Page 1

ISSN 2085-1677

Pemberitaan Ilmiah

Alamat Redaksi : Politeknik Kesehatan Jambi, Jl. Haji Agus Salim No.09, Kota Baru, Jambi

Efektifitas Ketebalan Saringan Pasir Aktif Untuk Menurunkan Kadar Fe Pada Air Sumur Gali Zunidra, Rina Fauziah, Ramly Tarigan Determinan Kinerja Perawat dalam Melaksanakan Perilaku Caring Keperawatan di RSUD Rd. Mattaher Jambi Tahun 2011 Kaimuddin Hubungan Pengetahuan dan Motivasi Terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Besi pada Ibu Hamil di Puskesmas Paal V Kota Jambi Tahun 2011 Neny Heryani Pengaruh Penyemprotan Ekstrak Lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) Terhadap Kematian Lalat Rumah (Musca Domestica) Sondang, Eni Arista Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Pihak Sekolah Dasar Pada Program Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut Mandiri di Sekolah (Kajian Pada Sekolah Dasar di Kec. Kotabaru Jambi) Hendry Boy, Linda Marlia, Sukarsih Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kemampuan Pasien Diabetes Mellitus dalam Mendeteksi Episode Hipoglikemia di RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2011. Rohaidah, Netha Damayantie Hubungan Pengetahuan tentang Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Tingkat Kebersihan Gigi dan Mulut pada Murid Kelas IV dan V SDN 182/IV Kec. Jelutung Kota Jambi Tahun 2012 Akmam Agoes, Dede Indah Putri Efektivitas Metode Ceramah Plus Diskusi dengan Metode Ceramah Plus Role Play dalam Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Intensi pada Penyalahgunaan Narkoba Siswa SLTA di Kota Jambi Tahun 2011 Wittin Khairani, H. Ismail HS, Musliha Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keparahan Penyakit Periodontal pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011 Aida Silfia, Slamet Riyadi, Surayah

Volume 7 Edisi Desember Volume 4 2012

Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Penolong Persalinan Pada Ibu Yang Mendapat Stiker P4K di Kecamatan Sabak Barat Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2011 Taty Nurti dan Suharti Gambaran Perilaku Caring Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Umum Raden Mattaher Jambi Tahun 2011 Debbie Nomiko, Arvida Bar, HM Thaib Hubungan Pola Konsumsi dan Gaya Hidup, Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Hipertensi Pada Nelayan di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2012 Erris Siregar, Ahmad Dahlan Efektifitas Senam Nifas Terhadap Involusi Uterus di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2010 Nurmisih


Editorial

REDAKSI JURNAL POLTEKKES JAMBI

Pembaca Yth, Pelindung :

Puji Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi bulan Desember 2012 telah dapat diterbitkan. Penantian yang panjang untuk terkumpulnya naskah ilmiah sebagai materi utama terbitan kita. Untuk itu penelitian ilmiah di lingkup Poltekkes Jambi harus lebih kita galakkan sebagai salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kepada penulis yang telah mempercayakan kepada kami untuk menerbitkan karyanya kami ucapkan terimakasih . Untuk edisi kali ini kita sajikan beberapa karya ilmiah dari bidang kesehatan gigi, kesehatan lingkungan, kesehatan reproduksi serta ilmu keperawatan dan manajemen. Semoga bermanfaat, maju terus dan selamat berkarya.

Direktur Poltekkes Jambi : Asmmuni HS, SKM,MM Pengarah : Pudir I: Hj.Tati Nurty, S.Pd, M.Kes Pudir II: Rusmimpong, S.pd, M.Kes Pemimpin Redaksi drg. Naning Nur Handayatun, M.Kes Konsultan : Syamsul Ridjal, SKM, MM., M.KES drg. Ahmad Khairullah, M.Kes Krisdiyanta, S.KM, M.Kes Nuraidah, S.Pd, M.Kes Anggota Redaksi: Erris Siregar, S.KM, M.Kes Dra. Neni Heriani, M.Kes Vivanti Dewi, S.Pd, M.Kes Sekretaris Redaksi drg. Karin Tika Fitria

Pemimpin Redaksi,

Pencetakan dan Distribusi Slamet Riyadi, S.KM

drg. Naning Nur Handayatun, M.Kes email: ningfendi2@yahoo.co.id

Alamat Redaksi Politeknik Kesehatan Jambi Jl. Haji Agus Salim No 09 Kota Baru Jambi

ISSN

2085-1677 Vol VII Edisi Desember 2012

i


Pemberitaan Ilmiah

JURNAL POLTEKKES JAMBI ISSN 2085-1677 Politeknik Kesehatan Jambi

Volume VII Edisi Desember 2012

DAFTAR ISI

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Editorial ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------Daftar Isi--------------------------------------------------------------------------------------------------------------Ketentuan Penulisan Jurnal Ilmiah -----------------------------------------------------------------------------

i ii iv

Efektifitas Ketebalan Saringan Pasir Aktif Untuk Menurunkan Kadar Fe Pada Air Sumur Gali ................................................................ Zunidra, Rina Fauziah, Ramly Tarigan

1

Determinan Kinerja Perawat dalam Melaksanakan Perilaku Caring Keperawatan di RSUD Rd. Mattaher Jambi Tahun 2011 ............................................................................. Kaimuddin

5

Hubungan Pengetahuan dan Motivasi terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Besi pada Ibu Hamil di Puskesmas Paal V Kota Jambi Tahun 2011........................................................................................................................... Neny Heryani Pengaruh Penyemprotan Ekstrak Lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) Terhadap Kematian Lalat Rumah (Musca Domestica) ........................................................... Sondang, Eni Arista Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Pihak Sekolah Dasar Pada Program Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut Mandiri di Sekolah (Kajian Pada Sekolah Dasar di Kec. Kotabaru Jambi) ............................................................ Hendry Boy, Linda Marlia, Sukarsih Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kemampuan Pasien Diabetes Mellitus dalam Mendeteksi Episode Hipoglikemia di RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2011........................................................................................................................... Rohaidah, Netha Damayantie Hubungan Pengetahuan tentang Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Tingkat Kebersihan Gigi dan Mulut pada Murid Kelas IV dan V SDN 182/IV Kec. Jelutung Kota Jambi Tahun 2012 .................... Akmam Agoes, Dede Indah Putri Efektivitas Metode Ceramah Plus Diskusi dengan Metode Ceramah Plus Role Play dalam Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Intensi pada Penyalahgunaan Narkoba Siswa SLTA di Kota Jambi Tahun 2011 .............................. Wittin Khairani, H. Ismail HS, Musliha Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keparahan Penyakit Periodontal Pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011........................................................................................................................... Aida Silfia, Slamet Riyadi, Surayah

10. Faktor – Faktor Yang Berhubungan dengan Pemilihan Penolong Persalinan Pada Ibu Yang Mendapat Stiker P4K di Kecamatan Sabak Barat Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2011 ..................................................................... Taty Nurti dan Suharti 11. Gambaran Perilaku Caring Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Umum Raden Mattaher Jambi Tahun 2011 ................................................... Debbie Nomiko, Arvida Bar, HM Thaib

ii

11

17

21

25

33

39

49

57

67


12. Hubungan Pola Konsumsi dan Gaya Hidup, Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Hipertensi Pada Nelayan di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2012 ...................................................................... Erris Siregar, Ahmad Dahlan 13. Efektifitas Senam Nifas Terhadap Involusi Uterus di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2010 ................................................................... Nurmisih

75

82

iii


Pemberitaan Ilmiah

JURNAL POLTEKKES JAMBI ISSN 2085-1677 Politeknik Kesehatan Jambi

Volume VII Edisi Desember 2012

PERSYARATAN UMUM Naskah diketik dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris dengan lay out kertas A4, batas tepi 3 cm, jarak 1 spasi, menggunakan huruf Arial. Abstrak dan daftar pustaka ditulis dengan ukuran 9, sementara bagian yang lainnya berukuran 10. Naskah tidak menggunakan catatan kaki di dalam teks, panjang naskah 5-15 halaman termasuk tabel dan gambar. File diketik menggunakan aplikasi Microsoft Word (versi 2000, XP, 2003 atau 2007). Naskah harus sudah sampai di sekretariat redaksi selambat-lambatnya tanggal 31 Mei untuk edisi Juli dan 31 November untuk edisi Desember dan dikirim dalam bentuk CD-R/ CD-RW disertai print out sebanyak tiga rangkap. Penulis yang naskahnya akan dimuat dikenakan biaya Rp 200.000 per artikel yang dananya diserahkan langsung ke drg. Naning Nur Handayatun, M.Kes. Penulis akan menerima 1 (satu) eksemplar nomor jurnal yang memuat artikelnya. Jika mengiginkan eksemplar tambahan, dipersilahkan mengantikan biaya cetak sebesar Rp.50.000,/eksemplar. Peneliti utama harus melampirkan lembar pernyataan (1 lembar per penelitian) bahwa penelitian yang dilakukan bukan plagiat dan belum pernah dipublikasikan di media manapun yang ditandatangani di atas materai Rp. 6000,-. Setiap peneliti juga melampirkan lembar validasi penelitian (1 lembar per-peneliti) yang ditandatangani oleh Direktur Poltekkes Jambi dan sebelumnya diparaf terlebih dahulu oleh tim konsultan masing-masing jurusan.

PERSYARATAN KHUSUS ARTIKEL KUPASAN (REVIEW) Artikel harus mengupas secara kritis dan komprehesif perkembangan suatu topik berdasarkan temuan-temuan baru yang didukung oleh kepustakaan yang cukup dan terbaru, sistematika penulisan artikel kupasan terdiri dari : Judul Artikel, Nama Penulis (ditulis di bawah Judul dan tanpa gelar), Abstraks, Pendahuluan (berisi latar balakang dan Tujuan Penulisan) , Bahan dan Cara (berisi tentang jenis penelitian, populasi dan sampel atau subjek penelitian, tehnik pengumpulan dan tehnik analisa data), Hasil dan pembahasan, Hasil penelitian berisikan tabel atau grafik dan hasil uji statistik, kemudian dibahas, Penutup (berisi tentang kesimpulan atas isi bahasan yang disajikan pada bagian inti dan saran yang sejalan dengan kesimpulan), ucapan terima kasih (bila diperlukan) serta rujukan

ARTIKEL RISET (RESEARCH PAPER) Naskah terdiri atas judul dan nama penulis lengkap dengan nama institusi dan alamat korespodensi diikuti oleh abstrak (dengan kata kunci), Pendahuluan, Bahan dan Cara kerja, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan dan Saran, Ucapan Terima Kasih bila diperlukan serta Daftar Pustaka.

iv

JUDUL (TITLE) Judul harus informatif dan deskriptif (maksimum 28 kata). Judul dibuat memakai huruf kapital dan diusahakan tidak mengandung singkatan. Nama lengkap penulis ditulis tanpa gelar dan nama institusi tempat afiliasi masingmasing penulis yang disertai dengan alamat korespodensi.


ABSTRAK (ABSTRACT)

KESIMPULAN DAN SARAN

Abstrak merupakan sari tulisan yang meliputi latar belakang riset secara ringkas, tujuan, metode, hasil dan simpulan riset panjang astrak maksimum 250 kata dan disetai kata kunci

Berisi kesimpulan atas isi bahasan yang disajikan pada bagian inti dan saran yang sejalan dengan kesimpulan

PENDAHULUAN (INTRODUCTION)

UCAPAN TERIMA KASIH (ACKNOWLEDGEMENT)

Justifikasi tentang subjek yang dipilih didukung dengan pustaka yang ada. Harus diakhiri dengan menyatakan apa tujuan tulisan tersebut

Dibuat ringkas sebagai ungkapan terima kasih kepada pihak yang membantu riset, penelaahan naskah, atau penyedia dana riset.

BAHAN DAN CARA KERJA (MATERIALS AND METHOD) Harus detil dan jelas sehingga orang yang berkompeten dapat melakukan riset yang sama (repeatable dan reproduceable). Jika metode yang digunakan telah diketahui sebelumnya pustaka yang diacu harus dicantumkan. Spesifikasi bahan harus detil agar orang lain mendapat informasi tentang cara memperoleh bahan tersebut

DAFTAR PUSTAKA (LITERATURES CITED/REFERENCES) Pustaka yang disitir dalam teks naskah jurnal harus persis sama dengan yang ada di daftar pustaka begitu pula sebaliknya. Daftar pustaka ditulis dengan lengkap secara alpabetis, sehingga pembaca yang ingin menelusuri pustaka aslinya akan dapat melakukannya dengan mudah. Minimal menggunakan 10 referensi ilmiah.

HASIL (RESULT) DAN PEMBAHASAN (DISCUSSION) Hasil dan pembahasan dirangkai menjadi satu pada bab ini dan tidak dipisahkan dalam sub bab lagi. Melaporkan apa yang diperoleh dalam eksperimen/percobaan diikuti dengan analisis atau penjelasannya. Tidak menampilkan data yang sama sekaligus dalam bentuk tabel dan grafik. Tabel ditulis dengan huruf Arial ukuruan 8 atau 9 tanpa garis tegak. Gambar tanpa warna/ hitam putih. Bila mencantumkan diagram, gunakan diagram lingkaran atau batang dengan arsir/gradasi hitam putih. Tidak mengulang data yang disajikan dalam tabel atau grafik satu persatu, kecuali untuk hal-hal yang menonjol. Membandingkan hasil yang diperoleh dengan data pengetahuan (hasil riset orang lain) yang sudah dipublikasikan. Menjelaskan implikasi dari data ataupun informasi yang diperoleh bagi ilmu pengetahuan ataupun pemanfaatannya (aspek pragmatisnya).

v


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

EFEKTIFITAS KETEBALAN SARINGAN PASIR AKTIF UNTUK MENURUNKAN KADAR Fe PADA AIR SUMUR GALI Zunidra, Rina Fauziah, Ramly Tarigan Staf Pengajar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jambi

ABSTRAK Air adalah bahan yang sangat penting untuk hidup dan kehidupan. Air harus memenuhi persyaratan baik kualitas maupun kuantitas. Pasir aktif merupakan rekayasa teknologi dari proses oksidasi yang menggunakan KMnO4 sehingga pasir tersebut dibuat aktif sebagai oksidator. Ketebalan SPA dibuat bervariasi yaitu 80 cm, 70 cm dan 60 cm. Pada penelitian ini proses penyaringan di ulang sebanyak lima kali pada masing-masing saringan dan mengukur Fe dilakukan pada air sebelum dan sesudah disaring. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan kadar Fe dalam air sebelum dan sesudah disaring dengan ketebalan SPA 80 cm, 70 cm dan 60 cm. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia lingkungan Jurusan kesehatan Lingkungan Poltekkes Jambi pada bulan Juni 2011. Jenis penelitian ini bersifat eksperimen dengan rancangan pre test postest only desain dan one group posttest. Populasi pada penelitian ini adalah air sumur gali. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah air sumur gali yang berasal dari rumah penduduk di RT 17 Kelurahan Kenali Asam Bawah Jambi yang kadar Fe nya tinggi. Kata Kunci : Saringan pasir aktif, kadar Fe, air sumur gali.

PENDAHULUAN Upaya penyediaan air bersih perlu dilaksanakan karena air mempunyai peranan yang besar dalam kelangsungan hidup manusia sendiri maupun makhluk hidup lainnya. Didalam tubuh manusia sendiri terkandung air sebesar 60 -70 % air dari seluruh berat badan jika hal tersebut tidak terpenuhi maka akan terganggu sistem kehidupan sehingga menimbulkan kematian untuk itu perlu penyediaan air yang cukup. (Depkes RI, 1998) Zat Besi (Fe) adalah merupakan kandungan mineral dalam air yang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk pertumbuhannya. Zat ini dalam jumlah kecil diperlukan untuk embentukan sel-sel darah merah. Kadar Besi (Fe) maximum yang diperbolehkan dalam air menurut Kepmenkes Nomor : 907/Menkes/SK/VII/ 2002 sebesar 0,3 mg/l. Tingginya kadar besi dalam air dapat menyebabkan timbulnya gangguan antara lain air berbau logam (Besi) dan menjadi keruh, menimbulkan endapan logam pada pipa bak penampungan air, timbulnya noda kecoklatan pada kain atau pakaian yang dicuci. (Pitojo, 2002 ) Air sumur gali di Kota Jambi kebanyakan mengandung besi yang berlebihan, 3,0 mg/l sehingga airnya berwarna kuning dan berbau amis. Hal ini

disebabkan karena daerah rawa dan kondisi geologi yang banyak dijumpai lapisan tanah batuan endapan Besi dan Mangan. Untuk mengurangi masalahmasalah yang ditimbulkan oleh adanya zat besi dalam jumlah berlebihan pada air sumur gali, maka harus dilakukan usaha penurunannya sehingga tidak menimbulkan gangguan. (Ryadi, 2000) Dari uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang �Efektifitas Ketebalan Saringan Pasir Aktif Untuk Menurunkan Kadar Fe Pada Air Sumur Gali � BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia lingkungan Jurusan kesehatan Lingkungan Poltekkes Jambi pada bulan Juni 2011. Penelitian ini bersifat eksperimen dengan rancangan pre-test post-test only design dan one group post-test . Pada penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data primer diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium berupa kadar Fe pada sampel air sumur gali dan data sekunder diperoleh dari penelusuran literatur-literatur yang digunakan. Populasi pada penelitian ini adalah air sumur gali, sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah air sumur gali yang berasal dari 1


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

rumah penduduk di RT. 17 di kelurahan kenali asam bawah Jambi yang kadar Fe nya tinggi. Tahap penelitian dari tahap persiapan yaitu persiapan alat, bahan dan reagen untuk pemeriksaan laboratorium sedangkan pada tahap pelaksanaan melakukan pemeriksaan kadar Fe pada sampel air sumur gali di laboratorium. Analisa data untuk menguji hipotesa digunakan uji statistik �t Test dan Analisa Varians�

Berdasarkan Tabel 2. rata-rata penurunan kadar Fe adalah 0,148 mg/liter, perbedaan persentase penurunan sebesar 38,33 %. Penurunan ini belum memenuhi syarat kesehatan yang ditetapkan untuk air bersih sebesar 0,3 mg/liter. Tabel 3 Persentase Perbedaan Sebelum dan Sesudah Melewati Penyaringan Dengan Ketebalan 70 Cm No

Penyaringan Sebelum Sesudah

HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang diperoleh dari hasil penyaringan adalah sebagai berikut : Tabel 1. Hasil Penelitian Kadar Fe Sampel Air Sebelum dan Sesudah Melewati Media Penyaringan No

Kadar Fe Sebelum Penyaringan

Kadar Fe Sesudah Penyaringan 60 Cm

70 Cm

80 Cm

0,3

1.

1,2

0,8

0,65

2.

1,2

0,5

0,7

0,2

3.

1,2

0,7

0,5

0,26

4.

1,2

0,8

0,6

0,28

5.

1,2

0,9

0,7

0,2

Jumlah

6,0

0,74

3,15

1,24

X

1,2

0,148

0,63

0,248

Berdasarkan Tabel 1. dapat diketahui kontak penurunan kadar Fe air sumur gali di Kelurahan Kenali Asam Bawah setelah dilakukan penyaringan pada saringan pasir aktif dengan ketebalan yang berbeda. Tabel 2. Persentase Perbedaan Sebelum dan Sesudah Melewati Penyaringan Dengan Ketebalan 60 Cm No

Penyaringan

Perbedaan Persentase Penurunan Perbedaan

Sebelum Sesudah Kadar Fe

Kadar Fe

1.

1,2

0,8

0,4

33,33

2.

1,2

0,5

0,7

58,33

3.

1,2

0,7

0,8

41,66

4.

1,2

0,8

0,4

33,33

5.

1,2

0,9

0,3

25

Jumlah

6,0

0,74

2,3

191,65

X

1,2

0,148

0,46

38,33

2

Perbedaan Persentase Penurunan Perbedaan Kadar Fe

Kadar Fe

1.

1,2

0,65

0,55

45,83

2.

1,2

0,7

0,5

41,66

3.

1,2

0,5

0,7

58,33

4.

1,2

0,6

0,6

50

5.

1,2

0,7

0,5

41,66

Jumlah

7

3,15

2,85

195,82

X

1,2

0,63

0,57

39,164

Berdasarkan Tabel 3. penurunan kadar Fe adalah 0,63 mg/liter, perbedaan persentase penurunan sebesar 39,164 %. Penurunan ini belum memenuhi syarat kesehatan yang ditetapkan untuk air bersih sebesar 0,3 mg/liter. Tabel 4 Persentase Perbedaan Sebelum dan Sesudah Melewati Penyaringan Dengan Ketebalan 80 Cm No

Penyaringan Sebelum Sesudah

Perbedaan Persentase Penurunan Perbedaan Kadar Fe

Kadar Fe

0,9

75

0,2

1

83,33

0,26

0,94

78,33

0,28

0,92

76,66

0,2

1

83,33

6,0

1,24

4,76

396,65

1,2

0,248

0,952

79,33

1.

1,2

2.

1,2

3.

1,2

4.

1,2

5.

1,2

Jumlah

X

0,3

Berdasarkan Tabel 4. rata-rata penurunan kadar Fe setelah melewati 80Cm adalah 0,248 mg/Liter memiliki perbedaan penurunan sebesar 0,952 %. Dengan persentase penurunan sebesar 79,33%, penurunan ini sudah memenuhi syarat kesehatan yang ditetapkan untuk air bersih yaitu 0,3 mg/Liter. Hasil penelitian terhadap kadar Fe air sumur gali sebelum dan sesudah melalui saringan pasir aktif sebagaimana terlihat pada tabel 1. sebelum dilakukan penyaringan rata-rata kadar Fe adalah 1,2 mg/Liter, melebihi kadar maksimal yang


Efektifitas Ketebalan Saringan Pasir Aktif ... Zunidra, Rina Fauziah, Ramly Tarigan

diperbolehkan dalam KepMenkes No. 907/MenKes/SK/VII/2002, yaitu untuk air bersih sebesar 0,3 mg/Liter. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa rata-rata kadar Fe air sumur gali di Kelurahan Kenali Asam Bawah sebesar 1,2 mg/Liter ini makin tinggi jika dibandingkan dengan syarat yang di perbolehkan dalam KepMenKes Tahun 2002 yaitu 0,3 mg/Liter. Kadar Fe dalam air ini dapat disebabkan karena pada umumnya air tanah mempunyai konsentrasi besi yang tidak larut menjadi konsentrasi besi yang larut dalam bentuk unsur/ion yang bervalensi (Fe+2). Jumlah zat besi yang sedikit dalam air tidak akan menimbulkan masalah jika terdapat dalam jumlah yang berlebihan pada sistem penyediaan air bersih akan menurunkan kualitas air tersebut dimana pada pakaian yang berwarna putih / terang apabila dipakai untuk mencuci (Alaerts, 2007). +

4 Fe + 2 O2 + 10 H2O ďƒ 4 Fe (OH)3 + H

Adanya kandungan besi dalam air juga dapat menyebabkan tumbuhnya bakteri besi, dalam kelompok besar dapat menimbulkan sumbatan pada pipa serta dapat menyebabkan bau dan rasa yang tidak enak. Dari tabel dapat dilihat kadar Fe dalam air sebelum perlakuan di banding setelah mendapat perlakuan dengan menggunakan saringan pasir aktif. Pada penyaringan dengan ketebalan 60 cm dapat menurunkan kadar Fe menjadi 0,46 mg/Liter dengan persentase penurunan 38,33 % dan pada penyaringan dengan ketebalan 70 cm mampu menurunkan kadar Fe menjadi 0,57 mg/Liter dengan persentase penurunan sebesar 39,164 % dan pada penyaringan dengan ketebalan 80 Cm mampu menurun kan kadar Fe menjadi 0,952 mg/Liter dengan persentase penurunan 79,33%. Penurunan kadar Fe disebabkan oleh pasir yang telah dicuci dan direndam dengan KMnO4 yang maksudnya untuk mempercepat reaksi oksidasi besi karena ditambakan yang fungsinya sebagai oksidator, sehingga larutan besi (Fe+3) yang berupa endapan ini akan tersaring pada butiran-butiran media pasir. (Achmad, 2004) Dari hasil penelitian dan pembahasan tersebut dapat diketahui bahwa pemakaian pasir aktif mampu menurunkan kadar Fe dalam air, hal ini di

2012

sebabkan oleh partikel-partikel semakin besar dan jarak yang harus ditempuh oleh permukaan air semakin panjang. Menurut peraturan Menteri Kesehatan No. 907/Menkes/SK/VII/2002 kadar Fe Maksimum yang di peroleh 0,3mg/Liter. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa pada penyaringan dengan ketebalan 60 Cm dapat menurunkan kadar Fe sebelum disaring sebesar 1,2 mg/Liter dapat diturunkan menjadi 0,148 mg/Liter dengan demikian saringan pasir aktif dapat menurunkan kadar Fe pada air sumur gali di Kelurahan Kenali Asam Bawah. Adanya Fe dalam air tidak boleh melebihi 0,3 mg/Liter karena jika melebihi dapat menimbulkan akibat antara lain pengotoran pada bak, bau amis, menimbulkan warna coklat pada pakaian. Untuk itu perlu usaha penurunan yang diantaranya dengan melewati air pada media berpori-pori yang sering disebut penyaringan. Dan penyaringan pasir aktif dengan ketebalan yang berbeda-beda ternyata dapat menurunkan kadar Fe dalam air sumur gali. Penurunan Fe tersebut karena adanya pengaruh pasir yang telah di aktifkan dengan KMnO4. Pasir aktif ini mengandung muatan negatif yang mampu untuk menahan dan mempertukarkan Kation dari logam bervalensi banyak. Fe2+ yang merupakan Kation dari Fe (HCO3)2 akan menarik dengan bermuatan negatif sehingga membentuk endapan, sedangkan Fe2+ yang belum sempat bereaksi dengan muatan negatif akan bereaksi dengan pasir yang juga mengandung muatan negatif dan oksigen yang ada pada celahcelah media saring membentuk endapan oleh karena Fe2+ bereaksi dengan media saring maka Fe yang ada dalam air menjadi turun karena adanya endapan yang bermuatan negatif yang bereaksi dengan media saring tersebut maka terjadilah penurunan kadar Fe. (Sutrisno 2001) Adanya kadar Fe dalam air yang melebihi nilai ambang batas yang telah ditetapkan akan mengakibatkan : menimbulkan noda-noda pada peralatan dan bahan yang berwarna putih, menimbulkan warna kemerah-merahan pada air, memberi rasa yang tidak enak pada waktu akan diminum, membentuk endapan pada pipa-pipa logam dan bahan cucian, jika kandungan besi (Fe) lebih besar dari 1 mg/Liter dapat menyebabkan gangguan paru-paru. 3


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

KESIMPULAN DAN SARAN Ada perbedaan yang bermakna pada penurunan kadar Fe sesudah melewati saringan pasir aktif dengan ketebalan 60 cm adalah 0,46 mg/l dengan persentase penurunan 38,33 %, Ada perbedaan yang bermakna pada penurunan kadar Fe sesudah melewati saringan pasir aktif dengan ketebalan 70cm adalah 0,57 mg/l dengan persentase penurunan 39,164 %, Ada perbedaan yang bermakna pada penurunan kadar Fe sesudah melewati saringan pasir aktif dengan ketebalan 80cm adalah 0,952 mg/l dengan persentase penurunan 79,33%, Ketebalan saringan aktif yang efektif untuk menurunkan kadar Fe dalam penelitian ini adalah saringan pasir aktif dengan ketebalan 80cm dengan pesentase penurunan 79,33%. Disarankan bagi Masyarakat yang kadar Fe dalam airnya melebihi standar

4

yang kadar Fe dalam air nya melebihi standar yang diperbolehkan bisa menggunakan saringan pasir aktif untuk menurunkan kadar Fe, Bagi peneliti lain perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai ketahanan penyaringan pasir aktif sebagai media saring. DAFTAR PUSTAKA Achmad.R, 2004, Kimia Lingkungan Jakarta: Andi, Alaerts.S, 2007, Metode Penelitian Air. Surabaya : Usaha Nasional, Depkes RI, 1998 Pedoman Upaya Penyehatan Air Bagi Petugas Sanitasi Puskesmas. Direktorat Jendral PPM dan PLP Jakarta. Pitojo.S. 2002, Deteksi Air Minum. Semarang : Aneka Ilmu, Ryadi.S. 2004, Pencemaran Air. Surabaya : Karya Anda, Sutrisno.T. 2001, Tekhnologi Penyediaan air Bersih.Jakarta: Rineka Cipta,.


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

DETERMINAN KINERJA PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN PERILAKU CARING KEPERAWATAN DI RSUD RD. MATTAHER JAMBI TAHUN 2011 Kaimuddin Staf Pengajar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Jambi

ABSTRAK Pelayanan keperawatan merupakan salah satu faktor yang menentukan baik buruknya mutu pelayanan dan citra rumah sakit. Oleh karena itu, mutu pelayanan keperawatan harus dipertahankan dan ditingkatkan seoptimal mungkin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan (determinan) kinerja perawat pelaksana dalam memberikan caring keperawatan di ruang rawat inap RSUD Rd. Mattaher Jambi dengan desain penelitian deskriptif korelasi dengan rancangan Cross Sectional . Populasi penelitian ini adalah 317 perawat pelaksana dan jumlah sampel sebesar 76 sampel. Untuk mengetahui hubungan antara variabel dependent dan independent dilakukan dengan uji Chi-Square sedangkan untuk mengetahui faktor penentu pelaksanaan perilaku caring keperawatan dilakukan dengan uji regresi logistik ganda. Unit analisis adalah ruang rawat inap rumah sakit dan subjek penelitian adalah para perawat yang telah dipilih sebagai sampel secara acak (random sampling) yang dapat memberikan informasi yang jelas yang diperlukan dalam penelitian ini. Sedangkan penentuan besaran sampel untuk masing-masing ruangan digunakan stratified propotional random sampling. Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh melalui kuesioner dan data sekunder diperoleh melalui pengumpulan laporan kegiatan rumah sakit sebagai data penunjang atau pelengkap yang diambil dari rekam medik rumah sakit serta gambaran umum tempat penelitian. Hasil penelitian diperoleh, sebagian besar (64.9%) melakukan caring keperawatan, dengan tingkat pendidikan rata-rata DIII (71.6%), umur sebagian besar diatas 25 tahun (37.6%), sebagian besar lebih dari 5 tahun kerja (74.3%), menyatakan prasarana tidak lengkap sebesar 52.7%, dengan imbalan gaji yang cukup tinggi (63.5%), dengan kepemimpinan yang berorientasi tugas (64.9%), sikap perawat yang positif (54.1%) dan memiliki motivasi sebesar 71.6%. Analisis bivariat diperoleh hasil adanya hubungan antara umur, lamanya perawat bekerja, prasarana yang menunjang kegiatan perawatan, imbalan yang diperoleh, kepemimpinan, sikap dan morivasi terhadap perilaku caring keperawatan. Analisis multivariat, diperoleh hasil adanya pengaruh imbalan, kepemimpinan, sikap dan motivasi terhadap perilaku caring keperawatan. Kata kunci : kinerja perawat, caring keperawatan,

PENDAHULUAN Dengan semakin mening-katnya tuntutan dan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan membuat perawat melaksanakan tugasnya harus profesional dalam melaksanakan perannya sebagai tenaga keperawatan sesuai dengan kewenangannya. Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang mempunyai suatu paradigma atau model keperawatan yang meliputi empat komponen yaitu : manusia, kesehatan, lingkungan dan perawat itu sendiri yang menjadi fokus sentral paradigma keperawatan. Paradigma ini diwujud nyatakan dengan dijiwai oleh prinsip "holism, humanism and caring “. Oleh karena itu, dalam memberikan pelayanan keperawatan sangat dibutuhkan suatu pelayanan secara caring atau pelayanan prima dalam memenuhi

kebutuhan dasar manusia. (Perry dan Potter 2005) Peningkatan pemahaman tentang perilaku caring pada perawat akan meningkatkan pelayanan keperawatan untuk pasien dan pasien akan merasakan perilaku caring perawat dalam pelayanan keperawatan. Caring dalam asuhan keperawatan merupakan bagian dari bentuk kinerja perawat. Menurut Gibson (1996) kinerja individu sangat dipengaruhi oleh variabel individu, variabel organisasi dan psikologis. Dengan demikian membangun pribadi caring perawat harus menggunakan tiga pendekatan yakni pendekatan individu melalui peningkatan penge-tahuan dan keterampilan caring. Pendekatan organisasi melalui perencanaan pengembangan, imbalan atau yang terkait dengan kepuasan kerja perawat dan serta adanya effektifitas kepemimpinan dalam keperawatan. Serta pendekatan psikologis melalui sikap, kepribadian, persepsi, kemauan untuk

5


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

belajar dan motivasi. Oleh karena ltu, tenaga keperawatan bertanggung jawab memberikan pelayanan yang di berikan selama 24 jam secara berkesinambungan. Untuk mendukung tercapainya pelayanan tersebut perlu adanya tenaga keperawatan yang profesional dan dapat diandalkan dalam memberikan pelayanan keperawatan berdasarkan kaidah kaidah profesinya yakni bersifat humanistik holistik etik berorientasi pada kebutuhan pasien dan ber-landaskan ilmu dan kiat keperawatan (Nursalam, 2002 ). Sebagai rumah sakit rujukan dengan kualifikasi B di Propinsi Jambi, RSUD Rd. Mattaher berupaya memberikan pelayanan prima salah satu misinya adalah memberikan pelayanan keperawatan yang profesional berlandaskan perilaku yang profesional. Berdasarkan asumsi di atas maka penelitian ini dilak-sanakan untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan (determinan) kinerja perawat pelaksana dalam memberikan caring keperawatan di ruang rawat inap RSUD Rd. Mattaher Jambi Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor determinan kinerja (variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis) perawat dalam memberikan caring keperawatan di ruang rawat inap RSUD Rd. Mattaher Jambi.

BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi dengan rancangan Cross Sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan (determinan) kinerja perawat pelaksana dalam memberikan caring keperawatan di ruang rawat inap RSUD Rd. Mattaher Jambi. Untuk mengetahui hubungan antara variabel dependent dan independent dilakukan dengan uji ChiSquare sedangkan untuk mengetahui faktor penentu pelaksanaan perilaku caring keperawatan dilakukan dengan uji regresi logistik ganda. Penelitian ini dilakukan di RSUD Raden Mattaher Jambi. Populasi penelitian ini adalah 317 perawat pelaksana. Jumlah sampel sebesar 74 sampel. Unit analisis adalah ruang rawat inap rumah sakit dan subjek penelitian adalah para perawat yang telah dipilih sebagai sampel secara acak

6

(random sampling) yang dapat memberikan informasi yang jelas yang diperlukan dalam penelitian ini. Sedangkan penentuan proporsi sampel untuk masing-masing ruangan digunakan stratified propotional random sampling. Penentuan besaran sampel menggunakan rumus Taro Yamane dan Slovin (Ridwan, 2007:65). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara menggunakan alat ukur berupa kuesioner sebagai instrumen penelitian. Hasil wawancara dicatat langsung dalam kuesioner. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengumpulan data pada responden yakni perawat di ruang rawat inap RSUD Rd. Mattaher Jambi adalah sebagai berikut : Tabel 1. Distribusi Responden Menurut Perilaku Caring Keperawatan Di Ruang Rawat Inap RSUD Rd. Mattaher Jambi Tahun 2011 Kategori f % Kurang Baik 26 35.1 Baik 48 64.9 Total 74 100.0

Hasil pengumpulan data tentang variabel individu, organisasi dan psikologis di dapat hasil sebagai berikut : Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Variabel Independent Yang Mempengaruhi Perilaku Caring Keperawatan Di RSUD Rd. Mattaher Jambi Tahun 2011 Variabel Kategori f % Pendidikan Umur Lama Bekerja

Prasarana

Imbalan

Kepemimpinan

Sikap Motivasi Kerja

DIII & SPK

53

71.6

S1 & S2

21

28.4

< 25 tahun

24

32.4

â&#x2030;Ľ 25 tahun

50

67.6

Baru

19

25.7

Lama

55

74.3

Tidak lengkap

39

52.7

Lengkap

35

47.3

Rendah

27

36.5

Tinggi

47

63.5

Orientasi Bawahan

26

35.1

Orientasi Tugas

48

64.9

Negatif

34

45.9

Positif

40

54.1

Negatif

21

28.4

Positif

53

71.6


Determinan Kinerja Perawat Dalam Melaksanakan Perilaku Caring Keperawatanâ&#x20AC;Ś Kaimuddin

variabel

Hasil analisis hubungan antara independent dan variabel

2012

dependent (perilaku caring) dapat terlihat pada tabel 3.

Tabel 3 Hasil Analisis Hubungan Antara Variabel Independent Dengan Variabel Dependent (Perilaku Caring) di RSUD Rd. Mattaher Jambi Tahun 2011

Variabel Independent DIII & SPK Pendidikan S1 & S2 < 25 tahun Umur â&#x2030;Ľ 25 tahun Baru Lama Kerja Lama Tdk leng. Prasarana Lengkap Rendah Imbalan Tinggi Kepemimpi Bawahan nan Tugas Negatif Sikap Positif Negatif Motivasi Positif

V.Dependent Perilaku Caring Kurang Baik Baik n % n % 22 41.5 31 58.5 4 19.0 17 81.0 13 54.2 11 45.8 13 26.0 37 74.0 11 57.9 8 42.1 15 27.3 40 72.7 19 48.7 20 51.3 7 20.0 28 22.7 14 51.9 13 48.1 12 25.5 36 75.0 14 53.8 12 46.2 12 25.0 36 75.0 19 55.9 15 44.1 7 17.5 33 82.5 12 57.1 9 42.9 14 26.4 39 73.6

Dari hasil analisis bivariat di atas terlihat, hubungan umur, lama kerja, prasarana, imbalan, kepemimpinan, sikap dan motivasi menunjukkan p value < 0,05 (alpha) sehingga Ho ditolak, berarti ada perbedaan perilaku caring pada kategori umur, lama kerja, prasarana, imbalan, kepemimpinan, sikap dan motivasi. Dengan kata lain ada hubungan antara kategori umur, lamanya kerja, prasarana yang digunakan perawat, imbalan yang diperoleh, kepemimpinan, sikap dan motivasi. Sedangkan kategori pendidikan memiliki p value 0.120 atau lebih besar 0,05 (alpha) sehingga Ho gagal ditolak, dengan kata lain tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku caring keperawatan. Hasil analisis multavariat dengan melakukan regresi logistik. Pertama-tama dianalisis masing-masing variabel independent dengan variabel dependent. Dari analisis tersebut diperoleh p value yang tampak pada tabel 4.

Total n 53 21 24 50 19 55 39 35 27 48 26 48 34 40 21 53

% 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

OR 95% CI

P value

3.016 0.892-10.201 3.364 1.211-9.345 3.667 1.237-10.873 3.800 1.344-10.744 3.141 1.156-8.537 3.500 1.274-9.616 5.971 2.069-17.235 3.714 1.289-10.702

0.120 0.034 0.033 0.019 0.042 0.026 0.001 0.026

Tabel 4. Hasil Analisis Bivariat Antara Variabel Individu, Organisasi Dan Psikologis Terhadap Perilaku Caring Keperawatan di RSUD Rd. Mattaher Jambi 2011 Variabel

Loglikelihood

G

P value

Pendidikan

92.388

3.557

0.059

Umur

90.410

5.535

0.019

Lama Kerja

90.319

5.627

0.018

Prasarana

89.068

6.877

0.009

Imbalan

90.795

5.151

0.023

Kepemimpinan

89.874

6.071

0.014

Sikap

83.760

12.185

0.000

Motivasi

89.882

6.064

0.014

Selanjutnya dilakukan analisis multivariat dengan mengeluarkan kategori pendidikan. Hasil analisis tersebut kemudian mengeluarkan variabel dengan nilai p value > 0,05. Mula-mula dikeluarkan kategori umur (0.391), kategori lama kerja (0.104), dan terakhir dikeluarkan prasarana (0,105). Sehingga tinggal variabel imbalan, kepemimpinan, sikap dan motivasi. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 5

7


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Tabel 5 Hasil Analisis Multivariat Antara Imbalan, Kepemimpinan, Sikap Dan Motivasi Terhadap Caring Keperawatan di RSUD Rd. Mattaher Jambi Tahun 2011 Variabel Imbalan

B

P wald

95% CI

2.934 0.001 3.173 111.366

Kepemimpinan 1.903 0.017 1.415 31.796 Sikap

3.104 0.000 4.026 123.414

Motivasi

2.559 0.003 2.429 68.768

2 log likelihood = 56.193 p value = 0,000

Dari hasil diatas terlihat bahwa signifikasi log-likelihood < 0.05 (p=0.000). Namun secara signifikan P wald p valuenya < 0.05. Empat variabel tidak dikeluarakan dari model. Hasil analisis diatas tanpa dilakukan interaksi antar masing-masing variabel menunjukkan ada empat vaktor yang mempengaruhi perilaku caring keperawatan perawat di RSUD Rd. Mattaher Jambi yakni imbalan yang diterima, kepemimpinan kepala ruangan, sikap seorang perawat serta motivasi yang diberikan kepada perawat Peningkatan mutu pelayanan keperawatan didukung oleh pengembangan teori-teori keperawatan, salah satunya adalah teori Caring menurut Jean Watson. Caring adalah sentral untuk praktek keperawatan karena caring merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis, dimana perawat bekerja untuk lebih meningkatkan kepeduliannya kepada klien. Kunci dari kualitas pelayanan asuhan keperawatan adalah perhatian, empati dan kepedulian perawat. Hal ini sangat sesuai dengan tuntutan masyarakat pada saat ini yaitu mengharapkan pelayanan keperawatan yang berkualitas.

8

Melihat besarnya manfaat caring, seharusnya caring tercermin dalam setiap interaksi perawat dan klien, bukan malah dianggap sebagai sesuatu yang sulit diwujudkan dengan dalih beban kerja yang tinggi, atau pengaturan manajemen askep ruangan yg urang baik. Pelaksanaan caring akan meningkatkan mutu asuhan keperawatan, memperbaiki image perawat di masyarakat dan membuat profesi keperawatan memiliki tempat khusus di mata para pengguna jasa pelayanan kesehatan, bukan hanya sebagai pelengkap. Analisis data menun-jukkan 48 responden (64.9%) masih memiliki perilaku caring yang baik sedangkan 26 responden (35.1%) memiliki perilaku yang kurang baik dalam melaksanakan caring kepera-watan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel independen yang masuk ke pemodelan regresi adalah imbalan, kepemimpinan, sikap dan motivasi. Nilai R square 0,572 yang berarti model regresi yang diperoleh dapat menjelaskan 57.2% variabel kinerja perawat pelaksana dalam memberikan caring keperawatan. P value = 0,000 yang berarti pada alpha 5 % model regresi cocok dengan data yang ada. Pada kotak coefficient didapatkan persamaan garis regesi sebagai berikut: Caring keperawatan = 2.934 imbalan + 1.903 kepemimpinan + 3.104 sikap dan 2.559 motivasi.

Model tersebut memiliki arti: a) Setiap penambahan imbalan maka perilaku caring keperawatan akan meningkat sebesar 2.934 setelah dikontrol oleh variabel kepemimpinan, sikap dan motivasi. b) Setiap penambahan kepemim-pinan maka perilaku caring keperawatan akan meningkatkan sebesar 1.903 setelah dikontrol oleh variabel imbalan, sikap dan motivasi. c) Setiap penambahan sikap maka perilaku caring keperawatan akan meningkatkan sebesar 3.104 setelah dikontrol oleh variabel imbalan, kepemimpinan dan motivasi


Determinan Kinerja Perawat Dalam Melaksanakan Perilaku Caring Keperawatanâ&#x20AC;Ś Kaimuddin

d) Setiap penambahan motivasi maka perilaku caring keperawatan akan meningkatkan sebesar 2.559 setelah dikontrol oleh variabel imbalan, sikap dan kepe-mimpinan e) Variabel yang paling besar pengaruh terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan caring keperawatan adalah variabel sikap, dimana mempunyai nilai Beta terbesar dari semua variabel yaitu 3.104.

Pelayanan keperawatan mempunyai posisi yang strategis dan merupakan faktor yang paling menentukan untuk tercapainya pelayanan kesehatan yang optimal dengan asuhan keperawatan yang bermutu. Untuk mewujudkan asuhan keperawatan yang bermutu diperlukan beberapa komponen yang harus dilaksanakan oleh perawat, diantaranya adalah dengan memperlihatkan sikap caring ketika memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Dari paparan penelitian di atas bisa diasumsikan bahwa sikap seorang perawat mempunyai peranan penting dalam menciptakan hubungan yang lebih baik dengan pasien namun kita juga tidak bisa mengabaikan variabel lain yang turut mempengaruhinya. Apabila hubungan sudah tercipta maka pasien akan puas dan pada akhirnya citra perawat menjadi baik. Pasien akan merasa dihargai dan mempunyai kedekatan dengan perawat apabila perawat dapat asertif dalam melakukan pendekatan kepada pasien. Pasien akan lebih mudah mengungkapkan keluhan, bertanya atau berpartisipasi untuk mempercepat kesembuhan dirinya. Aspek sikap perawat yang baik, selalu menghargai pasien sebagai manusia. Hasil penelitian ini sesuai dengan caratif pertama dalam 10 caratif dari Watson yakni membentuk dan menghargai sistem nilai â&#x20AC;&#x17E;humanisticâ&#x20AC;&#x; dan â&#x20AC;&#x17E;altruisticâ&#x20AC;&#x;. Untuk membangun pribadi caring, perawat dituntut memiliki pengetahuan tentang manusia, aspek tumbuh kembang, respon terhadap lingkungan yang terus berubah, keterbatasan dan kekuatan serta kebutuhan-kebutuhan manusia. Caring dalam asuhan keperawatan merupakan bagian dari bentuk kinerja perawat dalam merawat pasien.

2012

Secara teoritis ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi kinerja tenaga kesehatan diantaranya variabel individu, variabel organisasi dan psikologis. Menurut Gibson(1996) yang termasuk variabel individu adalah kemampuan dan ketrampilan, latar belakang dan demografi. Variable psikologi merupakan persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi, sedangkan variabel organisasi adalah kepemimpinan, sumber daya, imbalan struktur dan desain pekerjaan

KESIMPULAN DAN SARAN Caring keperawatan, sebagian besar (64.9%) melakukan caring keperawatan, dengan tingkat pendidikan rata-rata DIII (71.6%), umur sebagian besar diatas 25 tahun (37.6%), sebagian besar lebih dari 5 tahun kerja (74.3%), menyatakan prasarana tidak lengkap sebesar 52.7%, dengan imbalan gaji yang cukup tinggi (63.5%), dengan kepemimpinan yang berorientasi tugas (64.9%), sikap perawat yang positif (54.1%) dan memiliki motivasi sebesar 71.6%. Analisis bivariat diperoleh hasil adanya hubungan antara umur, lamanya perawat bekerja, prasarana yang menunjang kegiatan perawatan, imbalan yang diperoleh, kepemimpinan, sikap dan morivasi terhadap perilaku caring keperawatan. Analisis multivariat, diperoleh hasil adanya pengaruh imbalan, kepemimpinan, sikap dan motivasi terhadap perilaku caring keperawatan. Berdasarkan penelitian ini, diharapkan kepada manajemen dan jajaran direksi agar dapat meningkatkan dan membangun komitmen perawat pada organisasnya melalui : a. Perhatian terhadap kesejahteraan yang dirumus-kan dalam kebijakan rumah sakit. b. Menumbuhkan sikap, moti-vasi, etos kerja dan kebutuhan untuk berprestasi melalui program penghargaan bagi perawat melalui pemilihan perawat berprestasi untuk tiap bulan dan tahun

9


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

c.

Membangun sistem komuni-kasi antara manajemen dan jajaran direksi dengan perawat pada level manajemen terbawah dan perawat pelaksana melalui kegiatan pertemuan berkala yang dilaksanakan secara terprogram Bagi peneliti lain, Penelitian ini hanya membahas variabel indenpenden kinerja perawat dalam melaksanakan caring keperawatan. Studi literatur dan penelitian masih terdapat banyak faktor lainnya yang mempengaruhi kinerja, oleh karenanya disarankan untuk melaksanakan penelitian lanjutan tentang faktor lain yang mempengaruhi kinerja baik dari aspek individu, kelompok kerja atau faktor organisasi.

10

DAFTAR PUSTAKA

George J.B. 1990. Nursing Theories. The Base for Profesional Nursing Practice. Connecticut: Appleton & Large Gibson, 1996. Organisasi dan Mana-jemen, Perilaku, struktur dan proses. Jakarta: Erlangga Nursalam 2002. Manajemen Keperawatan. Penerapan dalam Praktik. Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba Medika Ridwan, 2007, Skala Pengukuran VariabelVariabel Penelitian, Bandung : CV. Alfabeta Perry & Potter ,2005, Fundamentals of Nursing, Adelaide :Elsvier


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI TERHADAP KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET BESI PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS PAAL V KOTA JAMBI TAHUN 2011 NENY HERYANI Staf Pengajar Jurusan Kebidanan Poltekkes Jambi

ABSTRAK Anemia defisiensi zat besi dapat berakibat pada kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR dan anemia pada bayi yang dilahirkan. Hal ini berdampak terjadinya peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu dan janin. Khusus Puskesmas Paal V Kota Jambi, pada tahun 2010 dari 426 orang ibu hamil yang mendapatkan tablet besi sebanyak 109 orang mengalami anemia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan motivasi ibu hamil terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet besi di Puskesmas Paal V Kota Jambi tahun 2011. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang mendapatkan tablet besi di Puskesmas Paal V Kota Jambi tahun 2010 yang berjumlah 426 orang. Sampel yang diambil 15 % dari jumlah populasi yang ada yaitu sebanyak 63 orang ibu hamil, dengan menggunakan metode Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63 responden di Puskesmas Paal V Kota Jambi diketahui 26 responden (41,3%) memiliki kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet besi secara teratur dan lengkap, sedangkan 37 responden (58,7%) tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet besi secara teratur dan lengkap. Hasil penelitian tentang pengetahuan didapatkan responden yang berpengetahuan baik sebanyak 35 responden (55,6%) dan 28 responden (44,4%) memiliki pengetahuan kurang baik. Sedangan hasil penelitian tentang motivasi didapatkan responden yang memiliki motivasi tinggi sebanyak 24 responden (38,1%) dan responden yang memiliki motivasi rendah sebanyak 39 responden (61,9%). Ada hubungan pengetahuan dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi di Puskesmas Pal V Kota Jambi tahun 2011 dengan p value= 0,02. Ada hubungan motivasi dengan dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi pada ibu hamil di Puskesmas Pal V Kota Jambi dengan p value = 0,00.

Kata Kunci: pengetahuan, motivasi dan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi .

PENDAHULUAN Anemia defisiensi besi pada wanita hamil merupakan problema kesehatan yang dialami oleh wanita diseluruh dunia terutama di negara berkembang. Badan Kesehatan Dunia (WHO), menyatakan bahwa prevalensi anemia secara global pada ibu hamil adalah 51%, sedangkan anemia pada wanita secara keseluruhan adalah 35%. Tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil adalah berdasarkan kebutuhan besi yang tinggi selama hamil (Aritonang, 2010:54). Di Indonesia anemia defisiensi zat besi masih merupakan salah satu permasalahan gizi yang paling berat dan paling penting. Hasil dari Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional 2001 menunjukkan bahwa prevalensi anemia 27% terdapat pada wanita di usia 15-19 tahun dan 40% terdapat pada ibu hamil (Depkes 2002 dalam SKRRI, 2007:25).

Anemia defisiensi zat besi dapat berakibat pada kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR dan anemia pada bayi yang dilahirkan. Hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar (Waryana, 2010:48). Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5 gr % pada trimester 2 (Prawirohardjo, 2006:281). Pemberian tablet besi selama kehamilan merupakan salah satu cara yang dianggap paling cocok bagi ibu hamil untuk meningkatkan kadar Hemoglobin (Tarwoto, 2007:56). Menurut Laporan Tahunan Program Perbaikan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2010,

11


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

menunjukkan bahwa cakupan pemberian tablet besi pada ibu hamil F1 sebanyak 63,091 orang ibu hamil (76,85%) dan F3 sebanyak 59,421 orang ibu hamil (72,38%) dengan kejadian anemia pada ibu hamil sebanyak 1,122 orang ibu hamil (1,4%). Sedangkan menurut Laporan Tahunan Program Perbaikan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Jambi Tahun 2010, menunjukkan bahwa cakupan pemberian tablet besi pada ibu hamil F1 sebanyak 11,039 orang ibu hamil (92,06%) dan F3 sebanyak 10,645 orang ibu hamil (88,77%) dengan kejadian anemia pada ibu hamil sebanyak 784 orang ibu hamil (6,5%). (Dinas Kesehatan Kota, 2011) Khusus Puskesmas Paal V Kota Jambi, cakupan pemberian tablet besi pada ibu hamil tahun 2010, F1 sebanyak 426 orang ibu hamil (95,7%) dan F3 sebanyak 399 orang ibu hamil (89,7%) dengan kejadian anemia pada ibu hamil sebanyak 109 orang (26 %) dari 426 orang ibu hamil yang mendapatkan tablet besi. Kepatuhan mengkonsumsi tablet besi diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi tablet besi, frekuensi tablet perhari. Suplementasi besi atau pemberian tablet besi merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah dan menanggulangi anemia khususnya zat besi (http://bppsdmk.n depkes. com.id .2006/ Tablet Besi).

sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Paal V Kota Jambi dari bulan November tahun 2010 s/d bulan Mei tahun 2011. Pengumpulan data dilaksanakan mulai tanggal 3 s/d 19 Maret tahun 2011. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang mendapatkan tablet besi di Puskesmas Paal V Kota Jambi tahun 2010, yang berjumlah 426 orang. Dalam penelitian ini peneliti hanya mengambil sampel 15 % dari jumlah populasi yang ada, yaitu sebanyak 63 orang ibu hamil yang mendapatkan tablet besi. Metode pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Sampling. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian tentang perilaku kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet besi diketahui 26 responden (41,3%) memiliki kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet besi secara teratur dan lengkap, sedangkan 37 responden (58,7%) tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet besi secara teratur dan lengkap. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram 1 berikut ini: Diagram 1. Distribusi Responden Berdasarkan Kepatuhan Dalam Mengkonsumsi

BAHAN DAN CARA KERJA Kerangka konsep pada penelitian ini mengacu pada kerangka teori yang dikemukakan oleh Robert Kwick (1974) dalam Notoatmodjo (2003:124). Berdasarkan kerangka teori terlihat bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internl dan faktor ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan dan motivasi yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, seperti iklim, sosial ekonomi, kebudayaan dan sebagainya. Peneliti hanya mengambil faktor intern untuk diteliti, yaitu pengetahuan dan motivasi karena erat kaitannya dengan kepatuhan ibu hamil. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross

12

41.3%

58.7%

PATUH TIDAK PATUH

Hasil bahwa

penelitian sebagian

menunjukkan responden


Hubungan Pengetahuan dan Motivasi Terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Besi â&#x20AC;Ś Neny Heryani

menghabiskan semua tablet besi yang diberikan oleh petugas kesehatan, sedangkan sebagian besar responden tidak menghabiskan semua tablet besi yang diberikan oleh petugas kesehatan. Ini menunjukkan bahwa masih adanya responden yang tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet besi. Responden yang tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet besi mempunyai alasan seperti mual, rasa yang tidak enak, bosan dan dengan alasan lain seperti lupa, tidak ada orang lain yang mengingatkan. Ketidakpatuhan ibu hamil tersebut terjadi karena kebanyakan mereka menganggap bahwa obat yang sudah dikonsumsi sebelumnya sudah meresap kedalam tubuh. Sehingga tidak apa-apa kalau sewaktu-waktu obat yang masih tersisa lupa dikonsumsi. Dengan demikian menurut mereka masalah lupa tidak akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya. Kepatuhan mengkonsumsi tablet besi diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi tablet besi, frekuensi tablet perhari. Suplementasi besi atau pemberian tablet besi merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah dan menanggulangi anemia khususnya zat besi (http://bppsdmk.depkes.com.id.2006/ Tablet Besi). Pendapat ini didukung oleh Salmah, et al. (2006:114) yang menyatakan bahwa pemberian tablet besi dimulai sesegera mungkin setelah rasa mual hilang dengan memberikan satu tablet setiap hari berturut-turut, minimal 90 tablet. Tiap tablet besi mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 0,25 mg. Sedangkan menurut Prawirohardjo (2006: 282) pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr%/bulan. Seperti halnya yang disampaikan oleh Manuaba (2007:38), bahwasanya kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata berjumlah 900 mgr. Kebutuhan ini terdiri dari sekitar 500 mgr diperlukan untuk peningkatan jumlah darah ibu, 300 mgr diperlukan untuk pembentukan placenta, dan 100 mgr + lagi diperlukan untuk untuk pertumbuhan darah janin. Saat persalinan yang disertai perdarahan sekitar 300 cc dan lahirnya placenta, ibu akan kehilangan zat besi sebesar 200 mg dan kekurangan ini harus mendapatkan kompensasi dari makanan untuk kelangsungan laktasi.

2012

Kekurangan zat besi menyebabkan darah tak mampu mengikat dan mengangkut cukup oksigen untuk dibawa dari paru-paru ke seluruh tubuh. Bila oksigen yang diperlukan tidak cukup, maka tubuh tidak mampu menghasilkan energi untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan menjaga daya tahan tubuh (Depkes RI, 2009). Pada defisiensi zat besi ditemukan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, keluhan mual muntah yang hebat pada kehamilan muda (Manuaba, 2007:38). Ibu hamil dengan defisiensi zat besi cenderung mengalami persalinan prematuritas, mudah jatuh sakit akibat daya tahan tubuh yang lemah, mengalami perdarahan pasca persalinan (Depkes RI, 2007:73). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa defisiensi zat besi ini disebabkan oleh karena masih kurangnya kemauan atau kesadaran dari dalam diri ibu hamil tersebut untuk bertindak atau berperilaku guna mengkonsumsi tablet besi selama kehamilan secara teratur dan lengkap. Kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet besi sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia. Mengingat besarnya dampak dari anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil dan janin yang dapat menyebabakan terjadinya kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR dan anemia pada bayi yang dilahirkan ibu, maka pemberian tablet besi perlu mendapat perhatian yang serius. Oleh sebab itu peranan dari keluarga khususnya dan petugas kesehatan sangatlah menentukan untuk dapat memberikan perhatian dan dukungan kepada ibu hamil, sehingga dapat membantu guna mengingatkan ibu hamil agar selalu mengkonsumsi tablet besi secara benar. Pengetahuan ibu hamil diukur dengan apa yang dipahami oleh ibu hamil tentang konsumsi tablet besi. Cut of poin yang digunakan untuk menetapkan pengetahuan ibu hamil baik atau kurang baik bila scor â&#x2030;¤ 76% dikatagorikan pengetahuan kurang baik, jika scor â&#x2030;Ľ 76% pengetahuan baik. Dari hasil penelitian diketahui bahwa dijelaskan bahwa ibu

13


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

hamil mempunyai pengetahuan baik sebanyak 35 orang (55,6%) dan yang memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 28 orang (44,4%). Berdasarkan hasil uji statistic hubungan pengetahuan dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi diperoleh p value = 0,02 artinya ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet besi.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram 2 dibawah ini Diagram 2 Distribusi Responden Pengetahuan Dalam Tablet Besi (n=63)

Berdasarkan Mengkonsumsi

44.4%

55.6%

BAIK

KURANG BAIK

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebagian besar responden mempunyai pengetahuan baik tentang tablet besi, sedangkan hanya sebagian responden yang mempunyai pengetahuan kurang baik. Baiknya pengetahuan responden memungkinkan dapat membantu upaya kesehatan dalam pemanfaatan tablet besi secara baik dan berguna. Berdasarkan hasil penelitian terhadap responden yang pengetahuannya kurang baik tentang tablet besi, kemungkinan disebabkan oleh karena masih kurangnya sosialisasi mengenai pentingnya tablet besi selama masa kehamilan. Hal ini dapat dilihat oleh masih banyaknya ibu hamil yang tidak mengetahui tentang jumlah tablet besi yang diminum selama hamil minimal 90 tablet. Sosialisasi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan

14

keperdulian ibu tentang tablet besi. Sehingga terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi mau, dan dari mau menjadi tergerak untuk mengkonsumsi tablet besi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian ibu hamil tidak mengetahui bahaya kurang darah bagi ibu saat melahirkan. Ketidaktahuan ibu hamil ini disebabkan oleh karena masih kurangnya informasi atau promosi tentang bahaya kurang darah pada ibu hamil saat persalinan, sehingga ibu tidak mengetahui akibat yang ditimbulkan saat persalinan apabila ibu mengalami kurang darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ibu hamil mengetahui bahwa tablet besi sebaiknya diminum secara teratur setiap hari. Hal ini disebabkan oleh karena mereka beranggapan bahwa tablet besi mempunyai peranan yang sama seperti obat-oabat lainnya yang harus diminum setiap hari, tanpa tahu manfaat atau akibat yang ditimbulkan jika kekurangan mengkonsumsi tablet besi itu sendiri. Adanya hubungan pengetahuan dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi diasumsikan karena sebagian besar responden yang berpengetahuan baik patuh mengkonsumsi tablet besi. Menurut Notoatmojo (2007) pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Rendahnya pengetahuan ibu hamil dikarenakan masih kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang tablet besi. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, dimana perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Motivasi ibu hamil sangat menunjang dalam mengkonsumsi tablet besi, jika motivasi tidak ada maka keinginan untuk mengkonsumsi tablet besi tidak akan dilakukan. Cut of poin yang digunakan untuk motivasi dengan menggunakan median. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ibu hamil yang memiliki motivasi yang tinggi dalam mengkonsumsi tablet besi sebanyak 24


Hubungan Pengetahuan dan Motivasi Terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Besi â&#x20AC;Ś Neny Heryani

orang (38,1 %) dan yang memiliki motivasi rendah dalam mengkonsumsi tabelt besi sebanyak 39 orang (61,9%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram 3 dibawah ini : Diagram 3 Distribusi Responden Berdasarkan Motivasi Dalam Mengkonsumsi Tablet Besi (n=63) 61.9% 38.1%

TINGGI RENDAH

Berdasarkan hasil penelitian tentang motivasi menunjukkan bahwa sebagian responden memiliki motivasi yang tinggi terhadap kepatuhannya dalam mengkonsumsi tablet besi, sedangkan sebagian besar responden memiliki motivasi yang rendah. Rendahnya motivasi ibu hamil terhadap kepatuhannya dalam mengkonsumsi tablet besi dapat dilihat dari ibu yang tidak melibatkan keluarga untuk mengingatkan agar tidak lupa minum tablet besi. Ini disebabkan karena ibu hamil masih beranggapan bahwa mengkonsumsi tablet besi belum menjadi suatu kebutuhan utama. Kurangnya dorongan dari dalam diri ibu untuk mengkonsusmsi tablet besi secara rutin dikarenakan masih kurangnya informasi dari petugas kesehatan tentang manfaat tablet besi. Hasil penelitian menunjukkan masih banyak ibu tidak membaca buku yang berhubungan dengan tablet besi. Ini disebabkan karena ibu masih menganggap kalau membaca buku itu bukan suatu keharusan. Padahal bukubuku yang berhubungan dengan tablet besi dapat membantu ibu memberikan informasi penting mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tablet besi. Sehingga ibu dapat mengetahui segala hal yang berhubungan dengan tablet besi. Kurangnya pengetahuan ibu, membuat ibu menjadi tidak termotivasi untuk membaca

2012

buku yang berhubungan dengan tablet besi. Berdasarkan hasil uji statistik hubungan motivasi dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi diperoleh p value = 0,00 artinya ada hubungan yang bermakna antara motivasi dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi. Adanya hubungan motivasi dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi diasumsikan karena sebagian besar responden yang memiliki motivasi tinggi patuh mengkonsumsi tablet besi. Menurut Notoatmodjo (2005:218), bahwa motif atau motivasi berasal dari kata latin moreve yang berarti dorongan dari dalam diri manusia untuk bertindak atau berperilaku. Sedangkan menurut Terry G. (1986) dalam Notoatmodjo (2007:218) motivasi merupakan keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan (perilaku). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ibu hamil merasa khawatir jika kurang darah. Ini disebabkan karena semua ibu hamil tidak ingin kesehatannya terganggu karena takut terjadi sesuatu pada bayinya. Namun ibu hamil tersebut tidak berupaya untuk mencegah bagaimana supaya tidak terjadi kurang darah. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian, bahwasanya ibu hamil masih belum termotivasi untuk mengkonsumsi tablet besi secara teratur dan lengkap. Mengingat tablet besi sangatlah diperlukan selama kehamilan, karena dapat mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil yang dapat beresiko terhadap ibu dan bayi. Ini berarti bahwa motivasi yang timbul dari dalam diri ibu hamil sangatlah berpengaruh terhadap perubahan perilaku. Dengan adanya motivasi yang baik, maka akan menimbulkan terjadinya perubahan perilaku kearah yang lebih baik juga, sehingga ibu hamil mau mengkonsumsi tablet besi secara benar. Untuk menunjang itu semua maka peranan dari berbagai pihak sangatlah diperlukan, baik dari keluarga maupun dari petugas kesehatan, guna memberikan support atau dorongan kepada ibu hamil, sehingga diharapkan ibu hamil tersebut dapat menjadi termotivasi untuk mengkonsumsi tablet besi secara benar.

15


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63 responden di Puskesmas Paal V Kota Jambi diketahui 26 responden (41,3%) memiliki kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet besi secara teratur dan lengkap, sedangkan 37 responden (58,7%) tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet besi secara teratur dan lengkap. Hasil penelitian tentang pengetahuan didapatkan responden yang berpengetahuan baik sebanyak 35 responden (55,6%) dan 28 responden (44,4%) memiliki pengetahuan kurang baik. Sedangan hasil penelitian tentang motivasi didapatkan responden yang memiliki motivasi tinggi sebanyak 24 responden (38,1%) dan responden yang memiliki motivasi rendah sebanyak 39 responden (61,9%). Dari hasil tersebut maka diharapkan bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi agar lebih meningkatkan sosialisasi dan promosi tentang kesehatan ibu hamil dalam pelayanan ANC, khususnya mengenai pemberian tablet besi bagi ibu hamil, seperti dengan memperbanyak poster-poster, pamflet dan brosur-brosur tentang tablet besi yang dipakai sebagai sumber informasi. Informasi yang diberikan berupa manfaat tablet besi, cara mengkonsumsi tablet besi yang benar, jumlah tablet besi yang dikonsumsi selama hamil dan dampak/resiko yang ditimbulkan jika kekurangan mengkonsumsi tablet besi. Bagi pihak Puskesmas diharapkan agar dapat meningkatkan lagi bentuk pelayanan ibu hamil, salah saatunya dengan lebih mengefektifkan peranan Posyandu, sehingga pemantauan kesehatan ibu hamil maupun kepatuhannya dalam mengkonsumsi tablet besi dapat dimonitoring. Selain itu pihak Puskesmas diharapkan agar dapat memberikan informasi dalam bentuk spanduk khususnya tentang dampak/resiko yang

16

ditimbulkan jika tidak mengkonsumsi tablet besi secara benar dan agar petugas kesehatan yang bekerja di ruang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dapat memberikan informasi atau penyuluhan tentang tablet besi, baik secara perseorangan maupun kelompok, sehingga diharapkan kebutuhan tablet besi bagi ibu hamil dapat terpenuhi. DAFTAR PUSTAKA Aritonang, Evawany,2010. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil. Penerbit IPB Press. Bogor Depkes RI, 2007. Pedoman Pelayanan Antenatal. Jakarta: xii + 96 hlm. ______, 2009. Kita Bisa Lebih berprestasi Tanpa Anemia. Jakarta Dinas Kesehatan Kota, 2011. Laporan Tahunan Program Perbaikan Gizi Masyarakat Kota Jambi Manuaba, Ida Bagus Gde,2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: xiii + 797 hlm. Notoatmodjo, Soekidjo,, 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka _______, 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta: viii + 389 hlm. ______, 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta: x + 249 hlm. Prawirohardjo, Sarwono,2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan neonatal. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: xxiv + 608 hlm. Salmah, et al, 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: viii + 189 hlm. Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia, 2007 Tarwoto,2007. Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil, Konsep dan Penatalaksanaan. Penerbit Trans Info Media. Jakarta: x + 78 hlm. Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Penerbit Pustaka Rihama. Yogyakarta: viii + 174 hlm. http://bppsdmk.depkes.com.id.2006/Tablet Besi/29 Desember 2010/10.10


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

PENGARUH PENYEMPROTAN EKSTRAK LENGKUAS (Alpinia Galanga L Swartz) TERHADAP KEMATIAN LALAT RUMAH (Musca Domestica) Sondang, Eni Arista Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Jambi

ABSTRAK Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara social dan ekonomis. Penyakit-penykit yang ditularkan melalui serangga merupakan penyakit endemis pada daerah tertentu. Antara lain penyakit saluran pencernaan, disentri, kolera, demam tifoid, dan paratifoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah. Menurut Wijayakusuma (1996) pada rimpang lengkuas terhadap kandungan minyak atsiri lebih kurang 1% mengandung metilsinamat, sineol, limonen, kamfer, d-pnen, galangin dan eugenol. Minyak atsiri yang mudah menguap ini dapat merangsang kulit dan mukosa. Jika diminum mempunyai khasiat menolak angin, dan menahan gerakan usus kecil, disamping mempunyai efek antiseptik ringan. Bila disemprotkan pada lalat serangga ini akan mati. Tujuan peneltian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penyemprotan ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) terhadap kematian lalat rumah (Musca Domestica).Jenis penelitian ini bersifat eksperimen dengan rancangan penelitian Post-test Only Control Group Design. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Annova dan analisis regresi sederhana Dari hasil analisis data dapat dilihat besarnya pengaruh ekstrak lengkuas terhadap kematian lalat rumah (Musca Domestica) sebesar 62%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh penyemprotan ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) terhadap kematian lalat rumah (Musca Domestica). Kata Kunci : Ekstrak Lengkuas, Lalat Rumah, Kematian Lalat Rumah

PENDAHULUAN Menurut Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, pasal 3 dan 4, Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya pada mulanya berupa upaya penyembuhan penyakit, kemudian secara berangsurangsur berkembang kearah keterpaduan upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat dengan mengikutsertakan masyarakat secara luas yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang bersifat menyeluruh terpadu dan berkesinambungan. Usaha-usaha perbaikan atau pengendalian terhadap lingkungan hidup manusia, salah satunya adalah kontrol terhadap arthropoda yang menjadi vektor penyakit dan cara memutuskan rantai penularan penyakitnya (Chandra, 2006 : 4)

Penularan penyakit pada manusia melalui vektor penyakit berupa serangga dikenal sebagai arthropodborne disease atau sering juga disebut sebagai vectorborne disease. Penyakit ini merupakan penyakit yang penting dan seringkali bersifat endemis maupun epidemis dan dapat menimbulkan bahaya kematian. Indonesia penyakit-penyakit yang ditularkan melalui serangga merupakan penyakit endemis pada daerah tertentu. Antara lain penyakit saluran pencernaan, disentri, kolera, demam tifoid, dan paratifoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah. Lalat rumah (Musca Domestica) hidup di sekitar tempat tinggal kita. Keseluruhan lingkaran hidupnya berlangsung selama 10 sampai 14 hari, dan lalat dewasa dapat hidup kira-kira satu bulan. Upaya pengendalian lalat rumah, dapat dilakukan diantaranya, pengendalian lingkungan, pengendalian insektisida, fly papers, perlindungan terhadap lalat, dan pendidikan kesehatan. Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana (khususnya yang bersifat sintetis) sering merugikan terhadap lingkungan. Beberapa dampak negatif

17


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

tersebut diantaranya kasus keracunan pada manusia, ternak peliharaan, polusi lingkungan, dan hama menjadi resisten (Kardinan, 1999) Suatu alternatif pengendalian hama penyakit yang murah, praktis, dan relatif aman terhadap lingkungan sangat di perlukan oleh masyarakat, oleh sebab itu, sudah tiba saatnya untuk memasyarakatkan pestisida nabati yang ramah lingkungan. Secara umum, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Insektisida nabati memiliki daya tarik bagi banyak pihak, karena merupakan insektisida alami yaitu insektisida yang didapatkan dari tanaman. Meningkatnya pamor â&#x20AC;&#x153; kembali ke alam â&#x20AC;&#x153; (back to nature) membuat segala sesuatu yang berasal dari alam menjadi diminati, demikian juga dengan insektisida nabati ini (Wirawan, 2006) Salah satu jenis tumbuhan yang di gunakan oleh manusia sebagai obat maupun bumbu masakan adalah Lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz). Lengkuas sering digunakan sebagai rempah untuk penyedap dan pengawet masakan, rasanya pedas dan panas, terasa keras pada lidah. Alpinia oil yang berasal dari rimpang alpinia galanga, berupa minyak berwarna kuning dengan bau rempah-rempah (Wijayakusuma, 1996) Menurut Wijayakusuma (1996) pada rimpang lengkuas terdapat kandungan minyak atsiri lebih kurang 1% mengandung metilsinamat, sineol, limonen, kamfer, d-pinen, galangin dan eugenol. Minyak atsiri yang mudah menguap ini dapat merangsang kulit dan mukosa. Jika diminum mempunyai khasiat menolak angin, dan menahan gerakan usus kecil, disamping mempunyai efek antiseptic ringan. Bila disemprotkan pada lalat serangga ini akan mati. Berdasarkan hal ini peneliti mencoba melakukan penelitian mengenai pengaruh penyemprotan ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) terhadap kematian lalat rumah (Musca Domestica).

18

BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian ini dilakukan di Kampus Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehattan Jambi dengan mengambil lalat rumah, kemudian di letakkan dalam kurungan lalat dan disemprotkan dengan ekstrak lengkuas. Pelaksanaan penelitian ini dimulai dari bulan Juli sampai Agustus 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lalat rumah (Musca Domestica) yang di dapat dari penangkapan menggunakan fly net. Sampel penelitian ini adalah seluruh lalat rumah (Musca Domestica) yang berjumlah 150 ekor, lalat ini di dapat dari hasil penangkapan menggunakan fly net. Percobaan dilakukan dengan menyiapkan lalat yang telah di masukkan ke dalam masing-masing tempat, pada ke5 tempat tersebut masing-masing kurungan lalat yang terdapat 25 ekor lalat. Kemudian dilakukan penyemprotan dengan ekstrak lengkuas dengan konsentrasi 25%, 35%, 45%, 55%, 65% pada tiap perlakuan. Penyemprotan di lakukan pada tiap tempat dan di semprotkan pada waktu jam pertama. Pengamatan dilakukan setiap jam sampai jam ke- 6 setelah penyemprotan dan catat jumlah lalat yang mati setelah di lakukan penyemprotan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian disajikan pada tabel 1: Tabel 1. presentase peningkatan rata-rata jumlah lalat rumah (Musca Domestica) yang mati pada setiap konsentrasi ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) Rata-rata jumlah lalat rumah Presentase (Musca Peningkatan Domestica) (%) yang mati (Ekor)

No

Konsentrasi (%)

1

25%

3

12,00

2

35%

8

32,00

3

45%

9

36,00

4

55%

12

48,00

5

65%

14

56,00


Pengaruh Penyemprotan Ekstrak Lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) … Sondang, Eni Arista

Tabel 2. Analisis Anova Hasil Perbedaan jumlah lalat rumah yang mati pada 5 (lima) konsentrasi ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) Jumlah Rata-rata Kuadrat dk jumlah (jk) kuadrat Antar Kelompok

356.560 4

89.140

Dalam Kelompok

175.200 20

8.760

F

Sig

10.1

.000

531.760 24

Jumlah

Berdasarkan tabel 2. dapat dilihat bahwa jumlah kuadrat nilah Fhitung sebesar 10.176 dengan tingkat signifikan (p-value) = 0,000, p-value < α, (α = 0,05), sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan rata-rata jumlah lalat rumah yang mati pada setiap konsentrasi ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz). Tabel 3. Analisis Data Regresi Sederhana Koefisien Determinasi hasil analisis regresi sederhana

Model

R

1

.787

a

R Square

Adjusted R Square

Std. Error Of The Estimate

.620

.604

2,964

Dari tabel 3, diketahui bahwa nilai R2 yaitu sebesar 0,620. Hal ini berarti bahwa ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) berpengaruh terhadap kematian lalat rumah (Musca Domestica) sebesar 0,620 x 100% = 62%, dimana sisanya sebesar 38% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak disebutkan dalam penelitian ini. Ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) yang diujikan terhadap lalat rumah (Musca Domestica) pada konsentrasi awal (25%) dengan waktu pemaparan 6 jam presentase kematian sebanyak 12%, pada konsentrasi ke dua (35%) terjadi peningkatan kematian sebesar 32%, konsentrasi ke tiga (45%) presentase kematian sebesar36%, pada konsentrasi ke empat (55%) presentase kematian sebesar 48%, sampai konsentrasi (65%) presentase kematian sebesar 56%. Hasil ini menunjukkan adanya efek yang disebabkan kandungan kimia dalam rimpang lengkuas yang dibuat dalam bentuk ekstrak terhadap kematian lalat rumah (Musca Domestica) yaitu minyak atsiri dan limonene yang akan

2012

mengganggu fungsi organ – organ dalam tubuh serangga. Menurut Wijayakusuma (1996) pada rimpang lengkuas terdapat kandungan minyak atsiri lebih kurang 1% mengandung metilsinamat, sineol, limonene, kamfer, d-pinen, galangin dan eugenol. Sedangkan menurut Wirawan (2006) Limonene (d-limonene) digolongkan dalam minyak esensial tanaman atau dikenal juga sebagai floral atau scented plant chemical. Cara kerja limonene bekerja mirip piretrin (Piretrisn adalah insektisida kontak) yaitu bekerja pada sistem saraf tepi namun tidak menghambat enzim kolinesterase. Semakin tinggi konsentrasi, maka zat-zat tersebut akan semakin banyak yang akan terakumulasi dalam tubuh serangga, sehingga efek akan semakin besar pula. Dengan demikian kandungan bahan kimia yang terdapat dalam rimpang lengkuas diduga menyebabkan kematian lalat rumah (Musca Domestica). Hal ini diikuti hasil analisis data, diketahui bahwa nilai R2 yaitu sebesar 0,620, berarti bahwa ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) berpengaruh terhadap kematian lalat rumah (Musca Domestica) sebesar 0,620 x 100% = 62%. Menurut penelitian Nasution (2003) dengan judul Studi Pengaruh Penyemprotan Ekstrak Lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) Terhadap Perkembangan Pradewasa Nyamuk Aedes aegypti L pada konsentrasi 0,02%, 0,03%, 0,04%, dan 0,05% menunjukkan hasil berbeda nyata terhadap kontrol (18,4%, 64 %, 95,2%, 100%). Pendapat lain juga mengatakan Wirawan (2006) Racun kontak insektisida yang diaplikasikan langsung menembus integumen serangga (kutikula), trachea, atau kelenjar sensorik dan organ lain pada formulasi insektisida “membasahi” lemak atau lapisan lilin pada kutikula dan mengakibatkan bahan aktif mampu menembus tubuh serangga sehingga menyebabkan kematian. Hasil Percobaan Efektivitas Ekstrak Lengkuas Terhadap Kematian Lalat Rumah (Musca Domestica) yang telah dilakukan dengan menggunakan lima konsentrasi yaitu 25%, 35%, 45%, 55%, dan 65% dengan 5 kali pengulangan selama 6 jam pengamatan dengan interval waktu setiap 1 jam. Pada tabel 4.1 terlihat bahwa pada kontrol tidak dijumpai adanya lalat rumah yang mati. Pada konsentrasi 25% rata-rata jumlah lalat yang mati 12%.

19


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Pada konsentrasi 35% jumlah lalat rumah yang mati 32%. Pada konsentrasi 45% jumlah lalat yang mati 36%. Pada konsentrasi 55% jumlah lalat yang mati 48%, dan pada konsentrasi 65% jumlah lalat yang mati 56%. Dari hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) yang lebih efektif untuk membunuh lalat rumah dapat dilihat pada konsentrasi 65% yang dapat membunuh lalat rumah sampai 56%. Hal ini berarti dari 100 ekor lalat rumah, akan membunuh lalat sebanyak Âą56 ekor. Peningkatan kematian lalat rumah (Musca Domestica) paling signifikan dapat dilihat pada peningkatan konsentrasi 25% menjadi 35% yang meningkat sebesar 20%. Pada konsentrasi 25% hanya membunuh lalat sebesar 12%, sedangkan pada konsentrasi 35% sebesar 32%. Namun demikian penelitian ini masih terdapat kelemahan terutama mengenai umur lalat rumah yang akan di jadikan sebagai sampel penelitian. Pada penelitian ini umur lalat rumah tidak dikondisikan sama atau dengan kata lain diabaikan, padahal menurut Komisi Pestisida (1995) untuk serangga uji lalat rumah (Musca Domestica) dewasa jantan dan betina umur 2-4 hari. Perlakuan sampel untuk penelitian harus dikondisikan sama. KESIMPULAN DAN SARAN Konsentrasi ekstrak lengkuas yang efektif adalah pada konsentrasi 65% yaitu jumlah lalat rumah yang mati sebanyak 56% dari lalat rumah (Musca Domestica) yang di gunakan.

20

Pengaruh penyemprotan berbagai konsentrasi ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) terhadap lalat rumah (Musca Domestica) adanya efek insektisida yang disebabkan kandungan bahan kimia dalam rimpang lengkuas yaitu minyak atsiri dan limonene yang akan mengganggu fungsi organ â&#x20AC;&#x201C; organ dalam tubuh serangga. Ekstrak lengkuas (Alpinia Galanga L Swartz) berpotensi sebagai insektisida hayati karena terbukti dapat membunuh lalat rumah (Musca Domestica) Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pengendalian ataupun menurunkan populasi lalat rumah (Musca Domestica) jika ingin meneruskan penelitian ini agar lebih memperhatikan faktor-faktornya seperti asal lalat rumah, umur lalat rumah yang akan di jadikan sebagai sampel penelitian.

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Chandra, Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Kardinan, Agus. 1999. Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi. Jakarta : Penebar Swadaya,. Komisi Pestisida. 1995. Metoda Standar Pengujian Efikasi Pestisida. Departemen Pertanian.. Wijayakusuma, Hembing, Setiawan Dalimartha, A. S. Wirian.1996. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Jakarta : Pustaka Kartini. Wirawan, 1996, Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Jakarta: Kartini


Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Pihak Sekolah Dasar â&#x20AC;Ś Hendry Boy, Linda Marlia, Sukarsih

2012

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT PIHAK SEKOLAH DASAR PADA PROGRAM PELAYANAN ASUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MANDIRI DI SEKOLAH (Kajian pada Sekolah Dasar di Kec. Kotabaru Jambi) Hendry Boy, Linda Marlia, Sukarsih Staf Pengajar Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Jambi

ABSTRAK Program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah baru dilaksanakan pada beberapa sekolah dasar di kota Jambi. Penelitian bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat pihak sekolah dasar pada program pelayanan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah. Jenis penelitian survei analitik dengan rancangan kros seksional. Pengumpulan data pada 82 orang respoden dari 21 Sekolah Dasar di Kecamatan Kotabaru Kota Jambi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan cek list, tentang pengetahuan, sikap, waktu, dana, sarana dan minat pihak sekolah pada program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah. Hasil penelitian dengan uji Chi Square dan korelasi Spearman, menunjukkan variabel sikap (p=0,821), waktu (p=0,571), dana (p=0,061) dan sarana (p=0,329) tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap minat, sedangkan variabel pengetahuan (p=0,000) memiliki hubungan bermakna dan memiliki pengaruh kepada variabel minat dengan koefisien korelasi (r) 0,285 dengan nilai probabilitas 0,009. Kata Kunci: minat, program pelayanan asuhan kesehatan gigi mulut mandiri.

PENDAHULUAN Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Kesehatan gigi juga merupakan salah satu komponen kesehatan secara menyeluruh dan tidak dapat diabaikan terutama pada tingkat Sekolah Dasar, karena kesehatan gigi dan mulut ikut mempengaruhi tumbuh kembang anak yang sempurna bertujuan meningkatkan produktivitas dan peningkatan kreativitas (Depkes, 1995). Hasil Riskesdas Propinsi Jambi tahun 2007 menunjukkan Indeks DMF-T di Propinsi Jambi sebesar 5,25. Ini berarti rata-rata kerusakan gigi 5 gigi perorang. Komponen yang terbesar adalah gigi dicabut/M-T sebesar 3,66, dapat dikatakan rata-rata penduduk di Propinsi Jambi mempunyai 4 gigi yang sudah dicabut atau indikasi pencabutan. Performed Treatment Index atau motivasi untuk menumpatkan gigi yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap sangat rendah hanya 2,1% dan Required Treatment Index atau besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan sebesar 91%. Pada prevalensi karies aktif umur 12 tahun ke atas sebesar 56,1% dan mempunyai pengalaman karies sebesar 77,9%

(Depkes, 2008). Sedangkan di Kota Jambi, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Jambi tahun 2008 menunjukkan bahwa prevalensi karies pada anak SD tertinggi adalah anak SD di wilayah kerja Puskesmas Paal X yaitu 61,72. Pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut adalah pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang terencana, ditujukan pada kelompok tertentu, yang dapat diikuti dalam satu kurun waktu tertentu, diselenggarakan secara berkesinambungan untuk mencapai tujuan kesehatan gigi dan mulut yang optimal (Depkes, 1995). Kegiatan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut diharapkan dapat dijalin melalui kerjasama yang saling menguntungkan antara tenaga kesehatan dan dengan pihak sekolah atau komite sekolah (Depkes, 2003). Program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut di sekolah dasar sudah dilaksanakan oleh Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Bandung, Yogyakarta dan Semarang. Hasil observasi peneliti di Kota Jambi, program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut di sekolah baru dilaksanakan pada tiga sekolah dasar. Minat pihak sekolah dasar pada program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut di sekolah merupakan salah satu unsur

21


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

penting sehingga program dapat terlaksana, sehingga tujuan program yaitu untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut yang optimal dapat tercapai. Menurut Theory of Reasoned Action (Teori Tindakan beralasan) dari Fishbein dan Ajzen(1991), perilaku manusia dipengaruhi oleh kehendak/niat/minat. Minat merupakan keinginan individu untuk melakukan perilaku tertentu sebelum perilaku tersebut dilaksanakan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat pihak sekolah dasar pada program pelayanan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah.

BAHAN DAN CARA KERJA Jenis penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan rancangan kros seksional. Penelitian ini mengkaji hubungan antara minat pihak sekolah dasar terhadap pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor predisposisi (pengetahuan dan sikap) dan faktor pendukung (waktu, dana dan sarana). Data didapat dengan menggunakan kuesioner, dan pengukuran variabel-variabel tersebut dilakukan sekaligus pada waktu yang bersamaan. Populasi penelitian adalah kepala sekolah dan guru yang memegang program UKS, di Kecamatan Kotabaru Kota Jambi terdapat 41 SD sehingga semua populasi penellitian berjumlah 82 orang. Variabel penelitian pada penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, waktu, dana, sarana sebagai variabel bebas dan minat pihak sekolah sebagai variabel terikat. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :kuesioner Pengolahan data dengan komputer, data di analisis dengan mengunakan Chi-Square dan korelasi Spearman.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis deskriptif menunjukkan kelompok umur responden yang paling banyak adalah pada umur 45 s/d 52 tahun yaitu 42 orang (51,25)

22

sedangkan yang paling kecil adalah pada kelompok umur 29 s/d 36 tahun yaitu 4 orang (4,9%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian responden relatif telah separuh baya. Berdasarkan tingkat pendidikan yang paling banyak memiliki tingkat pendidikan S1 (strata 1) yaitu sebanyak 65 orang (79,3%), sedangkan yang paling kecil adalah tingkat pendidikan SPG/SGO yaitu 4 orang (4,95). Menurut Notoatmodjo (2003), pendidikan yang baik akan menjadi faktor predisposisi seseorang untuk memahami gangguan kesehatan yang akhirnya akan mendorong pemanfaatan pelayanan kesehatan dan bahwa semakin tinggi pendidikan masyarakat maka semakin tinggi pula keinginan untuk memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan. Menurut Kotler (2003) semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka orang tersebut akan menginginkan produk dan pelayanan yang berkualitas tinggi. Hendrartini (1995), yang menyatakan bahwa ada korelasi positif antara tingkat pendidikan pengguna pelayanan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi di rumah sakit. Slack (1986) juga menyatakan bahwa tingkat permintaan akan pelayanan kesehatan gigi semakin meningkat bersamaan dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Tingkat pengetahuan responden tentang pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, paling banyak memiliki tingkat pengetahuan tinggi yaitu 47 orang (57%), Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengetahui tentang program asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah. Hasil uji Chi-Square untuk untuk melihat hubungan antara pengetahuan dengan minat, dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh signifikansi (p) = 0,000. Hal ini menunjukkan hubungan yang bermakna antara pengetahuan pihak sekolah dengan minat terhadap program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,000. Uji korelasi Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi (r) -0,285 dengan nilai probabilitas 0,009 , sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna variabel pengetahuan dengan minat pihak sekolah terhadap program pelayanan asuhan kesehatan gigi


Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Pihak Sekolah Dasar â&#x20AC;Ś Hendry Boy, Linda Marlia, Sukarsih

dan mulut mandiri di sekolah. Hasil ini didukung oleh penelitian Nurhayati (1999). Sikap responden terhadap pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, paling banyak bersikap positif yaitu sebanyak 80 orang (97,65), sedangkan bersikap ragu-ragu 2 orang (2,4%). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan sikap positif akan program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah. Hasil uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara sikap dengan minat, dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh signifikansi (p) = 0,821. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap pihak sekolah dengan minat terhadap program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah. Hal ini berbeda dengan penelitan Rudi (2007) dan Nurhayati (1999) yang menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan minat. Menurut Mann (1969, cit. Azwar, 2003), walaupun diasumsikan bahwa sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan seringkali jauh berbeda. Waktu pelaksanaan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, paling banyak responden memilih pelaksanaan pada jam pelajaran olahraga yaitu sebanyak 53 orang (64,6%), sedangkan pada jam istirahat yaitu 21 orang (52,6%), dan pada saat setelah jam pelajaran terakhir selesai adalah sebanyak 8 orang (9,8%). Hal ini menujukkan bahwa pihak sekolah menyadari waktu yang tepat untuk melaksanakan program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri adalah waktu jam pelajaran olahraga, hal ini menurut peneliti karena waktu itu lebih panjang dan tidak akan menganggu murid sekolah dasar. Pada jam istirahat waktunya lebih pendek dan jam terakhir pelajaran akan menyebabkan murid jenuh dan mereka lebih ingin untuk pulang ke rumah. Hasil uji uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara waktu dengan minat, dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh signifikansi (p) = 0,571. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara waktu pelaksanaan dengan minat terhadap program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,571.

2012

Sumber dana untuk pelaksanaan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, paling banyak responden mengambil dana dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yaitu sebanyak 45 orang (54,9%), dana dari swadaya masyarakat (dari iuran orang tua murid) yaitu sebanyak 15 orang (18,3) dan tidak ada sumber dana yaitu sebanyak 22 orang (26,8%). Hal ini menunjukkan bahwa dana BOS dapat digunakan untuk program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, sehingga tidak lagi memberatkan orang tua murid melalui iuran. Uji Chi square untuk melihat hubungan antara dana dengan minat terhadap program, dengan kepercayaan 95% diperoleh signifikansi (p) = 0,061. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana dengan minat terhadap program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,061. Hal ini menunjukkan bahwa sumber dana tidak mempengaruhi minat pihak sekolah terhadap program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah. Sarana untuk pelaksanaan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri, sebagian besar pihak sekolah memiliki sarana yaitu 56 orang (68,3%) dan yang tidak memiliki sarana hanya 26 orang (31,7%). Sarana yang dimaksud adalah sarana minimal yaitu ruang uks, sumber air bersih dan listrik. Pada beberapa sekolah yang tidak memiliki sarana tersebut tidak berarti tiga kompenen tidak ada semua, melainkan hanya salah satu dari kompenen tersebut tidak ada. Uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara sarana untuk program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri terhadap minat pihak sekolah pada program, tingkat kepercayaan 95% diperoleh signifikansi (p) = 0,329. Berdasarkan hasil uji ChiSquare antara sarana terhadap minat dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap pihak sekolah dengan minat terhadap program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,329. Minat responden pada program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah, sebagian besar responden berminat yaitu 80 orang (97,6%) dan yang tidak berminat hanya 2

23


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

orang (2,45). Hal ini menunjukkan bahwa pihak sekolah pada umumnya memiliki minat yang cukup tinggi terhadap program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri. Menurut Dharmmesta (1992), minat merupakan gambaran dari perilaku, namun ada kondisi-kondisi yang harus maksimal agar tercapai korelasi yang kuat antara minat dan perilaku. Faktor-faktor yang dapat merubah minat menjadi perilaku tersebut seperti perubahan waktu, tempat, dan lingkungan sosial atau fisik. KESIMPULAN DAN SARAN Pengetahuan pihak sekolah pada pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah paling banyak pada kriteria tinggi yaitu 57,3%. Sikap pihak sekolah pada pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah paling banyak pada bersikap positif yaitu 97,6%. Waktu pelaksanaan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah paling banyak pada waktu jam pelajaran olahrga yaitu 64,6% Dana untuk pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah paling banyak bersumber dari dana BOS yaitu 54,9%. Sarana untuk pelaksanaan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut mandiri di sekolah paling banyak pada kritera ada yaitu 68,3%. Faktor sikap (p=0,821), waktu (p=0,571), dana (p=0,061) dan sarana (p=0,329) tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap minat, sedangkan variabel pengetahuan (p=0,000) memiliki hubungan bermakna dan memiliki pengaruh kepada variabel minat dengan koefisien korelasi (r) 0,285 dengan nilai probabilitas 0,009. Bagi Pihak Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Jambi diharapkan agar dapat bekerjasama dengan sekolahsekolah dasar yang berminat untuk melaksanakan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut yang berada di kecamatan Kotabaru Kota Jambi. Bagi Alumni Jurusan Kesehatan Gigi yang belum bekerja diharapkan hasil penelitian ini menjadi peluang kerja untuk mengelola pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut di sekolah.

24

DAFTAR PUSTAKA Ajzen, I., 1991, Organizational Behavior and Human Decision Processes, Academic Press. Inc., Massachusetts Azwar, S. 2003.Sikap Manusia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Depkes RI, 1995, Tata Cara Kerja Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas, Depkes RI, Jakarta. --------, 2003, Model Pendayagunaan Dokter Gigi dan Perawat Gigi di Sekolah, Depkes RI, Jakarta. Depkes RI, 2008. Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, Jakarta Dharmmesta, B.S., 1992, Riset Tentang Minat dan Perilaku Konsumen : Sebuah Catatan dan Tantangan Bagi Peneliti yang Mengacu pada â&#x20AC;&#x153;Theory of Reasoned Actionâ&#x20AC;?, JEBI , Yogyakarta, VII (1): 39 â&#x20AC;&#x201C; 53. Hendrartini, J., 1995, Analisis Pemanfaatan Unit Pelayanan Kesehatan Gigi di Rumah Sakit, Tesis, Program Pasca Sarjana, Magister Manajemen Pelayanan Kesehatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kotler, P., 2003, Marketing Management, 11th ed., Pearson Education, inc., New Jersey Nurhayati, 1999, Analisis Minat Masyarakat Untuk Memanfaatkan Pelayanan Rawat Inap Puskesmas Gubug I Kabupaten Grobogan, Tesis, Program Pasca Sarjana, Magister Manajemen Pelayanan Kesehatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Notoatmodjo S, 2003, Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. Slack, G.L., 1986, Dental Public Health : An Introduction to Community Dental Health, 2nd Ed., Jhon Wright & Sons Ltd., Bristol.


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEMAMPUAN PASIEN DIABETES MELLITUS DALAM MENDETEKSI EPISODE HIPOGLIKEMIA DI RSUD RADEN MATTAHER JAMBI TAHUN 2011.

Rohaidah, Netha Damayantie

Staf Pengajar Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Jambi

ABSTRAK

Hipoglikemia pada pasien diabetes mellitus merupakan komplikasi akut diabetes mellitus yang dapat terjadi secara berulang dan dapat memperberat penyakit diabetes bahkan menyebabkan kematian. Hipoglikemia terjadi karena peningkatan insulin dalam darah dan penurunan kadar glukosa darah yang diakibatkan oleh terapi insulin yang tidak adekuat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian cross sectional, bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan kemampuan pasien diabetes melitus (DM) dalam mendeteksi episode hipoglikemia. Populasi dalam penelitian ini adalah 334 orang dengan besar sampel 86 pasien DM yang berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD Rd Mattaher. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan September- Oktober dengan wawancara. Analisis data terdiri dari analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen yaitu usia, pendidikan, lama penyakit pengetahuan dan penggunaan glukometer, dengan variabel dependen kemampuan pasien diabetes mellitus dalam mendeteksi episode hipoglikemia. Untuk data kategorik analisis data menggunakan Chi-square, sedangkan data numerik menggunakan uji t-Independent. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemi lebih dari sebagian responden baik (55%), rata-rata usia responden adalah 57,41 tahun (95%CI : 55,61 – 59,20), sebagian besar (76,7%) pendidikan formal responden adalah pendidikan lanjut, rata-rata lama menderita DM responden adalah 7,59 tahun (95%CI : 6,63 – 8,55), sebagian besar responden (73,3%) mempunyai pengetahuan yang baik tentang episode hipoglikemia, lebih dari sebagian responden (62,8%) kurang baik dalam menggunakan glukometer sesuai frekuensi. Ada hubungan antara usia, pendidikan, pengetahuan, lama menderita DM dengan kemampuan pasien DM mendeteksi episode hipoglikemia, sedangkan penggunaan glukometer tidak ada hubungan dengan kemampuan pasien DM mendeteksi episode hipoglikemia Kata Kunci : Hipoglikemia, diabetes mellitus

PENDAHULUAN Hipoglikemia pada pasien diabetes mellitus (DM) merupakan komplikasi akut diabetes mellitus yang dapat terjadi secara berulang dan dapat memperberat penyakit diabetes bahkan menyebabkan kematian (Cryer, 2005). Hipoglikemia terjadi karena peningkatan insulin dalam darah dan penurunan kadar glukosa darah yang diakibatkan oleh

terapi insulin yang tidak adekuat (Tomky, 2005). Perkembangan hipoglikemia ke dalam keadaan yang lebih berat dapat dicegah dengan peningkatan kemampuan deteksi dini terjadinya hipoglikemia melalui kemampuan mengontrol glukosa darah, peningkatan pengetahuan tentang faktor resiko atau penyebab, intepretasi terhadap gejala hipoglikemia awal sebagai respon fisiologis dan “early warning” penurunan glukosa darah sehingga komplikasi yang

25


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

lebih berat dapat dicegah (Smeltzer, 2002). Faktor yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang dalam melakukan deteksi dini peningkatan atau penurunan glukosa darah adalah pengetahuan, usia, gaya hidup dan sikap atau perilaku (Pace, et al, 2006). Banyak pasien sering keliru dalam mengintepretasikan gejala hipoglikemia sebagai gejala ketoasidosis, dimana terjadinya respon hipoglikemia diintepretasikan sebagai respon kekurangan insulin atau peningkatan gula darah (hiperglikemia), akibatnya pemberian insulin yang seharusnya dikurangi atau ditunda namun malahan ditingkatkan sehingga keadaan klinis menjadi lebih buruk (Hudak & Gallo, 2005). Berdasarkan data kunjungan pasien DM dari tahun 2008 sampai dengan 2010 terjadi peningkatan kunjungan ulang pasien DM setiap tahunnya, yaitu 566 orang pada tahun 2008, 1860 pada tahun 2009 dan 2034 pada tahun 2010. Perawat sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan memiliki peran sebagai edukator dan konselor dalam meningkatkan kemandirian pasien untuk mengidentifikasi penyebab, gejala dan tindakan koreksi serta pencegahan hipoglikemia yang lebih berat (Hudak & Gallo, 2005). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan kemampuan pasien diabetes mellitus dalam mendeteksi episode hipoglikemia di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011.

penelitian yang digunakan adalah kuesioner tentang kemampuan mendeteksi episode hipoglikemi, usia, tingkat pendidikan, pengetahuan, lama menderita DM dan penggunaan glukometer. Pengumpulan data dilaksanakan dari tanggal 22 September sampai dengan 22 Oktober 2011. Tempat penelitian dilaksanakan di Poli Penyakit DalamRSUD Raden Mattaher Jambi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara. Peneliti melakukan wawancara tentang kemampuan mendeteksi hipoglikemia, usia, tingkat pendidikan, pengetahuan. lama menderita DM, dan penggunaan glukometer. Wawancara untuk setiap responden dilakukan selama 20 menit. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini secara univariat, dan bivariat . Analisis univariat untuk data katagorik (tingkat pendidikan, pengetahuan, penggunaan glukometer) dilihat penyebaran data melalui proporsi (persentase) dari responden. Sedangkan untuk data numerik ( usia, lama menderita DM) dilihat melalui sebaran data melalui mean, median, modus, nilai minimum, maksimum dan 95% CI sesuai dengan skala masing-masing data. Analisis bivariat, untuk data kategorik menggunakan Chi-square sedangkan data numerik menggunakan uji t-independent.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis univariat bertujuan memberikan gambaran deskriptif masingmasing variabel yang diteliti. BAHAN DAN CARA KERJA

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian cross sectional, bertujuan untuk mengetahui faktor â&#x20AC;&#x201C; faktor yang berhubungan dengan kemampuan pasien diabetes melitus (DM) dalam mendeteksi episode hipoglikemia di Poli Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien DM yang berkunjung ulang di Poli Penyakit Dalam dengan besar sampel 334 orang, dengan besar sampel 86 orang. Kriteria sampel adalah : bersedia menjadi responden dan mempunyai glukometer. Instrumen

26

Tabel 1. Distribusi Responden Menurut Kemampuan Mendeteksi Hipoglokemia di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 No 1. 2.

Kemampuan mendeteksi hipoglokemia Kurang Baik Baik

Frekuensi

%

39 47

45 55

Tabel 1 menunjukkan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemi lebih dari sebagian responden baik (55%).


Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kemampuan Pasien Diabetes Mellitus … Rohaidah, Netha Damayantie

Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Usia di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 Variabel Mean SD Usia

Min - Max

95% CI

57,41 8,366 38 - 80 55,61 – 59,20

Tabel 2. menunjukkan rata-rata usia responden adalah 57,41 tahun (95%CI : 55,61 – 59,20), dengan standar deviasi 8,366. Usia termuda 38 tahun dan Usia tertua 80 tahun. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa rata-rata usia responden adalah 55,61 sampai dengan 59,20 tahun. Tabel 3. Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 No

Tingkat Frekuensi Pendidikan

Persentase

1. Dasar

20

23,3

2. Lanjut

66

76,7

Tabel 3. menunjukkan sebagian besar (76,7%) pendidikan formal responden adalah pendidikan lanjut .

Tabel 4. Distribusi Responden Lama menderita DM di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 Variabel Mean Lama

SD

7,59 4,476

Min Max

95% CI

1 - 18 6,63 – 8,55

Tabel 4. menunjukkan rata-rata lama menderita DM responden adalah 7,59 tahun (95%CI : 6,63 – 8,55), dengan standar deviasi 4,476. Penderita terbaru 1 tahun dan terlama 18 tahun. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa rata-rata lama menderita DM responden adalah 6,63 tahun sampai dengan 8,55 tahun.

2012

Tabel 5. Distribusi Responden Menurut Pengetahuan di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 No Pengetahuan

Frekuensi

Persentase

1.

Kurang Baik

23

26,7

2.

Baik

63

73,3

Tabel 5. menunjukkan sebagian besar responden (73,3%) mempunyai pengetahuan yang baik tentang episode hipoglikemiadalam Tabel 6. Distribusi Responden Menurut Penggunaan Glukometer di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 No

Penggunaan Glukometer

Frekuensi

Persentase

1. Kurang Baik

54

62,8

2. Patuh

32

37,2

Tabel 6. menunjukkan lebih dari sebagian responden (62,8%) kurang baik dalam menggunakan glukometer sesuai frekuensi. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square untuk data kategorik, sedangkan untuk data numerik menggunakan uji t-independent. Tingkat kemaknaan hubungan antar variabel dilihat pada tingkat keyakinan 95% (α=0,05), artinya apabila p value hasil uji statistik = 0,05 maka variabel tersebut bermakna atau perbedaan yang diberikan suatu variabel tidak disebabkan oleh faktor kebetulan (by chance). Hubungan usia dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia menunjukkan rata-rata usia responden yang kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia kurang baik adalah 59,59 tahun dengan standar deviasi 4,592, sedangkan untuk responden yang kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia baik , rata-rata usianya 55,60 dengan standar deviasi 10, 223. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,027, berarti ada hubungan usia responden dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia.

27


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Hasil analisis hubungan tingkat pendidikan dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia menunjukkan dari 20 responden berpendidikan dasar , sebagian besar (80%) mempunyai kemampuan kurang baik dalam mendeteksi episode hipoglikemia, sedangkan dari 66 orang responden bependidikan lanjut (SMAPerguruan Tinggi) sebagian besar mempunyai kemampuan baik dalam mendeteksi episode hipoglikemia. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,001, berarti ada hubungan tingkat pendidikan dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia Hasil analisis hubungan lama menderita DM dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia menunjukkan rata-rata lama responden yang kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia kurang baik menderita DM adalah 6,05 tahun tahun dengan standar deviasi 3,677, sedangkan untuk responden yang kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia baik , rata-rata lama menderita DM 8,87 dengan standar deviasi 4,707. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,02, berarti ada hubungan lama menderita DM responden dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia. Hasil analisis hubungan Pengetahuan Dengan Kemampuan Mendeteksi Episode Hipoglikemia menunjukkan dari 23 responden dengan pengetahuan kurang baik, sebagian besar (78,3%) mempunyai kemampuan kurang baik dalam mendeteksi episode hipoglikemia, sedangkan dari 63 responden dengan pengetahuan baik, sebagian besar (66,7%) mempunyai kemampuan kurang baik dalam mendeteksi episode hipoglikemia. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,01, berarti ada hubungan pengetahuan dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia.

28

Hasil analisis hubungan penggunan glukometer dengan kejadian ulkus kaki diabetic menunjukkan dari 54 responden dengan Penggunaan glukometer kurang baik, sebagian (50%) mempunyai kemampuan kurang baik dalam mendeteksi episode hipoglikemia, sedangkan dari 32 responden dengan penggunaan glukometer baik, sebagian besar (82,5%) mempunyai kemampuan kurang baik dalam mendeteksi episode hipoglikemia. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,367 berarti tidak ada hubungan penggunaan glukometer dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh hubungan usia dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia dengan nilai p = 0,027 maka dapat dilihat adanya hubungan antara usia dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia. Dapat diartikan kelompok usia yang lebih muda memiliki kemampuan lebih baik dari pada kelompok usia yang lebih tua atau lanjut usia. Matyka et al, (2006), melakukan penelitian berkaitan dengan respon terhadap hipoglikemia dengan membandingkan dua kelompok usia yaitu 60 â&#x20AC;&#x201C; 70 tahun dan 22 -26 tahun, dimana pada kelompok usia yang lebih muda menunjukkan respon yang lebih cepat terhadap gejala hipoglikemia, artinya kelompok usia yang lebih muda memiliki kemampuan mengenal dan merespon gejala hipoglikemia lebih baik dari pada kelompok usia yang lebih tua. Hasil penelitian ini didukung dengan pendapat Sudoyo dkk (2006) bahwa Kegagalan lansia mengenal gejala hipoglikemia dimungkinkan oleh penurunan glukosensitif dan penurunan fungsi kognitif, sehingga lansia sering mengintepretasikan lain terhadap gejala hipoglikemia seperti keluhan pusing (dizzy spell) atau serangan iskemia sementara/transient ischemic attact, sehingga tindakan antisipasi dan penanganannya tidak tepat (Sudoyo, dkk, 2006).


Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kemampuan Pasien Diabetes Mellitus â&#x20AC;Ś Rohaidah, Netha Damayantie

Semakin baik kemampuan melakukan deteksi maka semakin kecil resiko berkembangnya hipoglikemia kedalam episode yang lebih berat, sehingga pada lansia diperlukan peningkatan kemampuan deteksi episode hipoglikemia lebih besar dibandingkan pada kelompok usia yang lebih muda. Pengalaman seringnya mengalami gejala hipoglikemia diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan peningkatan perilaku antisipatif terhadap kejadian gejala hipoglikemia yang berulang. Hasil uji statistik mengenai hubungan tingkat pendidikan dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia didapatkan nilai p = 0,001, berarti ada hubungan tingkat pendidikan dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia. Beberapa penelitian mengkaitkan pengetahuan dengan hipoglikemia, antara lain penelitian oleh Palaian, et al (2006), mengkaitkan pengaruh konseling terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam pengelolaan hipoglikemia. Pace, et.al, (2006), juga mengkaitkan faktor pengetahuan pencegahan hipoglikemia dalam pengelolaan diabetes. Berdasarkan kajian teoritis bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang akan mempermudah orang tersebut untuk memperoleh informasi (Sukanto, 2000). Pendidikan mempengaruhi daya serap seseorang terhadap informasi yang diterima. Seseorang dengan pendidikan yang baik lebih matang terhadap proses perubahan yang pada diri individu tersebut, sehingga lebih mudah menerima pengaruh luar yang positif, obyektif dan terbuka terhadap berbagai informasi termasuk informasi kesehatan (Notoatmodjo, 2002). Tingkat pendidikan merupakan indikator bahwa seseorang telah menempuh jenjang pendidikan formal dan bidang tertentu, walaupun bukan menjadi indikator bahwa seseorang telah menguasai beberapa bidang ilmu tertentu. Kemampuan melakukan deteksi episode hipoglikemia dihasilkan dari interaksi pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap pengelolaan hipoglikemia bisa diperoleh melalui pengalaman sendiri atau orang lain dan perkembangan teknologi.

2012

Orang yang berpendidikan tinggi akan terbiasa menggunakan teknologi informasi untuk mencari sumber informasi lain tentang hipoglikemia, seperti media atau mungkin melalui pendidikan formal . Hasil uji statistik mengenai hubungan lama menderita DM dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia didapatkan nilai p = 0,02, berarti ada hubungan lama menderita DM responden dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia.Tinjauan teori di atas sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lorenzi, et al., (1984), bahwa durasi menderita diabetes berhubungan dengan penurunan respon glukagon pada episode hipoglikemia (r = 0,53, P < 0.025), artinya semakin lama menderita diabetes maka semakin menurun respon glukagon. Pasien diabetes yang lama memiliki kecenderungan mengalami hipoglikemia. Saat terjadi hipoglikemia akut, tubuh akan berespon dengan mensekresi hormon glukagon dan ephinefrine. Hipoglikemia yang berlangsung lama akan merangsang hipofisis untuk meningkatkan sekresi kortisol dan hormon pertumbuhan untuk berperan melawan kerja insulin di jaringan perifer dan meningkatkan glukoneogenesis. Sekresi glukagon yang dihambat secara farmakologis mengakibatkan pemulihan kadar glukosa setelah hipoglikemia yang diinduksi insulin berkurang sekitar 40 %, dan bila sekresi glukagon dan ephinefrine dihambat sekaligus pemulihan glukosa tidak terjadi. Respon sel β pankreas terhadap hipoglikemia adalah dengan menghambat sekresi insulin yang merangsang terjadinya sekresi glukagon oleh sel ι. Keadaan ini bila terjadi berulang-ulang dan berlangsung lama akan menurunkan respon glukagon. Penurunan epinefin dan glukagon pada penderita DM yang lama menyebabkan hilangnya glucose counterregulation sehingga terjadi hipoglikemia yang tidak disadari atau hypoglicemia unawareness (Sudoyo, dkk., 2006).

29


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Implikasi dari teori ini adalah pada pasien DM yang semakin lama, akan sering mengalami episode hipoglikemia sehingga pasien tersebut cenderung memiliki kemampuan untuk melakukan identifikasi dan intepretasi terhadap gejala hipoglikemi yang dirasakan sebagai tindakan deteksi episode hipoglikemia. Hasil uji statistik mengenai hubungan pengetahuan dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia didapatkan nilai p = 0,01, berarti ada hubungan pengetahuan dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia. Menurut Pace, et. al, (2006) bahwa salah satu penyebab pasien mengalami hipoglikemi berat karena pasien diabetes tidak mampu mengenal gejala awal hipoglikemia, dan ketidakmampuan mengenal gejala awal hipoglikemia adalah kurangnya pengetahuan dalam mengidentifikasi dan intepretasi gejala hipoglikemia. Pendidikan kesehatan yang berkaitan dengan pemberian informasi tentang monitor glukosa darah, komplikasi akut maupun kronik, pengelolaan peningkatan dan penurunan glukosa darah harus diberikan sedini mungkin atau sejak pertama pasien terdiagnosa diabetes (Smeltzer, 2008). Sistem komunikasi juga berperan dalam meningkatkan pengetahuan pasien diabetes. Komunikasi timbal balik antara perawat dan pasien dapat dilakukan dalam layanan konsultasi berkaitan dengan peningkatan pengetahuan tentang hipoglikemia. Beberapa faktor juga turut berperan dalam peningkatan pengetahuan tentang hipoglikemia, misalnya peran keluarga dalam asuhan keperawatan, kemampuan pasien menyerap informasi, dan sebagainya. Menurut Pace, et.al, (2006), bahwa pengetahuan merupakan salah satu variabel yang sangat berpengaruh terhadap kontrol metabolisme, dan pengetahuan juga merupakan faktor fundamental dalam mencegah atau mengurangi terjadinya komplikasi diabetes mellitus baik akut maupun kronis.

30

Khan (2000) menambahkan bahwa pengalaman merasakan gejala hipoglikemia memberikan pembelajaran bagi pasien dalam identifikasi dan intepretasi gejala hipoglikemia pada episode hipoglikemia yang berulang, sehingga dapat menentukan tindakan antisipasi dan intervensi terhadap gejala hipoglikemia. Pasien yang memiliki riwayat hipoglikemia lebih mudah mengenal gejala hipoglikemia dari pada yang belum pernah mengalaminya. Menurut Khan, et.al(2000), bahwa pengetahuan tentang hipoglikemia dapat diperoleh pasian diabetes dari pengalaman (passive learning) mengalami gejala hipoglikemia. Pengetahuan tentang hipoglikemia memberikan dasar terhadap pemahaman tentang pengenalan, intepretasi gejala hipoglikemia dan pengambilan keputusan berupa intervensi baik secara mandiri maupun dengan bantuan orang lain. Pasien diabetes dengan pengetahuan hipoglikemia yang baik memiliki kemampuan identifikasi terhadap respon tubuh akibat penurunan glukosa darah dan kemudian mengintepretasikan sebagai keadaan yang memerlukan tindakan yang tepat. Penanganan hipoglikemia secara tepat akan mencegah resiko terjadinya severe hypoglycemia, namun tindakan yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang tepat akan menimbulkan keadaan yang lebih berbahaya. Hasil uji statistik mengenai hubungan penggunaan glukometer dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia didapatkan nilai p = 0,367 berarti tidak ada hubungan penggunaan glukometer dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia. Glukometer merupakan alat untuk mengukur gula dalam darah yang dapat dilakukan sendiri oleh pasien. Pada pasien dengan terapi insulin pemeriksaan gula darah dilakukan 3 â&#x20AC;&#x201C; 4 kali sehari yaitu sebelum makan dan sebelum tidur. Tetapi penggunaan glukometer ada juga yang belum tepat , dimana dari seluruh responden yang memiliki glukometer hanya 32 (37,2%) yang menggunakan glukometer dengan benar.


Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kemampuan Pasien Diabetes Mellitus â&#x20AC;Ś Rohaidah, Netha Damayantie

Penelitian yang dilakukan oleh Tomky, (2005) bahwa Self Monitoring blood Gluikose memberikan keuntungan yang signifikan dalam mengontrol glukosa darah pada pasien diabetes dan mengurangi resiko komplikasi makrovaskuler maupun mikrovaskuler (Austin, et al, 2006). Berdasarkan pembahasan di atas disimpulkan bahwa pada pasien diabetes yang memiliki glukometer tidak semuanya memiliki kemampuan deteksi melalui kontrol glukosa darah dengan metode SMBG dan pasien diabetes yang tidak memiliki glukometer mampu mengontrol glukosa darah dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau seperti rumah sakit, puskesmas, praktek dokter, perawat dan bidan. Kontrol glukosa darah sebagai upaya deteksi episode hipoglikemia tidak secara mutlak bergantung pada ketersediaan glukometer dan metode SMBG, namun kontrol glukosa darah melalui pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan secara teratur juga perperan dalam meningkatkan upaya deteksi episode hipoglikemia.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan mendeteksi episode hipoglikemi lebih dari sebagian responden baik (55%), rata-rata usia responden adalah 57,41 tahun (95%CI : 55,61 â&#x20AC;&#x201C; 59,20), dengan standar deviasi 8,366. Sebagian besar (76,7%) pendidikan formal responden adalah pendidikan lanjut, rata-rata lama menderita DM responden adalah 7,59 tahun (95%CI : 6,63 â&#x20AC;&#x201C; 8,55), dengan standar deviasi 4,476. Sebagian besar responden (73,3%) mempunyai pengetahuan yang baik tentang episode hipoglikemia, lebih dari sebagian responden (62,8%) kurang baik dalam menggunakan glukometer sesuai frekuensi. Pada pasien yang berobat di Poli Penyakit Dalam RSUD Rd. Mattaher tahun 2011 ditemukan: (1) Ada hubungan usia dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia; (2) Ada hubungan tingkat pendidikan dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia; (3) Ada hubungan pengetahuan dengan

2012

kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia; (4) Ada hubungan lama atau durasi menderita diabetes dengan kemampuan mendeteksi episode hipoglikemia; (5) Tidak ada hubungan penggunaan glukometer dengan kemampuan mendeteksi episode. Disarankan pada RSUD Raden Mattaher Jambi untuk menetapkan standar pendidikan kesehatan secara berkesinambungan, misalnya penggunaan model discharge planning, sehingga pengetahuan pasien Diabetes Mellitus dapat ditingkatkan, dimonitor dan dievaluasi serta membuka dan meningkatkan layanan konseling bagi pasien diabetes terutama yang memiliki resiko hipoglikemia. Disarankan pula untuk memberikan health education tentang hipoglikemia, secara berkesinambungan dan berfokus pada kemandirian dalam mendeteksi dan mengelola hipoglikemia. Health education dapat dilakukan dengan menggunakan metode discharge planning, dimana sejak dini (mulai terdiagnosa diabetes atau kunjungan pertama) diberikan informasi tentang pengenalan gejala dan penanganan hipoglikemia, selanjutkan pasien dipersiapkan untuk melakukan self care seperti penggunaan insulin, pengenalan gejala dan penanganan hipoglikemia. Disarankan bagi peneliti Poltekkes Jambi bahwa Penelitian ini dapat menjadi dasar penelitian bagi untuk melakukan riset lebih lanjut tentang kemampuan mendeteksi episode hipoglikemi dengan meneliti pencegahan dan penanganan hipoglikemia. DAFTAR PUSTAKA

Austin, M.M., Haas, L., Johnson, T., Parkin, C.G., Parkin, C.L., Spollett, G., et al, 2006, Selfmonitoring of blood glucose : benefits and utilization, American Association of Diabetes Educators, 32 (6), 835 â&#x20AC;&#x201C; 846. Cryer PE. 2002, Hypoglycaemia: The limiting factor in the glycaemic management oftype I and type II diabetes. Diabetologia; 45:937948

Hudak, C.M.& Gallo, B.M., 2005, Critical care nursing : A Holistik Approach, th 6 edition, Philadelphia, Lippincott Company.

31


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Khan, L.A, Khan, S.A., 2000, Level of knowledge and self-care in diabetics in a community hospital in najran, Annals Of Saudi Medicine, 20 (3-4), 300-301. Lorenzi, M, Bohannon, N., Tsalikian, E., Karam, J., 1984, Duration of type i diabetes affect glucagon and glucose responses to insulininduced hypoglycemia, West J Med, 141, 467-471. Matika, J., 2006, Dispelling myths and removing barriers about insulin in type 2 diabetes. American Association of Diabetes Educators, 32 (9), 14s â&#x20AC;&#x201C; 16s. Notoatmodjo, S., 2002, Pendidikan dan perilaku kesehatan, Jakarta, Rineka Cipta. Pace, A.E., Vigo, K.O., Caliri, M.H.L., Fernandes, A.P.M., 2006, Knowledge on diabetes mellitus in self care process. Disponible en Castellano, 14 (5), 728 -734.

32

Palaian, S., Acharya, L.D, Rao, P.G.M., et al. 2006. Knowledge, attitude, and practice outcome : evaluating the impact of counseling in hospitalized diabetic patienf in india. P&T Around the World, 31 (7), 383 -395. Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. 2002. Buku Ajar keperawatan Medikal bedah. Ed 8. Alih Bahasa : Agung Waluyo dkk. Jakarta :EGC

Sudoyo, A.W.,Setyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., & Setiati, S., 2006, Ilmu penyakit dalam, 3, Jakarta, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sukanto, 2000, Sosial budaya dasar, Gravindo Persaja, Jakarta. Tomky DM. 2005. Detection, Prevention and Treatment of Hypoglycaemia in the Hospital, Diabetes Spectrum18(1): 3944.


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN TINGKAT KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA MURID KELAS IV DAN V SDN 182/IV KEC. JELUTUNG KOTA JAMBI TAHUN 2012 Akmam Agoes, Dede Indah Putri

Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Jambi

ABSTRAK

Kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu faktor lokal yang berpengaruh secara dominan dalam terjadinya penyakit gigi. Prevalensi masalah gigi dan mulut bervariasi. Menurut karakteristik responden, prevalensi masalah gigi dan mulut dan kehilangan gigi asli, menunjukkan kecendrungan menurut umur. Semakin tinggi umur, semakin meningkat prevalensi masalah gigi dan mulut. Kelompok umur 10-14 tahun ditemukan 22,8% masalah gigi dan mulut dan yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi sebesar 28,8%. Perilaku waktu menggosok gigi pada kelompok umur 10-14 tahun, 4,4 % sesudah sarapan pagi, dan 15,2% sebelum tidur malam. Penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran atau situasi. Metode yang digunakan untuk mengambil sampel yaitu Total Sampling . Dimana seluruh populasi dari kelas IV dan V dijadikan sampel yaitu sebanyak 36 orang. Hasil pengetahuan murid 60% tidak mengetahui penyebab bau mulut, 75% tidak mengetahui cara menyikat gigi yang benar, 50% tidak mengetahui makanan yang menyehatkan gigi, dan 75% tidak mengetahui pentingnya pemeriksaan gigi. Tingkat kebersihan gigi dan mulut murid kelas IV dan V yang paling tinggi adalah kriteria sedang sebesar 63,9%, kriteria baik sebesar 25% dan kriteria buruk sebesar 11,1% Kata kunci

: pengetahuan, status kebersihan gigi dan mulut

PENDAHULUAN

Anak usia sekolah dasar disebut juga sebagai masa sekolah, anak yang berada pada masa ini berkisar antara 6-12 tahun. Masa bersekolah dalam periode ini sudah menampakkan kepekaan untuk belajar sesuai dengan sifat ingin tahu anak (Kawuryan, 2008). Pembangunan kesehatan memberikan prioritas kepada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan tidak mengabaikan upaya penyembuhan, pemulihan kesehatan termasuk pada anak usia sekolah dasar tercapai derajat kesehatan secara optimal. Adapun untuk menunjang upaya kesehatan yang optimal maka upaya di bidang kesehatan gigi perlu mendapat perhatian (Depkes RI, 2000).

Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2005). Menurut Suwelo, (1992) anak masih sangat tergantung pada orang dewasa dalam hal menjaga kebersihan dan kesehatan gigi karena kurangnya pengetahuan anak mengenai kesehatan gigi dibanding orang dewasa. Persatuan dokter gigi Australia (cit.Machfoedz, dan Zein, 2005) pernah mengungkapkan bahwa kesehatan gigi geligi anak adalah tanggung jawab ibunya. Hal ini dapat dipahami karena umumnya yang paling dekat dengan anak sejak usia menyusui, adalah ibunya.

33


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu faktor lokal yang berpengaruh secara dominan dalam terjadinya berbagai penyakit gigi. Kerusakan gigi dan jaringan penyangga dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kebersihan mulut yang buruk. Mulut dikatakan bersih apabila gigigigi yang terdapat di dalamnya bebas dari plak dan kalkulus. Untuk menilai kebersihan mulut seseorang dapat digunakan kriteria OHI-S (Oral Hygiene Indeks-Symplyfied) dari Green Vermillion. Penilaian meliputi debris dan kalkulus pada gigi indeks (Nio, 1987). Hasil penelitian derajat kesehatan gigi dan mulut (OHI-S) siswa berusia 12 tahun di provinsi Jambi adalah 1,84 dan termasuk dalam kriteria sedang (Siregar dkk, 2000). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih kurang kesadaran pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut diantara para siswa. Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta pembinaan kesehatan gigi terutama pada kelompok anak sekolah perlu mendapat perhatian khusus sebab pada usia ini anak sedang menjalani proses tumbuh kembang. Keadaan gigi sebelumnya akan berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan gigi pada usia dewasa nanti. Bila ditinjau dari berbagai upaya pencegahan karies gigi melalui kegiatan UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) seharusnya pada usia anak-anak sekolah dasar memiliki angka karies rendah, akan tetapi dilihat dari kenyataan yang ada dan berdasarkan laporan-laporan penelitian yang telah dilakukan sebagian besar datanya menunjukkan adanya tingkat karies gigi pada anak sekolah yang cukup tinggi (Wahyuningrum, 2002). SDN 182/IV Kelurahan Lebak Bandung Kecamatan Jelutung Kota Jambi merupakan salah satu SD UKGS dalam wilayah kerja Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi. Program UKGS dilaksanakan setiap 3 bulan sekali dalam 1 tahunnya. Kegiatan ini meliputi penjaringan kesehatan (screening), penyuluhan tentang kesehatan gigi yaitu : apa itu karies, plak dan akibatnya, makanan yang menyehatkan dan merusak gigi, cara menyikat gigi dan sikat gigi massal.

34

Beberapa sekolah dasar yang menjadi lokasi binaan Puskesmas Simpang Kawat bisa dikatakan maju, baik dari segi UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) maupun UKGS. Tetapi belum semua SD binaan Puskesmas Simpang Kawat mendapat perhatian mengenai kesehatan gigi, seperti halnya dengan SDN 182/IV Kelurahan Lebak Bandung Kecamatan Jelutung Kota Jambi. Setelah dilakukan wawancara pada sekolah tersebut, diketahui bahwa program UKS telah berjalan Âą5 tahun, sedangkan kegiatan UKGS baru berjalan 4 tahun. Kegiatan kuratif sederhana dan preventif seperti, scalling dan fluor tidak dapat dilakukan karena tidak adanya fasilitas yang memadai. Kegiatan UKGS yang dapat dilakukan hanyalah penyuluhan dan sikat gigi massal. Peneliti memilih lokasi di SDN 182/IV Kelurahan Lebak Bandung Kecamatan Jelutung Kota Jambi karena rata-rata tingkat pendidikan dan ekonomi orang tua murid masih sangat rendah. Dari data awal satmikal mengenai orang tua murid, terlihat kebanyakan tamat SD, SMP, SMA. Oleh karena itu, peneliti ingin sekali mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan dan status kebersihan mulut murid SDN 182/IV Kelurahan Lebak Bandung Kecamatan Jelutung Kota Jambi pada tahun 2012.

BAHAN DAN CARA KERJA

Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif, yaitu untuk menjelaskan atau menguraikan keadaan dalam suatu komunitas atau masyarakat. Suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran situasi (Herijulianti, dkk, 2002). Dimana penulis ingin mengetahui tingkat pengetahuan dan status kebesihan mulut murid kelas IV dan V SDN 182/IV Kelurahan Lebak Bandung Kecamatan Jelutung Kota Jambi tahun 2012.


Hubungan Pengetahuan tentang Kesehatan Gigi dan Mulutâ&#x20AC;Ś. Akmam Agoes, Dede Indah Putri

Populasi dari penelitian ini adalah murid kelas IV dan V Sekolah Dasar Negeri 182/IV Kelurahan Lebak Bandung Kecamatan Jelutung Kota Jambi yang berjumlah 36 murid.Metode yang digunakan untuk pengambilan sampel tersebut dengan cara total sampling, dimana seluruh populasi dijadikan sampel, jadi sampel dalam penelitian ini adalah 36 murid. Variabel penelitian yaitu pengetahuan tentang penyakit gigi dan mulut, menyikat gigi dan frekuensi menyikat gigi, makanan yang membantu membersihkan gigi serta merusak gigi, mengontrol kesehatan gigi dan mulut dan status kebersihan gigi dan mulut murid kelas IV dan V SDN 182/IV Kelurahan Lebak Bandung Kecamatan Jelutung Kota Jambi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Telah dilakukan penelitian pada murid kelas IV dan V di SDN 182//IV Kecamatan Jelutung Kota Jambi Tahun 2012 yang berjumlah 20 orang kelas IV sebesar 56%, dan murid kelas V berjumlah 16 orang sebesar 44% dengan jumlah keseluruhan 36 orang. Pada tabel 7 dapat diketahui bahwa distribusi ratarata OHI-S pada murid kelas IV dan V SDN 182/IV Kecamatan Jelutung Kota Jambi sebesar 2,0 dengan kriteria sedang. Nilai OHI-S tertinggi terdapat pada murid kelas V (2,2) dan nilai OHI-S rendah terdapat pada murid kelas IV (1,8). Hal ini relatif lebih tinggi dari penelitian Siregar dkk (2000) tetapi kriterianya samasama sedang yaitu derajat kebersihan gigi dan mulut siswa berusia 12 tahun di Provinsi Jambi adalah 1,84 dan juga termasuk dalam kriteria sedang. Menurut Tarigan (1990) kebersihan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar masih harus diperhatikan karena kebersihan gigi dan mulut yang tidak dijaga dapat menyebabkan penyakit jaringan penyangga gigi dan penyakit karies gigi. Penyakit gigi yang banyak diderita masyarakat yaitu penyakit karies gigi dan penyakit jaringan penyangga gigi.

2012

Untuk itu program UKGS perlu terus dilaksanakan pada anak usia sekolah (Depkes RI, 2004). Untuk mencegah terbentuknya calculus adalah dengan mencegah terbentuknya lapisan plak pada gigi (Nio, 1987). Walaupun sudah termasuk kriteria sedang , tetapi masih ada beberapa murid yang memiliki OHI-S berkriteria buruk. Hal ini dapat di sebabkan karena masih adanya kebiasaan murid yang kurang baik dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Hasil Riskesdas tahun 2007 (Depkes RI, 2008) menunjukkan bahwa sebagian besar (92,8%) penduduk umur 10 tahun ke atas mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari. Dari mereka yang menggosok gigi setiap hari sebagian besar dilakukan pada saat mandi atau sore (94,5%) tidur malam hari(17,1%), hanya sedikit yang melakukannya pada saat setelah makan pagi dan sebelum tidur (6,6%). Menurut Macfoedz (2005), bahwa kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari, yakni pada waktu mandi saja, itu tidak benar dan salah besar. Karena sesudah menyikat gigi pagi diwaktu mandi, orang akan makan pagi. Setelah makan pagi, jika hanya berkumur-kumur sisa makanan tidak akan hilang, terutama plak. Demikian juga menyikat gigi pada waktu mandi sore, masih akan menghadapi makan malam dan makanan kecil lainnya pada sore hari. Kuman paling efektif akan merusak email gigi, ialah sekitar setengah jam setelah selesai makan. Pada saat itu sisa makanan dirubah oleh kuman menjadi asam yang dapat melunakkan email gigi. Menurut Pratiwi (2007) menyikat gigi yang tepat yaitu setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah seseorang tersebut melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu, pengetahuan atau kongnitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007).

35


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Hasil penelitian pengetahuan tentang penyakit gigi dan mulut berkriteria sedang sebesar 58,3%. Sedangkan dari hasil jawaban kuesioner diketahui bahwa 60% murid kelas V tidak mengetahui penyebab bau mulut, sedangkan 75% murid kelas IV mengetahui penyebab bau mulut. Notoatmodjo (2007), mengatakan pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan (kelas). Selain pendidikan, pengetahuan seseorang dipengaruhi juga oleh kepribadian dan latar belakang sosial yang berbeda. Menurut Pratiwi (2007) penyebab bau mulut antara lain lubang gigi yang besar dan dalam jumlah yang banyak, gangguan periodontal atau gusi, infeksi atau bengkak dalam mulut, kanker dalam mulut, kondisi kekeringan dalam mulut, alergi dan perkembangan kuman anaerob. Namun bau mulut ini dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu melakukan penyikatan gigi secara teratur, kemudian periksa area yang bermasalah dalam mulut seperti gusi, gigi berlubang, tambalan yang bocor, bentuk tambalan tidak baik. Bila hal ini dibiarkan maka sisa makanan mudah melekat dan sulit dibersihkan akibatnya dapat menimbulkan bau mulut. Selain itu cara mengatasi bau mulut juga dapat dengan membiasakan mengunyah permen karet tanpa kandungan gula untuk meningkatkan produksi air liur, memilih jenis sayuran seperti wortel atau seledri sebagai cemilan, mempertahankan kelembaban mulut dengan minum air delapan gelas perhari dan membersihkan gigi dan lidah menggunakan pasta gigi dengan baking soda. Hasil penelitian pengetahuan tentang menyikat gigi berkriteria sedang sebesar 55% sedangkan dari hasil jawaban kuesioner diketahui bahwa 75% murid kelas IV dan V tidak mengetahui gerakan menyikat gigi kesemua permukaan.

36

Sebagaimana kita ketahui bahwa menyikat gigi dan gusi merupakan tindakan pencegahan dan perawatan menuju kebersihan serta kesehatan rongga mulut, salah satu caranya adalah menyikat gigi dengan tehnik yang benar dan tepat (Nio, 1987). Herijulianti dkk (2002) mengatakan salah satu kegiatan UKGS yaitu pencegahan penyakit gigi dan mulut yakni sikat gigi massal secara berkesinambungan minimal 1 kali dalam sebulan. Hasil penelitian pengetahuan tentang makanan yang menyehatkan dan merusak gigi berkriteria tinggi sebesar 55,5%, sedangkan dari hasil jawaban kuesioner diketahui bahwa 50% murid kelas V tidak mengetahui makanan yang menyehatkan gigi, sedangkan 70% murid kelas IV mengetahui makanan yang menyehatkan gigi. Menurut Pratiwi (2007) buah-buahan, wortel dan jenis sayuran lainnya serta kacang dan keju termasuk jenis makanan yang di rekomendasikan yang dapat menyehatkan gigi. Sedangkan akibat yang ditimbulkan bila sering mengkonsumsi makanan manis dan melekat seperti cokelat, permen dan biskuit adalah gigi berlubang. Hasil penelitian pengetahuan tentang mengontrol kesehatan gigi berkriteria rendah sebesar 58,3%, dan dari hasil jawaban kuesioner terlihat 75% murid kelas IV tidak mengetahui pentingnya pemeriksaan gigi secara berkala. Secara profesional, kita perlu mengunjungi dokter gigi secara rutin tiap enam bulan sekali untuk pembersihan yang tidak dapat kita lakukan dirumah selain itu juga pemeriksaan gigi secara berkala ini sangatlah penting karena kita dapat mendeteksi awal gangguangangguan gigi dan mulut yang mungkin belum kita sadari (Pratiwi, 2009). Hal ini dapat disebabkan kesadaran pada murid kelas IV akan pentingnya pemeriksaan gigi belum sepenuhnya tertanam pada diri sendiri, serta kurangnya motivasi murid dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya.


Hubungan Pengetahuan tentang Kesehatan Gigi dan Mulutâ&#x20AC;Ś. Akmam Agoes, Dede Indah Putri

Jika murid mempunyai motivasi untuk memelihara kesehatan gigi dan mulut, maka murid akan melakukan tindakan yang dapat menjaga kesehatan gigi (Terry, 1986 cit. Notoatmodjo,2007). Untuk menjaga kesehatan gigi perlu dilakukan kunjungan ke dokter gigi untuk pemeriksaan rutin. Minimal pemeriksaan dilakukan 6 bulan sekali. Gambar-gambar tentang kesehatan gigi perlu dipasang di kamar dimana anak suka belajar, hal ini diharapakan anak-anak sudah mengenal sejak dini dan senang diperiksa ke Puskesmas sehingga tertanam pada diri anak untuk tidak takut berobat dan suka diperiksa di kilnik gigi (Machfoedz dan Zein, 2005). Gigi pada anak-anak lebih mudah terserang karies, oleh karena itu anak harus membersihkan gigi lebih sering bila mungkin sehabis makan. Tujuan membersihkan gigi adalah untuk menghilangkan plak, karena plak adalah penyebab utama penyakit gigi berupa karies dan penyakit periodontal (Boediharjo,1985). Dari hasil penelitian OHI-S murid kelas IV dan V SDN 182/IV kecamatan Jelutung Kota Jambi, berkriteria sedang di harapkan dapat turun menjadi 1,2 dengan kriteria baik. Untuk itu di harapkan program UKGS agar dapat berjalan secara berkesinambungan minimal 1 kali dalam sebulan dan seringnya dilakukan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut untuk meningkatkan pengetahuan murid menjadi lebih baik. Tabel 1. Analisis chi-square hubungan pengetahuan dengan OHI-S Pada Murid Kelas IV dan V SDN 182/IV Kecamatan Jelutung Jambi Tahun 2012 Variabel

OHI-S

Baik n

%

Kurang baik n %

pval ue Total N

%

Pengetahuan Kurang baik Baik

5 22.7 17 77.3 22 100 6 42.9 8 57.1 14 100

0.043

Berdasarkan hasil penelitian berdasarkan analisis diketahui ada hubungan bermakna (p=0,043) atau signifikan p<0,05 antara pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan OHI-S. Menurut Tarigan (1990)

2012

kebersihan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar masih harus diperhatikan karena kebersihan gigi dan mulut yang tidak dijaga dapat menyebabkan penyakit jaringan penyangga gigi dan penyakit karies gigi. Hasil penelitian ini masih ada responden yang pengetahuan yang baik namun terdapat OHIS buruk. Hal ini dimungkinkan tingkatan pengetahuan yang dimiliki hanya pada tingkatan tahu dan memahami tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Namun dalam prakteknya murid masih banyak yang belum menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu upaya promotif berupa penyuluhan kesehatan gigi yang telah dilakukan belum merubah kebiasaan murid SD tersebut dalam mencegah terjadinya karies gigi. Oleh sebab itu supaya penyuluhan bisa tercapai dengan optimal perlu didukung oleh peragaan model, poster, agar sasaran yang dicapai dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikan sehingga apa yang diharapkan bisa diaplikasikan baik di rumah atau di sekolah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan tentang penyakit gigi dan mulut yaitu kriteria tinggi sebesar 33,3%, berkriteria sedang sebesar 58,3% dan berkriteria rendah sebesar 8,4%. Pengetahuan tentang menyikat gigi yaitu kriteria tinggi sebesar 16,7%, berkriteria sedang sebesar 55,5% dan berkriteria rendah sebesar 27,8%. Pengetahuan tentang Makanan yang Menyehatkan dan Merusak Gigi yaitu berkriteria tinggi sebesar 55,5%, berkriteria sedang sebesar 41,7% dan berkriteria rendah sebesar 2,8%. Pengetahuan tentang mengontrol kesehatan gigi yaitu berkriteria tinggi sebesar 22,2%, berkriteria sedang sebesar 19,5% dan berkriteria rendah sebesar 58,3%. Skor rata-rata Debris Index (DI) pada murid kelas IV dan V SDN 182/IV Kecamatan Jelutung Jambi tahun 2012 adalah 1,5 yang berkriteria sedang. Skor rata-rata Calculus Index (CI) pada murid kelas IV dan V SDN 182/IV Kecamatan Jelutung Jambi tahun 2012 adalah 0,5 yang berkriteria baik. Rata-rata

37


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

OHI-S pada murid kelas IV dan V SDN 182/IV Kecamatan Jelutung Jambi tahun 2012 yaitu 2,0 dengan kriteria sedang. Bagi Murid disarankan agar lebih meningkatkan kebersihan dan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Bagi Orang Tua, agar lebih menerapkan kebiasaan dan kedisiplinan dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak serta harus tetap memantau kebersihan gigi dan mulut anaknya. Bagi Sekolah disarankan agar lebih meningkatkan program UKGS untuk mencapai derajat kesehatan gigi dan mulut murid SD yang optimal. Bagi Puskesmas disarankan untuk melaksanakan dan meningkatkan upaya kesehatan gigi di wilayah kerjanya terutama upaya promotif, preventif, dan kuratif sederhana pada murid SD serta menyelenggarakan pelatihan guru dan dokter gigi kecil. Memberikan bantuan pada UKGS SDN 182/IV berupa penyediaan alat untuk melakukan kegiatan kuratif.

DAFTAR PUSTAKA

Boediharjo, 1985, Pemeliharaan kesehatan gigi keluarga, Airlangga University Press, Surabaya. DepkesRI,2000,Pedoman Upaya Pelayan an KesehatanGigi dan Mulut di Puskesmas,.Direktorat Kesehatan Gigi, Jakarta. Depkes RI., _________, 2004, Pedoman Kesehatan Gigi dan Masyarakat (UKGM), Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

38

_________, 2008, Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Jakarta. Kawuryan U., 2008. Hubungan Pengetahuan tentang Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Kejadian Karies Gigi Anak SDN Kleco II Kelas V dan VI Kecamatan Laweyan Surakarta. Indonesia: Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Machfoedz, I dan Zein Y.A., 2005, Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-Anak dan Ibu Hamil, Fitra Maya, Yogyakarta. Nio, B. K., 1987. Preventif Dentistry untuk Sekolah Pengatur Perawat Gigi. Yayasan Kesehatan Gigi Indonesia, Bandung. Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Notoatmodjo. 2005. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Notoatmodjo. 2005. Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta Pratiwi, Dona . 2007. Gigi Sehat Merawat Gigi Sehari-hari, Kompas, Jakarta. Siregar, dkk., 2000. Derajat Karies Gigi (DMF-T) dan Derajat Kebersihan Mulut (OHI-S) Siswa Kelas VI SD Berusia 12 Tahun di Propinsi Jambi, Laporan Penelitian Bina Diknakes Edisi 37 Oktober. Suwelo, IS. 1992. Karies Gigi pada Anak dengan Pelbagai Faktor Etiologi. Jakarta: EGC Tarigan, .R., 1990, Karies Gigi , Hipokrates, Jakarta. Wahyuningrum. 2002. Beberapa Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut. Jakarta : EGC.


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

EFEKTIVITAS METODE CERAMAH PLUS DISKUSI DENGAN METODE CERAMAH PLUS ROLE PLAY DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN INTENSI PADA PENYALAHGUNAAN NARKOBA SISWA SLTA DI KOTA JAMBI TAHUN 2011 Wittin Khairani, H. Ismail HS, Musliha Staf Pengajar Jurusan Keperawatan Poltekkes Jambi

ABSTRAK

Masalah penyalahgunaan narkoba merupakan masalah yang multidimensi. Faktor yang sangat berperan dalam masalah tersebut adalah faktor hukum, sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Data yang berhasil dihimpun Badan Narkotik Nasional (BNN), Propinsi Jambi berada di peringkat ke-16 se-Indonesia dalam kasus penyalahgunaan narkoba. Sasaran adalah generasi muda mulai dari tingkat SMP, SMU hingga perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan metode promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan kecenderungan perilaku ( intensi) pada siswa Sekolah Lanjutan Menengah Atas di Kota Jambi. Penelitian diselenggarakan pada anak Sekolah Lanjutan Menengah Atas Adyaksa I dan Sekolah Lanjutan Menengah Atas Ferdy Ferry. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi-experimental ) dengan rancangan non-equivalent control group design with pretest and posttest. Penelitian ini dilakukan dengan membagi kelompok eksperimen menjadi 2 kelompok untuk melihat pengaruh dan perbedaan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi dibandingkan dengan metode ceramah plus role play. Hasil penelitian menunjukkan promosi kesehatan tentang bahaya penyalah gunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play lebih efektif meningkatkan pengetahuan, sikap dan kecenderungan perilaku (intensi) dibandingkan dengan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi pada siswa sekolah lanjutan atas dengan hasil uji independen t-test p=0,000. Kata Kunci : penyalahgunaan narkoba, promosi kesehatan, pengetahuan, sikap dan kecenderungan perilaku (intensi)

PENDAHULUAN Promosi Kesehatan dengan pendekatan pendidikan kesehatan adalah suatu proses pengalihan pengetahuan, sehingga individu dapat memahami informasi yang disampaikan sesuai dengan tujuan. Keberhasilan dalam promosi kesehatan dan proses pendidikan kesehatan dipengaruhi oleh strategi, metode dan alat bantu pelajaran yang digunakan (Stanley, 1987) Metode yang digunakan dalam pendidikan kesehatan didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan pendidikan kesehatan menurut Depkes (1984) meliputi 3 hal, yaitu: pengetahuan, (knowledge), perubahan sikap (attitude) dan keterampilan atau tingkah laku (practice) yang berhubungan dengan masalah kesehatan. Semakin tepat memilih metode semakin efektif pula

pencapaian tujuannya. Metode ceramah adalah sebuah metode mengajar yang paling klasik, tetapi masih digunakan orang dimana-mana hingga sekarang. Metode ceramah ialah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif dan monolog dan hubungan satu arah (one way Communication) (Syah, 2007). Meskipun begitu, para guru yang terbuka kadang â&#x20AC;&#x201C; kadang memberikan peluang bertanya kepada sebagian kecil siswanya. Metode ceramah ini juga dikenal dengan Green et al. (1980) menyatakan bahwa metode role play adalah suatu metode pemberian pengalaman dengan menggunakan model situasi hidup nyata untuk merangsang dan membantu belajar. Bermain peran dapat mengembangkan keterampilan empati.

39


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Hasil pendidikan yang diharapkan dengan bermain peran adalah peningkatan sikap dari individu. Role play menekankan pada pembelajaran tentang tingkah laku dan nilai-nilai sosial. Inti dari bermain peran (role play) adalah agar peserta dapat benar-benar merasakan keadaan seperti yang sebenarnya, dapat memahami dan kemudian mencari solusinya. Penerapan bermain peran sangat fleksibel, serba guna untuk mencapai sejumlah tujuan pengajaran. Melalui bermain peran diharapkan mahasisiwa dapat meningkatkan kemampuan mengenal perasaan dirinya dan orang lain, dapat memetik pengalaman baru serta meningkatkan keterampilan memecahkan masalah. Bermain peran terdiri dari 9 tahap, meliputi: 1) merangsang semangat kelompok, 2) memilih peran, 3) mempersiapkan pengamat, 4) mempersiapkan tahap-tahap peran, 5) pelaksanaan bermain peran, 6) mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan isi peran, 7) peranan ulang, 8) mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan isi peran dan 9) mengkaji kemamfaatan dalam kehidupan nyata, tukar menukar pengalaman dan menarik generalisasi. Adapun tujuan bermain peran adalah untuk mengeksplorasi perasaan-perasaan, memperoleh pemahaman tentang sikap-sikap, nilai-nilai dan persepsi, mengembangkan keterampilan dan sikap untuk pemecahan masalah dan menelaah pokok masah, peran dan pemecahan masalah (Walkitri et al, 2000 ). Metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan belajar memecahkan masalah (problem solving). Tujuan penggunaan metode diskusi adalah untuk memotivasi dan memberi stimulasi kepada siswa agar berpikir dengan renungan yang dalam, (Syah, 2007). Promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus diskusi dan melalui metode ceramah plus role play pada siswa SLTA dimaksudkan untuk menanamkan pemahaman serta menumbuhkan kesadaran siswa SLTA untuk waspada dan peduli terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba bagi kesehatan dan masa depan. Penggunaan metode promosi kesehatan yang efektif, diharapkan informasi yang disampaikan dapat

40

diterima dan diserap dengan baik sesuai dengan harapan, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan sikap para siswa SLTA tentang bahaya peyalahgunaan narkoba bagi kesehatan dan masa depan. Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti perasaan, pikiran, suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dan sebagainya. Penggolongan Narkoba ada 3 golongan yaitu: 1) Narkotik : untuk menurunkan kesadaran atau rasa, 2) Psikotropika : mempengaruhi psikis dari pengaruh selektif susunan syaraf pusat otak, 3) Obat atau zat berbahaya. Dampak penyalahgunaan narkoba adalah perubahan peranan, daya fantasi yang berlebihan, Ikatan kelompok yang kuat, Krisis identitas, dalam pergaulan sering berkelahi, suka melanggar peraturan dan suka mencuri dan menjual barang. Permasalahan yang terjadi di Indonesia bahwa angka pengguna penyalahgunaan narkoba terus meningkat selama dua tahun terakhir ini. Menurut data BNN, mengungkapkan pada tahun 2008 pengguna narkoba tercatat 3,2 juta orang dan pada tahun 2010 pengguna narkoba meningkat menjadi 3,6 juta orang. Rinciannya adalah generasi muda dan usia produktif, yakni 20-34 tahun adalah pengguna narkoba terbanyak. Mereka terdiri dari mahasiswa dan pelajar berjumlah 921.695 orang. Menurut Data dari Direktur Narkoba Polda Jambi Kombes Pol Edi Purwanto mengatakan perkembangan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Jambi dari tahun ke tahun memperlihatkan kecenderungan peningkatan. Pada tahun 2007, tercatat 488 tersangka, tahun 2008 tercatat 532 tersangka, tahun 2009 tercatat 641 tersangka dan tahun 2010 tercatat 721 tersangka. Data dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Propinsi Jambi, mencatat jumlah pengunjung dan pasien narkoba mendapatkan perawatan selama tahun 2007 sebanyak 459 orang dimana jumlah penderita terbanyak dari Kota Jambi mencapai 356 penderita. Tahun 2008, mencatat sebanyak 501 orang, dan tahun 2009, mencatat sebanyak 523 orang, dengan jumlah penderita masih didominasi oleh penduduk Kota Jambi


Efektivitas Metode Ceramah Plus Diskusi dengan Metode Ceramah Plus Role Play â&#x20AC;Ś Wittin Khairani, H. Ismail HS, Musliha

dengan umur penderita 17 â&#x20AC;&#x201C; 23 tahun (RSJ, 2009). Mengingat permasalahan yang ada di Kota Jambi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba sangat serius mengancam generasi penerus bangsa kita perlu adanya intervensi melalui promosi kesehatan dengan menggunakan metode promosi kesehatan yang efektif guna meningkatkan pengetahuan, menumbuhkan kesadaran dan menanamkan sikap yang positif serta meningkatkan kecenderungan perilaku (intensi) yang positif untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba lebih meluas lagi kepada pelajar-pelajar di Kota Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan metode promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan kecenderungan perilaku (intensi) pada siswa Sekolah Lanjutan Menengah Atas di Kota Jambi.

2012

BAHAN DAN CARA KERJA Kerangka teori dalam penelitian ini mengacu pada teori yang dikemukakan Smith (cit. Purwanto, 2004) keberhasilan pendidikan dipengaruhi oleh raw input, environmental input dan instrumental input. Raw input dalam hal ini adalah siswa, mereka memiliki karakteristik tertentu baik fisiologis maupun psikologis. Environmental input meliputi lingkungan fisik, sosial dan alam sekitarnya, sedangkan instrumental input adalah faktor-faktor yang sengaja dirancang dan dimanipulasikan seperti bahan pelajaran, metode yang digunakan, sarana dan fasilitas serta manajemen yang berlaku termasuk alokasi waktu. Pendekatan sistem tersebut dapat digambarkan sebagai berikut

KERANGKA TEORI PENELITIAN

Instrumental Input

Raw Input

Teaching learning Process

Out Put

Enviromental Input

Gambar 1. Faktor-faktor yang menpengaruhi proses dan hasil belajar menurut Smith (cit.Purwanto, 2004)

Proses promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba dipengaruhi oleh raw input, environmental input dan instrumental Input. Untuk menghindari terjadinya bias pada penelitian, maka harus dikendalikan faktor-faktor yang berhubungan dengan enviromental input dan instrumental input. Misalnya, memilih standar sekolah yang sama, karakteristik siswa, ruang belajar dengan karakteristik lingkungan sekolah dan lingkungan dengan memperhatikan hubungan guru dengan siswa dan

hubungan siswa dengan siswa. Pada Instrumental input, promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi dibandingkan dengan metode ceramah plus role play tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, seperti bahan ajar, sarana/fasilitas, bahan diskusi, bahan bermain peran (role play), dan alokasi waktu. Kerangka konsep penelitian ini seperti skema dibawah ini:

41


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

KERANGKA KONSEP PENELITIAN

Instrumental input (bahan pelajaran, diskusi, sarana & waktu. Raw input Siswa SLTA Enviromental Input (lingkungan fisik)

Promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus diskusi dengan metode ceramah plus role play.

Pengetahuan tentang bahaya penyalahguna an narkoba Sikap tentang bahaya penyalahguna naan narkoba

Intensi (kecenderungan perilaku tentang bahaya penyalahgunaan narkoba

Gambar 2 : Skema Kerangka Penelitian

Promosi kesehatan merupakan proses yang mempunyai masukan (input) dan keluaran (output). Dengan harapan, melalui promosi kesehatan dapat tercapai tujuan pendidikan, yakni perubahan perilaku. Salah satu metode dalam promosi kesehatan adalah metode ceramah. Ceramah juga merupakan salah satu metode proses pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam promosi kesehatan. Metode tersebut akan memperoleh hasil yang maksimal apabila dikombinasikan dengan metode lain, seperti diskusi, latihan, atau dengan bermain peran (role play) (Zaini, 2007). Metode belajar dengan diskusi dan bermain peran (role play) mempunyai keunggulan dari metode lain dalam proses pembelajaran, terutama dalam mengeksplorasi proses belajar yang sudah diterima, sehingga mengetahui pencapaian hasil belajar (output) daripara siswa (Syah, 2007). Penelitian diselenggarakan pada 2 sekolah Lanjutan Menengah Atas (Swasta) di Kota Jambi, yaitu : Sekolah Lanjutan Menengah Atas Adyaksa I dan Sekolah Lanjutan Menengah Atas Ferdy Ferry. Adapun kriteria pemilihan sekolah untuk dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah SLTA tersebut belum pernah dijadikan tempat penelitian tentang Bahaya Penyalahgunaan Narkoba. SLTA tersebut mempunyai karakteristik yang

42

relatif sama, baik karakteristik lokasi/tempat, standar sekolah, status sekolah, gedung sekolah, guru maupun siswa. Penetapan kedua kelompok eksperimen dengan memperhatikan jumlah siswa yang sama, duduk di kelas 2 SLTA dengan lokasi penelitian yang berlainan kecamatan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi-experimental ) dengan rancangan non-equivalent control group design with pretest and posttest. Penelitian ini dilakukan dengan membagi kelompok eksperimen menjadi 2 kelompok untuk melihat pengaruh dan perbedaan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi dibandingkan dengan metode ceramah plus role play. Pembagian kedua kelompok eksperimen dengan memperhatikan jumlah siswa yang sama yakni, masingmasing berjumlah 40 orang siswa, duduk di kelas 2 SLTA dan masing-masing sekolah SLTA serta letak kedua sekolah berlainan kecamatan untuk menghindari subjek penelitian saling berkomunikasi. Kelompok pertama yang mendapatkan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus role play dan kelompok kedua yang mendapatkan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi. Rancangan penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :


Efektivitas Metode Ceramah Plus Diskusi dengan Metode Ceramah Plus Role Play â&#x20AC;Ś Wittin Khairani, H. Ismail HS, Musliha

Kelompok CRP O1

X1

O2

Kelompok CDs O3

X2

O4

Keterangan : O1 dan O3 : Pretest untuk mengetahui pengetahuan dan sikap awal pada kedua kelompok, yaitu : kelompok ceramah plus role play dan kelompok ceramah plus diskusi. O2 : Posttest pengetahuan dan sikap untuk mengetahui perubahan tingkat pengetahuan dan sikap pada kelompok ceramah plus role play dilakukan sesaat setelah promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. O4 : Posttest pengetahuan dan sikap untuk mengetahui perubahan tingkat pengetahuan dan sikap kelompok ceramah plus diskusi dilakukan sesaat setelah promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. X1 : Promosi kesehatan kepada siswa kelompok metode ceramah plus role play tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. X2 : Promosi kesehatan kepada siswa kelompok metode ceramah plus diskusi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.

Prosedur pengumpulan data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari responden melalui kuesioner (pertanyaan penelitian) untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan kecenderungan perilaku (intensi) siswa sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus diskusi dibandingkan dengan metode ceramah plus role play . Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Jambi, khususnya bidang promosi kesehatan meliputi: datadata pelaksanaan program promosi kesehatan tentang bahaya narkoba, metode yang digunakan, dan waktu pelaksanaan program yang telah dilaksanakan. Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen penelitian sebagai alat ukur berupa tes pengetahuan, skala sikap, alat ukur kecenderungan perilaku (intensi), panduan ceramah, panduan diskusi, panduan role play. Instrumen penelitian terlebih dahulu diuji coba diluar lokasi. Penelitian dengan sampel yang

2012

memiliki kriteria sama dan hampir sama dengan lokasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SLTA kelas 2. Jumlah sekolah SLTA yang diteliti ada 2 sekolah SLTA di Kota Jambi, masing â&#x20AC;&#x201C; masing sekolah mengambil 40 siswa sebagai responden. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling yaitu siswa yang duduk di kelas 2 SLTA. Teknik pengambilan sampel ini dari sumber data dengan pertimbangan tertentu. Responden yang duduk di kelas 2 SLTA berumur 17 -18 tahun pada usia adalah masa pubertas dengan berbagai macam gejolak jiwa untuk mengetahui hal yang baru dari dirinya sendiri serta lingkungannya. Sampel yang dijadikan subjek penelitian adalah dari 2 sekolah yang berbeda lokasi saling berjauhan, sehingga tidak memungkinkan adanya komunikasi antara subjek penelitian. Setelah data kuantitatif terkumpul, dilakukan pengolahan data (editing, coding, data entry) untuk selanjutnya dianalisis. Analisa perbedaan mean dalam kelompok (pretest dan posttest) menggunakan Uji statistik paired t-test dengan taraf signifikansi 0,05 untuk melihat pengaruh pengetahuan dan sikap dari intervensi promosi kesehatan melalui metode ceramah plus role play dibandingkan metode ceramah plus diskusi. Uji statistik independent t-test dengan taraf signifikasi 0,05 untuk melihat perbedaan pengetahuan, sikap dan kecenderungan perilaku (intensi) antara kelompok CRP dibandingkan dengan kelompok CDs (Sugiono, 2008). Hasil uji statistik diinterprestasikan untuk menjawab hipotesis penelitian. Sebelum alat ukur dilaksanakan pada subjek penelitian maka terlebih dahulu dilakukan ujicoba pada sekolah lanjutan menengah atas yang mempunyai karakteristik yang sama dengan subjek penelitian. Validitas dan reabilitas alat ukur dilihat dari koefisien korelasi diatas 0,30 semakin tinggi angka koefisien korelasi berarti semakin valid dan reliabel alat ukur dengan cronbachâ&#x20AC;&#x;s alpha <0,06 (Sugiono, 2008). Alat ukur pengetahuan terdiri atas 30 item pertanyaan. Setelah dianalisis dengan analisis korelasi product moment terdapat 26 item yang valid dengan kisaran koefisien korelasi sebesar 0,5040,748, dengan koefisien korelasi < 0,03 sedangkan 4 item dinyatakan gugur.

43


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Selanjutnya, 26 item yang dinyatakan valid dilakukan uji reliabilitas, diperoleh cronbach‟s Alpha 0,919 yang berarti alat ukur reliabel dengan cronbach‟s alpha < 0,06. Alat ukur sikap berjumlah 30 item pertanyaan, setelah dilakukan uji validitas maka 27 item yang valid dengan kisaran koefisien korelasi sebesar 0,502-0,688 dengan koefisien korelasi < 0,30 sedangkan 3 item dinyatakan gugur. Selanjutnya 27 item yang dinyatakan valid dilakukan uji reliabilitas, diperoleh cronbach‟s alpha 0,911 yang berarti alat ukur tersebut reliabel dengan cronbach‟s alpha < 0,06. Alat ukur kecenderungan perilaku (intensi) berjumlah 30 item pertanyaan, setelah dilakukan uji validitas maka 25 item yang valid dengan kisaran koefisien korelasi sebesar 0,500-0,655 dengan koefisien korelasi < 0,30 sedangkan 5 item dinyatakan gugur. Selanjutnya 25 item yang dinyatakan valid dilakukan uji valid, diperoleh cronbach‟s alpha 0,904 yang berarti alat ukur tersebut reliabel dengan cronbach‟s alpha < 0,06. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian untuk menilai pengaruh promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play terhadap pengetahuan siswa kelompok CRP, menggunakan uji statistik paired t-test. Hasil uji nilai rerata pretest dan postest pengetahuan siswa kelompok CRP dapat dilihat seperti pada tabel berikut: Tabel 1. Perbandingan Hasil Nilai Rerata Pretest dan Posttest Pengetahuan Siswa Kelompok CRP

Variabel

Nilai rerata Pre test

Uji statistik

4,02

6,944 0,000

t

p

20,50

Pengetahuan

Post test

Selisih nilai rerata

24,52

Tabel 1. menunjukkan bahwa hasil uji nilai rerata pengetahuan siswa kelompok CRP menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan p =

44

0,000 (p < 0,05) dari hasil nilai rerata pretest dan posttest dengan selisih nilai rerata 4,02. Berarti, ada pengaruh berupa peningkatan pengetahuan siswa kelompok CRP, setelah intervensi promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play. Pengaruh promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba pada kelompok ceramah plus diskusi terhadap pengetahuan siswa kelompok CDs diuji menggunakan uji statistik paired t-test. Tabel 2. Perbandingan Hasil Nilai Rerata Pretest dan Posttest Pengetahuan Siswa Kelompok CDs Variabel

Nilai rerata

Selisih nilai rerata

Uji statistik t

p

Pre 21,45 test

0,125 0,192 0,849

Pengetahuan

Post 21,57 test

Tabel 2. menunjukkan bahwa hasil uji nilai rerata pengetahuan siswa kelompok CDs menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan p = 0,849 (p > 0,05) dari hasil nilai rerata pretest dan posttest dengan selisih nilai rerata 0,125. Berarti, tidak ada pengaruh tingkat pengetahuan siswa kelompok CDs, setelah intervensi promosi kesehatan mencuci tangan menggunakan sabun melalui metode ceramah plus diskusi. Diartikan bahwa promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play efektif meningkatkan pengetahuan dibandingkan dengan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi pada siswa sekolah lanjutan menengah tingkat atas. Hasil uji stastistik tersebut didukung dengan proses intervensi promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play terhadap siswa lanjutan menengah atas yang berjalan dengan baik dan lancar yakni siswa menguasai materi, bahasa mudah dimengerti, volume suara sesuai, intonasi sesuai, verbalisasi lancar, gestures (bahasa tubuh) sesuai, komunikatif, diselingi humor sehingga suasana jadi


Efektivitas Metode Ceramah Plus Diskusi dengan Metode Ceramah Plus Role Play â&#x20AC;Ś Wittin Khairani, H. Ismail HS, Musliha

hidup dan peserta antusias mengikuti ceramah plus role play. Pengaruh promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba pada kelompok metode ceramah plus role play terhadap sikap siswa kelompok CRP diuji menggunakan uji statistik paired ttest. Tabel 3. Perbandingan Hasil Nilai Rerata Pretest dan Posttest Sikap Siswa Kelompok CRP Variabel

Nilai rerata Pre test

Selisih nilai rerata

Uji statistik t

p

87,87 7,37 5,622 0,000

Pengetahuan

Post 95,25 test

Tabel 3. menunjukkan bahwa hasil uji nilai rerata sikap siswa kelompok CRP menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan p = 0,000 (p < 0,05) dari hasil nilai rerata pretest dan posttest dengan selisih nilai rerata 7,37. Berarti, ada pengaruh berupa peningkatan sikap siswa kelompok CRP, setelah intervensi promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play. Pengaruh promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba pada kelompok ceramah plus diskusi terhadap sikap siswa kelompok CDs menggunakan uji statistik paired t-test. Hasil uji nilai rerata pretest dan posttest sikap siswa pada kelompok CDs, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4 Perbandingan Hasil Nilai Rerata Pretest dan Posttest Sikap Siswa Kelompok CDs Variabel

Nilai rerata Pre test

Selisih nilai rerata

Uji statistik t

p

89,10

Pengetahuan

1,125 0,793 0,433

Post 90,22 test

Tabel 4. menunjukkan bahwa hasil uji nilai rerata sikap siswa kelompok CDs menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan p = 0,433 (p > 0,05) dari hasil nilai rerata pretest dan posttest dengan selisih nilai rerata 1,125. Berarti, tidak ada pengaruh terhadap sikap pada

2012

siswa kelompok CDs, setelah intervensi promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus diskusi. Diartikan bahwa promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play efektif meningkatkan sikap dibandingkan dengan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi pada siswa sekolah lanjutan menengah tingkat atas. Uji independent t-test untuk melihat perbedaan rerata kenaikan nilai pengetahuan kedua kelompok perlakuan. Hasil uji beda rerata kenaikan nilai pengetahuan antara kelompok CRP dengan kelompok CDs pada pretestâ&#x20AC;&#x201C; posttest , selisih kenaikan rerata 2,70, dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05) menunjukkan ada perbedaan bermakna secara statistik. Berarti, ada perbedaan tingkat pengetahuan dilihat dari pencapaian rerata kenaikan nilai antara kelompok CRP dengan kelompok CDs tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5 Uji Beda Rerata Kenaikan Pengetahuan Siswa Kelompok dengan Siswa Kelompok CDs

Nilai CRP

Kenaikan rerata Uji statistik Hasil Selisih pengama Kelompok Kelompok kenaikan T P tan rerata CRP CDs Pretestposttest

3,80

1,10

2,7 4,036 0,000 0

Diartikan bahwa promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play lebih efektif meningkatkan pengetahuan dibandingkan dengan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi pada siswa sekolah lanjutan menengah atas. Peningkatan pengetahuan merupakan hasil dari proses belajar yang terjadi akibat pemberian promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play. Hal ini sesuai dengan Green et al. ( 1980) menyatakan bahwa metode ceramah plus role play dapat merangsang semangat belajar karena menggunakan model situasi hidup nyata sehingga membantu memberi pemahaman dan pengalaman

45


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

belajar serta mengembangkan keterampilan empati karena metode ceramah plus role play menekankan pada pembelajaran tentang tingkah laku dan nilai-nilai sosial. Secara perkembangan psikologi siswa SLTA pada usia ini mereka pada kondisi ingin selalu diperhatikan, ingin selalu dihargai oleh lingkungannya, ingin tampil beda, paling gagah, cantik, hebat diantara teman-temannya, sehingga mereka selalu ingin menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan. Hal ini sesuai dengan Yusuf (2006) menyatakan bahwa pada usia remaja mempunyai tugas-tugas perkembangan, yaitu: menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya, mencapai kemandirian emosional dari figur yang mempunyai otoritas, memgembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individu maupun kelompok, menerima dirirnya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri serta memperkuat self-control terhadap dasar skala nilai dan prinsip-prinsip atau falsafah hidup. Metode ceramah plus role play mempunyai beberapa keunggulan, yakni efektif untuk prosedur bimbingan dan penyuluhan yang bersifat edukatif, efektif untuk terapi kejiwaan dan penyuluhan bersifat umum, karena pada prinsipnya metode ceramah plus role play merupakan upaya pemecahan masalah khususnya yang bertalian dengan kehidupan sosial melalui peragaan tindakan. Proses pemecahan masalah tersebut dilakukan melalui tahapan-tahapan: 1) identifikasi/pengenalan masalah, 2) uraian masalah, 3) pemeranan/peragaan tindakan, 4) dan diakhiri dengan diskusi dan evaluasi. (Syah, 2007). Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode ceramah plus role play sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan siswa SLTA dalam mencapai tujuan promosi kesehatan tentang Bahaya Penyalahgunaan Narkoba di Kota Jambi. Uji independent t-test untuk melihat perbedaan rerata kenaikan nilai sikap kedua kelompok perlakuan. Hasil uji beda rerata kenaikan nilai sikap antara kelompok CRP dengan kelompok CDs pada pretest-posttest, selisih kenaikan rerata 5,65 dengan nilai p = 0,003 (p <

46

0,05), menunjukkan ada perbedaan bermakna secara statistik. Berarti, ada perbedaan sikap dilihat dari pencapaian rerata kenaikan nilai antara kelompok CRP dengan kelompok CDs tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 6 Uji Beda Rerata Kenaikan Nilai Sikap Siswa Kelompok CRP dengan Siswa Kelompok CDs Hasil pengamatan

Pretestposttest

Kenaikan rerata

Selisih Uji statistik kenaikan Kelompok Kelompok T P rerata CRP CDs

7,37

1,72

5,65

3,124 0,003

Berarti promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play lebih efektif meningkatkan sikap dibandingkan dengan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi pada siswa sekolah lanjutan menengah atas. Peningkatan sikap pada kelompok ceramah plus role play adalah dampak dari adanya peningkatan pengetahuan siswa kelompok CRP dalam memahami materi promosi kesehatan yang telah disampaikan. Hal ini sesuai dengan dikemukaan Green et al (1980), bahwa pengetahuan penting dalam menentukan sikap, mempunyai kontribusi terbesar terhadap pembentukan komponen kognitif. Struktur sikap terdiri dari 3 komponen yang saling menunjang, yaitu: komponen kognitif, afektif dan konatif. Perubahan sikap tergantung pada sejauhmana komunikasi diperhatikan, dipahami dan diterima oleh individu. Pendekatan belajar mengajar (message-learning approarch) merupakan sesuatu yang paling mendasar dalam pengubahan sikap manusia melalui proses atensi, pemahaman dan retensi (Azwar, 2005). Metode ceramah plus diskusi dalam penelitian ini tidak ada pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap kelompok siswa CDs. Kondisi ini terjadi karena adanya kelemahan kelemahan yang ditemui selama dalam penelitian, seperti: suara berisik di lingkungan sekolah, peran guru yang kurang memotivasi siswanya dan siswasiswa yang menjadi sampel penelitian leluasa keluar masuk kelas. Sebetulnya metode ceramah plus diskusi mempunyai beberapa keunggulan seperti: mendorong


Efektivitas Metode Ceramah Plus Diskusi dengan Metode Ceramah Plus Role Play â&#x20AC;Ś Wittin Khairani, H. Ismail HS, Musliha

siswa berpikir kritis, mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas, dan mendorong siswa menyumbang buah pikirnya untuk memecahkan masalah bersama, disamping metode ceramah plus diskusi mempunyai kelemahan-kelemahan seperti: jalannya diskusi lebih sering didominasi oleh siswa yang partisipan yang pandai, sehingga mengurangi peluang siswa lain untuk memberikan kontribusi, jalannya diskusi sering terpengaruh oleh pembicaraan yang menyimpang dari topik pembahasan masalah, diskusi biasanya lebih banyak memboros waktu,sehingga tidak sejalan dengan prinsip efisiensi (Syah, 2007). Penggunaan metode promosi kesehatan yang efektif, diharapkan informasi yang disampaikan dapat diterima dan diserap dengan baik sesuaidengan harapan, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa SLTA tentang bahaya penyalahgunaan narkoba bagi kesehatan dan masa depan. Uji statistik (independent t-test) untuk melihat perbedaan kecenderungan perilaku antara siswa kelompok CRP dengan siswa kelompok CDs. Hasil perbandingan uji beda kecenderungan perilaku (intensi) antara kedua kelompok perlakuan menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik. Selisih rerata nilai kedua kelompok perlakuan 3,50 dengan nilai p = 0,010 (p < 0,05) dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 7 Perbandingan Uji Beda Rerata Nilai Kecenderungan Perilaku (Intensi) Siswa Kelompok CRP dengan Siswa Kelompok CDs Kelompok Selisih Simpangan Uji statistik rerata perlakuan rerata baku t p

CRP

80,85

8,11 3,50

CDs

77,35

2,643 0,010

6,95

Dari hasil perbandingan uji beda rerata nilai kecenderungan perilaku (intensi) antara siswa kelompok CRP dengan siswa kelompok CDs. Diartikan bahwa promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play lebih efektif meningkatkan kecenderungan perilaku (intensi) dibandingkan dengan promosi

2012

kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi pada siswa sekolah lanjutan menengah atas. Keadaan ini hasil dari intervensi promosi kesehatan melalui metode ceramah plus role play dengan adanya peningkatan pengetahuan, peningkatan sikap dan diikuti dengan peningkatan kecenderungan perilaku (intensi) siswa kelompok CRP, sedangkan pada siswa kelompok CDs tidak mengalami peningkatan pengetahuan, sikap maupun kecenderungan perilaku (intensi) akibat dari intervensi promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi. Ciri-ciri perubahan perilaku akibat belajar adalah perilaku terjadi secara sadar inidividu yang belajar akan sadar bahwa ilmu pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, muncul kesadaran dalam fikiran tentang bahayabahaya tidak sehat bila tidak merubah perilaku. Perubahan perilaku tersebut berkesinambungan (terus-menerus) dan fungsional, hasil belajar positif dan aktif, perubahan tersebut menetap dan mencakup seluruh aspek perilaku (Machfoedz & Suryani, 2008). Dalam teori perilaku terencana hakekat perilaku manusia tersebut dapat dilihat dari kecenderungan perilaku (intensi) individu untuk berperilaku, meliputi adanya keyakinan-keyakinan yang berpengaruh pada sikap terhadap perilaku tertentu, adanya norma-norma subjektif dan adanya kontrol perilaku individu untuk menentukan apakah perilaku tersebut dilakukan atau tidak. Perilaku dipengaruhi oleh keyakinan bahwa perilaku tersebut akan membawa hasil yang diinginkan atau tidak. Keyakinan mengenai perilaku bersifat normatif (diharapkan oleh orang lain) dan motivasi untuk bertindak sesuai dengan harapan normatif tersebut akan membentuk norma subjektif dalam diri individu. Kontrol perilaku ditentukan dari pengalaman masa lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit atau mudahnya untuk melakukan perilaku (Azwar, 2007). Semakin tepat memilih metode belajar semakin efektif pula menumbuhkan kesadaran akan kebutuhan berperilaku sehat, menumbuhkan keyakinan, norma-norma subjektif dan mengontrol diri terhadap masalah kesehatan yang mengancam kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.

47


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

Promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play efektif meningkatkan pengetahuan pada siswa sekolah lanjutan atas.Promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play efektif meningkatkan sikap pada siswa sekolah lanjutan atas. Promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba melalui metode ceramah plus role play lebih efektif meningkatkan pengetahuan, sikap dan kecenderungan perilaku (intensi) dibandingkan dengan promosi kesehatan melalui metode ceramah plus diskusi pada siswa sekolah lanjutan atas. Bagi praktisi promosi kesehatan disarankan agar dalam melaksanakan promosi kesehatan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba di sekolah lanjutan menengah atas disarankan agar menggunakan metode ceramah plus role play sebagai alternatif yang efektif meningkatkan pengetahuan, sikap dan kecenderungan perilaku pada siswa sekolah lanjutan menengah atas. Bagi institusi diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pikiran dalam memilih metode promosi kesehatan/pendidikan kesehatan yang efektif guna menjawab permasalahan yang mengancam generasi penerus kita terhadap penyalahgunaan narkoba.

Azwar, S. 2005, Penyusunan Skala Psikologi,

48

Edisi I, penerbit Pustaka pelajar, Yogyakarta. Departemen Kesehatan RI, 1984, Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dan Perawatan Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan RI., Jakarta. Green, L.W., Kreuter, H.W., deeds, S>G and Patridge, K.B., 1980, Health Education Plannning. A Diagnostic Approach. Mayfield Publishing Compeny, California. Purwanto, M.G. 2004, Psikologi Pendidikan, remaja Persada Karya Bandung. Machfoedz I & Suryani, E, 2005, Pendidikan Kesehatan bagian Dari Promosi Kesehatan, Fitramaya, Yogyakarta. Rumah Sakit Jiwa., 2009, Laporan Tahunan klinik Perawatan dan Rehabilitasi Narkoba. Jambi. Sugiono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, CV.Alfabeta, Bandung. Stanley, 1987, Guide to Evaluation of Training. ICPE Training and Development Series. Netherland. Syah, M. 2007, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru, cetakan Ketiga belas, Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Walkitri H., Soetarno., SoekirnoS., Subarno 2002, Praktek Pengalaman Lapangan. Pusat Penerbitan UT, Jakarta. Yusuf, Syamsu, 2006,Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya Zaini,M, T., 2002 , Strategi pembelajaran aktif di perguruan Tinggi. CTSD. Yogyakarta


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPARAHAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA KELOMPOK USIA LANJUT DI PUSKESMAS SIMPANG KAWAT KOTA JAMBI TAHUN 2011 Aida Silfia, Slamet Riyadi, Surayah Staf Pengajar Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Jambi

ABSTRAK Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Tahun 2004 yang dilakukan Departemen Kesehatan RI menyatakan prevalensi penyakit periodontal di Indonesia sampai mencapai 86,58%. Rata-rata 3 hari terganggu hari kerja akibat karies gigi dan penyakit periodontal. Sedangkan untuk indikator usia > 65 tahun seharusnya penduduk mempunyai 20 gigi berfungsi. Tujuan Penelitian untuk menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi keparahan penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi. Manfaat penelitian akan dapat memberikan informasi keterkaitan faktorfaktor yang kemungkinan berpengaruh terhadap keparahan penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut. Desain penelitian dengan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi, yakni N= 71 orang. Cara pengambilan sampel Total sampling dimana seluruh populasi dijadikan sampel. Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat. Uji stastistik yang digunakan adalah chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keparahan penyakit periodontal kategori kurang baik (85,9%), maloklusi kategori baik (50,7%), pemakaian gigi tiruan kategori baik (63,4%), indeks plak PHP kategori kurang baik (77,5%) dan OHI-S kategori kurang baik (85,9%). Ada hubungan yang bermakna antara maloklusi, pemakaian gigi tiruan, indeks plak PHP dan OHI-S dengan keparahan penyakit periodontal. Sebagai kesimpulan ada hubungan maloklusi, pemakaian gigi tiruan, indeks plak PHP dan OHI-S dengan keparahan penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011. Disarankan agar penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut ditetapkan sebagai salah satu prioritas program kesehatan gigi dan mulut yang mengarahkan kegiatan kepada pelayanan promotif dan preventif. Kata Kunci: keparahan penyakit periodontal, maloklusi, pemakaian gigi tiruan, indek plak PHP dan OHI-S

PENDAHULUAN Usia lanjut merupakan figur tersendiri dalam kaitannya dengan sosial budaya bangsa. Mereka termasuk dalam golongan yang patut dihargai dan dihormati sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan. Usia lanjut merupakan sumberdaya yang bernilai sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang dimilikinya yang dapat dimafaatkan bagi masyarakat keseluruhan. Sebagai salah satu hasil pembangunan adalah meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir. Sejalan dengan hal tersebut maka jumlah usia lanjutpun meningkat (Depkes RI, 1992). Posnyandu lansia atau kelompok usia lanjut adalah merupakan suatu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk

oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan kebutuhan itu sendiri khususnya pada penduduk usia lanjut. Usia lanjut adalah mereka yang telah berusia 60 tahun ke atas, sedangkan sasaran posyandu lansia adalah kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun keatas) dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi yaitu umur 70 tahun ke atas (Depkes, 1994). Pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia terutama kesehatan gigi, dilakukan pembinaan kesehatan bagi usia lanjut yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan usia lanjut agar selama mungkin dapat aktif, mandiri dan berguna (Depkes RI, 1992). Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 mengacu pada undang-undang RI No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, adalah

49


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, masyarakat bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Indonesia. Untuk menciptakan derajad kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan dengan upaya peningkatan derajad kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (UU kesehatan No. 23 tahun 1992 pasal 10). Penyakit gigi yang banyak diderita masyarakat yaitu karies dan penyakit periodontal. Sebenarnya penyakit ini mudah dicegah yaitu dengan menanamkan perilaku pelihara kesehatan gigi yang baik sejak usia dini (Depkes RI, 2004). Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan karies gigi (Depkes RI, 2000). Menurut Manson dan Elley dalam Anastasia (1993) prevalensi penyakit periodontal pada kelompok usia 45 tahun hampir 100% populasi sudah pernah mengalami kerusakan periodontal. Jaringan periodontal adalah jaringan yang mengelilingi gigi. Disebelah jaringan periondontal terdapat tulang yang dikenal dengan tulang alveolar. Tulang ini adalah bagian dari tulang rahang. Tulang ini menyediakan bentuk dan ukuran yang pas bagi gigi (Srigupta, 2004). Kasus yang banyak menimpa pada pasien pengunjung BP gigi puskesmas Simpang Kawat diantaranya adalah penyakit gusi dan jaringan periodontal. Hasil laporan tahunan data kesakitan gigi dan mulut pada akhir tahun 2009 di Puskesmas Simpang Kawat didapat angka prevalensi penyakit gusi dan jaringan periodontal 24,5% dari 100% (6318) kasus gigi dan mulut yang ada di puskesmas. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan atau masyarakat yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi, dan

50

berkesinambungan (UU kesehatan RI No. 36 tahun 2009 pasal 3 ayat 1). Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, pada tanggal 10 Mei 2010 salah satu kader posyandu lansia Plamboyan 3 telah diikut sertakan dalam pelatihan kader Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat (UKGM) yang diadakan di Puskesmas Simpang Kawat. Sedangkan untuk indikator target tahun 2010 usia lebih 65 tahun seharusnya penduduk mempunyai 20 gigi berfungsi (Depkes RI, 2004). Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor yang berhubungan dengan keparahan penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011. Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Variabel Independent

Variabel Dependent

Maloklusi Pemakaian gigi tiruan

Keparahan Penyakit Periodontal

Indeks plak PHP

OHI-S Gambar 1. Kerangka Konsep

BAHAN DAN CARA KERJA Desain penelitian yang diguanakan adalah studi cross sectional. Populasi penelitian ini adalah lansia yang datang saat posyandu. Cara pengambilan sampel secara Total sampling. Instrument penelitian yang diguanakan adalah formulir pemeriksaan gigi. Cara pengumpulan data diperoleh dari pemeriksaan gigi dan mulut satu persatu untuk mendapatkan gambaran indeks plak PHP, OHI-S, susunan gigi, pemakaian gigi tiruan dan keparahan penyakit periodontal. Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia yang hadir saat posyandu kelompok usia lanjut di


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keparahan Penyakit Periodontal â&#x20AC;Ś Aida Silfia, Slamet Riyadi, Surayah

Posyandu Flamboyan 3 Kel. Payo Lebar Wilayah kerja Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi yang berjumlah 71 orang. Sampel dalam penelitian ini diambil secara total sampling yaitu seluruh populasi yang berjumlah 71 orang dijadikan sampel. Data yang dikumpulkan adalah data primer. Data primer diperoleh dari kuesioner yang diisi sendiri oleh responden, kemudian dilakukan pemeriksaan gigi dan mulut satu persatu untuk melihat derajat keparahan karies dan penyakit periodontal. Instrumen yang digunakan dalam pengukuran derajat keparahan maloklusi, pemakaian gigi tiruan, indeks plak PHP dan OHI-S adalah cara pemeriksaan seluruh responden dengan baik secara visual maupun penggunaan alat sonde dan kaca mulut serta pengolesan disclosing solution. Alat ukur untuk variabel derajat keparahan penyakit periodontal adalah indeks CPITN (Community Periodontal Indeks for Treatment Needs) dengan cara memeriksa seluruh responden dengan periodontal probe dan kaca mulut. Analisis univariat dilakukan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari setiap variabel yang diteliti antara lain keparahan penyakit periodontal, maloklusi, pemakaian gigi tiruan, indeks plak PHP dan OHI-S pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi. Bentuk penyajian distribusi frekuensi dan persentase adalah tabel. Analisis bivariat yaitu untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variabel independent (maloklusi, pemakaian gigi tiruan, indeks plak PHP dan OHI-S) dengan variabel dependent yaitu keparahan penyakit periodontal. Uji statistik yang digunakan adalah Chi square karena data variabel dependent dan independent menggunakan skala kategorik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi tahun 2011 yang tercantum pada tabel 1. tampak bahwa kategori penyakit periodontal yang terbanyak adalah kurang baik (85,9%) dan 10 orang (14,1%) yang kategori baik.

2012

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden menurut Keparahan Penyakit Periodontal Pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011 Keparahan Jumlah (n) Penyakit Periodontal

Persentase (%)

Baik

10

14,1

Kurang Baik

61

85,9

Jumlah

71

100

Baik = CPITN 0-1,5 Kurang baik = CPITN â&#x2030;Ľ 1,6

Sesuai dengan penelitian Situmorang (2004, cit. Dewi 2007) bahwa prevalensi penyakit periodontal cukup tinggi yaitu 96,58% di Kota Medan. Menurut Glickman (1992 cit. Koerniati, 2006) bahwa Kondisi jaringan periodontal (CPITN) pada lansia 46,7% mengalami poket dangkal. Hal ini dikarenakan prevalensi dan keparahan penyakit periodontal bertambah sesuai dengan bertambahnya usia. Menurut Depkes (2000) bahwa untuk indikator usia > 65 tahun seharusnya mempunyai 20 gigi berfungsi, sedangkan yang tidak mempunyai gigi sama sekali 10%. Menurut Tjokroprawiro (1997) Salah satu penyebabnya adalah karena penyakit sistemik (diabetes mellitus). Penyakit diabetes ini merupakan salah satu penyakit yang tandanya dapat dilihat di dalam rongga mulut, misalnya jaringan periodontal yang mudah rusak, gingivitis dan goyangnya gigi sampai gigi mudah lepas. Menurut peneliti keadaan dan kebersihan mulut mempengaruhi terjadinya penyakit periodontal, hal ini juga tergantung bagaimana seseorang tersebut rutin melakukan menyikat gigi dengan baik dan benar sebanyak 2 kali sehari. Waktu menyikat gigi yang baik adalah sesudah sarapan pagi dan sebelum tidur malam. Oleh karena itu diperlukan penyuluhan cara menyikat gigi yang baik dan benar. Berdasarkan tabel 2. diketahui bahwa maloklusi yang kategori baik sebanyak 36 orang (50,7%) dan 35 orang (49,3%) yang kategori kurang baik.

51


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden menurut Maloklusi Pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011 Maloklusi Pada Kelompok Usia Lanjut

Jumlah (n)

Persentase (%)

Baik

36

50,7

Kurang Baik

35

49,3

Jumlah

71

100

Maloklusi dapat berupa kondisi â&#x20AC;&#x153;bad biteâ&#x20AC;? atau sebagai kontak gigitan menyilang (crossbite), kontak gigitan yang dalam (overbite), gigi berjejal (crowdeed), gigitan menyilang (scisor bite) atau kondisi gigi maju ke depan (protrusi). Hal ini dapat memberikan efek terhadap penampilan estetis, berbicara atau kenyamanan dalam mengunyah makanan (Daniel, 2000). Susunan gigi dalam rahang yang tidak teratur menyebabkan terjadinya retensi sisa makanan yang sulit dibersihkan dengan menyikat gigi sehingga mengakibatkan terjadi peradangan jaringan penyangga gigi (Wiyatini, 2009). Berdasarkan tabel 3. diketahui bahwa pemakaian gigi tiruan yang kategori baik sebanyak 45 orang (63,4%) dan 26 orang (36,6%) yang kategori kurang baik. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden menurut Pemakaian Gigi Tiruan Pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011 Pemakaian Gigi Tiruan

Jumlah (n)

Persentase (%)

Baik

45

63,4

Kurang Baik

26

36,6

Jumlah

71

100

memakai gigi tiruan bila akan pergi/keperluan tertentu saja. Hasil penelitian menyebutkan peradangan pada mukosa bukan oleh karena penggunaan gigi tiruannya tetapi adanya plak yang menumpuk pada gigi tiruan tersebut (Wiyatini, 2009). Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden menurut Indeks Plak PHP Pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011 Indeks Plak PHP

Jumlah (n)

Persentase (%)

Baik

16

22,5

Kurang Baik

55

77,5

Jumlah

71

100

Baik = indeks plak PHP â&#x2030;¤ 1,7 Kurang Baik = indeks plak PHP > 1,7

Berdasarkan data tabel 4 diketahui bahwa indeks plak PHP yang kategori kurang baik sebanyak 55 orang (77,5%) dan 16 orang (22,5%) yang kategori baik. Plak tidak bisa dilihat dengan mata sehingga orang cenderung mengabaikan bahkan tidak tahu bahwa adanya plak mempermudah melekatnya sisi makanan yang bila tidak dibersihkan akan terjadi metabolisme bakteri dan menyebabkan peradangan/ periodontitis (Wiyatini, 2009). Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden menurut OHI-S Pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011 OHI-S

Jumlah (n)

Persentase (%)

Baik

10

14,1

Kurang Baik

61

85,9

71

100

Jumlah

Gambaran maloklusi pada kelompok usia lanjut dapat dilihat dari prevalensi pemakaian gigi tiruan yang terbanyak yaitu kategori baik (63,4%). Pemakaian gigi tiruan yang tidak selalu dipakai atau sering dilepas tentunya tidak menyebabkan terjadinya penumpukan/retensi sisa makanan sehingga tidak menyebabkan penyakit jaringan penyangga gigi. Para pemakai gigi tiruan yang tidak dipakai mempunyai alasan tidak nyaman dan mereka

52

Baik = OHI-S â&#x2030;¤ 1,2 Kurang Baik = OHI-S > 1,2

Hasil analisis kebersihan mulut (OHI-S) pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi tahun 2011, kategori OHI-S yang terbanyak adalah kurang baik (85,9%). Menurut Peneliti keadaan dan kebersihan mulut perorangan tergantung dari bagaimana seseorang tersebut rutin


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keparahan Penyakit Periodontal â&#x20AC;Ś Aida Silfia, Slamet Riyadi, Surayah

melakukan menyikat gigi dengan baik dan benar sebanyak 2 kali sehari. Waktu menyikat gigi yang baik adalah sesudah sarapan pagi dan sebelum tidur malam. Oleh karena itu murid diperlukan penyuluhan cara menyikat gigi yang baik dan benar (Wiyatini, 2009). Tabel 6 Distribusi Frekuensi Responden menurut Hubungan Maloklusi dengan Keparahan Penyakit Periodontal Pada Pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011 Keparahan Penyakit Periodontal

Maloklusi

Baik n

Baik Kurang Baik Jumlah

%

Kurang Baik n

%

Total P Value

n

%

10 27,8 26 72,2 36 100 0

0

35

mengeras dan mendesak gusi dan mengakibatkan terlepasnya perlekatan jaringan penyangga gigi (periodontitis). Perkembangan inflamasi jaringan penyangga gigi terjadi bila tindakan pembersihan gigi dihentikan (Wiyatini, 2009). Susunan gigi yang tidak beraturan akibat pergerakan gigi tadi akan menimbulkan masalah yang lebih kompleks, seperti radang gusi atau kelainan jaringan periodontal akibat terjebaknya makanan di sekitar gigi yang tidak beraturan tadi (www.edentistry.org, 2011). Tabel 7 Distribusi Frekuensi Responden menurut Hubungan Pemakaian Gigi Tiruan dengan Keparahan Penyakit Periodontal Pada Pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011 Keparahan Penyakit Periodontal

100 35 100 0,001

Total

Pemakaian Gigi Tiruan

Baik

10 14,1 61 85,9 71 100

Dari hasil analisis hubungan antara maloklusi dengan keparahan periodontal diperoleh bahwa ada sebanyak 10 dari 36 orang (27,8%) yang maloklusi kategori baik dengan keparahan penyakit periodontal berkategori baik. Sedangkan diantara responden yang maloklusinya kurang baik, ada 0 dari 35 orang (0%) dengan keparahan penyakit periodontal berkategori baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value=0,001, maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara maloklusi dengan keparahan penyakit periodontal. Hasil analisis hubungan maloklusi dengan keparahan penyakit periodontal adalah sebagai berikut termasuk kategori maloklusi baik sebesar 27,8% yang kategori keparahan penyakit periodontal baik, sedangkan kategori maloklusi kurang baik sebesar 0% yang kategori keparahan penyakit periodontal baik. Dari hasil pengujian Chi square antara maloklusi dengan keparahan penyakit periodontal ternyata ada hubungan yang bermakna. Susunan gigi dalam rahang yang tidak teratur menyebabkan terjadinya retensi sisa makanan yang sulit dibersihkan dengan menyikat gigi sehingga mengakibatkan terjadi peradangan jaringan penyangga gigi. Penimbunan sisa makanan dan adanya bakteri dalam mulut lama kelamaan akan

2012

Baik

Kurang Baik

n

%

n

%

P Value n

%

3

6,7

42

93,3

45 100

Kurang Baik

7

26,9

19

73,1

26 100

Jumlah

10 14,1

61

85,9

71 100

0,031

Dari hasil analisis hubungan antara pemakaian gigi tiruan dengan keparahan periodontal diperoleh bahwa ada sebanyak 3 dari 45 orang (6,7%) yang pemakaian gigi tiruan kategori baik dengan keparahan penyakit periodontal berkategori baik. Sedangkan diantara responden yang pemakaian gigi tiruannya kurang baik, ada 7 dari 26 orang (26,9%) dengan keparahan penyakit periodontal berkategori baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value=0,031, maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pemakaian gigi tiruan dengan keparahan penyakit periodontal. Hasil analisis hubungan maloklusi dengan keparahan penyakit periodontal adalah sebagai berikut termasuk kategori pemakaian gigi tiruan baik sebesar 6,7% yang kategori keparahan penyakit periodontal baik, sedangkan kategori pemakaian gigi tiruan kurang baik sebesar 26,9% yang kategori keparahan penyakit periodontal baik. Dari hasil pengujian Chi square antara pemakaian gigi tiruan dengan keparahan penyakit periodontal ternyata ada hubungan yang bermakna.

53


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Penggunaan gigi tiruan menyebabkan stomatitis/peradangan pada mukosa langit-langit. Pada pemakai gigi palsu yang dipasang oleh tukang gigi cenderung tidak dapat dilepas sehingga menyebabkan retensi sisa makanan yang akhirnya mereka merasakan gangguan akibat gigi tiruan tersebut yang akhirnya harus dilepas. Proses penyusutan tulang rahang karena umur yang semakin tua juga menjadi alasan mereka tidak pernah memakai gigi palsu (www.edentistry.org, 2011). Tabel 8 Distribusi Frekuensi Responden menurut Hubungan Indeks Plak PHP dengan Keparahan Penyakit Periodontal Pada Pada Kelompok Usia Lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011 Keparahan Penyakit Periodontal Total

Indeks Plak PHP

Baik n

P Value

n

%

10 62,5

6

37,5

16 100

Kurang Baik

0

55

100

55 100

Jumlah

10 14,1

61

85,9

71 100

Baik

%

Kurang Baik

0

n

%

0,001

Dari hasil analisis hubungan antara maloklusi dengan keparahan periodontal diperoleh bahwa ada sebanyak 10 dari 16 orang (62,5%) yang indeks plak PHP kategori baik dengan keparahan penyakit periodontal berkategori baik. Sedangkan diantara responden yang indeks plak PHPnya kurang baik, ada 0 dari 55 orang (0%) dengan keparahan penyakit periodontal berkategori baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value=0,000, maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara indeks plak PHP dengan keparahan penyakit periodontal. Hasil analisis hubungan indeks plak PHP dengan keparahan penyakit periodontal adalah sebagai berikut termasuk kategori indeks Plak PHP baik sebesar 62,5% yang kategori keparahan penyakit periodontal baik, sedangkan kategori indeks plak PHP kurang baik sebesar 0% yang kategori keparahan penyakit periodontal baik. Dari hasil pengujian Chi square antara indeks plak PHP dengan keparahan penyakit periodontal ternyata ada hubungan yang bermakna.

54

Indeks plak berhubungan dengan periodontitis, bahwa terjadinya periodontitis disebabkan adanya plak yang ada di permukaan gigi sedangkan plak itu sendiri timbul beberapa saat setelah menyikat gigi. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya pada penyakit jaringan penyokong gigi (periodontal disease) sebagai faktor risiko stroke Iskemik didapatkan hasil plak pada gigi salah satu faktor risiko Periodontitis dengan OR 4,7 (CI : 95% ; 2,3-9,7). Penelitian yang dilakukan oleh K. Nandakumar, dkk juga membuktikan bahwa Indeks Plak secara statistik signifikan dengan periodontal status mempunyai OR 3,1 (CI 95% : 1,2-9,8). Plak timbul tiga menit setelah menyikat gigi. Bakteri yang terdapat dalam plak yang bila kondisi kebersihan mulut terabaikan maka akan terjadi inflamasi pada jaringan periodontal sehingga jumlah mikroorganisme dalam mulut akan bertambah yang terutama pada jaringan sekitar gigi yang menyebabkan terjadinya periodontitis. Infeksi bakteri dalam mulut dapat menimbulkan abses7. Hal tersebut sesuai dengan keadaan yang terjadi pada masyarakat bahwa kebiasaan mereka dalam menyikat gigi dilakukan pada saat bersamaan dengan mandi dan tidak dapat mengukur kondisi kebersihan giginya (Wiyatini, 2009). Tabel 9 Distribusi Frekuensi Hubungan OHI-S Penyakit Periodontal Lanjut di Puskesmas Jambi Tahun 2011

Responden menurut dengan Keparahan Pada Kelompok Usia Simpang Kawat Kota

Keparahan Penyakit Periodontal

OHI-S

Baik n

Baik

%

Kurang Baik

Total P Value

n

%

n

%

0

10 100

10 100

0

Kurang Baik

0

61

Jumlah

10 14,1 61 85,9 71 100

0

100 61 100

0,001

Dari hasil analisis hubungan antara OHI-S dengan keparahan periodontal diperoleh bahwa ada sebanyak 10 dari 10 orang (100%) yang maloklusi kategori baik dengan keparahan penyakit periodontal berkategori baik. Sedangkan diantara responden dengan nilai OHI-S kurang baik, ada 0 dari 61


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keparahan Penyakit Periodontal â&#x20AC;Ś Aida Silfia, Slamet Riyadi, Surayah

orang (0%) dengan keparahan penyakit periodontal berkategori baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value=0,000, maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara OHI-S dengan keparahan penyakit periodontal. Hasil analisis hubungan OHI-S dengan keparahan penyakit periodontal adalah sebagai berikut termasuk kategori OHI-S baik sebesar 100% yang kategori keparahan penyakit periodontal baik, sedangkan kategori OHI-S kurang baik sebesar 0% yang kategori keparahan penyakit periodontal baik. Dari hasil pengujian Chi square antara OHI-S dengan keparahan penyakit periodontal ternyata ada hubungan yang bermakna. Keadaan kebersihan gigi yang baik atau maksimal akan menghambat terjadinya penyakit jaringan penyangga gigi selain dari daya tahan tubuh yang tidak mudah terjadi infeksi. Kebersihan gigi dapat dilakukan dengan kebiasaan menyikat gigi minimal dua kali sehari setiap sesudah makan dan sebelum tidur malam sehingga dapat menghambat perkembangan bakteri dalam mulut. Tehnik/cara menyikat gigi yang tidak benar/kurang teliti menyebabkan kebersihan gigi dan mulut menjadi kurang sehingga mudah terjadi infeksi jaringan penyangga gigi (Wiyatini, 2009). KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara maloklusi dengan keparahan penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011. Ada hubungan yang bermakna antara pemakaian gigi tiruan dengan keparahan penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011. Ada hubungan yang bermakna antara indeks plak PHP dengan keparahan penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011. Ada hubungan yang bermakna antara OHI-S dengan keparahan penyakit periodontal pada kelompok usia lanjut di Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi Tahun 2011. Bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi disarankan agar program kesehatan gigi dan mulut (UKGM) didukung dan ikut diperhatikan seperti program pelayanan

2012

kesehatan lainya. Di samping itu perlu kerjasama lebih serius antara pemerintah, kelompok profesi dan masyarakat dalam menggalakkan program promosi kesehatan gigi agar kondisi buruk ini tidak terus berlanjut mengingat tahun 2010 ini pencapaian gigi sehat. Bagi Puskesmas Simpang Kawat daisarankan agar program kesehatan gigi dan mulut diikut sertakan dalam program pelaksanaan pelayanan kesehatan di posyandu lansia. Bagi Posyandu Flamboyan 3 Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi disarankan agar meningkatkan kebesihan mulut pribadi, mengontrol gigi setiap 6 bulan sekali meskipun tidak tidak ada keluhan serta agar kader UKGM berperan aktif dalam upaya peningkatan derajat kesehatan gigi dan mulut lansia posyandu Flamboyan 3 wilayah kerja puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi.

DAFTAR PUSTAKA

Anastasia, 1993. Perbedaan Efektifitas Larutan NaCl dengan NaHCO3. Tugas Akhir. Yogyakarta: FKG UGM. Depkes RI, 1991, 1992. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid IV, Jakarta ---------------, 1994. UU Kesehatan No. 23 tahun1992 tentang kesehatan. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. ---------------, 2000. Tata Cara Kerja Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas. Jakarta. ---------------, 2004, Pedoman Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat (UKGM), Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Jakarta. Daniel, C., Richmond, S., 2000. The Development of The Index of Complexity Outcome and Need (ICON). British Journal of Orthodontic Society. Dewi, O. 2007. Analisis Hubungan Maloklusi dengan Kualitas Hidup Pada Remaja SMU Kota Medan Tahun 2007. Tesis. USU. Medan. Herijulianti, E., 2002. Pendidikan Kesehatan Gigi. EGC, Jakarta. Koerniati, 2006. Perkembangan Perawatan Gigi Masa Depan. Makalah Seminar dalam Rangka Dies Natalis Universitas Andalas. Padang. Mason, J.D. Eley, B.M, 1993. Buku Ajar Periodontal Edisi 2, Hipokrates, Jakarta

55


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Srigupta, 2004, Perawatan Gigi dan Mulut, www. Bloger. Com/feed/473180600314309837. Diakses 4 April 2010. Tjokroprawiro, 1997. Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

56

Wiyatini, Tri. 2009. Faktor-faktor lokal dalam mulut dan perilaku pencegahan yang berhubungan dengan Periodontitis (Studi kasus di tiga Puskesmas Kabupaten Demak). Jurnal Epidemiologi . Undip. Semarang. www.edentry.org, 2011. Pemakaian Gigi Tiruan. Diakses 19 Agustus 2011.


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

FAKTOR â&#x20AC;&#x201C; FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN PADA IBU YANG MENDAPAT STIKER P4K DI KECAMATAN SABAK BARAT KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR TAHUN 2011 Taty Nurti dan Suharti Staf Pengajar Jurusan Kebidanan Poltekkes Jambi ABSTRAK Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di Indonesia masih di bawah target nasional. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan 92%, dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 66%, pada SDKI 2007 pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan 93%, dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 73%. Masih rendahnya persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan merupakan salah satu dampak yang menyebabkan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Menurut hasil survey SDKI tahun 2007 AKI 228/100.000 Kh, sedangkan di Propinsi Jambi jumlah kematian ibu tahun 2009 adalah 74 dari 61.703 kelahiran hidup. Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan pada ibu yang mendapat siker P4K di wilayah Kecamatan Sabak Barat Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2011. Populasi adalah semua ibu bersalin baik yang ditolong oleh tenaga kesehatan maupun non nakes yang mendapat stiker P4K sejak bulan Januari sampai Desember 2010 pada 7 desa dalam wilayah Kecamatan Sabak Barat. Sampel secara estimasi proporsi diketahui berjumlah 96 orang dan diambil secara simple random sampling dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 21 Juli s/d 22 September 2011. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat melalui uji statistik chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 96 responden, 59 (61,5 %) responden memilih penolong persalinan dengan Nakes, 25 responden (26,0 %) berpendidikan tinggi, mayoritas 65 responden (67,7%) memiliki sosial ekonomi tinggi, sebagian kecil 19 (19,8%) responden memiliki pengetahuan baik, sebagian 46 responden (47,9%) memiliki sikap positif, sebagian besar 61 (63,5%) responden mengatakan tradisi dan kepercayaan mendukung, sebagian responden 48 (50 %) peran tokoh masyarakat mendukung, sebagian besar 67 (69,8 %) responden mengatakan petugas kesehatan berperan dalam pemilihan penolong persalinan, ada hubungan antara pendidikan, tradisi dan kepercayaan, peran tokoh masyarakat dan peran petugas kesehatan dengan penolong persalinan, tidak ada hubungan antara sosial ekonomi, pengetahuan dan sikap dengan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat. Kata Kunci: Pemilihan penolong persalinan, pendidikan, tingkat sosial ekonomi, pengetahuan, sikap, tradisi dan kepercayaan masyarakat, peran tokoh masyarakat dan peran petugas kesehatan.

PENDAHULUAN Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di Indonesia masih di bawah target nasional. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan 92%, dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 66%, pada SDKI 2007 pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan 93%, dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 73%. Masih rendahnya persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan merupakan salah satu dampak yang menyebabkan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Menurut hasil survey SDKI tahun 2007 AKI 228/100.000 Kh (Depkes RI, 2008:3), sedangkan di Propinsi Jambi jumlah

kematian ibu tahun 2009 adalah 74 dari 61.703 kelahiran hidup (Dinkes Propinsi Jambi, 2010:30). Sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh penyebab langsung yaitu perdarahan, infeksi, eklamsia, persalinan lama dan abortus komplikasi. Kematian ibu juga dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, kedudukan dan peran perempuan, faktor sosial budaya serta faktor transportasi yang kesemuanya berpengaruh pada munculnya dua keadaan yang tidak menguntungkan, yaitu: tiga terlambat (terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan dan empat terlalu (terlalu muda melahirkan, terlalu sering

57


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

melahirkan, terlalu rapat jarak melahirkan dan terlalu tua untuk melahirkan (Depkes RI, 2008 :35). Upaya penurunan kematian ibu dan bayi, dapat dilakukan dengan peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pendekatan jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan Stiker yang memerlukan dukungan keterlibatan keluarga, kader, masyarakat, serta petugas kesehatan (Depkes RI, 2009:5). Cakupan Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2008 K1 93,36%, K4 90,01%, persalinan nakes 82,26% dan pada tahun 2009 juga terjadi, peningkatan K1 94,77%, K4 90,30% dan persalinan nakes 85,03% yang mana cakupan ini masih di bawah target nasional. Cakupan di wilayah Puskesmas Sabak Barat tahun 2008 K1 98,30%, K4 96,60%, persalinan nakes 72,94%, dan pada tahun 2009 K1 95,64%, K4 92,78% dan persalinan nakes 81,14% (Dinkes Kab.Tanjung Jabung Timur, 2010:56). Berdasarkan laporan PWS KIA Januari s/d November 2010 dari 17 Puskesmas yang ada, 93 desa dalam wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur 83,87% desa telah melaksanakan P4K, akan tetapi cakupan persalinan yang diharapkan masih dibawah target nasioanal, hasil laporan PWS KIA Januari s/d Novembar 2010 Puskesmas Sabak Barat yang paling jauh kesenjangan antara cakupan K1 (98,96%), K4 (82,04) dan persalinan nakes (80,93%). Dari data di atas tampak kesenjangan antara cakupan K1, K4 dan persalinan nakes di wilayah Puskesmas Sabak Barat.

BAHAN DAN CARA KERJA Kerangka konsep pada penelitian ini mengacu kepada teori yang dikemukakan oleh Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007:178) mengidentifikasikan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor yakni faktor presdiposisi (presdiposising factor) meliputi pengetahuan, sikap, tradisi dan kepercayaan masyarakat, nilai, pendidikan, sosial ekonomi dan sebagainya. Faktor pendukung (enabling factor) meliputi lingkungan fisik dan

58

tersedia atau tidak tersedia sarana kesehatan. Faktor pendorong (reinforcing factor) meliputi, dukungan keluarga, dukungan tokoh masyarakat, dukungan teman sebaya dan petugas kesehatan. Adapun aspek yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah aspek pengetahuan, sikap, tradisi dan kepercayaan masyarakat, pendidikan dan sosial ekonomi yang merupakan faktor predisposisi dikarenakan aspek ini memiliki peranan yang erat kaitannya dengan pemilihan penolong persalinan pada ibu bersalin. Sementara aspek peran dan perilaku tokoh masyarakat, peran dan perilaku petugas kesehatan merupakan faktor penguat. Sedangkan aspek lain yang ada dalam kerangka teori ini seperti sarana kesehatan tidak penulis teliti karena pada wilayah penelitian sarana kesehatan yang ada cukup memadai serta tidak memberikan kendala berarti bagi responden dalam pemilihan tempat persalinan dan untuk aspek nilai, lingkungan fisik, teman sebaya tidak dilakukan penelitian dikarenakan tidak berpengaruh secara langsung terhadap pemilihan penolong persalinan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan pada ibu yang mendapat stiker P4K di wilayah Kecamatan Sabak Barat Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2011. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sabak Barat Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2011 dari tanggal 20 Mei s/d 26 Agustus 2011. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang mendapat stiker P4K baik yang di tolong oleh tenaga kesehatan maupun non tenaga kesehatan tahun 2010 yang ada di wilayah Kecamatan Sabak Barat tercatat sebanyak 389 orang. Sampel yang diambil dalam penelitian ini secara estimasi proporsi diketahui berjumlah 96 orang dan diambil secara simple random sampling dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 17 Juli s/d 7 Agustus 2011. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat.


Faktor â&#x20AC;&#x201C; Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Penolong Persalinan ... Taty Nurti, Suharti

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian tentang pemilihan pertolongan persalinan diketahui 59 responden (61,5%) memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan dan 37 responden (38,5%) memilih non tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan. Gambaran pemilihan penolong persalinan di wilayah Kecamatan Sabak Barat menunjukkan sebagian besar responden memilih penolong persalinan dengan tenaga kesehatan dari pada dukun beranak, namun hal tersebut perlu diwaspadai karena masih ada ibu yang memilih dukun beranak sehingga berdampak terhadap kematian ibu dan neonatal. Hal tersebut jika dikaitkan dengan data sekunder dari laporan PWS KIA Puskesmas Sabak Barat terdapat 1 kematian ibu dan 6 kematian neonatal tahun 2011. Faktor non medis terbukti merupakan faktor dominan yang memberikan kontribusi terhadap kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas. Apalagi saat ini belum semua masyarakat siap melaksanakan perubahan prilaku, pengaruh sosial budaya yang bisa gender dan masih kurangnya informasi serta kemampuan menerima dan menyerap imformasi. Tidak jarang ibu hamil yang kritis meninggal sampai di rumah sakit atau sarana pelayanan kesehatan lainnya, dan tidak jarang juga sering terjadi kematian akibat pertolongan persalinan yang tidak di tangani oleh tenaga yang ahli (Depkes, 2008 :45). Hal ini sesuai dengan pendapat Depkes RI (2004:28-29) penolong persalinan oleh tenaga kesehatan adalah dalam rangka upaya percepatan penurunan AKI, menekankan pada penyediaan pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir yang berkualitas kepada masyarakat. Pelayanan persalinan yang aman oleh tenaga kesehatan. Dikatakan tenaga kesehatan adalah dokter spesialis kandungan, dokter umum, bidan, pembantu bidan, perawat bidan, sedangkan non tenaga kesehatan adalah dukun. Pertolongan persalinan dengan tenaga kesehatan dianggap memenuhi persyaratan sterilitas dan aman, serta tenaga kesehatan juga mampu mengenali setiap komplikasi yang mungkin terjadi dan dapat mengambil tindakan yang diperlukan sesuai dengan stĂĄndar yang diinginkan. Tenaga kesehatan juga

2012

mampu mencegah terjadinya komplikasi atau berbagai penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayi baru lahir sehingga upaya perbaikan status kesehatan dan kualitas hidup rentan resiko dapat di wujudkan (Depkes RI, 2008:5). Sesuai dengan pendapat Asrinah (2010:9) keberhasilan sebuah proses persalinan sangat di pengaruhi oleh kondisi fisik ibu dan bayi, kondisi fsikis maupun penolong yang membantu persalinan bila salah satu faktor tersebut ada yang tidak sesuai bisa terjadi masalah dalam proses persalinan, baik terhadap ibu atau bayinya, mengingat beberapa kasus kematian ibu dan bayi di akibatkan oleh tidak terdeteksinya secara dini adanya salah satu dari faktor-faktor tersebut. Pemilihan penolong persalinan dengan tenaga kesehatan umumnya dilakukan oleh masyarakat yang mudah memperoleh akses kepelayanan kesehatan, sedangkan masyarakat yang memilih persalinan dengan non nakes (Bidan, dokter) umumnya memiliki jarak tempuh yang jauh dari pelayanan kesehatan serta tinggal didaerah yang masih tinggi tradisi dan adat istiadatnya untuk melahirkan dengan dukun beranak Selain itu faktor pendidikan yang rendah, peran tokoh masyarakat yang kurang mendukung program P4K, petugas kesehatan yang tidak melakukan kunjungan rumah ibu hamil yang tidak berkunjung ke fasilitas kesehatan dan petugas kesehatan yang tidak berada di tempat saat proses persalinan cendrung membuat masyarakat memilih persalinan kepada non nakes. Hasil penelitian tentang pendidikan menunjukkan bahwa 71 orang (74,0%) berpendidikan rendah dan yang berpendidikan tinggi sebanyak 25 orang (26,0%). Hasil penelitian berdasarkan tingkat pendidikan menunjukan bahwa ada hubungan signifikan dengan pemilihan penolong persalinan dengan p-value = 0,001. Dimana ibu yang pendidikannya tinggi (sederajat SLTA atau lebih) mayoritas memilih penolong persalinan dengan nakes dan ibu yang pendidikannya rendah mayoritas memilih penolong persalinan dengan non nakes. Hasil penelitian hubungan antara pendidikan dengan penolong persalinan dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

59


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Tabel 1 Distribusi Hubungan Pendidikan dengan Penolong Persalinan Pada Responden yang Mendapatkan Stiker P4K di Kecamatan Sabak Barat Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2011 Penolong Persalinan Non Jumlah P-Value Nakes Pendidikan Nakes f % f % Tinggi

23

92.0

2

8

25

Rendah

36

50.7 35 49.3

71

Total

59

37

96

0,001

Konsep pendidikan merupakan suatu proses belajar yang berarti didalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat (Notoatmodjo (2003:97). Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakantindakan (praktik) untuk memelihara (mengatasi masalah-masalah), dan meningkatkan kesehatannya. Perubahan atau tindakan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan ini didasarkan kepada pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran, sehingga prilaku tersebut diharapkan akan berlangsung lama (long lasting) dan langgeng, karena didasari oleh kesadaran (Notoatmodjo, 2003:128). Hasil penelitian tentang tingkat sosial ekonomi diketahui 65 orang (67,7%) sosial ekonominya tinggi dan yang sosial ekonomi rendah sebanyak 31 orang (32,3%). Hasil analisis data tentang sosial ekonomi didapatkan bahwa mayoritas responden memiliki sosial ekonomi tinggi dan minoritas responden memiliki sosial ekonomi rendah, namun tidak menunjukan hubungan yang signifikan dengan pemilihan penolong persalinan karena faktor ekonomi tidak berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan baik terhadap nakes maupun non nakes. Hasil analisa antara sosial ekonomi dengan penolong persalinan dapat dilihat pada tabel 2.

60

Tabel 2. Distribusi Hubungan Sosial Ekonomi dengan Penolong Persalinan Pada Responden yang Mendapatkan Stiket P4K di Kecamatan Sabak Barat Kabupaten Tanjung Jabung Timur Penolong Persalinan Non Juml Sosial Nakes Nakes ah P-Value Ekonomi f % f % Tinggi

43

66.2 22 33.8 65

Rendah

16

51.6 15 48.4 31

Total

59

37

0,25

96

Hasil uji statistik (chisquare) di peroleh p-value = 0,25 menunjukkan tidak ada hubungan antara sosial ekonomi dengan pemilihan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat. Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagian besar responden yang memiliki sosial ekonomi tinggi, cenderung memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan, namun sebagian responden masih ada yang memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sementara sebagian responden yang memiliki sosial ekonomi rendah memilih tenaga kesehatan dan non tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan Juliwanto (2007:32) yang berpendapat bahwa masyarakat yang memiliki sosial ekonomi rendah cenderung memilih persalinan dengan non tenaga kesehatan. Sedangkan di Kecamatan Sabak Barat responden yang memiliki sosial ekonomi rendah sebagian cenderung memilih persalinan dengan tenaga kesehatan, karena tarif biaya persalinan masih terjangkau oleh ibu yang melahirkan dan bagi yang benar-benar tidak mampu mereka dibiayai oleh Jamkesmas/Jampersal. Menurut Depkes RI (2008:2), pada operasional P4K dengan stiker di tingkat desa dilakukan dengan cara memanfaatkan pertemuan bulanan tingkat desa antara Bidan desa, kader, dukun, kepala desa, tokoh masyarakat untuk mendata jumlah ibu hamil yang ada di wilayah desa serta membahas dan menyepakati calon donor darah, transport dan pembiayaan persalinan (askeskin, tabulin). Menurut Kristiyani dan Abas (2006) dalam penelitian Juliwanto (2009:45) bahwa pemanfaatan Bidan cendrung pada ibu dengan pendapatan yang tinggi, sedangkan mereka dengan


Faktor â&#x20AC;&#x201C; Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Penolong Persalinan ... Taty Nurti, Suharti

pendapatan rendah justru lebih memilih dukun beranak karena mereka mempunyai persepsi bahwa pertolongan persalinan dengan nakes mahal dan beberapa masyarakat yang menyatakan kurang percaya terhadap pelayanan nakes (Bidan) didesa karena masih terlalu muda dan belum menikah sehingga di anggap belum mempunyai pengalaman terutama persalinan. Berdasarkan penelitian tentang pengetahuan didapatkan 19 (19,8%) responden memiliki pengetahuan baik dan 77 (80,2%) responden memiliki pengetahuan kurang baik tentang pemilihan penolong persalinan pada ibu bersalin yang mendapat Stiker P4K. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang memilih penolong persalinan ke nakes terdapat pada ibu yang berpengetahuan baik akan tetapi ibu yang berpengetahuan kurang baikpun cendrung memilih penolong persalinan ke nakes namun sebagian besar juga memilih persalinan dengan non nakes hal ini menunjukan semakin baik pengetahuan responden maka semakin kecil kemungkinan memilih penolong persalinan dengan non nakes. Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara pengetahuan dengan penolong persalinan dapat dilihat pada tabel 3 berikut: Tabel 3 Distribusi Hubungan Pengetahuan dengan Penolong Persalinan Pada Responden yang Mendapatkan Stiker P4K di Kecamatan Sabak Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2011 Penolong Persalinan Non Nakes Pengetahuan Jumlah P-Value Nakes f % f % Tinggi

14

73.7

5

26,3

19

Rendah Total

45 59

58.4 32 41.6 37

77 96

0,34

Hasil uji statistik (chisquare) di peroleh p-value = 0,34 menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden yang pengetahuan kurang baik memilih penolong persalinan dengan tenaga kesehatan dan sebagian dengan non tenaga kesehatan. Sementara sebagian besar responden yang berpengetahuan kurang baik memilih penolong persalinan dengan tenaga

2012

kesehatan dan sebagian kecil dengan non tenaga kesehatan. Menurut Notoatmodjo (2003: 128) yang menyatakan bahwa pengetahuan seseorang tentang suatu kegiatan dapat merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menimbulkan perilaku untuk melakukan kegiatan tersebut. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Keadaan ini mencerminkan bahwa responden yang berpengetahuan kurang baik sebagian besar masih memilih persalinan dengan non nakes, artinya responden yang berpengetahuan kurang baik lebih dominan memilih persalinan pada non nakes. Hal ini sejalan dengan penelitian (Bangsu, 2001) dalam Juliwanto (2007:34), bahwa ibu dengan pengetahuan kurang baik akan memilih dukun bayi untuk menolong persalinannya, dibandingkan ibu dengan berpengetahuan baik. Berdasarkan hasil penelitian sebagian responden tidak mengetahui tujuan pemasangan stiker P4K. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi dan konseling dari petugas kesehatan tentang maksud dan tujuan dari P4K. Menurut Depkes RI (2009:3) tujuan P4K yaitu: meningkatnya cakupan dan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan bayi baru lahir melalui peningkatan peran aktif keluarga dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi serta tanda bahaya kebidanan bagi ibu sehingga melahirkan bayi yang sehat. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penentu untuk memilih penolong persalinan. pengetahuan perlu di tingkatkan dengan menyampaikan informasi secara continue baik melalui media/alat, penyuluhan, sosialisasi koordinasi lintas program dan lintas sektoral serta untuk kedepannya sangat diharapkan dukungan pemerintah dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) khususnya di Kecamatan Sabak Barat. Penelitian tentang sikap didapatkan 46 responden (47,9%) memiliki sikap positif dan 50 (52,1%) memiliki sikap negatif tentang pemilihan penolong persalinan pada ibu bersalin yang mendapat Stiker P4K. Hasil penelitian menunjukan sebagian responden memiliki sikap positif dan memiliki sikap negatif dalam pemilihan penolong persalinan.

61


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Penelitian tentang hubungan antara sikap dengan penolong persalinan dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4 Distribusi Hubungan Sikap dengan Penolong Persalinan pada Responden yang Mendapatkan Stiket P4K di Kec. Sabak Kab. Tanjung Jabung Timur Penolong Persalinan Ju Non PNakes Sikap Nakes mla Value h f % f % Tinggi

28

Rendah Total

31 59

60.9 18 39.1 46 62

19 37

38

1,000

50 96

Hasil uji statistik (chisquare) di peroleh p-value = 1,000 menunjukkan tidak ada hubungan antara sikap dengan pemilihan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat.Berdasarkan hasil penelitian diketahui responden yang memiliki sikap positif cenderung memilih penolong persalinan dengan nakes, namun sebagian masih ada yang memilih persalinan dengan non nakes. Sementara sikap responden yang negatif sebagian besar memilih persalinan dengan nakes dan sebagian kecil memilih penolong persalinan dengan non nakes. Mayoritas responden menyatakan sikap positif terhadap peran kader yang sangat mendukung P4K dalam memilih penolong persalinan, responden juga menyatakan sikap positif terhadap sikap suami dan keluarga yang perlu menyediakan dana yang cukup untuk biaya persalinan serta dukungan dalam menentukan penolong persalinan, sikap positif terhadap tokoh masyarakat harus memberikan dukungan dalam pelaksanaan program P4K. Sementara sebagian responden menyatakan sikap positif terhadap ibu tidak berhak menentukan atau memilih penolong persalinannya, untuk mendapatkan pertolongan persalinan ke dukun saja, serta minoritas menyatakan sikap positif rumah ibu hamil yang terpasang stiker P4K harus melahirkan dengan Bidan. Menurut Depkes RI (2009:10) kesepakatan ibu, suami dan keluarga dalam P4K adalah: mendiskusikan dan menentukan tempat dan calon penolong persalinan serta menandatangani â&#x20AC;&#x153;Perjanjian Tertulis/Amanat Persalinanâ&#x20AC;?, menyiapkan dana untuk kepentingan dan

62

kebutuhan ibu selama hamil, bersalin dan nifas termasuk biaya rujukan. Sikap merupakan reaksi tertutup dari seseorang, dari suatu stimulan atau objek. Tindakan adalah wujud dari sikap yang nyata. Untuk terwujudnya ini perlu faktor pendukung yang memungkinkan terbentuknya suatu perilaku dari sikap objek dimulai dari stimulus berupa materi atau objek yang diberikan sehingga menimbulkan respon lebih jauh lagi yaitu tindakan terhadap stimulus atau objek tadi (Notoatmodjo, 2003:130). Pada penelitian yang penulis lakukan diperoleh hasil sebagian responden memiliki sikap positif, hal ini dikarenakan mayoritas responden pada saat hamil bersedia/mendapatkan stiker P4K. Sedangkan responden yang memiliki sikap negatif dikarenakan latar belakang pendidikannya yang masih rendah, tradisi dan kepercayaan, kurangnya peran tokoh masyarakat dan peran petugas kesehatan sehingga masih adanya ibu yang terpasang stiker P4K memilih penolong persalinan dengan non tenaga kesehatan. Hasil penelitian tentang tradisi dan kepercayaan masyarakat didapatkan 61 (63,5%) responden mengatakan mendukung dan 35 (36,5%) responden mengatakan tidak mendukung pemilihan penolong persalinan pada ibu bersalin yang mendapat Stiker P4K. Dari hasil analisis data tentang tradisi dan kepercayaan masyarakat didapatkan bahwa sebagian besar responden menyatakan mendukung persalinan di tolong oleh non nakes. Hal ini menggambarkan bahwa budaya setempat mendukung dan membenarkan persalinan ditolong oleh non nakes (dukun beranak). Hasil penelitian hubungan antara tradisi dan kepercayaan masyarakat dengan penolong persalinan dapat dilihat pada tabel 6 berikut: Tabel 6 Distribusi Hubungan Tradisi dan Kepercayaan Masyarakat dengan Penolong Persalinan Pada Responden yang mendapatkan Stiket P4K di Kec. Sabak Barat Kab. Tanjung Jabung Timur Tradisi dan kepercayaan masyarakat

Penolong Persalinan Nakes

Non Nakes

f

f

%

Juml P-Value ah

%

Tinggi

43 66.2 22 33.8

65

Rendah

16 51.6 15 48.4

31

59

96

0,00 Total

37


Faktor â&#x20AC;&#x201C; Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Penolong Persalinan ... Taty Nurti, Suharti

Hasil uji statistik (chisquare) di peroleh p-value = 0,00 menunjukkan ada hubungan antara tradisi dan kepercayaan dengan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat. Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagian besar tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat mendukung persalinan dengan tenaga kesehatan dan juga non nakes. Namun sebagian kecil tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat yang dikategorikan tidak mendukung memilih persalinan dengan nakes dan non nakes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya yang mereka miliki merupakan budaya yang mendukung yaitu budaya yang membenarkan bahwa pertolongan persalinan sebaiknya ditolong oleh tenaga non kesehatan. Secara proporsi ibu yang memilih tenaga non kesehatan, mayoritas mempunyai budaya yang mendukung persalinan di tolong oleh non nakes. Keadaan ini menunjukkan bahwa jika ibu mempunyai tradisi dan budaya tidak mendukung persalinan dengan tenaga kesehatan maka semakin besar keputusan ibu untuk memilih non nakes sebagai penolong persalinannya. Selain itu juga mencerminkan bahwa faktor tradisi dan budaya mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pemilihan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat, mengingat masih ada beberapa daerah yang relatif sulit dijangkau oleh tenaga kesehatan maka akan semakin membuka peluang tenaga non tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan pertolongan persalinan pada masyarakat setempat, serta akan semakin menumbuhkan pemikiran yang permanen dan membudaya bagi masyarakat setempat untuk memanfaatkan tenaga kesehatan untuk penolong persalinannya. Masih ada sebagian masyarakat di Kecamatan Sabak Barat yang fanatik dengan budaya dan adat istiadatnya sehingga penerimaan bidan di desa akan sulit, untuk itu perlu dilakukan penelitian mendalam tentang pengaruh budaya masyarakat setempat terhadap penolong persalinan karena keadaan ini akan berimplikasi terhadap derajat kesehatan masyarakat khususnya kematian ibu dan bayi. Menurut Sumaryoto (2003) dalam Juliwanto (2007:35) faktor non medis terbukti merupakan faktor dominan yang memberikan kontribusi terhadap kematian ibu dan bayi karena hamil, melahirkan dan

2012

nifas. Apalagi saat ini belum semua masyarakat siap melaksanakan perubahan perilaku pengaruh sosial budaya dan bias jender serta masih kurangnya informasi dan kemampuan menerima /menyerap informasi. Mayoritas responden yang memilih non nakes mempunyai tradisi tidak mendukung dibanding ibu yang mempunyai tradisi mendukung. Keadaan ini menunjukan bahwa jika ibu mempunyai budaya tidak mendukung yaitu budaya yang masih menyalahkan atau tidak membenarkan penolong persalinan oleh nakes maka akan semakin besar responden memilih non nakes (dukun beranak) dalam persalinan. Menurut Syafruddin (2009:165) dukun atau non tenaga kesehatan adalah orang yang trampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat, kepercayaan masyarakat terhadap ketrampilan dukun bayi berkaitan dengan sistim nilai budaya masyarakat, dukun bayi diperlakukan sebagai toko masyarakat sehingga memiliki potensi dalam pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar responden mengatakan tradisi dan kepercayaan setempat mendukung bahwa persalinan dengan dukun lebih baik dari pada Bidan, responden mengatakan tradisi dan kepercayaan setempat sebaiknya persalinan di tolong oleh dukun. Sementara sebagian kecil responden mengatakan tradisi setempat tidak mendukung penentu penolong persalinan adalah suami atau keluarga, serta sebagian responden mengatakan tidak terbiasa melahirkan dengan petugas kesehatan. Hasil penelitian di Kecamatan Sabak Barat, tradisi dan kepercayaan masyarakat merupakan faktor utama yang paling berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan, dimana tradisi dan kepercayaan setempat mayoritas beranggapan bahwa persalinan lebih baik ditolong oleh dukun yang sudah merupakan tradisi dan adat istiadat, yang turun menurun dari nenek moyang setempat dan kematian karena kehamilan, persalinan di anggap hal yang wajar. Tentu saja hal ini jika dibiarkan berlarutlarut akan berkontribusi besar sebagai penyebab kematian ibu dan bayi khususnya di kecamatan Sabak Barat.

63


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Diharapkan kepada semua unsur terkait untuk memberikan pandangan dan informasi kepada masyarakat setempat tentang pentingnya persaalinan di tolong oleh petugas kesehatan. Penelitian tentang peran tokoh masyarakat menunjukkan 48 (50%) responden mengatakan mendukung dan 48 (50%) responden mengatakan tidak mendukung tentang pemilihan penolong persalinan pada ibu bersalin yang mendapat Stiker P4K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden mengatakan peran tokoh masyarakat mendukung dan sebagian responden mengatakan peran tokoh masyarakat tidak mendukung dalam pemilihan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat. Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar responden mengatakan tokoh masyarakat pernah menganjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilan ke Bidan, serta tokoh masyarakat mendukung ibu untuk melahirkan dengan Bidan. Namun sebagian besar responden mengatakan tidak ada ambulan desa, tabulin dan tokoh masyarakat yang menjadi donor darah. Hubungan antara peran tokoh masyarakat dengan penolong persalinan dapat dilihat pada tabel 7 berikut: Tabel 7 Distribusi Hubungan Peran Tokoh Masyarakat dengan Penolong Persalinan Pada Responden yang Mendapatkan Stiker P4K di Kec. Sabak Barat Kab. Tanjung Jabung Timur

Peran Tokoh Masyarakat

Penolong Persalinan Non Jumlah Nakes Nakes f % f %

Mendukung

47

77

Tidak Mendukung

12

34.3

Total

59

14

23

PValue

61 0,01

23 65.7 35 37

96

Hasil uji statistik (chisquare) di peroleh p-value = 0,01 menunjukkan ada hubungan antara peran tokoh masyarakat dengan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat. Berdasarkan hasil penelitian hubungan peran tokoh masyarakat dengan penolong persalinan sebagian besar mendukung persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan dan peran tokoh masyarakat yang dikategorikan tidak

64

mendukung sebagian besar memilih persalinan ditolong dengan non nakes. Menurut Ralph Linton (1968) tokoh masyarakat adalah setiap kelompok yang hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial (http://www.google.co.id/pengertianmasyar akat. htm.26/05/2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran tokoh masyarakat sangat berperan bagi masyarakat setempat dalam menentukan pemilihan penolong persalinan baik terhadap tenaga kesehatan maupun non tenaga kesehatan. Hal ini mencerminkan bahwa tokoh masyarakat dapat menjadi panutan bagi responden dalam pemilihan penolong persalinan karena figur tokoh masyarakat, tindakan dan ucapannya juga mempengaruhi pandangan dan keyakinan masyarakat dalam hal ini pemilihan penolong persalinan. Masyarakat adalah suatu sistem kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok dan penggolongan, serta pengawasan tingkah laku serta kebiasaankebiasaan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial (http://mulfiblog. wordpress.com.pengertiantradisi.25/02/2011 Masih adanya peran tokoh masyarakat yang tidak mendukung pelaksanaan P4K dalam pemilihan penolong persalinan ke petugas kesehatan, hal ini dikarenakan kurangnya kepedulian dari tokoh masyarakat setempat yang masih beranggapan kematian ibu dan bayi karena kehamilan persalinan dan nifas adalah hal yang wajar dan tidak ada seseorang pun yang mampu menghalangi ketentuan dari Yang Maha Kuasa. Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat agar berperan dan turut serta dalam mensukseskan program P4K. Pemuka masyarakat diharapkan berfungsi sebagai pendukung. Di bawah tanggung jawab pimpinan puskesmas, bidan bertindak sebagai koordinator pelaksanaan dukun bayi (Syafrudin, 2009:167). Pertolongan persalinan dengan tenaga kesehatan sangat berpengaruh dalam menurunkan angka kematian ibu


Faktor â&#x20AC;&#x201C; Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Penolong Persalinan ... Taty Nurti, Suharti

dan bayi karena penyebab utama kematian ibu dan bayi adalah selain perdarahan dan komplikasi kehamilan juga penanganan persalinan yang tidak sesuai standar atau persalinan yang di tolong oleh dukun, dimana dukun tidak dapat mengenali setiap komplikasi yang mungkin terjadi dan tidak dapat mengambil keputusan /tindakan yang sesuai dengan standar yang di inginkan. Penelitian peran petugas kesehatan diketahui 67 (69,8%) responden mengatakan berperan dan 29 (30,2%) responden mengatakan tidak berperan dalam pemilihan penolong persalinan pada ibu bersalin yang mendapat Stiker P4K. Hasil analisis data tentang peran petugas kesehatan didapatkan sebagian besar responden mengatakan petugas kesehatan berperan dan sebagian kecil responden mengatakan tidak berperan dalam pemilihan penolong persalinan. Penelitian tentang hubungan antara peran petugas kesehatan dengan penolong persalinan dapat dilihat pada tabel 8 berikut: Tabel 8 Distribusi Hubungan Peran Petugas dengan Penolong Persalinan Pada Responden yang Mendapatkan Stiker P4K di Kec. Sabak Barat Kab. Tanjung Jabung Timur Penolong Persalinan Peran Non PJumlah Nakes Petugas Nakes Value f % f % Berperan

47

70.1 20 29.9 67

Tidak berperan

12

41.4 17 58.6 29

Total

59

37

0,015

96

Hasil uji statistik (chisquare) di peroleh p-value = 0,015 menunjukkan ada hubungan antara peran petugas kesehatan dengan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat. Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar petugas yang berperan dalam pemilihan penolong persalinan responden memilih persalinan dengan nakes dan sebagian besar petugas yang tidak berperan dalam pemilihan penolong persalinan responden memilih penolong persalinan dengan non nakes. Menurut Depkes RI (2009:17) peran petugas kesehatan dalam P4K pada masa kehamilan dan persalinan sangat penting, dimana seorang bidan harus mampu melakukan suatu perencanaan

2012

persalinan terhadap ibu hamil dan keluarga untuk melahirkan pada petugas kesehatan, yang merupakan salah satu strategi penting dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar responden mengatakan saat mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dilayani dengan baik dan ramah oleh Bidan, responden mengatakan Bidan pernah memberikan saran untuk melahirkan di fasilitas kesehatan, responden mengatakan mengetahui tujuan pemasangan stiker P4K, responden mengatakan Bidan mempersiapkan tempat persalinan yang aman, responden mengatakan Bidan selalu berada di tempat, responden mengatakan Bidan menganjurkan untuk melahirkan dengan Bidan, responden mengatakan Bidan pernah melakukan penyuluhan pada ibu hamil dan keluarga. Menurut Depkes RI (2009:17) peran Bidan dalam P4K pada masa kehamilan dan persalinam, melakukan pemeriksaan ibu hamil (ANC) sesuai standart, melakukan penyuluhan dan konseling pada ibu hamil dan keluarga, melakukan kunjungan rumah dan memberikan pertolongan persalinan sesuai standar.

KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian di Kecamatan Sabak Barat sebagian besar responden memilih penolong persalinan dengan Tenaga kesehatan, namun masih ada yang memilih persalinan dengan non tenaga kesehatan, dengan alasan diantaranya pada saat proses persalinan tenaga kesehatan tidak berada ditempat, jarak tempuh kefasilitas kesehatan yang relatif jauh, adat dan tradisi setempat yang mendukung persalinan di tolong oleh non tenaga kesehatan, karena faktor biaya dan lain-lain, sebagian kecil berpendidikan tinggi, sebagian besar memiliki sosial ekonomi tinggi, sebagian kecil responden memiliki pengetahuan baik, sebagian responden memiliki sikap positif, sebagian besar responden mengatakan tradisi dan kepercayaan mendukung, sebagian responden mengatakan peran tokoh masyarakat mendukung, sebagian besar responden mengatakan petugas kesehatan berperan dalam pemilihan penolong persalinan, ada hubungan antara pendidikan, tradisi dan

65


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

kepercayaan, peran tokoh masyarakat dan peran petugas kesehatan dengan penolong persalinan, tidak ada hubungan antara sosial ekonomi, pengetahuan dan sikap dengan penolong persalinan di Kecamatan Sabak Barat. Bagi pemerintah dan Dinas Kesehataan Kabupaten Tanjung Jabung Timur hendaknya melaksanakan kegiatan lintas program dan lintras sektoral untuk meningkatkan semua unsur yang terkait khususnya dalam program P4K dengan harapan dapat meningkatkan persalinan oleh tenaga kesehatan khususnya di Kecamatan Sabak Barat, Petugas kesehatan perlu melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat, tokoh adat dan masyarakat setempat dalam memahami karakteristik budaya dan tradisi di Kecamatan Sabak Barat agar mudah diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga mendapat kemudahan dalam memberikan pelayanan kesehatan khususnya dalam memotivasi masyarakat untuk memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinannya. Bagi Puskesmas Sabak Barat dan jaringannya agar melaksanakan sosialisasi P4K secara intensif kepada masyarakat dan unsur terkait. Perlunya meningkatkan kerjasama baik lintas program maupun lintas sektoral dan menjalin kemitraan dengan Dukun bayi, kader, tokoh masyarakat, pemangku adat budaya setempat, tokoh agama dalam kegiatan peningkatan kesehatan ibu dan anak kuhususnya dalam pemilihan penolong persalinan dengan tenaga kesehatan. Perlunya pemberian penyuluhan tentang tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan serta tentang tanda-tanda kehamilan dan persalinan yang perlu diwaspadai dan pentingnya persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang berkompeten dan agar lebih proaktif dengan cara melakukan kegiatan posyandu, kunjungan rumah serta penyuluhan dalam memberikan pelayanan kebidanan kepada masyarakat Kabupaten Tanjab Timur umumnya dan Kecamatan Sabak Barat khususnya.

66

DAFTAR PUSTAKA Asrinah, dkk, 2010 Asuhan Kebidanan Masa Persalinan, Graha Ilmu, Yogyakarta : x + 184 hlm Depkes RI, 2004 Asuhan Persalinan Normal, Jakarta : iv+189 hlm __________,2008 Pedoman Praktis : Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan STIKER sebagai upaya percepatan penurunan angka kematian ibu (PP AKI). Jakarta: 7 hlm ________, 2008, Panduan Pelaksanaan Strategi Making Pregnancy Safer dan Child Survival. USAID. Jakarta: 134 hlm. _________, 2009, Pedoman Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi dengan Stiker. USAID. Jakarta: vii+4i hlm. _________, 2009, Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA). Jakarta: 63 hlm. Dinkes Propinsi Jambi, 2010, Buku Saku Kesehatan Keluarga dan KB Dinas Kesehatan Provinsi Jambi. Jambi Dinkes Kab. Tanjab Timur, 2010, Kesehatan Tanjung Jabung Timur Dalam angka Tahun 2009. Tanjab Tim: 96 hlm Juliwanto,E., 2009, Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan memilih penolong persalinan pada ibu hamil di Kecamatan Dabul Rahmah Kabupaten Aceh Tenggara. Thesis.USU Medan: x+87 hlm. Notoatmodjo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta :Rineke Cipta, iv + 214 hlm __________, 2007, Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. Rineke Cipta, Jakarta: 389 hlm http://www.google.co.id/pengertianmasyarakat. htm. Diakses 26/05/2011 http://mulfiblog. wordpress.com.pengertiantradisi. Diakses 25/02/2011 Rencana Strategi Kemenkes Tahun 20102014, Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK. 03.01/160/2010. Jakarta 2010 : xi+94 Syafrudin, 2009, Kebidanan Komunitas. EGC. Jakarta: x+283 hlm


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

GAMBARAN PERILAKU CARING PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT UMUM RADEN MATTAHER JAMBI TAHUN 2011 Debbie Nomiko, Arvida Bar, HM Thaib Staf Pengajar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jambi

ABSTRAK Kontribusi pelayanan asuhan keperawatan sangat menentukan tinggi rendahnya mutu pelayanan asuhan keperawatan. Pelayanan keperawatan merupakan 90% dari pelayanan kesehatan di rumah sakit. Persepsi masyarakat terhadap perawat profesional apabila perawat memiliki etik dan caring dalam pelayanan keperawatan. Perilaku caring merupakan suatu sikap, rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain, artinya memberikan perhatian yang lebih kepada seseorang dan bagaimana seseorang itu bertindak. Perilaku caring sangat penting dalam layanan keperawatan karena akan memberikan kepuasan pada klien dan perawatan akan lebih memahami konsep caring, khususnya perilaku caring dan mengaplikasikan dalam pelayanan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku caring perawat pelaksana di RSUD Raden Mattaher Jambi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Penelitian dilakukan pada delapan partisipan yang dipilih secara purposif sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dengan melakukan analisis tematik Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku caring perawat pelaksana RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 yang dilakukan secara optimal adalah empati terhadap keluarga dan klien, memberikan kenyamanan kepada klien, memberi motivasi pada klien dan keluarga, tanggung jawab dalam tindakan, dan mengendalikan perasaan. Perilaku caring perawat pelaksana RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 yang belum dilakukan secara optimal adalah pemberian informasi yang tidak adekuat, komunikasi tidak terapeutik, kurang responsive, kurang tulus dalam melayani. Saran untuk pihak manajemen RSUD Raden Mattaher adalah menetapkan caring sebagai etos budaya kerja dalam lingkungan tenaga kesehatan di seluruh ruang perawatan RSD Raden Mattaher dan merumuskan pedoman evaluasi perilaku serta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan perilaku caring secara berkala Kata Kunci : Caring, Perilaku, Perawat Pelaksana

PENDAHULUAN Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat sebagai suatu profesi, memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dalam memberikan asuhan keperawatan yang bermutu. Asuhan keperawatan yang bermutu merupakan asuhan manusiawi yang diberikan kepada pasien, memenuhi standar dan kriteria profesi keperawatan, sesuai dengan standar biaya dan kualitas yang diharapkan rumah sakit serta mampu mencapai tingkat kepuasan dan memenuhi harapan pasien. (Nuracmah, 2001) Kontribusi pelayanan asuhan keperawatan sangat menentukan tinggi rendahnya mutu pelayanan asuhan keperawatan. Hal ini senada dengan apa yang dinyatakan Huber (2000) bahwa pelayanan keperawatan merupakan 90% dari pelayanan kesehatan di rumah sakit. Dengan demikian profesi keperawatan diharapkan mampu memberikan pelayanan prima (Excellent Service)

kepada masyarakat sebagai penerima jasa pelayanan. Memahami kebutuhan dan keinginan pasien adalah hal penting yang mempengaruhi kepuasan pasien. Pasien yang puas merupakan aset yang sangat berharga karena apabila pasien puas mereka akan terus memakai jasa pilihannya tetapi jika pasien merasa tidak puas mereka akan memberitahukan dua kali lebih hebat kepada orang lain tentang pengalaman buruknya. Untuk mciptakan kepuasan pasien suatu pelayanan di rumah sakit harus menciptakan dan mengelola suatu sistem untuk memperoleh pasien yang lebih banyak dan kemampuan untuk mempertahankan pasiennya. Persepsi masyarakat terhadap perawat profesional apabila perawat memiliki etik dan caring dalam pelayanan keperawatan. Tidak dapat dipungkiri bahwa mutu pelayanan asuhan keperawatan di Indonesia masih belum memuaskan masyarakat. Kesan umum masyarakat Indonesia tentang perilaku perawat sampai saat ini masih berkonotasi

67


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

negatif seperti tidak ramah, judes, pemarah, dan tidak memberikan informasi yang diperlukan (Hamid, 2001) Asuhan keperawatan bermutu yang diberikan oleh perawat dapat dicapai apabila perawat dapat memperlihatkan sikap caring kepada klien. Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada di samping klien, dan bersikap caring sebagai media pemberi asuhan (Curruth, dkk, 1999). Perilaku caring merupakan suatu sikap, rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain, artinya memberikan perhatian yang lebih kepada seseorang dan bagaimana seseorang itu bertindak. Karena perilaku caring merupakan perpaduan perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dalam membantu pasien yang sakit. Perilaku caring sangat penting untuk mengembangkan, memperbaiki dan meningkatkan kondisi atau cara hidup manusia. Perilaku caring sangat penting dalam layanan keperawatan karena akan memberikan kepuasan pada klien dan perawatan akan lebih memahami konsep caring, khususnya perilaku caring dan mengaplikasikan dalam pelayanan keperawatan. Watson (2004) menyatakan caring adalah esensi dari keperawatan dan merupakan fokus senraal dari praktek keperawatan. Watson membedakan secara jeals antara caring dan curing. Curing adalah domain yang digunakan oleh dokter dalam intervensi penyakit, sedangkan caring adalah domain yang digunakan perawat untuk intervensi keperawatan. Bentuk pelayanan keperawatan yang penting adalah terlihatnya perilaku caring perawat yang merupakan inti (core) dari praktek perawatan profesional. Ropi (2005) menambahkan caring artinya dimana seorang perawat harus bersikap sopan santun, menghormati klien dan keluarga, sikap mau mendengarkan, memberikan penyuluhan pada klien, siap sedia bila dibutuhkan, dan mempunyai kemamapuan tekhnikal dalam intervensi keperawatan. Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi merupakan rumah sakit rujukan dengan kualifikasi B, dan mempunyai visi : memberikan pelayanan prima kepada pelanggan dengan kepuasan bekerja bagi karyawan rumah sakit dan misinya adalah

68

mandiri dalam pengelolaan manajemen dan profesionalisme dalam pelayanan. Untuk mewujudkan visi misi rumah sakit tersebut sangatlah diperlukan pelayanan keperawatan yang berlandaskan perilaku caring yang professional, karena tidak hanya kebutuhan pengobatan dan perawatan secara fisik saja yang terpenuhi oleh pelanggan, tetapi juga pelayanan secara batin dan moral terpenuhi. Perilaku caring perawat berpengaruh terhadap kemauan pasien yang berkunjung ke suatu pelayanan kesehatan. Berdasarkan data dari rekam medik RS Raden Mattaher didapat data bahwa jumlah hunian tempat tidur RS mengalami penurunan dari tahun ke tahun yaitu tahun 2008 (89,64%), tahun 2009 (76,25%), tahun 2010 (71,77%). Bila dibandingkan dengan standar minimal BOR adalah 80%, maka hal ini dapat menjadi perhatian manajemen rumah sakit, karena hal ini secara tidak langsung dapat berimplikasi terhadap mutu pelayanan RSUD Raden Mattaher sebagai institusi yang memberi pelayanan kesehatan di Kota Jambi. Berdasarkan komunikasi personal dari 5 pasien di ruang rawat inap kelas 2 dan 3 RSD Raden Mattaher tanggal 4 Mei 2011, bahwa mereka masih mendapatkan pelayanan dari perawat yang kurang perhatian dalam melayani pasien, memberi bantuan jika diminta, perawat jarang berkomunikasi dengan pasien, kurang tanggap dengan keluhan pasien, melayani terburu-buru, merawat luka dengan jarang berkomunikasi. Dari data media surat khabar Jambi Independent tanggal 23 Desember 2010, adanya berita tentang ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit Raden Mattaher yang dianggap lamban dan terkesan kurang ramah dalam pelayanan pada pasien pengguna jasa kartu Jamkesmas. Hasil penelitian Ratna (2011) tentang perilaku caring perawat pelaksana RSUD Raden Mattaher Jambi dengan jumlah responden sebanyak 87 perawat, didapatkan hasil bahwa perawat yang berperilaku caring baik sebanyak 60,9% dan yang kurang berperilaku caring sebanyak 39,1%. Hasil penelitian Margaretha (2008) tentang persepsi pasien tentang perilaku caring perawat dalam pelayanan keperawatan di RS Mardi Rahayu Kudus menghasilkan dua tema yaitu: pengetahuan perilaku caring perawat


Gambaran Perilaku Caring Perawat Pelaksana ... Debbie Nomiko, Arvida Bar, HM Thaib

menurut pasien adalah perawat memberi perhatian lebih kepada pasien dan diangggap keluarga, perilaku caring perawat yang dirasakan pasien adalah perawat aktif bertanya, berbicara lembut, memberi dukungan, responsif, terampil dan menghargai serta menjelaskan. Caring sangatlah penting untuk keperawatan. Caring adalah fokus pemersatu untuk praktek keperawatan (Blais). Perilaku caring juga sangat penting untuk tumbuh kembang, memperbaiki dan meningkatkan kondisi atau cara hidup manusia (Blais, 2007). Caring juga merupakan sikap peduli, menghormati dan menghargai orang lain, artinya memberi perhatian dan mempelajari kesukaan â&#x20AC;&#x201C; kesukaan seseorang dan bagaimana seseorang berfikir dan bertindak. Memberikan asuhan (Caring) secara sederhana tidak hanya sebuah perasaan emosional atau tingkah laku sederhana, karena caring merupakan kepedulian untuk mencapai perawatan yang lebih baik ( Dwidayanti, 2007 ) Dari fenomena yang tampak, masih banyak perawat yang bersikap kurang bersahabat, kurang peduli dalam melayani klien dan keluarga. Padahal profesi perawat merupakan ujung tombak dari pelayanan kesehatan di rumah sakit. Baik buruknya citra suatu rumah sakit , sebagian besar ditentukan oleh perilaku perawat di rumah sakit tersebut. Dengan permasalahan tersebut, maka peneliti ingin mengetahui bagaimana perilaku caring perawat perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk untuk memperoleh gambaran tentang perilaku caring perawat pelaksana di RSUD Raden Mattaher Jambi BAHAN DAN CARA KERJA Sebagai pedoman dalam penelitian ini, maka dirumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut : 10 faktor karatif caring perawat (Watson,2004) 1. Mendengar dengan penuh perhatian 2. Memberi rasa aman 3. Berkata jujur 4. Memiliki kesabatan 5. Tanggung Jawab 6. Memberi informasi 7. Memberikan entuhan 8. Menunjukkan sensitifitas 9. Menunjukkan rasa hormat 10. Memanggil klien dengan sebutan namanya

Perilaku caring perawat

2012

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Pendekatan ini merupakan salah satu metode penelitian yang berasal dari lapangan untuk menggali dan menggambarkan suatu pengalaman individu di uatu tatanan alamiah. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan pengalaman partsipan secara mendalam sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya mengenai cara, kebiasaan, perilaku individu dan kelompok yang menjadi sasaran penelitian. Penelitian dilakukan bulan Juli 2011 di ruang rawat inap Bedah, Interne, Syaraf, Teratai, Jantung dan Paru RSUD Raden Mattaher Jambi. Partisipan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan purposive sampling yaitu mendapatkan informasi dari informan kunci yakni orang yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan atau informan tersebut penguasa sehingga memudahkan peneliti menjelajahi obyek penelitiannya. Partisipan penelitian ini adalah perawat pelaksana di ruang rawat inap RSUD Raden Mattaher Jambi berjumlah 6 orang dengan kriteria inklusi berpendidikan minimal DIII Keperawatan dan bersedia menjadi partisipan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dimulai dengan menjelaskan tujuan dari penelitan dan informasi yang dibutuhkan (informed consent), membuat kesepakatan dengan informan tentang pelaksanaan wawancara mendalam. Peneliti juga melakukan observasi untuk beberapa faktor karatif caring perawat, hasil observasi dicatat pada catatan. Wawancara mendalam dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan partisipan, dilakukan sesuai pedoman wawancara, untuk pertanyaan bersifat fleksibel, menggunakan tekhnik probing dan mendalam mengikuti jawaban yang diberikan responden. Waktu yang dipergunakan untuk penelitian lebih kurang 60 menit dengan menggunakan tape recorder Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan menggunakan pedoman wawancara mendalam dan observasi. Selain instrument peneliti juga menggunakan alat perekam selama diskusi dan wawancara serta alat tulis. Pengolahan data dilakukan secara manual. Data yang telah terkumpul akan dijabarkan dan ditulis seluruhnya dalam bentuk matriks, selanjutnya akan dilakukan pengorganisasian dan pengolahan data. Kemudian data

69


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

diidentifikasi melalui proses pengkodean. Pengkodean atau pembentukan katagori, kata-kata kunci yang ditemukan dikelompokkan untuk membentuk katagori-katagori, pengkodean untuk pengelompokkan katagori-katagori, dicari keterkaitannya antara katagori satu dengan katagori yang lain untuk membentuk tema. Penentuan tema didasari pada tujuan yang akan dicapai..Analisis tema tentang berbagai perilaku caring perawat pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien yang dilakukan dengan melalui beberapa tahapan yaitu : 1). Mendengarkan kembali deskripsi verbal partisipan dilakukan dengan rekaman hasil, lalu dibuat transkrip. 2) Melakukan proses pemilahan pernyataan dan datadata yang signifikan. 3) Melakukan analisa mendalam terhadap data-data yang signifikan 4)Menganalisis kata kunci dengan membuat kode 5). Menganalisis beberapa katagori untuk membuat tema. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menghasilkan 9 tema perilaku caring perawat pelaksana RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011. Tema pertama yang muncul dalam penelitian ini adalah memberikan informasi tidak adekuat. Dalam tema ini , terdapat 2 katagori yang muncul yaitu :a) keterbatasan pengetahuan b) Di luar batas wewenang. Berikut contoh pernyataan 1 partisipan dari 6 partisipan yang dianalisis dari katagori keterbatasan pengetahuan yaitu : â&#x20AC;&#x153;Yoo. Kito memberikan sebatas pengetahuan kitolah, kalo kita dak tahu..dak biso kito jelaskan khanâ&#x20AC;Ś!: (Partisipan 1).

Dari hasil penelitian berdasarkan analisis tematik ditemukan beberapa katagori yang mendukung tema memberikan informasi yang tidak adekuat yaitu keterbatasan pengetahuan dan di luar batas wewenang perawat. Salah satu elemen peran perawat professional menurut Tomey (1994)diharapkan perawat dapat menjadi konsultan yaitu sebagai sumber informasi yang dapat membantu memecahkan masalah klien. Dalam konsep caring peningkatan belajar mengajar interpersonal adalah konsep yang penting dalam keperawatan, yang membedakan antara caring dan curing. Perawat memberikan informasi

70

kepada klien. Perawat bertanggungjawab akan kesejahteraan dan kesehatan klien. Perawat memfasilitasi proses belajar mengajar yang didesain untuk memampukan klien memenuhi kebutuhan pribadinya, memberikan asuhan mandiri, menetapkan kebutuhan personal klien (Nurachmah, 2001). Menurut analisa peneliti, keterbatasan pengetahuan perawat dalam memberikan informasi kepada pasien dan keluarga dapat menyebabkan menurunnya kepercayaan klien dan keluarga terhadap kemampuan perawat. Perawat dianggap kurang professional karena tidak mampu menjelaskan kondisi dan keluhan pasien, tidak menjelaskan tindakan yang akan diberikan secara adekuat, dan kurang memberi keyakinan kepada pasien dan keluarga terhadap kondisi yang dialami pasien. Lebih lanjut menurut Watson (2004) dalam 10 faktor karatif caring dalam faktor ketujuh dikatakan caring adalah perawat berusaha meningkatkan pembelajaran dalam hubungan interpersonal yaitu dengan : a). Dengan menerangkan setiap keluhan yang dikemukakan kien secara rasional dan ilmiah, b). Menjelaskan setiap tindakan yang akan diberikan, c). Menunjukkan keadaan atau kondisi yang bermanfaat agar klien memahami proses penyakit, d).Menanyakan kepada klien tentang kebutuhan pengetahuan yang ingin diketahuinya (terkait penyakitnya) , e). Meyakinkan kepada klien tentang kesediaan untuk menjelaskan. Ditambahkan oleh Watson (2004) bahwa perilaku caring perawat adalah suatu perilaku yang meliputi antara lain mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menyediakan informai sehingga pasien dapat membuat keputusan. Hasil penelitian Patistea, E & Siamanta, H, (1999). menunjukkan bahwa persepsi pasien terhadap perilaku caring perawat adalah perawat yang mempunyai tekhnik ketrampilan tinggi dan kompetensi yang professional. Empati terhadap kondisi klien dan keluarga Tema yang kedua adalah empati terhadap perasaan keluarga dan pasien. Dari tema tersebut, terdapat tiga katagori yang muncul yaitu : a) ikut merasakan b) tidak ikut terlarut c) memberi penguatan, Berikut pernyataan 1 dari 6 partisipan : â&#x20AC;&#x153; Saya ikut merasakan juga musibah yang dialami keluargaâ&#x20AC;Śbiasanya saya ngomong


Gambaran Perilaku Caring Perawat Pelaksana ... Debbie Nomiko, Arvida Bar, HM Thaib

gini..ya ibu..mau gimana lagi, ini sudah jalannya, ikhlaskan ya bu..biar suasana tenang kan..” (Partisipan 5)

Hasil analisis tematik didapatkan bahwa semua partisipan berempati terhadap kondisi klien dan keluarga. Hal ini dapat dianalisa dari ungkapan partisipan bahwa mereka turut berempati terhadap kesedihan dan penderitaan yang dimiliki klien dan keluarga. Sehingga dari tema tersebut, terdapat tiga katagori yang muncul yaitu : a) ikut merasakan b) tidak ikut terlarut c) memberi penguatan. Caring adalah perawat belajar menghargai kesensitifan dan perasaan klien, sehingga ia sendiri dapat menjadi lebih sensitif dan , murni dan bersikap wajar pada orang lain (Nurachmah, 2001) Berdasarkan hasil penelitian Connel ,E & Landers, M (2008) caring adalah perawat mampu mendemonstrasikan kompetensi teknis, bersikap peduli dan aspek emosional mereka. , dan hal ini dapat membuat perawat memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang berpusat pada klien. SIkap empati yang diperlihatkan perawat dapat meningkatkan hubungan saling percaya antara klien/keluarga karena klien merasa dihargai. Sikap simpati juga merupakan pencerminan sikap altrusme dan humanistis dan mampu memberikan kepuasan kepada klien. Tema yang ketiga dalam penelitian ini adalah memberikan kenyamanan pada pasien. Dari tema ketiga ini ada dua katagori yang muncul yaitu a) berusaha mengatasi masalah klien b) berusaha menenangkan klien. Berikut pernyataan 1 dari 6 partisipan dari katagori berusaha menenangkan pasien : “ Ditenangkan dulu pasiennyo, biasonyo saya ngomong gini, bu saya bisa merasakan apa yang ibu rasokan, ..tapi bu usaha sabar yo..namonyo penyakit emang gitu rasonyo…” (Partisipan 1)

Kenyamanan pasien merupakan salah satu kebutuhan manusia. Perawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif yaitu kebutuhan biofisik, psikososial, psikofisikal dan interpersonal klien. (Nurachmah, 2001). Caring juga termasuk semua tindakan perawat, prosedur atau intervensi keperawatan yang bertujuan untuk membantu klien agar mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Watson (2004) mengungkapkan dalam 10 faktor karatif caring yaitu

2012

mengembangkan hubungan saling menolong, peduli dan saling percaya, salah satunya melalui meyakinkan klien dengan kahadiran perawat sebagai orang yang siap menolong setiap saat ketika ia membutuhkan. Hasil penelitian Margeretha (2004) mengungkapkan bahwa perilaku caring adalah perawat membuat nyaman saat sakit, dengan kata lain perawat memberikan ketenangan dan kenyamanan. Tema yang keempat adalah komunikasi yang dilakukan perawat tidak terapeutik. Dalam analisis tematik ini ditemukan 2 katagori mendukung yaitu : a)tidak memperkenalkan diri. B) tidak kontak mata, Hasil penelitian dalam studi ini mendapatkan data bahwa semua partisipan tidak memperkenalkan diri saat berkomunikasi dengan klien. Banyak menulis juga merupakan kegiatan rutin yang terobservasi yang seringkali dilakukan partisipan. Berikut pernyataan 1 dari 6 partisipan yaitu : “ Biasonyo dengan pasien baru, saya langsung tanyo namanyo,,,ucapkan selamat pagi,,tapi sayo dak pernah memperkenalkan diri sayo, khan pasien sudah tau lah sayo perawat di ruangan ini…” (Partisipan 1).

Dari 6 partisipan, yang diwawancarai, 5 diantaranya tidak melakukan kontak mata pada saat berinteraksi dengan klien.. Berikut pernyataan 1 dari 6 partisipan yaitu : “Kalo lagi operan shift yo, kami biasonyo berkeliling, langsung melaporkan saja kondisi pasien ke teman dinas berikutnya, jarang berkomunikasi kontak mato dengan pasien gitu, paling cuma nyapo .” (Partisipan 1)

Tappen (2004) mengatakan bahwa komunikasi terapeutik akan menentukan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien dan keluarga. Proses komunikasi terapeutik meliputi kemampuan dan komitmen yang tulus dari perawat untuk memberikan pelayanan keperawatan kepada klien dan membantu klien serta keluarganya untuk mencapai keberhailan dalam proses penyembuhan. (Potter & Perry, 2001)Watson dalam 10 faktor karatif caring mengungkapkan bahwa salah satu aspek caring adalah perawat dapat mengembangkan hubungan menolong, saling percaya melalui sikap memperkenalkan diri, mengucapkan salam ketika berinteraksi

71


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

dan mempertahankan kontak mata dengan klien Tema kelima yang dapat diangkat dari hasil penelitian berdasarkan fenomena yang ada adalah mengendalikan perasaan. Ada 2 katagori dalam tema ini yaitu :a) Menjelaskan permasalahan b) Berusaha menenangkan. Pernyataan 1 dari 6 partisipan dapat dianalisis berikut ini : “Kita juga berusaha menenangkan diri, selain itu juga berusaha menenangkan keluarga pasien yang emosi, agak dongkol juga, tapi mau gimana lagi, namanya menenangkan hati orang yang marah..” (Partisipan 3)

Watson (2004) dalam 10 faktor caratif mengungkapkan caring. hadir untuk menampung dan mendukung ekspresi perasaan positif dan negative sebagai suatu hubungan dengan semangat yang dalam dari diri sendiri dan orang yang dirawat, merupakan salah satu hal aplikasi caring, selain itu salah satu aplikasinya dalam asuhan keperawatan yaitu dengan. Menunjukkan sikap tenang dan sabar ketika menghadapi berbagai sikap klien dan keluarga dan dapat mengendalikan perasaan ketika klien /keluarga bersikap kasar terhadap perawat Dari hasil wawancara dengan partisipan, semua partisipan berusaha mengendalikan perasaan mereka ketika berhadapan dengan keluarga pasien/pasien yang sedang emosi di ruangan tempat mereka bekerja. Perawat harus siap untuk ekspresi perasaan positif maupun negatif bagi klien. Perawat harus menggunakan pemahaman intelektual maupun emosional pada keadaan yang berbeda (Barnhart, et al., 1994, dalam MarinerTomey, 1994; kozier & Erb, 1985). Tema yang yang keenam adalah tanggung jawab. Tanggung jawab perawat adalah membantu apa pun yang pasien butuhkan utntuk memenuhi kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa aman ketika dalam mendapatkan pengobatan atau pemantauan) Perawat harus mengetahui kebutuhan pasien untuk memenuhinya (Orlando dalam Tomey,1994) Ada 2 katagori yang muncul dalam tema ini yaitu : a) Menolong klien b) Kesadaran tugas. Tappen (2004) mengatakan bahwa caring adalah esensi dari keperawatan yang merupakan inti nilainilai moral keperawatan, bahwa inti moral

72

dan etik keperawatan adalah tanggung jawab dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada klien. Berikut pernyataan 1 dari 6 partisipan yaitu : “ Itu khan sudah menjadi tanggung jawab perawat, jadi yah…karena sudah lama di ruangan, udah menjadi hal yang rutinitas..(Partisipan 5).

Dari hasil observasi , partisipan tampak terus memantau perkembangan kondisi klien yang post control dengan sering mengunjungi klien di ruangan, memberikan perawatan dan pengobatan serta memantau tanda-tanda vital klien. Kurang responsive terhadap pasien merupakan tema ketujuh yang muncul dalam penelitian ini. Dari hasil analisis tema, ada dua katagori yang muncul dalam tema ini yaitu : a) Meminta pasien menunggu b) Memilah kondisi pasien . Berikut pernyataan 1 dari 6 partisipan “Tergantung sibuknya, kalo sedang dokumentasi saya datang biasanya, tapi kalo sibuk dengan yang lain, biasanya saya tangguhkan, sebentar ya bu nanti saya ke sana” (Partisipan 3).

Untuk tema ini, dari hasil observasi data yang menunjang antara lain partisipan tampak memberikan jeda waktu untuk melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi klien yang bukan post control, partisipan lebih menyelesaikan pekerjaan yang sedang mereka lakukan baru kemudian datang ke ruangan memenuhi panggilan klien. Essensi caring ditunjukkan dengan sikap perawat yang peduli terhadap kebutuhan dan kesejahteraan keluarga dan kliennya (Watson, 2004). Dari hasil analisis tema, ada dua katagori yang muncul dalam tema ini yaitu : a) Meminta pasien menunggu b) Memilah kondisi pasien Hasil penelitian Margaretha (2008) tentang persepsi pasien tentang perilaku caring perawat dalam pelayanan keperawatan di RS Mardi Rahayu Kudus menghasilkan dua tema yaitu: pengetahuan perilaku caring perawat menurut pasien adalah perawat memberi perhatian lebih kepada pasien dan diangggap keluarga, perilaku caring perawat yang dirasakan pasien adalah perawat aktif bertanya, berbicara lembut,


Gambaran Perilaku Caring Perawat Pelaksana ... Debbie Nomiko, Arvida Bar, HM Thaib

memberi dukungan, responsif, terampil dan menghargai serta menjelaskan. Essensi caring dalam keperawatan menurut Watson (2004) adalah menunjukkan sikap peduli terhadap kebutuhan dan kesejahteraan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa perawat berpotensial mengubah respons stress keluarga yang mengalami stress dan maladaptasi terhadap penyakit yang dideritanya melalui perilaku caring dan melakukan pendekatan keperawatan berpusat keluarga. Pryzby, B (2005). Tema kedelapan yang dapat diangkat adalah memberikan motivasi pada klien. Dalam analisis tema inti terdapat 2 katagori yang mendukung tema tersebut yaitu : a)Membujuk klien b) Melakukan perawatan. Berikut pernyataan dari 1 partisipan dari 6 partisipan yang mendukung pernyataan tersebut yaitu : “Biasanya saya ngomong gini, jangan terlalu banyak pikiran ya bu, kalo ibu mau sehat dimakan ya..” (Partisipan 3)

Dari hasil penelitian ini, diperoleh bahwa semua partisipan memberikan dorongan positif terhadap kesembuhan pasiennya. Dan tema kedelapan yang dapat diangkat adalah memberikan motivasi pada klien. Kepercayaan dan pengharapan sangat penting bagi proses karatif maupun kuratif. Perawat perlu memberikan alternatif-alternatif bagi pasien jika pengobatan modern tidak berhasil; berupa meditasi, penyembuhan sendiri, dan spiritual. (Dwidiyanti, 1998). Perawat memberikan kepercayaan dengan cara memfasilitasi dan meningkatkan asuhan keperawatan yang holistik. Dalam hubungan perawatklien yang efektif, perawat memfasilitasi perasaan optimis, harapan, dan kepercayaan. Di samping itu, perawat meningkatkan perilaku klien dalam mencari pertolongan kesehatan (Nurachmah, 2001; Barnhart, et al., 1994, dalam Tomey.M, 1994; Kozier & Erb, 1985). Kepercayaan dan pengharapan sangat penting bagi proses karatif maupun kuratif. Dengan menggunakan faktor karatif ini akan tercipta perasaan lebih baik melalui kepercayaan dan atau keyakinan yang sangat berarti bagi seseorang secara individu (Dwidiyanti, 1998). Tema yang kesembilan dalam penelitian ini adalah kurang tulus dalam melayani klien. Dalam tema ini terdapat 2

2012

katagori yang mendukung yaitu :a) Perasaan jengkel b) Perasaan kesal. Berikut pernyataan 1 dari 6 partisipan yang dapat dianalisis yaitu “Yaa…...kadang-kadang ado jugo perasaan dongkol,kalo terlalu sering muntah..apolagi bila banyak pasien post control…: (Partisipan 2).

Pernyataan 1 dari 6 partisipan yang dianalisis dari katagori perasaan kesal yaitu : “Sebal juga kalo pasien minta dilayani terus menerus, padahal kita sudah memberikan penjelasan tentang kondisinya.. (Partisipan 6)

Tema yang kesembilan dalam penelitian ini adalah kurang tulus dalam melayani klien. Sikap tulus melayani dapat dinilai melalui sikap selalu mengkaji lebih lanjut tentang keluhan pasien dan menjadi pendengar yang baik saat klien mengeluhkan sesuatu , dan merupakan salah satu aplikasi caring dalam asuhan keperawatan (Potter&Perry, 2005). Ropi (2005) menambahkan caring artinya dimana seorang perawat harus bersikap sopan santun, menghormati klien dan keluarga, sikap mau mendengarkan, memberikan penyuluhan pada klien, siap sedia bila dibutuhkan, dan mempunyai kemamapuan tekhnikal dalam intervensi keperawatan, dan hal ini didukung oleh hasil penelitian dari Connel ,E & Landers, M (2008) menunjukkan bahwa perawat klinis mempunyai pemahaman yang lebih tentang makna perilaku caring dibandingkan perawat di area lain, dan hal ini dapat membuat perawat memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang berpusat pada klien.‟Langkah-langkah yang dapat disarankan pihak manajemen RSUD Raden Mattaher adalah menetapkan caring sebagai etos budaya kerja dalam lingkungan tenaga kesehatan di seluruh ruang perawatan RSD Raden Mattaher dan dan merumuskan pedoman evaluasi perilaku serta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan perilaku caring secara berkala.

KESIMPULAN DAN SARAN Perilaku caring perawat pelaksana RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 yang dilakukan secara optimal adalah empati terhadap keluarga dan klien, memberikan kenyamanan kepada klien,

73


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

memberi motivasi pada klien dan keluarga, tanggung jawab dalam tindakan, dan mengaedalikan perasaan. Perilaku caring perawat pelaksana RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011 yang belum dilakukan secara optimal adalah pemberian informasi yang tidak adekuat, komunikasi tidak terapeutik, kurang responsive, kurang tulus dalam melayani. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada pihak manajemen RSUD Raden Mattaher Jambi untuk mengambil langkah sebagai berikut yaitu dapat menetapkan caring sebagai etos budaya kerja dalam lingkungan tenaga kesehatan di seluruh ruang perawatan RSD RAden Mattaher dan merumuskan pedoman evaluasi perilaku serta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan perilaku caring secara berkala. UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penelti mengucapkan terima kasih kepada Kepala BPPSDM Kementerian Kesehatan RI, Direktur Politeknik Kesehatan Jambi, Ketua Jurusan Keperawatan, Pihak RSUD Raden Mattaher Jambi yang telah memberikan kerjasama yang baik dalam penelitian ini, Tim Risbinakes Poltekes Jambi.

DAFTAR PUSTAKA

Blais . K.K. 2007. Praktek keperawatan Profesional . Edisi 4 . Jakarta.EGC . Nurachmah, Elly. 2001. Asuhan Keperawatan Bermutu di Rumah Sakit. http://pdpersi.co.id/?show=detailnews &kode=786&tbl=artikel. Carruth, A., Steele, B., Moffette, T., Rehmeyer, C., Cooper, C., and Burroughs, R. 1999. The impact of primary and

74

modular nursing delivery systems on perceptions of caring behaviour. Oncology Nursing Forum, 26(1), pp. 95-100. Connel ,E & Landers, M, 2008. The Importance of Critical Care Nurses Caring Behaviours a Perceived by Nurses and relatives. Journal Intensive and Critical Care Nursing. Vol.24 : 6 : P 349-358. Dwidiyanti. 1998. Aplikasi Model Konseptual Keperawatan. Edisi 1. Semarang : Akper Depkes Semarang. Huber, 2000, Leadership and Nursing Care Management. 2th ed. Philadelphia : WB Saunders Company Hamid AY, 2001, Legislasi dan etika Praktik Profesi keperawatan di Indonesia : Makalah Seminar, Malang Kozier. 1985. Fundamental of Nursing. Concept, Process, and Practice (4th ed). California. Publishing. Co. Inc Margaretha , M, 2008. Persepsi Pasien tentang perilaku caring perawat dalam Pelayanan Keperawatan di RS Mardi Rahayu Kudus. Skripsi Patistea, E & Siamanta, H, 1999. A Literature Review of Patientâ&#x20AC;&#x;s Compared with Nurses Perceptions of Caring : Implications for Practice and Research. Journal of Professional Nursing. Vol. 15 : 5: P 302-312 Potter A. Patricia&Anne G. Perry. 2001. Fundamentals of Nursing. 5th edition. St Louis : Mosby, Inc. Pryzby, B, 2005. Effect of Nursing Caring Behaviours on Family Stress Responses in Critical Care. Journal Intensive and Critical Care Nursing. Vol.21 : 1 : P 16-23. Ratna, 2011. Hubungan Karakteristik dan Pengetahuan dengan Perilaku Caring Perawat Pelaksana RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011. Skripsi Ropi, 2005. Profesionalisme perawat dalam praktek keperawatan, Jurnal Keperawatan UNPAD Tomey , M, 1994. Nursing Theorist and their Works (3rd ed). St Louis. Mosby. Tappen, 2004. Essentials of Nursing Leadership and Management ( 3rd ed). Philadelphia. FA Davis. Watson, 2004, Assesing and Measuring Caring in Nursing and Health Science. New York : Springer Publishing Company


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

HUBUNGAN POLA KONSUMSI DAN GAYA HIDUP, SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA HIPERTENSI PADA NELAYAN DI KECAMATAN TUNGKAL ILIR KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT TAHUN 2012

ErrisSiregar, Ahmad Dahlan

Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Jambi

ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian yang serius baik dari segi pencegahan maupun penanggulangannya. Penyakit hipertensi sering dijumpai tanpa gejala namun relatif mudah diobati. Bila tidak diobati dapat menimbulkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung dan gangguan ginjal. World Health Organization (WHO) menetapkan hipertensi sebagai faktor risiko ke-tiga penyebab kematian di dunia. Berdasarkan rekap data Dinas Kesehatan Tanjung Jabung Barat, penyakit hipertensi menduduki peringkat ke-tiga dari sepuluh penyakit terbesar bahkan tiga tahun berturut-turut penderitanya sebagai berikut yaitu tahun 2008 jumlah kasusnya 8.133 (11,3%), tahun 2009 jumlah kasusnya 10.042 (9,75%) dan 2010 jumlah kasusnya 15.967 (7,20%). Berdasarkan sepuluh penyakit terbesar pada Puskesmas I Kuala Tungkal tahun 2010, penyakit hipertensi menempati urutan ke-empat dengan penderita sebanyak 1897 orang (8,96%) dimana masyarakat Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjabbar memiliki mata pencaharian sebagian besar adalah nelayan. Tanpa disadari nelayan memiliki pola konsumsi dan gaya hidup yang tidak sehat. Biasanya nelayan cenderung mengkonsumsi makanan dan minuman instant, kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol dan istirahat yang tidak teratur baik selama berlayar maupun tidak berlayar. Tujuan penelitian : Mengetahui hubungan pola konsumsi, gaya hidup sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi pada nelayan. Metode penelitian : Desain penelitian ini adalah cross sectional. Analisis data terdiri dari analisis univariat, bivariat menggunakan chi-square. Hasil penelitian diuji secara statistik dengan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95% menggunakan program komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna OR = 4,170; 95% CI=1,140-15,257; p= 0,022) Konsumsi Kopi (OR=4,932; 95%CI= 1,352-17,989; p=0,019) kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi pada nelayan sedangkan mengkonsumsi alkohol dan stress psikososial tidak ada hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi pada nelayan di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Saran Diharapkan adanya kerjasama antara Dinas Kesehatan dan lintas sektor terkait dalam melakukan promosi kesehatan kemudian dilakukannya penelitian lanjutan lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini seperti usia, keturunan, aktivitas fisik. Kata kunci : hipertensi

konsumsi kopi, alkohol, kebiasaan merokok dan stress psikososial dengan kejadian

PENDAHULUAN Penyakit hipertensi sering dijumpai tanpa gejala namun relatif mudah diobati. Bila tidak diobati dapat menimbulkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung dan gangguan ginjal. World Health Organization (WHO) menetapkan hipertensi sebagai faktor risiko nomor tiga penyebab kematian di dunia (Depkes RI, 2006). Berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas) 2007 prevalensi Hipertensi di Indonesia sangat

tinggi, yakni mencapai 31,7 persen dari total jumlah penduduk dewasa (Budiyanto, 2002). Prevalensi Hipertensi di Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan dengan Singapura yang mencapai 27,3 persen, Thailand dengan 22,7 persen dan Malaysia mencapai 20% persen. Prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah di Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah peringkat ketiga dari sepuluh penyakit terbesar bahkan tiga tahun berturut-turut

75


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

penderitanya sebagai berikut yaitu tahun 2008 jumlah kasusnya 8,133 (11,3%), tahun 2009 jumlah kasusnya 10,042 (9,75%) dan 2010 jumlah kasusnya 15,967 (7,20%). Data terakhir dari profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2010 juga menyebutkan bahwa hipertensi menduduki peringkat ke empat dari sepuluh penyakit terbesar pada rawat jalan dan rawat inap di puskesmas I. Proporsi hipertensi di Puskesmas I pada tahun 2010 sebesar 8,96% (1897 kasus). Hipertensi terjadi karena adanya interaksi antara faktor keturunan dan faktor lingkungan. Konsumsi ikan dan asam lemak omega 3 dari makanan laut sehari-hari dapat menurunkan tekanan darah dan menurunkan risiko penyakit jantung. Tetapi tidak demikian halnya pada nelayan yang memiliki pola konsumsi dan gaya hidup yang tidak sehat. Hal ini dapat kita lihat dari pola konsumsi dan gaya hidup nelayan selama berlayar yakni tidak lepas dari makanan dan minuman instant (seperti mie instant, kopi, minuman berenergi dan sebagainya), kebiasaan merokok dan minum-minuman beralkohol serta istirahat yang tidak teratur (bergadang) (Burke, 2001). Berdasarkan pola konsumsi dan gaya hidup yang tidak sehat inilah dapat memicu terjadinya peningkatan tekanan darah (hipertensi). Jika nelayan telah terdiagnosis menderita hipertensi maka akan menurunkan produktivitas kerja dan meningkatkan stres psikososial. Rendahnya produktivitas nelayan menyebabkan pendapatan rumah tangga nelayan menjadi berkurang, dan selanjutnya berpengaruh pula pada pengeluaran rumah tangga. Dengan pendapatan yang rendah, seringkali nelayan menghadapi kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pokok pangan maupun kebutuhan pokok non pangan seperti pendidikan dan kesehatan. Kondisi seperti inilah yang mempengaruhi status gizi keluarga terutama posisi nelayan sebagai tulang punggung keluarga atau kepala keluarga (Arisman, 2007). Rendahnya akses masyarakat nelayan ke sarana kesehatan juga memperberat kondisi di atas karena mereka tidak mengetahui keadaan kesehatannya secara pasti. Biasanya penyakit hipertensi diketahui setelah mereka menderita penyakit lain. Hal ini juga akan berpengaruh kepada produktivitas nelayan dalam bekerja, yang

76

pada akhirnya mempengaruhi ketersediaan pangan keluarga. Ketersediaan pangan keluarga menjadi berkurang karena selama sakit nelayan tidak bekerja sehingga tidak menghasilkan uang bahkan pengeluaran rumah tangga banyak tercurah untuk biaya pengobatan penyakit (hipertensi) (Arisman, 2007). Kemiskinan merupakan siklus peristiwa sosial ekonomi yang selalu menimpa rumah tangga nelayan (Kusriastuti, 2005). Faktor keturunan merupakan faktor utama yang berperan dalam patofisiologi hipertensi. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi adalah faktor makanan dan faktor stres. Faktor makanan yang berhubungan dengan kejadian hipertensi adalah konsumsi natrium yang tinggi, konsumsi alkohol yang tinggi, konsumsi kalium yang rendah dan kelebihan lemak tubuh (obesitas). Berdasarkan masalah diatas, peneliti ingin mencari hubungan pola konsumsi, gaya hidup, sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi pada nelayan di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2012. Mengingat prevalensi hipertensi yang tinggi dan komplikasi yang ditimbulkan cukup berat sehingga perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang baik.

BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan rancangan cross sectional (Muhidin dan Abdurahman , 2007). Penelitian ini adalah: Kuesioner berupa sejumlah pertanyaan yang telah disediakan oleh peneliti, melalui wawancara langsung dan pengisian kuesioner. Pelaksanaan Penelitian sesuai dengan jumlah kasus hipertensi yang ada di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan jumlah sampel 99 responden. Pengambilan sampel dilakukan secara random berdasarkan wilayah yang jumlah nelayan tangkapnya terbanyak di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitik (univariat, bivariat) (Santoso, 2005). Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya


Hubungan Pola Konsumsi dan Gaya Hidup ... ErrisSiregar, Ahmad Dahlan

hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan menggunakan uji chi-square dengan nilai kemaknaan Îą=5%, interval kepercayaan (Confidence Interval) 95% dan menghitung nilai OR (Odds Ratio) (Sugiarto dkk, 2001). HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan untuk melihat faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada nelayan di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2012. Gambaran karakteristik subyek penelitian dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan variabel Variabel Konsumsi kopi Peminum kopi Tidak peminum kopi Jumlah Konsumsi alkohol Pengkonsumsi alkohol Tidak pengkonsumsi alkohol Jumlah Kebiasaan merokok Perokok Bukan perokok Jumlah Stres psikososial Stres Tidak stres Jumlah Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Jumlah

Total n % 68 31 99

68,7 31,3 100,0

45 54

45,5 54,5

99

100,0

65 34 99

65,7 34,3 100,0

69 30 99

69,7 30,3 100,0

24 75 99

24,2 75,8 100,0

Proporsi nelayan yang mengkonsumsi kopi lebih banyak (68,7%) dibandingkan nelayan yang tidak minum kopi (31,3%). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan Saifullah (2007) bahwa proporsi konsumsi kopi >1 kali per hari, lebih banyak pada kelompok yang menderita hipertensi (67,1%) dibandingkan dengan kelompok yang tidak menderita hipertensi (30,0%). Tingginya proporsi konsumsi kopi dalam penelitian ini disebabkan karena selain kopi murni nelayan juga mengkonsumsi sumber kafein lainnya, dalam jumlah dan frekuensi yang tidak terkontrol seperti teh, minuman

2012

berenergi dan soft drink terutama selama berlayar. Kebiasaan ini dapat kita lihat dari hasil wawancara menggunakn kuesioner konsumsi kopi. Proporsi nelayan yang mengkomsumsi alkohol sebesar empat puluh lima koma lima persen (45,5%) lebih sedikit daripada yang tidak mengkonsumsi alkohol. Tingginya proporsi nelayan yang tidak mengkonsumsi alkohol disebabkan karena sebagian besar nelayan mengkonsumsi alkohol hanya pada saat berlayar saja. Hal ini disebabkan karena selama berlayar membutuhkan kondisi fisik yang prima untuk bekerja di laut, dengan tujuan supaya nelayan tidak lekas lelah, dapat menghilangkan rasa kantuk dan mengurangi stres jika hasil penangkapan ikan yang diperoleh tidak banyak. Kebiasaan ini dapat kita lihat dari hasil wawancara menggunakn kuesioner konsumsi alkohol. Enam puluh lima koma tujuh persen (65,7%) nelayan memiliki kebiasaan merokok, sedangkan nelayan yang tidak memiliki kebiasaan merokok sebanyak 34 orang (34,3%). Orang yang merokok memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibanding orang yang tidak merokok (Huang, 2008). Tingginya proporsi perokok pada nelayan disebabkan karena selama berlayar untuk menghilangkan rasa kantuk, melawan hawa dingin pada malam hari dan mengurangi stres jika hasil penangkapan ikan yang diperoleh tidak banyak. Kebiasaan ini dapat kita lihat dari hasil wawancara menggunakan kuesioner kebiasaan merokok. Hasil wawancara menggunakan kuesioner atau social readjustment rating scale menunjukkan bahwa nelayan berada dalam kondisi psikososial stres yaitu sebanyak 69 (69,7%). Dikatakan stres jika total skor â&#x2030;Ľ300 dan tidak stres jika total skor <300 (Kaplan & Tamler, 1994). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Widada (2008) yang mengemukakan bahwa tidak ada hubungan antara stres psikososial dengan kejadian hipertensi primer. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat (Hastono, 2007). Analisis pada penelitian ini menggunakan uji chi square pada taraf signifikan p<0,05 sedangkan untuk melihat seberapa besar terjadinya outcome yang mungkin terjadi pada populasi dapat dilihat nilai odds ratio (OR)

77


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

dengan confident interval (CI) 95%. Hasil analisis dapat diamati pada 2.

Tabel 2. Analisis Hubungan Pola Konsumsi, Gaya Hidup Terhadap Kejadian Hipertensi Pada Nelayan di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2012 Kejadian Hipertensi Ya

Variabel n

Tidak

Total

%

n

%

30,9 9,7

47 28

41,6 58,4

68 31

100 100

24,2

75

75,8

99

100

26,7

33

73,3

45

100

22,2

42

77,8

54

100

24,2

75

75,8

99

100

32,3 8,8 24,2

44 31 75

67,7 91,2 75,8

65 34 99

100 100 100

26,1 20,0

51 24

73,9 80,0

69 30

100 100

24 24,2 75 75,8 Keterangan : signifikan = p value<0,05

99

100

Konsumsi kopi  Peminum kopi 21  Tidak peminum 3 kopi 24 Konsumsi alkohol  Pengkonsumsi 12 alkohol 12  Tidak pengkonsumsi alkohol 24 Kebiasaan merokok 21  Perokok  Bukan perokok 3 24 Stres psikososial 18  Stres 6  Tidak stres

Berdasarkan tabel 2 tampak bahwa pada variabel konsumsi kopi dan kebiasaan merokok mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi pada nelayan di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2012 (p value < 0,05). Hasil analisis bivariat antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi memiliki OR sebesar 4,170 dengan 95% CI=1,140-15,257 dan p value 0,022. Nelayan yang mengkonsumsi kopi akan meningkatkan risiko kejadian hipertensi sebesar 4,1 kali lebih besar dibandingkan nelayan yang tidak mengkonsumsi kopi. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan Kandun (2000) bahwa ada hubungan antara konsumsi kopi dengan tekanan darah tinggi. Minum lima cangkir kopi atau lebih setiap hari dapat meningkatkan tekanan darah sistolik sebesar 3,2 mmHg dan diastolik sebesar 1,4 mmHg, dibandingkan minum kurang

78

n

OR

95% CI

P

%

4,170

1,140-15,257

0,022

1,273

0,507-3,197

0,781

4,932

1,352-17,989

0,019

1,412

0,497-4,008

0,693

dari lima cangkir kopi per hari. Namun hasil ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gibson (2005), bahwa tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara minum kopi dalam jumlah banyak dengan tekanan darah sistolik maupun diastolik. Tingginya proporsi konsumsi kopi pada penelitian ini disebabkan karena selain mengkonsumsi kopi murni, nelayan juga mengkonsumsi sumber kafein lainnya terutama selama berlayar seperti teh, minuman berenergi dan soft drink. Kandungan kafein pada secangkir kopi sekitar 80 sampai 125 mg, secangkir ekspreso/kopi tubruk/kopi saring sekitar 80 mg, dalam kopi instan sekitar 65 mg, satu kaleng soft drink cola mengandung sekitar 23 sampai 37 mg, teh mengandung sekitar 40 mg sedangkan satu ons cokelat mengandung sekitar 20 mg kafein (Widyastuti, 2005).


Hubungan Pola Konsumsi dan Gaya Hidup ... ErrisSiregar, Ahmad Dahlan

Orang yang mengkonsumsi kopi > 5 gram perhari memiliki risiko 2,1 kali terkena hipertensi dibandingkan orang yang mengkonsumsi kopi < 5 gram per hari (Budiyanto, 2002). Selama berada di laut nelayan membutuhkan kondisi fisik yang prima dalam melawan cuaca dingin atau panas, melawan rasa kantuk dan rasa lelah sehingga nelayan cenderung mengkonsumsi kopi dalam jumlah yang tidak terkontrol. Jenis kopi yang dikonsumsi nelayan merupakan kopi asli bukan kopi instan atau campuran, Kopi mengandung unsur kimia xantin yang mempunyai derivat kafein, teofilin dan teobromin. Kafein dapat mempengaruhi pembuluh darah dengan mempersempit pembuluh darah ke otak, akibatnya kerja jantung meningkat dan tekanan darahpun ikut meningkat sehingga terjadi hipertensi. Mengkonsumsi kopi sebanyak 2 sampai 3 cangkir kopi per hari dapat meningkatkan tekanan darah. Kafein mempunyai efek langsung terhadap medulla adrenal untuk mengeluarkan epinefrin, sehingga curah jantung meningkat dan peningkatan lebih tinggi terjadi pada tekanan darah sistolik dari pada diastolik. Mengkonsumsi kopi dalam jumlah yang tidak berlebihan. Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari kopi, antara lain sebagai perangsang dalam melakukan berbagai aktivitas, mencegah kantuk, meningkatkan daya tangkap dan panca indra, mempercepat daya pikir dan mengurangi rasa lelah (Murti, 1997). Hasil analisis bivariat antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi memiliki OR sebesar 4,932 dengan 95% CI=1,352-17,989 dan p value 0,019. Nelayan yang merokok akan meningkatkan risiko kejadian hipertensi sebesar 4,9 kali lebih besar dibandingkan nelayan yang tidak merokok. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil Riskesdas tahun 2007, yang menyatakan bahwa rerata batang rokok yang dihisap per hari tertinggi secara nasional adalah di Provinsi Kepulauan Riau dan Bangka Belitung yaitu 16 batang per hari, proporsi tertinggi pada laki-laki dan pada umur produktif (Andryhart, 2009). Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Gordis (2004), menyatakan bahwa orang yang merokok mempunyai risiko 3,40 kali terkena hipertensi dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Radikal bebas dalam

2012

rokok menimbulkan disfungsi endotelial. Pembuluh darah yang terpapar asap rokok akan menyerupai pipa yang kaku dan kasar, akibatnya pembuluh darah tidak dapat melebar dengan baik atau kehilangan elastisitasnya dan memacu jantung bekerja lebih cepat serta lebih kuat sehingga tekanan darah menjadi meningkat (Gray, 2002). Oleh karena itu dianjurkan untuk menghentikan kebiasaan merokok. orang yang merokok â&#x2030;Ľ15 batang per hari disertai obesitas memiliki risiko 6,5 kali lebih besar menderita hipertensi dibandingkan dengan orang yang merokok <15 batang per hari dan tidak obesitas. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi (Notoatmodja, 2003). Nilai OR untuk variabel konsumsi kopi dan kebiasaan merokok berada pada rentang 95% CI yang tidak lebar dan tidak melewati angka satu sehingga konsumsi kopi dan kebiasaan merokok mempunyai hubungan yang bermakna, baik secara praktis maupun statistik terhadap kejadian hipertensi. Hasil analisis bivariat antara variabel konsumsi alkohol dengan kejadian hipertensi didapatkan nilai OR=1,273; 95% CI=0,507-3,197 dan p value 0,781. Hasil analisis tersebut menunjukkan tidak ada hubungan antara konsumsi alkohol dengan kejadian hipertensi. Tidak bermaknanya hasil penelitian ini disebabkan karena nelayan tidak selalu mengkonsumsi alkohol kecuali pada saat berlayar yaitu mengkonsumsi sekitar <2 gelas per hari. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yatim (2007) yang menyatakan bahwa tidak adanya perbedaan antara orang yang pernah mengkonsumsi alkohol dengan orang yang tidak mengkonsumsi alkohol terhadap kejadian hipertensi esensial. Namun bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Gray et. al. (2002) bahwa ada hubungan antara konsumsi alkohol dengan peningkatan tekanan darah, apabila mengkonsumsi alkohol â&#x2030;Ľ210 gram per minggu atau kirakira tiga gelas per hari. Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol diduga karena pengaruh sistem renin, aldosteron dan katekolamin. Renin, aldosteron dan katekolamin meningkat sesudah minum alkohol. Naiknya tekanan darah disebabkan oleh aktivasi susunan saraf

79


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

simpatis dan sistem renin, angiotensin dan aldosteron. Produksi renin dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain stimulasi saraf simpatis. Renin berperan pada konversi angiotensin I menjadi angiotensin II yang mempunyai efek vasokontriksi pada pembuluh darah. Angiotensin II menyebabkan sekresi aldosteron yang mengakibatkan retensi air dan natrium. Keadaan tersebut berperan terhadap timbulnya hipertensi (Yatim, 2007). Penelitian lain juga menunjukkan hubungan langsung antara konsumsi alkohol dan tekanan darah, diantaranya melaporkan bahwa efek terhadap tekanan darah baru kelihatan apabila mengkonsumsi alkohol sekitar 2 sampai 3 gelas per hari (1 gelas setara dengan bir volume 285 mililiter). Oleh karena itu membatasi konsumsi alkohol (â&#x2030;¤2 gelas per hari untuk laki-laki atau â&#x2030;¤1 gelas per hari untuk perempuan) dapat menurunkan tekanan darah. Hasil analisis bivariat antara variabel stres psikososial dengan kejadian hipertensi didapatkan nilai OR=1,412; 95% CI=0,497-4,008 dengan p value 0,693. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara stres psikososial dengan kejadian hipertensi. Tidak bermaknanya hasil penelitian ini disebabkan karena nelayan berada dalam kondisi psikososial yang normal atau tidak memiliki masalah sosial yang berat. Stres dapat diatasi dengan kemampuan yang dimiliki nelayan dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan faktor lingkungan dan mampu mengatasi persaingan antar individu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang mengatakan bahwa stres berhubungan dengan kejadian hipertensi. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan, yang mengatakan bahwa orang yang stres memiliki risiko 8,6 kali untuk terjadi hipertensi esensial dibandingkan orang yang tidak stres. Hipertensi terjadi karena adanya aktivasi saraf simpati secara intermitten. Peningkatan saraf simpati dapat meningkatkan tekanan darah. Disamping itu tekanan emosi dan aktivasi saraf otonom juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, akibat vasokonstriksi pembuluh darah ginjal arteriol post glomerulus yang menimbulkan retensi natrium. Akibatnya terjadi kenaikan volume plasma dan volume cairan ekstra seluler yang

80

berdampak pada terjadinya hipertensi. Oleh karena itu untuk mengelola stres (stress management) perlu diketahui terlebih dahulu faktor pemicunya. Pemicu stres bagi setiap orang berbeda-beda. Oleh karena itu, untuk meredakan stres seseorang dapat melakukan relaksasi dengan pernafasan, meditasi, yoga, peregangan otot (stretching), pijat (massage), membicarakan masalah dengan teman dekat atau bahkan meminta bantuan profesional untuk mengatasi masalah penyebab stres bila diperlukan. KESIMPULAN DAN SARAN Ada hubungan yang bermakna antara konsumsi kopi, kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi pada nelayan di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2012. Tidak ada hubungan yang bermakna antara mengkonsumsi alkohol dan stress psikososial dengan kejadian hipertensi pada nelayan di Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2012. Saran diharapkan adanya kerjasama antara Dinas Kesehatan dan lintas sektor terkait dalam melakukan promosi kesehatan tentang penatalaksanaan penyakit hipertensi secara continue dan terpadu di masyarakat. Disarankan dilakukannya penelitian lanjutan, dengan meneliti faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini seperti usia, keturunan, aktivitas fisik. DAFTAR KEPUSTAKAAN

Andryhart, 2009, Cegah dan kontrol Hipertensi dengan DASH Diet. (Internet) Available: http// geasy worpress. Com/2008/07/16/ kupas-tuntashipertensi. Arisman, 2007, Mencegah Hipertensi Dengan Pola Makan (internet) Available: http// depkes.go.id/index.php?option =article &task=viewarticle & artid. Budiyanto, K.A.M., 2002, Gizi dan kesehatan. Universitas Muhammadiyah Malang: Malang Press. Burke, V,; R.C Hodgson, J.M Beilin, L.J., Giangiulioi, N., Ronger, P., Puddey I.B., 2001, Dietary Protein And Soluble Fiber Reduce Ambulatory Blood in Treated Hipertensives. Hypertension. 38:821-826. Depkes RI, 2006, Pedoman Teknis Penemuan dan tata laksana penyakit Hipertensi.


Hubungan Pola Konsumsi dan Gaya Hidup ... ErrisSiregar, Ahmad Dahlan

Direjtorat Pengendalian Penyakit tidak menualar. Direktorat Jemderal PP & PL. Jakarta: Depkes RI. Gibson, R.S., 2005, principles Of nutrition Assessment (2 nd ed) New York; Oxport Universitas Press Gordis L., 2004, Epidemiology: (3rd ed) Philadelphia Londom new york: W.B. Saunders Company Gray. H.H Dawkins, K.D., Simpson, I.A., Morgan, J.M., 2002, Kardiologi. Jakarta: Erlangga Hastono, S.P., 2007, analisis Data Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Huang, N., 2008, Lifestyle management of Hypertension. National Heart Foundation of Australia. Australian Prescriber. 6(31): 150-153. Kandun I. (ed.)., 2000, Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta: Infomedika. Kristina, Isminah, Wulandari L. 2004. Kajian Masalah Kesehatan Demam Berdarah Dengue. Diakses: 8 September 2008. http://www.litbang.depkes.go.id. Kaplan, N.M., tamler, J., 1994, pencegahan Penyakit Jantung koroner. Penatalaksanaan Praktis faktor-faktor Risiko. Jakarta:EGC. Kusriastuti R., 2005, Epidemiologi Penyakit Demam Berdarah Dengue Dan Kebijaksanaan Penangulangannya Di Indonesia. Disampaikan Pada Simposium Demam Berdarah Dengue, UGM, 2 Juni 2005. Muhidin SA dan Abdurahman M., 2007, Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur

2012

dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia. Murti B., 1997. Prisip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Notoatmodja, S., 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta. Saifullah, 2007. Pengaruh Minuman Kopi Terhadap Terjadinya Hipertensi di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung Tesis, Unoversitas Gadjah Mada Santoso G. 2005. Fundamental Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Prestasi Pustaka. Sugiarto, Siagian D., Lasmono TS., Oetomo DS. 2001. Teknik Sampling. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Widada A., 2000, Hubungan Antara Indeks Masa Tubuh, Asupan Natrium dan Asupan Kalium Dengan Derajat Hipertensi Primer Pada Pasien Yang Berobat di Puskesmas Moyudan, Kabupatn Sleman, Tesis Universitas Gadjah Mada. Widyastuti P., (ed), 2005, Epidemiologi Suatu Pengantar, edisi 2. Jakarta: EGC. Yatim, Faisal, 2007, Macam-Macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya. Jilid 2. Jakarta: Pustaka Obor Populer.

Dinkes Kabupaten Tanjabbar Propinsi Jambi, 2010, Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Barat Propinsi Jambi

81


Jurnal Poltekkes Jambi Vol VII Edisi Desember ISSN 2085-1677

2012

EFEKTIFITAS SENAM NIFAS TERHADAP INVOLUSI UTERUS DI PUSKESMAS PUTRI AYU KOTA JAMBI TAHUN 2010 Nurmisih Staf Pengajar Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jambi

ABSTRAK Perdarahan post partum merupakan penyebab utama kematian ibu di Indonesia yang salah satunya dapat disebabkan oleh intensitas kontraksi uterus yang berkurang, selama 1 atau 2 jam pertama post partum intensitas kontraksi uterus dapat berkurang dan menjadi teratur, karena itu penting sekali menjaga dan mempertahankan kontraksi uterus pada masa nifas. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperiment yang bertujuan untuk mengetahui efektifitas senam nifas terhadap involusi uterus di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2010. Penelitian ini dilaksanakan terhadap ibu nifas normal dengan memberikan intervensi dua metode senam nifas, yaitu kelompok metode menurut teori Bobak dan metode Bayihatun, serta dilakukan pengukuran fundus uteri untuk membandingkan penurunan tinggi fundus pada kedua kelompok. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok responden yang diberikan perlakuan senam nifas dengan metode Bobak memiliki rata-rata penurunan tinggi fundus uteri sebesar 2,268 sedangkan kelompok responden yang diberikan perlakuan senam nifas dengan metode Bahiyatun memiliki rata-rata penurunan tinggi fundus uteri sebesar 2,047, terdapat perbedaan mean antara metode Bobak dan Bahiyatun sebesar 0,221, pada uji statistik menggunakan tindependent terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata penurunan tinggi fundus uteri pada kedua kelompok perlakuan dengan p-value 0,024

Kata Kunci: senam nifas, invlusi uterus

PENDAHULUAN

BAHAN DAN CARA KERJA

Involusi uteri merupakan suatu proses kembalinya uterus pada keadaan semula atau keadaan sebelum hamil. Pergerakan sedini mungkin dan merupakan gerakan senam pada masa nifas dapat memberikan manfaat segera setelah melahirkan yakni mempercepat pelepasan plasenta, memperkecil rahim dan mencegah perdarahan pasca persalinan (FKM UI, 2009:199). Perdarahan post partum merupakan penyebab utama kematian ibu di Indonesia yang salah satunya dapat disebabkan oleh intensitas kontraksi uterus yang berkurang. Berdasarkan laporan tahunan dinas kesehatan Kota Jambi tahun 2009 tentang cakupan persalinan di Puskesmas perawatan Kota Jambi Puskesmas Putri Ayu memiliki jumlah tertinggi sebanyak 943 orang, Pakuan Baru 693 orang sedangkan Puskesmas Olak Kemang 331 orang ibu bersalin, dari survei awal diketahui bahwa tidak semua ibu setelah persalinan melakukan senam nifas.

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi. Jenis penelitian adalah quasi eksperiment dengan posttest only control design untuk mengetahui efektifitas senam nifas sebagai terhadap involusi uterus yang dalam hal ini diukur melalui tinggi fundus uteri. Responden dalam penelitian ini berjumlah 38 ibu nifas dengan kriteria inklusi persalinan normal yang dibagi dalam dua kelompok (1 dan 2), selanjutnya dibimbing melakukan senam nifas selama tiga hari, masing-masing kelompok menggunakan metode berbeda serta involusi uterus dilakukan pemeriksaan secara palpasi selanjutnya diukur dengan menggunakan centimeter dari umbilikus/pusat sampai ke fundus uteri pada hari ketiga setelah persalinan. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal tanggal 22 Agustus sampai 23 September 2010. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara univariat untuk melihat rata-rata penurunan tinggi fundus uteri pada masing-masing kelompok dan analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik t-independent dengan tingkat kepercayaan 95%.

82


Efektifitas Senam Nifas Terhadap Involusi Uterus â&#x20AC;Ś Nurmisih

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian dari kelompok responden yang dibimbing senam nifas dengan metode Bobak, selanjutnya diukur tinggi fundus uteri pada hari ke tiga menggunakan cm, sehingga diperoleh hasil sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Distribusi Responden Kelompok 1 Berdasarkan Involusi Uterus (T-Fu) Distribusi

T-Fu (dari pusat ke fundus)

f

%

1

1,8 cm

3

15,79

2

2,0 cm

2

10,53

3

2,1 cm

2

10,53

4

2,2 cm

3

15,79

5

2,3 cm

3

15,79

6

2,5 cm

1

5,263

7

2,6 cm

3

15,79

8

2,8 cm

1

5,263

9

2,9 cm

1

5,263

Total

19

100

No

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa penurunan tinggi fundus uteri yang paling baik adalah 2,9 cm. Demikian juga untuk kelompok responden yang dibimbing senam nifas dengan metode Bahiyatun, selanjutnya pada hari ke tiga tinggi fundus uteri diukur menggunakan cm dan diperoleh hasil sebagaimana terlihat pada tabel 2. Tabel 2 Distribusi Responden Kelompok 2 Berdasarkan Involusi Uterus (T-Fu) T-Fu Distribusi No (dari pusat ke F % fundus) 1

1,5 cm

1

5,263

2

1,8 cm

6

31,58

3

1,9 cm

1

5,263

4

2,0 cm

6

31,58

5

2,0 cm

2

10,53

6

2,4 cm

1

5,263

7

2,5 cm

1

5,263

8

2,6 cm

1

5,263

Total

19

100

2012

Berdasarkan tabel 2 di atas terlihat bahwa penurunan tinggi fundus uteri terbaik adalah 2,5 cm dari pusat. Menurut Prawirohardjo, (2006:237) tinggi fundus uteri akan menurun 1 cm atau 1 jari setiap hari setelah persalinan sehingga pada hari ke 12 pasca persalinan tinggi fundus uteri tidak dapat diraba lagi melalui dinding perut. Selanjutnya Fraser (2009:612) menyatakan bahwa setelah persalinan pada palpasi abdomen, fundus uterus seharusnya berada di tengah dengan posisi setinggi atau sedikit di bawah umbilikus dan dalam keadaan berkontraksi dan Saleha (2009:75) mengemukakan bahwa setelah persalinan terjadi involusi pada hampir seluruh organ tubuh wanita. Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa fundus uteri pada hari ke-2 setelah persalinan TFU 1 cm di atas pusat, pada hari ke 3-4 TFU 2 cm dibawah pusat. Sedangkan Bobak (2004:493) menyatakan bahwa perubahan involusi berlangsung dengan cepat, fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Uterus tidak dapat diraba melalui palpasi abdomen pada hari ke 9 pascapartum, sementara itu Hynes (1999) dalam Baston (2012:15) menyatakan pula bahwa melakukan palpasi tinggi fundus uterus biasanya diyakini sebagai aspek fundamental pemeriksaan post natal. Pemeriksaan fundus uteri merupakan bagian dari pemeriksaan secara menyeluruh yang dilakukan pada ibu post partum, bertujuan untuk memantau perubahan fisiologis secara berkala, dimulai setelah placenta lahir hingga berakhirnya masa nifas. Efektifitas senam nifas metode Bobak dengan metode Bahiyatun terhadap involusi uteri di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2010, berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa ratarata penurunan tinggi fundus uteri responden yang melakukan senam nifas dengan metode Bobak yaitu 2,268, dengan standar deviasi 0,3284, sedangkan rata-rata penurunan tinggi fundus ibu yang melakukan senam nifas dengan metode Bayihatun yaitu 2,0547, dengan standar deviasi 0,3204, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.

83


Jurnal Poltekkes Jambi Vol. VII Edisi Desember 2012

Tabel 3. Efektifitas Senam Nifas Metode Bobak dan Bahiyatun No Variabel Mean 1 2

Senam Bobak

SD

SE

N

2,268

0,328 0,0753 4

19

Senam 2,047 Bayihatun

0,320 0,0735 4

19

Beda Mean 0,2292

p-Value

0,024

38

Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value â&#x20AC;&#x201C; 0,024 berarti ada perbedaan yang signifikan rata-rata penurunan tinggi fundus uteri antara senam nifas dengan metode Bobak dan Bayihatun. Senam nifas menurut Bahiyatun (2009:94) adalah senam kegel untuk dasar panggul, pengencangan abdomen ketika menghembuskan napas, miringkan panggul untuk punggung bagian bawah, melingkarkan pergelangan kaki untuk sirkulasi dan kenyamanan, memutar bahu postur dan peredaan tegangan punggung bagian atas, tidur telentang untuk postur abdomen dan kenyamanan. Sedangkan menurut Bobak (2004:533) senam nifas terdiri atas 8 gerakan yaitu pernapasan abdomen, menyentuh lutut, memutar kedua lutut, putar tungkai, pernapasan abdomen campuran dan supine pelvic (pelvik rock), mengangkat bokong, memutar satu lutut, mengangkat lengan. Secara garis besar senam nifas bertujuan untuk mengurangi rasa sakit pada otot, memperbaiki peredaran darah, mengencangkan otot-otot perut dan perineum, juga dapat melancarkan pengeluaran lochea, mempercepat penyembuhan, dan mencegah komplikasi, serta dapat mempercepat proses involusi uteri. Senam nifas dengan metode Bobak memiliki gerakan lebih banyak dibandingkan dengan metode Bayihatun. Gerakan pada metode Bobak membuat ibu bergerak lebih aktif dan lentur, seperti gerakan-gerakan menyentuh lutut, memutar lutut dan tungkai serta mengangkat bokong, sedangkan pada Bayihatun gerakan yang dilakukan lebih ringan. Gerakan-gerakan yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan ini memungkinkan ibu untuk lebih banyak menggerakkan otot-ototnya sehingga dapat mempercepat terjadinya involusi uteri yang ditandai dengan penurunan tinggi fundus uteri. Ambarwati (2009:77) menyatakan bahwa cara untuk mempercepat

84

terjadinya involusi dan mengembalikan bentuk tubuh indah seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas. Senam nifas merupakan gerakangerakan yang berguna untuk mengencangkan otot terutama otot-otot perut yang menjadi longgar setelah kehamilan, mengembalikan tonus otot-otot abdomen merupakan tujuan utama dari senam dalam masa post partum (Bayihatun, 2009:92). Senam nifas merupakan salah satu proses pemulihan kesehatan pada masa nifas yang sangat penting bagi ibu setelah melahirkan, salah satunya adalah untuk mempercepat terjadinya involusi uteri yang dapat terlihat dengan adanya penurunan tinggi fundus uteri. Senam nifas dilakukan pada saat menjalani masa nifas atau masa setelah melahirkan, dengan latihan gerak yang dilakukan secepat mungkin setelah melahirkan supaya otot-otot yang mengalami peregangan selama kehamilan dan persalinan dapat kembali kepada kondisi normal seperti semula yang harus dilakukan secara bertahap, sistematis dan kontinyu sehingga mempercepat terjadinya proses involusi uteri. KESIMPULAN DAN SARAN Rata-rata (mean) penurunan tinggi fundus uteri pada responden yang melakukan senam nifas dengan metode Bobak adalah 2,268 cm. Rata-rata (mean) penurunan tinggi fundus uteri pada responden yang melakukan senam nifas dengan metode Bayihatun adalah 2,047 cm. Adanya perbedaan penurunan tinggi fundus uteri pada kelompok senam nifas metode Bobak dan kelompok metode Bayihatun dengan p-value-0,024. Bagi Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi diharapkan dapat membuat perencanaan program kegiatan senam nifas pada ibu nifas dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan untuk ibu nifas. Bagi Bidan di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi diharapkan agar dapat meningkatkan pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas khususnya senam nifas. Bagi Peneliti Lain diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi peneliti lain yang ingin melakukan


Efektifitas Senam Nifas Terhadap Involusi Uterus â&#x20AC;Ś Nurmisih

2012

penelitian tentang involusi uterus dengan variabel independen yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA Ambarwati, dkk, 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Penerbit Mitra Cendikia Pres. Jogjakarta. Baston, Helen & Jennifer Hall, 2012. Postnatal Volume 4. Penerbit EGC. Jakarta Bayihatun, 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Penerbit EGC. Jakarta Bobak, Irene M, dkk, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Penerbit EGC. Jakarta Fraser, D.M dkk. 2009. Buku Ajar Bidan Myles edisi 14. Jakarta: EGC Prawirohardjo; 2006.p.181-191. 14. Verralls, S. Anatomi dan fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica dan penerbit Andi Saleha, Siti. 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas, Jakarta: Salemba Medika.

85

Jurnal poltekkes jambi vol 7  
Jurnal poltekkes jambi vol 7  
Advertisement