Issuu on Google+

3 HAL MERUPAKAN SUMBER DOSA Nabi SAW bersabda, ”Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa, hindarilah dan berhatihatilah terhadap ketiganya. Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan bersujud kepada Adam, dan hati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan berhati-hatilah terhadap iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati.” (HR Ibn Asakir melalui IbnMas’ud). Jiwa manusia diliputi oleh sifat takabur pada saat manusia merasa memiliki kelebihan, baik berupa ilmu pengetahuan, harta benda, ataupun jabatan. Dalam keadaan seperti ini, setan tidak akan tinggal diam, dia akan membisikkan dan memasang perangkap untuk menjerumuskan manusia dengan melakukan tindakan yang tidak terpuji. Seperti, mencela, menghina, dan merendahkan orang lain. Sifat kedua yang diingatkan pada kita untuk mencermatinya adalah sifat tamak (rakus). Sering kali kita melihat betapa rakusnya manusia dalam mempertahankan apa yang sedang dalam genggamannya, baik berupa harta, kekuasaan, ataupun kedudukan. Sama sekali ia tidak mau berbagi dan hanya mau dinikmati sendiri. Ia tidakpernah merasa cukup dantidak pernah bersyukur atas apa yang diperolehnya. Padahal, Allah SWT menjanjikan dan mengingatkan berulang kali kepada manusia bahwa sekecil apa pun perbuatan baik yang kita lakukan tidak akan sia-sia. ”Barang siapa yang mau berbuat baik walau sebesar biji dzara pun Allah SWT akan membalasnya. ” (QS Alzalzalah [99]: 7). Ketiga, hasud atau iri hati. Dengki atau iri hati adalah perasaan tidak rela atau tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan atau kenikmatan. Ketika dalam diri manusia telah tertanam sifat dengki, ia akan menghalalkan segala cara untuk menghancurkan orang yang ia dengki. Ia tidak senang melihat orang lain sukses, pintar, hidup bahagia, dan lebih kaya darinya. Sikap seperti ini akan menghapus segala bentuk kebaikan yang selama ini ia peroleh. Perbuatan baiknya akan sia-sia karena dalam dirinya terdapat sifat iri hati. Takabur, tamak, dan hasud merupakan tiga perangai buruk yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang tidak terpuji. Karena itu, Rasulullah SAW selalu mengingatkan kepada kita untuk menjauhi tiga hal yang menyebabkan manusia terjerumus dalam tipu daya setan. Wallahuak’lam Bismillahirr Rahmanirr Rahim…… Berubah berarti harus bersusah payah Berubah berarti harus kuat bersabar Berubah berarti harus kuat hati Berubah berarti harus nekad Berubah berarti berjihad melawan musuh yang berbisik di dalam dada ... Berubah berarti berjihad melawan musuh yang nampak di depan mata ... Berubah berarti menanti imbalan agung Kunci untuk merasakan kemanisan Iman sejati Perubahan tidak akan kekal tanpa didikan dan tarbiyah Perubahan tidak akan kekal tanpa penerusan memperbaiki diri Perubahan tidak akan kekal tanpa usaha dan pengorbanan Perubahan tidak akan kekal tanpa suasana yang membantu perubahan


Ya Allah, beri kekuatan kepada diri ini ... Ya Allah, jadikan diri ini istiqamah di atas jalan-Mu ... Ya Allah, jadikan diri ini terus berkorban dan berjuang di jalan-Mu tanpa kenal makna henti ... Ya Allah, ikhlaskan kata-kata kami dan amal kami ... Semoga kelak kami bisa bertemu dengan-Mu diselimuti redha-Mu ... Ya Allah, Ampuni kami.. ampuni kedua ibu bapak kami, keluarga kami, saudara2 kami , teman2 FB kami dan seluruh Muslimin semuanya ... Aamiin ya Mujiibasa'illin ...

... JAGALAH AURATMU WAHAI WANITA ... Satu helai rambut dilihat oleh seorang bukan mahram = Menjadi seekor ular yang mematuk kepala kita 2 helai + 3 orang = 2x3 = 6 patukan 10 helai + 7 orang = 10x7 = 70 patukan 1000 helai + 70 orang = 1000x70 = 70000 patukan.. semua helaian rambut + semua lelaki bukan mahram = ??? patukan... Nauzubillah.... .. Jagalah auratmu kaum Hawa, sebelum terlambat. Berdoalah supaya Allah S.W.T menjauhi kita daripada azab-Nya yg cukup dahsyat. Aamiin Allah Menjawab AL-FATIHAH Kita Pada saat kita membaca surah Al-Fatihah sewaktu kita Shalat, banyak sekali orang yang cara membacanya tegesa-gesa tanpa spasi, dan seakan-akan ingin cepat menyelesaikan Shalatnya. Padahal disaat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al-Fatihah tersebut, Allah menjawab setiap ucapan kita. Dalam Sebuah Hadits Qudsi Allah SWT ber-Firman : "Aku membagi Shalat menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk Hamba-Ku". Artinya, tiga ayat diatas Iyyaka Na'budu Wa iyyaka nasta'in adalah Hak Allah, dan tiga ayat kebawahnya adalah urusan Hamba-Nya. Ketika Kita mengucapkan "Alhamdulillahi Rabbil 'alamin". Allah menjawab :"Hamba-Ku telah memuji-Ku". Ketika kita mengucapkan "Ar-Rahmanir-Rahim" , Allah menjawab : "Hamba-Ku telah mengaagungkan-Ku". Ketika kita mengucapkan "Maliki yaumiddin" , Allah menjawab :"Hamba-Ku memuja-Ku" Ketika kita mengucapkan “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in” , Allah menjawab : “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku”. Ketika kita mengucapkan “Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhooliin.” , Allah menjawab : “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Ku penuhi yang ia minta.” (H.R. Muslim dan At-Turmudzi) Berhentilah sejenak setelah membaca setiap satu ayat. Rasakanlah jawaban indah dari Allah karena Allah sedang menjawab ucapan kita. Selanjutnya kita ucapkan "Aamiin" dengan ucapan yang lembut, sebab Malaikatpun sedang mengucapkan hal yang sama dengan kita.


Barang siapa yang ucapan “Aamiin-nya” bersamaan dengan para Malaikat, maka Allah akan memberikan Ampunan kepada-Nya.”. (H.R Bukhari, muslim, Abu Dawud dan An-Nas). Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik 'bagikan'/'reshare' dan -----( Belum Ku Menyadari )-----Ketika satu per satu sahabatku pergi meninggalkanku… Menuju alam yang belum pernah kuketahui wujudnya. Aku masih juga belum ter sadarkan. Kematian itu datang tak mengetuk pintu. Mencerabut manusia dari orang-orang terkasihnya tak peduli ia miskin atau kaya,tua atau muda,sengsara atau bahagia,siap atau tak siap menyambutnya. Masih saja aku bergeming. Menganggap k ematian itu masih jauh dariku. Kematian adalah milik orang lain. Aku? Entah lah..Yang jelas aku yakin ia masih jauh dariku. Lihat saja tubuhku yang bugar, lenganku yang kokoh,pandangan mataku yang tajam, langkah kakiku yang tegap, tak ada satu pun yang menunjukkan bahwa aku pantas dijemput maut. Aku senantiasa menjaga kebugaran tubuhku. Olahraga dan suplemen vitamin menjadi makananku sehari-hari. Pun check up rutin kulakukan setahun sekali. Sungguh,saat ini aku tak yakin kematian akan menghampiriku. Hingga sore tadi tubuhku tiba-tiba menggigil. Bukan,bukan karena sakit,karena seperti kubilang tadi, aku rajin berolahraga, minum vitamin,dan berobat rutin ke dokter. Aku tergetar oleh sebuah pesan singkat yang singgah di selulerku. Seorang sahabat (lagi-lagi) meninggalkanku tanpa pamit. Seorang sahabat yang pagi tadi masih kunikmati tawanya yang berderai-derai, tegap badannya yang gagah, langkah kakinya yang tegap,pandangan matanya yang tajam… Oh kematian… pelajaran apa yang hendak kau bagi kali ini? Bahwa kematian itu datang tiba-tiba? Bahwa kita tak pernah tahu kapan ia menjemput kita? Bahwa kematian tak mungkin menghampiri kita di usia yang masih belia? Benarkah? Bukankah Dia telah mengingatkan kita dalam kitab-Nya yang sempurna bahwa tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati? Bukankah Dia juga mengingatkan melalui lisan utusan-Nya yang mulia bahwa orang yang paling cerdas diantara kita adalah yang paling banyak menyiapkan bekal untuk kehidupan akhiratnya? Bukankah Dia telah ‘memvonis’ saat kepulangan kita seiring Ia hembuskan ruh di jasad kita? Sungguh,berulang kali Dia mengingatkan kita akan satu kepastian ini. Masihkah kita menganggap bahwa kematian itu datang tiba-tiba..? Adakah kita esok hari melihat sinar mentari ..? Sungguh kematian itu tidak datang tiba-tiba melainkan telah di tentukan waktunya. "Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di benteng yang tinggi lagi kokoh". (QS. 4 : 78). WANITA-MU kadang kalah sosokNYA sangat mulia sampai-sampai dia tak perduli dengan luka yang kau berikan untuknya di kalah sosoknya tak anggun tapi percayalah dia mampu menghangatkan jiwamu... hari kemarin itu. DIA SELALU MENANGIS saat kau memupukkan duka di selah harinya, bukan dia cenggeng dan sok manja di depanmu tapi itulah batas kemampuannya.. DIA SELALU SEDIH saat kau bertingkah acuh tak acuh padanya, bukan dia kekanak-kanakan


tapi batinnya sering merasa di anak tirikan.... DIA SELALU KECEWA saat kau bertingkah kasar dan angkuh padanya, bukan dia tak mampu untuk mengkasarimu hanya saja pribadinya sudah menyatu dengan hatinya untuk jangan menertawaimu... DIA SELALU MERASA ASING untukmu saat kau bertingkah sehari penuh tak mengabarinya, bukan dia tak mandiri tapi dia sudah terbiasa lalui harinya denganmu..... DIA, WANITAMU..... yang mampu terus memaafkanmu meski pengkhianatanmu berulang kali terjadi, DIA WANITAMU, yang terus saja menunggumu yang selalu gelisah di siang hari dan susah tidur di malam hari hanya untuk menunggu kabar darimu... DIA WANITAMU.... yang terus memengang janjimu meski beberapa janji yang di buatnya kau ingkari lagi,lagi dan lagi.... DIA WANITAMU..... yang kan membelahmu saat mereka berkata "dia tak cocok untukmu" dan dia kan menjawab "insyallah dia kan jadi halal dan terbaik untukku dan untuknya" DIA WANITAMU.... yang kan trus menyemangatimu..saat kau sadar keadaan merusak hidupmu dan kau sejenak sadar "watak yang menghargaimu,mencintaimu,menyayangimu, dan kan memberikanmu keluarga yang utuh..... dia wanitamu, sadarilah itu Tuhan memberimu berjuta macam bahagia saat kau sadar untuk bisa meletakkan waktu berhargamu untuknya dan saat kau sadar betapa berharganya dia untuk kau tak sia-siakan . " Mangkuk yang Cantik, Madu yang Manis dan Sehelai Rambut Rasulullah SAW dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan ‘Ali bin Abi Thalib r.a. bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah Az Zahra r.ha. putri kesayangan Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan k etika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut ikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu yang manis, dan sehelai rambut). Abu Bakar Ash Shiddiq r.a berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”. Umar bin Khattab r.a berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”. Utsman bin Affan r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih


sulit dari meniti sehelai rambut”. Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”. Fathimah Az Zahra r.ha. berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”. Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”. Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”. Allah SWT berfirman, ” Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”. (kisahislami.com) ku bukan teman yang bisa memberikan kau segala yang kau perlukan jika kau berada dalam kesulitan. Tapi yakinlah, aku adalah temanmu yang tetap setia disisimu meniupkan kata-kata semangat jika kesulitan menghantui dirimu. Aku juga bukan teman yang akan memberikan kamu segunung harapan agar kamu boleh berharap dan bersandar terus padaku. Namun aku akan menjadi teman yang akan berusaha meratakan segunung beban jika suatu hari kelak bebananmu menumpuk hebat. Aku justeru bukan teman yang akan berjanji seribu madah indah untuk menyenangkan hatimu. Tapi aku akan memastikan aku tidak akan mengucapkan sepatah pun kata hina yang bisa menyakitkanmu. Aku malahan bukan teman yang akan menyuburkan benih cinta yang ada dalam jiwa mu. Namun aku berjanji bunga cinta yang telah lama hidup dalam jiwamu akan tetap subur mewangi dan tidak akan pernah mati.. ...DIALOG IMAJINER ANTARA TUHAN DENGAN MANUSIA.. Sahabat... Berikut ini adalah sebuah dialog imajiner (bertanya sendiri dan menjawab sendiri) sebagai sebuah perenugan seorang manusia dengan Tuhannya. Man :Tuhan.... Apa yang PALING MENGHERANKAN bagi-Mu tentang kami "MANUSIA"?


GOD : Kalian itu makhluk yang "ANEH"‌. #Pertama, suka MENCEMASKAN MASA DEPAN , sampai LUPA dengan HARI INI...Sehingga kalian LUPA BERSYUKUR dan BERUSAHA. #Kedua, kalian HIDUP di dunia seolah-olah KEKAL TIDAK akan MATI. Kalian LEBIH BANYAK mengumpulkan BEKAL hidup di DUNIA, daripada BEKAL setelah MATI. Padahal hidup di DUNIA hanyalah SEMENTARA, dan hidup SETELAH MATI adalah KEKEKALAN. #Ketiga, kalian cepat BOSAN sebagai ANAK-ANAK dan TERBURU-BURU ingin DEWASA, namun setelah DEWASA kalian KEKANAK-KANAKAN : suka bertengkar, ngambek, dan ribut karena soal soal sepele. #Keempat, kalian RELA KEHILANGAN KESEHATAN demi MENGEJAR UANG, tetapi kemudian membayar dengan UANG untuk mengembalikan KESEHATAN. #Kelima, kalian lebih TABAH manakala Aku UJI dengan KEMELARATAN dan PENYAKIT dibandingkan saat Aku uji dengan banyak rizki dan kesehatan. Kala kalian MELARAT dan SAKIT, kalian LEBIH DEKAT kepada-Ku dengan ibadah dan doa. Padahal Aku SENANG bila kalian MENDEKAT kepada-Ku, tapi kalian tidak suka dengan KEMELARATAN dan PENYAKIT tersebut. Hal-hal itulah yang membuat hidup kalian SUSAH. Man : Lantas apa nasihat Tuhan agar kami bisa hidup BAHAGIA ? GOD : Sebenarnya semua nasihat sudah pernah diberikan. Inilah satu lagi keanehan kalian : SUKA MELUPAKAN nasihat-Ku. Baiklah Ku ulangi lagi ya beberapa nasehat yg penting: 1. Kalian harus sadar bahwa MENGEJAR RIZKI adalah sebuah KESALAHAN. Yang seharusnya kalian lakukan ialah MENATA DIRI agar kalian LAYAK dikucuri rizki. Ingat, rizki berasal dari-Ku. Jadi JANGAN MENGEJAR RIZKI, tetapi biarlah RIZKI yang MENGEJAR kalian. 2. Ingat : "SIAPA" yang kalian miliki itu LEBIH BERHARGA dari pada "APA" yang kalian punyai. Memilik "SIAPA" akan mendatangkan "APA", Kehilangan "SIAPA" akan kehilangan "APA" juga...Tetapi bila kamu kehilangan "APA" masih ada "SIAPA" yang akan membantumu. Jadi, PERBANYAKLAH teman, JAUHI permusuhan... 3. Jangan bodoh dengan CEMBURU dan membandingkan yang dimiliki orang lain, BERSYUKURLAH dengan apa yang telah kalian terima. Karena semuanya akan ditanya DARIMANA kamu dapatkan dan UNTUK APA dibelanjakan.


4. Ingat orang KAYA bukanlah dia yang berhasil mengumpulkan harta yang paling banyak, tetapi adalah dia yang PALING "SEDIKIT" MEMERLUKAN hartanya, sehingga masih sanggup MEMBERI kepada sesamanya. BELAJAR MENJADI ISTRI YANG SHALEHAH Apa arti menjadi isteri shalehah... Berbagai pandangan dan jawaban mampu kita tafsirkan.. Kita menyingkap kembali sejarah Nabi Ibrahim sewaktu baginda menziarahi menantunya. .. Ketika itu puteranya Nabi Ismail tidak berada di rumah..sedangkan isterinya belum pernah bertemu bapak mertuanya.. Ketika Nabi Ibrahim tiba di rumah anaknya itu..terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dan menantunya... Nabi Ibrahim : Siapakah kamu..? Menantu : Aku isteri Ismail... Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu Ismail..? Menantu : Dia pergi berburu.. Nabi Ibrahim : Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga..? Menantu : Oh.. kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak pernah senang dan lapang... Nabi Ibrahim : Baiklah..! Jika suamimu pulang.. sampaikan salamku padanya...Katakan padanya tukar tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan agar menceraikan isterinya)... Menantu : Ya..baiklah... Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu.. isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka... Nabi Ismail : Apa saja yang ditanya oleh orang tua itu..? Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.. Nabi Ismail : Apa jawabanmu..? Isteri : Aku ceritakan kita ini orang susah..Hidup kita selalu dalam kesempitan..tidak pernah senang... Nabi Ismail : Apakah dia berpesan sesuatu..? Isteri : Ya ada..Dia berpesan agar aku menyampaikan salam kepadamu..serta meminta kamu menukar tiang pintu rumahmu... Nabi Ismail : Sebenarnya dia itu ayahku..Dia menyuruh kita berpisah...Sekarang kembalilah kau kepada keluargamu... Ismail pun menceraikan isterinya yang suka mengeluh.. tidak berterima kasih..serta tidak bersyukur pada takdir Allah Swt... Sanggup pula membuka rahasia rumah tangga kepada orang lain.. Tidak lama setelah itu..Nabi Ismail menikah lagi.. Setelah sekian lama..Nabi Ibrahim datang lagi ke Makkah dengan tujuan menziarahi anak dan menantunya... Terjadilah kembali pertemuan antara mertua dan menantu yang saling tidak mengenali... Nabi Ibrahim : Dimana suamimu..? Menantu : Dia tidak sedang dirumah..Dia sedang berburu.. Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga..?


Mudah-mudahan dalam kesenangan..? Menantu : Syukur kepada tuhan..kami semua dalam keadaan sejahtera,..tiada yang kurang.. Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu.. Menantu : Silalah duduk..Boleh saya hidangkan sedikit makanan... Nabi Ibrahim : Apa yang ingin kau hidangkan..? Menantu : Ada sedikit daging..tunggulah saya sediakan minuman dahulu.. Nabi Ibrahim : (Berdoa) Ya Allah..! Ya Tuhanku..! Berkatilah mereka dalam makan minum mereka... (Berdasarkan peristiwa ini..Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah berkat doa Nabi Ibrahim)... Nabi Ibrahim : Baiklah..nanti apabila suamimu pulang sampai- kan salamku kepadanya...Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya..(sebagai kiasan untuk mengekalkan isteri Nabi Ismail).. Ketika Nabi Ismail pulang dari berburu..seperti biasa dia bertanya seputar siapa datang datang mencarinya.. Nabi Ismail : Adakah yang datang sewaktu aku tidak berada di rumah..? Isteri : Ya.. ada Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya sepertimu.. Nabi Ismail : Apa katanya..? Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita... Nabi Ismail : Apa jawabanmu..? Isteri : Aku katakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik..tak ada apapun yang kurang..Aku ajak juga dia makan dan minum... Nabi Ismail : Apakah dia berpesan sesuatu..? Isteri : Ada..dia kirim salam buatmu dan menyuruh kau mengekalkan tiang pintu rumahmu.. Nabi Ismail : Oh begitu..Sebenarnya dialah ayahku..Tiang pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku kekalkan. Isteri : Alhamdulillah.. syukur... Kisah ini sungguh menyentuh jiwa...kita juga tentu merasakan dan mengalami sendiri ujian hidup berumahtangga yang senantiasa diperlukan kesabaran.. Biisakah menegaskan kepada diri sendiri bahwa isteri shalehah itu sepatutnya ‘SABAR DIHATI DAN SYUKUR PADA WAJAH'... Darisini akan terpancar ketenangan setiap kali suami berhadapan dengan isteri shalehah... Isteri shalehah tidak cerewet dan tidak mudah mengumpat.. Isteri shalehah hendaklah senantiasa bersyukur dalam keadaan senang maupun susah ..agar Allah menambahkan lagi rahmat-Nya... Seperti firman-Nya.. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur.. pasti Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu...Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku..maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.� (Surah Ibrahim, ayat 7) Untuk menambahkan kegigihan berusaha menjadi isteri shalehah.. ingatlah hadis Rasulullah Saw..


“Sampaikanlah kepada siapa yang engkau temui dari kaum wanita..bahawasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.. tapi sangat sedikit sekali golongan kamu yang dapat melakukan demikian.” (Riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabrani) Untuk menjadikan diri sebagai isteri shalehah,..hati hendaklah senantiasa dipenuhi dengan kasih sayang rabbani... ... TIPS DAN TRIK MENGHAFAL ASMAUL - HUSNA ... Bismillah ... Menghafal atau menyebut di luar kepala akan Asmaul Husna adalah sarana yg insya Allah ringan untuk dilaksanakan untuk meraih surga. Nabi Muhammad S.A.W. pernah bersabda “Bahwasanya Allah mempunyai 99 Nama, yakni seratus kurang satu. Barang siapa menghafalnya (menyebut di luar kepala) niscaya akan dimasukkan ke dalam surga”. Namun pada kenyataannya masih banyak di antara kita yang kesulitan untuk menghafal Asmaul Husna tersebut. Oleh karena itu kami mencoba berbagi tips bagaimana cara menghafal Asmaul Husna. InsyaAllah jika bersungguh-sungguh kita pun akan dapat menghafalnya. Metode ini kami sebut “Metode 2-2″ Artinya kita menghafalkan dua Asma dalam sekali penghafalan. Secara lebih detail sebagai berikut: 1. Pastikan Anda telah memiliki daftar Asmaul Husna. Biasanya ada di belakang sampul mushaf Al-Quran. 2. Kelompokkan keseluruhan Asma dalam 10 kelompok, yakni: (1) Asma nomer 1-10 (2) Asma nomer 11-20 (3) Asma nomer 21-30 (4) Asma nomer 31-40 (5) Asma nomer 41-50 (6) Asma nomer 51-60 (7) Asma nomer 61-70 (8) Asma nomer 71-80 (9) Asma nomer 81-89 (10) Asma nomer 90-99 Kelompok (1) ... 01-02 >> Yã Raĥmãnu Yã Raĥĩmu 03-04 >> Yã Maliku Yã Quddũsu 05-06 >> Yã Salãmu Yã Mu`minu 07-08 >> Yã Muhaiminu Yã `Azĩzu 09-10 >> Yã Jabbãru Yã Mutakabbiru Kelompok (2) ...


11-12 >> Yã Khãliqu Yã Bãri`u 13-14 >> Yã Mushawwiru Yã Ghaffãru 15-16 >> Yã Qahhãru Yã Wahhãbu 17-18 >> Yã Razzãqu Yã Fattãĥu 19-20 >> Yã `Alĩmu Yã Qãbidhu Kelompok (3) ... 21-22 >> Yã Bãsithu Yã Khãfidlu 23-24 >> Yã Rãfi`u Yã Mu`izzu 25-26 >> Yã Mudzillu Yã Samĩ`u 27-28 >> Yã Bashĩru Yã Ĥakamu 29-30 >> Yã `Adlu Yã Lathĩfu Kelompok (4) ... 31-32 >> Yã Khabĩru Yã Ĥalĩmu 33-34 >> Yã `Adhĩmu Yã Ghafũru 35-36 >> Yã Syakũru Yã `Aliyyu 37-38 >> Yã Kabĩru Yã Ĥafidhu 39-40 >> Yã Muqĩtu Yã Ĥasĩbu Kelompok (5) ... 41-42 >> Yã Jalĩlu Yã Karĩmu 43-44 >> Yã Raqĩbu Yã Mujĩbu 45-46 >> Yã Wãsi`u Yã Ĥakĩmu 47-48 >> Yã Wadũdu Yã Majĩdu 49-50 >> Yã Bã`itsu Yã Syahĩdu Kelompok (6) ... 51-52 >> Yã Ĥaqqu Yã Wakĩlu 53-54 >> Yã Qawiyyu Yã Matĩnu 55-56 >> Yã Waliyyu Yã Ĥamĩdu 57-58 >> Yã Muĥshiyyu Yã Mubdi`u 59-60 >> Yã Mu`ĩdu Yã Muĥyĩ Kelompok (7) ... 61-62 >> Yã Mumĩtu Yã Ĥayyu 63-64 >> Yã Qayyũmu Yã Wãjidu 65-66 >> Yã Mãjidu Yã Wãĥidu 67-68 >> Yã Aĥad Yã Shamadu 69-70 >> Yã Qãdiru Yã Muqtadiru Kelompok (8) ... 71-72 >> Yã Muqaddimu Yã Mu`akhkhiru 73-74 >> Yã Awwalu Yã Ãkhiru 75-76 >> Yã Dhãhiru Yã Bãthinu 77-78 >> Yã Wãlĩ Yã Muta`ãlii


79-80 >> Yã Barru Yã Tawwãbu Kelompok (9) ... 81-82 >> Yã Muntaqimu Yã Afuwwu 83-84 >> Yã Ra`ũfu Yã Mãlikal Mulki 85 >> Yã Dzul Jalãli Wal Ikrãm 86-87 >> Yã Muqsithu Yã Jamĩ`u 88-89 >> Yã Ghaniyyu Yã Mughnĩ Kelompok (10) ... 90-91 >> Yã Mãni`u Yã Dhãru 92-93 >> Yã Nãfĩ`u Yã Nũru 94-95 >> Yã Hãdĩ Yã Badĩ`u 96-97 >> Yã Bãqĩ Yã Wãritsu 98-99 >> Yã Rasyĩdu Yã Shabũru 3. Selanjutnya dari masing-masing kelompok, dibagi lagi menjadi 5 sub kelompok (pasangan). Misalnya pada kelompok (1) : - Asma nomer 1 dan 2 >> YAA RAHMAANU YAA RAHIIMU - Asma nomer 3 dan 4 >> YAA MALIKU YAA QUDDUUSU - Asma nomer 5 dan 6 >> YAA SALAAMU YAA MU’MINU - Asma nomer 7 dan 8 >> YAA MUHAIMINU YAA `AZIIZU - Asma nomer 9 dan 10 >> YAA JABBAARU YAA MUTAKABBIRU 4. Dalam menghafal, Anda dapat menyebut Asma – misalnya nomer Asma 1 dan 2 >> AR-RAHMAAN AR-RAHIIM (sebagai dzikir) atau menambah YAA di depan Asma (dalam contoh ini menjadi YAA RAHMAN YAA RAHIIM – ini seperti contoh di atas dan ini yang kami praktekkan) 5. Hafalkan 1 pasangan terlebih dahulu (misalnya YAA RAHMAN YAA RAHIIM). Caranya anda harus mengucapkannya berulang-ulang (misalnya 10x). Jangan berpindah ke pasangan selanjutnya (Asma nomer 3 dan 4) jika Asma nomer 1 dan 2 ini belum benar-benar hafal. 6. Jika Asma no 1 dan 2 sudah benar-benar hafal silakan Anda hafalkan Asma no 3 dan 4. Caranya sama yaitu dengan mengucapkan berulang-ulang. 7. Jika Asma 3 dan 4 sudah hafal jangan terburu-buru menghafal ke pasangan Asma berikutnya (no 5 dan 6). Ucapkan kembali Asma nomer 1, 2, 3 dan 4 secara berurutan dan berulang-ulang hingga benar-benar hafal. 8. Jika Asma no 1, 2, 3 dan 4 sudah hafal silakan melanjutkan Asma no 5 dan 6. Jika Asma no 5 dan 6 sudah hafal. Ulangi kembali hafalan Asma no 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 berkalikali sampai benar hafal. Jika sudah hafal baru melangkah ke dua Asma selanjutnya. Begitu seterusnya hingga Anda dapat menghafal 10 Asma dalam kelompok (1). 9. Agar tidak terlalu berat beban Anda dalam menghafal. Cukuplah dalam 1 hari Anda menghafal 1 kelompok Asma saja (kecuali Anda masih muda dan/atau memiliki


kemampuan menghafal yang bagus). Jadi misalnya: - Hari pertama : menghafal kelompok (1) - Hari kedua : sebelum menghafal kelompok (2), coba ucapkan kembali keseluruhan Asma pada kelompok (1). Pastikan tidak ada Asma yang salah, tertinggal maupun keliru urutannya. Jika seluruh Asma dari kelompok (1) sudah mantap silakan melanjutkan ke kelompok (2). Jika seluruh Asma dari kelompok (2) sudah berhasil dihafalkan. Silakan sebutkan keseluruhan Asma dari kelompok (1) kemudian disambung seluruh Asma dari kelompok (2). - Hari ketiga: sebutkan kembali seluruh Asma dari kelompok (1) dan (2). Jika sudah benar-benar mantap silakan lanjutkan menghafal Asma dari kelompok (3). Jika seluruh Asma dari kelompok (3) sudah hafal silakan ulangi kembali seluruh Asma dari kelompok (1), (2) dan (3). Demikian seterusnya sampai seluruh Asma dalam seluruh kelompok berhasil dihafalkan. Catatan: - Untuk kelompok (9) Asma dibagi sebagai berikut: * Nomer 81 dan 82 >> YAA MUNTAQIMU YA AFUW * Nomer 83 dan 84 >> YAA RA’UUFU YA MALIKAL MULK * Nomer 85 (tanpa pasangan) >> YAA DZAL JALAALI WAL IKRAM * Nomer 86 dan 87 >> YAA MUQSITU YAA JAAMI` * Nomer 88 dan 89 >> YAA GHANIY YAA MUGHNIY - Untuk kelompok (10) tinggal melanjutkan saja dari kelompok (9) - Dalam menghafal Anda dapat menggunakan tasbih (biasaya biji tasbih berjumlah 99, sesuai dengan jumlah Asmaul Husna) sebagai alat bantu untuk memastikan bahwa urutan Asma yang Anda sebutkan sudah benar. Jadi misalnya Anda menyebut Asma no 1, Anda pegang butir tasbih nomer 1 demikian seterusnya. Selain menggunakan tasbih dapat juga Anda menggunakan jari-jari tangan Anda (saya sarankan cukup jari-jari tangan kanan Anda) Jadi untuk menghafalkan 1 kelompok Asma cukup menggunakan 5 jari sebelah kanan Anda. Contoh kelompok (1) - Ibu jari : sambil menyebut Asma no 1 dan 2 - Telunjuk : sambil menyebut Asma no 3 dan 4 - Jari tengah : sambil menyebut Asma no 5 dan 6 - Jari manis : sambil menyebut Asma no 7 dan 8 - Kelingking : sambil menyebut Asma no 9 dan 10 Begitu sampai kelingking, kembali lagi ke ibu jari untuk menyebut Asma dari kelompok (2), demikian seterusnya Dengan cara seperti yang diuraikan di atas. InsyaAllah kita akan dapat menghafal Asmaul Husna dalam waktu tidak terlalu lama. Dan jika sudah hafal hendaknya sering mengucapkan agar hafalan tersebut tidak hilang begitu saja. Aku Menangis untuk Adikku


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun- tahun telah lewat,tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama,saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun.


Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..” Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”


Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatahsepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. Sumber: Diterjemahkan dari “I cried for my brother six times” ISTRI NABI ADAM ADALAH TELADAN WANITA DALAM KEIBUAN Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... "Hawwa" itulah nama istri Nabi pertama secara mutlak berdasarkan Al Qur`an dan hadits. Dia adalah wanita pertama yang hidup di dunia, Ibu seluruh manusia, ia bantu suaminya dalam pembangunan Ka`bah yang mulia, ia selalu hamil kembar (laki-laki dan perempuan) agar pernikahan berlangsung di antara anak-anaknya dan agar kehidupan tetap berlangsung. Dia adalah ibu seluruh ibu dan teladan dalam keibuan. Kehidupan Adam dan Hawwa di surga adalah kehidupan bebas sebebas-bebasnya tanpa batas di surga, Adam mengetahui makna-makna ketentraman dan kebahagiaan ketika beliau hidup berdua dengan Hawwa, beliau tidak merasa sendirian, tidak jenuh dan menikmati apa saja yang ada di surga yang di sukai hati dan mata, Bisa jadi Adam sering ngobrol berdua dengan Hawwa dan mendengarkan tasbih segala hal dengan memuji Allah yang sangat canggih dalam mencipta. Bisa jadi Adam dan Hawwa juga memetik buah-buahan surga, pindah dari satu pohon ke pohon lainnya, dan keduanya meminum air surga yang tawar hingga puas, Juga tidak


tertutup kemungkinan Adam dan Hawwa meminum mata air kebahagiaan, hidup enak di bawah naungan surga, dan bersenang-senang dengan karunia Allah Ta`ala. Adam dan Hawwa berada dalam perlindungan Allah Ta`ala di surga, Tidak ada Tuhan bagi keduanya selain Allah dan tidak ada pengawas selain Dia. Adam dan Hawwa memakan dengan enak apa saja yang ada di surga dan menempati tempat mana saja di surga tersebut dan terus-menerus dalam keadaan seperti itu sampai batas waktu tertentu yang dikehendaki Allah. HAWWA DI BUMI turunnya Adam dan Hawwa dari surga ke bumi terjadi pada hari Jum`at seperti disebutkan dlm kitab-kitab hadits nabawi. Ketika Adam dan Hawwa dikeluarkan oleh Allah dari surga, dikarenakan mereka melanggar larangan Allah, anda tahu bahwa mereka telah berpisah dari kesejahteraan. Di bumi, Hawwa bersama suaminya Adam alaihis salam menghadapi kesulitan, keduanya menjalani pertarungan melawan kehidupan, sebab sekarang mereka harus bersusah payah untuk bisa makan. Di bumi, Adam diajari oleh Allah dalam pembuatan besi dan diperintah membajak sawah, beliau pun membajak sawah, bercocok tanam dan mengairinya, lalu ketika masa panen tiba beliau memanen tanamannya, menebahnya, menampinya dan menggilingnya, setelah itu tibalah giliran tugas Hawwa, yang dengan penuh kesabaran dan tanpa pernah mengeluh sedikit pun, ia mengolahnya membuatnya menjadi tepung, membuat roti, untuk mereka makan, Hawwa sering memintal wol, menenun jubah dan Adam pun sering menenun jubah serta kerudung untuk Hawwa yang kemudian mereka memakainya. dlm perjalanan ibadah, Hawwa membantu suaminya dalam pembangunan Ka`bah dengan isyarat Ilahiyah yg tinggi. Hawwa membantu suaminya membangun rumah yg pertama kali dibangun ialah rumah yg dikhususkan untuk ibadah, dijadikan penuh berkah dan ia tdk pernah mengeluh atau berputus asa sedikitpun untuk menghadapi semua itu, ia jalani dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa yang ia lakukan itu pasti kan mendapat balasan. Hawwa adalah ibu para wanita dan laki-laki di atas permukaan bumi, Hawwa adalah ibu seperti ibu-ibu lainnya yang hamil dan melahirkan. ia selalu setia dan menjadi tempat curhat suaminya, ia selalu bermusyawarah dlm segala hal dgn suaminya, tdk pernah sekali pun membangkang perintah suaminya asalkan perintah itu tdk berpaling dari ajaran agama ilahi. ia sabar menjalani kehidupan dgn suaminya, tekun dalam beribadah, dan sabar dlm mendidik anak-anaknya. menurut para ulama ahli Tarikh, Hawwa selalu mengandung bayi kembar, laki-laki dan perempuan, Hawwa melahirkan empat puluh anak kembar, laki dan perempuan dalam dua puluh kali kehamilan. PERJALANAN TERAKHIR HAWWA Hari-hari terus berjalan, Adam dan Hawwa semakin tua, anak-anak keturunannya semakin banyak di muka bumi, pada suatu hari Jum`at, Adam menghembuskan nafas terakhirnya, Hawwa sangat sedih luar biasa atas kematian suaminya, dan ia hidup setahun sepeninggal Adam dan dimakamkan bersama Adam suaminya. (Ibnu Jubair menyebutkan bahwa di Jeddah terdapat tempat dimana di dalamnya terdapat kubah megah tempo dulu dan disebutkan bahwa kubah tersebut adalah rumah milik Hawwa, ibu seluruh manusia.)


itulah Hawwa, ibu seluruh manusia, ibu seluruh ibu dan panutan mereka dalam keibuan, dan seluruh pekerjaan yang sudah menjadi pekerjaan para istri, Hawwa memintal, menenun, membuat tepung, membuat roti, dan mengerjakan seluruh pekerjaan wanita dan ia taat dan tekun beribadah kpd Allah, patuh dan hormat terhadap suaminya, ia ajarkan seluruh pekerjaan tersebut kpd anak-anak putrinya, ia ajari anak-anak laki-laki bagaimana menjadi seorang suami, seorang pemimpin, yg hrs adil, dan bertanggung jawab atas istridan anak-anaknya kelak, ia lakukan semua itu agar kehidupan manusia berlanjut hingga batas waktu yang ditentukan Allah, yang hingga akhirnya Allah mewariskan bumi ini beserta isinya kpd anak-anak keturunannya. mudah-mudahan Allah meridhai ayah kita semua (Adam) dan meridhai ibu kita semua (Hawwa) serta menempatkan keduanya di surga.. ... Indahnya Memaafkan ... Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Walaupun Allah telah banyak menjelaskan dalam firman- firman Nya, bahwa salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah memaafkan kesalahan orang lain, namun dalam prakteknya memaafkan adalah bukan perkara yang mudah. Islam diturunkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Dan sebuah keberuntungan ketika kita mengikhlaskan hati menerima Islam sebagai jalan hidup, yaitu berarti kita tertuntun sebagai manusia yang senantiasa membawa berkah dan kedamaian bukan hanya untuk diri kita namun juga semua makhluk disekitar kita. Salah satu kebesaran kedamaiannya akan merujuk pada setiap jiwa yang dengan rela memaafkan. Hal itu juga akan melingkupi batin manusia lain yang ada disekitarnya. .....MEMAAFKAN Adalah amalan yang sangat mulia ketika seseorang mampu bersabar terhadap gangguan yang ditimpakan orang kepadanya serta memaafkan kesalahan orang padahal ia mampu untuk membalasnya. “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40) Berikut beberapa kemuliaan dari memaafkan kesalahan. 1. MENDATANGKAN KECINTAAN “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolaholah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35) Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan: “Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat. Ibnu ‘Abbas mengatakan: ‘Allah memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan


memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109) 2. MENDAPAT PEMBELAAN DARI ALLAH Al-Imam Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat. Aku berusaha menyambungnya namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat kebaikan kepada mereka namun mereka berbuat jelek. Aku bersabar dari mereka namun mereka berbuat kebodohan terhadapku.” Maka Rasulullah bersabda : “Jika benar yang kamu ucapkan maka seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Dan kamu senantiasa mendapat penolong dari Allah atas mereka selama kamu di atas hal itu.” (HR. Muslim) 3. MEMPEROLEH AMPUNAN DAN KECINTAAN DARI ALLAH “Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (At-Taghabun: 14) Adalah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dahulu biasa memberikan nafkah kepada orangorang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah. Dia termasuk famili Abu Bakr dan muhajirin. Di saat tersebar berita dusta seputar ‘Aisyah binti Abi Bakr istri Nabi, Misthah termasuk salah seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah menurunkan ayat menjelaskan kesucian ‘Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera dan Allah memberi taubat kepadanya. Setelah peristiwa itu, Abu Bakr bersumpah untuk memutuskan nafkah dan pemberian kepadanya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya : “Dan janganlah orangorang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (An-Nur: 22) Abu Bakr mengatakan: “Betul, demi Allah. Aku ingin agar Allah mengampuniku.” Lantas Abu Bakr kembali memberikan nafkah kepada Misthah. (lihat Shahih AlBukhari no. 4750 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/286-287) Nabi bersabda : “Sayangilah –makhluk– maka kamu akan disayangi Allah, dan berilah ampunan niscaya Allah mengampunimu.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293) Allah mencintai orang yang memaafkan, karena memberi maaf termasuk berbuat baik kepada manusia. Sedangkan Allah cinta kepada orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya : “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 134) 4. MULIA DI SISI ALLAH MAUPUN DISISI MANUSIA Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain,


disamping tinggi kedudukannya di sisi Allah, ia juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari orang lain atas lawannya, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi kawan. Nabi bersabda : “Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah melainkan diangkat oleh Allah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah) Semoga Allah menggolongkan kita atas hamba- hamba Nya yang berhati lembut karena mudah tersadar atas kesalahan diri dan ringan dalam meminta maaf. Dan semoga kita tergolong hamba- hamba yang berjiwa besar karena keluasan hati kita dalam memaafkan saudara- saudara kita yang telah menyakiti kita. Aamiin. "Saat Iblis Membentangkan Sajadah" Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum’at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air. Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. “Hai, Blis!”, panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik : “Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!”, jawab Iblis ketus. “Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!”, Kiai mencoba mengusir. “Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru”. Kiai tercenung. “Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu”. “Dengan apa?” “Dengan sajadah!” “Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?” “Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!” “Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?” “Bukan itu saja Kiai…” “Lalu?” “Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar” “Untuk apa?” “Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah”. Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah


lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya. Keduanya masih melakukan sholat sunnah. “Nah, lihat itu Kiai!”, Iblis memulai dialog lagi. “Yang mana?” “Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka”. Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terlihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa. Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain. “Astaghfirullahal adziiiim “, ujar sang Kiai pelan. “ :( ... KISAH KEAJAIBAN YANG TERJADI PADA SEORANG WANITA SHALIHAH ... Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Ini adalah kisah seorang wanita shalihah yang sangat takwa kepada Allah. Ia amat gemar berbuat kebajikan, tidak putus-putus mengingat Allah, tidak sudi keluar dari mulutnya kata-kata yang tak pantas. Bila disebut api neraka, ia lantas ketakutan luar biasa dan sangat cemas hatinya, ia angkat tangannya seraya memohon dengan penuh ketundukan agar terhindar darinya. Dan bila disebut surga, ia demikian bernafsu karena sangat menginginkannya, ia ulurkan kedua tangannya seraya berdoa dan bermunajat kepada Allah agar menjadikan dirinya termasuk penghuninya. Ia mencintai manusia dan mereka pun mencintainya. Ia begitu senang berada di tengah mereka, demikian pula dengan mereka terhadapnya. Suatu ketika, tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa di pahanya, lalu ia cepat-cepat mengambil minyak, mengolesi dan mengurutnya. Ia juga mengompresnya dengan air hangat namun rasa sakit itu malah semakin bertambah. Setelah pergi ke sana kemari untuk berobat di banyak rumah sakit dan berdasarkan petunjuk beberapa orang dokter, ia bersama suaminya akhirnya pergi ke London. Di sana, di sebuah rumah sakit megah, setelah dilakukan diagonosa secara detil, tim dokter menyimpulkan bahwa di dalam darah wanita shalihah ini terdapat pembusukan.


Mereka lalu mencari sumbernya dan ternyata sumber rasa sakit itu ada di bagian paha. Para dokter pun memutuskan, wanita ini positif menderita kanker di pahanya. Itulah yang menjadi sumber rasa sakit dan pembusukan. Akhirnya, tim dokter itu memutuskan perlunya segera memotong (mengamputasi) salah satu kaki wanita ini dari bagian atas paha agar virusnya tidak menyebar. Di dalam sebuah kamar operasi, wanita ini pasrah dan menyerahkan semua urusan kepada qadla dan takdir Allah semata sementara lisannya tiada putus-putusnya berdzikir kepada-Nya, dengan penuh ketulusan meminta perlindunganNya dan berserah diri. Akhirnya, tim dokter berkumpul dan siap melakukan operasi amputasi yang tergolong berat. Pisau sudah ditancapkan di alat pemotongnya dan si wanita itu pun didekatkan. Daerah yang akan diamputasi pun sudah diukur sedemikian teliti. Dan di tengah rasa takut yang menghantui dan kengerian yang mencekam, aliran listerik pun dihidupkan. Lalu‌ baru saja alat pemotong bergerak, tiba-tiba terdengar suara patahnya pisau. Semua tercengang melihat kejadian yang baru pertama kali ini. Operasi pun terpaksa diulang lagi dengan meletakkan pisau baru namun kejadian serupa kembali terjadi, hingga terulang tiga kali. Kejadian yang aneh dalam sejarah ‘amputasi’ ini meninggalkan tanda tanya dan kebingungan dari wajah-wajah para dokter tersebut yang saling pandang satu sama lain. Kepala tim dokter pun mengajak rekan-rekannya berbincang sebentar di sisi pasien untuk berurun rembug. Kemudian mereka memutuskan untuk melakukan operasi bedah terhadap paha yang semula akan diamputasi. Saat dioperasi, belum lagi menyentuh sasaran, mereka kembali dibuat tercengang. Dengan mata kepada sendiri, mereka melihat tiba-tiba mendapati sebuah kapas yang membusuk dalam bentuk yang tidak indah dan kurang sedap baunya didalam daging pahanya. Setelah melakukan pekerjaan ringan, tim dokter pun membersihkan daerah pembusukan itu dan mem-vakum-nya. Tak berapa lama, wanita itu berteriak keras. Dan, setelah itu rasa sakit yang ia alami hilang sama sekali dan tidak ia rasakan lagi keluhan apa-apa. Setelah tersadar, wanita ahli ibadah itu menengok ke arah kakinya yang ternyata tidak diapa-apakan dan mendapati suaminya tengah berbincang dengan tim dokter yang masih saja tampak ketercengangan menghiasi wajah-wajah mereka. Mereka terus bertanya kepada sang suami apakah isterinya sebelum ini pernah melakukan operasi bedah pada pahanya.? Para dokter itu akhirnya tahu bahwa kedua pasangan suami isteri ini pernah mengalami kecelakaan jalan raya beberapa waktu lalu yang menyebabkan sang isteri mengalami luka parah di daerah di mana terjadi pembusukan itu. Maka, secara spontan, para dokter itu berkata serentak, “Sungguh ini merupakan inayah ilahi semata.â€? Mengetahui kondisinya yang sudah pulih dan kabut bahaya tidak lagi mengancam dirinya, betapa gembiranya wanita yang shalihah itu. Ia semula membayangkan bakal berjalan dengan hanya sebuah kaki tetapi rupanya hal itu tidak terjadi.


Ia pun tidak henti-hentinya mengucapkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah di mana ia merasakan betapa dekatnya Dia dengan dirinya dan betapa besar belas kasih dan rahmat-Nya. ***** Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah .. Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...


Surat Cinta