Page 1

eMagz #1

B R O M O D A L A M KASADA JEMBER WAISAK GILI FA S H I O N BOROBUDUR TRAWANGAN CARNAVAL


eMagz #1

B R O M O D A L A M KASADA WAISAK BOROBUDUR

JEMBER GILI FASHION TRAWANGAN CARNAVAL

DAFTAR ISI

04

Lentera Harapan Di Hari Waisak

Pada akhir acara Waisak di Borobudur, umat melepaskan lampion bertuliskan harapan.

18

Bromo Dalam Kasada

Dalam Kasada warga tengger mengucap syukur kepada leluhur dan Sang Hyang Widhi.

30

Jember Fashion Carnaval 2012

Tema Extremagination menjadi defile karnaval terbesar ke-4 dunia dilaksanakan di Jember.

40

Nasi Punel Bangil

Kuliner khas kota Bangil-Pasuruan yang selalu menggoda lidah penikmatnya.

44

A Trip to Siem Reap

Sebuah kota di Kamboja yang memiliki peninggalan bersejarah kelas dunia.

62

Berkemah di Gili Trawangan

Pulau dengan dikelilingi pantai berpasir putih yang sangat cocok untuk berlibur.


CATATAN JEJALAN Baru kemarin saya menghadiri acara pernikahan seorang sahabat, yang kebetulan juga masih terhitung kerabat dekat saya. Kala memberi ucapan selamat, beberapa teman sempat membisikkan sebuah kalimat, “semoga menjadi yang pertama dan terakhir�. Pastinya itu adalah hal yang menjadi harapan semua pengantin baru, namun tidak demikian halnya dengan e-book kami. Boleh jadi ini adalah karya yang pertama, tapi tentunya bukan yang terakhir. Pada edisi perdana ini kami akan menyajikan beberapa tema jejalan yang bervariasi. Bukan hanya sekedar destinasi, namun juga festival budaya dan momen religi. Termasuk serunya even rutin tahunan berbalut parade fashion. Karena itu janganlah melewatkan selembar pun halaman, dan tentunya kami ucapkan “Selamat menikmati� Tim Jejalan


LENTERA HARAPAN Pada akhir acara, para peserta dan pengunjung ritual Waisak di Borobudur melepaskan lampion bertuliskan harapan dan doa-doa mereka agar dikabulkan dan mendapatkan berkah dari Langit.


BOROBUDUR


PERAYAAN WAISAK BOROBUDUR PERAYAAN HARI BESAR UMAT BUDHA DI CANDI TERNAMA Peringatan hari besar tahunan umat Budha di Borobudur. Sebuah prosesi panjang yang menarik untuk di ikuti. Acara ini terbuka untuk umum sehingga umat lain bisa turut menyaksikannya, gambaran toleransi beragama yang indah. “Oke, akan saya antarkan ke Magelang� kata Tino, seorang sahabat asal Surabaya yang mencari peruntungan di Jogja. Dengan dibonceng Tino berangkatlah saya ke Magelang. Kebetulan juga Tino sudah sangat lama tidak mengunjungi candi Budha terbesar di dunia tersebut.

6

Seperti janjinya, saya di jemput dengan motor dari penginapan disekitar Malioboro, lantas bergerak ke Borobudur sekitar pukul 8.00 WIB.

Sesampai di lokasi, saya dan tino berpisah serta memulai hunting foto secara mandiri. Mengawali dari candi Mendut untuk menilik prosesi kirab umat Budha yang bergerak menuju candi Borobudur, sekaligus menemui Irma, seorang teman lain yang mendadak ikut menyusul ke Borobudur. Dengan ditemani mas Bayu dari InfoBackpaker jadilah kami bertiga mendokumentasikan ritual waisak tahunan ini bersama-sama.


Hujan yang membawa hawa dingin-pun sempat turun disaat pawai dari Candi Mendut hampir berakhir di Candi Borobudur, tetapi hal tersebut tidak pernah mengendorkan semangat umat Budha untuk tetap setia mengikuti prosesi Waisak ini.

Waktu itu saya dan Irma memutuskan berteduh dahulu disebuah rumah penduduk demi mengamankan kamera yang kami bawa. Cukup lama saya berteduh, dari pemilik rumah yang kami singgahi saya jadi mengetahui, bahwa hampir setiap acara Waisak pasti disertai turunnya hujan. Ya seperti sebuah mitos tentang hujan di malam tahun baru Cina.

7


Umat Budha melakukan kirab dari candi Mendut ke candi Borobudur

Cukup lama menanti, teman sayapun tertidur pulas setelah sekian lama mengobrol dengan pemilik rumah. Sang empunya rumah yang kami tumpangi berteduh memang ramah, kami dipersilahkan beristirahat di sofa ruang tamunya. Hingga pada suatu waktu hujan lebat sudah berubah menjadi gerimis kecil, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur.

8

Sembari melihat teman perjalanan saya yang masih kelelahan, terlebih setelah perjalanan panjangnya tadi malam. Maka saya memutuskan mencari Andong untuk melanjutkan sisa perjalanan. Tujuannya tentu saja menuju pelataran pintu masuk ke Borobudur. Menyenangkan juga, mengingat saya sudah lama tidak menaiki moda transportasi yang dikendalikan oleh pak kusir ini.

Skelompok biksu berjalan ke pelataran Borobudur


Tak lama kamipun turun tepat didepan pintu masuk candi. Mendadak gerimis terasa semakin lebat. Meski demikian cuaca yang masih belum bersahabat, ternyata tidak menyurutkan semangat banyak fotografer dan turis yang ikut memadati pelataran candi. Ya Suasana waisak saat itu ramai dan padat sekali, dan sepertinya pada setiap tahunnya ratusan atau ribuan pengunjung selalu memadati ritual khusus umat Bhuda ini. Hari sudah menjelang malam, air hujan masih terus mengguyur belum tanpa ada tanda akan berhenti, begitu pula dengan hujan flash dari kamera fotografer. Menurut perasaan saya, kilatan flash fotografer sudah pada taraf cukup mengganggu. Namun hal tersebut ternyata juga tidak menghalangi para Biksu dan umat Budha yang lainnya untuk tetap menjalankan prosesi beribadah.

10

Seorang umat menyalakan lilin bertuliskan harapan-harapan yang diletakkan di depan pelataran candi Borobudur


Ada hal “menarik� yang sempat saya amati di sebuah tenda di dekat pintu timur Candi Borobudur. Seorang Biksu senior memberikan kuliah umumnya dihadapan Biksu-biksu junior berikut warga umum tentang ajaran sang Budha. Di penghujung kuliah tersebut ada sesi tanya jawab antara Biksu Senior dan Biksu Junior, bersama dengan masyarakat umum yang waktu itu turut serta mengikuti kuliah tersebut.

Pada sebuah sesi, beberapa Mahasiswa jurusan Ilmu perbandingan agama dari IAIN (saya lupa tepatnya IAIN mana) menanyakan tentang beberapa ajaran Budha. Bukan soal debat kolot soal prinsip beragama, tetapi sekedar diskusi dan tanya jawab yang santun. Itulah yang saya maksudkan dari kata “menarik� diatas. Disela-sela upacara besar keagamaan seperti saat itu, pemuka agama budha dengan arif dan bijaksana mau

Pengunjung dan Fotografer berebut tempat terdepan untuk mengabadikan Pradhaksina


terbuka dan berdiskusi dengan pengunjungnya, walaupun itu dari agama lain. Indah rasanya menyaksikan toleransi antar umat beragama yang sedang terjadi saat itu. Selepas acara tersebut para biksu bergerak menuju pintu utara candi Borobudur, untuk mengikuti kelanjutan acara dengan melakukan meditasi bersama-sama puluhan biksu lainnya di altar utama. Cukup lama juga acara meditasi itu berlangsung. Ketika waktu

mendekati tengah malam prosesi Phradaksina-pun dilakukan. Yakni peosesi mengelilingi candi Pelataran candi Borobudur sebanyak tiga kali dengan membawa lilin. Setelah selesai, acara pelepasan lampion harapan-pun mulai dilakukan.

Ratusan lampion berisi Ribuan pesan dan harapan-

Para Banthe menjalani ritual Pradhaksina, mengelilingi candi Borobudur tiga kali


Ribuan lampion diterbangkan ke langit yang mulai cerah tanpa mendung. Dengan diterangi sinar bulan Purnama, gemerlapnya cahaya lampion pada puncak acara Waisak di Borobudur, menjadi momen penutup yang tidak terlupakan. [JEJALAN HERITAGE]


1

4

2

5

7

8


3

10

6

1. Rombongan Biksu berjalan dari candi Mendut ke candi Borobudur. 2. Umat Budha menggotong hasil bumi. 3. Umat Budha tetap antusias menjalani prosesi waisak walau dengan keterbatasan fisik. 4. Sebuah sesi yang dihadiri ratusan umat Budha. 5. Sekelompok wanita melakukan prosesi doa di perlataran candi Borobudur. 6. Seorang Biksu senior melayani sesi tanya jawab. 7. Altar Budha dipelataran candi Borobudur. 8. Menyalakan lilin harapan. 9. Banyak umat dan warga yang turut meramaikan sesi pelepasan ribuan lampion ke angkasa. 10. Dua orang biksu tengah berdiskusi. 9

17


BROMO


KASADA

Upacara Legendaris Yang Dilakukan Untuk Mengucap Syukur Kepada Leluhur dan Sang Hyang Widhi


BROMO DALAM KASADA KOMBINASI KEIDAHAN ALAM DAN KEUNIKAN BUDAYA Bromo terkenal sebagai tempat dengan sebutan “The Most Photogenic Places on Earth” Tidak ada yang salah dengan sebutan tersebut, bromo dengan 20 scnenery indahnya, hampir selalu terlihat bagus dibalik vewfinder.


Entah berapa banyak dari anda yang sudah pernah menyambangi Bromo, salah satu kawasan pegunungan yang terkenal dengan pemandangan Sunrise-nya hingga ke mancanegara. Keindahan alam dan keunikan tradisi keseharian warganya, juga kerap muncul dalam sinema-sinema di salah satu stasiun TV swasta. Akan tetapi, berapa orang dari anda yang sekaligus pernah merasakan nuansa Upacara Kasodo disana‌?

Yaa‌ Bromo dan Kasodo, adalah dua buah kata yang hampir tidak dapat dipisahkan. Seperti halnya dengan pasangan Roro Anteng (Putri Majapahit) dan Joko Seger (Putra Brahmana), dua tokoh yang menyatu menjadi leluhur suku Tengger. Bahkan asal mula kata Tengger diambil dari nama belakang keduanya.


Area pertanian yang subur

Menurut legenda Tengger yang dikisahkan turun temurun. Pasangan Roro Anteng dan Joko Seger tinggal di kawasan Bromo tanpa dikaruniai anak. Hingga akhirnya mereka bertapa dan memohon kepada Sang Hyang Widhi untuk segera mendapatkan keturunan.

22

Pada akhirnya ditengah proses semedi, keduanya mendapatkan bisikan gaib bahwa permohonan mereka akan segera terkabul. Tentunya dengan satu syarat jikalau nantinya anak paling bungsu harus dikorbankan kedalam kawah gunung Bromo. Karena sudah sangat berharap segera mendapat keturunan, keduanya menyanggupi syarat yang diajukan.


Ritual warga tengger menjelang puncak kasodo

Beberapa waktu berlalu, pasangan itupun dianugerahi duapuluh lima anak.Kebahagiaan mereka dapatkan hingga lupa akan perjanjian yang telah mereka sepakati. Roro Anteng dan Joko Seger mengingkari persyaratan sebelumnya, naluri orang tua memang tidak akan merelakan kehilangan putraputrinya sendiri.

Sang dewa menjadi murka, malapetaka besar menimpa daerah Tengger. Gunung Bromo tak henti-hentinya menyemburkan api, dan debunya memenuhi langit membuat suasana menjadi gelap gulita. Hingga putra bungsu mereka turut lenyap dalam bencana letusan Gunung Bromo.

23


Seketika itu pula amarah Bromo mereda, dan kembali terdengar terdengar bisikan gaib suara putra bungsu mereka, bahwa kepergiannya sematamata adalah memenuhi janji Roro Anteng dan Joko Seger kepada penguasa alam, supaya yang lain bisa hidup tentram. Pada nantinya setiap bulan Kasada hari ke-14, agar supaya diserahkan sesaji pada Sang Hyang Widhi di kawah Gunung Bromo.

Kisah legenda itu terus berlanjut hingga sekarang, setiap bulan Kasada penanggalan Jawa di hari ke-14. Gunung Bromo ramai oleh ribuan umat yang melakukan upacara sesembahan atau sesajen yang kita kenal dengan Upacara Kasodo.


Beberapa kali kami ikut merasakan keramaian Upacara suku Tengger ini. Bersusah payah bangun pada dini hari, lantas dilanjut dengan menelusuri lautan pasir diterpa serbuan angin dingin yang menusuk tulang. Belum lagi kabut malam demikian pekatnya hingga nyaris membuat kami kehilangan orientasi arah. Segala perjuangan itu terbayar dengan apa yang kami saksikan. Puncak gunung Bromo hari itu dipenuhi lautan manusia. Sama halnya dengan Pura Luhur Poten Bromo di lautan pasir, juga berkumpul ribuan warga peserta upacara maupun pengunjung yang sekedar meramaikan Kasodo. Berjibaku dengan ratusan Fotografer dari dalam dan luar negeri, kami berebut menyusuri tepian bibir kawah Bromo yang sempit dan rawan longsor.

26

Diapit jurang pasir terjal di satu sisi, dan seramnya lubang besar kawah di sisi lain. Kami masih sempat mengabadikan prosesi pelemparan sesaji kedalam mulut kawah. Kendati dari tahun ke tahun upacara Kasodo semakin menarik minat banyak turis untuk hadir disana, Kasodo tetap tidak kehilangan kesakralannya. Upacara ini tetap menjadi tradisi yang diwariskan secara turuntemurun. [JEJALAN BUDAYA]


2

1

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

4

Sekelompok remaja berjalan mengelilingi kawah. Penunggang kuda di Bromo. Ongklek-ongklek digotong keluar dari pura. Pengunjung Bromo menaiki anak tangga menuju kawah. Seorang ibu menggendong anaknya menaiki tangga. Nenek pemungut sesaji di dalam kawah Warga tengger mengamati prosesi larung sesaji. Pemungut sesaji didalam kawah. Warga memanggul anaknya menuruni lereng Bromo.

28 7


3

Waktu terbaik untuk mengunjungi Bromo adalah bulan Juni Agustus, diwaktu tersebut, savana di sekitar Bromo sedang dalam kondisi ‘menarik’. Anda akan mendapatkan pengalaman lengkap selain hanya berburu Sunrise. Pada dua hari sebelum puncak Kasada dilaksanakan, warga Tengger mengambil air suci (Mendak Tirta) di tiga lokasi. yakni Gunung Widodaren - Lautan pasir, Watu Plosot - Semeru, dan Air terjun Madakirapura.

5

6

8

9

Pada acara Kasada biasanya sekaligus terjadi prosesi pengukuhan dukun baru dari masing-masing desa suku Tengger disekitar Kawsan Bromo.


JFC XII

Adalah seorang Dynand Fariz yang sukses membawakan sebuah karnaval kelas dunia di kota tempat dirinya berasal. Ya Jember adalah sebuah kota kabupaten di Jawa Timur bagian selatan, di kota ini seorang Dynand Faris tumbuh dan berkembang, sebelum akhirnya sukses merintis karir di dunia seni dan fashion.


JEMBER


JEMBER FASHION CARNAVAL XII PESONA WARNA-WARNI KREATIVITAS ANAK NEGERI Banyak sudah rumah kerabat yang saya kunjungi selama libur Lebaran tahun ini, aneka ragam jajanan suguhan telah saya cicip. Dan uniknya, semua makanan ringan itu nyaris mempunyai kesamaan. Kalau tidak jajanannya yang berwarna-warni, tentu penyajiannya yang ditaruh dalam wadah stoples warna-warni. Bahkan beberapa rumah teman juga menghias taplak meja dengan motif pelangi. “Aahh‌ pasti ini semua akibat dari Rainbow Cake yang lagi ngetrend di tahun 2012 iniâ€?, begitulah sekilas yang ada di kepala saya.

32

Membicarakan tentang Rainbow Cake dan segala style ala Pelangi yang sedang populer saat ini, saya mendadak teringat pada gelaran Jember Fashion Carnaval 2012 pada 8 Juli lalu. Memang, anda tidak bakal menemukan suguhan Rainbow Cake disana, tetapi warna-warni parade JFC ke XI itu tentunya tidak kalah dengan semarak warna si Kue Pelangi.

Dengan mengambil tema Extremagination, defile karnaval terbesar ke-4 di dunia ini disesaki oleh ribuan penonton yang menyemut di sepanjang jalan. Para peserta dikelompokkan dalam berbagai grup sesuai tema kostum mereka. Saksikan saja betapa berwarna-warninya kostum tema Orchidaceae, Madurese, dan Trinidad Tobago. Sedangkan imajnasi yang serba ekstrim tampil pada tema Planet Heredity, Savana, Oceanarium dan lain-lain. Pendek kata, semua peserta tampil allout dengan rancangan kostum serba menarik serta make-up yang serasi.


Adalah seorang Dynand Fariz yang sukses membawakan sebuah karnaval kelas dunia di kota tempat dirinya berasal. Ya Jember adalah sebuah kota kabupaten kecil di Jawa Timur bagian selatan, di kota ini seorang Dynand Faris tumbuh dan berkembang, sebelum akhirnya sukses merintis karir di dunia seni dan fashion. Dynand Fariz berhasil menjadikan kota Jember sebagai tempat untuk menyelenggarakan sebuah karnaval tahunan yang mampu menyedot perhatian wisatawan luas, baik domestik maupun internasional. Gelaran rutin acara Jember Fashion Carnaval senantiasa ditunggu pada setiap tahunnya. Baik oleh warga Jember sendiri, maupun warga yang berasal dari luar daerah. Tentunya kedatangan mereka bukan hanya sekedar menonton saja. Namun juga turut meramaikan acara menjadi bagian dari devile karnaval. Sebenarnya acara berlangsungnya devile sedikit diikuti kekhawatiran akan datangnya hujan. Mengingat siang itu ketika acara baru saja dimulai, awan gelap sudah menggantung di langit kota Jember. Kamipun yakin, jika saja hujan turun maka dipastikan acara akan kacau. Baik peserta maupun fotografer akan benar-benar kecewa jika cuaca taidak bersahabat kala itu. Namun syukurlah hujan tidak jadi turun, dan acarapun berlangsung terus tanpa ada kendala sama sekali.

35


Sayapun menyiapkan kamera untuk membidik kostum hasil kreativitas peserta. Rancangan busana mereka penuh warna dan beragam bentuk. Tidak semua kostum berasal dari bahan yang mewah, penggunaan bahan yang sederhana ditambah dengan imajinasi yang kuat akan membuat peserta tampil istimewa. Melanggak lenggok diatas catwalk beraspal, kostum mereka menarik ribuan pasang mata yang turut berjajar dipinggir jalan. Kesemua peserta parade yang berpartisipasi, tak luput pula dari bidikan ratusan fotografer yang juga memadati gelaran JFC 2012. Semarak warna-warni dan nuansa kreasi ekstrim kostum mereka, adalah obyek yang sangat menarik bagi para pemburu gambar. “Bahkan mungkin lebih menarik dari foto “Kue� yang saat ini sering terpampang di cover beberapa majalah dan Tabloid Kuliner�, demikian yang ada di pikiran saya. Tentunya, sembari menyantap sepotong sajian Rainbow Cake yang entah sudah keberapa kalinya dalam seminggu ini. [JEJALAN FEST]


1

3

2

7

8


4

Agar lebih leluasa dalam pengambilan dokumentasi acara, jauh-jauh hari Anda sebaiknya untuk mendaftarkan diri sebagai fotografer melalui website resmi panitia. Pengumuman dari pagelaran Jember Fashion Carnaval kemarin, tahun depan 2013, JFC bakal digelar selama tiga hari, yakni pada tanggal 23-25 Agustus 2013

5

6

1. Roman Empire 2. Savana 3. Dragon 4. Madurese 5. Oceanarium 6. Trinidad and Tobago 7. Madurese 8. Roman Empire 9. Ocranarium 10. Madurese 9

10


BANGIL


NASI PUNEL MENYAPA PAGI DENGAN SARAPAN PENGGODA SELERA Salah satu khasanah kuliner Legendaris Kota Bangil-Pasuruan. Sepiring nasi dari beras yang empuk dan pulen, dengan aneka ragam lauk pauk yang menggoda selera. Penuh sensasi kelezatan dari sayur lodeh rebung dan olahan sate kerang yang melengkapi setiap sajiannya.

41


Bongkahan Lauk Babat yang empuk

42

Bau khas nasi hangat nan pulen diatas lembaran daun pisang itu membius indera penciuman saya. Tiada aroma penggoda nafsu makan seampuh bau daun pisang yang menguap layu terkena panas dari nasi baru matang. Ditambah aneka ragam sayur lodeh rebung dan uborampe macam Sate Kerang, Bothok Bobor, Sate Kelapa, Tempe Mendol dan taburan Srundeng. Menu Nasi Punel sarapan pagi ini sempurna sudah.

Sate kerang, sayur lodeh dan serundeng

Paling khas adalah Bothok bobornya. Tampilannya sederhana terbungkus daun pisang ditusuk lidi. Mungkin anda akan sedikit “kecewa� dengan isinya yang tak lebih banyak dari sesuap nasi, namun jika anda merasakan tekstur bothok kelapanya yang lembut, manis dan sedikit asin santan, kekecewaan akan lunas terbayar.


Pelanggan setia dari berbagai generasi

Sate kerang hanya berisi 5-6 butir kerang seukuran kuku jari. Rasa bumbunya tidak terlalu kaya, namun justru bumbu “ringan�-nya sangat pas dinikmati bersama nasi punel. Belum lagi pilihan aneka lauk utama seperti dendeng, paru, lidah, empal, dan lain-lain. Dengan tiap potongnya yang rata-rata berukuran sepertiga sandal jepit itu, ternyata lumayan empuk dan mantab di lidah.

Segelas teh hangat adalah pilihan paling rasional untuk menemani menu spesial kuliner khas ini. Tentunya dengan diiringi obrolan santai bersama mereka yang sedang menikmati sarapan di warung. Sebuah momen kuliner istimewa yang tidak akan terlupakan. [JEJALAN RASA]

43


SIEM REAP


CAMBODIA

Kamboja adalah sebuah Negara kecil di Asia Tenggara, dan baru saja bangkit setelah perang saudara berkepanjangan. Negara ini menyimpan banyak peninggalan menarik sebagai bukti tentang kejayaan masa lalunya


A TRIP TO SIEM REAP MASA LALU YANG MELEGENDA, NYARIS TERGERUS PERANG SAUDARA

46

Dibalik kelamnya sejarah Negara Kerajaan dengan lambang siluet Angkor Temple itu, banyak ditemui berbagai hal unik dan menarik untuk dikisahkan. Cerita tentang keberadaan situs-situs purbakala kelas dunia di kawasan Angkor Thom.


Relief wajah menghadap empat penjuru mata angin

Hampir empat hari tim jejalan mengeksplorasi keunikan Kamboja dengan menyambangi kota Siem Reap. Yang mana semenjak abad ke sembilan menjadi pusat peradaban Khmer. Salah satu kerajaan besar yang pernah berkuasa di Indochina, dan kini hanya menyisakan peninggalan-peninggalan purbakala. Berpusat di kawasan yang dikenal dengan sebutan Angkor thom, terdapat berbagai mahakarya arsitektur kuno kelas dunia.

48

Begitu melegendanya Angkor Wat hingga dijadikan situs Cagar Budaya oleh UNESCO. Lihat saja perpaduan antara alam dan candi di Ta Prohm temple yang menjadi setting film Tomb Raider. Tentang sepenggal kisah tersembunyi dibalik “seribu wajah� Bayon Temple, dan berbagai cerita tentang situs-situs Purbakala lain disana.


Bayon temple dari sisi pelataran timur

Menghitung Seribu Wajah Bayon Temple Sesuai saran Mr. Thou, (Tuktuk driver), kunjungan kami kali ini disetting terbalik dari jalur normal. Umumnya rombongan tour para turis memulai dari pagi hari ke Angkor Wat, dan diakhiri sore harinya di Ta Prohm. Agar tidak bertemu dengan rombongan turis berjumlah besar, yang mengurangi keleluasaan mengeksplorasi candi. Kami memulai kunjungan dari tengah jalur, nantinya diakhiri di Angkor Wat pada sore hari saat sepi.

Bayon Temple adalah lokasi pertama yang kami jelajahi. Letaknya sekitar 3,5 km dari Angkor Wat, dan hanya 1,5 km jauhnya dari South Gate of Angkor Thom yang sangat khas. Dengan posisi candi yang menghadap ke Timur, Bayon Temple dihiasi oleh sepasang kolam didepannya. Kolam air khas candi-candi di Angkor Thom.

49


Salah satu keunikan Bayon adalah hampir disetiap sudut Candi, terdapat tower yang dihias dengan wajah yang menampilkan senyum, masingmasing empat wajah disetiap tower yang menghadap kearah empat penjuru angin. Konon itu menunjukkan agar Raja senantiasa mampu melihat ke segala arah, untuk memastikan bahwa rakyatnya tetap sejahtera dan makmur diseluruh penjuru kerajaan. Karena itu pula, Mr. Thou menyebut Bayon dengan nama Candi Seribu Wajah. Padahal menurut perhitungan matematis kami, jumlah wajahnya sekitar 216 relief pada 54 buah tower.

Seperti candi-candi SiemReap pada umumnya, kondisi bebatuan di Bayon temple juga sudah tidak sempurna. Ada yang masih bersih, sebagian ditumbuhi lumut, berdebu, dan rusak. Mengakibatkan warnanya seolah “luntur�dan tidak seragam. Tentunya masih lebih terawat candi-candi batu di Yogyakarta seperti Prambanan atau Borobudur. Belum lagi beberapa gerbang dan pintu masuk candi banyak yang mengalami kerusakan parah hingga ada pula yang runtuh, mengakibatkan beberapa turis kebingungan dan nyaris kehilangan orientasi di candi seluas lebih dari 4 ha itu. Dengan kondisi dan besar ukurannya, sebagian guide lokal juga menyebutnya dengan Candi Seribu Pintu.


Pohon Raksasa Memakan Candi Kuno Ta Prohm adalah sebuah kompleks candi yang dikepung oleh rimbunnya hutan. Driver kami, Mr. Thou menyebutnya dengan “Temple with 39 Tower”. Tapi orang-orang lebih suka menyebutnya dengan “Tomb Raider Temple”, karena konon candi ini dipenuhi dengan spotspot fantastis seperti dalam film. Kami pun tak sabar untuk segera menjelajahnya. Memasuki kompleks candi, kami mendadak merasakan nuansa berbeda, pohon-pohon raksasa dengan akar yang menjalar kesana-kemari, serta reruntuhan candi yang batunya mulai berlumut, membuat darah saya berdesir, dan bulu kuduk sedikit merinding. Terik mentari yang saya rasakan di candi-candi

sebelumnya, tidak terasa di Ta Prohm kali ini. Pohon-pohon raksasa itulah yang membuat kawasan candi menjadi lebih sejuk dan asri. Kami berjalan mengikuti alur yang sudah disediakan dengan panduan tali berwarna kuning mencolok. Memang ada benarnya bila para pengunjung tidak lupa akan peta dan petunjuk jalan, karena bisa tersesat diantara hutan dan “Reruntuhan”. Beberapa saat trekking dan menyaksikan keadaan disini, anda akan merasakan kebenaran dari istilah “Power of The Jungle”. Karena kali ini semua spot tidak murni “Candi”, akan tetapi juga “Vegetasi”. Dengan pohonpohon raksasa yang cabangnya menyeruak diantara sudut bangunan candi bagai dalam film Tomb Raider.


Sesuai saran dari buku panduan, Ta Prohm memiliki beberapa spot unik yang berbeda dengan wisata Candi lain di dunia. Yakni sebuah “perpaduan” antara sculpture candi dengan vegetasi. Salah satu spot yang sering dikunjungi adalah “Crocodile Tree”, sebuah sudut selasar candi dengan dirambati akar pohon raksasa yang membelitnya. Tidak sedikit wisatawan yang mengambil gambar serta berpose pada panggung buatan yang memang disediakan didepannya.

Di sebelah utara Crocodile Tree, ada pula spot favorit lain, yakni “Giant Root”. Bangunan pagar pembatas candi yang hampir runtuh akibat dibelit oleh akar pohon yang diameternya hampir satu meter. Bahkan pada sisi pagar candi dibaliknya juga masih tampak diselimuti oleh akar pohon raksasa itu.

53


Sementara spot ketiga, yang menjadi lokasi paling favorit. Dan membuat Ta Prohm menjadi lebih sering dikunjungi ketimbang candi-candi lain (termasuk Angkor Wat) adalah Tomb Raider Tree. Kali ini giliran sebuah Tower dengan pintunya yang dipenuhi oleh selimut akarakar pohon yang sangat rimbun dan berjuntaian. Sehingga terlihat ruangan dibalik pintu tower itu gelap gulita. Sungguh pemandangan yang menarik dan sangat menantang.

Satu dua jam terasa kurang mengeksplorasi candi yang orientasinya menghadap Selatan itu. Karena baru kali ini saya pribadi menikmati sebuah wisata heritage yang seolah “membiarkan” obyek wisatanya nyaris “dikuasai” oleh kekuatan alam. Benar-benar sebuah penyajian yang sangat berbeda. Sekali lagi, Power of The Jungle kekuatan Ta Prohm yang membuatnya menjadi candi paling favorit seantero komplek.


Membelah Kemegahan Angkor Wat

56

Belum habis keterkaguman atas Ta Prohm Temple, sejenak kami menahan nafas tatkala sampai di depan Angkor Wat. Sebuah karya seni agung yang melegenda, bukti dari salah satu peradaban terbesar di dunia. Tak dapat disangkal lagi, inilah tujuan utama setiap turis yang berkunjung ke SiemReap, Kamboja. Angkor Wat, yang siluetnya menjadi lambang Kerajaan Kamboja ini berdiri dengan gagah di area yang dikelilingi pagar seluas lebih

dari 80 ha. Sementara sebuah sungai buatan yang sangat lebar mengelilingi pagar terluarnya. Diperkirakan dibangun sekitar 9 abad yang lalu oleh Raja Suryavarman II. Masih dengan pandangan yang menyapu sekeliling karena kagum, kami berdua segera menyeberangi jembatan sungai selebar hampir 200 meter itu. Menuju langsung kearah gerbang utama dengan tembok bebatuan, yang berdiri kokoh laksana benteng. Dibaliknya, terpampang hamparan tanah lapang yang super luas, dengan rerumputan


segar berwarna hijau di kiri kanan pedestrian batu yang menuju gerbang di level kedua. Sempat saya berpikir, tanah lapang ini mungkin cukup menarik jika dijadikan latihan Sekolah Sepak Bola, bisa menampung sampai 10 lapangan. Cukup jauh juga dari gerbang pertama menuju gerbang kedua, namun setidaknya pemandangan tanah lapang dengan sedikit pohon pinang yang berjajar. Serta keberadaan sepasang candi kecil di kiri kanan pedestrian, cukup menghibur dan mengurangi kelelahan kami. Hingga tanpa

terasa, hampir 500 meter kami berjalan, gerbang level kedua telah menyambut dengan beberapa ornamen patung Ular Kobra yang disini dikenal dengan sebutan “Naga�. Setelah gerbang kedua inilah, kami mulai memasuki area yang levelnya lebih tinggi, tower-tower utama Angkor Wat mulai terlihat lebih jelas. Dengan faktor perbandingan skala yang demikian terpaut jauh, ukuran berskala superbesar candi ini seakan “mengintimidasi� kami, para pengunjung.

57


Diantara gerbang kedua dan level ketiga ini pula, terdapat banyak relief dan ornamen khas Khmer. Semakin tidak sabar, kami segera masuk ke level ketiga yang merupakan area utama dari Kompleks Angkor Temple. Barulah pada area ketiga ini mulai terasa perbedaan yang mencolok. Hanya disini lantai candi yang tersusun dari batu-batuan datar yang membentuk alas, tidak seperti di level sebelumnya yang hanya beralas tanah pasir kuning kecoklatan. Disini keramaian turis mulai terlihat, lebih semarak lagi

dengan keberadaan beberapa muda-mudi Kamboja yang berpakaian ala Khmer kuno sebagai media objek berfoto bersama. Semakin memasuki tangga demi tangga kedalam area utama, kami menyaksikan banyak kemegahan yang luar biasa, patung-patung berukuran besar dengan beberapa orang yang berdoa disekitarnya. Juga empat luasan pemandian yang telah mengering dengan susunan batu-batuan berukir yang rapi dan presisi.

59


Cukup canggih juga peradaban di masa itu, sudah bisa membangun kolam renang diatas ketinggian. Rasa kagum kami masih belum habis, apalagi ketika berada disalah satu tower yang cukup tinggi. Pemandangan indah tersaji dari atas sini, gerbang dua dan gerbang satu nun jauh disana terlihat samar di senja menjelang gelap itu. Saya sempat merinding, merasa seolah menjadi seorang Jenderal yang waspada mengawasi musuh dari dalam tower benteng. Tanpa lelah, kami menjelajah satu demi satu masing-masing tower disana.

Hampir dua jam kami berkeliling mulai dari gerbang Timur, berputar-putar di kompleks utama, serta berjalan menuju gerbang Barat. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Namun disini, kondisinya masih sedikit terang serasa pukul 17.00 di Surabaya. Segera kami bergegas berjalan lagi sejauh hampir 1,5 km menuju Gerbang Timur, karena Sopir Tuk-Tuk kami menunggu disana. Masih saya sempatkan mengambil gambar senja di tepi sungai yang mengelilingi Angkor Temple, sebelum gelap benar-benar menyergap. Walau terasa letih, setidaknya sore ini kami telah menikmati Trekking membelah Angkor Wat yang Legendaris. [JEJALAN LN]


LOMBOK


LOMBOK

Adalah salah satu trip menarik yang pernah kami lakukan. Bermotor dari Surabaya kami menjelajah jalanan Jawa Timur dan Bali, kemudian mengakhirinya di Gili Trawangan. Sebuah pulau yang dikelilingi pantai pasir putih nan menawan. Memutarinya dengan berjalan kaki, tidak akan membuat anda bosan untuk selalu memuji Sang Pencipta.


JELAJAH LOMBOK BARAT BERKEMAH DI GILI TRAWANGAN Sebagian orang awam mungkin berpendapat, Pulau Lombok masih kalah dibandingkan dengan Bali. Setidaknya dari data kunjungan wisatawan yang tercantum, Bali memang jauh mendominasi dibanding dengan kunjungan ke Lombok. Namun kami justru memiliki pendapat berbeda, keunikan Lombok tidak kalah dengan ketenaran Bali. Kenyataan itulah yang dirasakan tim jejalan kala melakukan Touring Motor melalui rute 64 Surabaya – Bali – Lombok beberapa waktu lalu.


Dengan gaya travelling ala touring, kami menemukan fakta unik diantara keduanya. Bali dan Lombok nyata-nyata tersohor dengan pantai-pantai berpasir putih yang membentang luas, serta kemilau air laut yang jernih memantulkan sinar matahari, seolah menari-nari indah dibinggiran pantai.

Tidak seperti yang umumnya ada di pulau Bali. DiLombok anda akan menemukan pantai-pantai cantik yang tidak dipenuhi oleh berjubelnya para turis. Waktu itu adalah kunjungan pertama saya kesana. Kami merencanakan untuk menjelajah Lombok barat lewat jalur darat. Melintasi pulau Bali dengan menggunakan motor.


Layaknya dalam film Harley Davidson and Marlboro Man, kami bemotor menerobos gerimis dan hujan yang turut menyertai perjalanan. Sebuah keputusan yang kami pilih, dan tahu seperti apa resikonya melakukan perjalanan disaat musim hujan belum benar-benar berakhir. Merapat sejenak ke Bali, kami beruntung bisa menumpang bermalam dirumah teman. Selebihnya hanya melalui mulusnya jalan aspal menuju pelabuhan Padang Bai, untuk segera berlayar ke Lembar Lombok.

70

Lombok memang cocok bagi pecinta destinasi wisata alam dan budaya. Ada gunung Rinjani, gunung tertinggi ke tiga

di Indonesia dengan andalan wisata danau Segara Anakan yang selalu mempesona para pendaki. Termasuk keunikan tradisi dan budaya suku Sasak yang populer dengan produk kain tenunnya. Juga tentunya pantai-pantai berpasir putih disekeliling pulau, menjanjikan ketenangan buaian alam bagi para pecandu travelling. Tentu anda masih ingat dengan pantai Senggigi yang sudah lama dikenal sebagai pantai dengan view sunset terbaik disana. Jangan lupakan juga keberadaan pantai-pantai disekitar pesisir selatan Kuta yang terkenal masih perawan. Namun paling diimpikan banyak orang tentu saja berkesempatan menjenguk keberadaan Trio Gili di pesisir barat pulau Lombok.


Gili Air, Gili meno, dan Gili Trawangan. Bayangkan anda membuka aktivitas pagi dengan disapa oleh pemandangan sunrise di pantai sisi Timur, dengan siluet Gunung Rinjani yang perkasa sebagai latarnya. Menikmati siang hari bermalasan dipasir pantai yang teduh dan bebas polusi mesin kendaraan bermotor. Diakhiri memanjakan kepuasan sore hari dengan pemandangan sunset spektakuler di pantai sisi barat. Sungguh sebuah hari yang sempurna, sangat layak di cap sebagai hari libur sesungguhnya. Karena itulah kami memilih Gili Trawangan sebagai tempat mengakhiri perjalanan ke Lombok barat ini.

Walaupun disana terdapat banyak penginapan mulai kelas resort hingga losmen-losmen murah. Kami justru memilih camping di pantai. Mencoba menikmati alam dengan mengenal lebih dekat lagi. Cuaca yang selalu disertai hujan memang sedikit merepotkan untuk dapat menikmati keindahan alamnya secara penuh. Frame tenda yang patah diterjang hujan badai juga menjadi persoalan tersendiri. Namun kami pantang menyerah.


Tetap bertahan semalaman dengan kondisi sebagian air masuk ke tenda, gelombang ombak yang liar diterpa angin dan hujan badai rupanya sangat mengganggu waktu tidur. Ditengah malam kami menyadari bahwa tanah tempat tenda kami berdiri sudah hampir disentuh air laut, padahal seingat saya sore tadi jaraknya masih sekitar enam-tujuh meter dari tenda. Ohh, bulan purnama membuat kami sadar telah luput memperhitungkan terjadinya air pasang. Diuji oleh terpaan gerimis dan baju setengah basah,bersusah payah kami memindahkan posisi tenda ke tempat lebih aman dari jangkauan air laut. Setelahnya kamipun terkapar tidur dengan pulas, dikarenakan kondisi badan yang lelah.

Beruntung dihari kedua, cuaca cukup cerah. Begitu bangun dan membuka tenda, dihadapan kami tersaji Rinjani menanti mentari melewati tubuhnya yang gagah. Lautan yang ganas semalam berubah menjadi tenang dengan suara ombak yang lirih membisiki telinga. Merdu mendengarnya. Kami menghabiskan waktu pagi dengan memasak ala Master Chef gadungan, menjelang siang kamipun mencoba berjalan mengelilingi keseluruhan pulau. Beberapa kali berhenti hanya untuk sekedar menikmati pemandangan di depan mata. Bahkan di beberapa titik, saya mengeluarkan perlengkapan snorkeling untuk mencoba menikmati alam bawah airnya.


Tepat ketika hari menjelang sore kami berada di sekitaran pantai sebelah barat. Terlihat beberapa resort mewah dibangun disana. Sebuah pemilihan lokasi yang tepat menurut saya. Karena begitu matahari tenggelam kita akan benar-benar terpukau oleh semburat warna merah langit menjadi latar pulau Dewata dan gunung Angungnya. Kami menikmati sisa hari yang istimewa ini disana. Kala malam menjelang, tempat makan didekat pelabuhan mulai ramai dengan pengunjung. Diantara beragam menu, kami mencari penjual makanan laut. Sajian khas kuliner laut ini dimasak ditempat. Lantas kami memilih menikmatinya disebuah tempat disekitar pelabuhan.

Semilir angin, suara ombak, dan cahaya bulan purnama menemani sajian makan malam kami disana. Frame tenda yang patah memaksa kami menyewa sebuah losmen kecil didalam perkampungan penduduk. Tenda sudah dipastikan akan sulit berdiri jika kami paksakan tetap bermalam ala camping seperti rencana semula. Selain itu kami harus menjaga stamina untuk melanjutkan perjalanann esok harinya di tempat berbeda. Masih ada Gili Air dan Gili Meno yang belum kami jelajah sama sekali. [JEJALAN ADV]


w w w. j e j a l a n . co m 2 0 1 2

jejalan eMagz#1  

eMagz Edisi pertama dari jejalan.com

jejalan eMagz#1  

eMagz Edisi pertama dari jejalan.com

Advertisement