Page 1

Demi masa {1} Sungguh, manusia berada dalam kerugian, {2} kecuali, orangorang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran {3}


Tinta Redaksi Kepemimpinan Apa kabar sahabat sekalian? Semoga kita semua selalu berada dalam limpahan rahmat-Nya. Alhamdulillah, akhirnya setelah perjuangan yang panjang, terbit juga ManaZine edisi ke-4 ini. Kami mohon maaf kepada sahabat semua karena penerbitan kali ini mengalami keterlambatan karena berbagai sebab. Di tengah kesibukan masing-masing tim redaksi, kami mencoba untuk mengumpulkan semangat dan niat kembali agar tidak tereduksi dan agar tetap dapat menegakkan agama-Nya bersama sahabat semua, salah satunya melalui ManaZine kali ini. Tahukah sahabat tema ManaZine kali ini? Coba tebak! Ya, benar! Tema kita kali ini adalah Kepemimpinan! Kenapa mesti kepemimpinan? Banyak pertimbangan sih untuk memilih tema tersebut. Tapi yang pasti, bukankah masing-masing dari kita adalah pemimpin? Minimal pemimpin diri masing-masing. Selain itu, keberadaan seorang pemimpin sangat penting. Bukankah begitu? Bukankah pemimpin adalah suatu deskripisi singkat mengenai yang dipimpinnya? Bukankah seorang pemimpin bagaikan seorang pengendara di dalam mobil? Tidak hanya itu, edisi kali ini juga berisi renungan akhir tahun. So, mari kita simak bersama-sama isi ManaZine kali ini. Semoga banyak hikmah dan berkah yang mengalir setelah membacanya. Amin... Namun sahabat, kita tahu bahwa manusia tidaklah sempurna. Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT, bukan? Oleh karena itu, kami, Tim Redaksi ManaZine , berharap pada Allah agar Sahabat sekalian berkenan memeberikan kritik, saran, komentar terhadap kami. Silakan kirim via email. Akhir kalimat, terima kasih. Selamat membaca! Selamat menegakkan agama-Nya! Keep Fight!

manazine EDISI DESEMBER 2010 PELINDUNG: ALLAH SWT, Rektor ITS Ketua TPK Islam PENASIHAT: Refi Efendi (Ketua Umum JMMI)ITS) Amir Amrudin (Kadep Syika PEMIMPIN UMUM: iv Media) Muhammad Mu’izzuddin (Kad Ayyu Fityatin (Kopidiv Media) PIMPINAN REDAKSI: Nanda Iriawan Ramadhan

Menjadi Umar bin Khattab Masa Depan (4) Perempuan Sempurna (7) Harapan untuk Rektor Terpilih (9) Dia-lah Sang Pahlawan: Pemuda (10) Kepemimpinan di Mata Akademisi (11)

Cerpen Aku Menjadi Saksi (14)

Fighting Dreamer Takkan Ku Letakkan Lagi ID Card-ku(17)

REPORTER: Imro’attul Qoniah, Ririn, Choirun Nisak, Faishal Mufied Al- Anshary LAYOUTER: Fathul Ali, Intan Cheria PUBLIKASI & DISTRIBUSI: Zendi Bagus Permana,Yufita

Resensi Kegiatan dan Galeri JMMI ITS Isu Keislaman Bogor: Pemerintah Buru Perokok (22) Muslim Jerman Harus Patuhi Konstitusi (23)

Wassalamu'alaykum warahmatullah wabarakatuh... _REDAKSI

Perjalanan Tahun Ujian Akhir Semester


KEPEMIMPINAN

M e n j a d i U m a r b i n K h a t t a b “Hmmm, kau lihatlah sendiri!” Umar dan Aslam segera melihat ke dalam M a s a D e p a n panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika Suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu. Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar, sang pemimpin, menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Ketika melihat berbondongbondong rakyat datang untuk makan, hatinya terasa semakin pedih. Kecemasan semakin menebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.” Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin Khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak. Setelah dekat, Umar melihat seorang

perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang. “Assalamu'alaikum,” Umar memberi salam. M e n d e n g a r s a l a m U m a r, i b u i t u mendongakkan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci. “Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?”, tanya Umar. Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….” “Apakah ia sakit?” “Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.” Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya. Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matangmatang juga masakanmu itu?” Ibu itu menoleh dan menjawab,

mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?” Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala. “Untuk apa?” Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun aku suruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentarsebentar ia bangun dan menangis minta makan.” Ibu itu diam sejenak.

Kemudian ibu anak kecil tadi melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.” Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu. Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu….” Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?” Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Membelai tanah Arab yang dilanda paceklik. *****


Tentu setiap perempuan mendambakan lelaki yang baik dan shalih, demikian juga sebaliknya. Karena dengan seseorang yang shalih, kemungkinan besar bisa memimpin perempuan-perempuan tersebut ke arah yang lebih baik. Namun, sebenarnya perempuan tak hanya butuh lelaki shalih untuk menjadi pendampingnya, tapi lebih membutuhkan diri dan amalannya yang benar-benar ikhlas karena Allah swt., sehingga pantas untuk memasuki surga-Nya. Dalam tiga ayat terakhir surat At-Takhrim, Allah menyebutkan empat nama perempuan di dalam ayat tersebut. Mereka adalah Istri Nuh, Istri Luth, Istri Firaun dan Maryam. Istri Nuh dan Istri Luth adalah simbol perempuan kafir, sedangkan Istri Firaun dan Maryam, adalah simbol perempuan beriman. Allah memberikan sebuah permisalan nan ironis. Mengapa begitu? Istri Nuh dan Istri Luth adalah contoh perempuan yang berada dalam pengawasan lelaki shalih. Suami-suami mereka adalah nabi. Akan tetapi, mereka berkhianat sehingga dikatakanlah kepada mereka, waqilad khulannaaro ma' daakhiliin. Sedangkan antitesa dari mereka, Allah bentangkan kehidupan Istri Firaun (Asiyah binti Muzahim) dan Maryam. Akan tetapi, cahaya iman membuat mereka mampu tetap bertahan di jalan kebenaran. Buktinya, Istri Firaun adalah istri seorang thaghut, pembangkang sejati yang berkoarkoar menyebut 'ana rabbakumul a'la'. Sehingga Allah memujinya, wa kaanat minal qaanithiin. Dan Maryam, ia bahkan tak memiliki suami tetapi ia rajin beribadah, dan Allah

berkehendak meniupkan ruh ke dalam rahimnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: "Sebaik-baik wanita penghuni surga itu adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran." (HR. Ahmad 2720, berderajat shahih). Empat perempuan itu dipuji sebagai sebaikbaik wanita penghuni surga. Akan tetapi, Rasulullah saw. masih membuat strata lagi dari 4 orang tersebut. Terpilihlah dua perempuan yang disebut sebagai perempuan sempurna. Rasul bersabda, “Banyak lelaki yang sempurna, tetapi tiada wanita yang sempurna kecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya keutamaan Asiyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya.� (Shahih al-Bukhari no. 3411). Bahkan perempuan sekelas Fathimah dan Khadijah pun masih 'kalah' dibanding Asiyah Istri Firaun dan Maryam binti Imran. Apakah gerangan yang membuat Rasul menilai semacam itu? Afifah Afra dalam sebuah artikelnya yang berjudul 'Siapakah Kau, Perempuan Sempurna?' membuat sebuah anaisis pribadi bahwa penyebabnya adalah karena keberadaan suami. Khadijah, ia perempuan hebat, namun ia tak sempurna, karena ia diback-up total oleh Muhammad saw., seorang lelaki hebat. Fathimah, ia dahsyat, namun ia tak sempurna, karena ada Ali bin Abi Thalib kw, seorang pemuda mukmin yang tangguh.

zine

Cerita di atas hanyalah sedikit cerita dari sekian banyak cerita mengharukan yang sempat tertorehkan para pemimpin di zaman Tabiin. Dan apa yang dilakukan Umar bin Khattab adalah sebuah pengorbanan yang patut dijadikan teladan oleh para pemimpin modern. Seorang pemimpin yang begitu dihormati, tak disangka ternyata begitu gemar keluar malam hanya untuk 'menjenguk' rakyatnya. Tanpa mobil mewah, tanpa pengawalan yang ketat dan ajudan, tanpa kamera tv, tanpa wartawan yang meliput, dan tanpa publikasi. Ia ingin tahu apakah rakyatnya bisa tidur nyenyak atau tidak, makan kenyang atau masih kelaparan. Bahkan ia rela melewatkan malamnya tanpa tidur demi mengangkat sekarung gandum untuk rakyatnya. Begitulah memang seharusnya seorang pemimpin yang sadar akan prioritas dari kepemimpinannya. Bahwa yang paling penting adalah kesejahteraan apa-apa yang dipimpinnya dan bukan sebaliknya. Bahwa memimpin berarti melayani lebih dulu sebelum dilayani, memahami lebih dulu sebelum difahami dan mengerti lebih dulu sebelum dimengerti. Sekarang, justru banyak pemimpin yang merasa dirinya majikan dan bukanlah pelayan, menjadi pemimpin ala Umar bin Khattab tentulah sebuah tantangan besar. Namun, sebagai pemuda muslim, tidakkah kita menginginkan untuk menjadi Umar bin Khattab – Umar bin Khattab masa depan? ( Ayyu)


Sedangkan Asiyah? Saat ia menanggung deraan hidup yang begitu dahsyat, kepada siapa ia menyandarkan tubuhnya, karena justru yang menyiksanya adalah suaminya sendiri. Siksaan yang membuat ia berdoa, dengan gemetar, "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim." Siksaan yang membuat nyawanya terbang, ah tidak mati, namun menuju surga. Mendapatkan rizki dan bersuka ria dengan para penduduk akhirat. Bagaimana pula dengan Maryam? Ia seorang lajang yang dipilih Allah untuk menjadi ibunda bagi Nabi Isa. Kepada siapa ia mengadu atas tindasan kaumnya yang menuduh ia sebagai pezina? Pantas jika Rasul menyebut mereka: Perempuan sempurna. Jadi, bukan karena (sekadar) lelaki shalih yang menjadi pendamping perempuan. Suami yang baik, memang akan menuntun kita menuju jalan ke surga, mempermudah kita dalam menjalankan perintah agama. Namun, jemari akan teracung pada para perempuan yang dengan kelajangannya (namun bukan sengaja melajang), atau dengan kondisi suaminya yang memprihatinkan (yang juga bukan karena kehendaknya), ternyata tetap bisa beramal dan cemerlang dalam cahaya iman. Kalian adalah Maryam-Maryam dan Asiyah-Asiyah, yang lebih hebat dari Khadijah-Khadijah dan Fathimah-Fathimah. Sebaliknya, alangkah hinanya para perempuan yang memiliki suami-suami nan shalih, namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Yang alih-alih mendukung suami dalam dakwah, namun justru menggelendot manja, “ kok pergi pengajian terus sih, sekali-kali libur dong!”• Atau, “Mas, aku pengin beli motor yang bagus, gimana kalau Mas korupsi aja,”• Benar, bahwa istri hebat ada di samping suami hebat. Namun, lebih hebat lagi adalah istri yang tetap bisa hebat meskipun terpaksa bersuamikan orang tak hebat, atau bahkan tetapi melajang karena berbagai sebab nan syar'i. Dan betapa rendahnya istri yang tak hebat, padahal suaminya orang hebat dan membentangkan baginya berbagai kemudahan untuk menjadi hebat. Hebat sebagai hamba Allah! Wallahu alam bishshawwab.

zine

*disarikan dari tulisan Afifah Afra, “Siapakah Kau? Perempuan Sempurna?”

Berbagai harapan untuk rektor terpilih tentunya telah menggema di dalam hati masing-masing seluruh individu yang terlibat di kehidupan Kampus Perjuangan. Seperti apa harapan mereka? Simak beberapa harapan yang disampaikan oleh sivitas akademika ITS di bawah ini. Supardi, -Satuan Keamanan KampusYaa... yang penting kebijakan yang dibuat bisa membuat karyawan lebih sejahtera.

Refi Efendi, -Anggota Tim Nasyid GRANADA Semoga mampu mengantarkan ITS sebagaimana visi awal dibangunnya institusi ini, mengembangkan lebih baik mentoring ITS sebagai solusi permasalahan problematika mahasiswa saat ini, dan menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas muamalah dan peribadatan.

Rendi Nugroho, -Anggota UKM FUTSAL ITS Semoga dengan kebijakannya bisa menjadikan ITS lebih teduh, infrastruktur lebih terjamin dan sampah-sampah tidak mau lagi menampakkan dirinya di lingkungan ITS.

Feby Artwodini, -Dosen Sisitem InformasiSemoga riset/ penelitian dosen lebih disemarakkan dan kuota untuk riset diperbesar, membuat system pengaderan yang terarah untuk mendidik mahasiswa baru, dan semoga bisa membawa ITS menjadi perguruan tinggi yang terdepan dalam pengembangan teknologi , dan mampu go internasional. (Mu'izz)


Kepemimpinan di mata akademisi sebuah ilusi kecil: Namaku Alief Rahman Hakim. Kampusku adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Di portal dekat asrama mahasiswa dengan jelas dapat ku baca : “Selamat Datang di Kampus Perjuangan”. Kawan, bulu kuduk ini berdiri, hati ini berdesir kencang, seolah sebuah dosa besar jika aku tidak mampu menjadi mahasiswa 'Sang Pahlawan', sebab aku kuliah di kampus perjuangan. Atmosfer kepahlawan tak akan pernah pudar dalam nuansa kampus ini, pekikan Bung Tomo dalam pidatonya, mampu memprovokasi pemuda untuk bergerak mempertahankan kota ini, “Bismillahirrohmanirrohim, Merdeka! Sodarasodara arek-arek suroboyo, pemuda-pemuda suroboyo, dan sodara semua pemuda-pemuda Indonesia yang tergabung dalam pasukanpasukannya masing-masing di Surabaya ini. Habiskanlah lawan kita, pertahankanlah kota kita ini. Tuhan beserta kita. Insyaallah sodara-sodara, kemenangan akhir pasti kita yang mencapainya. Allahuakbar. Allahuakbar”. Bung Tomo, dia bagian dari pemuda dan pahlawan untuk kita hari ini. Tak ada sejengkal tanah di negeri ini, tanpa peluh dan darah para pahlawan, begitu bertabur pahlawan sebelum 17 Agustus. Tapi sang pahlawan, tak lagi ditemukan pasca itu dan hari ini. Benarkah negeri ini kehilangan sosok pahlawan. Indonesia, tak mampukah kau melahirkan para pahlawan? Kelahiran sang pahlawan adalah pekerjaan tersendiri. Sebab sang pahlawan bukanlah sebuah pekerjaan urgent untuk segera dijawab. Karena para pahlawan itu lahir bukan karena ingin mendapat gelar pahlawan. Dia mungkin dianggap orang biasa, tanpa kontribusi luar biasa, hingga ia mati, barulah generasi dibawahnya memberinya gelar pahlawan. Sebab jasa dan karyanya waktu itu memberi bekas – bekas manfaat bagi generasi muda. Dan pemuda (aku, kamu, dan kita semua) adalah calon pahlawan untuk Indonesia. Kita memang tidak pernah menginginkan mendapat gelar itu, tapi karakteristik sang pahlawan yang akan menjadi mercusuar gerak kita. Sebab pahlawan itu, dia akan bekerja tanpa peduli mendapat apresiasi, olokan bahkan hinaan. Dia akan bergerak karena sebuah kesadaran bahwa apa yang dikerjakan untuk kebaikan umat. Pahlawan bukan siapa, tapi apa karya dan prestasinya untuk umat ini. Kita memang sedang tidak berburu gelar pahlawan, tapi kita sedang berlomba untuk berkarya gaya pahlawan. Dan

menjaga sejarah kepahlawanan itu. Kita akan meneruskan kerja para pahlawan. Ini berarti (pemuda) akan berkarya pada jalannya: berkarya lewat karya intelektual, usulan dan gagasan ilmiah sebagai respon intelektual atas permasalahan umat, menjaga moral untuk keberadaban bangsa. Bukan sebaliknya menodai sejarah kepahlawan itu dengan aksi brutal, tindakan amoral, yang hanya mampu membuat pahlawan dahulu kecewa padamu. Pada setiap bagian waktu akan selalu ada pahlawan yang hadir membenahi kerusakan – kerusakan yang timbul di masyarakat. Dan setiap perbaikan yang hadir adalah pemuda dan pemudi. Ada pemuda seperti Ibrahim yang membabat berhala kemusyrikan dan menentang tirani Namrudz. Ada Musa yang menyelamatkan Bani Israel dari penyembahan terhadap Fir'aun. Ada Shalahudin Al-Ayyubi yang membebaskan Yerusalem dari tentara salib. Thariq bin Ziyad yang menaklukan Andalusia. Mimpi kaum Muslimin untuk menaklukan Konstatinopel pun di pimpin pemuda belia Muhammad Al-Fatih Murad. Dan siapakah calon pahlawan yang akan hadir melawan penjajahan pemikiran dan moral di negeri ini? Ku harap, dialah; sang Pemuda. Menjaga sejarah kepahlawanan itu memang berat. Pekerjaaan-pekerjaan rumah yang ditinggalkan harus kita teruskan dengan lebih baik lagi. Bukan meninggalkan apalagi menghancurkannya. Masih terngiang jelas bagaimana Khalifah Abu Bakar as Shiddiq begitu teguh menjaga sejarah kepahlawanan pendahulunya, Rasulullah SAW, ketika mulai muncul fenomena penolakan atas penarikan zakat. Dengan lantang ia berkata, ”Demi Allah, sungguh aku akan memerangi mereka yang menolak membayar zakat, sementara dulu mereka menunaikannya pada z a m a n R a s u l u l l a h S AW h i d u p . A k u a k a n memeranginya meskipun aku tinggal sendirian.“

Nama : Prof. Ir. Mukhtasor. M.Eng., Ph.D. Tempat dan Tanggal Lahir : Blitar, 20 April 1969 Pekerjaan : Guru Besar Jurusan Teknik Kelautan ITS, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Motto Hidup : Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik kemanfaatannya Tempat favorit di ITS: Masjid ITS dan medan organisasi di ITS

Kepemimpinan, itulah tema kita kali ini. Kita tentu sering mendengar kata itu. Ta p i s e b e n a r n y a a p a s i h m a k n a kepemimpinan itu? Seberapa penting seorang pemimpin itu? Tentunya jawaban dari masing-masing orang akan berbeda dengan yang lain. Dan kali ini, kami telah melakukan bincang-bincang dengan dosen ITS yang juga merupakan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) . Nah, mari simak wawancara kami bersama dosen TPKI ITS, Pak Mukhtasor. 1. Menurut bapak, apa sebenarnya makna kepemimpinan ? Kepemimpinan dapat difahami dari berbagai segi, namun intisarinya adalah kemampuan untuk merumuskan cita-cita bersama, untuk mengarahkan semua sumberdaya untuk mencapai cita-cita, dan untuk memberikan keteladanan dalam memperjuangkan pencapaian cita-cita tersebut. Jadi kepemimpinan seseorang merupakan kualitas orang tersebut dalam menggambarkan masa depan yang diinginkan, dalam mengarahkan orang lain

dan sumber daya yang ada, serta dalam memberi keteladanan berupa kesungguhan, kerja cerdas, dan pengorbanan untuk pencapaian cita-cita tersebut. Seberapa pentingnya adanya seorang pemimpin? Pemimpin itu penting, seumpama mobil, pemimpin itu sopirnya. Jika mobil tanpa sopir, mobil tidak akan mencapai tujuan. Nabi mengingatkan, jika kita berpergian bersama, bertiga, hendaknya satu diantara kita adalah seorang pemimpin bagi yang lainnya. Al-Qur'an memerintahkan kita mencapai tujuan bersama, memilih pemimpin yang kapabel dan mentaati putusan pemimpin di bidang kepemimpinannya. Tentunya bapak pernah menjadi seorang pemimpin, kalau boleh tahu ketika memimpin , apa yang sangat berkesan di hati Bapak? Kesan utama adalah tanggung jawab yang besar. Ada perasaan tanggung jawab untuk ingin memastikan bahwa cita-


cita masa depan kita adalah cita-cita yang baik bagi agama kita dan bagi semua orang yang kita pimpin, ingin memastikan semua unsur yang kita pimpin memahami dan bahu-membahu mencapai cita-cita tersebut, dan ingin memastikan bahwa kita sendiri dapat memberikan contoh. Ini berat sekali. Kenapa hal tersebut sangat berkesan menurut Bapak? Tanggung jawab itu berat. Kita akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinan kita. Baik-buruknya proses dan hasil kerja bersama kita sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan pemimpin kita. Kita takut kalau kita salah memimpin, membawa perubahan ke arah yang salah. Selama Bapak menjadi pemimpin, pernahkah Bapak mengalami kegagalan? Kita semua mempunyai pengalaman, yang baik ataupun yang buruk. Kepemimpinan yang sukses ataupun yang gagal. Itulah kehidupan. Apa yang Bapak lakukan ketika itu (kesulitan datang)? Kita semua adalah middle class leaders. Diatas seorang pemimpin masih ada pemimpin diatasnya. Kepemimpinan tertinggi kita adalah Allah SWT. “Allahu waliyul ladzina amanuu� . Ketika

kesulitan datang, kita komunikasikan dengan pemimpin kita, dan yang penting kita meminta pertolongan kepada Allah SWT. “Wasta'inuu bishobri washollah�. Apa yang memotivasi Bapak untuk menjadi pemimpin ? Menjadi pemimpin bukan keinginan kita; namun demikian, tugas kepemimpinan datang tak terhindarkan kepada diri kita. Ada banyak persoalan dan tantangan perbaikan yang hadir di tengahtengah kehidupan kita. Ada perbedaan antara kehidupan yang kita jalani dengan keharusan yang mestinya kita wujudkan seperti yang kita yakini. Ini adalah persoalan yang memerlukan kontribusi perbaikan. Setiap kita memiliki kewajiban memperbaiki keadaan di lingkungan kita. Semakin besar kontribusi perbaikan lingkungan kita, semakin besar pula nilai kemanfaatan kita. Semakin baik kualitas kerja kita, semakin baik pula nilainya di sisi Allah swt. Semakin besar atau luas skala perjuangan kita, semakin besar pula dampak perbaikannya. Maka, seorang pemimpin memiliki kelebihan kontributif daripada orang-orang yang dipimpin, di samping tentu saja semakin besar tanggungjawabnya. Orang-orang yang berinisiatif di depan akan mendapatkan balasan kebajikan yang lebih utama dan terus-menerus sepanjang inisiatifnya masih dilaksanakan. “Man sanna sunnatan hasanatan falahu ajrun wa ajrun man 'amila biha�. Ini berarti kemanfaatan seorang pemimpin itu jauh lebih besar; dan Nabi berpesan, yang dalam bahasa sederhananya, sebaik-baik orang

adalah orang yang terbaik kemanfaatannya. Jadi, pemimpin itu utama. Kalau semua orang melempar tanggung jawab, tidak mau jadi pemimpin, rusaklah kehidupan kita. Adanya pemimpin itu fardu, sekurang-kurangnya adalah fardu kifayah. Pesan untuk mahasiswa sebagai calon pemimpin? Untuk menjadi pemimpin, mahasiswa harus punya tiga kapasitas. Pertama kapasitas imajinatif tentang kondisi masa depan yang dicita-citakan. Banyak membaca dan belajar. Banyak mengambil pengalaman. Banyak bertanya dan bergaul dengan orang-orang bijak, pemimipin –pemimpin sukses dan orang-orang besar. Dan yang paling penting, banyak mendalami agama Allah swt. agar daya imajinasi anda hebat, karena Allah swt. Maha Segalanya. Kedua, kemampuan mengarahkan orang lain dan sumberdaya yang ada di sekitar kita. Banyak bergaul dengan manusia agar bisa memahami pikirannya, perasaannya dan tingkah laku, serta kebutuhan dan orientasinya. Banyak memahami kelebihan dan keterbatasan sumberdaya yang ada di sekeliling kita. Banyak belajar dan berlatih dalam menejemen kelompok dan menejemen organisasi. Berlatih untuk mengambil peran yang besar dengan memberi kontribusi maksimal sesuai tugas-tugas yang sedang kita emban sekarang. Ketiga, keteladanan. Banyak berlatih untuk tidak mudah menyerah untuk hal-hal yang baik namun disertai dengan pendekatan yang sesuai. Banyak berkorban. Banyak menolong. Banyak memberi dan bukan banyak mengharapkan bantuan. Ambil peran dan tidak lari atau sembunyi dari masalah. Ambil resiko pribadi untuk mengambil peluang kemaslahatan bersama. Ambil resiko tersebut meskipun kebanyakan orang tidak berani mengambilnya. Bekerja sebaikbaiknya, dan jangan terpaku pada apakah kita akan mendapatkan hasil langsung ataukah tidak. Kita terus berkarya, Allah swt. yang pasti memberi balasan atas pekerjaan kita, meskipun kita memikirkannya ataupun tidak. Itulah sedikit perbincangan kami bersama Pak Mukhtasor. Sahabat, lantas apa pendapatmu tentang pemimpin dan kepemimpinan? (nd)


CERPEN

Saat ini, aku bingung apakah harus bersedih ataukah senang? Sepertinya, selama satu tahun ke depan aku tidak akan melihat senyumnya yang menyenangkan bagi siapapun yang melihatnya. Senyum itu, senyum yang sedang kulihat saat ini, selalu mengembang dari bibirnya ketika bertemu dengan orang yang bertatap muka dengannya Senyum yang ikhlas dikembangkan oleh sang empunya. Sore ini, di sekretariat organisasi ini, aku menjadi saksi bahwa Allah memang Maha Adil. Ya, aku menjadi saksi. Sudah tiga tahun aku bersamanya. Berbagai perjalanan hidup aku lalui bersamanya. Ada suka, duka, air mata, dan terkadang darah yang menjadi simphoni kebersamaan kami. Bukan, bukan pertumpahan darah yang aku maksudkan, tetapi cobaan dan masalah yang mendera kami hingga terkadang membuat hati dan tubuh kami terluka. Seperti grafik sinusoidal. Yang terkadang membawa kami ke titik puncak grafik, namun di saat lain membenamkan kami di lembahnya yang lebih rendah dari permukaannya. Dia sahabatku, guruku, dan saudaraku. Banyak hal yang kusukai darinya. Salah satu yang kusuka darinya adalah kesederhanaannya. Kesederhanaan dalam bersikap dan berpikir dari dirinyalah yang paling aku suka. Dan aku yakin,

keistimewaannya inilah yang mengantarkannya di tempat ini dan tempat yang akan dia tuju beberapa hari lagi. Aku masih ingat ketika kami melakukan pengiriman bantuan untuk korban bencana alam. Saat itu, truk yang mengangkut kami mengalami masalah pada mesinnya. Sayangnya, hujan turun dengan sangat deras. Kami semua turun dari truk dan berteduh di teras sebuah rumah kosong yang kami temui. Tidak ada lagi akses untuk ke sana. Hingga tidak ada pilihan lain bagi kami kecuali menunggu hujan berhenti. Aku mendengar ada sebagian temanku yang menyalahkan hujan turun pada waktu yang tidak tepat. Mengeluh tentang cuaca yang

tak bersahabat. Sebagian teman-temanku yang lain tampak berusaha mengistirahatkan tubuhnya yang mungkin kelelahan. Sebagai ketua organisasi dan penanggung jawab perjalanan ini, aku ingin memastikan bahwa timku lengkap, tidak kurang satu pun. Dan aku menyuruh mereka untuk tetap berteduh di teras rumah kosong ini. Saat teman-teman yang lain masih ada yang menyalahkan hujan dan mengistirahatkan badannya, dia memandangi hujan dengan perasaan ragu. Matanya secara bergantian memandangi kardus-kardus makanan instan dan guyuran air hujan. Langkahnya maju mundur. Aku memperhatikannya. Tak lama kemudian, dia mengambil sebuah plastik besar, lalu memasukkan dua kardus makanan instan dan sekardus minuman mineral ke dalam plastik yang diambilnya tadi. Aku berjalan ke arahnya. “ Jangan sekarang, Ndy! Hujan masih deras! Kau lihat kilatan-kilatan petir itu. Lagian udah dekat kok. Kita tunggu hujannya reda dulu aja! Baru kita antar sumbangan ini� Aku melarang Andy untuk mengantar sumbangan untuk korban bencana sendirian dan menembus hujan. “ Terlalu lama, Jok ! Mereka sedang kelaparan. Anak-anak kecil sedang menangis dan merengek pada ibunya untuk disuapi makanan. Mereka menunggu bantuan dari kita.� Andy langsung menembus hujan, aku meneriakinya dan menyuruhnya kembali. Tapi dia lenyap dari jangkauan pandanganku akibat hujan yang turun semakin deras. Garis-garis air hujan mengaburkan pandanganku. Aku mengkhawatirkannya.

Lima belas menit kemudian Andy kembali ke tempat kami berteduh dengan pakaian basah kuyup, kaki gemetar, dan nafas yang tersengal-sengal. Badannya bertumpu kedua kakinya. Sambil memasukkan kardus makanan dan minuman yang lain ke dalam plastik besar, dia mengatakan kepada kami bahwa para korban sangat membutuhkan bantuan makanan untuk saat ini. Aku dan temanteman masih ragu. Andy membaca keraguan kami. Dia menatap kami dan gilanya dia kembali lari menembus hujan. Aku bingung. Aku ingin membantu Andy, tapi bagaimana kalau... Ah, tidak ada alasan yang jelas bagiku untuk tidak membantu Andy. *Ketika semua sumbangan sudah diantarkan ke lokasi bencana.* Aku memeluk Andy erat-erat. Aku minta maaf kepadanya karena telah sempat membiarkannya berjuang sendirian untuk mengantarkan sumbangan-sumbangan itu kepada para korban bencana alam. Sebagai pemimpin, aku malu pada Andy dan diriku sendiri. Aku mengungkapkan rasa maluku kepadanya.


“Iman dan malu itu tidak bisa dipisahkan. Saling melengkapi. Tanpa salah satunya, tidak artinya. Syukurlah kalau kamu masih punya malu, berarti kamu masih punya iman. Hehehe.” Katanya dengan bercanda seolah menganggapnya biasa. Mungkin bagi dia biasa, tapi tidak bagiku. Ah, Ndy, kaulah yang sebenarnya pantas menjadi pemimpin. Aku juga ingat ketika dia duduk kuliah di sebelahku dengan tenang menyimak penjelasan dosen tentang Mekanika, sedangkan aku sibuk dengan laporan praktikum yang sampai pembahasan saja belum. Dia melirik ke arahku dan berkata dengan tenang dan kalem, tapi membuatku menertawakan diriku sendiri. “Makanya, dicicil dikit-dikit kan enak. Daripada gini, langsung ngerjain rombongan. Kan jadi kewalahan sendiri. Sesuatu yang besar itu dimulai dari yang kecil.” “Tapi nggak sempat lho, Ndy! Tugasku banyak banget. Belum tugas kuliah sama organisasi, ditambah presentasi ke dosen...” Aku protes. “ Tapi sampai kapan kamu gini terus, Jok? Perasaan setiap hari Selasa kamu

Fighting Dreamer

mesti bingung sama laporan aja .Kuliah, berorganisasi, dan bermasyarakat itu baik. Sangat baik. Tapi semua itu kan udah ada porsinya. Kalau nggak sesuai porsi atau berlebihan kan nggak bagus.” Aku mau bersuara tapi dia segera menambahkan. “ Ingat Surat ar Ra'ad ayat 11 ! Dan jadikan kepemimpinanmu di organisasi sebagai sarana bagimu untuk meningkatkan kemampuanmu, bukan untuk menjadi alasan atas kelalaian yang kau buat sendiri.” Aku terdiam. Astaghfirullah. Ndy, terima kasih kau telah mengingatkanku. Saat ini, detik ini, di acara yang diadakan untuk melepas keberangkatan sahabatku yang mendapat beasiswa ke Prancis, aku melihatnya sedang bercanda dengan teman-teman yang lain. Aku akan merindukan senyummu, nasehatnasehatmu, dan ide-ide gilamu, Ndy. Berangkatlah! Belajarlah dan selami samudera ilmu yang kau impikan itu. (Nanda)

Jalan hidupku tiada yang tahu. Kecuali Sang pembuat garis takdir. Ketika aku akhirnya dapat menginjakkan kaki disini, di kampus perjuangan ini, aku bertanya kenapa harus di ITS? Padahal aku ingin menjadi guru, aku ingin berkecimpung di dunia pendidikan. Mengajar anak SMA ataupun SMP nantinya. Tapi garis takdirku mengantarkanku pada takdir yang lain. Hingga aku akhirnya menyadari bahwa mungkin ini bukan yang kuinginkan tapi sesungguhnya ini adalah yang kubutuhkan. Kebutuhanku akan apa yang semula asing bagiku, yaitu dakwah. Di kampus ini dengan seabrek agenda akademis pasti akan membuatku bosan dengan rutinitas yang sama. Apalagi kalau melihat jangka panjangnya yaitu selama kurang lebih 4 tahun, kita akan thawaf dari kos-kosan menuju kampus dan dari kampus kembali lagi ke kos. Istilah kerennya adalah mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Nah, brainstorming yang ada dikepalaku kurang lebihnya seperti itu. Awalnya, aku hanya ikut-ikutan. Namun, akhirnya aku semakin tertarik dengan yang namanya kajian, mentoring, masjid, dan berbaur dengan para jamaahnya. Bukan berarti aku anak masjid banget yang

paham ini itu, tapi disini kita dapat belajar lebih dekat satu sama lain. Entah kita berada dimana, tapi kita butuh dakwah. Bukan dakwah yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkannya. Nahnu du'a kobla kulli syai'.. Dilematis memang. Di saat ada kerja kelompok dengan teman-teman jurusan, di sisi lain ada undangan syuro di masjid yang juga membutuhkan kehadiran kita. Pun, ada saja kejutan yang diberikan Allah pada kita. Mulai dari dosennya tidak datang dan diganti di hari lain atau kuliah berakhir dengan lebih cepat. Keberadaan kita sebagai aktivis dakwah, dengan jumlah SKS syuro melebihi SKS mata kuliah yang diambil bukan menjadi alasan kita untuk meninggalkan atau mengesampingkan kuliah. Mendapatkan apa yang kita inginkan, tidak semudah yang kita pikirkan. Tapi bukan berarti tidak bisa kita dapatkan. Banyak cara yang bisa ditempuh. Yang jelas butuh pengorbanan. Begitu juga dengan dakwah, butuh pengorbanan. Kita cukup jemu mendengarkan kata ini. Begitu dilontarkan, pasti kita membayangkan bagai ditimpa gunung berjuta-juta ton di pundak kita. Belum lagi suasana yang panas dan peluh yang kita keluarkan saat memikul gunung itu. Tapi, semoga itu menjadi


lontaran di masa lampau. Kini dakwah bukanlah lagi menjadi sebuah pengorbanan tapi prestasi. Yups, dakwah adalah prestasi! Bisa jadi kita sibuk di lembaga dakwah jurusan ataupun kampus, di himpunan, di BEM, LM, UKM, omek, dan sebagainya. Di mana pun kita berada, di situlah lahan kita untuk berdakwah dan berkarya. Mungkin tantangannya berbeda, tapi jika kita sigap dan kuat, dakwah akan menjaga kuliah dan akademis kita. Dengan banyaknya kegiatan di organisasi tersebut, tugas-tugas kita akan bertambah pula. Kita dituntut lebih produktif dan cermat dalam menata waktu pula. Tiap momen, kita dapat memberikan sumbangsih pada kegiatan dakwah yang kita ikuti. Menambah jaringan dan kemampuan negosiasi kita. Namun, ada yang lebih dari sekedar softskill yang kita dapatkan. Ada sebuah cerita, di tahun kedua dulu, aku menjadi SC kegiatan besar di lembaga dakwah kampus. Setiap hari butuh kordinasi sehingga keteteran dalam mengerjakan semua amanah tersebut. Namun, semua rasanya dimudahkan meski dikerjakan saat injury time. Di saat banyak mahasiswa lain telah selesai mengerjakan tugas dan tidur, aku malah baru tiba kos dan mulai mengerjakan tugas kuliah. Sempitnya waktu membuatku lebih menghargai waktu. Dan benar, di saat akhir semester nilaiku meningkat, bahkan hingga cumlaude dengan nilai IPS di semester itu yang tertinggi dibanding IPS sebelumsebelumnya. Awalnya aku ingin menanggalkan ID card-ku sebagai SC karena ketakutan yang muncul akan agenda atau kegiatan

dakwah yang membuat mengurangi waktu belajar dan istirahat kami serta gertakan dari teman-teman yang membuat mundur dari dakwah ini. Namun, aku mengurungkannya. Dan aku justru semakin aktif untuk melakukan hal lain, seperti menjadi seorang mentor, asisten lab, pengajar adik-adik binaan, serta guru les. Seperti yang dituliskan oleh Rosa Torcasio dalam Chicken Soup for The College Soul “Gapailah langit, karena jika meleset pun, kau tetap akan berada di antara bintang-bintang“. Menurutmu bagaimana bintang itu? Apakah mereka yang dapat sampai berada diantara bintang-bintang pun dapat menggapai langit? Lalu bagaimana? Yups, mereka harusnya bekerja keras untuk dapat sampai ke atas, berupaya memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya sehingga dia menjadi sesuatu yang dilihat karena karyanya. Bisa jadi hasil yang kita peroleh masih belum seberapa, tapi ketika kita menengok ke samping, kita sudah menyamai keberhasilan orang-orang di bidangnya masing-masing. Tawazun antara kuliah dan agendaagenda dakwah bukan berarti setengahsetengah. Kuliah datang, duduk, menulis, dan selesai. Mungkin itu yang terjadi di beberapa institusi. Tapi yakinlah, jika kita sungguh-sungguh, maka keberhasilan itu akan menghampiri kita. Karena justru di situlah letaknya pahala dari Allah swt.: Jazaan bima kanuu ya'malun (Balasan itu diberikan bagi mereka yang berkarya). Dan akhirnya, mari berprestasi, mari membuat Allah tersenyum melihat pengorbanan kita. Ma'an Najah, semoga sukses sobat! (iq Imro'atul)

RESENSI FILM Jenis film: Drama. Sutradara: Hanung Bramantyo. Penulis: Hanung Bramantyo. Pemain: Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Giring, Zaskia Adya Mecca, Ihsan Idol, Ikranegara, Yatti Surachman, Joshua Suherman.

K

ISAH ini berawal dari seorang remaja yang banyak melihat tradisi sesajen berbaur ajaran agama Islam yang menurutnya dapat menyesatkan umat Islam di Kauman. Remaja tersebut bernama Darwis. Ia berangkat ke tanah suci di usia 15 tahun. Sepulang dari Mekah, Darwis mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Ketika berusia 21 tahun, ia gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bidah. Karena pelaksanaan ritual di kalangan umat Islam di Indonesia, Islam dipandang sebagai agama mistik dan tahayul oleh kalangan Eropa (Belanda) dan kaum modern. Melalui suraunya Ahmad Dahlan membuka sekolah yang menyadarkan bahwa Islam tidak hanya berkutat soal tauhid, tetapi juga mampu memperbaiki kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan. Bagi Ahmad Dahlan, kemiskinan disebabkan karena kebodohan. Berangkat dari gagasan itulah maka laki-laki putra Khatib Masjid Besar Kauman itu memulai kiprahnya. Gerakannya dimulai dengan mengubah arah kiblat Masjid Besar Kauman yang menurutnya keliru.

Apa yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan tersebut telah membuat marah Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Raharjo) sebagai seorang kyai penjaga tradisi. Akibatnya, langgar Ahmad Dahlan pun dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Selain itu, Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai kafir karena menempatkan muridnya untuk duduk di kursi seperti apa yang dilakukan oleh sekolah modern milik Belanda. Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai Kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Semua itu tidak membuat Ahmad Dahlan mundur untuk menegakkan ajaran Islam yang benar menurut syariat. Dengan ditemani istrinya, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan kelima murid setianya yaitu Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Hisyam (Dennis Adishwara), Fahrudin (Mario Irwinsyah) serta Dirjo (Abdurrahman Arif) ia membentuk Muhammadiyah sebagai wadah pendidikan bagi umat Islam agar lebih maju dalam pemikiran. (Nisak)


Kegiatan dan Galeri JMMI ITS

M

entoring wajib semester ganjil yang selama ini dilakukan oleh JMMI ITS telah usai. Semua mente (peserta mentoring) dipertemukan dalam acara Mentoring Klasikal pada hari Sabtu (04/12). Dengan tema “ Muhammad Idolaku, Panutan Hidupku”, event besar tersebut diselenggarakan di ruang utama Masjid Manarul Ilmi ITS. Ribuan mahasiswa muslim ITS tampak memenuhi ruang utama Masjid Manarul Ilmi ITS. Mereka tampak serius memperhatikan materi yang disampaikan oleh Iman Supriyono. Terkadang mereka tertawa, terkadang terlihat seperti merenungkan apa yang disampaikan oleh penulis buku Guru Goblok Ketemu Murid Goblok tersebut. “Belajar yang baik itu adalah menggabungkan antara teori dan mempraktekannya, sehingga keduanya

menjadi sinkron.” Ungkap Iman. Selain itu, lulusan Teknik Mesin ITS tersebut juga memaparkan bahwa sebenarnya untuk menjadi bangsa yang besar, setiap orang di Indonesia hendaknya mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. di usia yang sama. “ Saat beliau usia sembilan tahun, beliau sudah menggembala kambing dan saat usia tiga belas sudah mengelilingi beberapa negara. Lalu apa yang kita lakukan saat usia tersebut? ”. Dihubungi secara terpisah, Aris Fauzi selaku panitia acara ini mengatakan bahwa acara ini dilakukan untuk mengoreksi dan memantau perkembangan para mente setelah mengikuti kegiatan mentoring wajib selama satu semester. “Alhamdulillah, dari mahasiswa angkatan 2010 sudah semangat dalam mengikuti mentoring. Dan semoga ke depannya

serambi-serambi masjid dipenuhi oleh lingkaran-lingkaran mentoring”, ungkap mahasiswa Jurusan Teknik Mesin tersebut. Setelah penyampaian materi, acara yang dihadiri sekitar 1200 mahasiswa ( putra

PH KSD JMMI 2010/2011

Bantuan untuk korban Merapi dan Wasior

Sholat Idul Adha di ITS

dan putri) muslim tersebut dilanjutkan dengan UAS Mentoring. Kurang lebih

JMMI Fun Day di Pantai Kenjeran

Bakar ikan bareng di Sekpa

Rapimnas di Ambon


ISU KEISLAMAN

Kita up date berita terbaru ke kota Bogor, kita akan melihat pemandangan yang menarik disana. Puluhan satuan petugas dan personil gabungan dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Bogor, Satuan Polisi Pamong Praja dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sedang sibuk berburu perokok yang sedang aktif merokok. Mereka bertugas untuk menangkap para pelanggar Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di dalam angkutan kota di sekitar belokan Jalan MerdekaMA Salmun, dan Jalan Perintis Kemerdekaan. Para sopir maupun penumpang angkot hanya pasrah ketika petugas meminta rokok yang sedang diisapnya dimatikan. Puntung rokok oleh petugas dimasukan ke dalam plastik kecil dan dibawa ke sidang Tindak Pidana Ringan sebagai barang bukti. Sedikitnya ada 26 orang, yang terdiri dari sopir dan penumpang angkutan kota (angkot) yang terjaring razia, digiring ke pengadilan Tindak Pidana Ringan yang digelar di Terminal Merdeka Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Para sopir dan penumpang angkutan Kota Bogor itu dinyatakan bersalah telah melanggar Peraturan Daerah (Perda) No 12 tahun 2009

tentang Kawasan Tanpa Rokok. Seusai disidang, para sopir itu dikenai sanksi dengan harus membayar denda. Besaran denda yang dikenakan bervariatif, yakni mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000. Besaran denda yang dikenakan pada para pelanggar itu jauh lebih rendah dari besaran denda yang sesuai dengan perda Kawasan Tanpa Rokok. Untuk diketahui sesuai Perda No 12 tahun 2009, bagi pelanggar Kawasan Tanpa Rokok perorangan dikenakan denda paling sedikit Rp50 ribu, dan paling banyak Rp100 ribu untuk setiap kali pelanggaran. Hakim masih memberikan toleransi hanya menjatuhkan denda rata-rata Rp15.000 itu dengan dalih, pelanggar yang saat itu terjaring kebanyakan dari masyarakat berpenghasilan rendah. Karena sidang Tindak Pidana Ringan Kawasan Tanpa Rokok kali ini untuk pertama kalinya dan masyarakat belum banyak yang tahu tentang Perda Kawasan Tanpa Rokok, maka hakim hanya menjatuhkan denda rata-rata Rp 15.000,-. Dengan denda yang segitu pun masih banyak juga para sopir maupun penumpang angkot yang tidak mampu bayar.( Zendy)

Berlin merupakan salah satu kota yang berada di Jerman. Di sana kesabaran umat muslim tengah diuji. Pada hari rabu tanggal 20 Oktober 2010, Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengancam umat muslim bahwa setiap Muslim harus mematuhi konstitusi, bukan syariah jika umat muslim masih tetap ingin tinggal di Jerman. Ancaman ini dikeluarkan Merkel di tengah-tengah perdebatan mengenai integrasi populasi 4 juta Muslim di negara tersebut serta kecemasan mengenai isu penyerangan terhadap sejumlah negara di Eropa yang dipropagandakan sendiri oleh Amerika Serikat dan Inggris. Berbeda dengan Merkel, para pimpinan moderat termasuk Presiden Jerman Kristen Wulff telah mendesak Jerman untuk menerima keberadaan kaum Muslim dan menjadikan Islam sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Jerman. Merkel menganggap Wullf terlalu jauh dalam memenuhi tuntutan umat Islam. "Sekarang jelas kami juga memiliki Muslim di Jerman. Tapi juga penting agar Islam mampu menyesuaikan dengan konstitusi kami," kata Merkel. "Apa yang

berlaku di sini adalah ko n st i t u s i , b u ka n syariah," lanjutnya. Oleh sebab itu, penting p u l a b a g i Merkel untuk menyediakan para pemuka agama Islam yang dididik di Jerman serta menjadikan Jerman sebagai akar dari kehidupan sosial mereka. "Kebudayaan kami didasarkan pada nilainilai Kristen dan Yahudi dan telah berlangsung selama ratusan tahun." Munculnya ketakutan terhadap Islam sejumlah kalangan di Jerman diperparah dengan munculnya buku yang dibuat oleh salah satu bankir Jerman keturunan Yahudi, Thilo Sarrazin, yang menyatakan bahwa Muslim menghambat kesejahteraan masyarakat Jerman, berpendidikan rendah, serta tidak bisa mengintegrasikan diri dengan nilai-nilai Jerman. ( Zendy)


Perjalanan Tahun Sahabat semua, waktu yang mengair dalam kehidupan kita terus mengalir. Tak terasa, tahun 1431 H telah menjadi masa lalu, kenangan, dan sejarah. Entah dengan tinta lumpur, emas, atau darah kita menggoreskan sejarah di tahun tersebut. Tapi sahabat, jangan putus asa apabila masa lalu tak seindah seperti yang diharapkan. 1432 H telah datang, saatnya kita evaluasi diri dan target mimpi-mipi apa yang hendak kita raih. Tuliskan, niatkan, usahakan, dan panjatkan layar do'a di hadapan-Nya untuk mengiringi perjalanan hidup kita. SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1432 H

MUHARRAM:

SEBUAH BULAN YANG DIHARAMKAN Muharram adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Muharram berasal dari kata yang artinya 'diharamkan' atau 'dipantang', yaitu dilarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Tanggal 1 Muharram merupakan hari yang penting sebagai hari Tahun Baru dalam agama Islam. Meskipun tidaklah sepenting dua hari raya, yaitu Iedul Fitri atau Iedul Adha. Dengan penetapan jatuhnya 1 Muharram, selanjutnya berbagai ibadah lainnya dapat ditentukan seperti puasa Asyura (10 Muharram), puasa 3 hari di pertengahan bulan Islam, maupun waktu untuk melakukan pengamatan hilal guna menentukan datangnya bulan Shafar dan seterusnya. Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah berdasarkan usul dari Ali bin Abi Thalib. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori

dari Abdul Aziz dari ayahnya dari Sahl bin Sa'ad berkata,”Mereka tidaklah memulai perhitungan dari diutusnya Nabi saw, tidak juga dari meninggalnya saw. Tidaklah mereka memulai perhitungannya kecuali dari datangnya beliau saw. ke Madinah.” Kemuliaan Bulan Muharam 1. Disebut dengan “Syahrullah“, yaitu bulan Allah. Penisbatan sesuatu kepada Allah mengandung makna yang mulia, seperti “Baitullah“ (rumah Allah), “Saifullah” (pedang Allah), “Jundullah” (tentara Allah) dan lain-lainnya. Dan ini juga menunjukkan bahwa bulan tersebut mempunyai keutamaan khusus yang tidak dimilili oleh bulan-bulan yang lain. 2. Termasuk dalam bulan haram, sebagaimana dalam hadis Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut;

Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Tsaniah dan Sya'ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda :"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan.“ (H.R. Bukhari dan Muslim).

3. Bulan ini dijadikan awal bulan dari Tahun Begitu juga hadist Ibnu Abbas ra, Hijriyah, sebagaimana yang telah disepakati oleh para sahabat pada masa khalifah Umar bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : "Puasalah pada hari bin Khattab ra. Tahun Hijriyah Asyura', dan berbuatlah ini dijadikan momentum sesuatu yang berbeda atas peristiwa hijrah nabi dengan Yahudi dalam Muhammad saw. Telah tiba saatnya kembali masalah ini, Hari Asyura’ Satu hari yang sangat dinanti berpuasalah sehari Hari Asyura' artinya hari Hari-hari yang penuh arti sebelumnya atau kesepuluh dari bulan sehari sesudahnya.“ Muharram. Pada hari itu Tahun baru kita kali ini (HR Ahmad dan Ibnu dianjurkan untuk Khuzaimah). Dalam Detik-detik telah kulewati berpuasa, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas yang tersebut di dalam Tiada rasa telah olehku lainnya disebutkan: hadist Ibnu Abbas ra. “Berpuasalah sehari Sampailah jua kita kembali berkata : “ Ketika sebelumnya dan Rasulullah saw. tiba di Di muharram kali ini sehari sesudahnya.“ Madinah, beliau melihat (Nasyid: Muharram Kali Ini ) Keutamaan puasa o r a n g - o r a n g Ya h u d i pada hari Asyura by: Star Five berpuasa pada hari Seorang laki'Asyura', maka beliau laki pernah bertanya bertanya : "Hari apa ini?”. Mereka menjawab :“Ini adalah hari kepada Rasulullah saw. tentang puasa istimewa, karena pada hari ini Allah 'Asyura', maka Rasulullah saw. menjawab: “ menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Saya berharap dari Allah swt. agar oleh karena itu Nabi Musa berpuasa pada menghapus dosa-dosa selama satu tahun hari ini. Rasulullah pun bersabda : "Aku sebelumnya“ (HR Muslim). Dosa-dosa yang lebih berhak terhadap Musa daripada dihapus disini adalah dosa-dosa kecil saja. kalian“. Maka beliau berpuasa dan Adapun dosa-dosa besar, maka seorang m e m e r i n t a h k a n s a h a b a t n y a u n t u k Muslim harus bertaubat dengan taubat berpuasa.”(HR Bukhari dan Muslim). nasuha, jika ingin diampuni oleh Allah swt. Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari Adapun hikmah puasa Asyura' adalah 'Asyura' dan memerintahkan kaum sebagai bentuk kesyukuran atas selamatnya Muslimin berpuasa, para shahabat berkata : nabi Musa as dan pengikutnya serta "Wahai Rasulullah ini adalah hari yang tenggelamnya Fir'aun dan bala tentaranya,


sebagaimana yang tersebut dalam hadist Ibnu Abbas di atas. Kekeliruan dalam menghadapi bulan Muharram. Di dalam menghadapi Tahun Baru Hijriyah, sebagian kaum Muslimin mengerjakan beberapa amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, maka hendaknya kekeliruan tersebut bisa dihindarkan. Seperti merayakannya dengan cara saling berkunjung satu dengan yang lainnya, atau saling memberikan hadiah satu dengan yang lainnya. Padahal dalam Islam hari raya hanya ada dua. Dalam hadist Abu Musa Al Asy'ari bahwasanya ia berkata : “Hari Asyura adalah hari yang dimuliakan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya.” Dalam riwayat Al-Nasai dan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda, “Bedalah dengan Yahudi dan berpuasalah kalian pada hari Asyura.”. Selain itu, Menjadikan tanggal 10 Muharram sebagi hari berkabung, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syi'ah Rafidhah. Mereka meratapi kematian Husen bin Ali yang terbunuh di Karbela. Tak ada kisah tragis yang melebihi kedahsyatan tragedi Karbala, tahun ke-61 dari kalender Islam (9 atau 10 Oktober 680) di Karbala, Irak, bahkan khalifah Bani Umayah waktu itu, Yazid bin Muawiyah secara diplomatis berusaha menyangkal kejadian itu dan melemparkan tanggung jawab ke panglima perangnya Ubaidillah bin Ziyad, walaupun strategi politik dan kenyataan sejarahnya malah menguatkan hal itu. Husein bin Ali as. adalah Amirul Mukminin d a n Khalifah umat Islam wakt u itu, sepeninggal sau daranya Hasan bin Ali as. Perseteruan politik dan kerakusan akan kekuasaan oleh Bani Umayah membuat mereka

hilang ingatan, berusaha membantai lawan politiknya yang tak lain adalah cucu Rasulullah saw. Husain menolak berbaiat dan beliau bersama 72 sahabat dan anggota keluarganya, meninggalkan Madinah untuk menuju kota Kufah. Pasukan Yazid menyerang Imam Husain. Dalam pertempuran yang sangat tidak seimbang itu, Husain dan para pembela setia beliau gugur syahid. Sisa rombongan yang terdiri dari kaum perempuan, anak-anak, dan Imam Ali Zainal Abidin yang saat itu sedang sakit, ditawan oleh pasukan Yazid dan digiring ke Damaskus. Peristiwa penting lainnya yang diyakini terjadi pada hari asyuro antara lain: Nabi Adam bertaubat kepada Allah, Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit, Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan, Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud, Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa, Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara, Penglihatan Nabi Yaakob yang kabur dipulihkkan Allah, Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya, Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam, Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun, Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah, Nabi Sulaiman dikaruniakan Allah kerajaan yang besar, Hari pertama Allah menciptakan alam, Hari Pertama Allah menurunkan rahmat, Hari pertama Allah menurunkan hujan, Allah menjadikan 'Arasy, Allah menjadikan Luh Mahfuz, Allah menjadikan alam, Allah menjadikan Malaikat Jibril. (Ayyu dari Berbagai sumber)

UJIAN AKHIR SEMESTER Sahabat, semester ganjil yang kita hadapi ini telah berada di penghujung usianya. UAS menanti kita dengan pedangnya yang terhunus dan siap menebas siapa pun yang lengah. Semoga kita mampu menebas “keangkerannya “. Amin... Selamat berjuang untuk kita semua! Hayya 'Alal Falah

“Hei Bud.. ni kertasnya” Rudi berbisik sambil melemparkan sebuah kertas l u n g s e t y a n g d i r e m a s . Lalu Budi mengambilnya dan menuliskan sesuatu di balik kertas itu dan mengembalikannya pada Rudi. Ternyata di kertas tadi Budi menuliskan: “Mau pintar??. Makanya belajar” Dan akhirnya Rudi ketahuan seorang pengawas yang mengawasi jalannya ulangan. Itulah contoh iklan salah satu minuman suplemen otak yang perlu kita ambil hikmahnya. Nyontek, ngerepek, dan kawankawan, menurut kamus bahasa gaul cap kaki tiga artinya mencuri jawaban dari kertas ulangan teman atau bekerjasama dalam pelaksanaan ulangan atau yang lebih parah lagi adalah melihat buku saat pelaksanaan ulangan (kalo ulangannya open book ya ga papa (emangnya ulangan open book ada ya?)). Itulah yang akan kita bahas pada kesempatan yang berbahagia ini. Sebelum saya mulai, Sekarang saya mau tanya, kira-kira apa sih yang sekarang di Negara Indonesia tercinta ini lagi banyak-banyaknya dan makin membudidaya dan mungkin sedang dilestarikan oleh warga Indonesia. Baik dari golongan pemerintahan, maupun dari kalangan tukang tembel ban sekalipun itu??. Kalo kamu jawab KORUPSI jawaban kamu 99% bener (1%nya InsyaAllah buat kebiasaan/ kegiatan yang positif). Kalo saya mau ngajak mikir tentang apa aja dampak dari korupsi pasti kamu udah apal banget kan? Mulai dari kelaparan, kekeringan, mungkin lebih parah

lagi kematian. Tapi kalo saya ajak mikir kenapa hati nurani mereka bisa tertutup alias membatu ketika melakukan perbuatan haram yang disebut korupsi tersebut. Padahal sebenarnya dalam diri manusia ada organ tubuh yang bernama hati yang tidak pernah berdusta sekalipun. Saya ambil contoh, ketika ada orang yang memintaminta dijalan, apa suara hati kita? Pada saat itu suara hati yang timbul dalam hati nurani kita adalah kasihan dan ingin membantunya supaya beban hidupnya tidak seberat itu. Tapi suatu saat ada semacam penutup hati yang menyebabkan hati yang jujur tersebut tidak mampu kita dengar. Penutup itulah yang disebut EGO. Tapi kalo penyebab mengapa korupsi itu sendiri belum disadari menjadi perbuatan yang merugikan, sesungguhnya itu disebabkan karena adanya kebiasaan buruk yang diulang-ulang dan berlangsung dalam tempo yang lumayan lama. Karena keburukan itu diulang-ulang, akhirnya menjadi kebiasaan yang dianggap baik. Misalnya saja ada anak kecil yang biasa ngelihat adegan ciuman atau pegangan tangan di acara sinetron di televisi, lalu karena perbuatan itu diulang-ulang dan orang tua mereka tidak mengawasi anaknya serta tidak pernah mengoreksi perbuatan buruk yang dilihat oleh sang buah hati, maka sampai dewasa sekalipun ia akan menganggap bahwa ciuman atau pegangan tangan dengan lelaki atau perempuan yang bukan muhrimnya (gak halal) adalah bukan perbuatan tercela. (padahal perbuatan ini jelas-jelas tidak mencerminkan sama sekali mahasiswa yang berlabel muslim kan??)


Ya udah deh..Penulis mau tanya sekali lagi.. Kira-kira sama ga sih KORUPSI d e n g a n M E N Y O N T E K ? (Apakah KORUPSI = MENYONTEK??) Tanya kenapa?? Bahas yuk.. Berdasarkan survei yang diadakan penulis, kira-kira ada 60% dari siswa-siswi sebuah SMA di Surabaya yang melakukan kebiasaan buruk itu, dan sisanya 40% Jujur dengan sepenuh t a n g g u n g jawab mengerjakan ulangan berdasarkan kesadaran diri untuk mengerjakan tanpa ada kecurangan dalam mengerjakannya. Mereka sadar bahwa ulangan ini adalah sebagai tolak ukur. Dan kira-kira ada 15% guru yang membiarkan siswasiswinya yang jelas melakukan tindakan tersebut. Ada juga kisah nyata yang diceritakan oleh salah seorang wakasek kurikulum di Surabaya. Seseorang yang bernama X ia sangat hobi menjadi tokoh sentral saat ulangan alias menjadi orang yang paling ditunggu-tunggu waktu ulangan. Ia selalu menjadi orang yang memberikan jawaban-jawaban ulangan kepada semua teman-temannya. Lalu ketika si X ini di introgasi oleh nara sumber tentang mengapa ia begitu rajin memberikan jawaban kepada teman-temannya si X ini hanya tersenyum sambil menjawab,”Pak, sekarang saya sedang membunuh temanteman saya, sehingga saingan saya nanti saat UN dan SPMB menjadi berkurang dan mungkin akan habis.” Sungguh kurang ajar orang ini. Jangan biarkan pembunuh darah dingin ini memamah biak di negeri kita tercinta. Bayangkan, bila siswa kelas XII yang akan menghadapi UN, SPMB, & PMDK pada dasarnya bila didalam mengerjakan

ulangan sehari-hari masih mengandalkan kerepekan, jawaban teman dan lain-lain. Coba bayangkan sekali lagi, bila seandainya seluruh siswa-siswi di Indonesia tidak pernah jujur dalam mengerjakan ulangannya. Lalu mereka menghalalkan segala cara untuk menjadi seorang yang berduit (kenyataannya aja ada koq. Misalnya: pemalsuan ijazah). Terus, ketika mereka menjadi orang sukses tanda kutip alias sukses ”pura-pura” terus mereka menjadi orang penting (misalnya menjadi anggota dewan yang memikirkan nasib rakyat (katanya sih..)) gimana jadinya?? Gini aja, bayangin kalo seluruh dokter di Indonesia itu sebenarnya tidak lolos uji atau hanya dengan menggunakan uang pelicin untuk menjadi seorang dokter berjas putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya. Terus dokter di seluruh indonesia gak ada satupun yang bisa nyembuhin penyakita satu orang pun dan paling banter mungkin bakal terjadi MAL PRAKTEK. Yang harusnya penyakitnya cuma pilek, gara-gara ngawur kasih obat, jadi sakit jantung, kencing manis dan penyakit-penyakit lain yang diakibatkan oleh salah penggunaan obat. Hiii Takuut… Jadi, kelihatan kan kalo penyebab utama korupsi di Indonesia adalah karena bibit-bibit putra-putri bangsanya saja sudah melakukan tindakan korupsi kecil-kecilan yang disebut nyontek itu sejak dari bangku sekolah.. (gimana kalo udah sukses??). Ayo Saatnya kita berubah nih... Penulis yakin banget bahwa gak ada agama yang menganjurkan untuk melakukan sebuah kegiatan positif dengan menghalalkan berbagai cara. Apalagi Islam, yang aturannya konkrit, konkrit, dan KONKRIT.

Kesuksesan sebenarnya adalah ketika kita menyadari kekurangan kita dan mengoreksinya agar suatu ketika bila menghadapi masalah yang sama kita dapat mengatasinya dengan baik. Ingat!! Bukan menutupi kekurangan kita dengan kebobrokan orang lain. Yakinlah terhadap kemampuan diri kita. Kita bisa. Kita pasti bisa.Oke?? “...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sampai mereka

merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS Ar-Ra'd ayat 11) Kesuksesan itu tidak dilihat dari beberapa kali mereka mendapat kegagalan, tetapi dilihat dari berapa kali ia bangkit dari kegagalan (Abu Bakar r.a.) Jujur adalah mata uang yang berlaku dimana-mana (Pepatah). “Mau pintar??. Makanya belajar” (Iklan Suplemen). (Oleh Abdullah Anshary)

Sahabat mahasiswa sekalian, ujian pada hakikatnya adalah sebuah kepastian yang harus dihadapi oleh setiap manusia pada setiap segmen kehidupan. Adapun output yang menjadi tujuan setiap ujian bisa saja beragam dan bervariasi, tergantung pada siapa dan untuk apa ujian tersebut dilaksanakan. Hanya saja, kalau digeneralisasikan, setiap ujian memiliki tujuan yang intinya hampir sama: untuk mengetahui kadar kualitas kepribadian seseorang: baik dalam konteks ketakwaan, kesabaran, keilmuwan, keihklasan dan halhal lain yang kualitasnya dapat diuji baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Suatu contoh, untuk mengetahui tingkat kelayakan seseorang untuk masuk surga maka Allah memberi ujian berupa perintah untuk berjihad dan bersabar dalam menghadapi ujian. Firman Allah “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orangorang yang sabar” (Q.S. Ali Imran: 142) Dalam konteks dunia perkuliahan, kita sebagai mahasiswa muslim dihadapkan pada suatu ujian yang sifatnya lebih konkret dan spesifik untuk mengetahui tingkat penguasaan kita pada suatu bidang ilmu tertentu. Ujian ini sifatnya wajib diikuti oleh setiap mahasiswa dan biasanya dilaksanakan secara berkala pada setiap

akhir semester. Ujian ini dikenal dengan sebutan Ujian Ahir Semester atau biasa disingkat UAS. UAS menjadi sangat penting dalam alur dunia perkuliahan karena UAS menjadi tolak ukur kelulusan seorang mahasiswa dalam bidang mata kuliah tertentu. Kalau dalam dunia SMA, UAS bagi siswa memiliki posisi hampir setara dengan Ujian Ahir Nasional (UAN) yang menjadi “pemfonis” seorang siswa layak lulus atau tidak. Mengingat arti penting UAS sebagai penentu kelulusan mahasiswa dalam bidang mata kuliah tertentu, biasanya sebagain besar mahasiswa menggunakan segala cara agar bisa melalui ujian ini dengan baik dan mendapat hasil maksimal. Cara yang ditempuh pun beragam mulai yang halal sampai haram, mulai yang biasa sampai yang tidak biasa dan mulai yang wajar sampai yang tidak wajar. Bahkan, terkadang kurang ajar! Hanya saja kita sebagai mahasiswa muslim, apalagi yang “berpredikat” dan “berstempel” aktifis dakwah kampus, hendaknya tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil terbaik dalam menghadapi ujian ini. Karena tentu kita sebagai muslim menyadari bahwa dalam islam berlaku asas “tujuan tidaklah lebih penting dari cara” dan “tujuan tidaklah menghalalkan segala cara”.


Benar, banyak jalan menuju Roma. Hanya saja sebagai muslim kita harus memastikan bahwa cara dan jalan yang kita pilih tetap dalam koridor syari'at islam. Kenapa?, Karena pada hakekatnya setiap perbuatan, termasuk pilihan cara dan tujuan yang kita pilih, akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah swt. Sekecil apapun itu. Firman Allah swt. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (Q.S AlZalzalah: 7-8) Ada banyak hal yang hendaknya tidak dilakukan oleh seorang mahasiswa, khususnya mahasiswa muslim, dalam menghadapi UAS. Jika hal-hal ini dilakukan, maka komitmen kita sebagai seorang mahasiswa muslim patut kembali dipertanyakan. Hal tersebut meliputi hal-hal yang dilarang oleh syari'at maupun hal-hal yang dilarang oleh penyelenggara ujian: dalam hal ini dosen sebagai penentu kebijakan. Hal-hal tersebut umunya meliputi perbuatan-perbuatan curang dan tidak sportif dalam menghadapi ujian: mencontek, mencontoh, pergi ke “orang bodoh” (dukun red), dan yang sejenisnya. Lantas bagaimana caranya agar kita bisa mendapat hasil maksimal dalam mengahadapi UAS tanpa harus melaksanakan cara-cara terlarang diatas? Ada banyak hal yang dapat kita lakukan, antara lain sebagai berikut: 1.Optimalkan masa perkuliahan semaksimal mungkin untuk memahami pokok-pokok materi perkuliahan yang disampaikan dosen. 2. Bina hubungan baik dengan dosen, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Tentunya tanpa melanggar prinsip-prinsip syari'at yang tidak diperbolehkan. 3. Mempersiapakan kondisi fisik dan mental secara baik menjelang pelaksanaan UAS. 4. Belajar secara sungguh-sungguh jauhjauh hari sebelum menjelang UAS. Pastikan

juga sahabat telah memiliki perbendaharaan soal-soal UAS pada tahun-tahun ajaran sebelumnya. 5. Jika UAS bersifat open book pastikan anda membawa sebanyak mungkin buku yang berkaitan dengan materi yang hendak diujikan. Kerjakan UAS dengan sungguhsungguh, santai, dan penuh senyum. Serta pastikan semua soal telah dijawab secara komperhensif sesuai dengan soal yang ditanykakan (untuk santai dan penuh senyum tidak bersifat wajib dan mengingat. Sekedar tips pribadi saja.^^) 6. Jangan lupa berdo’a dan minta dido'akan pada orang-orang tecinta serta orang-orang yang peluang do'anya dikabulkan lebih besar: ibu, bapak, kakak, adek, kakek, nenek, buyut, dan tentu saja murobbi dan sahabat-sahabat terbaik kita (kalau mau lebih, minta dido'akan dosen juga boleh lo...) Demikian sedikit “cuap-cuap” untuk sahabat mahasiswa. Insyaallah apabila kesemuanya sahabat amalkan secara baik, nilai maksimal bukanlah sekedar angan-angan tak berkesudahan. Terahir: “Jika peluang untuk mendapat nilai A terbuka lebar, kenapa kita harus puas dengan nilai B dan C ?”. Jadilah pribadi yang tidak sekedar sholeh, tapi lebih dari itu: pemimpin orang-orang sholeh. Jadilah pribadi yang tidak sekedar pintar, tapi lebih dari itu: pemimpin orang-orang pintar. Insyaallah. Allahu Akbar....!! Allahua'alam. Semoga bermanfaat...

MANARUL ILMI

online

SITUS RESMI JAMAAH MASJID MANARUL ILMI KAMPUS PERJUANGAN ITS SURABAYA

Kunjungi Website Jama'ah Masjid Manarul Ilmi di :

www.masjid.its.ac.id Dengan tampilan segar, menyajikan: All About JMMI, Aqidah, Fiqih, Motivasi, Cerpen, Ghazwul Fikri, Download Kitab, Fiqih Wanita, Berita Nasional, IPTEK, Palestina, Shirah, Tinggalkan Komentar, dan Lain-lain

Kamu memiliki karya, masukan, atau saran?? Silahkan Kamu kirimkan ke: media_jmmiits@yahoo.com


Manazine #4  
Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you