Page 1


Tahun I, no.3/2011, Desember 2011 

katajiwa majalah kebudayaan

Catatan Kebudayaan~ 2 Kepada yang Tak Pernah Terbebaskan Kawako Tami

Semua manusia adalah kamar gelap bagi yang lain. Tak ada yang bisa kita gapai dari seseorang kecuali orang tersebut membiarkan kita masuk ke sana. (dan) Satu satunya cara untuk masuk ke kamar gelap itu hanyalah kata. Kata ibarat untai yang menjembatani satu kamar gelap yang satu dengan kamar gelap yang lain. Ironis sebenarnya mengambil kamar gelap sebagai metafor diri kita. Lihat saja dunia kita memang dunia yang begitu memuja cahaya. Indra yang paling membuat kita menderita jika hilang fungsinya (paling tidak jika kita berandai andai) adalah indra penglihatan. Lebih dari itu pengetahuan selalu dianggap sebagai suluh, obor, cahaya, atau apapun itu yang berhubungan dengan penglihatan. Jarang, bahkan boleh jadi tidak pernah hal ini disubstitusi dengan cecap, aroma, riak, suara, dan sebagainya. Padahal jika kita mengulik sejarah peradaban kita betapa banyak (maha)karya (yang masih membuat kita terpukau detik ini) lahir dari rahim kamar gelap, penjara, pembuangan, dan tempat sunyi, suram, pengap lainnya. Teringat eksperimentasi Al Hazen (Ibn Haytam) tentang prototipe kamera, yang dikenal sebagai pinhole camera, beliau membutuhkan kamar gelap untuk bisa menangkap citra. Menariknya hal ini tetap berlaku untuk kamera di masa modern. Jangan-jangan, memang kita butuh kamar gelap, untuk melihat citra, melihat ide, dan bahkan melontarkan cerita-cerita yang abadi di masa nanti. Terakhir, kamar gelap, adalah metafor, untuk kita menggelapkan sekitar, kemudian biarkan buah pikir kita, kata-kata kita berpijar sedikit demi sedikit membuatnya kembali bercaya, memancarkan jembatan sehingga manusia lain tahu siapa kita, agar masa depan tahu apa yang terpikir di saat ini. Bolehlah sesekali karya-karya dikerjakan dalam kamar gelap untuk mendapat sentimen yang kurang lebih sama. Selamat menikmati kamar gelap masing masing.

Puisi~ Ahmad Fauzi 3 Jangan-Jangan Zakiyus Shadicky 5 Bolehkah Aku Masuk? 7 Malumu Pasang Indra Eka Widya Jaya 9 Perginya Marbotku 11 Penyair Tolol 12 Dialog dengan Krishna Kawako Tami 13 Topeng 14 Sajak yang Terperangkap Opini~ 15 Kegelapan, Cahaya, Tuhan Mulyadi Syamsuri Cerita Pendek~ 19 Kamida Fina Febriani 26 Cerita Sebelum Lelap Taufik Akbar 28 Kenangan Musim Gugur Alfi Syahriyani Kritik~ 35 The Shawshank Redemption: Mengapa Menjadi

Film No 1*? Johan Rio Pamungkas Resensi~ 38 Don’t be Afraid of the Dark Rizqan Adhima Pantau~ 40 Karna dalam Empat Monolog Tery Marlita Her Voice~ 43 Prison of the Authors Alfi Syahriyani Bidik~ 44 Perjalanan Mengunduh Bayangan Muhammad Akhyar

Koordinator Komunitas: Muhammad Akhyar  Pemimpin Redaksi: Kawako Tami  Sekretaris Redaksi: Novika Grasiaswaty  Editor: Nila Rahma, Johan Rio Pamungkas,                 Tery Marlita  Marketing: Alfi Syahriyani  Layout: Indra Eka Widya Jaya, Vita Wahyu Hidayat 

katajiwa adalah salah satu produk dari   Komunitas Langit Sastra  email: katajiwa.langitsastra@gmail.com twitter: @katajiwa


Catatan Kebudayaan~     

Kepada yang Tak Pernah Terbebaskan Kawako Tami  

Kau ingin menjadi simbol dari kemerdekaan kata. Menjadi bentuk yang tak terjamah aturan. Kau berontak pada setiap cengkraman. Padamu teriak akan tirani tiada berguna. Bukan jiwaku di bawah terang dan terik memanggang, aku setan di malam kelam. Tukasmu ditanya, mengapa kau diam. Kau selalu bersembunyi dalam kamar sewaan. Teman-teman menjadi lantang berdendang mars perjuangan. Kau menyeret langkahmu pada ruang-ruang sepi di balik tembok ratapan. Adakah sekeping dua logamnya membasuh kerongkongan kering sang nenek yang tak putus melantun Quran di pinggir gang? Adakah jika ditelannya perut itu akan berhenti di balik ketiga keroncongannya? Lalu malam itu kau duduk di trotoar ibukota. Kau tak pernah sebebas malam itu. Tak ada siapapun hanya dirimu. Tak ada tembok, tak ada belenggu, tak ada aturan. Kau seperti burung yang bertahun tak menghirup udara bebas. Bukankah selama ini kau terpenjara? Terbungkam oleh takutmu, di rantai dogma dan aturan dalam otak dan jiwamu. Soekarno, Tan Malaka, Sayyid Qutb, Ibnu Taimiyyah, Pram dan banyak raga yang terpenjara, tapi jiwa mereka bebas merdeka. Kau merasa bertemu dengan kebebasan malam itu. Mengambil helai kertas pada esok harinya. Berusaha mengenang indahnya kebebasanmu malam itu. Lalu kau mengambil pena dan berusaha menggores sebuah kata. Ah, kenapa terasa sulit? Mengapa tak satu kata yang keluar? Apa yang sungguhnya ingin kau tulis? Puisikah? Prosa liris kah? Cerpen? Tanpa kau sadar kau menulis tak tentu arah, hingga jatuh kembali kepada penjaramu. Baiklah kau mungkin tak pernah bebas. Tapi dalam kamar tahanan baru ini akankah kau menjadi terang? Atau kah Cuma setan yang tak pernah mencerahkan? Depok 09, Desember 2011

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

2    


Puisi~       Ahmad Fauzi 

Jangan-Jangan segarang-garang matahari, ia tak pernah membangkang Mangkir, atau terlambat pulang Seburuk-buruk rembulan, ia tahu malu Menutup borok, menggalang cahaya

Jangan-jangan kamar kita, adalah musuh kita selama ini Jika memang kita sudah lelah menangis sepulang dari dosa lalu tidur membelakangi malam mengecoh pagi, berbohong pada semua hidung, lalu bersiap berangkat mengulang kebodohan yang sama dari zaman alif sampai zaman ya

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

3


Puisi~

Dari jendela yang kita buka lebar-lebar Di sana biasanya kita melihat keluar Dari jendela yang kita buka lebar-lebar Di sana tak biasa kita melihat ke dalam Semua musuh adalah musuh Namun semua teman belum pasti teman semua

Oleh karena kita, sudah lakukan semuanya Jangan-jangan kamar kita, Adalah musuh kita selama ini.                

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

4


Puisi~ Zakiyus Shadicky 

Bolehkah Aku Masuk? perlu untuk kau ketahui, saat ini sedang kucoba teguhkan hati sekuat-kuatnya... sambil berharap bahwa suara ini tidak milik segelintir mereka saja... mereka yang dianggap terlalu anak-anak dan tak nyata...lucu! kueratkan perjuangan yang masih tersisa ini, demi meyakinkan diri ini bahwa masih ada harapan di sudut hatimu...

ku ketuk... tak ada jawaban... ketika kusingkapkan kain itu, kulihat kau sedang tertidur... aku ingin membangunkanmu; tapi tak tahu caranya...

aku rindu kau... aku rindu rangkulan tangan kita, yang setiap tinjunya kita arahkan menantang langit, demi sekadar berkata, "ku 'kan meraihmu!" aku ingin kita bermain bersama lagi. bercengkerama ikhlas dan tulus... aku rindu kebanggaan yang terukir bersama, dan jiwa ini maupun jiwa mu juga menjadi bangga karenanya... tapi kini, kerinduan itu hanya nostalgia belaka. bahkan aku hampir lupa rasanya rindu itu... maukah kau mengingatkanku?

aku takut sendiri... aku takut semua ini sia-sia. apa yang telah kita lalui hanya simbol belaka! hanya karena kita, kau, ataupun aku terlalu takut dikatakan orang lain berkhianat; karena kau awalnya tak mau sendiri! dan ketika kau dapatkan sinarnya, kau tinggalkan aku... kumohon dengarkanlah...hanya karena aku yang redup ini, ingin dapatkan sedikit gapaianmu. agar ku tetap bersinar, menerangi mereka yang lain yang juga sedang menunggu... cukup mereka, tak perlu aku...

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

5


Puisi~

dulu kita memang polos... masih terlalu kecil untuk menatap dunia ini... sekarang pun, kita masih polos, namun bernoda... huft!

kucoba lagi, kembali ku ketuk... pintumu bergeser... ku masuk menghampirimu... kau masih tertidur, menggigil rupanya... kuselimuti tubuhmu agar kau tak kedinginan lagi... owh, tidurmu semakin pulas...

ya sudah, tak apa... aku tak mau menganggumu... aku tunggu di luar saja...

semoga kau mimpi indah di dunia mu yang lain, dan kau terbangun dengan gembira... sehingga kau mau bermain bersama lagi... bersama mereka jua tentunya...            

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

6


Puisi~ Zakiyus Shadicky 

Malumu Pasang terdesak hari ini, selepas bumi yang lembab karena air mata langit sebagian ada yang mengumpat, dicercanya hujan karena ia jadi terkurung. dia hina berkah Tuhan!

bila awan mulai putih kembali menyingkirkan tabir hitam yang turut memutih mereka cekikikan bersama pelangi. katanya, pelangi malu menapak di bumi.

tapi sayang, tak kutemukan rasa semacam itu saat padamu kini. tidak puas. tidak pula gembira. ku lekatkan mataku pada lekukan mukamu. kerut. letih. sendiri. tak ada yang lain. kau redup.

hilang cerita tentang hujan dan pelangi. kau kenapa?

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

7


Puisi~Â

aku tahu kau petualang. kau hantam beringin-beringin tinggi di hutan. kau rakiti sungai lebar dan panjang. kau kalahkan naga-naga ganas dalam pikiranmu.

tapi aku pun tahu, kekuatanmu lompati tubuhmu. dalam takutmu, kau selimuti mereka dengan nyalanya matamu kau gertak hantu penunggu hati pengikut hidupmu padahal kau sembunyikan gemetar gentar hati kecilmu dalam larian.

kau lingkarkan lengan pada kaki di sudut. menunduk. tak kuat hatimu melangkah, kau tak berdaya kini berpura-pura kau merana kesakitan lebih memilih tinggalkan dunia, malam bahkan siangnya.

yang terpendam dalam kungkungan palsumu mulai menyemburat. bukannya menyurut bahkan kini aku tahu kau juga punya malu       

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

8


Puisi~   Indra Eka Widya Jaya 

Perginya Marbotku

Kelam siang itu gelap beserta guntur Mihrab sepi tanpa suara hanya ada cahaya berbisik dari balik jendela

kelam makin kelam siang beranjak malam Miharab masih sepi tanpa suara jamaah tertunduk bisu mata mata mereka tak jalang dan tak liar

Surauku sepi lebih sepi dari malam seolah hilang cahayanya

tiada lagi suara parau membangunkan kami tiada lagi senandung....

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

9


Puisi~Â Ilaahi lastu lilfirdausi ahlan walaa aqwaa 'alannaaril jahimi fahabli taubatan waghfir dzunuubi fa innaka ghoofiruddzambil 'adziimi

Dzunuubi mitslu a'daadir rimaali fahablii taubatan yaa dzaljalaali wa'umrii naaqishun fiikulliyaumi wa dzambii zaa-idum kaifahtimali

Ilaahi 'abdukal 'aashi ataaka muqirron biddzunuubi waqod da'aaka fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tadrud faman narjuu siwaaka

tiada yang ingatkan kami akan azab neraka ketika kami dibelai seprei surga yang tersisa

hanya wangi kamboja...

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

10


Puisi~ Indra Eka Widya Jaya 

Penyair Tolol Aku tak punya dukungan langkahku adalah sebuah kemalangan aku bertindak atas desah nestapa yang ada oh ya?

Aku hanya punya sebuah kepala yang berisi dunia Utopia dalam kata-kata kau tahu?

Langitnya terdiri dari jutaan kata jalan-jalannya diperkeras dengan idealisme banci rerumputannya terdiridari nyali-nyali kelas teri dan lorong gelapnya diterangi dengan pikiran cabul lalu apa?

Sepanjang siang aku hanya bersemadi di mihrab ku yang kubiarkan remang dalam bilik-bilik bambu karena cahaya terang hanya akan menggelapkan yang remang karena kegelapan akan menerangi yang remang dan? Berlabuhlah pada seprei yang berbau sperma!

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

11


Puisi~ Indra Eka Widya Jaya 

Dialog dengan Krishna Chandra tak pernah tertawa sebengis ini... matamu kelam membiru dari tubuhmu yang tua dan renta itu!

apa kau lihat anak muda! aku pernah menjadi Kali aku pernah kalahkan Siwa dan Indra! apa yang kau tatap!

kau hanya memliki seribu tangan! tapi aku seribu nyali! kelam hidup tak membuat persadaku kelam! Bana! Krishna! kau adalah Dia Gita Mu menyesakkan semesta Kasih Mu menyejukkan para Gopi di Vrindavarna! Kau punya Kisah dengan Radha! tapi kau bahkan kau menjegal Smara ku untuk cucumu!

Bana! Bukan aku! Tapi naiklah dulu ke Pundak Nand

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

12


Puisi~         Kawako Tami 

Topeng

aku di sudut. pada tegak lurusku adalah tiga badut pada tiga wajah. sorang bertopeng secerah pasar dihari jumat lengkap dengan para tukang obat yang menjaja batu merah pekat tuk obat kuat, agar pria tak tumbang sekali sebat, pun bagi yang teruk kan syahwat. seorang lagi bermuka masam. kacau beliau dah rupa kapal karam. beserak segala rupa segala macam. tak ubah mambang mnggganyang malam. siapa memandang pastikan enggan berbalik badan. tiada suka bukan pun segan. hilang segala jika berjumpa tatapan. lain si riang, lain si muka suram, lainpun si muka garang. menekuk kening berlipat tujuh. mata menyalang semerah saga. mukanya padam nyaris menghitam. taring mencuat tak ubah pedang. takut menyebar sekali pandang. tak dapat kutahan untuk menghindar, kututup wajah mangalih pandang. kala reda, mataku terkesiap.tak ada siapa hanya cermin mentang. Depok, 15/11/11

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

13


Puisi~Â

Kawako Tami 

Sajak yang Terperangkap Di dunia misterius itu, ada seekor sajak yang terperangkap Ya.. terperangkap dalam ruang kosong di lingkaran pokok-pokok hutan kehampaan Pokok-pokok imajinasi meninggi, hingga sayap-sayap katanya tak sanggup mengepak menembus langit bebas Sebuah rantai makna mengikat kakinya Rantai yang hulunya menancap dalam lapisan rambut yang hampir botak menghujam sel-sel kelabu hingga batang otak

Seekor sajak mulai sekarat di hutan kehampaan, terantai makna di pokok imajinasi Hingga kumengerti, kehampaan itu adalah senyummu Dunia itu adalah dirimu Dan sajak itu adalah.. aku

Depok 27/10/11

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

14


Opini~ Kegelapan, Cahaya, Tuhan Mulyadi Syamsuri   

Seorang teman pernah mengajukan pertanyaan dalam salah satu note-nya di Facebook: mengapa Tuhan menciptakan kejahatan? Setelah bertanya, ia sendiri kemudian yang memberikan jawaban kenapa kira-kira Tuhan yang dikenal Mahabaik itu menciptakan kejahatan di dunia ini: agar orang-orang baik bisa mendapatkan pahala dari adanya kejahatan –entah dengan bersabar menghadapi kejahatan, atau dengan mencegah terjadinya kejahatan atau pula dengan membawa orang-orang yang melakukan kejahatan kembali ke jalan kebaikan. Terlepas dari jawaban yang teman penulis berikan, yang semoga dapat kita diskusikan di lain kesempatan, penulis merasa tertarik untuk menelaah petanyaan yang dia ajukan. Menurut penulis, pertanyaan ‘mengapa Tuhan menciptakan kejahatan?’ adalah pertanyaan yang penting namun ia bukanlah pertanyaan tingkat dasar yang mendesak untuk dijawab dengan segera. Ia merupakan pertanyaan tingkat lanjut –dalam artian; sebelum pertanyaan ‘mengapa Tuhan menciptakan kejahatan?’ ini muncul, seharusnya ada pertanyaan lain yang mendahuluinya, yang sifatnya lebih mendasar (fondasional) dan lebih mendesak untuk dijawab. Pertanyaan fondasional itu adalah: apakah iya Tuhan menciptakan kejahatan? Pertanyaan fondasional ini penting untuk diajukan dan dijawab terlebih dahulu karena bila ternyata Tuhan tidak menciptakan kejahatan, maka pertanyaan ‘mengapa Tuhan menciptakan kejahatan?’ adalah pertanyaan yang nyata-nyatanya tidak urgent lagi untuk kita pertanyakan. Sebaliknya, bila ternyata Tuhan memang menciptakan kejahatan, maka jawaban pertanyaan ini akan menjadi landasan yang kuat bagi kita untuk mempertanyakan ‘mengapa Tuhan menciptakan kejahatan?’. Jadi, demi sistematisasi pemikiran, pertanyaan ‘apakah Tuhan menciptakan kejahatan?’ mutlak untuk dipertanyakan terlebih dahulu. Sehingga, bila diurut-urutkan, urutan pertanyaan yang seharusnya teman penulis ajukan adalah seperti ini (1) apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Jika jawabannya adalah ‘iya’, baru kita beranjak menuju pertanyaan (2) mengapa Tuhan menciptakan kejahatan? Jika jawabannya adalah ‘tidak’, kita masih bisa mengajukan pertanyaan (3) mengapa Tuhan hanya menciptakan kebaikan dan tidak menciptakan kejahatan? atau menganggap masalah ini telah selesai.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

15


Opini~ Kejahatan sebagai ‘predikat-kondisi’ bukan ‘objek-eksistensi’ Mari kita analogikan kejahatan sebagai ‘gelap’ atau ‘kegelapan’. Apakah sebenarnya gelap itu? Jawaban pertama yang paling mudah dan paling sering kita dengar dari kalangan awam adalah ‘gelap merupakan lawan dari terang’. Terang dan gelap adalah dua objek yang eksis dan meniadakan satu sama lain; terang tidak mungkin gelap, begitu pula gelap tidak mungkin terang. Adapun jawaban yang lain mengatakan bahwa ‘gelap adalah kondisi tanpa cahaya’. Mendengar jawaban yang kedua ini, mungkin kita jadi teringat sebuah video mengenai seorang siswa SD yang berani membantah pernyataan seorang guru yang menuduh Tuhan sebagai pencipta kejahatan. Dalam argumentasinya, siswa SD tersebut mengajukan tiga pertanyaan dan tiga bantahan kepada sang guru. Ketika sang guru memberikan jawaban ‘iya’ terhadap pertanyaan kedua ‘apakah gelap itu ada?’ siswa SD itu menjawab: Sir, dark is not exists. In reality, dark is the absent of the light. Siswa SD tersebut adalah Albert Einstein [1]

. Menurut Einstein, ‘gelap’ bukanlah suatu eksistensi seperti benda-benda, ia hanyalah

suatu kondisi ketika cahaya tidak ada. Jawaban Einstein tersebut sangat brilian dan mampu mengagetkan orang-orang yang selama ini menganggap ‘gelap’ sebagai sebuah-objek-yangeksis. Meskipun demikian, pandangan mengenai ‘gelap sebagai kondisi tanpa cahaya’ sebenarnya telah lebih dulu diutarakan oleh pemikir asal Persia bernama Suhrawardi (11531191) dengan konsep iluminasinya. Suhrawardi menyatakan bahwa cahaya memberikan penyinaran kepada objek-objek di sekelilingnya. Dalam penyinaran ini, tiap objek mendapatkan limpahan pancaran sinar yang berbeda-beda tergantung dari jarak objek tersebut terhadap sumber cahaya. Gradasi cahaya (perbedaan intensitas pancaran cahaya) ini akan menimbulkan perbedaan kualitas pada objek: ada objek yang sangat dekat dengan sumber cahaya sehingga ia tampak sangat terang karena mendapatkan intensitas pancaran yang sangat kuat, ada juga objek yang agak jauh dari sumber cahaya sehingga tampak ‘terang biasa‘ karena mendapatkan intensitas pancaran cahaya yang sedang-sedang saja, semakin jauh dari sumber cahaya, intensitas pancaran cahaya menjadi semakin lemah sehingga menghasilkan objek-objek yang tampak redup, lalu terus menjauh hingga memasuki kondisi gelap total dimana cahaya sama sekali tidak ada sehingga objek tidak terlihat [2].

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

16


Opini~ Konsep iluminasi Suhrawardi ini bisa jadi merupakan sebuah counter terhadap ajaran Zoroaster yang sangat masyhur di Persia. Ajaran Zoroaster mengenal dua Tuhan: Ahuramazda sebagai Tuhan kebaikan dan Ahriman sebagai Tuhan kejahatan, yang disimbolkan sebagai ‘terang’ dan ‘gelap’ yang selalu berperang dalam dunia ini dan juga dalam diri manusia. Kebaikan dan keburukan itu kedua-duanya eksis, ada, sebagai sebuah pertentangan yang abadi dan tak terjembatani sehingga manusia harus memilih salah satu di antara keduanya. Suhrawardi dengan konsep iluminasinya beranggapan lain: yang eksis, ada, adalah cahaya, sedangkan terang atau gelap hanyalah predikat atau keterangan atau suatu penjelas mengenai objek yang eksis. ‘Terang’ bukanlah objek, ia adalah kondisi dimana suatu benda atau ruang dekat dengan cahaya. ‘Gelap’ juga bukan sebuah objek, ia adalah kondisi dimana suatu benda atau ruang berada jauh dari cahaya. Jadi, yang ada adalah cahaya. Ketika cahaya ada, terang muncul. Ketika cahaya tidak ada, kegelapan yang muncul. Bila kita kembalikan analogi ‘gelap’ kepada ‘kejahatan’, adakah perbedaan ketika kita mengatakan ‘kejahatan sebagai predikat-kondisi’ dengan ketika kita mengatakan ‘kejahatan sebagai objek-yang-eksis’? Menurut penulis, ada. Bila kita mengatakan kejahatan sebagai objek-yang-eksis, itu artinya kita mengakui bahwa Tuhan menciptakan objek (makhluk) bernama kejahatan di samping kebaikan. Tapi bila kita mengatakan kejahatan sebagai predikat-kondisi –dalam hal ini: kondisi ketika seseorang jauh dari Tuhan— maka Tuhan tidak bisa dipersalahkan atas munculnya kejahatan di dunia ini karena Dia tidak menciptakan kejahatan itu sama sekali. Kebaikan dan kejahatan adalah kondisi yang bisa manusia manipulasi –berkat kehendak bebas yang telah Tuhan anugerahkan kepada mereka—seperti halnya mereka bisa memanipulasi kondisi terang atau gelap. Bila seseorang menginginkan kondisi terang, ia harus mendekati sumber cahaya –ia dapat keluar dari rumahnya, lalu berdiri di sebuah tempat yang dilimpahi sinar cahaya. Bila seseorang menginginkan kondisi gelap, ia harus menjauhi sumber cahaya –ia dapat masuk ke dalam rumahnya, lalu masuk ke dalam ruang bawah tanah yang tersembunyi di bawah lantai rumahnya. Terang muncul ketika ada cahaya dan gelap muncul ketika cahaya tidak ada. Dalam masalah kebaikan dan kejahatan, ‘cahaya’ itu adalah Tuhan. Tidak ada makhluk Tuhan atau objek bernama kebaikan dan kejahatan. Yang ada adalah manusia yang dekat dengan Tuhan sehingga ia menjadi baik, dan manusia yang jauh dari Tuhan sehingga ia menjadi jahat. Kebaikan adalah kondisi ketika manusia dengan kehendak bebasnya bergerak mendekati Tuhan, sedangkan kejahatan adalah kondisi ketika manusia dengan kehendak bebasnya bergerak menjauh dan melarikan diri dari Tuhan. Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

17


Opini~ Jadi, sekali lagi: apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Menurut penulis, jawabannya adalah tidak –akan tetapi manusia-lah yang menjerumuskan dirinya sendiri dalam kegelapan, kejahatan dan kezaliman. Seandainya saja manusia yang terjebak dalam kondisi kejahatan mau beranjak, niscaya ia akan terbebas dari kejahatan tersebut. Berdiam diri dalam gelap? Lebih baik beranjak mencari cahaya! Terjebak dalam kejahatan? Lebih baik beranjak mencari Tuhan! (*)

Catatan: [1]

dapat dilihat di youtube.com dengan kata kunci “Does God Exist? Albert Einstein�

[2]

apakah kondisi kegelapan total, yang sama sekali tidak dimasuki unsur cahaya sedikitpun itu ada? Kita perlu merujuk kepada penelitian di bidang Fisika.

[3]

masih terdapat banyak kekurangan dari tulisan ini.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

18


Cerita Pendek~  Fina Febriani 

Kamida

Seandainya bisa memilih, ingin rasanya aku memilih untuk tidak dilahirkan di zaman ini...

Suatu hari di Januari 1944, pukul 07.00 pagi Aku terbangun dan mendapati diriku terbaring di sebuah gubuk bambu. Gelap. Butuh waktu lama bagiku untuk mengenali keadaan. Di mana aku ? Belum sempat kutemukan jawaban, sebuah suara muncul dari balik pintu, “Kau jugun ianfu-kah?” Serta merta dadaku berdegup kencang. Kurapatkan tubuh ke dinding. Kuremas bantal lusuh di samping. Siapa itu? “Aku bukan Jepang. Tenanglah.” Suara itu kian nyata dengan munculnya sang pemilik, seorang lelaki tua berwajah bijaksana. Disusul seorang wanita sebayanya yang tersenyum menenangkan. Keduanya mendekat dan duduk di samping dipan. “Makanlah, Nak.” Wanita itu menyodorkan dua potong ubi. Kugerakkan tangan ke arah piring. Sakit. Kuperhatikan lenganku. Memar di setiap sisinya. “Bapak akan mencari dedaunan untuk obati lukamu. Makanlah dulu.” Kata sang Bapak sambil berdiri. ***

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

19


Cerita Pendek~  10 hari sebelumnya, pukul 20.00 Empat tangan mendorongku dengan kasar. Aku tersungkur dengan siku sebagai tumpuan. Sakit luar biasa. Belum sempat aku berdiri, “Blammm!” pintu di belakangku tertutup. “Klik.” Terkunci. Setelah beberapa saat, baru kusadari aku berada dalam sebuah ruangan beratap dengan tembok tinggi di keempat sisinya. Di dalamnya hanya ada sebuah tempat tidur dan... Ya Tuhan! Aku memekik dalam hati. Di hadapanku rupanya sudah berdiri sosok tinggi berseragam bermata sipit. Senyumnya tersungging. Matanya hanya mengisyaratkan satu hal: ia siap menerkamku dengan nafsu buasnya. Refleks, aku berdiri dan melangkah mundur. Kutatap sekeliling, mencari peluang untuk meloloskan diri. Tapi jendela berjeruji dan pintu yang terkunci memberiku jawaban jelas atas semua itu. Sulit. Tidak, tepatnya tidak mungkin. Sosok itu seolah tidak peduli betapa takutnya aku. Ia tetap melangkah maju. Satu per satu pakaiannya ia buka di hadapanku. Aku terus mundur. Aku tahu dengan cepat aku akan tersusul. Kucoba berteriak, tapi suaraku hilang ditelan angin. “Tolong….” aku merintih, bahkan jangkrik pun tak akan mendengar. Pria itu mendekat. Semakin dekat. Nafasnya terdengar jelas olehku. Aku memejamkan mata. Menangis. Aku tak mampu mengelak dari derita yang menyiksa itu. ***

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

20


Cerita Pendek~  Enam jam kemudian Aku terbangun dengan menahan rasa sakit yang sangat. Tidak hanya pada tubuhku, tapi juga hatiku. Aku sadar sepenuhnya apa yang telah terjadi. Juga sadar sepenuhnya tempat macam apa ini. Di tengah aliran air mata yang menderas, terngiang lagi percakapan hari itu, “Pokoknya, Mbak Yu, di sana dia pasti akan jadi pemain opera yang sukses.” Pakde Kusno, tetangga kami, masih berusaha meyakinkan Ibu. “Tapi, …” “Yang penting sekarang dia berangkat dulu. Biar saya yang antar.” Ibu menatapku dari jauh. Aku mengangguk. ‘Jika ini untuk hidup Ibu yang lebih baik, biarlah.’ batinku. Wanita terkasih itu masih diam. Hatinya tak mengiyakan, tapi bibirnya tak melarang. Diam terlalu identik dengan kata sepakat. Berangkatlah aku bersama Pakde Kusno menuju kota yang katanya bernama Jakarta. Tanpa prasangka. Belum terhapus juga dari ingatanku awal mula petaka itu, Setelah tiga hari, tempat tujuan tampak juga di hadapan. Pakde Kusno hanya mengantarku sampai pelataran. Aku disambut empat lelaki. “Siapa nama kamu?” tanya salah satu dari mereka dengan logat asing yang kental. “Karsiah.” Jawabku. “Mulai sekarang, nama kamu Kamida. Paham?” Tanpa menunggu jawabanku, dua orang lainnya mencengkeram kedua lenganku. Menyeretku paksa ke hadapan sebuah pintu. Masih sempat terbaca angka yang tertulis di depannya: “Kamar No. 11.” Kini, di kamar inilah aku dipaksa menghabiskan waktu. Mungkin, seumur hidupku. Ibu. Kembali aku menunduk. Tergugu. *** Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

21


Cerita Pendek~ 

“Tok tok tok.” Sebuah ketukan mendarat di pintu kamarku. “Kamida-san.” Ini hari kelima. Kebencianku akan nama itu semakin bertambah saja. Kubuka pintu. Seorang pelayan membawa pesan. “Anda diminta bersiap. Lima menit lagi akan ada yang datang.” Aku menatapnya tanpa senyum sedikitpun. Ingin sekali kuludahi wajahnya, sebesar keinginanku membunuh para majikannya. Kututup kembali pintu tanpa kata. Aku tahu, aku bukan yang pertama. Ratusan pendahuluku telah mengalami penderitaan sama. “Tok tok tok.” Haruskah aku berakhir seperti mereka? Mati perlahan di lumpur kenistaan tanpa sedikit pun perlawanan? “Tok tok tok.” Masih tak kugubris. “Dug dug dug!” Jika aku bertahan, pintu ini akan terbuka dengan paksa. Aku menyerah. Bangkit. Membuka pintu. Sosok yang dimaksud sang pelayan muncul di hadapan. Tuhan. Aku lelah lahir dan batin. Tak mengerti apa yang harus kuperbuat. Aku tahu, selalu ada pilihan untuk menolak dan berontak. Selalu ada lebam dan luka yang tersisa setiap kali aku memutuskan untuk memilihnya Kubiarkan ia masuk. Semua terasa semakin gelap. ***

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

22


Cerita Pendek~ 

“Tolong. Tolong.” Aku terbangun dari tidurku di tengah malam. Ini malam kedelapan. Suara siapa itu? Hantukah? “Tolong.” Terdengar lagi. Ini suara manusia. Ia datang dari kamar sebelah. Kamar nomor sepuluh. Aku bergegas keluar. Melihat keadaan. Kamar itu tak terkunci. Dengan mudah aku menerobos masuk. Seorang wanita jatuh terduduk. Kukenali ia sebagai Mbak Yu Parmi alias Fumiko, penghuni senior di tempat ini. Ia telah berada di sini jauh sebelum aku datang. Usianya sekitar 45 tahun. “Ada apa dengan Anda?” tanyaku. “Darah. Darah.” Ya Tuhan! Baru kusadari ia duduk di tengah genangan darah. Kudekati ia. Cairan itu keluar dari kemaluannya. Kubantu ia berbaring di tempat tidur. Kuberi segelas air minum. “Biar kupanggilkan dokter.” Kataku setelah ia lebih tenang. “Jangan.” cegahnya. “Mengapa?” “Dik, aku tidak akan tertolong. Sudah lama penyakit terkutuk ini aku derita. Lebih baik aku pergi agar tak lagi merana.” Aku terdiam. “Dengarkan aku. Pergilah dari sini. Secepatnya. Sejauh-jauhnya.”

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

23


Cerita Pendek~  “Tapi, ….” “Jika tidak, kau hanya punya dua pilihan: mati dengan kondisi seperti ini atau terbunuh dengan cara yang lebih buruk lagi. Pergilah….” Nafas terakhirnya terhembus. Aku terisak. ***

Suatu hari di Januari 2005, pukul 12.00 “Menurut Bapak dan Ibu, malam itu, saya mengetuk pintu gubuk mereka dan muncul dalam kondisi terluka.” Aku terdiam. Mengambil jeda. Berlanjut, “Bapak mengatakan, sebelum jatuh tak sadarkan diri, saya sempat menyebutkan nama sebuah tempat. Dari sanalah Bapak mulai menduga bahwa saya seorang jugun ianfu.” “Bagaimana Anda bisa mencapai gubuk itu?” Aku mengangkat bahu dan menggeleng. “Saya tetap tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelah kematian Mbak Yu Parmi. Saya hanya ingat bahwa saya terus berlari, berlari, dan berlari. Saya bahkan lupa bagaimana tembok tinggi berkawat duri itu bisa saya lewati. Saya heran bagaimana barisan anjing penjaga itu bisa saya kelabui. Saya tak mengerti kekuatan apa yang membuat saya, hanya dalam semalam, bisa mencapai gubuk itu, dua puluh lima kilometer dari rumah bordil milik Jepang tempatku dieksploitasi. Yang saya tahu, saya hanya tidak ingin berakhir seperti para pendahulu saya. Hanya itu.” paparku sambil tersenyum.

Wartawan wanita di hadapanku terpana.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

24


Cerita Pendek~  Catatan: Jugun ianfu (comfort woman) adalah sebutan untuk para perempuan yang dipaksa menjadi budak seks oleh militer Jepang. Pada masa penjajahan, Jepang membuat rumah-rumah bordil dan merampas gadis-gadis remaja untuk dijadikan wanita penghibur bagi tentara Jepang. Konon, mereka meyakini, dengan disediakannya wanita penghibur tersebut, tentara Jepang akan semakin termotivasi dalam bekerja. Jugun ianfu di Indonesia mencapai angka sekitar 1500 jiwa. Sebagian besar dari mereka menderita penyakit kelamin menular karena dipaksa melayani ratusan tentara Jepang selama bertahun-tahun. Jika menolak melayani, tentara-tentara itu tidak segan melakukan kekerasan fisik.                                       Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

25


Cerita Pendek~  Taufik Akbar 

Cerita Sebelum Lelap

“Karena gelap melindungi diri kita dari kelelahan…” (Eross Chandra: Jangan Takut Gelap) Kudampingi tidurmu malam ini, sekali lagi. Seperti malam-malam sebelumnya, ketika kau terlelap, menguapkan kelelahan sepenuh waktu menghadapi dunia yang baru dan semakin mengherankan. Setelah itu aku mengusap-usap, mengembus-hembuskan keningmu yang menghangat lalu berjingkat pelan-pelan memadamkan lampu. Hingga tiada cahaya lagi. Kau selalu merengek, merayu dengan cara yang biasa kau ucapkan. Setengah dibuatbuat memang, “Jangan matikan lampu, aku takut gelap…” Ujarmu memandangku manis. Tapi kau akhirnya akan menyerah jua dan lupa karena rasa kantuk telah menyergap. Kau takut gelap bukan karena hehantuankan ? Iya, sejenis badut yang sering tampil di kotak penerang malam ataupun di panggung tirai-tirai raksasa. Hantu oh hantu. Mengapa kau harus takut padanya. Percaya padaku, ia tak pernah ada dalam wujud nyata. Hantu merupakan wujud ketakutan yang tertanam dalam alam bawah sadar insan yang bernyawa karena sejarah peradaban bangsanya. Bangsa Eropa sering menggambarkan hantunya dengan simbol-simbol kekuasaan karena sejarah Eropa, sejarah yang dipenuhi dengan drama kekuasaan dan penderitaan rakyat. Layaknya vampir dengan jubah dan kebiasaan menghisap darah. Ah, jubah dan menghisap darah merupakan ejawantah ketakutan akan penguasa yang senang memeras rakyatnya. Di tanah kita ini, hehantuan lebih mengenaskan, kuntilanak. Kau tahukan, sejenis wanita yang berjubah putih berkeliaran malam-malam senang tertawa tak jelas arah. Bah, ini tentunya ejawantah ketakutan kaum pria yang tak senang dengan kaum hawa yang bebas mengekspresikan dirinya di dunia ini tanpa kekangan yang melanggar rambu rasionalitas.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

26


Cerita Pendek~  Lain lagi dengan pocong, badan terikat dan hanya melompat-lombat menggunakan pembungkus tubuh yang itu-itu saja. Ini cerita tentang gambaran ketakutan akan kemiskinan yang menjerat tubuh, tak bisa bergerak utuh, menggunakan pakaian yang tak berganti setiap hari. Seru bukan ? Nah, jadi kenapa kau harus takut. Kalaupun nanti ada orang yang ingin menakut-nakutimu dengan cerita bualan. Katakan saja kuntilanak dan pocong perlu dikasihani. Mengapa kuntilanak harus tertawa sendirian dan pocong mengapa harus terus melompat? Mereka pasti kelelahan tentunya. Seharusnya ini bisa jadi bahan lelucuan kita berdua. Sttt, tapi ini untuk kita berdua saja ya. Janji? Bayangkan, mengapa kuntilanak terus tertawa dan pocong senantiasa melompatlompat? Oh begini, kutilanak terus tertawa karena geli melihat pocong terus melompatlompat saja kerjanya. Pocong terus melompat-lompat bukan karena tak bisa membuka ikatan tubuhnya namun ia akan telanjang jika membuka ikatan tubuhnya. Jika ia telanjang tentulah akan makin meledak tawa kuntilanak. “Sudah hantu telanjang pula..” mungkin itu olok-olokan yang akan kuntilanak katakan. Ha ha ha Sudah tak ada yang perlu ditakutkan bukan? Ehm, kau sudah kelelahan tampaknya. Kini, sudah saatnya kau untuk mengalun mimpi. Besok malam kita lanjutkan lagi hikayat sebelum lelap ini. **** Kudampingi tidurmu malam ini, sekali lagi. Seperti malam-malam sebelumnya. Ketika kau terlelap, menguapkan kelelahan sepenuh waktu menghadapi dunia yang baru dan semakin mengherankan. Setelah itu aku mengusap-usap, mengembus-hembuskan keningmu yang menghangat lalu berjingkat pelan-pelan memadamkan lampu. Hingga tiada cahaya lagi. Kudampingi tidurmu malam ini, sekali lagi. Seperti malam-malam sebelumnya. Hingga subuh menjelang, Kau akan diam-diam masuk ke kamarku, berjingkrakan di atas tubuhku. Akupun akan terkaget-kaget lalu menatapmu heran. Sayangnya kau hanya akan berceloteh seringan kapas dan sebening embun pagi, “Ayah, setelah sholat subuh kita akan main kemana hari ini ?”      

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

27


Cerita Pendek~  Alfi Syahriyani 

Kenangan Musim Gugur November 23, 2011 Aku mematut diri di depan cermin. Alih-alih mengenakan kaus dan jeans, hari ini aku mulai mengenakan sweater yang ternyata tak cukup ampuh untuk menghangatkan tubuhku yang terbiasa dengan iklim tropis. Musim gugur akhirnya datang, setelah beberapa hari yang lalu aku masih bisa menikmati cuaca cerah dan hangat, kini bahkan matahari hanya mengintip sedikit dengan langit lebih kelabu. Kugesekkan kedua telapak tanganku untuk menghalau hawa dingin. Pemanas ruangan baru saja dinyalakan pagi ini hingga sensasi breeze masih terasa dominan di dalam rumah. Lalu kulirik jendela kamar. Di luar tampak seorang perempuan sedang menyalakan mobil. “Andin…! hurry up!” panggilan seperti biasanya. Cepat-cepat aku meninggalkan kamar, berlari menuju teras rumah. Sapaan “how was your sleep?” tidak pernah terlewat setiap pagi. Perempuan itu kupanggil dengan sebutan ‘mom’ , tapi sesungguhnya ia bukan ibu kandungku. Sudah empat bulan lebih aku ‘menumpang hidup’ bersamanya sebagai pelajar asing. Terkadang masih canggung untuk memulai percakapan. Apalagi bukan dalam bahasa ibu. Tetapi tetap saja menurutku mom terlalu baik untuk didiamkan. Terlalu ramah untuk dicueki. Terlalu, well…? “Terlalu cepatkah kita berangkat?” tanyanya sambil menoleh ke arahku yang sedang melompat naik dan duduk di sebelahnya. Aku setengah tersenyum, entah harus membalas dengan cara apa lagi. Sudah kesekian kalinya ia mengatakan hal serupa, walau dengan struktur kalimat yang berbeda. Isinya sama, segalanya harus tepat waktu. Mom memang selalu seperti itu setiap kali berangkat. Selalu paling pagi, selalu in time, selalu membuat aku, sebagai orang Indonesia yang dikenal santai, kepayahan.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

28


Cerita Pendek~  Mom kembali sekilas melirik ke arahku saat mobil sudah mulai meluncur menuju main street, “Nanti aku akan persiapkan mantel untukmu. Yang kaubawa dari Indonesia itu tidak cukup tebal,” lanjut mom sambil memainkan setir mobil dengan lihai tanpa harus menunggu jawabanku atas pertanyaan pertamanya tadi. Ah, ini lagi… Mom adalah orang yang sangat peka, ia sangat peduli dengan kebutuhan-kebutuhanku bahkan ketika aku sendiri pun tidak begitu sadar. Kurasa setiap musimnya mom akan membelikanku pakaian yang berbeda-beda. Saat musim gugur saja aku sudah merasa sedikit menggigil, tak dapat kubayangkan bagaimana lebih menggigilnya aku nanti ketika musim dingin. Aku sebenarnya tidak tahu akan dibawa mom ke mana. Bulan lalu, ia berbaik hati mengantarku ke sebuah komunitas Muslim di Minneapolis. Di sana banyak terdapat imigran Somalia yang beragama muslim. Aku surprised dengan dinamika muslim di sana. Walaupun banyak terdapat perbedaan, kurasa mereka orang yang mau terbuka. Pernah juga suatu kali aku diajak mom ke sebuah gereja. Ia memintaku berdiri saat acara kebaktian selesai, untuk diperkenalkan kepada hadirin lain. Awalnya aku sempat takut, tapi ternyata itu hanya pikiran negatifku saja. Kurasa dunia ini begitu sempit untuk dilihat hanya dari satu sudut pandang. Sebenarnya, ini juga momen yang aneh. Besok hari Thanksgiving, mom bilang keluarga besar akan datang berkunjung ke rumahnya. Ia memang orang yang dituakan. Seharusnya hari ini mom mempersiapkan acara tersebut di rumah. Mom memang telah memasak thanksgiving turkey[2] semalam, tapi bukan dalam porsi besar. “Look!” mom menoleh ke arah kiri. Ada yang berbeda di sepanjang jalan, “yellowish…” bisik mom, ”Beautiful, isn’t it?" Aku takjub melihat boulevard [1] yang kulewati. Pohon maple berguguran sepanjang jalan. Warna daunnya hijau dan jingga. Perpaduan warna yang indah ini seringkali disebut dengan yellowish. Bentuk daun maple seperti jari, lebih tepatnya seperti daun pohon pepaya, tapi berukuran kecil. Yellowish selalu ditunggu-tunggu setiap musim gugur tiba, terutama saat berjalan-jalan di taman kota. Indah sekali. Kalau saja aku bisa turun dan berjalan-jalan di taman itu.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

29


Cerita Pendek~  Aku sempat menarik ujung kemeja mom, seolah-olah bilang kepadanya, Mom, tunggu, aku ingin main ke boulevard, biarkan aku menikmati ini dulu! Seperti bisa membaca pikiranku, mom tersenyum lalu berkata, “Setelah dari sini kita akan ke North Shore of Lake Superior, tempat yang bagus untuk menikmati musim gugur, kau akan suka dan kita akan mengambil beberapa gambar untuk bisa kau bawa pulang, kenang-kenangan setelah pulang ke Indonesia nanti...” Aku mengangguk antusias, “but—where we are we going now?” Akhirnya kutanyakan juga hal tersebut pada mom, meski perlu beberapa detik mengganti subtitle alami dalam otakku. Walau sudah berbulan-bulan aku tinggal dan membaur bersama native Americans, aku tetap saja harus mendengar ekstra keras untuk mengimbangi gaya bicara mereka yang cepat. Kadang juga aku harus berkerut-kerut menautkan kedua alis dan mendekatkan telingaku agar bisa lebih mengerti apa yang dikatakan. Untung saja mom cukup paham dengan kondisiku ini. Ia tak segan mengulang berkali-kali jika menangkap ekspresiku yang kebingungan. “Kita akan ke sebuah tempat yang juga menyimpan kenangan di masa lalu,” pandangan mom lurus ke depan. Tangannya menarik gigi mobil lagi. “What? A memory?” “You’ll see it later darling…” Mom tersenyum penuh rahasia, pandangannya sekilas nampak menghangat, aku tak berani menebak mengapa. Bagus, ia berhasil membuatku penasaran. Mom orang yang senang bercerita. Tapi tidak untuk kehidupan pribadinya, kurasa. Pernah suatu kali, Josh, anak yang tinggal bersamanya bercakap-cakap denganku. Ia bilang kalau dirinya bukan anak kandung mom. Josh bahkan bilang ia adalah cucu mom, hasil hubungan gelap antara anak mom dan seorang pria “yang tidak bertanggung jawab.” O well, baiklah, ini istilah buat anak Indonesia sepertiku. Tapi untuk orang Amerika, aku tidak tahu. “You’re such a liar! Nggak mungkin kalau kamu bukan anak mom,” kataku suatu hari kepada Josh.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

30


Cerita Pendek~  “Cek aja. Nih, aku telepon mom yah,” katanya, lalu ia tekan tombol loud speaker. Ia pura-pura bertanya tentang kabar ibu kandungnya. Kudengar dengan jelas jawaban mom tentang kabar Ashley, ibu kandung Josh. Ashley pernah kutemui saat kali pertama aku sampai di rumah mom. Ia tipikal orang yang tak banyak bicara. Mom bilang Ashley bekerja di Ohio, hanya pulang pada momen tertentu. “Nah, Andin, kamu percaya kan sekarang aku anak Ashley, bukan mom?” Josh tertawa-tawa di depanku. Sementara HP lupa ia matikan. Dari seberang kudengar mom marah-marah. “Andin’s there? Hey, what did you do, Josh?!! She’s Asian, Josh! Wait until I arrive back home! Josh! Josh, I will….” Lalu Josh mematikan telepon genggamnya karena panik. Tidak perlu kuceritakan kejadian selanjutnya seperti apa. Sedang aku? Ya ya ya, baiklah! Aku sangat terkejut dengan kenyataan itu. Dasar anak tidak tahu diri. Bangga sekali menjadi anak hasil hubungan gelap. Baiklah, ini masih istilah orang Indonesia. Diam-diam aku bercerita kepada mom suatu hari dan ujung-ujungnya Josh dimarahi habis-habisan. Butuh berminggu-minggu untuk meluruhkan dendam Josh padaku. Lalu kami baikan lagi. Aneh bukan? Kalau saja waktu itu aku tidak mengobrol dengan Josh, barangkali mom tidak akan menceritakan kehidupan Ashley kepadaku. Mom bilang Ashley mengandung Josh saat masih duduk di bangku SMP. Ia sempat terkejut mengetahui kenyataan itu. Namun sampai sekarang, Ashley enggan bercerita siapa ayah Josh. Ia memilih diam, lalu meneruskan kehidupannya secara normal. Sejak mendengar cerita itu, aku seringkali bergidik ketika melihat beberapa kawanku berjalan di koridor sekolah dengan perut yang terisi. Di sekolah-sekolah Amerika pemandangan demikian sepertinya sudah lazim. Tapi tentu tak semua orang seperti itu, ada juga yang merasa bahwa keperawanan adalah hal yang sangat penting, dan institusi pernikahan adalah hal yang sangat sakral.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

31


Cerita Pendek~  “Ok, here we are…” mom kembali menarik gigi mobil. Aku tersentak, tak terasa sudah satu jam perjalanan aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Hanya sedikit percakapan yang kami lakukan sepanjang perjalanan tadi. Mom memarkirkan mobilnya di halaman kompleks perumahan khusus dengan area yang luas dan lebar, tempat itu nampaknya nyaman, hanya ada sebuah papan penanda yang bertuliskan ‘Sterling House Brookdale Senior Living.’ Kami kemudian masuk ke dalam bangunan bernuansa putih bersih itu. Di sana banyak terdapat kamar. Ada sebuah ruangan untuk menonton televisi bersama-sama. Dan juga beberapa ruangan lainnya, dari suatu ruangan suara denting piano terdengar, beberapa lansia nampak berkumpul dan bercakap-cakap dengan pelan. Kondisinya tenang, bersih, rapi, tapi…..menyedihkan atau malah suram? “Mrs. Pearsly…!” seorang perempuan berseragam hijau lumut dengan logo Sterling House menyambut kami dengan senyuman ramah, ia nampak sebaya mom dengan rambut cokelat bergelombang yang diikat praktis ke belakang, “Oh, hi Laura…” Ia menyapa mom dengan akrab, “so, what do you bring for your husband this time?” Deg! Jantungku seketika berdetak. Semoga saja telingaku betul-betul telinga orang Indonesia, yang masih sering salah dengar bahasa native. Husband? “A Turkey,” mom memamerkan kotak Tupperware-nya, “As usual huh?” Laura mengintip kotak yang dibawa mom, “Hmm, smells good! Alright Mrs. Pearsly, this way…” Aku mengikuti mom dan staf berseragam tersebut melintasi lorong menuju sebuah ruangan yang lebih mirip seperti kamar perawatan di rumah sakit. Seorang lelaki berusia 60an nampak sedang duduk di sebuah sofa menghadap ke jendela besar yang memiliki akses pemandangan langsung ke taman. Lelaki tua itu nampak pucat dengan rambut abu-abu tipis. Kemeja yang ia kenakan rapi dan bersih tetapi nampak kebesaran menutupi tubuh tipisnya yang rapuh.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

32


Cerita Pendek~  Mom menghampiri lelaki itu, Ia menatap mom dengan ekspresinya yang datar. Sekalipun kepalanya dielus-elus, tak ada gerakan yang berarti. Diam seribu bahasa. Pelanpelan mom menyuapi lelaki tua itu dengan masakannya sendiri. Awalnya ia tak mau, tapi Laura membantu mom dengan sabar. Samar-samar kudengar mereka mengobrol tapi tidak begitu kupedulikan karena otakku sedang sibuk berpikir tentang banyak hal. Tentang status mom yang single parent, tentang Josh, tentang Ashley, tentang banyak hal. Setelah tiga puluh menit menghabiskan waktu bersama lelaki yang ternyata suami mom itu, kami keluar gedung dengan saling terdiam. Aku bingung bagaimana memulai percakapan. Mom juga sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri hingga mobil melaju menuju North Shore of Lake Superior seperti yang mom janjikan. *** “Kami dulu bertemu di sini” tiba-tiba saja mom bersuara saat kami berjalan berdua, menikmati pemandangan musim gugur di North Shore of Lake Superior, “Saat musim panas tiba, dad sering jogging pagi-pagi di daerah ini. Ia pernah menjadi seorang atlet marathon sambil terus studi menyelesaikan PhD-nya. Jika musim gugur tiba, dad sering menyendiri di taman ini, menulis puisi tentang maple” “Lalu?” tanyaku, dengan wajah tenang, walau dalam hati aku siap melompat. “Lima tahun yang lalu ia terserang Alzheimer[3]. Kupikir tubuh dia sehat walaupun sudah tua, tapi entah mengapa penyakit itu tiba-tiba saja terjadi, sejak saat itu aku selalu menengoknya satu minggu sekali di akhir pekan” “Menengok rutin? Tetapi ia kan diam saja, Mom. Buat apa?” Mom tersenyum, “Kalau saja di setiap musim gugur Maple tidak seindah ini", jawabnya. Tiba-tiba saja aku menyesal mengatakan pertanyaan bodoh itu. Sebenarnya dalam hati yang terdalam aku ingin sekali bilang, “memang ada apa dengan pohon maple sih?” Tapi aku tidak ingin memperpanjang perkara. Kubiarkan mom berjalan sendiri, sedikit mendahului langkahku. Yellowish kali ini bisa sedikit kunikmati dengan lebih santai.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

33


Cerita Pendek~  Lagi-lagi seperti bisa membaca pikiranku mom berujar, “beberapa orang menganggap pohon maple sebagai simbol janji. Tapi entah mengapa, ia tampak lebih cantik saat daunnya berguguran. Walaupun Dad sudah sama sekali tak bisa ingat apa-apa, kenangan saat kami bersama akan selalu ada selama pohon maple tumbuh dan berwarna indah di tiap musim gugur...” Aku mengerutkan kening, berpikir lama sambil menginjak satu demi satu daun yang bertebaran di jalanan. “So, Andin, let me take your picture here…” Suara ceria mom memecah keheningan sementara kami, kulihat mom tersenyum lebar seraya bersiap mengambil fotoku dengan kamera. Cuaca terasa semakin dingin, namun entah mengapa ada sesuatu lain yang mendadak menghangat— -inspired by true story and a small research done-

Keterangan: [1]

Taman kota

[2]

Makanan khas perayaan Thanksgiving di Amerika, berupa sajian kalkun panggang untuk makan bersama keluarga besar. Perayaan Thanksgiving di Amerika disebut juga dengan ‘Hari Kalkun’. Biasanya semua orang berkumpul bersama keluarga besar. Awalnya perayaan Thanksgiving adalah bentuk syukur atas panen yang berhasil, namun sejak 1983 diperingati sebagai hari raya nasional.

[3]

Sebuah penyakit yang didasarkan pada penurunan kemampuan mengingat yang progresif. Serangan penyakit Alzheimer ditandai dengan kehilangan daya pikir secara bertahap dan akhirnya dapat menjadi cacat mental total.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

34


Kritik~

The Shawshank Redemption: Mengapa Menjadi Film No 1*? Johan Rio Pamungkas 

“Fear can hold you prisoner. Hope can set you free”

Penjara adalah tempat gelap. Tempat yang manusia mana pun tidak mau masuk ke dalamnya. Tempat di mana harapan menjadi berbahaya seiring dengan lamanya manusia tertahan di sana. Mungkin selain orang-orang yang memang bersalah atas tindak pidananya maupun yang sebenarnya tidak bersalah tapi kemudian tetap dijebloskan ke penjara serta petugas penjara itu sendiri, hanya manusia-manusia “ingin tahu” yang mau berada di penjara. Mereka melakukan riset, penelitian atau hanya sekadar mencari berita. Namun, tempat pembersihan kesalahan ini juga menyimpan serakan renungan pemikiran. Banyaknya cerita dari penjara yang bisa digali membuat orang-orang yang berotak kreatif menulis buku atau menjadikannya kisah bergambar di layar lebar. The Shawshank Redemption adalah salah satunya. The Shawshank Redemption adalah film yang diadaptasi dari novelet Maha Karya Stephen King. Judul lengkap noveletnya adalah Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Kata-kata “Rita Hayworth” kemudian dihilangkan agar menghilangkan kesan film tersebut menceritakan tentang Rita Hayworth, padahal inti ceritanya adalah tentang orang-orang di Penjara Negara Shawshank, Maine, Amerika Serikat. Film ini menjadi menarik untuk dikaji karena menduduki posisi teratas Top 250 versi Internet Movie Database (IMDb). IMDb merupakan situs film terpopuler yang pasti dijadikan referensi baik para penggemar film biasa maupun para pakar film. IMDb menggunakan rumus formula Perkiraan Bayesian untuk menentukan rating sebuah film[i]. Maka, film ini sudah tentu bukan film picisan sembarangan kalau sudah mendapatkan rating senilai 9.2 mengalahkan film-film beken nan keren macam The Godfather, 12 Angry Men, Star Wars, bahkan termasuk mengalahkan rating film pemenang Piala Oscar tahun 1995 : Forrest Gump, yang “hanya” meraih rating senilai 8,6. Banyak kritikus film mengatakan, andai kata The Shawshank Redemptiondiproduksi tidak bersamaan tahun dengan Forrest Gump, dapat dipastikan pemenang Oscar-nya adalah The Shawshank Redemption. The Shawshank Redemption termasuk film Genre Induk Primer yakni ; Drama. Satu yang menarik adalah jika merujuk makna dari genre noir [:noa] yang bermakna “gelap” atau “suram” film ini juga bisa masuk ke dalam genre ini seharusnya, namun ternyata film ini tetap digolongkan ke dalam film drama. Apa sebab ? Karena secara lebih detail, noir melakukan pendekatan sinematik dan tema yang unik, sedangkan The Shawshank Redemption tidak menggunakan sinematik yang luar biasa seperti filmnoir populer macam L.A Confidential, The Usual Suspect atau film yang hanya mendapatkan pengaruh noir seperti The Matrix yang menggunakan slow motion sinematik. Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

35


Kritik~ Setiap cerita apapun bentuknya dan seberapa pun pendeknya pasti mengandung unsur naratif. Begitu pula dengan film ini. Unsur naratif inilah sepertinya yang menjadikan film ini mendapatkan hati para penggemar film dan para kritikus film yang memberikan penilaian mereka lewat IMDb. Padahal, jika sebuah novel diadaptasi menjadi sebuah film, maka tidak semua isi (cerita) novel tersebut akan muncul dalam filmnya. Dalam sebuah novel, suasana pagi yang cerah dapat dideskripsikan begitu detil hingga beberapa ratus kata, namun dalam film bisa hanya disajikan dalam sebuah shot saja. Contohnya ketika Andrew "Andy" Dufresne (Tim Robbins) merangkak dalam saluran pipa kotoran untuk bebas, di noveletnya terjelaskan secara detil berapa panjang pipa tersebut; yakni 5600 yard[ii] namun di film hanya memperlihatkan Andy Dufresne yang merangkak di pipa sungai penuh kotoran. Atau contoh lain, tempat hukuman para narapidana khusus yang melawan peraturan penjara yang disebut “The Hole” dalam noveletnya deskripsinya sangat jelas, sedangkan dalam film diperlihatkan hanya setengah dari ruangan “The Hole”tersebut. Namun, hal-hal tersebut yang tidak dijelaskan secara detil di film tidak mengurangi tingginya nilai struktur naratif dalam film ini. Penggunaan narator yang dibawakan sangat apik oleh Ellis Boyd “Red” Redding (Morgan Freeman), elemen pokok naratif yang semuanya ada dan bernilai sangat tinggi dari mulai pelaku cerita, permasalahan dan konflik serta tujuan cita-cita dari pelaku cerita membuat yang sudah pernah menonton film ini ingin lagi dan lagi menonton film ini. Pesan film ini juga sangat kuat dari mulai kenyataan bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem hukuman penjara di dunia sampai pesan positif yang nampaknya menjadi trend saat ini yakni, "Jangan pernah berputus asa !" atau tentang harapan-harapan di masa depan yang berusaha diwujudkan. Mise-en-scene yang terdiri dari empat unsur pembentuk utama, yakni : setting, makeup, lighting dan akting, bisa dikatakan hanya akting para pemainnya saja yang membuat aspek Mise-en-scene The Shawshank Redemption bernilai tinggi. Akting Tim Robbins yang memerankan narapidana mantan bankir yang dituduh membunuh istri dan selingkuhan istrinya patut diberikan kedua jempol tangan. Tim Robbins dapat menunjukkan secara jelas karakter Andy Dufresne yang pendiam tapi penuh perhitungan. Kemudian, nama Morgan Freeman sendiri adalah sebuah jaminan tentang kualitas peran. Morgan Freeman yang memang merupakan aktor watak sekali lagi memperlihatkan kepiawaiannya bermain dengan karakter orang tua bijak sekaligus narator cerita yang membawa kisah serta pesan. Latar film hanya biasa saja, penjara di Amerika Serikat dekade 1940-an. Kostum pun begitu, hanya menampilkan kostum-kostum yang memang biasa dipakai para narapidana dan sipir penjara sama persis juga dengan film Lock Up-nya Sylvester Stallone. Pencahayaan rada lumayan karena bisa memakai teknik manipulasi cahaya untuk ruangan “The Hole”. Kebanyakan pencahayaan yang dipakai dalam film ini adalah tata cahaya kontras antara area gelap dan terang (low-key lighting). Terakhir yang sekarang pasti selalu ada dalam film, yang coba dinilai, adalah suara. Karena sekarang bukan zamannya lagi film bisu, maka, mutlak suara adalah aspek penting dalam sebuah film. Untuk aspek suara ini para penikmat film khususnya yang juga penikmat suara-suara jernih nampaknya harus berterima kasih kepada film ini karena berkat film inilah Hollywood’s Best Film Scoring, Thomas Newman lahir. Thomas Newman juga secara Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

36


Kritik~ cerdas memasukkan musik dalam diegetic sound[iii]film ini, yakni ketika Andy Dufresne memutar piringan hitam buah hasil permintaannya ke Senat Daerah Maine. Terlantunlah suara sopran wanita Italia yang sangat indah membuat para narapidana di sana seperti tersihir dan Red (Morgan Freeman), sang narator, hanya berkata : “I have no idea to this day what those two Italian ladies were singing about. Truth is, I don't want to know. Some things are best left unsaid. I'd like to think they were singing about something so beautiful, it can't be expressed in words, and makes your heart ache because of it. I tell you, those voices soared higher and farther than anybody in a gray place dares to dream. It was like some beautiful bird flapped into our drab little cage and made those walls dissolve away, and for the briefest of moments, every last man in Shawshank felt free”

Keterangan: *Versi Internet Movie Database (IMDb) **Tambahan informasi : Film ini menjadi Trending Topic Twitter Worldwide selama tiga hari, tanggal 26-29 November 2011, ketika jaringan televisi berbayar HBO, menayangkannya di tiga hari itu. [i] weighted rating (WR) = (v ÷ (v+m)) × R + (m ÷ (v+m)) × C dengan: R = average for the movie (mean) = (Rating) v = number of votes for the movie = (votes) m = minimum votes required to be listed in the Top 250 (currently 3000) C = the mean vote across the whole report (currently 6.9) for the Top 250, only votes from regular voters are considered. (perlu diketahui bahwa regular voters juga terdiri dari para kritikus film terkenal seperti Owen Glebeirman(E! Entertainment Weekly) dan Roger Erbert (Chicago Sun Times/ Pulitzer Winner for Criticism) [ii] Sekitar 5,1 Kilometer [iii] Semua suara yang berasal dari dalam dunia cerita filmnya.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

37


Resensi~

Don’t be Afraid of the Dark Rizqan Adhima 

Pemain

: Bailee Madison (Sally), Katie Holmes (Kim), Guy Pearce (Alex) Sutradara : Troy Nixey Produser : Guillermo Del Toro Produksi : Miramax Duras : 99 Menit

Film apa yang kira-kira layak ditonton di kamar gelap? Setelah Paranormal Activity dan Insidious berhasil membuat saya ketar-ketir dan serak karena teriak sepanjang film, judul Don’t be Afraid of the Dark cukup menggoda apalagi dengan adanya nama Guillermo Del Toro dan Katie Holmes dalam karya film horor ini.

Cerita dimulai dengan adegan “pengrusakkan gigi” seorang wanita oleh Mr.Blackwood untuk menyelamatkan anaknya yang diculik gnemon (peri gigi dengan wajah mengerikan) di Abad ke-19, adegan awal yang cukup berdarah-darah terhenti menyisakan misteri untuk awalan cerita masa kini. Lewat dua abad, rumah itu kini dihuni oleh pasangan arsitek Alex (Guy Pearce) dan Kim (Katie Holmes) yang gemar merenovasi rumahrumah tua sebagai investasi.

Alex memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, Sally (Bailee Madison) yang bertampang depresi karena harus tinggal dengan ayah dan calon ibu tirinya. Di rumah yang sangat besar itu, Sally menemukan ruang bawah tanah dimana dulu Mr. Blackwood kehilangan anak dan meninggal pula di lokus tersebut. Bisik-bisik setan mulai bermunculan yang ditenggarai berasal dari makhluk gnemon yang mirip tikus keriput bertaring, mereka mengajak Sally bermain padahal memiliki niat busuk untuk memakan gigi serta seluruh tubuh anak kecil itu.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

38


Resensi~ Film ini mendapat banyak kritik karena memang klise dan tidak masuk diakal. Sally adalah anak depresi yang banyak ditinggal di rumah sendirian; tidak disekolahkan bahkan tidak didorong untuk berteman dengan siapa pun sehingga gnemon leluasa menyerang kapan saja. Adapun Alex dan Kim sama sekali tidak percaya dengan pengakuan-pengakuan Sally yang mereka anggap anak depresi. Belum lagi ketika ada tukang kebun yang juga celaka karena diserang gnemon –dengan luka-luka pecahan kaca dan sebagainya- si orang tua tetap tidak percaya atas keberadaan gnemon-gnemon ini.

Dinamika film jadi agak membosankan, apalagi saat masuk adegan Kim yang merasa gagal sebagai Ibu tiri versus Alex yang mengabaikan Sally versus Sally yang terus depresi. Bahkan adegan Sally depresi lebih banyak ketimbang kemunculan gnemon. Alih-alih Don’t be Afraid of the Dark, saya merasa film ini lebih seperti “Don’t Forget to Send Your Kid to School – so They Have Enough Activity and Stay Away from Gnemon.”

Sisi baiknya adalah setting rumah tua cukup detail serta penampakan gnemon yang lebih gaul dari Smeagol atau Dolby. Kalian yang mencintai Hell Boy atau Pan’s Labyrinth tidak akan menemukan tangan emas Del Toro dalam film ini, kalau boleh menunjuk kambing hitam mungkin kesalahannya terletak pada sang sutradara debutan, Troy Nixey.

Jadi tidak usah bersiap-siap dengan alkitab atau segala macam alat yang bisa mengusir setan ketika akan menonton film ini sendirian di kamar gelap. Alih-alih ketakutan kalian lebih mungkin akan melongo kebingungan dan terkekeh di beberapa adegan. Pun ada mantra paling ampuh untuk menangani gnemon-gnemon annoying ini: nyalakan saja lampu kamarmu, kamar tak lagi gelap dan gnemon lenyap.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

39


Pantau~ Karna dalam Empat Monolog Tery Marlita 

Komunitas Salihara kembali menggelar pertunjukkan teater dalam program November—Desember mereka. Teater ini berlangsung dari tanggal 17-20 November 2011 setiap pukul 20.00 WIB. Kali ini, lakon yang dibawakan adalah Karna, berwujud dalam empat monolog dengan Goenawan Mohammad sebagai penulis naskah sekaligus sutradara. Karna dalam Empat monolog merupakan sebuah penafsiran kembali satu bagian dari Bharatayudha, perang saudara habis-habisan antara Kurawa dan lima pangeran Pandhawa. Kisah Karna dilepaskan dari dongeng tentang dewa, ia digambarkan sebagai orang yang tersisih dari kasta-kasta yang ada. Seorang yang selamanya ‘lain’ yang menemukan harkatnya dari perang dan kematian. Dibangun dari ingatan-ingatan tentang Karna sajian teater empat monolog ini membawa empat lakon, Karna sebagai yang diingar Radha, perempuan yang menemukan bayi di sungai. Karna sebagai yang diingat Parashurama, sebagai seorang Brahmana pembunuh yang ikut dalam pertikaian antar-kasta. Karna sebagai yang diingat Kunthi, yang pertama kali melihatnya di paruh pertama bulan Chaitra, dan Karna sebagai yang berbicara kepada Surtikanti, dalam sepucuk surat terakhirnya sebelum pertempuran. Nama-nama besar mengisi panggung teater Karna. Sejumlah pemain yang mengisi lakon empat monolog ini adalah Niniek L. Karim (Kunthi) peraih Piala Citra tahun 1986, Putri Ayudya (Surtikanti), pernah berduet bersama Philippe Bizot, aktor pantomim asal Prancis dalam You and Me tahun 2009. Sita Nursanti (Radha), lebih dikenal sebagai Sita RSD Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

40


Pantau~ memiliki debut dalam drama musikal Madame Dasima (2001). Sitok Srengenge (Karna), penyair sekaligus kurator teater di Komunitas Salihara, serta Whani Darmawan (Parashurama), seorang aktor dan juga penulis monolog Metaniezsche-Boneka Sang Pertapa (2001—2004). Tak ketinggalan, Jay Subyakto yang dikenal sebagai sutradara konser-konser musik penyanyi papan atas Indonesia seperti Anggun, Chrisye, Tiga Diva juga turun andil sebagai penata artistik dalam pementasan teater empat monolog ini. Putri Ayudya, ketika ditanyai mengenai kesannya ketika bekerja sama dalam pementasan teater Karna ini mengungkapkan, “ini pesta! Dengan all-star team, saya merasa diberikan kesempatan untuk seolah membaca semua buku seenaknya dari satu perpustakaan lengkap. Orang-orang besar ini, teruma Goenawan Mohamad sendiri, sangat down to earth. Iswadi Pratama, sutradara Teater Satu Lampung, membuka mata saya akan berbagai teknik latihan dan cara mendalami suatu peran. Mas Toto (Toto Arto) juga sabar sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang produksi teater. Dan diantara orang-orang besar itu, saya berlari mengajar langkah-langkah panjang mereka. Saat itu saya merasa, lengkap, jadi manusia seutuhnya.” Kostum yang dikenakan dalam pementasan teater empat monolog ini tergolong menarik, meski kisah yang diangkat merupakan penafsiran dari salah satu kisah pewayangan, pakaian yang dikenakan oleh pemain dirancang berdasarkan pakaian tradisi Tanibar, Maluku. Dalam situs, ANTARA News menyebutkan pertunjukkan Teater Karna juga ditonton oleh Wakil Presiden Boediono hingga melewatkan acara pertandingan final sepak bola SEA Games XXVI antara Indonesia melawan Malaysia di Gelora Bung Karno,Jakarta. Saat ditanyakan hal tersebut, Yopie mengatakan Wapres menonton acara tersebut untuk memenuhi undangan dari Goenawan Mohammad. "Ada undangan dari Mas Goenawan. Bola kan sudah, malam ini giliran seni budaya. Semua harus kebagian kan."

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

41


Her Voice~ 

Prison of the Authors Alfi Syahriyani 

Living in prison could be a consequence for those who struggle for a better change of life. That is what history recorded. A lot of literary works were born from the musty and dark prison. They thrived from the nature of revolution. A number of famous world leaders have proved that dark and small place can’t restrict their thought and limit their space of freedom. Although their physics were isolated, their soul and thought were free. They lived for their people. They tried to survive to share their idea. They gave hope. They were there—to battle. We have Soekarno, our former president, who wrote Indonesia Menggugat. He was put into the jail for his sharpness of tongue toward the Dutch colonizers. We also have Pramoedya Ananta Toer, from his phenomenal tetralogy, Tetralogi Pulau Buru. He was in prison for his sharp criticism in his novels. He didn’t stay silent looking at his country lead by tyranny regime. In other side of the world, we know Ibnu Taimiyah, a Muslim leader figure whose words are eternally recorded in history. Damascus city was the witness of his hard struggle. In that period, the king forbade him to have pens, papers, and ink since the people knew that the words born from his fingers were like a sharp sword that could kill the dictatorship. Consequently, he had his students throw the charcoal—instead of a pen—into the prison, so he can keep his hand moving. The same tragic but awesome story experienced by Sayyid Quthb, a scientist, a poet, and an Islamic thinker from Egypt. Prison encouraged him to write beautiful pieces of his life experiences with the Koran. What the leaders did was nothing but one purpose: they fight against the unpleasant condition due to the occupation, from the unpleasant place due to the imprisonment. “From darkness for the darkness”, it might be the right expression to describe the authors. They wrote their best from the narrow and dark prison to overcome the darkness of their people’s life, the life surrounded by the imperialists, the life that was full of misery, the life that forced them to fight for independence. They gave their opinion to enlighten people outside. Never think that darkness is only about the place that has no light, rather, it’s the condition where the tyranny exists, it’s the condition where we can’t claim our right to have a proper life. Poverty, ignorance, stupidity, and tyranny are the darkness that we should eradicate.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

42


Her Voice~  Then, a big question might appear, “Should we be in prison first to show our best work?” Off course not. Writing shouldn’t be started from the dark place like prison. When we see something wrong with our environment, we might say that it is part of the darkness that we should eliminate. However, in some cases, history records that somehow sword can’t answer the restlessness of the people. “The pen is mightier than the sword”, a metonymic adage coined by an English author, Edward Bulwer Lytton, in 1839 for his play Richelieu; Or the Conspiracy, is relevant with our current condition.

True, This! — Beneath the rule of men entirely great, The pen is mightier than the sword. Behold The arch-enchanters wand! — itself a nothing! — But taking sorcery from the master-hand To paralyze the Cæsars, and to strike The loud earth breathless! — Take away the sword — States can be saved without it!

See how the authors in prison can inspire millions of people outside. See how the works created in a dark place can give enlightenment. And see, how the words can ruin the tyranny. (*)

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

43


Bidik~ Perjalanan Mengunduh Bayangan Muhammad Akhyar 

Perjalanan selalu menjadi fakta yang menyenangkan sekaligus dirindukan. Ia selalu punya hal-hal baru untuk diambil, dipelajari, atau sekadar dinikmati. Muka baru, rasa baru, aroma baru, teman baru, ide baru, apapun. Selain itu, boleh jadi yang kita temukan adalah hal-hal lama. Tentu saja dengan pemaknaan yang relatif beda. Ringkasnya, dari perjalanan selalu dapat kita tarik sesuatu, sesuai kemampuan dan kemauan kita. Sebagaimana bayangan yang selalu berbeda dari nyatanya, bisa lebih hablur, lebih pendek, atau malah lebih pekat, lebih jelas. Selamat mengunduh bayangan dari perjalanan kalian.

Katajiwa Tahun I, no.3/2011, Desember 2011

44

katajiwa edisi kamar gelap  

katajiwa Majalah Kebudayaan adalah salah satu produk Komunitas Langit Sastra. Edisi kamar gelap adalah edisi ketiga katajiwa.

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you