Page 1

November 2014, Vol. 4, No. 2 KAJIAN SEMIOTIK SAJAK DOA KARYA CHAIRIL ANWAR, AMIR HAMZAH, DAN AJIB ROSIDI (SEBUAH PERBANDINGAN SASTRA) Zilfa Achmad Bagtayan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universias Negeri Gorontalo Abstrak: Membandingkan dua karya sastra atau lebih dalam studi sastra termasuk bagian dari kegiatan Sastra Perbandingan. Kegiatan membandingkan dilakukan untuk menemukan persamaan dan juga menemukan perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing karya sastra. Sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan yang biasanya berlainan bahasa dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra yang lain. Karena puisi memanfaatkan bahasa sehari-hari, maka di dalam memahami puisi tetap diperlukan adanya kompetensi di dalam konvensi bahasa dan konvensi sastra. Jika dilihat dari kacamata semiotika, pada sajak-sajak “Doa” terdapat indikasi temuan munculnya perbandingan antara sajak-sajak tersebut. Menurut Riffatere, untuk memahami semiotika puisi diperlukan adanya dua level pembacaan karena untuk menggapai makna harus terlebih dahulu melompati mimesis. Kedua level itu adalah pembacaan heuristik dan hermeneutik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya persamaan dasar tematik yang dilukiskan pengarang pada setiap sajak “Doa”. Yaitu tema ketuhanan yang religius. Walaupun dalam bentuk dan cara penyajiannya yang berbeda. Penggunaan kalimat yg berbeda, cara menggambarkan sosok Tuhan yang berbeda dan penyajiannya pun ada yang dinyanyikan. Semua itu bertujuan sama yaitu menghibur dan memberikan ilmu pengetahuan kepada pembaca. kata kunci puisi ini adalah doa yang sekaligus merupakan judul puisi ini; judul yang baik memang merupakan abstraksi isi. Seme, atau inti arti, kata doa adalah permohonan kepada Tuhan, sedangkan presupposition-nya antara lain adalah Tuhan ke mana doa dipanjatkan dan manusia sebagai hamba yang memanjatkan doa. Di samping itu tentu juga presupposition akan kemaha besaran dan kemaha kuasaan Tuhan dan kesadaran manusia akan ketidak berdayaannya. Kata-kata kunci: sastra bandingan, semiotika Riffatere, puisi Doa

PENDAHULUAN Sastra bandingan adalah suatu kajian perbandingan dua karya sastra atau lebih dari dua negara yang berbeda dan dilakukan secara sistematis. Kajian ini bertujuan untuk memahami proses penciptaan dan perkembangan sastra suatu Negara (Trisman, 2003:1). Pada sajak-sajak “Doa” terdapat indikasi temuan munculnya perbandingan antara sajak-sajak tersebut, antara sajak-sajak ini terdapat beberapa persamaan dan perbedaan tekstual dan pengembangan ide, sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri untuk dikaji secara mendalam. Walaupun disiplin ilmu dalam kesusasteraan banding sedang mengalami perubahan skop dan pendekatan seiring dengan perkembangan dunia kritikan,

pendekatan klasiknya masih tetap utuh dan ampuh untuk tetap terus digunakan, antara pendekatan klasik itu ialah pendekatan tematik. Dari segi sejarahnya, pendekatan ini mula berkembang di Jerman. Pendekatan tematik bertujuan membandingkan antara sebuah karya sastra dengan sebuah atau sekelompok karya sastra lain berasaskan subjek atau unsur naratif yang pusat atau dominan. Sajak “Doa” pada dasarnya mengandung doa atau permohonan seorang hamba pada tuhannya. Jika kita bersua dengan sajak Doa, maka jangan pernah menganggapnya remeh. Tak hanya puisi mantra atau teks lagu-lagu religi yang baik, tapi puisi doa pun bisa sangat baik. Tapi soalnya adalah:

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

199


November 2014, Vol. 4, No. 2 tak banyak sajak doa yang baik di Indonesia, padahal sajak berisi doa bisa digunakan untuk dipakai berdoa kepada Tuhan ketimbang doadoa syariat yang selama ini sudah sering digunakan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Sajak doa punya kelebihan sebagaimana sajak mantra: ia bisa menjadi ujian apakah seorang penyair atau pencipta mampu menghadirkan pengalaman yang otentik atau tidak. Bahkan ia bisa menjadi tantangan apakah seorang penyair bisa menulis puisi dengan baik atau buruk. Dalam bahasanya Ignas Kleden, sebuah sajak yang berisikan doa bisa menjadi tes yang kuat tentang otentisitas bahasa penyair, yaitu apakah hasrat yang diucapkan sang penyair cukup mencerminkan pergolakan yang berlangsung dalam perasaan dan dalam jiwa, dan entah terjemahan perasaan tersebut mencapai suatu tahapan sofistifikasi afektif yang sedemikian rupa, sehingga dapat menjadi representasi perasaan banyak orang lain yang tak sanggup mereka ucapkan sendiri secara memadai. Dengan pengucapan lain, sajak doa adalah tantangan bagi si penyair dalam rangka menghadirkan dan mengolah sublimasi makna sebuah sajak. Kalau tidak maka sajak yang muncul bisa terasa banal atau terkesan dipaksakan maknanya untuk menjadi sebiah doa dan permohonan. Kesusastraan Bandingan dapat menggunakan beberapa pendekatan, salah satunya adalah Pendekatan Tematik. Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian Sastra Bandingan antara sajak-sajak “Doa” tersebut. Ketertarikan Peneliti didasarkan pada alasan bahwa ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji dan bandingkan berupa memilihan kata-kata yang digunakan dalam proses penciptaannya, sehingga lahirlah sebuah puisi yang berjudul “Doa”. Sastra Bandingan Sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua 200 Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya

atau lebih kebudayaan yang biasanya berlainan bahasa dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra yang lain. Sastra bandingan merupakan salah satu disiplin baru yang belum banyak mendapat perhatian besar dari peneliti sastra. Studi sastra bandingan pertama kali dipelopori oleh peneliti-penelit sastra di Perancis. Di antaranya adalah Jean-Marie Carre, Paul van Tieghem, dan Ferdinand Baldenspenger. Mereka berpandangan bahwa sastra bandingan adalah kajian dua karya sastra atau lebih dengan penekanan pada aspek karya sastra itu sendiri (B. Trisman, dkk., 2003:3). Fokus kajiannya adalah membandingkan antara karya sastra dengan karya sastra yang lain untuk mendapatkan kesimpulan siapa mempengaruhi siapa dan mencari hipogram. Dalam perkembangannya, para peneliti sastra bandingan di Amerika memperluas wilayah kajian dengan memungkinkan masuknya disiplin di luar sastra sebagai objek kajian. Salah satu bagian penting dari kajian sastra bandingan adalah kajian tentang pengaruh memperngaruhi antara karya sastra satu dan karya lainnya. Salah satu kajian dalam hal ini adalah kajian penerimaan. Kajian penerimaan menganalisis bagaimana sesuatu pengaruh diterima oleh pengarang dan dimanifestasikan dalam karyanya. Semiotika Puisi Riffaterre Ketika membaca karya sastra, pembaca harus selalu sadar akan banyaknya representasi yang memaksakan teks padanya. Mereka disebarkan di seluruh bekerja sebagai konstituen dari sebuah matriks yang tidak secara tegas diumumkan oleh teks, dan mereka menghasilkan efek yang dapat dipahami. Pembaca harus terus-menerus “mendorong makna ke sebuah teks tidak hadir dalam linearitas” Operasi ini, terus-menerus mengulangi, adalah apa yang menciptakan makna, yang dapat didefinisikan sebagai


November 2014, Vol. 4, No. 2 “pembaca praksis transformasi”. Dari sudut pandang ini, membaca adalah lebih dari satu cara sederhana untuk mengidentifikasi tandatanda operasi meletakkan di atas kertas. Dalam tradisi kritik sastra terdapat empat orientasi pendekatan, yaitu orientasi ekspresif yang menekankan pada sisi kreator, orientasi mimetik yang menekankan pada tema, orientasi objektif yang menekankan pada teks, dan orientasi reseptis yang menekankan pada faktor pembaca. Analisis semiotik tidak bisa dipisahkan dan merupakan perkembangan lebih lanjut dari analisi struktural disebabkan tanda-tanda yang hendak dimaknai dalam analisis ini bertumpu pada struktur objektif teks. Namun, semiotika juga adalah teori yang berorientasi kepada pembaca, mementingkan kompetensi atau kemampuan pembaca. Menurut Riffaterre, sebuah teks sastra itu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengontrol sendiri dan akibatnya berpengaruh pada pembaca. Menurut Michael Riffaterre, proses komunikasi yang terbentang antara teks dan pembaca tidak sama dengan yang terlibat dalam apa yang disebut komunikasi normal. Pertemuan pembaca dengan teks sastra adalah pengalaman dari sesuatu yang unik, yang utama adalah gaya wajar. Gaya menjadi jelas kepada pembaca melalui kehadiran dalam teks ungrammaticalities, orang-orang aneh unsurunsur yang mengganggu tata bahasa tekstual. Ungkapan “sebuah sungai di perjalanan ke tempat kerja” dalam ayat berikut adalah ungrammaticality: “Tidak apa-apa yang akan dijalankan oleh sebuah sungai / dalam perjalanan untuk bekerja”. Pertemuan pembaca dengan teks tidak sebanding dengan proses yang mengatur apa yang disebut komunikasi normal. Ini pengalaman unik (sastra komunikasi) diperantarai dalam beberapa cara oleh gaya kerja, yang diwujudkan dengan cara ungrammaticalities. Dalam pengaturan komunikasi sehari-hari, sebagai model terkenal

Jakobson mengungkapkan, dua-arah berkembang terutama hubungan antara encoder dan decoder, atau pengirim dan penerima, atau addresser dan alamat, jika Anda lebih memilih: pertama mengirimkan pesan menggunakan kode, yang mengacu pada rujukan dalam konteks tertentu, penerimaan data dan penafsiran mereka untuk memahami pesan. Dengan tidak adanya akses langsung ke encoder, yang referensi, atau realitas di luar buku, pembaca hanya bisa menyimpulkan unsur-unsur tersebut, itulah sebabnya Riffaterre mengklaim bahwa “realitas dan penulis merupakan barang substitusi untuk teks”. Dan karena pembaca tidak ada sebelum dia tetapi teks, maka teks yang harus menuntut perhatiannya, yaitu, sastra dan bahasa-bahasa puitis bahkan lebih dan usaha tidak untuk mewakili realitas, tetapi untuk mendirikan sebuah kesatuan sistem yang koheren penandaan. Menurut Michael Riffaterre, keunikan setiap teks sastra tidak bisa dibantah: “Teks adalah selalu salah satu dari jenis yang, unik. Dan tampaknya saya bahwa keunikan ini adalah definisi yang paling sederhana literariness bahwa kita dapat menemukan”. Namun tidak seperti hermeneutika, konsep Riffaterre gaya tidak merujuk kembali kepada penulis, “Teks bekerja seperti program komputer yang dirancang untuk membuat kita pengalaman yang unik. Ini keunikan yang kami sebut gaya. Sudah sejak lama bingung dengan individu hipotetis disebut penulis tetapi, dalam kenyataannya, gaya adalah teks itu sendiri” Posisinya dengan demikian dapat dinyatakan dengan serangkaian equivalences yang mungkin berbunyi sebagai berikut: Text = Keunikan = Gaya = Literariness. Semiotika Riffaterre, dalam tradisi kritik sastra, merupakan cara pandang yang tergolong baru (Faruk, 1996:25). Bagi Riffaterre, bahasa puisi berbeda dari penggunaan bahasa umum. Bahasa puisi memang memanfaatkan kata-kata

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

201


November 2014, Vol. 4, No. 2 dan tata bahasa yang sama dengan bahasa sehari-hari, tetapi puisi mengekspresikan konsep-konsep dan benda-benda secara tidak langsung, mengatakan sesuatu dengan memaksudkan yang lainnya. “The language of poetry differs from common linguistics usage-this much the most unsophisticated reader senses instinctively. Yet, while it is true that poetry often employs words excluded from common usage and has its own special grammar, even a grammar not valid beyond the narrow compass of a given poem, it may also happen that poetry uses the same words and the same grammar as everyday language ‌ To put it simply, a poem says one thing and means another.â€? (Riffaterre, 1982:1). Riffaterre menganggap puisi sebagai salah satu aktivitas bahasa. Namun, bahasa puisi berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa puisi mengatakan sesuatu dengan memaksudkan yang lainnya, dengan kata lain terjadi ketidak langsunga ekspresif, hal ini terjadi karena adanya penggantian makna yaitu ketika sebuah tanda menggeserkan satu makna ke makna lain, penyimpangan makna jika terdapat adanya ambiguitas, kontradiksi atau nonsense, yang terakhir adanya penciptaan makna ketika ruang tekstual bertindak sebagai sebuah prinsip organisasi untuk menghilangkan tanda-tanda dari item-item linguistik yang pada mulanya mungkin tidak bermakna sama sekali. Ketiga pola ketidaklangsungan ekspresi ini mengancam mimesis, representasi literer dari realitas. Karena puisi memanfaatkan bahasa sehari-hari, maka di dalam memahami puisi tetap diperlukan adanya kompetensi di dalam konvensi bahasa dan konvensi sastra. Untuk memahami semiotika puisi akhirnya diperlukan adanya dua level pembacaan karena untuk menggapai makna harus terlebih dahulu melompati mimesis. Kedua level itu adalah pembacaan heuristik dan hermeneutik (Riffaterre, 1982:2-6). 202 Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya

Pembacaan heuristik merupakan penafsiran puisi dari aeal teks hingga akhir, dari halaman atas ke bawah berdasarkan lemekaran sintagmatik. Level ini merupakan tempat terjadinya interpretasi awal ketika serangkaian arti-arti yang terpecah-pecah itu dipahami. Di sini kompetensi sastra seorang pembaca juga mulai dilibatkan, yaitu berupa keakraban pembaca dengan sistem-sistem deskriptif, dengan tema-tema, mitologi-mitologi, dan dengan teks-teks lain untuk merespon secara tepat adanya ketidakgramatikalan tadi sesuai dengan model hipogramatik. Pada pembacaan pertama inilah, dengan demikian mimesis teks telah dimengerti seluruhnya dan rintaganrintangan di dalam pembacaan telah benarbenar dilompati. Selepas ini, di dalam pembacaan tahap kedua nanti sudah tidak diperbolehkan lagi muncul adanya kekeliruan referensial. Pembacaan hermeneutik didasarkan pada konvensi sastra. Pembacaan ini merupakan pembacaan secara menyeluruh sepanjang teks dengan melakukan modifikasi ulang atas pemahaman yang terserap di dalam pembacaan heuristik. Dalam pembacaan hermeneutik pembaca melakukan upaya decoding, melakukan peninjauan dan revisi terhadap pembacaan tahap pertamanya. Dalam decoding ini segala sesuatu yang mulanya tampak sebagai ketidakgramatikalan itu akan tampak menjadi ekuivalen karena ia semata sebagai varian dari matrik stuktural yang sama. Teks dengan demikian adalah suatu variasi dari sebuah struktur tematik yang membangun makna. Makna ditemukan setelah pembaca dapat mengatasi rintangan mimetis, dalam hal ini ketidakgramatikalan tadi dan kecendurungan kea rah polarisasi merupakan bahan-bahan bagi pembaca untuk memperjelas interpretasi (Riffaterre, 1982:6). Makna puisi sendiri menurut Riffaterre menyerupai sebuah donat. Teks verbal adalah daging donat tersebut


November 2014, Vol. 4, No. 2 sementara lubang donat yang menopang dan membentuk daging donat sebagai donat, yang merupakan sumber signifikasi, berisi matriks dari sebuah hipogram atau hipogram sebagai matriks. Pembacaan Heuristik dan Heurmenetik pada sajak “Doa� Sesuai dengan pembedaan dua jenis pembacaan terhadap puisi yang dibuat oleh Reffaterre, yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik, penelitian puisi dengan menggunakan teori Semiotika Reffaterre pertama-tama dimulai dengan mengenalkan pembacaaan heuristik. Pada pembacaan ini puisi dibaca dari awal hingga akhir, dengan tujuan menafsirkan puisi pada tataran mimesis. Kata-kata dimaknai secara referensial. Konvensi penulisan puisi, seperti bagaimana puisi ditulis tidak dari pinggir kertas yang satu ke pinggir kertas yang lain sebagaimana penulisan prosa, bahwa bait merupakan unit gagasan, bahwa rima disamping untuk menimbulkan keindahan bunyi juga merupakan penanda pembaitan, adanya ungkapan figurative (kiasan), dan sebagainya, dikenalkan. Ini berarti semua perngkat puitik tetap diajarkan. Pada pembacaan heuristik ini akan ditemukan indirection yang menurut Reffaterre ada tiga cara, yaitu displacing, distorting, dan creating meaning. Displacing adalah ketika tanda bergeser dari satu arti ke arti yang lain, ketika kata mengandung arti lain, seperti yang terjadi pada metafora dan metonimi. Distorting adalah ketika ada ambiguitas, kontradiksi, ataunonsense. Creating meaning adalah ketika ruang tekstual digunakan sebagai prinsip pengorganisasian yang apabila tidak disusun semacam itu tidak akan punya arti, seperti simetri, rima, atau ekivalen semantik antara kesepadanan-kesepadanan posisi dalam satu bait Iindirection ini menjadikan pembacaan pada tataran mimesis ini terhambat; tidak selalu Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

mudah memahami inderication pada tataran mimesis. Setelah itu, proses pembacaan hermeneutik pun di mulai. Pertama-tama adalah mencari matriks, atau kata-kata kunci. Kata-kata kunci mungkin teraktualisasi dalam puisi, mungkin tidak. Setelah kata kunci ketemu, langkah berikutnya adalah mencari seme dan presupposition-nya. Berdasar kata-kata kunci, seme, dan presupposition-nya ini, hipogram dapat dikenali. Selanjutnya adalah menganalisis bagaimana hipogram tesebut dikembangkan menjadi teks, melalui ekspnasi, konversi, atau gabungan keduanya. Marilah kita cari kata kunci, seme, dan presupposition puisi Chairil Anwar berikut. DOA kepada pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku Aku mengembara di negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling 13 November 1943 Puisi ini tidak terlalu sulit untuk dipahami secara mimetik karena hampir semua kata dalam pusi ini dapat dimaknai secara referensial. Pada pembacaan pertama sudah dapat dikenali bahwa puisi ini berisi pengakuan Aku Lirik tentang kebesaran Tuhan, sebagai mana diungkapkan di baris ke-lima, mengingat Kau penuh seluruh , dan pengakuannya akan ketidakmampuannya untuk meninggalkan Tuhan, sebagaimana diungkapkan pada baris 203


November 2014, Vol. 4, No. 2 terakhir aku tidak bisa berpaling. Berdasar pada pembacaan pertama tersebut dapat dikenali pula bahwa kata kunci puisi ini adalah doa yang sekaligus merupakan judul puisi ini; judul yang baik memang merupakan abstraksi isi. Seme, atau inti arti, kata doa adalah permohonan kepada Tuhan, sedangkan presupposition-nya antara lain adalah Tuhan ke mana doa dipanjatkan dan manusia sebagai hamba yang memanjatkan doa. Di samping itu tentu juga presupposition akan kemaha besaran dan kemaha kuasaan Tuhan dan kesadaran manusia akan ketidak berdayaannya. Selanjtunya, marilah kita analisis bagaimana kata kunci doa beserta seme dan presupposition-nya itu menjadi motor yang menggerakkan derivasi tekstual puisi ini. Bait pertama, Tuhanku/ Dalam termangu/ Aku masih menyebut nama Mu jelas merupakan transformasi kata kunci doa dengan seme dan presupposition-nya itu. Pada bait ini Aku Lirik memanjatkan permohonan kepada Tuhan. Doa ini mengandung pengkuan bahwa Aku Lirik dalam keadaan termangu dan bahwa dalam keadaan termangu itu ia masih menyebut nama Tuhan. Kata termangu mengandung arti ragu-ragu untuk maju atau mundur, sedangkan kalimat aku masih menyebut namaMu mengandung arti bahwa si Aku masih ingat Tuhan atau tidak bisa sama sekali melupakan Tuhan. Ini berarti si Aku Lirik masih mengakui kebesaran Tuhan. Bait kedua: Biar susah sungguh/ mengingat Kau penuh seluruh merupakan ekspansi bait pertama dalam bentuk pengulangan arti semantik bait pertama. Kalimat Biar susah sungguh dapat dilihat sebagai pengulangan sekaligus penguatan seme kata termangu , sedangkan kalimat mengingat Kau penuh seluruh merupakan aktualisasi presupposition kemahabesaran dan kemahakuasaan Tuhan. Frasa penuh seluruh sulit dipahami secara mimetik karena penggunaan kata seluruh dalam frasa tersebut tidak lazim. Baris 204 Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya

pertama bait ketiga, CahyaMu panas suci , masih merupakan transformasi presupposition kemahabesaran dan kemahakuasaan Tuhan, sedangkan baris kedua, tinggal kerdip lilin di kelam sunyi , merupakan eskpansi dari gagasan yang dikandung dalam baris pertama tersebut sehingga dua baris ini dapat diungkapkan dengan kata-kata lain (paraphrase) sebagai berikut: cahyaMu yang panas suci itu tinggal seperti kerdip lilin di kelam suci . Ini mengandung arti bahwa citra kemahabesaran dan kemahakuasaan Tuhan sudah hampir hilang dari dalam hati si Aku Lirik. Bait keempat yang hanya terdiri atas satu kata, Tuhanku , merupakan pengulangan dari kata yang sama pada baris pertama. Hanya, pada bait ke tempat ini kata Tuhanku dipisahkan dari baris berikutnya. Hal ini memberi efek tekanan yang lebih besar pada kata tersebut ini merupakan satu contoh dari creating meaning: bagaimana aspek meta language dieksploitasi untuk mencipatkan arti. Tekanan yang lebih pada kata tersebut menjadikan pembaca tersiapkan untuk mengantisipasi bait berikutnya: aku hilang bentuk/ remuk. Baris ini merupakan transformasi dari presupposition kesadaran akan ketidakberdayaan Aku Lirik sebagai manusia. Bait beriktunya: Tuhanku/ Aku mengembara dinegeri asing merupakan ekspansi dari gagasan ketidakberdayaan manusia; frasa mengembara di negeri asing merupakan metafora bagi tindakan Aku Lirik melepskan diri dari kedekatan terhadap Tuhan. Kalimat tersebut merupakan perbandingan terhadap keadaan si Aku Lirik jauh dari Tuhan. Bait terakhir melanjutkan ekapansi ini: Tuhanku/ di pintuMu aku menetuk/ aku tidak bisa berpaling . Aku Lirik tidak dapat melepaskan diri dari kedekatan terhadap Tuhan: ia tidak dapat berpaling sehingga ia pun kembali kepada Tuhan. Gagasan ini terasa sekali sebagai pengulangan sekaligus varian dari bait pertama: Dalam termangu/ Aku masih menyebut namamu ,


November 2014, Vol. 4, No. 2 dalam keadaan ragu-ragu maju (meninggalkan Tuhan) atau mundur (kembali kepada Tuhan) ia masih menyebut nama Tuhan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keseluruhan puisi ini merupakan transformasik kata kunci doa berserta seme, yaitu permohonan kepada Tuhan, dan presupposition-nya, yaitu kemaha besaran sekaligus kemahakuasaan Tuhan dan ketidakberdayaan hambanya. Inilah yang membuat puisi ini memiliki kohesi yang tinggi sehingga terasa sangat kuat. Ada tanda lain yang merupakan textual interpretant dalm puisi ini, yakni kalimat persembahan di bawah judul kepada pemeluk teguh . Kalimat ini menghubungkan puisi ini dalam hubungan paradigmatik dengan kehidupan Chairil Anwar dan dengan sajak “Doa” yang lain. Kalimat kepada pemeluk teguh menyiratkan arti bahwa si Aku Lirik yang bisa ditafsiran sebagai Chairil Anwar sendiri bukanlah pemeluk Teguh. Di samping itu, dikaitkan dengan penanda waktu penulisan yang ditulis di bawah puisi tersebut. Pada puisi “Doa” yang lain, seperti pada sajak “Doa” Amir Hamzah : Doa Amir Hamzah Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku? Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah terik. Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu. Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya. Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak. Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

Sama seperti puisi doa Chairil Anwar, puisi “Doa” Amir Hamzah ini mudah dipahami secara mimetis, Pada pembacaan pertama sudah dapat dikenali bahwa puisi ini berisi pengakuan Aku Lirik tentang kebesaran Tuhan. Seperti yang terdapat pada baris ke empat dan kelima “Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya. Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak. Selain itu pada analisis kata kunci doa beserta seme dan presupposition-nya yang menjadi motor penggerak derivasi tekstual puisi ini sama seperti yang ada pada puisi “Doa” karya Chairil Anwar. Agak berbeda dengan kedua puisi diatas, puisi “Doa” karya Ajip Rosidi sedikit berbeda, puisi yang hanya terdiri dari empat baris ini lebih berisi tentang pengertian sebuah doa, akan tetapi subjeknya tetap aku lirih. Do’a ialah burung-burung cahaya yang kuterbangkan ke hadiratMu Do’a ialah anak-anak panah cinta yang kuarahkan ke dalam kalbuMu Do’a ialah suara-suara ajaib tali jiwa yang kupetik setiap waktu Do’a ialah bianglala yang menghubungkan keaibanku dengan kegaibanMu Namun dalam garis besar seme dan presupposition-nya hampir sama dengan kedua sajak “Doa” di atas. Hubungan Tematik pada Sajak “Doa” 1. Doa sebagai Permintaan, Pengakuan, dan Cinta. Doa dalam puisi banyak yang berisi tentang permintaan dan pengakuan. Dalam puisi “Doa” Ajip Rosidi yang hanya satu bait berisi pengakuan kepada Tuhan tentang makna doa yang sangat begitu berarti. Do’a ialah burung-burung cahaya yang kuterbangkan ke hadiratmu Do’a ialah anak-anak panah cinta yang kuarahkan ke dalam kalbuMu 205


November 2014, Vol. 4, No. 2 Do’a ialah suara-suara ajaib tali jiwa yang kupetik setiap waktu Do’a ialah bianglala yang menghubungkan keaibanku dengan kegaibanmu Tidak demikian yang terdapat dalam puisi “Doa”, Amir Hamzah menginginkan sesuatu dari kekasihnya (Tuhan) sebagai suatu permintaan, Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu, Penuhi dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu! Berbeda dengan Ajip Rosidi, Amir Hamzah memulai puisi “Doa”nya dengan memuji-muji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya karena Tuhannya telah memberi kesejukan yang diibaratkan senja setelah terik matahari. Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku? dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas terik, angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa, menayang fikir, membawa angan ke bawah kursimu Walaupun tidak berbicara tentang dosa, Chairil Anwar juga mengungkapkan pengakuan di hadapan Tuhannya dan mengakui akan kelemahan dirinya. Tuhanku aku hilang bentuk remuk. Dalam puisi “Doa” Amir Hamzah tampak sekali bahwa Tuhan sebagai seorang kekasih, Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?, doa yang dipanjatkan oleh Amir Hamzah doa penuh cinta. Demikian pula dengan puisi “Doa” Chairil Anwar memperlihatkan kekuatan cinta kepada Tuhan. Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu 206 Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya

Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh. Pada bait terakhir secara tersirat Chairil pun membutuhkan uluran tangan Tuhan supaya mau membuka pintu-Nya. Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling 2. Syair Doa sebagai Permohonan Individual dan Permohonan Sosial Syair yang berkaitan dengan doa pada umumnya berbicara tentang individu sebagai aku lirik atau subjek lirik. Seruan-seruan yang ditujukan kepada Tuhan merupakan seruan retoris subjek lirik. Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu, Penuhi dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu! Yang menjadi isi permohonan Amir Hamzah di atas adalah agar diri subjek lirik diterangi dengan sinar Tuhan. Sama dengan puisi Chairil Anwar yang menggunakan subjek aku lirik dalam permohonan-permohonan pada puisi Doa. Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namamu Beberapa syair puisi yang bermuatan doa subjek lirik yang ditujukan untuk orang lain, seperti puisi “Doa untuk Anakku” Emha Ainun Nadjib. Dalam puisiDoa untuk Anakku”. Pembicara yang mengatasnamakan “kami” terdapat pada puisi doa, seperti pada puisi Sapardi, “Doa Para Pelaut yang Tabah”, puisi Emha Ainun Nadjib, “Doa untuk Hari Esok Kami” atau puisi Mustofa Bisri “Doa Penutupan Penataran P4”. Dalam puisi Sapardi, misalnya permohonan yang disampaikan berkenaan dengan kekuatan untuk dapat terus mengarungi lautan. Puisi-puisi yang menggunakan aku lirik pada umumnya berbicara tentang kepentingan individu atau permohonan diri si aku lirik yang sangat


November 2014, Vol. 4, No. 2 mungkin adalah si penyair sendiri. Akan tetapi, ada pula pembicara dalam puisi doa sebagai aku lirik yang berdimensi sosial, misalnya doa yang dipanjatkan aku lirik ditujukan untuk orang lain. Puisi doa yang menggunakan pembicara sebagai seseorang atau sekelompok orang dimaksudkan sebagai doa yang berdimensi sosial. Demikian pula penggunaan kata ganti “kami” dalam doa menunjukkan bahwa doa tersebut tidak ditujukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi ditujukan pula untuk kemaslahatan orang banyak. 3. Syair Doa merupakan Metafora yang Imanen Penggunaan majas dalam puisi-puisi doa tampak khas karena yang diajak berdialog adalah Tuhan yang harus dipuji, dihormati, dan dicintai. Permohonan haruslah disampaikan dengan cara-cara yang sangat santun agar permohonan itu dikabulkan. Dalam puisi Amir Hamzah, Tuhan diibaratkan sebagai kekasih. Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku? Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah terik. Tuhan sebagai kekasih diibaratkan senja yang memberikan kesejukan setelah berlalunya terik matahari siang hari. Sementara itu, manusia sebagai makhluk yang siap menerima kata dan kasih Tuhan. Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya. Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak. Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu Dalam puisi Chairil Anwar Tuhan diibaratkan sebagai cahaya panas suci yang bagi dirinya tinggal kerdip lilin, sementara manusia sebagai makhluk yang lemah, hilang bentuk – remuk. cayaMu panas suci Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk SIMPULAN Sesuai dengan pembedaan dua jenis pembacaan terhadap puisi yang dibuat oleh Reffaterre, yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik, penelitian puisi dengan menggunakan teori Semiotika Reffaterre pertama-tama dimulai dengan mengenalkan pembacaaan heuristik. Pada pembacaan ini puisi dibaca dari awal hingga akhir, dengan tujuan menafsirkan puisi pada tataran mimesis. Kata-kata dimaknai secara referensial. Setelah itu, proses pembacaan hermeneutik pun di mulai. Pertama-tama adalah mencari matriks, atau kata-kata kunci. Kata-kata kunci mungkin teraktualisasi dalam puisi, mungkin tidak. Setelah kata kunci ketemu, langkah berikutnya adalah mencari seme dan presupposition-nya. Berdasar pada pembacaan pertama tersebut dapat dikenali pula bahwa kata kunci puisi ini adalah doa yang sekaligus merupakan judul puisi ini; judul yang baik memang merupakan abstraksi isi. Seme, atau inti arti, kata doa adalah permohonan kepada Tuhan, sedangkan presupposition-nya antara lain adalah Tuhan ke mana doa dipanjatkan dan manusia sebagai hamba yang memanjatkan doa. Di samping itu tentu juga presupposition akan kemaha besaran dan kemaha kuasaan Tuhan dan kesadaran manusia akan ketidak berdayaannya. Pendekatan tematik berupaya membawa pembaca menyelami dan menghayati kreativiti dan keaslian pengarang karena pengarang yang menerapkan. Hasil diatas menunjukan adanya persamaan dasar tematik yang dilukiskan pengarang pada setiap sajak “Doa”. Yaitu tema ketuhanan yang religius. Walaupun dalam bentuk dan cara penyajiannya yang berbeda. Penggunaan 207


November 2014, Vol. 4, No. 2 kalimat yg berbeda, cara menggambarkan sosok Tuhan yang berbeda dan penyajiannya pun ada yang dinyanyikan. Semua itu bertujuan sama yaitu menghibur dan memberikan ilmu pengetahuan kepada pembaca. DAFTAR PUSTAKA Abdul Aziz, Sohaimi, 2001. Kesussasteraan Bandingan: Perkembangan, Pendekatan,Praktis. Malaysia: Utusan Pubilications & Distributors Sdn Bhd. Anwar, Chairil. 1986. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Faruk,. 1996. “’Aku’ dalam Semiotika Riffaterre Semiotika Riffaterre dalam ‘Aku’” dalam Humaniora III/1996, Yogyakarta: fakultas Sastra UGM.

208 Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya

Hamzah, Amir. 2007. Nyanyian Sunyi. Bandung: Dian Rakyat. Mahayana, Maman S. 2005. Sembilan Jawaban Sastra Indonesia. Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta: Bening. Pradopo, R. D., Prof. Dr. (2005). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Riffaterre. 1982. Semiotics of Poetry, Bloomington & London: Indiana University Press. Rosidi, Ajip. 1979. Sajak-sajak Anak Matahari. Jakarta: Pustaka Jaya. Teeuw, A. 2003. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Zilfa a bagtayan jurnal bahasa vol 4 no 2 nov 2014  
Zilfa a bagtayan jurnal bahasa vol 4 no 2 nov 2014  
Advertisement