Issuu on Google+


Nothing is as dangerous in architecture as dealing with separated problems. If we split life into separated problems we split the possibilities to make good building art. - alvar aalto jongArsitek!

jongarsitek@gmail.com

Selamat menikmati.. Desain menginspirasi

Except where otherwise noted, content on this magazine is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License


3

photo : adikritz


!

JongEDITORIAL oleh : Danny Wicaksono

edisi ke enam, sixth edition, In this moment i’m happy to announce that JongArsitek! now have another new friend. FiveFootWay is a group of young Singaporean architects who have the spirit to speak up, just as much as JongArsitek!. So we figured there’s nothing wrong about two big mouths from south-east asia teaming up and backing each others up. ; ) So from this edition forward, JongArsitek! can be downloaded from FiveFootWay.com, and starting from next edition, JongArsitek! will be having FiveFootWay as a contributor and FIveFootWay will have JongArsitek! also as contibutor. it’s a mutual thing that we try to maintain. we’re still planning to spread our wings wider, and we dont plan to quit anytime soon. so please look forward for another good things that will come. We hope u find it useful. Danny Wicaksono

Di kesempatan ini, sangat menggembirakan bagi saya untuk memberitakan bahwa JongArsitek! kini memiliki satu lagi teman baru. FiveFootWay adalah sekumpulan arsitek muda dari Singapura dengan semangat bicara yang sama besarnya dengan JongArsitek! jadi kami rasa tidak ada yang salah jika 2 mulut besar di asia tenggara bergabung dan saling mendukung. hehehe... Jadi mulai edisi ini JongArsitek juga bisa di download di FiveFootWay.com, dan mulai edisi depan kita akan kedatangan kontributor tamu dari FiveFootWay dan FiveFootWay akan kedatangan kontributor tamu dari JongArsitek!. Hal-hal mutual yang kita coba untuk terus lakukan. Kami masih terus mencoba untuk terus mengembangkan sayap kami, dan kami tidak berencana untuk berhenti dalam waktu dekat ini, jadi nantikan hal-hal baik berikutnya. semoga semua berguna untuk perkembangan arsitektur modern indonesia. OENTOEK BOEMI POETRA!!!! Danny Wicaksono


Kontributor

tanpa basa basi, anda bisa mengecek profil mereka langsung ke Facebook dan media sosialweb lainnya.

adikritz http://www.facebook.com/profile. php?id=622062159

Dicky Ferdiansyah http://www.facebook.com/profile. php?id=788357564

danny wicaksono http://www.facebook.com/ profile.php?id=537977711 Hikmat Subarkah http://www.facebook.com/profile. php?id=702846031

Relan Masato http://www.new.facebook.com/profile.php?id=547254387#/profile. php?id=607981762&ref=ts

PRODUCTORA http://www.productora-df.com.mx/

rafael arsono http://www.facebook.com/ profile.php?id=621537643


p4

jongEditorial

sambutan dari redaksi kita

p8

jongFoto

holga exp

p10

jongGambar

Wasteworld - Living with waste

p14

jongTulisan

Developer; sang penentu dibalik layar

p20

jongGambar

Ideopolis

p26

jongTulisan

Minimalisme harus mati!

p31

jongGambar

Polis de la fiscalia - concurso

p36

jongTulisan

Happiness only real when shared


jongArsitek! j u l y 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i


8

bishan_1

by : adi kritz 26th-29th roll with my Holga; Ektacolor Pro 160, EPP 100 & Provia 100F Location: Singapore


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

9

mt.faber_2 by : adi kritz 26th-29th roll with my Holga; Ektacolor Pro 160, EPP 100 & Provia 100F Location: Singapore


Wasteworld - Living with waste By. Dicky Ferdiansyah

10


Corus Srudent Awards 2008

11


12


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

13


DEVELOPER sang penentu dibalik layar

oleh Relan Masato

14


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

15


Pada awalnya saya berjanji untuk menuliskan hal lain, pada kawan2 di jong arsitek, tapi sepertinya saya punya janji dan ganjalan pada diri sendiri atas untuk menuliskan apa yang saya rasakan terhadap jakarta, apalagi ketika saya mengalami kesulitan untuk tidak membanding-bandingkan kota tercinta saya ini, Di tulisan ini sy mengangkat developer sebagai aktor utama, disamping negara, dan arsiteknya sendiri dalam kehidupan ber- kota pada seri berikutnya.

16

Menjadi developer di Indonesia terutama dalam pasar properti Jakarta dan sekitarnya mungkin bukan sesuatu yang cukup mudah. Developer, memang bisnis dengan modal cukup besar, sehingga tak semua pengusaha mau memulai bisnisnya langsung ke dunia properti.Apalagi dengan minimnya kepastian hukum di Indonesia yang memang serba tak menentu Tapi, bagi yang �pintar� ini jugalah keuntungan dan kesempatan untuk bermain dengan hukum dan regulasi. Dan dari tahun ke tahun kita sendiri bisa mencatat grup bisnis mana saja yang mendominasi dunia properti kita dari pengembangan kawasan sampai pengembangan sentra bisnis dan perkantoran. Sebagian dari kita apabila mendengar kata developer, apa yang mudah terlintas di pikiran kita adalah kata untung, untung dan hanya untung, dan seringkali juga ia dicibir bagi banyak intelektual (baca : arsitek dan pemerhati kota) sebagai si aktor utama dalam penghancuran kota dan budaya berkotanya. di satu sisi ia menjadi sesuatu yang sangat menjanjikan di tengah budaya konsumsi yang sangat tinggi, namun disisi lain juga ia menjadikan produk akhir seperti menara gading yang jauh dr kondisi masyarakat sebena-

rnya. Produk properti merekalah yang kemudian terpakai dan masyarakat yang menilainya. Sulit untuk tidak membandingkan, namun kalau mau kita lihat negara tetangga misal, Singapura. Developer yang besar dan mungkin saja bisa dibaca sebagai peraih keuntungan besar dan tentunya menjadi pemain utama di pasar propertinya, sebut saja Capitaland, UOL, Far east organization atau CDL, adalah mereka yang secara sadar mencoba untuk menghadirkan produk arsitektur yang baik Tidak saja menguntungkan dan direspon positif oleh pasar, produk mereka pun seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara arsitektur. Diakui oleh penghargaan internasional misalnya. Hal ini tentunya menjadi promosi yang sangat baik bagi developernya. Dan tidak berhenti sampai disitu, bahkan mereka berani menggandeng dan menugaskan arsitek-arsitek kelas dunia untuk mendesain untuk mereka, capitaland menggandeng Daniel libeskind utk apartmentnya, Far east mengajak OMA/ ole scheeren dgn scotts towernya, atau bahkan CDL yg baru saja memenangkan site prestisius di beach road, dengan mengajak Norman Foster untuk memberikan solusi desainnya. Arsitek besar dalam mempertaruhkan nama besarnya dalam melakukan suatu pendekatan arsitektur tentunya meningkatkan bargain position dengan developer untuk menjaga kualitas yang dihasilkan. Walau menggunakan nama besar arsitek adalah bagian dari strategi pemasaran itu sendiri yang tentunya berbuntut pada peningkatan nilai jual.


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

Perlu disadari, developer memegang peranan yang sangat penting dalam perwajahan kota, ialah yang memilih arsitek, dan menugaskannya dengan brief tertentu, bahkan dalam pemilihan arsitek saja sebenarnya kita sudah mampu membaca arsitektur seperti apa yang hendak ditawarkan ke ruang khalayak.

Perlu disadari, developer memegang peranan yang sangat penting dalam perwajahan kota, ialah yang memilih arsitek, dan menugaskannya dengan brief tertentu, bahkan dalam pemilihan arsitek saja sebenarnya kita sudah mampu membaca arsitektur seperti apa yang hendak ditawarkan ke ruang khalayak. Karena hampir di setiap karya arsitektur besar, dibaliknya pasti ada penugasan yg besar dan penting pula. Dalam hal tanggungjawab, developer sebenarnya berbagi hal yang sama , mungkin sama besarnya dengan para arsitek, ia seharusnya juga memiliki sensitifitas dan juga harus memiliki visi yang kuat dan jelas akan apa yang akan ditawarkannya, terutama dalam skala perancangan yang sangat besar, keberpihakan yang jelas dan kemauan untuk bersama arsitek dan disiplin ilmu lainnya untuk menghasilkan suatu produk yang tidak saja menguntungkan buat mereka, tapi mampu memberikan nilai lebih bagi manusia

penggunanya. Arsitektur dalam hal ini tidak lagi hanya berbicara mengenai ruang dan bentuk, tidak lagi mengenai kreatifitas dan keterampilan menggubah ruang-ruang namun harus berupa tanggapan nyata akan realita. Terkadang kita sendiri jatuh dalam asumsi bahwa arsitek tidak akan pernah mendapatkan kesempatan menghasilkan arsitektur berkualitas tatkala berhadapan dengan developer , hubungan kerja antara arsitek dan developer memang bukan sesuatu yang mudah, kemampuan menterjemahkan brief dan dalam penerapannya adalah rasio keuntungan, dengan kemampuan arsitek memanfaatkan efisiensi lahan dan optimalisasi area jual, adalah suatu keharusan bagi arsitek. Tapi sekali lagi apa efisien secara matematis ekonomis saja cukup? Kembali ke konteks Jakarta, apa yang kita lihat sekarang adalah pertumbuhan kuantitas yang sangat besar dan tinggi, namun yang patut dipertanyakan adalah, apakah memang produk yang mereka tawarkan dapat dikatakan sebagai produk arsitektur yang baik, atau memang benar dan tepat dalam memperkaya kehidupan jakarta menjadi lebih baik, atau bahkan mungkin saja yang kita patut pertanyakan adalah apakah mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat jakarta ? Tercatat ada begitu banyak pertumbuhan sektor properti baru dalam beberapa tahun terakhir, bangunan-bangunan publik �baru� seperti mall tumbuh berjamuran, dengan jarak yang berdekat-dekatan. Tren mixed use, dengan kombinasi mall, apartment dan office, menjadi favorit para developer besar untuk memenuhi ruang-

17


ruang jakarta. (majalah bisnis PROPERTI , Juli 2008)

18

Katakan saja dari yang sudah beroperasi sampai yang masih pada tahap pemasangan pagar proyek,Senayan city di asia afrika, dgn program mall, apartment hotel dan office, Grand Indonesia di Jalan Thamrin, Podomoro city seluas 20 Ha di ruas Jln. S parman juga dengan program mall, apartment hotel office dan retail, Kuningan city, di ruas Jln satrio kuningan, juga dengan hotel, mall, office dan entertainment center, lalu Rasuna epicentrum, dengan luas 53,5 juga dikuningan, lalu Gandaria city dengan luas 2,9 Ha, juga dengan program yang sama, lalu Kemang village di Jakarta Selatan, lalu the St. Moritz di kawasan Puri Indah, Jakarta barat. Juga tentunya dengan program yang sama plus sebuah rumah sakit. Begitu banyak proyek sejenis dan tentunya berbicara kuantum, jelas bukan luasan yang kecil.Apalagi jika ditambah dengan mall apartment yang sudah ada, adakah memang itu semua yang masyarakat jakarta perlukan?. Ditengah berbagai krisis moral, krisis ekonomi, krisis politik dan tentunya krisis ruang khalayak, sepertinya pembangunan sejenis hanya akan menambah beban bagi Jakarta. Arsitektur lagi-lagi tampil bukan sebagai solusi bagi kota yang sakit, namun tak lain alat legitimasi bagi pemilik modal dan juga dominasi negara melalui pemerintah kota sebagai perangkatnya. (majalah MONOCLE, dlm edisi 25 most liveable cities juli-agustu 2008, malah menganggap kehadiran mall dan major shopping center cenderung untuk menyamaratakan dan menghilangkan

tinggal kita, para arsitek mempersiapkan diri, Untuk terjun menjadi bagian dari developer yang visioner dgn tantangan yang berbeda, atau terus dengan pilihan arsitek yang idealis dan empatis terhadap kondisi sekitar .

kompleksitas warga kota yang seharusnya hidup berdampingan) Developer dan arsitek, dengan kontrol dari pemerintah kota juga seharusnya pada titik ini mampu mengontrol untuk berkata cukup pada pengembangan sejenis. Developer harus mampu memutar otaknya untuk mengembangkan hal-hal baru, menangkap apa yang potensial diraup rupiahnya. Kenapa sistem transportasi terpadu tidak kunjung jadi, kenapa perumahan untuk mayoritas masyarakat kelas menengah jakarta semakin jauh secara lokasi semakin terjangkau harganya, yang tentunya menambah kemacetan tatkala semua bekerja ke pusat kota? Kenapa selalu banjir ? kesimpulan singkat sampai saat ini adalah semakin besar peran developer untuk terus mencari untung di pembagian ruang dan wilayah, semakin besar pula potensi jakarta menghadapi bencana. Dan semakin terkotak-kotakan saja wilayah kota dgn kelas dan status sosial tertentu. (J.jacobs.death and life of american cities. 1961)


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

Hal-hal yang dianggap sebagai masalah tentunya bukan berarti tanpa solusi, dan bukan berarti tak menguntungkan secara rupiah, minimnya penanaman investasi pada sistem transportasi yang memadai sepertinya lebih dikarenakan tidak adanya kepastian hukum dan keberlanjutan kebijakan. Potensi untuk menghadirkan hunian-hunian bertingkat namun pada kisaran harga yang lebih terjangkau bagi mayoritas masyarakat jakarta pada lapisan kedua dari pusat perkantoran mungkin saja adalah sesuatu yang menjanjikan. Indonesia dengan program Rusunaminya telah memasuki babak baru dalam perumahan bagi masyarakat, sampai saat ini bila rusunami tidak lagi dipandang sebagai model rumah susun konvensional di masa lalu, namun dilihat sebagai produk arsitektur yang baik tentunya, inovasi dan keuntungan seharusnya berjalan secara paralel.

Dan juga hal yang penting adalah kesiapan dan profesionalisme para arsitek untuk mengerjakan proyek-proyek besar. Piawai menggubah rumah-rumah mewah di Kebayoran, townhouse mentereng di Kemang, dsb bukan berarti langsung tanggap terhadap isu-isu perkotaan tatkala berhadapan proyek berluasan ribuan meter persegi. Dengan semua paparan singkat diatas, tinggal kita, para arsitek mempersiapkan diri, Untuk terjun menjadi bagian dari developer yang visioner dgn tantangan yang berbeda, atau terus dengan pilihan arsitek yang idealis dan empatis terhadap kondisi sekitar .Semua hanya pilihan strategis semata, dan jelas bukan tujuan akhir. Commonwealth crescent Juli-agustus 2008

Potensi menjadikan seni dan budaya relan sebagai bagian dari investasi besar juga sampai saat ini tidak pernah di lirik secara serius oleh para developer, padahal sekali lagi, Indonesia, dan tentunya jakarta cukup produktif dalam menghasilkan seni dan budaya yang sudah kualitas ekspor itu. (Time magazine asia 2008, mengganjar jakarta sebagai best alternative music scene) Sekali lagi, kreativitaslah yang kemudian harus dilecut, program-program baru, tata ruang yang mendukung dari pemerintah kota, kreativitas arsitek untuk berinovasi menggubah program bangunan. Dan bukannya hanya meng copy paste, arsitektur dari luar negeri untuk kemudian di terapkan mentah-mentah di negeri prihatin ini.

19


20

By any chance, it was a fortune for me to be selected as one of the other nine participants to be involve in the bluescope-ideopoliz workshop. The workshop was held in four days, and each of us have to design a building for creative community. This building intended as a catalyst to foster the regional creativity industry, an Ideopoliz building. Ideopoliz is a concept of creative habitat that has been developed by Andi Budiman and his team. It was designed as a creative and technology incubator that provides an array of targeted resources and services to accelerate the successful development of small and medium size companies in creative Industry. These services are developed by incubator management and offered both in the business incubator and through its network of contacts. The main goal is to produce successful firms that will


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

IDEAPOLIS by : Hikmat Subarkah

21

leave the program financially viable and freestanding. These incubator graduates have the potential to create jobs, revitalize neighborhoods, commercialize new intellectual properties, and strengthen local and national economies. Indonesian creative needs based on ideopoliz team are: • The need of Indonesian creative & technology industry to have a resource center to gather and share networks, skills. •The need of a hub between Financial Community & Creative Entrepreneurs •The need of international business network.


22

The Indonesian creativity platform concept A creative industry development of an area comes from a mutual relationship between creativity and public, creative and creative ; and creative and industry. Inspired by Wikipedia encyclopedia, the future development of creative industry is believed mainly, characterized by public involvement. The public as the user of a creative product has the privilege to address the future innovation of a creative product. The future creative industry, major and small company’s development, relies on how they understand the public.


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

23 The statements above, mentioned the frame of thought. The Ideopoliz building is designed to create a certain creative atmosphere to the creative community as well as to the public. The more it being visited, the more the interaction happened, thus it creates more possibilities where hey can share each other.


24


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

Located in Rasuna Epicentrum, Jakarta, the site comprised of 2000 m2 area, next to office buildings in left and right side, and also located between front and back promenades. The concept of the building is to provide several platforms to foster Indonesian creativity. The design creates a series of desirable offices and studios for creative community and also seeks to create integrity to the surroundings by floating and opening up the building at ground level to allow public space to flow seamlessly from front promenade to the inner promenade. Furthermore, to create an interactive condition between the inhibitors and the visitor, the roof top of the third level is also opened for public. The structure system is designed to fulfill the floating form that is by bending a steel frame plate in to the desirable programmatic form. The floating from makes possible by creating two crosses area as a structure core to make the rigidity of the structure. The last platform is by adding a local cultural identity to the building. Borobudur reliefs as a creative symbol of Indonesian creativeness are chosen for the secondary skin, made from glass. This design seeks for the contribution to give Indonesian creative community, the confidence to stand up as a nation with vast creative potentials and inspirations. A creative nation that can give contributions for the modern culture of human race.

25


“MINIMALISME” HARUS MATI! (the state of indonesian architecture culture) By : Danny Wicaksono

26


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

I don’t think there are many people in this country realizes, how the situation of this country’s modern architecture is not in it’s better situation. In a general perspective, this country’s modern architecture is not making any significant progress. As a matter in-fact, it’s walking backwards. Istiqlal ( the largest mosque in south-east asia) is still standing majestically without company. The National Monument looks more exile than ever, and this country is getting corrupted every day by the economical motives that drives it. In a nation that (seems to) grow without proper planning, planners would just then seems disappear. They becomes exiles, whose existence filled with apathy. Here in this nation, architecture never really have the chance to make an impact and be part of a social culture. Architecture means merely a building, built as a mean to gain economical profit, neglecting all values that makes it a cultural artifact. In a country whose people thinks only about surviving and whose government only busy making profit for themselves, values that would then mark the advance of human minds, would automatically be neglected. This country is part of the world community. I don’t think anyone would deny that. But for some reasons, there’s a missing link when we, Indonesians, have to speak about Indonesian architecture in a wider community. There’s that feeling of confusion and loneliness that shrouds us. Where do we stand in this world? I think the bigger question must be answered by the community of indonesian architects, where do we choose to stand? one thing for sure, right now we’re standing in the corner of the unknown. Most of architects in the other part of the world know nothing about indonesian architects and architecture.

Berapa banyak dari kita yang sadar bahwa sebenarnya arsitektur modern kita tidak berada dalam sebuah situasi yang tidak cukup baik ? Dalam sebuah garis general, arsitektur modern kita sebenarnya tidak mengalami perkembangan signifikan. Malah cenderung mundur jika melihat apa yang sudah ditinggalkan oleh para pendahulu kita. Istiqlal masih berdiri megah tanpa teman. Gedung DPR/MPR dalam ancaman renovasi yang berpotensi merusak kebesarannya. Monas makin asing, dan kota ini makin hancur oleh motif ekonomi yang terlalu kental. Dalam sebuah bangsa yang (tampak) berkembang tanpa rencana, sangat wajar jika kaum perencana menjadi terpinggirkan, terlupakan lalu menjadi tidak terlihat. Seperti lenyap dalam apatisme berlebihan. Di bangsa ini, Arsitektur tidak pernah sempat besar dan menjadi bagian dari kebudayaan. Arsitektur terarti hanya sebatas bangunan, yang di ciptakan sebagai alat untuk mencari keuntungan ekonomi, tanpa memperhatikan nilai-nilai lain yang bisa menjadikannya sebuah artefak kebudayaan. Dalam sebuah bangsa yang penduduknya selalu memikirkan bagaimana caranya mempertahankan hidup (baca : mencari uang) dan pemerintahnya lebih sibuk mencari keuntungan untuk diri sendiri (baca: korupsi), nilai-nilai yang kemudian akan menandai pencapaian pemikiran manusia modern dengan sendirinya akan terpinggirkan. Kita adalah bagian dari masyarakat dunia. saya rasa tidak akan ada seorangpun yang menyangkal hal ini. Tapi karena beberapa hal, seperti ada sebuah mata rantai yang putus ketika kita harus berbicara mengenai arsitektur indonesia dengan mereka dari bangsa lain. Ada kesendirian dan kebingungan ketika harus menempatkan diri kita dalam posisi sebagai warga dunia.

27


Dimanakah posisi kita (arsitek dan arsitektur indonesia) di dunia? mungkin pertanyaan yang lebih besar adalah, dimanakah kita mau memposisikan diri kita (arsitek dan arsitektur indonesia) di dunia ini? Apapun jawabannya yang pasti sekarang ini kita tidak di kenal di dunia. Sebagian besar arsitek di dunia ini tidak mengenal arsitek dan arsitektur indonesia yang berkualitas, sebagaimana kita mengenal arsitek-arsitek hebat dari bangsa lain. 28

It’s easy for architects from Brazil and Switzerland (for instance) to discuss, because they share the same interest and admirations for (for instance) Paulo Mendes da Rocha and Peter Zumthor. Or how architects from Portugal that will always have Alvaro Siza or Eduardo Souto de Moura when they open up a discourse with architects from another country. Even when the old ones already seems a little bit “boring”, the younger generations such as Aires Matteus, SAMI arquitectos,etc are already lining up. While Switzerland, already have plenty

Sangat mudah bagi arsitek dari Brazil dan Swiss (misalnya) untuk berdiskusi, karena mereka berbagi kekaguman yang sama kepada (misalnya) Paulo Mendes da Rocha dan Peter Zumthor. Atau bagaimana arsitek-arsitek Portugal yang selalu memiliki Alvaro Siza atau Eduardo Souto de Moura ketika mereka berdiskursus dengan arsitek dari bangsa lain. Bahkan ketika yang tua terasa sudah mulai “membosankan”, generasi yang lebih muda seperti Aires Matteus, SAMI arquitectos,dll dari Portugal sudah siap menggantikan. Sedangkan Swiss sudah memiliki banyak sekali arsitek-arsitek muda yang sudah siap mengganti HDM atau Peter Zumthor. Sedangkan kita? bahkan banyak arsitek dari bangsa lain yang tidak mengetahui kalau Indonesia memiliki arsitektur. Ada sebuah perasaan tersesat ketika harus berbicara tentang arsitektur indonesia dengan arsitek-arsitek dari bangsa lain yang memiliki budaya arsitektur yang lebih mapan. Arsitektur indonesia seperti berdiri diatas sebuah pulau terpencil, terlepas dari diskursus arsitektur dunia.


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

of younger generation of architects whose ready to step in the shoes of HDM or Peter Zumthor in the future. While at the mean time, we’re still anonymous. Unknown by many, stranded in an island, detached from the international discourse of architecture. About architecture in this country, there are remnants of greatness that’s never got to the point of being internationally acknowledge and the potential that haven’t being cultivated to reach it’s maximum output. Everything seems to be overshadowed by the bigger problems of life and shortcuts in decisions making that always being chosen, rather than the long run that needs more energy and thoughts. From what i see, most of indonesian architects, would rather follow what they thought is good and then copying it, rather than thinking for something that is more original and authentic. Seems there’s a fear to start something big and to put one’s thoughts and mind upfront. There’s a sort of disbelief and under-confidence in many of us. Many would choose to belief what they’ve seen in the magazines and books are better than what their mind could produce. Character and originality is something that i think most of architect in this country is lacking. I believe this is the one from many reasons, why indonesian architecture rarely receive international publications. I believe we have some built architecture with decent quality to be shared to the rest of the world, but in general, we’re lacking that originality and character that could make the world turn to us. Most of the built architecture in this country is just too generic and looked anonymous. Built with a character to be unknown, and not showing any signs of contemporary architectural thoughts. Some might think that we don’t need any international publications, but i

Tentang arsitektur bangsa ini, ada sisa kebesaran yang tidak sempat menjadi terlalu dikenal, dan ada potensi kebesaran lainnya yang belum pernah tergali dengan maksimal. Semua seperti terkubur dan tertutupi oleh masalah hidup yang seperti tidak pernah selesai, dan jalan singkat dalam mengambil keputusan yang selalu lebih sering diambil daripada jalan memutar yang membutuhkan tenaga dan pemikiran yang lebih besar. Dari apa yang saya lihat, sebagian besar arsitek indonesia lebih senang meniru, daripada berpikir untuk sebuah hal yang lebih orisinal dan ontentik. Memproduksi ulang apa yang (dianggap) sudah bagus, daripada mendefinisi ulang nilai-nilai yang sudah ada dan menjadi diri mereka sendiri dengan semua karakter desain yang lebih orisinil. Mempresedenkan desain arsitek lain untuk di jadikan landasan dalam membuat sebuah desain. ini sah saja, tapi sikap seperti ini pelan-pelan akan mengkikis karakter dan orisinalitas pemikiran kita sendiri. Dan secara tidak sadar kita akan menjadi orisinil di atas pemikiran orang lain, daripada menjadi diri kita sendiri. Terlalu banyak arsitek bangsa ini yang menganggap diri mereka lebih rendah daripada potensi yang mereka miliki dan terlalu banyak yang tidak sadar bahwa yang mereka ciptakan adalah artefak budaya yang pada akhirnya akan mendefinisi kebudayaan bangsa ini. Semua hal ini membuat kita selalu jauh dari gemerlap publikasi dunia, bukan karena kita tidak punya karya arsitektur dengan kelas dunia, tapi secara garis general, rasanya lebih karena kita tidak pernah punya cukup karakter untuk membuat dunia menoleh dan melihat kita (dan memang harus diakui kita hanya memiliki sedikit arsitektur terbangun yang bisa bersaing di tingkat dunia) . Sebagian besar arsitektur yang terbangun di bangsa ini adalah arsitektur generik yang terlihat sangat autonom. Berkarakter tak dikenal dan tidak menunjukkan pemikiran arsitektur yang kontemporer.

29


30


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

say we really need it. Not for the prestige that it may bring, but because it means we are opening up ourself and taking responsibility of our design to a larger community. By exposing ourself to the world, there’s some sort of control for us to keep on producing a more original and characterized architecture, thus, will automatically elevate the quality of built architecture in this country. What’s not being realized by many people in this country, is that there’s a global architectural discourse network in this world, and for many reasons, Indonesia is not in it. We’re only standing as an admirer, the second class citizens, unknown by many. The amount of architectural issues in this country are just both too many and too complicated at the same time. But i think the choice is always on us, are we gonna give up to the situation or bear the burden, stand up and walk tall. As the generation that lives for the future, i think there’s a challenge for the younger generations of Indonesian architects, to make a new architectural culture. A culture that comes from the regional characteristics, culture, and the problems we’re facing as a nation, that comes across our field of expertise. A built cultural artifact, that could makes us stand as tall as those who we always thought superiors, with the same pride and the same dignity as the other nations. Indonesian architects and architecture are currentIy on the move. Piling all the problems ahead and try to sort it out one by one. It’s not going to be easy, but we have younger generations with passion and older generations with inspirations.The road to a glorious indonesian architecture is still far at distance, but we’re making all the efforts needed to get there. I hope the world can hear from us soon...

Beberapa orang mungkin akan menganggap, kita tidak perlu publikasi di tingkat dunia, tapi saya rasa kita sangat memerlukan hal itu, bukan karena gengsi atau nilai prestigius-nya, tetapi karena hal ini berarti membuka dan mempertanggung-jawabkan hasil pemikiran kita kepada komunitas yang lebih luas. Dengan terekspos di tingkat dunia, akan ada semacam kontrol bagi kita untuk menghasilkan sebuah desain yang lebih orisinil dan lebih berkarakter, dan dengan otomatis akan mengangkat kualitas arsitektur terbangun di bangsa ini. Yang kemudian tidak disadari kebanyakan orang, adalah adanya sebuah jejaring diskursus arsitektur global yang menghubungkan banyak bangsa, tapi karena banyak hal, indonesia tidak ada didalamnya. Kita hanya berdiri sebagai pengagum, warga dunia kelas 2 yang tidak di kenal siapa-siapa. Permasalahan yang menyangkut tentang arsitektur di bangsa ini memang terlalu pelik dan sangat banyak. Namun rasanya pilihan selalu ada di tangan kita, apakah kita akan pasrah kepada keadaan ini, atau berusaha seoptimis mungkin untuk merubah (jika tidak mensiasati) keadaan dan membuat karya yang lebih baik dari situasi yang ada sekarang. Sebagai generasi yang hidup untuk masa depan, rasanya ada tantangan bagi generasi muda arsitektur indonesia sekarang untuk membuat sebuah budaya arsitektur baru. Budaya arsitektur yang memang lahir dari karakteristik regional, budaya dan permasalahan bangsa yang bersinggungan secara langsung dengan bidang ilmu kita. Artefak budaya terbangun yang bisa membuat kita dapat lebih bersanding dengan mereka yang selalu teryakini lebih superior, agar martabat kita sebagai penduduk dunia bisa berdiri sejajar dengan mereka yang selalu kita anggap lebih dari kita.

31


32

POLIS DE LA FISCALIA - CONCURSO

productora Colaboradores: Lena Rasmussen, Arais Reyes, Iván Villegas, Luis Manuel Martínez, Eduardo Palomino / Colaboración Ingeniera Estructural: PBS-Ingenieros / Ubicación: Madrid, España/ Fecha: Septiembre 2007 / Tipo: Concurso Edificio Público


33


34

Para el proyecto del edificio de la fiscalía se tomó como punto de partida el concepto de la Polis griega, cuna de la sociedad moderna y el sistema judicial. Para los griegos, la ciudad no era únicamente el centro político, económico, religioso y cultural, sino un ideal de vida, la forma más perfecta de sociedad civil. El edificio representa un fragmento de este diagrama urbano, generando composiciones, perspectivas, callejones cerrados y espacios abiertos. La fiscalía se organiza como un perímetro sólido: desde una plaza central se yerguen siete torres esbeltas que apuntan hacia el cielo, como si se tratase del punto neurálgico de un skyline urbano. En esta superficie cilíndrica el paisaje y la estructura establecen una relación mutua imitando las características propias de la ciudad. Pero sobre todo, provocando en el usuario de estos callejones/pasillos, la sensación de pasear por un espacio autónomo, donde todos los habitáculos trabajan en una dinámica interrelacional.


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

Las fachadas de los edificios combinan ligeras estructuras de cristal y acero creando contrastes entre los volúmenes sólidos y los juegos etéreos, dibujando la diversidad que tendría la composición de cualquier paisaje citadino. Este juego volumétrico y escultural que el edificio guarda en su interior, se manifiesta con una apariencia sencilla en su fachada externa para integrarse en el paisaje del campus de la justicia de Madrid. Una serie de louvres verticales convierten el edificio en una filigrana vertical, un espejo translúcido que apenas deja entrever el movimiento del complejo interior. Pasando este filtro, el panorama visual no es otro que el despliegue de esta nueva ciudad, la polis periférica de Madrid, una urbe vertical que resguarda entre las paredes, el flujo cotidiano de sus habitantes.

35


all images copyright with its own movies

Happiness Only Real When Shared 36

by: Rafael Arsono What makes you think particular movie is good?. You could tell by its story. How it sucks you inside the movie, how excited are you when you’re watching it, and how the impression it made on you after you watched it. Well, if that so, that would be something ordinary. What about something special, a movie you highly appreciate. There must be some connections with the watcher, they’re relative and yet personal. This time I’m going to share about them, some movies I thought everyone should see, as at least for their powerful visual language.

nerdy boy nor a frog as the name came out quite cute, ‘Toddy’. Believe me, he’s cruel. I was actually surprised that it was a satiremusical comedy based on Broadway play by Stephen Sondheim and Hugh Wheeler. Firstly when I read its reviews, I thought no other person than Tim Burton would be the best to describe the story as his dark-fondness characterized his masterwork. With his classic-duet, Johnny Depp who cast for Todd, and wrapped in Sondheim’s strings arrangement, they succesfully brought a senseful darkness.

“There’s no place like London!” Once I was curious about why London always foggy?, why does it always appear greyish?. From the Sir Arthur Connan Doyle’s Sherlock Holmes, the urban-legend Jack the Ripper, to Michael Buble’s song, yet the city’s coldness has inspired one’s to create anything in a mysterious way. I’m talking about Sweeney Todd, the alias of Benjamin Barker who came back from “ the death” to pay his revenge. It wasn’t about a

As a barberman, His modified barber-chair is one of a kind. It drops the death to the basement, where he and mrs.lovett—his shop partner—turns them into meat-pies, were mechanically animated by Burton

The songs were parradoxical with the pictures. Hate to spoil this for you, the songs are

during the opening title.


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

lovely and sweet, some are funny, but combined with Todd using his barber-razor to cut his customer’s throat, blood sprouting everywhere. Softness and rudeness in

pieces of act, they’re what really happen around us, in the world. If you can’t put it as “good”, maybe you can laugh at it. I amazed, few songs captured in my mind, such as “While I’m Not Around”, and “Pretty Woman”. “I drink your milkshake!” I just like a movie when I watched it loosely without any reviews background or any expectation in my mind, and ended like bomb. This was it, a story about oilman in a quest of power during oil boom in Southern California, during late 19th and early 20th centuries. The vocal role, Daniel Plainview, starred by Daniel Day-Lewis who stole world’s attentions in “In the Name of The Father”. Written, directed, and produced by Paul Thomas Anderson, There Will Be Blood is based on “Oil!”, novel by Upton Sinclair.

Day-Lewis’ act differs from one another, unpredictable. You can tell by his perfor-

It was great to follow

mance, always outstanding. I consider this film as a soft hardcore, mind-twisting and a combination of “The Talented Mr.Ripley” and “The Assasination of Jesse James….”. The A-side thing about the film is you can feel the excitement uprising to the crushedgreat ending. Anderson’s adapted screenplay is just perfect to bring the audience stuck in Daniel Plainview’s problems.

“Why so serious!” Bet you know who said it. This is the only movie which probably has million fans. A very pop genre. An action hero has always been long-waited to come out and show some moves. The sequel of “Batman Begins” (2005), The Dark Knight, brought the classic-enemy of Batman, the Joker. After watching the movie twice, although there were plenty unneccessary scene to see Batman to do too much karate, I applaused Christopher Nolan—as director—build a seriously deep cast of the Joker, played amusingly by the young-late Heath Ledger. His cast is 10 out of 10 on Joker, a total psycho, as if he ended his life by throwing a climax-champion act through the Joker.

the movie is dedicated to the Joker, not the Batman— because he’s wardrobe was to tight around the hip and made him talks in weird-noise. I finally agreed with my friends, that

The complicated 2,5 hours mind-bending, thrilled-action scene is too dark for children who expecting more heroic scene, not a maniac-laughing tries to control Gotham City with anarchism. But four thumbs up for Nolan, whom I like him for his twisted work, “Memento”. I like the way he’s putting much attention in a villain like the Joker. Apart from the movie, there are a character in this world who just likes to see chaos and can’t be bought by money. Realizing this full of war-world, its horrible to imagine such a character. “…rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness… give me thruth!”-- Henry David Thoreau; Walden. This last but not least review is the story of

37


a young man, Chris McCandless, who left home to seek freedom. The film is a debutdirected by Sean Penn who adapted from a non-fiction novel by Jon Krakauer titled Into The Wild. The central role, starred by Emile Hirch, is a college fresh graduate. He gave away all his savings to OXFAM before started his journey. What so cool about this guy is his faith for freedom, and given himself to nature, to the wild—by any means—by burning all his money, abandoning his car, destroying his identity. He’s freeing himself all the way into a new character he called himself, Alexander Supertramp. This guy is damn adventourous, the thruth is, I envy him for being such decisive to his choice of life.

socialitur

media acara dan sosialisa

I’m longing to see great movie like this, that very detail depicting the mood in this traveller’s heart. With a song written by Eddie Vedder, no one than him can arrange such a rebellious lyrics into the pictures. I like all

“...it is important in this life, not necessarily to be strong, but to feel strong…”. The narration, the quotes. I remember,

came from his sister, Carine who misses him so much. And from Alex himself, whose sometime his writings appear and dissolve within the scene. Hell of a diary, he kept, and a journey he travel. I’ll put this film in my top ten list. When you see great movies, or read great stories—I’m not much a reader—you can feel the power comes out from the media, they’re touching, like Alex inspire people he met during his journey. While other great movies has final peak point, Into The Wild has many high point, but Penn’s arranged back and forth nicely to keep us there. More than about freedom, it’s a self-critics. Like Ron said “…when you forgive, you love…, when you love, God’s light shines on you.”

Datum KL, Penang photographs by Masajik Rooseno Aji


jongArsitek! july 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

asi event arsitektur

Pra Reinventing Bandung, Aksara Kemang photographs by Anissa Santoso


d e s a i n

m e n g i n s i p i r a s i


-JongArsitek!Jul08-