang Nurcahya mempunyai putra Sanghyang Nurrasa yang kemudian melahirkan Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening. Sanghyang Wenang menurunkan Semar, Togog, dan Manikmaya; sedangkan Sanghyang Wening melahirkan Darmasuci yang menemani Yudhistira menuju Nirwana. Sanghyang Wenang terus menurunkan jangus Kalimasada pada Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal melahirkan Ismaya, Togog, dan Sanghyang Guru. Pada waktu kelahiran Nabi Isa, Junggring Salaka kocar-kacir. Kemudian muncul Lemurian, Atlantik, peradaban Mesir Kuno di Afrika, Mesopotamia, dan Harappa. Cak Nun sudah merekonstruksi hal-hal itu dalam Tikungan Iblis. Gufron memberikan paparan yang menarik mengenai optimalisasi otak tengah. Ada paradigma bahwa otak bisa memahami sesuatu di mana yang dipahami itu menjadi dasar bagi seseorang untuk menjalani hidupnya. Bicara masalah anatomi, volume otak manusia adalah 2% dari keseluruhan berat badan manusia; di sisi lain kebutuhan makannya mencapai 25% dari kebutuhan

makan seluruh badan. Otak tersusun oleh 30 miliar syaraf/neuron dan mempunyai kapasitas memori antara 30 sampai 70 triliun gigabytes. Semua hal yang dirasakan pancaindera oleh otak ditransfer menjadi energi listrik. Otak memiliki kemampuan 10.000 kali kemampuan komputer paling canggih saat ini. Otak memiliki 70 sampai 100 triliun pola pikir tak terhingga yang setara dengan 500 ensiklopedia. Aktivasi sel menghasilkan gelombang otak yang dinamakan brainwave, yang jenis dan sifatnya bermacammacam. Ketika seseorang mengaktifkan gelombang beta (berada dalam kondisi serius), penyerapan informasinya sekitar 50% dan setelah disimpan selama 48 jam dalam hipocampus akan tersisa 5%-nya. Gelombang beta ini memacu hormon adrenalin, yang kemudian akan memacu hormon kortisol yang bersifat merusak memori. Ketika seseorang belajar dalam suasana yang menyenangkan, gelombang otak yang aktif adalah gelombang alfa. Gelombang ini bersifat menyerap informasi sebesar 70%, dan setelah 48 jam menyisakan memori sebesar 25%. Gelombang teta merupakan gelombang yang terjadi pada seseorang yang jenius/indigo (dalam bahasa pesantren disebut sebagai orang yang punya laduni). Orang-orang jenis ini belajar lewat resonansi, sehingga tampaknya dia tidak perlu melalui proses belajar untuk menjadi pintar. Gelombang otak dapat direkam dengan menggunakan Electroenchepalograph (EEG). Antara syaraf otak yang satu dengan yang lain ada jarak yang disebut sinaps. Proses belajar adalah proses untuk menyeberangi sinaps ini dan membuat hubungan antar syaraf. Semakin banyak neuron yang nyambung, semakin pintar pula orang tersebut. 05/2011/KENDURI  1


Cak Mono, sebagai pembicara memaparkan apa yang dimaksud dengan teokreasi. Teokreasi adalah konsep bahwa setiap yang kita ciptakan harus mengandung landasan-landasan ruh kasih sayang Allah dalam segi kebermanfaatannya. Dimulai dengan niteni, kemudian niroake, dan setelah itu nambah-nambahi. Dalam tataran yang lebih teoritik: tesa, protesa (tidak sepakat dengan ‘antitesa’ di sini ada brainstorming dan outsourcingide) dan kemudian sampai pada sintesa. Indra Munaswar dari Asosiasi Pekerja (ASPEK), bersama dengan rekannya Surya Chandra dari LSM Perburuhan TURC di Pejompongan, membahas Sistem Jaminan Sosial Negara (SJSN) yang merupakan amanat UU Nomor 40 Tahun 2004 yang sampai saat ini belum juga dilaksanakan. Jaminan sosial masuk dalam wilayah sila kelima Pancasila, batang tubuh UUD 45 Pasal 25A ayat (3), Pasal 34 ayat (2) dan Pasal 28I ayat (4). Secara konstitusi, seharusnya Negara memberikan jaminan sosial kepada seluruh rakyat tanpa terkecuali, yang meliputi jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan pensiun, sampai jaminan kematian. Jamkesmas yang dijalankan Pemerintah sekarang itu sifatnya charity, yang besarannya bisa ditambah, bisa dikurangi, bahkan bisa juga hilang. Berbeda dengan konsep bantuan sosial di mana uang yang kita keluarkan untuk biaya rumah sakit mendapat penggantian, SJSN yang pertama kali digagas oleh Gus Dur ini menyediakan jaminan bahkan ketika kita belum sakit. Setelah beberapa lagu dari Dik Doank dan kawan-kawan dari Kandank Jurank Doank, Cak Nun menyapa para jamaah, “Anda berkumpul di sini ini bukan produk Indonesia, karena di Indonesia orang berkumpul itu sama-sama karena menginginkan laba yang lebih banyak. Anda ke sini ini produk Allah.” “Pertanyaan saya adalah menurut Anda ketua PSSI itu baiknya siapa? Nomer dua, apa pendapat Anda ketika PSSI yang dianggap tidak kredibel kemudian mempersilahkan FIFA untuk membentuk komite yang bisa melahirkan kepengurusan baru? Apakah Anda ikut mengutuk Nurdin? Sebaiknya jangan, karena dia sudah lebih dari dikutuk banyak orang. Kalo FIFA Anda persilahkan membenahi PSSI, kenapa Anda tidak nyuruh PBB membenahi Republik Indonesia?” “Indonesia itu sedang berada di puncak lupa, di puncak kegilaan (junuun), di puncak alpa. Kenapa Merak macet? Apakah Anda pernah mencari tahu kapitalisasi 2  KENDURI/05/2011

kemacetan? Bisa nggak orang yang memegang hak membuka dan menutup jalan itu mempelajari kapitalisasi kemacetan? Bisa nggak jalan dikapitalisasikan? Porong Sidoarjo itu kapitalisasi lokal. Mungkin nggak ada kapitalisasi kemacetan dalam skala global yang menghasilkan omset sekian besar?” “Di Maiyah tidak perlu ada bahasa-bahasa yang bahaya secara hukum. Ini dari tadi cuma seumpama kok. Kalo misalnya ada investor dari China umpamanya, masuk dengan membawa 24 triliun; dengan budaya birokrasi Indonesia, mungkin nggak kalo dia membuat kesepakatan bahwa jika proyeknya diijinkan bakal ada bagian sebesar 3 triliun yang bisa langsung masuk untuk membiayai Pemilu tahun 2014?” -- “Tolong melihat apa saja yang ada di Indonesia; berpikir itu jangan cuma berpikir ganda tapi juga berpikirlah eskalatif.” “Info dari Mas Ian L. Betts, Amerika sedang mengembangkan ilmu baru yang namanya Noetic – sebuah ilmu mengenai kekuatan pikiran. Allah berkalikali menagihmu untuk berpikir, karena akalmu adalah wakil otoritasmu dalam menjalani hidup. Afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun...”  “Wahai Dunia, aku cinta sama kamu, cinta sama makananmu, aku cinta mall, aku cinta pohonpohonmu, aku cinta kepadamu Dunia, tapi maaf Dunia, jangan tunggu aku untuk melamarmu, karena aku tak tinggal di sini. Aku hanya lewat di sini. Masa mau benci dunia, awan, laut, langit, tanah? Tapi aku nggak bisa kawin sama kamu. Kita cuma pacaran sementara. Engkau cuma terminal sementara. Engkau cuma aku taruh di genggaman tanganku.” “Setelah proses penciptaan, Allah menyuruh Izrail untuk mberesin Homo Erectus dan menyiapkan transformasi. Allah mengatakan dan mengajarkan pada Adam namanama dari setiap benda kemudian si manusia diuji untuk menyebutkannya di depan malaikat. Nama yang manakah yang diajarkan Allah kepada Adam itu?” -- “Namanama benda merupakan evolusi dari cara-cara masyarakat menyebut benda yang kemudian disepakati bersama. Jadi nama benda-benda itu bikinan manusia, to? Terus yang diajarkan Allah kepada Adam itu nama-nama apa? Kan waktu itu belum ada komunitas yang berproses?” “Membaca itu yang nomor satu bukanlah literer, melainkan membaca fakta-fakta yang ada di alam. Inilah intisari dari perintah Iqraa. Tapi ada satu hal yang bisa kita pelajari, yaitu bahwa nama itu sangat penting, dan oleh karena itu harus kita perhatikan benar-benar.”


“Apa arti dari kata ‘Indonesia’? Apakah memang boleh sesuatu yang tidak punya arti didoakan? Kata ‘Indonesia’ digagas oleh seorang Belanda pada 1855 untuk menggantikan nama ‘Hindia Belanda’. Di antara 66 nama negeri (kerajaan) yang dari dulu ada di Nusantara, nama inilah yang paling tidak nyambung. Bahkan di dalam lagu kebangsaan, kita pun sebenarnya tidak mengakui ‘Indonesia’, karena yang kita doakan supaya terus hidup adalah Indonesia Raya.”  demikian mas Chandra yang telah berpuluh tahun melakukan riset dalam hal nama dan simbol, membuka uraiannya.    Cak Nun memberikan tambahan pada pernyataan sebelumnya oleh Mas Chandra, “Huruf, nama, gambar, logo, simbol, merupakan salah satu unsur dari entitas manusia. Ada nama yang secara kuantitatif tidak memenuhi tapi bisa ditenggelamkan oleh kualitatif dari nama itu, sehingga komprehensi dari unsur-unsur itu harus juga dipelajari. Seperti juga Anda yang memakai akik, misalnya, jangan pernah mau Anda diatur oleh akik Anda. Andalah yang harus mengaturnya. Bisa saja kekuatan kualitatif membuat yang kuantitatif jadi sekunder. Anda ini pemegang mandat takdir Allah. Dia menitipkan persentase otoritas, ngasih fasilitas, ngasih perlindungan. Anda adalah khalifah. Anda punya kekuatan untuk mentakdirkan hidup Anda sampai batas yang diijinkan Allah. Jangan lupa untuk terus ingat bahwa semua yang ada pada kita adalah remeh. Yang salah pada SBY adalah dia tak punya kemampuan sedikitpun untuk menertawakan diri sendiri, maka pekerjaan itu harus disebar ke seluruh masyarakat Indonesia.” Syaikh Nurshamad Kamba dalam forum Kenduri Cinta April 2011 menyampaikan beberapa hal: “Dalam diskusi di Maiyah, seseungguhnya saya tidak pernah berniat sekali pun ingin menyampaikan ilmu atau nasihat, apalagi kalau itu disebut sebagai dakwah. Dalam setiap forum Maiyah, berlaku sabda Rasulullah bahwa kalau setiap hari ilmu saya tidak bertambah berarti hidup saya tidak berkah. Di samping memperoleh ilmu untuk menerangi hidup kita ini, di Maiyah kita juga mendapat barokah.” -- “Adalah sulit kita gambarkan kebersamaan ketika ada yang duluan melangkah, ada yang belum melangkah; ada yang ke kiri, ada yang ke kanan. Betapa sulitnya menyatukan hamba-hamba Allah. Silahkan melangkah ke kiri atau kanan, yang penting ada ketulusan (keikhlasan). Esensi agama adalah ikhlas, melakukan sesuatu dengan sukarela, dengan senang, dengan perasaan nyaman. Maka Allah sangat membenci riya, klaimklaim bahwa kita yang paling benar dan yang lain salah. Allah menipu kita dengan kesan bahwa kita sedang melakukan kebaikan, padahal yang kita lakukan adalah kerusakan. Maka hanya Allah-lah tempat kita bergantung satu-satunya.” -- "Ketulusan yang ada di dalam forum kita ini adalah semacam penyangga dari runtuhnya bangsa kita. Dalam hadits disebutkan bahwa malaikat selalu memberikan naungan kepada majlis yang di situ

Allah diperkenalkan. Dan jangan sampai kita menganggap bahwa majlis itu selesai ketika sudah ditutup.”  “Ada satu idiomatik bahwa Indonesia bisa diibaratkan sebagai sawah yang jumlah alang-alangnya melebihi batas. Bagaimana bisa? Karena padi-padi itu semakin tidak berani menjadi padi. Padi-padi itu menjadi gabug, dan saat ini alang-alang sudah hampir memenuhi seisi sawah. Maka Allah akan melakukan pencabutan alangalang secara besar-besaran. Ada term rowasiyah, yaitu jodohnya gravitasi yang saat ini belum dikenal dunia Fisika. Pencabutan besar-besaran itu bisa melalui tsunami, bisa gempa, bisa amblesnya kota, dan sebagainya. Tapi itu bisa ditawar. Anda harus berani menjadi padi, yaitu berani berbuat baik. Saya hidup tidak karena atau untuk dipercaya oleh manusia.” -- “Tahun ini dan tahun depan benar-benar akan ada penyingkalan besar-besaran, tapi kita tawar, kita negosiasi dengan bikin ketulusan forum seperti ini. Ini jelas bukan produk Allah SWT. Kalo nggak mana bisa? Kekuatan Allah tajalli ke dalam tulang punggung Anda, ke dalam aliran darah Anda.”  Hampir pukul tiga pagi ketika Ustadz Wijayanto memulai sesinya. Lewat sebuah game sederhana – di mana jamaah diminta melakukan tepuk tangan sesuai instruksi. Beliau menyimpulkan bahwa membangun kebersamaan itu mudah pada awalnya, tapi susah ketika sudah ada yang harus dikorbankan. Melangkah itu perlu kekuatan. Melanjutkan analogi yang digunakan Cak Nun untuk menggambarkan Indonesia saat ini, Ustadz Wijayanto memaparkan bahwa ketika yang ada di sawah itu padi, yang tumbuh kemudian adalah rumput. Dan rumput itu mengundang kehadiran binatang ternak. Menurut Imam Al-Ghazali, binatang ternak itu sifatnya nggak peduli, tapi nggak apa-apa. Tapi kalau sudah tumbuh alangalang, yang datang adalah binatang buas. Binatang buas adalah binatang yang membahayakan. Jika alang-alang itu dibiarkan saja, sawah akan menjadi hutan. Hutan mengundang binatang berbisa. Jika binatang buas memangsa makhluk lain untuk memenuhi kebutuhan perutnya, binatang berbisa menyerang karena iseng. Dalam surah Thoha: 213 dan Al-Kahfi: 122-124 digambarkan mengenai hal ini, yaitu ketika manusia berbuat kejahatan tapi justru bangga terhadap apa yang dilakukannya. Itulah jumud. “Orang kalo udah iseng, luar biasa.” Ada beberapa sistem yang diberlakukan oleh Allah, yaitu sunatullah, nusratullah, dan qudratullah. Pada lapangan sunatullah, manusia harus bekerja keras untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Namun ada saat di mana Tuhan memberikan pertolongan tanpa bergantung pada sebab, yaitu dengan nusratullah dan qudratullah. (red/ratri)

05/2011/KENDURI  3


PENITI

MAIYAH UNTUK PEMBEBASAN

P

Oleh: Toto Rahardjo

erubahan sosial dan budaya menuju keadilan, kesejahteraan, kesetaraan dan kemakmuran bangsa, bisa dimulai dari penggalangan jamaah. Tidak harus dalam cakupan besar (kolosal) dan luas, melainkan kecil namun intens dan bermakna dalam membangun jamaah. Penggalangan jamaah harus dipahami sebagai gerakan budaya yang syaratnya terbebas dari kehendak serba kuasa dan nafsu megalomania. Gerakan kebudayaan tidak selamanya identik dengan gerakan berskala besar mencakup wilayah luas, atau bahkan tidak selamanya harus merupakan gerakan serempak beberapa kelompok jamaah dalam satu kawasan tertentu. Tulisan ini saya awali dengan peristiwa akbar yang dituturkan tiga kitab suci dari sumber yang sama: Taurat, Injil dan Quran. Ini adalah kisah tentang Musa dan para pengikutnya, para budak Ibrani, yang berjuang melawan kezaliman salah satu tiran terbesar dalam sejarah peradaban: Fira’un.  Dikisahkan, Para Penguasa Mesir Purba yang menyatakan diri sebagai penjelmaan Tuhan di muka bumi itu, merasa berkuasa mutlak untuk berbuat sesuka hati terhadap siapa dan apa saja. Bahkan mereka pun memperisteri ibu kandungnya sendiri, karena menganggapnya sebagai harta warisan dari para ayah mereka.  Rakyat Mesir pun menjadi hamba sahaya yang serba melayani nafsu angkara para Fira’un. Tetapi, penduduk Mesir yang paling menderita adalah orang-orang Ibrani yang diperlakukan sewenang-wenang sebagai budak belian yang diperjualbelikan dan dipaksa melakukan pekerjaanpekerjaan berat, kasar dan kotor. Mereka dihinakan seperti binatang atau lebih buruk dari hewan piaraan. Alkisah, suatu saat lahir seorang anak lelaki di antara para budak Ibrani tersebut. Namanya: Musa. Pada awalnya, Musa tumbuh dewasa menjadi seorang peragu. Ia suka menyendiri. Namun,  akhirnya Musa memenangkan “suara nurani” nya (baca: wahyu atau ilham Ilahi) untuk melakukan tindakan nyata melawan penindasan Fira’un. Ia pun tidak lagi hanya berkeluh-kesah dan meratap, terkadang menyumpah sendirian di pucuk-pucuk bukit sepi di luar kota. Ia mulai mengajak kaumnya menggalang kekuatan bersama, bersatu-padu, menentang kezaliman atas diri mereka. Musa akhirnya berhasil meyakinkan kaumnya untuk berjuang membebaskan diri dari cengkeraman sang tiran. Namun, perlawanan itu bukan pilihan yang mudah. Kekuatan Fira’un sangatlah digdaya dan tidak sebanding dengan kekuatan para penentangnya. Para budak Ibrani itu tak mampu menghadapi bala kekuatan yang sangat terlatih dan berperalatan lengkap. Tatkala mereka hampir tiba pada puncak keputusasaan, Musa kembali mendengarkan bisikan hatinya bahwa ia harus memimpin kaumnya keluar dari Tanah Mesir, menyeberangi Laut Merah ke Gurun Sinai.  Rencana itu mendapat tantangan keras, bahkan cemoohan dan pengkhianatan orang Ibrani sendiri. Bagaimana 4  KENDURI/05/2011

mungkin? Menyeberangi laut hanya dengan berjalan kaki? Tetapi, Musa bersikeras dan membawa mereka yang percaya, ke tepi Laut Merah. Maka, terjadilah apa yang kemudian kita ketahui sekarang sebagai suatu “mukjizat”: Musa meletakkan tongkatnya di atas permukaan air laut. Laut terbelah dua, menyisakan satu lorong panjang kering ke daratan Gunung Sinai di seberangnya. Musa berserta seluruh pengikutnya melenggang sepanjang lorong kering tersebut menyeberangi Laut Merah ke “tanah yang dijanjikan” bagi mereka: tanah kebebasan, alam kemerdekaan! Saat orang terakhir dalam barisan panjang itu menjejakkan kakinya di tepian Sinai, laut yang terbelah itu kembali menutup seperti semula. Bala tentara Fira’un yang mengejar mereka tertahan, bahkan banyak pula yang tenggelam. Menuju Pembebasan Inilah kisah indah tentang perjuangan sekelompok orang tertindas yang bersatu padu berjuang untuk melakukan pembebasan diri mereka. Semangat dan kerja keras mereka telah menciptakan “keajaiban”; sesuatu yang semula tidak mungkin menjadi mungkin dan nyata. Laut persoalan pun terbelah dan kemungkinan pun menjelma. Nyata.  Kisah ini mengilhami seorang organiser ulung zaman modern, Marthin Luther King Jr. Ia menggerakkan kaum kulit hitam Amerika Serikat melakukan long march ke ibukota Washington DC, yang akhirnya berhasil meraih cita-cita perjuangan mereka sebagai warga negara yang setara dengan kaum kulit putih. Pidato King bertajuk Membelah Laut (Parting the Water) yang bersejarah itu, telah mengawali salah satu gerakan hak-hak sipil terbesar di abad-20. King jelas-jelas mengutip kisah perjuangan Musa bersama para pengikutnya.  Sejujurnya, saya bukanlah seorang beriman dan beragama yang saleh seperti King, apalagi Musa. Tetapi, hal ini tidak menghalangi saya (atau mereka yang sama sekali “tidak beragama” sekalipun) untuk belajar khusuk dari hikmah kisah-kisah “hijrah” (eksodus) sejenis yang ada dalam kitab-kitab suci itu.  Misalnya, Yesus yang berjuang menyatukan murid-murid dan para pengikutnya berbaris pergi menyaksikan mukjizat kebangkitanNya kembali di Golgotta, pertanda pembebasan mereka. Atau Muhammad yang memimpin para sahabat dan kaumnya melakukan hijrah untuk membangun masyarakat dan peradaban baru di Madinah, awal kemerdekaan mereka.  Menghayati kisah-kisah peting itu sama khusuknya ketika saya menikmati kisah menggetarkan Siddharta Gautama yang menuntun para pengikutnya pergi meninggalkan kemewahan palsu istana kerajaan ayahnya. Atau, cerita seorang Gandhi yang melakukan perjalanan keliling India, menghimpun jutaan kawula negeri itu melakukan boikot


garam dan kain tenun Manchester. Atau, tindakan Tjut Nyak Dien yang mengerahkan rakyat Aceh keluar dari Kutaraja untuk mempertahankan kebebasan dan harga diri mereka.  Mereka– Manusia-Manusia Besar itu, adalah para “penggalang” (organizers) rakyat tertindas ke arah pembebasan dan pemerdekaan diri mereka.  Gerakan mereka berbeda dengan para kesatria seperti Julius Caesar, Ken Arok, Lord Cromwell, Napoleon Bonaparte atau Soedirman. Begitu pula dengan para pemimpin politik sekaligus pejuang revolusioner seperti Simon Bolivar, Vladimir Lenin, Mao Tse Tung, Ho Chi Minh, Soekarno atau Ayatollah Khomaeni. Para ksatria dan pejuang ini juga menggalang rakyat untuk melakukan pembebasan, tetapi sekaligus suatu pertarungan dan perebutan kekuasaan politik dan ideologi (partai atau negara).  Ada pun Musa, Yesus, Muhammad, Siddharta, Gandhi dan Tjut Nyak Dien menggalang rakyat karena panggilan untuk mempertahankan matabat, keyakinan-keyakinan dan hak-hak mereka sebagai suatu kaum. Kaum yang mereka galang dan himpun itu  tidak selalu mewujud dalam suatu partai politik atau negara. Sehingga mereka tidak pula perlu melakukan penaklukan atau penguasaan balik terhadap pihak-pihak yang menindas hak-hak dan mengekang kemerdekaan mereka selama ini. Mereka bahkan melakukannya tanpa pamrih pribadi. Mereka tetap menyadari keterbatasan pribadi, taat asas pada prinsip dan tujuan penggalangan rakyat yang sebenarnya. Pada saatnya, dengan rendah hati mereka pun menyerahkan kekuasaan dan kepemimpinan mereka kepada rakyat. Rakyat didorong untuk melanjutkan usaha yang telah mereka rintis. Mereka pun akhirnya memilih mundur secara terhormat dan kembali menjadi “orang biasa” atau melanjutkan kerja yang sama di tempat lain. Begitulah tindakan yang pernah dilakukan oleh orangorang seperti Che Guevara, Julius Nyerere, Nelson Mandela, dan nampaknya juga (sejarah yang akan membuktikan nanti) oleh Xanana Gusmao. Mereka adalah orang-orang yang disebut oleh filosof Cina Purba, Lao Tze, sebagai para penggalang rakyat yang rela mundur ketika perjuangannya telah mencapai hasil. Mereka sangat memahami pernyataan rakyat, “Kami semualah yang menyelesaikan sendiri pekerjaan ini”. Gerakan Budaya  Berjuang merebut kekuasaan sangat berbeda dengan berjuang merebut kedaulatan dan harga diri. “Berkuasa” atas orang lain jelas berbeda dengan “berdaulat” atas diri sendiri. Jadi,  penggalang jamaah berbeda dengan tindakan merebut kekuasaan seperti yang dilakukan para pahlawan atau para pemimpin politik. Pada awalnya, mereka adalah ‘orang biasa’ seperti kita yang berjuang bersama kaumnya menentukan pilihan sadar dan bebas atas mereka sendiri. Yakni, pilihan untuk berdaulat penuh memutuskan dan mengatur diri mereka sendiri. Bahwa rakyat atau kaum yang digalangnya itu kemudian mendaulat mereka menjadi pahlawan, pemimpin, bahkan penguasa baru, itu soal lain; misalnya kasus yang terjadi pada pendiri dan pemimpin serikat buruh bebas “Solidarichnoz” di Polandia, Lech Walesa. Bahwa setelah mereka telah menjadi pemimpin dan penguasa kemudian terjebak dalam perangkap kekuasaan

yang memabukkan dan membuat lupa diri (ironi semacam ini memang sangat sering terjadi dalam sejarah), itu adalah soal lain berikutnya lagi.  Dalam gerakan, nilai terpenting terkandung dalam niat perjuangan yang tanpa “nafsu kekuasaan”, apalagi balas dendam, melainkan ‘semangat pembebasan’ untuk menjadi manusia atau kaum merdeka, tanpa harus mengorbankan kemerdekaan pihak lain. Maka, menggalang jamaah harus dipahami sebagai gerakan membangun tatanan nilai, keyakinan, kepercayaan, sikap dan cara hidup merdeka dan berdaulat atas diri sendiri. Ini dilakukan terutama bukan untuk merebut kekuasaan dan kemudian berkuasa, apalagi untuk menguasai orang lain. Ibarat membangun rumah, inilah landas pijak yang paling fundamental.  Tanpa pondasi itu mustahil mendirikan bangunan rumah yang kokoh di atasnya.  Karena itu, penggalangan jamaah  harus dipahami sebagai “gerakan budaya” yang harus terbebas dari kehendak serba kuasa dan nafsu megalomania. Gerakan kebudayaan tidak selamanya identik dengan gerakan berskala besar mencakup wilayah luas, atau bahkan tidak selamanya harus merupakan gerakan serempak beberapa kelompok kaum dalam satu kawasan tertentu.  Gerakan penggalangan jamaah bahkan memang harus dimulai, hanya pada satu kelompok kecil orang (seberapa pun jumlahnya). Juga, tidak selamanya harus dimulai dari sekelompok besar orang yang memiliki ikatan kesamaan identitas sosial budaya (suku, kebangsaan atau agama), tetapi bisa saja dimulai dari mereka yang hanya dipersatukan oleh ikatan kesamaan tuntutan dan kehendak (kepentingan, minat, pekerjaan, atau nasib) saja. Jumlah orang dan sebaran tempat bukanlah hal terpenting di awal prakarsa penggalangan jamaah sebagai suatu gerakan kebudayaan.  Fakta sejarah memperlihatkan, gerakan-gerakan kebudayaan yang kini mendunia, yang bersifat keagamaan (seperti gerakan Musa, Yesus, Muhammad dan Siddharta) maupun yang sekuler (seperti gerakan Koperasi nya Thomas More, Komune Paris nya Proudhon dan kawankawan, Swadeshi-nya Gandhi), justru berawal dari tindakan-tindakan kolektif dari sejumlah kecil orang di suatu tempat tertentu. Gerakan itu pada mulanya merupakan gerakan kelompok minoritas tertindas yang disepelekan oleh kelompok mayoritas dan dinistakan kaum elite penguasa. Seandainya gerakan-gerakan kebudayaan semacam itu tidak membawa dampak atau pengaruh mendunia, paling tidak, ia berhasil menciptakan suatu identitas baru budaya dan sosial yang unik dan bermartabat. Dalam hal inilah, kita patut menaruh hormat pada gerakangerakan lokal tetapi monumental dan fenomenal, bahkan menjadi legenda, seperti apa yang telah dilakukan oleh Geronimo, Sandino, Sidi Mochtar, Malcolm X, Chico Mendes, Surontiko Samin, atau  gerakan-gerakan kolektif yang lebih mutakhir seperti Chipko di India, Zapatista di Meksiko atau bahkan juga Kibbutz di Israel.  Dalam konteks gerakan-gerakan kolektif semacam ini, gerakan kebudayaan itu sekaligus menjadi suatu “gerakan sosial” bagi semua orang yang terlibat di dalamnya. Seringkali gerakan itu tanpa perlu ada seorang pemimpin tunggal, melainkan kepemimpinan bersama dalam suatu dewan atau lembaga permusyawaratan.  Gerakan penggalangan jamaah harus selalu bermula pada 05/2011/KENDURI  5


sekelompok orang dan tempat yang khas. Gerakan itu harus dirancang secara sadar untuk tujuan jangka panjang. Gerakan itu harus pula dipahami sebagai suatu proses yang tak pernah selesai dan selalu bermula kembali (a commencement), bukan suatu gerakan khalayak sesaat tanpa titik-tolak dan jati diri yang jelas (anonymous and sporadic crowd). Membangun Perkauman  Pada saat gerakan itu mulai membesar, meluas dan mulai diteladani  kelompok-kelompok lain di berbagai tempat atau dengan kata lain gerakan itu telah muncul sebagai suatu gerakan sosial dalam arti yang sesungguhnya, maka mulailah terbentuk  himpunan-himpunan perkauman khas yang mandiri dan otonom, memenuhi kebutuhan pokok mereka sendiri, mengelola sumberdaya mereka sendiri, mengatur tata hidup dan pemerintahan mereka sendiri, tanpa perlu atau harus mengorbankan kemandirian dan otonomi kelompok atau kaum lainnya. Himpunan-himpunan perkauman yang swadaya, swatantra, swakelola dan swapraja  semacam ini saling berhubungan satu sama lain secara organik dan fungsional atas dasar azas saling menghormati, saling memberi manfaat dan menerima maslahat bersama. Singkatnya, gerakan itu membentuk sesuatu yang disebut jama’ah. Jama’ah terbentuk pertama kali dalam satuan-satuan sosial terkecil setempat sebagai intinya, kemudian menyebar dan berkembang menjadi himpunan-himpunan perkauman yang lebih besar, tetapi tetap mempertahankan keunikan dan otonominya masing-masing.  Menggalang jamaah ke arah pembentukan jama’ah yang kuat, berbeda bahkan berlawanan dengan membangun masyarakat politik (political society) atau negara (state) yang menguasai, memiliki dan memaksakan suatu kekuasaan politik atas warganya sendiri atau warga lain yang melahirkan faham penjajahan (kolonialisme). Menggalang jamaah,  membayangkannya sebagai suatu proses untuk “merebut kekuasaan politik pemerintahan” atau “dalam rangka membangun suatu negara yang kuat”, adalah suatu sesat-pikir yang kacau-rancau. Membangun jamaah, jelas berbeda dengan membangun negara. Namun, penggalangan jamaah sebagai suatu gerakan kebudayaan, sekaligus gerakan sosial, tidak berarti tanpa jelmaan menjadi suatu “gerakan politik”. Tentu hal ini terjadi tanpa harus menjadi “jamaah politik”.  Jika politik kita maknai sebagai kedaulatan suatu kaum mengatur diri sendiri dan membagi kemaslahatan bersama terhadap kaum lainnya melalui pembangunan tatanan yang telah disepakati bersama maka perjuangan kaum tersebut merupakan perjuangan politik. Yakni,  mempertahankan diri dari kaum lain (masyarakat politik atau negara), yang selalu berusaha merebut dan menguasainya. Atau perjuangan politik itu bisa dimaknai sebagai upaya merebut kembali kedaulatan mereka yang pernah direbut oleh kaum lain (jadi, bukan merebut kedaulatan kaum lain itu). Tindakan ini merupakan  “politik masyarakat warga” (the politics of civil society), meskipun tanpa partai politik atau melalui kekuasaan negara.  Bisa jadi, dalam upaya mempertahankan dan/atau merebut kembali kedaulatan tersebut, jamaah akhirnya dihadapkan pada pilihan mempertahankan dan/atau merebutnya 6  KENDURI/05/2011

kembali dengan kekuatan senjata pula, karena lawannya juga menggunakan kekuatan yang sama. Maka berubahlah penggalangan jamaah yang semula merupakan gerakan kebudayaan, gerakan sosial dan gerakan politik, menjadi “gerakan bersenjata” atau “gerakan militer”. Lantas, apakah masih layak menyebutnya sebagai gerakan jamaah?  Jika gerakan bersenjata itu, setelah berhasil mencapai tujuan utamanya mempertahankan dan/atau merebut kembali kedaulatan kaumnya, mampu membuktikan dirinya tidak berubah menjadi kekuatan militer penguasa baru untuk merebut kedaulatan kaum lain, lebih terpuji lagi secara sukarela membubarkan diri kembali menjadi jamaah biasa, maka jawabannya adalah “ya”. Tetapi, apakah itu mungkin? Bukankah sejarah selama ini membuktikan bahwa ketika suatu pemberontakan rakyat bersenjata mencapai kemenangan, mereka selalu lupa diri dan berubah menjadi tentara penguasa baru yang seringkali lebih kejam katimbang rezim yang digantikannya?  Pesimisme bahkan sinisme seperti itu pernah dijawab oleh Front Sandinista. gerakan revolusioner  masyarakat warga di Nikaragua. Ketika Front Sandinista berhasil mencapai kemenangan pada tahun 1979 dengan merebut kembali kedaulatan rakyat Nikaragua dari diktator militer Jenderal Antonio Somoza, mereka akhirnya membubarkan pasukan milisia mereka (umumnya para petani dan buruh miskin) dan kembali menjadi warga sipil biasa. Mereka pun kemudian menghapuskan hukuman mati bagi para pengikut Somoza, termasuk para algojo pembantai dari dinas rahasia dan pasukan khusus pengawal pribadi sang diktator.  Sandinista (diambil dari nama Sandino, pemimpin gerakan petani legendaris Amerika Latin) membuktikan diri sebagai gerakan revolusioner modern pertama, sejak Revolusi Perancis pada tahun 1789, yang mencapai kemenangan tanpa pelaksanaan hukuman mati, pancung leher atau regu tembak. Salah seorang pendiri dan pemimpin utamanya, Tomas Borge, mengumumkan: “Pembalasan dendam kita adalah pemberian maaf!“. Ucapan ini persis seperti yang diucapkan dan dilakukan oleh Nelson Mandela dengan Kongres Nasional Afrika (ANC) nya, setelah berhasil merebut kembali kedaulatan warga kulit-hitam Afrika Selatan dari rezim apartheid Partai Nasional. “Apa salahnya kami mempertahankan diri, kedaulatan dan hak-hak kami, dengan menggunakan senjata? Mengapa kalian tidak mempertanyakan mereka yang juga menggunakan senjata merebut kedaulatan dan menindas hak-hak kami selama ini?”, sanggah Commandante Marcos, pemimpin sayap bersenjata gerakan petani Zapatista di Meksiko. Orang yang selalu bertopeng dan tidak jelas nama sebenarnya ini (ada yang menyatakan bahwa Sang Komandan sebenarnya bukanlah satu orang, tetapi beberapa orang secara bergantian sebagai cara untuk mengelabui pemerintah dan pasukan tentara Meksiko) menyatakan jaminannya: “Jika kami nanti berhasil memperoleh kembali kedaulatan dan hak-hak kami, kami tidak akan melukai siapa pun. Tidak akan ada pembalasan dendam. Kami akan menguburkan semua senjata kami, kembali menjadi petani biasa seperti apa adanya kami selama ini”. Sebuah Otokritik  Walhasil, kerja penggalangan jamaah merupakan pekerjaan yang sangat kompleks, berjangka panjang dan


melelahkan. Karena itu, mungkin yang menyebabkan tidak banyak orang berminat melakukan pekerjaan ini secara bersungguh-sungguh. Bahkan, di kalangan para aktivis yang mengaku membela agama, Organisasi Non Pemerintah (ORNOP) sendiri, lebih banyak yang bergerak di bidang lain yang tidak membutuhkan cucuran keringat, dan  lebih memungkinkan hadir di pusat-pusat keramaian dan kekuasaan, atau bidang-bidang lainnya yang lebih menjanjikan ketenaran pribadi, katimbang benar-benar hidup dan bekerja langsung di tengah rakyat jelata awam di tempat-tempat kusam, pengap, jauh, terpencil, dan umumnya tanpa kecukupan sarana/prasarana, serta  nyaris tak terliput oleh pemberitaan media massa modern. Seringkali para aktivis itu mengaku melakukan penggalangan, tetapi sebenarnya yang mereka lakukan adalah sekadar “mengerahkan” (memobilisasi) rakyat melakukan tindakan-tindakan yang dirancang oleh para aktivis  itu sendiri.  Padahal, pengerahan massa semacam itu hanyalah salah satu bagian terkecil dari keseluruhan proses penggalangan jamaah yang sesungguhnya. Lebih mengenaskan lagi, ada banyak kasus di kalangan aktivis di Indonesia selama ini yang, segera setelah suatu tindakan pengerahan massa terjadi, mereka tidak melakukan apa-apa lagi, membiarkan rakyat kebingungan sendirian,. Rakyat pun hanya bergerak jika para aktivis datang lagi mengerahkan dan “memimpin” mereka. Faktanya, semakin banyak Ormas tumbuh di mana-mana dan semakin kuat sebagai suatu organisasi, bahkan semakin membesar sebagai suatu lembaga, tetapi tidak banyak lembaga jamaah  awam yang mereka kerahkan selama ini yang tumbuh menjadi suatu jama’ah yang kuat, mandiri, berdaulat dan otonom. Apa yang terjadi adalah para ORMAS yang mengaku menggalang jamaah dengan retorika “pemberdayaan” (empowerment) tersebut, sebenarnya “memberdayakan” atau “memperkuat dan memperbesar lembaga mereka sendiri”. Pengalaman menunjukkan bahwa kemencengan semacam ini terjadi bukan terutama karena mereka tidak mengetahui bagaimana caranya melakukan penggalangan jamaah  secara baik dan benar, tetapi lebih disebabkan oleh pemahaman yang agak keliru dan kabur mengenai prinsipprinsip dasar dan tujuan-tujuan asas dari penggalangan jamaah itu sendiri.  Hampir semua aktivis di Indonesia selama ini berasal dari kalangan terpelajar dan lapisan kelas menengah, umumnya para aktivis atau mantan aktivis mahasiswa, yang selalu cenderung melihat diri mereka sebagai “kelompok terpilih untuk memimpin” rakyat. Bisa dimaklumi kalau mereka sangat gampang terjebak oleh apa yang disebut oleh salah seorang aktivis senior dan pengamat gerakan sosial di Indonesia, Mansour Fakih (alm), sebagai “kemencengan” (biases) akan posisi diri mereka sebagai “pemimpin”, “pembela” atau bahkan “penyelamat” rakyat. Pemahaman yang melenceng inilah yang membuat mereka juga melakukan proses-proses penggalangan rakyat dengan cara-cara pengerahan massa serba sesaat dan sporadik tanpa meletakkan dasar-dasar kelembagaan yang kuat dan berakar di tengah rakyat.  Kembali pada amsal membangun rumah. Pondasi (pengertian, prinsip-prinsip dasar dan tujuan-tujuan asas) yang lemah akan membuat ringkih tegakan tiang, dinding,

kerangka atap dan atap (strategi, metoda dan media, teknik, perangkat kelembagaan). Harus diakui bahwa berbagai kelemahan mendasar tersebut tidak seluruhnya bersumber dari kemencengan pemahaman dan kemampuan teknis metodologis dalam tubuh organisasi sendiri.  Dengan kata lain, para aktivis maiyah  semakin dituntut untuk menguasai kemampuan melakukan penggalangan jamaah langsung di tengah basis pada tingkat lokal. Karena itu pula, mereka dituntut untuk memahami benar prinsip-prinsip dasar dan tujuan-tujuan asas penggalangan jamaah sebagai suatu gerakan kebudayaan, gerakan sosial dan gerakan politik sekaligus yang selalu bermula dari sekelompok tertentu, orang dan tempat yang jelas. Demikianlah yang terjadi dalam sejarah. Musa memulainya dari minoritas budak Ibrani di Mesir, Yesus memulainya dari sekelompok kecil murid-muridnya yang percaya, Muhammad memulainya dari segelintir orang yang disingkirkan oleh kaumnya di Mekah, Siddharta memulainya dari para pelayannya sendiri, Gandhi memulainya dari kaum Harijan yang terhina, dan seterusnya. Mereka semua mengubah dunia dengan tindakan-tindakan nyata yang semula nampak biasa saja, bahkan pada mulanya disepelekan dan dihinakan.  Penggalangan jamaah memang pada akhirnya adalah “kehendak untuk bertindak dan tindakan itu sendiri untuk melakukan perubahan”, tidak hanya sekadar asyik merenung, berfikir dan menganalisis apa yang terjadi di dunia ini oleh tindakan-tindakan orang lain. Seperti kata seorang lelaki yang terlahir dari satu keluarga penganut ajaran Musa, beberapa abad kemudian di Trier, di lembah Rhein di Jerman, bahwa: “Orang-orang bijak dan pintar hanya menafsirkan dunia ini dalam berbagai cara, tetapi yang terpenting adalah merubah dunia!”. Tindakan lah yang membuat sesuatu yang pada mulanya nampak sepele dan kecil menjadi sesuatu yang besar dan bermakna, membuat sesuatu yang semula nampak mustahil menjadi mungkin, ibarat si Musa yang membelah laut itu. (totorahardjo) ++

Maiyah adalah perlawanan badar yang sabar dan berilmu matang terhadap segala jenis kebudayaan, segala jenis benda tekhnologi, sastra dan lagu, kesenian dan kerajinan, berita dan hiburan yang menjunjung kebodohan dan mencaci ilmu, yang memuja kekonyolan dan melecehkan derajat manusia, yang membiayai besar-besaran kehinaan nilai, yang menghancurkan kehormatan, yang mencuri rahmat Allah. (EAN)

05/2011/KENDURI  7


SANG CENDEKIAWAN

Oleh: Pudji Asmanto Nuwun Sewu

Cendekiawan memang biasanya sombong, karena CENDEKIA-wan adalah orang yang meRASA dirinya CERDIK dan PINTAR. Ia meRASA cerdik dan pintar karena merasa dirinya terpelajar. Orang GAGAH tidak akan mengatakan dirinya gagah, orang CANTIK akan MALU menyebut dirinya cantik atau orang ganteng pantang menyematkan PREDIKAT GANTENG di dadanya. Namun, banyak orang terpelajar mengelompokkan dirinya dan mengikat diri dalam satu IKATAN CENDEKIAWAN. Sadar atau sedang berkelakar, memasang LABEL CENDEKIAWAN adalah keSOMBONGan normatif yang menjadi kewajaran bagi orang-orang terperlajar. Sungguh mereka adalah orang-orang terpelajar, karena mereka tekun belajar. Mereka pernah menjadi pelajar (student) yang belajar (study) untuk mendapatkan pengetahuan (knowledge). Pengetahuan memang akar katanya TAHU, hingga mereka banyak TAHU namun belum PERNAH melakukan atau merasakan apa yang diketahuinya.  Seorang pelajar tentu TAHU ibukota Perancis adalah PARIS, namun belum pernah merasakan dinginnya kota Paris saat winter atau tangannya belum pernah bersentuhan dengan besi menara Eiffel. Mereka tahu teori ekonomi, namun tak pernah jualan sandal atau meRASAkan nikmatnya LABA dan indahnya RUGI.  Jika para Cendekiawan seperti ini diberi kesempatan mengatur tatanan Negara - maka yang terjadi adalah ‘coba-coba’ atau eksperimen. Wong sama Negara kok coba-coba..! Cendekiawan adalah produk perguruan TINGGI - lembaga seperti UI, ITS, UGM, IPB, ITB dan sejenisnya. Jadi jika ada produk yang tercetak dan berperilaku tinggi hati itu wajar. Yang tidak wajar adalah gelar atau label para pengajar selayaknya bukan GURU BESAR melainkan GURU TINGGI - ini lebih konsisten.  Karena tinggi itu arahnya keatas, maka biasanya para Cendekiawan tahu banyak untuk sesuatu yang berada di permukaan, bukan yang hakekat yang tersembunyi dan faham secara mendalam untuk suatu fenomena kehidupan.  Bahasa Nganjuk wanti-wanti mengatakan: “ILMU iku kelakone kanthi LAKU” - Science is performed by experiences - Science is a Guidance. Inilah bedanya pengajaran dan pendidikan. Pengajaran menghasilkan orang cerdik (smart), trampil (skillful) dan pintar (clever) yang berpengetahuan (having knowledge), sedang pendidikan membangun orang bijak (wise) dan alim (alim adalah orang berilmu - devout) yang semakin tunduk karena mengenal dirinya sendiri. Dan dengan mengenal dirinya sendiri ia mengenal Tuhannya.  Dalam pengajaran yang diasah adalah otak (brain) dan yang diolah adalah ketrampilan gerakan (skillfulness). Pengajaran memproduksi manusia untuk siap bekerja - ini serupa dengan KURSUS. Pendidikan adalah proses penyadaran yang berfokus pada HATI hingga ‘peka’ untuk mampu meRASAkan gerakan alam relatif terhadap pergerakan dirinya. Output dari serangkaian proses penDIDIKan adalah manusia yang mampu menDUDUK-kan dirinya relatif terhadap alam semesta, sesama manusia dengan senantiasa mutlak berGANTUNG kepada TUHANnya.  Pendidikan adalah urusan moral, akhlak yang berbuah pada indahnya perilaku (behavior) yang meperHATIkan ETIKA.  Tak perlu GUSAR jika menyaksikan pera Cendekiawan terpelajar sering berperilaku menyimpang dan bahkan melanggar. Tak perlu RESAH, karena SOMBONGnya sang Cendekiawan adalah SAH. Sungguh, SOMBONG adalah SAH bagi manusia yang ketiaknya masih BASAH - perindah kesombonganmu dengan menyetrika bulu ketiakmu - Silahkan malang kerik, malang kadak atau malang kirik. Semoga lekas sembuh!

Kontributor: Emha Ainun Nadjib, Toto Rahardjo, Pudji Asmanto, Nursamad Kamba, Ratri Dian Ariani, Supadmono, Agung Pambudi, Chandra, Indra Munaswar, Surya Chandra, Widjayanto, Gufron. Redaksi: Adi Pujo, Roni Octafian, Gandhie Tanjung. Diterbitkan oleh: Komunitas Maiyah KenduriCinta.

05 © KENDURI CINTA Jalan Cikini 73, Jakarta Pusat email: redaksi@kenduricinta.com twitter: @kenduricinta facebook; komunitas kenduri cinta

www.kenduricinta.com

8  KENDURI/05/2011


JURNAL KENDURI (April 2011)