Issuu on Google+


jongArsitek!

arsitekmuda@googlegroups.com

Selamat menikmati.. Desain menginspirasi Except where otherwise noted, content on this magazine is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License


Every morning in Africa, a gazelle wakes up. It knows it must run faster than the fastest lion or it will be killed. Every morning a lion wakes up. It knows it must outrun the slowest gazelle or it will starve to death. It doesn’t matter whether you are a lion or a gazelle. When the sun comes up, you better start running. African proverb (the world is flat, p. 114)


JongEDITORIAL

!

oleh : Danny Wicaksono

Edisi ketiga JongARSITEK!

terimakasih sudah mendownload... edisi ketiga ini benar2 berbeda dari dari dua edisi sebelumnya. yaa..secara materi memang masih belum ada perbaikan yang terlalu intelektual. masih cuap-cuap seada pemikiran kami saja. kami pun masih berusaha menyajikan pemikiran beberapa arsitek muda ini, se “mentah-mentahnya� tanpa ada editan apapun. sejujur dan senaif seperti pertama kali pemikiran itu terbesit. yang membuat edisi ini menjadi sangat berbeda, adalah pengerjaannya. tidak ada satupun dari kami yang bertanggung jawab atas terbitnya edisi ini, pernah bertatap muka dalam prosesnya. semua hadir di depan komputer anda, berkat teknologi internet, yang tiba-tiba membuat jarak menjadi 0mm. semua diskusi materi kami lakukan lewat yahoo messenger, kemudian paskal yang harus berangkat ke edinburgh, melayoutnya disana. cover dan artikel wisma kuwera di kerjakan oleh Adikritz dan Relan di Singapura. sedangkan penulis yang lain menuliskan artikel mereka di indonesia, untuk kemudian dikirimkan via email. edisi ini juga terasa lebih berwarna karena adanya Adnyani Dewi. seorang fotografer muda berbakat yang saat ini sedang meneruskan studinya di SPEOS, Paris. kami merasa perlu untuk menceritakan proses ini, karena banyak orang yang ingin membuat publikasi, merasa kesulitan dalam melakukannya. disini kami ingin berbagi, bahwa ada sebuah metode publikasi yang ringkas, dan efisien, yang bahkan bisa diselesaikan tanpa perlu bertatap muka. yang di butuhkan hanya pemikiran segar yang terbekukan, dan semangat untuk membaginya. semoga ini berguna untuk merangsang munculnya pemikiran-pemikiran liar dan progresif dalam wacana arsitektur kita.

-untuk publikasi pemikiran arsitektur yang lebih progresifdanny wicaksono

-Beijing04102008-


Kontributor

tanpa basa basi, anda bisa mengecek profil mereka langsung ke frenster dan media sosialweb lainnya. danny wicaksono http://profiles. friendster. com/3982445

adikritz http://profiles.friendster.com/adikritz

adnyani dewi http://profiles.friendster.com/4768320

paskalis khrisno ayodyantoro http://profiles.friendster. com/6831264

andri ferik

farid rakun http://fairdkun.multiply.com/

relan masato profiles.friendster.com/relanmasato rafael arsono http://profiles.friendster.com/8063285


p4

jongEditorial

sambutan dari redaksi kita

p8

p12

Exodus!!

Ho Chi Minh City

jongTulisan

jongFoto

p18

jongGambar rumah sempit

p22

jongRiview Wisma Kuwera


jongArsitek! a p r i l 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

p28

p38

Perpustakaan Umum Daerah Jakarta barat

Socialitur

jongGambar

jongGayahidup

p36

jongFoto adnyani dewi

granada . april 2008


0

20

40

60

80

dp forum

3

72

surbana

4 aedas 2

james goh & 8

saa partner

5

10 scda 3 woha 1 addp 2 bdl 1 shing 2

Exodus!! Selayang Pandang Arsitektur Indonesia oleh Rafael Arsono


jongArsitek! a p r i l 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

Sejarah mencatat, Nabi Musa berexodus bersama orang-orang Yahudi membelah dan melewati laut merah, menyelamatkan diri sekaligus menenggelamkan Firaun serta pasukannya. Bob Marley bercerita tentang perpindahan penduduk di masa perang lewat ‘Exodus’, lagu dengan karakter yang khas. Exodus pada dasarnya adalah orang yang berbondong-bondong melakukan tindakan perpindahan ke tempat yang lebih baik. Bedol Desa, perpindahan yang masif, dalam rangka pemerataan penduduk di suatu daerah, Imigrasi, Urbanisasi. Siapa yang tidak mau pindah ke tempat yang lebih baik?? Era globalisasi mempermudah kesempatan itu. Ujung-ujungnya Duit! Yak, seperti teori Maslow, tingkat piramid terdasar adalah kebutuhan hidup yang perlu lebih dulu dipenuhi. Ketika lapangan kerja arsitek dan pendapatannya tidak sebanding dengan jumlah sarjana arsitek segar, Exodus pun terjadi. Go East! Begitu slogan dalam buku Content!1 Karya Rem Koolhaas bersama AMO. Asia Tenggara dan China sedang boom pembangunan. Timur Tengah pun menyusul. Makin banyak arsitek top dunia membuka cabangnya di kontinen tersebut, membutuhkan puluhan, ratusan karyawan arsitek untuk membantu mengembangkan ide-ide yang belum pernah direalisasikan sebelumnya. Sebut saja Norman Foster, William Alsop, OMA/Rem Koolhaas, Herzog & deMeuron, konsultan menjelma raksasa menjadi incaran fresh grad. Why Not?? Singapura menjadi persinggahan awal karir arsitek di luar Indonesia, Sebagai internationalhub , berkarir di negeri ini menawarkan batu loncatan untuk berlabuh ke ke negeri lain. Good carreer, good money, better city. Negeri kecil tapi banyak proyek prestis ini kekurangan arsitek junior karena lulusan arsitek Singapura langsung hijrah ke luar negeri. Mereka punya international brand, seperti SCDA, WOHA, Kerry Hill, dan tentu saja yang terbesar, DP Architect. Yang terakhir, sebagai konsultan raksasa Singapore, rancangan DP barangkali tempat paling banyak menyerap arsitek Indonesia dan karyanya paling banyak “diterima” oleh pasar Indonesia, sebut saja Senayan City, Kemang Village, beberapa bangunan kampus UPH, gedung kantor di kawasan bundaran HI dan lain-lain. Kembali ke exodus, banyak hal di luar pendapatan yang menggiurkan para arsitek muda Indonesia untuk bekerja di luar negeri, yaitu mencicipi lingkungan dan kehidupan yang lebih teratur. Selain exodus berkarir di negeri orang, banyak arsitek muda segenerasi saya meneruskan studi di luar negeri. Walaupun bagi sebagian arsitek yang lebih senior pilihan itu dianggap sebagai “menghindari kenyataan hidup”, maklum, arsitek disinyalir merupakan ilmu dan ketrampilan berdasarkan pengalaman—dan sekolah dianggap tidak mengasah pengalaman—, teman-teman saya toh tetap melenggang dengan tekadnya masing-masing. 1

Content! AMOMA, Rem Koolhaas

9


10

Fase exodus ini mengingatkan saya pada era dimana Almarhum Soejoedi, Pak Han Awal, Prof. Suwondo, Bianpoen, dan kawan-kawan berguru di Eropa. Kepulangannya, menghasilkan arsitektur modern Indonesia yang megah dan konsisten pada patron International Style. Lalu kiranya bagaimana jika 10 tahun lagi teman-teman arsitek yang saat ini sedang berguru di luar negeri kembali lagi ke Indonesia??? Persilangan antara “tempat” di Indonesia, ketika mereka kembali dan membuka praktek di Indonesia dan “tempat dimana mereka belajar” (mereka: arsitek Indonesia), membuahkan hibrida yang menarik, at least pada langgam. Di samping itu, akan semakin banyak copy-paste desain luar yang menyebabkan image kota secara keseluruhan jadi generic. Serupa, mirip, tentu saja tak sama. Satu dan lain hal yang unik, seperti pak Eko Prawoto yang “hati Jogja, otak Belanda”, karyakaryanya yang mengakar pada konteks Jogja manjadi jawaban hasil perguruannya di Berlage Insitute, Rotterdam. Rem Koolhaas dalam tugas akhirnya-nya, Exodus or The Voluntary Prisoners of Architecture2, menganalogi kota terbagi dua, Good Half dan Bad Half. Para penghuni Bad Half mulai pindah ke Good Half, exodus. Jika peristiwa itu berlangsung terus-menerus, maka populasi Good Half makin berlipat ganda, sedangkan Bad Half menjadi kota mati! Untuk mengantisipasi populasi yang tak terkendali, maka dibangunlah dinding (The Wall), yang memisahkan dua bagian kota tersebut. Orang-orang pun semakin terobsesi dengan ide pindah menembus dinding. Bagi yang kuat bertahan untuk menerima “ketidakmampuannya untuk pindah”, kemudian menjadi the voluntary prisoners of architecture. Sejenis black comedy, fakta campur imajinasi. Teori yang fun tapi juga satir. Hhhh…. Dengan segala carut-marut kejadian yang menimpa negeri ini, mari sejenak kita anggap Indonesia sebagai Bad Half dari dunia, Singapura, Dubai, Hong Kong, Eropa, Timur Tengah, sebagai Good Half. Jika 50% lulusan arsitek di Jakarta tiap tahunnya langsung hijrah ke luar negeri, maka Jakarta akan jadi kota tanpa arsitek muda. Sebagian besar dari sisanya akan bekerja di konsultan arsitek-pernah-muda Indonesia yang “menua”. Coen Brothers bilang No Country for Old Men, jadi ‘darah muda’ yang liar tetap diharapkan untuk meramaikan persaingan dengan arsitek asing yang masuk ke Indonesia. Dalam hal ini, saya angkat topi buat teman-teman yang sudah survive membuka kantornya sendiri. 2

S,M,L,XL Rem Koolhaas & Bruce Mau


jongArsitek! a p r i l 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

11

Saya teringat karikatur Bobby Irandita pada pameran AMI terdahulu, sesaat setelah pameran di negeri Belanda. Dimana karya teman-teman AMI berada dalam kapal Nabi Nuh, untuk diekspor ke luar negeri, di tengah badai krisis moneter. Hal seperti ini mestinya yang kita mesti lakukan. Dengan heroik dan percaya diri terus memperkenalkan keunikan Arsitektur Kontemporer Indonesia, bukan terus mencari jawaban dari luar, untuk di-impor ke Indonesia. Exodus is happening! Dan ini wajar, asal bukan karena pelarian‌karena teman saya bilang cepat atau lambat Indonesia akan hancur! Benarkah? Jika demikian keadaannya, lalu kenapa juga kamu (teman saya) lari? Apapun itu, dimana pun kita belajar, ada baiknya kita memperkuat sikap terhadap negeri sendiri, yang penuh inspirasi, tantangan sekaligus hutan rimba, tempat apa pun bisa terjadi. Lalu berpengaruh apa terhadap kemajuan Arsitektur Indonesia sekarang dan masa depan? apakah Indonesia lebih dikenal sebagai kota budaya, dengan arsitekturnya yang khas sekaligus modern? Atau Indonesia akan jadi Las Vegas? Hfff‌terlalu berat untuk dijawab sekarang, kita tunggu saja 20 tahun lagi‌


m

dariudar a... 12

h n i m i .ho ch


men ara-m enar a

huni an

13

city

[a.k.a sa igon]

natalan 2oo7


suasana jalanan


.im aji fa rid rak un .lo ka sih oc him inh cit yv iet na m .ka me ra2 l-c an iko nc oo lpi x3 5o ofu jic as 7o 5

suasanapelab uhan


korband arisatus isi...


innya la i is s ri a d n a d ...

.. . y ’wa n na jo in in a ch or u s of th e a m er a si a n b lu es ? w h en it ’s ch r is tm a s ou t in h o ch i m in h ci ty k id d ie say pa pa pa pa pa pa pa pa -s a n ta k e m e h om e se e m e g ot ph ot o ph ot o ph ot og r a ph of yo u mamma mamma mam m a- sa n of yo u a n d m a m m a m a m m a m a m m a- sa n le m m e te ll ya b ou t yo u r b lo od , ba m b oo k id it a in ’t co ca -c ol a it ’s r ic e .. th e cl as h . ‘s tr ai gh t to he ll’ ole h


rumahsempit


Keterbatasan lahan yang tersedia dan adanya peraturan daerah yang ada mengenai garis sempadan bangunan tidak selalu menjadikan ide-ide kreatif akan pengolahan komposisi bangunan dengan adaptasi tapak menjadi terbatas. Pengolahan ruang-ruang yang dibutuhkan sedemikian dioptimalkan terhadap lahan yang tersedia. Perbandingan lahan dengan ruang untuk hunian memang menuntut lebih banyak diarahkan untuk ruang terbuka hijau agar fungsi resapan air hujan tetap terjaga dengan baik dimana tapak memang berada di posisi persimpangan atau hook jalan yang secara otomatis terkena garis sepandan bangunan. Dalam situasi dan batasan tertentu dalam perancangan yang serba minimalistik justru memberi solusi yang tepat. Tapak yang sempit dan memanjang memang tidak memberi pilihan lain untuk meletakan seluruh ruangan menjadi jejeran linier baik dilantai

dasar maupun di lantai atasnya. Untuk menyikapi hal tersebut maka tapak dibelah menjadi dua bagian dibagian tengah menjadi ruang yang terbuka, sehingga menjadi dua massa bangunan yang berorientasi kebagian ruang terbuka tersebut agar tetap menciptakan ruang-ruang yang terbuka dan hijau. Bentuk bangunanpun dibuat secara masif yang terbelah menjadi dua bagian yang pada peletakanya dibedakan ketinggianya saja dan mengalami pergeseran kekanan dan kekiri agar dapat dipakai sebagai ruang terbuka. Bidang yang terbelah itulah sebagai bukaan-bukaan yang dapat dimanfaatkan untuk keluar masuk udara dan cahaya secara optimal.

19


20

Pemilihan bentuk atap datar yang dipatahkan membentuk bentuk atap limasan yang asimetris juga merupakan pilihan terhadap bentuk yang berkarakter tetap tropis dan kontek terhadap bangunan sekitarnya. Dengan memanfaatkan perbedaan ketinggian lahan terhadap ketinggian jalan lingkungan yang cukup rendah maka pengolahan ruang–ruang yang dibutuhkan menjadi permainan ruang dengan perbedaan level masing-masing ruang yang dibutuhkan namun tetap sederhana. Lantai dasar berada sejajar dengan jalan lingkungan bagian depan, setengahnya berada lebih tinggi dari jalan lingkungan tersebut, sehingga secara tidak langsung lantai diatasnya terasa sebagai lantai dasar jika dilihat dari jalan bagian belakang site yang memang mempunyai ketinggian yang lebih tinggi. Lantai dasar diputuskan dibiarkan terbuka secara horizontal agar dapat menyalurkan ventilasi udara secara alami, selain itu dibagian bawah ini dapat digunakan sebagai ruang terbuka


jongArsitek! a p r i l 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

hijau yang luas untuk resapan dan belimpah cahaya alami yang masuk Topografi tapak yang semakin tinggi kebelakang menjadi salah satu potensi yang dimanfatkan secara optimal sehingga ruang yang berada dibawah seakan didekap permukaan tanah yang berfungsi sebagai partisi dari dalam bangunan. Dinding- dinding partisi tersebut selain sebagai batas tepi site dimanfaatkan sebagai pagar hijau yang dibuat seperti seperti gundukan rumput hijau. Dinding tersebut juga menciptakan batas site dengan jalan lingkungan menjadi hilang. Hal ini diharapkan agar bangunan tetap terasa menjadi bagian dari lingkungan yang tidak ada batasnya namun tetap terjaga dan berfungsi sebagai pengaman batas. Dengan semangat tetap menciptakan ruang hijau dilingkungan tapak sendiri setidaknya berharap dapat ikut dalam menyumbangkan dan menjaga kelestarian bumi kita. andriferik

21


Tulisan ini sebenarnya sudah berumur tiga tahun, tp sy jadi tergelitik untuk mem-publishnya, bukan karena alasan tertentu, tapi saat ini lebih kepada cermin bagi saya untuk terus mengingat suatu arsitektur yang wajar dan tak melulu seragam, memberikan referensi pada diri saya sendiri untuk terus mengingat bahwa ada arsitek yang tak biasa justru karena kesederhanannya.

Wisma Kuwera oleh Relan Masato


24

Assalamualaikum Wr. Wb. Mungkin saat ini tak begitu banyak mahasiswa Arsitektur yang mengenal YB. Mangunwijaya sebagai seorang arsitek yang sarat bahasa Arsitektur modern, kita lebih banyak mengenal beliau sebagai seorang budayawan, aktivis sosial, pendidik, sastrawan dan tentunya sebagai pendeta, namun arsitek dengan pemikiran dan produk arsitektur yg modern , tak banyak kiranya yang memahami. Latar belakang beliau sebagai pendeta memang lebih mengedepankan permasalahan sosial dan pemberdayaan masyarakat, seperti yang beliau lakukan di perkampungan pinggir Kali Code, Yogyakarta, atau mungkin aktivitas politiknya dengan perkumpulan dengan cendekiawan lain macam Gus Dur, Cak Nur Dll mengkritisi pemerintahan saat itu atau sampai pada membicarakan tatanan masyarakat Indonesia masa depan. Namun tak adil apabila kita melihat Romo mangun dengan satu sudut pandang saja, sesungguhnya hasil karya romo mangun sendiri, karya arsi-

tekturalnya adalah sebuah karya arsitektural yang sarat akan citra, , begitu peka akan ruang yang dihasilkan, dan sarat detail yang tak biasa, walau terlihat sederhana, namun sesungguhnya dibalik kesederhanaan itu terdapat pemikiran yang dalam dan maksud yang jelas. Salah satu bangunan yang mampu merefleksikan itu semua adalah wisma kuwera, tempat tinggal romo mangun, tempat kumpul-kumpul diskusi, tempat bersembunyi para aktivis, tempat tinggal bagi para rohaniwan, dan bahkan tempat bersekolah pula. Beragam fungsi ini dikonfigurasikan dengan sangat kompleks dan sarat detail. Wisma kuwera terletak di gang Kuwera, masuk kedalam kira-kira 100 m dari jl Gejayan Yogyakarta, perjalanan saya sendiri kesana sungguhsungguh sangat melelahkan, mengingat waktu tempuh yang “jauh� dikarenakan minimnya informasi, namun tatkala sosok bangunan yang saya kenal sosoknya di selembar postcard dan halaman buku-buku itu sudah muncul, semangat saya segera muncul.


Melihat sosok bangunan ini dari luar memang yang terlihat adalah sebuah bangunan yang hampir-hampir tak terawat, dengan atap yang sungguh tak biasa, atap yang saling menggunting dan memotong dengan ruang-ruang yang keluar masuk, belum lagi dengan material yang sangat beragam, saya jadi malu sendiri kalau ingat karya-karya himmelblau dengan guntingan-guntingan bidangnya sudah saya anggap hebat, ternyata romo mangun sudah melakukannya dsini, dengan material yg sederhana pula, dan tanpa campur tangan teknologi yang keterlaluan. Pertemuan saya dengan karya romo mangun yang satu ini sendiri adalah sangat istimewa, dengan ekspektasi yang besar pula, mengingat pada suatu kesempatan saya mengunjungi peziarahan sendangsono, Muntilan dengan berharap mampu berjalan di paving cetakan khas romo mangun dengan tenang, berteduh dibawah pendoponya, membasuh muka di keran airnya, tetapi apa yang terjadi, ternyata pada saat itu sedang ada perhelatan 100 tahun peziarahan sendangsono, sehingga tak terbayangkan ramainya sendangsono pada saat itu, setiap sudut dipenuhi orang-orang yang merayakan acara tersebut, yang kemudian saya sendiri larut dalam keramaian tersebut. Masuk ke dalam Wisma kuwera pertama kali kita dibawa pada sebuah pelataran yang tidak terlampau besar, dititik inilah kita bisa melihat keseluruhan bagian dari wisma kuwera ini, proporsi bangunan yg awalnya terasa penuh perlahan mulai bisa di nikmati sebagai satuan-satuan yang lebih kecil, pandangan kita dapat mulai lebih mendetail, materi apa yang digunakan, mulai dapat kita rasakan karakternya, hadirnya kolam ikan berbentuk persegi, mengingatkan saya akan begitu menjamurnya reflecting pond saat ini, kolam ini pun terasa cukup menenangkan suasana, terlihat akhiran kolamnya yang masuk kedalam ruang pertemuan dibaliknya. Bagi saya yg cukup menarik dsini adalah kemampuan romo mangun untuk menciptakan rasa ruang bahwa kita sudah masuk di dalam bangunannya, padahal sebenarnya secara fisik kita masih berada di luar bangunan. Kawan saya yang pernah mengikuti ekskursi karya Romo Mangun pernah mengatakan, bahwa wisma kuwera adalah bangunan yang sangat memeras otak, dikarenakan ruang-ruangnya yang sangat tak terduga, bisa masuk di satu pintu dan ternyata keluar dipintu yang lain, masuk keruang lain, kemudian ternyata bisa saja kita masuk lagi ke ruang awal kita masuk ,seperti labirin. Imaji-

25


nasi macam ini malah membuat ekspektasi saya semakin tinggi, seperti alice di negeri antah berantah di alice in wonderlandnya. Dalam lahan yang tak begitu besar, romo mangun mampu bermain dengan konfigurasi massa yang kompleks, menghindari sosok bangunan tunggal yang totaliter, massa bangunan dipecah menjadi beberapa bagian, dari pelataran depan sendiri bangunan terlihat sangat majemuk, dengan massa yang diangkat, pilotis, membentuk sebuah bridge meninggalkan kolom-kolom struktur sebagai pemisah imajiner untuk menuju ke pelataran dalam yang lebih privat. Konsep pilotis ini sendiri saya yakin romo mangun melakukannya dengan sadar, dan bisa saja mereferensi dr 5 butir arsitektur barunya corbusier, massa yg diangkat tersebut dibungkus oleh nako yang terbuat dari kayu, menghasilkan fasad yang sangat atraktif, kisi-kisi kayu yang serba menjamur saat inipun seperti tak memperoleh kesempatan untuk tampil apalagi fungsional di bangunan ini. Bangunan ini memang menjadi seolah-olah tak memiliki hirearki ruang, Tak jelas benar memang mana yang menjadi entrance utama untuk masuk kedalam bangunan, Romo mangun seolah menolak logika untuk menjadikan bangunannya berkesan formal, area masuk yang cukup sering dipergunakan berada di massa bagian belakang, terkontrol dari sebuah teras yang berbentuk panggung, saat masuk kita menemui ada dua percabangan, yang kanan menuju ruang yang sekarang dipergunakan sebagai perpustakaan, sedang yang kiri menuju asrama di bagian belakang.

26

Untuk menuju asrama, kita melewati terlebih dahulu gudang dan workshop tempat romo mangun dan kawan-kawan tukangnya biasa bekerja, kesan pertama kali yang didapat adalah suasana suram dan gelap, karena kurang pencahayaan, tetapi kemudian ruang gelap tersebut akan dibuka dengan taman yang besar yang kaya akan cahaya matahari. Perbedaan sangat jelas tatkala kita memasuki area belakang yang difungsikan sebagai asrama, diasrama ini suasana rumah akan sangat terasa, ruang duduk asrama yang seolah-olah diangkat dari kolam ikan kecil, menjadi titik tangkap yang tepat,fungsional dan tak dibuat-buat. Asrama ini sendiri terdiri dari 2 kamar yang agak besar dan 10 kamar yang saling berhadap-hadapan dengan taman dibagian tengahnya. Taman ini kecil secara ukuran namun menjadi sangat dominan dikarenakan perletakan dan penataanya, dengan ditumbuhi rumput jarum, dan disekelilingnya dengan pakis haji, hanjuan dll. Pada bagian ujung-ujungnya, Romo mangun membuat semacam altar kecil dari roaster cetakan dengan pola yang bisa kita temui dibeberapa karya romo mangun lainnya (setidaknya saya lihat di buku, dan saya lihat langsung di Sendangsono), altar kecil ini sendiri menjadi sebuah akhiran yang saling melengkapi dengan taman dalam menciptakan ruang secara keseluruhan. Disini saya memahami bahwa arsitektur kemudian adalah sesuatu yang memang mewadahi fungsi, diawal bagian depan bangunan, fasade, massa, entrance, semua dibuat kabur,penuh dan sesak serta non hirearkis, namun ketika kita sampai di bagian asrama ini, romo mangun tahu bagaimana seharusnya kemudian orang membutuhkan istirahat, jeda sejenak dr kehidupan mereka dan juga jeda visual tentunya. Sehingga perancangan menjadi lebih tenang dan konvensional. Ke bagian tengah Wisma Kuwera, adalah sekarang difungsikan sebagai perpustakaan, baik bagi karya-karya sastra romo mangun maupun bacaan anak-anak lainnya, di sini dinding, plafon, dan setiap bidang lainnya tak luput dari perhatian detail, disini, sambungan kayu pada plat lantai dan struktur nya menjadi pemandangan yang tak bisa diabaikan mata, struktur lantai kayu diatasnya, romo mangun menggunakan papan, dan posisinya tidak tidur, melainkan tegak dengan bagian tipisnya diatas, tentunya dengan potongan kayu khas romo mangun. Menuju level lebih keatas, kita berada pada sebuah ruangan yang sekarang menjadi kantor bagi yayasan yang didirikan Romo Mangun, yayasan dinamika edukasi dasar, di level ini kita ada pada bridge yang terlihat dari pelataran luar, sebenarnya tak ada level lantai yang benar-benar sama, semua split level, dan semua terpakai, setiap sudut di perpindahan lantai itu kalau tidak difungsikan sebagai ruang maka difungsikan sebagai storage, di ruangan kantor ini dinding bagian yang menghadap kedalam


tidak menggunakan kaca sama sekali hanya frame kayu, full dari lantai ke plafon (walau sebenarnya ada list pasangan kaca) memberikan angin terus menerus 24 jam, saya hanya membayangkan apabila hujan. Secara keseluruhan wisma kuwera ini menyadarkan saya bahwa romo mangun adalah seorang pemikir besar, pada bangunannya, ia tidak hanya berbicara melalui konseptual Arsitektur yang sulit dipahami orang, ia berbicara melalui penyelesaian detail, secara tectonis, bagaimana bangunan bisa berdiri dengan sambungan-sambungan yang tak biasa, ruang-ruang yang ia coba beri makna,ia juga menyejajarkan konsep dengan skill ketukangan, beliau tak berbicara hal-hal yang besar, hal-hal yang rumit dan terkadang bahkan arsitek-arsiteknya harus menulis berjilid-jilid buku khusus menjelaskan apa maksud bangunannya dan konsep-konsep dibaliknya. (tercatat sebenarnya banyak sekali detail bangunan romo mangun yg sampai sekarang masih terpakai terus,dari pattern dinding, kisi-kisi kayu, blok massanya dan walau memang tidak original namun terbukti sebelum hal-hal tersebut menjadi populer, ia sebenernya telah mulai menggunakannya) Romo mangun juga sekaligus mengangkat martabat para tukang yang sering oleh para arsitek tidak dianggap berjasa, atau bahkan menjadi sasaran omelan apabila hasil akhir tak memuaskan birahi para arsitek ini. Bahkan saya dengar, pada setiap proyek romo mangun, ongkos tukang selalu lebih mahal dibandingkan dengan harga material dan lain-lain. Sehingga memang tukang-tukang romo mangun adalah tukang-tukang yang sudah menahun ikut bersamanya. Dibangunan ini pula saya merasakan keberpihakan yang jelas terhadap suatu kewajaran, Arsitektur tak hanya indah selalu dengan bahan yang mahal dan mesti baru, Arsitektur tidak harus membuat manusia penghuni dan pembuatnya harus kesusahan untuk mencari-cari menutup biaya bangunan, bangunan sewajarnya, menceritakan apa yang harus diceritakan. Bangunan ini sendiri walau terlihat usang dari luar namun saya yakin pemikiran mendalam dan nilai-nilai Arsitektur yang universal dan global tak harus melupakan lokalitas, dan tentunya membuat pertanyaan-pertanyaan baru lagi pada diri saya, Dan kemudian membuat saya ingin sekali membaca wastu citra, untuk belajar lagi‌.Dari awal.

Wassalam, April 2005-maret 2008

27


digital desain dalam arsitektur studi kasus:perpustakaan umum daerah jakarta barat desain eksperimental untuk tigas akhir oleh : Paskalis Khrisno Ayodyantoro

Perkembangan teknologi dalam arsitektur membawa perkembangan yang drastis dalam perancangan arsitektur sekarang. Teknik dan teknologi arsitektur kemudian berkembang seiring kemajuan komputerasi dalam desain arsitektur. Komputer yang terus berkembang dapat bermacam cara pengaplikasiannya dalam (ber)arsitektur. Di Indonesia kita sudah banyak melihat bagaimana sebuah usaha konvensional pemakaian komputer menghasilkan gambar atau animasi presentasi hingga virtual reality yang dapat menjelaskan ruang.


Perkembangan pemakaian 2d dalam drafting (menggambar) memudahkan pengembangan proyek sehingga mudah terbaca dan memudahkan dalam penyebaran dan manajerial suatu proyek. Dalam era berikutnya pengembangan 3dimensi menjadikan sebuah konsep rancangan mudah terlihat secara utuh dan dapat di lihat dalam sebuah persfektif yang lebih mendekati realita. Perkembangan rendering sekarang juga sudah mendekati realita dan hampir sulit membedakan antara keaslian gambar 3dartist dan foto. Arsitektur yang sangat dekat dengan media ruang mau tidak mau kemudian mengembangkan program yang tidak hanya memberikan fasilitas gambar dan presentasi tetapi merambah pada usaha mendokumentasikan sebuah proyek arsitektur dengan program BIM (building information modelling) seperti archicad dan revit. Ditambah dengan teknologi mesin CNC (Computer Numerical Control), prototype sebuah model dapat tercetak sesuai dengan bentuk digitalnya menjadikan proses perancangan digital menjadi lebih mudah. Pada tingkat selanjutnya penggunaan komputer di arsitektur kemudian tidak terbatas pada bidang diatas, tetapi kemudian berkembang pada proses merancang itu sendiri, sebagai alat yang dapat merangkai konsep 30 arsitektur kedalam media yang terwujud. Eksplorasi ini sangat berkembang pesat dalam waktu waktu ini. Desain parametrik hingga computational desain merambah pada pengetahuan scripting atau program komputer hingga penguasaan geometri matematis tingkat lanjut. Perkembangan ini sangat berpengaruh dalam bidang arsitektur, selain mengeksplorasi ruang dan bentuk arsitektur juga mempengaruhi dalam proses dan research tentang metode bangunan ramah lingkungan seperti ekplorasi panas bangunan, tingkat cahaya matahari hingga modul struktur. Teknologi ini kemudian berkembang pesat di seantero dunia dan menghasilkan definisi yang baru yang hingga kini pun masih terjadi proses eksperimentasi digital di studio studio arsitek di seluruh dunia. Sebutlah Gehry dengan CATIA -software yang biasa dipakai dalam aeromodelling- nya dalam proses dokumentasi desainnya, Patrick schumacker dan Zaha Hadid yang intensif dalam penteorian dan perwujudan konsep desainnya dengan komputer, Ali Rahim dengan Maya yang sebelumnya digunakan dalam industri film digunakan sebagai proses pembentukan ruang dengan penggunaan Dynamical effect di program tersebut, hingga UN Studio dalam pemanfaatan Rhino untuk menghasilkan parametric modelling. Masih banyak penggunaan program yang dipakai dan menghasilkan metode dan keruangan baru yang memberikan khazanah arsitektur di seluruh dunia.

volume program ruang Pada proyek ini, sebuah ruang perpustakaan sangat bervariasi sifatnya. Pendekatan Keruangan perpustakaan yang baru telah diberikan oleh Rem Koolhas (OMA) dalam pengelompokkan program ruang di proyek Seattle Public Library. Pendekatan ini kemudian dipakai untuk menghasilkan kelompok program ruang yang didasarkan pada kemudahan sirkulasi, pemanfaatan cahaya alami, kesatuan utilitas dan kesamaan sifat program ruang. Grup-grup program ruang ini kemudian menghasilkan luasan dalam format data yang kemudian menghasilkan satuan volume dalam tiap grup tersebut.


jongArsitek! a p r i l 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

komposisi program ruang

penyusunan dan perkiraan volume

komposisi masa setelah analisa site

Proses selanjutnya adalah dengan mengidentifikasi besaran site yang bisa dibangun dan kemudian grup program ruang ini diletakkan secara acak dengan proses “Stocastic Search� dalam batas luas site yang bisa terbagun dan tinggi maksimal bangunan. Stocastic search dalam hal ini adalah proses pencarian secara random dalam ruang sampai kondisi yang kita beri dapat terwujud (Terzidis, Kostas: 2006). dalam proses mudahnya adalah kita melakukan perintah script (rhino) untuk melakukan random volume box dari data volume yang kita beri, setelah itu kita acak (random) perletakan secara x, y, dan z dalam batas ruang - luas site dan tinggi maksimal -. Proses ini akan berjalan sendiri menurut komputer dan akan berhenti hingga volume grup program ruang tidak bertabrakan dengan batas yang telah kita buat. Namun karena beberapa Kesulitan dalam perancangan, tetap ada intuisi dari perancang untuk memberikan input atau memberhentikan proses bila sekiranya bentuk dan proses telah terkomposisi dengan baik. Dalam komposisi yang terjadi, sisa ruang yang terbentuk justru digunakan sebagai mixed space dan suntikan-suntikan ruang publik yang menjadi generator pergerakan sirkulasi.

31


Setelah bentuk dasar bangunan telah terbuat, selanjutnya adalah memasukkan denah kedalam komposisi ini. Dalam proses ini masih dibentuk secara manual dengan membuat potongan denah per elevasi (rhino dan microstation) untuk mendapatkan perimeter ruang per elevasi. Proses perletakan denah masih dilakukan secara manual guna memberikan keruangan, pemberian modul struktur dan sirkulasi yang lebih baik. Proses ini akan memakan waktu hingga program ruang akan terlihat menyenangkan dan dalam proses ini akan terbentuk modifikasi modifikasi komposisi yang telah kita buat diatas.

32


jongArsitek! a p r i l 2 0 0 8 | d e s a i n m e n g i n s p i r a s i

Karena pada dasarnya perancangan ini mengambil tema sebagai penanda (landmark) kawasan, maka bangunan ini dibuat dengan contrasting (Tyler:2000) dengan membuatnya lebih tinggi, bentuk yang berbeda, pembedaan material, dan memiliki spatial prominent (lynch, Kevin:1960) sebagai daerah pengamat atau set back sehingga penampilan bangunan lebih terasa dan harmonis agar bangunan ini menjadi bangunan publik yang mudah diingat dan di lihat dikawasannya. Kulit bangunan yang berbeda kemudian diambil dengan memberikan material kaca sebagai area masuk cahaya alami kedalam bangunan. Kulit bangunan ini dibentuk secara sederhana, dengan menggunakan titik-titik terluar bangunan, kemudian menghubungkannya dengan garis NURBS, yang pada akhirnya terbentuk kulit NURBS surface. Setelah terbentuk kulit ini tahap selanjutnya adalah bagaimana kulit ini bisa terbangun. Proses pencarian struktur kulit ini menggunakan parametric desain dengan menggunakan proses delaunay trianggulation dengan 3ds max. Delaunay trianggulation (Delaunay, Boris:1934) adalah proses breakdown (pemecahan) suatu bidang menjadi segitiga yang terkait satu sama lainnya dengan panjang garis yang terdefinisi hingga membentuk segitiga 180 derajat. Definisi parametrik disini adalah pemberian maksimum panjang garis segitiga sepanjang 3 meter sehingga dapat diletakkan modul kaca yang ada di pasaran. Proses ini adalah salah satu proses yang menurut saya lebih teratur dan simple dibandingkan proses voronoi, arch cut, dan lain sebagainya.

33


Setelah proses ini selesai, maka tahap selanjutnya adalah pendokumentasian gambar kerja. Semua desain yang telah terancang di microstation kemudian dibawa ke dalam archicad untuk memudahkan dokumentasi tampak, dan potongan dengan baik. Dengan Meng-impor bentuk kulit yang telah terpecah melalui maxonform kedalam archicad, semua proyeksi tampak dan potongan lebih mudah terlihat secara detail dan presisi. Gambar-gambar hasil archicad kemudian di dokumentasikan kedalam microstation untuk memberikan notasi dan pengembangan yang lebih detail. Hasil ruang 3 dimensi dan struktur kulit kemudian di akhiri dengan render 3dsmax serta pembuatan quicktime virtual reality. Quicktime reality digunakan untuk dapat melihat ruang secara point per point dengan tampak 360 derajat. pada akhirnya sebuah komposisi bangunan dapat terlihat jelas dengan beberapa modifikasi. bentuk ruang yang masih kotak adalah hasil dari bentukan pertama yang kemudian di modifikasi mengikuti kulit dan denah. Proses yang biasanya terjadi linear menjadi acak karena kebutuhan-kebutuhan yang berbeda dalam proses perancangan. Pengetahuan program komputer pun menjadi signifikan untuk menghasilkan dan sebagai alat bantu dalam mewujudkan konsep desain kita. Pada akhirnya tetap arsiteklah yang menentukan kapan hasil akhirnya terjadi, dan tidak sepenuhnya mengerahkan pada komputer. By Employing techniques, contemporary technological practices seek to engage in a feedback loop that yields catalytic cultural effects. (Rahim, Ali:2006)


socialitur

media acara dan sosialisasi event arsitektur

38

Pembukaan Pameran 4D Univeristas Indonesia 2008

Open House Rumah Bekasi oleh Ahmad Djuhara


p a r i s © a d n y a n i

d e w i



jongArsitek! april 2008