Page 1

TEKNOLOGI PRODUKSI DAN REPARASI BANGUNAN LEPAS PANTAI

Rencana Anggaran Biaya Metode BOW Kelompok 2

Departement Teknik Kelautan Fakultas Teknologi Kelautan Instutit Teknologi Sepuluh Nopember


04311540000040 04311540000040

Nadira Nadira Ifti Ifti Raisya Raisya

04311540000082 04311540000082

Ramadhani Ramadhani Satya Satya Perdana Perdana

04311540000119 04311540000119

Muhammad Muhammad Tanasha Tanasha Alfisyahri Alfisyahri

04311540000130 04311540000130

Kenan Kenan Wahyu Wahyu Fajari Fajari

04311540000145 04311540000145

Mora Mora Afra Afra Nadia Nadia Nooer Nooer

04311540000148 04311540000148

Muhammad Muhammad Farras Farras Randyka Randyka


BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material, tenaga kerja, pelayanan maupun waktu. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi, diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal salah satunya adalah analisa BOW. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka dilakukan metode BOW untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi, diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan, yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK. Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi, yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja, untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. Semua kegiatan pekerjaan konstruksi baik bangunan gedung, jalan, jembatan dan bangunan air pasti berhubungan dengan biaya. Untuk menentukan besarnya biaya bangunan (building cost) rancangan pekerjaan konstruksi dari suatu bangunan (gedung, jalan, jembatan, bangunan air dll), diperlukan suatu acuan dasar. Acuan tersebut adalah analisa biaya konstruksi yang disusun melalui kegiatan penelitian produktivitas pekerjaan di lapangan dan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan suatu pembangunan (BSN, 2002). Analisa biaya konstruksi sering kita sebut dengan analisa harga satuan pekerjaan.


Analisa harga satuan pekerjaan yang selama ini dikenal adalah Analisa BOW (Burgesli ke Openbure Werken) 28 Pebruari 1921, No. 5372 A. Tetapi bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini, Analisa BOW perlu diadakan penambahan dan penyempurnaan. Hingga saat ini, dalam menentukan rencana anggaran bangunan dan harga satuan pekerjaan, orang tidak lagi memakai pedoman Analisa BOW sebagai dasar penentuan harga satuan pekerjaan, karena dalam analisa banyak koefisien-koefisien yang tidak sesuai jika diterapkan dalam kenyataan di lapangan. Orang cenderung menggunakan pengalaman masingmasing sebagai patokan dalam menentukan harga satuan pekerjaan. Oleh karena itu Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1987 sampai tahun 1991 melakukan penelitian untuk mengembangkan Analisa BOW. Dengan melakukan beberapa kegiatan penelitian survey lapangan hingga menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada tahun 1991-1992 dan pada tahun 2001 dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran yang lebih luas, yang saat ini dikenal dengan Analisa Biaya Konstruksi bangunan gedung dan perumahan (BSN, 2002). Kontraktor di dalam mengerjakan suatu pekerjaan konstruksi untuk menghitung suatu analisa harga satuan pekerjaan tidak hanya menggunakan Analisa BOW ataupun Analisa SNI, tetapi menggunakan perhitungan sendiri. Di dalam perhitungan sendiri tidak mempunyai patokan koefisien, akan tetapi berdasarkan pengalaman, metode pelaksanaan, kondisi lapangan, peralatan, keadaan cuaca pada saat pekerjaan dilaksanakan serta pengadaan material disekitar lokasi pekerjaan. Jadi apabila kontraktor menghitung analisa empiris lapangan akan tidak mempunyai kesamaan antara pekerjaan yang satu dengan yang lain, karena analisa tersebut hanya berlaku untuk pekerjaan yang sedang dikerjakan dilokasi tersebut. Pekerjaan-pekerjaan bangunan sipil yang berskala besar kadang-kadang dituntut masalah penyelesaian yang cepat. Untuk itu diperlukan pertimbangan untuk mempergunakan alat-alat berat yang disesuaikan dengan kondisi pekerjaan yang bersangkutan. Hal ini sudah tidak dapat dihindari lagi, mengingat pemanfaatan tenaga manusia secara manual dengan alat-alat yang konvensional sudah tidak efisien lagi. Perhitungan analisa harga satuan pekerjaan yang menggunakan alat berat perlu diperhatikan metode pelaksanaan, kondisi lapangan, kondisi alat berat, operator alat, dan jarak


buang dari lokasi proyek tersebut. Jika perhitungannya menggunakan Analisa BOW ataupun Analisa SNI maka kita tidak bisa membedakan keadaan atau lokasi pekerjaan yang sedang dikerjakan, semuanya berpatokan pada angka koefisien saja. Adapun faktor yang berpengaruh terhadap analisa harga satuan pekerjaan ini adalah angka koefisien yang menunjukkan kebutuhan bahan, alat dan tenaga kerja dalam satu volume tertentu.

I.2. Rumusan Masalah a. Apa saja kelebihan dan kekurangan metode BOW? b. Apa Perbedaan Metode BOW dengan Metode Perhiyungan RAB lainnya?

I.3. Tujuan a. Mengetahui kelebihan dan kekuranganmetode BOW b. Menentukan dalam kondisi seperti apa Metode BOW digunakan.


BAB II LANDASAN TEORI II.1. Estimasi Biaya Perkiraan biaya erat hubungannya dengan analisis biaya, yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. Dengan kata lain, menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan, memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja, material, peralatan, dan lain-lain. Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor proyek seperti jenis, ukuran, lokasi, bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth, Perencanaan Biaya Bangunan, 1994). A. Biaya Konstruksi Proyek 1. Biaya Langsung a. Biaya material b. Biaya upah tenaga kerja c. Biaya peralatan 2. Biaya Tidak Langsung a. Overhead umum b. Overhead proyek c. Profit d. Pajak

B. Rencana Anggaran Biaya Rencana Anggaran Biaya adalah suatu perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah serta biaya-biaya yang berhubungan dengan pelaksana pembangunan atau proyek. Anggaran biaya meliputi harga dari bahan bangunan yang dihitung, anggaran biaya


pembangunan akan berbeda pada setiap daerah tergantung pada harga bahan dan upah tenaga kerja Hal-Hal yang harus diperhatikan ketika menentukan Rencana Anggaran Biaya adalah sebagai berikut : 1. Volume / Kubikasi Pekerjaan 2. Harga Satuan Pekerjaan 3. Analisa Harga Satuan a. Analisa Harga Satuan Bahan b. Analisa Harga Satuan Upah c. Analisa Harga Satuan Alat

II.2. Pengertian Analisa Biaya Satuan Konstruksi dengan Metode BOW Analisa BOW adalah sistem koefisien analisa harga satuan bangunan produk zaman hindia belanda yang banyak digunakan dalam menghitung RAB untuk pelaksanaan pembangunan zaman itu. Seiring perkembangan zaman ternyata sistem analisa ini sudah tidak banyak digunakan karena sudah ada standar nasional indonesia (SNI) RAB yang memberikan nilai koefisien bahan dan tenaga terbaru menyesuikan perkembangan situasi pembangunan sekarang. Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan (Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. ‌/m2, Rp. ‌/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa yaitu : pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) dan pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya untuk kalkulasi bahan yang dibutuhkan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. (Mukomuko,1985).


Berikut ini beberpa kekurangan analisa BOW untuk menghitung RAB: 1. Merupakan produk lama yang belum diupdate menyesuaikan kondisi sekarang sehingga ada beberapa pekerjaan yang sudah berubah biaya pelaksanaanya. 2. Adanya koefisien kebutuhan kepala tukang pada setiap pekerjaan, padahal dalam pelaksaanya belum tentu menggunakan jasa kepala tukang sehingga hasil perhitungan perkiraan RAB menjadi besar. 3. Beberapa item pekerjaan baru saat ini banyak yang menggunakan bermacam bahan bangunan tipe baru maka belum ada dalam analisa BOW, jadi untuk menghitungnya harus melihat SNI RAB atau membuat analisa sendiri hasil penelitian pengamatan pelaksanaan pekerjaan. 4. Beberapa instansi pemerintah maupun swasta lebih memilih menggunakan sistem harga satuan standar negara, sehingga kontraktor pemborong harus menyesuaikan dalam perhitungan. 5. Perkembangan teknologi pelaksanaan konstruksi telah menghasilkan berbagai penemuan alat-alat proyek baru, seperti analisa berbagai macam alat berat yang belum ada dalam BOW.

Berikut ini beberpa kelebihan analisa BOW untuk menghitung RAB: 1. Metode ini cocok digunakan untuk yang mencakup wilayah kecil 2. Metode ini cocok digunakan untuk jenis proyek yang tidak mementingkan efisiensi seperti pekerjaan Padat Karya Analisa harga satuan pekerjaan adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi yang dijabarkan dalam perkalian kebutuhan bahan bangunan, upah kerja, dan peralatan dengan harga bahan bangunan, standart pengupahan pekerja dan harga sewa / beli peralatan untuk menyelesaikan per satuan pekerjaan konstruksi. Analisa harga satuan pekerjaan ini dipengaruhi oleh angka koefisien yang menunjukkan nilai satuan bahan/material, nilai satuan alat, dan nilai satuan upah tenaga kerja ataupun satuan pekerjaan yang dapat digunakan sebagai acuan/panduan untuk merencanakan atau mengendalikan biaya suatu pekerjaan.


Untuk harga bahan material didapat dipasaran, yang kemudian dikumpulkan didalam suatu daftar yang dinamakan harga satuan bahan/material, sedangkan upah tenaga kerja didapatkan di lokasi setempat yang kemudian dikumpulkan dan didata dalam suatu daftar yang dinamakan daftar harga satuan upah tenaga kerja. Harga satuan yang didalam perhitungannya haruslah disesuaikan dengan kondisi lapangan, kondisi alat/efisiensi, metode pelaksanaan dan jarak angkut. Skema harga satuan pekerjaan, yang dipengaruhi oleh faktor bahan/material, upah tenaga kerja dan peralatan dapat dirangkum sebagai berikut :

Dalam skema diatas dijelaskan bahwa untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan maka harga satuan bahan, harga satuan tenaga, dan harga satuan alat harus diketahui terlebih dahulu yang kemudian dikalikan dengan koefisien yang telah ditentukan sehingga akan didapatkan rumusan sebagai berikut :

Upah

: harga satuan upah x koefisien

(analisa upah)

Bahan

: harga satuan

(analisa bahan)

x koefisien


bahan Alat

: harga satuan alat

x koefisien

(analisa alat)

maka didapat : HARGA SATUAN PEKERJAAN

= UPAH + BAHAN + PERALATAN

Besarnya harga satuan pekerjaan tergantung dari besarnya harga satuan bahan, harga satuan upah dan harga satuan alat dimana harga satuan bahan tergantung pada ketelitian dalam perhitungan kebutuhan bahan untuk setiap jenis pekerjaan. Penentuan harga satuan upah tergantung pada tingkat produktivitas dari pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan. Harga satuan alat baik sewa ataupun investasi tergantung dari kondisi lapangan, kondisi alat/efisiensi, metode pelaksanaan, jarak angkut dan pemeliharaan jenis alat itu sendiri.

BAB III STUDI KASUS Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk harga satuan


pekerjaan bangunan. Dari koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada suatu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan harga material dan upahyang berlaku pada saat itu. (Mukomuko,1985) Contoh dari perhitungan analisa anggaran biaya dengan metode BOW adalah sebagai berikut : Harga satuan 1 m続 pekerjaan membuat beton dengan mutu K-225 : 1.

Bahan

0,96 m続 kerikil

@ Rp 75.000,00

= Rp 72.000,00

8,17 zak semen PC 50 kg

@ Rp 56.900,00

= Rp 484.873,00

0,54 m続 Pasir

@ Rp 50.000,00

= Rp 27.000,00 +

Jumlah harga bahan 2.

= Rp 563.873,00

Upah

1,00 tukang batu

@ Rp 72.900,00

= Rp 72.900,00

0,10 kepala tukang batu

@ Rp 87.500,00

= Rp

6,00 pekerja

@ Rp 45.000,00

= Rp 270.000,00

0,30 mandor

@ Rp 65.600,00

= Rp 19.680,00 +

Jumlah upah

3.

8.750,00

= Rp 371.330,00

Peralatan

0,4819 concrete mixer

@ Rp 36.480,370

= Rp 17.579,8900

0,0633 water tanker

@ Rp 117.765,090

= Rp 7.545,5300

0,4819 concrete vibrator

@ Rp 21.740,010

= Rp 10.476,5110

1,0000 alat bantu

@ Rp 2.050,000

= Rp 2.050,0000 +

Jumlah alat

= Rp 37.560,931

Harga satuan 1 m続pekerjaan membuat beton mutu K-225 adalah: = Jumlah harga bahan + Jumlah harga upah + Jumlah harga peralatan


= Rp 563.873,00 + Rp 371.330,00 + Rp 37.560,93 = Rp 972.763,93 Contoh perhitungan rencana anggaran biaya dengan metode SNI 2008 yaitu : Harga satuan 1 m³ pekerjaan membuat beton dengan mutu K-225 : 1.

Bahan :

0,65 m³ Kerikil

@ Rp 75.000,00

= Rp 48.750,00

7,42 kg Semen PC 50 kg

@ Rp 56.900,00

= Rp 422.198,00

0,65 m³ Pasir

@ Rp 50.000,00

= Rp 32.500,00 +

Jumlah harga bahan 2.

= Rp 503.448,00

Upah :

0.275 tukang batu

@ Rp 72.900,00

= Rp 20.047,5

0,028 kepala tukang batu

@ Rp 87.500,00

= Rp 2.450,00

1,65 pekerja

@ Rp 45.000,00

= Rp 74.250,00

0,083 mandor

@ Rp 65.600,00

= Rp 5.444,8,0 +

Jumlah harga upah 3.

= Rp 102.192,3

Peralatan :

0,4819 concrete mixer

@ Rp 36.480,370

= Rp 17.579,89

0,0633 water tanker

@ Rp 117.765,090

= Rp 7.454,53

0,4819 concrete vibrator

@ Rp 21.740,010

= Rp 10.476,51

1,0000 alat bantu

@ Rp 2.050,000

= Rp 2.050,00 +

Jumlah harga alat

= Rp 37.560,93

Harga satuan 1 m³ pekerjaan membuat beton dengan mutu K–225 adalah: = Jumlah harga bahan + Jumlah harga upah + Jumlah harga peralatan = Rp 503.448,00 + Rp 102.192,3 + Rp 37.560,93 = Rp 643.201,23 Kesimpulan studi kasus :


Harga satuan 1 m³ pekerjaan membuat beton dengan mutu K–225 dengan metode BOW diperoleh Rp 972.763,93 sedangkan dengan metode SNI 2008 diperoleh Rp 643.201,23 Terdapat selisih harga Rp 329.562,70 (perbedaan harga yang cukup besar)Analisa BOW (Burgeslijke Openbare Werken) 28 Februari 1921, perlu diadakan revisi atau perbaikan. Pedoman tersebut dirasakan sudah tidak relevan lagi karena analisa BOW hanya dapat digunakan apabila pekerjaannya berupa pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional serta tenaga kerja yang kurang profesional, sehingga apabila analisa tersebut masih digunakan secara murni mengakibatkan perencanaan biaya menjadi sangat mahal.

Untuk

mengefisiensi

dana

pembangunan masih ada metode lain yang dapat digunakan dalam penyusunan anggaran biaya misalkan dengan menggunakan metode SNI.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA Arruan, Arthur. Analisis Koefisien Harga Satuan Tenaga Kerja di Lapangan dengan Membandingkan Analisis SNI dan Analisis BOW pada Pembesian dan Bekisting Kolom. Jurnal Sipil Statik. Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Sam Ratulangi, Manado.


Daftar Jenis Pekerjaan Menurut Analisa B.O.W. Badan Penelitian dan Pengembangan P. U., Departemen Pekerjaan Umum. Pranata, Andi Asnur. 2011. Perbandingan Estimasi Anggaran Biaya Antara Metode Bow, SNI, dan Kontraktor. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Gunadarma Nasrul. 2013. Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Beton dengan Metode BOW, SNI dan Lapangan pada Proyek Irigasi Batang Anai II. Jurnal Momentum : Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Padang. Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2008. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan. Mukomoko, J. A. 1987. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan Metode BOW. Gaya Media Pratama. Jakarta. Bumi Aksara. 1992. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). Sinar Grafika Offset. Jakarta. (http://www.ramdhanijaya.com/buku/analisa-upah-dan-bahan-analisis-bow) http://www.ilmusipil.com/cara-menghitung-koefisien-analisa-harga-satuan-bangunan https://handokoaji.wordpress.com/2012/03/13/cara-sederhana-menghitung-koefisien-untukharga-satuan-pekerjaan/ http://download.portalgaruda.org/article.php? article=418557&val=1222&title=PERBANDINGAN%20ESTIMASI%20ANGGARAN %20BIAYA%20ANTARA%20BOW,%20SNI%20DAN%20METODE%20PERHITUNGAN %20KONTRAKTOR%20PADA%20PROYEK%20RUMAH%20SUSUN%20(RUSUN) %20PULOGEBANG%20JAKARTA%20TIMUR http://e-jurnal.unisfat.ac.id/index.php/TATAL/article/view/89 https://www.hargasatuan.com/kekurangan-analisa-bow-untuk-menghitung-rab https://ronymedia.wordpress.com/2010/06/23/arti-angka-angka-di-bow/ http://meisyasalsabila.blogspot.co.id/2011/07/mengapa-sni-mengalahkan-bow.html http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/15372 http://buildingsmkn1.blogspot.co.id/2012/06/cara-menghitung-bow.html

Rab bow tekprod fix  
Rab bow tekprod fix  
Advertisement