Page 6

7

Kendari Pos | Senin, 7 Mei 2012

Jogging Sakit Punggung, Renang Bikin Bosan Gowes ....... muda. Ada warga Singapura, banyak warga asing yang tinggal di Singapura. Dan, banyak yang perempuan dan mereka jago ngebut naik sepeda! Apalagi setelah tahu Joy Riders itu komunitas terbesar di Singapura, dengan anggota lebih dari 1.000 orang! Semua itu dikelola oleh seorang perempuan berusia 56 tahun bernama Joyce Leong. *** Untuk kenal Joy Riders, pertama harus kenal dulu Joyce Leong. Perempuan kelahiran Penang, Malaysia, 10 Januari 1956 itu benar-benar memulai komunitas ini tanpa disengaja. Joyce, yang pensiun dari pekerjaan sebagai advertising sales, dulu punya hobi ikut triathlon. Lari, bersepeda, dan renang. Hingga sekitar enam tahun lalu. Kata dokter, dia sudah tidak boleh lagi lari karena masalah punggung. “Mau renang saja juga kurang asyik. Renang itu boring (membosankan, Red). Tidak bisa ngobrol sama orang saat melakukannya,” aku Joyce. Bersama beberapa teman, Joyce pun rajin bersepeda. Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba saja kelompoknya membesar. Seorang teman lantas membuka forum online, dan

Joy Riders pun terbentuk dengan sendirinya. “Sekarang anggota kami sekitar 1.029 orang. Mungkin lebih,” ungkapnya. Nama “Joy” tentu saja diambil dari nama depan Joyce. Kebetulan, “joy” juga berarti kesenangan. Dan, komunitas ini terbentuk karena semua punya kesenangan yang sama. Joyce, yang “jobless,” mengelolanya secara full time di apartemennya, yang berlokasi tidak jauh dari Orchard Road. Di sana dia tinggal bersama suami, seorang wiraswastawan, dan dua anak yang sudah berusia remaja. Walau dikelola sendiri, Joy Riders sangat tertata rapi. Untuk menjadi anggota tidak ada iuran bulanan atau tahunan. Cukup datang ke tempat tinggal Joyce, membeli jersey seragam Joy Riders. Harganya 90 dolar Singapura sepasang (jersey dan celana) untuk tangan pendek, 120 dolar untuk tangan panjang. Sejumlah sponsor turut mendukung, dan logo mereka terpampang di jersey tersebut. Setelah itu Joyce akan memotret anggota baru mengenakan jersey, lalu mem-posting fotonya di situs resmi komunitas. Anggota baru juga diminta mengisi data diri secara online, dan tergabung di forum untuk mengikuti update terbaru komunitas. Sebenarnya, cara pengelo-

laan ini juga bukan hal baru. Banyak komunitas di Indonesia juga sama. Termasuk Surabaya Road Bike Community (SRBC), tempat saya ikut bergabung sehari-hari. Tapi, Joyce menggunakan situs secara lebih jauh. Setiap pagi, saat berkumpul di Longhouse di Upper Thomson (detail perjalanan bersepeda dan aturan jalanan akan dilanjutkan di seri kedua), Joyce akan memberi tahu semua anggota tentang password hari itu. Jadi, setelah riding, semua bisa meng-input password itu secara online, dan bisa mendapatkan poin. Semakin banyak poin, semakin besar peluang anggota mendapatkan door prize yang disediakan sponsor. “Kalau ikut event, poinnya lebih,” tambah Joyce. Karena sifatnya tidak terlalu “terikat” dan tidak ada iuran tetap, banyak anggota justru jadi betah ikut Joy Riders. Mereka bisa bergabung riding bersama kapan saja, sesuai kebutuhan kerja masing-masing. Maklum, jadwal riding sangat pagi dan setiap hari bisa mengakibatkan anggota harus mengorbankan beberapa hal lain. “Kalau setiap hari, sulit menyesuaikan dengan kehidupan sosial. Termasuk kehidupan malam. Ha ha ha” kata seorang anggota Joy Riders, seorang pimpinan perusahaan software di Singapura.

Bagi para ekspatriat, Joy Riders juga menjadi alat ideal untuk mengenal Singapura dan mencari teman selama bekerja atau bertugas di sana. Ambil contoh David Lavery, pengacara perusahaan minyak asal Kanada. Lavery sudah setahun ini tinggal di Singapura, setelah sebelumnya tinggal lama di Abu Dhabi. “Saya bergabung sejak pindah dari Abu Dhabi. (Joy Riders) ini grup yang sangat social (akrab). Dan, itu penting bagi seseorang yang baru saja pindah ke Singapura,” ucapnya. Lavery sendiri punya julukan kocak, “Captain Suzie.” Usut punya usut, ketika perayaan Imlek, dialah pemenang kontes China Doll dalam pesta yang diselenggarakan Joy Riders. Artinya, dia menang karena dandan paling heboh sebagai perempuan! Joyce memang suka memberikan julukan kepada para anggotanya. Karena nama saya Azrul, Joyce sempat memberikan julukan “ACE-zrul.” Lumayan, “Ace” kan berarti jagoan ha ha ha. Tentu saja, meski sifatnya rekreasional, Joy Riders sangat serius dalam mengutamakan keselamatan dalam bersepeda. Cara mereka mengatur rombongan serta menghadapi aturan bersepeda di Singapura juga bisa dijadikan inspirasi. (bersambung)

Belum Pasti Pabrik Shabu tapi Kapolda Sudah Memberi Penghargaan Pabrik ....... Kendari, AKP Anwar Torro mengatakan sampai saat ini tim Labfor dari Makassar belum menginformasikan hasil olah TKP. “Tim labfor sangat hati-hati melakukan pemeriksaan di lokasi pabrik shabu ini karena sedikit saja salah maka semuanya akan sulit pembuktiannya,” katanya. Personil Satnarkoba terpaksa harus mengatur ulang posisi barang bukti yang ditemukan kata Anwar, karena hal itulah yang akan mempermudah tim labfor mencari tahu apakah pabrik tersebut sudah berlangsung lama atau tidak dalam pembuatan shabu. Dalam beberapa hari kedepan pihak labfor akan menyampaikan hasil dari olah TKP dan menginformasikan apakah tersangka bekerja sendiri atau tidak dalam meracik zat-zat kimia untuk dijadikan shabu. Namun dari informasi awal tim labfor menyampaikan ada beberapa bahan dan alat yang memang sering ada dalam membuat shabu. Soal suplai bahan-bahan kimia yang ditemukan di lokasi, Anwar belum mau menjelaskan secara gamblang karena itu masih dalam penyelidikan. Memang ada beberapa bahan yang ditemukan berasal dari Kendari, namun zat tersebut dijual bebas dan tidak terlarang seperti spiritus dan yang lainnya. “Kami akan berusaha mengetahui dari mana bahan-bahan tersebut diperoleh dengan seperti itu maka kami dengan mudah melacak jaringan pabrik shabu ini,” ungkap Anwar Torro.

Sesungguhnya tersangka Ade, sudah menjadi target operasi namun kepolisian tidak mengetahui jika ia juga rupanya memiliki pabrik shabu. Temuan pabrik shabu diluar dugaan dan diakui kepolisian kecolongan karena keberadaan tersangka selalu berpindah tempat tinggal dan sering melakukan perjalanan diluar Kendari. Kapolres Kendari AKBP Yuyun Yhudantara mengatakan terungkapnya pabrik shabu ini memang personil Polres Kendari disanjung dan diberikan jempol oleh masyarakat namun disisi lain kasus ini menjadi tantangan pihak kepolisian untuk mengungkap kasus narkoba yang memang narkotika jenis shabu sudah cukup banyak beredar di Kendari. “Saya akan menambah personil di fungsi narkoba nantinya,” katanya sembari mengatakan kasus ini bisa menjadi perhatian kepada orang tua untuk memperhatikan anak-anaknya. Sementara itu, Kapolda Sultra Brigjen Pol Tubagus Anis Angkawijaya, hari ini rencananya akan memberi penghargaan kepada personil polisi yang dianggap berhasil mengungkap kasus tersebut. Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Fahrurrozi mengaku, informasi yang ia terima, Brigjen Anis akan memberi apresiasi dan penghargaan agar anggota-anggota lainnya pun bisa bekerja maksimal. Selain itu, personil yang akan diberikan oleh kapolda itu sangat wajar dan hal-hal positif itu sudah sering dilakukan. Tetapi juga, Kapolda akan memberikan hukuman tegas kepada personil kepolisian yang melakukan tin-

dakan yang terlarang. Pemkot Apresiasi Kinerja Polres Kinerja Polresta Kendari yang berhasil mengungkap keberadaan pabrik shabu di jalan Poros Anduonuhu Kecamatan Poasia, mendapat apresiasi dari pemerintah Kota Kendari. Menurut Walikota Kendari, Asrun itu merupakan salah satu keberhasilan yang harus ditingkatkan lagi. Masalah narkotika kata Asrun memang hal yang cukup sulit diungkap. Apalagi, penggunaan dan peredaran barang haram itu dlakukan secara sembunyi-sembunyi, nyatis tak menimbulkan sedikitpun jejak, sehingga aparat kepolisian agak sulit untuk melakukan pengungkapan. Namun, atas kinerja yang sudah ditunjukkan Polres dalam membongkar keberadaan pabrik shabu sekaligus menangkap pemiliknya, menjadi salah satu perhatian pemerintah untuk terus memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak terpengaruh dengan bisnis terlarang itu. “Saya sudah menyampaikan apresiasi kepada pihak Polresta yang telah berhasil mengungkap keberadaan pabrik shabu di tengah kota. Mudahmudahan ini menjadi awal bagi aparat untuk terus melacak dan mencari tahu pabrikpabrik lain yang mungkin saja masih ada di dalam kota Kendari,” ungkp Asrun. Ia juga mengimbau kepada semua warga kota Kendari, agar tidak terpengaruh untuk ikut-ikutan mencoba menggu-

nakan narkotika, karena sekali mencoba akan menimbulkan ketergantungan. Bukan saja menggerogoti fisik, tapi juga menghancurkan masa depan anak bangsa. Secara terpisah Kepala BNP Sultra LM Yusuf mengatakan, pengungkapan kasus itu merupakan pembelajaran kepada semua pihak, bahwa sebenarnya kesadaran untuk menjaga diri dari pengaruh narkotika itu harus lebih ditingkatkan. Apalagi, godaan untuk melakukan binis peredaran narkotika memang cukup kuat, karena keuntungannya besar. Tapi dibalik semua itu, dampaknya juga lebih berbahaya ketimbang keuntungannya. Selama ini kata Yusuf, BNP Sultra dan pihak kepolisian sudah cukup maksimal melakukan sosialisasi penyalahgunaan dan peredaran narkotika. Namun, mungkin saja, oknum berupaya memanfaatkan peluang sehingga keberadaan pabrik shabu di tengah kota baru bisa terungkap saat ini. “Terkait hal ini, kita tidak boleh menyalahkan salah satu lembaga, karena itu merupakan tanggung jawab bersama. Mulai dari orang tua, keluarga, sekolah, pemerintah maupun aparat kepolisian untuk senantiasa memberikan pemahaman kepada anggota keluarga agar tidak main-main dengan narkotika. yang harus diwaspadai, jangan sampai pabrik shabu seperti itu, masih ad di tempat lain, ini yang harus benar-benar diungkap” harapnya.(p15/p11/fya/ ano/aka)

Hasan Mbou Mina PSU Buton Dihentikan PSU ....... Mathias, kemarin. Saat melaporkan La Rusuli Cs ke Polda, Abdul Hasan Mbou yang didampingi kuasa hukumnya tersebut meminta supaya penyidik segera memproses masalah tersebut. Dan Kapolda Sultra, Brigjen Pol. Tubagus Anis Angkawijaya yang menerima Abdul Hasan Mbou berjanji akan memproses perkara tersebut secara fair, sesuai hasil penyidikan perkara. “Kami minta secepatnya ditentukan tersangka, tahapannya masuk dalam penyidikan. Langsung dilakukan pemeriksaan pada klien saya, Hasan Mbou sebagai saksi korban, agendanya hari ini, Senin (7/6) pemeriksaan Ketua Parpol pendukung SANTUN. Ini harus secepatnya karena menyangkut uang negara jangan sampai habis lagi karena perbuatan siasia,” tambahnya. Ketua Lembaga Penyuluhan Hukum Pemuda Pancasila (LPPH) DKI Jakarta ini, mengurai bahwa kliennya memperkarakan La Rusuli Cs karena terkait dengan penetapan calon bupati

Buton yang terindikasi kuat dokumen verifikasinya dipalsukan sehingga secara otomatis KPU Buton sudah tidak melaksanakan keputusan MK. Buktinya, La Rusuli Cs tidak memasukan pasangan SANTUN dalam verifikasi administrasi penetapan pasangan Cabup/Wabup Buton. “Padahal kan sudah jelas, PPRN sendiri sesuai dengan Keputusan MA bahwa yang terdaftar di Dephum HAM adalah PPRN versinya DL Sitorus, bukan Amaliah. Tapi justru dalam lembaran verifikasi keabsahan surat pencalonan pada PSU Buton tidak mencantumkan PPRN sebagai salah satu partai pengusung. Begitu halnya PNB dan PPI pun tidak dimasukkan. Kok bisa orang ini memindahmindahkan dukungan. Persentase kursi partai pengusung yang dicantumkan KPU Buton hanya 7,16 persen. Kemana perginya? Jelas ada indikasi kuat pemalsuan keterangan ke akta otentik yaitu keputusan penetapan calon. Ini kan perbuatan KPU sekarang ini lebih salah lagi dari pada era La Biru Cs,” tukas kuasa hukum SANTUN ini. Hal aneh lainnya, yang akan dijadikan salah satu bukti

pendukung SANTUN adalah sesuai keputusan MK semua penetapan calon harus transparan, dihadiri pihak KPU Provinsi dan para calon. Faktanya tidak demikian. Pleno penetapan calon tidak jelas dimana dilaksanakan, apakah di kantor, di hotel atau di rumah sehingga kesannya KPU Buton kerja bukan atas nama negara tapi pribadi. “Makanya, kami juga minta Polda Sultra untuk menyelidiki siapa aktor intelektual di balik masalah ini, pasal 266 kan sudah jelas, siapa yang menyuruh juga bisa kena serta siapa yang buat surat palsu ini

harus disidik. Kapolda yang menerima laporan kami pun menyampaikan ketegasannya untuk mengungkap segera perkara ini. Mengapa perkara ini juga akan dibawa ke ranah perdata, yah jelas ada kerugian material yang jumlahnya milyaran rupiah dari klien saya, sedangkan inmaterial ini menyangkut nama baik Partai Patriot dan Pemuda Pancasila karena Hasan Mbou adalah kader sehingga menjadi tanggung jawab Pemuda Pancasila secara nasional dan kami tidak akan mendiamkan persoalan ini,” pungkas Ketua LPPH DKI Jakarta ini.(lia)

Gayus-Dhana Sama-sama Periksa PT KTU Angie ....... cian uang dengan tersangka Dhana Widyatmika mulai menemukan kaitannya dengan terpidana mafia pajak Gayus Tambunan. Penyidik pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) memeriksa Gayus pada Jumat (4/5) lalu. Pengacara Dhana, Reza Edwijanto, menuturkan bahwa kliennya pernah menangani perusahaan wajib pajak yang sama dengan Gayus. Yakni, PT Kornet Trans Utama (KTU). Tapi, Reza buru-buru menegaskan bahwa Gayus dan Dhana berbeda level dalam menanganinya. Dhana menangani PT KTU saat masih bertugas di Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

Pancoran, Jakarta Selatan, sedangkan Gayus menangani PT KTU di saat bertugas di peneliti keberatan pajak di Direktorat Keberatan dan Banding. Reza menuturkan, Dhana menetapkan pajak yang cukup tinggi saat menangani PT KTU. Perusahaan tersebut tak terima dengan jumlah pajak yang jumbo itu. Dia lantas mengajukan banding. Nah, dalam perkara banding itulah, kata Reza, PT KTU dibantu Gayus. Reza mengklaim bahwa kliennya berniat baik dengan menetapkan pajak yang besar. Dia mempertanyakan mengapa alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) angkatan 1993 itu malah diperkarakan. “Yang jelas, hubun-

gan Dhana dan Gayus hanya karena sama-sama menangani KTU, bukan karena transaksi bisnis,” tegasnya. Informasi yang diterima Jawa Pos, peran Gayus sejatinya lebih dekat ke Dian Anggraeni, istri Dhana, yang sampai saat ini berstatus saksi. Dian pernah bekerja bersama Gayus sebagai pelaksana di Direktorat Keberatan dan Banding Pajak. Pangkat Dian lebih tinggi d ari Gayus meski bukan atasannya langsung. “Pokoknya penyidik terus mencari kemungkinan siapa yang terlibat. Soal arah pemeriksaan Gayus, saya tidak tahu menahu,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Adi Toegarisman.(kuh/aga)

Karakter Pasar Harus Dikuasai Lebih Dahulu Pilih ....... Kedewasaan sebuah produk diuji ketika sudah terjerembab dalam pusaran proses. Ibarat pisau, dia akan makin tajam jika selalu mengalami “proses penajaman” di batu asah.

Seperi juga manusia, dia akan menjadi pejuang hidup jika selalu diterpa “proses ujian” di sepanjang hidupnya. Agar produk dapat diterima dengan baik di pasar, sang pemasar cukup menguasai salah satu karakter pasar terlebih dahulu. Jangan bermimpi bisa langsung

diterima seluruh lapisan pasar jika tidak mencoba menaklukkannya secara bertahap. Kita hanya butuh satu langkah sederhana: memilih salah satu dari jejeran pilihan yang ada. Kuasai dan taklukkan. That’s it!(www.hilmimuhammad.com)

Ditangkap di Bombana Setelah Melalui Bandara Haluoleo Imigran ....... Bombana. Mereka ditangkap sekitar pukul 02.30 wita dinihari, di Desa Toli-Toli, Kecamatan Mataoleo. Empat puluhan imigran gelap ini terdiri dari 37 orang laki-laki dewasa, 3 perempuan dewasa serta 1 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. “Hasil identifikasi kami, 43 imigran gelap ini berasal dari Bangladesh, India dan Myanmar (Burma),” kata Kapolres Bombana, AKBP Arief Dwi Koeswandhono. Rencananya seluruh imigran gelap itu, akan mencari suaka di Australia menggunakan kapal laut dari desa Toli-Toli. Namun rencana itu tidak berhasil karena keberadaan mereka lebih dulu terlacak polisi. 43 imigran gelap terungkap berada di Bombana setelah adanya laporan masyarakat yang diterima personil Polsek Rumbia. Warga melapor bahwa sejak sepekan lalu (enam hari sebelum ditangkap), ada 36 warga negara asing (WNA) sudah berada di Toli-Toli. Jumlah ini akan bertambah, sebab Sabtu dinihari kemarin, akan ada lagi WNA yang masuk di Bombana. Laporan itu ditindaklanjuti Bripka Muhammad Nur Sultan, Kanit Reskrim, Brigadir

Ardian, Kanit Intel Polsek Rumbia bersama Iptu Ibrar, Kapolseknya. Malam itu juga, Sultan menggerebek rumah yang dimaksud, tapi usahanya sia-sia karena yang dicari tidak ada. Mantan Kanit 2 Reskrim Polres Bombana ini lalu menuju Desa Toli-Toli. Saat tiba di Desa Batusempe, Sultan, Ardian dan Kapolseknya berpapasan dengan mobil Avanza. Saat ditahan mobil tersebut tidak mau berhenti hingga terjadi kejar-kejaran hingga ditangkap di Desa Lampata, Kec Rumbia Tengah. “Saat mobil didapat, tidak ada imigran didalam, karena pengemudinya bernama Karim, sudah mendropnya di desa Toli-Toli,” kata Nur Sultan. Berbekal pengakuan tersebut, personil polsek Rumbia lalu melaporkan temuan mereka di Polres Bombana. Malam itu juga, Wakapolres, Kompol Budi Utomo, Kabag Ops AKP Irwan Andy Purnawarman, Kasat Reskrim, Iptu Todoan Gultom, Kasat Intel, Iptu Daeng Riandika serta Kasat Sabhara AKP L Arief menuju Desa ToliToli. Sekitar pukul 09.00 wita, mereka lalu menggerebek rumah penampungan 43 imigran gelap tersebut. Polisi lalu membawa puluhan imigran menuju Kasipute dengan menggunakan kapal nelayan dan kapal milik Polisi

Air Bombana dan tiba sekitar pukul 12.00 wita di Pelabuhan Kasipute. Selanjutnya, mereka diamankan di Polres Bombana untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut dan proses identifikasi. Dari hasil keterangan di polisi, 43 imigran gelap ini didatangkan dari negara Malaysia kemudian menuju pulau Batam dan Tanjung Pinang hingga terbang ke Jakarta. Dari ibukota negara, mereka menuju Kendari dengan dua jalur. Ada yang menggunakan kapal kayu dengan kapasitas 25 ton serta jalur udara melalui bandara Haluoleo. Begitu tiba di Kendari, mereka ditampung disalah satu tempat dan dibawa berangsur di Bombana dengan menggunakan mobil avanza hitam DT 1342 XX. Di daerah itu, mereka langsung diinapkan di rumah salah seorang warga Toli-Toli bernama Rudi. Setelah semua terkumpul, seluruh imigran ini akan meninggalkan ToliToli dengan kapal kayu menuju Australia. Pantauan koran ini pagi kemarin, seluruh imigran gelap dari tiga negara diinapkan di aula Polres Bombana. Dua bus Polda Sultra juga sudah siaga di Polres, rencananya 43 imigran itu akan dibawa di Polda Sultra untuk diperiksa lebih lanjut.(nur/ong)

Kendari Pos Edisi 7 Mei 2012  

E_Paper Kendari Pos

Kendari Pos Edisi 7 Mei 2012  

E_Paper Kendari Pos

Advertisement