Page 1

K I N A R A A B H I P R AYA

ANTOLOGI TUGAS AKHIR

OKTOBER 2019

Kami Kinara Abhipraya, sang titik-titik penuh harapan. Kami pernah berbaris rapi dengan segenap hati menepi, saling berbagi, meraih angan dalam setiap tantangan. Kini tibalah saatnya kami menuai api dan nyala kami bagi, memantik hati biar tak lagi terusik. Semoga setiap penjuru negeri mengamini babak baru perjuangan kami. Dengan penuh khidmat dan bangga, kami mempersembahkan sebuah antologi tugas akhir yang telah kami rangkai dengan indah.


ANTOLOGI TUGAS AKHIR K I N A R A A B H I P R AYA OKTOBER 2019 Ketua Tim Redaksi : Joshua Aditya Chief Editor Kontributor : Afrilla Melati Rahma Aliefianto Nandya Saputra Contributors Almira Kridarahmanda Anindya Nailaiffa Aulia Anthony Derry Audita Ilhami Rifdah Baihaqi Dzaky Rizkia Cindy Claudia P. Y. Davin Gery Lineker Dea Fathur Rochman Devi Kava Nilla Diajeng Nashukha R. Fabian Mohammed Rukmana Faradillah Hillman Farah Syifa Nabila

Fathia Almia Tsara Amanna Fauzi Ardiansyah Wijaya Faza Nugraha Sudarwan Fikri Anam Gideon A.S. Simangunsong Grace Nathania Haidar El Haq Hibaturrahim Hanifa Nur Amalina Haryono Kurniawan Ikyu Tirtodimedjo James William Rinaldi Joshua Aditya Keshia Simatupang Kevin Eligius Marseli Kristina Andre Agung

M. Raushan Fikri Mahira Raihana Putri Marestu Rizki Nugraha Mentari Hanifa Dzikrina Mutia Ayu Cahyaningtyas Nabila Putri Fauzia Nikita Eka Nurwita Nikolas Fiansa B. Nur Fajrina Ramadhani Nurul Azizah Hatami Prabudewa Sebayang Prisky Kartikasari Putri Belinda Rayi Ruby Reliya Annisa Putri

Sasqia Nurul Azmi Shafira Aisyah Fitri Slamet Zarkasih Syifa Anggita Nur Yudanti Tania Fitriani Theofillus Terry Theresia Priscylla A. A. Tri Miranda Vinsensius Ardinan B. William Abil Bobby Setiawan William Wibowo Yahya Ayyash Asaduddin Zahra Nurul Azmi I

Penata Letak Layout Team

Cindy Claudia P. Y. Hanifa Nur Amalina

Mahira Raihana Putri Nabila Putri Fauzia

Nikolas Fiansa B.

: Joshua Aditya Afrilla Melati Rahma

Penyunting Foto : Joshua Aditya Photo Editor Mahira Raihana Putri Š 2019 Kinara Abhipraya Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma Program Studi Sarjana Arsitektur Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung Architecture Program School of Architecture, Planning, and Policy Development Bandung Institute of Technology


K I N A R A A B H I P R AYA ANTOLOGI TUGAS AKHIR OKTOBER 2019


Pembimbing Supervisors

Kinara Abhipraya

PEMBIMBING SUPERVISORS

Achmad Deni Tardiyana, Ir., MUDD

Agus Suharjono Ekomadyo, ST, MT, Dr.

Agustinus Adib Abadi, Ir., M.Sc., Dr.

Alis Nurdini, ST., MT., Dr.

Andry Widyowijatnoko, ST., MT., Dr.Ing

Arif Sarwo Wibowo, ST., MT., Dr.Eng

Aswin Indraprastha, ST., MT., M.Eng., Ph.D.

Bambang Setia Budi, ST., MT., Dr.Eng.

Basauli Umar Lubis, Ir., MSA, Ph.D.

Baskoro Tedjo, Ir., MSEB, Ph.D.

Boedi Darma, Ir., MSA, Dr.Ing

Budi Faisal, Ir., MAUD, MLA, Ph.D.

Christina Gantini, Ir., MT.Dr.

Dewi Larasati, ST., MT., Ph.D.,

Dibya Kusyala, ST., MT,

Erika Yuni Astuti, ST., MT., Dr.Ing

4


Epilogue Oktober 2019

Pembimbing Supervisors

Hanson Endra Kusuma, ST, M.Eng., Dr.Eng

Heru Wibowo Poerbo, Ir., MURP, Dr.Ing

Himasari Hanan, Ir., MAE., Dr.-Ing

Indah Widiastuti, ST., MT., Ph.D.

Indra Budiman Syamwil, Ir., M.Sc., Ph.D.

M. Jehansyah Siregar, S.T., M.T., Ph.D.

Iwan Sudradjat, Ir., MSA., Ph.D.

Lily Tambunan, Ir., MT., Dr.

M. Prasetiyo E.Y., Ir., M.Arch., MAUD., Dr.

Permana, S.T., M.T.

Samsirina, ST., MT., Dr.

Sugeng Triyadi S, Ir., MT., Dr., Prof.

Surjamanto W., Ir., MT., Dr.

Tri Yuwono, Ir., MT.

Widjaja Martokusumo, Ir., Dr.-Ing., Prof.

Wiwik Dwi Pratiwi, MES, Ir., PhD.

Woerjantari Kartidjo, Ir., MT, Dr.

5


Mahasiswa students

Kinara Abhipraya

MAHASISWA STUDENTS

15214030 William Wibowo

15215001 Putri Belinda

1525003 Fabian M. Rukmana

1525005 Syifa Anggita N. Y.

1525006 Yahya Ayyash A.

15215008 Dea Fathur Rochman

15215009 Nikita Eka Nurwita

15215011 Diajeng Nashukha R.

15215014 Tania Fitriani

15215016 Reliya Annisa Putri

15215017 Joshua Aditya

15215018 Afrilla Melati Rahma

15215019 Ikyu Tirtodimedjo

6

15215013 Zahra Nurul Azmi I


Epilogue Oktober 2019

15215025 Marestu Rizki Nugraha

Mahasiswa students

15215020 Fathia Almia Tsara A.

15215023 Cindy Claudia P. Y.

15215021 Mahira Raihana Putri

15215027 William Abil Bobby

15215030 Slamet Zarkasih

15215032 Prisky Kartikasari

15215035 Audita Ilhami Rifdah

15215037 Theofillus Terry

15215041 Farah Syifa Nabila

15215043 Shafira Aisyah Fitri

15215046 Anindya Nailaiffa Aulia

15215048 James William Rinaldi

7


Mahasiswa students

Kinara Abhipraya

15215049 Nikolas Fiansa B.

15215050 Tri Miranda

15215051 Kristina Andre Agung

15215052 Haryono Kurniawan

15215054 Gideon AS Simangunsong

15215055 Devi Kava Nilla

15215058 Fikri Anam

15215059 Kevin Eligius Marseli

15215061 Sasqia Nurul Azmi

15215062 Baihaqi Dzaky Rizkia

15215063 Anthony Derry

15215064 Theresia Priscylla A.A

15215065 Prabudewa Sebayang

1525067 Hanifa Nur Amalina

15215068 Grace Nathania

8


Epilogue Oktober 2019

Mahasiswa students

15215069 Mentari Hanifa Dzikrina

15215073 M. Raushan Fikri

15215074 Vinsensius Ardinan B.

15215075 Haidar El Haq H.

15215076 Nur Fajrina R.

15215077 Nurul Azizah Hatami

15215082 Mutia Ayu C.

15215083 Fauzi Ardiansyah W.

15215084 Rayi Ruby

15215086 Aliefianto Nandya S.

15215087 Almira Kridarahmanda

15215088 Davin Gery Lineker

15215090 Faradillah Hillman

15215091 Nabila Putri Fauzia

15215092 Keshia Simatupang

15215093 Faza Nugraha Sudarwan

9


Daftar Isi Contents

Kinara Abhipraya

antologi tugas akhir arsitektur architecture final project anthology

kinara abhipraya oktober 2019

october 2019

10


Epilogue Oktober 2019

daftar isi contents

Daftar Isi Contents

13 Komersial Commercial

pusat perbelanjaan, perkantoran, resor, hotel shopping center, office, resort, hotel

51 Residensial Residential apartemen, rumah susun apartment, social housing

77 Religius Religious masjid, asrama haji mosque, hajj hostel

91 Kultural Culture

museum, gedung pertunjukan, pusat komunitas, perpustakaan meseum, gallery, community space, library

145 Fasilitas Publik Public Facilities rumah sakit, pusat rekreasi, olahraga hospital, recreation, sport

187 Transportasi Transportation bandara, terminal, stasiun airport, station

213 Edukasi Education sekolah school

227 Bangunan Campuran Mixed-use 245 Campuran Miscellaneous industri, kuliner, pemerintahan industrial, culinary, government

11


Komersial Commercial

12

Kinara Abhipraya


Epilogue Oktober 2019

komersial

commercial

Komersial Commercial

14 Urban Oasis William Wibowo

18 Onowa Eco-Luxury Resort Mahira Raihana Putri

22 Mendelem Trekking Hillside Hotel Slamet Zarkasih

26 Design with Nature Nikolas Fiansa Buddhisuharto

30 Perancangan Kampung Resor dan Spa di Kawasan Wisata Cipanas, Garut Kristina Andre Agung

34 Experiencing True Consumerism Devi Kava Nilla

38 Luxury Comes from Simplicity Grace Nathania

42 Experiencing Batukaras Vinsensius Ardinan Bramanto

46 Collaborative Working Environment Nabila Putri Fauzia

13


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Urban Oasis:

Lifestyle Center di Purwokerto, Jawa Tengah Lifestyle Center in Purwokerto

oleh | by William Wibowo 15214030 pembimbing |supervisor Dr.-Ing. Erika Yuni Astuti, S.T.,M.T. tipologi | typology komersial | commercial luas | area 30.000 ha

14

Urban Oasis Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi Kota Purwokerto, masyarakat kerap jenuh akan rutinitas monoton setiap harinya. Akibatnya timbul kebutuhan akan rekreasi untuk melepas stress. Namun tempat hiburan atau rekreasi seperti objek wisata terletak jauh dari pusat kota sehinga sulit dikunjungi pada hari kerja. Sementara di dalam kota Purwokerto sendiri, fasilitas hiburan dan rekreasi yang ada dirasa masih kurang dan belum mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan hiburan yang berkualitas, mudah diakses, dan dapat dikunjungi kapan saja tanpa perlu menyediakan waktu khusus.

Urban Oasis In the midst of the rapid economic growth of the City of Purwokerto, people often feel bored with monotonous routines every day. As a result there is a need for recreation to reduce their stressness. However recreation places such as tourist attractions are located far from the city center so it will be difficult to visit on weekdays. While in the city center itself, entertainment and recreational facilities are deemed insufficient and have not been able to accommodate the needs of the community for quality entertainment, easily accessible, and can be visited at any time without providing a special time.


Epilogue Oktober 2019

Dalam rangka mewujudkan hal tersebut maka lifestyle center dipilih untuk menyediakan berbagai kebutuhan akan rekreasi dan hiburan mulai dari area makan, ritel, serta pusat hiburan seperti bioskop, pusat kebugaran, dan sebagainya. Tema yang diangkat oleh lifestyle center tersebut adalah konsep urban oasis. Urban oasis dapat diartikan sebagai upaya untuk menghadirkan tempat dengan pengalaman yang menyenangkan di tengah-tengah kehidupan perkotaan yang kurang menyenangkan untuk mengurangi kejenuhan. Secara umum, urban oasis dapat diartikan sebagai penyegaran (refreshment).

William Wibowo

In order to realize this, the lifestyle center was chosen to provide various needs for recreation and entertainment such as dining areas, retails, and entertainment centers such as theaters, fitness centers, and so on. The theme taken by the lifestyle center is the concept of urban oasis. Urban oasis can be interpreted as an effort to present a place with a pleasant experience in the midst of a less pleasant urban life to reduce boredom. In general, urban oasis can be interpreted as a refreshment.

15


Komersial Commercial

16

Kinara Abhipraya

KONSEP “MEMELUK ALAM” Konsep awal urban oasis erat kaitannya dengan ruang terbuka dan unsur alam. Kemudian berlanjut dengan keinginan untuk memasukkan unsur alam ke dalam tapak. Sebagai bangunan komersial, sirkulasi pengunjung harus dibuat menerus sehingga pengunjung dapat menjangkau seluruh bagian bangunan. Sirkulasi bangunan yang berbentuk loop dipadukan dengan unsur alam yang diletakkan di tengah site akan membuat bangunan seolah sedang “memeluk” alam tersebut. Unsur alam dalam bangunan diwujudkan dalam bentuk inner court.

EMBRACING THE NATURE The initial concept of an urban oasis is closely related to open space and natural elements. Then it continues with the desire to incorporate natural elements into the site. As a commercial building, the circulation of visitors must be made continuously so that visitors can reach all parts of the building. Circulation of the building in the form of a loop combined with natural elements placed in the middle of the site will make the building as if it was “embracing” the nature. Natural elements in buildings are realized in the form of inner court.

PEMBENTUKAN RUANG Ruang dalam bangunan bertujuan untuk menghadirkan suasana alam di tengah kota. Inner court sebagai ruang alami menjadi pusat orientasi ke dalam bangunan sehingga batas antara indoor dengan outdoor menjadi transparan dan menyatu. Setiap bagian bangunan dibuat mendapatkan akses langsung ke unsur alam.

SPACE FORMATION The building space aims to bring a natural atmosphere in the middle of the city. The inner courts as a natural space become the center of orientation of the building so that the boundary between indoor and outdoor becomes transparent and unified. Every part of the building is made to get direct access to natural elements.


Epilogue Oktober 2019

REKREASI DAN HIBURAN Tidak hanya berperan sebagai bangunan komersial, lifestyle center juga menjadi sarana rekreasi dan hiburan. Lifestyle center dilengkapi dengan berbagai atraksi. Di tengah bangunan terdapat sebuah tangga yang berfungsi sebagai amphitheater dan area duduk. Selain itu bangunan juga memiliki beberapa rooftop garden. Sisi utara dan selatan bangunan juga dihubungkan dengan jembatan yang akan menghadirkan suasana baru bagi pengunjung. Keberadaan ruang-ruang tersebut diharapkan dapat menjadi wadah interaksi antar pengunjung serta dapat menghadirkan pengalaman baru.

William Wibowo

RECREATION AND ENTERTAINMENT Not only as a commercial building, the lifestyle center is also a facility of recreation and entertainment. Lifestyle center is equipped with various attractions. In the middle of the building there is a stair that can be used as an amphitheater and sitting area. In addition, the building also has several rooftop gardens. The north and south sides of the building are also connected by a bridge that will present a new atmosphere for visitors. The existence of these spaces is expected to be a place of interaction between visitors and can bring new experiences.

17


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Onowa Eco-Luxury Resort:

Hotel Resort di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara Resort Hotel in Wakatobi Regency, Southeast Sulawesi

oleh | by Mahira Raihana Putri 15215021 pembimbing |supervisor Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko, ST.,MT. tipologi | typology komersial | commercial luas | area 4,9 ha lokasi | location Kota Waha, Pulau Wangi-wangi, Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara | Waha City, Wangi-wangi Island, Wakatobi Regency, Southeast Sulawesi

18

Pariwisata di Indonesia merupakan sektor penting yang diunggulkan. Terdapat 10 destinasi prioritas pariwisata yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia, yang dinilai dapat menjadi 10 Bali baru. Salah satu destinasi itu adalah Wakatobi, yang terletak di Sulawesi Tenggara. Salah satu aspek yang akan direncanakan adalah pembangunan akomodasi. Karena lokasi wisata memiliki alam yang indah dan juga fungsinya sebagai tempat pariwisata, maka dibuatlah jenis akomodasi hotel resort yang dapat menampung wisatawan yang datang.

Tourism in Indonesia is an important sector that is seeded. There are ten tourism priority destinations set by the Indonesian Ministry of Tourism, which are considered to be the 10 New Bali. One of these destinations is Wakatobi, which is located in Southeast Sulawesi. One aspect that will be planned is the accommodation. Because the location of tourism has beautiful nature and also its function as a place of tourism, then resort hotel accommodation is a type of hotel needed that can accommodate tourists who come.


Epilogue Oktober 2019

Resort yang sudah ada di Wakatobi belum memiliki standar bertaraf internasional, sehingga diperlukan lagi resort yang dikelola oleh pengelola swasta, PT. Wakatobi, yang sudah berpengalaman membuat resort dengan kualitas internasional. Isu utama dari perancangan ini adalah Wakatobi sebelumnya telah ditetapkan menjadi taman nasional, sehingga harus sangat memperhatikan aspek lingkungan. Akibatnya, perancangan hotel resort harus berbasis lingkungan sehingga diperlukan desain yang ramah lingkungan atau eco-design.

Mahira Raihana Putri

The existing resorts in Wakatobi do not yet have international standard, so a resort that is managed by private managers is needed, PT. Wakatobi, which has experienced making resorts with international quality. The main issue of this design is that Wakatobi has previously been designated a national park, so it must pay close attention to environmental aspects. As a result, the design of resort hotels must be environmentally based so the design should follow the rules of eco-design buildings.

19


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Seperti yang telah dijelaskan pada awal sub-bab sebelumnya, konsep utama desain bangunan mengacu pada bentuk bangunan yang unik, yaitu dari bentuk Kukure. Kukure atau bulu babi adalah makanan khas dari Wakatobi yang juga merupakan hewan laut. Karena kaya akan alam bawah lautnya, penggunaan Kukure sebagai konsep desain utama dan pendekatan desain melalui bentuk tersebut menjadi hal yang menarik dan menjadi nilai jual oleh hotel resort ini.

20

As explained at the beginning of the previous sub-chapter, the main concept of building design refers to the unique shape of the building, namely from the form of Kukure. Kukure or sea urchin is a typical food from Wakatobi which is also a sea animal. Because it is rich in underwater world, the use of Kukure as the main design concept and design approach through this form is an interesting and selling point for this resort hotel.


Epilogue Oktober 2019

Mahira Raihana Putri

LEGENDA 1 ENTRANCE 2 TEMPAT PARKIR 3. DROP OFF 4 MAIN BUILDING (RESTO+LOBBY) 5 HALL 6 KIDS CENTER DAN RETAIL S 7 JUNGLE SPA 8 LONG HOUSE 9 JETTY BAR 10 BACK OF THE HOUSE 11 DERMAGA KECIL 12 DERMAGA BESAR 13 SAFE ZONE 14 PALUNG

12

A BEACH VILLA FAMILY SIZE B BEACH VILLA COUPLE SIZE C WATER VILLA COUPLE SIZE D WATER VILLA FAMILY SIZE E WATER SUITE F SERVICE SPOT

E

14

C

11

F

D

13 F 8

9 B A 4

10

2

6 3

7 5

Hotel resort di Kota Waha ini akan menampung kegiatan penginapan, relaksasi dan rekreasi, khususnya rekreasi air. Tujuan pembuatan proyek dari PT. Wakatobi adalah untuk memperkenalkan alam bahari Wakatobi melalui olah raga air khususnya diving, sehingga fungsi yang diutamakan selain penginapan adalah dapat memberikan fasilitas penyelaman yang lengkap dan baik. Namun pada perancangan juga tetap disediakan fungsi lain yang dapat dinikmati pengunjung yang bukan penyelam seperti fasilitas snorkeling, renang, permainan air laut dan olahraga pantai, fasilitas publik berupa restoran dan bar, serta fasilitas relaksasi berupa spa.

3

2

1

This resort hotel in Waha City will accommodate lodging, relaxation and recreation activities, especially water recreation. The purpose of making a project from PT. Wakatobi is to introduce the marine nature of Wakatobi through water sports, especially diving, so that the preferred function besides lodging is to provide complete and good diving facilities. However, the design also provides other functions that can be enjoyed by non-divers visitors such as snorkeling, swimming, sea water games and beach sports, public facilities such as restaurants and bars, and relaxation facilities such as spa.

21


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Mendelem Trekking Hillside Hotel:

Hotel Resor Bertema Penjelajahan di Kawasan Bukit Mendelem, Belik, Pemalang

Exploration-themed Resort Hotels in Mendelem Hill, Pemalang

oleh | by Slamet Zarkasih 15215030 pembimbing |supervisor Dr.Ing.Ir. Himasari Hanan, M.A.E. tipologi | typology komersial | commercial luas | area 9.006 m2

22

PENDAHULUAN

INTRODUCTION

Perencanaan proyek hotel ini merupakan salah satu upaya pengembangan potensi pariwisata di wilayah Pemalang bagian selatan yang didominasi wisata pegunungan. Hotel trekking ini merupakan proyek yang diprakarsai oleh PT Shabawana sebagai pengelola Taman Rancah. Taman Rancah sendiri merupakan sebuah tempat wisata dengan daya tarik utama aktivitas outbond di Bukit Mendelem. Kekhasan karakter wisata pegunungan ini selanjutnya dijadikan sebagai identitas hotel kawasan tersebut.

This hotel project planning is one of the strategies to develop tourism potential in the southern Pemalang region which is dominated by mountain tourism. This trekking hotel is a project initiated by PT Shabawana as the manager of Taman Rancah. Taman Rancah itself is a tourist attraction with the main attraction of outbound activities in Mendelem Hill. The distinctiveness of the mountain tourism character is then used as the identity of the region’s hotels.


Epilogue Oktober 2019

Melalui konsepnya sebagai hotel yang diperuntukkan bagi penggemar olahraga outdoor dan pecinta alam, setidaknya terdapat dua isu utama yang mengontrol perancangan hotel ini. Pertama, desain kompleks hotel ini menggunakan kaidah-kaidah bangunan ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan semangat pelestarian alam sebagai nilai yang dijunjung oleh calon pengguna. Kedua, citra hotel mampu menunjukkan sifat sportif. Sebagai hotel trekking, maka suasana yang dibentuk berusaha merefleksikan sebuah arena petualangan yang spontan, penuh kejutan, tantangan, dan mengandung misteri.

Slamet Eka Kurniawan Zarkasih

Through its concept as a hotel intended for outdoor sports enthusiasts and nature lovers, there are at least two main issues that control the design of this hotel. First, the design of the hotel complex uses the rules of environmentally friendly buildings. This is in line with the spirit of nature preservation as a value that is promoted by users. Second, the image of the hotel can show sportsmanship. As a trekking hotel, the atmosphere formed seeks to reflect an adventure arena that is spontaneous, full of surprises, challenges, and contains a mystery.

23


Komersial Commercial

24

Kinara Abhipraya

PERKEMAHAN KONTEMPORER

CONTEMPORARY CAMPSITE

Perancangan tapak diadopsi dari konfigurasi ruang yang terjadi pada bumi perkemahan. Kamar hotel diposisikan mengitari perimeter terutama pada dua tebing yang mengapit tapak. Hal tersebut dimaksudkan agar unit kamar mendapatkan pemandangan terbaik pada tapak sekaligus memberi peluang untuk adanya sebuah area besar di tengah tapak yang didefinisikan sebagai area komunal. Hal ini persis seperti konfigurasi ruang yang terbentuk di sebuah bumi perkemahan.

Site design was adopted from the space configuration that occurred at the campsite. The hotel rooms are positioned around the perimeter especially on two cliffs flanking the site. This is intended so that the room units get the best view on the site while providing the opportunity for a large area in the middle of the site that is defined as a communal area. This is exactly like the configuration of space formed on a campsite.

RUANG YANG FLEKSIBEL

FLEXIBLE SPACE

Dengan konsep spatio-temporal, bangunan kamar hotel dirancang dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan tipe kamar hotel. Layout ruang dapat disesuaikan sedemikian rupa sehingga kapasitas kamar dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan atau tren penyewaan kamar hotel.

With the concept of Spatio-temporal, hotel room buildings are designed to accommodate the various needs of hotel room types. Room layout can be adjusted so that room capacity can be adjusted based on the needs or trends of hotel room rentals.


Epilogue Oktober 2019

Slamet Eka Kurniawan Zarkasih

MENYATU DENGAN ALAM

BLENDING WITH NATURE

Setiap bangunan pada hotel dirancang dengan menggunakan kaidah arsitektur hijau. Peletakan bangunan didesain sedemikian rupa mengikuti muka tanah sehingga diperoleh interupsi kontur yang minimal. Arsitektur rustic dipilih untuk melengkapi ekspresi bangunan yang natural sekaligus sportif, menggunakan material alami yang makin mendekatkan pengguna dengan alam. Lanskap menyajikan suasana rimbunnya pepohonan dengan focal point berupa tebing dan gunung membentuk suasana petualangan.

Every building in the hotel is designed using green architecture rules. Laying of buildings is designed in such a way as to follow the face of the ground so that minimal contour interruption is obtained. The rustic architecture was chosen to complement the expression of natural and sporty buildings, using natural materials that bring users closer to nature. The landscape presents a lush atmosphere of trees with focal points in the form of cliffs and mountains forming an adventure atmosphere.

25


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Design with Nature:

Lifestyle Center di Bandung Teknopolis, Gedebage Leisure Center in Bandung Teknopolis, Gedebage

oleh | by Nikolas Fiansa Buddhisuharto 15215049 pembimbing |supervisor Ir. Wiwik Dwi Pratiwi M.E.S, Ph.D. tipologi | typology komersial | commercial luas | area 57.150 m2 luas lahan | site area 63.000 m2 area hijau | green area 20.000 m2 area penangkap air | rainwater catchment area 15.000 m2

26

Mendesain Berbasis Alam Sebuah konsep desain yang dibawakan oleh Sir Ian L. McHarg pada tahun 1969 dalam bukunya yang berjudul sama. Alam menjadi sebuah subjek dalam desain dan akan menjadi isu paling penting di abad ke-21. Arsitektur harus selaras dengan alam dan lingkungannya. Teknopolis Terletak di Bandung Teknopolis, pemangku kepentingan menginginkan desain mencerminkan sikap kreatif dan inovatif pada lingkungan. Lifestyle center ini juga didesain untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna.

Design with Nature A design concept by Sir Ian L. McHarg in 1969 in his book by the same name. Nature is important as a subject in design, and will be the most important issue of the 21st century. Architecture should be coherent with nature. Technopolis As the project located in Bandung Technopolis, the stakeholders of Bandung Technopolis want the design to build a creative and innovative working and playing environment. The lifestyle center also designed to give leisure to the user.


Epilogue Oktober 2019

Fisika Bangunan 1. Pohon di luar akan membantu mengalirkan udara dingin ke lantai dasar, dan udara panas di lantai dasar akan diventilasikan ke luar melalui void di tengah, diganti dengan udara dingin dari luar. 2. Bangunan ini memaksimalkan pencahayaan alami menggunakan dinding luar kaca dengan memanfaatkan tanaman gantung untuk menghalangi cahaya berlebih. 3. Air hujan dapat diserap oleh penutup tanah berpori. Kelebihan air hujan ditampung di tangki pengolahan air hujan.

Nikolas Fiansa Buddhisuharto

The Building Physics 1. The trees planted outside will make the cold air flowing to the ground area, and the hot air in the ground area is ventilated to the outside via void in the middle, replaced by the cold air from the outside. 2. The building maximize natural lighting by using glass wall with hanging vegetation on the outside cover excess sunlight. 3. The rainwater can be absorbed by the porous groundcover to the ground underneath. Excess rainwater contained in the rainwater catchment tank.

27


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Massa Bangunan Benda dengan bentuk lengkungan dan lingkaran banyak ditemukan di alam sehingga bentuk geometri sederhana yaitu lingkaran digunakan sebagai dasar menentukan bentuk massa bangunan. Dengan meletakan lingkaran bersebelahan dan menghubungkannya dengan tangen (seperti gambar di atas), massa utama terbentuk. Massa akhir dibentuk dari garis lengkung gabungan tersebut sehingga muncul kesan mengalir. Bangunan ini terbentuk dari beberapa massa yang dihubungkan dengan jembatan.

28

Building Mass As circular and curved objects are common in nature, basic geometry circle use as the building shape. By placing the circles next to each other, and connecting each one by the tangen (as shown on the picture above), the basic main mass is found. The final building mass is created by connecting the circular and curved line so the line feels “flowing�, and so the basic mass shape is found. This building is created by several masses connected with a bridge.


Epilogue Oktober 2019

DESIGN WITH NATURE: LIFESTYLE CENTER DI BANDUNG TEKNOPOLIS, GEDEBAGE

Nikolas Fiansa Buddhisuharto

19 Juni 2019

Vegetasi sebagai Subjek Vegetation as Subject Salah satu aspek dari “Design with One of the “Design with Nature” aspect Nature” adalah menerapkan vegetasi is using vegetation as the subject of the sebagai subjek dari rancangan. design. There are 3 main parts that use Terdapat 3 area dengan vegetasi vegetation as the design approach: sebagai pendekatan desain: 1. The hanging planting area that use 1. Area tanaman gantung dengan climbing, creeping, and hanging tanaman rambat dan tanaman sulur vegetation such as Ficus pumila, seperti Ficus pumila, dll. etc. 2. Area vertical garden dengan 2. The vertical garden area that demenggunakan tanaman multi warna signed by planting different kind of DESIGN WITH NATURE: seperti Distichus buccinatoria, dll. DI BANDUNG TEKNOPOLIS, plants GEDEBAGE in different colors, such as LIFESTYLE CENTER 3. Area atrium yang menggunakan Distichtus buccinatoria, etc. tanaman yang selalu hijau pada 3. The green atrium area that contain musim apapun seperti Acacia trees, shrubs, etc that mainly evermangium, dll. green such as Acacia mangium, etc.

19 Juni 2019

DESIGN WITH NATURE: LIFESTYLE CENTER DI BANDUNG TEKNOPOLIS, GEDEBAGE

29


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Perancangan Kampung Resor dan Spa di Kawasan Wisata Cipanas, Kabupaten Garut dengan Pendekatan Arsitektur Sunda Kampung Naga Design of Kampung Resort and Spa Kawasan Wisata Cipanas, Garut Regency

with Sundanese Architectural Approach of Kampung Naga

oleh | by Kristina Andre Agung 15215051 pembimbing |supervisor Dr.Ing. Ir. Heru Wibowo Poerbo, MURP. tipologi | typology komersial | commercial luas | area 6.00 ha

30

Banyaknya wisatawan yang datang ke Kabupaten Garut dan tidak diimbangi dengan jumlah jasa usaha akomodasi perhotelan mengakibatkan terjadinya fenomena munculnya hotel dan resor di Kawasan Wisata Cipanas. Suasana dan potensi alam air panas yang ada di Kawasan Wisata Cipanas dapat dimanfaatkan untuk dibangunnya sebuah hotel resor. Terbangun pada lahan seluas 6 hektar, hotel resor ini memiliki konsep arsitektur Sunda yang dapat mencerminkan budaya dan identitas masyarakat lokal setempat. Penerapan konsep arsitektur Sunda Kampung Naga dipilih karena memiliki kriteria yang sesuai dengan kondisi lahan dan peraturan setempat.

The large number of tourists visiting Garut Regency, which was not met with the large number of hospitality or lodging business, led to the emergence of hotels and resorts at Kawasan Wisata Cipanas. The friendly atmosphere and the existence of hot springs make it promising to build resort at Kawasan Wisata Cipanas. Built across 6 acres of land, this resort can be distinguished by its Sundanese architecture, which also resembles the identity of local people. The Sundanese architecture of Kampung Naga were chosen because of its compatibility to the conditions of the site and to the local regulations.


Epilogue Oktober 2019

Hotel resor ini dilengkapi dengan sejumlah fasilitas untuk relaksasi dan rekreasi seperti spa, fitness, restoran, bar dan cafe, ruang serba guna, ruang rapat, 3 tipe unit kamar, kolam renang, dan danau yang dapat digunakan sebagai area bermain. Hotel resor ini menyediakan kolam rendam air panas pada unit kamarnya, yang airnya bersumber dari pegunungan di sekitarnya. Pengunjung yang datang akan disuguhkan dengan pemandangan sawah di sekitar resor dan juga pegunungan yang berada di sekeliling resor. Dengan demikian, resor dapat memberikan kenyamanan pada pengunjung juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya lokal.

Kristina Andre Agung

There are several facilities for relaxation and recreation in this resort, such as spa, gym, restaurant, bar and cafe, multifunction room, meeting room, 3 different types of rooms for staying guests, swimming pool, and lake. This resort also offers hotwater pools in every room, which are using the water from nearby mountain hotsprings. Visitors could enjoy the scenery of mountains and ricefields around the resort. Therefore, this resort could provide amenities for its visitors during their visit, while introducing local culture to its visitors at the same time.

31


Komersial Commercial

32

Kinara Abhipraya

Arsitektur Sunda Kampung Naga Bangunan dengan bentuk denah segi empat dan menggunakan atap Julang Ngapak mencerminkan arsitektur Sunda Kampung Naga. Terlebih penggunaan material lokal pada bangunan seperti kayu, bambu, batu, dan alangalang. Konstruksi struktur bangunan didominasi oleh material kayu yaitu struktur atap dan kolom bangunan. Tapak dirancang sesuai konsep ‘Luhurhandap’ masyarakat Kampung Naga, dengan menempatkan bangunan berdasarkan tingkat privasinya (sesuai hirarki).

Sundanese architecture of Kampung Naga The Sundanese architecture of Kampung Naga is represented with the rectangular plan and Julang Ngapak roof on the buildings. Local materials, such as woods, bamboos, and stones, and reeds are also used on the buildings. Wooden materials dominate the roof and column structure of the buildings. The site was planned using ‘Luhur-handap’ concept of Kampung Naga people, which puts the buildings in the hierarchy in accordance to its level of privacy.

Kenyamanan Pengguna Untuk meningkatkan tingkat privasi, setiap bangunan diberi jarak sesuai kontur lahan dan diberi teritori yang jelas. Sistem cluster dibuat pada tapak untuk memisahkan antara area publik dan privat. Selain itu, bangunan menggunakan anyaman bambu sebagai dinding guna terciptanya sirkulasi pada bangunan dan juga mengoptimalkan bukaan pada sisi selatan dan utara bangunan untuk pencahayaan alami.

Guests’ convenience To increase the privacy of each building, every building is separated with a certain distance, to comply with ground contour and is marked with clear territory. Clustering system is made to separate private areas from public areas. The building walls use woven bamboos to ensure the good circulation of air and to maximize openings at the southern and northern side of the building for natural lighting.


Epilogue Oktober 2019

Tapak Berada pada kawasan yang rawan bencana gempa bumi, maka bangunan beradaptasi dengan menggunakan sistem rumah panggung. Untuk menjaga kondisi lingkungan resor tetap baik, resor dirancang untuk meminimalkan terjadinya cut and fill lahan dengan meletakkan massa bangunan sesuai dengan kontur eksisting dan juga mendaur ulang air. Massa bangunan diletakkan secara berselang-seling dan disesuaikan dengan konturnya guna untuk memaksimalkan potensi view.

Kristina Andre Agung

Site The buildings adapt stilt house system since it is situated in an earthquake-prone area. To preserve the environmental condition surrounding the resort, the water in the resort is recycled and land cut and fill technique is minimalized by putting building mass according to existing land contour. The mass of the buildings are also situated in zig-zag configuration to maximize the potential of view.

33


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Experiencing True Consumerism: MM Lifestyle Center Bekasi

Lifestyle Center in Bekasi

oleh | by Devi Kava 15215055 pembimbing | supervisor Dr. Eng. Hanson Endra Kusuma, ST., M. Eng. tipologi | typology komersial | commercial luas tapak | site area 1,8 ha luas lantai dasar | ground floor area 9000 sqm luas perancangan | design area 36000 sqm

TRUE CONSUMERISM Manusia tidak lagi berperan sebagai makhluk sosial dalam melakukan kegiatan konsumsi, melainkan sebagai makhluk ekonomi. Barter bertransformasi menjadi jual-beli yang lebih cepat dan mudah. Berkat revolusi industri, barang menjadi melimpah sehingga daya beli masyarakat meningkat drastis. Konsumsi tidak lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga untuk memenuhi gaya hidup. True consumerism merupakan perspektif untuk mengembalikan peran manusia sebagai makhluk sosial dalam kegiatan konsumsi.

TRUE CONSUMERISM Humans no longer take a role as homo socious in consumption activity, except for as homo eoconomicus. Barter is transformed into faster and easier method. Due to industrial revolution, there is abundance of goods followed by dramatic purchasing power increasement. Consumption no longer work as a need fulfillment, but also a lifestyle. True consumerism is a perspective to restore the role of humans as homo socious in consumption activity.

HIGH SALEABLE AREA

LEISURE FACILITIES

PROGRAMMING

RETAIL FNB

34

RETAIL NON-FNB


Epilogue Oktober 2019

Devi Kava Nilla

+ MAIN ENTRANCE

+ MAIN CORRIDOR

=

MAIN ATRIUM

MAIN SEQUENCE

ATRIUM HIREARCHY

LIFESTYLE CENTER AS COMMERCIAL TYPOLOGY The main idea of commercial typology is to gain maximum profit. To gain the profit, Lifestyle center oriented towards retail quality instead of quantity. The profit comes from the high-rated retail caused by greater number of buyers per retail. Buyers are drawn using a linear circulation system with atrium and leisure facilities as the anchor.

VISUAL EXPOSURE

LIFESTYLE CENTER SEBAGAI TIPOLOGI KOMERSIAL Gagasan utama dari tipologi komersial adalah meraup keuntungan sebesarbesarnya. Untuk meraih keuntungan, Lifestyle center tidak berorientasi terhadap kuantitas retail, melainkan kualitas retail. Keuntungan berasal dari mahalnya harga sewa retail yang berasal dari klaim jumlah pembeli masing-masing retail yang lebih banyak. Pembeli ditarik dengan menggunakan sistem sirkulasi linear dengan atrium dan leisure facilities sebagai anchor.

35


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

190 m 790 m

250 m 230 m

COMPETITIVE SURROUNDING AS SITE CONTEXT There are four malls within 600 m radius from the site: Bekasi Cyber Park, Giant Mega Bekasi, living plaza, and Metropolitan Mall II Bekasi. Adjacent competitors open up greater opportunities to get a wider market. This is the site advantage, a relatively large market because they both aim at commuters from-and-to Jakarta via Bekasi Pekayon Highway. Although it aims for the same market, the design carries contrast character to the others.

RETAIL NON-FNB

RETAIL FNB

LEISURE FACILITIES

LINGKUNGAN YANG KOMPETITIF SEBAGAI KONTEKS TAPAK Terdapat empat mal dalam radius 600 m dari tapak: Bekasi Cyber Park, Giant Mega Bekasi, living plaza, dan Metropolitan Mall II Bekasi. Kompetitor yang saling berdekatan membuka peluang yang lebih besar untuk mendapat pasar yang lebih luas. Hal ini adalah keuntungan terhadap tapak, yaitu pasar yang relatif besar karena sama-sama membidik komuter dari dan menuju Jakarta melalui Jalan Tol Pekayon Bekasi. Walaupun membidik pasar yang sama, rancangan mengusung karakter yang kontras dengan mal lain.

36


Epilogue Oktober 2019

VISUAL ACCESS

Devi Kava Nilla

EFFORTLESS ATTENTION Contrast character of MM Lifestyle Center with surrounding malls is evocation of effortless attention: an effort to attract buyers in a subtle way. Therefore, visitors do not pay attention to advertising through an enforcement. This effort is manifested through introvert designs: directed visual access, semi-organic geometry, translucent facade materials to expose visitor circulation, vertically-oriented secondary skin, atrium hierarchy as motion directors, linear circulation with relatively high complexity, and elaboration of levels.

PRINCIPAL SECTION

FACADE DETAIL

EFFORTLESS ATTENTION Karakter MM Lifestyle Center yang kontras dengan dengan mal sekitarnya adalah penarikan effortless attention (usaha menarik pembeli dengan cara yang subtil). Oleh karena itu, pengunjung tidak menaruh perhatian terhadap iklan melalui paksaan. Usaha ini mewujud melalui rancangan yang introvert: directed visual access, geometri semi-organik, material fasad translusen untuk mengekspos sirkulasi pengunjung, secondary skin yang berorientasi vertikal, hirearki atrium untuk motion director, sirkulasi linear dengan complexity yang relatif tinggi, dan elaborasi perbedaan level.

37


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Sofitel Tanjung Kelayang Resort & Spa:

Sanggraloka Eksklusif di KEK Tanjung Kelayang, Belitung Exclusive Resort in Tanjung Kelayang Tourism, Belitung

oleh | by Grace Nathania 15215068 pembimbing | supervisor Ir. Budi Faisal, MAUD, MLA, Ph.D. tipologi | typology komersial | commercial luas | area 13.17 ha

38

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keindahan alam, budaya, dan sejarah. Menurut Bank Indonesia, pariwisata merupakan sektor paling efektif untuk menaikkan devisa negara. Pada tahun 2018, Indonesia menempati peringkat ke-9 pertumbuhan pariwisata tertinggi di dunia. Guna memperkenalkan keindahan alam selain Bali, Kemenpar membuat program 10 Bali Baru. 10 kawasan ini akan dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, salah satunya adalah daerah Tanjung Kelayang, Pulau Belitung. Dibentuknya KEK Pariwisata tentu akan menaikkan angka pengunjung dan kebutuhan akan penginapan.

Indonesia is a country rich in natural beauty, culture, and history. According to Bank Indonesia, the tourism sector is the most effective way to raise the country’s foreign exchange. In 2018, Indonesian ranked 9th highest touristy growth in the world. Indonesia Ministry of Tourism creates the 10 New Bali program to introduce Indonesia’s beautiful nature besides Bali. The 10 areas will be Special Economic Zone (SEZ) for tourism, including the Tanjung Kelayang area on Belitung Island. The establishment of tourism SEZ will certainly increase the number of visitors and the needs of lodging.


Epilogue Oktober 2019

Pada tahun 2017, terjadi kesepakatan antara pemerintah dengan 3 investor asing untuk mengembangkan KEK Tanjung Kelayang, salah satunya Sofitel yang akan mendirikan penginapan. Pengelola KEK berencana untuk mengembangkan wisata dengan membangun exclusive resort (luxury nature resort) yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan melalui konsep environmentally and socially responsible tourism development. Selain itu, Sofitel juga berada di bawah manajemen hotel AccorHotels yang berkomitmen untuk konservasi sumber daya lingkungan, dengan mereduksi dampak negatif bagi lingkungan, baik dari tapak, produk, dan servis.

Grace Eka Kurniawan Nathania

In 2017, the Indonesian government agreed with 3 foreign investors to develop Tanjung Kelayang SEZ; one of them was Sofitel which will build a lodging. The management planned to develop tourism by building an exclusive resort (luxury nature resort) that is environmentally friendly and sustainable, through environmentally and socially responsible tourism development concepts. Besides, Sofitel is under AccorHotels hotel management that committed to the conservation of environmental resources, by reducing negative impacts on the environment, both from site, products, and services.

39


Komersial Commercial

40

Kinara Abhipraya

Privasi & Sirkulasi

Privacy & Circulation

Terdapat isu privasi berupa visual dan kebisingan yang disebabkan oleh pantai umum yang berada di depan area sanggraloka. Terdapat sirkulasi ke front of the house yang harus dipisahkan dari back of the house. Selain itu, front of the house terbagi lagi menjadi area untuk tamu menginap dan tamu tidak menginap. Sirkulasi harus dirancang agar tamu tidak menginap tidak masuk ke area penginapan.

There are visual and noise privacy issues caused by a public beach located in front of the resort area. The front-of-the-house circulation must be separated from the back-of-the-house. The front-of-the-house consists of areas used by staying guests and nonstaying guests. Circulation should also be designed so that the non-staying guests won’t enter the lodging area.


Epilogue Oktober 2019

Grace Eka Kurniawan Nathania

Efisiensi Energi

Energy Efficiency

Isu efisiensi energi muncul karena kesadaran pengelola KEK Tanjung Kelayang dan AccorHotels akan tingginya pemakaian energi pada penginapan. Dengan efisiensi energi, Sofitel Tanjung Kelayang Resort & Spa dapat menjadi penginapan yang lebih ramah lingkungan.

Energy efficiency issues arise as an awareness of Tanjung Kelayang SEZ management and AccorHotels of lodging’s high energy consumption. Sofitel Tanjung Kelayang Resort & Spa can be more environmentally friendly accommodation with energy efficiency.

41


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

PERSPEKTIF PALING BAGUS

Experiencing Batukaras: Resor di Pesisir Pantai di Batukaras, Pangandaran

Beach Resort at Batukaras, Pangandaran

oleh | by Vinsensius Ardinan Bramanto 15215074 pembimbing |supervisor Dr, -Ing. Andry Widyowijadnoko, ST., MT. tipologi | typology komersial | commercial luas | area 4,8 ha

PENDAHULUAN

IINTRODUCTION

Desa Batukaras memiliki potensi pariwisata yang tinggi berupa atraksi alam yang menarik. Potensi ini turut pula dikembangkan pemerintah pengembangan akses menuju destinasi pariwisata ini. Untuk mendukung program tersebut, resor ini yang digagas untuk mewadahi kebutuhan akomodasi wisatawan yang akan berkunjung ke Pantai Batukaras, terutama wisatawan mancanegara. Adapun Isu yang digagas dalam perancangan adalah isu karakter lingkungan, isu komunitas, dan isu atraksi.

Batukaras Village has a high tourism potential in the form of attractive natural attractions. This potential has also been developed by the government in developing access to this tourism destination. To support the program, this resort was initiated to accommodate the needs of tourists who will to visit Batukaras Beach, especially foreign tourists. The issues initiated in the design are environmental character issues, community issues, and attraction issues.

DIAGRAM KONSEP

42

DIAGRAM KONSEP


Epilogue Oktober 2019

Vinsensius Ardinan Bramanto

PERSPEKTIF/ DIAGRAM

Dalam perancangannya, bangunan ini mengambil konsep “Experiencing Batukaras”. Pendekatan konteks sangat ditekankan pada konsep ini, karena sejatinya karakteristik daerah Batukaras menjadi daya tarik utama wisatawan mancanegara ke Batukaras. Nuansa yang alami serta karakter sosial masyarakat yang akrab khas desa nelayan menjadi dasar dari perancangan. Melalui perancangan resor dengan karakter Batukaras yang kuat, wisatawan dapat merasakan liburan dengan pengalaman penuh dari konteks lokasi serta akomodasi yang hanya dapat dirasakan di Batukaras.

DIAGRAM KONSEP

In its design, this building takes the concept of “Experiencing Batukaras”. The context approach is very emphasized on this concept, because the true characteristics of the Batukaras area are the main attraction of foreign tourists to Batukaras. The natural nuance and familiar social character of a typical fishing village are the basis of the design. Through the design of the resort with a strong Batukaras character, tourists can experience a vacation with full experience from the context of the location and accommodation that can only be felt in Batukaras.

DIAGRAM KONSEP

43


Komersial Commercial

44

Kinara Abhipraya

AKRAB

FRIENDLY

Suasana akrab diwujudkan dalam penerapan “Interaksi ala Indonesia”. Desain memanfaatkan area sirkulasi yang mewadahi fungsi interaksi seperti yang sering ditemui di perkampungan Indonesia. Resor dirancang dalam cluster berorientasi pada ruang komunal untuk interaksi antar penghuni. Konsep akrab ini juga diwujudkan dengan interaksi dengan warga lokal dengan penyediaan replikasi pasar ikan pada restoran serta bar yang terhubung langsung dengan luar tapak.

A friendly atmosphere is manifested in the application of “Indonesianstyle interaction”. The design utilizes a circulation area which accommodates the interaction functions that are often found in Indonesian villages. Resort units are designed in oriented to communal space for interaction between residents. This friendly concept is also realized by interacting with local residents by providing replication of the fish market in restaurants and bars that are directly connected to the outside site.

DESA NELAYAN

VILLAGE FISHERMEN

Mengadaptasi bentuk kapal nelayan, atap dirancang menyerupai bentuk kapal nelayan. Atap beberapa bangunan dimodifikasi dengan adisi bentuk perisai untuk menjaga kesemimbangan komposisi bangunan dalam tapak, agar selaras dengan hierarki bangunannya.

Adapting the shape of a fishing boat, the roof is designed to resemble the shape of a fishing boat. Roofs of some buildings are modified with the addition of a shield-shaped to keep the balance of the building composition in the footprint, so that it is in harmony with the building’s hierarchy.


Epilogue Oktober 2019

Vinsensius Ardinan Bramanto

DEKAT DENGAN ALAM

CLOSE TO NATURE

Bangunan digagas dengan konsep “elevated space”. Desain ini memungkinkan pengunjung merasakan kedekatan dengan alam dengan pengalaman yang unik. Seperti rumah pohon, pengalaman kedekatan dengan alam bisa dialami ranting pohon hingga sejuknya di bawah pohon. Untuk mengalami interaksi dengan alam yang maksimal, bangunan menggunakan konsep open layout. Dengan layout yang terbuka, udara dapat mengalir dengan bebas dan memberikan hawa yang semilir khas pesisir.

The building was initiated with the concept of “elevated space”. This design allows visitors to feel a closeness to nature with a unique experience. Like a tree house, the experience of closeness to nature can be experienced by tree branches to cool under the tree. To maximized building’s experience interaction with nature, buildings use the concept of open layout. With an open layout, the air can flow freely and provide a typical coastal breeze.

45


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Collaborative Working Environment:

Coworking Colearning Space di Kota Bandung Coworking Colearning Space in Bandung

oleh | by Nabila Putri Fauzia 15215091 pembimbing |supervisor Dr.Eng. Hanson Endra Kusuma, S.T., M.Eng. tipologi | typology komersial | commercial luas | area 13.000 m2

46

Saat ini kebutuhan akan ruang untuk berkegiatan coworking sudah terlihat nyata, terutama di kalangan anak muda. Maka dari itu, coworking space menjadi peluang bisnis yang menarik bagi investor. Coworking space ini juga akan menjadi kontribusi yang baik bagi pelaku industri kreatif di Kota Bandung yang jumlahnya kian bertambah. Kriteria perancangan proyek ini adalah adanya ambience yang mendukung penggunanya agar fokus bekerja, mendukung terjadinya interaksi sosial antara penggunanya, dan memiliki ruang yang fleksibel dan dapat digunakan untuk berbagai macam kegiatan.

Nowadays, the need for a place for coworking has been showing, and it is mostly shown among the youth. This results in coworking spaces being an interesting business opportunity for investors. Coworking spaces will also be a great contribution for creative industry workers in Bandung, which continues to increase in size. The design criteria of this project is having an ambience that supports users to focus on working, initiates social interactions between users, and flexible spaces that can be used for different kinds of activities.


Epilogue Oktober 2019

Tujuan perancangan proyek ini adalah merancang coworking space sebagai ruang bekerja kreatif. Konsep utama yang diangkat pada proyek ini adalah “collaborative working environment�, melihat salah satu isu utama dalam perancangan coworking space adalah kebutuhan untuk menimbulkan interaksi sosial. Untuk memaksimalkan KDB yang tinggi (70%), sebagian besar lahan digunakan sebagai bangunan, dengan diberi inner court di tengah bangunan agar bangunan berorientasi ke dalam.

Nabila Putri Fauzia

The design purpose of this project is to create a coworking space as a creative working space. The main concept used in this project is “collaborative working environment, since one of the main criteria of this project is the need to initiate social interaction. To maximize the high BCR (70%), most of the land is used as a building, with an added inner court in the middle of the building, so that the building is inward oriented.

47


Komersial Commercial

Kinara Abhipraya

Lantai 1 bangunan menggunakan open layout sehingga koridor dan area kerja menyatu. Pada lantai 2 dan 3, terdapat koridor terpisah, karena ruangan di lantai 2 dan 3 membutuhkan privasi yang lebih. Koridor di lantai 2 hanya menggunakan railing untuk memisahkan antara koridor dengan ruang void, sedangkan koridor di lantai 3 dipisahkan dengan menggunakan dinding kaca. Koridor memiliki lebar 3m agar dapat berfungsi sebagai ruang interaksi sosial. Koridor-koridor ini menjadi satu-satunya sirkulasi utama bangunan, agar mendukung terjadinya passive contact antar pengguna.

48

The 1st floor of this building uses an open layout so that the corridors and the working areas merges. On the 2nd and 3rd floor, there is a sepperated corridor, because the rooms on those floors needs more privacy. The corridor on the 2nd floor only uses railings to divide it with the void area, while the corridor on the 3rd floor is separated using a wall with windows. The corridors are 3m wide so they can be used as social interaction spaces. These corridors are the only main circulation routes of this building, to help initiate passive contact between users.


Epilogue Oktober 2019

Nabila Putri Fauzia

Area coworking memiliki fitur utama yaitu kursi, meja, dan power outlet. Area coworking memiliki berbagai pilihan ruang, baik yang bersifat semi-private (lebih terbuka) dan yang bersifat private (tertutup). Interior ruang memiliki unsur-unsur alami seperti tanaman hias dan material kayu, batu, dan beton yang diekpos. Area coworking memiliki akses visual yang baik ke ruang luar bangunan.

The coworking areas has main features such as seatings, tables, and power outlets. The coworking areas has several space choices, some are semi-private (more open) while others are private (more closed). The interior design has natural features such as decorative plants and exposed materials such as wood, stones, and concrete. The coworking areas has excellent visual acces to the outside.

Fasad bangunan berupa rangka yang disusun menggunakan besi hollow yang ditutupi oleh tanaman rambat.

The facade of this buiding is made of hollow steels, covered by vines.

Rooftop

3rd floor

2nd floor

1st floor

49


Komersial Commercial

50

Kinara Abhipraya


Epilogue Oktober 2019

residensial residential

Residensial residential

52 Multigenerational Living Afrilla Melati Rahma

56 Student Residence as a Livable Social-Hub Audita Ilhami Rifdah

60 Urban Living James William Rinaldi

64 Comfortable Living in Density Nurul Azizah Hatami

68 Socializing Human Activity Through Biophilic Design Almira Kridarahmanda

72 From Landed to Vertical Davin Gery Lineker

51


Residensial Residential

Kinara Abhipraya

Multigenerational Living:

Apartemen Bertingkat Rendah Di Kota Bandung Low-rise Apartment in Bandung

oleh | by Afrilla Melati Rahma 15215018 pembimbing |supervisor Dr.Eng. Hanson Endra Kusuma, S.T., M.Eng. tipologi | typology Residensial | Residential luas | area 8.700 m� lokasi | location Jalan Aksan, Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Tegalega, Bandung, Provinsi Jawa Barat

52

Kota Bandung menjadi tujuan tempat yang ideal bagi masyarakat pada seluruh kelompok generasi untuk tinggal, belajar, merantau, atau menjadi hunian di masa tua. Komposisi demografi yang terdiri dari berbagai kelompok generasi kelahiran memiliki kebutuhan terhadap tempat tinggalnya masingmasing. Hunian ini dikhususkan berupa apartemen bertingkat rendah untuk menyesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing kelompok generasi. Beberapa isu perancangan yang diangkat dalam realisasi konsep dasar adalah isu interaksi sosial, privasi, teritori, dan keselamatan terhadap kecelakaan penghuni. Konsep “Multigenerational Living” diambil dengan tujuan membuat hunian yang

Bandung has become an ideal destination for people of all generations to live, study, migrate or live in old age. Demographic composition which consists of various groups of birth generation requires their respective places of residence. This residence is a low-rise apartment to suit the character and needs of each generation group. Some of the design issues raised in the realization of the basic concepts are the issues of social interaction, privacy, territory, and safety of occupant accidents. The concept of “Multigenerational Living” was taken to make a dwelling


Epilogue Oktober 2019

dapat ditinggali seluruh generasi serta hunian masa tua bagi lansia, dengan mendorong terjadinya interaksiinteraksi sosial untuk meningkatkan kualitas hidup seluruh penghuni. Transformasi massa berlandaskan pada konsep “sociopetal space� untuk membuat ruang positif yang kemudian diperuntukkan sebagai ruang terbuka. Massa dibuat menerus tanpa dipecah, tetapi memberikan kesan adanya hirarki tiga blok yang dibentuk dari tekukan massa dan dipertegas melalui penempatan area drop-off dan ruang terbuka. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan interaksi sosial penghuni apartemen dan potensi menjadi bangunan non air conditioner.

Afrilla Melati Rahma

can be inhabited throughout the generations as a dwelling for the elderly, which supports social interactions to improve the quality of life for all residents. Mass transformation is based on the concept of “sociopetal space� to create positive space which is then designated as open space. The mass is made continuously without being broken down, but it gives the hierarchy of three blocks made from bending the mass and emphasized through the placement of drop-off areas and open spaces. This can increase the social participation of apartment residents and the potential to become a non-air conditioned buildings

+

53


Residensial Residential

Kinara Abhipraya

Konsep “Multigenerational Living” diwujudkan dengan pemenuhan fasilitas-fasilitas publik mulai dari muda hingga yang tua. Fasilitas-fasilitas tersebut terletak pada ruang-ruang positif di lantai dasar. Ruang-ruang terbuka tersebut terbagi menjadi 5 hirarki berdasarkan luasan dan kemampuan ruang terbuka tersebut untuk menjadi ruang interaksi sosial. Fasilitas untuk lansia antara lain adult day care dan gardening zone. Fasilitas yang ditujukan untuk anak-anak adalah children playground dan children day care. Selain itu, perpustakaan, ruang serba guna, jogging track, plaza, plaza komersial, dan sky lounge dapat digunakan dari semua kalangan.

54

The concept of “Multigenerational Living” is realized by fulfilling public facilities for all generations, ranging from young to old residents. These facilities are located in positive spaces on the ground floor. The open spaces are divided into 5 hierarchies based on the area and the ability of these open spaces to become spaces for social interaction. Facilities for the elderly include adult day care and gardening zones. Facilities intended for children are children’s playground and children day care. In addition, the library, function room, jogging track, plaza, commercial plaza and sky lounge can be used for all generations.


Epilogue Oktober 2019

Penentuan penempatan unit hunian berdasarkan analisis pengguna multigenerasi dan diambillah konsep konfigurasi 4-in-1, yaitu 1 keluarga besar dapat terdiri dari 4 unit hunian. 4 unit tersebut berdekatan satu sama lain dalam satu koridor untuk meningkatkan kontak pasif. Selain itu, penggunaan single-loaded corridor sepanjang bangunan akan memberikan kemudahan bagi penghuni dari blok yang satu ke blok yang lainnya untuk bertemu. Untuk sirkulasi vertikal utama menggunakan tiga lift yang berada dekat dengan ruang terbuka dan area drop-off untuk meningkatkan pertemuan informal antar penghuni.

Afrilla Melati Rahma

Placement of residential unit variations is based on multigenerational user analysis to generate the 4-in-1 configuration concept, which means 1 large family can consist of 4 residential units. The 4 units are interrelated with each other in one corridor to encourage passive contact. In addition, the use of a single-loaded corridor along the building will make it easy for residents from one block to another to meet. The main vertical circulation uses lifts located in three main locations close to open spaces and drop-off areas intended to increase informal meetings among residents.

55


Komersial Commercial Residensial Residential

Kinara Abhipraya

Student Residence as a Livable Social-Hub: Asrama Mahasiswa Bumi Ganesha ITB Cisitu, Bandung

Bumi Ganesha ITB Student Dormitory in Bandung

oleh | by Audita Ilhami Rifdah 15215035 pembimbing |supervisor Ir.Dr. Agustinus Adib Abadi, M.Sc. tipologi | typology residensial | residential luas | area 9.600 m2

56

Asrama Bumi Ganesha sebagai salah satu fasilitas milik Institut Teknologi Bandung dibangun untuk menjawab kebutuhan hunian terkait kualitas lingkungan belajar yang baik bagi mahasiswa S1 reguler ITB yang datang dari luar Kota Bandung. Permasalahan yang diangkat dalam kasus ini terkait kebutuhan ruang yang dapat meningkatkan interaksi sosial serta menjaga privasi dari penghuni asrama secara arsitektural. Berdasarkan permasalahan yang ada, isu dalam proyek ini adalah privasi, interaksi sosial, dan kelayakan huni. Untuk menjawab ketiga isu tersebut, diturunkan konsep Student Residence as a Livable Social-Hub.

Bumi Ganesha Dormitory as one of the facilities owned by the Bandung Institute of Technology was built to answer residential needs related to the quality of a good learning environment for ITB regular S1 students who come from outside the City of Bandung. The problem raised in this case is related to the need for space that can increase social interaction and maintain the privacy of the residents architecturally. Based on the existing problems, the issues in this project are privacy, social interaction, and livability. To answer these three issues, the concept of Student Residence as a Livable SocialHub was revealed.


Epilogue Oktober 2019

TAMAN SEBAGAI RUANG KOMUNAL Konsep taman sebagai ruang komunal yaitu untuk menjawab isu interaksi sosial antara penghuni dengan masyarakat serta isu tapak berupa keberadaan sungai di tengah lahan. Keberadaan sungai tersebut membagi bangunan menjadi dua yang berorientasi Kampus ITB dengan bentuk bangunan yang terbuka ke arah lokasi Kampus ITB, sehingga memunculkan taman yang dilingkupi oleh kedua bangunan yang dimanfaatkan sebagai ruang komunal.

AuditaEka Ilhami Kurniawan Rifdah

INNERCOURT SPACE

AS

A

COMMUNAL

The concept of innercourt as a communal space is to address the issue of social interaction between residents and the community and the issue of the presence of a river in the middle of the land. The existence of the river divides the building into two oriented to ITB Campus. The shape of the building is open towards the location of the ITB Campus, so the innercourt is surrounded by two buildings that are used as communal spaces.

57


Komersial Commercial Residensial Residential

58

Kinara Abhipraya

RUANG BERSAMA YANG FLEKSIBEL

FLEXIBLE COMMON SPACE

Ruang bersama yang fleksibel menjawab permasalahan terkait interaksi sosial yang diterapkan pada ruang-ruang bersama, yaitu ruang belajar bersama, ruang makan bersama, dan ruang komunitas. Ruang-ruang bersama dibuat fleksibel yang berupa open plan berfurnitur. Fleksibilitas tersebut diciptakan melalui ruangan yang tidak bersekat dengan furnitur yang dapat dipindahkan sesuai dengan layout yang diinginkan untuk meningkatkan interaksi sosial.

Flexible common space address problems related to social interaction that are applied to shared spaces, namely shared learning spaces, shared dining rooms, and community spaces. Shared spaces are made flexible in the form of open plan furnishings. This flexibility is created through spaces that are not insulated with furniture that can be moved according to the desired layout to increase social interaction.


Epilogue Oktober 2019

AuditaEka Ilhami Kurniawan Rifdah

TIGA MENJADI SATU

THREE TO ONE

Konsep ‘Tiga menjadi satu’ merupakan pengelompokkan tiga kamar dengan satu ruang bersama menjadi satu cluster hunian yang menjawab isu interaksi sosial dan privasi. Pengelompokan tiga kamar menjadi satu cluster pada sub konsep ini agar penghuni memiliki rasa tanggung jawab terhadap perawatan ruangan, menciptakan lingkungan yang tidak individualis, memiliki suasana yang lebih homie, serta privasi penghuni tetap terjaga.

The concept of ‘Three to One’ is a grouping of three rooms with one common room into one cluster that addresses the issue of social interaction and privacy. The grouping of three rooms into one cluster in this sub-concept is made so the residents have a sense of responsibility towards the room care, creating an environment that is not individualistic, has a more ‘homie’ atmosphere, and the privacy of residents is maintained.

59


Residensial Residential

Kinara Abhipraya

Urban Living:

Apartemen untuk Kalangan Menengah di Sumedang, Jatinangor

Apartment Building for Middle Income Resident in Sumedang, Jatinangor

oleh | by James William Rinaldi 15215048 pembimbing |supervisor Mohammad Jehansyah Siregar, ST, MT, Ph.D. tipologi | typology residensial | residential luas | area 13.000 m2

60

Jatinangor adalah sebuah kawasan yang sedang berkembang sebagai kota pelajar serta dekat dengan Kota Bandung. Dikarenakan lokasi yang srategis Jatinangor mengalami pertumbuhan ekonomi dan enduduk yang tinggi. Selain itu terdapat 3 kampus besar di Jatinangor yaitu IPDN , ITB , dan UNPAD. Jatinangor sebagai kawasan perkotaan memiliki peluang sebagai tempat tinggal secara vertikal atau apartemen. Berangkat dari kebutuhan dan peluang tersebut direncanakan proyek tugas akhir yaitu merancang sebuah apartemen kalangan menengah bertingkat.

Jatinagor is a city located in Sumedang Regency in the northeast side of Bandung. Because of its strategic location, Jatinangor is undergoing a very fast economic growth which in turn gives an increase in the population growth. Aside from that Jatinangor is appointed as an education focused city by the local goverment of Sumedang. Currently in Jatinagor resides a number of universities. Because of the quick population and infrastructure growth, Jatinangor seems to have a potential for a high rise residential building project. From this oportunity and demand this the author will design an apartement building project for middle income residence.


Epilogue Oktober 2019

Konsep utama yang ingin diwujudkan dalam desain apartemen ini adalah ruang terbuka. Apartemen pada umumnya adalah perumahan vertikal yang padat, sehingga para penghuni tidak memiliki akses langsung ke ruang terbuka. Konsep desain apartemen pada proyek ini adalah dengan menyediakan ruang-ruang terbuka yang dapat dengan mudah diakses para penghuni. Fungsi dari ruang tersebut adalah sebagai fasilitas umum yang dapat digunakan sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi para penghuni apartemen.

James William Rinaldi

Apartement building often have a preception of being confined and cramped, because of that the design concept of this building will be focused on open space. Most of the time, apartement recidence does not have a direct access to garden or other open public spaces, because of that this apartement will have designs that can give freedom and ease of access to near open spaces. These open spaces can be used for social interactions for residence as well as a place to gather and relax.

61


Residensial Residential

62

Kinara Abhipraya

Pada desain sebuah apartemen berikut merupakan faktor-faktor utama yang penting antara lain, Unit kamar, Sirkulasi, Fasilitas umum, dan Ruang terbuka hijau. Unit kamar pada apartemen memiliki satuan ukuran yang tetap agar dapat disusun dengan bebas tanpa mengganggu struktur. Tipe kamar dibagi menjadi empat antara lain, Studio (30m2), 1 kamar tidur (45m2), 2 kamar tidur (60m2), dan penthouse (90m2). Untuk tiga tipe kamar yang pertama diletakan di sekeliling lantai tipikal tower bangunan. Sedangkan tipe penthouse diletakan di atas bangunan.

In designing an apartment building there are a few essential factors that requires careful consideration. Those factors are residential units, sirculations, public facilities, and open spaces. The residential unit in this apartement is divided into 4 categories wich are studio(30m2), 1BR(45m2), 2BR(60m2), and penthouse(90m2) located at the top of the apartement. as for the first three room types are located along floors in the residential towers. Room types were divided into sizes with the same multipliers called room bay. This ensures that the structure could follow different room.

Jalur sirkulasi utama pada apartemen adalah akses penghuni dari kamar ke gerbang masuk ataupun sebaliknya. Jalur ini melewati tempat parkir, lobby utama, lobby lift, dan koridor lantai tipikal. Lobby lift harus memiliki perhatian khusus keamanan, karena itu diperlukan pos satpam yang dapat mengawasi orang yang keluar masuk lift.

The primary circulation in an apartement is the route from residential area to the main gate. This route consists of a few facilities such as elevator lobby, floor corridors, main lobby, and parking area. Along these routes lie the commercial area, ensuring that people goes through the area providing convinience for the resident to access them.


Epilogue Oktober 2019

Tema yang ingin diangkat dalam proyek ini adalah ruang terbuka, dimana akan dibuat sebuah desain yang memberikan penghuni ruang-ruang terbuka hijau. Ruang terbuka ini berfungsi sebagai tempat yang menunjang sosialisasi para penghuni serta menjadi nilai tambah apartemen. Dengan tema ini dibutuhkan sebuah desain yang dapat meletakan ruang-ruang terbuka yang nyaman serta mudah diakses oleh penghuni.

James William Rinaldi

the main concept of this apartment is open spaces. Residential areas in apartments often lack open spaces, wich is only provided at the ground floor of the apartment building. With this apartment design we aim to provide each floor of the residential area with their personal balcony garden. This garden will provide the resident with an easily accesable public space that can be used as a place for gathering and socialization for residents.

63


Residensial Residential

Kinara Abhipraya

Comfortable Living in Density:

Apartemen Menengah di Kawasan Berorientasi Transit Manggarai, Jakarta Selatan Middle-up Apartment in Manggarai Transit Oriented Area

oleh | by Nurul Azizah Hatami 15215077 pembimbing |supervisor Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T tipologi | typology residensial | residential luas | area 1.078 ha

64

Proyek tugas akhir ini merupakan rancangan apartemen kelas menengah yang terletak di Jl. Manggarai Utara II, Manggarai, Jakarta Selatan dan berjarak 350m dari Stasiun Manggarai. Proyek ini bertujuan untuk mendukung rencana pengembangan kawasan TOD di Manggarai. Target pengguna apartemen yakni golongan pekerja muda dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penghuninya. Hasil desain berupa apartemen dengan dua menara identik setinggi 18 lantai dan tiga lantai podium dibawahnya. Tipe unit yang ditawarkan yaitu tipe studio, tipe 2 kamar, tipe 3 kamar, dan penthouse.

This project is a middle class apartment located on Jl. Manggarai Utara II, Manggarai, South Jakarta and is 350 m from Manggarai Station. This project aims to support the plan to develop a transit-oriented area in Manggarai. Its land area is 10,787 m2. The design of this apartment has a target audience of young workers and aims to improve the quality of life of its residents. The resulting design is in the form of apartments with two identical towers as high as 18 floors and three floors of podiums below. The types of units offered are studio type, type 2 bedroom, type 3 bedroom, and penthouse.


Epilogue Oktober 2019

Fokus utama desain adalah kenyamanan yang sesuai dengan karakteristik calon pengguna, yang diwujudkan dengan berbagai fasilitas yang disediakan dan penerapan strategi passive-cooling. Fasilitas dihadirkan secara integratif berupa fasilitas komersial dan komunal bagi interaksi sosial pengguna. Penerapan passive-cooling ini terletak pada massa bangunan yang membentuk void besar sebagai inner court, elemen air pada lantai dasar, koridor dengan ventilasi silang, dan fasad yang menjadi pembayangan pada bangunan, diharapkan menciptakan kondisi termal yang nyaman bagi pengguna.

Nurul Azizah Hatami

The design main focus is its user’s convenience in accordance with the characteristics of prospective user. This is realized by various facilities provided and implementation of passive-cooling strategies to create convinient thermal conditions. Various facilities are provided integratively, including commercial and communal facilities for users social interactions. Passive-cooling strategies are applied by creating building masses that form large voids as inner court, water elements on the ground floor, cross ventilation corridors, and facade that act as shading that create overall comfortable condition for the user.

65


Residensial Residential

Kinara Abhipraya

Konsep gubahan massa bangunan, terutama menara untuk fungsi hunian berorientasi utara-selatan untuk menghindari panas dari matahari barat dan timur. Namun, karena bentuk dari tapak yang ireguler, bentuk menara beradaptasi dengan sedikit menekuk, dan membentuk ruang ditengah kedua menara sebagai inner court. Selain itu, menara di substraksi di tiga lantai paling atas untuk membentuk massa seperti undakan-undakan agar tercipta streetscape yang selaras dengan kawasan sekitar. Area yang disubstraksi tersebut dimanfaatkan sebagai rooftop garden.

66

The building mass concept, especially the tower for residential, is created to have north-south orientation to avoid heat from the west and east sun. However, due to the irregular shape of the site, the shape of the tower adapts by slightly bending, and forms a space in the middle of the two towers. This space is being utilized as an inner court. In addition, the tower is substractioned on the top three floors to form a mass looking like steps to create streetscape that is harmonious with the surrounding area. The substracted areas are being utilizedas a rooftop garden.


Epilogue Oktober 2019

Fasad yang digunakan pada hunian merupakan overhang yang terbuat dari beton dengan panjang yang bervariasi. Pemilihan material beton bertujuan untuk memudahkan perawatan. Sedangkan fasad yang digunakan pada podium berupa fasad transparan material kaca, yang diberikan shading panel-panel balok vertikal. Material yang digunakan adalah material GRC yang dicat seperti kayu. Pada lantai tiga podium, ditanamkan tanaman Lee Kuan Yeuw yang menjuntai sampai keluar sebagai fasad.

Nurul Azizah Hatami

The facade used in residential tower is an overhang made of concrete with varying lengths. The selection of concrete material aims to facilitate maintenance. While the facade used on the podium is a transparent glass material facade, which is given shading vertical beam panels. The material used is GRC material which is painted like wood. On the third floor of the podium, Lee Kuan Yeuw’s plant was planted which hung down as a facade.

67


Residensial Residential

Kinara Abhipraya

Socializing Human Activity through Biophilic Design: Middle-Up Apartemen di BSD City, Tangerang Selatan Middle Up Apartment in BSD City, South Tangerang

oleh | by Almira Kridarahmanda 15215087 pembimbing |supervisor Ir. Budiman Syamwil M.Sc., Ph.D. tipologi | typology residensial | residential luas | area 23.000 ha

68

BSD City memiliki potensi dan pertumbuhan sebagai kota dengan fasilitas-fasilitas yang memadai seperti perumahan, fasilitas perbelanjaan, sarana kesehatan, perkantoran, serta sarana penunjang lainnya. Salah satu aspek yang berpotensi pertumbuhannya di BSD City adalah perumahan vertikal (apartemen). Sasaran pengguna merupakan kelas menegah ke atas (middle-up) dengan latar belakang yang berbeda-beda. Beragamnya sasaran penghuni apartemen ini menyebabkan adanya fasilitas penunjang yang dapat mengakomodasi berbagai macam pengguna.

BSD City has the potential and growth as a city with adequate facilities such as housing, shopping facilities, health facilities, offices, and other supporting facilities. One aspect that has the potential for growth in BSD City is vertical housing or commonly referred to as an apartment. The target user is a middleup class with different backgrounds. The variety of targets of these apartment dwellers results in supporting facilities that can accommodate variety of users.


Epilogue Oktober 2019

Konsep bangunan tercipta dari kondisi eksisting tapak. Tapak memiliki area terpanjang pada bagian barattimur yang dapat mempengaruhi panas bangunan pada siang hingga sore hari, oleh sebab itu orientasi bangunan diputar 45â °. Eksplorasi komposisi bangunan menerapkan konsep interlocking sehingga dapat menghasilkan ruang luar yang dapat dijadikan courtyard dan innercourt. Akibatnya, isu kebutuhan ruang untuk mendorong terciptanya interaksi sosial dapat tercapai karena area hijau dapat menjadi area komunal dan transisi antara ruang publik dan privat.

Almira Kridarahmanda

The building concept is created from the existing site conditions. The site has the longest area in the east-west part that can affect the heat of the building in afternoon, so to respond that condition, the orientation of the building is rotated 45â °. Furthermore, exploration of the building composition by interlocking can create outer spaces that can be used as a courtyard and innercourt. The concept respond the issue of the need for space to encourage social interaction and make it easier for users to find green areas as a communal and transition space between public and private area.

69


Residensial Residential

Kinara Abhipraya

Beragamnya sasaran penghuni apartemen ini menyebabkan adanya fasilitas-fasilitas penunjang yang dapat mengakomodasi berbagai macam pengguna, salah satunya adalah dengan menyediakan co-working space. Co-working space saat ini sedang menjamur di berbagai tempat. Selain fasilitas yang beragam, tipe unit hunian dirancang untuk dapat mengakomodasi berbagai penghuni apartemen, salah satunya adalah tipe unit loft untuk menunjang freelancer serta pengguna yang ingin memiliki unit hunian seperti rumah bertingkat.

70

The variety of targets of these apartment dwellers results in supporting facilities that accommodate a variety of users. One of the facilities available is co-working space which is currently booming in various places. In addition to a variety of facilities, the type of residential unit is designed to be able to accommodate various apartment dwellers, one of the room units presented is a loft unit to support freelancers and users who want to have residential units such as terraced houses.


Epilogue Oktober 2019

Pada tampak dan fasad terdapat permainan solid-void pada bangunan apartemen. Tampak pada tower cenderung transparan karena terdapat jendela dari unit hunian apartemen, namun untuk menghindari sengatan dari sinar matahari, pada tower tipikal digunakan fasad anodized alumunium. Panel alumunium ini dapat menjadi variasi permainan elemen vertikal untuk menyeimbangkan elemen horizontal yang kuat dari plat beton. Selain permainan fasad, bentuk bangunan dengan perbedaan level menjadi kuat, sehingga tercipta rooftop sebagai area penghijauan dan komunal.

Almira Kridarahmanda

On the elevation and facades there is a compositionof solid-voids in apartment buildings. Elevation on the tower tend to be transparent because there are glass from apartment residential units, but to avoid the sting from the sun, the tower typically uses anodized aluminum facade, in addition, aluminum panels also become variations as a vertical element to balance the strong horizontal elements from concrete plates. In addition, the shape of buildings with different levels also becomes strong, with a space that can be used as a communal area on a rooftop area and as a green area.

71


Residensial Residential

Kinara Abhipraya

From Landed to Vertical:

Rumah Susun Sederhana Sewa Buruh Industri di Bantargebang, Bekasi Worker Housing at Bantargebang, Bekasi

oleh | by Davin Gery Lineker 15215088 pembimbing |supervisor Dr. Samsirina, S.T., M.T. tipologi | typology residensial | residential luas | area 1,9 ha

72

PENDAHULUAN

PREFACE

Berkembangnya kawasan industri Bantargebang masih menarik para pencari kerja untuk menetap disana. Namun, kurangnya penyediaan hunian menyebabkan mereka menyewa unit hunian yang masih dapat dijangkau dengan daya beli mereka. Perancangan rumah susun pada lahan seluas 1,9 Ha di Kelurahan Bantargebang ini bertujuan untuk mewadahi kebutuhan akan mutu dan kualitas tempat tinggal buruh Bantargebang.

The rapid expansion of the industrial area in Bekasi attracts workers to settle in. However, the inadequacy of housing supply leads to underperforming housing rent that could be reached by their own purchasing power. A worker housing plans to be built on 1.9 ha area of land in Bantargebang, Bekasi to accommodate the housing needs of ever-growing industrial workers in Bantargebang. The project is expected to improve the quality and productivity of workers in Bantargebang.


Epilogue Oktober 2019

Perancangan rumah susun fokus kepada isu keterjangkauan dan transisi pola interaksi ke hunian vertikal. Melalui studi literatur dan survey, buruh memiliki keterikatan terhadap struktur sosial yang terjadi pada hunian horizontal. From Landed to Vertical menyatakan sebuah perpindahan dan penyesuaian pola interaksi menjadi vertikal. Penyelesaian rancangan rumah susun ini bertujuan untuk mengakomodasi penyesuaian yang dibutuhkan untuk membuat sistem baru. Rumah susun ini terdiri dari beberapa blok yang dibagi berdasarkan jenis kelamin serta status perkawinan calon penghuni.

Davin Gery Lineker

The design process of this housing focuses on the issue of affordability and the transition of interaction pattern to the vertical ones. Workers have an attachment to the social structure built on horizontal housing plans. From Landed to Vertical states the shift and adjustment of the horizontal housing interaction patterns to vertical ones. The final design aims to accommodate the adjustments needed for workers to adapt and make connections easily in a new environment. This worker housing consists of several blocks, divided by gender and marital status of future residents.

73


Residensial Residential

Kinara Abhipraya

Untuk mendukung terciptanya koneksi yang dibutuhkan, terdapat ruang-ruang bersama di setiap zonasi perumahan yang sifatnya spasiotemporal. Sifat ini memanfaatkan shift buruh. Bentuk dan ruangnya ikut bervariasi, menunjang kebutuhan berkomuni para penghuni. Tiap blok hunian memiliki ruang bersama yang terfokus pada ruang antar blok. Pada pengembangan pertama, semua blok bertemu di satu korda panjang yang dapat dijadikan ruang berolah raga temporal ataupun ruang bersama lain yang dibutuhkan oleh penghuni. Korda tersebut menjadi ruang komunal dengan strata yang lebih tinggi.

74

To support the creation of the connections needed, there is spatiotemporal multi-layer of shared spaces for them. Spatiotemporality is used as industrial workers tend to have shift.The shape and space are varied, supporting the needs of the residents. Each block have communal space inbetween blocks. Every communal space meets at one long communal chord which have large enough space for the block cluster residences to use. This chord has higher communal space hierarchy, so it can be use by larger demographics.


Epilogue Oktober 2019

Untuk menemukan massa dengan luasan yang efektif, massa didapatkan dari susunan modul-modul yang saling mengikat satu sama lain. Modul tersebut antara lain: unit kamar, kamar mandi, dan tempat jemuran. Penyusunan modul disusun interlocking dengan mengutamakan penyatuan kamar mandi dengan alasan efisiensi utilitas. Pengaturan modul seperti ini menimbulkan ruang-ruang antar unit yang terkotak-kotak, sehingga menimbulkan ruang bersama yang jelas teritorinya. Lekukan inilah yang dijadikan sebagai tempat berkumpul untuk penghuni di setiap lantainya.

Davin Gery Lineker

The mass is obtained by arranging interlocking modules to find the effective area. The modules are bedroom, bathroom, and a balcony with prioritizing joined bathroom to maximizing utility efficiency. This interlocking pattern produces defined spaces for communal space for each floor.

75


Religius Religious

76

Kinara Abhipraya


Epilogue Oktober 2019

religius religious

Religius religious

78 Connecting People with Nature Anindya Nailaiffa Aulia

82 Asrama Haji Embarkasi Kertajati Dea Fathur Rochman

86 Tranquility amongst Chaos Mutia Ayu Cahyaningtyas

77


Religius Religious

Kinara Abhipraya

Connecting People with Nature: Masjid Besar Rancabali Great Mosque of Rancabali

oleh | by Anindya Nailaiffa A. 15215046 pembimbing |supervisor Dr. Ir. Budi Faisal, MLA, MAUD tipologi | typology religius | religious luas | area 12.000 m2

78

Rancabali merupakan sebuah kawasan pariwisata yang cukup terkenal, berbatasan dengan Ciwidey. Di daerah ini belum terdapat sebuah masjid besar yang dapat mengakomodasi aktivitas peribadatan terpusat dari warga setempat. Letaknya berada di daerah pegunungan, sehingga bila dibangun sebuah masjid, masjid tersebut akan memiliki pemandangan alam yang asri dengan perkebunan teh & pegunungan di sekitarnya. Hal ini akan dapat menarik minat wisatawan untuk beribadah dan menikmati keindahannya, sehingga masjid ini dapat dikategorikan sebagai obyek wisata religi berbasis masjid.

Rancabali is a fairly well-known tourism area, bordering to Ciwidey. In this area there is no large mosque yet that can accommodate the centralized worship activities of local residents. Because the location is in a mountain range area, when a mosque is built, the mosque will have beautiful natural scenery with tea plantations and the surrounding mountains. This scenery will be able to attract tourists to worship and enjoy its beauty, so that this mosque can be categorized as a mosque-based religious tourism object.


Epilogue Oktober 2019

Proyek pembangunan masjid besar yang berada di jalur wisata ini diharapkan dapat menjadi salah satu faktor untuk meningkatkan kualitas pariwisata di Kabupaten Bandung, khususnya Kecamatan Rancabali. Sebagai alternatif obyek wisata, masjid ini dapat membuka peluang untuk meningkatkan jumlah wisatawan. Sementara itu, fungsi masjid ini sebagai area peribadatan dan peristirahatan sementara untuk wisatawan diharapkan dapat memberi kenyamanan & keselamatan wisatawan saat melakukan kunjungan ke destinasi pariwisata, dan memberi dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

Anindya Nailaiffa Aulia

The construction of a large mosque in the tourist path is expected to be one of the factors to improve the quality of tourism in Bandung Regency, especially in the Rancabali District. As an alternative tourist attraction, this mosque can open up opportunities to increase the number of tourists. Meanwhile, the function of this mosque as a temporary worship and resting area for tourists is expected to provide comfort and safety for tourists when visiting tourist destinations, and to have a positive impact on the economy of the local communities.

79


Religius Religious

80

Kinara Abhipraya

Struktur Atap Masjid Struktur yang digunakan pada atap masjid adalah struktur shell dengan material beton tipis yang menerus dari tanah dengan keempat kolom besar pada setiap sudutnya. Pada keempat tepi atap terdapat masing-masing satu balok beton monolit hingga ke kolom. Balok tersebut melengkung membentuk sistem katenari. Ketebalan plat beton pada atap semakin menebal dari puncak atap hingga ke pangkal atap. Bentuk pondasi disesuaikan dengan arah kemiringan gaya dari kolom.

Mosque Roof Structure The structure used on the roof of the mosque is a shell structure with thin concrete material continuously from the ground with four large columns at each corner. On the four edges of the roof there is each one monolith concrete beam up to the column. The beam is curved to form the catenary system. The thickness of the concrete plate on the roof is getting thicker from the top of the roof to the base of the roof. The shape of the foundation is adjusted to the tilt direction of the column.

Bangunan lainnya yaitu bangunan komersial (pujasera) dan penunjang (kelas & kantor), massa bangunan dibuat sederhana berupa balok yang dicoak untuk area teras, dibuat kontras dengan masjid yang ikonik. Bangunan ini terdiri dari teras & ruang kecil, dibagi sepanjang massa bangunan. Sirkulasi utama berada pada teras yang dapat mengakses langsung ruang yang ada.

For the other buildings, which are commercial (food court) and supporting (class & office), the mass of the buildings are made simple in the form of blocks that subtracted to create the terrace area, made in contrast to the iconic mosque. The building consists of a terrace & small space, divided along the building mass. The main circulation is on the terrace with direct access.


Epilogue Oktober 2019

Konsep Bangunan Konsep dasar dari masjid ini adalah “Connecting People with Nature”. Desain masjid ini akan dibuat dengan tiga konsep desain lainnya. Pertama adalah dengan mengangkat konteks alam yang kuat. Pada konsep kedua, proyek dirancang untuk menghadirkan elemen-elemen alam pada tapak yang diintegrasikan dengan rancangan banguna. Pada konsep ketiga, akan diciptakan interaksi antara pengguna bangunan dengan alam sekitar.

Anindya Nailaiffa Aulia

Building Concept The basic concept of this mosque is “Connecting People with Nature”. The design of this mosque will be made with three other design concepts. The first one is to raise a strong nature context. In the second concept, the project is designed to present natural elements on the site that are integrated with the building design. The third concept is to create interaction between building users and the surrounding natural environment.

81


Religius Religious

Kinara Abhipraya

PERSPEKTIF PALING BAGUS

Asrama Haji Embarkasi Jawa Barat Kertajati, Jawa Barat Hajj Embarcation Hostel of West Java

oleh | by Dea Fathur Rochman 15215029 pembimbing |supervisor Dr, Ir, Moch. Prasetiyo Effendi Yasin M.Arch, MAUD tipologi | typology Religus | Religious luas | area 58.104 mďż˝

82

Dengan selesainya pembangunan dan peningkatan fasilitas-fasilitas penunjang ibadah haji, terutama fasilitas yang berkaitan langsung dengan ritus seperti Masjidil Haram yang menjadi prioritas utama pemerintah Arab Saudi untuk meningkatan pelayanan jamaah haji dari segi kualitas dan kuantitas, usaha persiapan keberangkatan jamaah haji oleh pemerintah negara muslim seperti Indonesia juga harus dapat mengimbangi peningkatan jamaah haji dalam jumlah signifikan. Disaat yang sama, Pemerintah Republik Indonesia merencanakan membangun sebuah bandara internasional baru yang dapat mendongkrak perekonomian negara.

With the completion of the construction and improvement of supporting facilities for the Hajj pilgrimage, especially facilities directly related to rites such as the Grand Mosque in Mecca which is the top priority of the Saudi Arabian government to improve the services of pilgrims in terms of quality and quantity, efforts to prepare for the departure of pilgrims by the muslim state governments like Indonesia must able to catch up with significant increase of pilgrims. Meanwhile, the Government of the Republic of Indonesia had already made plans to build a new international airport that could boost the country’s economy.


Epilogue Oktober 2019

Dea Fathur Rochman

PERSPEKTIF/ DIAGRAM

Dengan persilangan kepentingan ini, Pemerintah Republik Indonesia membuat Bandara Internasional Jawa Barat di kawasan Kertajati, Kabupaten Majalengka sebagai embarkasi baru keberangkatan jamaah haji. Untuk menunjang hal ini, direncanakanlah Asrama embarkasi Haji yang dapat menampung jamaah haji dalam keberangkatan dan kedatangan, sekaligus menjadi sebuah hotel komersial yang dapat membantu memicu ekonomi kawasan tersebut

DIAGRAM KONSEP

With this cross of interest, the Government of the Republic of Indonesia created the West Java International Airport in the Kertajati district area, Majalengka Regency as a new embarcation for the pilgrims’ departure. To support this, a Hajj embarkation hostel was planned to support the activity, It was planned to accommodate pilgrims on departure and arrival, as well as being a commercial hotel that can help trigger the region’s economy

DIAGRAM KONSEP

83


Religius Religious

Untuk menarik pengguna yang ingin penginapan murah yang nyaman, asrama haji mesti memenuhi keinginan para pengguna dengan menetapkan standar yang nyaman. Salah satu tren yang marak pada asrama haji di seluruh Indonesia akhir-akhir ini adalah penetapan standar hotel bintang tiga. Tren ini, tidak hanya bermanfaat bagi jamaah haji, tetapi juga bagi pengelola asrama haji. Selain dapat memberi kepuasan pelayanan para jamaah haji, standar bintang tiga ini juga akan memudahkan promosi dalam memasarkan penginapan ini di luar musim haji.

84

Kinara Abhipraya

To attract users who want a comfortable low-cost accommodation, the hajj hostel must meet the demand by setting comfortable standards. One trend that is rife between hajj hostel throughout Indonesia lately is the setting of three-star hotel standards. This trend is not only beneficial for pilgrims, but also for the managers of the Hajj hostel. Besides being able to give satisfaction to the services of the pilgrims, this threestar standard will also facilitate promotion in marketing this accommodation outside the Hajj season.


Epilogue Oktober 2019

Dea Fathur Rochman

Penggunaan suatu langgam tertentu yang umum digunakan di tanah suci dapat menjadi solusi tersendiri dalam rancangan asrama haji. Ini dilakukan untuk menjawab isu pensuasanaan yang adaptif sehingga para jamaah haji bisa memiliki sense of place dengan tanah suci.

Salah satu langkah agar jamaah haji siap secara mental adalah dengan membuat jamaah haji terbiasa akan kondisi di Tanah Suci. Menumbuhkan suasana khas Arab adalah salah satu hal penting untuk bisa memberi kesan dan suasana yang akan dihadapi jamaah haji selama empat puluh hari kedepan. Penggunaan bentuk geometris dalam ornamen dan lengkung khas arabesque bisa memberi nuansa yang berbeda. Penggunaan material seperti bata merah dan marmer juga akan menekankan nuansa arabesque pada interior dan eksterior bangunan.

One step to make the pilgrims mentally ready is to make the pilgrims accustomed to atmosphere of the Holy Land. Creating a distinctive Arabian atmosphere is one important thing that can give the impression and atmosphere that will be faced by pilgrims for the next forty days. The use of geometric shapes in Arabesque ornaments and arches can give a different feel. The use of materials such as red brick and marble will also emphasize the feel of arabesque on the interior and exterior of the building.

The use of a particular style that is commonly used in the holy land can be a separate solution in the design of the pilgrimage hostel. This was done to address the issue of adaptive adultery so that pilgrims could have a sense of place with the holy land. as red brick and marble will also emphasize the feel of arabesque on the interior and exterior of the building.

85


Religius Religious

Kinara Abhipraya

Tranquility amongst Chaos: Masjid Besar Cibiru Kecamatan Cibiru, Bandung

Great Mosque of Cibiru in Bandung

oleh | by Mutia Ayu Cahyaningtyas 15215082 pembimbing |supervisor Ir. Budi Faisal, MAUD, MLA, Ph.D tipologi | typology religius | religious luas | area 7.700 m2 luas bangunan | building area 3.460 m2

86

Sebagai kota dengan indeks islami tertinggi di Indonesia, Kota Bandung terus menggencarkan berbagai program pemerintah terkait pengembangan sosial dan keagamaan masyarakat. Keberjalanan program tersebut menuntut adanya perbaikan dan penyediaan fasilitas peribadatan sebagai wadah pembinaan masyarakat di setiap kecamatan di Kota Bandung, tidak terkecuali Kecamatan Cibiru. Proyek perancangan Masjid Besar Cibiru terletak di Jalan A.H. Nasution, Kecamatan Cibiru, sebuah kawasan yang terletak tepat di pusat kemacetan dan hiruk pikuk kota.

As the city with highest islamic index in Indonesia, Bandung continues to intensify various government programs related to social and religious development. The emergence of these programs had impacts on the need to provide worship facilities as islamic community development center in each district, including Cibiru District. The Great Mosque of Cibiru project is located at A.H. Nasution Street, Cibiru, which is a central area of hustle and bustle of the city.


Epilogue Oktober 2019

Kondisi ini menjadikan proyek perancangan yang diprakarsai oleh Pemerintah Daerah Kecamatan Cibiru ini memerlukan pendekatan desain khusus. Pendekatan desain berbasis penyelesaian isu menghasilkan tema ‘Tranquility amongst Chaos’ sebagai konsep dasar rancangan. Konsep ini menggambarkan bagaimana masjid harus mampu menciptakan suasana tentram untuk mendukung kegiatan ibadah para penggunanya. Unsur alam, kesederhanaan material dan massa bangunan, serta permainan pencahayaan menjadi aspek utama dalam rancangan.

Mutia Ayu Cahyaningtyas

This condition made the project which is led by Regional Government of Cibiru District need a special design approach. A solution-based design approach results in the concept of ‘Tranquility amongst Chaos’. This concept illustrates how mosque as worship building must be able to create a peaceful atmosphere to support prayer activities for its users. Nuances of nature, simplicity of material and mass, as well as effects of light and shadow became main design aspects of The Great Mosque of Cibiru.

87


Religius Religious

Kinara Abhipraya

Masjid Besar Cibiru dirancang untuk dapat menyelesaikan isu utama dari tipologi beserta karakteristik tapak proyek yaitu nuansa dan zonasi. Nuansa yang diharapkan pada masjid ini adalah nuansa yang mampu memberikan kenyamanan kepada jamaah dalam melaksanakan ibadahnya terlepas dari hiruk-pikuk lingkungan di sekitarnya. Sementara zonasi meliputi pemisahan ruang dan sirkulasi berdasarkan gender, area suci dan tidak suci, serta fungsi ruang publik, semi publik, dan privat untuk mendukung keberjalanan fungsi bangunan peribadatan secara optimal.

88

Great Mosque of Cibiru is designed to be able to resolved the main issues of typology and project site, namely ambience and zoning. The expected ambience is one which able to provide comfort to pilgrims in carrying out their worship regardless of the hustle and bustle of the surrounding environment. While zoning includes the separation of space and circulation based on gender, sacred area, as well as the function of public, semi-public, and private area to support the optimal function of worship building.


Epilogue Oktober 2019

Nuansa bangunan dapat mempengaruhi respon emosional dan psikologis dari penggunanya. Dalam rancangan, hal ini dicapai melalui pengaturan berkas cahaya dan bayangan yang memasuki interior ruang melalui fasad serta penerapan elemen vegetasi yang terintegrasi pada lanskap bangunan. Adapun pembagian zonasi pada bangunan dilakukan melalui pendefinisian sirkulasi dengan penggunaan dinding pembatas, penanda, perbedaan ketinggian peil lantai dan plafon, serta perbedaan material.

Mutia Ayu Cahyaningtyas

The ambience of building can affect the emotional and psychological responses of its users. In design, this is achieved by the arrangement of light and shadows which enter the interior through building facade and the application of vegetation elements on the site. Meanwhile the zoning in building design is achieved by defining circulation using free standing walls, signages, different height of floor and ceiling, as well as material differences.

89


Kultural Cultural

90

Kinara Abhipraya


Epilogue Oktober 2019

Kultural culture

92 Parahyangan Philharmonic Hall Yahya Ayyash Asaduddin

96 Toy Museum as Children’s Recreational and Educational Public Space kultural cultural

Nikita Eka Nurwita

100 Bandung Contemporary Art Center Zahra Nurul Azmi Ichsantiarini

104 House of Astronomy Tania Fitriani

108 Museum Wastra di Kawasang Talang Semut, Palembang Reliya Annisa Putri

112 Continuity of Traditional and Urban Modern Architecture Fathia Almia Tsara Amanna

116 Light as Memento William Abil Bobby Setiawan

120 Museum Park Farah Syifa Nabila

124 The Lost Culture of Buni Kevin Eligius Marseli

128 Creative Movement Prabudewa Sebayang

132 Towards The Future of West Java Muhammad Raushan Fikri

136 Library as Interactive Learning Space Fauzi Ardiansyah Wijaya

140 Museum as Cultural Melting Pot Aliefianto Nandya Saputra

91


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Parahyangan Philharmonic Hall:

Gedung Pertunjukan Musik Klasik Kota Baru Parahyangan, Bandung Barat

Classical Music Concert Hall at Kota Baru Parahyangan

oleh | by Yahya Ayyash Asaduddin 15215006 pembimbing |supervisor Dr.Eng. Arif Sarwo Wibowo, S.T.,M.T. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 14.000 m²

92

Beberapa tahun kebelakang komunitas musik klasik/orkestra di Kota Bandung mulai tumbuh, beberapa diantaranya adalah ITB Student Orchestra (2005), Acacia Youth String Orchestra (2013), dan Bandung Philharmonic (2014). Ketiga komunitas tersebut kerap melakukan pertunjukan di Kota Bandung, sayangnya saat ini di Bandung belum ada gedung pertunjukan yang dirancang khusus untuk pertunjukkan musik klasik. Kota Baru Parahyangan memiliki event tahunan berupa Classical Music Festival yang juga memiliki visi untuk bisa mengenalkan musik klasik kepada masyarakat di Kota Bandung.

A few years back the classical music / orchestra community in the city of Bandung began to grow, some of which were ITB Student Orchestra (2005), Acacia Youth String Orchestra (2013), and Bandung Philharmonic (2014). The three communities often do shows in the city of Bandung, unfortunately at this time in Bandung there is no concert hall specifically designed for classical music performances. Kota Baru Parahyangan has an annual event in the form of Classical Music Festival which also has a vision to be able to introduce classical music to the people in Bandung.


Epilogue Oktober 2019

Melihat animo masyarakat Kota Bandung akan musik klasik yang mulai meningkat dan kebutuhan Kota Baru Parahyangan akan gedung pertunjukan PT Belaputra Intiland selaku developer Kota Baru Parahyangan pun melihat ini sebagai sebuah peluang. Dengan tujuan untuk mengenalkan musik klasik ke masyarakat, bangunan ini memiliki konsep “The Classical Emotion� yang akan mencerminkan keindahan musik klasik melalui bangunannya.

Yahya Ayyash Asaduddin

Seeing the enthusiasm of the Bandung City community for classical music that began to increase and the need for Kota Baru Parahyangan for the performance building (concert hall) PT Belaputra Intiland as the developer of Kota Baru Parahyangan also saw this as an opportunity. With the aim of introducing classical music to the public, this building has the concept of "The Classical Emotion" which will reflect the beauty of classical music through its buildings.

93


Kultural Cultural

94

Kinara Abhipraya

Konsep dasar muka bangunan dari gedung ini adalah interpretasi musik klasik, fasad dibuat meliuk sedemikian rupa yang menggambarkan stereotipe orang akan musik klasik yang terasa ringan, mengalir, lembut, dan menenangkan. Lekukan yang ada pada fasad merupakan grafik sinus yang melingkar mengikuti bentuk dasar bangunan, grafik sinus juga bisa diibaratkan sebagai gelombang suara.

The basic concept of the building's face of this building is the interpretation of classical music, the facade is made to bend in such a way that illustrates people's stereotypes of classical music that feels light, flowing, soft, and soothing. The indentation in the facade is a circular sine graph following the basic shape of the building, the sine graph can also be likened to a sound wave.

Dengan material FRP (fiberglass reinforced plastic) yang berwarna putih dan berkarakter glossy, fasad bangunan ini mencerminkan aura elegan dan formal

With FRP (fiberglass reinforced plastic) material that is white and glossy in character, the building's facade reflects the elegant and formal aura of classical music.


Epilogue Oktober 2019

formal dari musik klasik. Salah satu ciri khas material FRP adalah adanya grid yang dihasilkan dari sambungan antar panel, grid-grid pada fasad diibaratkan sebagai barisan bar nada yang ada pada partitur musik (dimana musik klasik identik dengan penggunaan partitur), dan dari grid-grid yang kaku ini dihasilkan sebuah bentuk yang fluid dan mengalir.

Yahya Ayyash Asaduddin

music. One distinctive feature of FRP material is the presence of grids produced by connections between panels, the grids in the facade are analogous to a sequence of bars in musical scores (where classical music is identical to the use of music sheet), and through this rigid grid an organic/ fluid shape building is created.

“Ibarat barisan nada yang dirangkai dalam deretan bar yang kaku dalam sebuah partitur yang terpadu untuk menghasilkan sebuah karya seni musik.�

95


Komersial Kultural Cultural Commercial

Kinara Abhipraya

Toy Museum as Children’s Recreational and Educational Space: Serambi Dolanan di Bantul Serambi Dolanan in Bantul

oleh | by Nikita Eka Nurwita 15215009 pembimbing |supervisor Indah Widiastuti, ST., MT., Ph.D. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 5.000 m2

96

Proyek Toy Museum as Childrens Recreational and Educational Space : Serambi Dolanan di Bantul merupakan suatu respon kebutuhan relokasi koleksi Museum Mainan Kolong Tangga di Yogyakarta dan program pemerintah Bantul untuk menjadi Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Museum mainan anak seluas 4923 m2 ini memamerkan koleksi pemilik museum, Rudi Corens, seorang kolektor seni asal Belgia. Desain museum juga mewadahi kegiatan pengguna, terutama anakanak dan pendampingnya, pemerhati mainan tempo dulu, serta masyarakat lokal, dengan menjadi sarana bermian anak dan rekreasi publik.

The Toy Museum Project as Childrens Recreational and Educational Space: Serambi Dolanan in Bantul is a response to the need to relocate the collection of the Kolong Tangga Toy Museum in Yogyakarta and the Bantul government program to become a Child-Friendly Regency / City (KLA). The 4923 m2 children’s toy museum showcases a collection of museum owners, Rudi Corens, a Belgian art collector. The museum design also accommodates the activities of users, especially children and their companions, past toys observers, as well as local communities, by becoming a means of childbearing and public recreation.


Epilogue Oktober 2019

Proyek ini dirancang dengan memperhatikan tiga isu utama, yaitu interaksi, sekuens, dan adaptasi. Isu interaksi muncul sebagai respon terhadap konteks desain ramah anak dalam fungsi uama eksibisi koleksi pada museum serta sarana bermain anak untuk mendukung program KLA. Isu Sekuens muncul sebagai sarana menyampaikan pesan bagi anak-anak untuk belajar mengenai mainan tempo dulu serta membawa pengunjung untuk mengalami nostalgia masa kecil. Isu adaptasi muncul sebagai respon terhadap konteks tapak proyek, Bantul yang mrupakan kabupaten yang sarat akan budaya, bagaimana desain bangunan dapat mencitrakan budaya sekitarnya.

Nikita EkaEka Kurniawan Nurwita

This project was designed with three main issues in mind, namely interactions, sequences, and adaptations. The issue of interaction emerged as a response to the context of child-friendly design in the function of the main collection exhibition at the museum and children’s play facilities to support the KLA program. Issues Sequences emerge as a means of conveying messages for children to learn about toys in the past and bring visitors to experience childhood nostalgia. The issue of adaptation emerged as a response to the context of the project site, Bantul which is a district full of culture, how building design can portray the surrounding culture.

97


Komersial Kultural Cultural Commercial

Kinara Abhipraya

Tema perancangan “Children’s Playful Promenade” diterapkan sebagai pendekatan desain museum dengan cara menerapkan elemen permainan ke dalam desain. Bentuk massa bangunan merupakan analogi karakter dari mainan congkak, dengan tiga massa bangunan yang berbentuk elips dengan rooftop pada lantai kedua sebagai penyatu antar massa bangunan. Bentuk elips diterapkan sebagai bentuk dasar massa bangunan untuk memberikan sekuens pengalaman ruang yang menerus serta aman tanpa adanya sudut tajam bagi pengunjung, serta menghasilkan kesan jukstaposisi yang harmonis dengan lingkungan sekitarnya.

98

The design theme of “Children’s Playful Promenade” is applied as a museum design approach by applying game elements into the design. The shape of the building mass is an analogy of the character of a supercilious toy, with three elliptical building masses with a rooftop on the second floor as a fusion of building masses. The elliptical shape is applied as a basic form of building mass to provide a continuous and safe sequence of spatial experience without sharp angles to visitors, as well as producing an impression of harmony in harmony with the surrounding environment.


Epilogue Oktober 2019

Interior bangunan utama menerapkan konsep dinamis untuk menghasilkan kesan bermain pada pengalaman ruang yang terbentuk. Fasad bangunan menerapkan konsep semi terbuka untuk menghadirkan ruang dalam dan luar bangunan yang terkesan menyatu, Sekuens di dalam bangunan dibuat mengalir menggunakan ramp dengan memainkan besaran ruang untuk menghasdirkan pengalaman nostalgia dan dapat trrhubung antara setiap fungsi di dalam museum, serta penggunaan material lokal pada fasad bangunan sebagai respon adaptasi terhadap konteks lingkungan dan budaya sekitar.

Nikita EkaEka Kurniawan Nurwita

The interior of the main building applies a dynamic concept to produce the impression of playing on the space experience that is formed. The building facade applies a semi-open concept to present indoor and outdoor buildings that seem unified, The sequences in the building are made to flow using a ramp by playing a space to produce a nostalgic experience and can connect between each function in the museum. , and the use of local materials in the building facade as an adaptation response to the surrounding environmental and cultural context.

99


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Bandung Contemporary Art Center: Pusat Seni Kontemporer di Bandung Buah Batu, Bandung Contemporary Art Center in Bandung

oleh | by Zahra N. A. I 15215013 pembimbing |supervisor Dr.Eng. Bambang S., S.T., M.T. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 15.000 m�

100

Seni sebagai ‘proses’ dari manusia serta budaya sebagai akal dan pikiran untuk berupaya menjadi dua hal yang berjalan saling beriringan (Anshari, 1996). Seni, secara teoritis, sebagai manifestasi budaya, sejak zaman batu, setidaknya memegang lima fungsi sosial yang berkaitan dengan perasaan serta ekspresi diri maupun sosial. Oleh karena itu, pembinaan kesenian menjadi penting dalam perkembangan kebudayaan. Bandung, sebagai Kota Seni Budaya (menurut BEKRAF, 2016), memiliki banyak pelaku seni, baik dari kalangan seniman atau masyarakat umum. Proyek ini adalah upaya untuk menciptakan ruang temu kedua kelompok dan menjadi ekosistem kesenian, terutama seni pertunjukan.

Art as ‘a human ’process’ and culture as reason and mind are two things go hand in hand (Anshari, 1996). Theoritically, even from the stone age, art as a manifestation of culture holds more than five social functions related to feelings and self also social expression. Therefore, fostering art, in the development of culture, becomes important. Bandung as The City of Art and Culture (aacording to BEKRAF, 2016) has so many artist, both from among profesionals and the general public. This project is planned to create a group space as an art ecosystem, especially for performing arts, where profesionals and public meet.


Epilogue Oktober 2019

FLEKSIBILITAS, KONEKTIVITAS, KOLABORASI. Bandung Contemporary Art Center, memiliki tiga isu utama yang didaptkan dari analisis tipologi, tapak, dan lainnya. Isu pertama, fleksibiltas diangkat dari kebutuhan kesenian yang kontemporer. Konektivitas diambil dari analisis Bandung sebagai ruang urban. Serta kolaborasi dari konteks sosial kotanya. EKSPRESI BANGUNAN Bentuk dari (massa) bangunan merupakan respons bangunan terhadap tapak. Pendekatan yang digunakan antara lain adalah permainan geometri dasar dan struktur bangunan.

Zahra Nurul Azmi Ichsantiarini

FLEXIBILITY, CONNECTIVITY, COLLABORATION. Bandung Contemporary Art Center, has three main issues obtained from typology, site analysis, and others. The first issue, flexibility is lifted from the needs of contemporary art space. Connectivity is taken from the analysis of Bandung as urban space. And collaboration from the social context of the city. EXPRESSION OF BUILDINGS The shape (mass) of the building is a response of the building to the site. The design approaches used include basic geometry and building structures.

101


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Mengacu pada latar belakang dan isu perancangan, proyek ini memiliki beberapa tujuan: 1. Sebagai ruang yang mewadahi proses kesenian, 2. Sebagai ruang diskusi antara masyarakat dengan seniman sehingga terjadi proses pebinaan kesenian yang baik, 3. Sebagai ruang kolaborasi antara pihak-pihak yang bergelut dalam kesenian, baik pihak formal maupun informal, profesional serta masyarakat umum.

102

Referring to the background and design issues, this project has several objectives: 1. As a space that accommodates the art process, 2. As a space for discussion between the community and artists so that a good arts development process takes place, 3. As a space for collaboration between those involved in the arts, both formal and informal, professional and the general public.


Epilogue Oktober 2019

Menurut hasil analisis, pengguna Bandung Contemporary Art Center terdiri dari beberapa kelompok, antara lain adalah seniman, seniman baik perorangan maupun yang berasal dari komunitas dan sanggar, tim produksi pameran/ pertunjukan, pihak manajemen, serta pengunjung umum. Kelompok-kelompok ini berasal dari berbagai golongan usia dan mayoritas berasal dari Kota Bandung. Dengan adanya keberagaman ini diharapkan tujuan serta upaya perancangan dapat tercapai dengan baik.

Zahra Nurul Azmi Ichsantiarini

According to the results of the analysis, Bandung Contemporary Art Center users consist of several groups, including artists, artists from both individuals and those from the community and studios, exhibition/ show production teams, management, and general visitors. These groups come from various age groups and the majority are from the city of Bandung. With this diversity, it is expected that the goals and design efforts can be achieved well.

103


Komersial Kultural Cultural Commercial

Kinara Abhipraya

House of Astronomy:

Museum Astronomi di Kota Bandung Astronomy Museum in Bandung

oleh | by Tania Fitriani 15215014 pembimbing |supervisor Dr. Ir. Christina Gantini, M.T. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 8.000 m2

104

Astronomi merupakan salah satu bidang ilmu yang memegang peran penting dalam kemajuan peradaban manusia. Saat ini perkembangan ilmu Astronomi telah berkembang pesat sejalan dengan ditemukannya berbagai kemajuan dalam teknologi antariksa. Perkembangan ilmu Astronomi di Indonesia tidaklah bisa lepas dari keberadaan observatorium Bosscha di Kota Bandung, maupun keberadaan program studi Astronomi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Teknologi Bandung. Di sisi lain, perkembangan ilmu Astronomi dan teknologi Antariksa yang ada masih belum tersampaikan dengan baik ke masyarakat.

Astronomy as one of fields of science that have been playing an important role for the development of human civilization. Nowadays the development of Astronomy has developed rapidly along with the discovery of various advances in space technology. The development of Astronomy in Indonesia can’t be separated from existence of Bosscha observatory in Bandung, and Astronomy study program at Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA), Bandung Institute of Technology. Otherwise, the development of Astronomy and Space technology is still not well conveyed to the public.


Epilogue Oktober 2019

Dengan demikian, kebutuhan akan suatu sarana dan prasarana yang dapat menyampaikan informasi dan sekaligus meng-edukasi masyarakat secara lebih luas dirasakan semakin mendesak. Salah satu ‘wadah’ yang dirasakan tepat untuk menyampaikan dan menyebarluaskan berbagai kemajuan teknologi dan pengetahuan ilmu Astronomi adalah museum. Keberadaan museum Astronomi ini, diharapkan mampu menjadi sarana penunjang pendidikan dan sumber segala informasi Astronomi bagi masyarakat dalam wujud yang interaktif, informatif, rekreatif dan edukatif.

Eka Tania Kurniawan Fitriani

Thus, the need for a facility and infrastructure that can convey information and simultaneously educate the public more broadly is felt more urgent. One of the ‘platforms’ that is felt appropriate to convey and disseminate various technological advances and knowledge of Astronomy is a museum. The existence of Astronomy Museum is expected to be able as supporting education and a source of all Astronomy information for the community in an interactive, informative, creative and educative’s ways.

105


Komersial Kultural Cultural Commercial

Kinara Abhipraya

Letak museum di pusat kota Bandung, menjadikan isu utama dalam perencanaan dan perancangannya adalah ‘penyediaan ruang publik bagi kegiatan urban’. Sehingga dalam menjawab isu tersebut, salah satu pendekatan desain bagi keberadaan museum Astronomi, yang dirasa tepat dan dapat diaplikasikan yakni ‘House of Astronomy’. Tema atau pendekatan desain ini diwujudkan dengan cara menerapkan elemen-elemen astronomi ke dalam konsep desain pada tapak dan bentuk bangunan. Pada tapak dan bentuk bangunan, elemen astronomi yang digunakan, yaitu metafora dari orbit bulan dan teleskop.

106

Located in the downtown of Bandung, the main issue in planning and design is to ‘providing public space for urban activities’. So to answer the issue, one of design approaches, which is deemed appropriate and applicable is the ‘House of Astronomy’. This design theme or approach is realized by applying astronomical elements to the design concept on the building’s site and shape. In the site and shape of buildings, astronomical elements are used, namely metaphors from lunar orbit and telescopes.


Epilogue Oktober 2019

Konsep desain lain yang cukup penting untuk diterapkan adalah menerapkan konsep gelap-terang pada bangunan sebagai representasi suasana alam semesta di dalam dan di luar bangunan. Hal ini diterapkan dengan menyusun pola bata ekspos dan kaca akrilik sebagai material bangunan pameran. Penggunaan bata ekspos sejalan dengan pendapat tokoh astronomi mengenai unsur dasar alam semesta yang terdiri dari empat unsur yaitu api, udara, air dan tanah. Konsep gelap-terang lainnya diperoleh dengan menggunakan skylight pada ruang pameran utama.

Eka Tania Kurniawan Fitriani

Another design concept that is quite important to be apply is the concept of dark-light to the buildings as a representation of the atmosphere of the universe inside and outside the building. This is applied by arranging exposed brick and acrylic glass patterns as exhibition main building’s materials. The exposed bricks is used base on opinion of astronomical figures about the basic elements of the universe consisting of four elements namely fire, air, water and earth. Another dark-light concept is obtained by using a skylight in the main exhibition hall.

107


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

The Origin: Reminiscing Riparian Culture Museum Wastra di Kawasan Talang Semut Palembang, Sumatera Selatan Textile Museum at Palembang, South Sumatra

oleh | by Reliya Annisa Putri 15215016 pembimbing |supervisor Dr. Agus S. Ekomadyo, ST. MT. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 12.000 mďż˝

108

Membawa Kembali Akar Budaya dalam Museum Wastra. Museum Kain Tradisional Palembang merupakan sebuah gagasan yang timbul dari kekhawatiran akan meredupnya pengetahuan mengenai akar kebudayaan masyarakat Sumatera Selatan. Melalui wastra yang dibanggakan oleh masyarakat, diceritakan kembali latar belakang terciptanya motif terkait budaya riparian. Perancangan museum akan mengeksplorasi potensi arsitektur dan ruang dalam menyampaikan pesan dan mengajak pengunjung merasakan budaya riparian yang semakin memudar.

Bringing Back The Origin in a Textile Museum. Palembang Textile Museum is an idea that arises from fears of the dimming of knowledge about the cultural roots of the people of South Sumatra. Through textile, cultural product that the community is proud of, the background to the creation of pattern r elated to riparian culture is recounted. The design of the museum will explore the potential of architecture and space in conveying messages and inviting visitors to experience a fading riparian culture. The concept of performing museum then derived into the concept of mass, facade, sequence and ambience of the museum building.


Epilogue Oktober 2019

Reliya Annisa Putri

Makna Riparian dalam Wastra Wastra Palembang merupakan salah satu produk budaya riparian Palembang. Terdiri dari empat yaitu kain Tajung, Songket, Batik dan Jumputan. Terciptanya ragam hias wastra didasarkan pada proses pertimbangan pikir, gagas, rasa dan jiwa penciptanya atas persepsinya terhadap alam sekitar. Dengan begitu, mengkaji wastra akan menghasilkan makna budaya riparian dalam wastra.

Riparian Meaning of Traditional Textile Palembang Traditional Textile is a product of Palembang’s Riparian Culture. The Textiles consists of four kinds: Tajung, Songket, Batik and Jumputan. Design of textile paterns are based on the process of consideration of thought, ideas, feelings and spirit of its creator for his perception of natural surroundings. Therefore, studying textile will produce riparian culture meaning of it.

Isu Cagar Budaya dalam Tapak Di dalam tapak terdapat bangunan cagar budaya yang dahulu merupakan rumah pejabat daerah. Respon terhadap bangunan cagar budaya ini menjadi salah satu isu peracangan.

Heritage Issue in the Site In the site, there is a cultural heritage building that was once the home of a regional governer. The response to the building of cultural heritage has become one of the issues of design.

Baru x Lama (New x Old): Kontras (Contrast) Kontinuitas (Continuity) Reflektifitas (Reflectivity)

109


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Pola Pergerakkan Pengalaman riparian diterapkan dalam pola pergerakan pengunjung. Zonasi dikelompokkan menjadi zona perdagangan (muara/hilir), zona pemerintahan dan pendidikan (tengah), zona permukiman (pedalaman /hulu) dan pergerakkan berurut dari hiilir ke hulu. Zonasi tersebut sebagai zona komersial, edukasi dan pamer koleksi. Massa Massa bangunan utama merupakan metafora dari bukit dan rumah panggung. Lantai dasar didesain pilotis dengan sifat ruang multifungsi dan dinamis. Massa diatasnya memiliki bentuk yang geometris dan simetris menerapkan sifat umum kain tradisional Palembang.

110

Sequence The flow of circulation from zone to zone translated from the flow of river.. The flow of the museum’s circulation is designed from public spaces and commercial areas, education areas to exhibition rooms correspondent with the flows occur from the estuary to the highland. Mass The main building mass is a metaphor of hills and stilt houses. The ground floor is pilotis designed with multifunctional and dynamic nature. The mass above has a geometrical and symmetrical shape applying the general properties of the traditional textile of Palembang.


Epilogue Oktober 2019

Reliya Annisa Putri

Facade Fasad menanggapi bangunan cagar budaya agar kontras namun tidak terlalu ramai. Fasade memiliki tingkat transparasni yang didasarkan pada sifat ruang dan metaforanya terhadap zona ruang sungai. Pola fasade secondary skin massa utama dibentuk menggunakan motif dan filosofi wastra.

Facade The Facade responded to the building of cultural heritage so that the contrast but not too crowded. The facade has a transparency level that is based on the nature of the space and its metaphor for the river space zone. The secondary mass skin facade pattern is formed using textile pattern and philosophies.

Suasana Ruang Pada lantai dasar, ruang memilki suasana terbuka menggambarkan suasana muara sebagai pusat perdagangan. Ruang transparan ini selain sebagai simbol muara juga menjadi ruang antara bangunan baru dan lama. Suasana pada ruang pamer menggambarkan cerita dari objek koleksi

Ambience On the ground floor, the space has an open atmosphere depicting the atmosphere of an estuary as a trading center. This transparent space aside from being a symbol of the estuary is also a space between new and old buildings. The atmosphere in the exhibition room illustrates the story of the collection object.

111


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

PERSPEKTIF PALING BAGUS

Continuity of Traditional and Urban Modern Architecture :

Padepokan Seni Tari Gugum Gumbira di Kota Bandung Gugum Gumbira Dance Art Centre in Bandung City

oleh | by Fathia Almia Tsara Amanna 15215020 pembimbing |supervisor Ir. Baskoro Tedjo MSEB, Ph. D tipologi | typology kultural | curtural luas | area 11.000 ha

Gugum Gumbira merupakan Seniman Sunda pencipta Tari Jaipong yang mempunyai banyak peran dalam melestarikan dan menggangkat Kebudayaan Sunda. Beliau merupakan pemilik dari Sanggar Jugala yang merupakan sanggar pelatihan berbagai kebudayaan Seni Sunda, terutama seni tari. Sanggar Jugala saat ini dirasa tidak mampu untuk menampung jumlah murid yang semakin bertambah, sehingga suasana latihan menjadi tidak kondusif. Dari hal tersebut munculah suatu kebutuhan akan adanya padepokan seni tari yang dapat menampung seluruh kegiatan di Sanggar Jugala tersebut.

DIAGRAM KONSEP

112

Gugum Gumbira is both an artist and creator of Sundanese Jaipong Dance who has many roles in preserving and promoting Sundanese Culture. He is also the owner of the Sanggar Jugala, a cultural studio for Sundanese, especially dance art. Currently, the cultural studio is not able to accomodate more students, so the training becomes not conducive. Therefore, a new dance art centre is needed to accommodate all activities at Jugala Cultural Studio.

DIAGRAM KONSEP


Epilogue Oktober 2019

Fathia Almia Tsara Amanna

PERSPEKTIF/ DIAGRAM

Lokasi yang dipilih untuk padepokan seni tari ini berada di Jalan Wahid Hasyim no. 15 Kota Bandung. Lokasi ini dipilih karena memiliki nilai locus, yaitu memiliki nilai lebih yang dapat menciptakan atmosfer yang sesuai dengan senimannya. Hal itu dikarenakan seniman Gugum Gumbira sudah sejak kecil tinggal di lokasi tersebut. Lokasi yang berada di tengah kota dengan kepadatan yang tinggi tentunya menimbulkan berbagai macam permasalahan. Oleh karena itu dibutuhkanlah solusi desain yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.

DIAGRAM KONSEP

The chosen location for the dance art centre is located at Jalan Wahid Hasyim no. 15 Bandung City. This location was chosen because of locus value, a value that reflect the circumstances of the artist. The artist, Gugum Gumbira, has lived at the location since he was a child. This location located in the middle of city with high density can cause various kind of problems. Therefore, a design solution is needed to solve these problems.

DIAGRAM KONSEP

113


Kultural Cultural

114

Kinara Abhipraya

Konektivitas dengan Lingkungan Sekitar

Connectivity with the Environment

Lokasi tapak dikelilingi oleh pertokoan dan perumahan warga, sehingga padepokan seni perlu dirancang agar tidak memiliki kesan yang asing dan tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat di sekitarnya. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan memudahkan akses bagi masyarakat sekitar untuk masuk ke dalam padepokan seni sehingga masyarakat dapat ikut berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang terdapat di dalam padepokan seni. Untuk menghindari adanya kebisingan maka didesain zonasi pada padepokan seni yang memisahkan zona sesuai fungsi.

The location is surrounded by shops and residents’ housing, so the dance art center needs to be designed to avoid foreign impression and harm to the community. The solution is to facilitate access for community, so they can participate in the art activities at dance art centre. To avoid the noise, zoning in the dance art centre is designed to separate zones according to the building function.


Epilogue Oktober 2019

Fathia Almia Tsara Amanna

Sunda

Continuity of Traditional and Modern Sundanese Culture

Untuk mendukung pelestarian Kebudayaan Sunda, maka didesain padepokan seni yang menarik dengan tujuan untuk menarik minat masyarakat, terutama remaja. Padepokan seni ini dirancang untuk memberikan pengalaman ruang yang membuat pengunjungnya dapat merasakan Kebudayaan Sunda jaman tradisional dan modern sekaligus. Bentuk gedung pertunjukan pun dibuat modern dan menarik agar terhindar dari kesan tua padepokan seni pada biasanya.

To support the preservation of Sundanese culture, the dance art centre is designed artistically to attract the community interest, especially teenagers. This dance art centre is designed to provide a spatial experience that allows visitors to feel the traditional and modern Sundanese culture simultaneously. Concert hall building was also made in the modern and attractive shape to avoid outdated impression of the dance art centre.

Kontinuitas Kebudayaan Tradisional dan Modern

115


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Light as Memento :

Museum Pahlawan Jawa Barat di Kota Bandung National Heroes Museum of West Java at Bandung City

oleh | by William Abil Bobby Setiawan 15215027 pembimbing |supervisor Dr.Eng. Arif Sarwo Wibowo, S.T., M.T. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 1.57 ha

116

Bandung merupakan salah satu kota bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, namun tidak terdapat fasilitas edukasi yang menggambarkan perjuangan kepahlawanan tersebut. Dengan banyaknya pahlawan Jawa Barat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sudah selayaknya mendapatkan apresiasi dengan dibangunnya sebuah fasilitas khusus tempat bertutur cerita kepahlawanan dari Jawa Barat. Proyek ini diharapkan dapat mengangkat sejarah perjuangan pahlawan Jawa Barat sebagai bentuk edukasi dan representasi lokalitas Jawa Barat.

Bandung is one of the historical cities that was involved in the struggle for Indonesian independence, but there is no educational facility that depicts the heroism’s struggle. With many heroes from West Java in the struggle for Indonesian independence, it would be better to build a special facility as a form of appreciation to tell the story of heroism from West Java. This project is expected to depict the story of heroism from West Java as a form of education and to represent West Java locality.


Epilogue Oktober 2019

Tapak proyek terletak di depan Taman Makam Pahlawan. Terdapat tiga isu utama dalam perancangan proyek ini, yaitu sequence, citra bangunan, dan visual exposure. Dengan merespon tiga isu tersebut, terpilihlah desain yang mengangkat konsep ‘Light as Memento’. Kata memento mewakili bangunan museum yang bertindak sebagai objek sentimental pengingat suasana perjuangan pahlawan yang digambarkan dan disusun menjadi suatu sequence yang alur ceritanya di dalam bangunan akan dipandu oleh cahaya sebagai narrator utama dari cerita perjuangan.

William Abil Bobby Setiawan

The site for this project located in front of Taman Makam Pahlawan. There are three main issues in the design of this project, the sequence, building image, and the visual exposure. By responding to these three issues, the design that lifts the concept of ‘ Light as Memento‘ is chosen. The word memento represents a museum building that acts as a sentimental object reminding the atmosphere of the heroic struggle depicted and arranged into a sequence which storyline inside the building will be guided by light as the main narrator of the heroic struggle.

117


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Bentuk tapak berpotensi mewadahi permeabilitas dari segala arah dan vista ke arah monumen Taman Makam Pahlawan. Terinspirasi dari bentuk amphitheatre yang melingkar dan berteras, bentuk massa memungkinkan setiap lantai dan sisi mendapat view ke arah monumen Taman Makam Pahlawan. Di axis tengah massa bangunan, 2 bidang identik akan memandu field of view pengunjung ke arah vista. Di sisi Selatan, 1 bidang akan dibentuk sebagai enklosur yang merangkul ruang luar untuk memperkuat persepsi akan ruang publik dan outdoor museum.

The form of the site potentially able to host permeability of any direction and vistas towards the monument of the Taman Makam Pahlawan. Inspired by the circular form and the terrace of amphitheater, the mass form allows each floor and edge to get direct views towards the monument of Taman Makam Pahlawan. In the axis in the middle of the building mass, 2 identical planes will guide the visitor’s field of view towards the vista. On the south side, 1 plane wall will be placed as an enclosure that encloses outdoor space to reinforce the perception of public spaces and outdoor museums.


Epilogue Oktober 2019

Pengalaman ruang setiap ruang yang dilalui selalu berbeda. Pada basement 2, pengalaman ruang dan pencahayaan berasal dari skylight yang tersebar pada area publik. Pada basement 1, pengalaman ruang memunculkan kesan bangunan mengapung di atas air dengan pencahayaan dari pantulan kolam di sekitar massa bangunan. Pada pengalaman ruang lantai teratas, sisi fasad transparan memungkinkan setiap ruang ekhibisi memiliki view kearah monumen Taman Makam Pahlawan. Ruang dalam dibuat dengan material uniform yang berperan sebagai latar objek museum.

William Abil Bobby Setiawan

The spatial experience of each room is always different. In 2nd basement, the experience of space and lighting comes from skylights spread over public areas. At 1st basement, the space experience depicts the sense of building floating over water with lighting from the reflection of the pond around the building masses. In top floor’s space experience, the transparent façade allows each room to have direct view towards the monument of the Taman Makam Pahlawan. The indoor space is made with uniform material that serves purpose as the backdrop of the displayed museum objects.

119


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Museum Park:

Museum Seni Rupa Kontemporer di Kota Bandung Contemporary Art Museum in Bandung

oleh | by Farah Syifa Nabila 15215041 pembimbing |supervisor Prof. Ir. Iwan Sudrajat, MSA, Ph. D. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 11.340 ha KDB | BCR 40 % KDH | GCR 52 %

120

Bandung memiliki sejarah yang erat dengan perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Namun hingga kini Bandung belum memiliki museum seni rupa kontemporer yang memadai. Museum Seni Rupa Kontemporer yang terletak di Jalan Sersan Bajuri no.1525, Kota Bandung. Lokasi tapak yang terletak di Kawasan Bandung Utara memerlukan pendekatan desain yang fokus pada konservasi alam, sehingga dipilih konsep museum park, di mana pameran luar memanfaatkan lansekap yang ada. Konsep ini memfokuskan museum seni rupa yang berintegrasi dengan alam dengan adanya sculpture park.

Bandung has a history that is closely related to the development of contemporary art in Indonesia. However, until now Bandung do not have a proper contemporary art museum. The Museum of Contemporary Art, located on Jalan Sersan Bajuri no.15-25, Bandung. The site located in the North Bandung area requires a design approach that focuses on nature conservation, so the museum park concept was chosen, where outdoor exhibits make use of the existing landscape. This concept focuses on art museums that integrate with nature with a sculpture park.


Epilogue Oktober 2019

Perancangan museum ini dilakukan dengan pendekatan perancangan bentuk (functions follow form). Konsep bangunan yang ingin dihadirkan adalah bangunan skulptural yang memiliki kesan kontemporer. Strategi menghadirkan bentuk skulptural diterapkan dengan perbedaan ketinggian lantai tiap submassa bangunan. Bentuk massa yang berundak merupakan referensi lokalitas tapak di Bandung Utara yang identik dengan pegunungan. Massa bangunan yang irregular ditambah kondisi tapak yang rawan gempa bumi mengakibatkan dilatasi struktur bangunan.

Farah Syifa Nabila

The design of this museum is done with the design approach of form (functions follow form). The concept of the building to be presented is a sculptural building to form a contemporary impression. The strategy of presenting a sculptural form is applied to the difference in floor height for each submass of the building. The terraced mass form is a reference to the locality of the site in North Bandung which is identical to the mountains. Irregular building mass plus earthquake-prone footprint conditions cause dilation of building structures.

121


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Sebagai museum yang memiliki konsep museum park, tapak didesain memiliki ruang luar yang luas untuk keperluan pameran outdoor. Terdapak dua simpul pameran yang dinamakan Sculpture Plaza dan Sculpture Forests. Kedua simpul pameran luar ini mengakomodasi dimensi benda pameran yang berbeda. Penghubung kedua titik ini dinamakan zona Sculpture Walks. Batas selatan tapak, berbatasan langsung dengan Gardu Listrik PLN Bandung Utara, sehingga pemandangan museum ke arah selatan dibatasi dengan pepohonan sebagai distraksi.

122

As a museum with a museum park concept, the site is designed to have a large outdoor space for outdoor exhibition purposes. There are two exhibition nodes called Sculpture Plaza and Sculpture Forests. The two outdoor exhibition nodes accommodate different dimensions of the exhibit. Connecting these two points is called the Sculpture Walks zone. The southern boundary of the site is directly adjacent to the North Bandung PLN Electric Power Station, so the view of the museum to the south is limited by trees as distraction.


Epilogue Oktober 2019

Museum memiliki citra bangunan, fleksibilitas, dan dampak lingkungan sebagai isu perancangan utama. Museum ini dimiliki pihak swasta sehingga kegiatan museum tidak terbatas untuk umum saja, melainkan terdapat kegiatan komersial dan privat. Bangunan terdiri dari 5 lantai dan mengakomodasi ruang untuk kegiatan utama berupa ruang pameran, kegiatan pendukung berupa ruang edukasi, kegiatan pelengkap berupa restoran, kegiatan manajemen museum, dan kegiatan servis. Strategi mengatasi ruangan multifungsi adalah mengatur zonasi ruang multiguna yang aksesibel untuk publik.

Farah Syifa Nabila

The museum has buildings image, flexibility, and environmental impact as the main design issues. The museum is owned by the private organization so that the museum’s activities are not limited to the public, but there are commercial and private activities as well. The building consists of 5 floors and accommodates space for main activities in the form of exhibition space, supporting activities in the form of education space, complementary activities in the form of restaurants, museum management activities, and service activities. The strategy for overcoming multifunctional rooms is to arrange zoning for multipurpose spaces that are accessible to the public.

123


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

The Lost Culture of Buni:

Museum Sejarah dan Arkeologi Kebudayaan Buni di Babelan Bekasi Dukuh Bawah, Jakarta Selatan

History and Achaeology Museum of Buni Culture in Babelan, Bekasi

oleh | by Kevin Eligius Marseli 15215059 pembimbing |supervisor Prof. Ir. Iwan Sudradjat, MSA, Ph.D. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 1 Ha

124

Salah satu kebudayaan Kabupaten Bekasi di masa lampau adalah Kebudayaan Buni yang berlangsung sejak akhir jaman akhir prasejarah hingga awal kerajaan Tarumanegara. Saat ini situs Buni dan kebudayaannya terancam hilang dan terlupakan akibat pembangunan kawasan industri di sekitarnya. Hal ini mendorong pemerintah kabupaten Bekasi untuk membangun sebuah museum sejarah dan arkeologi Kebudayaan Buni di Bekasi yang berfungsi sebagai wadah bagi bentuk-bentuk kebudayaan Buni dan media edukasi bagi masyarakat dalam rangka menyelamatkan situs Buni dan kebudayaannya.

One of the cultures of Bekasi Regency in the past was the Buni Culture which lasted from the end of the prehistoric era to the beginning of the Tarumanegara kingdom. At present the Buni site and its culture are in danger of being lost and forgotten due to the development of the surrounding industrial estate. This prompted the Bekasi district government to build a Buni cultural and archeological museum in Bekasi that served as a forum for Buni cultural forms and educational media for the community in order to save the Buni site and its culture.


Epilogue Oktober 2019

Proyek perancangan museum terletak di jalan Raya Kampung Pasar Emas, desa Muarabakti, Babelan, Bekasi, Jawa Barat dengan tapak proyek seluas kurang lebih 10.000 meter persegi dan luas lantai dasar terbangun kurang lebih 3.000 meter persegi. Berdasarkan hasil analisis ditetapkan tiga isu utama perancangan yaitu image, mood and ambience, dan security. Berangkat dari isu – isu tersebut, digagaslah sebuah konsep besar perancangan bangunan museum yaitu The Lost Culture of Buni, yang mau menggambarkan Kebudayaan Buni yang terlupakan namun menyimpan keindahan dan kekayaan budaya.

Kevin Eligius Marseli

The museum design project is located on Jalan Raya Kampung Pasar Emas, Muarabakti village, Babelan, Bekasi, West Java, with a project area of​​ approximately 10,000 square meters and a ground floor area of a ​​ pproximately 3,000 square meters. Based on the analysis results, three main design issues were determined, namely image, mood and ambience, and security. Departing from these issues, a large concept of the design of the museum building was conceived, namely The Lost Culture of Buni, which wanted to depict the forgotten Buni Culture but preserved the beauty and richness of culture.

125


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Konsep massa bangunan museum terinspirasi dari perpaduan bentuk pecahan gerabah (fragmen) dan beliung persegi. Gerabah merupakan perkakas dari tanah liat yang berguna bagi kehidupan manusia sehari-hari dan melambangkan corak Kebudayaan Buni yang unik. Sedangkan beliung persegi merupakan alat-alat batu yang berbentuk persegi atau trapesium yang menandakan akhir jaman prasejarah (Megalithikum) yang menjadi awal berkembangnya kebudayaan Buni.

126

The concept of the mass of the museum building was inspired by the combination of the form of broken pottery (fragments) and square pickaxes. Pottery is a tool made from clay which is useful for everyday human life and symbolizes the unique style of Buni Culture. Whereas square pickaxe are square or trapezoidal stone tools that mark the end of prehistoric times (Megalithikum) which became the beginning of the development of Buni culture.


Epilogue Oktober 2019

Gedung Museum Sejarah dan Arkeologi Kebudayaan Buni menyediakan berbagai fungsi dan kegiatan, terutama kegiatan utama dan kegiatan pendukung. Kegiatan utama yang disediakan oleh bangunan ini yaitu pameran tetap dan pameran temporer. Kegiatan pendukung yang disediakan oleh bangunan museum ini yaitu perpustakaan dan auditorium. Kegiatan pelengkap diwadahi ke dalam bentuk kafe yang disewakan kepada masyarakat sekitar, dan servis.

Kevin Eligius Marseli

The Museum of History and Archeology of Buni Culture provides various functions and activities, especially the main activities and supporting activities. The main activities provided by this building are permanent exhibitions and temporary exhibitions. Supporting activities provided by this museum building are the library and auditorium. Complementary activities are accommodated in the form of cafes that are rented to the surrounding community, and services.

127


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Creative Movement:

Pusat Komunitas Seni Bandung di Gedebage, Jawa Barat

Bandung Art Comunity Center in Gedebage

oleh | by Prabudewa Sebayang 15215065 pembimbing |supervisor Prof. Ir. Iwan Sudradjat, MSA, Ph.D. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 15.275 m2 KDB | BCR 65% KLB | GFA 6.5 KDH | GCR 30%

128

Gedung Pusat Komunitas Seni Bandung dirancang untuk menampung kegiatankegiatan berbasis seni yang mewadahi komunitas seni di Bandung.

Bandung Arts Community Center Building is designed to accommodate art-based activities that host the art community in Bandung.

Fungsi utama nya adalah memberikan wadah untuk menampilkan hasil karya dari seniman, baik pertunjukan maupun pameran seni.

Its main function is to provide a platform to show the works of artists, both performances and art exhibitions.

Fungsi lainnya adalah sebagai tempat komunitas-komunitas seni yang ada di Bandung untuk berkumpul dan berdiskusi, serta melakukan workshop dan latihan sebagai sarana edukasi dari bangunan ini.

Another function is as a place of art communities in Bandung to gather and discuss, and do workshops and exercises as educational facilities from this building.


Epilogue Oktober 2019

Proyek Pusat Komunitas Seni Bandung ini mempunyai masalah utama yang dapat menjadi isu, yaitu potensi dari perkembangan seni yang ada di Kota Bandung. Creative Movement merupakan salah satu gerakan untuk mewadahi seniman, khususnya yang bergerak dalam komunitas seni untuk mempunyai wadah tempat berkarya, berkumpul, dan berkembang. Konsep ini menggabungkan kegiatan-kegiatan kreatif dalam berbagai bidang kesenian dalam satu wadah yang dibentuk di tengah-tengah bangunan bertingkat dan bersifat sebagai oase / melting point sekitarnya.

Prabudewa Sebayang

This Bandung Art community center project raises an issue, which is the potential of the development of the art in the city of Bandung. Creative Movement is one of the movements to provide artists, especially those who are engaged in the art community to have a place to work, gather, and grow. This concept combines creative activities in various fields of art in a platform formed in the midst of a high-rise building and is as an oasis/melting point surrounding.

129


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

KONSEP BANGUNAN Konsep Creative Movement menunjukkan sisi bangunan sebagai cerminan dari wadah dari para manusia kreatif. Squaring the circle merupakan upaya untuk menyamaratakan luas dari sebuah lingkaran dengan sebuah persegi. Squaring the circlemerupakan salah satu konsep dasar geometri yang mempunyai makna yaitu Bentuk lingkaran melambangkan (Sirkulasi) yang ada di dalam bangunan, meliputi kegiatan-kegiatan kreatif dalam berbagai bidang kesenian. Sedangkan bentuk persegi melambangkan wadah untuk menaungi kegiatan (Massing).

130

BUILDING CONCEPT The Creative Movement concept shows the building side as a reflection of the platform of creative humans. Squaring the circle is an effort to disguise the size of a circle with a square. Squaring is one of the basic concepts of geometry that has meaning that the form of circle symbolizes circulation in the building, covering creative activities in various fields of art. While the square shape symbolizes the platform to do the activity (Massing).


Epilogue Oktober 2019

KONSEP RANCANGAN TAPAK Ide yang digunakan adalah membentuk Pedestrian Plaza disekitar bangunan untuk membentuk suasana baru di sekitar bangunan, meningkatkan pergerakan massa, dan menciptakan pengalaman interaksi antara pengguna jalan dengan bangunan yang lebih intim dibandingkan dengan pengguna kendaraan bermotor.

Prabudewa Sebayang

SITE DESIGN CONCEPT The idea is to form a Pedestrian Plaza around the building to build a new atmosphere surrounding the building, increase the mass movement, and create an interaction experience between road users and more intimate buildings Compared to the users of motor vehicles.

131


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Towards The Future of West Java: Pusat Seni & Budaya Jawa Barat Bandung West Java Art & Cultural Center

oleh | by Muhammad Raushan Fikri 15215073 pembimbing |supervisor Indra Budiman Syamwil, Ir., M.Sc. BEM, Ph.D. tipologi | typology komersial | cultural luas | area 4 ha

1

132

2

Center of art & culture of west java serves as a place for education, recreation, interaction, in West Java art & culture. The project is based in a frame of reference work competition west java art and cultural center ( wjacc ) held by iai west java in 2017. The design is located in 40.000 m area. Besides serves as the education, culture, and art fungsion, this place designed to provide interact ion between the community and the art community. In addition to center of art & culture, this building has designed open to public access, to used by the people of Bandung daily.Its building architecture applied contemporary

Pusat Seni & Budaya Jawa Barat berfungsi sebagai tempat untuk mewadahi kegiatan edukasi, rekreasi, dan interaksi terkait seni dan budaya, khususnya seni dan budaya Indonesia maupun Jawa Barat. Proyek ini mengacu pada Kerangka Acuan Kerja Sayembara West Java Art and Cultural Center (WJACC) yang diadakan oleh IAI Jawa Barat pada tahun 2017. Rancangan berada di tapak dengan luas 40.000 m2. Selain berfungsi sebagai tempat pertunjukkan dan edukasi terkait seni & budaya, tempat ini dirancang agar dapat menjadi sarana berinteraksi antara masyarakat dan komunitas

3

4

5


Epilogue Oktober 2019

Muhammad Raushan Fikri

seni. Selain itu Pusat Seni & Budaya ini dirancang terbuka terhadap akses publik, agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sehari-hari. Arsitektur bangunan ini menerapkan desain kontemporer, dengan bentang alam Jawa Barat sebagai inspirasi. Budaya hidup sehari-hari masyarakat Sunda juga menjadi inspirasi, seperti Balong, Rumah Bambu, dan kegiatan bertani. Pusat seni & budaya ini diharapkan menjadi ikon atau identitas Jawa Barat, yang dapat mewadahi berbagai kegiatan berskala nasional sampai internasional.

design, inspired by west java landscape. Culture daily sunda community also is an, as balong, of bamboo, and farming activities. Center of artistic & culture is expected to be way icons or identity that can provide a place for international scale events.

TEATER

TEATER UTAMA

MENYATU DENGAN ALAM

BANGUNAN SEBAGAI RUANG PUBLIK

BANGUNAN TROPIS

FUNGSI PENUNJANG

RUANGAN FLEKSIBEL & MULTIFUNGSI

133


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Konsep dasar ataupun konsep utama Pusat Seni & Budaya Jawa Barat ini adalah Towards the Future of West Java, yang berarti menuju Masa Depan Jawa Barat. Konsep utama ini diambil karena tujuan utama Pusat Seni & Budaya ini adalah melestarikan dan mengkinikan Seni & Budaya asli Jawa Barat agar tetap relevan di masa kini maupun masa depan. Arsitektur bangunan inipun dirancang agar berkelanjutan secara lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Dengan mencerminkan arsitektur masa kini untuk dapat bertahan sampai masa depan. Nilai budaya yang diambil adalah budaya Masyarakat Sunda sehari-hari,

The main concept of this cultural center is toward the future of West Java, the vision of contemporary West Java. This concept is taken because of the needs of preservation and relevant Art & Culture of West Java. This building is designed to be relevant nowadays or even in the future. This building is designed to be sustainable environmentally, socially, and economically. Reflecting contemporary architecture for the vision of the future. The daily culture of people of West Java is considered to be part of the design. The example such as living with the nature, water as landscape, and living in simple ways.

+24.90 +20.30

TEATER UTAMA

+17.10

KANTOR

+13.10

KANTOR BACKSTAGE

R. PAMERAN

AREA SERVIS TEMPAT PARKIR TEMPAT PARKIR

TEATER BLACKBOX

+9.10 +5.10 +0.90 +0.00 -2.50 -5.90

134


Epilogue Oktober 2019

Muhammad Raushan Fikri

seperti hidup selaras dengan alam, hidup dekat dengan air, dan tinggal di rumah bambu. Massa bangunan utama berbentuk kubus dengan massa pendukung yang lebih rendah di sisinya. Bangunan ditutup oleh selubung kisi-kisi beton untuk mengurangi dampak sinar matahari langsung dan sebagai jalur sirkulasi udara.

The mass of the building is consist of two parts, the box shaped main auditorium and supporting function in the side. The building is enfolded by concrete louvre to filter direct sunlight and act as a breathing mechanism.

+24.90

FOYER

TEATER UTAMA

+20.30 +17.10 +13.10 +9.10

R. PAMERAN TEMPAT PARKIR TEMPAT PARKIR

+5.10 +0.90 +0.00 -2.50 -5.90

135


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Library as Interactive Learning Space: Perpustakaan Anak di Kota Bandung Children Library in Bandung

oleh | by Fauzi Ardiansyah Wijaya 15215083 pembimbing |supervisor Dr. Samsirina S.T., M.T. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 6000 m2

136

Tujuan utama dari perpustakaan anak ini adalah menghadirkan sebuah pengalaman ruang yang interaktif dan menyenangkan bagi anak berusia 0-12 tahun dan menciptakan kondisi yang kondusif, dengan cara menerapkan perilaku anak ke dalam desain agar anak dapat fokus belajar dan membaca. Perpustakaan ini diharapkan juga dapat merubah paradigma masyarakat bahwa perpustakaan, terutama perpustakaan anak, bukan hanya sebatas tempat membaca & menyimpan buku, tapi dapat menjadi pusat pengembangan & pembelajaran anak.

TAMPAK DEPAN TAMPAK DEPAN

This project is a children library which is assumed to be initiated by Bandung Division of library and archive and assumed to be collaborate with Lego Foundation. The main purpose of this project is to make an interactive learning and fun space for children under 12 to read book and learning new information through manipulating space to be more fun and interactive for children. Furthermore through this project, we hope to change the community pardigm of library as a place to preserve information to a place for development and learning for children.


Epilogue Oktober 2019

Fauzi Ardiansyah Wijaya

RENCANATAPAK TAPAK RENCANA RENCANA TAPAK

Terdapat tiga isu utama yang diangkat pada proyek ini: 1. Ruang yang interaktif bagi anak 2. Belajar sambil bermain 3. Pengembangan keterampilan anak Konsep “Library as an interactive learning space for children” diharapkan dapat menjadi solusi untuk menjawab isu tersebut. Konsep ini diterjemahkan melalui ruang yang fleksibel, skala ruang yang sesuai untuk anak, penyediaan area IPTEK alam yang menyatu dengan area baca, area bermain pada area membaca anak usia 3-5 tahun, serta penyediaan ruang kelas untuk pengembangan keterampilan anak.

TAMPAKSAMPING SAMPING TAMPAK TAMPAK SAMPING

There are three main issues from this project: 1. Interactive space for children 2. Learning through playing 3. Children development Concept “Library as an interactive learning space for children” is expected to be a basic concept of solutions to address these key issues. These concepts include translating through spaces that are flexible for children, the provision of science and technology that are integrated with reading area, play area in the reading area of children 3-5 years old, and providing classrooms for the development of children’s skills.

137


Kultural Cultural

138

Kinara Abhipraya

Kebutuhan Fungsi Perlantai Berdasarkan analisis program ruang dan juga persyaratannya, bangunan perpustakaan anak akan dibangun setinggi 3 lantai dengan kebutuhan fungsi setiap lantai sebagai berikut:

Need for Floor Functions Based on the analysis of the space program and its requirements, the children’s library building will be built as high as 3 floors with the following functional requirements:

1. Lantai Dasar: lobi utama, ruangruang untuk les, area komersil, ruang pengelola dan BoH, taman edukatif 2. Lantai Dua: perpustakaan anak, cinema, area baca serius, area baca 3. Lantai Tiga: perpustakaan balita, ruang multimedia, cinema

1. Ground Floor: main lobby, for tutoring, commercial management room and educational park 2. Second Floor: children’s cinema, serious reading reading area 3. Third Floor: toddler multimedia room, cinema

rooms areas, BoH, library, area, library,


Epilogue Oktober 2019

Konsep Ruang Karena pengunjung utama dari perpustakaan anak adalah anak-anak, maka konsep ruang akan mengikuti skala dan proporsi dari anak-anak. Ruang-ruang baca akan memiliki furnitur yang disesuaikan dengan kebutuhan dan ukuran anak-anak. Selain itu, agar dapat menarik bagi anak-anak, maka penggunaan material dan warna akan disesuaikan dengan suasana ruang yang diinginkan, seperti komposisi warna merah, kuning, dan oranye pada area bermain, dan warna biru yang melambangkan ketenangan pada ruang baca serius, dll.

Fauzi Ardiansyah Wijaya

Space Concept Because the main visitors of the children’s library are children, then the concept of space will follow the scale and proportion of children. Reading rooms will have furniture tailored to the needs and sizes of children. In addition to being able to appeal to children, it will use materials and colors that will be adapted to the desired atmosphere of the room, such as the composition of red, yellow and orange in the play area, and the blue color that symbolizes calm in a serious reading room, etc.

139


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Museum as Cultural Melting Pot:

Museum Seni Budaya Jawa Timur di Surabaya Art and Cultural Museum of East Java in Surabaya

oleh | by Aliefianto Nandya S. 15215086 pembimbing |supervisor Dr. Ir. Christina Gantini, M.T. tipologi | typology kultural | cultural luas | area 18.000 m2

140

Dalam rangka menumbuhkembangkan rasa cinta terhadap seni dan budaya Jawa Timur, dibangun sebuah museum pada lokasi simpul yang strategis dalam konstelasi wisata seni budaya Jawa Timur. Lokasi yang bersebelahan dengan Taman Budaya Jawa Timur membuat lokasi semakin tepat untuk menjadi Cultural Melting Pot, yaitu tempat berpadunya masyarakat umum dengan komunitas pegiat seni budaya dari seluruh Jawa Timur. Adanya museum ini juga dapat memberikan link untuk akses lebih dalam menuju daerah asal seni budaya khas Jawa Timur dan mendorong potensi pariwisata budaya.

In order to develop culture enthusiasm, especially art and culture of the East, Java, a museum built on the site located in the constellation of art and culture tour of East Java. Context location adjacent to East Java Cultural Center made the right location for a Cultural Melting Pot. It is a common meeting place of the community with art and culture group from all over the East Java. The existence of this museum can also give you a link to access deeper into the origins of art and culture of the East Java thus encouraging potential of cultural tourism.


Epilogue Oktober 2019

Museum as Cultural Melting Pot adalah tema dasar yang dikembangkan dalam perancangan. Museum harus dapat menyediakan ruang-ruang yang difungsikan sebagai tempat kolaborasi berbagai elemen masyarakat dalam ranah pelestarian budaya. Pendekatan perancangan yang digunakan adalah pendekatan bentuk yang mengambil transformasi bentuk dari alat musik saron dan juga pendekatan fungsi terhadap tapak. Berkaitan dengan konteks lingkungan, pendekatan perancangan seperti ini dinamakan dengan pendekatan contextual juxtaposition.

Aliefianto Nandya Saputra

Museums as Cultural Melting Pot is the basic theme that developed in the design. Museums must be able to provide spaces that functioned as a collaboration of the various elements of society in the realm of cultural preservation. The design approach used is the form and shape approach that takes the form transformation of musical instrument called saron as well as the functional approach to the site. In connection with the context of building and environmental design approach , this is called contextual juxtaposition.

141


Kultural Cultural

Kinara Abhipraya

Interaksi dan Konektivitas Taman budaya yang sudah ada dan terletak di sebelah lahan perancangan perlu direspon dengan pengembangan kompleks taman budaya. Selain itu, potensi lokasi yang dapat dikembangkan sebagai simpul Wisata Seni Budaya Jawa Timur menjadi nilai tambah untuk pengembangan kawasan wisata berupa museum. Sebagai ruang publik dalam konteks urban, bangunan dimaksudkan agar dapat mewadahi kolaborasi elemen masyarakat dalam pelestarian budaya dengan mendorong terjadinya interaksi antara pengguna.

142

Connectivity and Interaction Existing cultural center located next to the site area need to be responded as a development of the cultural park complex. In addition, the potential locations that could be developed as a node of East Java Cultural Tourism is an added value of development of tourism in the form of a museum. As a public space in the urban context, the building intended to accommodate the collaboration between elements of society in the culture preservation and encourage interaction between users.


Epilogue Oktober 2019

Sekuens dan Citra Anggapan museum sebagai tempat yang kurang diminati kaum milenial menjadi permasalahan yang diupayakan untuk diatasi dengan penyajian sekuensial pameran dalam balutan teknologi eksibisi berbasis pengalaman (experience). Bangunan diharapkan dapat menunjukkan identitas sebagai bangunan ikon budaya Jawa Timur. Hal ini dapat berupa penggunaan unsurunsur kesenian daerah Jawa Timur dalam rancangan baik implisit maupun eksplisit.

Aliefianto Nandya Saputra

Sequence and Image Assuming the museum as a place that is less desirable to the millennials sought to be addressed by the sequential presentation of the exhibition with technology-based exhibition that tend to maximize the experience. The building is expected to present its identity as the cultural icon of East Java. This could be the use of East Java art elements in both implicit and explicit designs.

143


Fasilitas Publik public facility

144

Kinara Abhipraya


Epilogue Oktober 2019

fasilitas publik public facility

Fasilitas Publik public facility

146 Jejeg Sareng Lumpur Diajeng Nashukha Ramadhanty

150 A Healing Environment Cindy Claudia Prawitasari Yusuf

154 Oasis Landscraper Theofillus Terry

158 Healing Architecture for Women Shafira Aisyah Fitri

162 Library as Urban Living Room Fikri Anam

166 Harmony in Wave Baihaqi Dzaky Rizkia

170 Bumi Bagja

Theresia Priscylla Adelina Angelita

174 Architecture of Hope as Theraphy Mentari Hanifa Dzikrina

178 Nature Infused Hospital Nur Fajrina Ramadhani

182 Healing Nodes as Positive Distraction Rayi Rubi

145


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Jejeg sareng Lumpur:

Area Wisata di Kawasan Lumpur Sidoarjo Mud Volcano Tourism in Sidoarjo

oleh | by Diajeng Nashukha Ramadhanty 15215011 pembimbing |supervisor Ir. Wiwik Dwi Pratiwi MES, Ph.D. tipologi | typology fasilitas publik | public space luas | area 6.4 ha

146

Lumpur Sidoarjo merupakan peristiwa menyemburnya lumpur di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo pada 29 Mei 2006. Peristiwa ini menyebabkan kerugian, kerusakan lingkungan, perubahan struktur ruang, dan pola penataan ruang. Di sisi lain, antusiasme peneliti dan masyarakat untuk datang sangat tinggi. Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) merencanakan pembuatan rencana induk area terdampak lumpur Sidoarjo sebagai destinasi wisata. Perancangan pusat penelitian dan wisata di Kawasan Lumpur Sidoarjo menjadi solusi dari tingginya minat masyarakat.

Sidoarjo Mudflow is an incident of mud eruption at the drilling site of PT Lapindo Brantas, Renokenongo, Porong District, Sidoarjo Regency on May 29th, 2006. This incident caused losses, environmental damage, changes in spatial structure, and spatial planning patterns. On the other side, the enthusiasm of researchers and the public to come is very high. Sidoarjo Mud Handlling Agency (BPLS) plans to create a master plan affected by mud as a tourist destination. The design of research and tourism centers in The Sidoarjo Mud Area is the solution to the high interest of the community.


Epilogue Oktober 2019

Nantinya, kawasan ini akan mengangkat potensi dari lumpur itu sendiri berupa penggunaan material lumpur sebagai material utama. Disediakan pula area pertanian modern, yang hasil panennya akan dimanfaatkan kios-kios makanan sebagai komposisi utamanya. Kegiatan pelatihan dan pembelajaran juga disediakan sebagai wujud wisata kreatif yang memiliki nilai lebih bagi pengunjung. Harapannya, kawasan ini menjadi katalis untuk menghidupkan kawasan khususnya bagi ekonomi masyarakat korban bencana.

Diajeng Nashukha Ramadhanty

Later, this area will raise the potential of the mud itself in the form of using mud as the main material. It also provided a modern agriculture area, whose crops will be used by food stalls as its main composition. Training and learning activities are also provided as a form of creative tourism that has more value for visitors. It is hoped that this region will become a catalyst for reviving the region, especially the economic community affected by disasters.

147


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Arsitektur Lumpur Arsitektur lumpur menjawab isu lokalitas dengan penggunaan material utamanya. Material lumpur menjadi bahan utama dalam pembuatan batu bata, yang diterapkan pada perancangan. Batu bata ini dieksplorasi bentuknya sehingga memberikan kesan dan pengalaman yang berbeda. Keamanan dan Kenyamanan Keamanan dan kenyaman menjadi pertimbangan yang utama dalam perancangan. Kondisi tapak yang tidak cukup stabil diatasi dengan bangunan semi permanen di area lumpur. Kondisi tapak yang cenderung kering dan

148

Mud Architecture The mud architecture answers the issue of the locality by using its main material. Mud material becomes the main material in making bricks, which is applied to the design. These bricks are explored in shape to give a different impression and experience. Safety and comfort Safety and comfort are the main considerations in the design. Site conditions that are not stable enough are overcome by semi-permanent buildings in the mud area. Tread conditions that tend to be dry and dusty, overcome by laying out the outer space as an oasis in


Epilogue Oktober 2019

berdebu diatasi dengan peletakan ruang luar sebagai oase pada kawasan. Zonasi dan Sirkulasi Lumpur sebagai “element of surprise” berpengaruh pada penempatan area rekreasi di dekatnya. Zonasi pada tapak terbagi menjadi empat jenis, yaitu area privat, area semi-publik, area publik, dan area parkir sebagai fungsi penunjang. Sirkulasi utama pada tapak membagi kawasan menjadi dua bagian, yakni bagian fungsi-fungsi utama dan area pikir. Sirkulasi utama untuk kendaraan dibuat menerus untuk memudahkan aliran kendaraan sehingga mengurangi potensi kemacetan di sekitar tapak.

Diajeng Nashukha Ramadhanty

the area. Zoning and Circulation Mud as an “element of surprise” affects the placement of nearby recreation areas. Zoning on the site is divided into four types, namely private areas, semi-public areas, public areas, and parking areas as a supporting function. The main circulation on the site divides the area into two parts, namely the main functions and thought areas. The main circulation for the vehicle is made continuously to facilitate the flow of the vehicle thereby reducing the potential for traffic jams around the site.

149


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

PERSPEKTIF PALING BAGUS

A Healing Environment: Rumah Sakit GKI Surabaya GKI Surabaya Hospital

oleh | by Cindy Claudia Prawitasari Yusuf 15215023 pembimbing |supervisor Prof. DR. Ir. Sugeng Triyadi, M.T. tipologi | typology rumah sakit | hospital luas | area 2603 m2 lokasi | location Surabaya, Jawa Timur Surabaya, East Java

Kesehatan adalah kebutuhan dasar dari setiap manusia. Maka dari itu, GKI Sinode Wilayah Jawa Timur berencana memperluas jangkauan pelayanan terhadap masyarakat terutama pelayanan kesehatan melalui pembangunan rumah sakit sebagai muara dari pelayanan poliklinik GKI yang ada. Rumah sakit ini terletak di Jalan Ambengan, Surabaya dengan luas lahan sebesar 2603m2. Target pengguna utama adalah masyarakat umum dan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Isu-isu utama dari proyek ini adalah citra, Eco-City dan tapak.

DIAGRAM KONSEP

150

Health is one of human’s basic neccesities. Therefore, GKI Sinode Wilayah Jawa Timur is planning to expand its extent in serving others, mainly in healthcare by building a hospital as the converging point of GKI’s clinics. The hospital is located at Jalan Ambengan, Surabaya which has the land area of 2603m2. The main targeted user is the general public and the users will also be composed of middle-class and lower-class economy societies The main issues of this project are the image, Eco-City and the site itself.

DIAGRAM KONSEP


Epilogue Oktober 2019

Cindy Claudia Prawitasari Yusuf

PERSPEKTIF/ DIAGRAM

Konsep yang diusung pada proyek ini adalah healing environment. Konsep healing environment diterapkan pada interior dan eksterior bangunan sebagai tempat beraktivitas. Keterbatasan lahan menyebabkan bentuk bangunan yang dirancang dalam proyek perancangan ini adalah massa tunggal. Massa bangunan dirancang dengan mensubtraksi massa utuh sehingga tercipta pilotis di bagian bawah. Bentuk bangunan dirancang untuk merespon bentuk tapak yaitu di sudut jalan dengan membentuk lengkungan di sudut.

DIAGRAM KONSEP

The concept carried for this project is healing environment. Healing environment concept in this project is implemented on building’s interior and exterior as the main place of human activities. The limited land area causes the building form designed in this project is a single mass. The building mass designed by subtracting the mass to create a pilotis. The building shape designed to respond the site that is located at the corner of the street by creating a curve at the corner.

DIAGRAM KONSEP

151


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Rumah sakit ini dirancang untuk menampung 60 tempat tidur dan tingginya tidak melebihi 6 lantai. Rumah sakit dirancang dengan mengoptimalkan penggunaan luas lahan yang terbatas, menampilkan citra GKI Sinode Wilayah Jawa Timur, menciptakan citra interior yang bertujuan menyembuhkan dan memulihkan, hemat energi, memaksimalkan penggunaan pencahayaan alami dalam ruangan serta meminimalisir kebisingan dan getaran yang disebabkan oleh kereta api yang melintas dekat tapak.

152

This hospital is designed to accomodate 60 beds and the height does not exceed 6 floors. The hospital is designed by optimising use of limited land area, displaying the image of GKI Sinode Wilayah Jawa Timur, creating a interior image that aims to curing and healing, save enery, maximise the indoor natural lighting and minimise the noise and vibration caused by train passing through nearby.


Epilogue Oktober 2019

Bangunan terdiri dari 6 lantai dan 3 lantai basemen. Basemen tidak hanya berfungsi sebagai tempat parkir namun juga menaungi fungsifungsi pendukung dan dua instalasi. Lantai dasar dirancang dengan pilotis. Lantai 2 hingga 6 dirancang lebih luas dari lantai dasar untuk memaksimalkan luas bangunan yang dapat terbangun. Ruang-ruang tunggu di dalam bangunan dirancang dengan memaksimalkan luas karena adanya kencenderungan perilaku masyarakat ekonomi menengah ke bawah untuk mengantar pasien secara berbondongbondong.

Cindy Claudia Prawitasari Yusuf

The building is consisted of six floors and three basement floors. Basement floors are not only functions as parking lot but also accomodate supporting functions and two hospital installations. The ground floor is designed with pilotis. Floor 2 to 6 designed wider than the ground floor to maximise the building area that can be built. The waiting rooms are designed by maximising the area due the behavioral tendency of the middle-class and lower-class economy societies to accompany patients in large groups.

153


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Oasis Landscraper

Extreme Sport Centre di Jl. Jend. Sudirman, Bandung Extreme Sport Centre at Sudirman Street, Bandung

oleh | by Theofillus Terry 15215037 pembimbing |supervisor Ir. Indra Budiman S, M.Sc., Ph.D. tipologi | typology Fasilitas Publik | Public Facility luas | area 6703 m2

154

Extreme Sport merupakan olahraga yang mulai disenangi oleh masyarakat Indonesia. Namun semakin besarnya komunitas dan masyarakat yang bergerak pada olahraga extreme sport tidak disertai dengan peningkatan sarana yang memadai. Hal ini menyebabkan para pelaku olahraga menjadi sering beraktivitas di sisa-sisa ruang kota dan diasumsikan sebagai kegiatan negatif oleh masyarakat. Maka dari itu Kemenpora, dalam melakukan peningkatan sarana pada olahraga extreme sport juga ingin mengenalkan olahraga ini kepada masyarakat luas, sehingga proyek Extreme Sport Centre

Extreme Sport is a sport that is starting to be loved by the people of Indonesia. But the bigger the size of community and the people who are engaged in extreme sport are not accompanied by improvement of adequate facilities. This has caused sports players to become active in the remnants of urban space and assumed to be negative activities by the community. Therefore the Ministry of Youth and Sports, in improving facilities in extreme sports, also wants to introduce this sport to the wider community, so that the Extreme Sport Centre project to be built is also planned so that it can be a place where


Epilogue Oktober 2019

yang akan dibangun juga direncanakan agar dapat menjadi tempat masyarakat melihat dan memahami extreme sport itu sendiri. Olahraga Extreme Sport yang diwadahi yaitu Skateboarding, BMX Freestyle, dan Wall Climbing. Lokasi tapak terletak di Jalan Jend. Sudirman, Bandung. Kawasan Sudirman merupakan kawasan padat penduduk yang didominasi oleh aktivitas perdagangan, hal ini menjadi isu utama dimana kawasan ini dirasa kurang memiliki tempat yang dapat digunakan oleh publik, tepatnya untuk anak muda dan masyarakat maka kawasan ini perlu untuk dihidupkan kembali.

Theofillus Terry

people see and understand extreme sport itself. Extreme Sport is included in Skateboarding, BMX Freestyle, and Wall Climbing. The site is located on Jalan Jend. Sudirman, Bandung. Sudirman area is a densely populated area that is dominated by trade activities, this is a major issue where this area is deemed to have a place that can not be used by the public, precisely for young people and the community, because of that this area needs to be revived.

155


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Konsep utama yang ingin dibawa pada bangunan Extreme Sport Centre adalah Oasis Landscraper, dimana tapak akan menjadi ruang publik positif bagi masyarakat dan pelaku extreme sport. Dimana unsur-unsur bangunan didesain untuk memberikan suasana Urban Oasis pada kawasan padat. Urban Oasis juga merupakan hasil respon dari kurangnya vegetasi dan peneduh di Kawasan Sudirman. Untuk memfasilitasi masyarakat agar dapat melihat, mencoba, dan berinteraksi dengan pelaku extreme sport maka penggabungan elemen publik dan olahraga dilakukan pada area publik.

156

The main concept that wants to be taken at the Extreme Sport Center building is the Oasis Landscaper, where the site will be a positive public space for the public and extreme sport actors. Where the building elements are designed to give the atmosphere of Urban Oasis in a dense area. Urban Oasis is also the result of a response to a lack of vegetation and shade in the Sudirman Area. To facilitate the public to be able to see, try, and interact with extreme sport actors, the merging of public and sports elements is carried out in public areas.


Epilogue Oktober 2019

Konsep bangunan didesain agar memiliki bentuk sederhana berupa bentukbentuk dasar seperti balok massa. Hal tersebut dipilih untuk menyesuaikan urban tissue yang memiliki kepadatan tinggi di sekitar lokasi tapak. Sehingga bentuk yang terlalu ekstrem akan menjadi kurang baik dan tidak ada jarak untuk melihatnya. Melalui pola sirkulasi yang telah direncanakan maka konsep oasis landscraper diterapkan dalam bentuk elemen ramp yang menjadi daya tarik utama pada bangunan seperti layaknya berjalan di landaian sebuah bukit yang berlanjut terus sampai ke atap bangunan.

Theofillus Terry

The concept of the building is designed to have simple shapes in the form of basic shapes such as mass blocks. It was chosen to adapt urban tissue that has a high density around the site. So that the form is too extreme will be less good and there is no distance to see it. Through the planned circulation pattern, the concept of a landscaper oasis is applied in the form of a ramp element that is the main attraction of a building like walking on a sloping hill that continues all the way to the roof of a building.

GUTTER

STEEL BOX GIRDER (80 \/ 60

METAL SHEET ROOF

+10.30

HOLLOW STEEL (15 \/ 15

RAILING

+10.30

STEEL TRUSS STEEL FRAME (35 \/ 5

CLIMBING WALL

CONCRETE BEAM

+7.00 GLASS

GLASS PANEL

ALUMINIUM FRAME STEEL STAIR

+3.65

PERFORATED METAL SHEET

STEEL IWF COLUMN (60 \/ 60

CONCRETE COLUMN CONCRETE PEDESTAL

RETAIL

± 0.00

± 0.00

+ 0.15

± 0.00

CONCRETE WALL

WATER PROOFING PERIMETER DRAIN SYSTEM

- 4.00

BASEMENT - 4.00

BASEMENT - 4.00

- 4.00

BASEMENT

- 4.00

- 4.00

DRAINAGE LAYER CONCRETE SLAB

POTONGAN PRINSIP A

POTONGAN PRINSIP B

SKALA 1 : 100

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR SEKOLAH ARSITEKTUR PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

SKALA 1 : 100

AR 4099

STUDIO TUGAS AKHIR SEM II - 2018/2019

EXTREME SPORT CENTRE

157

POTONGAN PRINSIP C SKALA 1 : 100

KOORDINATOR :

IR. TRI YUWONO, M.T.

NAMA : THEOFILLUS TERRY

PEMBIMBING:

NIM:

IR. INDRA BUDIMAN SYAMWIL, M.Sc., Ph.D

152 15 037


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

PERSPEKTIF PALING BAGUS

Healing Architecture for Women: Rumah Sakit Wanita di Bandung Bandung Women Hospital

oleh | by Shafira Aisyah Fitri 15215043 pembimbing |supervisor Dr. Ir. Woerjantari MT. tipologi | typology rumah sakit | hospital luas | area 2,9 ha

158

Wanita dengan perannya menjadi seorang ibu sewajarnya memiliki kondisi fisik dan psikologis yang sehat. Hal ini dikarenakan kondisi seorang ibu akan memberikan dampak yang signifikan pada kondisi sang anak. Oleh karena itu, kesehatan seorang wanita perlu untuk diperhatikan dengan peningkatan fasilitas kesehatan bagi wanita. Proyek rumah sakit wanita ini merupakan sebuah proyek perancangan rumah sakit khusus kelas B. Proyek ini terdiri dari tiga lantai podium dan empat lantai rawat inap dengan total luas sekitar 29.000 m2.

A woman with her role as a mother naturally has to has a healthy physical and psychological condition. This is because the condition of a mother will have a significant impact on the condition of the child. Therefore, we needs more concern to improve the women’s health by improving the health facilities for women. This hospital project classified as Special Hospital Type B (based of regulation by Ministry of Health in Indonesia). This project consist of three podium floor and four inpatient floor with total area around 29.000 m2.


Epilogue Oktober 2019

Lokasi perancangan terletak di daerah Soekarno Hatta No.391, Bandung, dengan luas lahan sekitar 13.000 m2. Lingkungan tergolong pada kawasan suburban yang dikelilingi oleh perkantoran dan perumahan sehingga menyebabkan kondisi sekitar rumah sakit tidak terlalu padat dan lalu lintas tidak terlalu tinggi. Namun hal ini menyebabkan kecepatan kendaraan yang melintas cukup tinggi. Selain itu di samping tapak terdapat aliran anak sungai kecil sehingga dapat dimanfaatkan untuk fitur lansekap tapak.

Shafira Aisyah Fitri

The project is located in Soekarno Hatta, Bandung, with total area project around 13.000 m2. The environment is classified as a suburban area surrounded by offices and housing, so that the conditions around the hospital are not too dense, noisy, and traffic is not too high. But this condition causes the vehicle speed in front of the porject area to pass quite high. In addition, in the site there is a small river flow so it can be used for the landscape features of the site.

Area perancangan Project Area Area Perkantoran Office

Area Perumahan Kepadatan Tinggi High Density Housing Sawah Ricefield Lahan Kosong Empty Land Kendaraan umum yang melintasi tapak Public Transportation

159


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan gizi bagi wanita. Dengan tujuan proyek tersebut, maka didapatkan misi perancangan yaitu menciptakan lingkungan dan ruangan yang berkualitas dan mampu mendukung proses penyembuhan. Sehingga didapatkan kriteria utama dari perancangan rumah sakit khusus wanita ini yaitu untuk merancang sebuah rumah sakit yang dapat mewadahi kebutuhan-kebutuhan wanita yang diwujudkan dalam sebuah desain rumah sakit yang modern dan fleksibel, yang dimaksudkan untuk membantu proses penyembuhan. Selain itu rumah sakit juga harus sesuai dengan standar-standar yang berlaku, dan memiliki sirkulasi yang efektif. Ditambah lagi dengan kondisi pengguna yang merujuk pada jenis kelamin tertentu yaitu wanita, tingkat privasi merupakan hal yang penting dalam perancangan rumah sakit ini.

160

The project aims to improve health and nutrition services for women. With the aim of the project, the design purpose is to create a quality environment and space that is able to support the healing process. So the main criteria obtained from the design of this hospital for women is to design a hospital that can accommodate women’s needs that are manifested in a modern and flexible hospital design, which is intended to help the healing process. In addition the hospital must also comply with applicable standards, and have effective circulation. Coupled with the condition of the user who refers to a particular gender that is female, privacy level is important in the design of this hospital.


Epilogue Oktober 2019

Massa bangunan dibentuk dengan menggunakan modul dasar persegi panjang yang disusun dan dihaluskan sudutnya. Hal ini bertujuan agar konsep lengkung mulai muncul dan dapat dieksplorasi kembali. Modul yang disusun ini kemudian disesuaikan dengan kebutuhan luas bangunan sehingga membentuk sebuah bentuk yang lebih masif. Bentuk ini disusun secara vertikal sehingga makin ke atas, bangunan menjadi makin ramping, dan tersisa bagian tower bangunan yang kembali menggunakan bentuk modul awal. Permainan bentuk yang dihasilkan memunculkan balkon-balkon kecil yang kemudian dimanfaatkan sebagai taman-taman hijau. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung area ruang hijau tapak pada bangunan untuk merespon lingkungan sekitar bangunan.

Shafira Aisyah Fitri

The mass of the building is formed using a rectangular base module that is arranged and smoothed at an angle. It is intended that the concept of arcing begins to emerge and can be explored again. The modules compiled are then adjusted to the needs of the building area to form a more massive shape. This shape is arranged vertically so that more upward, the building becomes more streamlined, and the remaining part of the building tower is back to using the initial module form. The resulting form gave small balconies which can be used as healing garden. This is intended to support the green space area of the site in the building to respond to the environment around the building.

161


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Library as Urban Living Room:

Perpustakaan Publik Kota Yogyakarta Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta

Yogyakarta Public Library, Special Region of Yogyakarta

oleh | by Fikri Anam 15215058 pembimbing |supervisor Aswin Indraprastha, ST., MT., M.Eng., Ph.D. tipologi | typology fasilitas publik | public facility luas lahan | site area 6.800 m² luas bangunan | building area 8.900 m�

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Yogyakarta yang memegang tanggung jawab terhadap perkembangan perpustakaan di ‘kota pelajar’ dirasa mampu dan memiliki potensi untuk memberi paradigma baru bagi masyarakat terhadap apa yang disebut perpustakaan modern, sebuah perpustakaan yang menyesuaikan kebutuhan informasi dan literasi sesuai dengan konteks zamannya sekaligus menjadi ruang aktivitas sosial dan budaya bagi masyarakatnya. Pendekatan baru tersebut kemudian diejawantahkan dalam konsep-konsep ruang dan sistem perpustakaan, menciptakaan pengalaman ruang publik yang segar bagi masyarakat.

Lobi sebagai pusat kegiatan publik Lobby as a center of public activity

162

The Yogyakarta City Archives and Library Official which holds responsibility for the progression of library in Yogyakarta has the capability and potency to forming new paradigm for the public about what so-called modern libraries, a library that fit to the information and literacy needs that corresponding the nowadays context and to create social and culture spaces for the people.

The new approach is then manifested in the concepts of space and system of the new library, creating mixed and fresh experience of public space for the community.

Pembaruan sistem penyajian koleksi Reclamation of library collection system

Pemusatan sirkulasi dan program terhadap void Orientating the circulation and programs within the void


Epilogue Oktober 2019

Fikri Anam

KOMERSIAL COMMERCIAL

PERPUSTAKAAN LIBRARY

Suasana dari Jalan Batikan Scene from Batikan Street

Dalam skema perencanaannya, Perpustakaan Publik Kota Yogyakarta merupakan bagian dari suatu komplek pendidikan dan edukasi baru bagi Kota Yogyakarta. Perpustakaan Publik Kota Yogyakarta memiliki karakteristik program ruang yang harus dapat menjalankan fungsinya sebagai pusat literasi, ruang publik, dan area servis perpustakaan. Fungsi-fungsi perpustakaan kemudian dipecah menjadi program-program yang diwujudkan dalam bentuk ruang sekaligus sistem. Dalam perwujudannya, perpustakaan publik tersebut diharapkan juga memiliki kapasitas untuk turut dijadikan sebagai destinasi objek budaya dan pendidikan.

Tampak Timur | East Elevation

PUSAT PENDIDIKAN | EDUCATION CENTER (PENGEMBENGAN SELANJUTNYA | FUTURE DEVELOPMENT)

Skema Perencanaan Planning Scheme

In its planning scheme, Yogyakarta Public Library is a part of the new education and cultural complex for the City of Yogyakarta. Yogyakarta Public Library has the characteristics of a space program that must be able to carry out its functions as a center for literacy, public space, and library service areas. Library functions are then broken down into programs that are realized in the form of space as well as systems. In its forming process, the public library is also expected to have the capacity to function as a destination for cultural and educational spaces.

Program Perpustakaan Library Programming

Tampak Selatan | South Elevation

163


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Suasana luar perpustakaan Scene from outside the library

Sebagai isu utama Perpustakaan Publik Kota Yogyakarta, intensi untuk membuat ruang publik berupa perpustakaan untuk dapat diminati kembali oleh masyarakat luas dibawa dalam konsep perancangan. Perpustakaan harus dapat seterbuka mungkin dan dapat diakses semudah mungkin oleh masyarakat. Segala kemungkinan aktivitas dan kegiatan yang bersifat publik ditampung dalam perpustakaan melalui program dan fungsi perpustakaan. Keseimbangan peran perpustakaan untuk perkembangan literasi dan pemenuhan kebutuhan ruang aktivitas bagi publik menjadi perhatian utama dalam penjabaran konsep desain perpustakaan.

Pengangkatan lantai dasar menciptakan ruang publik yang terbuka Lifting the ground floor to creates an open public space

Membuat variasi void untuk meningkatkan visibilitas visual Variating the void to improve visual visibility

membawa lokalitas dalam teknik konstruksi lanjutan untuk memberikan rupa baru bringing locality within advanced construction techniques to give a new persona

164

As the main issue of Yogyakarta Public Library, intention to produce public space in the form of a library so that it can be sought by the wider community is carried out in the design concept. The library must be as open as possible to be accessible for the public. All the possibility of people activities and public behaviour are accommodated in the library through library programs and functions. The equipoise of the library's role for the growth of literacy and fulfill the needs of activity space for the public became the major concern in the elaboration of library design concepts.

panel fasad facade panel

k-joist bentang 24 m 24m-span k joist

inti bangunan dan struktur besi tipikal core and typical steel structure


Epilogue Oktober 2019

Fikri Anam

Suasana taman perpustakaan Scene from library garden

Pada perpustakaan, dibentuk sirkulasi yang berada mengelilingi void dan program-program ruang perpustakaan. Sirkulasi perpustakan dibuat menjadi perpanjangan dari fungsi publik perpustakaan, sebagai area bebas untuk berinteraksi dan beraktivitas. Utilitas bangunan perpustakaan dirancang untuk dipusatkan pada lantai basement. Inti bangunan difungsikan sebagai shaf vertikal yang pusat utilitas tiap lantai, mendukung jalur utilitas utama.

Suasana interior perpustakaan Scene from library interior

In the library, a circulation is formed around the voids and library space programs. Library circulation is made into an extension of the library's public function, as a freespace for public interaction and activity. The library utility system is designed to be concentrated on the basement floor. The building core functions as a vertical shaft which centers the utility operation of each library floor, supporting the main utility system.

Potongan A-A' Section A-A'

Potongan B-B' Section B-B'

Servis dan Sistem Utilitas Service and Utility System

165


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Harmony In Wave:

Arena dan Pusat Rekreasi Akuatik Pakansari, Bogor

Aquatic Center in Pakansari Sports Complex

oleh | by Baihaqi Dzaky Rizkia 15215062 pembimbing |supervisor Dr. Ing. Ir. Boedi Darma Sidi, MSA tipologi | typology olahraga | sports luas | area 5.6 ha

166

Keharmonisan Lingkungan Berlokasi di lingkaran kompleks olahraga pakansari, akan menciptakan sumbu imajiner dari pusat lingkaran, menjadikannya sebagai konsep massa bangunan dan lansekap untuk menjaga keharmonisan di daerah ini. Bangunan terletak pada juring luar lingkaran dimana terdapat stadion utama bola ditengahnya, dan rencana pembangunan jalan entrance utama disampingnya. Rancangan bangunan ini memaksimalkan sirkulasi kendaaraan dan pedestrian, dengan memisahkannya secara langsung saat memasuki site. Rancangan juga, memaksimalkan sirkulasi permeable pada bagian dalam dan luar bangunan.

Environment Harmony Located in pakansari ring sports complex, will create the imaginary axis from its circle, making it to be used as building mass and landscape design concept for maintain the harmony in this area. The building is located on the outer ring of the circle where there is a football stadium in the middle, and plans to construct a main entrance road beside it. This building design maximizes vehicle and pedestrian circulation, by separating it directly when entering the site. The design also, maximizes permeable circulation on the inside and outside of the building.


Epilogue Oktober 2019

Vegetasi Sebagai Landscape Dikelilingi oleh wilayah dengan pemandangan hijau. Vegetasi yang mengelilingi lingkungan, akan dijadikan sebagai konsep lansekap proyek ini. Penerapan konsep vegetasi sebagai landscape diletakkan pada entrance utama, sebagai peralihan antara jalan dan lingkungan pedestrian. Vegetasi juga diletakkan pada setiap jalur permeable antara massa bangunan guna menambah kesejukkan dan menghidupkan ruang luar. Unsur air juga ditambahkan pada ruang luar bangunan ini, pada bagian amphitheater serta tangga menuju tribun penonton.

DIAGRAM KONSEP

Baihaqi Dzaki Rizkia

Vegetation As Landscape Surrounded by green scenery region. This vegetation landscape, will be used as a landscape concept of this project. Application of the concept of vegetation as a landscape is placed at the main entrance, as a buffer between the road and the pedestrian environment. Vegetation is also placed on each permeable path between the mass of the building in order to increase the coolness and animate outer space. An element of water was also added to the outer space of the building, at the amphitheater and stairs to the stands.

DIAGRAM KONSEP

167


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Pembangunan Berkelanjutan Desain bangunan menerapkan sistem panghawaan alami dan pencahayaan alami dengan perwujudan desain berupa penutup atap yang terbuat dari bahan kaca pada bagian tengahnya dan bangunan dibiarkan semi terbuka untuk menciptakan penghawaan alami bagi pengunjung di dalamnya. Desain bangunan terbagi menjadi 3 massa didasari oleh kepentingan fungsi bangunan ini sendiri dan terbentuk pemisahan massa oleh garis As stadion utama. Sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki dipisahkan sejak memasuki lahan, dan memaksimalkan potensi lahan bagian depan sebagai ruang terbuka hijau dan area bersantai.

168

Sustainability Development The building design implements a natural air and natural lighting system with a design embodiment in the form of a roof covering made of glass in the center and the building is left semi-open to create natural air for visitors inside. The design of the building is divided into 3 masses based on the importance of the function of the building itself and formed a mass separation by the main stadium As line. Circulation of vehicles and pedestrians is separated since entering the land, maximizing the potential of the front land as a green open space and leisure area.


Epilogue Oktober 2019

Representasi Bentuk Bangunan utama memaksimalkan efisiensi struktur dengan membaginya menjadi 2 lengkungan atap, dengan struktur kaca di tengahnya untuk menyederhanakan siang hari. Di dalam bangunan utama ini ada ukuran kolam Olimpiade yang dapat digunakan untuk kompetisi internasional. Bangunan penunjang dibentuk dengan melanjutkan kurva dari struktur bangunan utamanya dan diadaptasi dari gerakan gelombang. Di dalam bangunan penunjang ini terdapat kolam rekreasi dan kolam pemanasan yang dapat digunakan untuk fasilitas umum dan tujuan klub.

Baihaqi Dzaky Rizkia

Form Representation Main building maximizing efficient of structure by divide it into 2 curves roof, with glass structure in the middle for mazimizing daylight. Inside this main building there is an olympic pool size that can be used for international competition. Supporting buildings formed by continuing the curves from its main structure building and adapted from wave movement. Inside this supporting buildings there is an recreational pool and warm up pool that can be used for public facility and club purpose.

169


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Bumi Bagja:

Rumah Sakit Jiwa Kabupaten Garut Garut District’s Mental Hospital

oleh | by Theresia Priscylla Adelina A. 15215064 pembimbing |supervisor Dr. Ir. Woerjantari MT. tipologi | typology rumah sakit | hospital luas | area 17.565 m2

170

Pemerintah kabupaten Garut Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Garut berencana untuk membangun Rumah Sakit Jiwa di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hal ini dilakukan karena meningkatnya populasi penderita gangguan jiwa di Jawa Barat. Perancangan Rumah Sakit Jiwa ini didasari oleh kurangnya fasilitas rawat inap bagi penderita gangguan jiwa di RSUD Dr. Slamet, Garut, sebagai rumah sakit rujukan penderita gangguan jiwa di Garut, dan kurangnya kapasitas pelayanan kesehatan jiwa dari RSJ Provinsi Jawa Barat.

Garut District’s Government and Garut District’s Health Department are planning to build a mental hospital in Garut District, West Java. This is planned due to the increasing number of mental patients in West Java followed by the lack of services for mental health patients in Dr. Slamet Hospital in Garut, as the West Java Province Mental Hospital can not afford to manage all of the mental patients coming from all over West Java.


Epilogue Oktober 2019

Nama “Bumi Bagja”, yang secara harfiah berarti “rumah bahagia” dalam Bahasa Sunda, dipilih untuk proyek ini dengan harapan menghilangkan stigma masyarakat terhadap kesehatan jiwa dan rumah sakit jiwa, serta dianggap memberikan kesan yang positif terhadap rumah sakit jiwa. Perancangan rumah sakit jiwa akan lebih mengedepankan konteks lingkungan untuk penyembuhan supaya sesuai nama yang dipilih, rumah sakit jiwa akan menciptakan lingkungan yang sehat dan bahagia bagi para penggunanya.

Theresia Priscylla Adelina A.

The name “Bumi Bagja”, which literally means “happy home” in Sundanese, is chosen for this project, hoping that the stigm of mental health and mental hospital may disappear, and giving the mental hospital a positive vibe so that the chosen name can reflect the healthy and happy environment for its users. The design will not only consists of the hospital building design, but also its healing environment design.

171


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

KONSEP BANGUNAN Bangunan rumah sakit jiwa yang dirancang merupakan bangunan yang simetris pada dua sisi sebagai analogi sayap kupu-kupu. Bentuk sayap kupukupu dipilih karena menggambarkan gerakan “butterfly project” yang mengajak para pengidap “self-harm” untuk berhenti melukai diri sendiri sehingga dapat terbebas dari jeratan gangguan kesehatan mental layaknya kupu-kupu yang terbang bebas.

172

BUILDING CONCEPT The mental hospital building is designed as a symmetrical pair of building which represents the butterfly wings. The butterfly shape is taken from the “butterfly project” which encourages the “self-harming” people to stop hurting themselves so that they can be released from the neverending cycle of mental disorders like a butterfly flying to the sky.


Epilogue Oktober 2019

ZONASI Zonasi massa bangunan terbagi menurut privasi per lantai. Lantai dasar merupakan area publik yaitu area poliklinik dan instalasi gawat darurat. Lantai dua bagian selatan (kiri) merupakan area semi-publik yaitu area rehabilitasi dan masjid, sementara lantai dua bagian utara (kanan) merupakan area privat yang hanya bisa diakses oleh staf yang berkepentingan, mencakup area back of the house dan administrasi rumah sakit jiwa. Lantai tiga merupakan lantai rawat inap kejiwaan yang memiliki akses terbatas khusus pasien dan staf terkait.

Theresia Priscylla Adelina A.

ZONING The building area is divided into 3 floors. First floor is the public area where general and mental clinic and emergency room takes place. The second floor consists of the south part for mental rehabilitation and mosque, and the north part for the administration and hospital’s back of the house area. The third floor is the inpatients’ area which is restricted only for patients and medical staff.

173


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Architecture of Hope as a Therapy

Rumah Sakit Khusus Kanker Kelas B Yogyakarta Cancer Hospital in Yogyakarta

oleh | by Mentari Hanifa Dzikrina 15215069 pembimbing |supervisor Dr. Ir. Lily Tambunan, M.T. tipologi | typology rumah sakit | hospital luas | area 28.000 m2

174

Fasilitas pengobatan kanker di Indonesia masih terbilang minim, terlebih di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dimana angka insidensi dan mortalitas akibat penyakit kanker termasuk yang paling tinggi. Kebutuhan tersebut melatarbelakangi pengembangan rumah sakit khusus kanker kelas B di Kota Yogyakarta. Rumah sakit tersebut terletak di tengah kota, di lahan sebesar 28.000m2. Konteks yang dititikberatkan pada proyek ini adalah kebutuhan pengguna akan fasilitas pengobatan yang lengkap dan disertai dengan lingkungan yang membantu penyembuhan.

Cancer treatment facilities in Indonesia are still in a minimum state, especially in the regions of Central Java and Yogyakarta, where the incidence and mortality rates due to cancer are among the highest in Indonesia. This need then becomes the background of the development of a class B cancer hospital in the city of Yogyakarta. The hospital is located in the center of Yogyakarta City, on an area of ​​28,000m2. The context emphasized in this project is the user’s need for a comprehensive cancer treatment facility but accompanied by an environment that helps the healing process.


Epilogue Oktober 2019

Melalui hasil berbagai analisis, diperoleh tiga isu utama yaitu isu psikologi pengguna, isu kenyamanan, dan isu efektivitas ruang. Untuk menjawab ketiga isu tersebut, diambil konsep “Architecture of Healing as a Therapy” dalam proyek ini. Berdasarkan konsep tersebut, proyek ini dirancang untuk menjadi rumah sakit yang dapat memberikan fasilitas pengobatan yang maksimal dengan memenuhi segala kebutuhan pengguna sekaligus menjadi lingkungan penyembuhan bagi pasien. Bangunan ini terdiri dari empat massa bangunan utama yang membentuk sebuah innercourt di tengahnya.

Mentari Hanifa Dzikrina

Through the results of various analyzes, three main issues were obtained, namely the issue of user psychology, the issue of comfort, and the issue of space effectiveness. To answer these three issues, the concept of “Architecture of Healing as a Therapy” was taken in the design of this project. Based on this concept, this project is designed to be a hospital that can provide maximum treatment facilities by meeting all the needs of its users while becoming a healing environment for the patients. This building consists of four main building masses that forms an innercourt in the center of the site.

175


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Konsep Architecture of Hope dalam hasil rancangan dapat ditemui pada desain area-area yang menjadi ruang tunggu, ruang berkumpul bagi pasien dan keluarganya, dan ruang staf yang diberikan view alam sekitar. Beberapa rooftop garden juga dibuat sebagai tempat healing sekaligus memanfaatkan ruang yang ada. Innercourt di tengah tapak menjadi pusat orientasi masingmasing massa bangunan. Innercourt tersebut menjadi pemandangan dari dalam bangunan dan sekaligus menjadi ruang terbuka yang dapat diakses langsung oleh pengguna.

176

The concept of Architecture of Hope in the final design can be found in the areas that serve as waiting rooms, meeting rooms for patients and their families, and staff rooms that are given a view of the natural surroundings. Some rooftop gardens are also made as a healing place while utilizing the existing space. Innercourt in the middle of the site becomes the main orientation of each building mass. This innercourt works as a view from inside the building and also becomes an open space that can be accessed directly by the user.


Epilogue Oktober 2019

Mentari Hanifa Dzikrina

KAMAR RAWAT INAP PATIENT’S ROOM

Terdapat fasilitas tambahan berupa ruang terbuka yang dapat menjadi ruang berkomunitas pasien & keluarga pasien. Efektivitas ruang dicapai dengan pembagian zonasi rumah sakit melalui pembedaan massa & dengan adanya main spine yang diletakkan di sekeliling innercourt utama dan menjadi sirkulasi utama antar instalasi. Main spine. Kenyamanan pengguna dicapai dengan memperhatikan pencahayaan alami pada ruang-ruang publik rumah sakit dan penghawaan alami di beberapa area sirkulasi dan penghawaan buatan di ruang-ruang yang suhunya memiliki ketentuan tersendiri.

There are additional facilities in the form of open space that can be a place for patients and their families to gather. The space effectivity of this hospital is achieved by the division of its zoning through mass differentiation and by creating a main spine which becomes the main circulation between each installations. The main spine is placed around the main innercourt. User comfort is achieved by paying attention to natural lighting in public spaces of this hospital and natural ventilation in some circulation areas and artificial ventilation in rooms where the temperature has its own provisions.

POTONGAN SECTION

177


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Nature Infused Hospital:

Rumah Sakit Umum Daerah Tapos, Kota Depok Tapos Regional Public Hospital in Depok City

oleh | by Nur Fajrina Ramadhani 15215076 pembimbing |supervisor Dr. Ir. Woerjantari MT. tipologi | typology rumah sakit | hospital luas | area 15.000m2

178

Pendahuluan Depok sebagai kota setelit DKI Jakarta hanya memiliki satu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang terletak di Kecamatan Sawangan. Letaknya yang cukup jauh dikeluhkan oleh warga Kota Depok di wilayah timur sehingga kota ini membutuhkan rumah sakit umum daerah baru. Rumah Sakit ini merupakan proyek nyata yang diprakarsai oleh pemerintah Kota Depok dan Departemen Kesehatan. Selain itu, proyek ini sudah masuk ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPPJM) dengan sasaran pengguna masyarakat perekonomian rendah.

Introduction Depok as a metropolis of DKI Jakarta has only one Regional Public Hospital located in Sawangan District. Its location complained by eastern region of Depok City residents because its difficult to access so the city needs a new regional public hospital. This hospital is a real project initiated by the Depok City government and city health departement. This project has entered into the Medium-Term Development Plan with the target of low economic community users.


Epilogue Oktober 2019

Proyek ini adalah rumah sakit kelas C dan dapat menampung 124 tempat tidur. Rumah Sakit ini akan berfungsi sebagai penyelenggara pelayanan medis, pelayanan penjunjang medis dan non-medis, pelayanan rujukan, dan pelayanan administrasi dan keuangan. Fungsi-fungsi tersebut akan diwadahi oleh 15 instalasi sesuai Pedoman RSU Kelas C yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan. Isu utama perancangan antara lain biaya, lingkungan penyembuhan dan kenyamanan. Isuisu perancangan tersebut diselesaikan dengan satu konsep utama yaitu “Nature Infused Hospital�.

Nur Fajrina Ramadhani

This project is a class C hospital which can accommodate 124 beds. The hospital will function as a provider of medical services, medical and nonmedical support services, referral services, administrative services and financial services. These functions will be accommodated by 15 hospital installations according to the Class C General Hospital Guidelines issued by the Indonesia Health Departement. Key design issues include cost, healing environment and comfort. The design issues were resolved with one main concept, Nature Infused Hospital.

179


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Konsep Nature Infused Hospital Nature Infused Hospital didefinisikan sebagai rumah sakit yang memasukan unsur alam ke dalam bangunan. View hijau, tekstur, dan sinar matahari dapat mempercepat kesembuhan pasien di rumah sakit. Penulis menghadirkan unsur alam yang dapat dinikmati oleh empat indra manusia yaitu visual (penglihatan), audial (pendengaran), kinesthetic (peraba) dan olfactory (penciuman). Konsep ini diwujudkan dengan menghadirkan beberapa elemen alam pada fasad, taman, rooftop dan kamar rawat inap.

180

Nature Infused Hospital Concept Nature Infused Hospital is defined as a hospital that incorporates natural elements into buildings. Green views, texture, and sunlight can accelerate the recovery of patients in the hospital. The author presents natural elements that can be enjoyed by the four human senses namely visual, audial, kinesthetic (touch) and olfactory (smell). This concept is applied by presenting several natural elements in the facade, garden, rooftop and inpatient rooms.


Epilogue Oktober 2019

Pada fasad depan terdapat green wall sebagai elemen ‘penyambut’. Taman tengah dirancang sebagai tempat relaksasi untuk pasien dan pengunjung poliklinik. Rooftop garden berfungsi sebagai tempat relaksasi khusus bagi pasien rawat inap. Rooftop garden ini digunakan sebagai lokasi urban farming rumah sakit. Tujuannya agar pasien dapat teredukasi mengenai makanan sehat. Selain itu, pada kamar rawat inap diletakan tanaman-tanaman rambat pada jendela kamar sehingga pasien dapat menikmati dan melihat tanaman saat masa perawatan di rumah sakit.

Nur Fajrina Ramadhani

There is a green wall in the front facade as ‘welcome’ element to nature concept hospital. The main garden is designed as a place for outpatient patients relaxation and waiting area. Rooftop garden serves as a private place of relaxation for inpatients. This rooftop garden is used as a location for urban farming hospitals. The goal of urban farming is to help hospital economic dan patients education about healthy food. Vines is placed on the inpatient room windows so that patients can enjoy the nature during the treatment period in the hospital.

181


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Healing Nodes as Positive Distraction: Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B Cengkareng, Jakarta Barat

General Hospital in Cengkareng, West Jakarta

oleh | by Rayi Ruby 15215084 pembimbing |supervisor Prof. Dr. Ir. Sugeng Triyadi S., MT. tipologi | typology rumah sakit | hospital luas | area 2.6 ha

182

Latar Belakang Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk memenuhinya. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Jakarta Barat yang dalam hal ini diwakili oleh Dinas Kesehatan Kota Jakarta Barat berencana membangun rumah sakit umum kelas B di Kelurahan Cengkareng. Rumah sakit ini drencanakan untuk dapat menampung pasien yang berada dalam wilayah Kota Jakarta Barat dan Provinsi DKI Jakarta.

Project’s Background People’s need of healthcare facilities is an obligation for the ruling government to fulfill. Therefore, Jakarta Barat’s Government through its Public Health Office plan to build a class B general hospital in Cengkareng district. This hospital is planned to serve the people within Jakarta Barat region and DKI Jakarta province.


Epilogue Oktober 2019

Kapasitas Rumah Sakit Masyarakat menengah ke bawah menjadi target pasien utama rumah sakit ini. Dalam usahanya memenuhi kebutuhan pasien, rumah sakit ini menyediakan hingga 200 tempat tidur bagi pasien rawat inap. Pelayanan medis lainnya yang juga disediakan antara lain, layanan bedah operasi; layanan kebidanan dan kandungan; layanan perawatan intensif; layanan poliklinik; layanan pemeriksaan radiologi; serta layanan lainnya.

Rayi Rubi

Hospital Capacity The low income citizen become this hospital main target for health services. As part of the effort to meet the patients needs, this hospital provide up to 200 beds for inward patients. Other medical services provided in this hospital are, surgical services; obstetrics and gynecology; intensive care services; outpatient services, imaging services; and other services.

183


Fasilitas Publik public facility

Kinara Abhipraya

Rumah Sakit sebagai Kota Bangunan rumah sakit memiliki begitu banyak fungsi yang harus diwadahi dalam blok-blok massa. Banyaknya fungsi yang harus diwadahi ini, mengakibatkan konfigurasi ruang di dalam bangunan rumah sakit sangat kompleks dan bila tidak melalui pertimbangan dan perancanaan yang matang dapat menciptakan koridorkoridor sempit, gelap dan panjang serta konfigurasi ruang yang membingunkan. Oleh karena itu, pada perancangan rumah sakit ini perlu ditetapkan metode yang akan digunakan dalam menyusun fungsi-fungsi ruang yang menjadi pesyaratan serta jalur-jalur yang akan menghubungkan antar fungsi tersebut. Dalam proyek perancangan rumah sakit ini panduan yang digunakan dalam mengatur konfigurasi ruang dan jalurjalur penghubungnya adalah gagasan Kevin Lynch dalam bukunya Image of The City yaitu bahwa kota disusun oleh 5 elemen fisik yaitu, paths, nodes, landmarks, edges, dan districts.

184

Hospital as City Hospital building have so many functions to be included in each blocks of the hospital. The amount of funcition and intallation for a hospital to fulfill required a complex rooms configuration . Without careful planning and consideration, a confusing hospital’s room configuration could create a long, dark, and narrow corridors. Therefore, there should be a particular method or guideline to be used in organizing all required functions and paths that connect them. In this project, the guideline used to organize the room configuration in this projec is Kevin Lynch’s Image of The City idea. In his book, Image of The City, Kvin Lynch stated 5 characters that form a city; paths; nodes; landmarks; edges; and districts.


Epilogue Oktober 2019

Simpul Penyembuhan Konsep dasar yang diusung dalam perancangan rumah sakit ini adalah healing nodes as positive distraction. Penerapan konsep dasar ini di dalam desain adalah dalam bentuk penyediaan area-area dengan kemungkinan aktivitas tinggi yang kemudian dijadikan healing nodes. Simpul dapat berupa taman kecil dengan tanaman yang mengeluarkan aroma dan warna-warna tertentu, tempat duduk publik dengan tekstur yang beragam, & innercourt yang di dalamnya terdapat tempat duduk dan tanaman-tanaman.

Rayi Rubi

Healing Nodes The main idea in this hospital design project is to have healing nodes as positive distraction. The manifestation of this concept is the existence of areas with large amount of activities that being turned into healing nodes. Nodes could simply be a smal garden with aromatic and colorfour plantations, public chairs, or innercourts with public chairs and plants inside it.

185


Transportasi transportation

186

Kinara Abhipraya


Epilogue Oktober 2019

transportasi

transportation

Transportasi transportation

188 Space and Time Fabian Mohammed Rukmana

192 The Icon of Mojokerto Tourism Area Syifa Anggita Nur Yudanti

196 Mamanda Airport Haryono Kurniawan

200 Re-design Terminal Penumpang Bandar Udara Mali, Alor Sasqia Nurul Azmi

204 Gerbang Tanah Melayu Keshia Simatupang

208 Urban Catalyst Faza Nugraha Sudarwan

187


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Space and Time:

Terminal Bus Tipe A Bernuansa Sunda di Cicaheum

Sundanese Nuanced Type A Bus Terminal at Cicaheum

oleh | by Fabian Mohammed Rukmana 15215003 pembimbing |supervisor Dr.-Ing. Ir. Boedi Darma Sidi, MSA tipologi | typology transportasi | transportation luas | area 5 ha

188

Bandung merupakan ibu kota Jawa Barat yang setiap hari didatangi orang dari luar kota melalui transportasi darat. Peningkatan pendatang dari Timur ini menjadikan terminal bus Cicaheum menjadi sangat penting bagi pengendalian lalu lintas di kota. Pemerintah kota berniat merancang ulang terminal ini sebagai solusi yang baik untuk pengaturan kendaraan umum di wilayah itu. Terminal ini selain mengakomodasi transportasi umum juga bisa memenuhi kebutuhan rekreasi, perbelanjaan, kuliner serta layanan lainnya masyarakat di samping meningkatkan kualitas visual kawasan. Perancangan terminal diharapkan memenuhi ciri lokalitas Jawa Barat.

Bandung is the capital of West Java, which is visited by people from outside the city every day by land transportation. This increase in arrivals from the East makes the Cicaheum bus terminal very important for city traffic control. The city government will intend to redesign this terminal as a good solution for regulating public transport in the region. This terminal will not only accommodate public transportation but also serve the needs of recreation, shopping, culinary and other community services in addition to improving the visual quality of the area. Terminal design is expected to meet the characteristics of the locality of West Java.


Epilogue Oktober 2019

Terminal bus tipe A ini dimiliki oleh pemerintah yang merupakan klien yang akan mengelola terminal tersebut. Melihat keadaan jalanan Bandung yang sudah padat akibat melonjaknya jumlah kendaraan pribadi, pemerintah berencana akan mengalihkan kendaraan pribadi ke kendaraan umum seperti bus. Oleh karena itu, pemerintah mengusung pengadaan proyek pembangunan kembali terminal-terminal bus di Kota Bandung, salah satunya di Cicaheum. Visi pembangunan terminal ini adalah menjadi pelaku utama peningkatan fasilitas pergerakan masyarakat dan penggerak perekonomian daerah setempat seperti Cicaheum.

Fabian Mohammed Rukmana

The type A bus terminal is owned by the government which is the client who will manage the terminal. Because of congested Bandung road conditions due to the surge in the number of private vehicles, the government planned to divert private vehicles to public vehicles such as buses. Therefore, the government carried out the procurement of projects to rebuild bus terminals in Bandung, such as Cicaheum. The vision of the construction of this terminal is to become the main actor in improving the facilities for community movement and the local economic drivers such as Cicaheum.

189


Transportasi transportation

190

Kinara Abhipraya

Konsep bangunan yang ingin dihadirkan adalah bangunan modern yang memiliki kesan sederhana. Konsep ini memadukan desain interior yang memberikan sentuhan bangunan adat sunda dengan palet-palet warna kayu berpadu dengan palet warna suku Sunda serta ekspresi yang secara keseluruhan menyerupai rumah tradisional khas Jawa Barat. Konteks lokal Sunda, maupun secara general, Jawa Barat diterjemahkan secara implisit pada konsep Space and Time. Terminal adalah tempat bagi penumpang untuk berorientasi dengan ruang dan waktu. Pada terminal baru Cicaheum ini, diharapkan penumpang dapat menangkap atmosfer Jawa Barat dalam ekspresi struktur, palet warna, dan penggunaan sebagian besar material alami yang mencerminkan kekayaan alam Jawa Barat dan budaya suku sunda secara langsung. Bentuk bangunan terminal direspon secara langsung dengan bentuk atap menyesuaikan rumah adat Jawa Barat, yaitu Julang Ngapak dengan tamengtameng di kedua ujungnya. Bangunan ini juga akan menyerupai rumah panggung.

The concept of the building to be presented is a modern building that has a simple impression. This concept combines interior design that gives a touch of Sundanese traditional buildings with wooden color palettes combined with the color palette of Sundanese tribes and expressions that overall resemble the traditional houses of West Java. The local context of Sundanese, as well as in general, West Java is implicitly translated in the concept of ‘Space and Time’. The terminal is a place for passengers to be oriented with space and time. At Cicaheum’s new terminal, passengers are expected to be able to capture the atmosphere of West Java in the expression of structure, color palette, and the use of most natural materials that reflect the natural wealth of West Java and Sundanese culture directly. The shape of the terminal building was directly responded to by the shape of the roof adjusting the traditional house of West Java, namely ‘Julang Ngapak’ with shields at both ends. This building will also resemble a house on stilts.


Epilogue Oktober 2019

Pencahayaan alami dan penghawaan yang efisien akan menjadi strategi desain pada konsep green building procedure. Konsep ini adalah serangkaian usaha untuk mencapai terminal yang berkelanjutan. Bangunan sedapat mungkin menghemat banyak konsumsi energi dengan bantuan alam. Untuk pencahayaan alami pada siang hari, desain terminal akan menggunakan fasad transparan yang menghadap utara dan selatan dengan memanfaatkan cahaya matahari. Untuk penghawaan alami, bangunan akan memiliki dinding berlubang, lubang ventilasi, atau kerawang yang menghadap ke semua sisi.

Fabian Mohammed Rukmana

Natural lighting and efficient handling will be a design strategy for the concept of green building procedure. This concept is a series of efforts to achieve a sustainable terminal. The building saves as much energy consumption as possible with the help of nature. For natural lighting during the day, the terminal design will use transparent facades facing north and south by utilizing sunlight. For natural ventilation, the building will have perforated walls, ventilation holes, or filigree facing all sides.

191


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

The Icon of Mojokerto Tourism Area Redesigning Mojokerto Train Station Ikon dari Daerah Wisata Mojokerto Perancangan Ulang Stasiun Mojokerto

oleh | by Syifa Anggita Nur Yudanti 15215005 pembimbing |supervisor Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko, ST.,MT. tipologi | typology transportasi | transportation luas | area 5265 m2

192

Stasiun Kereta Api yang berada di Mojokerto hanya satu, sehingga Stasiun Mojokerto ini diharapkan dapat menampung banyaknya permintaan transportasi kereta. Pariwisata Mojokerto mengalami kenaikan, dibutuhkan askes transportasi yang memadai terlebih tidak adanya bandara di Mojokerto. Mojokerto juga belum mempunyai ikon kota, menjadi kesempatan untuk membuat bangunan ikon kota. Stasiun ini berlokasi di Miji, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur dengan pemrakarsa oleh PT.KAI, Ditjen Perkeretaapian serta Pemkot Mojokerto, ditujukan kepada masyarakat Mojokerto & sekitarnya serta wisatawan.

There is only one Train Station in Mojokerto, so in hope, this Mojokerto Train Station can be accessed according to train transportation demand. Mojokerto tourism is increasing, it needs adequate transportation and because there is no airport in Mojokerto. Mojokerto also does not have a city icon yet, an opportunity to create an iconic city building. This station is located in Miji, Prajurit Kulon, Mojokerto City, East Java with the initiator by PT.KAI, Directorate General of Railways and Mojokerto City Government, which is intended for the people of Mojokerto & also with tourists.


Epilogue Oktober 2019

Besaran Stasiun yang dirancang seluas ± 5265 m�, Lahan seluas 15.631 m�. isu-isu utama dalam perancangan ini adalah ikon kota, desain universal, pariwisata, dan struktur, dengan isu dan persyaratan yang ada di dapat konsep besar dari desain ini yaitu Ikon dari Daerah Pariwisata Mojokerto. Dari konsep yang ada, dikembangkan konsep mendetail mengenai perancangan tapak, masa bangunan dan zonasi, dengan rancangan menambah bangunan di selatan jalur kereta api, luas dan jumlah lantai bangunan, jembatan penyebrangan antar bangunan. Pada kedua sisi diberi lahan parkir mobil, motor, serta sepeda, disediakan pula jalur pedestrian.

Syifa Anggita Nur Yudanti

The size of the train station designed is ± 5265 m� wide, 15,631 m� of land area. the main issues in this design are city icon, universal design, tourism, and structure, with the issues and requirements, the big concept of this design can be founded, and that is the Icon of the Mojokerto Tourism Area. From the existing concept, detailed concepts were developed regarding site design, building period and zoning, with plans to add buildings to the south of the railroad track, area and number of building floors, bridges crossing between buildings. On both sides there are car parking lot, motorcycle parking lot, and bicycle parking lot are provided, pedestrian paths are also provided.

193


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Karena tapak ditengah kota maka banyak disediakan parkir motor dan mobil, yang dahulu belum tersedia dengan cukup karena banyaknya pengguna kendaraan pribadi di Mojokerto, serta pedestrian ways untuk pejalan kaki terutama bagi penduduk perumahan di selatan tapak sehingga tidak perlu menggunakan kendaraan. Pemenuhan aksesbilitas dengan memberi jalur tersendiri baik bagi pejalan kaki, pengendara motor, mobil, sepeda dan juga bagi para disabilitas, dengan seoptimal mungkin semua aspek masyarakat dapat menggunakan bangunan stasiun ini dengan baik.

194

Because the site is located in the middle of the city, there is a lot of motorbike and car parking available, which previously was not enough due to the large number of private vehicle users in Mojokerto, as well as pedestrian ways for pedestrians, especially for residential residents in the south of the site so there is no need to use vehicles. Fulfillment of accessibility by providing its own lane both for pedestrians, motorbikes, cars, bicycles and also for people with disabilities, with as much as possible all aspects of society can use this station building properly.


Epilogue Oktober 2019

Prinsip komposisi aksitektural perancangan ini adalah menempatkan 2 bangunan tidak berseberangan dihubungkan dengan jembatan, peletakan serta bentuknya disesuaikan dengan bertemunya jembatan, dan orientasi dari bangunan itu. Untuk peletakan parkir, pada sisi utara diletakkan pada sisi depan tapak, karena keterbatasan lahan, sedangkan pada sisi selatan, pada samping barat bangunan untuk kemudahan pengguna. Penempatan bangunan pendukung diletakkan pada samping bangunan utama agar memudahkan sirkulasi dan perawatannya.

Syifa Anggita Nur Yudanti

The principle of the architectural composition of this design is to place 2 opposite buildings but not parallel connected by a bridge, the lay out and shape adapted to the meeting point of the bridge, and the orientation of the building. For parking, on the north side is placed on the front side of the site, due to limited land that available, while on the south side, on the west side of the building for user convenience. Placement of supporting buildings placed on the side of the main building to facilitate circulation and maintenance.

195


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Mamanda Airport:

Terminal Penumpang Bandar Udara Internasional Banjarbaru, Kalimantan Selatan Passenger International Airport Terminal in Banjarbaru

oleh | by Haryono Kurniawan 15215052 pembimbing |supervisor Dr. Ir. Surjamanto W, M.T. tipologi | typology transportasi | transportation luas tapak | site area 37.500 m2 luas bangunan | building area 46.500 m2

196

Terminal bandar udara merupakan tempat pertama yang dituju ketika seseorang memutuskan untuk mendatangi suatu tempat melalui moda transportasi udara. Merespon pada fenomena tersebut, terminal bandar udara ini dirancang untuk dapat menghidupkan citra Kalimantan Selatan kepada pengguna transportasi udara yang mengujungi Kota Banjarbaru. Salah satu bentuk utama yang disajikan dalam gubahan massa adalah dengan menggunakan bentuk ‘Laung’ yang merupakan ikat kepala tradisional khas Suku Banjar.

Airport terminal becomes the first place to arrive when someone decides to travel using air transportation. Corresponding the issue, this airport terminal is designed to live up the image of South Kalimantan to passenger coming to Banjarbaru City. The main inspiration for mass composition is ‘Laung’ which is a traditional headband from Banjar Tribe.


Epilogue Oktober 2019

Laung sendiri selalu digunakan dalam seni teater tradisional Mamanda khas Suku Banjar. Mamanda dianggap dapat merepresentasikan citra budaya Kalimantan Selatan karena menggambarkan suasana Kerajaan Banjar pada masanya. Salah satu interpretasi rancangan dalam bangunan ini adalah timbulnya kesan ruang yang beragam dan beralur layaknya babak dalam seni teater tradisional Mamanda. Sirkulasi bangunan dirancang agar memiliki alur bagi setiap jenis penumpang pada bandar udara tersebut.

Haryono Kurniawan

Laung itself are always worn in Banjar Tribe’s traditional theater performance called Mamanda. Mamanda is considered to be able to represent South Kalimantan’s culture image as it is performing the Banjar Kingdom’s atmosphere at its time. One of the design interpretation on the building is the diverse impression of space and its plot as if it is the stage of theater performance. Passenger circulation is designed to have its own plot for every kind of passenger.

197


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Terminal ini dibagi menjadi dua jenis zonasi, yaitu berdasarkan keberangkatan kedatangan dan internasional domestik. Penumpang domestik menggunakan bangunan sisi timur yang memiliki luas lebih besar, sedangkan penumpang internasional menggunakan bangunan sisi barat yang memiliki luas lebih kecil. Penumpang keberangkatan menggunakan bangunan lantai dua, sedangkan penumpang kedatangan menggunakan bangunan lantai dasar. Sistem ini digunakan untuk meningkatkan efisiensi sirkulasi penumpang dan mengatur alur penumpang sesuai jenis penerbangannya. Atap pada sisi timur dan barat bangunan merupakan atraksi utama yang menggunakan kombinasi bukaan kaca dan membran yang disusun berdasarkan pola kain sasirangan khas Suku Banjar. Bukaan kaca dan membran tersebut bertumpu pada kerangka baja berstruktur bidang dan arkus baja.

198

This terminal is divided by two kind of zoning which is based on departurearrival and international-domestic. Domestic passenger uses the east side of the building which has bigger area, meanwhile international passenger uses the west side of the building which has smaller area. Departure passenger uses second level building while arrival passenger use ground level building. This system is used to increase efficency of passenger circulation and to control the plot based on passenger’s flight. The roof of the east and west side of the building is the main attraction which uses the combination of glass and membrane arranged based on sasirangan fabric pattern as Banjar Tribe’s traditional fabric. The glass and membrane are supported by steel surface frame and steel arch.


Epilogue Oktober 2019

Pola atap dapat dinikmati keberangkatan pada area tunggu keberangkatan yang dilengkapi dengan fasilitas komersial. Penumpang kedatangan juga dapat menikmati pola atap tersebut saat melalui area taman dalam bangunan melalui void. Sisi samping bangunan diselubungi dengan menggunakan diagrid beton yang juga berfungsi sebagai fasad bangunan. Diagrid tersebut ditutup menggunakan kaca agar dapat tetap memasukkan cahaya ke dalam bangunan.

Haryono Kurniawan

The roof pattern can be enjoyed by departure passenger in the boarding room and concession area. Arrival passenger can also enjoy the roof pattern from the indoor garden through the void. The side of the building are wrapped by concrete diagrid which also works as the building’s facade. The diagrid is enclosed using glass in order to transmit light to the building.

199


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Re-design Terminal Penumpang Bandar Udara Mali, Alor Re-design Mali Airport Passenger Terminal in Alor

oleh | by Sasqia Nurul Azmi 15215061 pembimbing |supervisor Ir. Basauli Umar Lubis, MSA., Ph.D. tipologi | typology transportasi | transportation luas | area 9397 m2 lokasi | location Alor, Nusa Tenggara Timur Alor, East Nusa Tenggara

200

Penetapan Alor sebagai salah satu daerah prioritas Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional tentunya harus didukung dengan pengembangan pelayanan moda transportasi termasuk bandara. Bandara tersebut memiliki peningkatan penumpang yang cukup tinggi sejak tahun 2014. Tidak hanya sebagai pendukung rencana pengembangan pariwisata, namun sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan No. KP 548 tahun 2016, Terminal Bandara mali perlu dilakukan pengembangan. Tahap pengembangan yang dilakukan merupakan pengembangan tahap dua.

Alor is one of the priority areas of the National Tourism Development Zone, the National Tourism Strategic Area, and the National Tourism Destination must be followed by the development of transportation modes including the airport as a tourist facility to visit Alor Island. As a destination airport, Mali has had a fairly high increase in passengers since 2014. Not only for supporting tourism development but refers to Minister of Transportation Decree No. KP 548 in 2016, the Mali Airport Terminal needs to be developed. In this project, the airport development is the second stage


Epilogue Oktober 2019

Berdasarkan letak lokasi perancangan yang berada di Alor, Nusa Tenggara Timur, dua isu utama yang didapatkan adalah isu sirkulasi serta citra dan lokalitas. Konsep perancangan yang dibuat adalah Prologue of Alor. Bandara Udara yang dirancang diharapkan dapat menjadi pembuka dari tujuan wisata berlibur para pengunjung yang datang. Konsep yang dibawa adalah menyatukan potensi pariwisata dari Pulau Alor, alam dan budaya, dengan fungsi dari sebuah bandara. Terdapat beberapa elemen budaya dan alam yang diterapakan pada bangunan, seperti moko, rumah adat alor, perbukitan, dan laut.

Sasqia Nurul Azmi

Based on the design location in Alor, East Nusa Tenggara, there are two main issues, ‘circulation’ and ‘image and locality’ issues. The design concept is Prologue of Alor. The airport will be a representation of Alor and tourism destination. The concept brings together the tourism of Alor Island, nature and culture, with the function of an airport. There are several cultural and natural elements are applied to the building, such as moko, alor traditional house, hills, and sea.

201


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Massa dan Zonasi Massa bangunan berbentuk linear sepanjang apron. Bentuk massa bangunan mengikuti site yang disediakan oleh masterplan dan sesuai dengan programming ruang yang dibutuhkan. Ruang di dalam bangunan dibagi menjadi dua zonasi utama, yaitu area keberangkatan pada bagian sebelah utara bangunan dan area kedatangan pada bagian sebelah selatan bangunan. Kedua zona tersebut dihubungkan dengan area konsesi yang merupakan area komersial dan juga berfungsi sebagai ruang tunggu. Sirkulasi Sirkulasi vertikal terminal bangunan mengunakan tipe mezanin yaitu area kedatangan seluruhnya berada pada lantai dasar dan area keberangkatan dilakukan pada lantai diatasnya.

202

Mass and Zonning The building mass is linear along the apron. The shape of the building follows the site from the master plan and space programming. Space inside the building is divided into two main zoning areas, departure area is in the north part of the building and the arrival area is in the south part of the building. The two zones are connected to the concession area which is a commercial area and also as a waiting room area. Circulation The terminal building uses the mezzanine type, which is the arrival area entirely in the ground and the departure area is the upper floor.


Epilogue Oktober 2019

Ruang Dua subkonsep yang diangkat adalah Experience serta Relax and stress free yang diterapkan melalui pemanfaatan elemen alam di sekitar eksisting sebagai salah satu potensi dan menerapkan beberapa elemen budaya kepada bangunan baik secara interior maupun eksterior. Bangunan yang dirancang juga diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan santai kepada pengunjung. . Hal tersebut dilakukan dengan menerapkan fitu-fitur alam pada interior bangunan. Kesan nyaman dapat didapatkan dengan mendesain ruang yang cukup luas, secara ukuran ataupun visual

Sasqia Nurul Azmi

Space Two sub-concepts are Experience and Relax and stress-free which are implemented with natural elements around the site and apply some cultural elements to the building, both interior or exterior. The terminal is designed to provide a sense of comfort and relaxation to the visitors. This can be done by applying natural features to the building’s interior and designing a large enough space, not only the size of space but with visual access too.

203


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Gerbang Tanah Melayu:

Terminal Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Bandara Raja Haji Fisabilillah Airport Terminal

oleh | by Keshia Simatupang 15215092 pembimbing |supervisor Ir. Basauli Umar Lubis MSA, Ph.D tipologi | typology transportasi | transportation luas | area 12.000m2 kapasitas| capacity 1.500.000 passenger/year

204

Tanjungpinang, ibukota Kepulauan Riau, merupakan salah satu kota paling bersejarah di Indonesia. Tanjungpinang kaya akan budaya Melayu di Indonesia dan destinasi wisata tropis khususnya di Pulau Bintan. Wisata dan kegiatan pemerintahan menyebabkan laju pertumbuhan penumpang yang meningkat di awal tahun 2018, mendorong kebutuhan untuk mengakomodasi pertumbuhan tersebut. Dengan PT. Angkasa Pura II sebagai pemrakarsa utama, dengan nilai-nilai Indonesia dan keselamatan dan keamanan dalam rancangan.

Tanjungpinang, capital of Riau Islands, is one of the most historic cities in Indonesia. Tanjungpinang is abundant with Malay culture and tropical destination especially in Bintan Island. Tourism and governmental activities has led to an increase in passenger growth rate in the beginning of 2018, and thus promote the need to accomodate the amounting passengers. With PT. Angkasa Pura II as the main initiator, with it’s Indonesian values and urgency for safety and security, influencing the design for the airport terminal and it’s Malay culture.


Epilogue Oktober 2019

Proyek ini merupakan semi-fiksi, menggunakan rencana induk bandara (diatur dalam Rencana Induk Bandara Raja Haji Fisabilillah yang diatur dalam KP 629 Tahun 2011) sebagai acuan bersama. Kementrian Perhubungan Udara sebagai pemilik proyek, dan PT. Angkasa Pura II sebagai pemrakarsa. Beberapa asumsi yang diaplikasikan, adalah jumlah penumpang dan tidak ada terminal eksisting. Tujuan utama proyek adalah membangun infrastruktur dan keamanan dan keselamatan penumpang dan sebagai gerbang budaya Melayu, mengikuti standar ICAO dan IATA dan studi budaya Melayu.

Keshia Simatupang

This project is semi-fictitious, using the airport’s masterplan (as regulated in Rencana Induk Bandara Raja Haji Fisabilillah yang diatur dalam KP 629 Tahun 2011) as the primary reference. Ministry of Air Transport as the owner of the project , and PT. Angkasa Pura II as the initiator. A few assumption are applied, including the amount of passengers and the anullment of the existing terminal. The main goal of the project is to provide infrastructure and ensure the safety and security of the passengers and as a gateway to Malay Culture, following IATA and ICAO standards and Malay culture studies.

205


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Pendekatan perancangan terminal adalah mengambil terminal bandara sebagai tempat perkenalan budaya, khususnya budaya Melayu, menjadikannya Cultureport (Gerbang Tanah Melayu). Salah satu alasan yang mendorong pendekatan ini adalah Tanjungpinang sebagai tempat yang kaya akan sejarah dan budaya Melayu, sehingga menjadi penting untuk Bandara Raja Haji Fisabilillah untuk memberikan sense of place yang kuat terhadap Tanjungpinang. Sense of place diaplikasikan menggunakan beberapa konsep lini untuk memberikan pengalaman budaya yang penuh.

206

Design approach used in the process is using the airport terminal as a place to introduce culture, especially Malay culture, making it a Cultureport (Gateway to Malay Land). One of the reasons for this approach is Tanjungpinang as a historic place for Malay culture in it’s abundance, making it important for the terminal to give a sense of place of Tanjungpinang. Sense of place is applied using a few concepts, such as Line of Experience, Line of Culture and Line of Sight, providing a compact culture experience from landing airside to leaving landside.


Epilogue Oktober 2019

Bentuk unik dari atap merupakan hasil analogi daun sirih. Daun ini dipergunakan dalam berbagai aspek dalam budaya Melayu, salah satunya merupakan tarian penyambutan tamu kerajaan. Daun ini juga dimakan oleh masyarakat Melayu dan merupakan bentuk regalia dalam legenda kerajaan Melayu. Menggunakan geometri daun sebagai bentuk dasar, membentuk pola dan teknik melipat (origami), menghasilkan atap lipat beton monolit. Pendekatan arsitektur tradisional Melayu dipergunakan didalam area kedatangan untuk menopang pengalaman budaya yang koheren.

Keshia Simatupang

The unique form of the roof comes from an analogy of Sirih leaf. A sirih leaf is used in many aspects of Malay Culture, one of them being a welcoming dance to it’s royalty suitors. It’s eaten by Malay people, and is a form of regalia used in legends of Malay royalty. Using the geometry of the leaf as a base, forming a pattern and folding technique, producing a folded monolithic concrete roof as it’s end product. A more traditional approach to Malay architecture is represented inside the arrival hall to support a coherent cultural experience in the airport terminal.

207


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Urban Catalyst:

Lebak Bulus Intrerchange Lebak Bulus, Jakarta Selatan

Leisure Center in Dukuh Bawah Business District

oleh | by Faza Nugraha Sudarwan 15215093 pembimbing |supervisor Permana, S.T, M.T tipologi | typology transportasi | transportation luas | area 40.000 m2 luas lahan | land area 20.000 m2

208

Urban Catalyst berperan untuk memacu perubahan Lebak Bulus. Bangunan mengakomodasi berbagai moda dalam kota dan antar kota yang beroperasi di Lebak Bulus. Bangunan dirancang untuk menjadi katalis transformasi wilayah dengan mengoptimalkan pergerakan di Lebak Bulus baik pergerakan kendaraan umum dan pribadi maupun pergerakan manusia, dikarenakan kondisi eksisting Lebak Bulus yang secara historis telah menjadi pusat pergantian moda dan kegiatan perekonomian wilayah sekitarnya, belum mampu mengakomodasi berbagai aktivitas tersebut secara baik.

Urban Catalyst has a role to trigger a good change in Lebak Bulus. The Building accomodate various transportation mode, inner and inter-city that operate around Lebak Bulus. The building is designed to be a transformation catalyst of the region by optimizing the movement of transportation and pedestrian, as a response to the fact that historically Lebak Bulus has been a centre of intermodal transportation exchange and economy activities. While Lebak Bulus has that role, the facilities around the region itself is yet to have ability to accomodate such meticulous activities decently.

Tabung | Cilinder

Bagian tengah diperkecil | The Midsection is shrinked


Epilogue Oktober 2019

Faza Nugraha Sudarwan

Peran bangunan sebagai urban catalyst dicapai dengan fungsi bangunan sebagai gerbang darat Jakarta, yang dimungkinkan dengan letak Lebak Bulus yang berada di ujung perbatasan Jakarta, dan keberadaan moda antar kota antar provinsi di dekat tapak. Fungsi bangunan berikutnya untuk menjalankan peran bangunan sebagai urban catalyst adalah menjadi simpul kegiatan, yakni bangunan akan mengakomodasi kebutuhan tidak hanya penumpang tetapi juga pengunjung, dengan keberadaan fasilitas komersial dan ruang terbuka.

The role of the building as Urban Catalyst is accomplished by injecting multiple function, which are as a ground gate of Jakarta, made possible by the position of Lebak Bulus which was located at the south edge of Jakarta, and the existence of many transportation modes in the region, inner and inter city. The next function of the building to fulfill the role is a the node of activities, which means the building will accomodate activites not only of the passenger but also the visitor, by providing commercial zone for economic activities and public space for social activities.

Penyesuaian terhadap ruang | Adjustment to room requirement

Massa di pelintir | The mask twisted

209


Transportasi transportation

Kinara Abhipraya

Portal Jakarta Bangunan dirancang dengan konsep portal. Konsep portal dipilih sebagai respon dari potensi tapak yakni terletak di ujung trayek MRT dan Jakarta. Tapak yang terletak di ujung memberi peran kepada bangunan sebagai gerbang dari Jakarta sekaligus trayek MRT itu sendiri. Bangunan harus mencerminkan perannya yakni sebagai portal Jakarta dengan elemen arsitekturalnya. Konsep portal digambarkan dengan massa yang berbentuk lubang cacing, sebuah obyek angkasa yang dipercaya dapat memindahkan benda yang melewatinya ke tempat lain dalam sekejap.

210

Portal of Jakarta The building is designed by the concept of portal. The portal concept is choosen as a response of the potency of site that lies at the end of MRT route, and also the edge of Jakarta. This location of the site gives the building a role to serve as a gate of MRT and alse Jakarta. The building needs to show its role as a gate with its architectural element. The concept of portal is shown by the shape of building that ressembles a worm whole, a space object which is belived can take any matter that come across it to other place instantly.


Epilogue Oktober 2019

Simpul Kegiatan Bangunan dirancang dengan konsep simpul. Konsep simpul merespon lokasi yakni yang terletak di tengah masterplan, sehingga memiliki potensi untuk berperan sebagai pusat kegiatan. Konsep ini juga merespon dari kegiatan berbagai pengguna yang beragam, baik itu penumpang maupun pengunjung. Konsep simpul berkesesuaian dengan peran bangunan yakni sebagai katalis transformasi.

Faza Nugraha Sudarwan

Node of Activities The building is designed by the concept of node of activities. The node concept is a response to the location of the site which lies at the center of MRT Transit Oriented Development masterplan, that gives the site opportunity to take the role as a center of activities. The concept also act as a response of the polarisation of activities byt the users, passengers and visitors. This concept maximize the fulfillment of the building grand concept as Urban Catalyst.

211


Edukasi education

212

Kinara Abhipraya


Epilogue Oktober 2019

edukasi

education

Edukasi education

214 Exploring the Space of Theatrical Experience Putri Belinda

218 Hope of School Gideon AS Simangunsong

222 Learning Experience Through Amiabilty Space Faradillah Hillman

213


Edukasi education

Kinara Abhipraya

Exploring the Space of Theatrical Experience: Sekolah Tinggi Seni Teater Kalanari Yogyakarta Kalanari Theatre Arts School, Yogyakarta

oleh | by Putri Belinda 15215001 pembimbing |supervisor Dewi Larasati, S.T., M.T., Ph.D tipologi | typology pendidikan | education luas | area 10,443 m2 KDB | BCR 70% (7,310 m2) KLB | GFA 3.2 (33,417 m2) KDH | GCR 10% (1,044 m2)

214

Yogyakarta merupakan sebuah kota yang terkenal sebagai kota pelajar, kota pendidikan, dan kota budaya. Akan tetapi, di kota ini lah teater kontemporer kurang berkembang dibandingkan dengan kota lain seperti Jakarta, Surabaya, dan Ujung Pandang. Salah satu lembaga yang bergerak untuk mengembangkan teater kontemporer di Yogyakarta adalah Kalanari Theatre Movement. Kalanari Theatre Movement memiliki visi dan misi untuk meneguhkan kembali ikatan teater dan mengenalkannya kepada masyarakat. Oleh karena itu, Kalanari Theatre Movement kemudian berperan sebagai pemrakarsa pada proyek sekolah tinggi seni pertujukan teater.

Yogyakarta is commonly known as the city of education and the city of tourism and culture. However, contemporary theatre in this city is not growing as fast as in other cities like Jakarta, Surabaya, and Ujung Pandang. One of the institutions that have concerned to develop it more is Kalanari Theatre Movement. Kalanari Theatre Movement has a vision and mission to reinforce the theatre community itself and to acquaint contemporary theatre to the society. Therefore, Kalanari Theatre Movement has roles as client and pioneer of this project (Kalanari Theatre Arts School).


Epilogue Oktober 2019

Pemrakarsa memiliki suatu konsep yang selalu dibawanya ketika menampilkan suatu pertunjukan teater, yaitu konsep site-specific theatre. Konsep tersebut kemudian diterapkan pada konsep proyek ini yaitu Exploring the Space of Theatrical Experience, di mana ruang merupakan elemen penting dalam teater. Dalam proses perancangan terdapat beberapa isu seperti isu fleksibilitas, isu zonasi, isu suasana, dan isu teknis yang memengaruhi desain bangunan. Dengan adanya proyek ini diharapkan masyarakat khususnya yang berada di Yogyakarta lebih mengetahui tentang teater kontemporer serta memberikan ruang bagi teater kontemporer itu sendiri untuk berkembang.

Putri Belinda

The client has its own concept that is always used in every theatrical performance, that is Site-specific Theatre. The concept then applied to this project as the main concept, Exploring the Space of Theatrical Experience, where space is an important element of theatre. Yet, there are some issues found in the process of designing the project, those are flexibility issue, zonation issue, ambience issue, and technical issues that have contributions to the design later on. Hopefully, this project could help society especially in Yogyakarta to know about contemporary theatre more and give it some space to grow and develop.

215


Edukasi education

Kinara Abhipraya

ISU FLEKSIBILITAS

FLEXIBILITY ISSUE

Isu fleksibilitas dibagi menjadi dua sasaran, yaitu fleksibilitas terhadap fungsi ruang (menjadi ruang multifungsi) dan kapasitas ruang (fleksibel terhadap kapasitas pengguna yang dibutuhkan pada suatu ruang).

There are two parameters of this issue: flexibility of space function (space becomes multifunctional) and space capacity (flexible to the number of users needed in a certain space).

ISU ZONASI Zona dibagi menjadi privat, semi publik, dan publik. Adanya ruang perantara (zona semi publik) seperti plaza dapat digunakan sebagai pemisah antara zona privat dan publik.

216

ZONATION ISSUE There are three different zones: private, semi-public, and public zone. A transition space (semi-public zone) like plaza is needed as a barrier between private and public zone.


Epilogue Oktober 2019

Putri Belinda

ISU TEKNIS

TECHNICAL ISSUE

Terdapat beberapa aspek yang termasuk ke dalam isu teknis ini. Beberapa aspek tersebut di antaranya adalah pencahayaan, penghawaan, akustik, keamanan, dan kenyamanan.

There are some aspects of this technical issue. Those aspects are lighting, ventilating, acoustic, security, and comfort.

ISU SUASANA Suasana yang mendukung efektivitas, produktivitas, serta kreativitas setiap pengguna. Salah satunya dapat dicapai dengan membuat rancangan bangunan untuk beberapa fasilitas dengan layout terbuka.

AMBIENCE ISSUE Ambience needed to support the effectivity, productivity, and creativity of each user. This ambience issue can be achieved by designing some facilities with an open layout concept.

217


Edukasi education

Kinara Abhipraya

Hope of School:

Perancangan Sekolah Menengah Umum P.H Mustofa, Bandung

Exploration and Collaboration Space -Junior and Senior High School

oleh | by Gideon Simangunsong 15215054 pembimbing |supervisor Dr.Ing. Ir. Heru W. Poerbo, MURP tipologi | typology pendidikan | education luas | area 2,4 ha / 24.000 m2

218

Harapan Baru Generasi Muda Hingga saat ini, kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah dan tidak merata terutama untuk daerah Indonesia bagian timur. Banyak dari generasi muda di Indonesia tidak bisa mengencam pendidikan yang layak dan berkualitas. Hal ini tentu dapat memengaruhi nasib suatu kota atau bangsa. Keburukan ini sebaiknya dikurangi dengan membangun sekolah-sekolah yang memiliki standar pendidikan internasional, fasilitas sekolah yang layak dan terjangkau bagi generasi muda di seluruh Indonesia.

Hope of the New Young Generation Until now, the quality of education in Indonesia is still very low and uneven, especially for eastern Indonesia. Many of the young generation in Indonesia cannot criticize proper and quality education. This certainly can affect the fate of a city or nation. This badness should be reduced by building schools that have international education standards, adequate and affordable school facilities for young people throughout Indonesia.


Epilogue Oktober 2019

Sekolah ini dirancang dengan pendekatan terhadap perkembangan generasi millenial. Hal ini terlihat dari perancangan fasilitas sekolah yang berbasis pada teknologi dan perancangan ruang-ruang sekolah yang dapat meningatkan sikap kolaborasi dan eksplorasi antar para peserta didik. Sekolah yang didirikan pada lahan sekitar 2 Ha ini memiliki fasilitas asrama untuk tempat tinggal murid luar kota, gedung olahraga, taman interaktif, amphitheater, student lounge, ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, ruang kegiatan murid, dan lapangan olahraga.

Gideon Simangunsong

This school is designed with an approach to the Millenials development. This can be seen from the design of school’s facilities based on technology and the design of school spaces that can remind the attitude of collaboration and exploration between students. The school, which was established on a 2 Ha, has dormitory facilities for out-of-town student residences, sports buildings, interactive parks, amphitheater, student lounges, classrooms, laboratories, libraries, canteens, student activities rooms, and sports fields.

219


Edukasi education

Kinara Abhipraya

Perancagan sekolah menerapkan sistem penghawaan alami untuk fungsi ruang kelas dengan menggunakan sistem ventilasi silang. Namun untuk ruang lainnya menerapkan sistem penghawaan buatan menggunakan AC Split untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna. Selain itu, sekolah ini memberikan konsep fasad dinamis dan berwarna untuk meningkatkan kreativitas para murid dan untuk memberikan simbol kolaborasi antar murid yang saling terhubung. Konsep fasad ini diambil dari bentuk geometri “segi-enam atau hexagonal� yang saling terhubung dan disusun secara acak.

220

Design of school apply the natural hawling system for classrooms with using cross-ventilation systems. But for other rooms apply the artificial hawling system with using AC Split to provide comfort to the user. In addition, design of school provides the concept of dynamic and colorful facade to boost the student’s creativity. The concept of facade is drawn from a noninterconnected, randomly structured hexagonal geometry.


Epilogue Oktober 2019

Tujuan utma perancangan sekolah ini yaitu untuk mengembangkan kemampuan baik akademik maupun non-akademik, dan meningkatkan kolaborasi antar murid. Dalam mengembangkan kemampuan murid, sekolah ini memberikan fasilitas gedung olahraga, lapangan olahraga, amphitheater, ruang kegiatan murid, laboratorium, dan perpustakaan. Selain itu, sekolah ini memberikan fasilitas untuk meningkatkan kolaborasi antar murid, diantaranya taman balkon, student lounge, taman interaktif, kantin, dan perancangan koridor yang lebar.

Gideon Simangunsong

The primary purpose of school design isto develop the skills of both academic and non-academic and ienchance stuedent collaboration. In developing the student’s skill, the school provides facilities, among gymnasium, sports field, amphitheater, student’s activity room, laboratium, and library. In addition, the school is provides facilities to increase student collaboration, among garden balcony, student lounge, interactive garden, canteen, and a broad design of the corridor.

221


Edukasi education

Kinara Abhipraya

Learning Space Through Amiability Space:

Sekolah Tinggi Perhotelan dan Seni Kuliner di Sleman Sleman Hospitality and Art Culinary School

oleh | by Faradillah Hillman 15215090 pembimbing |supervisor Dewi Larasati, S.T., M.T., Ph.D. tipologi | typology edukasional | education luas | area 1,8 Ha lokasi | location Sleman, DIY

222

Sleman Hospitality and Culinary School adalah sekolah tinggi di Sleman dengan luas area perancangan 1,8 Ha. Pada area perancangan terdapat dua bangunan utama yaitu sekolah & hotel. Hotel tersebut merupakan laboratorium praktik mahasiswa perhotelan. Area perancangan terletak di antara dua jalan lokal yaitu Jalan Stadion dan Jalan Beringin Raya. Pintu masuk dan keluar sekolah terletak di Jalan Beringin Raya yang merupakan 1 akses utama menuju sekolah. Pintu masuk hotel terletak di Jalan Beringin Raya & pintu keluar menuju Jalan Stadion.

Sleman Hospitality and Culinary School is a high school located in Sleman with a design area of 1,8 hectares. In the design area, there are two main buildings, there are school and hotel.1 The hotel is part of the hotel student practice laboratory. The design area is located between two local roads namely Jalan Stadion and Jalan Beringin Raya. The entrance and exit of the school are located on Jalan Beringin Raya which is 1 main access to the school. Then the hotel entrance is located on Jalan Beringin Raya and exit to Jalan Stadion.


Epilogue Oktober 2019

Faradhillah Hillman

Terdapat ruang transisi yang menjadi pemisah antara area sekolah dan hotel. Area transisi ini berupa area hijau yang ramah pejalan kaki. Ruang transisi terletak di tengah area tapak perancangan, diantara bangunan hotel dan sekolah yang dapat diakses kedua pengguna bangunan. Ruang ini sekaligus menjadi assembly point.

There is a transition space that separates the school and hotel areas. This transition area is a green area that is pedestrian friendly. The transition space is located in the middle of the design site, between the hotel building and the school which can be accessed by both building users. This space is also an assembly point.

Ruang transisi ini juga berfungsi menjadi gerbang utama sekolah, yang hanya dapat diakses oleh pejalan kaki dan pengendara sepeda.

This transitional space also functions as the main gate of the school, which is only accessible by pedestrians and cyclists.

223


Edukasi education

Kinara Abhipraya

Area tapak perancangan terdiri dari empat aksis yang berbeda. Aksis utara, selatan, timur dan barat tidak saling paralel. Area tapak memiliki tiga bagian utama yaitu bagian bangunan hotel, ruang transisi dan bangunan sekolah.

The design site area consists of four different axes. The north, south, east and west axes are not parallel. The footprint area has three main parts namely the hotel building, the transition room, and the school building.

Perancangan bangunan mengikuti arah tiap aksis dari tapak perancangan, sehingga keempat sisi bangunan memiliki arah dan kemiringan yang berbeda. Perbedaan panjang dan kemiringan empat sisi tapak perancangan tersebut menjadi tantangan terbesar dalam proses desain yang dilakukan.

Building design follows the direction of each axis of the design site so that the four sides of the building have different directions and slopes. The difference in length and slope of the four sides of the design site is the biggest challenge in the design process.

Bangunan hotel dibangun sebagai laboratorium praktik bagi mahasiswa. Hotel tersebut merupakan hotel berbintang 3 dengan 50 kamar, 1 ballroom, restaurant, lounge and bar, dan lobby utama.

The hotel building was built as a practical laboratory for students. The hotel is a 3-star hotel with 50 rooms, 1 ballroom, restaurant, lounge and bar, and main lobby.

Perancangan bangunan hotel mengikuti aksis utara dan barat tapak perancangan. 224

The hotel building design follows the north and west axis of the design site.


Epilogue Oktober 2019

Perancangan lanskap ruang transisi paralel dengan perancangan bangunan. Sehingga menghasilkan ruang transisi yang mengikuti arah aksis utara dan selatan tapak serta mengikuti aksis pertemuan kedua struktur bangunan. Bangunan sekolah dirancang dengan mengikuti aksis timur dan selatan. Fasad bangunan menggunakan louver vertikal dari kayu dan batu alam, penggunaan fasad ini bertujuan untuk memunculkan kesan lokal. Terdapat area parkir pada sekolah untuk mobil, motor dan sepeda.

Faradhillah Hillman

The design of the transitional space landscape in parallel with the design of the building. Resulting in a transition space that follows the direction of the north and south axis of the site and follows the axis of the meeting of the two building structures. The school building was designed following the east and south axis. The facade of the building uses vertical louvers from wood and natural stone, that aims to bring a local impression. There is a parking area at the school for cars, motorbikes, and bicycles.

225


Bangunan Campuran mixed-use

226

Kinara Abhipraya


Epilogue Oktober 2019

bangunan campuran mixed-use

Bangunan Campuran mixed-use

228 Gate of Jakarta Business District Joshua Aditya

232 Integrity in Harmony Marestu Rizki Nugraha

236 Beyond Habits Anthony Derry

240 Permeable Place Hanifa Nur Amalina

227


Bangunan Campuran mixed-use

Kinara Abhipraya

Gate Of Jakarta Business Distric

Mixed-use di Kawasan Berorientasi Transit Dukuh Atas, Jakarta Mixed-use building in Dukuh Atas TOD Area, Jakarta

oleh | by Joshua Aditya 15215017 pembimbing |supervisor Prof. Dr.-Ing. Ir. Widjaja Martokusumo tipologi | typology Mixed-use (Komersil dan Perkantoran) | Mixed-use (commercial and office) luas | area 6.400 m2

228

Kota Jakarta merupakan ibukota dari negara Indonesia dan menjadi kota terbesar yang ada di Indonesia. Kemajuan kota yang sangat pesat ini perlu diimbangi dengan perkembangan transportasi yang ada di Kota Jakarta. Akan tetapi perkembangan ini kurang dapat dikontrol sehingga transportasi pribadi yang ada di Kota Jakarta melambung tinggi dan berakhir dengan banyaknya titik-titik padat kendaraan. Seiring kemajuan zaman semenjak tahun 2004, pemerintah mulai menggalakan penggunaan transportasi umum untuk bergerak di Kota Jakarta ini. Dimulai dengan mengembangkan TransJakarta hingga yang terakhir ini adalah MRT

Jakarta is the capital of the Indonesia and is the largest city in Indonesia. The rapid progress of the city needs to be balanced with the development of transportation in the city of Jakarta. However, this development can not be controlled so that private transportation in the city of Jakarta skyrocketed and ended with the number of dense vehicles. Along with the progress of the times since 2004, the government began to promote the use of public transportation in the city of Jakarta. Starting with developing TransJakarta and the latest ones are MRT and LRT. This development must also be balanced with the development of infrastructure


Epilogue Oktober 2019

Joshua Aditya

dan LRT. Perkembangan ini juga harus diseimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas-fasilitas yang ada di sekitarnya. Dukuh Atas merupakan salah satu kawasan yang dikembangkan untuk menjadi kawasan berorientasi transit dengan adanya pengembangan moda transportasi massal baru berupa MRT (mass rapid transit). Pemilihan Dukuh Atas menjadi kawasan berorientasi transit karena terdapatnya pertemuan beberapa moda transportasi massal lainnya seperti KRL, TransJakarta, kereta bandara, dan taksi daring.

Posisi awal massa dengan memaksimalkan luasan KLB dan batasan lahan.

Massa diangkat dan dibagi menjadi 2 zonasi utama, zona komersial dan zona perkantoran.

and facilities in the vicinity. Dukuh Atas is an area developed to become a transit-oriented area with the development of a new mass transportation mode, MRT (mass rapid transit). The selection of Dukuh Atas became a transit-oriented area due to the meeting of several other mass transportation modes such as KRL, TransJakarta, airport trains, and online taxis.

Podium dibelah untuk membentuk ruang terbuka publik dan untuk lantai diatasnya dicoak untuk membentuk ruang terbuka.

Bukaan diciptakan sebagai respon bangunan terhadap ruang sekitar bangunan (view).

Ruang-ruang terbuka dimanfaatkan untuk replikasi zona hijau sebagai sumbangsih O2 untuk kota.

229


Bangunan Campuran mixed-use

230

Kinara Abhipraya

Inklusivitas

Inclusivity

Sebagai fasilitas publik, sarana yang diberikan harus dapat memfasilitasi semua kalangan, baik dalam segi ekonomi maupun keterbatasan kemampuan fisik. Penerapan desain yang barrier free adalah salah satu solusi yang diterapkan yaitu dengan menciptakan jalur sirkulasi pejalan kaki yang terbuka, nyaman, dan ramah bagi pejalan kaki. Pemenuhannya dengan menciptakan ruang-ruang interaksi publik dan pemenuhan sarana pendukung difabel.

As a public facility, the facilities provided must be able to facilitate all groups, both in terms of economic and physical abilities. The implementation of barrier free design is one of the solutions implemented by creating open, comfortable and pedestrianfriendly pedestrian circulation lines. Its fulfillment is by creating spaces for public interaction and fulfillment of supporting facilities for people with disabilities.


Epilogue Oktober 2019

Joshua Aditya

Konektivitas

Connectivity

Salah satu permasalahan yang terdapat di kawasan multi moda transportasi adalah kurang terwadahinya interkoneksi antar transportasi publik. Keterhubungan antar moda transportasi ini untuk mempermudah pergerakan manusia dalam transit dan memberikan kejelasan akses menuju moda transportasi massal lain yang ada di sekitarnya.

One of the problems in multimode transportation is the lack of interconnection between public transportation. Connectivity between modes of transportation is to facilitate the movement of people in transit and provide clarity of access to other modes of mass transportation in the vicinity.

231


Bangunan Campuran mixed-use

Kinara Abhipraya

PERSPEKTIF PALING BAGUS

Integrity in Harmony:

Apartemen Kelas Menangah di Kawasan TOD Poris Plawad, Tangerang Apartemen Middle Class in Tangerang

oleh | by Marestu Rizki Nugraha 15215025 pembimbing |supervisor Dr.Ir. Agustinus Adib Abadi, M.Sc. tipologi | typology Mixed-use (Residensial dan Komersial)| Mixed-use (Residential and Commercial) luas | area 10.000 ha lokasi | location Batu Ceper, Tangerang

Kebutuhan akan hunian dan upaya dalam mengurangi kemacetan dengan memaksimalkan penggunaan transportasi massal manghasilkan sebuah solusi apartemen dengan konsep TOD. Proyek ini merupakan proyek semi-fiktif dengan pemrakarsa Perum Perumnas dan PT. Kereta Api Indonesia. Lahan yang digunakan pada proyek ini adalah lahan yang diasumsikan telah direncanakan oleh Perum Perumnas. Apartemen di kawasan Transit-Oriented Development (TOD) yang mendekatkan pemukiman dengan simpul-simpul transportasi.

DIAGRAM KONSEP

232

The needs for residential and efforts to reduce congestion by maximizing the use of mass transportation has resulted in an apartment solution with the TOD concept. This project is a semi-fictitious project with the initiator of Perumnas and PT. Indonesian Railways. The land used in this project is the land that is assumed to have been planned by Perum Perumnas. Apartments in the Transit-Oriented Development (TOD) area that bring settlements closer to the transportation nodes.


Epilogue Oktober 2019

Marestu Rizki Nugraha

PERSPEKTIF/ DIAGRAM

Konektivitas

Connectivity

Melalui pendekatan perancangan muncul konsep konektivitas sebagai konsep perancangan apartemen di Kawasan TOD. Sebagai ruang publik yang dapat diakses oleh semua orang pada bagian lantai dasar. Konektivitas yang diuraikan melalui sirkulasi yang menghubung lantai dasar dengan luar tapak seperti stasiun, perumahan, gedung kantor. Bangunan apartemen ini dapat diibaratkan sebagai penghubung satu sama lain dari lingkungan sekitarnya.

Through the design approach the concept of connectivity emerged as the concept of designing an apartment in the TOD area. As a public space that can be accessed by everyone on the ground floor. Connectivity is described through circulation that connects the ground floor with outside the site such as stations, housing, office buildings. This apartment building can be likened to connecting one another from the surrounding environment.

DIAGRAM KONSEP

DIAGRAM KONSEP

233


Bangunan Campuran mixed-use

234

Kinara Abhipraya

Kenyamanan

Convenience

Sebagai fungsi hunian apartemen harus nyaman bagi pengguna terutama penghuni itu sendiri. Kenyamanan yang dimaksud dapat berupa kenyamanan termal, visual, dan audial. Sebagai alternatif hunian, apartemen kelas menengah ini memiliki beberapa tipe unit yaitu, Tipe Studio, 1 Bedroom, 2 Bedroom. Dengan perbandingan tipe studio lebih banyak dari 1 Bedroom dan 2 Bedroom. Setiap tipe memiliki fasilitas dan luasan yang berbeda-beda, namun tetap memiliki hak akan ruang bersama yang sama dengan setiap penghuni.

As a function of apartment dwelling must be comfortable for users, especially residents themselves. The intended comfort can be in the form of thermal, visual and audial comfort. As an alternative to residential, this middle class apartment has several types of units namely, Studio Type, 1 Bedroom, 2 Bedroom. By comparison the type of studio is more than 1 Bedroom and 2 Bedroom. Each type has different facilities and sizes, but still has the right to a common room with each occupant.


Epilogue Oktober 2019

Marestu Rizki Nugraha

Aksesibilitas

Accessibility

Akses vertikal dibedakan menjadi 2 yaitu akses penghuni dan juga akses pengunjung. Hal tersebut sebagai bentuk privasi, kenyamanan dan keamanan bagi penghuni apartemen. Untuk akses penghuni dimulai dari basement hingga menuju lantai hunian dengan menggunakan lift penghuni yang memakai access card. Sedangkan untuk akses pengguna dimulai dari basement hingga lantai podium yang bersifat publik, dapat dilihat pemisahan akses vertikal penghuni dan pengunjung pada gambar potongan memanjang.

Vertical access can be divided into 2, namely access to occupants and also access to visitors. This is a form of privacy, comfort and security for apartment dwellers. To access residents starting from the basement to the residential floor using the elevator occupants who use the access card. Whereas for user access starting from the basement to the podium floor which is public, it can be seen the vertical separation of residents and visitors access in the elongated piece image.

235


Bangunan Campuran mixed-use

Kinara Abhipraya

Beyond Habits:

Pusat Bersantai di Kawasan Perkantoran Dukuh Bawah, Jakarta Selatan

Leisure Center in Dukuh Bawah Business District

oleh | by Anthony Derry 15215063 pembimbing |supervisor Dr. Ing. Ir. Himasari Hanan, MAE tipologi | typology Mixed-use (Perkantoran dan Komersil) | Mixed-use (Office and Commercial) luas | area 20.000m2

Industri kreatif merupakan ranah bidang keprofesian yang berperan penting dalam ekonomi kreatif di Indonesia saat ini. Perkembangan kebijakan dan regulasi pada bidang keprofesian di sektor industri ini sejak tahun 2008 terus mendorong kemajuan bisnis industri kreatif lokal di Indonesia. Kemajuan ini juga meningkatkan kebutuhan akan ruang perkantoran untuk mengakomodasi pertumbuhan bisnis ini. Alam Sutra, sebuah kawasan pengembangan mixed-use di Tangerang memiliki lahan yang ideal untuk perkantoran sektor kreatif ini. Kawasan sekitarnya relatif terdevelop dan berdekatan dengan ibu kota Jakarta mejadikan lokasi yang ideal

DIAGRAM KONSEP

236

The creative industry is a realm of professional fields that plays an important role and continues to be developed in Indonesia today. The development of policies and regulations in the field of professionalism in the creative industry sector has driven the progress of the local creative industry business in Indonesia. This development also increases the need for office space to accommodate the growth of this particular industry. Alam Sutra, a mixuse development area in Tangerang has vacant land that is ideal for this type of office. The surrounding area is relatively developed and adjacent to the capital city of Jakarta making Alam Suteral an ideal location

DIAGRAM KONSEP


Epilogue Oktober 2019

Anthony Derry

PERSPEKTIF/ DIAGRAM

gedung industri

for the construction of office buildings for this creative industrial sector.

Kantor Berbasis Aktivitas Untuk mewadahi kebutuhan desain dari beragam industri kreatif, gagasan desain kantor yang dimplementasikan adalah ‘activity based workplace’ (kantor berbasis aktivitas). Activity Based yang dimaksud adalah desain yang didasari aktivitas, dalam hal ini industri kreatif tersebut, serta menciptakan desain kantor yang memberikan pengalaman ruang beragam dan memberikan kreatif stimulan bagi penggunanya melalui keragaman pengalaman ruang.

Activity Based Workplace To accommodate the design needs of various creative industries, the office design idea that was implemented was an ‘activity based workplace’. Activity Based in question is a design based on activity, in this case the creative industry, as well as creating office designs that provide diverse space experiences and provide creative stimulants for users through a variety of space experiences.

untuk pembangunan perkantoran untuk sektor kreatif ini.

DIAGRAM KONSEP

DIAGRAM KONSEP

237


Bangunan Campuran mixed-use

238

Kinara Abhipraya

Massa Mengalir Ekspresi bangunan yang ingin dihasilkan berupa bangunan modern dengan permainan geometri dan pengalaman ruang pengguna. Bentuk massa menciptakan hubungan antara ground floor menuju tower. Bentuk gedung melengkung untuk menciptakan image kreatif tersebut. Kawasan dihiasi dengan elemen hijau yang mencerminkan kedekatan manusia dan bangunan dengan alam.

Fluid Mass The building expressions to be produced are in the form of modern buildings with geometric games and user space experience. The shape of the mass creates a relationship between the ground floor and the tower. The shape of the building is curved to create the creative image. The area is decorated with green elements that reflect the closeness of humans and buildings to nature.

Mixed-Use Kantor Dan Komersil Sirkulas bangunan secara garis besar tepisah menjadi tiga zona, yaitu publik, semi publik dan privat. Podium lantai 1

Mixed-Use Offices and Commercial Circulation of the building is divided into three zones, namely public, semi-public and private.


Epilogue Oktober 2019

sampai 4 merupakan area publik dengan fasilitas berupa open plaza, area parkir, area sirkulasi, komersil, taman, dan green rooftop. Pada bagian podium, sebagian ruang merupakan area semi publik. Sirkulasi Area luar menghubungkan akses dari bagian timur dan utara. Tedapat plaza pada bagian timur dan tengah sebagai titik berkumpul dan penghubung antara kawasan luar dengan gedung.

Anthony Derry

Podium 1st to 4th floor are public areas with facilities in the form of open plaza, parking area, circulation area, commercial, garden, and green rooftop. In the podium part, some of the space is a semi-public area. Circulation The outside area connects access from the east and north. There are plazas on the east and center as a meeting point and a link between the outside area and the building.

239


Bangunan Campuran mixed-use

Kinara Abhipraya

Permeable Place:

Bangunan Fungsi Campuran di Kota Bandung Mixed-Use Building in Bandung

oleh | by Hanifa Nur Amalina 15215067 pembimbing |supervisor Ir. Achmad Deni Tardiyana, MUDD tipologi | typology komersial | commercial luas | area 17.300 m2

Meningkatnya pembangunan di pusat Kota Bandung menyebabkan densitas yang semakin tinggi serta peningkatan aksesibilitas. Pembangunan ini menghasilkan blok-blok yang masif pada pusat kota. Perencanaan fungsi campuran dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan meningkatkan aksesibilitas khususnya untuk pejalan kaki. Hal ini dapat mendorong pergerakan untuk mencapai tujuan dengan lebih mudah dan singkat dan menciptakan tempat yang lebih responsif serta kualitas hidup di lingkungan perkotaan yang lebih baik.

DIAGRAM KONSEP

240

Increased development in the center of Bandung City causes higher densities and increased accessibility. This development resulted in massive blocks in the city center. Mixed function planning can be one solution to meet human needs by increasing accessibility especially for pedestrians. This can encourage movement to achieve goals more easily and quickly and create a more responsive place and a better quality of life in an urban environment.


Epilogue Oktober 2019

Proyek ini terletak pada lahan bekas pusat perbelanjaan Matahari di Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung. Terdapat bangunan bekas Monumen Penjara Banceuy. Pembangunan fungsi campuran pada lahan ini diharapkan dapat menghidupkan kembali kawasan ini serta dapat menghubungkan pusatpusat kegiatan yang ada di sekitarnya seperti Alun-Alun Kota Bandung, Pasar Baru Trade Center, kawasan perbelanjaan ABC, wisata heritage Braga dan Asia Afrika, Cikapundung River Spot, hingga kawasan perkantoran Sudirman.

Hanifa Nur Amalina

The project is located on the land of the former Matahari shopping center in the Sumur District of Bandung, Bandung City. There is a former building of the Banceuy Prison Monument. The development of mixed functions on this land is expected to revive this region and can connect existing activity centers such as Bandung City Square, Pasar Baru Trade Center, ABC shopping area, Braga and Asia Africa heritage tourism, Cikapundung River Spot, to the Sudirman office area.

241


Bangunan Campuran mixed-use

Kinara Abhipraya

Proyek ini menampung tiga fungsi utama yaitu lifestyle center, hotel, dan apartemen. Bangunan sekitar didominasi oleh bangunan dengan GSB 0 m. Pada lahan perancangan, bangunan dimundurkan untuk mengkontraskan dengan kawasan sekitarnya sehingga dapat menjadi daya tarik pada kawasan tersebut. Terdapat area hijau yang dominan pada bagian yang berhadapan dengan jalan untuk menjadikan banguna sebagai oase pada pusat kota. Konsep dasar perancangan dalam proyek ini adalah permeabilitas, dengan tiga isu utamanya daya tarik, efisiensi, dan aksesibilitas.

242

This project accommodates three main functions namely lifestyle center, hotel and apartment. The surrounding buildings are dominated by buildings with a GSB of 0 m. On the design land, the building is set back to contrast with the surrounding area so that it can become an attraction in the area. There is a dominant green area on the part that faces the road to make the building an oasis in the city center. The basic concept of design in this project is permeability, with three main issues of attractiveness, efficiency, and accessibility.


Epilogue Oktober 2019

Bangunan terdiri dari beberapa massa untuk menghilangkan kesan massif dari GFA yang besar. Massa bangunan dipecah berdasarkan fungsinya. Pada lantai dasar terdapat beberapa massa bangunan yang memungkinkan terjadinya konektivitas diantaranya. Lantai dasar akan difungsikan sebagai ruang terbuka publik serta retail area yang diintegrasikan dengan sequence tertentu. Sirkulasi menuju lantai yang lebih atas dibuat seefisien mungkin yang memungkinkan terjadinya konektivitas yang optimal. Namun, pemisahan zonasi publik-private tetap diperhatikan sesuai dengan fungsinya.

Hanifa Nur Amalina

The building consists of several masses to eliminate the massive impression of a large GFA. The mass of the building is broken down based on its function. On the ground floor there are several building masses that allow connectivity including. The ground floor will function as a public open space and retail area integrated with certain sequences. Circulation to the upper floor is made as efficient as possible which allows optimal connectivity. However, the separation of public-private zoning is still considered according to its function.

243


Campuran miscellaneous

244

Kinara Abhipraya


Epilogue Oktober 2019

campuran miscellaneous

Campuran miscellaneous

246 Rebirth of the Land Ikyu Tirtodimedjo

250 Urban Foodchain Community Prisky Kartikasari

254 Pos Lintas Batas Negara Tri Miranda

258 Food Guerilla Haidar El Haq Hibaturrahim

245


Campuran miscellaneous

Kinara Abhipraya

Rebirth of the Land :

Pusat Edukasi dan Wisata Pengolahan Sampah-Energi di TPA Sarimukti, Bandung BaratDukuh Bawah, Jakarta Waste to Energy Education and Tourism Center

oleh | by Ikyu Tirtodimedjo 15215019 pembimbing | supervisor Dewi Larasati, ST., MT., Ph.D. tipologi | typology industri | industrial luas | area 30.000 mďż˝

246

Jumlah produksi sampah di Indonesia khususnya di Kota Bandung setiap tahun semakin meningkat. Hal ini tidak diimbangi dengan adanya sarana pengolahan sampah yang berkelanjutan yang mampu mengolah seluruh sampah yang diproduksi menjadi bahan lain yang bermanfaat. Oleh karena itu, BPPT beserta Pemprov Jawa Barat berencana untuk membangun Pusat Pengolahan Sampah-Energi Berbasis Green Facilitiy di TPST Sarimukti, Bandung Barat. Fasilitas yang ke depannya mampu menjadi jawaban solusi pengolahan sampah yang efisien dan berkelanjutan untuk Kota Bandung dan sekitarnya.

The amount of waste production in Indonesia, especially in Bandung is increasing every year. This is not balanced with the existence of a sustainable waste treatment facility that is able to process all the waste produced into other useful materials. Therefore, BPPT and the West Java Provincial Government plan to build a Green Facility-Based Waste Processing Center at TPST Sarimukti, West Bandung. The future facilities are able to be the answer to efficient and sustainable waste management solutions for Bandung and its surroundings.


Epilogue Oktober 2019

Secara umum Pusat Pengolahan Sampah - Energi TPA Sarimukti diciptakan sebagai pusat pengelolaan sampah yang bertanggungjawab, berkesinambungan dan moderen, yang mampu memanfaatkan keseluruhan sampah menjadi sumber daya yang positif dan secara langsung mengurangi beban tanggungan lingkungan. Secara khusus Pusat Edukasi dan Wisata TPA Sarimukti berperan sebagai pilar penopang pengenalan teknologi serta seluruh kegunaan positif sampah bagi masyarakat Bandung dan Indonesia, yang secara langsung dapat meningkatkan kesadaran dan mengubah pola pikir masyarakat terhadap sampah.

Ikyu Tirtodimedjo

In general, Sarimukti Waste-Energy Management Center is created as a center for responsible, sustainable and modern waste management system that is able to utilize the entire waste into positive resources and directly reduce the environmental burden. In particular, Sarimukti Education and Tourism Center has a vital role as a supporting pillar for the introduction of waste technology and all positive uses of waste for the society, which can directly raise awareness and change people’s mindsets about waste and all negative issues around it.

247


Campuran miscellaneous

Kinara Abhipraya

Proyek menggunakan konsep “Rebirth of the Land” yang memiliki arti kelahiran kembali dari sebuah lahan. Konsep dipilih karena dirasa memiliki dasar keterikatan emosional yang kuat antara jati diri lahan tersebut. Fungsi lahan sebagai tempat penampungan akhir menjadikan citra lahan menjadi negatif, dianggap sebagai area buangan, area yang paling tidak dinantikan dan diinginkan, dan dalam pola pandang lahan berarti “mati”. Dari titik inilah konsep memiliki peran penting, bagaimana cara menghidupkan dan mengubah pandangan masyarakat

248

terhadap lahan yang sudah tidak dianggap masyarakat. Diharapkan dapat merubah bukan hanya wajah tampilan dari lahan itu sendiri, melainkan juga esensi dasar dari apa itu tempat pembuangan. Dan secara tegas menyatakan bahwa Tempat Pembuangan Akhir bukanlah suatu akhir, melainkan sebuah awal sebuah kemajuan dan gagasan ide, sebuah pandangan yang baru.

The project uses “Rebirth of the Land” as it main concept. The concept was chosen because it was felt to have a strong emotional attachment between the land’s identity. The function of land as a final disposal makes the land image negative, is considered an area of waste, the least anticipated and desirable area, and in the land perspective means “dead”. From this point onward the concept has an important role, about how to liven up and change people’s views

on land that is no longer considered by the community. It is expected to change not only the appearance of the land itself, but also the basic essence of what is a landfill. And expressly states that the Waste Final Disposal Dump Site is not an end, but a beginning of progress and ideas, a new outlook.


Epilogue Oktober 2019

Ikyu Tirtodimedjo

Rehabilitasi

Rehabilitation

Memiliki arti bahwa sebuah desain dapat mengembalikan fungsi alami lingkungan. Merupakan misi utama pengolahan area TPA Sarimukti, menciptakan sebuah area pengolahan sampah yang terpadu dan mengubah citra dari TPA itu sendiri. Pengembalian fungsi asli lahan timbunan sampah, kembali menjadi area terbuka hijau dan area resapan air produktif.

It means that a design can restore the natural function of the environment. It is the main mission of developing the Sarimukti TPA area, creating an integrated waste treatment area and changing the image of the TPA itself. Restore the original function of landfill waste, back into a green open area and productive water catchment area.

249


Campuran miscellaneous

Kinara Abhipraya

Urban Foodchain Community: Pusat Pangan Lokal Terpadu Kenjeran, Surabaya

Local Integrated FoodHub in Kenjeran Area, Surabaya

oleh | by Prisky Kartikasari 15215032 pembimbing |supervisor Dr.Ing.Ir Himasari Hanan, MAE tipologi | typology komersial | commercial luas | area 11.000 mďż˝

250

Surabaya merupakan kota pesisir dengan potensi wisata yang besar salah satunya di sektor wisata kuliner. Sayangnya, belum ada pusat wisata khususnya di area pesisir Kenjeran. Di wilayah Kenjeran ini pula terdapat sentra pelelangan dan pengolahan ikan serta tengah berjalan program urban farming dari Pemkot Surabaya diantaranya kebun-kebun sayur tomat, cabai, dll. dikawasan Kenjeran dan Bulak. Potensi Kenjeran tersebut belum tergali dengan baik dan belum memiliki wadah terintegrasi yang mampu memfasilitasi seluruh potensi tersebut.

Surabaya is a coastal city with a large tourism potential, one of which is in the culinary tourism sector. Unfortunately, there is no tourism center yet especially in the Kenjeran area. While Kenjeran has fish processing centers, and an ongoing urban farming program, seemingly these potentials has not been well explored and does not yet have an integrated container that is able to facilitate all these potentials.


Epilogue Oktober 2019

Potensi Kenjeran tersebut belum tergali dengan baik dan belum memiliki wadah terintegrasi yang mampu memfasilitasi seluruh potensi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya fasilitas yang terintegrasi seperti pusat komersial, foodcourt, dan area wisata untuk mengembangkan potensi masyarakat sekitar dan menjadikannya daya tarik wisata baru Kota Surabaya. Fasilitas yang dirancang memiliki berbagai fungsi yang dapat mewadahi kegiatan perniagaan dan menghadirkan suasana unik dengan pemandangan utama laut dan Jembatan Suramadu. Fasilitas ini juga ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani lokal dan realisasi nilai wisata edukasi.

Prisky Kartikasari

Kenjeran’s Potential which has not been well explored needs an integrated place that is able to facilitate all of them. Therefore, integrated facilities such as commercial centers, food courts and tourist areas are needed to develop the potential of the surrounding community and make it a new tourist attraction for the city of Surabaya. The designed facility has various functions that can accommodate commercial activities and present a unique atmosphere with the main view of the sea and the Suramadu Bridge. This facility is also intended to improve the welfare of local farmers and the realization of the value of educational tourism.

251


Campuran miscellaneous

252

Kinara Abhipraya

Fasilitas pusat pangan ini dirancang sebagai wadah terintegrasi untuk mengoptimalkan potensi komersial dan agrikultur di kawasan kenjeran. Sebagai wadah dari banyak kegiatan, bangunan harus dapat menampung seluruh kegiatan yang ada dalam waktu bersamaan. Oleh karena itu, bangunan pada kompleks pusat pangan ini dibuat dengan konsep ruang terbuka agar sirkulasi mudah dan ruang dapat digunakan secara fleksibel sesuai kebutuhan. Sirkulasi antar ruang juga dibuat terintegrasi dengan jalur beratap mengitari kompleks untuk mengakomodasi kebutuhan pengguna.

This foodhub is designed as an integrated place to optimize commercial and agricultural potential in the Kenjeran area. As a space to do many activities, the building must be able to accommodate all existing activities occuring at the same time. Therefore, the building in this complex is made with topen space concept so that circulation is easy and space can be used flexibly as needed. Circulation between spaces is also made integrated with a roofed path around the complex to accommodate user needs.

Berada di pinggir laut dengan pemandangan Jembatan Suramadu, konsep bangunan ini dibuat sesederhana mungkin sehingga tidak mencuri perhatian yang memang seharusnya terfokus pada Jembatan Suramadu. Bangunan juga dirancang merespon tapak dari aspek pemintakatan, material, struktur dan sirkulasi.

Located on the seafront with views of Suramadu Bridge, the face of the buildings within was made as simple as possible so that it does not steal the attention that should be focused on the Suramadu Bridge. The building was also designed to respond to sites from the aspect of folding, material, structure and circulation.


Epilogue Oktober 2019

Perancangan pusat pangan ini bukan hanya sekadar merancang ruang. Namun juga merancang komunitas sekitar, memberikan nilai tambah bagi kawasan Kenjeran. Disediakannya fasilitas ini sebagai wadah bertemunya semua kalangan dari berbagai latar belakang diharapkan menjadi katalis pertumbuhan kawasan ini. Ruang dalam dan luar dirancang terintegrasi agar terjadi interaksi aktif dari seluruh pengguna. Harapan dari metode perancangan ini adalah hadirnya ruang yang menguntungkan semua pihak. Ruang tempat belajar, bekerja, bersantai, dan bersua.

Prisky Kartikasari

The design of this food hub is not just about designing space. But it also designed the surrounding community, adding value to the Kenjeran area. The provision of this facility as a meeting place for all groups of people from various backgrounds is expected to be a catalyst for the area’s growth. Both inside and outside spaces are designed integrated so that active interaction occurs between all users. The hope of this design method is a space that benefits all parties can be provided. A space where you can study, work, relax and interact with others.

253


Campuran miscellaneous

Kinara Abhipraya

Pos Lintas Batas Negara

di Jagoi Babang, Kalimantan Barat

Pos Lintas Batas Negara at Jagoi Babang, West Kalimantan

oleh | by Tri Miranda 15215050 pembimbing |supervisor Ir. Tri Yuwono, M.T. tipologi | typology bangunan pemerintahan | government building luas | area 48.385,42 m2

254

Merawat Relasi, Menjaga Keamanan Kebutuhan adanya Pos Lintas Batas Negara di Desa Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat muncul karena adanya interaksi antar warga negara. Faktor tersebut didorong oleh instruksi dari pemerintah untuk merevitalisasi dan membangun kembali daerah pinggiran di Indonesia, termasuk di lokasi ini. Melalui desain, perancangan proyek ini bermaksud untuk menunjukkan bahwa PLBN memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat di perbatasan serta menunjukkan wajah Indonesia di mata dunia.

Preserving Relation, Maintaining Security The need for a Border Crossing Post in Jagoi Babang Village, Bengkayang Regency, West Kalimantan arises because of the interaction between the two citizens. This factor was driven by instructions from the government to revitalize and rebuild remote suburbs in Indonesia, including in this location. Through design, this project’s intention is to show that the Border Crossing Post has a major influence on the lives of the people on the border and shows the face of Indonesia to the world.


Epilogue Oktober 2019

Keamanan dan Citra Fokus perancangan adalah untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi di luar maupun di dalam bangunan agar menjawab target keamanan dari bangunan. Sirkulasi di luar bangunan terpisah menjadi sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki, karena jumlah serta ukuran kendaraan yang menimbulkan resiko bagi pejalan kaki. Sedangkan sirkulasi di dalam bangunan mengikuti standar yang telah ditetapkan, yaitu pemisahan antara sirkulasi pelintas dengan petugas. Selain itu, perancangan menjawab kebutuhan citra Indonesia melalui karakter serta tampilan bangunan.

Tri Miranda

Security and Image The main concern of the design is to fulfill all the circulation-related needs on the outside and the inside of the building to meet the security standards. On the outside of the building the circulation between pedestrians and vehicles are separated to lower the risk of crossing between the two. On the inside of the building the circulation refers to standard that has been set, therefore there are separation between the passer-by and the officer. The design also responds to the image that needs to be delivered by applying Indonesian elements to its appearance.

255


Campuran miscellaneous

Kinara Abhipraya

Tapak Perancangan menyesuaikan dengan kondisi tapak dengan cara memanfaatkan lahan datar yang sudah ada sebelumnya. Lahan tersebut sebelumnya digunakan untuk bangunan PLBN yang pembangunannya tidak dilanjutkan. Tapak terancang menjadi tiga area, yaitu area pejalan kaki, area kendaraan, dan area petugas. Namun titik pusat dari tapak adalah bangunan utama di mana tempat pemeriksaan orang serta barang dilakukan.

256

The Site The design of the site adjusts to the real form of the site by making use of the existing site which was used for past PLBN project (discontinued). The site is divided to three main areas; pedestrian area, vehicle area, and officer-only area. Although the site is divided, its center is the main building where inspection for passer-by and objects is held.


Epilogue Oktober 2019

Bangunan Rumah Panjang yang merupakan rumah adat Dayak menjadi inspirasi utama bentuk bangunan. Sesuai dengan fungsi pemeriksaan pelintas yang memerlukan ruangan yang panjang. Selain itu bangunan mengadaptasi struktur panggung yang digunakan oleh Rumah Panjang untuk menghindari kesan bangunan yang terlalu lebar. Ruangan pilotis tersebut digunakan untuk pemeriksaan kendaraan. Untuk merespon citra lokal, material bangunan menggunakan material lokal yang mudah didapat dan sudah dikenal oleh masyarakat lokal.

Tri Mirandat

The Building The shape of the building is inspired by Rumah Panjang, the original Dayak house. Long halls are needed for inspection process as it has similarities to the space structure inside Rumah Panjang. The building also applies pilotis structure to give avoid bulkiness. The space below the pilotis structure is used for vehicle inspection. To respond to locality, the building uses local materials as it is available and wellknown by locals.

257


Campuran miscellaneous

Kinara Abhipraya

Food Guerilla::

Food Hub berbasis Komunitas di Kiaracondong, Kota Bandung. Community-based Food Hub in Kiaracondong, Bandung.

oleh | by Haidar El Haq 15215075 pembimbing |supervisor Dr. Ir. Christina Gantini, MT. tipologi | typology industri | industrial luas lahan | site area 20.000 sqm

258

Siapa yang tak butuh makan? Semua orang perlu makan. Selain untuk mengenyangkan perut, hubungan makanan dan manusia memiliki sejarah yang kompleks. Ia membentuk ruangruang kota (misal, PKL di depan kampus) hingga menjadi salah satu elemen yang menciptakan karakter sebuah tempat makanan tertentu sering diasosiasikan dengan tempat tertentu. Dalam Hungry City, Caorlyn Steel berpendapat bahwa logika makanan dalam konteks urban seringkali hanya di tataran konsumsi; membeli dan memakan. Padahal, apa yang ada di meja makanmu bisa saja sudah

Everyone needs food; who doens’t? Other than being the prime necessity, our relationship with food has quite a complex history. Food is an important element that creates urban spaces, or even marks the character of a place certain foods are often associated with certain places. In ‘Hungry City’, Caorlyn Steel argues that the dialogue of food in urban context only revolves around the level of consumption; to buy and to eat. But In fact, what you eat could possibly travel thousands of kilometers to finally land in your mouth, a result of uncountable manpower to finally be edible.


Epilogue Oktober 2019

menempuh ribuan kilometer untuk akhirnya hinggap di mulutmu, hasil dari tenaga puluhan orang sampai akhirnya bisa dimakan. Usaha untuk menciptakan siklus pangan alternatif yang lebih berkelanjutan sudah bermunculan. Menurut Angga (2016) terdapat 52 inisiatif pangan di Kota Bandung berupa komunitas, bisnis, artisan, dan kebun edukasi. Lantas, sejauh apa intervensi desain dapat turut berkontribusi dalam isu pangan ini? Bagaimanakah intervensi yang tepat?

Haidar El Haq Hibaturrahim

Efforts to develop an alternative food cycle have sprung up. According to Angga (2016) there are 52 food initiatives in Bandung, composed of communities, businesses, artisans, and educational gardens. So how far could an architectural intervention contributes to a more sustainable urban food system, and how?

259


Campuran miscellaneous

260

Kinara Abhipraya

Food Hub ini merupakan sebuah bentuk intervensi arsitektural sebagai respon dari isu-isu pangan urban. Food Hub ini mewadahi proses siklus pangan, mulai dari produksi, pemrosesan, distribusi, dan konsumsi, beserta dengan edukasi dan ruang untuk acara. Komunitaskomunitas terkait, masyarakat sekitar, pelaku bisnis, petani mitra, hingga akademisi dirancang untuk menjadi ‘motor’ penggerak Food Hub ini: berkebun, workshop, meneliti, memasak, menjual-beli, mengadakan acara, dan sebagainya.

This Food Hub is a form of architectural intervention in response to the issue. The Food Hub facilitates the whole food cycle process, from production, processing, distribution and consumption, along with education and event spaces. Local initiatives, communities, businesses, local farmers, to academics are designed to be the driving force of this Food Hub: gardening, doing workshops, researching, cooking, buying and selling, organizing events, and so on.

“Food” dan “Guerilla” diasosiasikan secara berbeda: “Food” berkaitan dengan siklus, proses, dan sistem; sementara “Guerilla” berkaitan dengan intervensi, bottom-up, dan spontanitas. Keduanya merupakan elemen penting dari Food Hub ini.

“Food” and “Guerilla” are associated differently: “Food” relates to cycles, processes and systems; while “Guerilla” is related to intervention, bottom-up, and spontaneity. Both are important elements of this Food Hub.


Epilogue Oktober 2019

Massa bangunan disusun sesuai alur pangan mengelilingi courtyard untuk acara di tengah. Ruang-ruang sirkulasi dibuat lebar dengan berbagai variasi; indoor, semi-outdoor, outdoor. Ruang sirkulasi berfungsi vital sebagai area interaksi antarpengunjung. Struktur bangunan ini terdiri dari tiga jenis ‘pixel’ - 1 piksel (7.2x7.2m) untuk bangunan permanen, 1/2 piksel (3.6x3.6m) untuk sirkulasi dan fungsi semi-permanen, dan 1/4 piksel (1.8x1.8m) untuk fungsi-fungsi temporer.

Haidar El Haq Hibaturrahim

The buildings are arranged according to the food cycle, encircling the event courtyard in the middle. Circulation spaces are made wide with various spatial experiences; indoor, semioutdoor, outdoor. The circulation spaces function as a vital area of interaction between visitors. The structure of the building consists of three types of ‘pixels’ - 1 pixel (7.2x7.2m) for permanent buildings, 1/2 pixel (3.6x3.6m) for circulation and semipermanent functions, and 1/4 pixel (1.8x1. 8m) for temporary functions.

261


Galeri Foto Photo Gallery

262

Kinara Abhipraya


Epilogue July 2019

Galeri Foto Photo Gallery

263


Kinara Abhipraya

IMA Gunadharma 2016 Program Studi Arsitektur Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung

Profile for Joshua Aditya

Antologi Tugas Akhir Arsitektur ITB - Oktober 2019  

Antologi Tugas Akhir Arsitektur ITB - Oktober 2019 Anthology of Final Projects of Architecture ITB Students - Batch October 2019 Kami Kin...

Antologi Tugas Akhir Arsitektur ITB - Oktober 2019  

Antologi Tugas Akhir Arsitektur ITB - Oktober 2019 Anthology of Final Projects of Architecture ITB Students - Batch October 2019 Kami Kin...

Advertisement