Page 1

ISSN 2085-1677

Pemberitaan Ilmiah

Alamat Redaksi : Politeknik Kesehatan Jambi, Jl. Haji Agus Salim No.09, Kota Baru, Jambi

Efektivitas Penambahan Mikro Organisme Lokal Tape Dalam Mempercepat Proses Pengomposan Sampah Organik Akhsin Munawar, M. Taufik Efektifitas Konsumsi Apel, Mentimun dan Bengkoang Terhadap Penurunan Ph Plak Retno Dwi Sari, Valentina Nurwati Kayo Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Kontrol Ulang Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2011 Ismail HS dan Daryono Hubungan Antara Tipe Kepribadian dan Karakteristik Ibu dengan Postpartum Blues (Penelitian di Pelayanan Kesehatan Kota Jambi) Yuli Suryanti Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi Tahun 2012 Suryani dan Taty Nurti Hubungan Faktor Predisposisi, Faktor Pemungkin, dan Faktor Penguat dengan Pencapaian Pertolongan Persalinan Normal oleh Mahasiswa D3 Kebidanan Enny Susilawati Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2011 Daryono, Cek Masnah dan Bettywaty Eliezer Hubungan Tingkat Pengetahuan, Pendidikan, dan Golongan Umur dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi Tahun 2012 Bambang Ariyadi Analisis Spasial Kerentanan Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Kotabaru Kota Jambi Propinsi Jambi Suhermanto

Volume 8 Edisi Juli 2013 Volume 4

Efektifitas Ekstrak Biji Srikaya (Annona Squamosa ) Terhadap Kematian Lalat Susy Ariyani Arif, Fitri Rahmadani Faktor-Faktor Penentu yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Perkebunan Lia Artika Sari Pengaruh Jenis Kelamin, Kelompok Umur, Lokasi Penyuntikan dan Jenis Alat Suntik Terhadap Ketakutan Anak Pada Jarum Suntik (Tinjauan pada Anak Sekolah Dasar di Kota Jambi) Naning Nur Handayatun, Rina Kurnianti, Karin Tika Fitria


Editorial

Pembaca Yth,

Puji Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi bulan Juli 2013 telah dapat diterbitkan. Penantian yang panjang untuk terkumpulnya naskah ilmiah sebagai materi utama terbitan kita. Untuk itu penelitian ilmiah di lingkup Poltekkes Jambi harus lebih kita galakkan sebagai salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kepada penulis yang telah mempercayakan kepada kami untuk menerbitkan karyanya kami ucapkan terimakasih . Untuk edisi kali ini kita sajikan beberapa karya ilmiah dari bidang kesehatan gigi, kesehatan lingkungan, kesehatan reproduksi serta ilmu keperawatan dan manajemen. Semoga bermanfaat, maju terus dan selamat berkarya.

Pemimpin Redaksi, drg. Naning Nur Handayatun, M.Kes email: ningfendi2@yahoo.co.id

REDAKSI JURNAL POLTEKKES JAMBI Pelindung : Direktur Poltekkes Jambi : Asmmuni HS, SKM,MM

Pengarah : Pudir I: Hj.Tati Nurty, S.Pd, M.Kes Pudir II: Rusmimpong, S.pd, M.Kes Pemimpin Redaksi drg. Naning Nur Handayatun, M.Kes

Konsultan : Syamsul Ridjal, SKM, MM., M.KES drg. Ahmad Khairullah, M.Kes Krisdiyanta, S.KM, M.Kes Nuraidah, S.Pd, M.Kes Anggota Redaksi: Erris Siregar, S.KM, M.Kes Dra. Neni Heriani, M.Kes Vivanti Dewi, S.Pd, M.Kes Sekretaris Redaksi drg. Karin Tika Fitria Pencetakan dan Distribusi Slamet Riyadi, S.KM

Alamat Redaksi Politeknik Kesehatan Jambi Jl. Haji Agus Salim No 09 Kota Baru Jambi

ISSN

2085-1677 Vol VIII Edisi Juli 2013

i


Pemberitaan Ilmiah

JURNAL POLTEKKES JAMBI ISSN 2085-1677 Politeknik Kesehatan Jambi

Volume VIII Edisi Juli 2013

DAFTAR ISI Editorial .................................................................................................................................... Daftar Isi ................................................................................................................................... Ketentuan Penulisan Jurnal Ilmiah ...........................................................................................

i ii iv

1. Efektivitas Penambahan Mikro Organisme Lokal Tape Dalam Mempercepat Proses Pengomposan Sampah Organik ................................................ Akhsin Munawar, M. Taufik

1

2. Efektifitas Konsumsi Apel, Mentimun dan Bengkoang Terhadap Penurunan Ph Plak .................................................................................................. Retno Dwi Sari, Valentina Nurwati Kayo

6

3. Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Kontrol Ulang Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2011 .............................................................................................................................. Ismail HS dan Daryono 4. Hubungan Antara Tipe Kepribadian dan Karakteristik Ibu dengan Postpartum Blues (Penelitian di Pelayanan Kesehatan Kota Jambi) ..................................................................... Yuli Suryanti 5. Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi Tahun 2012 ................................................................ Suryani dan Taty Nurti 6. Hubungan Faktor Predisposisi, Faktor Pemungkin, dan Faktor Penguat dengan Pencapaian Pertolongan Persalinan Normal oleh Mahasiswa D3 Kebidanan ................................................................................................ Enny Susilawati 7. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2011 ................................................. Daryono, Cek Masnah dan Bettywaty Eliezer 8. Hubungan Tingkat Pengetahuan, Pendidikan, dan Golongan Umur dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi Tahun 2012 .............................................................................................................................. Bambang Ariyadi

ii

13

21

29

33

38

45


9. Analisis Spasial Kerentanan Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Kotabaru Kota Jambi Propinsi Jambi ................................................................. Suhermanto

51

10. Efektifitas Ekstrak Biji Srikaya (Annona Squamosa ) Terhadap Kematian Lalat ......................................................................................................... Susy Ariyani Arif, Fitri Rahmadani

61

11. Faktor-Faktor Penentu yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Perkebunan..................................................................... Lia Artika Sari

67

12. Pengaruh Pengaruh Jenis Kelamin, Kelompok Umur, Lokasi Penyuntikan dan Jenis Alat Suntik Terhadap Ketakutan Anak Pada Jarum Suntik ( Tinjauan Pada Anak Sekolah Dasar Di Kota Jambi ) ............................................................. Naning Nur Handayatun, Rina Kurnianti, Karin Tika Fitria

76

iii


Pemberitaan Ilmiah

JURNAL POLTEKKES JAMBI ISSN 2085-1677 Politeknik Kesehatan Jambi

Volume VIII Edisi Juli 2013 PERSYARATAN UMUM

Naskah diketik dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris dengan lay out kertas A4, batas tepi 3 cm, jarak 1 spasi, menggunakan huruf Arial. Abstrak dan daftar pustaka ditulis dengan ukuran 9, sementara bagian yang lainnya berukuran 10. Naskah tidak menggunakan catatan kaki di dalam teks, panjang naskah 5-15 halaman termasuk tabel dan gambar. File diketik menggunakan aplikasi Microsoft Word (versi 2000, XP, 2003 atau 2007). Naskah harus sudah sampai di sekretariat redaksi selambatlambatnya tanggal 31 Mei untuk edisi Juli dan 31 November untuk edisi Desember dan dikirim dalam bentuk CD-R/ CD-RW disertai print out sebanyak tiga rangkap. Penulis yang naskahnya akan dimuat dikenakan biaya Rp 200.000 per artikel yang dananya diserahkan langsung ke drg. Naning Nur Handayatun, M.Kes. Penulis akan menerima 1 (satu) eksemplar nomor jurnal yang memuat artikelnya. Jika mengiginkan eksemplar tambahan, dipersilahkan mengantikan biaya cetak sebesar Rp.50.000,-/eksemplar. Peneliti utama harus melampirkan lembar pernyataan (1 lembar per penelitian) bahwa penelitian yang dilakukan bukan plagiat dan belum pernah dipublikasikan di media manapun yang ditandatangani di atas materai Rp. 6000,-. Setiap peneliti juga melampirkan lembar validasi penelitian (1 lembar perpeneliti) yang ditandatangani oleh Direktur Poltekkes Jambi dan sebelumnya diparaf terlebih dahulu oleh tim konsultan masing-masing jurusan.

PERSYARATAN KHUSUS ARTIKEL KUPASAN (REVIEW) Artikel harus mengupas secara kritis dan komprehesif perkembangan suatu topik berdasarkan temuan-temuan baru yang didukung oleh kepustakaan yang cukup dan terbaru, sistematika penulisan artikel kupasan terdiri dari : Judul Artikel, Nama Penulis (ditulis di bawah Judul dan tanpa gelar), Abstraks, Pendahuluan (berisi latar balakang dan Tujuan Penulisan) , Bahan dan Cara (berisi tentang jenis penelitian, populasi dan sampel atau subjek penelitian, tehnik pengumpulan dan tehnik analisa data), Hasil dan pembahasan, Hasil penelitian berisikan tabel atau grafik dan hasil uji statistik, kemudian dibahas, Penutup (berisi tentang kesimpulan atas isi bahasan yang disajikan pada bagian inti dan saran yang sejalan dengan kesimpulan), ucapan terima kasih (bila diperlukan) serta rujukan

ARTIKEL RISET (RESEARCH PAPER) Naskah terdiri atas judul dan nama penulis lengkap dengan nama institusi dan alamat korespodensi diikuti oleh abstrak (dengan kata kunci), Pendahuluan, Bahan dan Cara kerja, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan dan Saran, Ucapan Terima Kasih bila diperlukan serta Daftar Pustaka.

iv


Pemberitaan Ilmiah

JURNAL POLTEKKES JAMBI ISSN 2085-1677 Politeknik Kesehatan Jambi

Volume VIII Edisi Juli 2013 JUDUL (TITLE)

Judul harus informatif dan deskriptif (maksimum 28 kata). Judul dibuat memakai huruf kapital dan diusahakan tidak mengandung singkatan. Nama lengkap penulis ditulis tanpa gelar dan nama institusi tempat afiliasi masing-masing penulis yang disertai dengan alamat korespodensi.

ABSTRAK (ABSTRACT) Abstrak merupakan sari tulisan yang meliputi latar belakang riset secara ringkas, tujuan, metode, hasil dan simpulan riset panjang astrak maksimum 250 kata dan disetai kata kunci

PENDAHULUAN (INTRODUCTION) Justifikasi tentang subjek yang dipilih didukung dengan pustaka yang ada. Harus diakhiri dengan menyatakan apa tujuan tulisan tersebut

BAHAN DAN CARA KERJA (MATERIALS AND METHOD) Harus detil dan jelas sehingga orang yang berkompeten dapat melakukan riset yang sama (repeatable dan reproduceable). Jika metode yang digunakan telah diketahui sebelumnya pustaka yang diacu harus dicantumkan. Spesifikasi bahan harus detil agar orang lain mendapat informasi tentang cara memperoleh bahan tersebut

HASIL (RESULT) DAN PEMBAHASAN (DISCUSSION) Hasil dan pembahasan dirangkai menjadi satu pada bab ini dan tidak dipisahkan dalam sub bab lagi. Melaporkan apa yang diperoleh dalam eksperimen/percobaan diikuti dengan analisis atau penjelasannya. Tidak menampilkan data yang sama sekaligus dalam bentuk tabel dan grafik. Tabel ditulis dengan huruf Arial ukuruan 8 atau 9 tanpa garis tegak. Gambar tanpa warna/ hitam putih. Bila mencantumkan diagram, gunakan diagram lingkaran atau batang dengan arsir/gradasi hitam putih. Tidak mengulang data yang disajikan dalam tabel atau grafik satu persatu, kecuali untuk hal-hal yang menonjol. Membandingkan hasil yang diperoleh dengan data pengetahuan (hasil riset orang lain) yang sudah dipublikasikan. Menjelaskan implikasi dari data ataupun informasi yang diperoleh bagi ilmu pengetahuan ataupun pemanfaatannya (aspek pragmatisnya).

v


KESIMPULAN DAN SARAN Berisi kesimpulan atas isi bahasan yang disajikan pada bagian inti dan saran yang sejalan dengan kesimpulan

UCAPAN TERIMA KASIH (ACKNOWLEDGEMENT) Dibuat ringkas sebagai ungkapan terima kasih kepada pihak yang membantu riset, penelaahan naskah, atau penyedia dana riset.

DAFTAR PUSTAKA (LITERATURES CITED/REFERENCES) Pustaka yang disitir dalam teks naskah jurnal harus persis sama dengan yang ada di daftar pustaka begitu pula sebaliknya. Daftar pustaka ditulis dengan lengkap secara alpabetis, sehingga pembaca yang ingin menelusuri pustaka aslinya akan dapat melakukannya dengan mudah. Minimal menggunakan 10 referensi ilmiah.

vi


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

EFEKTIVITAS PENAMBAHAN MIKRO ORGANISME LOKAL TAPE DALAM MEMPERCEPAT PROSES PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK Akhsin Munawar, M. Taufik Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jambi

ABSTRAK Penanganan sampah organik dengan pengomposan dapat mencegah terjadinya pencemaran dan menjadikan sampah sebagai sumber daya yang bernilai ekonomis. Untuk percepatan proses pengomposan saat ini telah banyak ditemukan bahan tambahan berupa bioaktivator baik yang berasal dari kotoran maupun bahan makanan salah satunya adalah mikro organisme lokal (MOL) salah satunya adalah MOL tape. Penelitian bertujuan mengetahui perbedaan konsentrasi MOL tape terhadap waktu proses pematangan. Penelitian ini merupakan quasi ekperimen dengan perlakuan perbedaan konsentrasi yang ditambahkan dalam sampah yang akan dikomposkan. Bahan yang digunakan adalah daun sawi dan daun kol dengan menambahkan MOL tape dengan konsentrasi 2 cc/kg, 3 cc/kg, 4 cc/kg, 5 cc/kg, dan 6 cc/kg. Uji statistic yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Anova. Proses pengomposan terjadi dalam waktu antara 13 hari sampai dengan 20 hari. Ada perbedaan yang signifikan antara konsentrasi MOL tape yang ditambahkan dengan lama pematangan kompos. Ada kecenderungan semakin banyak dosis mol tape yang ditambahkan semakin cepat proses pematangan kompos. Kata Kunci: Sampah organik, MOL tape, waktu pengomosan

PENDAHULUAN Undang Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan tugas dan tanggug jawab pemerintah mengalami perubahan paradigma. Sebelumnya pengelolaan sampah berorientasi menciptakan kondisi kota yang indah dan bersih dan membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sedangkan tuntutan saat ini adalah pemerintah harus mengolah sampah dan hanya membuang residu yang tidak terolah (Andi, 2008) Tanggung jawab pemerintah sangat berat dan membutuhkan biaya besar. Hal ini memerlukan peran serta masyarakat baik langsung maupun tidak langsung. Disisi lain saat ini mulai tumbuh kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan dengan melakukan penanaman berbagai jenis tanaman. Menurut HL.Blum (1974) dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa derajat kesehatan masyarakat dipengaruh oleh empat faktor utama yaitu : faktor lingkungan, perilaku manusia, pelayanan

kesehatan, dan keturunan. Keempat faktor tersebut saling berkait diantaranya mental, sistim budaya dan populasi sebagai satu kesatuan lingkungan mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap derajat kesehatan masyarakat.. Kesehatan lingkungan merupakan bagian dari kesehatan masyarakat yang memberi perhatian pada penilaian, pemahaman, dan pengendalian dampak manusia pada lingkungan dan dampak lingkungan pada manusia (Ricki, 2005) Pengelolaan sampah yang benar dilakukan untuk menjamin terlaksananya pembangunan berkelanjutan. Bila pengelolaan tidak dilakukan maka akan menyebabkan terjadinya dampak negatif berupa menurunnya kualitas lingkungan seperti munculnya cairan berupa air lindi (leachate) dan bau yang tidak sedap akibat aktifitas mikroba pembusuk bahan organik. Selain itu dapat dijadikan sebagai tempat berkembangbiaknya vektor penyakit (breeding places) dan beberapa gangguan kesehatan lingkungan lainnya (Sucipto, 2012)

1


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Selain kompos, produk komersil yang diperoleh dari anaerobik komposting adalah gas bio. Gas bio adalah campuran gas metan (CH₄) dengan gas-gas lain seperti CO₂ dan H₂S yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan pemanfaatan (Ferry, 1993). Dengan anaerobik komposting, seluruh potensi yang ada didalam sampah kota dapat dimanfaatkan sebagai energi, bahan organik, dan nutrisi yang ada didalam kompos. Tetapi bila gas CH₄ tidak dimanfaatkan dan dibiarkan terlepas ke atmosfir maka gas tersebut akan menambah konsentrasi gas rumah kaca (Soedomo, 1999) Gas-gas utama yang dikategorikan sebagai Gas Rumah Kaca dan mempunyai potensi menyebabkan pemanasan global adalah CO₂ dan CH₄. Meskipun CO₂ dan CH₄ secara alami terdapat di atmosfer, namun era industrialiasi sejak tahun 1750 sampai tahun 2005 gas-gas tersebut mengalami peningkatan jumlah yang pesat dan secara global. Gas CO₂ mempunyai persentase sebesar 50% dalam total Gas Rumah Kaca sementara CH₄ memiliki persentase sebesar 20% (Rukaesih.2004). Dalam menangani masalah sampah ada berbagai cara yang dapat dilakukan agar tidak mencemari lingkungan yaitu : dengan melakukan penimbunan pada tanah (landfill), pengisian tanah, pencacahan (grinding), pembakaran (inceneration) dan pengomposan (composting). Proses pembentukan kompos didasarkan atas proses pembusukan bahan-bahan organik. Pemanfaatan bahanbahan organik (khususnya sampah basah), sangat memegang peran yang penting (Sucipto. 2012). Mikroorganisme Lokal (MOL) merupakan mikroorganisme menguntungkan yang digunakan untuk peragian atau mempercepat pembusukan dalam proses pembuatan organik. Dengan kata lain, Bioaktivator yang dibuat sendiri atau MOL berfungsi sebagai starter dalam pembuatan kompos. Ada beberapa bahan dasar yang dapat dijadikan MOL, diantaranya tape, nasi basi, nanas dan air rendaman nasi (Setiawan, 2010).

2

Maka dari itu, salah satu cara untuk mempercepat proses pengomposan ialah dengan melakukan penambahan bioaktivator Mokroorganisme Lokal (MOL) tape, dengan menggunakan MOL tape dalam pembuatan kompos maka dapat meminimalisir adanya limbah organik. Selain itu taoe juga bisa mempercepat proses pengomposan. Ada kecenderungan semakin banyak dosis MOL Tape yang ditambahkan maka akan semakin cepat pematangan kompos. Namun belum diketahui efektivitas penambahan MOL tape dalam mempercepat proses pengomposan sampah organik. BAHAN DAN CARA KERJA Untuk penelitian ini digunakan kotak berukuran 46cm x 36cm x 16 cm sebanyak 25 kotak, alas berupa karung beras sebanyak 25 buah, sekop untuk mengaduk sampah, sampah organik (sampah daun sawi dan sampah daun kol) sebanyak 25 kg serta bahan untuk membuat mol tape berupa : tape singkong sebanyak 1 ons, air bersih sebanyak ± 1000 ml dan gula pasir sebanyak 5 sendok makan. Untuk pembuatan Mol Tape disiapkan botol plastik (bekas air kemasan) bervolume 1.500 ml tanpa tutup. Tape dimasukkan ke dalam botol tersebut. Kemudian disikan air ke dalam botol yang berisi tape (hingga mendekati penuh). Gula pasir dimasukkan ke dalam botol berisi tape dan air kemudian dilarutkan dengan mengocoknya. Botol dibiarkan terbuka tanpa tutup selam 4-5 hari agar MOL bisa kontak dengan udara. Setelah 5 hari MOL sudah bisa digunakan, ditandai dengan adanya aroma alkohol dari larutan MOL. Jika ingin memperbanyak MOL, digunakan botol kosong bervolume 1500 ml. Cairan MOL dibagi rata ke dalam dua botol tersebut. Kemudian diisikan air ke dalam masingmasing botol tadi sampai hampir penuh dan dimaasukkan gula ke masing-masing botol dengan takaran yang sama. Untuk pembuatan kompos digunakan sampah rumah tangga,


Efektivitas Penambahan Mikro Organisme Lokal Tape….. Akhsin Munawar, M. Taufik

Mikroorganisme lokal (MOL) dan air. Tahapannya yaitu pertama-tama menyiapkan terpal dengan ukuran secukupnya sebagai alas dasar. Kemudian dimasukkan jenis sampah rumah tangga sebanyak 25 kilogram di atas alas. Larutan MOL dibuat dengan menuangkan 2,5 liter MOL dalam 10 liter air dan diaduk hingga MOL terlarut dalam air. Lalu disiramkan sedikit demi sedikit larutan MOL yang telah diramu sebelumnya. Untuk pembuatan 10 kilogram sampah organik, diperlukan larutan MOL 25 ml. aduk lagi bahan kompos dan larutan MOL. Setelah bahan pupuk diaduk rata, ditutup dengan terpal atau plastik hingga rapi dan rapat. Sekitar 3-5 hari, adukan dibongkar dan diaduk ulang untuk mendapatkan hasil kompos yang baik. Pengamatan terus dilakukan sampai kompos sudah jadi dan ditandai dengan suhu stabil. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Waktu pengomposan dengan dosis 2 cc/kg, 3 cc/kg, 4 cc/kg, 5 cc/kg, dan 6 cc/kg

Pengulangan 1 2 3 4 5 Rerata

Waktu Pengomposan (hari) 2cc

3cc

4cc

5cc

6cc

20 20 21 20 20

18 17 18 18 18

16 17 16 16 16

15 14 14 15 14

13 13 13 12 13

17,8 17,8

16,2

14,4 12,8

Pada tabel 1 diatas dapat diketahui bahwa waktu pengomposan dengan penambahan berbagai dosis MOL tape mulai dari 2 cc/kg sampai dengan 6 cc/kg bervariasi mulai dari 12,8 sampai dengan 17,8 hari. Waktu tercepat proses pematangan kompos dengan penambahan dosis 6 cc/kg. Waktu pematangan kompos ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ulfa, 2012 bahwa ada perbedaan lama waktu pengomposan berdasarkan jenis mol tape nanas, nasi basi dan sludge sebagai bahan baku MOL yaitu Lama waktu pengomposan bervariasi mulai dari 8 hari sampai dengan maksimal 31 hari dengan

2013

rerata 12,25 hari. Sedangkan yang perbedaan lama waktu pengomposannya tidak signifikan adalah antara nasi basi dengan sludge. Tabel 2 Suhu pengomposan berdosis 2 cc/kg, 3 cc/kg, 4 cc/kg, 5 cc/kg, dan 6 cc/kg Pengulangan 1 2 3 4 5 Rerata

Waktu Pengomposan (hari) 2cc

3cc

4cc

5cc

6cc

20 20 21 20 20

18 17 18 18 18

16 17 16 16 16

15 14 14 15 14

13 13 13 12 13

17,8 17,8

16,2

14,4 12,8

Pada Tabel 2 diatas diketahui rerata suhu tertinggi proses pengomposan bervariasi yaitu dengan penambahan 2 cc/kg sampai dengan 6 cc/kg mulai dari 45,4 ˚C - 46,6 ˚C. Suhu tertinggi terjadi pada proses pengomposan dengan penambahan dosis 6 cc/kg yaitu 49˚C. Suhu yang lebih tinggi mengakibatkan proses dekomposisi lebih cepat. Peningkatan suhu diakibatkan oleh aktifitas mikroorganisme. Adanya perbedaan suhu dalam perlakuan juga terjadi pada penelitian yang dilakukan Kemas, 2012 yaitu suhu bervariasi untuk berbagai bahan kompos yaitu berkisar 3038°C dengan suhu yang paling efektif adalah pengomposan dengan penambahan sludge. Suhu ideal proses pengomposan adalah 30-60°C (mesofilik). Dengan demikian maka proses pematangan kompos menjadi lebih lama. MOL dibutuhkan mikroorganisme karena berfungsi sebagai makanan bagi mikroorganisme. Mollase menyediakan energi dan zat makanan bagi mikroorganisme dan membantu proses fermentasi (Murbandono, 2004) Secara keseluruhan rerata waktu dan suhu proses pengomposan dengan berbagai dosis MOL tape dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini.

3


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Wkt(Hr) 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0

Suhu (oC)

P1

P2

P3

P4

P5

Gambar 1. Rerata waktu dan suhu pengomposan dengan penambahan MOL tape

Gambar 1 tersebut di atas menunjukkan bahwa suhu pengomposan secara umum tidak ada perbedaan yang mencolok yaitu berkisar antara 45ËšC- 46ËšC. Tetapi jika dilihat variasi per perlakuan ada perbedaan yaitu suhu terendah 42 ËšC sedangkan suhu tertinggi 49ËšC. Perbedaan waktu proses pengomposan terjadi variasi mulai waktu terlama yaitu 21 hari pada perlakuan dosis 2 cc/kg pengulangan ketiga. Waktu yang paling efektif adalah pada perlakuan dengan penambahan MOL tape dosis 6 cc/kg pengulangan ke-4 yaitu hanya membutuhkan waktu 12 hari. Berdasarkan hasil penelitian uji statistic dengan menggunakan uji anova yaitu sebagai berikut (Prasetyo,2005): Tabel 9 Uji anova rata-rata kelompok data dosis pemberian mol tape No Dosis Mean Standar p. value cc/kg Deviasi 1 2 3 4 5

2 3 4 5 6

4

20,20 17,80 16,20 14,40 12,80

0,447 0,447 0,447 0,584 0,447

0,000

Hasil analisis menggunakan anova menunjukkan nilai probalitas adalah kurang dari 0,05. hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata antara pemberian mol tape dengan dosis 2cc, 3cc, 4cc, 5cc, dan 6cc memiliki perbedaan (ada hubungannya). Kemudian dilakukan uji post hoc test menggunakan uji LSD (least significance different) untuk mengetahui pasangan masing-masing kelompok data dengan pemberian dosis mol tape. Untuk mengetahui efektivitas perlakuan berbagai dosis MOL tape dalam mempercepat proses pengomposan diuji dengan anova sehingga diketahui dosis mana yang berpengaruh besar dalam mempercepat proses pengomposan. Pada hasil penambahan dosis MOL tape 2 cc/kg lama hari pengomposan yaitu 20 hari, pada pemberian dosis MOL tape 3 cc/kg lama hari pengomposan yaitu 18 hari, pada pemberian dosis MOL tape 4 cc/kg lama pengomosan yaitu 16 hari, pada pemberian dosis MOL tape 5 cc/kg lama pengomposan yaitu 14 hari, dan pada pemberian dosis MOL tape 6 cc/kg lama proses pengomposan yaitu 13 hari. Hasil rerata persentase lama proses pengomposan yang diperoleh dari gambar 1 diketahui bahwa waktu pengomposan berbanding terbalik dengan penambahan MOL tape. Semakin besar dosis MOL tape yang dimasukkan kedalam bahan kompos semakin cepat proses pematangannya. Penambahan MOL tape dosis 6 cc/kg merupakan disis yang paling efektif dalam mempercepat proses pengomposan sampah organik. Ada pengaruh antara efektivitas berbagai dosis penambahan mol tape, semakin tinggi dosis yang diberikan, semakin cepat proses pengomposan terjadi. Hal ini disebabkan semakin tingginya dosis mol tape yang diberikan, sehingga semakin banyak jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Peranan MOL tape dalam proses pengomposan sebagai penyedia makanan bagi mikroorganisme dekomposer dengan proses biologik secara aerobik dan anaerobik. Pada awalnya terjadi proses secara aerob karena tersedianya oksigen (O2) sedangan setelah kondisi tidak tersedianya O2 terjadi secara anaerobik.


Efektivitas Penambahan Mikro Organisme Lokal Tape‌.. Akhsin Munawar, M. Taufik

Pada saat proses anaerobik maka yang melakukan aktivitas adalah keompok bakteri methagonesis, yang menghasilkan gas methana dengan memakan CO2, hidrogen, dan asam organik dan produk lain. Penambahan MOL dalam proses pengomposan dapat dijadikan sebagai salah satu pemecahan masalah lingkungan yang diakibatkan sampah di daerah perkotaan sebagaimana hasil kajian di daerah periurban (Koesparmadi, 2005) KESIMPULAN DAN SARAN Ada hubungan yang bermakna antara berbagai penambahan dosis MOL tape dalam mempercepat proses pengomposan. Ada pengaruh yang bermakna antara efektivitas penambahan berbagai dosis MOL tape dalam mempercepat proses pengomposan. Semakin tinggi dosis yang diberikan maka semakin cepat proses pengomposan. Penambahan MOL tape dosis 6 cc/kg dapat dijadikan sebagai alternatif mempercepat proses pengomposan sampah organik. Perlu penelitian lebih lanjut untuk jenis sampah organik lainnya dengan dosis berbeda.

2013

DAFTAR PUSTAKA Andi

Mattalatta, 2008. Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Jakarta: Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Ferry, James editor, 1993. Methanogenesis: Ecology, Physiology, Biochemistry, & Genetics. Chapman & Hall Inc, New York. Koesparmadi, Adiyanti Buchholz, Ibnu Fazar, Budi H. Nugroho, Muhlisin . 2005. Persampahan di daerah periurban. Jurnal Dinamika Periurban, Volume II November 2005. Murbandono HS, 2004. Membuat Kompos (edisi revisi). Jakarta : Penebar Swadaya. Notoatmodjo, Soekidjo, 2002. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta. Ricki M. Mulia, 2005. Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Graha Ilmu. Prasetyo, Bambang. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada Rukaesih, Achmad, 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi. Setiawan Susilo, Budi, 2010. Membuat Pupuk Kandang Secara Cepat. Jakarta: Penebar Swadaya. Soedomo, Moestikahadi, 1999. Pencemaran Udara. Bandung: Penerbit ITB. Sucipto,Cecep Dani. Teknologi Pengolahan Daur Ulang Sampah. Yogyakarta:Gosyen Publishing, 2012.

5


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

EFEKTIFITAS KONSUMSI APEL, MENTIMUN DAN BENGKOANG TERHADAP PENURUNAN pH PLAK Retno Dwi Sari, Valentina Nurwati Kayo Dosen Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Jambi

ABSTRAK Masalah kesehatan gigi dan mulut pada umumnya karena adanya plak. Plak penyebab terjadinya karies dan penyakit jaringan periodontal, dapat hilang bila dibersihkan melalui beraneka macam cara. Salah satu cara kontrol plak, dapat dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang bersifat membersihkan yaitu buah-buahan, seperti pepaya, nanas, apel, belimbing, bengkoang, tebu, serta sayursayuran yang mentah. Makanan tersebut baik untuk dikonsumsi sebagai pengganti makanan yang manismanis dan sekaligus mempunyai daya bersih. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas konsumsi apel, mentimun dan bengkoang terhadap pH plak. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimental dengan model rancangan ulang (pre-posttest design). Tehnik pengambilan sampel secara purposive sampling sebanyak 20 orang. Alat ukur yang dipergunakan adalah nilai pH plak dengan melihat nilai range pH plak yang didapat dari hasil pemantauan mempergunakan plaque-check+pH. Analisa data yang dilakukan secara deskriptif dengan tabel distribusi relative, dan auntuk melihat beda efektifitas konsumsi buah apel, mentimun, bengkoang dengan kelompok kontrol dipergunakan uji beda Mann Whitney. Untuk melihat beda efektifitas antara konsumsi buah apel, mentimun, dan bengkoang, dipergunakan uji beda Kruskal Wallis. Hasil penelitian memperlihatkan tidak ada perbedaan pH plak pada kelompok komsumsi apel dengan kelompok kontrol (p > 0,05). Tidak ada perbedaan pH plak pada kelompok konsunsi mentimun dengan kelompok kontrol (p > 0,05). Ada perbedaan pH plak pada kelompok konsumsi bengkoang dengan kelompok kontrol yaitu pada selisih pH plak antara pre dan post 1 sebesar 0,018 (p < 0,05) serta pada selisih pH plak antara pre dan post 2 sebesar 0,007 (p < 0,05). Tidak ada perbedaan efektifitas konsumsi apel, mentimun serta bengkoang terhadap pH plak (p > 0,05). Kata kunci : pH plak, apel, mentimun, bengkoang

PENDAHULUAN Mulut merupakan pintu masuk beraneka ragam makanan dan minuman. Makanan dan minuman tersebut ada yang dapat merugikan kesehatan gigi dan mulut, karena makanan bisa mempengaruhi keadaan di dalam mulut secara lokal selama pengunyahan dan ini tergantung dari isi makanan dan fungsi mekanis makanan yang dimakan (Tarigan, 1990). Timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada umumnya karena adanya plak. Plak gigi ialah lapisan tipis yang diliputi oleh deposit saliva, bakteri dan produk samping dari metabolisme bakteri

6

yang melekat di permukaan gigi dan tidak berwarna. Keasaman pada saliva yang diakibatkan oleh makanan yang mengandung gula seperti permen, cokelat dan biskuit sehingga mengakibatkan penurunan pada pH plak sampai level yang dapat menyebabkan demineralisasi email. Plak ini akan bersifat asam sehingga dapat menurunkan pH plak dan berlanjut menjadi karies gigi (Eccles dan Green, 1994). Beberapa macam bakteri plak mempunyai kemampuan untuk melakukan fermentasi substrat karbohidrat dalam makanan yang sesuai (misalnya glukosa dan sukrosa) sehingga membentuk asam dan mengakibatkan turunnya pH sampai di


Efektifitas Konsumsi Apel, Mentimun dan Bengkoangâ&#x20AC;Ś. Retno Dwi Sari, Valentina Nurwati Kayo

bawah 5 atau 4,5 dalam tempo 1-3 menit. Plak tersebut tetap asam untuk beberapa waktu dan untuk kembali ke pH normal sekitar 6-7, diperlukan waktu sekitar 30-60 menit (Kidd dkk, 1992). Dibutuhkannya waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam sehingga dapat mengakibatkan terjadinya demineralisasi email. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan berulang-ulang akan tetap menahan ph plak di bawah normal dan menyebabkan demineralisasi enamel. Sintesa polisakharida ekstra sel dari sukrosa lebih cepat daripada glukosa, fruktosa, dan laktosa. Oleh karena itu, sukrosa merupakan gula yang paling kariogenik, walaupun gula lainnya tetap berbahaya. Karena sukrosa merupakan gula yang paling banyak di konsumsi, maka sukrosa merupakan penyebab karies yang utama. Gambar 1. di bawah ini memperlihatkan perubahan pH plak beberapa saat setelah kumur-kumur dengan larutan glukosa dan disebut lengkung Stephan.

Gambar 1. Perubahan pH setelah berkumur dengan glukosa (lengkung Stephan)

2013

Seperti telah kita ketahui, saliva mempunyai beberapa fungsi yang salah satunya adalah mencegah karies. Kecepatan sekresi saliva dan derajat keasaman saliva merupakan faktor penting dalam proses karies. Oleh karena itu apabila kecepatan sekresi saliva meningkat, pH plak dan pH saliva akan meningkat juga. Carranza (1990) menyatakan bahwa kecepatan aliran saliva paling tinggi pada waktu makan dan kembali normal setelah 12 jam. Secara teori saliva dapat mempengaruhi proses terjadinya karies dalam berbagai cara, antara lain aliran saliva dapat menurunkan akumulasi plak pada permukaan gigi dan juga menaikkan tingkat pembersihan karbohidrat dari rongga mulut (Soesilo dkk, 2005). Rongga mulut dilindungi oleh saliva yang merupakan bahan alkaline dan melindungi jaringan mulut terhadap sifat asam dari makanan dan plak, karena saliva berfungsi sebagai buffer dan netralisasi yang sangat efektif untuk mengurangi sifat kariogenik dari makanan (Amerongen dkk, 1992, Edgar, 1992, cit. Ismiyatin, 2002). Plak penyebab terjadinya karies dan penyakit jaringan periodontal, dapat hilang bila dibersihkan melalui prosedur pembersihan gigi dengan beraneka macam cara (Eccles dan Green, 1994). Salah satu cara kontrol plak dapat dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang bersifat membersihkan yaitu buah-buahan, seperti pepaya, nanas, apel, belimbing, bengkoang, tebu, serta sayur-sayuran yang mentah. Makanan tersebut baik untuk dikonsumsi sebagai pengganti makanan yang manis-manis dan sekaligus mempunyai daya bersih (Ariningrum, 2000). Makanan yang banyak mengandung air berarti sedikit mengandung karbohidrat dan sebaliknya. Makanan berserat seperti sayur-sayuran dan buahbuahan mengandung 75-95% air. Sayursayuran dan buah-buahan merupakan pembersih alamiah pada permukaan oklusal gigi-geligi, berkaitan dengan serat yang terkandung didalamnya. Serat dapat memperlambat proses makan, menghambat laju pencernaan makanan, dan meningkatkan intensitas pengunyahan. Proses mengunyah makanan berserat akan

7


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

merangsang produksi air liur. Air liur dapat melindungi gigi dari proses kerusakan (Chemiawan et al., 2007). Mentimun mempunyai kandungan air hampir mencapai 90%, apabila dikonsumsi sangat baik untuk penyakit mulut termasuk juga seperti penyakit gusi serta gigi. Buah bengkoang terdapat kandungan kalsium, fosfor, dan inulin juga mengandung kadar air 86-90%, maka bengkoang sangat baik dikonsumsi untuk menjaga konsistensi tulang dan gigi. Pada pengunyahan apel dapat menyingkirkan sisa-sisa makanan yang melekat di belakang gigi (Taufik, 2008 cit. Damanik, 2010). Buah apel selain mempunyai daya bersih, juga mampu menangkal berbagai macam penyakit, akan tapi jika dikonsumsi secara berlebihan dapat berbahaya bagi kesehatan gigi. Melihat latar belakang diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk membuktikan efektifitas dari konsumsi apel, mentimun dan bengkoang terhadap pH plak.

BAHAN DAN CARA KERJA Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan model rancangan ulang (pre-postest design) dan dilakukan di Klinik Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Jambi. Dan subyek penelitiannya adalah mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Jambi yang memenuhi kriteria, dan bersedia membantu dalam pelaksanaan penelitian dengan menanda tangani Informed Consent dan berjumlah 20 orang. Untuk penelitian eksperimen, yang menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, maka jumlah anggota sampel masing-masing 10 s/d 20 (Sugiyono, 2007). Mahasiswa yang dipilih adalah yang mempunyai nilai DMF-T dari 0 sampai 5 dengan kedalaman karies baru mencapai enamel, serta tidak dalam perawatan orthodonti.

8

Bahan utama dalam penelitian ini adalah buah apel, mentimun, dan bengkoang. Setiap kali dikonsumsi bahan ditimbang dengan berat kurang lebih 200 gram per subyek penelitian. Wafer dikonsumsi pada waktu pretest untuk menyamakan kondisi mulut subyek penelitian. Alat yang dibutuhkan terutama adalah Plaque Check & pH Indicator, serta alat lain seperti kaca mulut, pinset, dan chip blower. Bahan yang diperlukan adalah kapas, alkohol, handuk, lap, baskom, nierbekken. Variabel bebas adalah konsumsi apel, mentimun dan bengkoang, sedangkan variabel terikat nya adalah pH plak. Adapun definisi operasional konsumsi apel, mentimun dan bengkoang adalah memakan apel, mentimun dan bengkoang seberat 200 gram dengan pengunyahan selama 5 menit. Dan pH plak adalah nilai range pH plak yang didapat dari hasil pemantauan mempergunakan plaquecheck+pH. Adapun jalannya penelitian, dimulai dengan pembagian sampel menjadi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol dan masing-masing terdiri dari 20 mahasiswa. Sebelum intervensi, sampel diminta mengkonsumsi wafer. Selanjutnya 2 menit setelah makan wafer dipantau pH plak (pretest). Tahap intervensi dengan mengkonsumsi apel, mentimun dan bengkoang seberat 200 gram dilakukan secara bergantian. Pemantauan pH plak dilakukan setelah 2 menit (posttest 1), 10 menit (posttest 2), 30 menit (posttest 3) dan 60 menit (posttest 4) dari selesai mengkonsumsi buah. Pada kelompok kontrol pemantauan pH plak dilakukan 2 menit setelah makan wafer (pretest). Kemudian tahap non intervensi selama 5 menit dan selanjutnya dipantau pH plak setelah 2 menit (posttest 1), 10 menit (posttest 2), 30 menit (posttest 3) dan 60 menit (posttest 4) dari akhir tahap non intervensi.


Efektifitas Konsumsi Apel, Mentimun dan Bengkoang…. Retno Dwi Sari, Valentina Nurwati Kayo

Untuk analisa deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi relative. Uji Normalitas sebaran data dilakukan dengan uji Kolmogorov Smirnov. Kemudian untuk melihat perbedaan pH plak pada kelompok perlakuan (apel, mentimun dan bengkoang) dengan kelompok kontrol, dilakukan uji statistik nonparametrik Mann Whitney karena jumlah sampel < dari 30. Serta untuk melihat efektifitas konsumsi buah apel, mentimun dan bengkoang terhadap pH plak dilakukan uji statistik nonparametrik Kruskal Wallis, juga karena jumlah sampel < dari 30.

Tabel 2. Hasil Uji Statistik Non Parametrik Mann Whitney Pada Selisih pH Plak Kelompok Perlakuan Dengan Kelompok Kontrol pH Plak Uji Mann Kelompok Sampel N Whitney (Sig.) Apel

Mentimun

HASIL DAN PEMBAHASAN Pada perhitungan secara deskriptif di dapat hasil rata rata pH plak sebelum dan sesudah perlakuan pada masingmasing kelompok (apel, mentimun dan bengkoang) serta kelompok kontrol (Tabel 1). Tabel 1. Rata-rata pH Plak Sebelum dan Sesudah Pada Kelompok Sampel pH plak Kelompok MeanMean Mean Mean Rata Sampel Mean post post post post Rata Pre 1 2 3 4 Post Apel

20 5,76 6,18 6,25 6,36 6,36 6,3

Mentimun

20 5,74 6,25 6,17 6,31 6,37 6,3

Bengkoang 20 5,70 6,37 6,54 6,35 6,56 6,5 Kontrol

20 5,90 6,09 6,23 6,40 6,49 6,3

Tabel 1 memperlihatkan bahwa rata-rata pH plak posttest (setelah perlakuan) pada kelompok konsumsi bengkoang mempunyai nilai pH plak paling tinggi yaitu sebesar 6,5 dibandingkan kelompok konsumsi apel, mentimun serta kelompok kontrol. Pada kelompok konsumsi apel, mentimun serta kelompok kontrol mempunyai nilai rata-rata pH plak (posttest) sama sebesar 6,3.

2013

Bengkoang

Pre – Post 1 Pre – Post 2 Pre – Post 3 Pre – Post 4

20 20 20 20

0,481 0,226 0,481 0,989

Pre – Post 1 Pre – Post 2 Pre – Post 3 Pre – Post 4 Pre – Post 1 Pre – Post 2 Pre – Post 3 Pre – Post 4

20 20 20 20 20 20 20 20

0,237 0,654 0,645 0,765 0,018* 0,007* 0,408 0,207

Uji statistik non parametrik Mann Whitney dilakukan karena jumlah sampel < 30, dan uji statistik tersebut untuk melihat perbedaan pH plak pada kelompok perlakuan (apel, mentimun dan bengkoang) dengan kelompok kontrol (Tabel 2). Pada tabel di atas memperlihatkan hasil uji statistik yang bermakna adalah kelompok perlakuan konsumsi bengkoang pada selisih pH plak antara pre dan post 1 sebesar 0,018 ( p < 0,05 ) serta pada selisih antara pre dan post 2 sebesar 0,007 ( p < 0,05 ). Untuk melihat perbedaan antar kelompok perlakuan (apel, mentimun dan bengkoang), maka memakai uji satatistik non parametrik karena jumlah sampel < 30 orang. Tabel 3. Hasil Uji Statistik Non Parametrik Kruskal Wallis Pada Selisih pH Plak Antar Kelompok Perlakuan (Apel, Mentimun dan Bengkoang) pH Plak

Selisih pH Plak Antar Kelompok Perlakuan

N

Pre – Post 1 Pre – Post 2 Pre – Post 3 Pre – Post 4

20 20 20 20

Kruskal Wallis (Sig.) ,292 ,070 ,920 ,375

9


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Pada tabel 3 untuk melihat perbedaan pH plak antar kelompok perlakuan (apel, mentimun dan bengkoang) digunakan uji statistik Kruskal Wallis. Hasil dari uji statistik tersebut memperlihatkan bahwa antar kelompok perlakuan tersebut tidak ada perbedaan bermakna karena p > 0,05. Dari hasil uji statistik ( tabel 2 ), pH plak pada konsumsi apel serta kelompok kontrol tidak ada perbedaan bermakna, baik pada selisih pH plak antara pre â&#x20AC;&#x201C; post 1, pre â&#x20AC;&#x201C; post 2, pre â&#x20AC;&#x201C; post 3 serta pre â&#x20AC;&#x201C; post 4 ( p > 0,05 ). Kondisi ini menunjukkan bahwa mengkonsumsi apel tidak menunjukkan perbedaan pH plak dibandingkan dengan tidak mengkonsumsi apa-apa. Taufik (2008, cit., Damanik 2010) mengatakan bahwa pada pengunyahan apel dapat menyingkirkan sisa-sisa makanan yang melekat di belakang gigi. Namun dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi apel tidak ada perbedaan bermakna terhadap perubahan pH plak dibandingkan tidak mengkonsumsi apa-apa. Kesamaan kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi sampel yang sama serta teori lengkung Stephan (Kidd dan Bechal, 1992) yaitu plak akan tetap bersifat asam selama beberapa waktu dan akan kembali ke pH normal sekitar 7 dengan waktu sekitar 30 â&#x20AC;&#x201C; 60 menit. Dalam mengkonsumsi buah apel ada satu hal yang perlu diwaspadai, yaitu buah apel lebih banyak mengandung karbohidrat yang dapat mempengaruhi turunnya pH plak. Pengaruh ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Taufik (2008, cit., Damanik 2010), bahwa buah apel jika dikonsumsi secara berlebihan dapat berbahaya bagi kesehatan gigi. Akan tetapi apel banyak manfaat nya untuk kesehatan lain yang terletak pada kandungannya dalam apel yaitu adanya serat yang larut dalam air berupa karoten dan pektin. Pektin dikenal sebagai anti kolesterol dan dapat menurunkan kolesterol darah bila berinteraksi dengan vitamin C. Apel juga bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah, menstabilkan gula darah, mempertahankan kesehatan urat syaraf, antikanker, dan obat jantung yang baik. Pektin yang terkandung dalam buah apel merupakan serat yang larut dalam air,

10

berperan meluruhkan (menurunkan) kadar kolesterol jahat atau LDL yang dapat menyumbat pembuluh darah. Pada saat yang sama, pektin juga menaikkan kadar kolesterol baik atau HDL. Semakin tinggi tingkat HDL seseorang, semakin rendah orang tersebut beresiko terkena penyakit jantung (Wijoyo, P.M., 2012). Apel juga berfungsi mengontrol keluarnya insulin agar tidak berlebihan. bila dikonsumsi secara teratur, apel dapat menjaga keseimbangan gula darah. Jadi disini buah apel berkhasiat memperlancar sirkulasi darah untuk memperbaiki fungsi pankreas. Pada kelompok konsumsi mentimun, pada uji statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna ( p > 0,05 ) dibandingkan kelompok kontrol terhadap perubahan pH plak ( tabel 2. ). Hal ini menunjukkan bahwa perubahan pH plak nya sama saja antara mengkonsumsi mentimun dengan tidak mengkonsumsi apa-apa. Keadaan ini juga didukung dari gambaran deskriptif (tabel 1.) yang memperlihatkan bahwa nilai rata-rata pH plak setelah mengkonsumsi mentimun dan tidak mengkonsumsi mentimun, hasilnya sama saja yaitu mempunyai nilai 6,3. Walaupun mengkonsumsi mentimun tidak mempunyai pengaruh terhadap perubahan plak, akan tetapi mengkonsumsi mentimun mempunyai kelebihan terhadap kesehatan yang lain. Buah mentimun banyak mengandung kadar air (hampir mencapai 90%), Banyaknya kandungan air dalam ketimun ini sangat bagus untuk memperlancar buang air kecil, juga bermanfaat untuk membantu menghilangkan serta menetralkan toksin atau racun, kemudian juga dapat membantu melunturkan bakter-bakteri yang terdapat di sepanjang saluran usus serta dinding kandungan kemih. Kemudian seratnya yang tinggi berguna untuk menurunkan kolesterol, dan menetralkan racun. Uji statistik untuk melihat perbedaan perubahan pH plak pada kelompok konsumsi bengkoang dengan kelompok kontrol menghasilkan adanya perbedaan bermakna (tabel 2.), yaitu pada selisih pH plak antara pre dan post 1 sebesar 0,018 ( p < 0,05 ) serta pada selisih antara pre dan post 2 sebesar 0,007 ( p <


Efektifitas Konsumsi Apel, Mentimun dan Bengkoang…. Retno Dwi Sari, Valentina Nurwati Kayo

0,05 ). Keadaan ini memperlihatkan bahwa perubahan pH plak pada konsumsi bengkoang khususnya pada selisih antara pre dan post 1 serta selisih antara pre dan post 2 lebih besar dibandingkan selisih antara pre dan post 1 serta selisih antara pre dan post 2 pada kelompok yang tidak mengkonsumsi buah (kelompok kontrol). Perbedaan bermakna tersebut juga didukung dari data deskriptif (tabel 1.) yang menunjukkan bahwa rata-rata pH plak posttest (setelah perlakuan) pada kelompok konsumsi bengkoang mempunyai nilai pH plak paling tinggi yaitu sebesar 6,5 dibandingkan kelompok konsumsi apel, mentimun serta kelompok kontrol. Perbedaan bermakna tersebut dapat terjadi karena bengkoang terdapat kandungan kalsium, fosfor, dan inulin juga mengandung kadar air 86-90%, maka bengkoang sangat baik dikonsumsi untuk menjaga konsistensi tulang dan gigi. Inulin merupakan serat makanan. Adanya serat makanan dapat memperlambat proses makan, menghambat laju pencernaan makanan, dan meningkatkan intensitas pengunyahan. Proses mengunyah makanan berserat akan merangsang produksi air liur. Air liur dapat melindungi gigi dari proses kerusakan (Chemiawan et al., 2007). Hal tersebut terjadi karena secara teori saliva dapat mempengaruhi proses terjadinya karies dalam berbagai cara, antara lain aliran saliva dapat menurunkan akumulasi plak pada permukaan gigi dan juga menaikkan tingkat pembersihan karbohidrat dari rongga mulut (Soesilo dkk, 2005). Pada tabel 1. terlihat nilai pH plak untuk konsumsi bengkoang pada post 1 (dipantau pH plak setelah 2 menit) sebesar 6,37 dan pada kelompok kontrol sebesar 6,09. Kemudian nilai pH plak untuk konsumsi bengkoang pada post 2 (setelah 10 menit) sebesar 6,54 dan pada kelompok kontrol sebesar 6,23. Kondisi diatas memperlihatkan perbedaan nilai yang cukup besar antara konsumsi bengkoang dengan kelompok kontrol, yang mana pada konsumsi kelompok konsumsi bengkoang pada post 1 dan post 2 sudah mendekati pH 7 (pH normal). Jadi dapat dikatakan mengkonsumsi bengkoang lebih aman terhadap kemungkinan terjadinya

2013

demineralisasi email sehingga terhindar dari karies gigi. Menurut Kidd dan Bechal (1992), beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa, dapat diragikan oleh bakteri tertentu dan membentuk asam sehingga pH plak akan menurun sampai di bawah 5 dalam tempo 1 – 3 menit. Penurunan pH yang berulangulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi yang rentan dan proses kariespun dimulai. Bengkoang selain bermanfaat bagi kesehatan gigi, juga bermanfaat kesehatan lain. Inulin yang tedapat didalamnya mempengaruhi fungsi usus dengan meningkatkan massa feses dan meningkatkan frekuensi defekasi terutama pada penderita konstipasi, penurunan kadar trigliserida serum dan kolesterol darah pada penderita hiperkolesterolemik, serta dapat membantu mencegah osteoporosis karena adanya inulin. Pada tabel 3 terlihat hasil uji statistik untuk melihat perbedaan perubahan pH plak antar kelompok perlakuan, yaitu mengkonsumsi apel, mentimun dan bengkoang Dan hasilnya menunjukkan bahwa perubahan pH plak pada pre – post 1, pre – post 2, pre – post 3 dan pre – post 4 tidak ada perbedaan bermakna (p > 0,05). Kemudan dari data deskriptif (tabel 1.) menunjukkan rata-rata pH plak pada posttest (posttest 1, 2, 3 dan 4) hampir sama nilainya yaitu pada apel dan mentimun mempunyai nilai pH plak 6,3, sedangkan pada bengkoang pH plak 6,5. Perbedaan pada bengkoang relatif kecil, sehingga dapat dikatakan bahwa pH plak pada posttest semuanya (apel, mentimun dan bengkoang) mendekati pH 7 (pH normal). Kondisi ini memperlihatkan bahwa mengkonsumsi buah apel, mentimun dan bengkoang, pengaruhnya sama saja terhadap nilai pH plak pada gigi. Keadaan tersebut mempunyai makna bahwa buahbuahan tersebut (apel, mentimun dan bengkoang) apabila dikonsumsi, yang sama-sama merupakan buah yang berserat tinggi serta mengandung kadar air yang tinggi, sama efeknya terhadap kesehatan gigi dan mulut. Seperti yang dikatakan oleh Damanik (2010), proses mengunyah

11


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

makanan berserat dapat meningkatkan produksi saliva yang berperan dalam mengurangi pembentukan plak gigi serta terjadinya karies. Rongga mulut dilindungi oleh saliva yang merupakan bahan alkaline dan melindungi jaringan mulut terhadap sifat asam dari makanan dan plak, karena saliva berfungsi sebagai buffer dan netralisasi yang sangat efektif untuk mengurangi sifat kariogenik dari makanan (Amerongen dkk, 1992, Edgar, 1992, cit. Ismiyatin, 2002). KESIMPULAN DAN SARAN Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pH plak pada kelompok komsumsi apel dengan kelompok kontrol (p > 0,05). Juga tidak ada perbedaan pH plak pada kelompok konsunsi mentimun dengan kelompok kontrol (p > 0,05). Namun ada perbedaan pH plak pada kelompok konsumsi bengkoang dengan kelompok kontrol yaitu pada selisih pH plak antara pre dan post 1 sebesar 0,018 ( p < 0,05 ) serta pada selisih pH plak antara pre dan post 2 sebesar 0,007 (p < 0,05 ). Dan tidak ada perbedaan efektifitas konsumsi apel, mentimun serta bengkoang terhadap pH plak (p > 0,05). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat perubahan pH saliva setelah mengkonsumsi buah. Selain itu juga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat pertumbuhan bakteri streptokokus mutans dan laktobasilus pada permukaan gigi setelah mengkonsumsi buah

12

DAFTAR PUSTAKA Ariningrum.A., 2000, Beberapa Cara Menjaga Kebersihan Gigi dan Mulut, Cermin Dunia Kedokteran No. 126, hal 45 â&#x20AC;&#x201C; 51. Carranza,E.A., 1990, Newman MG: Clinical Periodontology, 9th Ed.Philadelphia. W.B.Saunders. Hal.76 Chemiawan.E., Riyanti.E., Fransisca.F., 2007, Perbedaan Tingkat Kebersihan Gigi dan Mulut Antara Anak Vegetarian dan Non Vegetarian di Vihara Maitreya Pusat Jakarta, Jurnal Kedokteran Gigi Indonesia Edisi Khusus PIN IKGA II, 79 â&#x20AC;&#x201C; 84. Damanik.S., Prawira.A., 2010, Status Oral Higiene dan Karies Gigi pada Vegetarian dan Non Vegetarian di Maha Vihara Maitreya Medan, Dentika Dental Journal, Vol 15. No.1, hal 46-50. Eccles, J.D., Green, R.M., 1994, Konservasi Gigi, Penerbit Widya Medika, Jakarta. Ismiyatin., 2002, Hubungan Efektivitas Buffer Saliva Dengan Intensitas Karies, library@lib.inair.ac;libunair@indo.net.id Kidd, E.A.M., Bechal,S.J., 1992, Dasar-dasar Karies Penyakit dan Penanggulangannya, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Soesilo, D., Santoso, R.E., Diyatri, I., 2005. Peranan Sorbitol Dalam Mempertahankan Kestabilan pH Saliva Pada Proses Pencegahan Karies, Majalah Ked. Gigi (Dent.J), Vol.38, No.1, hal. 25 â&#x20AC;&#x201C; 28. Sugiyono, 2007., Statistik Nonparametris untuk Penelitian, CV. Alfabeta, Bandung. Tarigan, R.,1990, Karies Gigi, Hipokrates, Jakarta. Wijoyo.P.M., 2012, Cara Tuntas Menyembuhkan Diabetes Dengan Herbal, Penerbit Pustaka Agro Indonesia, Jakarta Selatan.


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

FAKTOR â&#x20AC;&#x201C; FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN KONTROL ULANG PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUTRI AYU KOTA JAMBI TAHUN 2011 Ismail HS dan Daryono Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Jambi

ABSTRAK Pada dasarnya pemeriksaan tekanan darah dianjurkan untuk semua orang baik yang menderita hipertensi maupun yang normal. Pemantauan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi yang mendapatkan pengobatan merupakan hal yang paling berkaitan dengan keefektifan pengobatan yang dilakukan dan perubahan tekanan darah yang mengindikasikan perlunya perubahan rencana pengobatan. Perawatan lanjutan penting sehingga proses penyakit dapat dikaji dan ditangani berdasarkan apa yang ditemukan pada saat dilakukan pengkajian dan pemeriksaan. Dalam laporan dari Joint National Commite in Prevention (JNC) VII, pasien yang mendapatkan terapi obat hipertensi memerlukan kunjungan ulang untuk tindak lanjut dan penyesuaian pengobatan. Kegiatan tersebut dilakukan setiap bulan sampai tujuan terapi tercapai. Kunjungan lebih sering diperlukan bagi mereka yang mengalami hipertensi tahap dua atau hipertensi dengan komplikasi atau faktor morbiditas. Setelah tekanan darah sesuai dengan tujuan terapi dan stabil, maka kunjungan dapat dilakukan dalam interval 3-6 bulan. Tetap tingginya incidence rate kasus hipertensi, dan menurun tajamnya jumlah pasien hipertensi yang berkunjung dan besarnya proporsi pasien hipertensi (60 %) yang tidak kontrol ulang pada survey awal menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel dependen dan pengukuran variabel dilakukan pada waktu yang bersamaan. Adapun variabel yang diteliti antara lain pengetahuan, motivasi, dukungan Keluarga dan peran petugas kesehatan dengan kepatuhan kontrol ulang. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi dengan melakukan wawancara pada pasien hipertensi dengan jumlah sampel sebanyak 81 orang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei s/d Agustus 2012. Disimpulkan kepatuhan kontrol ulang hipertensi berhubungan dengan pekerjaan, motivasi, pengetahuan dan dukungan keluarga serta lebih ditentukan oleh variabel motivasi. Kata Kunci; Perilaku kepatuhan kontrol ulang hipertensi, umur pasien, jenis kelamin, pekerjaan, pengetahuan, motivasi, dukungan keluarga dan peran petugas kesehatan.

PENDAHULUAN Hipertensi merupakan faktor penyebab yang terpenting pada 500.000 kasus stroke yang dilaporkan setiap tahunnya, dan 150.000 diantaranya berakhir dengan kematian. 40% diantara mereka yang sembuh memerlukan perawatan khusus sepanjang sisa hidupnya dan 10% harus dirawat secara permanen di Rumah Sakit. Kira-kira dua juta korban stroke di Amerika Serikat terganggu kemampuannya disebabkan kelumpuhan salah satu anggota tubuh akibat tekanan darah tinggi yang sangat merugikan (Diehl, 1990:7). Pengendalian tekanan darah menjadi hal yang penting bagi pasien yang

sudah menderita hipertensi maupun pre hipertensi. Terapi farmakologis pada pasien hipertensi dapat menurunkan resiko terjadinya stroke 35-45% dan yang mengakibatkan kematian akibat jantung koroner hingga 15-20% (Kiongdo, 1996,26). Pada dasarnya pemeriksaan tekanan darah dianjurkan untuk semua orang baik yang menderita hipertensi maupun yang normal. Pemantauan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi yang mendapatkan pengobatan merupakan hal yang paling berkaitan dengan keefektifan pengobatan yang dilakukan dan perubahan tekanan darah yang mengindikasikan perlunya perubahan rencana pengobatan. Perawatan lanjutan penting sehingga proses penyakit dapat dikaji dan ditangani

13


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

berdasarkan apa yang ditemukan pada saat dilakukan pengkajian dan pemeriksaan (Sani, 2008). Dalam laporan dari Joint National Commite in Prevention (JNC) VII, pasien yang mendapatkan terapi obat hipertensi memerlukan kunjungan ulang untuk tindak lanjut dan penyesuaian pengobatan. Kegiatan tersebut dilakukan setiap bulan sampai tujuan terapi tercapai. Kunjungan lebih sering diperlukan bagi mereka yang mengalami hipertensi tahap dua atau hipertensi dengan komplikasi atau faktor morbiditas. Setelah tekanan darah sesuai dengan tujuan terapi dan stabil, maka kunjungan dapat dilakukan dalam interval 36 bulan (Chobanian et al, 2003:9). Kepatuhan kontrol ulang berobat pada pasien hipertensi akan membantu mempercepat penyembuhan karena hipertensi sangat rentan akan kambuh kembali bahkan bisa menyebabkan kematian apabila pasien tidak melakukan kontrol ulang berobat dan juga makan obat sesuai anjuran petugas kesehatan. (Sani, 2008). Berdasarkan data dari registrasi Puskesmas yang ada di Kota Jambi, pada tahun 2010 penyakit hipertensi esensial (hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya) menempati peringkat nomor kelima dari sepuluh penyakit terbesar lainnya di Kota Jambi. Pada tahun 2010 jumlah kunjungan tertinggi penyakit hipertesi terdapat di Puskesmas Olak Kemang yaitu sebanyak 2.925 (215,4%), sedangkan di Puskesmas Putri Ayu jumlah kunjungan pasien hipertensi tahun 2010 sebanyak 2.360 orang (94.4 %) berada diurutan ketiga (Dinas Kesehatan Kota, 2011). Bila dilihat dari laporan tahunan Puskesmas Putri Ayu pada dua tahun terakhir insidence rate kasus hipertensi tetap mengalami peningkatan. Tahun 2010 jumlah pasien baru hipertensi sebanyak 1296 orang. Tahun 2011 jumlah pasien baru hipertensi sebanyak 1032 orang. Jumlah pasien baru hipertensi tetap tinggi, namun terjadi penurunan jumlah pasien lama hipertensi untuk melakukan kontrol ulang yaitu dari 1064 pada tahun 2010 menjadi 660 pada tahun 2011.

14

BAHAN DAN CARA KERJA Kerangka konsep pada penelitian ini mengacu kepada teori yang dikemukakan oleh Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007:178) mengidentifikasikan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor yakni faktor presdiposisi (presdiposising factor) meliputi pengetahuan, sikap, tradisi dan kepercayaan masyarakat, nilai, pendidikan, sosial ekonomi dan sebagainya. Faktor pendukung (enabling factor) meliputi lingkungan fisik dan tersedia atau tidak tersedia sarana kesehatan. Faktor pendorong (reinforcing factor) meliputi, dukungan keluarga, dukungan tokoh masyarakat, dukungan teman sebaya dan petugas kesehatan. Variabel yang diteliti antara lain pengetahuan pasien, motivasi pasien, dukungan keluarga dan peran petugas kesehatan, karena bahwa faktor tersebut merupakan fenomena masalah yang ditemui dilapangan. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi variabel demografi (umur, jenis kelamin, pekerjaan), pengetahuan, motivasi, dukungan keluarga dan peran petugas kesehatan. Variabel dependen dalam penelitian ini kepatuhan kontrol ulang pasien hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian yang digunakan yaitu cross sectional (potong lintang) yang mengukur variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat) secara bersamaan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien hipertensi dan berdomisili diwilayah Puskesmas Putri Ayu yang tercatat berkunjung dari bulan Januari sampai dengan bulan Mei Tahun 2012 sebanyak 603 orang, dengan kriteria sampel adalah pasien kontrol ulang minimal sebanyak 2 kali dan hipertensi essensial. Sampel adalah pasien hipertensi essensial yang kontrol ulang minimal sebanyak 2 kali dan bersedia menjadi responden penelitian. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 81 responden dan diambil secara simple random sampling. pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni hinga Juli Tahun 2012 Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara menggunakan alat ukur


Faktor â&#x20AC;&#x201C; Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Kontrol Ulang Pasien Hipertensi â&#x20AC;Ś Ismail HS dan Daryono

berupa kuesioner. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi pada bulan Mei hinga Agustus Tahun 2012. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat serta uji multivariat untuk mengetahui faktor yang paling dominan terhadap variabel dependen. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien hipertensi yang berumur dewasa mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi dibandingan pasien hipertensi yang berusia lansia masing â&#x20AC;&#x201C; masing yaitu sebesar 58, 5 % dan 55 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,923 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara umur dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi. Tidak adanya hubungan antara umur dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dalam penelitian ini karena secara statistik tidak ada perbedaan antara proporsi responden usia dewasa dengan lansia dalam kepatuhan kontrol ulang. Selain itu bila dilihat dari proporsi lansia dan dewasa dalam penelitian ini juga hampir sama besar masing-masing 40 (49,38) dan 41 (50,62). Tidak adanya hubungan antara umur dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dalam penelitian ini juga ditunjang oleh hasil uji chi square dimana tidak terdapat hubungan antara umur dengan motivasi (p value = 0,584), tidak ada hubungan umur dengan dukungan keluarga (p value = 0,312), dan tidak ada hubungan antara umur dengan pengetahuan (p value = 0,182) Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien hipertensi yang berjenis kelamin laki - laki mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi dibandingan pasien hipertensi yang berjenis kelamin wanita masing masing yaitu sebesar 65,2 % dan 53,4 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,474 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi. Dalam penelitian ini

2013

secara statistik tidak terdapat adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan kontrol ulang dengan hasil uji chi square didapatkan nilai (p value = 0,474). Tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dalam penelitian ini dapat dihubungkan dengan tidak adanya perbedaan proporsi antara laki-laki dan wanita dalam hal kepatuhan kontrol ulang secara uji statistik. Pada penelitian ini menunjukan bahwa pasien hipertensi yang berjenis kelamin laki - laki mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi dibandingan pasien hipertensi yang berjenis kelamin wanita masing â&#x20AC;&#x201C; masing yaitu sebesar 65,2 % dan 53,4 %. Tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dalam penelitian ini juga ditunjang oleh hasil uji chi square dimana tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan motivasi (p value = 0,998), tidak ada hubungan jenis kelamin dengan dukungan keluarga (p value = 0,244), dan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan pengetahuan (p value = 0,257). Dalam penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dengan nilai p value =0.047. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku tidak didasari oleh pengetahuan. (Notoatmodjo, 2003 : 127). Apabila pasien sudah mempunyai pengetahuan yang baik tetapi tidak patuh dalam melakukan kontrol ulang berobat hipertensi hal ini disebabkan oleh ketidak pedulian pasien terhadap penyakit hipertensi tersebut dan menganggap bahwa penyakit hipertensi akan dapat sembuh sendiri tanpa perlu melakukan kontrol ulang. Untuk meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dalam melakukan kontrol berobat perlu adanya pengetahuan yang tinggi tentang pengobatan sendiri.

15


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Peningkatan pengetahuan ini penting agar pasien mengetahui bagaimana proses penyakit dan bagaimana perubahan gaya hidup dan pengobatan dapat mengendalikan tekanan darah. Petugas kesehatan dalam hal ini harus mengembangkan konsep pengendalian hipertensi pada pengobatan hipertensi. Pengetahuan responden yang rendah dapat mempengaruhi kepatuhan pasien dalam melakukan pengobatan pada pasien hipertensi. Pengetahuan responden dapat ditingkatkan dengan memberikan ruang konseling bagi pasien untuk memberikan pendidikan kesehatan baik pada pasien maupun pada keluarga pasien mengenai tujuan pengobatan, manfaat pengobatan dan dampak jika tidak melakukan pengobatan yang diberikan sebelum pemberian pelayanan. Dalam penelitian ditemukan adanya hubungan antara pekerjaan dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi. Terdapatnya hubungan antara pekerjaan dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dalam penelitian ini dapat dihubungkan dengan adanya perbedaan proporsi antara laki-laki dan wanita dalam hal kepatuhan kontrol ulang secara uji statistik. Pada penelitian ini menunjukan bahwa pasien hipertensi yang bekerja mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi dibandingan pasien hipertensi yang tidak bekerja masing â&#x20AC;&#x201C; masing yaitu sebesar 77,3 % dan 49,2 %. Adanya hubungan antara pekerjaan dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dalam penelitian ini juga dapat dihubungkan dengan besarnya peluang waktu bagi pasien hipertensi yang tidak bekerja untuk melakukan kontrol ulang hipertensi. Di sisi lain pasien yang tidak bekerja tidak mendapat beban tanggung jawab tugas yag menghalangi untuk melakukan kontrol ulang. Selain itu pasien yang bekerja lebih mengutamakan bekerja untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dari pada kebutuhan ekonomi bila sedang mengalami masalah kesehatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien hipertensi yang berkerja mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi

16

dibandingan pasien hipertensi yang tidak bekerja masing â&#x20AC;&#x201C; masing yaitu sebesar 77,3 % dan 49,2 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,043 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini terdapat hubungan antara pekerjaan dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien hipertensi yang berpengetahuan kurang baik mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi dibandingan pasien hipertensi yang memiliki pengetahuan cukup baik masing - masing yaitu sebesar 74,1 % dan 48,1 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,047 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien hipertensi yang memiliki motivasi rendah mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi dibandingan pasien hipertensi yang motivasinya tinggi masing â&#x20AC;&#x201C; masing yaitu sebesar 75 % dan 35,1 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,001 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini terdapat hubungan antara motivasi dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi. Hasil penelitian ini juga menemukan adanya hubungan antara motivasi dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dengan nilai p-value =0,001. Motivasi yang rendah seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kambuhan penyakit hipertensinya, hal ini disebabkan kurangnya informasi yang didapatkan sehingga responden tidak mempunyai motivasi. Semakin positif motivasi maka akan semakin baik pula dalam kepatuhan kontrol ulang, responden yang bermotivasi positif akan lebih berjalan dengan cepat perilaku pencegahan tersebut dibandingkan dengan pasien yang bermotivasi negatif. Berdasarkan analisa data sebagian besar motivasi responden rendah karena sulit untuk mengatur pola dan porsi makan setiap hari (60%), tidak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan (54%) serta motivasi yang kurang untuk melakukan kontrol ulang berobat secara teratur (55%). Motivasi merupakan istilah yang lebih


Faktor â&#x20AC;&#x201C; Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Kontrol Ulang Pasien Hipertensi â&#x20AC;Ś Ismail HS dan Daryono

umum menunjukkan kepada seluruh gerakan yang didalamnya termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul didalam individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan akhir dari gerakan atau perbuatan (Irwanto,2002:197). Upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan penyuluhan dan mengajak responden untuk mengatur pola dan porsi makan setiap hari, mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap hari dan melakukan kontrol ulang berobat secara teratur. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien hipertensi dengan dukungan keluarga rendah mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi dibandingan pasien hipertensi yang memiliki dukungan keluarga tinggi wanita masing â&#x20AC;&#x201C; masing yaitu sebesar 71,2 % dan 31 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,001 disimpulkan bahwa dalam penelitian terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi. Pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol ulang dengan nilai p-value =0,001. Hasil penelitian ini diketahui bahwa dukungan keluarga yang diberikan kepada responden tergolong rendah. Dukungan yang timbul dari orang-orang terdekat responden berpengaruh terhadap pengetahuan yang akan meningkatkan tindakan responden untuk lebih berperilaku positif. Semakin kuat dukungan yang diperoleh maka pengetahuan dan perilaku akan semakin baik. Dukungan yang bersumber dari keluarga biasanya akan lebih baik dari pada dukungan yang bersumber dari luar. Teori diatas sesuai dengan penelitian Ratih. A (2005) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan kontrol ulang adalah dukungan keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, terdiri dari kepala keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam suatu tempat karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi, satu dengan yang lainnya saling bergantung dan berinteraksi. Bila salah satu

2013

anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan atau perawatan akan berpengaruh terhadap anggota-anggota keluarga lainnya (Effendi, 1997) Fungsi keluarga adalah bertanggung jawab dalam menjaga dan menumbuh kembangkan anggotaanggotanya. Pemenuhan kebutuhan para anggota sangat penting, agar mereka dapat mempertahankan kehidupannya yang berupa pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, papan dan kesehatan untuk pengembangan fisik dan sosial, kebutuhan akan pendidikan formal, informal dan nonformal dalam rangka mengembangakan intelektual, sosial, mental, emosional dan spritual (Wahini, 2002) Hasil penelitian ini menemukan 74,1 % responden tidak mendapat dukungan membuat jadwal kontrol, 66,1 % tidak mendapat dukungan keluarga untuk menatur menu makanan, dan 66,7 % responden tidak mendapatkan dukungan keluarga untuk mengingatkan kontrol ulang. Apabila pasien hipertensi belum melakukan kontrol berobat secara rutin, maka keluarga dapat menganjurkan pasien hipertensi untuk melakukan kontrol ulang berobat secara rutin. Untuk itu keluarga perlu dilibatkan dalam kegiatan penyuluhan agar tahu apa yang dibutuhkan pasien dan pentingnya kepatuhan terhadap rencana terapi yang dilakukan. Upaya yang dilakukan adalah mengajak keluarga untuk dapat membantu pasien dalam mencapai tujuan terapi ditempat pelayanan kesehatan, pemantauan tekanan darah yang dilakukan dirumah secara terus menerus. Pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol ulang dengan nilai p-value =0,001. Hasil penelitian ini diketahui bahwa dukungan keluarga yang diberikan kepada responden tergolong rendah. Dukungan yang timbul dari orang-orang terdekat responden berpengaruh terhadap pengetahuan yang akan meningkatkan tindakan responden untuk lebih berperilaku positif. Semakin kuat dukungan yang diperoleh maka pengetahuan dan perilaku akan semakin baik. Dukungan yang bersumber dari keluarga biasanya akan lebih baik dari pada

17


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

dukungan yang bersumber dari luar. Teori diatas sesuai dengan penelitian Ratih. A (2005) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan kontrol ulang adalah dukungan keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, terdiri dari kepala keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam suatu tempat karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi, satu dengan yang lainnya saling bergantung dan berinteraksi. Bila salah satu anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan atau perawatan akan berpengaruh terhadap anggota-anggota keluarga lainnya (Effendi, 1997) Fungsi keluarga adalah bertanggung jawab dalam menjaga dan menumbuh kembangkan anggotaanggotanya. Pemenuhan kebutuhan para anggota sangat penting, agar mereka dapat mempertahankan kehidupannya yang berupa pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, papan dan kesehatan untuk pengembangan fisik dan sosial, kebutuhan akan pendidikan formal, informal dan nonformal dalam rangka mengembangakan intelektual, sosial, mental, emosional dan spritual (Wahini, 2002) Hasil penelitian ini menemukan 74,1 % responden tidak mendapat dukungan membuat jadwal kontrol, 66,1 % tidak mendapat dukungan keluarga untuk menatur menu makanan, dan 66,7 % responden tidak mendapatkan dukungan keluarga untuk mengingatkan kontrol ulang. Apabila pasien hipertensi belum melakukan kontrol berobat secara rutin, maka keluarga dapat menganjurkan pasien hipertensi untuk melakukan kontrol ulang berobat secara rutin. Untuk itu keluarga perlu dilibatkan dalam kegiatan penyuluhan agar tahu apa yang dibutuhkan pasien dan pentingnya kepatuhan terhadap rencana terapi yang dilakukan. Upaya yang dilakukan adalah mengajak keluarga untuk dapat membantu pasien dalam mencapai tujuan terapi ditempat pelayanan kesehatan, pemantauan tekanan darah yang dilakukan dirumah secara terus menerus. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien hipertensi dengan peran petugas

18

rendah mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi dibandingan pasien hipertensi yang memiliki peran petugas rendah dan peran petugas tinggi masing â&#x20AC;&#x201C; masing yaitu sebesar 71,2 % dan 31 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,298 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak terdapat ubungan antara peran petugas keluarga dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi. Dalam penelitian ini secara statistik tidak terdapat adanya hubungan antara peran petugas dengan kepatuhan kontrol ulang dengan hasil uji chi square didapatkan nilai (p value = 0,298). Tidak adanya hubungan antara peran petugas dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dalam penelitian ini dapat dihubungkan dengan tidak adanya perbedaan proporsi peran petugas rendah dan tinggi dalam hal kepatuhan kontrol ulang secara uji statistik. Pada penelitian ini menunjukan bahwa pasien hipertensi yang mendapatkan peran petugas rendah mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak patuh melakukan kontrol ulang hipertensi dibandingan pasien hipertensi yang mendapatkan layanan peran petugas tinggi masing â&#x20AC;&#x201C; masing yaitu sebesar 71,2 % dan 31 %. Tidak adanya hubungan antara peran petugas dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi dalam penelitian ini juga ditunjang oleh hasil uji chi square dengan tingkat kemaknaan sangat tinggi pada hubungan antara pengetahuan dengan peran petugas (p value = 1,000), walaupun secara statistik ditemukan hubungan bermakna antara peran petugas dengan motivasi (p value = 0,033) Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien hipertensi yang mendapatkan peran petugas tinggi akan meningkatkan motivasi pasien untuk melakukan kontrol ulang namun peran petugas tidak meningkatkan pengetahuan pasien hipertensi. Hasil ini memberi indikasi bahwa perilaku kepatuhan kontrol ulang dipengaruhi oleh motivasi namun tingkat motivasi yang tinggi juga tidak cukup dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan kontrol ulang hipertensi jika pengetahuan sebagai salah satu faktor penentu rendah. Selain itu dukungan keluarga juga turut menentukan kepatuhan


Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Kontrol Ulang Pasien Hipertensi … Ismail HS dan Daryono

kontrol ulang pasien hipertensi. Dalam penelitian ini ditemukan 74,1 % responden tidak mendapat dukungan membuat jadwal kontrol, 66,1 % tidak mendapat dukungan keluarga untuk menatur menu makanan, dan 66,7 % responden tidak mendapatkan dukungan keluarga untuk mengingatkan kontrol ulang.Teori diatas sesuai dengan penelitian Ratih. A (2005) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan kontrol ulang adalah dukungan keluarga. Peran petugas kesehatan didunia kesehatan, khususnya pada penanganan masalah-masalah fisik, seperti pernapasan, nutrisi, pencegahan, penularan, aktivitas dan istirahat, cairan dan elektrolit, tetapi peran sebagai advokator dan sebagai konselor sering tidak dilakukan. Keadaan ini sama dengan penanganan komunitas kepatuhan kontrol ulang, sehingga mereka perlu perhatian khusus perawatannya dirumah, peran ini sangat signifikan dengan petugas kesehatan yang menangani pasien hipertensi dengan melibatkan keluarga pasien, khususnya bagaimana pasien melakukan kontrol ulang berobat secara rutin, sehingga diharapkan tidak terjadinya hipertensi kambuh lagi. Peran Petugas kesehatan dalam melakukan kontrol ulang berobat pasien hipertensi adalah dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan kontrol ulang berobat secara teratur sesuai petunjuk dari petugas kesehatan supaya cepat sembuh dan hipertensi tersebut tidak kambuh lagi, hal ini juga perlu dukungan dari keluarga terutama istri juga ada motivasi dalam diri pasien untuk cepat sembuh.(Niven. N, 2002). Dari hasil dan pembahasan diatas belum diketahui variabel independen mana yang dominan mempengaruhi kepatuhan kontrol ulang pasien hipertensi. Untuk itu dilakukan uji regresi logistik, yang hasil akhirnya seperti pada tabel 1.

2013

Tabel 1. Hasil Akhir Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda Variabel Dominan Yang berhubungan dengan Kepatuhan Kontrol Ulang Hipertensi Variabel

B

P Wald OR

95 % CI

1,537

0,02 4,651 1,272 – 17,001

Pengetahuan 1,429 Motivasi 1,546

0,021 4,174 1,242 – 14,023 0,007 4,691 1,520 – 14,481

Dukungan Keluarga

1,292

0,028 3,639 1,146 – 14,023

Constant

-3,601 16,387 P value = 0,00

Pekerjaan

Untuk mengetahui variabel mana yang paling dominan pengaruhnya terhadap kepatuhan kontrol ulang pasien hipertensi, maka dapat dilihat dari nilai Exp (B). Semakin besar nilai Exp (B) berarti semakin besar pengaruhnya terhadap variabel dependen yang dianalisis. Dalam penelitian ini dari keempat variabel dominan yang berhubungan dengan kepatuhan kontrol ulang hipertensi terlihat bahwa variabel motivasi memiliki nilai Exp (B) paling besar yaitu sebesar 4,691. Dengan demikian variabel motivasi paling besar pengaruhnya terhadap kepatuhan kontrol ulang pasien hipertensi di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi tahun 2012. Dalam penelitian ini variabel motivasi paling besar pengaruhnya terhadap kepatuhan kontrol ulang pasien hipertensi di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi tahun 2012. Motivasi merupakan istilah yang lebih umum menunjukkan kepada seluruh gerakan yang didalamnya termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul didalam individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan akhir dari gerakan atau perbuatan (Irwanto,2002:197). Perilaku seseorang pada hakikatnya ditentukan oleh keinginan untuk mencapai tujuan dan keinginan tersebut di identikkan dengan motivasi. Ini berarti bahwa motivasi merupakan pendorong agar seseorang itu melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan (Sarwono, 2004).

19


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Motivasi merupakan istilah yang lebih umum menunjukkan kepada seluruh gerakan yang didalamnya termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul didalam individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan akhir dari gerakan atau perbuatan (Irwanto,2002:197). Sejalan dengan itu G.R Terry dalam Hasibuan (2000 : 145) menyatakan bahwa motivasi adalah keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang tampak dalam dua segi yang berbeda yaitu segi dinamis dan statis. Terdapat hubungan bermakna antara pekerjaan, pengetahuan, motivasi dan dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol ulang. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur, Jenis Kelamin, dan peran petugas dengan kepatuhan kontrol ulang. Hubungan kepatuhan kontrol ulang pasien hipertensi lebih dominan ditentukan oleh motivasi. Dalam penelitian ini yang menentukan kepatuhan kontrol ulang pasien hipertensi adalah tingkat motivasi. Disarankan bagi Dinas Kesehatan agar dalam pembuatan program kesehatan memasukan kegiatan konseling hipertensi bagi program kegiatan di puskesmas Putri Ayu., Puskesmas Putri Ayu agar meningkatkan pemberian motivasi melalui kegiatan konseling kepada pasien hipertensi, meningkatkan pemberian informasi melalui media pamphlet dan poster yang dipasang ditempat yang mudah dilihat pasien seperti pada ruang tunggu yang memberikan informasi mengenai pencegahan hipertensi, meningkatkan upaya peningkatan dukungan keluarga melalui kegiatan kunjungan rumah (home visit) dan memberikan penyuluhan kepada

20

masyarakat oleh petugas kesehatan tentang manfaat kontrol ulang berobat, tentang tata cara minum obat hipertensi dan tentang diet bagi pasien hipertensi. DAFTAR PUSTAKA

Chobanian, AV, Bakris, G.L. Black, H.R, 2003. Seventh Report of Joint National Commite in Prevention, Detection, Evaluations and Treatment in High Blood Pressure. JAMA, Dec. 2003 (http://www.hyper.ahajournal.org.24-072012). Diehl, H, 1990. Waspadai Diabetes, Kolesterol, Hipertensi. Indonesia Publishing House. Jakarta. Dinkes Kota Jambi. 2011. Laporan Tahunan 10 Penyakit Terbesar. Effendi, 1997. Komunikasi. Jakarta : Binarupa Aksara. Hasibuan, 2000. Psikologi Kesehatan. Jakarta : EGC.. Irwanto, 2002. Psikologi Kesehatan. Jakarta : Erlangga. Kiongdo, George, 1996. Penatalaksanaan Hipertensi Ringan Menurut Rekomendasi WHO/ISH.1993. Mesdika XXII (9) Hal:726-728.. Niven, 2002. Psikologi Kesehatan. Jakarta : EGC. Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Ratih, A. 2005. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Kontrol Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Saren Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2005. Skripsi Universitas Sriwijaya Palembang.. Sani, 2008. Hipertensi. Jakarta : Med Press. Sarwono, 2004. Sosiologi Kesehatan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Wahini, 2002. Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta : Andy Offset.


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

HUBUNGAN ANTARA TIPE KEPRIBADIAN DAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN POSTPARTUM BLUES (PENELITIAN DI PELAYANAN KESEHATAN KOTA JAMBI) Yuli Suryanti Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jambi

ABSTRAK Postpartum blues merupakan bentuk depresi setelah melahirkan yang terjadi diawal masa nifas yaitu hari ke-3 atau ke-4 nifas hingga 14 hari setelah melahirkan. Postpartum blues dapat terjadi karena ketidak mampuan ibu dalam beradaptasi dengan perubahan fisik, psikologis dan sosial selama masa nifas. Faktor yang mempengaruhinya adalah karakteristik ibu (umur, pendidikan, pekerjaan, paritas) dan tipe kepribadian (introversion, extraversion). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu dan tipe kepribadian dengan postpartum blues. Metode penelitian adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah 117 ibu nifas. Instrumen yang digunakan adalah Edinburgh Postnatal Depression Syndrome (EPDS) untuk menilai ada tidaknya postpartum blues, Eysecnk Personality Inventory (EPI) untuk menilai tipe kepribadian, dan keusioner karakteristik yang terdiri atas umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas. Kuesioner diberikan pada hari ke-14 nifas melalui wawancara. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Somerâ&#x20AC;&#x2122;s untuk hubungan antara tipe kepribadian dan karakteristik ibu dengan postpartum blues dan uji regresi logistik dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui hubungan antar variabel yang paling dominan. Hasil penelitian mengidentifikasi 44(37,6%) ibu mengalami postpartum blues. Analisis EPI didapatkan 60% ibu tipe introversion mengalami postpartum blues (r=-0,377, p<0,001). Ibu primipara berpeluang 3 kali terjadinya postpartum blues daripada multipara (r=-0,280, p=0,002, 95% IK= 1,237â&#x2C6;&#x2019;7,253). Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang paling dominan berhubungan dengan postpartum blues adalah tipe kepribadian (p<0,001) dimana rasio prevalensi tipe kepribadian introversion untuk mengalami postpartum blues sebesar 9,3 kali (95% IK=3,627â&#x2C6;&#x2019;23,673). Disimpulkan bahwa postpartum blues lebih banyak dialami oleh ibu nifas dengan tipe kepribadian introversion dengan riwayat primipara. Kata kunci: Karakteristik ibu, postpartum blues, tipe kepribadian.

PENDAHULUAN Postpartum blues merupakan gangguan psikologis yang dialami lebih dari 50% ibu setelah melahirkan dengan tanda mudah tersinggung, mudah menangis, mengalami gangguan makan dan tidur, merasa sangat lelah, dan sulit konsentrasi. Umumnya gejala tersebut dirasakan sesaat setelah melahirkan, namun lebih sering bermanifestasi pada hari ke-3 atau ke-4 dan mencapai puncak antara hari ke-5 hingga hari ke-14 masa nifas (Bobak, 1995).

Angka kejadian postpartum blues di Indonesia cukup tinggi. Menurut penelitian Wahyuni (2008) di RSUP Dr. M. Jamil Padang tahun 2008 sebesar 48,84% ibu yang telah melahirkan mengalami postpartum blues sedangkan penelitian Fatimah (2009) di RSUD Tugurejo Semarang menemukan 44% ibu mengalami postpartum blues karena kurangnya dukungan dari suami. Postpartum blues dapat terjadi pada perempuan manapun tanpa mempertimbangkan usia, ras, agama, tingkat pendidikan, maupun latar belakang

21


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

sosial ekonomi, dan dapat berulang pada kehamilan berikutnya. Suatu studi prospektif yang dilakukan oleh Oâ&#x20AC;&#x2122;Hara (1994) pada 182 ibu hamil trimester 2 dan diikuti sampai 9 minggu setelah persalinan menemukan adanya faktor biologi dan psikososial yang potensial menyebabkan postpartum blues. Ibu yang baru melahirkan akan mengalami perubahan bentuk tubuh dari keadaan sebelum hamil, terganggunya waktu istirahat ibu sehingga ibu mudah lelah, aktifitas fisik yang terbatas karena masih dalam keadaan lemah, lebih sensitif dan menarik diri dari lingkungan sosialnya karena tugas merawat anak. Ketidakmampuan ibu beradaptasi dengan perubahan tersebut dapat menyebabkan terjadinya postpartum blues. Postpartum blues juga dapat terjadi karena harapan proses persalinan yang tidak sesuai dengan kenyataan, adanya perasaan kecewa dengan keadaan fisik bayi dan kekhawatiran pada keadaan ekonomi keluarga (Kasdu, 2005). Penelitian Schmidt, dkk (2006) menemukan masalah psikologis yang terjadi setelah melahirkan dialami oleh 57% ibu remaja. Hal tersebut didukung oleh Monks, dkk (2001) perkembangan fisik seseorang disertai dengan perkembangan psikologisnya. Usia remaja dianggap belum matang secara fisik dan psikologis sehingga rentan akan timbulnya masalah-masalah setelah melahirkan. Hal berbeda dikemukakan oleh Robertson, dkk (2004) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara umur ibu dengan terjadinya postpartum blues. Hasil penelitian Oâ&#x20AC;&#x2122; Hara (1994) menemukan bahwa postpartum blues lebih banyak dialami oleh primipara dibandingkan multipara karena bagi ibu yang primipara menjadi seorang ibu adalah hal yang baru dan tugas merawat bayi merupakan peran baru yang harus dijalani sebagai orang tua sehingga seringkali dapat menimbulkan stres. Pendidikan ibu juga berhubungan dengan terjadinya postpartum blues. Menurut Kheirabadi, dkk (2009) ibu yang berpendidikan rendah dan tidak bekerja berhubungan signifikan dengan terjadinya depresi nifas di Isfahan, Iran. Keadaan keluarga yang miskin memperberat terjadinya depresi. Menurut Patel (2002) ibu

22

bekerja lebih banyak mengalami postpartum blues karena beban kerja yang tinggi dan waktu bekerja yang lama. Tingkat pendidikan ibu berhubungan dengan mekanisme pertahanan diri dalam mengatasi stres. Ibu yang berpendidikan tinggi akan lebih rasional dalam mengatasi berbagai gangguan psikologis. Kepribadian seseorang juga mempengaruhi terjadinya depresi. Oâ&#x20AC;&#x2122;Hara (1994) mengungkapkan bahwa perempuan yang cenderung bersifat maskulin, perfeksionis, dan memiliki kepercayaan diri yang rendah akan mudah mengalami depresi selama masa nifas. Kepribadian merupakan sesuatu yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah pada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan. Eysenck (2000) mengemukakan bahwa kepribadian ditentukan oleh 75% keturunan dan 25% lingkungan. Faktor keturunan yang berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian yang terpenting adalah perbedaan intelegensi dan kematangan biologis. Faktor ini berperan dalam pembentukan keramahtamahan, perilaku kompulsif (dipaksakan), dan kemudahan dalam pergaulan sosial. Penelitian Verkerk, dkk (2005) menguatkan bahwa kepribadian merupakan faktor penentu yang stabil terhadap munculnya gejala depresi dalam 1 tahun setelah melahirkan. Penilaian terhadap tipe kepribadian menggunakan Eysenck Personality Inventory (EPI) dan gejala depresi dikaji dengan menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Postpartum blues yang berlanjut menjadi depresi nifas dapat menimbulkan masalah penurunan kepuasan perkawinan yang berakibat pada ketidakharmonisan hubungan dengan suami, dan dampak paling buruk adalah bunuh diri bahkan sampai membunuh bayinya. Selain itu juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan tingkah laku pada anak di usia tiga tahun atau kerusakan kognitif pada umur 4 tahun. (Nevid, 2005) Hasil penelitian terdahulu menemukan kejadian postpartum blues di Kecamatan Telanaipura sekitar 47,5%, oleh karena itu diperlukan penelitian dengan wilayah yang lebih luas yaitu Kota Jambi


Hubungan Antara Tipe Kepribadian dan Karakteristik Ibu … Yuli Suryanti

dan berdasarkan beragamnya budaya yang berkembang di masyarakat Kota Jambi yang dapat mempengaruhi kepribadian setiap individunya maka peneliti tertarik melakukan penelitian ini. Bila dilihat dari karakteristik penduduk perempuan di Kota Jambi tahun 2009, tingkat pendidikan rata-rata perempuan adalah SLTA sederajat dan sebagian besar perempuan sebagai ibu rumah tangga. Jumlah kelahiran bayi di Kota Jambi tahun 2009 sekitar 15,2 ribu jiwa dan tingginya angka kelahiran ini memungkinkan banyaknya kejadian postpartum blues yang dialami ibu-ibu setelah melahirkan. BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional, dengan variabel yang diteliti adalah karakteristik ibu yang meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, dan paritas, serta tipe kepribadian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2013. Subjek penelitian adalah ibu nifas yang berdomisili di Kota Jambi dalam wilayah kerja Puskesmas perawatan, rumah bersalin, dan bidan praktik swasta. Jumlah responden yang diambil dari 3 Puskesmas perawatan, 10 rumah bersalin dan 57 bidan praktik swasta adalah 123 orang. Untuk teknik pengambilan sampel dilakukan secara proporsional (proportional sampling) berdasarkan jumlah kelahiran ditempat tersebut. Data hasil penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi Spearman dan Gamma Somer’s untuk analisis bivariat sedangkan untuk analisis multivariat menggunakan regresi logistik. (Dahlan, 2009) . HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini hasil penelitian yang diperoleh setelah melalui pengolahan data.

2013

Tabel 1 Hubungan Umur Responden dengan Postpartum Blues Postpartum Blues Umur (tahun)

Tidak n

< 20

%

Ya n

3 100 0

% 0

Jlh

r

p

0,054

0,550

n 3

20 - 30 42 57,5 31 42,5 73 31 - 40

27 69,2 12 30,8 39

> 40

1 50

1

50

2

Keterangan: nilai r dihitung berdasarkan uji Somer’

Pada tabel 1, menunjukkan bahwa ibu umur 20–30 tahun, lebih banyak mengalami postpartum blues dibandingkan dengan ibu dari kelompok umur lainnya. Hasil analisis statistik pada tingkat kepercayaan 95% membuktikan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan postpartum blues (p=0,550), serta kekuatan korelasi yang sangat lemah dan bernilai negatif (r=0,054). Tabel 2 Hubungan Pendidikan Responden dengan Postpartum Blues Pendidikan (tahun)

Postpartum Blues Tidak n

%

Ya n

%

Jlh

p

n

<6

4 100 0

0

4

7-9

12 60

40

20

8

r

10-12

32 59,3 22 40,7 54

> 13

25 64,1 14 35,9 39

-0,016

0,876

Keterangan: nilai r dihitung berdasarkan uji Somer’s

Pendidikan 10–12 tahun merupakan kelompok responden yang lebih banyak mengalami postpartum blues. Hasil analisis statistik tabel 2 menunjukkan hubungan yang tidak bermakna (p=0,876) dengan kekuatan yang sangat lemah sebesar r=-0,016. Postpartum blues lebih dialami oleh 44 orang (37,6%).

23


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara karakteristik umur, pendidikan dan pekerjaan ibu dengan postpartum blues. Hal ini sama dengan yang dikemukakan oleh Beck, dkk (2006) yang tidak menemukan adanya pengaruh terjadinya depresi berdasarkan umur ibu. Pendapat Havighurst dalam Monks, dkk (2001) Berbeda dengan yang dinyatakan sebelumnya bahwa maturitas seorang perempuan saat awal berumah tangga akan mempengaruhi kepribadian dan stabilitas emosi dalam menjalani perannya sebagai seorang ibu. Semakin bertambahnya umur maka semakin banyak pengalaman yang didapat oleh seseorang. Pengalaman tersebut akan meningkatkan kematangan perkembangan. Beck, dkk (2006) juga menemukan tidak ada perbedaan pendidikan antara ibu yang mengalami depresi dan tidak depresi. Kessler dalam Kaplan, dkk (1997) bahwa ibu dengan pendidikan rendah lebih banyak terpapar stres dan angka kejadian gangguan psikiatrisnya lebih tinggi. Hal ini terjadi karena kurangnya kemampuan dalam mengakses informasi, baik dari media massa, televisi maupun internet untuk mempersiapkan aspek psikologisnya dalam penerimaan peran sebagai ibu. Selain itu, mereka juga memiliki posisi tawar yang rendah dalam rumah tangga sehingga lebih tertutup dalam berkomunikasi dengan suami atau anggota keluarga lainnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi seseorang dalam kemampuan berfikir, mengolah informasi dan memahami dengan mudah informasi yang diterima. Hal berbeda dikemukakan oleh Sylvia (2000) bahwa postpartum blues lebih mudah dialami ibu dengan pendidikan tinggi. Semakin tinggi pendidikan ibu, semakin kuat keinginannya untuk mengaktulisasikan dirinya. Perasaan ambivalensi antara peran keibuan dalam merawat anak dengan karier menyebabkan ibu berpendidikan tinggi lebih mudah mengalami postpartum blues.

24

Tabel 3 Hubungan Pekerjaan Responden dengan Postpartum Blues Postpartum Blues Pekerjaan

Tidak n

%

Ya n

%

Jlh

p

n

Bekerja 28 100 0

0

4

Tidak 45 60 bekerja

40

20

8

r

-0,065

0,470

Keterangan: nilai r dihitung berdasarkan uji Somerâ&#x20AC;&#x2122;s

Hasil analisis statistik tabel 3 menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara pekerjaan dengan postpartum blues (p=0,470) dan kekuatan korelasi yang sangat lemah sebesar (r=0,065). Pekerjaan ibu juga tidak berhubungan bermakna. Hasil penelitian di Kota Jambi tidak menemukan adanya perbedaan yang bermakna antara ibu yang bekerja dan tidak bekerja dengan postpartum blues. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Mc Govern, dkk (2006) bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan terjadinya postpartum blues. Pada ibu yang tidak bekerja, depresi dapat terjadi karena mereka merasa jenuh dengan pekerjaan rumah, cepat bosan dan akhirnya mengekspresikan perasaannya dengan marah-marah atau berdiam diri. Ibu yang tidak bekerja, pendapatan keluarga tergolong rendah dan lebih mengandalkan suami untuk memenuhi kebutuhannya berimplikasi terhadap perasaan-perasaan atau pemikiran untuk memenuhi kebutuhan bayi dan kebutuhan ibu sendiri. Akumulasi dari pemikiran tersebut akan berdampak terhadap psikologis ibu yang mengarah pada gejala-gejala stres seperti kecemasan, perasaan yang labil, dan gelisah. Pada ibuibu yang bekerja meskipun beban kerjanya lebih banyak dibanding dengan ibu-ibu yang tidak bekerja, tetapi dapat mengalihkan perhatian dengan pekerjaan dikantor, sehingga pikiran atau kesusahan dirumah dapat terlupakan.


Hubungan Antara Tipe Kepribadian dan Karakteristik Ibu â&#x20AC;Ś Yuli Suryanti

Ibu yang bekerja juga lebih banyak bertemu dengan orang lain misalnya rekan kerja dan sering melakukan sharing atau tukar pengalaman dengan peer group untuk memecahkan masalah rumah tangga. Dalam penelitian ini sebanyak 57,7% ibu mengeluh kelelahan karena kurangnya dukungan sosial dari keluarga dan pekerjaan yang harus mereka lakukan baik dirumah maupun diluar rumah sehingga timbul perasaan bersalah tidak dapat merawat bayi dengan baik dan tidak dapat memenuhi kebutuhan suami. Sistem kekerabatan yang saat ini mulai luntur karena tuntutan ekonomi yang tinggi lebih mementingkan setiap orang untuk mencari uang daripada hanya sekedar bersilaturahmi dan hal ini menjadikan hubungan antara anggota keluarga juga antar masyarakat menjadi renggang. Akibatnya dapat berupa kurang terjalinnya komunikasi yang baik terutama antara suami dan istri sehingga memicu terjadinya konflik dalam rumah tangga. Kurangnya dukungan sosial terutama dari suami untuk berbagi tugas dalam rumah tangga dan tidak ada bantuan dari anggota keluarga lainnya akan menambah beban fisik dan psikisnya maka dapat dikatakan bahwa kegagalan seorang perempuan dalam menjalani perannya sebagai sebagai seorang ibu (konflik peran) karena tidak adanya kesejahteraan ekonomi yang baik sehingga akan menjadi pencetus terjadinya depresi. Dari hasil wawancara tidak ada responden yang pernah mengalami riwayat psikiatrik sebelumnya dan secara fisik dan mental masih dapat dikatakan sehat untuk melaksanakan tugas reproduksi sehingga tidak berdampak buruk pada kehidupan rumah tangga yang baru dijalaninya. Tabel 4 Hubungan Paritas dengan Postpartum Blues

Responden

Postpartum Blues Paritas

Tidak n

%

Primipara 24 48

Ya n

%

26 52

Jlh

r

p

n 50

Multi- 49 73,1 18 26,9 67 paritas

-0,280

0,002

Keterangan: nilai r dihitung berdasarkan uji Somerâ&#x20AC;&#x2122;s

2013

Hasil analisis statistik tabel 4 menunjukkan hubungan yang bermakna antara paritas dengan postpartum blues (p=0,002) dan kekuatan hubungan yang lemah yaitu sebesar r=-0,280 dan bernilai negatif berarti semakin rendah jumlah paritas ibu akan semakin tinggi nilai EPDS yang mengarah pada postpartum blues. Hasil analisis EPI menemukan distribusi responden dengan tipe kepribadian introversion (skor EPI <12) memiliki skor EPDS rata-rata lebih tinggi ibandingkan responden dengan tipe kepribadian extraversion (skor EPI >14). Hubungan antara riwayat paritas dengan postpartum blues dalam penelitian ini bermakna secara signifikan dimana ibu yang primipara lebih berpeluang hampir 3 kali untuk mengalami postpartum blues daripada ibu multipara. Temuan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Oâ&#x20AC;&#x2122;Hara (1994) yang melaporkan 50-70% wanita yang melahirkan anak pertama mengalami postpartum blues dan 13% mengalami depresi postpartum pada periode tahun pertama. Rajaratnam, dkk (2010) dalam evaluasi terhadap wanita setelah melahirkan bahwa multipara lebih sedikit yang mengalami stres setelah melahirkan sehubungan dengan banyaknya multipara yang menggunakan pendekatan farmakologis selama nifas untuk mengatasi stres. Penelitian Oâ&#x20AC;&#x2122;Hara, dkk (1991) lainnya juga menyatakan bahwa penyebab tingginya postpartum blues pada primipara karena bertambahnya tanggung jawab perempuan sebagai seorang ibu dalam keluarga. Dalam penelitian ini tidak ditemukan penggunaan farmakologis untuk mengatasi stres setelah persalinan, namun karena sebagian ibu multipara sudah memiliki pengalaman merawat anak sebelumnya sehingga tidak terlalu khawatir dan cemas dengan keadaannya dan bayinya yang baru lahir. Dari hasil pengamatan ditemukan bahwa sebagian besar responden merupakan keluarga inti dan baru menikah yang sudah tinggal terpisah dari orang tua. Tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu harus dilakukan seorang diri. Dukungan dari suami sangat kurang sehingga ibu sering merasakan kelelahan setelah bekerja dan

25


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

mengurus anak. Umumnya ibu yang baru pertama kali melahirkan mempunyai tekanan-tekanan kecemasan yang tinggi, ada ketakutan tersendiri jika bayi yang dilahirkan tidak selamat dan jika selamat takut tidak mampu memberikan perawatan yang baik, apalagi ketika menghadapi persalinan tidak mendapatkan perhatian dan dukungan dari orang terdekat, maka gejala-gejala depresi akan lebih mudah terjadi pada ibu

tentang masa nifas sehingga timbul kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan pada keadaannya dan bayi.

Variabel Tipe Kepribadian

B 2,226

Tabel 5 Hubungan Tipe Kepribadian dengan Postpartum Blues berdasarkan Tipe Kepribadian

Paritas

-1,097

Konstanta

-2,320

Paritas

Postpartum Blues Tidak

Ya

Jlh

n

%

n

%

n

Intro24 version Extra- 49 version

40

36

60

60

86

8

14

57

r

-0,377

p

< 0,001

Keterangan: nilai r dihitung berdasarkan uji Somer’s

Pada tabel 5 terlihat tipe introversion lebih banyak mengalami postpartum blues dibandingkan dengan tipe extraversion. Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kekuatan yang lemah dan arah hubungan negatif (p<0,001 dan r=0,377) yang berarti semakin introversion (rendah skor EPI) akan semakin tinggi skor depresinya (EPDS) yang mengarah pada postpartum blues. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara tipe kepribadian dengan postpartum blues dimana postpartum blues dialami oleh 36 orang (81,9%) dengan tipe kepribadian introversion dan 8 orang (18,1%) dengan tipe ekstraversion. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa 44,4% ibu lebih bersikap tertutup dan menarik diri dari lingkungan dalam menghadapi suatu masalah keluarga, dan 18,8% ibu berpikiran atau berkeinginan untuk menyakiti dirinya sendiri atau bayinya hingga sampai bunuh diri bila masalah yang dihadapi tidak dapat terselesaikan. Sikap ibu tersebut dapat terjadi karena ibu kurang pengalaman dan tidak mendapat informasi yang cukup

26

Tabel 6 Analisis Logistik Ganda Hubungan Tipe Kepribadian dan Karakteristik Responden dengan Postpartum Blues SE (β) Nilai p RP (95% CI) 0,479 0,000 9,266 (3,627– 23,673) 0,451 0,015 2,996 (1,237– 7,253) 0,463 0,098

Keterangan: Akurasi model=79,8%.

Tabel 6 menunjukkan hasil analisis regresi logistik terdapat 2(dua) variabel yang berhubungan secara bermakna dengan postpartum blues, dimana peluang primipara untuk mengalami postpartum blues sebesar 2,99 kali (95% CI: 1,237– 7,253) dibandingkan multipara, sedangkan responden tipe kepribadian introversion berpeluang mengalami postpartum blues sebesar 9,27 kali (95% CI: 3,627–23,673) dibandingkan responden dengan tipe kepribadian extraversion. Sebagian besar responden dalam penelitian ini merupakan masyarakat asli Jambi yang masih kental pengaruh nilainilai agamanya misalkan kepada perempuan ditanamkan untuk tidak membicarakan masalah yang dihadapinya pada suami karena akan menambah beban fikiran suami atau ke orang lain karena dianggap akan membuka aib keluarga sehingga membentuk perempuan menjadi lebih pendiam dan tertutup. Selain itu, ibu nifas diikat oleh berbagai macam mitos yang membatasi ruang gerak ibu untuk beraktivitas. Akibatnya ibu nifas lebih sering tinggal dirumah dan terisolasi dari lingkungannya. Sebagaimana yang dikemukan oleh Eysenck (2000) bahwa 25% kepribadian seseorang terbentuk karena faktor lingkungan dan 75% adalah keturunan. Dengan perilaku ibu yang introversive, tertutup dan menghindar dari lingkungan terutama dalam menghadapi masalah yang terjadi selama nifas dapat menyebabkan


Hubungan Antara Tipe Kepribadian dan Karakteristik Ibu … Yuli Suryanti

terjadinya ibu menjadi stres. Tipe introversion memiliki tingkat keterangsangan korteks yang tinggi sehingga berusaha untuk menghindar dari rangsangan indrawi yang dapat mengaktifkan korteks serebral dan tampak dari perilaku ibu yang tertutup dan menarik diri dari lingkungan. Hal ini sejalan dengan penelitian Verkerk, dkk (2005) bahwa tipe introversion lebih banyak mengalami depresi nifas berdasarkan penelitiannya sejak awal nifas sampai setahun setelah melahirkan. Kesedihan dan kekhawatiran ibu terjadi karena ketidakmampuan ibu dalam beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sementara itu dalam awal masa nifas ibu sangat tergantung pada orang lain karena keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhannya dan bayi. Tidak adanya dukungan sosial dari keluarga terutama suami menyebabkan 15% ibu lebih sensitif dan merasa tidak diperhatikan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ellen (2001) bahwa orang dengan tipe kepribadian introversion menunjukkan regulasi emosi yang lebih berorientasi pada diri sendiri (introversive), cenderung melihat hal-hal melalui sudut pandang sendiri, terlalu peka dan depresif. Dalam penelitian juga ditemukan ibu nifas extravert yang mengalami postpartum blues. Hal ini dapat terjadi kemungkinan karena perubahan hormonal yang cukup besar sehingga mempengaruhi mood yang menyebabkan ibu mudah menjadi depresi. Terjadinya postpartum blues dapat berakibat pada terhentinya pemberian Asi dalam 1 bulan pertama menyusui karena tekanan psikologis berpengaruh menghambat produksi Asi. Hal ini tentu akan mengganggu tumbuh kembang bayi. Oleh karena itu penting bagi ibu nifas untuk menjaga kestabilan emosi saat nifas agar tidak mengganggu tumbuh kembang anak dan keharmonisan keluarga. Dukungan petugas kesehatan dan keluarga terutama suami sangat diperlukan baik berupa bantuan tenaga, dorongan, dan penghargaan untuk meningkatkan kepercayaan diri ibu setelah melahirkan.

2013

DAFTAR PUSTAKA Beck CT, Driscoll J. 2006. Postpartum mood and anxiety disorders: a clinician’s guide. Sudbury, MA: Jones and Bartlett Publishers. Bobak IM, Lowdermilk DL, Jensen MD. 1995. Maternity nursing. Missouri: The CV Mosby Company. Dahlan MS. 2009. Besar sampel dan cara pengambilan sampel dalam penelitian kedokteran dan kesehatan. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika. ______. 2009. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan. Edisi 4. Jakarta: Salemba Medika. Eysenck MW. 2000. Psychology: a student’s handbook. UK: Psychology Press Ltd; Fatimah S. 2009. Hubungan dukungan suami dengan kejadian postpartum blues pada ibu primipara di ruang bugenvile RSUD Tugurejo Semarang tahun 2009. Artikel Riset Keperawatan FK Undip [diunduh 6 Nov 2011]. Tersedia dari:http://eprints.undip.ac.id. Kasdu D. 2005. Solusi Problem Persalinan. Jakarta: Puspa Swara. Kaplan HI, Sadock BJ. 1997. Sinopsis Psikiatri. Jakarta: Binarupa Aksara. Kheirabadi GR, Maracy MR, Barekatain M, Salehi M, Sadri GH, Kelishadi M, Cassy P. 2009. Risk factors of postpartum depression in rural areas of Isfahan, Iran. Arch Iranian Med. 461-67. Mc Govern P, Dowd B, Gjerdingen D, Gross CR, Kenney S, Ukestad L, et al. 2006. Postpartum health of employed mother 5 weeks after childbirth. Ann Fam Med.;4(2):159-67. Monks FJ, Knoers AMP, Hadinoto SR. 2001. Psikologi perkembangan: pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Nevid JS, Rathus SA, Greene B. 2005. Psikologi abnormal. Edisi ke-5. Jilid 1. Jakarta: Erlangga. O’Hara MW. 1994. Postpartum depression: causes and consequences. New York: Springer-Verlag. O’Hara MW, Schlechte JA, Lewis DA, Wright EJ. 1991. Prospective study of postpartum blues. Arch Gen Psychiatry. September;48:801–6. Patel V, Rodrigues M, deSouza N. 2002. Gender, poverty, and postnatal depression: a study of mothers in Goa, India. Am J Psychiatry. 159:43-7.

27


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Ellen Schatz. 2001. Personality: theory and research. Edisi ke-8. USA: John Wiley & Sons, Inc. 232-7. Rajaratnam J, O’ Campo P, O’Brien M, Muntaner C. 2010. The effect of social isolation on depressive symtomps varies by neighborhood characteristics: a study of an urban sample of women with preschool aged children. Int J Ment Health. 464-75. Robertson E, Grace S, Wallington T, Stewart DE. 2004. Antenatal risk factor for postpartum depression: a synthesis of recent literature. Gen Hosp Psychiatry. 289-95. Schmidt RM, Wiemann CM, Rickert VI, Smith EO. 2006. Moderate to severe depressive symptoms among .

28

adolescent mothers followed four years postpartum. J Adolesc Health. 712-18. Sylvia. 2000. Depresi pasca persalinan dan dampaknya pada keluarga. Jakarta: FK-UI; Verkerk GJM, Denollet J, Van H GL, Van Son MJM, Pop VJM. 2005. Personality factors as determinants of depression in postpartum women: a prospective 1year follow-up study. Psychosom Med. 632–7. Wahyuni F. 2008. Gambaran Faktor Resiko Non Biologis Keadaan Postpartum Blues Pada Ibu Pasca Persalinan Di IRNA A Kebidanan RSUP Dr. M. Jamil Padang tahun 2008. Referensi Ilmiah Indonesia. [diunduh 6 Nov 2011]. Tersedia dari: http://garuda.dikti.go.id


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

FAKTOR â&#x20AC;&#x201C; FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA JAMBI TAHUN 2012 Suryani dan Taty Nurti Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Jambi

ABSTRAK Hasil survey Yayasan Sentra Informasi Kesehatan Orang Kito (SIKOK, 2008) terhadap 593 orang remaja di Kota Jambi tentang pengetahuan, pendidikan dan perilaku remaja terhadap kesehatan reproduksi dan seksual didapatkan bahwa hampir 40 % responden tidak mengetahui bahwa remaja putri dapat hamil meskipun hanya sekalai melakukan seksual (HUS). Sebanyak 67,5 % responden beranggapan keperawanan atau keperjakaan seseorang dapat dilihat dari bentuk tubuhnya, cara berjalan dan cerita-cerita seksnya. Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi tahun 2012. Populasi adalah siswa Sekolah Menengah Atas yang berada di Kota Jambi tahun 2012 yang berjumlah 15.965 orang. Sampel secara estimasi proporsi diketahui berjumlah 273 orang dan diambil secara purposive random sampling dengan menggunakan kuesioner. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni s/d Juli 2012. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat melalui uji statistik chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 273 responden sebanyak 82,4 % tidak melakukan hubungan seksual, 63,7 % responden memiliki tingkat komunikasi yang baik dengan orang tua, 58,2 % responden memiliki tingkat pengawasan orang tua yang baik, 68,9 % responden menggunakan media secara baik, 79,5 % responden memiliki teman sebaya yang baik, 63,4 % responden memiliki sosiokultural yang baik, ada hubungan antara komunikasi orang tua, pengawasan orang tua, media, teman sebaya dan sosiokkultural dengan perilaku hubungan seksual remaja Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi tahun 2012. Kata Kunci: Perilaku seksual remaja, komunikasi orang tua, pengawasan orang tua, media, teman sebaya dan sosiokultural.

PENDAHULUAN Presentasi wanita belum kawin umur 15-19 tahun menurut perilaku berpacaran berdasarkan karakteristik latar belakang yaitu, berpegangan tangan 62%, cium bibir 23,2%, meraba atau merangsang 6,5%, Sedangkan presentasi pria belum kawin umur 15-19 tahun menurut prilaku berpacaran berdasarkan karateristik latar belakang yaitu, berpegangan tangan 60,1%, cium bibir 30,9%, meraba/merangsang 19,2% (SKRRI Provinsi Jambi, 2007:83). Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia Provinsi Jambi terhadap remaja putri yang berusia 15-19 tahun terdapat 65,3 % mengaku berpacaran dengan berpegangan tangan, 15,7 % berciuman bibir, 3,1 % meraba/merangsang bagian tubuh yang sensitif (SKRRI Provinsi Jambi, 2007). Hasil survey Yayasan Sentra Informasi Kesehatan Orang Kito (SIKOK,

2008) terhadap 593 orang remaja di kota Jambi tentang pengetahuan, pendidikan dan prilaku remaja terhadap kesehatan reproduksi dan seksual, di dapatkan hampir 40% responden tidak mengetahui bahwa remaja putri dapat hamil meskipun hanya sekali melakukan hubungan seksual (HUS). Sebanyak 67,5 % respoden beranggapan keperawanan atau keperjakaan seseorang dapat dilihat dari bentuk tubuhnya, cara berjalan dan cerita-cerita seksnya. Perilaku seksual seperti melakukan hubungan seksual pada usia dini tanpa pelindung dan dengan beberapa pasangan menempatkan remaja berisiko terhadap kehamilan tidak diinginkan (KTD), penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV, infertilitas dan kanker servik yang berakibat fatal (Romauli, 2011:51). Disamping itu juga mengakibatkan trauma kejiwaan, kemungkinan hilang kesempatan melanjutkan pendidikan dan kesempaian kerja dan melahirkan bayi yang kurang dan tidak sehat. Sedangkan bagi keluarga

29


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

adalah menimbulkan aib keluarga, beban ekonomi keluarga bertambah, pengaruh kejiwaan bagi anak yang dilahirkan dan menjadi ejekan masyarakat sekitarnya (Pinem, 2009:309). Pengurangan kasus HIV/AIDS dikalangan remaja dan peningkatan kesehatan reproduksi dan seksual membutuhkan program pendidikan yang efektif. Pendidikan seksual penting untuk menghindarkan remaja dari kekeliruan dalam memandang seksual. Namun program itu belum tersedia dibanyak negara termasuk Indonesia. Di Indonesia, pendidikan seksual masih dianggap tabu, di sekolah masih minim dan kontroversi. Melihat adanya gap tersebut, untuk pencegahan perilaku seksual berisiko, penting melibatkan pengaruh orang tua dalam pendidikan seksual di rumah (Glasier, 2006:103). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual antara lain perubahan biologis, kurangnya pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya, remaja dengan presentasi rendah dan tahap aspirasi yang rendah, perspektif sosial kognitif diasosiasikan (Kusmiran, 2011: 33). Jumlah Remaja atau penduduk usia 10 â&#x20AC;&#x201C; 24 tahun di Provinsi Jambi adalah 858.294 jiwa atau 27,75 % dari total penduduk Jambi. Data yang di peroleh dari Dinas Pendidikan Kota Jambi pada tahun 2012 bahwa jumlah siswa Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi adalah 15.965 orang. BAHAN DAN CARA KERJA Berdasarkan kerangka teori Sarwono (2012:187), Kusmiran (2012:34) dan Roumauli (2011:50) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja adalah meningkatkan libido seksual, penundaan usia perkawinan, tabu-larangan, kurangnya informasi tentang seks, pergaulan yang semakin bebas, perubahan biologis, kurangnya pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya, remaja dengan prestasi rendah, perspektif sosial kognitif, perubahan psikis, fisik dan IPTEK. Peneliti meneliti variabel komunikasi orang tua, pengawasan orang tua, media, teman sebaya dan sosiokultural karena variabel

30

tersebut berpengaruh secara langsung terhadap perilaku remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian yang digunakan yaitu cross sectional (potong lintang) yang mengukur variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat) secara bersamaan. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi pada bulan Mei hingga Agustus Tahun 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi tahun 2012 sebanyak 15.965 orang. Sampel adalah siswa yang sekolah di SMA yang terpilih menjadi tempat penelitian. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 273 siswa. Jumlah sampel sebanyak 273 responden. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive random sampling dengan menggunakan kuesioner. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni hingga Juli Tahun 2012. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan dari 273 responden sebanyak 82,4 % tidak melakukan hubungan seksual, 63,7 % responden memiliki tingkat komunikasi yang baik dengan orang tua, 58,2 % responden memiliki tingkat pengawasan orang tua yang baik, 68,9 % responden menggunakan media secara baik, 79,5 % responden memiliki teman sebaya yang baik, 63,4 % responden memiliki sosiokultural yang baik, ada hubungan antara komunikasi orang tua, pengawasan orang tua, media, teman sebaya dan sosiokkultural dengan perilaku hubungan seksual remaja Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi tahun 2012. Perilaku seksual seperti melakukan hubungan seksual pada usia dini tanpa pelindung dan dengan beberapa pasangan menempatkan remaja berisiko terhadap kehamilan tidak diinginkan (KTD), penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV, infertilitas dan kanker servik yang berakibat fatal (Romauli, 2011:51) Berdasarkan penelitian tentang komunikasi remaja dengan orang tua


Faktor â&#x20AC;&#x201C; Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual â&#x20AC;Ś Suryani dan Taty Nurti

menunjukkan sebagian besar remaja memiliki komunikasi dengan orang tua yang baik. Tingkat komunikasi orang tua dengan perilaku seksual remaja menunjukan bahwa remaja yang memiliki komunikasi orang tua yang baik mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak melakukan hubungan seksual. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,000 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara komunikasi orang tua dengan perilaku seksual remaja. Hubungan seks diluar perkawinan, bukan hanya dianggap tidak baik, tetapi juga tidak boleh ada, bahkan sering dianggap tidak pernah ada. Akibat anggapan ini membuat orang tua dan pendidik menjadi tidak mau terbuka atau berterus terang terhadap anaknya atau anak didik mereka tentang seks, takut kalau anak-anak itu jadi ikut-ikutan mau melakukan seks sebelum waktunya (sebelum mmenikah). Seks kemudian menjadi tabu untuk dibicarakan, walaupun antara anak dengan orang tuanya sendiri. Sulitnya komunikasi, khususnya dengan orang tua pada akhirnya akan menyebabkan perilaku seksual yang tidak diharapkan. Hasil penelitian Sarwono tahun 1985 menunjukkan bahwa remaja yang memiliki komunikasi yang jelek dengan orang tuanya akan memiliki perilaku yang negatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang memiliki komunikasi yang baik dengan orang tuanya (Sarwono, 2012:200). Penelitian tentang pengawasan orang tua menunjukkan bahwa sebagian remaja memiliki pengawasan orang tua yang baik. Hasil penelitian menunjukan bahwa remaja yang memiliki pengawasan orang tua yang baik mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak melakukan hubungan seksual. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value =0,000 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara pengawasan orang tua dengan perilaku seksual remaja. Pengawasan orang tua terhadap anak dengan siapa anak bergaul, buku yang dibaca, apa saja yang ditonton anak, akses penggunaan internet akan mencegah perilaku seksual remaja yang kurang baik. Menurut Rex Forehand (1997) dalam

2013

Sarwono (2012:205) bahwa semakin tinggi pemantauan orang tua terhadap anak remajanya, semakin rendah kemungkinan perilaku menyimpang seorang anak. Karena itu, disamping komunikasi yang baik dengan anak, orang tua juga perlu mengembangkan kepercayaan anak kepada orang tua sehingga remaja lebih terbuka dan mau bercerita kepada orang tua agar orang tua bisa memantau pergaulan anak remajanya. Gambaran penggunaan media sebagian besar remaja menggunakan media secara baik. Hasil penelitian tentang remaja yang menggunakan media secara baik mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak melakukan hubungan seksual. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,003 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara media dengan perilaku seksual remaja. Kehadiran media internet merupakan sarana baru yang memperoleh informasi yang menghasilkan perubahan dikalangan masyarakat, terutama bagi pelajar pada jam-jam tertentu tampak hadir diberbagai warnet. Remaja melakukan aktivitas mendownload situs porno, chatting yang berbau porno akan cenderung terangsang perilaku seksual remaja seperti bergandengan, berciuman, saling meraba daerah sensitive, petting hingga berhubungan seksual (http://www.bkkbn.go.id.html) Aneka macam yang berpengaruh negatif pun bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet. Bahkan, melalui internet orang juga melakukan penipuan dan pencurian (http://pengaruhinternet terhadap remaja. blogspot.com/). Sebagian besar remaja memiliki teman sebaya yang baik dan sebagian kecil memiliki teman sebaya yang kurang baik. Hasil penelitian menunjukan bahwa remaja yang mempunyai sebaya yang baik mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak melakukan hubungan seksual. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value =

31


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

0,003 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak ada ada hubungan antara teman sebaya dengan perilaku seksual remaja. Keinginan menjadi mandiri timbul dari dalam diri remaja. Salah satu bentuk kemandiriannya adalah dengan mulai melepaskan diri dari pengaruh orang tua dan ketergantungan secara emosional pada orang tua. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman sebayanya dibandingkan bersama dengan orang tuanya, sehingga tingkah laku dan norma/aturan-aturan yang dipegang banyak dipengaruhi oleh kelompok sebayanya (Tarwoto, 2010:15) Berdasarkan hasil analisa data diketahui sebagian besar remaja memiliki sosiokultural yang baik dan sebagian kecil memiliki sosiokultural yang kurang baik. Hasil penelitian menunjukan bahwa remaja yang memiliki sosiokultural yang baik mempunyai proporsi lebih besar untuk tidak melakukan hubungan seksual. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,001 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara sosiokultural dengan perilaku seksual remaja. Norma kebiasaan yang ada dimasyarakat dan kepedulian anggota masyarakat terhadap satu dengan yang lain akan mencegah remaja yang tinggal dilingkungan tersebut untuk melakukan perilaku seksual yang tidak baik karena akan timbul perasaan malu jika melakukan perbuatan seksual yang tidak baik. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa sebagian besar responden tidak melakukan hubungan seksual, sebagian besar remaja memiliki tingkat komunikasi yang baik dengan orang tua, sebagian responden memiliki tingkat pengawasan orang tua yang baik, sebagian besar responden menggunakan media secara baik, sebagian besar responden memiliki teman sebaya

32

yang baik, sebagian besar responden memiliki sosiokultural yang baik, ada hubungan antara komunikasi orang tua, pengawasan orang tua, media, teman sebaya dan sosiok kultural dengan perilaku hubungan seksual remaja Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi tahun 2012. Diharapkan bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi dapat meningkatkan program kesehatan reproduksi bagi remaja Sekolah Menengah Atas sehingga remaja tidak melakukan perilaku seksual yang berisiko dan bagi Dinas Pendidikan Nasional diharapkan dapat membuat program pembinaan remaja di Sekolah Menengah Atas di Kota Jambi bekerja sama dengan guru Bimbingan dan Konseling di sekolah. DAFTAR PUSTAKA Glasier, Anna & Ailsa Gebbie, 2006, Keluarga Berencana & Kesehatan Reproduksi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta : xii + 465 hlm. Kusmiran, Eny, 2012, Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Salemba Medika. Jakarta Selatan : xi + 176 hlm. Pinem, Sarohan, 2009, Kesehatan Reproduksi & Kontrasepsi : CV.Trans Info Media. Jakarta : viii + 450 hlm Romauli, Suryanti & Anna Vida Vindari, 2011, Kesehatan Reproduksi Buat Mahasiswa Kebidanan : Nuha Medika. Yogyakarta : vii + 176 hlm Suminah, 2006. Kesehatan Reproduksi Remaja. Seminar Workshop di Novotel Jambi. Yayasan SIKOK PKBI Jambi. Sarwono, W Sarlito, 2012, Psikologi Remaja, Rajawali Pres. Jakarta : xxii + 322 hlm Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia, 2007, Jakarta : 495 hlm SKRRI Provinsi Jambi, 2007 Tarwoto, dkk, 2010, Kesehatan Remaja Problem dan Solusinya. Salemba Medika. Jakarta : xii + 134 hlm http://www.bkkbn.go.id/-7 Maret 2012 http://pengaruhinternetterhadapremaja.blogspot. com/


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

HUBUNGAN FAKTOR PREDISPOSISI, FAKTOR PEMUNGKIN, DAN FAKTOR PENGUAT DENGAN PENCAPAIAN PERTOLONGAN PERSALINAN NORMAL OLEH MAHASISWA D3 KEBIDANAN Enny Susilawati Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Jambi

ABSTRAK Pencapaian pertolongan persalinan oleh mahasiswa semester VI ternyata bervariasi ada yang berhasil mencapai 50 persalinan namun ada juga yang hanya mendapatkan beberapa persalinan. Pencapaian tersebut ditentukan oleh faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan faktor predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor penguat dengan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa D 3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jambi. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan rancangan potong lintang. Jumlah subjek 79 orang mahasiswa D3 Kebidanan Jalur Umum semester VI Poltekkes Kemenkes Jambi tahun akademik 20112012. Analisis bivariabel dengan uji chi kuadrat dan analisis multivariabel dengan regresi logistik ganda. Hasil penelitian terdapat perbedaan antara pencapaian pertolongan persalinan normal berdasarkan faktor predisposisi yaitu pengetahuan (p=0.007), sikap (p=0.001), keyakinan diri (p=0.005), faktor pemungkin yaitu lahan praktik (p=0.001), sedangkan dari faktor penguat yaitu pembimbing praktik tidak menunjukkan ada perbedaan bermakna pada pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa (p=0.132). Lahan praktik merupakan faktor dominan dalam pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa dan berpeluang 6.17 kali untuk mencapai target pertolongan persalinan normal. Simpulan penelitian, pengetahuan, sikap, dan keyakinan diri mahasiswa serta dukungan dari lahan praktik yang lebih baik meningkatkan pencapaian pertolongan persalinan oleh mahasiswa D3 kebidanan sedangkan pembimbing praktik tidak berhubungan. Kata kunci: Faktor predisposisi, faktor pemungkin, faktor penguat, pertolongan persalinan normal

PENDAHULUAN Saat ini di Indonesia telah berdiri lebih dari 700 institusi kebidanan dengan jumlah mahasiwa yang beragam. Banyaknya mahasiswa memerlukan praktik persalinan normal ke lahan praktik menyebabkan terjadinya persaingan dengan mahasiswa dari institusi lain, apabila hal ini tidak dapat ditanggulangi maka mahasiswa sulit untuk mencapai kompeten dalam melaksanakan praktik dan akan menyebabkan target pencapaian kompetensi pertolongan persalinan tidak tercapai (Depkes RI, 2004). Hasil kesepakatan Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan dengan Institusi Kebidanan di Jakarta tanggal 17 April 2003 menetapkan target kompetensi persalinan normal yang harus dicapai

mahasiswa adalah sebanyak 50 kali menolong persalinan (Depkes, 2011). Untuk mencapai target 50 kali menolong persalinan normal tersebut di Jambi tidaklah mudah, hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadi kendala. Faktor-faktor tersebut adalah faktor perilaku yang dapat menentukan pencapaian pertolongan persalinan oleh mahasiswa. Menurut Notoadmodjo (2003) konsep umum yang digunakan untuk mendiagnosis perilaku adalah konsep dari Lawrence Green bahwa perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu faktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap dan keyakinan diri, kepercayaan, nilai-nilai dan sebagainya, oleh faktor pemungkin (enabling factors) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak

33


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

tersedianya fasilitas-fasilitas atau saranasarana kesehatan berupa lahan praktik bagi mahasiswa dan selanjutnya oleh faktor penguat (reinforcing factors) berupa perilaku petugas pembimbing praktik, tokoh masyarakat dan lain sebagainya. Pengalaman belajar klinik di lahan praktik lebih difokuskan ke arah penerapan pengetahuan, sikap dan keterampilan profesional dengan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berfikir kritis selama melakukan asuhan. Pengalaman belajar di lahan praktik lebih diarahkan dengan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk dapat mengintegrasikan pengetahuan yang telah didapat dengan keterampilan profesional berdasarkan standar profesi melalui proses pembelajaran dalam situasi nyata. Jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di kota Jambi tahun 2011 sebanyak 11.898 persalinan, sedangkan jumlah persalinan yang ada di lahan praktik yang digunakan oleh Jurusan kebidanan Poltekkes Jambi sebanyak 6699 persalinan sementara jumlah mahasiswa yang praktik di tahun itu sebanyak 1.272. Apabila dilihat dari jumlah total persalinan terdapat ketidaksesuaian rasio mahasiswa yang praktik dengan jumlah persalinan (Lap. Poltekkes, 2011). Hasil laporan pelaksanaan praktik mahasiswa, pencapaian pertolongan persalinan oleh mahasiswa semester VI ternyata bervariasi ada yang berhasil mendapatkan 50 persalinan namun ada juga yang hanya mendapatkan beberapa persalinan. Tahun akademik 2009/2010 didapatkan 14,6% mahasiswa yang belum mencapai target pertolongan persalinan dan tahun akademik 2010/2011 sebanyak 43% mahasiswa yang belum bisa mencapai target pertolongan persalinan sehingga tidak bisa mengikuti ujian akhir program gelombang I. Diharapkan dengan melakukan pertolongan persalinan yang berulang-ulang mahasiswa dapat lebih kompeten dalam melakukan pertolongan persalinan, sedangkan apabila mahasiswa tidak dapat mencapai target tersebut dampak jangka pendeknya mahasiswa tidak dapat mengikuti ujian akhir program (UAP) di institusi pendidikan, adapun dampak jangka panjang bidan yang lulus

34

dianggap tidak kompeten, tidak siap kerja dan tidak mampu melakukan pertolongan secara mandiri (Lap. Poltekkes, 2011). BAHAN DAN CARA KERJA Metode penelitian ini adalah analitik dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah mahasiswa D3 Kebidanan Jalur Umum semester VI Poltekkes Kemenkes Jambi tahun akademik 20112012. Jumlah subjek adalah 79 responden. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2013. Jenis data yang dipergunakan adalah data primer dengan instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data yang terkumpul dilakukan analisis menggunakan chi kuadrat dan analisis multivariabel dengan regresi logistik ganda (Notoadmodjo, 2006). HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi frekuensi faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, keyakinan diri), faktor pemungkin (lahan praktik), faktor penguat (pembimbing praktik) dan pencapaian pertolongan persalinan normal. Dari 79 responden sebanyak 60,8% mahasiswa memiliki pengetahuan tinggi, 63,3% bersikap positif, 50,6% percaya diri, 58,2% lahan praktik mendukung, dan 77,2% pembimbing praktik mendukung. Menurut kategori variabel pencapaian diketahui bahwa dari 79 responden, 43 orang (54,4 %) diantaranya memiliki pencapaian tinggi dan 36 orang (45,6%) memiliki pencapaian rendah dibawah 43 kali. Terdapat perbedaan bermakna pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa berdasarkan pengetahuan (0,007), sikap (0,001) dan keyakinan diri (0,005) dari faktor predisposisi. Dari hasil uji statistik dengan chi kuadrat menunjukkan terdapat perbedaan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa antara mahasiswa yang memiliki pengetahuan rendah dan tinggi. Pengetahuan atau kognitif merupakan


Hubungan Faktor Predisposisi, Faktor Pemungkin, dan Faktor Penguat â&#x20AC;Ś Enny Susilawati

faktor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang sebab prilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (Depkes RI, 2004). Pengetahuan yang tinggi dapat menjadi dasar bagi mahasiswa dalam melakukan pertolongan persalinan normal sesuai dengan langkah-langkah asuhan persalinan normal. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dan diperlukan sebagai dorongan dalam menumbuhkan kepercayaan diri maupun dorongan sikap dan perilaku sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan stimuli untuk tindakan seseorang. Seseorang dapat mengingat materi yang didapatkan sebelumnya dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Pengetahuan yang telah dimiliki tersebut menjadikan seseorang memiliki kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajarinya pada situasi nyata (Notoadmodjo, 2003). Berdasrkan uji chi kuadrat terdapat perbedaan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa yang memiliki sikap positif dan mahasiswa yang memiliki sikap negatif. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan, untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan dari pihak lain. Dalam melakukan pertolongan persalinan normal sikap mahasiswa hendaknya didukung oleh fasilitas yang ada dilahan praktik serta bimbingan yang terarah dari pembimbing praktik (WHO, 2011). Hasil penelitian berdasarkan analisis chi kuadrat menunjukan bahwa terdapat perbedaan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa yang tidak memiliki keyakinan diri dan mahasiswa yang memiliki keyakinan diri. Pada penelitian ini didapatkan bahwa mahasiswa yang tidak percaya diri pencapaian pertolongan persalinannya rendah (Yuanita, 2011). Mahasiswa yang memiliki self efficacy yang tinggi, ia akan selalu mencoba melakukan berbagai tindakan dan siap

2013

menghadapi kesulitan-kesulitan, hal ini diasumsikan bagi mahasiswa yang memiliki keyakinan diri tinggi akan mampu menghadapi proses persalinan dengan karakter pasien yang berbeda dan dan kasus yang tidak sama pada setiap persalinan, maka efficacy mahasiswa sangat menentukan seberapa besar usaha yang dikeluarkan dan seberapa ia bertahan dalam menghadapi rintangan dan pengalaman yang baru dalam melakukan pertolongan persalinan. Ketika menghadapi kesulitan, mahasiswa mempunyai keraguan yang besar tentang kemampuannya akan mengurangi usaha-usahanya atau menyerah sama sekali. Sedangkan mereka yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi menggunakan usaha yang lebih besar untuk mengatasi tantangan dan menyelesaikan tugas-tugasnya (Tandelilin, 2005). Terdapat perbedaan yang bermakna pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa berdasarkan lahan praktik (P=0.001) dari faktor pemungkin. Hasil penelitian berdasarkan analisis chi kuadrat menunjukan bahwa terdapat perbedaan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa pada lahan praktik yang tidak mendukung dengan lahan praktik yang mendukung (Pembayun EL, 2010). Praktik klinik merupakan bagian penting dalam keseluruhan proses pembelajaran pendidikan D3 Kebidanan dalam tercapainya kompetensi lulusan yang diharapkan. Melalui praktik klinik, para mahasiswa dimungkinkan untuk mengembangkan dan memadukan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan mereka perlukan dalam kehidupan profesional mereka sehingga mereka siap sepenuhnya dalam praktik sebagai bidan yang kompeten dalam wewenangnya (Syahreni, 2007). Saat ini jumlah pasien yang ada di lahan praktik tidak sesuai dengan rasio mahasiswa yang melakukan praktik. Jumlah persalinan yang terbatas dengan jumlah mahasiswa yang terlalu banyak menyebabkan timbulnya persaingan antar mahasiswa dalam memenuhi pencapaian pertolongan persalinan normal. Perlu

35


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai berapa banyak jumlah persalinan yang harus dicapai oleh mahasiswa sampai mahasiswa tersebut kompeten melakukan pertolongan persalinan, apakah harus melakukan 50 kali pertolongan persalinan sesuai dengan target yang ada saat ini atau cukup dengan hanya beberapa persalinan sudah mampu membuat mahasiswa kompeten. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pembayun EL (2010) yang menyatakan bahwa keterampilan dan kompetensi mahasiswa yang jumlah pertolongan persalinannnya lebih dari 30 kali sama dengan mahasiswa yang jumlah pertolongan persalinannya lebih dari 40 kali. Jumlah pertolongan persalinan minimal 31 kali (>30) sudah memperlihatkan kompetensi mahasiswa yang baik. Tidak terdapat perbedaan bermakna pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa berdasarkan pembimbing praktik (P=0.132) dari faktor penguat. Hasil penelitian berdasarkan analisis chi kuadrat menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa berdasarkan pembimbing praktik. Dukungan dan bimbingan dari pembimbing praktik pada saat mahasiswa dinas dilahan praktik merupakan dukungan pembelajaran yang efektik dilahan praktik, akan tetapi terdapat kesulitan pengawasan pembimbing terhadap mahasiswa baik dari segi waktu maupun kontinuitas dari pembimbing (Surtinah, 2012). Tehnik bimbingan ini hendaknya diterapkan dalam proses bimbingan sehingga mahasiswa dapat memperoleh bimbingan yang penuh dari pembimbing, namun hal ini sulit dilakukan pada situasi pembimbing yang terbatas dan jumlah mahasiswa yang banyak. Hasil analisis regresi logistik ganda terdapat dua variabel yang berhubungan secara bermakna dengan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa, yaitu variabel faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, keyakinan diri), variabel pemungkin (lahan praktik). Hal ini ditunjukkan dengan nilai p<0.05.

36

KESIMPULAN DAN SARAN Pengetahuan, sikap, dan keyakinan diri yang baik dapat meningkatkan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa. Pada lahan praktik yang mendukung dapat lebih meningkatkan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa dan tidak ada perbedaan antara dukungan pembimbing praktik dengan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa. Faktor predisposisi dan faktor pemungkin berhubungan dengan pencapaian pertolongan persalinan normal oleh mahasiswa tetapi faktor penguat tidak berhubungan. Agar mencapai target pertolongan persalinan normal hendaknya mahasiswa dapat lebih meningkatkan pengetahuan, sikap dan keyakinan diri dalam melakukan pertolongan persalinan, bagi pengelola pendidikan diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan yang dapat memberikan peluang kepada mahasiswa untuk dapat melaksanakan pertolongan persalinan normal secara mandiri serta ada kerjasama antara pihak institusi pendidikan dengan pembimbing di lahan praktik untuk membuat strategi bimbingan agar mahasiswa mendapatkan bimbingan yang optimal dan bagi lahan praktik dan pembimbing praktik agar dapat memfasilitasi dan meningkatkan bimbingan terhadap mahasiswa sehingga mahasiswa dapat mencapai target pertolongan persalinan normal. DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Evaluasi kurikulum berbasis kompetensi. Jakarta. Departemen Kesehatan, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan, 2011. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Model pembelajaran praktik klinik kebidanan. Jakarta. Notoatmodjo S. 2003. Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. ____________2006. Metode penelitian kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta.


Hubungan Faktor Predisposisi, Faktor Pemungkin, dan Faktor Penguat â&#x20AC;Ś Enny Susilawati

Politeknik Kesehatan Kemenkes Jambi. 2011. Laporan pelaksanaan praktik klinik kebidanan. Jambi 2011. Surtinah N. 2012. Pengaruh bimbingan klinik dan motivasi belajar terhadap kemampuan menolong persalinan normal. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forkes. III(1):5-9. Syahreni E. Waluyanti FT. 2007. Pengalaman mahasiswa S1 keperawatan program regular dalam pembelajaran klinik. Jurnal Keperawatan Indonesia. II(2):4753. Tandelilin E, Salim U. 2005. Kompetensi dosen, keyakinan diri (Self-Efficacy) dan motivasi mahasiswa pengaruhnya terhadap prestasi mahasiswa (Student Achievement). Fakultas ekonomi

2013

universitas surabaya. Jurnal Aplikasi Manajemen. 3(3): 253-259. World Health Organization. 2011. Panduan pembelajaran praktik klinik kebidanan dengan pendekatan preceptorship dan mentorship. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Jakarta. Yuanita S. 2011. Motivasi dan percaya diri untuk meraih kesuksesan. Yogyakarta: Briliant Books. Pembayun EL, 2010. Hubungan pencapaian jumlah pertolongan persalinan dengan kompetensi mahasiswa kebidanan Bogor Husada. Tesis. Universitas Padjadjaran. Bandung.

37


2013

Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI PUSKESMAS PUTRI AYU KOTA JAMBI TAHUN 2011 Daryono, Cek Masnah dan Bettywaty Eliezer Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Jambi

ABSTRAK Penyakit ISPA di Provinsi Jambi merupakan masalah kesehatan utama masyarakat. Penyakit ISPA merupakan penyakit terbanyak yang ditemukan pada pasien di Puskesmas di wilayah kerja Kota Jambi. Penyakit ISPA menduduki urutan nomor satu dari 10 penyakit lainnya pada tahun 2009. Pada tahun 2009 dari 46.352 balita di Kota Jambi terjadi sebanyak 48.829 kunjungan kasus ISPA pada balita (105,34 %). Cakupan penderita ISPA terbesar di Kota Jambi adalah di wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu, yaitu sebanyak 694 (31,33 %) dari seluruh (2.215) penderita ISPA di Kota Jambi (Dinas Kesehatan Kota, 2010: 15). Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi tahun 2011. Penelitian deskriptif analitik menggunakan pendekatan case control. Populasi penelitian adalah balita usia 0 – 60 bulan di Puskesmas Putri Ayu di Kota Jambi tahun 2011. Tehnik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah sampel 120 terdiri 60 sampel kasus dan 60 sampel kontrol. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara kepada ibu balita menggunakan kuesioner dan pengukuran status gizi. Analisis data menggunakan analisis bivariat dengan uji statistik chi square. Hasil penelitian diketahui ada hubungan antara umur dengan kejadian ISPA pada balita (p value = 0,01, OR = 0,01 dengan 95 % CI = 0,01- 0,076), ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA (p value = 0,000, OR = 13,444, 95 % CI = 4,71 – 38,31), adanya hubungan antara pemberian pemberian vitamin A dengan ISPA (p value = 0,000, OR = 31,95 % CI = 6,932 – 138,624), adanya hubungan antara keberadaan anggota keluarga yang menderita ISPA dengan kejadian ISPA (p value = 0,000, OR = 7,875 95 % CI = 2,943 – 21,071) dan tidak ada hubungan antara berat badan lahir, pencemaran udara, ventilasi, kepadatan hunian dengan kejadian ISPA. Kata Kunci: Kejadian ISPA, umur, berat badan, status gizi, pemberian vitamin A, imunisasi, pencemaran udara, ventilasi, kepadatan hunian dan keberadaan angggota keluarga yang menderita ISPA.

PENDAHULUAN Angka kematian bayi dan balita Indonesia adalah tertinggi di Negara ASEAN. Penyebab angka kesakitan dan kematian anak terbanyak saat ini masih diakibatkan oleh pnemonia (ISPA) dan diare. ISPA menyebabkan 4 juta dari 15 juta kematian pada anak berusia dibawah lima tahun pada setiap tahunnya. Setiap anak balita diperkirakan mengalami 3 – 6 episode ISPA setiap tahunnya dan proporsi kematian yang disebabkan ISPA mencakup 20 – 30 % (WHO, 2003:1). Penyakit ISPA mencakup penyakit saluran napas bagian atas dan saluran napas bawah. Penyakit Infeksi saluran napas bagian atas dapat mengakibatkan kematian anak dalam jumlah kecil, tetapi dapat menyebabkan kecacatan seperti otitis

38

media yang merupakan penyebab ketulian. Sedangkan hampir seluruh kematian pada ISPA pada anak adalah infeksi saluran pernapasan bawah akut, yang paling sering adalah pneumonia (Maryunani, 2010:7). ISPA disebabkan oleh rinovirus, adenovirus, virus influenza atau virus para influenza. Gejala ISPA lebih berat pada bayi dan anak-anak dibandingkan orang dewasa. Demam merupakan gejala yang paling banyak tejadi, terutama pada anakanak kecil. Emam pada anak-ank yang sudah lebih besar biasanya lebih rendah, yang terjadi di awal proses infeksi (WHO, 2003:5). Penyakit ISPA di Provinsi Jambi merupakan masalah kesehatan utama masyarakat. Penyakit ISPA merupakan penyakit terbanyak yang ditemukan pada pasien di Puskesmas di wilayah kerja Kota


Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA â&#x20AC;Ś Daryono, Cek Masnah dan Bettywaty Eliezer

Jambi. Penyakit ISPA menduduki urutan nomor satu dari 10 penyakit lainnya pada tahun 2009. Pada tahun 2009 dari 46.352 balita di Kota Jambi terjadi sebanyak 48.829 kunjungan kasus ISPA pada balita (105,34 %). Cakupan penderita ISPA terbesar di Kota Jambi adalah diwilayah kerja Puskesmas Putri Ayu, yaitu sebanyak 694 (31,33 %) dari seluruh (2.215) penderita ISPA di Kota Jambi (Dinas Kesehatan Kota, 2010). BAHAN DAN CARA KERJA Kerangka konsep dalam penelitian ini mengacu kepada teori faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA yang dikemukakan oleh Maryunani. Menurut Maryunani (2010;12) bahwa faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA adalah faktor anak, faktor lingkungan dan faktor perilaku. Faktor individu anak terdiri dari umur anak, berat badan lahir, lahir, status gizi, vitamin A dan status imunisasi. Faktor lingkungan terdiri dari pencemaran udara dalam rumah, ventilasi rumah, kepadatan hunian rumah dan keberadaan anggota keluarga yang menderita ISPA. Sedangkan faktor perilaku adalah pencegahan dan penanganan ISPA dikeluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Variabel yang diteliti adalah faktor anak dan faktor lingkungan karena faktor anak dan faktor lingkungan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya ISPA pada anak. Penelitian ini dengan desain kuantitatif dengan pendekatan penelitian dilakukan secara case control . Penelitian dilakukan di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi dan waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 21 Mei s/d 26 Agustus 2011. Populasi dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu: populasi kasus dan populasi kontrol. Populasi kasus ĂĄdalah balita yang datang berkunjung ke Puskesmas Putri Ayu dikarenakan menderita ISPA. Sedangkan populasi kontrol yaitu balita yang datang berkunjung ke Puskesmas Putri Ayu tetapi tidak tenderita ISPA. Pengambilan sampel dengan cara Accidental sampling. Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah anak balita yang menderta ISPA (kontrol) dan anak balita

2013

yang tidak menderita ISPA yang berkujung ke Puskesmas Putri Ayu Jambi. Kriteria lainnya bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu di Kota Jambi dan bersedia menjadi responden penelitian. Besar Sampel dalam penelitian ini sampel kasus dan kontrol adalah 60 sampel dengan total sampel sebesar 120 sampel. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu data primer dan sekunder. Data Primer merupakan data yang diperoleh dari pengukuran secara langsung berat badan, tinggi badan dan umur untuk mendapatkan data status gizi. Sedangkan data sekunder diperoleh dengan wawancara kepada orang tua responden yaitu ibu responden (balita) dengan menggunakan kuesioner guna mendapatkan data riwayat imunisasi, pemberian vitamin A, ventilasi, kepadatan hunian, keberadaan anggota keluarga yang menderita ISPA. Pengumpulan data dilakukan oleh enumerator yang telah ditugaskan dalam penelitian ini. Waktu pengumpulan data dari 21 Juli sampai 15 Agustus 2011. Pada penelitian ini analisa data terdiri dari analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi frekuensi dari variabel dependen dan independen yang berskala katagorik. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan uji hubungan chi square. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian tentang umur diketahui bahwa sebagian besar berusia bayi yaitu sebanyak 81 (67,5 %), sebagian kecil responden berusia balita yaitu; 39 (32, 5 %). Hasil penelitian menunjukan bahwa anak dengan yang berumur balita mempunyai proporsi mengalami kejadian ISPA sebesar 97,4 %, sedangkan anak yang berusia bayi memiliki proporsi lebih kecil mengalami kejadian ISPA. Analisa data menunjukan bahwa ada hubungan antara umur dengan kejadian ISPA. Dari uji statistik didapat p value = 0,01 dengan nilai OR sebesar 0,01 (95 % CI= 0,01 â&#x20AC;&#x201C; 0,076). Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Koch et al (2003) yang membuktikan adanya

39


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian ISPA (p value = 0,001). Adanya hubungan antara umur dengan kejadian ISPA dapat dihubungkan dengan penurunan antibodi maternal, imaturitas adaptif sistem imun, penghentian pemberian ASI dan dimulainya penitipan anak pada pusat perawatan anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Koch et al (2003) yang menyatakan umur merupakan faktor resiko yang kuat untuk mengalami kejadian ISPA atas maupun bawah pada anak golongan usia 6 â&#x20AC;&#x201C; 11 bulan. Mekanisme kuatnya resiko kejadian ISPA pada anak usia bayi meliputi penurunan antibodi maternal, imaturitas adaptif sistem imun, penghentian pemberian ASI dan dimulainya penitipan anak pada pusat perawatan anak. Penelitian tentang gambaran berat badan lahir responden terlihat bahwa hampir seluruh responden memiliki berat badan lahir baik yaitu sebanyak 112 (93,3 %), sebagian kecil responden memiliki riwayat berat badan lahir tidak baik yaitu; 8 (6,7 %). Hasil analisa menunjukan bahwa anak dengan berat badan lahir < 2500 gram mempunyai proporsi mengalami kejadian ISPA sebesar 62,5 %, sedangkan anak yang lahir dengan berat badan lahir â&#x2030;Ľ 2500 gram memiliki proporsi lebih kecil mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 49,1 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,717 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian ISPA. Dari uji statistik juga didapat nilai OR yang besarnya 1,727 (95 % CI= 0,94- 7,577). Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian W. Fonseca et al (1996) yang membuktikan adanya hubungan yang bermakna antara berat badan lahir dengan kejadian ISPA dimana hasil penelitiannya menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir < 2000 gr dengan kejadian pneumonia (ISPA) dengan nilai OR 3,16 (95 % CI =1,12 â&#x20AC;&#x201C; 8,94) untukanak berat badan lahir rendah dibandingkan anak yang lahir dengan berat badan lahir â&#x2030;Ľ 2500 gram. Tidak adanya hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian ISPA dalam penelitian ini dapat dihubungkan dengan besarnya proporsi responden kontrol yang tidak mengalami kejadian ISPA dibandingkan proporsi

40

responden kasus yang mengalami kejadian ISPA. Dalam hal ini secara statistik data tidak cukup kuat untuk membuktikan adanya hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian ISPA. Selain itu menurut Maryunani (2010;14) menyatakan anak yang memiliki riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami rate lebih tinggi terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan, tetapi bila mengalami infeksi saluran pernapasan mengalami lebih berat infeksinya. Berat badan lahir menentukan pertumbuhan fisik dan mental masa balita. Bayi dengan berat lahir rendah mempunyai resiko kematian yang lebih besar dibandingkan bayi yang lahir dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulanbulan pertama kelahiran karena pembentukan zat antibodi kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena infeksi terutama pneumonia dan infeksi pernapasan lainnya. Status gizi responden dalam penelitian ini terlihat bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi baik yaitu sebanyak 82 (68,3%), sebagian kecil responden memiliki status gizi pendek yaitu; 38 (31,7 %). Hasil penelitian menunjukan bahwa anak dengan status gizi pendek mempunyai proporsi mengalami kejadian ISPA sebesar 86,8 %, sedangkan anak yang berstatus gizi normal memiliki proporsi lebih kecil mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 32,9 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,000 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara status gizi pendek (BB/U) dengan kejadian ISPA. Dari uji statistik juga didapat nilai OR yang besarnya 13,444 (95 % CI= 4,71- 38, 31). Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Suhandayani (2007) yang mendapatkan tidak terdapatnya hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian ISPA. Hal ini disebabkan karena dalam penelitian Suhandayani(2007) cakupan balita yang mempunyai status gizi baik/ sedang jauh lebih besar bila dibandingkan denganstatus gizi kurang/ buruk. Sebagian besar responden penelitian mempunyai status gizi yang baik/ sedang yaitu sebesar 87,9%, sedangkan yang mempunyai status gizi kurang/buruk sebesar 10,5%. Adanya hubungan antara


Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA â&#x20AC;Ś Daryono, Cek Masnah dan Bettywaty Eliezer

status gizi dengan kejadian ISPA dalam penelitian ini dapat dihubungkan dengan asupan zat gizi protein yang berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut Supariasa (2002:23) status gizi mencerminkan keadaan tubuh sebagai akibat dari keseimbangan konsumsi makanan asupan zat gizi dan penggunaan zat â&#x20AC;&#x201C;zat gizi. Status gizi yang baik dapat mencerminkan asupan protein yang cukup. Protein mempunyai fungsi dalam pembentukan antibodi. Kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi tergantung pada kemampuan untuk memproduksi antibodi terhadap organisme. Tingginya tingkat kematian pada anak yang kurang gizi disebabkan menurunya daya tahan tubuh (antibodi) sebagai akibat ketidakmampuan tubuh membentuk antibodi dalam jumlah yang cukup. W Fonseca et al (1996) menyatakan bahwa sinergisme antara malnutrisi dengan penyakit infeksi sudah diketahui. Defisiensi prottein dan vitamin menghambat pembentukan antibodi spesifik dan dapat merusak mekanisme pertahan paru-paru. Penelitian tentang gambaran keadaan pemberian vitamin A terlihat bahwa sebagian besar responden tidak mendapat Vitamin A yaitu sebanyak 73 (60,8%) sedangkan sebagian kecil responden memiliki riwayat mendapat vitamin A yaitu; 47 (39,2 %). Hasil penelitian menunjukan bahwa anak yang tidak mendapat pemberian vitamin A mempunyai proporsi mengalami kejadian ISPA sebesar 17,8 %, sedangkan anak yang mendapat pemberian vitamin A memiliki proporsi lebih besar mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 100 %. Hasil uji chi square didapatkan p value = 0,000 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara pemberian vitamin A dengan kejadian ISPA. Dari uji statistik juga didapat nilai OR yang besarnya 0,178 (95 % CI= 0,109 - 0,292), artinya responden yang tidak mendapat vitamin A mempunyai peluang terhindar mengalami kejadian ISPA sebesar 0,178 kali dibandingkan responden yang mendapat vitamin A. Menurut Almatsier (2001;160) menyatakan vitamin A berpengaruh terhadap fungsi kekebalan tubuh pada

2013

manusia. Retinol berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi limfosit B (Leukosit yang berperan dalam proses kekebalan humoral). Kekurangan vitamin A (KVA) menghalangi fungsi sel-sel kelenjar sehingga kulit menjadi kering, kasar dan luka sukar sembuh. Membran mukosa tidak dapat mengeluarkan cairan mukus dengan sempurna sehingga mudah terserang bakteri (infeksi). Vitamin A berpengaruh terhadap fungsi kekebalan tubuh manusia Keadaan status imunisasi responden dalam penelitian terlihat bahwa sebagian besar responden berstatus imunisasi lengkap yaitu sebanyak 87 (72,5 %), sedangkan sebagian kecil responden berstatus imunisasi tidak lengkap yaitu; sebanyak 33 (27,5 %). Hasil penelitian menunjukan bahwa anak yang tidak lengkap mendapat imunisasi mempunyai proporsi lebih besar mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 93, 9 %, sedangkan anak yang lengkap mendapat imunisasi memiliki proporsi lebih kecil mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 33, 3 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,000 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA Dari uji statistik juga didapat nilai OR yang besarnya 31 (95 % CI= 6,932 â&#x20AC;&#x201C; 138,624). Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian De Francisco (1993) dan Fonseca (1996) yang mendapatkan adanya hubungan antara imunisasi dengan kejadian ISPA. Fonseca (1996) dalam hasil penelitiannya menyatakan terjadinya peningkatan resiko ISPA (pneumonia) masa anak-anak yang berhubungan dengan berat badan lahir rendah, tidak mendapat ASI, paritas tinggi dan vaskinasi yang tidak lengkap. Anak yang lengkap mendapat imunisasi lebih kecil mengalami ISPA (pneumonia) sebesar 32 % dari pada anak yang seumur tidak mendapat imunisasi.imunisasi . Jenis imunisasi DPT dapat diharapkan memberikan perlindungan terhadap pneumonia pada masa anak â&#x20AC;&#x201C; anak. Demikian juga imunisasi polio mempunyai hubungan yang kuat dengan ISPA diantara anak yang memperoleh imunisasi dan yang tidak memperoleh imunisasi.

41


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Menurut De Francisco (1993) adanya hubungan antara imunisasi dengan kejadian ISPA dalam penelitian ini dapat dihubungkan dengan peran imunisasi dalam menurunkan resiko kematian akibat penyakit ISPA. Selain itu anak yang status imunisasinya lengkap bertindak sebagai suatu cerminan meningkatnya penggunaan layanan kesehatan, baiknya perawatan anak atau status ekonomi. Gambaran keadaan pencemaran udara dalam penelitian ini terlihat bahwa sebagian besar tempat tinggal responden mengalami pencemaran udara yaitu sebanyak 112 (93,3 %). Sedangkan sebagian kecil responden tinggal di hunian dengan tidak ada pencemaran udara yaitu sebanyak 8 (6,7 %). Hasil penelitian menunjukan bahwa anak yang dirumahnya ada pencemaran udara mempunyai proporsi lebih besar mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 50,9 %, sedangkan anak yang dirumahnya tidak ada pencemaran udara dari asap dapur dan asap rokok atau obat nyamuk memiliki proporsi lebih kecil mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 37,5 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,717 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara pencemaran udara dengan kejadian ISPA. Dari uji statistik juga didapat nilai OR yang besarnya 1,727 (95 % CI= 0,394 â&#x20AC;&#x201C; 7,577). Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian W Fonseca (1996) yang menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara adanya pencemaran asap rokok dan asap dapur dalam ruangan dengan resiko pneumonia (ISPA), walaupun dalam penelitiannya dinyatakan terjadi peningkatan odds ratio industri rokok dan perokok pasif. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Koch et al (2003) yang menemukan hubungan yang signifikan antara adanya pencemaran ruangan oleh asap rokok atau adanya perokok pasif dengan resiko kejadian ISPA pada anak usia 0 â&#x20AC;&#x201C; 2 tahun di Greenlandic. Dinyatakannya bahwa anak yang menjadi perokok pasif karena terpapar asap rokok dari ayah atau ibunya meningkatkan resiko komplikasi infeksi saluran pernapasan atas. Asap rokok juga memberi dampak hambatan pada aktivitas silier (ciliary

42

activity) dan perlindungan lokal paru. Hal lain yang dapat menjelaskan adanya resiko terpapar asap roko dengan kejadian ISPA adalah bahwa asap rokok sendiri dapat mengiritasi saluran pernapasan. Adanya iritasi pada mukosa saluran pernapasan memudahkan invasi mikroorganisme penyebab ISPA yang mencetuskan terjadinya infeksi saluran pernapasan. Hasil penelitian tentang ventilasi terlihat bahwa sebagian besar tempat tinggal responden berstatus ventilasi tidak standar yaitu sebanyak 100 (83,3 %), sedangkan sebagian kecil responden tinggal dihunian dengan keadaan ventilasi yang standar yaitu sebanyak 20 (16,7 %). Hasil penelitian menunjukan bahwa anak yang tinggal dirumah dengan keadaan ventilasi tidak standar mempunyai proporsi lebih besar mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 52 %, sedangkan anak yang tinggal dirumah dengan ventilasi standar memiliki proporsi lebih kecil mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 40 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,462 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara ventilasi dengan kejadian ISPA. Dari uji statistik juga didapat nilai OR yang besarnya 1,625 (95 % CI= 0,612 â&#x20AC;&#x201C; 4, 316). Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Suhandayani Ike (2007) yang menemukan adanya hubungan antara ventilasi dengan kejadian ISPA dengan hasil p value sebesar 0.03 lebih kecil dari 0,05 (0,03 <0,05) dan OR = 2,22. Adanya hubungan antara ventilasi dengan kejadian ISPA dapat dihubungankan dengan fungsi ventilasi untuk mengurangi berkembangnya mikroorganisme penyakit. Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun akan meningkat. Tidak cukupnya ventilasi juga akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yangbaik untuk bakteri â&#x20AC;&#x201C; bakteri penyebab penyakit. Keadaan kepadatan hunian dalam penelitian terlihat bahwa hampir seluruh responden menghuni tempat tinggal yang


Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA â&#x20AC;Ś Daryono, Cek Masnah dan Bettywaty Eliezer

tidak padat yaitu sebanyak 115 (95,8 %), sedangkan hanya sebagian kecil responden yang tinggal di hunian yang padat yaitu sebanyak 5 (4,2 %). Analisa data menunjukan bahwa anak yang tinggal dirumah dengan keadaan hunian padat mempunyai proporsi lebih kecil mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 20 %, sedangkan anak yang tinggal dirumah dengan keadaan hunian tidak padat memiliki proporsi lebih besar mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 51,3 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0, 364 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA. Dari uji statistik juga didapat nilai OR yang besarnya 0,237 (95 % CI= 0,026 â&#x20AC;&#x201C; 2,188). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Fonseca (1996) yang menemukan tidak adanya hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA walaupun dalam penelitianya ditemukan adanya trend peningkatan OR secara bermakana sebesar antara 1,99 pada kepadatan hunian > 8 orang dibandingkan kepadatan hunian 2 â&#x20AC;&#x201C; 4 orang. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Suhandayani (2007) yang menemukan adanya hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA. Dalam penelitian Suhandayani Ike dinyatakan juga menyatakan bahwa makin meningkat jumlah orang per kamar akan meningkatkan kejadian ISPA. Semakin banyak penghuni rumah berkumpul dalam suatu ruangan kemungkinan mendapatkan risiko untuk terjadinya penularan penyakit akan lebih mudah, khususnya bayi yang relatif rentan terhadap penularan penyakit. Gambaran keadaan keberadaan anggota keluarga yang menderita ISPA dalam penelitiian ini terlihat bahwa sebagian besar responden tinggal dengan anggota keluarga yang tidak menderita ISPA yaitu sebanyak 91 (75,8 %), sedangkan sebagian kecil responden tinggal di hunian dengan adanya anggota keluarga yang menderita ISPA yaitu; sebanyak 29 (24,2 %). Hasil penelitian menunjukan bahwa anak yang dirumahnya terdapat anggota keluarga yang menderita ISPA mempunyai proporsi lebih besar mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar

2013

96,6 %, sedangkan anak yang dirumahnya tidak terdapat anggota keluarga yang menderita ISPA memiliki proporsi lebih kecil mengalami kejadian ISPA yaitu sebesar 35,2 %. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value = 0,000 disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara keberadaan anggota keluarga yang menderita ISPA dengan kejadian ISPA. Dari uji statistik didapat nilai OR yang besarnya 7,875 (95 % CI= 2,943 â&#x20AC;&#x201C; 21,071). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian penelitian Suhandayani (2007) yang menemukan adanya hubungan antara keberadaan anggota keluarga yang menderita ISPA dengan kejadian ISPA. Menurut Maryunani Anik penyakit ISPA disebabkan oleh lebih 300 jenis kuman baik berupa bakteri, virus maupun riketsia. Suhandayani (2007) dalam penelitiannya menyatakan kuman penyakit ISPAditularkan dari penderita ke orang lain melalui udara pernapasan atau percikan ludah (droplet) penderita ISPA. Pada prinsipnya kuman ISPA yang ada di udara terhisapoleh pejamu baru dan masuk ke seluruh saluran pernafasan. Dari saluranpernafasan kuman menyebar ke seluruh tubuh, apabila orang yang terinfeksi ini rentan, maka ia akan terkena ISPA. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian dapat disimpulkan ada hubungan antara umur, status gizi, pemberian vitamin A, imunisasi dan keberadaan anggota keluarga dengan kejadian ISPA di Puskesmas Putri Ayu Jambi Tahun 2011. Tidak ada hubungan antara berat badan lahir, pencemaran udara, ventilasi, kepadatan hunian dengan kejadian ISPA di Puskesmas Putri Ayu Jambi Tahun 2011. Bagi Dinas Kesehatan diharapkan dalam merumuskan kebijakan program kesehatan untuk terus melanjutkan program pemberian vitamin A, imunisasi, perbaikan status gizi balita dan upaya peningkatan kesehatan ibu hamil yang beresiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah guna mengurangi resiko kejadian Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Diharapkan juga untuk meningkatkan

43


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

program pemberantasn penyakit ISPA dengan melakukan kegiatan penyuluhan pencegahan penularan penyakit ISPA dan bagi Puskesmas Putri Ayu diharapkan untuk terus melakukan upaya pemberantasan dan pencegahan penyakit ISPA terutama pada kelompok resiko tinggi anak bayi dan balita seperti peningkatan cakupan pemberian vitamin A, imunisasi, pemantauan disertai perbaikan status gizi bayi dan balita serta melakukan upaya pencegahan penularan penyakit ISPA kepada masyarakat yg meliputi penyuluhan personal hygiene seperti untuk selalu mencuci tangan dengan baik, menggunakan tisue saat batuk dan bersin, membakar tisue bekas, menghindari penggunaan peralatan makan, minum, pakaian, handuk, secara bersama â&#x20AC;&#x201C; sama, mengajarkan orang tua untuk menjauhi anaknya dengan penderita ISPA, serta mengisolasi anak yang sakit ISPA pada ruang tidur yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA De Francisco,A, et al, 1993, Risk Factors For Mortality From Acute Lower Respiratory

44

Tract Infection In Young Gambian Children I J of Epidemiology Volume 22; 1174-1182 Dinas Kesehatan Kota Jambi 2010, Profil Kesehatan Kota Jambi Koch et al, 2003, Risk Factors For Acute Respiratory Tract Infection In Young Greenlandic Children, AM J Epidemiol; 158; 374-384 Denmark Maryunani, Anik, 2010, Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan, CV Trans Info Media Jakarta Suhandayani, Ike, 2007, Faktor â&#x20AC;&#x201C;faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ispa Pada Balita Di Puskesmas Kabupaten Pati, Skripsi UN Semarang Almatsier, Sunita, 2004, Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Supariasa, 2002 , Penilaian Status Gizi. EGC. Jakarta Fonseca, W, et al, 1996, Risk Factors For Childhood Pneumonia Among the Urban Poor in Fortaleza, Brazil; Case Control Studyb Buletin WHO74; 199208 WHO, 2003, Penanganan ISPA Pada Anak di Rumah Sakit Kecil Negara Berkembang. Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN, PENDIDIKAN, DAN GOLONGAN UMUR DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KELURAHAN MAYANG MANGURAI KECAMATAN KOTA BARU JAMBI TAHUN 2012 Bambang Ariyadi

Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jambi

ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan global. Sebagai Negara berkembang Indonesia masih mengalami kasus DBD dengan Kejadian Luar Biasa (KLB). Tahun 1994 seluruh Propinsi Indonesia telah terjangkit penyakit DBD.Kota Jambi merupakan kontributor penderita DBD tertinggi khususnya Kecamatan Kotabaru dengan total 409 pada tahun 2012 dan Kelurahan Mayang Mangurai dengan total 81 penderita merupakan Kelurahan tertinggi kasus DBD;Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang hubungan dengan kejadian DBD di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kotabaru Jambi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran tentang pengetahuan, pendidikan, golongan umur dan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi. Jenis penelitian : ini adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah 341 KK yang ada di Kelurahan Mayang Mangurai. Variabel bebas penelitian adalah pengetahuan, pendidikan dan umur. Variabel terikatat kejadian DBD. Hasil analisis uji statistic chisquare ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian DBD dengan p-value =.0,000, pendidikan dengan kejadian DBD dengan p-value = 0,016 dan untuk golongan umur diperoleh nilai pvalue=0,000, karena masing-masing variable tingkat kemaknaan < Îą 0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kurangnya pengetahuan, pendidikan masyarakat tentang penyakit DBD, dan banyaknya warga yang berumur 0-14 tahun yang terkena penyakit DBD. Kata Kunci : Pengetahuan, Pendidikan, Golongan Umur Dengan Kejadian DBD

PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) sampai saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlah pasien serta semakin luas penyebarannya. Penyakit DBD ini ditemukan hampir di seluruh belahan dunia terutama di negaraâ&#x20AC;&#x201C;negara tropik dan subtropik, baik sebagai penyakit endemik maupun epidemik. Hasil studi epidemiologik menunjukkan bahwa DBD menyerang kelompok umur balita sampai dengan umur sekitar 15 tahun. Kejadian Luar Biasa (KLB) dengue biasanya terjadi di daerah endemik dan berkaitan dengan datangnya musim hujan, sehingga terjadi peningkatan aktifitas vektor dengue pada musim hujan yang dapat menyebabkan terjadinya penularan

penyakit DBD pada manusia melalui vektor Aedes. Sehubungan dengan morbiditas dan mortalitasnya, DBD disebut the most mosquito transmitted disease (Djunaedi, 2006). Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ditemukan pertama kali pada tahun 1968 di Surabaya dan jakarta, angka kejadian penyakit (DBD) meningkat dan menyebar ke seluruh daerah kabupaten di wilayah Republik Indonesia (Soegijanto, 2006). Departemen Kesehatan telah menerapkan berbagai program pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Program ini diarahkan pada peningkatan kondisi lingkungan yang sehat, karena sehatnya keadaan lingkungan akan berpengaruh secara tidak langsung akan menekan kepadatan populasi vektor

45


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) (Depkes RI, 1992). Depkes RI (2002) menjelaskan, faktor-faktor yang terkait dalam penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) pada manusia antara lain ; pengetahuan, pendidikan, golongan umur, dengan dilakukannya survei awal tentang Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi didapatkan pengetahuan yang berbeda-beda ada pengetahuannya yang luas ada yang tidak, pendidikannya ada yang rendah yaitu < SMP ada yang sarjana, dan golongan umur warga yang terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ada yang 0-14 Tahun, ada yang 1549 tahun dan ada juga di atas 50 tahun. Kota Jambi tercatat sebagai kontributor penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi, khususnya di Kecamatan Kota Baru Jambi dengan total penderita 409 pada tahun 2012 Kecamatan Kota Baru di dapatkan wilayah tertinggi Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Kota Baru yaitu Kelurahan Mayang Mangurai dengan total 81 penderita. Tujuan Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi Tahun 2012. BAHAN DAN CARA KERJA Jenis penelitian ini adalah Deskriptif Analitik menggunakan dengan desain cross sectional, uji statistic Chi - squre (Arikunto, 2006). Variabel Bebas : Faktor-faktor kejadian Demam Berdarah Dengue berdasarkan pengetahuan, pendidikan, golongan umur. Variabel Terikat : Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Populasi pada penelitian ini adalah 3.494 KK yang di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi. Sampel adalah semua kepala keluarga yang di Kelurahan Mayang Mangurai Wilayah Kecamatan Kota Baru Jambi. Menurut Kothari dan Murti (2006), rumus ukuran sampel untuk menaksir proporsi sebuah populasi :

46

N.Z

2

1-/2.p.q

n = 2

d (N – 1) + Z

2

1-/2.p.q

Dimana: n = Ukuran sampel N = Besar sampel populasi sasaran p = Perkiraan proporsi (prevalensi) variabel dependen pada populasi q = 1- p Z = Statistik Z (misalnya Z = 1,96 untuk α = 0,05) d = Delta, presisi absolut atau margin of error yang diinginkan di kedua sisi proporsi (misalnya 10%)

Berdasarkan rumus di atas, maka besar sampel pada penelitian ini adalah : 3494.(1,96)2 .0,67.0.33 n=

(0,1)2.(3494-1)+ (1,96)2 .0,67.0,33 2935,6 = 8,6 =

341

Jadi sampel yang diambil adalah sebanyak 341 kepala keluarga di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi. Adapun kriteria inklusi penelitian yaitu bersedia menjadi subjek penelitian serta untuk bayi / anak-anak berumur 0 – 14 tahun ang menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak di tanya dan di data, karena tidak memahami isi dari kuisioner. Adapun Kriteria eklusi adalah di luar kontens Wilayah Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan kota Baru Jambi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Simple Random Sampling, dengan menggunakan proporsi sampel yaitu metode pengambilan sampel secara acak sederhana dimana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama besar untuk terpilih sebagai sampel (Sugiarto, et al. 2001). (Menentukan besar proporsi sampel penelitian di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi


Hubungan Tingkat Pengetahuan, Pendidikan, dan Golongan Umur â&#x20AC;Ś Bambang Ariyadi

Langkah-langkah pengambilan sampel yaitu dengan membuat undian sejumlah masing-masing kepala keluarga yang ada di Wilayah Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi. Sebanyak 3.494 KK, kemudian dari jumlah tersebut di kocok dan diambil berdasarkan besar sampel masing-masing RT, karena sampel setiap RT berbeda berdasarkan jumlah KK setiap RT.

Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari variabel independen dan variabel dependen yang diteliti dalam studi ini. Distribusi responden menurut pekerjaan di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kotabaru Jambii dapat disajikan pada tabel 1. Tabel.1. Distribusi frekuensi Pekerjaan di Kelurahan. Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi Tahun 2012 Jumlah

Persentase (%)

PNS

73

21,4

Swasta

131

38,4

Ibu Rumah Tangga

101

29,6

Buruh Total

36 341

10,6 100

Tabel 1 menunjukkan bahwa responden kepala keluraga berdasarkan pekerjaan terbanyak yaitu pada Swasta yaitu sebanyak 131 orang (36,4%) dan Ibu Rumah Tangga sebanyak 101 orang (29,6%). Tabel.2. Distribusi frekuensi Pengetahuan Responden di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi Tahun 2012 Pengetahuan Baik Kurang Baik Total

Tabel 2. menunjukkan bahwa responden berdasarkan pengetahuan kurang baik yaitu sebanyak 180 orang (52,8%) dan pengetahuan baik sebanyak 161 orang (47,2%). Distribusi responden menurut pendidkan di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kotabaru Jambii dapat disajikan pada tabel 3. Tabel 3. Distribusi frekuensiPendidikan di Kel. Mayang Mangurai Kec.Kota Baru Jambi Tahun 2012 Pendidikan Jumlah Persentase (%)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pekerjaan

2013

Jumlah

Persentase (%)

161

47,2

180

52,8

341

100

Tinggi

278

81,5

Rendah

63

18,5

Total

341

100

Tabel 3. menunjukkan bahwa responden berdasarkan pendidikan pada pendidikan rendah yaitu sebanyak 63 orang (18,5%) dan pendidikan tinggi sebanyak 278 orang (81,5%). Distribusi responden menurut golongan umur di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kotabaru Jambii dapat disajikan pada tabel 4. Tabel. 4. Distribusi frekuensi Golongan Umur di Kel.Mayang mangurai Kec. Kotabaru Jambi Tahun 2012 Umur Jumlah Persentase (%) Remaja/ Dewasa

290

85,0

Tua

51

15,0

341

100

Total

Tabel 4. menunjukkan bahwa responden berdasarkan umur pada umur remaja yaitu sebanyak 290 orang (85,5%) dan dewasa sebanyak 51 orang (15,0%). Hasil dari analisis bivariat hubungan Pengetahuan dengan kejadian DBD di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kotabaru Kota Jambi dapat disajikan pada tabel 5.

47


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Tabel 5. Analisis Bivariat Hubungan Pengetahuan Dengan Kejadian DBD di Kel. Mayang Mangurai Kec. Kota Baru Jambi Tahun 2012 Kejadian DBD Pengetahuan

Sakit

n

%

Tidak Sakit

Total

n

n

%

%

Kurang Baik

76 42,2 104 57,8 180 100

Baik

20 12,4 141 67,8 161 100

Jml

P Value

0,00 96

28,2 245 71,8 341 100

Dari tabel 5 diketahui bahwa dari uji statistik menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan p value = 0,000 antara pengetahuan dengan kejadian DBD di di Kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi. Hasil uji statistik juga menunjukan bahwa pengetahuan kurang baik yang menderita ada 76 (42,2%) orang dan tidak menderita ada 104 (57,8%) orang, sedangkan pengetahuan baik yang menderita ada 20 (12,4%) orang dan tidak menderita ada 141 (67,8%) orang. Dari hasil penelitian di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi bahwa pengetahuan disana masih kurang baik, masyarakat disana belum mengetahui bahwa sebagai vector penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah Aedes aegypty dan ciri-ciri nyamuk Aedes aegypty belum tahu. Kurangnya rasa ingin tahu, perilaku yang baik dan melakukan Pembrantasan Sarang Nyamuk hal ini yang membuat tingginya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Mayang Mangurai. Didapatkan uji statistik chi-square menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian DBD di Kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi dengan p value = 0,000. Dilihat dari tingkat pengetahuan responden mengenai penyakit DBD, mayoritas responden 180 (52,8%) memiliki pengetahuan kurang baik terhadap penyakit DBD dan 161 (47,2) responden yang memiliki pengetahuan baik. Dimana pengetahuan responden masih rendah dikarenakan responden dalam menjawab pertanyaan belum memahami pertanyaan â&#x20AC;&#x201C;

48

pertanyaan tersebut, disamping itu responden dalam menjawab pertanyaan buruh â&#x20AC;&#x201C; buruh dengan alasan repot sehingga dalam menjawab responden asal. Menurut Nasution (1999), bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pengalaman. Pengetahuan akan membentuk perilaku positif untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan/ perilaku seseorang (Notoatmojo, 2003). Pernyataan Notoatmodjo (2003), bahwa pengetahuan atau koqnitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Masyarakat dengan pemahaman yang baik tentang kejadian demam berdarah lebih terarah dan tepat sasaran karena sebagai dasar pengendalian vector DBD. Seseorang akan berperilaku baik apabila ia tahu akan bahaya nyamuk Aedes aegypti yang dapat menularkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Untuk itu perlu dilakukan peningkatan pengetahuan tentang bahayanya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dimana dapat menimbulkan kematian, salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan penyuluhan terhadap masyarakat melalui tenaga kesehatan ataupun instansi terkait mengenai bahaya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Kegiatan penyuluhan yang paling baik salah satunya dapat dilakukan di acara arisan RT, pengajian, ataupun pada saat kegiatan posyandu. Media penyuluhan dapat dilakukan menggunakan poster dan media elektronik agar lebih menarik. Hasil dari analisis bivariat hubungan Pendidikan dengan kejadian DBD di Kelurahan Mayang Mangurai tahun 2012 seperti yang ditunjukkan pada tabel 6.


Hubungan Tingkat Pengetahuan, Pendidikan, dan Golongan Umur â&#x20AC;Ś Bambang Ariyadi

Tabel 6. Analisis Bivariat Hubungan Pendidikan Dengan Kejadian DBD di Kel. Mayang Mangurai Kec.Kota Baru Jambi Kejadian DBD Pendi dikan

Sakit

n

%

Rendah 26 41,3 Tinggi

Tidak Sakit

n

Total

%

n

37 58,7

63

P Value

% 100 0,016

70 25,2 208 74,8 278 100

Jumlah 96 28,2 245 71,8

341 100

Dari hasil uji statistik chi-square dengan p value = 0,016 menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kejadian DBD di Kota Jambi. Hasil uji statistik juga menunjukan bahwa nilai pendidikan rendah yang menderita ada 26 (41,3%) orang dan yang tidak menderita ada 37 (58,7%) orang, sedangkan pendidikan yang tinggi ada 70 (25,2%) orang dan yang tidak menderita ada 208 (74,8%) orang. Dari hasil penelitian di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi didapatkan pendidikan rendah 63 (18,5%) orang dan pendidikan yang tinggi 278 (81,5%) orang, pendidikan yang tinggi belum tentu memahami tentang Demam Berdarah Dengue (DBD). Dari hasil uji statistik chi-square dengan p value = 0,016 menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi. Menurut Notoatmodjo (2007), Pendidikan merupakan upaya agar masyarakat berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara persuasi, bujukan, himbauan, ajakan, memberikan informasi, memberikan kesadaran dan sebagainya. Memang dampak yang timbul dari cara ini terhadap perubahan perilaku masyarakat, akan memakan waktu lama. Pembinaan dan peningkatan perilaku kesehatan masyarakat, tampaknya pendidikan lebih tepat dibandingkan dengan pendekatan koersi. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu bentuk intervensi atau upaya yang ditujukan kepada perilaku, agar perilaku tersebut

2013

kondusif untuk kesehatan. Dengan perkataan lain, pendidikan kesehatan mengupayakan agar perilaku individu, kelompok, masyarakat mempunyai pengaruh positif terhadap pemeliharaan dan pningkatan kesehatan. Proses Pendidikan Prinsi pokok pendidikan kesehatan adalah proses belajar. Di dalam kegiatan belajar terdapat tiga persoalan pokok, yakni persoalan masukan (input), proses, dan persoalan (out put). Persoalan masukan dalam pendidikan kesehatan adalah menyangkut sasaran belajar (sasaran didik), yakni individu, kelompok atau masyarakat. Persoalan proses adalah mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan (perilaku) pada diri subjek belajar. Dalam proses ini terjadi timbale balik antara berbagai faktor, antara lain : subjek belajar, pengajar (pendidik dan fasilitator) metode dan teknik belajar, alat bantu belajar, dan materi dan bahan yang di pelajari. Kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit, maka sering masyarakat tidak mengetahui bahaya yang terjadi, dan mengabaikannya. Peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu, kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Untuk itu, maka sebaiknya pendidikan harus lebih ditingkatkan lagi. Uji yang dilakukan untuk mengetahui hubungan umur dengan kejadian DBD di Kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi dapat disajikan pada tabel. 7 Tabel 7. Analisis Bivariat Hubungan Umur Dengan Kejadian DBD Di Kel. Mayang Mangurai Kec. Kota Baru Jambi Tahun 2012 Kejadian DBD Umur

Sakit

n Remaja/ 93 Dewasa Tua

3

Jumlah 96

%

Tidak Sakit

Total

n

n

%

P Value

%

32,1 197 67,9 290 100 0,000 5,9

48

94,1 51

100

28,2 245 71,8 341 100

49


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Dari hasil analisis bivariat hubungan antara umur dengan kejadian DBD mempunyai hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian DBD di Kota Jambi dengan p value = 0,00. Hasil uji statistik menunjukan bahwa nilai golongan umur remaja / dewasa yang menderita 93 (32,1%) orang dan yang tidak menderita 197 (94,1%) orang, sedangkan golongan umur yang tua menderita 3 (5,9%) orang dan yang tidak menderita 48 (94,1%) orang. KESIMPULAN DAN SARAN Dari Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan (p-value = 0,000) antara pengetahuan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi. Selain itu juga terdapat hubungan yang signifikan (p-value = 0,016) antara pendidikan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi. Hubungan yang signifikan (p-value = 0,000) juga ditemukan antara umur dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi. Untuk dapat mengurangi terjadi timbulnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi perlu disarankan penyuluhan tentang Pembrantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi. Selai itu perlu juga ditingkatkan perilaku yang baik, dan pengetahuan masyarakat tentang Pembran tasan Sarang Nyamuk (PSN) di Kelurahan

50

Mayang Mangurai Kecamatan kota Baru Jambi. Sebaiknya masyarakat memberishkan lingkungan sekitar rumah agar tidak adanya tempat perkembang biakan nyamuk Aedes aegypti yang dapat membawa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Mayang Mangurai Kecamatan Kota Baru Jambi. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2006), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2002), Pedoman Survei Entomologi Demam Berdarah Dengue. Jakarta. Depkes RI 1992 Survei Entomologi Demam Berdarah Dengue. Jakarta Djunaedi D.(2006), Demam Berdarah [Dengue DBD] Epidemiologi, Imunopatologi, Patogenesis, Diagnosis dan Penatalaksanaannya. Malang: UMM Press. Kothari, M. (2006), Desain Dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Di Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Nasution, M.A (1999), Sosiologi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara. Notoatmodjo, S. (2003), Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. (2007), Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. (2007), Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. Soegijanto, S. (2006), Demam Berdarah Dengue. Surabaya: Airlangga. Sugiarto, S.D., Lasmono TS., Oetomo DS.(2001) Teknik Sampling. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

ANALISIS SPASIAL KERENTANAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KECAMATAN KOTABARU KOTA JAMBI PROPINSI JAMBI Suhermanto Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Jambi

ABSTRAK Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) tinggi di Kecamatan Kotabaru bahkan endemis di seluruh kelurahan. Pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dipadu dengan luas lahan pemukiman, kepadatan Aedes sp, maya index, resistensi dan transovarial virDen dapat menunjukan daerah rentan atau peta rawan kejadian DBD di Kecamatan Kotabaru. Tujuan penelitian ini untuk memetakan wilayah rentan Demam Berdarah Dengue berdasarkan kejadian DBD tertinggi di Kecamatan Kotabaru Kota Jambi. Metode penelitian ini adalah survei observasional dengan rancangan cross sectional. Variable penelitian adalah kepadatan penduduk, luas lahan pemukiman, kepadatan populasi Aedes sp, maya index, curah hujan, kerentanan vector dan transovarial virDen. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa kepadatan penduduk tidak berhubungan dengan kejadian DBD, luas lahan pemukiman p value 0,004 dan kepadatan populasi Aedes sp p value 0,001 mempengaruhi kejadian DBD. Jumlah Tempat Penampungan Air (TPA) controllable (89%) dan persentase rumah dengan Maya Index tinggi mempengaruhi tingginya kejadian DBD. Curah hujan tidak mempengaruhi kejadian DBD. Resistensi vektor tidak mempengaruhi tingginya kejadian DBD dan tingginya kejadian DBD tidak di pengaruhi transovarial virDen. Kerentanan terhadap kejadian DBD tinggi terjadi di 2 kelurahan dan kerentanan sedang terjadi di 4 kelurahan. Wilayah dengan kerentanan sedang pada umumnya berbatasan langsung dengan kelurahan dengan kategori kerentanan tinggi. Kata kunci : Spasial, Maya Index, Resistensi, DBD.

PENDAHULUAN Informasi tentang vektor, lingkungan pemukiman, maya index, transovarial dan resistensi nyamuk Aedes sp di Kota Jambi terhadap insektisida sangat dibutuhkan untuk program pengendalian vektor. Keberhasilan pemberantasan DBD dipengaruhi oleh faktor resistensi nyamuk terhadap insektisida (Sungkar, 2007). Faktor lingkungan, semakin padat penduduk semakin mudah terjadi penularan virus (Fathi, 2005). Faktor kepadatan populasi nyamuk, semakin padat populasi nyamuk Aedes maka semakin tinggi risiko terinfeksi virus DBD (Fathi, 2005). Kondisi lingkungan yang beresiko menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk dapat diukur dengan parameter Maya Index. Terdapat hubungan yang bermakna antara Maya Index (indikator kebersihan lingkungan/Hygiene Risk Indicator) dengan kejadian DBD karena terdapat benda-benda yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang tidak terkontrol

mengakibatkan peningkatan jumlah nyamuk (Nicolas Dumas, 2007). Curah hujan yang tinggi menciptakan tempat perkembangbiakan nyamuk, banyak barang bekas seperti kaleng, gelas plastik, bungkus plastik, ban bekas dan sejenisnya yang dibuang atau ditaruh tidak teratur di sembarang tempat, memungkinkan jumlah kasus penyakit DBD akan meningkat (Supartha, 2008). Belum adanya informasi mengenai hubungan kepadatan penduduk, luas lahan pemukiman, maya index, kepadatan Aedes sp, curah hujan, resistensi dan trasovarial virDen terhadap kejadian DBD serta bagaimana pengelompokan kasus dan daerah yang rentan terhadap kejadian DBD akan mempengaruhi pengendalian DBD di Kecamatan Kotabaru Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dimanfaatkan untuk pengamatan vektor dan faktor yang mempengaruhi kejadian DBD, diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran daerah yang rentan terhadap kejadian DBD di Kecamatan Kotabaru, sehingga dapat

51


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

menentukan langkah-langkah operasional dalam penanggulangan dan pemberantasan DBD. BAHAN DAN CARA KERJA Lokasi penelitian adalah seluruh kelurahan dalam Kecamatan Kotabaru. Metode yang digunakan adalah survei observasional dengan rancangan cross sectional serta memakai Sistem Informasi Geografis (SIG) guna memperoleh interpretasi visual tentang lokasi kerentanan kejadian DBD. Sampel untuk kepadatan Aedes sp dan maya index adalah 100 rumah di masing - masing kelurahan menggunakan metode Depkes (Dirjen PP dan PL, 2008), uji resistensi dan transovarial virDen sampel nyamuk diambil dari tiga lokasi berbeda (rumah penderita, Sekolah Dasar, kebun/ kuburan) menggunakan 11 ovitrap pada masingmasing kelurahan. Pengumpulan data di lakukan dalam beberapa tahap kegiatan, yaitu: Tahap lapangan dengan melakukan pengambilan titik koordinat menggunakan GPS Oregon 550 di semua lokasi penderita DBD. Tempat Penampungan Air (TPA) yang menjadi tempat berkembangbiak nyamuk Aedes sp dikelompokkan dalam kategori controllable site dan disposable site dan status maya index ditentukan dari indikator nilai HRI dan BRI (Lozano, 2002). Kategori kepadatan jentik digolongkan menjadi rendah, sedang dan tinggi (Santoso, 2008). Kolonisasi telur nyamuk yang didapat dari ovitrap dilakukan di laboratorium parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Larva nyamuk instar IV pada masingmasing kelurahan diambil sebanyak 23 ekor kemudian diuji resistensi secara biokemis dan dianalisa dengan pembacaan absorbance value (AV) menggunakan ELISA reader pada Îť = 450 (Widiarti, 2009). Uji transovarial menggunakan metode Imunohistokimia SBPC. Sediaan head squash atau pencet kepala nyamuk Aedes sp. berumur Âą 7 hari yang telah dipersiapkan khusus sesuai protap baku (Umniyati, S,R. 2009). Peta daerah rentan terhadap kejadian DBD diperoleh berdasarkan jumlah

52

skor nilai pengharkatan variabel dikalikan dengan bobot atau faktor penimbang berdasarkan dominan tidaknya kelompok variable (Subagyo Pangestu, 2010). Kelas daerah rentan DBD dibedakan menjadi daerah dengan kategori kerentanan rendah jika total skor > 28, sedang total skor 29 â&#x20AC;&#x201C; 39 dan tinggi jika total skor > 39. Analisis data menggunakan ArcGIS dilakukan di Laboratorium Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. HASIL DAN PEMBAHASAN Kejadian DBD hanya terjadi di 9 kelurahan dengan incidence rate yang berbeda-beda, tingginya kejadian DBD terjadi di Kelurahan Mayang Mengurai dengan IR per sepuluh ribu penduduk sebesar 7,00 (22,10%) kemudian Kelurahan Simpang III Sipin dengan IR per sepuluh ribu penduduk adalah 6,16 (19,5%) dan Kelurahan Kenali bawah dengan IR per sepuluh ribu penduduk sebesar 3,7 (11,68%). Resiko DBD di setiap RT rendah â&#x20AC;&#x201C; sedang, tidak ditemukan adanya kejadian DBD lebih dari 3 kasus. Hal ini terkait dengan variabel yang diteliti yaitu 1. Kepadatan Penduduk Data kepadatan penduduk berdasarkan luas administrasi pada masing-masing kelurahan menunjukan bahwa Kelurahan Simpang III Sipin memiliki kepadatan penduduk yang lebih padat dari kelurahan lainnya, diikuti Kelurahan Rawasari, Sukakarya dan Beliung. Kelurahan yang padat penduduk terdapat kasus DBD yang tinggi, berbeda dengan Kelurahan Rawasari, Beliung dan Sukakarya walaupun kepadatan penduduk tinggi, kejadian DBD tidak tinggi di wilayah tersebut (p = 0,551), hal ini dapat terjadi jika dilihat dari jumlah kejadian DBD disetiap RT kurang dari tiga kasus dan didukung tidak ditemukannya transmisi transovarial virDen memungkinkan sebaran DBD rendah karena transmisi transovarial virDen pada nyamuk Ae. aegypti berperan dalam meningkatkan dan mempertahankan epidemik Dengue (Lee, H.L, 2005). Angka transovarial virDen lebih tinggi di daerah


Analisis Spasial Kerentanan Demam Berdarah Dengue â&#x20AC;Ś Suhermanto

endemis daripada daerah sporadis (Gustiansyah, 2008). Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada transmisi virus dengue yaitu manusia, vektor perantara dan virus (Mardihusodo, S.J, 2005). Manusia yang mempunyai status imun baik menjadi salah satu faktor terhindar dari penyakit DBD. Teori infeksi sekunder menyebutkan bahwa apabila seseorang mendapatkan infeksi primer dengan satu jenis virus, akan terjadi proses kekebalan terhadap jenis virus tersebut untuk jangka waktu yang lama (Soegijanto Soegeng, 2008). Hal ini diperkuat mengenai penyakit DBD pada penduduk asli 50% diantaranya tidak menunjukan manifestasi klinis (asymptomatic) sehingga seringkali tidak dilaporkan (Djunaedi, D, 2006). Penduduk yang padat (jiwa/Ha) memungkinkan penularan DBD meningkat mengingat jarak terbang nyamuk Âą 100 m (Widianto, T, 2007), tapi kepadatan penduduk (jiwa/Ha) menjadi bias karena perhitungan berdasarkan batas administrasi terdapat lahan - lahan terbuka/ kosong maupun lahan terbangun yang tidak dimanfaatkan sebagai area pemukiman masuk dalam denominator (Yunus, H.S, 2005). Kejadian DBD signifikan (p = 0,009) pada kelurahan dengan jumlah penduduk yang tinggi. Jumlah penduduk yang besar penularan virus semakin mudah (Fathi, 2005), tetapi penelitian di Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo dan di Kota Banjarmasin ditemukan bahwa penularan DBD tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk (Sunardi, 2007 dan Liani, 2009). 2. Luas lahan pemukiman Kejadian DBD tinggi pada kelurahan yang memiliki penggunaan lahan pemukiman yang luas, kelurahan yang memiliki lahan pemukiman luas, mengalami kejadian DBD tinggi yaitu Kelurahan Simpang III Sipin, Mayang Mengurai, Kenali Besar dan Kenali Bawah. Hubungan tersebut kuat dan signifikan (p = 0,004). Penyakit DBD terus meningkat akibat pergeseran penggunaan lahan menjadi lebih ke arah bangunan buatan manusia (pemukiman) yang cenderung membuat banyak tempat penampungan air sebagai tempat perkembangbiakan Aedes

2013

sp (Sutaryo, 2004). Wilayah terluas di Kelurahan Bagan Pete banyak memiliki lahan non pemukiman dibandingkan pemukiman, terjadinya kasus DBD di wilayah tersebut sangat rendah. Berbeda dengan Kelurahan Simpang III Sipin, banyak wilayah pemukiman dibandingkan non pemukiman sehingga kejadian DBD tinggi di wilayah tersebut. Hasil survei kepadatan telur pada Gambar 1 menunjukan adanya hubungan antara kepadatan telur di pemukiman dengan kejadian DBD dibandingkan lahan terbuka. Hasil ini mempertegas bahwa semakin luas lahan dijadikan pemukiman resiko kejadian DBD akan semakin tinggi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian di Johar Bahru Malaysia yang memberikan informasi bahwa 76% kasus-kasus DBD di daerah Johor Bahru terdapat di wilayah pemukiman penduduk (Seng, S.B, 2005). 3. Maya Index Tempat Penampungan Air (TPA) positif jentik sebanyak 500 kontainer. Kategori Controllable Sites (CS) sebesar 89%, terbanyak pada bak mandi (43,2%), kemudian drum (31%) dan ban bekas (6,8%). Tingginya status Maya Index (MI) terdapat pada Kelurahan Simpang III Sipin dengan 10% rumah beresiko tinggi menjadi tempat perkembangbiakan Aedes sp, Mayang Mengurai dengan 4,8% rumah, Kenali Besar dan Kenali Bawah masingmasing 3% rumah beresiko tinggi. Hasil analisis antara kejadian DBD dengan persentase rumah yang memiliki status MI tinggi sangat bermakna (p = <0,001). Banyaknya rumah dengan status MI tinggi beresiko 11,46 kali lebih besar terhadap endemisitas DBD (Panca Wati, N.A, 2009), dengan demikian kelurahan yang memiliki (CS) atau nilai Breeding Rist Indicator (BRI) tinggi dan persentase rumah dengan status MI tinggi menunjukan potensi kelurahan tersebut sebagai tempat perkembangbiakan Aedes sp, karena nilai BRI yang tinggi menunjukan tingginya nilai Controllable dan beresiko menjadi tempat berkembangbiak bagi nyamuk vektor dengue (Lozano, 2002).

53


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

4. Kepadatan populasi Aedes sp. Kepadatan populasi nyamuk (Density Figure) diperoleh dari gabungan nilai HI, CI dan BI. Data dari ketiga indikator tersebut ditunjukan pada Tabel 1. Tabel 1. Kepadatan Aedes sp di Kecamatan Kotabaru Berdasarkan Indikator House Index,Container Index dan Breteau Index Indikator kepadatan KepaKasus House Countainer Breteaudatan Index Index Index Aedes sp

Kelurahan 1. Simpang III Sipin 2. Mayang Mengurai 3. Kenali Besar 4. Kenali Bawah 5. Paal V 6. Beliung 7. Bagan Pete 8. Rawasari 9. Suka Karya 10. Kenali Atas

14

55

40

86

11

49,35

34,09

9

46

28,04

6

51

4 3 2 1 1 0

28.56 35 30 21 16 24

Tinggi

91,35 Tinggi 53

Tinggi

32,77

77

Tinggi

15,57 20 24,83 15,54 11,68 13,36

38,76 39 37 23 23 37

Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang

Tabel 1 menunjukan Kelurahan Simpang III Sipin, Mayang Mengurai, Kenali Besar dan Kenali Bawah memiliki Kejadian DBD tinggi dengan kepadatan populasi Aedes sp tinggi. Hasil uji menunjukan hubungan yang bermakna (p=0,001). Popuasi Aedes sp berdasarkan hasil peletakan 90 ovitrap di lahan terbuka menunjukan kepadatan telur sebesar 31,3 telur/ovitrap, dari 120 ovitrap di Sekolah dasar menunjukan kepadatan telur sebesar 18,7 telur/ovitrap dan hasil peletakan 120 ovitrap di rumah penderita DBD menunjukan kepadatan telur sebesar 18,1 telur/ovitrap. Kelurahan dengan kepadatan telur tertinggi terdapat pada Kelurahan Simpang III Sipin dan Mayang Mengurai, kelurahan tersebut juga mengalami kejadian DBD yang tinggi. Hubungan kepadatan telur dengan kejadian DBD di Kecamatan Kotabaru terlihat pada Gambar 1 berikut :

Kepadatan telur/ovitrap dan Kasus DBD

50 45 40 37

35 31

30 25 20

20 16

15

21

20

16 14

10

11

10

9

7

6

5

4

3 1

0

3

1

2

0

Kenali Besar

Beliung

Rawasari

Simp III Sipin

Sukakarya

Paal V

Kenali Atas

Kenali Bawah

Mayang Mengurai

Bagan Pete

Pemukiman

31

16

10

37

16

Non Pemukiman

32

16

19

27

5

20

3

20

21

7

9

11

14

47

Lahan terbuka

35

5

44

40

8

39

25

21

44

33

31

Kasus

9

3

1

14

1

4

0

6

11

2

Gambar 1. Hubungan kejadian DBD dengan kepadatan telur di pemukiman,non pemukiman dan lahan terbuka

Gambar 1 menunjukan adanya hubungan kepadatan telur dengan kejadian DBD di pemukiman (rumah penderita) dan non pemukiman (Sekolah Dasar), hasil uji

54

kepadatan telur dengan kejadian DBD bermakna yaitu masing-masing nilai p=0,001 dan p=0,009, berbeda dengan lahan terbuka (kebun/kuburan) kepadatan


Analisis Spasial Kerentanan Demam Berdarah Dengue â&#x20AC;Ś Suhermanto

telur tidak mempengaruhi kejadian DBD dengan hasil uji p=0,433. Tingginya populasi jentik dapat digunakan untuk melihat ancaman penyakit DBD di suatu daerah (Dirjen PP dan PL, 2008). Hal ini dikuatkan penelitian pada 100 rumah yang diperiksa status kepadatan vektornya tinggi diikuti juga dengan kejadian DBD yang tinggi di Kelurahan Wonokusumo Surabaya (Yudhastuti, 2005). Tingginya kepadatan populasi jentik di wilayah yang memiliki angka kejadian DBD tinggi menunjukkan bahwa pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di wilayah tersebut belum efektif dan partisipasi masyarakat masih rendah, padahal metode program pengendalian DBD jangka panjang yang efektif dan berkelanjutan membutuhkan partisipasi masyarakat (Depkes RI, 2004). Melihat persentase jentik terbanyak pada bak mandi (43,2%) kemudian drum (31%) menunjukan partisipasi masyarakat masih rendah.

2013

diinfeksi virDen-3 ataupun virDen-2 lebih tinggi dibandingkan nyamuk kontrol yang tidak diinfeksi virDen-3 ataupun virDen-2 (Watt D.M, 1985 dan Joshi, V, 2002). Penelitian di Thailand pada nyamuk Ae. Aegypti dan Ae albopictus di wilayah perkotaan dan pedesaan menunjukan hasil yang negatif (Castrol, M.G, 2004), sehingga tidak ditemukannya transovarial virDen di Kecamatan Kotabaru menunjukkan bahwa penularan virDen dimungkinkan secara horisontal yaitu seorang penderita DD, DBD, ditularkan ke manusia lain melalui tusukan/gigitan nyamuk Aedes sp. 6. Curah Hujan Curah hujan tinggi pada Bulan Pebruari, Juli, Oktober, Nopember dan Desember Tahun 2010 tidak mengakibatkan lonjakan DBD pada bulanbulan tersebut seperti ditunjukan pada Gambar 2

5. Transovarial Virus Dengue Uji transovarial virDen DBD tidak ditemukan adanya transovarial virDen pada nyamuk Aedes sp di Kecamatan Kotabaru. Tidak semua nyamuk dapat menularkan virDen secara transovarial tergantung dari strain virus dan strain geografik nyamuk (Miller BR, Mitchell CJ, 1991), namun faktor bias diperkirakan mempengaruhi hasil penelitian karena sampel telur yang ditetaskan didominasi dari lokasi lahan terbuka dengan kepadatan telur 31,3 telur/ovitrap. Uji statistik membuktikan kepadatan telur di lahan terbuka tidak mempengaruhi kejadian DBD (p=0,433). Selain itu dapat juga disebabkan adanya perbedaan temperatur dan kelembaban pada saat kondisi lapangan dengan kondisi saat di kolonisasi, sehingga pada saat kolonisasi banyak ditemukan nyamuk dewasa yang mati. Kematian tersebut dimungkinkan karena kondisi laboratorium yang berbeda dengan kondisi lapangan atau dapat juga nyamuk yang mati adalah nyamuk yang terinfeksi oleh virDen. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa tingkat kematian pada nyamuk stadium immature dan dewasa yang

Gambar 2. Curah hujan dan jumlah kasus perbulan di Kecamatan Kotabaru Tahun 2011

Gambar 2 menunjukkan bahwa pada saat curah hujan tinggi tidak terjadi kejadian DBD yang tinggi, padahal curah hujan mempunyai hubungan erat dengan laju peningkatan tempat perkembangbiakan nyamuk kategori disposible site (DS) seperti kaleng, gelas plastik, bungkus plastik, ban bekas dan sejenisnya yang dibuang atau ditaruh tidak teratur di sembarang tempat memungkinkan jumlah kasus penyakit DBD akan meningkat pada saat curah hujan tinggi (Supartha, 2008). Tempat penampungan air kategori disposable site (DS) di Kecamatan Kotabaru rendah hanya 11%. Sedikitnya disposable site (DS) sebagai tempat

55


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

perkembangbiakan Aedes sp tidak menjadi ancaman timbulnya genangan air saat curah hujan tinggi sehingga memungkinkan curah hujan tidak mempengaruhi kejadian DBD. Curah hujan yang tinggi dapat menggelontor telur nyamuk pada penampungan air sehingga relatif dapat menggurangi populasi nyamuk (Seng, S.B, 2005), kejadian serupa terjadi di Asia Tenggara, Puerto Rico dan Sri Langka dimana epidemi DBD muncul bukan pada saat tingginya curah hujan. (Foo, L.C, 1985., Johansson, M.A, 2009 dan Pathirana, S, 2009). 7. Resistensi Uji resistensi pada larva Aedes sp didapat semua kelurahan telah resisten terhadap insektisida organofosfat di Kecamatan Kotabaru. Selengkapnya disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Gambaran status kerentanan larva nyamuk Aedes sp di Kecamatan Kotabaru dengan uji biokimia (aktifitas enzim esterase non spesifik terhadap substrat Îą â&#x20AC;&#x201C; netil asetat) metode kuantitatif. Status kerentanan larva (%) Kelurahan Rentan Toleran Resisten Asal Populasi AV Larva AV AV 0.700â&#x20AC;&#x201C; < 0.700 > 0.900 0.900 1. Mayang 0 0 100 Mengurai 2. Bagan Pete 0 0 100 3. Beliung 0 4.3 95.7 4. Kenali Asam 0 0 100 Bawah 5. Rawasari 0 34.8 65.2 6. Simpang III Sipin 0 8.7 91.3 7. Paal V 0 0 100 8. Sukakarya 0 0 100 9. Kenali Asam 0 21.7 78.3 Atas 10. Kenali Besar 0 0 100

56

Tabel 2 menunjukan seluruh kelurahan memiliki persentase absorbance value (AV) diatas 65% artinya semua kelurahan di Kecamatan Kotabaru masuk dalam kategori resisten. Bahkan 5 kelurahan yaitu Kelurahan Mayang Mengurai, Bagan Pete, Kenali Asam Bawah, Paal V dan Sukakarya yang memiliki persentase absorbance value (AV) mencapai 100%, ini menunjukan kejadian DBD disetiap kelurahan tidak dipengaruhi resistensi (p = 0,823). Menurut beberapa ahli entomologi, insektisida apabila digunakan dalam skala yang luas secara terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama dan frekuensi tinggi dapat menimbulkan terjadinya penurunan kerentanan pada nyamuk sasaran (Widiarti, 2000 dan Mula, M.S, 2004). Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan abatisasi dan pengaruh penggunaan malation dari tahun 2000 sampai sekarang oleh Dinas Kesehatan Kota Jambi, sebagai insektisida memberikan kontribusi yang besar terhadap resistensi nyamuk. 8. Pengelompokan (klaster) DBD Klaster kasus DBD hasil SatScan menggunakan Space-Time Poisson Model mendapatkan Most likely kluster berpusat pada koordinat (342691, 9818080 UTM) nilai p-value 0,002 sehingga signifikan terjadinya klaster seperti terlihat pada Gambar 3. Gambar 3 menunjukan klastering mendapatkan Most likely kluster yang mencakup 4 kelurahan yaitu Simpang III Sipin, Mayang Mengurai, Kenali Bawah dan Beliung. Daerah yang termasuk dalam klastering adalah daerah dengan incidance rate tinggi.


Analisis Spasial Kerentanan Demam Berdarah Dengue â&#x20AC;Ś Suhermanto

2013

Gambar 3. Klaster DBD di Kecamatan Kotabaru Jambi Tahun 2011

Selain incidance rate tinggi Kelurahan Simpang III Sipin dan Mayang Mengurai memiliki potensi terbentuknya klaster DBD karena memiliki wilayah dengan pemukiman yang luas, kepadatan vektor yang tinggi dan persentase maya index rumah tinggi. Klaster yang terbentuk berisiko terjadinya penyebaran DBD terhadap 61.855 jiwa. Namun penduduk diluar klaster perlu waspada, walaupun belum ada bukti terdapat penularan secara transovarial. Penularan virus DBD terjadi secara horizontal melalui manusia infektif yang tidak menunjukan gejala atau hanya memperlihatkan gejala demam ringan, lebih berbahaya karena mereka ini bebas pergi ke mana-mana dengan mobilitas yang tinggi para pengidap virus ini memainkan

peranan yang lebih penting dalam penularan virDen dari pada mobilitas nyamuk Aedes sp itu sendiri (WHO, 1999). 9. Kerentanan wilayah terhadap kejadian DBD Kelurahan dengan kerentanan tinggi yaitu kelurahan Simpang III Sipin dan Mayang Mengurai, 4 kelurahan dengan kerentanan sedang yaitu Kenali Besar, Beliung, Paal V dan Kenali Bawah, selebihnya 4 kelurahan yang ada dengan kerentanan rendah. Gambar 4 adalah peta overlay dari variabel yang diukur untuk menjelaskan kerentanan terjadinya DBD di Kecamatan Kotabaru.

57


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Gambar 4. Peta kerentanan wilayah terhadap kejadian DBD di Kecamatan Kotabaru Tahun 2011

Terdapat 2 kelurahan yang berpotensi tinggi dan rentan terhadap kejadian DBD. Kedua wilayah ini memiliki luas 680 Ha, berarti 8.74% wilayah Kecamatan Kotabaru berpotensi tinggi terhadap kejadian DBD, dimana terdapat 38.446 penduduk yang akan terpengaruh resiko DBD tinggi. Penduduk yang beresiko terserang DBD di Kelurahan Mayang Mengurai tersebar di 8 RT dengan luas 1,68 Km2, untuk Kelurahan Simpang III Sipin penduduk yang beresiko DBD tersebar di 9 2 RT seluas 0,62 Km . Kelurahan yang berpotensi tinggi dan rentan terjadinya DBD memiliki tingkat kepadatan populasi nyamuk tinggi, penggunaan lahan untuk pemukiman yang luas serta persentase rumah dengan status Maya Index tinggi. Kelurahan Beliung dan Kenali Bawah berbatasan langsung dengan wilayah rentan dan berpotensi tinggi terjadi DBD. Perlu kewaspadaan dini khususnya Kelurahan Kenali Bawah yang memiliki kepadatan populasi nyamuk Aedes

58

sp tinggi dan wilayah administrasinya luas namun pemanfaatan untuk pemukiman Âą 10 %, sangat memungkinkan terjadinya penggunaan lahan untuk lahan pemukiman baru yang dapat berakibat meningkatnya kejadian DBD di wilayah tersebut di masa mendatang. KESIMPULAN DAN SARAN Kejadian DBD dipengaruhi tingginya kepadatan populasi Aedes sp, Luasnya lahan dijadikan pemukiman, serta persentase rumah dengan status maya index tinggi. Perlu peningkatan partisipasi masyarakat untuk menekan kejadian DBD melalui kerjasama setiap elemen masyarakat mulai tingkat kelurahan sampai lembaga terkait guna PSN dan monitoring tempat perindukan nyamuk Aedes sp khususnya controllable sites.


Analisis Spasial Kerentanan Demam Berdarah Dengue … Suhermanto

Kepadatan penduduk yang tinggi, curah hujan tingi, resistensi vektor, transovarial virDen tidak mempengaruhi tingginya kejadian DBD. Perlu adanya penelitian lebih lanjut khususnya resistensi dan transovarial pada pemukiman penduduk penderita DBD dan radius 100 meter sekitarnya sehingga dapat diperoleh sampel lebih banyak dan informasi secara akurat baik secara tekstual, spasial maupun kombinasinya. Kelurahan yang berpotensi tinggi dan rentan terjadinya DBD terdapat di Kelurahan Simpang III Sipin dan Mayang Mengurai. Wilayah dengan kerentanan DBD tinggi memiliki tingkat kepadatan populasi nyamuk tinggi, penggunaan lahan untuk pemukiman yang luas serta persentase rumah dengan status Maya Index tinggi. Perlu pemantauan dan pencegahan yang intensif pada Kelurahan Simpang III Sipin dan Mayang Mengurai guna mencegah terjadinya KLB, serta pengembangan manajemen data DBD berbasis SIG (bergeoreferensi) maupun pengembangan sumber daya manusia guna mendukung proses pengoperasian SIG dan mampu mentransformasikan input data kedalam informasi yang berguna. DAFTAR PUSTAKA Castrol, M.G., Nogueira, R.M.R., Schatzmayr, H.G., Miagostovich, M.P., & Oliveira, R.L. 2004. Dengue Virus Detection by Using Reverse TransciptionPolymerase Chain Reaction in Saliva and Progeny of Experimentally Infected Aedes albopictus from Brazil. Mem Inst Oswaldo Cruz, Rio de Janeiro.. 99(8): 809-814. Depkes RI. 2004. Kebijaksanaan Program P2DBD dan Situasi Terkini DBD Indonesia. Jakarta. Dirjen PP dan PL. 2008. Modul Pelatihan Bagi Pelatih Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) dengan Pendekatan Komunikasi Perubahan Perilaku (Comunication for Behavioral Impact). Depkes RI. Jakarta. h. 46 – 55. Djunaedi, D. 2006. Demam Berdarah (dengue DBD). UMM Press, Malang. Fathi., Keman, S., Wahyuni, C.U. 2005. Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku

2013

Terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue di Kota Mataram. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2(1):1-10. Foo, L.C., Lim, T.W., Lee, H.L, Fang, R,. 1985. Rainfall, abundance of Aedes aegypti and dengue infection in Selangor, Malaysia. Southeast Asian J Trop Med Pub Health. 16: 560-568. Gustiansyah. 2008. Bukti Adanya Transmisi Transovarial Virus Dengue pada Nyamuk Ae. Aegypti (Diptera: Culicidae) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah. Tesis. Universitas Gadjah Mada. Johansson, M.A., Dominici, F., Glass, G.E., 2009. Local and Global Effects of Climate Dengue Transmision Puerto Rico. PLoS Negleted Tropical Deseases. Volume 3. Joshi, V., Mourya, D.T., Sharma R.C. 2002. Persistence of Dengue-3 Virus Through Transovarial Transmission Passage In Successive Generations of Aedes aegypti Mosquitoes. Am.J.Trop.Med.Hyg. (67):158–161. Lee, H.L., Rohani, 2005. A. Transovarial Transmission of Dengue Virus in Aedes aegypti and Aedes albopictus in Relation to Dengue Outbreak in An Urban Area in Malaysia. Dengue Bulletin. 29: 106-111 Liani, Evi. 2009. Analisis Kluster Demam Berdarah Dengue di Kota Banjarmasin, Juli 2008 – Juni 2009. Tesis. Pasca Sarjana-UGM. Lozano, R.D., Rodriquez, M.H., Avila, M.H. 2002. Gender Related Family Head Schooling and Aedes Aegypti Larval Breeding Risk in Southern Mexico. Salud publica de Mexico. h. 44(3):237242. Mardihusodo, S.J. 2005. Cara-cara inovatif pengamatan dan pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue. Pusat Kedokteran Tropis-UGM. Yogyakarta. h. 82-97. Miller BR, Mitchell CJ. 1991. Genetic selection of a flavivirus-refractory strain of the yellow fever mosquito Aedes aegypti. AmJ Trop Med Hyg. 45: 399–407. Mula, M.S., Thavara, U., Tawatsin,A., Chompoosri, J. 2004. Procedures for The Evalution of Field Efficacy of SlowRelease Formulation of Larvacides Against Aedes aegypti in WaterStorage Containers. Journal of The American Mosquito Control Association. 20: 64-73

59


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Nicolas

Dumas., Darmawansyah., Arsunan Arsin. 2007. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian DBD di Kecamatan Baruga Kota Kendari. Analisis. 4(2) : 91-100 Panca Wati, N.A., 2009. Perbedaan FaktorFaktor Resiko yang Mempengaruhi Keberadaan Jentik Vektor Dengue (Aedes aegypti & Aedes albopictus) antara Desa Endemis dan Sporadis Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul. Tesis. UGM Yogyakarta. Pathirana, S., Kawabata, M., Goonaatilake, R. 2009. Study of Potensial Risk Dengue Desease Outbreak in Sri Langka Using GIS and Statistical Modeling. Journal of Rural Tropical Public Health. (8 ):8-17. Seng, S.B., Chong, A.K., Moore, A. 2005. Geostatistical Modeling, Analisis and Mapping of Epidemiologi of Dengue Fever in Johor State. Malasya. Presented at SIRC- The 17th Annual Colloguium of The Spatial Information Research Centre University of Otago, Dunedin. New Zealand. Soegijanto Soegeng. 2008. Patogenesis dan Perubahan Patofisiologi pada Infeksi Virus Dengue. Airlangga University Press. Surabaya. h. 61-79 Subagyo Pangestu. Statistik Terapan. BPFE. Yogyakarta. 2010. h. 23-26. Sunardi. 2007. Deteksi Endemisitas Demam Berdarah Dengue (DBD) Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo. Tesis. Pasca Sarjana-UGM. Sungkar, S. 2007. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue : sebuah tantangan yang harus dijawab. Majalah Kedokteran Indonesia 57(6):167-170. Supartha, I.W. 2008. Pengendalian Terpadu Vektor Virus Demam Berdarah Dengue, Aedes aegypti (Linn.) dan Aedes albopictus (Skuse)(Diptera: Culicidae). Makalah disampaikan pada Dies Natalis Univ. Udayana. Denpasar.

60

Sutaryo.

2004. Dengue. Medika, Fakultas Kedokteran UGM. Yogyakarta. 4-48 Umniyati, S,R. 2009. Teknik Imunositokimia dengan Antibodi Monoklonal DSSC7 untuk kajian Patogenesis Infeksi dan Penularan Transovarial Virus Dengue serta Surveilansi Virologis Vektor Dengue. Disertasi. UGM.Yogyakarta. Watt D.M, Horisson B.A, Pantuwatana S, Klein T.A, Burke D.S. 1985. Failure to Detect Natural infection by Dengue viruses of Aedes aegypti and Aedes albopictus (Diptera: Culicidae). J Med Entomol 22: 261-265 Widianto, T. 2007. Kajian Manajeman Lingkungan Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Purworejo Jawa Tengah. Tesis. Universitas Diponegoro. Widiarti. 2000. Status Kerentanan Anopheles aconitus Terhadap Insektisida Organophosfat (Fenitrothion) dan Karbamat (Bendiocarb) Di Kabupaten Jepara Dengan Uji Biokemis. Tesis. Pasca Sarjana-UGM. Yogyakarta. p 67. Widiarti., Suskamdani., Mujiono. 2009. Resistensi vector malaria terhadap insektisida di Dusun karyasari dan Tukatpule Pulau Bali dan Desa Lendang Ree dan Labuhan Haji Pulau Lombok. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 19(3):154164. WHO. 1999. Demam Berdarah Dengue. Diagnosis, Pengeobatan dan Pengendalian. Edisi 2. Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Yudhastuti, R., Vidiyani, A. 2005. Hubungan Kondisi Lingkungan, Kontainer dan Perilaku Masyarakat dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 1(2). Yunus, H.S. 2005. Manajemen Kota. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. h. 20-31.


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

EFEKTIFITAS EKSTRAK BIJI SRIKAYA (Annona squamosa ) TERHADAP KEMATIAN LALAT Susy Ariyani Arif, Fitri Rahmadani Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jambi

ABSTRAK Pengendalian lalat, dapat dilakukan dengan secara kimia yang menggunakan insektisida botani dari senyawa aktif yang terkandung dalam tumbuhan, salah satunya yaitu ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) yang mengandung bahan aktif sebagai racun perut dan racun kontak terhadap serangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) terhadap jumlah lalat yang mati. Metode penelitian ini bersifat eksperimen menggunakan rancangan Post- test Only Control Grup Design untuk mengetahui efektivitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) dengan berbagai konsentrasi terhadap jumlah lalat yang mati. Penelitian ini dilakukan analisis anova dan dilanjutkan menggunakan analisis regresi sederhana, hasil yang didapat yaitu hubungan konsentrasi 10% jumlah lalat yang mati sebanyak 36%, konsentrasi 20% jumlah lalat yang mati 62,40%, konsentrasi 30% jumlah lalat yang mati sebanyak 75,20%, konsentrasi 40% jumlah lalat yang mati sebanyak 78,00% dan konsentrasi 50% jumlah lalat yang mati sebanyak 100%. Sehingga konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) yang paling efektif untuk membunuh lalat adalah menggunakan konsentrasi 20%. Ada pengaruh berbagai dosis konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) terhadap kematian lalat. Kata kunci : Konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ), jumlah lalat yang mati.

PENDAHULUAN Perjuangan manusia melawan vektor sudah di mulai tercipta di muka bumi ini, sebagian vektor menyerang manusia secara langsung untuk mengisap darah, serta merusak tempat pemukiman manusia sehingga menimbulkan gangguan dan bahkan bahaya pada pemukiman (Hadi,2006). Vektor adalah serangga pengganggu, yaitu serangga yang dapat mengganggu, menyerang ataupun menularkan penyakit terhadap manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Untuk mengurangi atau menurunkan populasi vektor dan pengganggu tersebut kesatu tingkat tertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia. Dengan kata lain kita tidak membasmi melainkan mengendalian vektor dan binatang pengganggu tersebut. (Iskandar, 2008 dan Nurcahyo,1996) Salah satu serangga yang mengganggu kehidupan manusia adalah lalat. Yang termasuk lalat sinantropik yaitu yang

berhubungan dekat dengan manusia yaitu lalat rumah, lalat hijau, dan lalat daging. Populasi lalat dapat mengganggu kehidupan manusia dengan perantara (vektor) yang menularkan berbagai jenis penyakit(Sembel,2009). Alternatif lain yang dapat dilakukan mengurangi populasi lalat adalah dengan menggunakan insektisida botani. Salah satu insekisida botani alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan juga tidak membahayakan manusia dan lingkungan sekitarnya yaitu dengan menggunakan ekstrak biji srikaya yang mengandung 4245% lemak, annonain dan resin yang berkerja sebagai racun perut dan racun kontak terhadap serangga. Selain bijinya, bagian tanaman lain yang mengandung bahan aktif yang efektif sebagai pestisida nabati adalah buah mentah, daun, dan akar. Ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) yang dibuat dengan eter dapat meningkatkan tingkat racun sampai 50-100 kali lipat.(Kardinan,1999 dan Wibisono, 2011)

61


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa) dalam memberantas lalat sebagai salah satu usaha pengendalian lalat.

BAHAN DAN CARA KERJA Cara memperoleh lalat yang terdapat di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) menggunakan Fly Net untuk penangkapan lalat, kemudian lalat yang terperangkap di dalam Fly Net dan berjumlah 200 ekor dimasukan kedalam kurungan lalat. Lalat dipindahkan ke masing-masing kurungan yang akan dilakukan perlakuan, jumlah kurungan lalat sebanyak 6 kotak dimana setiap kurungan lalat berisi 25 ekor dengan lima kali perlakuan dan satu kontrol. Lalat dibawa ke dalam ruangan Laboratorium Entomologi Jurusan Kesehatan Lingkungan. Cara mendapatkan ekstark biji srikaya : Srikaya dipilih dengan kualitas baik, kemudian biji srikaya diambil dan dikeringkan, setelah kering lalu di tumbuk, Biji srikaya yang telah ditumbuk di masukan ke dalam thimble (selongan tempat sampel) diatas sampel ditutup dengan kapas, Pelarut eter yang digunakan d masukan ke dalam labu yang diisi butiran batu didih (2-3 batu) fungsi batu adalah untuk meratakan panas dan letupan-letupan(Ansel,2006) Thimble yang berisi / terisi sampel dimasukan kedalam soxlet di sambung dengan labu di tempatkan pada alat pemanas listrik serta di kondesor alat pendingin dan mulai dipanaskan ketika pelarut (eter) didihkan, uapnya naik melewati soklet menuju pipa pendingin, air dingin dialirkan melewati bagian luar kondensor mengembunkan uap.

62

Setelah itu diambil ekstrak biji srikaya dengan konsentrasi. a)10% yaitu dengan 4 gr ekstrak di tambah aquades 36 ml = 40 gr/ml, b) 20% yaitu dengan 8 gr ekstrak di tambah aquades 32 ml = 40 gr/ml, c) 30% yaitu dengan 12 gr ekstrak di tambah aquades 28 ml = 40 gr/ml, d) 40% yaitu dengan 16 gr ekstrak di tambah aquades 24 ml = 40 gr/ml, e)50 % yaitu dengan 20 gr ekstrak di tambah aquades 20 ml = 40 gr/ml, lakukan percobaan. Cara melakukan percobaan yaitu dengan menyiapkan kotak percobaan sebanyak 5 kotak dengan 5 kali pengulangan dan kontrol dengan masingmasing kotak berukuran 30cm Ă&#x2014; 30cm Ă&#x2014; 30 cm. Konsentrasi ekstrak srikaya masingmasing 10%,20%,30%,40% dan 50%. Kemudian disiapkan lalat yang telah dimasukan masing-masing kurungan lalat dengan 25 ekor dalam satu tempat. Selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan ekstrak biji srikaya dengan konsentrasi yang berbeda pada tiap perlakuan dengan pengamatan dan mencatat jumlah lalat yang mati setelah di lakukan penyemprotan. dihitung setiap jam. Pembuatan kurungan lalat dilakukan dengan bahan kayu berukuran 30cm Ă&#x2014; 30cm Ă&#x2014; 30cm. 2. kasa nylon atau jaringan 5 m. 3. Paku. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : Alat,Shoxlet, Pipa pendingin, Konsdensor,Labu, Pemanas Listrik, Thimble (Tempat Sampel) , Pipet volum 10 ml , Aluminium Foil, Corong pisah, Gelas ukur,Timbangan digital, Batu gilingan / mortir, Stopwatch, Alat semprot tangan, Kurungan lalat, Fly Net, Alat tulis, Alat penghitung (Counter). Bahan ; Biji srikaya (Annona squamosa ), Eter, Aquades, Lalat, Air gula. Data yang telah diperoleh dari hasil perhitungan lalat yang ada pada kurungan lalat akan dianalisis dengan uji statistik untuk mengetahui konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) yang paling efektif terhadap kematian lalat.


Efektifitas Ekstrak Biji Srikaya (Annona Squamosa ) â&#x20AC;Ś Susy Ariyani Arif, Fitri Rahmadani

2013

Jenis penelitian dengan metode cross sectional data yang diambil secara bersamaan dan langsung dihitung dengan menggunakan uji statistikdalah uji anova dan analisis regresi sederhana(Notoatmodjo,2007). Uji anova digunakan untuk mengetahui tingkat efektifitas dari kelima konsentrasi. Sedangkan analisis regresi digunakan untuk tujuan peramalan (prediksi), di mana dalam model tersebut terdapat sebuah variebel terikat yang dipengaruhi oleh variabel bebas (Hidayat,2007). HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Persentase peningkatan Rerata jumlah lalat yang mati Pada setiap konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa )

No Percobaan

Konsentrasi

(gr/ml)

Ratarata Persentase jumlah peningkatan lalat (%) yang mati

1 2

Kotak 1 Kotak 2

10% 20%

9 15,6

36,00 62,40

3

Kotak 3

30%

18,8

75,20

4

Kotak 4

40%

19,5

78,00

5

Kotak 5

50%

25

100

Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa setiap konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) ditingkatkan, maka banyaknya lalat yang mati juga mengalami peningkatan. Konsentrasi 10%, jumlah lalat yang mati sebanyak 36%, kemudian meningkat menjadi 62,40% setelah konsentrasi ekstrak ditingkatkan menjadi 20%, meningkat lagi menjadi 75,20% pada konsentrasi 30%, menjadi 78% pada konsentrasi 40% dan banyaknya lalat yang mati menjadi 100% pada konsentrasi 50%. Peningkatan banyaknya lalat yang mati pada setiap konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) data dilihat pada grafik berikut ini :

Gambar 1. Grafik peningkatan rata-rata banyaknya lalat yang mati pada 5 (lima) konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa )

Gambar 1. dapat dilihat bahwa banyaknya lalat yang mati mengalami peningkatan dengan menggunakan konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ). Hal ini memperlihatkan ada pengaruh penggunaan ektrak biji srikaya (Annona squamosa ) terhadap kematian lalat. Hasil percobaan perlakuan ekstrak dengan konsentrasi 10%, konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) 10%, rata-rata lalat yang mati sebanyak 36%. Pada variabel kontrol yang tidak dicampurkan dengan ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ), tidak ada lalat yang mati dalam waktu 1Ă&#x2014; 6 jam. Berdasarkan hasil percobaan dengan konsentrasi ekstrak biji srikaya sebanyak 10%, memperlihatkan adanya daya toksisitas pada ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ), hanya membuat lalat mati sebanyak 36% Hal ini berarti bahwa dengan konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) sebanyak 10%, masih belum efektif untuk mematikan lalat dalam kurungan lalat. Oleh karena itu,

63


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

konsentrasi ekstrak perlu ditambah lebih besar untuk meningkatkan efektifitas daya toksisitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) untuk membunuh lalat. Dengan demikian, maka pada percobaan ke-2, konsentrasi ekstrak ditingkatkan 20% untuk meningkatkan daya toksisitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ). Hasil percobaan perlakuan ekstrak dengan konsentasi 20%, konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) 20%, rata-rata lalat yang mati sebanyak 15,6 atau 62% dari jumlah lalat yang ada pada kurungan lalat. Banyak lalat pada percobaan dengan menggunakan konsentrasi 20% ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan konsentrasi 10%. Peningkatan jumlah lalat yang mati dengan penambahan konsentrasi dari 10% menjadi 20% ini meningkatkan daya toksisitas terhadap kematian lalat sebesar 62% dari 25 lalat yang mati Berdasarkan hasil percobaan dengan konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) sebanyak 20%, memperlihatkan adanya daya toksisitas pada ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ), masih tingkat kematian lalat mati 62%. Hal ini berarti bahwa dengan ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) sebanyak 20%, sudah efektif untuk mematikan lalat dalam kurungan lalat. Hasil percobaan perlakuan ekstrak dengan konsentrasi 30%, konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) 30%, rata-rata lalat yang mati sebanyak 18,8 ekor atau 75% dari jumlah lalat yang ada pada kurungan lalat. Hasil ini memperlihatkan peningkatan jumlah lalat yang mati dibandingkan dengan konsentasi 10% dan 20%. Daya toksisitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ). Berdasarkan hasil percobaan dengan konsentasi ekstrak biji srikaya sebanyak 30%, memperlihatkan adanya daya toksisitas pada ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) tersebut, membuat tingkat kematian lalat sebesar 75%. Hal ini berarti bahwa dengan konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) sebanyak 30% sudah mencapai hasil maksimal. Hasil percobaan perlakuan ekstrak dengan konsentrasi 40%, konsentasi

64

ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) 40%, rata-rata lalat yang mati sebanyak 19,5 ekor atau 78,4% dari jumlah lalat ada pada kurungan lalat. Hal ini memperlihatkan bahwa daya toksisitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) dengan konsentasi 40% dapat membunuh lalat sebesar 78,4%. Hal ini berarti bahwa daya toksisitas ekstrak biji srikaya pada dosis 40% tergolong tinggi. Berdasarkan hasil percobaan dengan konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) sebanyak 40%, memperlihatkan adanya daya toksisitas pada ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ). Dengan konsentrasi 40% ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ), membuat kematian lalat sebesar 78,4%. Hal ini berarti bahwa dengan konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) sebanyak 40%, sudah cukup efektif untuk mematikan lalat dalam kurungan, tetapi masih menyisakan lalat yang hidup dalam kurungan lalat. Hasil percobaan perlakuan ekstrak dengan konsentrasi 50%, konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) 50% merupakan konsentrasi tertinggi yang digunakan dalam penelitian ini. Pada konsentasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) 50% ini, rata-rata lalat yang mati sebanyak 25 ekor atau 100% dari jumlah lalat yang ada dalam kurungan lalat. Hal ini memperlihatkan bahwa daya toksisitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) pada konsentasi 50% tergolong tinggi dapat membunuh lalat sebesar 100%. Hasil percobaan kontrol yang tidak diberi perlakuan, variabel kontrol yang tidak dicampur dengan ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) tidak ada yang mati (0%) dalam waktu 1 x 6 jam. Berdasarkan hasil percobaan dengan konsentasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) yang mengandung 4245% lemak, annonain, dan resin yang berkerja sebagai racun perut dan racun kontak terhadap serangga dapat meningkatkan racunnya sampai 50-100 kali lipat(Kardinan,1999) Adapun penelitian bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) terhadap mortalitas kutu kepala (Pediculus humanus var.capitis) serta untuk mengetahui konsentrasi ekstrak


Efektifitas Ekstrak Biji Srikaya (Annona Squamosa ) â&#x20AC;Ś Susy Ariyani Arif, Fitri Rahmadani

biji srikaya yang efektif untuk mortalitas kutu kepala(Iriyanto,2009). Jenis penelitian ini adalah dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari masing-masing 6 perlakuan yaitu 0% (kontrol), 20%, 40%, 60%,80%, 100% dengan 4 kali ulangan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia UMM dan di Rumah Sakit Islam (RSI) Garam Kalianget Sumenep yang dilaksanakan pada tanggal 10 maret 2009 sampai dengan 07 April 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) efektif digunakan sebagai insektisida dan menyebabkan kematian terhadap kutu kepala (Pediculus humanus var. capitis). Hasil analisis uji duncans bahwa perlakuan F (100%) memberikan tingkat mortalitas yang tertinggi dengan lama pemaparan 15 menit sudah dapat mematikan kutu kepala 9-10 ekor atau 9,75%, perlakuan B dengan konsentrasi (20%) memberikan tingkat mortalitas yang terendah dengan lama pemaparan 15 menit sudah dapat mematikan kutu kepala 2-3 ekor atau 2,25 % dan perlakuan A dengan konsentrasi (0%) atau kontrol tidak ada tingkat mortalitas atau tidak menyebabkan kematian sama sekali. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan konsentrasi 20% ekstrak biji srikaya dapat memberikan kematian pada kutu kepala meskipun rendah sedangkan konsentrasi 100% dapat memberikan kematian pada kutu kepala secara maksimal dan sudah efektif untuk mortalitas kutu kepala (Pediculus humanus var.capitis)(Iriyanto,2009) Dari lima macam konsentrasi yang peneliti gunakan didapatkan konsentasi yang paling efektif dalam pembunuhan lalat dengan standar LC50 dari lima macam konsentrasi yang mendekati yaitu 20% konsentrasi. Dari tabel dapat dilihat jumlah kematian lalat yang mati setelah dilakukan penyemprotan dengan konsentrasi 50% selama 6 jam yang terus mengalami kenaikan sesuai dengan tingkat konsentrasi. Dalam pelaksanaan dilapangan pemanfaatan ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) untuk lalat masih terbatas pada

2013

perangkap lalat, proses pengembang biakannya dan dan tempat-tempat sampah. Jika dipandang dari aspek lingkungan, keamanan sipengguna cara aspek kesehatan ekstrak biji srikaya tidak dapat langsung digunakan oleh masyarakat.

KESIMPULAN DAN SARAN Bardasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) berpotensi sebagai insektisida hayati karena terbukti daya toksisitas yang dapat membunuh lalat. Ada pengaruh berbagai konsentrasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) terhadap lalat mati untuk setiap konsentrasi mengalami peningkatan, sehingga semakin besar konsentrasi ekstrak mengakibatkan semakin banyak lalat yang mati. Berdasarkan pengaruh ekstrak biji srikaya (Annon squamos) terhadap kematian lalat yaitu sebesar 9,05 % sedangkan sisanya sebesar 9,5% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak disebut dalam penelitian ini. Konsentasi ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) yang paling efektif untuk membuntu lalat dengan menggunakan konsentrasi 50% (LC50) adalah dengan konsentrasi 20%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka diharapkan dari hasil penelitian ini, ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ) dapat diterapkan sebagai insektisida hayati untuk membunuh lalat. Selain itu perlu adanya penelitian yang lebih lanjut mengenai kandungan ekstrak biji srikaya (Annona squamosa ), konsentrasi optimal dan efek negatifnya terhadap manusia. UCAPAN TERIMA KASIH 1. Krisdiyanta,SPd,M.Kes, yang telah membantu menelaah naskah untuk diterbitkan pada Jurnal Kemenkes Poltekkes Jambi Jurusan Kesehatan Lingkungan 2. Erris S,SKM,MPH, yang telah membantu menelaah naskah untuk diterbitkan pada Jurnal Kemenkes

65


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Poltekkes Jambi Jurusan Kesehatan Lingkungan DAFTAR PUSTAKA Hadi, upik Kesumawati. 2006. Hama Pemukiman Indonesia. Bogor : Fakulitas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Hidayat, Aziz. A. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medik. Iriyanto, Mohammad. 2009. Uji Efektif Ekstrak Biji Srikaya (Annona squamosa ) terhadap Mortalitas Kutu Kepala .

66

(Pediculus humanus var. capitis). Universitas Muhammadiya Malang. Kardinan, Agus. 1999. Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi. Jakarta : Penebar Swadaya. Notoatmodjo, soekidjo. 2007. Metode penelitian kesehatan Jakarta : Rineka Cipta. Nurcahayo, Eko M. 1996. Memberantas Binatang Pengganggu di Lingkungan Rumah. Jakarta : Penebar Swadaya. Sembel, Dantje T. 2009. Entomologi Kedokteran. Yogyakarta : Penerbit Andi. Wibisono, Wahyu G. 2011. Tanaman Obat Keluarga Berkasiat. Unggaran: VIVO Publisher


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

FAKTOR-FAKTOR PENENTU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH PERKEBUNAN Lia Artika Sari Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jambi

ABSTRAK

Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan dan pemberian Air Susu Ibu sejak usia dini, terutama pemberian ASI Eksklusif. Lebih dari 13% dari kematian balita dapat dihindari secara global setiap tahun dengan mempromosikan ASI eksklusif. Pemberian ASI sangat penting bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasan bayi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan faktor predisposisi (pendidikan, pengetahuan, sikap, kepercayaan, pekerjaan), faktor pemungkin (keterpaparan media), faktor penguat (dukungan suami/keluarga, dukungan petugas kesehatan) dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah perkebunan Kabupaten Sarolangun. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan rancangan penelitian potong silang. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang mempunyai anak berusia > 6 bulan sampai 12 bulan. Data analisis menggunakan chi kuadrat dan regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariabel diperoleh bahwa terdapat hubungan yang signifikan faktor predisposisi yaitu pendidikan (p=0.018), pengetahuan (p=0.018), sikap (p=0.039), kepercayaan (p=0.011), pekerjaan (p=0.027), faktor penguat yaitu dukungan suami/keluarga (p=0.002), dukungan petugas kesehatan (p=0.039) dengan pemberian ASI ekslusif. Kepercayaan merupakan faktor dominan/determinan dalam pemberian ASI ekslusif berpeluang 61.69 kali untuk memberikan ASI eksklusif, jika ibu tidak percaya dengan mitos-mitos seputar ASI. Pemberian ASI eksklusif sampai saat ini masih rendah. Kebutuhan ekonomi keluarga membuat ibu cepat memberikan makanan tambahan selain ASI dan mitos-mitos serta kebiasaan yang ada mendukung ibu untuk tidak memberikan ASI ekslusif. Kata kunci: ASI eksklusif, faktor predisposisi, faktor pemungkin, faktor penguat.

PENDAHULUAN Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan dan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini, terutama pemberian ASI Eksklusif. Konvensi Hak-hak Anak tahun 1990 antara lain menegaskan bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak. Berarti ASI selain merupakan kebutuhan, juga merupakan hak azasi bayi yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Menyusui adalah salah satu intervensi yang paling efektif untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas. Lebih dari 13% dari kematian balita dapat dihindari secara global setiap tahun dengan mempromosikan ASI eksklusif. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan ibu-ibu yang tidak

berhasil menyusui bayinya atau bahkan menghentikan menyusui bayinya lebih dini dengan berbagai alasan. Seringkali hal tersebut dilakukan karena ketidaktahuan ibu akan manfaat ASI yang begitu besar baik untuk ibu maupun anak. Bahkan kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini jumlah ibu yang tidak mau lagi menyusui bayinya semakin meningkat (Rusli U, 2009). Memburuknya gizi anak dapat juga terjadi akibat ketidaktahuan ibu mengenai cara-cara pemberian ASI kepada anaknya. Kejadian ini banyak sekali ditemukan pada sekelompok ibu-ibu terutama pada ibu dan lingkungan keluarga yang berpenghasilan cukup, yang kemudian menjalar ke daerah pinggiran kota dan menyebar sampai ke desa-desa meskipun ASI nyata-nyata penting bagi kesehatan ibu dan anak. Fenomena yang terjadi selama ini didorong

67


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

oleh berbagai faktor, antara lain karena adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga, banyaknya iklan yang menyesatkan para ibu juga kurangnya buku panduan yang dapat dinikmati segenap lapisan masyarakat mengakibatkan fenomena diatas terus berjalan. Kurangnya pengertian dan pengetahuan ibu tentang manfaat ASI dan menyusui juga menjadi faktor terbesar yang menyebabkan ibu-ibu mudah terpengaruh dan beralih kepada susu formula (Afifah DN, 2007). Pada tahun 2010 cakupan ASI eksklusif di propinsi Jambi sebesar 33% dan propinsi Jambi sendiri mempunyai 11 Kabupaten dimana cakupan ASI tertinggi yaitu Kabupaten Batanghari sebesar 70,4% dan cakupan ASI terendah yaitu Kabupaten Sarolangun sebesar 23,2% dan angka gizi kurang sebesar 3,8% (Profil Dinkes Prop. Jambi, 2010). Sumber utama mata pencaharian di Kabupaten Sarolangun adalah bekerja di perkebunan. Bekerja di kebun dikerjakan oleh perempuan dan lakilaki, dalam kondisi ekonomi yang kurang memadai, para perempuan melihat perlunya sumber pendapatan tambahan. Satu-satunya yang bisa dikerjakan dan diusahakan adalah pekerjaan menyiangi atau membersihkan rumput di kebun orang (buruh) dengan rata-rata waktu bekerja di kebun berkisar 6-8 jam. Pada saat-saat seperti ini beban perempuan menwejadi bertambah. Mereka harus juga turut berupaya dalam menciptakan sumber pendapatan keluarga di samping tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu salah satunya memberikan ASI eksklusif. BAHAN DAN CARA KERJA Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan potong silang. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang mempunyai anak umur > 6 bulan sampai 12 bulan yang terdapat di kecamatan Pelawan dan Singkut Kabupaten Sarolangun, perhitungan penentuan besar sampel dengan menggunakan tehnik rule of thumb, dimana jumlah variabel bebas (pendidikan, pengetahuan, sikap, pekerjaan, kepercayaan, keterpaparan media, dukungan suami/keluarga dan dukungan

68

petugas kesehatan) dan variabel terikat (keberhasilan pemberian ASI eksklusif) dikali 10. Besar sampel dalam penelitian ini berjumlah 90 orang. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik secara kelompok atau gugus (Multistage cluster random sampling). Kabupaten Sarolangun terdiri dari 10 Kecamatan dari 10 Kecamatan tersebut peneliti mengambil 2 Kecamatan karena kecamatan tersebut area perkebunannya paling dominan yaitu Kecamatan Pelawan dan Singkut, dari 2 Kecamatan tersebut diambil 4 Desa tiap Kecamatan. Pengambilan sampel dari 8 Desa tersebut menggunakan tehnik pengambilan sampel secara proporsi sampai sampel terpenuhi. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner tertutup dan terbuka. Penelitian dilaksanakan mulai Januari sampai dengan Maret 2013. Analisis yang digunakan untuk menguji signifikan dan tidaknya kedua variabel menggunakan uji chi square. Analisis multivariabel digunakan untuk melihat faktor paling dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif dengan menggunakan regresi logistik (Dahlan S, 2007). HASIL DAN PEMBAHASAN 1) Karakteristik Ibu Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah ibu dengan usia < 20 tahun tidak ada (100%) yang memberikan ASI eksklusif. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Foster, dkk (2006) yang mengungkapkan ada hubungan yang positif antara usia ibu dengan pemberian ASI, dimana usia ibu yang lebih tua 1,58 lebih kuat keinginan untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang usianya relatif lebih muda. Umur biasanya dikaitkan dengan tingkat kedewasaan seseorang, semakin bertambah umur biasanya seseorang akan semakin menunjukkan kematangan jiwa, mampu berfikir secara rasional serta mampu mengendalikan emosi, karena seseorang yang emosinya labil dapat mempengaruhi hormon oksitosin dalam pengeluaran ASI,


Faktor-Faktor Penentu yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif â&#x20AC;Ś Lia Artika Sari

sehingga akan berdampak pada proses pemberian ASI eksklusif. Ibu yang berparitas primipara yaitu sebanyak 91.1% tidak memberikan ASI eksklusif. Ibu yang telah mempunyai anak >2 orang (multipara) lebih banyak memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Al-Akour, dkk (2010) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara paritas dengan menyusui dengan nilai p=0.01. Ibu yang telah mempunyai anak > 1 orang sudah mempunyai pengalaman dalam mengasuh anak, pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu, begitu juga dengan memberikan ASI, sehingga pengalaman yang ada cenderung ibu dapat memberikan ASI secara eksklusif. Pengalaman dalam memberikan ASI terdahulu memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam hal menyusui, sehingga ibu-ibu yang sudah pernah menyusui akan lebih bisa memberikan ASI. Dari status ekonomi, sebagian besar ibu yang memiliki pendapatan rendah yaitu sebanyak 85.4% tidak memberikan ASI eksklusif. Ibu dengan status ekonomi rendah dan tinggi lebih banyak tidak memberikan ASI eksklusif. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amirudin, dkk (2006) menyatakan tidak ada hubungan status ekonomi dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p=0.346. Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan ibu-ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif bukan diganti dengan memakai susu formula tetapi digantikan dengan makanan tambahan seperti air tajin, bubur tepung yang diberi gula. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinta, dkk (2003) yang menunjukkan bahwa pada status ekonomi rendah memiliki peluang 4,6 kali untuk memberikan ASI dibanding ibu dengan status ekonomi tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun ibu memiliki status ekonomi rendah maupun tinggi tidak mempengaruhi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Berdasarkan penelitian ini ibu yang memiliki status ekonomi rendah

2013

memberikan bayi susu formula yang mengalami pengenceran yang tidak sesuai dengan takarannya. 2) Hubungan faktor predisposisi (pendidikan, pengetahuan, sikap, kepercayaan dan pekerjaan) dengan pemberian ASI eksklusif Ibu yang mempunyai pendidikan rendah yaitu sebanyak 89.3% tidak memberikan ASI eksklusif. Ibu yang memiliki tingkat pengetahuan rendah tentang pemberian ASI lebih banyak tidak memberikan ASI eksklusif yaitu sebanyak 91.9%. Ibu yang memiliki sikap positif sebanyak 91.2% tidak memberikan ASI eksklusif.. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Al-Akour, dkk (2010) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status pendidikan ibu dengan menyusui dengan nilai p=0.01. Tingkat pendidikan ibu mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan, dimana pendidikan dapat membantu seseorang untuk menerima informasi. Pendidikan yang tinggi membuka akses pengetahuan yang lebih luas sehingga ibu dapat menambah dan memperbaharui pengetahuannya. Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi. Adat istiadat di Kabupaten Sarolangun mengatur pembagian peran dalam rumah tangga dimana laki-laki sebagai pimpinan dalam rumah tangga dan merupakan pengambilan keputusan yang paling dominan. Hal ini berdampak juga dalam pengaturan pendidikan kepada anak perempuan dimana pada sebagian masyarakat masih ditemui anak perempuan tidak boleh bersekolah tinggi. Hasil penelitian Foster, dkk menunjukkan salah satu kelompok yang rentan tidak melanjutkan pemberian ASI eksklusif adalah ibu yang mempunyai pendidikan rendah. Pada penelitian ini sebagian besar ibu berpendidikan rendah. Pendidikan yang rendah serta keterampilan yang kurang menyebabkan ibu-ibu tidak bisa memperoleh pekerjaan yang memadai sehingga pekerjaan yang didapatkan hanyalah sebagai buruh di perkebunan, pekerjaan yang dilakukan seperti menebas,

69


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

menyadap karet dan menyiangi rumput di sekitar daerah pohon sawit. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan rendah (91,9%) tidak memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Al-Jasem, dkk (2012) yang menyatakan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh ibu tentang manfaat menyusui berhubungan dengan keputusan ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Shi, dkk (2008) juga mengungkapkan hal yang sama bahwa pengetahuan tentang menyusui berhubungan secara signifikan dengan pemberian ASI secara eksklusif, dan ibu yang memiliki pengetahuan yang baik 2.71 kali lebih mau menyusui dibandingkan dengan pengetahuan yang kurang. Pengetahuan seseorang dapat berguna sebagai motivasi dalam bersikap dan bertindak bagi orang tersebut, penambahan pengetahuan yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungannya menghasilkan pengetahuan yang baru yang dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Hasil penelitian Fikawati, dkk (2009) mengejutkan karena dimasa sekarang dimana informasi ASI eksklusif, sebenarnya bukan sesuatu hal yang baru, masih banyak ibu yang tidak mengetahui tentang ASI eksklusif. Dapat dipastikan apabila ibu tidak mengetahui berbagai keuntungan dari ASI eksklusif, hal ini tentunya tidak akan memicu ibu untuk melakukan ASI eksklusif. Seseorang ibu tidak akan merasa rugi bayinya tidak diberi ASI eksklusif karena ibu tersebut tidak tahu dampaknya pada bayi. Seorang ibu umumnya akan berusaha memberikan yang terbaik bagi anaknya apabila dia tahu dengan jelas bagaimana manfaat untuk anaknya. Penelitian ini menunjukan sebagai besar ibu memiliki sikap negatif (62,2%) dengan pemberian ASI eksklusif. Sikap yang negatif dalam diri seseorang dapat menentukan tindakan orang tersebut, sikap ibu akan menjadi positif jika mempunyai pengetahuan yang baik, mendapatkan promosi mengenai ASI eksklusif dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Hasil penelitian didapatkan bahwa

70

masih banyak ibu yang berfikiran positif tetapi tidak memberikan ASI eksklusif. Ketidaksesuaian antara sikap dan tingkah laku ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh La Pierre dalam Cahayawati (2009), suatu sikap akan menjadi suatu perbuatan nyata bila ada faktor pendukung dari pihak lain, misalnya suami, orang tua atau mertua dan bidan sangat penting untuk pemberian ASI eksklusif. Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas, kemudian faktor lingkungan termasuk kebudayaan/kepercayaan yang tertanam dalam diri seseorang dan orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya, individu bersikap searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut, dalam hal praktik pemberian ASI ini orang yang dianggap penting adalah orang tua/mertua. Ibu yang memiliki kepercayaan tentang mitos-mitos tentang ASI eksklusif sebanyak 89.9% tidak memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang tidak percaya terhadap mitos-mitos dan kebiasaan yang telah tertanam secara turun temurun lebih banyak memberikan ASI eksklusif, sedangkan ibu yang percaya hanya sebagian kecil yang memberikan ASI eksklusif. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kepercayaan dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p=0.011. Hasil uji multivariabel diperoleh hasil perhitungan Rasio Prevalens (RP) =61.696 [3.4221112.386] artinya ibu-ibu yang tidak percaya dengan mitos-mitos seputar ASI eksklusif 61.696 kali lebih tinggi dalam pemberian ASI eksklusif, kepercayaan merupakan faktor penentu dalam pemberian ASI eksklusif. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Li, dkk (2008) yang menyatakan salah satu yang menggagalkan pemberian ASI eksklusif adalah persepsi yang salah tentang anggapan bahwa bayi


Faktor-Faktor Penentu yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif â&#x20AC;Ś Lia Artika Sari

tidak cukup hanya diberikan ASI saja, harus diberi makanan tambahan lain, hal ini dapat disebabkan kurangnyapengetahuan tentang proses normal laktasi. Ibu-ibu juga percaya dengan isu-isu mengenai ASI. Studi yang dilakukan oleh Hizel, dkk di Turkey menyatakan 10% dari responden penelitian percaya bahwa bayi baru lahir makanan pertama kali yang harus diberikan adalah air gula dan bertahap dengan pengenalan makanan lain dimulai segera setelah bayi berumur 40 hari. Studi ini juga mengatakan bahwa orang tua/mertua mempengaruhi ibu-ibu dalam memberikan ASI sehingga timbul rasa tidak percaya diri ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Masyarakat Sarolangun hidup secara berkelompok-kelompok dimana dalam kelompok tersebut terdapat anak beranak, kakak beradik, sanak saudara sehingga adat istiadat yang sudah ada mendarah daging. Begitu juga dalam hal pemberian ASI, dimana orang tua biasanya akan menganjurkan memberikan makanan tambahan sedini mungkin, karena menurut pendapat mereka anak tidak akan kenyang jika tidak diberi makanan tambahan. Orang tua biasanya mempengaruhi ibu untuk segera memberikan makanan/minuman tambahan kepada bayi. Banyak orang tua yang tidak mengetahui bahwa dengan berkembangnya ilmu pengetahuan pemberian ASI saja sebaiknya 6 bulan dan tidak boleh diberi makan terlalu dini. Kebiasaan-kebiasaan dan perilaku masyarakat seringkali merupakan penghalang atau penghambat terciptanya pola hidup yang sehat. Pada saat hamil dan melahirkan banyaknya pantangan yang tidak boleh dimakan oleh ibu seperti kacang-kacangan, sayur bayam, ikan laut, sayur nangka, dapat mengurangi kualitas ASI. Hal ini disebabkan oleh masih berkembangnya mitos-mitos yang ada dan kurangnya pengetahuan ibu. Salah satu mitos yang berkembang di masyarakat Jambi, payudara sebelah kanan merupakan sumber makanan dan payudara sebelah kiri yaitu minuman, dimana setiap kali menyusui ibu-ibu harus memberikan payudara sebelah kanan terlebih dahulu. Apabila payudara sebelah kanan yang paling sering diberikan, maka akan terjadi pembengkakan pada payudara sebelah kiri

2013

sehingga proses pemberian ASI akan terhambat karena nyeri dan bengkak pada payudara. Hal ini juga dapat menyebabkan pengosongan salah satu payudara tidak sempurna sehingga akan menghambat produksi ASI. Di Propinsi Jambi khususnya pada daerah-daerah pedesaan, bayi yang baru berumur seminggu sudah dikenalkan dengan makanan tambahan seperti pisang yang dikikis dengan sendok, dua kali sehari kira-kira seperempat dari satu pisang, pisang yang disuapkan tersebut ialah pisang ambon. Pada usia 2 bulan disamping ASI anak dikenalkan dengan makanan tambahan yakni pisang dicampur dengan gilingan nasi lembek lalu disaring dan disuapkan dengan sendok, makanan ini diberikan 2 kali sehari dan takarannya ditingkatkan kira-kira sebanyak satu piring kecil. Pada usia 5 bulan anak sudah diberikan nasi tim yang dicampur dengan sedikit sayuran. Ditambah dengan makanan tambahan seperti papaya, ubi rebus, pisang rebus, kerupuk dan makanan tersebut diberikan dengan cara dipegangkan ke tangan anak yang dapat berfungsi sebagai mainan, untuk mendiamkan anak menangis, masyarakat mempercayai dengan memberikan anak makanan sedini mungkin dapat membantu pertumbuhan dan membuat daya tahan bayi menjadi baik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang berkerja sebanyak (85.9%) tidak memberikan ASI eksklusif. Ibu yang berkerja berpeluang tidak dapat memberikan ASI eksklusif. Ibu yang berkerja mencari nafkah cenderung menjadi penyebab kegagalan pemberian ASI eksklusif. Ibu yang berkerja mempunyai waktu yang terbatas untuk keluarga dan terbagi dengan urusan pekerjaan diluar rumah, otomatis tidak dapat sehari penuh terlibat dalam pengasuhan anak. Keadaan ini memerlukan dukungan dan kesediaan suami untuk berkerja sama dalam hal pengasuhan anak dan pemberian ASI. Selama ibu berada di tempat kerja, suami dapat menggantikan peran ibu memberikan ASI peras atau mengambil alih pekerjaan pekerjaan rumah tangga, sehingga sesampainya di rumah ibu berkesempatan untuk memberikan ASI secara langsung

71


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

tanpa harus direpotkan lagi dengan pekerjaan rumah tangga. Pada penelitian Suyatno (1997) mengatakan adanya hubungan antara pekerjaan dan pemberian ASI, pada penelitian ini sampel penelitian yaitu ibu-ibu yang berkerja di sektor formal, sehingga terdapat beberapa fakta yang berkaitan dengan pekerjaan ibu seperti situasi tempat kerja yang perlu mendapat perhatian yaitu sarana dan prasarana yang menunjang ibu dalam memberikan ASI, dimana tempat kerja harus menyediakan pojok ASI, tersedianya tempat penitipan anak, jam kerja yang tidak berlebihan. Namun hal ini berbeda dengan penelitian yang peneliti lakukan, dimana sampel penelitiannya rata-rata ibu yang berkerja bukan di sektor formal, tetapi lebih cenderung ke sektor non formal yaitu berkerja sebagai buruh perkebunan, mereka berkerja selaku pekerja active income, dimana jika mereka tidak berkerja mereka tidak akan mendapatkan upah. Situasi tempat kerja yang curam dan berbukit-bukit serta seringkali terdapat binatang buas di wilayah perkebunan tidak memungkinkan untuk ibu dapat membawa bayinya sambil berkerja, dan pada saat ibu berkerja inilah biasanya bayinya dititipkan pada orang terdekat seperti nenek. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada saat bayi ditinggalkan maka nenek akan memberikan air tajin, bubur tepung sampai ibu pulang dari kebun dan kemudian baru di beri ASI lagi. Ibu-ibu yang habis melahirkan rata-rata kembali berkerja lagi setelah selesai masa 40 hari setelah melahirkan dan rata-rata waktu yang mereka gunakan untuk berkerja di perkebunan 6-8 jam/hari. Tekanan ekonomi terhadap keluarga masyarakat pedesaan Jambi, menimbulkan tugas penting bagi wanita pedesaan yakni tugas untuk mencukupi kebutuhan dan stabilitas ekonomi keluarga. Kondisi kemiskinan yang masih cukup keras melingkari kehidupan rumah tangga sebagian besar keluarga masyarakat pedesaan. Kemiskinan itu menciptakan satu peranan tersendiri bagi wanita di pedesaan yakni peranan untuk menambah pendapatan keluarga. Dengan kata lain wanita dalam masyarakat pedesaan Jambi dituntut untuk melakukan peranan ekonomi.

72

Peranan ekonomi wanita ini menjadi sangat menonjol karena kehidupan ekonomi masyarakat pedesaan yang masih rendah (BPS Kab. Sarolangun, 2011). Rendahnya pendidikan menyebabkan perempuan di daerah pedesaan tidak mempunyai kesempatan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, karena mereka tidak mempunyai keterampilan yang lain, maka mereka hanya berkerja sebagai buruh upahah seperti menebas, upah merumput dan upah panen. Pekerjaan ibu sebagai buruh perkebunan tidak memungkinkan ibu untuk membawa anaknya sambil berkerja, karena luasnya area perkebunan dan struktur tanah yang sedikit curam, pada saat berkerja anak akan dititipkan pada orang terdekat seperti nenek, dan makanan seperti air tajin dan bubur akan diberikan oleh nenek kepada anak, karena pengetahuan ibu yang masih kurang sehingga ibu tidak mengetahui sebenarnya ASI dapat diperah dan diberikan kepada anak dengan menggunakan sendok. 3) Hubungan faktor pemungkin (keterpaparan media) dengan pemberian ASI eksklusif Ibu yang terpapar media sebanyak 83% dan yang tidak terpapar media sebanyak 76,7% tidak memberikan ASI eksklusif. Ibu yang tidak mendapat dukungan dari suami sebanyak 93.2% tidak memberikan ASI eksklusif. Ibu yang tidak mendapat dukungan dari petugas kesehatan tentang pemberian ASI sebanyak 84.5% tidak memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang terpapar media lebih banyak tidak memberikan ASI eksklusif. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara keterpaparan media dengan pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini menunjukkan sebagai besar ibu yang terpapar media tidak memberikan ASI eksklusif karena ibu-ibu lebih banyak terpapar media mengenai susu formula daripada ASI eksklusif. Media merupakan sarana atau upaya untuk menampilkan informasi yang diinginkan, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan sasaran dan memutuskan


Faktor-Faktor Penentu yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif â&#x20AC;Ś Lia Artika Sari

untuk mengadopsi perilaku. Media juga dapat digunakan sebagai ajang promosi yang merupakan kekuatan besar dalam mempengaruhi perilaku konsumen. Sisi negatif pengaruh promosi terhadap konsumen adalah digunakannya pesan iklan yang bersifat mengelabui (deceptive information). Sering kita menjumpai iklan yang memberikan informasi kepada konsumen secara tersamar, membingungkan bahkan tidak logis. Selama ini informasi antara ASI dan susu formula belum seimbang di tengah masyarakat. Masyarakat lebih banyak menerima informasi susu formula daripada ASI, akibatnya masih banyak ibu yang tidak menyusui anaknya dengan benar. Iklan susu formula di berbagai media massa sangat berpotensi merusak pemahaman ibu tentang perlunya ASI bagi bayi. Bentuk promosi oleh produsen susu formula dilakukan melalui dua pendekatan yaitu langsung ke konsumen dan tidak langsung melalui petugas kesehatan. Promosi langsung kepada masyarakat dapat kita ketahui dari berbagai media massa (TV, majalah, koran, tabloid, radio, dst). Promosi tersebut bertujuan untuk membentuk persepsi bayi yang cerdas apabila diberi susu formula, kesan gaya hidup modern bagi ibu yang memberikan susu formula kepada bayinya. Iklan dengan latar belakang kehidupan keluarga ibu ekonomi menengah dan berkarier, dikesankan seolah-olah bayinya tetap sehat dan montok dengan diberikan susu formula. Promosi tidak langsung yang dilakukan produsen susu melalui petugas kesehatan dengan cara pemberian contoh produk susu, hadiah, brosur, poster, sponsor kegiatan. Dampaknya dari promosi tidak langsung tersebut akan mempengaruhi persepsi masyarakat secara luas. Petugas kesehatan memainkan peran yang penting dalam praktik pemberian susu formula. Demikian pula pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit/klinik bersalin, lebih besar menghentikan penyusuan dibandingkan yang melahirkan di rumah. Hal tersebut menunjukan bahwa terdapat pengaruh tenaga kesehatan professional terhadap perilaku ibu dalam memberikan ASI, terutama dalam pengenalan susu formula dan penghentian penyusuan ASI.

2013

Hasil penelitian yang peneliti lakukan pada responden di wilayah perkebunan Kabupaten Sarolangun, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara keterpaparan media dengan pemberian ASI, dikarenakan kesibukan ibu dalam bekerja sehingga untuk mendapatkan informasi mengenai ASI sangat jarang, ibu lebih mementingkan pekerjaan untuk menopang kehidupan keluarga mereka dibandingkan untuk mendengarkan penyuluhan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Meningkatnya pengetahuan akan membentuk persepsi yang positif dalam diri seseorang, untuk itu diharapkan media dapat memberikan informasi yang baik, positif dan dapat memberikan motivasi bagi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. 4) Hubungan faktor penguat (dukungan suami/keluarga dan dukungan petugas kesehatan) dengan pemberian ASI eksklusif Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang diberi dukungan oleh suami/keluarga lebih banyak memberikan ASI eksklusif sedangkan ibu yang tidak mendapat dukungan suami/keluarga lebih sedikit memberikan ASI eksklusif. Penelitian ini menunjukkan sebagian besar ibu mendapat dukungan dari suami sebesar 51,1%, namun terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif, seperti jam kerja ibu yang lama meninggalkan bayi sehingga menghambat kontinuitas pemberian ASI, sedangkan pengetahuan ibu untuk memberikan ASI perah belum ada. Studi di daerah urban Jakarta dan Kabupaten Pidie Jaya Aceh membuktikan dukungan suami berhubungan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif (Manaf SA, 2010). Dukungan suami membuat ibu berpeluang 5,1 kali lebih besar untuk memberikan ASI eksklusif daripada yang tidak didukung suami.Salah satu pendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif adalah suami yang merupakan orang terdekat yang memainkan peran kunci selama kehamilan, persalinan dan setelah bayi lahir termasuk pemberian ASI. Dukungan yang diberikan suami akan mempengaruhi kondisi psikologis ibu yang akan berdampak

73


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

terhadap keberhasilan menyusui. Suami merupakan faktor pendukung pada kegiatan yang bersifat emosional dan psikologis yang diberikan kepada ibu menyusui (Ramadani N dkk, 2010). Keluarga yang merupakan orang terdekat ibu bayi terutama ayah dan orangtua perlu juga diberikan informasi tentang pentingnya ASI eksklusif oleh petugas kesehatan sehingga dengan pengetahuan tersebut dapat menghilangkan anggapan-anggapan yang salah tentang ASI eksklusif dan dengan adanya informasi tersebut akan membuat keluarga untuk meyakinkan ibu agar tetap memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang tidak diberi dukungan oleh petugas kesehatan lebih banyak tidak memberikan ASI eksklusif. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Marshall R, dkk (2004) menyatakan ibu yang mendapatkan konseling pada saat kehamilan 2,1 kali lebih mungkin membuat keputusan untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang tidak mendapatkan konseling pada saat kehamilan. Dukungan petugas kesehatan dalam mempromosikan pentingnya menyusui dapat bermanfaat untuk kelanjutan pemberian ASI eksklusif. Bidan seharusnya dapat mengawal pelaksanaan ASI eksklusif melalui pemberian nasehat, pemantauan dan tindakan yang mendukung pelaksanaan ASI eksklusif. Ibu yang mendapat konseling menyusui yang baik dari petugas kesehatan berpeluang 2,4 kali lebih berhasil dalam memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan yang mendapatkan konseling yang kurang baik dari petugas kesehatan. Hal ini karena petugas kesehatan merupakan orang pertama yang berinteraksi pada saat ibu bersalin dan memberikan ASI pertama kali kepada bayinya. Petugas kesehatan harus mengetahui tatalaksana laktasi yang baik dan benar. Petugas kesehatan juga harus memberikan penjelasan tentang ASI secara berkesinambungan, mulai dari pemeriksaan kehamilan, setelah persalinan dan saat kunjungan neonatal. Petugas kesehatan harus memiliki keterampilan dalam konseling ASI, baik dalam hal berkomunikasi, pengetahuan tentang

74

pemberian ASI secara teknis dan sosial budaya, serta memahami program pemberian ASI yang dilakukan oleh pemerintah. Pekerjaan ibu yang menyita waktu di pagi hari untuk berkerja di kebun memungkinkan ibu tidak mempunyai kesempatan untuk mendengarkan penyuluhan pada saat posyandu. Ibu-ibu lebih cenderung mempunyai waktu pada saat sore hari, dan biasanya ibu-ibu mempunyai waktu berkumpul pada saat acara pengajian yang dilakukan seminggu sekali. Hasil analisis regresi logistik ganda terdapat tujuh sub variabel yang berhubungan secara bermakna dengan pemberian ASI eksklusif, yaitu variabel faktor predisposisi (kepercayaan, pendidikan, pengetahuan), variabel penguat (dukungan petugas kesehatan, dukungan suami/keluarga), karakteristik ibu (umur dan paritas). Hasil analisis bivariabel diperoleh bahwa terdapat hubungan yang signifikan faktor predisposisi yaitu pendidikan (p=0.018), pengetahuan (p=0.018), sikap (p=0.039), kepercayaan (p=0.011), pekerjaan (p=0.027), faktor penguat yaitu dukungan suami/keluarga (p=0.002), dukungan petugas kesehatan (p=0.039) dengan pemberian ASI ekslusif. Kepercayaan merupakan faktor dominan/determinan dalam pemberian ASI ekslusif berpeluang 61.69 kali untuk memberikan ASI eksklusif, jika ibu tidak percaya dengan mitos-mitos seputar ASI. KESIMPULAN DAN SARAN Pendidikan, pengetahuan dan sikap mempunyai hubungan yang positif dengan pemberian ASI eksklusif, kepercayaan terhadap mitos-mitos dan kebiasaankebiasaan yang ada mengenai ASI eksklusif dan ibu yang berkerja mempunyai hubungan yang negatif dalam pemberian ASI eksklusif. Semakin tinggi terpapar media mengenai susu formula, ibu semakin tidak memberikan ASI eksklusif. Semakin mendapat dukungan dari suami dan petugas kesehatan, ibu semakin memberikan ASI eksklusif. Kepercayaan merupakan faktor penentu yang berhubungan dengan pemberian ASI


Faktor-Faktor Penentu yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif … Lia Artika Sari

eksklusif. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan Petugas kesehatan dapat mengajarkan ibu untuk memerah ASI agar pada saat bayi ditinggalkan bayi bisa tetap diberikan ASI, dapat berkerjasama dengan tokoh masyarakat dalam mengubah pemikiran masyarakat tentang kebiasaankebiasaan atau mitos-mitos yang berhubungan dengan kesehatan terutama ASI eksklusif. DAFTAR PUSTAKA Afifah DN. 2007. Faktor-faktor yang berperan dalam kegagalan praktik pemberian ASI Eksklusif. 1034(1). [diunduh 6 Juni 2011]. Tersedia dari URL: http://eprints.undip.ac.id/ Al-Akour AN, Khassawneh YM, Khader SY, Ababneh AA, Haddad MA. 2010. Factors affecting intention to breasfeed among Syirian and Jordania mothers: a comparative cross sectional study. [Diunduh 27 Mei 2012] Tersedia dari URL: http://www.internationalbreasfeedingjou rnal.com/ Al-Jasem L, Al-Fadli H, Masoud G. Factor influencing the mother’s decision to breast-feed in Ahmadi Region, Kuwait. [Diunduh 27 Mei 2012]. Tersedia dari URL: http://www.kma.org.kw/ Amiruddin R, Rostia. Amiruddin R, Rostia. Amiruddin R, Rostia. 2006. Promosi susu formula menghambat pemberian ASI ekslusif pada bayi 6-11 bulan di Kelurahan Pa’Baeng-baeng Makassar. [diunduh 17 Oktober 2011] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sarolangun. Sarolagun dalam angka 2010/2011, 2011. Cahyawati AB, Purimahua SL, Takaeb AL. 2009. JPGK. I(1): Jurusan gizi kesehatan masyarakat FKM Universitas Nusa Cendana. Dahlan S. 2007. Besar sampel dan cara pengambilan sampel. Jakarta: Salemba Medika. Dinas Kesehatan Jambi, 2010. Profil Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2010, Dinas Kesehatan Provinsi Jambi. Fikawati S, Syafiq A. 2009. Penyebab keberhasilan dan kegagalan praktik pemberian asi ekslusif. Jurnal kesehatan masyarakat nasional; 4. Foster DA, McLachlan HL and Lumley J. 2006. Factors associated with breastfeeding

2013

at six months postpartum in a group of Australian women. International Breastfeeding Journal, 1:18 doi:10.1186/1746-4358-1-18. [diunduh tanggal 19-09-2011]. Tersedia dari URL: http://www.internationalbreasfeedingjou rnal.com/ Hizel S, Cayhun G, Tanzer F, Sanli C. 2006. Traditional beliefs as forgotten influencing factors on breastfeeding performance in Turkey. Li R, Fein BS, Chen J, Grummer-Strawn ML.2008. Why Mothers Stop Breastfeeding: Mothers' Self-reported Reasons for Stopping During the First Year. [diunduh 19 September 2011] Tersedia dari URL: http://pediatrics.aappublications.org/ Manaf SA, 2010. Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Pemerian ASI Eksklusif Pada Ibu Yang Bekerja Di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Marshall R, Rêgo VH, Miroshnik I, Lieu TA, Taveras EM, Li R, et all. 2004. Breastfeeding Opinions and Practices of Clinicians Associated With Continuation of Exclusive. [Diunduh 19 September 2011] Tersedia dari URL: http://pediatrics.aappublications.org/con tent/101/6/e11.full.html. Ramadani M, Nurlaella E. 2010. Dukungan Suami Dalam Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Air Tawar Kota Padang Sumatera Barat. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional vol 4, no 6 Juni 2010. Rusli U. Mengenal ASI eksklusif. 2009. Jakarta: Trubus Agriwidiya. Shi L., Zhang J., Wang Y., Guyer B. 2008. Breastfeeding in rural China: association between knowledge, attitudes, and practice. [Diunduh 27 Mei 2012]. Tersedia dari: http://jhl.Sagepub.com/ Sinta P. 2003. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pola pemberian ASI pada bayi usia 4 bulan (Analisis data susenas 2001). Pusat Penelitian Bagian Pemberantasan Penyakit. Badan Litbangkes Depkes RI. Media Litbang Kesehatan volume XIII No.3, Suyatno. Partisipasi kerja wanita pada sektor pekerjaan formal, implikasinya terhadap ekonomi keluarga dan pemberian air susu ibu pada anak-anak. Studi di Kodya Semarang Jawa Tengah. Makalah Penelitian BBI Undip, 1997.

75


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VIII Edisi Juli ISSN 2085-1677

2013

PENGARUH JENIS KELAMIN, KELOMPOK UMUR, LOKASI PENYUNTIKAN DAN JENIS ALAT SUNTIK TERHADAP KETAKUTAN ANAK PADA JARUM SUNTIK ( Tinjauan Pada Anak Sekolah Dasar di Kota Jambi ) Naning Nur Handayatun, Rina Kurnianti, Karin Tika Fitria Dosen Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Jambi

ABSTRAK Pada usia 6-13 tahun merupakan periode dimana anak akan sering berhubungan dengan perawatan gigi. Kasus kerusakan gigi susu dan persistensi yaitu gigi permanen sudah tumbuh namun gigi susunya belum lepas dan tidak terjadi kegoyangan merupakan kasus yang harus segera ditangani. Pada kondisi tersebut mengharuskan dokter gigi melakukan anestesi infiltrasi untuk pencabutannya sehingga penggunaan jarum suntik tidak dapat dihindarkan.Berbagai jenis dan model alat suntik dikembangkan dengan tujuan untuk mengurangi rasa takut dan rasa sakit pada pasien pada saat penyuntikan. Penelitian ini bertujuan utnuk mengetahui tingkat ketakutan terhadap berbagai jenis jarum suntik pada anak usia sekolah dasar yang berumur 6-13 tahun dengan metode wawancara sehingga dapat diketahui jenis alat suntik yang paling tidak menimbulkan rasa takut pada pasien anak. Analisa data yang digunakan adalah Uji Chi Square. Tidak ada perbedaan yang bermakna ketakutan terhadap alat suntik berdasarkan jenis kelamin pada anak umur 6-13 tahun dengan sig.=0,069 pada α = 5%. Tidak ada perbedaan yang bermakna ketakutan terhadap alat suntik berdasarkan kelompok umur 6-9 tahun dan 10-13 tahun dengan sig = 0, 357 pada α = 5%. Ada perbedaan yang bermakna ketakutan anak umur 6-13 tahun terhadap alat suntik berdasarkan lokasi penyuntikan antara penyuntikan di gusi dan di tempat lain di badan dengan sig.=0,000 pada α = 5%. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa ketakutan anak umur 6-13 tahun terhadap 7 (tujuh) macam alat suntik berbeda bermakna (sig.=0,000) pada α = 5%. Alat suntik yang paling tidak ditakuti adalah alat suntik modifikasi dengan disposibel syringe 1ml dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm). Faktor yang mempengaruhi pemilihan anak umur 6-13 tahun terhadap alat suntik adalah bentuk alat suntik sebanyak 47,1%, pengalaman penyuntikan 30% dan lain-lain 22,9%. Kata kunci: rasa takut, jarum suntik

PENDAHULUAN Rasa takut merupakan salah satu dari sekian banyak emosi yang sering diperlihatkan anak pada perawatan gigi yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan menentukan keberhasilan perawatan gigi (Horax, et al, 2005). Rasa takut adalah emosi pertama yang diperoleh bayi setelah lahir. Rasa takut merupakan suatu mekanisme protektif terhadap adanya perasaan bahaya atau ancaman dari perilaku yang tidak menyenangkan. Sulit untuk membedakan rasa takut dan kecemasan. Kecemasan termasuk dalam perasaan was-was, bimbang, ragu-ragu, khawatir, kaget, gelisah, dan bingung. Rasa takut sering

76

dihubungkan dengan objek atau situasi tertentu yang jelas sedangkan cemas sering dihubungkan dengan objek atau situasi yang tidak jelas (Maramis, 2006). Secara psikologis, setiap anak melalui beberapa tahapan dalam masa tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, penting bagi dokter gigi untuk memahami sikap, sifat, dan perilaku pasien anak-anak pada setiap kelompok usia yang berguna untuk dokter gigi melakukan perawatan sehingga menunjang kelancaran dan keberhasilan perawatan (Laksmiastuti &Wardani, 2005). Survei menunjukkan bahwa sebanyak 50% penduduk Amerika Serikat tidak menerima perawatan gigi secara teratur, diperkirakan 9 – 15% (30 – 40 juta


Pengaruh Jenis Kelamin, Kelompok Umur, Lokasi Penyuntikanâ&#x20AC;Ś Naning Nur Handayatun, Rina Kurnianti, Karin Tika Fitria

orang) yang tidak menerima perawatan kesehatan gigi, penyebabnya adalah perasaan gelisah dan takut sewaktu melakukan perawatan ke dokter gigi, sehingga mereka memilih untuk tidak melakukan perawatan (Krochak, 2010). Locker dan Lindell mengemukakan bahwa dari survey yang dilakukan pada 1420 orang, dimana 16,4% diantaranya mengalami kecemasan dental, 50,9% diantaranya muncul saat masa kanak-kanak (Locker, 1999). Pada usia 6 â&#x20AC;&#x201C; 13 tahun merupakan periode dimana anak akan sering berhubungan dengan perawatan gigi. Kasus kerusakan gigi susu dan persistensi yaitu gigi permanen sudah tumbuh namun gigi susunya belum lepas dan tidak terjadi kegoyangan merupakan kasus yang harus segera ditangani. Pada kondisi tersebut mengaharuskan dokter gigi melakukan anestesi infiltrasi untuk pencabutannya sehingga penggunaan jarum suntik tidak dapat dihindarkan. Kecemasan anak terhadap perawatan gigi dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti karakter operator (dokter gigi, perawat gigi) maupun pengalaman perawatan gigi sebelumnya baik dialami sendiri maupun dialami keluarga. Kecemasan dapat pula dipicu oleh pemandangan visual (melihat jarum, bor gigi), mendengar suara bor, merasakan getaran alat-alat yang digunakan opetaror serta membaui aroma bahan medik seperti eugenol (Hmud, 2009). Rasa takut terhadap jarum suntik merupakan kondisi medis yang dialami 10% penduduk di seluruh dunia. Rasa takut ini ditunjukkan dengan adanya rasa takut dan perilaku menghindari perawatan yang menggunakan jarum suntik tersebut (Hamilton, 1995). Rasa takut yang berlebihan terhadap jarum suntik sering disebut dengan Trypanophobia atau Needle Phobia (en.Wikipedia.org). Penelitian pada 464 anak di Inggris ditemukan bahwa hal yang paling menimbulkan kecemasan anak pada perawatan gigi adalah pemberian anestesi lokal menggunakan jarum suntik dan bor gigi (Buchanan, 2005). Penelitian Handayatun (2009) pada anak yang berkunjung di klinik gigi menunjukkan

2013

bahwa kecemasan paling tinggi ketika mereka disuntik atau dicabut giginya. Menurut pengalaman dokter gigi di Kota Jambi, sangat sulit untuk membujuk pasien anak agar mau disuntik di gusinya. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa takut anak adalah dengan Tell-Show-Do. Anak diberi pengertian mengenai perawatan gigi termasuk peralatannya diantaranya alat suntik. Berbagai jenis dan model alat suntik dikembangkan dengan tujuan untuk mengurangi rasa takut dan rasa sakit pada pasien pada saat penyuntikan. Rasa takut terhadap jarum suntik merupakan kondisi medis yang dialami 10% penduduk di seluruh dunia. Rasa takut ini ditunjukkan dengan adanya rasa takut dan perilaku menghindari perawatan yang menggunakan jarum suntik tersebut. Ketakutan pada jarum suntik dapat menyebabkan kegagalan pada pelayanan medik dasar seperti imunisasi dan perawatan gigi. Kesulitan dalam melakukan tindakan penyuntikan di gusi akibat ketakutan pasien merupakan penyebab gagalnya perawatan gigi. Berbagai bentuk dan model jarum suntik dipakai oleh dokter gigi di kota Jambi dengan harapan dapat mengurangi rasa takut pasien anak terhadap jarum suntik. Namun sampai saat ini belum diketahui pemakaian alat suntik mana yang dapat mengurangi rasa takut pasien. Tujuan umum penelitian ini adalah diketahuinya tingkat ketakutan terhadap berbagai jenis alat suntik pada anak umur 6 â&#x20AC;&#x201C; 13 tahun di Kota Jambi. BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli Tahun 2012. Jenis penelitian ini merupakan studi komparatif yang dilakukan terhadap 5 (model) model alat suntik yang paling banyak digunakan oleh dokter gigi di kota Jambi dan 2 (dua) alat suntik modifikasi Variabel bebas penelitian ini adalah alat suntik dalam berbagai jenis dan ukuran. Variabel terikat penelitian ini adalah ketakutan anak terhadap alat suntik. Ketakutan anak diukur dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh

77


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

pewanwancara dengan jawaban sangat takut diberi skor 1(satu), takut dibri skor 2(dua), agak takut diberi skor 3(tiga) dan tidak takut diberi skor 4(empat). Responden juga diminta untuk memberikan tingkat ketakutan alat suntik dengan pilihan sangat takut, takut, kurang takut, dan tidak takut. Alat suntik yang digunakan adalah (1) Citoject; (2)Disposible syringe 3 ml dengan ukuran jarum 21Gx11/4‖ (32mm); (3)Disposibel syringe 1ml dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm); (4) Disposibel syringe 3 ml dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm); (5) Disposibel syringe 1 ml dan ukuran jarum 21Gx11/4‖ (32mm); (6)Disposibel syringe 3 ml dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm) yang dimodifikasi serta (7) Disposibel syringe 1ml dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm) yang dimodifikasi. Modifikasi dilakukan dengan menempelkan stiker dengan karakter kartun berwarna warni pada disposable syringe. Semua jenis alat suntik disusun rapi di atas nampan/kertas. Satu persatu responden diminta untuk memberikan skor terhadap masing-masing alat suntik dengan secara urut memilih alat suntik manakah yang akan dia pilih seandainya dilakukan penyuntikan. Hal ini mencerminkan bahwa alat suntik yang dia pilih pertama adalah alat suntik yang menurutnya adalah yang paling nyaman dan tidak menimbulkan rasa takut cemas dan diberikan skor 1 (satu) dan seterusnya. Populasi penelitian adalah anak umur 6 – 13 tahun di Kota Jambi. Anak tersebut adalah anak usia sekolah dasar dengan jumlah populasi sebanyak 66.457 orang dan jumlah sampel sebanyak 378 orang. Dalam penelitian ini diambil sampel 380 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan multistage random sampling pada anak sekolah dasar yang ada di Kota Jambi. Secara acak dipilih 3 (tiga) kecamatan dan masing-masing kecamatan dipilih 1 (satu) SD yang bersedia dijadikan tempat penelitian. Kriteria sampel adalah anak yang belum mempunyai pengalaman penyuntikan di rongga mulutnya dan anak dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan normal.

78

Lokasi penelitian adalah sekolah dasar yang ada di Kota Jambi yang diwakili oleh SD Pertiwi 2 di Kecamatan Thehok, SD 144 di Kecamatan Kotabaru dan SD Sari Putra di Kecamatan Pasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran distribusi responden berdasarkan jenis kelamin diperoleh bahwa dari total 380 responden, laki-laki sebanyak 190 anak (50%) dan perempuan sebanyak 190 anak (50%). Responden dibagi dalam 2 (dua) kelompok umur yaitu murid kelas 1 sampai dengan kelas 3 yang berumur 6-9 tahun dan murid`kelas 4 sampai dengan kelas 6 yang berumur 9-13 tahun. Gambaran distribusi responden berdasarkan kelompok umur yaitu usia 3-9 tahun 190 anak (50%) dan usia 10-13 tahun 190 anak (50%). Pengalaman responden terhadap tindakan penyuntikan yang pernah dialami dan diingat oleh responden. Sebanyak 367 (96,6%) responden pernah disuntik dan ternyata 13 responden (3,4%) merasa belum pernah disuntik namun sebenarnya semua responden pernah disuntik semasa bayi. Pada tabel 1 disajikan data mengenai pengalaman rasa takut responden ketika akan dilakukan penyuntikan. Tabel 1. Pengalaman Responden Berdasarkan Rasa Takut Pada Saat Akan Dilakukann Penyuntikan RASA TAKUT PENYUNTIKAN

SUDAH PERNAH DISUNTIK

BELUM PERNAH DISUNTIK

JUMLAH % JUMLAH % Takut ketika akan disuntik Tidak takut ketika akan disuntik Total

196

53,4

11

84,6

171

46,6

2

15,4

367

100

13

100

Menurut keterangan Guru Wali Kelas, responden tidak pernah disuntik disebabkan pada waktu imunisasi di sekolah, orang tuanya tidak memberikan izin, ada yang takut sehingga tidak masuk sekolah dan ada yang memberikan reaksi


Pengaruh Jenis Kelamin, Kelompok Umur, Lokasi Penyuntikanâ&#x20AC;Ś Naning Nur Handayatun, Rina Kurnianti, Karin Tika Fitria

yang berlebihan seperti berlari dan menangis. Rasa takut adalah respon emosional yang normal terhadap ancaman yang dihadapi, terutama pada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Rasa takut tersebut biasanya akan menghilang seiring dengan pertumbuhannya, meskipun pada beberapa kasus atau rasa takut terhadap hal tertentu dapat berlanjut hingga dewasa (Du, 2008). Pada tumbuh kembang anak, proses untuk mendapatkan rasa takut dapat diperoleh melalui 2 jalur yaitu the environmental learning pathways dan the non-associative pathways (biological preparedness dan genetic mechanisms) Menurut Rachman (1977 in Du, 2008) rasa takut yang berasal dari pembelajaran dari lingkungan diperoleh dari salah satu atau kombinasi dari 3 proses pembelajaran dalan tumbuh kembang manusia yaitu pengalaman langsung (direct conditioning), kemudian pengalaman yang dialami oleh orang lain yang terdekat darinya (viscarious learning) serta melalui informasi negatif yang diperoleh (negative information provition). Pada saat disuntik sering timbul rasa sakit, namun pada beberapa orang rasa sakit itu tidak terasa yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: obat yang diberikan, lokasi penyuntikan dan cara penyuntikannya serta ambang rasa sakit dari pasien itu sendiri. Pada tabel 2 disajikan data tentang pengalaman rasa sakit responden pada saat penyuntikan. Tabel 2. Pengalaman Rasa Sakit Responden Pada Saat Dilakukann Penyuntikan SUDAH PERNAH RASA SAKIT DISUNTIK PENYUNTIKAN JUMLAH % Sakit ketika disuntik

245

66,8

Tidak sakit ketika disuntik

122

33,2

Total

367

100

Berdasarkan tabel 2 sebagian besar reponden merasakan sakit ketika disuntik.

ternyata (66,8%)

2013

Pada penelitian yang dilakukan oleh Duff & Brownlee (1999 ) pada anakanak berusia 7-18 tahun di Belanda, 63% menyatakan pernah mengalami pengalaman pertama penyuntikan yang tidak nyaman dan menyakitkan dan 46% dari mereka termasuk dalam kelompok dengan tingkat raasa takut yang sangat tinggi. Jalur pembelajaran terhadap rasa takut lainnya ialah dengan melihat respon terhadap stimulus yang dialami oleh orang lain. Anak-anak biasanya mempelajari dan mencontoh reaksi emosional yang ditampilkan oleh orang orang terdekatnya / yang merawatnya. Pada penelitian yang dilakukan terhadap anak yang berusia rata rata 12,6 tahun di Kanada yang diminta untuk memasukkan tangan ke dalam air es. Sebelumnya mereka diminta melihat video ibu-ibu yang juga diberikan tugas yang sama. Hasilnya adalah, respon ambang batas nyeri yang ditimbulkan anak ternyata berhubungan dengan respon nyeri yang ditampilkan oleh ibunya (Goodman & Mc.Grath, 2003). Informasi negatif yang diterima anak mengenai suatu stimulus dapat mempengaruhi proses pembelajaran terhadap rasa takut akan stimulus tersebut. Misalnya ketika seorang anak mendapatkan informasi yang negatif mengenai jarum suntik atau penyuntikan tanpa pernah mengalami atau melihat orang lain mendapatkan stimulus tersebut maka anak akan mengasosiasikan stimulus ini sebagai suatu bahaya yang dapat menimbulkan rasa takut. Jalur proses munculnya rasa takut dapat pula berasal dari bawaan lahir maupun sifat genetik yang diturunkan. Intensitas rasa takut ditemukan sama pada penelitian anak kembar baik kembar monozygotik maupun dizigotik (Stevenson et al., 1992 in Du, 2008). Selain itu hubungan bermakna juga ditemukan pada reaksi muntah terhadap fobia ketika melihat darah, terluka atau mengalami penyuntikan pada anak dan orang tuanya (Kleinknecht & Lenz, 1989 in Du, 2008). Ketakutan harus dibedakan dari kondisi emosi lain, yaitu kegelisahan, yang umumnya terjadi tanpa adanya ancaman eksternal. Ketakutan juga terkait dengan

79


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

suatu perilaku spesifik untuk melarikan diri dan menghindar, sedangkan kegelisahan adalah hasil dari persepsi ancaman yang tak dapat dikendalikan atau dihindarkan. Beberapa ahli melaporkan bahwa pada umumnya rasa takut dan cemas timbul akibat perawatan gigi semasa kanak â&#x20AC;&#x201C; kanak. Rasa takut menghantarkan anakanak pada prosedur yang mungkin tidak menyenangkan dan selanjutnya memperbesar rasa takut terhadap prosedur perawatan gigi. Rasa takut mempengaruhi tingkah laku dan keberhasilan pada perawatan gigi. (Budiyanti & Heriandi, 2001) Rasa takut yang dialami anak adalah hal biasa. Namun sebaiknya ketakutan segera diatasi tak berlanjut menjadi fobia. Merasa takut dalam situasi tertentu yang tidak nyaman, tentu tidak pernah menyenangkan. Namun, ketakutan sebenarnya merupakan suatu keadaan alamiah yang membantu individu melindungi dirinya dari suatu bahaya, sekaligus memberi pengalaman baru. Bahkan, pada anak-anak, perasaan seperti ini tidak hanya normal, tetapi juga sangat dibutuhkan.Merasakan dan mengatasi rasa.takut dapat membantu anak-anak mempersiapkan diri untuk menghadapi pengalaman-pengalaman yang

membingungkan dan situasi yang menantang dalam kehidupan. Memiliki ketakutan terhadap hal-hal tertentu sebenarnya bisa membantu untuk menjaga tingkah lakunya. (http://www.dechacare.com). Jarum suntik atau jarum hipodermik adalah jarum yang secara umum digunakan dengan alat suntik untuk menyuntikkan suatu zat ke dalam tubuh. Jarum ini juga dapat digunakan untuk mengambil sampel zat cair dari tubuh. Contohnya mengambil darah dari urat darah halus atau venipunctur. Terdapat berbagai macam ukuran jarum hipodermik yang ditandai dengan nomor gauge (G) yang berbanding terbalik terhadap diameter jarum. Semakin besar nomornya semakin kecil ukuran diameter jarum, demikian pula sebaliknya. Gauge berasal dari bahasa Inggris artinya ukuran. Perkiraan diameter luar jarum berukuran Sepuluh (10) gauge adalah 3,404 mm atau 0,1340 inci (WikipediaIndonesia) Pada saat melihat jarum suntik responden menunjukkan reaksi tingkat ketakutan yang berbeda satu sama lain. Tingkat ketakutan responden tersebut dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Tingkat Ketakutan Responden Ketika Melihat Jarum Suntik Berdasarkan Jenis Kelamin SANGAT TAKUT TAKUT AGAK TAKUT TIDAK TAKUT TOTAL JENIS KELAMIN n % n % n % n % n % Laki-laki

32

16,8

30

15,8

Perempuan

37

19,5

36

Total

69

18,2

66

laki-laki melihat (15,8%) sedikit

61

32,1

18,9

69

17,4

130

Pada tabel 3 terlihat bahwa anak yang merasa sangat takut ketika jarum suntik (16,8%) dan takut serta agak takut ( 32,1% )lebih jumlahnya dari pada anak

67

35,3

190

100

36,3

48

25,3

190

100

34,2

115

30,2

380

100

perempuan (19,5%). Sedangkan untuk perasaan tidak takut terhadap jarum suntik pada anak laki laki lebih banyak ( 35,3%) dari pada anak perempuan (25,3%).

Tabel 4 Tingkat Ketakutan Responden Ketika Melihat Jarum Suntik Berdasarkan Kelompok Umur KELOMPOK SANGAT TAKUT UMUR n %

TAKUT

AGAK TAKUT

TIDAK TAKUT

n

%

n

%

n

%

TOTAL n

%

6-9 TH 10-13 TH

37 32

19,5 16,8

41 25

21,5 13,2

37 93

19,5 48,9

75 40

39,5 21,1

190 190

100 100

Total

69

18,2

66

17,4

130

34,2

115

30,2

380

100

80


Pengaruh Jenis Kelamin, Kelompok Umur, Lokasi Penyuntikanâ&#x20AC;Ś Naning Nur Handayatun, Rina Kurnianti, Karin Tika Fitria

Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa tingkat ketakutan responden ketika melihat jarum suntik berdasarkan kelompok umur didapatkan hasil yang berbeda. Pada kelompok umur yang lebih muda kategori sangat takut lebih tinggi namun juga kategori yang tidak takut juga lebih banyak dari pada kelompok umur yang lebih dewasa. Pada penelitian ini, rasa takut terhadap jarum suntik dibedakan menurut kelompok umur 6-9 tahun dimana rata-rata anak duduk di kelas 1, 2 dan 3 dan umur 10-13 tahun yang sebagian besar murid kelas 4, 5, dan 6. Hasil wawancara ketakutan anak terhadap jarum terlihat jelas pada waktu akan dimulai penelitian sebagian besar anak sudah mengatakan â&#x20AC;&#x2022;tidak mau disuntikâ&#x20AC;&#x2013;. Pada setiap kelas yang akan dijadikan responden rata-rata ada 2-3 anak yang menangis atau tidak mau diikutkan dalam wawancara. Namun setelah diberi pengertian dan dibujuk bahwa tidak dilakukan penyuntikan barulah mereka mengerti dan mau diwawancara. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Hamilton (1995) bahwa rasa takut terhadap jarum suntik merupakan kondisi medis yang dialami 10% penduduk di seluruh dunia. Rasa takut ini ditunjukkan dengan adanya rasa takut dan perilaku menghindari perawatan yang menggunakan jarum suntik tersebut. Rasa takut yang berlebihan terhadap jarum suntik sering disebut dengan Trypanophobia atau Needle Phobia (en.Wikipedia.org). Ternyata pada anak yang menangis dan yang tidak mau dijadikan responden penelitian adalah anak

2013

yang merasa belum pernah disuntik. Menurut Ibu Guru Wali Kelas, murid yang takut jarum suntik tidak masuk sekolah pada waktu jadwal imunisasi. Dari tabel terlihat bahwa pada kelompok umur 6-9 tahun responden yang sangat takut terhadap jarum suntik sebanyak 19,5% dan pada kelompok umur 10-13 tahun sebanyak 18,2 %. Namun pada responden yang tidak takut terhadap penyuntikan ternyata lebih banyak pada kelompok umur yang lebih muda (39,5%) sedangkan pada kelompok 10-13 tahun yang tidak takut hanya 21, 1%. Keadaan agak berbeda dengan ketakutan terhadap perawatan gigi dan jarum suntik yang dilakukan oleh Majstorouk dan Ucerkam (2004) yang diperoleh hasil bahwa needle phobia menurun dengan meningkatnya usia. Perbedaan hasil ini kemungkinan disebabkan bahwa responden sudah diberitahu bahwa pada saat penelitian tidak dilakukan penyuntikan sehingga responden merasa tidak takut, terutama pada anak yang berusia muda. Penyuntikan pada pasien dilakukan sesuai dengan indikasi. Pasien biasanya disuntik di pantat, di tangan atau di kaki sewaktu imunisasi. Lokasi penyuntikan tersebut memungkinkan pasien untuk tidak melihatnya pada waktu disuntik.namun penyuntikan di gusi menyebabkan pasien dapat melihat jarum suntik di depan mata. Tingkat ketakutan responden jika akan disuntik di gusi atau di tempat lain di badannya berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur disajikan pada tabel 5 dan tabel 6.

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Ketakutan Ketika Akan Disuntik di Gusi dan di Tempat Lain Berdasarkan Jenis Kelamin PENYUNTIKAN DI GUSI PENYUNTIKAN DI TEMPAT LAIN TOTAL JENIS SANGAT AGAK TIDAK SANGAT AGAK TIDAK TAKUT TAKUT KELAMIN TAKUT TAKUT TAKUT TAKUT TAKUT TAKUT Laki-laki

n

%

76

40 57 30 40 21,1 17 8,9 27 14,2 35 18,5 54 28,4 74 38,9 190

n

%

n

%

n

%

n

%

n

%

n

%

%

n

% 100

Perempuan

88 46,3 49 25,8 39 20,5 14 7,4 33 17,4 47 24,7 57

53 27,9 190

100

Total

164 43,2 106 27,9 79 20,8 31 8,1 60 15,8 82 21,6 111 29,2 127 33,4 380

100

Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa anak perempuan yang sangat takut jika akan disuntik di gusi sebanyak 46,3% sedang pada anak laki-laki hanya 40%.

30

n

Sebanyak 8,9 anak laki-laki tidak takut jika disuntik di gusi dan anak perempuan sebanyak 7,4 %. Pada penyuntikan di tempat lain selain di gusi, anak perempuan

81


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

lebih banyak yang sangat takut ketika akan disuntik yaitu sebanyak 17,4% demikian juga yang tidak takut lebih banyak pada kelompok anak laki-laki. Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa sebanyak 43,2% responden sangat takut ketika akan disuntik

digusinya sedangkan jika akan disuntik selain digusi hanya 15,8% responden yang sangat takut. Sebanyak 33,4% tidak takut disuntik selain di gusi namun hanya 8,1% responden yang tidak takut jika disuntik di gusinya.

Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Ketakutan Jika Akan Disuntik Di Gusi dan di Tempat Lain Berdasarkan Kelompok Umur PENYUNTIKAN DI GUSI

PENYUNTIKAN DI TEMPAT LAIN

KELOMPOK SANGAT AGAK TIDAK SANGAT TAKUT TAKUT UMUR TAKUT TAKUT TAKUT TAKUT 6-9 TH 10-13 TH Total

TIDAK TAKUT

TOTAL

n % n % n % n % n % n % n % n % n % 79 41,6 59 31,1 31 16,3 21 11 25 13,1 52 27,4 34 17,9 79 41,6 190 100 85 44,7 47 24,7 48 25,3 10 5,3 35 18,4 30 15,8 77 40,5 48 25,3 190 100 164 43,2 106 27,9 79 20,8 31 8,1 60 15,8 82 21,6 111 29,2 127 33,4 380 100

Pada penyuntikan di gusi ternyata pada anak yang lebih muda lebih banyak yang tidak takut namun untuk kelompok yang sangat takut juga lebih banyak pada anak yang berumur lebih muda. Tabel 7 Hasil Uji Statistik Perbedaan Rasa Takut Responden Berdasarkan Lokasi Penyuntikan, Berdasarkan Jenis Kelamin, dan Kelompok Umur VARIABEL RASA SIG UJI STATISTIK TAKUT Mann-Whitney Laki-laki >< 0,069 Test perempuan Mann-Whitney Umur 6-9 tahun >< 0,357 Test 10-13 tahun Wilcoxon Sign Penyuntikan di gusi>< 0,000 Rank Test rasa takut tempat lain dibadan Îą = 5%

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa hasil uji statistik non parametrik beda dua sampel yang tidak berhubungan antara rasa takut anak laki-laki dan anak perempuan dengan uji Mann Whitney diperoleh hasil sig = 0,069 sehingga p> 0,05 maka Ho di diterima. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna rasa takut anak laki-laki dan perempuan jika dilakukan penyuntikan. Hasil uji Mann Whitney perbedaan rasa takut antara kelompok umur 6-9 tahun dan 9-13 tahun jika dilakukan penyuntikan diperoleh hasil sig = 0, 357 sehingga p> 0,05 maka Ho di diterima. Hal ini berati bahwa tidak ada

82

AGAK TAKUT

perbedaan yang bermakna rasa takut antara kelompok umur 6-9 tahun dan 9-13 jika dilakukan penyuntikan. Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa hasil uji statistik non parametrik antara rasa takut anak pada penyuntikan di gusi dan penyuntikan di tempat lain dengan uji beda dua sampel yang berhubungan (Wilcoxon Sign Rank Test) diperoleh sig = 0,000 sehingga p <0,05 maka Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang bermakna perasaan takut anak apabila dilakukan penyuntikan di gusi dan penyuntikan selain di gusi sepeti di tangan atau di pantat Hasil uji Mann Whitney terhadap perasaan takut pada anak laki-laki dan perempuan ketika melihat jarum suntik diperoleh hasil sig =0,069 sehingga p > 0,05 (tabel 7). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun anak laki-laki lebih banyak yang tidak takut ketika melihat alat suntik namun perbedaannya tidak bermakna. Hasil penelitian tentang ketakutan terhadap tindakan perawatan gigi yang dilakukan oleh Handayatun (2009) juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan ketakutan perawatan gigi pada anak-laki-laki dan perempuan. Berdasarkan hasil uji statistik ternyata diperoleh hasil sig = 0,000 berarti p<0,5. Hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima sehingga ada perbedaan yang bermakna antara ketakutan pasien jika akan disuntik di gusi dengan jika disuntik di tempat lain di badannya.


Pengaruh Jenis Kelamin, Kelompok Umur, Lokasi Penyuntikan… Naning Nur Handayatun, Rina Kurnianti, Karin Tika Fitria

2013

dalam Du, 2008) termasuk dalam Negative Information Provition. Informasi negatif yang diterima anak mengenai suatu stimulus dapat mempengaruhi proses pembelajaran terhadap rasa takut akan stimulus tersebut. Responden no 130 (Lampiran 2) mengatakan lebih takut disuntik di gusi karena pernah melihat orang lain yang kesakitan ketika disuntik sewaktu cabut gigi. Keadaan ini termasuk dalam Viscarious Learn dimana rasa takut timbul karena dengan melihat respon terhadap stimulus yang dialami oleh orang lain (Rachman ,1977 dalam Du, 2008). Pada tabel 8 berikut disajikan alat suntik yang paling dipilih responden jika akan dilakukan penyuntikan.

Penyuntikan di gusi sering menimbulkan ketakutan yang luar biasa pada pasien anak. Dari hasil wawancara dengan responden menyatakan bahwa gusi itu tipis sehingga kalau disuntik pasti sakit karena mengenai tulang. Responden no 43 dan 159 menyatakan bahwa ―takut melihat jarumnya‖ atau ―jarumnya kelihatan di depan mata‖. Keadaan ini bisa dimaklumi karena pandangan mata tidak bisa dibohongi, sementara kalau penyuntikan di badan, pasien masih bisa tidak melihatnya. Sementara responden no 123 menyatakan bahwa ―kalau di gusi susah masuk jarumnya karena keras sehingga takut sakit‖. Responden no 28 menyatakan bahwa ―kata temannya disuntik di gusi lebih sakit‖. Hal ini menurut Rachman (1977

Tabel 8. Distribusi Frekuensi Alat Suntik Yang Paling Dipilih Responden Seandainya Akan Dilakukan Penyuntikan Berdasarkan Jenis Kelamin dan berdasarkan Kelompok Umur Jenis Kelamin Alat suntik

Laki-laki n %

Perempuan n %

Kelompok Umur Total

6-9 th %

N

%

n

10 10 26 54 3 15 72

1

10

5,3

8

4,2

18

4,7

2 3

13 34

6,8 17,9

7 29

3,7 15,3

20 63

5,3 16,6

4

48

25,8

58

30,5

107

28,2

5

6

3,2

3

1,6

9

2,4

6 7

13 65

6,8 34,2

9 76

4,7 40

22 141

5,8 37,1

Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa alat suntik no 7 yaitu alat suntik modifikasi dengan jarum suntik kecil dan pendek dipilih terbanyak baik oleh responden lakilaki maupun perempuan maupun dari kedua kelompok umur. Berdasar tabel 14 ternyata 34,2% anak laki—laki dan 40 % anak perempuan jika akan disuntik memilih menggunakan jarum no 7 yaitu alat suntik modifikasi yang berupa disposibel syringe 1ml dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm) dan diberi tempelan gambar warna-warni. Hasil uji Friedman menunjukkan bahwa tingkat ketakutan responden terhadap ke 7 (tujuh) alat suntik berbeda bermakna (sig = 0,000 sehingga p<0,005)

5,5 5,3 13,7 28,4 1,6 7,9 37,9

10-13 th n %

8 10 37 53 6 7 69

4,2 5,3 19,5 27,9 3,2 3,7 36,3

Total N

%

18 20 63 107 9 22 141

4,7 5,3 16,6 28,2 2,4 5,8 37,1

Tabel 9. Tingkat Rasa Takut Responden Yang Terbanyak Pada Masing-masing Alat Suntik TINGKAT RASA ALAT TAKUT N % SUNTIK TERBANYAK Sangat takut 176 46,,3 1 2 3 4 5 6 7

Takut Tidak Takut Tidak takut Takut Takut Tidak Takut

134 157 162 169 140 185

35,3 41,3 42,6 44,5 36,8 48,7

83


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Dari tabel 9 terlihat bahwa responden paling banyak sangat takut pada alat suntik no 1 (satu) yaitu citoject dan paling banyak tidak takut pada alat suntik no 3, 4 dan alat suntik no 7. Alat suntik no 3 adalah Disposible syringe 1 ml dengan ukuran dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm). Alat suntik no 4 adalah Disposible syringe 3 ml dengan jarum 21Gx11/4‖ (13mm) dan alat suntik no 7 adalah Disposible syringe 1 ml dengan ukuran dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm) dengan modifikasi diberi stiker warna warni. Tujuh macam bentuk alat suntik yang disiapkan dalam penelitian ini adalah 5 alat suntik yang biasa dipakai baik pada dokter ataupun dokter gigi dan ditambah 2 alat suntik yang dimodifikasi oleh peneliti. Hasil uji Friedman (tabel 16) terhadap tingkat ketakutan anak terhadap ketujuh alat suntik tersebut diperoleh hasil sig = 0,000 sehingga p< 0,05. Hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga rasa takut responden terhadap ke tujuh alat suntik tersebut berbeda bermakna. Pada saat responden ditunjukkan ketujuh alat suntik dan diminta untuk mengatakan bagaimana rasa takutnya, ternyata sebagian besar (46,3%) responden sangat takut pada alat suntik no 1 yaitu citoject (tabel 17). Citoject adalah alat suntik yang syringnya terbuat dari logam dan berukuran kurang lebih 7-10cm namun jarumnya sangat kecil dan pendek. Responden hanya melihat bentuk spuitnya yang besar sehingga responden 4,6,9,12,74 mengatakan bahwa sangat takut dengan alat suntik tersebut karena sangat besar bahkan responden mengatakan seperti jarum gajah (Lampiran 2). Responden banyak yang tidak takut pada alat suntik no 3 (41,3%) dan no 4 (42,6%) serta yang paling banyak adalah alat suntik no 7 (48,7%). Alat suntik no 7 adalah alat suntik disposibel syringe 1ml dengan jarum ukuran 26 Gx1/2‖ (13mm) yang diberi hiasan dengan tempelan stiker. Alat suntik no 3 adalah alat suntik disposible syringe 1 ml dengan ukuran dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm) . Alat suntik no 4 adalah disposible syringe 3 ml dengan jarum 21Gx11/4‖ (13mm). Responden cenderung memilih jarum yang pendek (tabel 17) dimana 41,7% menyatakan pemilihan alat suntik

84

tergantung pada jarumnya. Hal ini juga berdasarkan pengalaman masa lau mereka yang terbiasa disuntik dengan disposibel syringe 3ml dengan jarum ukuran 21Gx11/4‖ (32mm) dimana 66,8% merasakan sakit pada saat penyuntika (tabel 5) . Penggunaan jarum suntik yang pendek dan syringe 1 ml pada penyuntikan di gusi masih dimungkinkan karena mukosanya tipis dan dengan teknik infiltrasi sedangkan untuk penyuntikan blok anestesi tidak mungkin memakai jarum yang pendek dan syringe yang kecil karena jangkauan tempat deponer anestesi yang agak jauh dan jumlah anestetikum yamg dibutuhkan juga lebih banyak. Memodifikasi jarum suntik juga bisa dilakukan untuk mengurangi rasa takut pasien karena pasien lebih banyak memilih jarum suntik kecil yang dipakai untuk imunisasi yang diberikan tempelan stiker. Tabel 10. Distribusi Frekuensi Faktor Pemilihan Alat Suntik Oleh Responden ALASAN PEMILIHAN N % ALAT SUNTIK Bentuk Alat suntik 179 47,1 Rasa sakit/nyeri 114 (pengalaman masa lalu) 30 Lain-lain 87 22,9 Total 380 100

Pada saat ditanyakan kepada responden mengapa mereka memilih alat alat suntik ternyata jawabannya bermacammacam. Mereka yang menjawab memilih jarum yang pendek kemungkinan tidak sakit dikelompokkan pada bentuk jarum suntik yang dipilih oleh 47,1 % responden. Mereka yang menjawab memilih/tidak memilih suatu alat suntik karena pernah disuntik dengan alat tersebut dikelompokkan karena pengalaman masa lalu yaitu sebanyak 30% dan 22,9% menjawab lain-lain seperti tabung (syringe) besar kemungkinan tidak sakit, karena lucu ada gambarnya dll. Trypanophobia adalah ketakutan yang ekstrim dari prosedur medis yang berupa injeksi dengan menggunakan jarum hipodermik. Trypanohobia adalah istilah yang digunakan diantara profesi kesehatan. (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/ entrez).


Pengaruh Jenis Kelamin, Kelompok Umur, Lokasi Penyuntikan… Naning Nur Handayatun, Rina Kurnianti, Karin Tika Fitria

Sebanyak 2% populasi fobia jarum suntik yaitu respon irasional mengenai sesuatu seperti jarum suntik ini dapat mempengaruhi reaksi fisik berlebihan yang dipengaruhi oleh pemikirannya. Fobia terhadap jarum suntik membuat seseorang tidak bisa melakukan pemeriksaan medis dasar seperti tes darah , perawatan gigi dan vaksinasi (Raghvendra et al, 2010) Majstorouk dan Ucerkam (2004) melakukan studi pada 2865 anak dengan Children Fear Survei Schedule-Dental Subscale (CFSS-DS) yang dibagi daam kelompok umur 4-6 tahun, 7-9 tahun dan 10-11 tahun menunjukkan bahwa needle phobia menurun dengan meningkatnya usia namun needle phobia tidak berhubungan secara langsung dengan perawatan gigi karena masih banyak faktor lain seperti pengalaman di bor dan takut pada dokter. Pemeriksaan kecemasan pasien pada perawatan gigi di University America d The Dental Hygiene Fear Survey (DHFS) dengan Dental Hygiene Fear Sub-Scales dilaporkan bahwa kecemasan perempuan lebih besar dari pada laki-laki (Amyot dan Williams, 2000) Salah satu cara mengatasi fobia adalah meyakinkan pasien dan membatunya menyembuhkan ketakutan melalui diri sendiri secara bertahap. Seseorang diperlihatkan jarum suntik lalu semakin lama semakin meningkat paparannya dengan memegang jarum . Penderita diminta untuk memikirkan jarum selama waktu tertentu kemudian menulis cerita yang berhubungan dengan jarum suntik. Setelah itu penderita diminta melihat orang lain yang sedang disuntik. Semakin lama ia akan terbiasa dan akan membantunya menghilangkan ketakutan terhadap jarum suntik. (Bararah, 2010) Penelitian juga pernah dilakukan oleh Kettwich et al (2007) untuk mengatasi ketakutan pada jarum suntik dengan memodifikasi alat suntik yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat modifikasi lebih efektif dan signifikan dalam mengurangi aversion, kecemasan, rasa takut dan stress menyeluruh.

2013

KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna ketakutan terhadap alat suntik berdasarkan jenis kelamin pada anak umur 6-13 tahun dengan sig.=0,069 pada α = 5%. Tidak ada perbedaan yang bermakna ketakutan terhadap alat suntik berdasarkan kelompok umur 6-9 tahun dan 10-13 tahun dengan sig = 0, 357 pada α = 5%. Ada perbedaan yang bermakna ketakutan anak umur 6-13 tahun terhadap alat suntik berdasarkan lokasi penyuntikan dengan sig.=0,000 pada α = 5%. Terdapat perbedaan yang bermakna antara ketakutan pasien jika akan disuntik di gusi dengan jika disuntik di tempat lain di badannya. Ketakutan anak umur 6-13 tahun terhadap 7 (tujuh) macam alat suntik berbeda bermakna (sig.=0,000) pada α = 5%. Alat suntik yang paling tidak ditakuti adalah alat suntik modifikasi dengan disposibel syringe 1ml dan ukuran jarum 26 Gx1/2‖ (13mm). Faktor yang mempengaruhi pemilihan anak umur 6-13 tahun terhadap alat suntik adalah bentuk alat suntik sebanyak 47,1%, pengalaman penyuntikan 30% dan lain-lain 22,9%. Penggunaan jarum suntik di klinik tidak harus menggunakan jarum yang mahal namun cukup jarum yang murah tetapi tidak menakutkan anak. Perlu penelitian selanjutnya mengenai pengembangan metode penanggulan ketakutan pada jarum suntik yang dilakukan pada pasien di klinik.

DAFTAR PUSTAKA Amyot G,C, dan Williams K. 2000, Dental Hygiene Fear: Gender and Age Differences. www.adha.org/.../71416_Cynthia_Gadb ury Bararah,V 2010, Cara Menaklukkan Rasa Taku Pada Jarum Suntikt, Health. Detik. Com/read/.../menaklukkan-rasa-takut— pada-jarum=suntik,selasa 14/09/2010

85


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VIII Edisi Juli 2013

Breckman,T dari Triump Over Phobia (TOP UK) dikutip Daylymail 14/9/2010 Buchanan, H., 2005. Development of a Computerized Dental Anxiety Scale for Children: Validation and Reability. British Dental Journal 199. September: 359-362 Budiyanti EA, Heriandi YY. 2001. Pengelolaan Anak Nonkooperatif pada Perawatan Gigi. Dentika dental journal;6 (1):12-17. Du S, Jaaniste T, Champion GD and Yap CSL, 2008. Commentary Theories of fear acquisition: The development of needle phobia in children. Pediatric Pain Letter. Vol 10. No 2 August 2008 Duff AJA, Brownlee KG. 1999. The management of emotional distress during venipuncture. Neth J Med;54(Suppl):S8, childpain.org/ppl/issues/.../v10n2_yap.s html Goodman, J. E., & McGrath, P. J. 2003. Mothers’ modeling influences children’s pain during a cold pressor task. Pain, 104(3), 559-565. Hamilton, J.,G., 1995. Needle Phobia: A Neglected Diagnosis. J Fam Pract. 41: 169-75 Handayatun,2009, Tingkat Kecemasan Anak Terhadap Tindakan Perawatan Gigi, Jurnal Poltekkes Jambi, Vol 3.Ed Des 2010 Horax S, Kansi A, S Niniek. 2005. Pengaruh Penanganan Psikologi Terhadap Kecemasan Pasien Gigi Anak Di

86

Poliklinik FKG UNHAS. Majalah kedokteran gigi (Dental Journal); 1: 81-3 Kettwich SC,Sibbitt WL Jr,Brandt JR,Johnson CR,Wong CS,Bankhurst AD, 2007. Needle phobia and stress-reducing medical devices in pediatric and adult chemotherapy patients. J Pediatr Oncol Nurs. Jan-Feb;24(1):20-8. Krochak M. 2010. Dental Phobia. The World of Dentistry Online. Laksmiastuti SR, Wardani I. 2005. Psikologi Perkembangan Anak Dalam Kaitannya Dengan Perawatan Gigi. Majalah Kedokteran Gigi (Dental Journal); 4:1279. Locker D., Diddell A., Dempster L. 1999. Age of Onset of Dental Anxiety. Journal of Dental Research. 790-6 Majstorouk,M., Ucerkam,P.,JS, 2004, Relationship Between Needle Phobia and Dental Axiety, Journal Dental Children, Sept-Dec,;71(3) 201-205, www.ncbi.hlm.nih.gov/pub med/ Maramis WF. 2006. Ilmu Perilaku Dalam Pelayanan Kesehatan. Surabaya : Airlangga University Press,: 182-3 Raghvendra, et al, 2010. Trypanophobia-An Extreme And Irrational Fear Of Medical Procedures: An Overview. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research. Volume 4, Issue 1, September – October 2010; Article 004

Jurnal poltekkes jambi vol 8  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you