Page 6

7

Kendari Pos |Jumat, 19 Agustus 2011

Ruhut “Kaget” dengan Tindakan Nazar Ruhut ........................ setelah dibawa ke Indonesia, dia anteng saja,” tambahnya. Anggota Komisi III DPR itu, geram dan meminta Nazar ditembak mati, karena kaget dengan kelakuan mantan rekannya di

partai berlambang mercy itu yang diduga terlibat kasus korupsi yang merugikan negara hingga Rp6 triliun. “Bayangkan apa nggak kaget dengar kasus Rp6 triliun lebih,” kata Ruhut lagi. Maka dari itu, menurut Ruhut, Partai Demokrat sudah tidak penting lagi dengan ‘bendera

putih’ yang dilontarkan Nazarudin yang mengaku siap berhenti berkicau dan siap dipenjara sendiri asal anak dan istrinya tidak diganggu. “Silahkan nyanyi dan berkicaulah. Kami akan proses kader kami yang terlibat, tidak akan kami lindungi,” tegasnya.

Dia juga mengimbau, semua nama politisi yang disebut-sebut terlibat korupsi oleh mantan buronan polisi internasional itu, jangan mau mendengar rayuan gombal Nazarudin. "Bagi saya proses terus kasus Nazarudin, bila perlu ditembak mati," tegas Ruhut kembali.(boy)

Kadang-kadang Sang Kakek Menjadi Penyiar Radio Keluarga .................... Mulyadi yang ditemui setelah penganugerahan. Di antara para hadirin, hadir tiga di antara empat anak Mulyadi. Yakni, Elfa Rakhmawati, 38 (anak kedua); Johan Abdurrachman, 34 (anak ketiga); dan Rakhmat Arifandi, 30 (bungsu). Si sulung Firman Bachtiar, 41, sejatinya ikut namun harus segera meninggalkan acara karena bersiap pergi umrah. Penganugerahan penghargaan kemarin menjadi puncak rangkaian acara yang diadakan Kemenag. Sejak Sabtu (13/8), mereka diasramakan di Hotel Bidakara untuk menjalani berbagai tes dan wawancara. Ujian untuk memilih keluarga sakinah se-Indonesia itu diawali dengan tes tulis untuk masing-masing pasangan. Yakni, mulai ujian pengetahuan umum hingga peraturan perundang-undangan. "Sampai-sampai, ujian P4 (pedoman, penghayatan, dan pengamalan Pancasila, Red) juga ada," ujar Tien lantas terkekeh. Minggu (14/8) dan Senin (15/ 8) mereka menjalani tes wawancara. Masing-masing pasangan dihadapkan pada empat juri. Pada Selasa (16/8) dan Rabu (17/ 8), acara lebih banyak seremonial. Selasa (16/8) mereka hadir di gedung DPR/MPR untuk mendengarkan pidato kenegaraan dan pengantar nota keuangan. Kemarin (17/8) mereka sempat ikut upacara HUT Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Yang paling berat adalah Minggu dan Senin. Sebab, mereka harus meladeni banyak pertanyaan dewan juri. Yakni, tentang cara mengelola keluarga. Mulyadi menjawab pertanyaan itu dengan enteng. "Pedoman saya ada semua dalam Alquran," tegas dosen pascasarjana STIE Perbanas Jakarta dan direktur Politeknik Sawunggalih Aji, Purworejo, Jawa Tengah, itu. Dia mengungkapkan, dirinya memegang betul Surat Annisa ayat 8 yang memerintahkan agar tidak meninggalkan keluarga dalam keadaan lemah. Karena itu, dia berupaya keras agar anak-anaknya bisa mentas. Mereka harus berpendidikan dan mandiri secara finansial. "Saya juga harus menjaga keluarga dari api neraka seperti yang disebutkan dalam Surat At Tahrim ayat 6," jelasnya. Karena itu, kakek delapan cucu tersebut menerapkan disiplin yang tinggi terhadap anakanaknya. Terutama soal agama dan pendidikan. Salah satu aturan yang sangat ketat bagi anak-anaknya adalah dilarang keluar setelah salat Magrib. Mereka harus berada di rumah dan belajar sampai pukul 21.30. Meski mengantuk, belajar harus berjalan terus. "Saya ingat, waktu mengeluh ngantuk, sama bapak disuruh cuci muka, terus lanjut belajar. Padahal, pengen tidur," kata Elfa Rakhmawati, satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Seluruh anak juga dilarang pulang lebih dari pukul 24.00. Kalau lewat jam malam, mau tidak mau, mereka harus tidur di teras atau garasi bersama nyamuk. "Pagi-pagi bapak baru bukain pintu. Tapi, dimarahi dulu, baru bisa masuk rumah. Padahal, badan sudah bentolbentol," ujar si bungsu Rakhmat Arifandi. "Dia ini yang termasuk sering," timpal Johan Abdurrahman menunjuk Rakhmat lantas tergelak. Dalam mendidik anak-anaknya, Mulyadi juga mendorong agar mereka menjadi pemimpin. Setiap salat, anak-anak lelaki bergiliran menjadi imam salat. Kendati makmumnya adalah kakak, ibu, bahkan sang ayah, mau tidak mau mereka harus bisa. "Dulu, Johan ini waktu jadi imam, surat yang dibaca kalau tidak kulhu (Surat Al Ikhlas, Red), ya inna a'toina (Surat Al Kautsar, Red)," kata Mulyadi lantas tergelak. Johan pun meringis. "Tapi, nggak apa-apa. Namanya belajar. Kita biarkan

dulu mereka," imbuh Mulyadi. Keluarga Mulyadi juga terbiasa merayakan ulang tahun. Namun, perayaan itu hanya dilakukan khusus di internal keluarga. Tien bertugas membuat nasi kuning dan Mulyadi memimpin doa bersama. Kebiasaan tersebut terus berlangsung dan bisa membuat keluarga kompak. Mulyadi yang asal Surabaya itu mengungkapkan, sebagai kepala keluarga, dirinya harus menjadi teladan sekaligus idola. Dia harus memberikan contoh sekaligus dekat dengan anak-anaknya. "Saya harus jadi hero bagi mereka," tegasnya. Setiap memarahi anak-anaknya, Mulyadi berusaha tidak melakukannya di depan orang lain. Saat tamu sudah pulang, baru dia mengingatkan anakanaknya agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Begitu juga ketika ada masalah dengan Tien. "Jangan sampai saya sama istri cekcok di depan anak-anak. Harus dijaga betul," ujarnya. Saat ini, Mulyadi sudah tenang. Pendidikan yang disiplin bagi anak-anaknya mulai membuahkan hasil. Semua putra-putrinya minimal berpen-

didikan sarjana strata satu. Beberapa di antaranya strata dua. Seluruh anaknya sudah pergi haji pada usia yang cukup muda. Bahkan, Elfa berhaji saat baru berusia 20 tahun. Elfa berhaji bersama paman dan tantenya karena Mulyadi tidak bisa menemani. Seluruh anak Mulyadi-Tien kini tinggal di Jakarta. Si sulung Firman mendirikan perusahaan penyedia alat peraga pendidikan diikuti Johan yang mengurusi bagian keuangan. Si bungsu berwirausaha, sedangkan Elfa mengurusi perusahaan radio milik keluarga. Mulyadi dan Tien memang keluarga yang sangat kreatif. Kendati hanya lulusan SMA, Tien bahkan mendirikan Politeknik Sawunggalih dan memimpin sebuah yayasan. Dia juga mendirikan perusahaan penyiaran PT Radio Fortuna di Purworejo. Radio yang awalnya hanya untuk komunitas itu kini menjadi radio komersial dan mengudara via gelombang FM. "Kadang-kadang, saya menjadi penyiarnya," ungkap Mulyadi lantas tersenyum. Saat ini, anak-anak Mulyadi sudah berkeluarga sendirisendiri. Masing-masing memi-

liki dua anak. Mulyadi mendorong mereka agar mendidik anak-anaknya sendiri, tidak dilimpahkan kepada dirinya. Sebab, mereka sudah memiliki kehidupan dan tanggung jawab sendiri. "Tapi, tidak berarti kita tak dekat dengan cucu. Dekat iya, tapi mereka tetap harus bertanggung jawab," jelasnya. Kendati orang tua lebih sering di Purworejo, mereka tidak pernah sulit berkomunikasi. Sebab, hampir seluruh anggota keluarga memiliki BlackBerry. Bahkan, hingga cucu pun dibekali gadget asal Kanada itu untuk berkomunikasi. Mereka juga membikin grup di BlackBerry khusus anggota keluarga. Namanya the Mulyadi. Di situ, kakek, nenek, maupun cucu boleh curhat. Ingin mengadu saat dimarahi orang tua juga bisa. Para cucu yang ceriwis biasanya menggunakan grup itu untuk berbincang akrab dengan kakek dan nenek. Pernah, saat salah seorang cucu hendak disuntik, dia meminta kakek dan nenek mendoakan. "Mungkin karena takut disuntik, dia bilang minta doanya embah dan embah putri," ungkap Tien.(nw)

SBY Tolak Tawaran Nazaruddin Nazaruddin ................ Istana Negara, kemarin. Lalu bagaimana soal permohonan Nazaruddin agar Presiden SBY berjanji bisa memberikan ketenangan lahir batin pada keluarganya, dengan kompensasi selama proses pemeriksaan di KPK tidak akan menyeret nama politisi Partai Demokrat? “Kalau dikatakan mengganggu anak-istri, tidak ada sedikitpun kaitannya dengan Pak SBY. Tidak ada kaitan langsung Pak Presiden melakukan intervensi apapun pada proses hukum,” tegas Julian. Sebagaimana diketahui, melalui kuasa hukumnya OC Kaligis, Nazaruddin tengah mempersiapkan sebuah surat permohonan pada Presiden SBY. Julian mengatakan surat tersebut hingga saat ini belum diterima oleh pihak Istana. Namun jawaban Presiden SBY sudah jelas yakni menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum untuk menindaklanjuti kasus Nazaruddin. Jika ada kekhawatiran dari pihak Nazaruddin, Julian menga-

takan bahwa setiap warga negara berhak dilindungi termasuk keluarga Nazaruddin. “Nazaruddin juga harus dijaga dan dilindungi sepenuhnya hak-haknya. Semua prosesnya juga harus dipertanggungjawabkan. Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Presiden berpesan untuk mentaati proses hukum yang berlaku,” kata Julian. SBY Tolak Tawaran Nazaruddin Nazaruddin tengah berupaya melakukan ‘tawar-menawar’ dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Nazaruddin telah membuat surat untuk dikirimkan kepada Presiden SBY. Dalam suratnya melalui kuasa hukumnya OC Kaligis, Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut berjanji tidak akan menyeret pihak lain dalam kasusnya asalkan Neneng Sri Wahyuni, istri dan anaknya tidak diganggu. Menanggapi rencana “tawarmenawar” ini, pihak Istana langsung memberikan pernyataan tegas. Sepertinya sebelum surat tersebut sampai ke tangan

Presiden, jawaban telah diputuskan. “Tidak ada tawar-menawar. Presiden taat hukum dan menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum yang berlaku,” tegas juru bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha pada wartawan di Istana Negara, kemarin. Julian menegaskan, Presiden SBY telah menerima laporan mengenai rencana pengiriman surat tawaran tersebut. Meski belum menerima dan melihat secara resmi, Presiden SBY sudah memberikan sikap tegas. “Presiden tidak akan pernah mengintervensi hukum dan kasus apapun. Semua diserahkan pada mekanisme hukum yang berlaku. Kalau kemudian proses hukum ditemukan bukti silahkan diproses. Yang jelas tidak ada tawar menawar,” kata Julian. Julian menambahkan, Nazaruddin berhak mengatakan apa saja selama jalannya proses hukum. Namun nanti seluruh pernyataannya harus bisa dibuktikan melalui persidangan.”Nanti biarlah pengadilan yang memverifikasi kebenarannya,” kata Julian.(afz)

Kendari Pos Edisi 19 Agustus 2011  
Kendari Pos Edisi 19 Agustus 2011  

E_Paper Kendari Pos

Advertisement