Page 1

Basamo Mako Manjadi

Reuni Perak Alumni’88 SLTA Se-Payokumbuah Limo Puluah Koto


2

Pangana

Palito’88: Embrio Kekuatan Sosial PALITO’88, secara sederhana dimaksudkan untuk menyebut dan menyatukan para alumni tamatan tahun 1988 dari seluruh SLTA yang ada di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Baik itu SMA, SMEA, STM, SPG, MA, dan lain-lain yang sederajat baik itu sekolah Negeri maupun sekolah Swasta. Jadi ketika kita mendengar kata “Palito’88” disebut kira-kira seperti itu lah maksudnya. Sekarang 2013, setelah 25 tahun dari 1988 tentu telah beragam pencapaian yang diraih oleh para alumni itu di kancah kehidupan. Ada yang jadi Pejabat, Pendidik, Pedagang, Pengusaha, Pengacara, Dokter, Ekonom, Seniman, Budayawan, Politisi dan sebagainya. Pokoknya komplit, deh! Bila kita memandang ke sekeliling, seputaran para alumni Palito '88, secara sosial bila disinergikan akan menjadi satu “Kekuatan” yang mampu memberi pengaruh atas kehidupan masyarakat Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Aspek sosial yang penting tentu di bidang Sosial Ekonomi, Sosial Budaya dan Sosial Politik-juga Hukum. Itu semua, bila kita gali lebih dalam sudah dimiliki oleh Palito '88. Tinggal mensinergikannya, mengkolaborasikannya atau menghimpunnya menjadi satu kekuatan. Hanya saja, mau tidak kita menuju ke situ. Dalam artian, mau atau tidak kita menghimpun berbagai potensi itu menjadi sebuah kekuatan. Cuma itu persoalannya. Bila tidak, secara guyub, secara kelompok, secara komunitas dan organisasi tentu Palito '88 akan hanyut begitu saja diabaikan sejarah, saroman daun hanyuik di Batang Agam.

Dilupakan oleh masyarakat yang membesarkannya. Sebaliknya, kalau kita mau dan mari kita pikirkan caranya, Palito’88 bukan tidak mungkin, bisa menjadi “lokomotif” kehidupan bermasyarakat di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Basamo mako manjadi...! Momentum, Reuni Perak Palito’88 di bulan Agustus 2013,dengan semangat perjuangan berbarengan dengan semangat yang fitrah di bulan Syawal 1434 Hijriah boleh jadi adalah saat yang tepat untuk memikirkan dan mencoba berbagai kemungkinan untuk mewujudkan semua itu. Sebab potensinya sudah ada, dan dengan kebersamaan kekuatan itu akan jadi nyata. Tentu bak kecek urang tuo-tuo juo, “Kapalo samo babulu, Pangana balain-lain” - apa yang saya pikirkan tentang keberadaan Palito’88 dan kemungkinan-kemungkinan yang mampu diperbuatnya sudah barang pasti tidak sama dengan apa yang kanti-kanti semua pikirkan. Anggaplah ini sebuah gagasan awal, sebuah embrio agar kita menjadi “sesuatu” untuk Payakumbuh dan Lima Puluh Kota yang sama-sama kita cintai dan sayangi. Sebab, apapun tentu tak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dek basamo mako manjadi. Bagaimana, bak a gak ati? | (Red) Basamo Mako Manjadi

Diterbitkan oleh:

Seksi HUMAS Panitia Reuni Perak PALITO’88 Editor: Rishag Andiko Twitter: @palito88 Blog: http://palito88.wordpress.com Facebook: https://www.facebook.com/groups/reuni88perak/


3

Reuni Perak


Peluang

4


5

Perspektif


Gagasan Rishag Andiko Alumni’88 SMAN 1 - Fisika 1

Sociopreneur - Jakarta Twitter @ kangtutur

6 Optimalisasi Media Sosial

P

erkembangan teknologi sudah demikian pesat. Dunia informasi bahkan telah berada di telapak tangan kita. Sebuah gadget dengan harga Rp. 300 ribu saja, sekarang sudah bisa terhubung dengan internet. Ckckck…, Mengagumkan!!! Lalu dimana anda berada saat teknologi komunikasi dan informasi yang makin menggila ini? Dulu, di awal hadirnya situs-situs media sosial seperti blogspot, wordpress, facebook, twitter, myspace, multiply, youtube dan seterusnya, orang-orang baru menggunakannya untuk interaksi sosial saja. Saling sapa, saling colek, saling like, saling mention, berbagi foto, video, tulisan, sajak, prosa dan puisi lalu kemudian saling memberi komentar. Yeah… sebatas itu saja. Tapi itu kan dulu? Sekarang gimana? Media sosial, bukan lagi sekadar untuk interaksi sosial, tetapi juga bisnis. Paling tidak, sejak 2010 kita sudah mendengar beberapa orang tiba-tiba terkenal setelah mengirimkan videonya ke youtube. Masih ingat Duo Racun dengan lagu Keong Racun? Atau dengan Briptu Norman, polisi yang bergaya Shahrukh Khan? Mereka tidak hanya terkenal, tapi juga menghasilkan UANG. Bagaimana dengan anda? Sepatutnya jugalah ambil bagian dalam perkembangan teknologi ini. Jangan hanya jadi pengguna pasif alias jadi penonton. Personal Brand “Ah, tapi kan saya sudah punya pekerjaan dan penghasilan tetap, saya nggak suka jualan?” “Betul…!” Namun ini bukan hanya soal pekerjaan, penghasilan dan jualan saja, tapi lebih ke pemanfaatan sosial media bagi kesinambungan pekerjaan dan penghasilan anda ke depan. Sejatinya, apapun pekerjaan anda dan berapapun penghasilan anda, semua itu tak lepas dari proses jualan. Anda menjual skill anda, anda menjual kebisaan anda, anda menjual kemampuan, ilmu dan pengalaman

anda. Dan untuk peningkatan mau tidak mau, suka tidak suka anda mesti memiliki Personal Brand (Citra Persona) karena dari situlah anda akan dikenal dan dari situ pula anda akan mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tambahan, paling tidak. “Wah, menarik juga tuh? Tapi gimana caranya?” “Sederhana, miliki akun-akun media sosial seperti facebook, twitter, pinterest, tumblr, blogspot, wordpress dan seterusnya, sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing.” Instituional Brand Lalu bagaimana dengan institusi, lembaga dan korporasi? Menurut pengamatan saya, sejauh ini lembaga dan korporasi multinasional pun telah memanfaatkan media sosial dalam mencapai misi, goal dan target yang telah mereka tuangkan dalam visi dan program kerja mereka. Dengan kata lain, sudah menjadi keharusan. Perhatikan saja, selain untuk promosi dan penjualan juga guna menangani komplain dan keluhan pun perusahaan-perusaahan besar sudah menggunakan twitter dan facebook, tidak lagi sekadar menyediakan sambungan telepon. Kenapa? Karena konsumen mereka maunya cepat tanpa birokrasi yang berbelit. Dan mereka tidak mau ditinggalkan oleh konsumen mereka, hanya gegara hal sepele. *** Bagaimana dengan Payakumbuh? Sangat menarik, menggembirakan dan patut diacungkan jempol. Walikota Payakumbuh, bapak Riza Falepi selain mengunakan facebook juga menggunakan twitter. Akunnya @Riza_Falepi. Demikian juga dengan Mapolres 50 Kota dengan akun @polres50kota. Dalam pengamatan saya akun-akun ini sangat aktif dan proaktif. Bahkan Kapolres dan Kapolseknya juga sudah bertwitter-ria. Apa maknanya bagi kita? Tentu beberapa aspek kehidupan bermasyarakat seperti aspirasi, keluhan, informasi, pengaduan dan atau sekadar saling menyapa untuk silaturrahmi tidak lagi melewati prosedur protokoler birokasi yang panjang dan ribet. Ehm, lalu apakah dengan memiliki akun-akun media sosial lalu tibatiba jadi orang terkenal bak selebritas dan penghasilan anda lantas bertambah? O, tentu tidak. Perlu proses dan ada caranya! Setidaknya, saat ini miliki dululah akun twitternya dan jangan lupa follow saya di @kangtutur. Ehehehe, Salam!!!


7

Kanti Kito

Yusril : Sang Sutradara YUSRIL KATIL, dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, 5 September 1967. Ayahnya, Ilyas Yusuf (1930) dan ibunya, Ramani (1942). Masa kecilnya selalu berpindah-pindah, karena harus mengikuti bapaknya yang tentara. Dia hidup dari asrama ke asrama di Payakumbuh, Solok dan Sawahlunto. Keadaan itu pula, yang membuat dia dibesarkan dalam tradisi yang militeristik, dengan disiplin dan aturan yang tak boleh dilanggar. Namun hidup berpindah-pindah pula yang membuat Yusril bersentuhan dengan kesenian. Pada satu waktu, Sang Bapak yang telah pensiun bekerja sebagai pengawal alat-alat berat, waktu itu disebut Polisi RCA, sebuah proyek pembangunan jalan dari Solok sampai Sungai Dareh, Sumatera Barat. Di asrama RCA, Yusril berkenalan dengan orang-orang Korea, para profesional yang mengerjakan proyek jalan. Dia berkesempatan menonton TV, yang saat itu masih merupakan barang langka. Dari tontonan itu, dia berkenalan dengan kesenian populer, dan mulai bercitacita menjadi orang seni. Agaknya, pola berfikir Yusril telah banyak dipengaruhi akibat persinggungannya dengan orangorang Korea. Dari asrama RCA itu pula Yusril berkenalan dengan tontonan Kuda Kepang, Reog dan Layar Tancap, yang digelar komunitas orang Jawa di Sawahlunto. Setelah orangtua bercerai, Yusril ikut Ibu dan tinggal di Rumah Gadang di kampungnya, Kabupaten Limapuluh Kota. Hidup berpindah-pindah, ditambah keadaan ekonomi yang kurang baik, membikin Yusril akhirnya terlambat masuk sekolah. Waktu itu, Ibunya tidak sanggup menyumbang 2 helai atap seng, sebagai syarat masuk sekolah. Orang-orang di kampungnya lalu bermusyawarah, dan memutuskan untuk beriuran membeli atap seng sehingga Yusril bisa sekolah. Nilai-nilai sosial tradisional seperti itu, tidak saja membuat Yusril kenal aturan adat Minangkabau, namun dirasakan tetap berpengaruh hingga dia dewasa. Setelah lulus SD, Yusril masuk SMPN 1 Payakumbuh. Di sinilah, dia mulai berkenalan dengan sandiwara, yang waktu itu selalu dipertunjukkan di hampir setiap kampung. Pertunjukan Sandiwara tidak saja berisikan drama, juga berbagai kesenian lain, seperti tari, band dan musik. Pada awalnya dia hanya jadi penonton, kemudian, mulai terlibat sebagai pemain karena diajak teman. Hal itu menjadi awal ketertarikannya dengan dunia kesenian secara umum. Ketika di SMAN 1 Payakumbuh, Yusril tertarik kepada syair dan puisi. Ketertarikan itu bermula dari syair-syair lagu Iwan Fals,

Ebiet G Ade, Leo Kristy, Doel Sumbang dan Papa T Bob (Wanda Chaplin). Dia tertarik dengan cara mereka melakukan kritik sosial melalui syair. Di SMA itu pula, dia meninggalkan kelas Fisika dan pindah ke kelas sosial. Tidak puas juga, dia bolos sekolah setiap Sabtu, agar bisa ikut mata pelajaran Kajian Budaya di sekolah lain. Di sanalah dia mengenal Iwan Simatupang, Budi Darma dan Danarto, lewat bacaan. Tahun 1998, Yusril lulus SMA dan langsung mendaftar di Fakultas Sastra UNAND Padang. Dan dia akhirnya berkenalan dengan teater. Ternyata dia lebih tertarik mengekspresikan diri secara visual, dan tergolong mahasiswa sastra yang tidak terlalu tertarik menulis puisi dan cerpen. Dia lebih tertarik ikut lomba baca puisi, dramatisasi puisi, bahkan break dance yang tengah digemari saat itu. Tapi, dia juga mendirikan Dangau Seni RELL dan anggota Kelompok Diskusi Teraju. Dan tetap menulis puisi-puisi aneh, yang disebutnya ‘puisi pamflet’. Dia bacakan puisi-puisinya itu di dalam bus kota, atau di ruang publik kota Padang. Merasa sastra tidak memberi ruang baginya, Yusril lalu main ke Taman Budaya. Dia berkenalan dengan Wisran Hadi, pada 1989, dan tertarik ikut belajar teater di Bumi Teater. Yusril belajar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan kerangka filosofis, konsep dasar dan budaya Minangkabau. Dia bahkan sempat bergabung dengan kelompok Randai di Blanti, Padang, dan belajar sekitar satu setengah tahun. Selain mempelajari randai dan silat, di Bumi Teater pula dia melakukan riset, mempelajari mitos, folklore dan berbagai kesenian tradisional Minangkabau. Setelah itu, Yusril mendirikan kelompok latihan teater bersama teman-teman sekampus, yang kebetulan tinggal satu kos. Di kelompok yang bernama TEATER KAMAR inilah Yusril menemukan gaya penyutradaraannya sendiri. Pada saat yang sama, dia juga Ketua Teater SEMA dan Wakil Ketua TEATER LANGKAH. Keduanya berbasis di Fakultas Sastra UNAND. Ruang bagi eksplorasi artistik kian luas, hingga akhirnya dia sama sekali berhenti menulis. Kendati begitu, dia tetap berhasil menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Sastra, 1993. Sekarang Yusril bekerja sebagai Dosen Jurusan Teater STSI Padangpanjang, dan Ketua I Bidang Program Dewan Kesenian Sumatera Barat. Dede Pramayoza – Penulis Nano Riantiarno – Editor Disadur dari: kelola.or.id


Bidik Lensa

8

Kaba Palito'88  

Dummy... Bulettin Kaba Palito'88 Harap kanti-kanti nan sedio jadi kontributor hubungi Editor. Salam'88

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you