Issuu on Google+

JEMBATANINFORMASIINDONESIA AMERIKA

TIS

A GR

om

nan ratis.c a g g riG

Lan .Kaba w #4, june 2007 | kabari: ww

1


Imigran “Out of Status� dan The Land of Dream SUDAH sejak lama Amerika Serikat (AS) menjadi tanah impian. Bahkan bisa jadi, setara dengan Tanah Perjanjian bagi bangsa Yahudi. Setiap harinya, ribuan orang dari segala penjuru dunia berupaya masuk ke AS, dengan berbagai cara. Legal dan ilegal. Amerika adalah surga, begitulah setidaknya yang ada di benak dan harapan mereka, dan mungkin kita semua. Walau ternyata, harus diakui, Amerika masih juga sama dengan dunia yang lain, bukan surga. Amerika dengan segala permasalahannya. Berjuang untuk hidup dan begitulah, hidup adalah perjuangan, juga bagi mereka yang ingin hidup di Amerika, seperti juga mereka yang sudah hidup sdi Amerika, dengan segala dinamika. Hidup memang tidak mudah. Bagi pemerintah AS sendiri, masalah imigran (dan juga yang out of status) tentu menjadi persoalan yang sangat serius. Setidaknya sampai saat ini di negara adi daya itu ada 12 juta pendatang out of status dari berbagai negara, dan setiap hari ada kemungkinan bertambah. Tidak heran kalau beberapa waktu lalu, pemerintahan George Walker Bush bersama kelompok senator bipartisan merancang sebuah rancangan undang-undang. Isinya, Bush bersama kelompok bipartisan itu ingin memperkuat pengawasan di perbatasan. Undang-undang itu akan mengizinkan sebuah program pekerja sementara, dan menyelenggarakan pengetatan keamanan perbatasan serta hukuman bagi pemberi kerja yang dengan sengaja mempekerjakan imigran ilegal. Bush ingin menempatkan lebih banyak petugas patroli di perbatasan dan mengurangi penyelundupan manusia melintasi perbatasan. Harus diakui, penyelundupan manusia sekarang bukan lagi sekadar mencari hidup yang lebih menjanjikan di tanah rantau. Bagi sementara pihak, memasukkan orang dari satu negara ke negara lain dilihat sebagai peluang dan bisnis. Akibatnya, penyelundupan manusia menjadi sebagai komoditas, sebuah aktivitas dagang dan secara tidak terasa, kita kembali ke zaman perbudakan. Ketika manusia diperjualbelikan. Manusia ada harganya. Tidak mengherankan kalau segala cara ditempuh, karena memang ada kemilau uang di balik semua itu. Lebih dari itu, memang ada semacam hubungan simbiosis mutualis di situ, saling menguntungkan. Walau tak jarang, mereka yang menjadi objek-lah yang paling menderita. Para imigran –terutama imigran out of status- adalah pihak yang paling dirugikan. Dikejar-kejar petugas imigrasi dan polisi, di satu sisi dan di sisi lain diperas sampai titik receh terakhir kalau bisa. Tidak ada lagi humanisme, kasih atau perikemanusiaan di situ. Yang ada adalah transaksi dagang. Hitung-hitungan untung rugi dan itulah ekses imigrasi karena rindunya seseorang untuk hidup yang lebih baik. kabari edisi kali ini mencoba memotret semua itu, dari berbagai sisi yang mungkin. Negara di satu pihak ingin semuanya berjalan sempurna sesuai peraturan perundang-undangan yang ada, sekaligus melindungi rakyatnya dalam mencari nafkah. Di sisi lain hak setiap manusia untuk menentukan tempat tinggal, tempat mencari nafkah dan hak untuk menjalani hidup. Harapan kita semua adalah, tidak ada lagi penindasan dari negara terhadap manusia yang ingin mencari hidup dan kehidupan yang lebih baik. Tidak ada lagi manusia yang memperjualbelikan sesamanya, dengan dalih apapun, Tidak ada lagi penindasan manusia terhadap manusia lainnya, apalagi hanya bermotifkan uang. Semua itu memang tidak mudah, tetapi rasanya bukan sesuatu yang mustahil juga, karena manusia memperoleh anugerah akal budi untuk menjalani hidup ini. DISCLAIMER

Semua artikel yang berhubungan dengan imigrasi hanya bersifat informasi imigrasi saja, bukan sebagai nasehat imigrasi (immigration advice). Untuk nasehat imigrasi, disarankan untuk langsung menghubungi Pengacara Imigrasi.

Publisher: Lana Togas-Koentjoro,SH Advisory Board: John Oei Diana Iskandar Indriati Oei Hengki Koentjoro Rudi Rudianto Editor in Chief Adinata Basoeki Editor Danial Herlambang Art Director 3de Photography Editor Hengki Koentjoro Illustrator Dimas Ardi Mulyo Reporters (Indonesia) Theresia Puspitasari Kartika Nadya Christy Togas Solon Sihombing Reporters (USA) Siska Silitonga Peter Phwan Sabrina Fitranty Lily Lim Marketing Director for United States Indriati Oei (Northern California) Rudy Rudianto ( Southern California) Welly Rey ( Southern California) Marketing Director for Indonesia Lana Togas-Koentjoro,SH Sales Marketing Selly Sipakoly (Indonesia) Sabrina Fitranty (USA) Sarah Citradi (USA) Jeannie Teddy (Canada) Marketing Creative Alfan Administration Loraine Sekeon Tedy Homogin Yohannes Lie www.KabariNews.com Contact Editor: editor@kabarinews.com Advertisement: sales@kabarinews.com

kabari: info USA OFFICE 1788 19th Avenue, San Francisco, CA 94122 Phone: (415) 213 7323 3333 Brea Canyon Road, Suite 205, Diamond Bar, CA 91765 Phone: 909 839 2800 INDONESIA OFFICE Percetakan Negara IX / 8, Jakarta Pusat 10570, Indonesia Phone: (021) 422 8182 / (021) 4228183 / (021) 422 8184

TIS

A GR

om

nan ratis.c a g g riG

Lan .Kaba w #4, june 2007 | kabari: ww

3


Kabari Utama

06 | San Francisco, Kota Perlindungan 08 | Visa Z: Antara Harapan Legalisasi dan Kekhawatiran Deportasi 10 | Pemegang Green Card Tidak Kebal Deportasi 12 | Koleksi Foto Immigration Rally San Francisco 13 | Chinese Exclusion Act 1882, Hukum Imigrasi Rasis di Amerika

Kabari Los Angeles

38 | Indonesia Business Forum di Los Angeles, Mari Elka Pangestu pun Hadir Khusus

Kabari Butik

40 | Sebastian Gunawan, Anggun dalam Sebuah Gaun

Kabari Khusus

42 | Tragedi di Virginia Tech, Sebuah Tribute untuk Bang Mora

Kabari Gaya Hidup

44 | Jualan di Amazon.com Gaya Aaron Rietz

Kabari Unik

46 | Becak, Pasang Surut dan Asal Mulanya

Kabari Kisah

14 | Raymond Disuntik Obat Sakit Jiwa Sebelum Usaha Deportasi 16 | Duka Lara Tony Ditahan Imigrasi Amerika

Kabari Jalan Jalan 48 | Wonderland

Kabari Film

18 | Indonesian Movie Awards, Saatnya Penghargaan Bagi Para Bintang

Kabari Musik

20 | Konser Good Charlotte, Hujan Besar Konser Jalan Terus 21 | ‘Konser Nuansa Bening’, Keenan Nasution Tetap Memukau 22 | Konser Saosin Bikin ‘Gempa’ Tennis Indoor Senayan

Kabari San Francisco

Kabari Buku

50 | Cherry Blossom, “Merayakan” Jepang di Amerika 51 | Makan Malam Bareng Pecinta Seni Budaya Indonesia 51 | “Godfather” Baru Bosami-USA

24 | 1000 Places to See Before You Die

Kabari Jakarta

52 | Sedekah Bumi di Kampung Sawah, Musisi Jazz pun Ikut Beraksi 53 | Taman Menteng, Asyik buat Nongkrong

Kabari Seni

25 | City Art Cooperative Gallery, Tempat Mangkal Artis San Francisco 26 | Eko Supriyanto, Penari Tradisional di Pentas Dunia

Kabari Jajanan

28 | Serba Durian di Bulan Juni

Kabari Fotografi 32 | Hari Raya Waisak

Kabari Parenting

34 | Waspadai ‘Car Alone’ pada Anak

Kabari Profile

36 | Tukul, Muka Ndeso Rejeki Kota

Kabari Tawa

53 | Seat Belt Kiai 58 | Orang Indonesia ke Bulan

Kabari Sana Sini

54 | Toko Daiso... Everything is Rp 17.000 54 | Daiso, Pernak Pernik Gaya Hemat Biaya

Kabari Gosip

56 | Cornelia Agatha, Pemeran Utama Terbaik Indonesia Movie Awards 2007 56 | Jeremy Thomas, Enjoy di Bisnis 57 | Wulan Guritno Jadi Duta Taman Menteng

Kedai Kabari

4 | kabari: Iklan bukan kebijakan redaksional. Penerbit tidak bertanggung jawab atas isi dan materi iklan.

TIS

A GR

om

nan ratis.c a g g riG

Lan .Kaba w ww



Digital Kabari #4 juni 2007 (4 Hal)