Issuu on Google+

Contact: www.kabarCSR.com redaksi@kabarcsr.com

CSR

DAN BENCANA Awal tahun 2014, Indonesia dihadapkan pada bencana berturut-turut seolah menandakan bahwa tahun kuda kayu kurang bersahabat. Setelah banjir di Manado, Sulawesi Utara dan Jakarta, kemudian gunung Sinabung, Sumatera Utara, kini gunung Kelud pun meletus. Bencana memang tak selalu membawa makna buruk. Ada saja hikmah positif yang dapat dipetik dari balik bencana. Misalnya saja kebersamaan dan gotong royong yang menjadi akar budaya bangsa Indonesia. Bencana seolah mengingatkan kita akan makna kebersamaan dan gotong royong yang mengalami degradasi ditengah arus globalisasi.

Semangat gotong royong inilah yang harus terus kita tanamkan tidak saja dalam lingkungan terdekat, namun juga dalam kehidupan berbangsa ini. Dalam konteks ini, corporate social responsibility (CSR) menemukan makna sesungguhnya. Gotong royong adalah semangat dari CSR yang tumbuh di Indonesia. Artinya kebersamaan dan kepedulian dari perusahaan untuk menerapkan tata kelola dan etika bisnis yang baik akan membantu masyarakat dan lingkungan sekitar. Baik gotong royong dan CSR sama-sama memiliki tujuan untuk membantu sesama dalam memajukan masyarakat, melestarikan lingkungan, dan dengan harapan menjaga keberlangsungan perusahaan maupun komunitas. #ws


Contact: www.kabarCSR.com redaksi@kabarcsr.com

HONDA

PEDULI BENCANA Jakarta – Bencana erupsi gunung, baik Gunung Sinabung maupun Gunung Kelud menggerakkan PT Astra Honda Motor (AHM) bersama distributor setempat untuk meringankan beban para korban bencana. Aksi sosial yang dipilih adalah yang sesuai dengan kemampuan AHM, mengembalikan fungsi transportasi warga yang terkena dampak erupsi gunung berapi. PEDULI KELUD PT AHM dan PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM) selaku distributor utama Honda wilayah Jatim dan Nusa Tenggara Timur, mengadakan program tanggap bencana Gunung Kelud dengan mengadakan aksi sosial, pemeriksaan dan cuci motor gratis serta pemberian diskon suku cadang di sejumlah kabupaten di Jatim. Jaringan distributor serta bengkel resmi Honda (AHASS) di bawah kordinasi MPM langsung mengadakan aktivitas sosial akibat letusan Gunung Kelud pada Kamis malam, 13 Februari 2014. Banyak kendaraan yang biasa digunakan untuk pengiriman sepeda motor, langsung dialihfungsikan untuk membantu mengantarkan penduduk ke posko-posko pengungsian terdekat untuk mendapatkan pengobatan dan dapur umum. Aksi sigap tanggap bencana ini juga dilakukan oleh jaringan AHASS dan dealer resmi Honda dalam bentuk aktivitas lain yaitu membagikan air minum dan masker gratis mulai 14 Februari 2014, di beberapa wilayah di kabupaten dan kota seperti Kediri, Tulung Agung, Madiun, Jombang, Nganjuk, Malang, dan Blitar. Aktivitas tanggung jawab sosial ini dilanjutkan dengan melaksanakan bakti sosial minimal di 10 titik pengungsian yang tersebar di kabupaten dan kota Kediri mulai 16 Februari antara lain di desa Kepung, Puncu, Wates, Tawang, Sukorejo, Gadungan,Janti, Pesantren, Brenggolo, Ploso klaten, Sumberagung, dan Pagu. Ada juga pembagian gratis masker yang dilaksanakan di 12 titik lokasi di Kediri antara lain di pertigaan Thamrin, alun-alun Kediri, lampu merah Ngadiluwih, pertigaan Ngronggo, lampu merah Tepus dan Katang, perempatan Karangdinoyo, Pasar Pranggang, Kediri Mall, lampu merah Veteran, bundaran Tawang, dan lampu merah Doho. Tak hanya di Kediri, aksi simpatik ini juga dilakukan di area pengungsi di Blitar mulai 16 Februari di Kecamatan Nglegok dengan membagikan masker, pempers, pembalut, air mineral, dan sembako. Aksi ini terus berlanjut setelah pengecekan kondisi pengungsi di posko pengungsian.

PEDULI SINABUNG Selain terhadap korban bencana Gunung Kelud, secara terpisah distributor utama Honda untuk Sumatra Utara, CV Indako Trading Company juga mengadakan aksi peduli korban bencana Sinabung dengan membagikan masker gratis dan mengirimkan bantuan bahan kebutuhan pokok pada PoskoPengungsi yang berlokasi di Jambur Sempakata Kabanjahe,Posko gedung DPRD Tanah Karo-Kabanjahe, dan melalui Posko Utama PMI, bantuan diserahkan Indako ke berbagai Posko Pengungsian seperti Posko GBKP Payung, Posko Mesjid Payung, Posko Gudang Jeruk Surbakti, Posko GPDI Dokum Siroga Simpang 4 dan Posko lain. Indako juga mengirimkan 40 sukarelawan untuk membantu korban sinabung selama 2 bulan mulai 10 Desember 2013 hingga 10 Februari 2014. Aksi ini akan dilanjutkan dengan kegiatan sosial lain pada akhir Februari 2014. “Selain itu Honda juga menggalang simpati dengan tema Satu Hati utk Sinabung, dengan menyumbangkan Rp10.000 untuk setiap penjualan 1 unit motor dalam periode 15 Februari – 15 Maret 2014.”(FH)


Contact: www.kabarCSR.com redaksi@kabarcsr.com

TIM SAR DAN SVC SAMPOERNA DI GUNUNG KELUD Sampoerna tidak tinggal diam, bersama dengan tim SAR dan SVC bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, pemerintah setempat serta komunitas jangkar Kelud membantu mengevakuasi masyarakat setempat disekitar kaki Gunung Kelud, ke daerah yang lebih aman. Bantuan yang diberikan berupa keperluan logistik seperti tenda, selimut, dan masker; serta tenaga relawan yang terdiri dari dokter dan anggota SVC untuk membantu evakuasi dan perawatan warga di sekitar lokasi letusan. Sampoerna mendirikan tenda bagi para pengungsi letusan Gunung Kelud yang dilengkapi dengan fasilitas dapur umum, mobil penjernih air, dan keperluan logistik lainnya yang disumbangkan oleh SVC. Masker juga dibagikan bagi warga yang bertempat di Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, Tuban, Malang dan Surabaya untuk mengatasi debu vulkanik yang disebabkan oleh letusan Gunung Kelud. Para relawan SVC terdiri dari karyawan Sampoerna bergabung bersama tim SAR. Mereka memberikan pelayanan trauma healing dan konsultasi pemulihan (recovery consultation) untuk para masyarakat yang terkena dampak letusan Gunung Kelud. Tim SAR dan SVC sebelumnya juga berperan aktif dalam penanggulangan bencana erupsi Gunung Sinabung dan banjir badang di Manado, Karawang, dan Jakarta. Para relawan dan tenaga medis memberikan pelayanan kesehatan, mendirikan tenda pengungsi, membantu proses evakuasi, membagikan makanan siap saji sebanyak 500 bungkus/hari, serta barang-barang kebutuhan pokok bagi para korban bencana lebih dari 6,000 orang. Tim SAR atau Sampoerna Rescue Team dibentuk pada tahun 2002 untuk membantu karyawan dan masyarakat di berbagai area. Sejak dibentuk, tim SAR telah berpartisipasi dalam penanggulangan bencana banjir di Bojonegoro (Jawa Timur), bencana tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, Tasikmalaya, dan Padang; serta letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Gamalama di Ternate (Maluku Utara), juga bencana banjir besar yang melanda Jakarta dan Karawang pada permulaan tahun 2014 ini. Dalam menjalankan tugasnya, tim SAR dibantu oleh tim relawan tanggap bencana dan tenaga medis, serta SVC, dimana para karyawan Sampoerna turut serta berperan aktif dalam meringankan beban masyarakat yang tertimpa musibah. Sejak tahun 2002, tim SAR telah melakukan evakuasi dan persediaan bahan pokok bagi lebih dari 91,000 orang, layanan kesehatan bagi 66,000 orang, dan pelatihan penyelamatan bencana di 45 lokasi di Indonesia.

CSR TIDAK TEPAT SASARAN Setiap perusahaan sebaiknya memberikan program CSR yang dibutuhkan masyarakat sekitar dan tepat sasaran. Jika tidak akan ada ketidakpuasan seperti yang dilakukan oleh puluhan warga yang mengatas namakan koperasi masyarakat Gunung Sugih. Mereka mengecam PT Chandra Asri yang diduga membagikan corporate social responsibility (CSR) tidak tepat sasaran. Penyaluran penerima bantuan dana CSR kebanyakan kalangan orang kaya dan warga di luar Kampung, bukan warga sekitar yang hampir setiap harinya terkena imbas limbah dari perusahaan tersebut Sebaiknya setiap perusahaan melakukan Social Mapping guna mengetahui program-program dan siapa saja yang harus menjadi target penerima bantuan dana CSR. Sehingga dapat menimimalkan risiko seperti demo ini. (VS)


Contact: www.kabarCSR.com redaksi@kabarcsr.com

BETTER WAYS OF DOING BUSINESS: CREATING SHARED VALUE

These examples are not examples of corporate social responsibility or sustainability. They are examples of businesses grabbing hold of a social issue that is at the core of their business, and figuring out how to wrap that into their strategy and operations. These companies are using the resources and capabilities of business to solve very specific social problems in ways that are aligned with the company’s strategy, that strengthen its competitive positioning, and that enable it to make more money. If shared value is so good for business, we are sometimes asked, then how does it differ from any other sound business decision?

Mark Kramer explains how CSV goes beyond sustainability by using business resources to drive social progress, profitably. What you see depends on where you look. That is the key to creating shared value. Shared value redirects the gaze of corporate, NGO and government leaders, enabling them to see new opportunities for private enterprise to solve public problems. Engaging business as business, not as a charitable donor, nor through public relations, is one of the most powerful forces we have for social progress. Take Novartis as an example. They saw a shared value opportunity in selling their pharmaceuticals in rural India, where 70% of the population lives. The obstacle was not the prices they charged but the social conditions in the region: a chronic lack of health-seeking behaviour in the community, healthcare providers with virtually no healthcare training, and tens of thousands of local clinics without a reliable supply chain. Looking through a shared value lens, Novartis saw these social problems as business opportunities: they hired hundreds of community health educators, held training camps for providers, and built up a distribution system to 50,000 rural clinics. For Novartis, the result was an entirely new business model that is essential to their future. In the coming decade, emerging markets with similar challenges are predicted to account for 75% of the growth in global pharmaceutical sales. For 42 million people in India, the results are access to a vastly improved level of healthcare that neither government nor NGOs were providing. Or consider Southwire, a US company that manufactures wire and cable in a small town in Georgia. Their machinists were retiring and the local high school, burdened by a 40% dropout rate, wasn’t producing the workforce they needed. So Southwire partnered with the school, opened a factory nearby to employ the most atrisk students, part-time, using attractive wages as an incentive, and mentored their academic performance. Nearly 100% of the students in the Southwire program completed high school, and 1/3 went on to become Southwire employees. And, by the way, that factory near the school generates a million dollar annual profit.

The difference is where shared value directs companies to look and what it enables them to see. Shared value showed Novartis a market that was invisible to its conventional business model. It showed Southwire how blending education with manufacturing could create a new profit centre that improved the performance of the local high school and nurtured the company’s future workforce. After all, every business discipline is just “good business.” Strategy is good business, so is marketing, or inventory management. Each focuses management’s attention on a particular aspect of the company’s performance, then brings academic discipline and rigorous research that enables the company to do good business better. The concept of shared value is no different. It cannot merely become the latest buzz word for sustainability or CSR. Instead, it must become a new business discipline with the same level of research and rigor. Companies must learn how to redefine their business around unsolved customer problems and improve lives while strengthening their competitive context. They need to see the customer groups they have been missing. At the same time, NGOs need to see how to harness the power of global enterprises to advance their own missions. Charitable contributions and volunteer hours are important, but the real power to transform our world lies in embracing the technology, resources and knowhow of business. And governments need to recognise the policies that can steer business toward creating shared value, rather than restrain it. Shared value cannot solve every problem. Many challenges cannot be met by profitable solutions. But if we can just see the opportunities, there is a vast realm where shared value can be applied to drive a new wave of productivity and innovation that advances social progress, profitably.#theguardian.com Mark Kramer is co-founder and managing director of FSG


kabarCSR.com | weekly 2014 02 23