Page 1


mENYekar KARYA Aku sekarang adalah jiwa baru pada raga yang lama. Orang dewasa bilang hasil kontangkanting masa perkembangan remaja. Galau. Labil. Mungkin besok adalah jiwa baru lagi. Semoga saja iya, tapi aku berharap tidak. Kasihan.

Kamu Harus Tanggung Jawab Edisi: 4 Terbit: Januari 2019 Disclaimer: Terbitan ini bertujuan untuk hiburan dan pendidikan semata. Tidak ada maksud untuk merendahkan dan menyudutkan golongan tertentu. Kebijaksanaan pembaca diperlukan.

Kamu Harus Tanggung Jawab 1


PUBLIKASI KONTEMPLATIF

I Love You, America Pagi itu, seketika saya memberi perhatian pada satu trek dalam daftar putar yang sedang saya dengarkan. Liriknya menyerukan isi teks sumpah pemuda, namun kata ‘Indonesia’ diganti dengan ‘Amerika’. Itu adalah lagu Amerika dari Armada Racun, band asal Jogja. Lirik itu sungguh meng­gelitik bagi saya secara personal. Mereka seperti sedang membicarakan saya, orang yang sok Amerika. Mengganti ‘Indonesia’ dalam teks sumpah pemuda menjadi ‘Amerika’ bagi saya merupakan langkah paling cepat untuk membuat “cerita pengganggu” identitas nasional. Teks sumpah pemuda, paling tidak menurut saya, merupakan manifesto paling awal dalam membangun identitas nasional. Setelahnya, kita akan beranjak menuju Pancasila dan tetek bengek lainnya. Dengan gubahan yang ada pada lirik lagu tersebut, identitas nasional Indonesia men-

jadi kabur. Beberapa orang telah menjadi American. Yang menjadi pertanyaan, mengapa sebagian dari kita bisa menjadi begitu American? Amerika memang berbeda. Kultur maupun subkultur mereka bisa terasa begitu mudah berbaur di sini. Maksudnya, bagaimana dengan kultur-kultur yang datang dari, katakanlah Ethiopia, Serbia, Argentina, atau apa­pun itu? Apakah mereka tidak pernah benarbenar sampai di sini? Kita akan membahas ini lewat tiga dasar penting pertemuan budaya antar bangsa, juga komunikasinya, yakni: industrialisasi, modernisasi, dan globalisasi. Sebelumnya ada beberapa hal yang mesti kita pegang. Pertama, budaya ada dan bergerak lewat ruang kolektif masyarakat dan ia juga bisa diserap lewat agen-agen personal/individu. Kedua, kita tidak

2 Kamu Harus Tanggung Jawab


bisa menolak bahwa individu merupakan bagian dari budaya. Industrialisasi mengubah peradaban manusia secara global. Paling tidak ia membawa dampak pada bagaimana kita bergerak, berkomunikasi, dan tentu saja berproduksi. Penemuan-pe­ne­mu­ an dalam tiga hal tersebut membuat masyarakat, yang menurut istilah saya, mau untuk iseng mencoba mengikutinya. Orangorang lantas mau untuk beranjak membangun peradaban yang nantinya kita sebut sebagai peradaban modern. Semakin banyak kelompok masyarakat di belahan dunia ini yang iseng, globalisasi pun tak terelakan. Agak sulit menjelaskan apa itu globalisasi, namun yang jelas, hampir sebagian besar masyarakat di dunia hidup saling bergantung satu sama lain. Kita seperti menjadi satu masyarakat global yang satu sama lain terus menggerakan sistem produksikonsumsi. Oke. Sudah? Kita ah sosiologinya. mencoba untuk kan bagaimana

masyarakat Amerika (bukan Indian), katakanlah Ruth Benedict, Alex Inkeles, maupun Stewart C. Bennett. Kita ambil beberapa poin yang mereka sadari. Pertama, dalam dimensi budaya, American cenderung untuk memilih menjadi individualistik ketimbang kolektivistik. Karenanya, mereka percaya persaingan, pencapai­ an, dan usaha personal. Kedua, American cenderung untuk anti otoritas (negara), ini menjadikan mereka cenderung menjadi li­ beral. Ketiga, mereka suka untuk sekolah. Ilmu pengetahuan se­perti sebuah permata yang berharga bagi mereka. Tentu saja hal-hal tersebut terbangun melalui sejarah panjang peradaban. Aspek historis adalah kunci. Maksudnya, bahkan bagaimana Sukarno merumuskan ekasila “Gotong Royong” pun tak lepas dari analisanya terhadap nilai-nilai historis bangsa Indonesia. Sampai di sini, kita bisa melihat beberapa perbedaan antara Amerika dan Indonesia.

lanjut lagi kuliBeberapa ahli mendeskripsiofficial culture Kamu Harus Tanggung Jawab 3


Budaya Pop: Bagaimana Mereka Berbaur

budaya pop, bahkan bagi orangorang Inggris sekalipun.

Amerika memang hebat. Tapi ya biasa-biasa saja hebatnya. Mereka hanya memiliki orangorang bertentakel kuat. Jika kita melihat bagaimana mobil-mobil produksi Amerika bisa sampai di sini, bukankah itu sangat dibantu oleh peran media dan industri hiburan mereka? Maksudnya, mari kita bawa pandangan kita kepada bagaimana American memproduksi hiburan dan memba足 ngun media.

Tak hanya membuat buatan, mereka bahkan memanfaatkan keadaan untuk menjadi komoditas. Tentu saja, peran media menjadi penting. Kita bisa menggunjingkan Trump di sini, tapi apa mau menggunjingkan pemimpin Ethiopia, Serbia, atau Argentina? Ya itu jika memang perlu. Omong-omong namanya siapa ya?

Hiburan seperti menjadi komoditas esensial bagi Amerika. Coba sebutkan masing-masing satu musisi, bintang film, stasiun televisi asal Ethiopia, Serbia, dan Argentina? Susah? Coba kita ganti dengan asal Amerika. Yeay! Bayangkan, Agnes Monica saja pergi ke Amerika. The Beatles, yang dari Inggris juga pergi ke Amerika. Atau bayangkan Bob Marley tanpa Amerika. Meski di manapun orang bisa memproduksi musik, film, atau apapun, Amerika seolah menjadi bandar-

Bagaimana American mem足足足 produksi hiburan dan membangun media memang gila-gilaan. Dan untungnya mereka sukses. Hiburan dan media yang dibangun adalah alat paling efektif dalam upaya penyebaran nilai budaya. Maksudnya, orang tidak perlu mengejarnya, ia bisa sampai masuk ke dalam rumah jika kita mengizinkannya. Mereka bisa menjadi sangat dekat dengan masyarakat modern, sekaligus yang paling bertanggung jawab atas segala input yang didapat oleh masyarakat. Alex Inekes pernah membuat penelitian bagaimana anak-anak di Jepang berbaur dengan bu-

4 Kamu Harus Tanggung Jawab


daya Amerika. Pada penelitian itu, ia memfokuskan bagaimana masyarakat Asia Pasifik berreaksi terhadap budaya-budaya yang datang dari barat (Amerika). Saya ambil contoh penelitian biar tulisan ini bisa lebih akademis sedikit! Ia membuat analogi tentang aliran sungai Amazon. Oke mari kita bayangkan. Ada dua anak sungai, yang satu membawa material lumpur dan berwarna kecokelatan, yang satu biasa-biasa saja. Pada satu titik, mereka bertemu. Aliran air itu tidak lantas menyatu melainkan mereka akan berjalan beriringan seperti ada satu garis yang memisahkan. Namun semakin jauh aliran air, perlahan mereka berbaur. Bagaimanapun, ada materi yang dominan dalam campuran yang baru ini. Yang mana? Itu bisa diteliti. Sebut saja hip-hop. Pada permulaan ia sampai di sini, tentu setelah ada media yang membawanya, ia hanya seperti “baju jadi� asal Amerika yang dikenakan di Indonesia. Satu kelompok individu itu mempraktekan nilai-nilai yang ia

percaya di tengah masyarakat dengan satu nilai umum yang telah mapan. Awalnya, ia akan menjadi aneh. Lama kelamaan, masyarakat menjadi terbiasa. Meski subkultur itu tidak pernah dianggap menjadi “budaya kita�, tapi masyarakat mulai terbiasa melihat coretancoretan graffiti, gang, dan tentu musik hip-hop. Ia berkembang, masyarakatnya menjadi makin luas, berjalan beriringan dengan nilai yang sudah mapan, bahkan terjadi asimilasi. Ya kalian bisa memberi contohnya sendiri. Seperti sudah disebut di awal, meski budaya memang bekerja pada ruang kolektif, kepercayaan individu tetap perlu diperhatikan. Individu berhak untuk mempercayai apapun dari segala input yang telah ia dapat. Kita kemudian mengenal personal culture. Dengan keadaan semacam ini, crosscultural unserstanding diperlukan oleh masyarakat dari kalangan mana pun, paling tidak itu yang saya percaya. Saya tidak akan memberi nasihat. Coba cermati keadaan berikut. Kelompok Punk di Aceh awalnya

Kamu Harus Tanggung Jawab 5


tidak hadir sebagai upaya counterculture. Paling tidak apa yang yang saya percaya, mereka hanya ingin menjadi kelompok lain yang hidup dalam satu kelompok besar masyarakat dengan satu nilai mapan. Yang terjadi, bukannya Punk menyerang sebuah kemapanan budaya, mereka malah dihabisi. Sebagai contoh lain, kelompk Blackbloc di Jogja. Mereka membakar pos polisi, alih-alih mereka bentrok dengan polisi, mereka malah kocar-kacir diserang warga. Yang terjadi pada keadaan tersebut adalah, kelompok kecil ini membawa “baju jadi” dan menge­ nakannya pada sebuah keadaan dengan kemapanan budaya yang berbeda dengan tempat asalnya. Padahal bagaimana masyarakat “resmi” berreaksi terhadap sebuah entitas nilai berbeda. Di Amerika, negara tidak berhak menggunduli warganya, atas dasar hukum maupun ketiadaan norma terkait. Juga di Amerika, ketika kelompok anarkis memecahkan kaca kedai kopi, warga tidak akan balik menyerangnya. Warga tentu menyerahkan hal itu pada otoritas.

Itu tidak terjadi di Indonesia. Individu memang bisa menjadi apapun. Saya bisa menjadi seAmerika yang saya mau. Namun masyarakat adalah sebuah keadaan yang dinamis. Di sini, saya bisa menjadi sangat wagu untuk mengadakan private party, memainkan musik techno di ruang tamu dengan lampu gemerlap dan botol-botol sampanye. Sehingga cross-cultural understanding tidak dimulai dari anggapan “Masyarakat kita belum siap” melainkan “Nilai baru ini belum siap”. Bagaimana bisa sebuah “baju asing” melawan etnosentrisme masyarakat arus utama? Bagi saya identitas nasional hanya sekadar ada. Artinya, kita sebagai masyarakat bahkan individu ada di atasnya. Ia ada karena kita ada, bukan karena ia ada maka kita ada. Sehingga, itu tidak menjadi landasan akan bagaimana saya didefinisikan. Saya bisa menjadi individualis, anti otoritas, dan suka sekolah. Saya rasa saya boleh menonton film-film produksi Amerika,

6 Kamu Harus Tanggung Jawab


musik-musik produksi Amerika, mengikuti berita masyarakat Amerika. Apa saya boleh menuntut penjual untuk menjajakan jajanan khas Ethiopia, Serbia, atau Argentina? Ya mereka tidak mau rugi. Saya bisa menjadi “Amerika” atau menjadi “Indonesia” atau tidak menjadi apa-apa. Cukup menjadi “seperti ini”. Akhirnya, Kita Semua Akan Edgy Tidak hanya American yang akan berterima kasih pada orang-orang Silicon Valley, melainkan seluruh dunia. Betapa teknologi komunikasi hari ini bisa benar-benar gila dalam membantu dunia saling bertukar budaya. Kita punya sejarah di jalur sutra perdagangan, tapi coba lihat internet hari ini! Dulu kita akan melihat bagaimana perilaku masyarakat utama dalam menonton pertan­ dingan sepakbola. Ya seperti menonton bola dengan pakai­ an seadanya, kalau bisa helm dibawa masuk ke dalam stadion agar aman, teriak seadanya, me­ ngumpat seadanya.

Lalu ada satu kelompok kecil yang membawa nilai baru ke dalam stadion. Ia mungkin akan mengenakan pakaian hitam, yang lebih kasual akan mengenakan sepatu bermerek. Selain mendukung tim sepakbola mereka akan sekaligus menjadi anti fasis, menjadi anarko sindikalis, dan menggunakan istilah-istilah Italia atau Inggris. Dulu, ini kelompok edgy dalam stadion. Kini, itu malahan menjadi norma. Tahun 90an, orang yang mendengarkan musik-musik Korea bisa dibilang orang edgy paling jauh. Ia sangat jauh dari gambaran masyarakat arus utama. Hari ini? Ya kita bisa melihat sendiri. Wibu, vegan, penggemar Green Party Amerika, penonton video-video ekstrem Rusia, peminum teh hijau, penggemar wrestling, peserta karma yoga, penyuka motor klasik, apa lagi? Kita melihat kelompokkelompok tersebut kian membesar. Istilah edgy menjadi tidak lagi berarti karena perlahan mereka akan menjadi mainstream. Individu bisa mempercayai satu nilai yang paling sesuai dengan di-

Kamu Harus Tanggung Jawab 7


rinya. Dengan internet, ini menjadi mungkin untuk sesama mereka bertemu dan membangun komunitas nyata dalam masyarakat. Hal ini menjadi peluang produksi industri babak baru. Produksi industri hari ini sudah jauh berbeda dengan gambaran produksi abad 19 atau 20. Dulu produsen memproduksi barangbarang yang diminta oleh kelompok masyarakat arus utama, dan usaha mereka adalah meyakinkan seluruh masyarakat untuk mengonsumsinya. “Daging. Manusia butuh daging� begitu kira-kira bayangannya. Orang yang tidak

makan daging itu aneh. Tapi lihat betapa hari ini produsen mulai membangun pangsa vegan. Ya begitulah. Kita semua edgy pada level tertentu atas nilai apa yang kita percayai. Pertukaran informasi kian hari kian masif. Perlahan kelompok-kelompok pinggiran ini akan menjadi bentuk kelompok arus utama. Masyarakat memang dinamis. Pertanyaan “Bagaimana orang Jawa?� akan dijawab dengan simbol-simbol budaya yang hari ini sedang berusaha dilestarikan. Ya saya orang jawa, and I love America.

8 Kamu Harus Tanggung Jawab


PENGUMUMAN Laman-laman publikasi Kamu Harus Tanggung Jawab dan The Pukon sudah dihapus. Sekarang tinggal ada Issuu untuk mengunggah pdf-nya. Kenapa? Ya karena gak penting. Gak ada yang peduli juga.

Kamu Harus Tanggung Jawab 9


10 Kamu Harus Tanggung Jawab


Kamu Harus Tanggung Jawab 11


PUjangga Kontemporer

Puisi Biaggi 2 Rita bibirnya merah Tapi selalu malu-malu untuk memasangnya. Rita bibirnya merah Tapi tak pernah ragu memberi bekas di pipi lelaki dewasa. Merpati putih harus di potong di sayapnya Supaya mengalir keluar merah darahnya Itulah merah pewarna bibirnya. Puisi Biaggi 1 Pecahlah tawanya, orang-orang penanti segarnya daun yang hijau Yang ia rindukan, kembali, terulang, begitu saja selalu Jangan disesali jangan disyukuri Dia akan seperti itu meski saat kau mati, meski saat kau mati! Kau tidak bisa merayu Dia akan seperti itu meski saat kau mati, meski saat kau mati! Kau adalah pemilik nyawa si pemberontak Dia akan seperti itu meski saat kau mati, meski saat kau mati! Jangan disesali jangan disyukuri 74 Yang ia rindukan, kembali, terulang, begitu saja selalu Daun-daun hijau itu sangat segar, kau pasti tertawa melihatnya Meski saat kau mati, meski saat kau mati!

12 Kamu Harus Tanggung Jawab


Putaran Konsumerisme

Kamu Harus Tanggung Jawab 13


PUBLIKASI KONTEMPLATIF

Kamu Membenci Posmodern dan Saya Tidak Peduli Saya menonton video di Vice tentang petarung feminis. Ini se­perti di film Fight Club, tapi kelompok mereka berisi feminis yang marah-marah. Di kolom komentar ada salah satu komentar yang bernada tidak suka terhadap subkultur ini dan mengumpat posmodernisme. Memang kritik terhadap posmodernisme terus bergulir hingga sekarang, bahkan Chomsky, orang yang saya hormati, juga memberikan kritiknya. Posmodernisme memang boleh dikritik, tapi bagi saya, biarkan saja ia tetap ada. Kata ‘posmodern’ memang bisa didiskusikan dalam bermacam konteks, mulai dari arsitektur, sastra, seni, hingga filosofi dan ilmu-ilmu sosial terkait. Memang ini tidak memberi apapun dan boleh dibilang tidak begitu berarti. Namun posmodern bisa jadi pijakan untuk orang melakukan satu tindakan. Saya yakin bahwa pada praktiknya, ia tak separah 2+2=5. Ya itu mungkin saja terjadi, tapi mari kita bahas hal ini pada garis dekonstruksi yang paling santai. Feminisme sering dibahas dalam hal ini. Dalam pembahasannya, kita akan memulainya pada bagaimana bahasa bekerja dalam membuat definisi, ada sense, aura, dan sebagainya (pun jika kita yakin bahwa ia benar-benar membawa hal-hal tersebut). Kata ‘perempuan’ ‘laki-laki’ ‘feminin’ ‘maskulin’ ada dalam bahasa yang mengukuhkan esensi buatan masyarakat. Hal ini yang kemudian berusaha untuk diruntuhkan oleh para feminis jenis ini. Sehingga nantinya manusia (atau apapun kamu menyebutnya) melalui argumentasinya dalam jenis kelamin aau paling 14 Kamu Harus Tanggung Jawab


tidak gender yang lebih ‘adil’ bisa lebih ‘bebas’. Ini hanya soal tutur kata. Meski sesederhana tutur kata, ketika ia sudah menjadi landasan dalam bertindak hasilnya bisa lebih dari apa yang pernah kita bayangkan. Ya contohnya orang menjadi marah-marah pada feminis yang marah-marah. Mari kita bayangkan posmodern dalam kaitannya pada dekonstruksi nilai yang lebih luas, apapun. Benar kata Chomsky jika ini tidak memberi bayangan analitis dan emiris terhadap nilai-nilai yang diberikan. Tapi bukankah apa yang kita sebut sebagai dunia dan kehidupan adalah apa yang selama ini kita definisikan dan setujui sebagai sebuah dunia dan kehidupan dalam akal pikiran kita? Posmodern memang akan mengacaukan sebuah keadaan alam pikiran yang seperti itu, namun saya yakin ia akan tetap sampai batasnya sendiri. Sebagai contoh sederhana, dalam mencari alien kita berusaha mendefinisikan kehidupan dengan cara seperti itu. Kita membuat syarat dunia dan kehidupan seperti, katakanlah, ada air dalam planet dan organisme yang paling tidak memiliki RNA dan/atau yang lebih beradab adalah soal apa yang kita sebut sebagai ‘kecerdasan’. Kita tidak membayangkan hal lain di luar itu. Kalau pun kita membayangkannya, ini akan menjadi tak berarti. Kamu boleh membencinya sebagai pengacau. Tapi setiap pengacau dalam sejarah peradaban ini memang selalu dibenci. Omong-omong kita-kita sudah sampai pada ide bahasan post-postmodernism, tapi itu nanti saja. Kata ini memang bisa memberi rasa alergik, namun dalam beberapa kasus, sebagian dari kita bisa menerimanya dengan lebih santai melalui produk-produk dengan nama lain yang terlepas dari kata ‘posmodern’. Atau sebuah bentuk keadaan yang kita tidak peduli namanya apa. Saya pernah menulis tentang bagaimana masyarakat menanggapi rupa seni khas Dada maupun Pop Art. Mereka mau menyebut itu sebagai sesuatu yang estetik meski pada awalnya ide Dada adalah menolak estetikisme. Coba lihat beberapa rupa yang mana orang menaruh kancing Kamu Harus Tanggung Jawab 15


baju secara sembarangan, atau selotip, atau coret-coretan (doodle) spidol pada sebuah benda jadi. Dalam hal mode, celana sobek-sobek, baju motif sembarangan macam polkadot, atau tindik. Orang mau untuk menaruh dekorasi Pop Art khas Monroe-nya Warhol di dinding. Bolehlah kita berpendapat bahwa itu hanya menjadi simbol-simbol kesenian tanpa nilai. Mereka hanya memanfaatkan simbol tanpa membawa ide. Tapi juga kita tidak bisa mengelak bahwa itu memang terlahir dari gagasan khas posmodern pada masanya. Danto berpendapat bahwa seni posmodern merupakan salah satu bagian dari apa yang kita sebut sebagai seni kontemporer. Kita bisa membuat 16 Kamu Harus Tanggung Jawab


garis pembeda di antaranya. Jika kita mengunjungi galeri-galeri hari ini baik yang mapan maupun alternatif, mulai banyak karya seni yang terpampang jauh dari bayangan seni pada abad pencerahan, atau paling tidak gaya modern seperti Picasso dan Van Gogh. Instalasi-instalasi seni makin aneh, lebih aneh dari pispotnya Duchamp. Pada pembukaan galeri, biasanya kita juga kerap melihat sebuah Performance Art yang jauh dari bayangan teatrikal tradisional. Atau paling tidak kita sama-sama menikmati karya-karya multimedianya Fluxcup. Ya, kamu boleh membenci posmodern dan saya tidak peduli. Kalau kata Ronggowarsito, jaman semakin gila, kalau tidak ikutan gila ya tidak apaapa, hehe. Kamu Harus Tanggung Jawab 17


PUjangga Kontemporer

Mimpi Buruk di Siang Bolong Saya pernah bermimpi berjalan membuntut seseorang. Setelah dua blok, ia berbelok menuju 73 Avenue. Namun setelah aku menatap panjang jalan ini, aku tak melihat apapun. 73 Avenue terlihat seperti kota mati, dan mati pula orang itu yang entah pergi ke mana. Aku terus berjalan menyusur jalan, sesekali aku mendengar suara “nging ngong nging ngong” dan “sssttt...” yang entah dari mana sumbernya. Lama-lama aku berjalan, cahaya jalan ini terlihat makin terang, sangat putih. Saya penasaran, jangan-jangan ini adalah mimpi. Mimpi buruk. Tapi aku masih saja penasaran. Tiba-tiba saja, entah bagaimana suasana bisa berganti, aku justru melihat keramaian. Kuda-kuda terbang. Tak hanya itu, ada juga mobil terbang. Sosok yang sebelumnya saya ikuti terlihat begitu mencolok. Ia malah terlihat seperti raksasa yang kepalanya terlampau besar terpampang di langit. Ia tertawa cekikikan mengetahui saya yang sedang keheranan menatapnya. “Memangnya kenapa?” tanyanya. “Ini di mana?” jawabku sok lugu. Lantas ia membalas “Kamu sedang ada di mimpi buruk, kamu sudah tahu itu, setelah ini kamu pasti bangun, maksudku sadar, tapi kamu akan tetap memejamkan mata seolah ini tidak pernah terjadi. Kamu akan berharap bahwa kamu akan bisa melanjutkan tidur siang bolongmu ini”

18 Kamu Harus Tanggung Jawab


Kamu Harus Tanggung Jawab 19


SABDA WIKIPEDIA American Gothic is a 1930 painting by Grant Wood in the collection of the Art Institute of Chicago. Wood was inspired to paint what is now known as the American Gothic House in Eldon, Iowa, along with “the kind of people I fancied should live in that house.” It depicts a farmer standing beside a woman who has been interpreted to be his sister. The figures were modeled by Wood’s sister Nan Wood Graham and their dentist Dr. Byron McKeeby. The woman is dressed in a colonial print apron evoking 19th-century Americana, and the man is holding a pitchfork. The plants on the porch of the house are mother-in-law’s tongue and beefsteak begonia, which are the same as the plants in Wood’s 1929 portrait of his mother Woman with Plants. American Gothic is one of the most familiar images in 20th-century American art and has been widely parodied in American popular culture. In 2016–17, the painting was displayed in Paris at the Musée de l’Orangerie and in London at the Royal Academy of Arts in its first showings outside the United States.

20 Kamu Harus Tanggung Jawab


KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB issuu.com/kamuharustanggungjawab

Profile for Kamu Harus Tanggung Jawab

Kamu Harus Tanggung Jawab #4  

Zine Kamu Harus Tanggung Jawab #4 "Menyekar Karya" Januari 2019

Kamu Harus Tanggung Jawab #4  

Zine Kamu Harus Tanggung Jawab #4 "Menyekar Karya" Januari 2019

Advertisement