Page 1

Laras N. Pramadhita

Si Pemantau

Mencoba Bercerita

Jurnal Puisi No. 1


Si Pemantau

Daftar Isi

2

Kata Pengantar

05

Angin Selatan

06

Temaram 103

08

Bayangannya

09

Sama di Satu Kota

10

Warnanya

11

Merindu

12

339

12

1085 Hari

13

Sunyi

14

Rasa Luka

14

Bulan, Bintang dan Matahari

15

Gelap

16

Dua Wanita

18

Senja Bersama

19

Janji

19

Layang-Layang

20

Sepeda

21

Selembar Foto

22

Sendiri Menyendiri

22

Pulang Sebelum Senja

23

Di Kotamu

23

Selamat Tinggal

24

Bayang

24

Jajaran Figura dan Bangku Kosong

25

Jenaka

26


Mencoba Bercerita

Syukur

26

Bhumi dan Senja

27

Mata

28

Binatang

29

Tergesa-gesa

30

Pria Itu

31

Bapak

32

Di Ujung Ada Cahaya

32

Kasak-Kusuk

33

Ibuku Kuat

34

Tukang Becak Langgananku

34

12 Malam

35

Warte Barokah

36

Nelayan

37

Berdiskusi

38

Sembunyi-Sembunyi

38

Ludruk Malam Kamis

39

Toserba

40

Rindang

40

Peruntungan

41

Bandara

42

Boneka

42

Nanar

43

Menari

44

Tak Mutu

44

Santai

45

3


Si Pemantau

4


Mencoba Bercerita

Kata Pengantar Saya sebagai Si Pemantau yang Mencoba Bercerita berdasarkan pengalaman hidup sendiri ataupun orang-orang disekeliling saya. Satu per satu prosa lahir sebagai pengingat untuk kehidupan yang selalu bergerak diluar kendali kita. Sedikit penjelasan, untuk proses pembuatan masing-masing prosa kadang memang dirasa sulit. Dari pemilihan kata yang mewakili keadaan sesungguhnya sampai berupa kalimat lengkap yang membuat setiap pembaca merasakan situasi, perasaan atau keadaan secara langsung. Rasa empati juga merupakan salah satu pokok saya ketika menjadi Si Pemantau, tidak sering saya merasakan sedih, marah atau gundah ketika selesai membaca hasil jadi prosa itu. Lalu ada kumpulan foto lawas atau baru yang saya abadikan sebagai bekal agar lebih terlihat nyata. Sekali lagi terima kasih untuk Tuhan yang mengirimkan makna tersirat namun membuat kuat, untuk masa lalu atas inspirasi yang menghasilkan luka dipenuhi prasangka dan orang - orang yang percaya saya sebagai Si Pemantau mampu berbagi cerita melalui kata-kata terutama dua kawan saya yaitu Wendy dan Venni, yang mencetuskan membuat sebuah jurnal Si Pemantau Mencoba Bercerita. Semoga Si Pembaca akan hanyut dan terlarut tanpa merasa tersudut.

5


Si Pemantau

Angin Selatan

6


Mencoba Bercerita

Semilir pendingin ruangan lama-lama membuatku merasa meriang Kulirik sepintas tumpukan pekerjaan yang menggunung Harus selesai hari ini! Pesan manis atasanku tanpa kenal ampun Guna meluruskan kaki meregangkan badan, aku mendekati jendela besar yang tidak jauh dari mejaku Langit Biru Matahari jingga Kumpulan polusi kota Antena TV Atap-atap rumah yang berjamur Jemuran-jemuran yang setengah kering Daun-daun kering yang diterbangkan angin sepoi selatan

Aku ingin segera pulang...

7


Si Pemantau

Temaram 103

Wanginya yang menghiburku ketika isak tangis tidak bisa dihentikan Lembutnya selimut yang memelukku erat ketika rindu kian mematikan Dan ruangan ini yang menguatkan aku ketika hidup kian menakutkan

Saat kau tiba-tiba pergi meninggalkan Tanpa pamit dan pahit yang menghancurkan

8


Mencoba Bercerita

Bayangannya

“lihat sudah petang sekarang� aku menunjuk langit yang telah berubah bewarna jingga Tanpa berkata apa-apa dia bergegas pergi. Meninggalkan aku sendiri bersama bayangannya yang masih menemaniku.

Memang aneh, ketika wujud nyatanya pergi, bayangannya yang selalu setia menemaniku. Berjam-jam, berhari-hari bahkan setiap malam aku membutuhkan teman. Aku tau, bayangannya saja jauh mencintaiku melebihi dia. Aku tidak mengeluh, tidak menangis. Aku hanya ingin suatu hari banyangannya bisa bersatu dengan tuannya, menemani aku seperti yang dilakukan bayangnya sekarang.

9


Si Pemantau

Sama di Satu Kota

Kerlap kerlip lampu kota terlihat jelas dari atas sini Tapi ada satu cahaya redup yang lama-lama mulai mengilang Membuat rindu merayap menguasaiku Udara dingin menusuk masih bisa kutahan saat ini Tetapi rasa ingin melihatmu sangat menyiksaku dengan luar biasa

10


Mencoba Bercerita

Coba kau lihat dengan seksama

“Ada celah” Coba kau telusuri dengan teliti

Warnanya

“Ada Luka” Coba kau amati dengan cermat “Ada kelam” Lihat lebih ke dasarnya lagi!

“Ada hitam, iya! Aku lihat hitam, seperti warna kesukaanmu”

11


Si Pemantau

339 Pagi ini

Ada luka yang kembali terbuka

Merindu Birunya terlihat kuat Pantulan bayangnya pun terasa dekat Walaupun langkahnya terdengar berat Ah... rindu sudah terlalu pekat Mengalahkan mata yang terlanjur lekat

12


Mencoba Bercerita

Tentang kisah yang menolak pasrah

Tentang rasa yang melemah lalu menyerah Dan tentang rindu yang menjadi sendu

1085 Hari

Terakhir kita bercakap dan kau mengucapkan selamat pagi Sisanya sempat menanti-nanti Siapa tau kau kembali.., Lalu berakhir sadar, kau sudah menyatu dengan bumi Saatnya mengampuni Walau masih ada rindu disini Dan sepi menemani

13


Si Pemantau Jejeran bangku kosong yang tidak berpenghuni

Disudut itu... tepat di meja nomor 8 aku pernah duduk menunggumu sembari melihat kearah pohon yang sahi bulir gerimis. Lama... lama sekali kau tidak kunjung datang. Ah! Aku lupa Kau memang sudah hilang Tertelan fase kehidupan, “Ada yang datang dan Ada yang pergi� Tapi siapa yang tau kau pergi dengan meninggalkan luka... hingga kini.

Sunyi

Bulan, Bintang dan Dengan siapa? Mengapa tidak kau sebarkan berita bahagia ini sama seperti lainnya Hahaha... aku bukan orang penting Walaupun bukan tetapi hal ini bisa menjadi hal yang menarik Untuk apa? Aku dan dia sudah cukup... Aku pun lebih bahagia jika disimpan sendiri... Sama seperti bulan tidak memberitahu matahari jika tadi malam bintang bersinar terang untuknya

14


Mencoba Bercerita

g diba-

Rasa Luka Matahari telah menyengat diluar Tetapi rasa ini membiaskan perihnya terik ketika menyentuh kulitku Sudah lama...Cukup lama... ya terasa sangat lama ‘Seperti apa rasanya luka’.

Matahari

15


Si Pemantau

Gelap

Aku terlambat hampir 15 menit.

Aku tidak perlu bersusah-susah mencarinya, dia duduk dekat sekali dengan jendela yang menghadap kejalan.

Dia sedang menghirup pelan kopinya dan tidak perlu bersusah-susah juga membaca situasi hatinya, mukanya menampakan kemarahan yang ditahan.

“Maaf, hujan lebat sekali” kataku singkat dan memanggil pelayan untuk memesan teh

“Kenapa?” dia meletakkan kopinya dimeja. Aku menyalakan rokok menutupi kegelisahanku

“Aku bisa menerima keadaanmu apa adanya”

“Aku bisa melupakan semuanya, berjalan denganmu dari awal”

hangat.

dan berusaha tersenyum tenang.

“Seperti apa?” kataku menantang

Aku tertawa kecil

“Asal kau tau, aku tidak pernah membiarkan rasa cinta hadir disetiap malam aku menemani

“Jadi kau memang tidak merasa berbeda denganku?” katanya berusaha memegang

“Kalau kau berbeda, sudah kukembalikan semua uangmu tadi malam” Aku

tidur tamuku dan membiarkan mereka pergi setelah habis birahi. Cinta hanya untuk wanita naïf” tanganku yang segera aku tepis. mengacuhkannya.

Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing cukup lama. Aku menikmati setiap hiapan rokokku dan dia meminum kopinya sambil sesekali memandangku cukup lama.

16


Mencoba Bercerita

“Apakah kau benar-benar tidak mencintaiku?” dia memecah kebisuan.

“Aku mencintaimu pada saat malam saja tidak ketika pagi ataupun sore hari.”

“Maksudmu?” nadanya sedikit memaksa

Aku meminum teh yang baru saja disajikan didepanku.

“Malam begitu gelap bagiku, semuanya terlihat baik karena aku tidak bisa melihat keburukanmu” Dia bergegas pergi dengan kasar, guratan kemarahan semakin terlihat nyata diwajahnya ketika pergi. Bahkan tanpa mengucapkan apapun.

Aku menghabiskan tehku, dan beranjak pergi juga. Berjalan menembus hujan yang masih setia

dengan lebat. Beruntung sekali hari perpisahan ini hujan lebat, karena aku terlalu takut air mataku terlihat dengan orang-orang yang sedang berteduh.

“Aku mencintaimu ketika pagi dan soreku juga telah menjadi gelap,” aku membatin.

17


Si Pemantau

Dua Wanita

Aku mendengar percakapan dua wanita, ketika aku sedang menunggu giliran untuk memotong rambutku sebelum pulang ke kampung.

“Mengapa kamu lebih memilih aku daripada pria yang mau menikahimu?” tanya wanita yang bermbut pendek kepada wanita berambut panjang. “Entahlah... aku merasa kamu lebih baik mendampingiku dari pada pria itu” jawab gadis berambut panjang. “Apa kamu yakin, ingin memberitahu keluargamu bahwa kamu membatalkan pernikahanmu demi aku seorang wanita bermental pria?” “Ya, aku yakin. Kamu sendiri mengapa lebih memilih aku dan kehidupan yang abnormal ini daripada menyayangi seorang pria normal?” “Ayahku seorang pengecut, yang menyebabkan adik lelakiku mengikuti keburukannya. Mereka semua mengecewakan ibuku. Oleh karena itu aku lebih memilih menyayangi wanita.”

18

“Pernahkah kamu mencoba untuk menyayangi pria normal?” “Tidak, aku tidak mau kecewa. Seperti yang aku tau rasa sayang itu sakit...”


Mencoba Bercerita

Senja Bersama

Mereka berjalan beriringan Terlihat bergandengan tangan erat Nenek dan Kakek Usia senja bukan berarti saling melupakan rasa ketika mereka pertama kali bertemu Walaupun nenek usianya beberapa tahun lebih dulu dari kakek, tetapi rasa tulus kakek membuatnya tidak perduli “Kami menua bersama� kata kakek dengan mantap

Lampu di taman mulai menyala satu persatu Entah sudah berapa kali aku bolak-balik melirik jam ditanganku

Janji Temu

Aku berusaha meyakinkan diriku, kau ingat dengan janji temu kita Di tempat ini kita tidak sengaja bertemu Kau terlihat tampan hari itu dan langsung membuatku tertarik Kau pun tertarik denganku sehingga beberapa kali kita saling beradu pandang Rambutmu yang terlihat abu-abu dan hampir serupa bapakku membuatku semakin meyakinkanku untuk mencintaimu Walaupun aku benci ketika melihat istri dan anakmu bercanda manja denganmu “Dia pasti datang� kataku tanpa ragu

19


Si Pemantau

Layang-Layang Entah sudah berapa lama aku gemar bermain layang-layang. Terik matahari membuatku semakin bersemangat. Himpitan hutan beton hanya sesaat membuatku sesak setelah sadar ini telah mutlak. Awalnya aku hanya bermain sendiri. Lalu datang dia, setia menemani walaupun hari mulai gelap. Akupun mulai bergantung asa. Layang-layangku akan bergerak liar jika dia tidak ada dan akan bergerak selaras jika ada dia di sampingku. Indah dan kontras layang-layang kami di awan. Hingga suatu hari dia tidak datang lagi. Aku memutuskan berhenti bermain dan sempat menunggunya beberapa jam di setiap hari. Sedih ... Ketika aku sadar, dia tidak akan pernah datang lagi. Layaknya persinggahan melepas penat. Aku lepaskan layang-layangku, bukannya karena aku tidak sudi memainkannya lagi. Tetapi karena aku juga mau melepas kenangannya dan membiarkan terbawa layanglayangku yang tertiup angin. Aku kembali bermain, tetapi dengan layang-layang yang jauh lebih sederhana. Dan akan kuat menerbangkannya sendiri.

20


Mencoba Bercerita

Sepeda Sepeda itu tetap dibiarkan dalam posisinya seperti hari-hari kemarin ketika aku melewati rumah itu. Ya, disana tinggal seorang gadis muda. Tinggal sendiri, dengan dunianya. Bagiku dan orang sekitarnya, gadis itu cukup menarik dengan semangatnya yang terlihat jelas. Tetapi entah mengapa akhir-akhir ini aku tidak melihatnya keluar dari dunianya, dia semakin terpuruk dengan kehidupannya sendiri. Semula aku pernah melihatnya mengkayuh dengan kencangnya sepeda dari tempat ketempat, ketika ada kesempatan aku sempat bertanya dengannya, “Mengapa kau kayuh secepat itu sepedamu?” “Aku sedang mengejar harapanku.” Jawaban singkat yang sempat membuatku iri, dia seorang gadis muda yang gigih dengan pengejarannya. Sedangkan aku hanya menatap diam harapanku sampai harapanku menjauh. Hari ini pun aku sempat terkejut ketika melihat gadis itu keluar dari dunianya dengan penampilan yang sedikit berantakan dan tidak terurus, tiba-tiba tanpa aku bertanya dia berkata dengan suara sedikit serak karena terlalu banyak menangis, “Aku kehilangan harapan itu.” Entah mengapa aku juga merasakan kesedihan gadis itu, dan dia kembali masuk dengan sempat melempar senyumannya yang tetap hangat tetapi dengan wajah yang muram. Berhari-hari aku tidak melewati rumah itu sampai akhirnya aku melihatnya kembali mengkayuh sepeda itu tetapi dengan perlahan-lahan. Aku kembali bertanya, “Mengapa sekarang kau kayuh dengan perlahan?” Dengan senyuman dan wajah yang berbinar dia menjawab, “Aku ingin mengejar harapan baruku dengan perlahan, karena aku takut mengecewakan diriku sendiri jika hasilnya tidak seindah seperti kemarin.” 21


Si Pemantau

Selembar Foto Kemarin, ada rasa penasaran yang mengendap-endap Untuk memastikan aku melihat fotomu barang sekejap Walaupun sempat takut itu menjadi perangkap Aku kira ada sedih yang menyelinap Tetapi syukurlah... rasa itu sudah menguap

Sendiri Menyendiri

“Biar aku sendiri menyendiri�

22

kata pria berbaju abu-abu.


Mencoba Bercerita

Pulang Sebelum Senja Senja sebentar lagi datang Warna birunya langit sedikit demi sedikit memudar Jalan raya menjadi padat Lomba berlomba untuk segera pulang sebelum Adzan Maghrib dikumandangkan Sayup kudengar celoteh orang-orang berkendara Ada yang membicarakan politik saat ini hingga gaya berbusana masa kini. Di benakku... Tentu saja kembali mengingatmu Pembicaraan intim kita melepas hari Dan itulah alasanku juga ingin segera pulang

Di Kotamu Aku telah pergi

Dengan kereta pagi

Sempat dikotamu aku menepi

Walaupun sunyi sepi

Semakin kujauhi

Semakin dekat kau dimimpi

Mengingatmu tidak bisa diobati

23


Si Pemantau

Selamat Tinggal 1 tahun yang lalu Melanjutkan Perjalanan Janji bertemu di stasiun Tidak saling mengucapkan ‘selamat tinggal’

Bayang Selalu hitam Tidak pernah jingga, tosca atau nila Selalu ikhlas menemani Ketika lara atau gembira Selalu setia mengikuti Ketika bising menjadi hening

24


Mencoba Bercerita

Jajaran Figura dan Bangku Kosong Ah sunyi... Berakhir, duduk disudut... Hanya amati mereka yang baru datang dan langsung sibuk berbincang

25


Si Pemantau

Jenaka Sekali lagi kita beradu pandang Mungkin wajahku saat ini sudah semerah tomat yang kupegang Kulihat kau pun menghentikan kegiatanmu memotong ayam untuk pelangganmu

‘’Mbak ini harganya 10,000 ya’’ kata penjual tomat membuyarkan lamunanku Segera aku mengeluarkan uang pas dan memberikan ke bapak itu. Aku lalu beranjak dan sempat kulihat kau melempar senyum yang membuatku semakin tersipu

Baru berjalan beberapa langkah, ada yang menyentuh pelan bahuku ...

26

Syukur Mengeluh

Mengaduh Sampai lupa


Mencoba Bercerita

Bhumi dan Senja sudah jadi kata sehari-hari pun tidak cukup sekali

rasanya bersyukur yang melimpahi

Bhumi dan Senja bertemu di utara Tanpa bertukar banyak aksara Jauh dari mantra

Tetapi terlihat mesra Karena hidup mereka terlalu singkat untuk angkara

27


Si Pemantau

“Mataku sangat susah melihat akhir-akhir ini,” mata kecil berbicara cukup keras.

“Ah diam kau mata kecil! Bukankah memang dari dulu kau seperti itu,” mata besar menimpali.

“Tapi tidak separah ini,” mata kecil berkeras.

“Setidaknya kau masih bisa melihat dunia dengan luas mata kecil,” tiba-tiba mata indah berkata.

“Itu tidak sebanding dengan matamu. Banyak dipuji orang,” mata besar terlihat iri.

“Mata kananku memang indah, mata besar. Tetapi lihat mata kiriku,” mata kecil dan mata besar

melihat ke arah mata kirinya mata indah “hey! kemana mata indahmu yang sebelah kiri?” tanya mata besar dengan terkejut.

Mata

“Mataku di cungkil orang,” mata indah mulai menangis.

“Mengapa bisa seperti itu? Kau terlihat cacat. Sayang sekali,” mata kecil berbasa-basi.

“Aku dijadikan saksi mata kebusukan perilaku, maka mataku dicungkil sebagai bayarannya.

Padahal aku tidak sengaja melihat hal tersebut, itu bukan salahku,” tangisan mata indah semakin menjadi-jadi.

“Sudahlah, setidaknya dosamu sekarang hanya setengahnya saja. Tidak seperti kami yang akan

terus melihat kesalahan dengan sempurna karena kedua mata kami utuh,” hibur mata besar yang disetujui oleh mata kecil.

28


Mencoba Bercerita

Binatang Hari masih siang ketika mereka berkerumun.

“Bunuh saja binatang itu.”

Mereka buru-buru menginjak, memukuli, dan penghormatan terakhir mereka meludahinya.

“Hey dia masih bernafas!” kata wanita itu sambil menunjuk

binatang yang telah tersungkur.

“Biarkan saja dia mencoba menikmati mautnya,” banyak yang

menyetujui wanita yang terlihat paling marah.

“Selamatkan aku,” binatang itu berbicara dengan suara pelan.

“Menyelamatkanmu?!” Wanita yang marah kemudian mendekatinya.

“Ya maafkan aku,” dengan nada memohon.

“Coba kau ingat-ingat lagi ketika kau mulai menelanjangi aku, kau

menyutubuhi aku dengan paksa dan menghilangkan semua harapanku secepat kau melepaskan nafsu birahimu!!!” Dibentaknya dengan kencang binatang itu.

“Nikmatilah hukuman untuk binatang yang seenaknya, salahkan

dirimu sendiri yang telah menghancurkan seorang yang normal.” Semua yang melihat tertawa kencang, dan meninggalkan binatang itu. 29


Si Pemantau

Tergesa-gesa Sudah sengaja aku berjalan tergesa-gesa. Niat hati ingin sampai dirumah sebelum gelap. 5 Menit 25 Menit Tepat menit ke 30 akhirnya keretaku datang Berjejal-jejalan dengan penumpang lainnya dengan tujuan yang sama, rumah. Sepanjang jalan aku memandang keluar jendela, pelan-pelan warna jingga mendominasi langit sore. Aku turun dari kereta bersamaan dengan kumandang Adzan Magrib. Ah... akhirnya sampai juga walaupun telah petang

30


Mencoba Bercerita Aku pulang cukup larut malam itu, pekerjaan yang membuatku terpaksa pulang hampir tengah malam. Ketika aku sedang berjalan pelan, aku melihat sekumpulan pria melewatiku.

Pria Itu

Aku pun berjalan sedikit cepat. Tetapi ketika itu aku mendengar ada suara rintihan di sudut jalan yang diterangi cahaya remang lampu jalan. Aku semakin mempercepat langkah kakiku, aku takut. Tetapi ketika aku berjalan semakin mendekati lampu jalanan itu, aku melihat ada seseorang yang tergeletak di bawahnya dan merintih kesakitan. Aku segera mendatanginya, aku sungguh tekejut melihat wajah wanita atau lebih tepatnya pria yang berdandan seperti perempuan itu berdarah. “Tolong saya, mereka memukuli saya seperti memukuli binatang,” katanya pelan. “Mari ikut ke warung itu, saya mengenal bapak pemilik warungnya,” kataku sambil membantunya berjalan. Sesampainya di warung, aku segera memesan segelas teh hangat untuknya. “Terimakasih…” Suaranya masih terdengar pelan. “Maaf, mengapa bisa anda dipukuli tadi? Apakah anda melakukan kesalahan?” “Saya hanya melintas di depan mereka tadi, dan tidak sedikit pun ada kata yang keluar dari mulut saya. Tetapi mereka datang menghampiri dan memukuli saya.” “Mengapa anda tidak berteriak meminta tolong? Saya yakin jika ada orang yang mendengar pasti akan membantu anda.” “Serba salah menjadi saya.” Dia menangis. “Tidak ada yang salah menjadi anda,” kataku berusaha menghiburnya. “Mereka selalu memperlakukan kami seolah-olah kami tidak patut dihargai, mereka selalu mebeda-bedakan kami. Kami sering dihina, dipukuli bahkan dikucilkan. Seharusnya mereka mengerti ini pilihan hidup kami, kami sama sekali tidak berniat merugikan siapa pun. Tetapi jarang ada yang mau menerima kami dengan kondisi yang apa adanya. Tidak jarang kami hanya dijadikan bahan lelucon. Tidak mengertikah mereka kami sama dengan mereka, manusia yang mempunyai harga diri dan perasaan.” Dia berusaha menhapus noda darah yang ada di bajunya.

“Aku mengerti dengan keadaanmu” kataku meyakinkannya. “Terima kasih, seandainya banyak yang mempunyai pengertian seperti itu di luar sana.”

*** Seminggu sudah malam itu berlalu. Kabar yang terakhir aku dengar tentang pria itu adalah dia meninggal karena dipukuli. Jujur saja, aku merasa sangat iba denganya, betapa kerdilnya orangorang yang berlaku tidak adil terhadapnya. 31


Si Pemantau

Bapak Wajah bapak terlihat lelah Tetapi tidak berkeluh kesah Untung kereta hari ini tidak sepadat biasanya Berdiri sudah biasa Jarak jauh juga tidak terasa

Di Ujung Ada Cahaya

Mengalahkan rasa kantuk

Menimbulkan rasa gelisah

Mempercepat langkah kaki Oh itu cahaya matahari... Hari telah siang... 32


Mencoba Bercerita

Kasak-Kusuk

“Akhirnya datang juga� kasak-kusuk ibu berjilbab merah siap berjejal

33


Si Pemantau

Ibuku Kuat

Terik sering diabaikan.

Lelahnya juga dilupakan.

Walau diam-diam tangisnya ditahan.

“Asal anakku bisa makan nanti dirumah� katanya penuh semangat

Tukang Becak Langgananku

34


Mencoba Bercerita

12 Malam

Bersama lebah pekerja Rasa lelah terpahat jelas di wajah mereka Tertidur semenit dua menit terasa membuat tubuh menjadi merdeka Semoga saja besok mimpi dan asa menjadi nyata

Udara semakin menggigit Bapak bekerja hanya dengan mengenakan kemeja andalannya Malam telah menjadi temannya Walaupun terkadang masih larut dalam lamunannya Kami berbincang mengelilingi Kota Tua dengan kayuhannya Dan tidak sedikit pun terdengar keluhannya

35


Si Pemantau

Ruangan yang tidak terlalu besar dengan cat hijau terkelupas dibeberapa bagian. Menyediakan masakan rumahan yang tidak kalah dengan restaurant berkelas. Menjadi tempat makan favoritku ketika pulang dari bekerja.

Warteg Barokah

“Seperti biasa nak?” Tanya Bu Jum si pemilik.

Menu itu-itu saja yang kupesan membuatnya hapal yang aku inginkan. Telur dadar, sayur kangkung dan tempe goreng. “Tolong tambahkan sepotong ayam bu untuk hari ini.” Bu Jum menambahkan potongan dada ayam yang besar untukku. “Semoga rezekimu semakin lancar ya nak” Katanya tersenyum sambil memberiku sepiring makanan yang tidak tanggung banyaknya.

36


Mencoba Bercerita

Nelayan Bapakku seorang nelayan Pergi ketika matahari terbenam dan pulang sebelum matahari terbit Bapak selalu membawa ikan-ikan segar yang lalu dibawa oleh ibuku ke pasar ikan untuk kami jual

Tetapi suatu hari bapak tidak pulang tanpa kabar Aku dan Ibu sangat khawatir, mencari kabar keteman-temannya Bapak. Sampai hari ke empat, kami mendapat berita duka itu Berhari-hari hidup kami seperti ikut berhenti Akhirnya kami mulai melanjutkan hidup dengan Ibu sebagai penjual ikan hasil dari orang lain Sore ini aku memandang laut sambil menunggu senja “Terima kasih Pak... rumah di pesisir pantai sangat damai�

37


Si Pemantau

Berdiskusi Kami para benda mati dikumpulkan untuk berdiskusi Walaupun tanpa eksekusi Hanya dikelilingi persepsi Tapi kami penuh dengan eksistensi

Sembunyi-Sembunyi Terlalu banyak yang menyanyi Inginnya agar sunyi Sampai lupa apa saja yang berbunyi

38


Mencoba Bercerita

Ludruk Malam Kamis

Mbak Nuning sekali lagi melirik kearahku sambil tersenyum dari atas panggung.

Berkebaya hitam mbakku terlihat sangat ayu.

Aku selalu menjadi penonton setianya, duduk dikursi plastik bewarna putih tepat di

barisan yang paling depan. Walaupun semakin lama penonton ludruk semakin menipis, Mbak tidak pernah mau berhenti dari pekerjaanya.

“Yang penting adikku bangga, Mbaknya tidak tertelan zaman,’’ katanya lantang.

39


Si Pemantau

Toserba Pukul 11 malam, aku berjalan pulang kerumah dari arah stasiun Tidak seberapa jauh jaraknya, sekitar 10-15 menit Berjalan sedikit menyeret dan sambil merapatkan jaket parasutku Terpaan angin malam yang dingin dan rasa lelah yang aku tahan daritadi Sudah membayangkan dikasur tidak seberapa empuk tetapi terasa hangat Masih buka... Toko kelontong yang di kelola seorang wanita setengah baya yang biasa kami panggil Nenek Jajaran barang dagangannya hampir dipenuhi oleh debu Iya, tidak begitu laku dibandingkan toko-toko modern yang tidak jauh dari tokonya Optimis saja, katanya Sambil menghitung laba rugi disetiap harinya

40


Mencoba Bercerita

Rindang Tidak terasa sudah 4 tahun, aku sering duduk disini. Memandang lurus ke depan atau bercanda ramai dengan teman-temanku. Tempat ini semakin nyaman, rindang pohonnya kadang membuat kantuk. Yang tidak berubah hanya keadaan lalu lintas diseberang, tetap padat membosankan.

Sebentar, sebentar lagi aku diharuskan pergi dari sini. Semoga tempat ini selalu nyaman untuk yang lainnya.

Peruntungan Bermodalkan tas ransel dan telepon seluler tua Bapak mencari nafkah berpindah-pindah tempat Kadang untung Kadang bunting ‘’Tidak apa-apa, asalkan halal� katanya tidak berkecil hati

41


Si Pemantau

Bandara Aku selalu menyukai tempat ini Hitungan menit orang-orang berlalu lalang dan silih berganti Membawa pergi yang akan dikenang dan Membawa yang dirindukan kembali pulang

Boneka

Ini boneka dari bapak Sudah berhari-hari aku kepingin boneka ini

“Sabar yaa, nanti bapak pasti akan belikan boneka itu� pesan nenekku ketika sekali lagi aku merengek meminta boneka

Aku sudah memilah-milih boneka mana yang akan aku beli nanti. Bahkan si penjual dikios mungkin sudah hapal benar wajahku Akhirnya... pagi ini bapak mengajakku ke kios Bahagia pasti

Senang apalagi 42


Mencoba Bercerita

Nanar Sembari berjalan-jalan tanpa sengaja aku melihat seorang gadis muda yang membuatku teringat ke beberapa tahun silam ketika aku masih mempunyai toko baju. Ya, toko kecil yang menjual pakaian murah yang mungkin hanya digunakan jika terpaksa Aku memperhatikan wanita muda itu berdiri cukup lama di depan tokoku. Awalnya aku tidak keberatan dengan kebisaan wanita muda itu, tetapi lama-lama aku sedikit penasaran apa yang sedang dia pikirkan ketika memperhatikan tokoku. Seperti hari ini dengan udara yang cukup terik, aku melihatnya berdiri diseberang jalan dan tidak seperti hari-hari biasanya, wanita itu mendekati tokoku. “Ada yang bisa saya bantu?” kataku menegurnya ketika dia berdiri tepat didepan etalase dengan manekin-manekin wanita. “Mungkin saya akan bahagia jika menjadi salah satu manekin itu...” katanya dengan mata yang tetap terpaku kearah manekin.

“Maaf?” Jujur saja aku sedikit bingung dengan kata-katanya.

“Ya, saya ingin menjadi salah satu dari mereka”

“Mengapa kau ingin seperti itu?” Aku yang kembali bertanya karena masih tidak dapat mengerti dengan pembicaraan ini. “Saya lelah menjadi manusia normal. Jika saya menjadi salah satu dari mereka, saya tidak perlu menangis dan mengiba jika kesusahan dan seolah selalu bahagia dengan senyuman” “Tetapi ada satu kekurangannya...” “Apa?” Dia menatapku. “Mereka tidak punya perasaan, tidak seperti kita manusia normal” “Hahahaa... Saya sudah tidak perduli dengan perasaan. Lihatlah mereka, mereka disukai oleh orang-orang jika menggunakan sesuatu yang indah dan diremehkan jika menggunakan sesuatu yang buruk. Tetapi mereka masih dapat tetap tersenyum dan menerima semuanya karena mereka tidak punya perasaan untuk marah ataupun sedih. Saya ingin seperti mereka.” Katanya tegas.

43


Si Pemantau

Tak Mutu Di bis hendak ke daerah kwitang

Mendengar pengamen wanita menyanyi lantang Dengan isi lirik yang menantang

Tidak nampak diwajahnya raut gamang Menghiburku yang sedang meriang

Menari

Terik hari ini sangat menyengat Rasa gatal karena berkostum membuatnya menggeliat Tetapi mau tidak mau dia harus menari lincah walaupun berat Terdorong kebutuhan sehari-hari sebagai pengikat Usaha keras menaikan harkat dan martabat

44


Mencoba Bercerita

Santai

Duduk diberanda sambil mengamati bunga-bunga yang akhirnya bertemu matahari Kursi kayu buatan Ayahku dan wangi kopi hitam pekat yang baru diseduh menemaniku menunggu senja akhir pekan

45


Si Pemantau Mencoba Bercerita  
Si Pemantau Mencoba Bercerita  
Advertisement