Issuu on Google+

Kal Muller

!"#"$"%&#'%(('

)"*+" !"#"$"%&#'%(('&)"*+"

Masyarakat Dataran Tinggi Papua adalah bagian kedua dari serial buku kami. Bagian pertama, Mengenal Papua telah diterbitkan. Buku ketiga adalah Masyarakat Pantai Selatan Papua, diikuti dengan Pantai Utara Papua, dan yang terakhir adalah Kepala Burung. Awalnya, kelima seri buku ini ditulis bagi para pelajar Papua, karena tidak mudah untuk mendapatkan materi tentang sejarah dan budaya mereka. Serangkaian pertanyaan yang disediakan pada akhir setiap bab dapat digunakan sebagai dasar diskusi dalam kelas. Kami berharap bahwa buku ini juga akan dibaca oleh siapa saja yang tertarik akan Papua, wilayah dalam kesatuan negara Republik Indonesia yang tidak banyak diketahui orang. Dalam seri ini, bagian awal menceritakan tentang geografi secara umum dan situasi ekologi di dataran tinggi. Kemudian kami uraikan perihal perubahan iklim yang memungkinkan bagi masyarakat dataran tinggi untuk membuat hunian. Kami melihat kepada efek-efek yang amat penting dari terjadinya kontak dengan dunia modern, dan terutama dengan pengenalan terhadap Kekristenan. Masyarakat dataran tinggi Papua didefinisikan berdasarkan persamaan lingkungan fisik secara umum, tetapi dengan berbagai perbedaan yang berkaitan dengan bahasa, termasuk daratan yang sangat bervariasi di antara wilayah sisi timur dan barat, dengan Lembah Baliem sebagai titik pembagi. Beberapa topik dengan keterkaitan di antara seluruh masyarakat dataran tinggi membentuk dasar dari bab-bab tentang perkakas batu, perdagangan, peperangan, kepemimpinan, kepercayaan spiritual, pertalian kekerabatan dan pernikahan. Satu bagian menceritakan tentang perbedaan budaya di antara masyarakat pegunungan dan pesisir, termasuk juga perbandingan antara masyarakat pegunungan kita dengan bangsa Papua New Guinea. Bab terakhir dalam buku ini menceritakan secara singkat tentang kelompok-kelompok etnis utama di dataran tinggi Papua. Berdasarkan wilayahnya, dari barat ke ara timur, mereka adalah suku Me, suku Moni, suku Damal/Amungme, suku Lani, suku Dani, suku Yali, suku Mek dan suku Ok. Sebuah bibliografi yang menyediakan materi yang disarankan untuk dibaca.

Kal Muller

! "


DATARANTINGGI PAPUA


BAB V

!"#$%$%&'&"(%)%*')%+%',*-./0'$%/%$'-%1'("2*.1)'-%#*'(%3. Porsi pembahasan geologi dalam bab ini telah direvisi dan diperluas oleh Dr. Mark Closs. Penulis sangat berterima kasih atas waktu yang telah beliau luangkan untuk menyempurnakan tulisan ini. Apabila ada kesalahan tulisan dalam bab ini adalah karena revisi yang penulis lakukan dan kekurang-pahaman dalam hal geologi. Sebelum diperkenalkan pada perkakas logam, masyarakat di dataran tinggi Papua menggunakan peralatan apa saja yang bisa didapat: bambu, Kapak menjadi perkakas batu utama di bagian barat dataran tinggi dan juga di bagian pesisir selatan. Beliung dibawa ke arah timur menggantikan fungsi kapak. (Gambar dari Petrequin)

"#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

!!


tulang, kayu, rotan, rumput, dan batu. Bahkan setelah kapak, belati, dan celurit dari logam didatangkan dari pesisir, selama bertahun-tahun setelahnya peralatan tradisional masih dipergunakan. Kini, hanya penjepit kayu untuk menjepit atau mengatur barang-barang panas di atas api dan belati bambu yang masih umum dipakai. Senjata, seperti busur dan panah, demikian pula tombak masih terbuat dari kayu. Pada jaman dahulu, perkakas dari tulang cukup luas digunakan. Meski jarang, terkadang masih dapat kita jumpai pengorek terbuat dari taring babi, juga sebuah alat ukir yang dipakai untuk menghias batang anak panah terbuat dari gigi tikus atau anjing yang dikikis. Beberapa jenis kerang bercangkang dua digunakan sebagai pengorek tetapi peran utama kulit kerang adalah sebagai mata uang dan untuk perhiasan pribadi. Beliung atau kapak batu yang tajam, dipegang dengan cara menggenggam batunya sebagai kontrol yang lebih kuat, adalah perkakas pengikis yang utama, sebagai misalnya untuk membentuk busur. Meski di beberapa wilayah dataran rendah besi telah ditempa mulai abad ke-15, sangatlah sedikit perkakas logam yang masuk ke dataran tinggi sebelum terjadinya kontak luas dengan dunia luar pada pertengahan abad yang lalu. Dengan demikian, hingga belum lama berselang, hingga tahun 1980an, di beberapa daerah dataran tinggi adalah masih Zaman Batu. Tapi kita tidak boleh berasumsi bahwa tidak ada evolusi pada perkakas batu: perkakas ini menjadi lebih halus dari masa ke masa, dan teradaptasi dengan sempurna sebagai gaya hidup penduduk Papua. Tentu saja, tidak perlu waktu lama bagi penghuni dataran tinggi untuk beralih ke kapak logam. Peralatan ini membuat perbedaan waktu yang cukup besar bagi kaum lelaki dalam melakukan pekerjaan pembersihan lahan dari pepohonan sebelum mulai bercocok tanam. Jika waktu yang diperlukan untuk menebang sebuah pohon kecil dengan kapak batu adalah dua sampai tiga kali lebih lama, maka untuk merobohkan sebuah pohon besar pengaruhnya bisa sekitar tiga sampai lima kali. Tetapi di zaman pra-logam, pohon-pohon besar biasanya diikat, dan kemudian dibiarkan mati. Perkakas logam tak banyak membawa perubahan bagi kehidupan para wanita. Menebang batang pohon hidup dan memproses kayu menjadi papan atau busur, baik dengan batu atau lo-

455

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


Digunakan pada satu sisi, kapak memiliki kekuatan luar biasa sebagai alat potong. Ukuran mata pisau batu dan panjangnya gagang pegangan memberikan keseimbangan bagi kekuatan optimal. (Foto Petrequin)

gam, adalah khusus bagi pria. Para wanita, dahulu ataupun sekarang, menggunakan kapak hanya untuk mempersiapkan kayu bakar. Para wanita tidak diikut-sertakan dalam semua tahap pengolahan kayu, meski terkadang pengecualian diberikan kepada wanita-wanita tua. Yang cukup menarik, pengecualian ini juga diterapkan pada pekerjaan di beberapa kebun talas, biasanya dipersiapkan hanya oleh para pria. Meski didapati lesung dari batu (atau kayu) dan penumbuk dari batu untuk memecahkan kacang dan biji-bijian, kapak dan beliung-lah yang merupakan perkakas batu utama dan penting. Berbagai jenis batu digunakan untuk membuat perkakas. Tentunya jenis yang paling keras dapat dipakai lebih lama tetapi memerlukan banyak waktu untuk membentuknya menjadi kapak atau beliung. Dan bukan hanya lebih banyak waktu yang diperlukan bagi batu-batu keras untuk membentuknya, tetapi juga untuk menghaluskan dan menggosoknya. Meski kebanyakan perkakas batu ini dipakai

"#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

454


Mata pisau batu yang besar dipasang erat pada suatu pegangan yang berat. Mata pisau serupa yang dipoles mengkilap dipersembahkan untuk tujuan ritual. (Foto Petrequin)

untuk pekerjaan sehari-hari, ada juga beberapa diantaranya yang digunakan untuk keperluan upacara, pertukaran dan juga sebagai bagian dari mahar pengantin wanita. Terdapat beberapa tempat penambangan yang letaknya tersebar, tetapi secara umum terpusat di tiga daerah. Batu-batuan ini merupakan salah satu komoditi dagang utama dalam jaringan luas di seluruh wilayah dataran tinggi. DUA BUKU YANG PENTING Sebuah buku yang ditulis oleh O.W. Hampton memberi kita gambaran terbaik tentang suku Dani dan berbagai perkakas batu dalam budaya mereka. Sebuah buku lain, dengan cakupan dan ilustrasi yang lebih baik, diterbitkan dalam bahasa Perancis oleh pasangan Petrequin, jika digabungkan dengan karya Hampton dapat memberikan kita gambaran yang sempurna akan penambangan, pembentukan, perdagangan, dan pemakaian perkakas dari batu di Papua. Selama periode 12 tahun, mulai tahun 1982 hingga 1993, Hampton menghabiskan waktu selama 19 bulan untuk mempelajari 456

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


teknik penambangan batu dan berbagai kegunaannya. Wilayah penelitiannya mencakup daerah yang luas di pegunungan tengah Papua, mulai dengan suku Una dan Kimyal di daerah timur, sampai dengan suku Yali dan Dani di bagian tengah, hingga suku Lani dan Wano di wilayah barat. Pasangan Petrequin melakukan penelitian mereka sebanyak tujuh kali, dimana setiap kali penelitian memakan waktu dua bulan, dilakukan antara tahun 1984 dan 1993. Hampton memberi kita latar belakang penggunaan batu-batuan oleh manusia. Manusia awal di Afrika mengembangkan perkakas batu pada zaman Paleolithic (Zaman Batu Tua) yang berakhir sekitar 1 juta hingga 15.000 tahun yang lalu. Perkakas-perkakas ini adalah ‘peralatan batu berbentuk pipih’ yang berarti dibentuk dengan memecahkan atau mengikis sedikit demi sedikit sebuah batu hingga didapatkan bentuk yang dikehendaki. Kemungkinan perkakas inilah yang dibawa oleh pendatang gelombang pertama ke Papua, sekitar 50.000 tahun lalu. Masyarakat Papua menggunakan alat pemotong kasar untuk mengosongkan areal hutan yang luas di dataran tinggi. Orang Aborigin Australia, yang leluhurnya tiba pada saat yang sama dengan manusia Papua pertama, tetap berada di fase perkakas batu Paleolithic hingga kedatangan orang-orang Eropa yang pertama. Perkakas batu pipih mengalami perbaikan, tapi dengan sangat pelan. Sekitar 4000 tahun yang lalu, perkakas batu berkembang dengan pesat, berkat teknologi lebih maju yang dibawa oleh para Melanesia. New Guinea melewati ‘revolusi’ zaman Neolithic (Zaman Batu Baru) dalam beradaptasi dengan kapak dan beliung batu halus. Perkakas baru ini jauh lebih baik dibanding dengan yang sebelumnya. Perkakas batu yang baru ini dibentuk menjadi kapak dan beliung yang efisien, dipakai untuk menebang pohon, membelah kayu, serta membentuk perkakas kayu seperti tongkat penggali. Kebanyakan kelompok-kelompok masyarakat di dataran tinggi Papua memilih menggunakan beliung untuk menebang pohon. Secara teori, kapak boleh jadi memiliki kelebihan pada gagang pegangan yang lebih panjang dan pada mata pisau yang lebih berat untuk dipakai menebas batang pohon dengan sudut miring, tapi beliung lebih disukai karena lebih mudah untuk mengontrol sudut potongan dengan kekuatan besar yang ditekankan pada arah gerakan ba-

"#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

457


gian ujung perkakas. Membuat sebuah mata pisau batu yang efisien tidaklah mudah. Getaran selama pemakaiannya harus bisa distribusikan merata dalam batu tersebut dan ini tergantung pada keseluruhan bentuk dan penampangnya. Kemudian cara mengikat mata pisau itu pada sebuah pegangan, juga penting untuk efisiensi yang maksimum. Hal ini kemungkinan besar berkembang lewat percobaan berkali-kali selama generasi demi generasi. Ketika pasangan Petrequins mengadakan penelitian besar terhadap kapak batu, terungkap bahwa rata-rata perkakas batu dapat bertahan dipakai selama 20 tahun. Ini berarti jenis batu yang dipilih haruslah sangat keras dan dapat dipertahankan ketajamannya, serta bisa diasah berulang kali. Perkakas-perkakas paling efisien ini tidak terjadi begitu saja dalam waktu semalam. Di banyak daerah di dataran tinggi, fungsi sosial belati batu dan penggunaannya dalam ritual sama pentingnya dengan fungsi praktis alat tersebut sebagai pembuat perkakas kerja utama. Para pria bekerja dalam kelompok untuk mengambil bongkahan batu dalam ukuran tertentu dari batu-batu ‘induk’ yang besar. Umumnya, mereka bekerja bersama pada tahap awal untuk membentuk batu-batu ini, kemudian dengan keahlian dikerjakanlah proses memperkecil batu kasar ke bentuk akhir dengan mengikis serpihan demi serpihan. Meski di penambangan tersebut, proses bebatuan menjadi bentuk akhir dikerjakan oleh kaum lelaki, proses penghalusannya biasa dilakukan di tempat yang lebih jauh. Di bagian barat pegunungan, pekerjaan yang memakan banyak waktu ini umumnya dikerjakan di daerah yang berpenduduk padat, oleh kelompok-kelompok masyarakat Lani dan Dani. Selain fungsi praktisnya, belati-belati batu ini juga memiliki nilai ritual dan kepentingan dagang yang tinggi di hampir semua wilayah dataran tinggi. SEDIKIT LATAR BELAKANG GEOLOGI YANG BERKAITAN DENGAN BAHASAN KITA Kita perlu mempelajari beberapa dasar ilmu geologi untuk memahami jenis batu-batuan yang digunakan di Papua. Semua materi di bumi terbagi dalam tiga kategori umum: binatang, tumbuh-tumbuhan, atau mineral. Mineral adalah benda padat yang terjadi secara alami dalam bebatuan dan memiliki 458

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


komposisi karakteristik (kimia) tertentu. Bebatuan adalah benda keras yang dibentuk oleh mineral yang muncul secara alami, seperti tembaga dan emas. Batu terbagi menjadi tiga tipe: sedimen, metamorfik, atau batu berapi. Batu sedimen terbuat dari partikel-partikel kecil (sedimen) yang diendapkan oleh air, angin, atau es. Sedimen ini membatu pada tekanan yang rendah, berada tepat pada atau dekat dengan permukaan bumi. Bukaan-bukaan kecil di antara butiran-butiran tersebut dikenal sebagai pori-pori dan akan terisi oleh air. Ketika terkubur dan terpadatkan, sedimen-sedimen tersebut akan mengeras dan menyatu membentuk bebatuan. Khususnya pada kedalaman hingga 8 kilometer, tekanan menjadi besar dan pengerasan/ pemadatan akan menutup semua lubang pori, peningkatan suhu yang begitu tinggi mengakibatkan munculnya mineral-mineral baru. Perubahan ini membentuk batuan metamorfik (berarti perubahan bentuk). Penutupan lubang pori membuat batu menjadi lebih keras. Ketika suhu meningkat teramat panas, batuan ini akan meleleh menjadi cairan yang disebut Di Lembah Baliem, kapak-kapak batu digunakan hanya untuk membelah kayu, bukan menebang pohon. Tidak ada kapak batu yang dipakai di bagian timur Lembah Baliem. (Foto Mitton)

"#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

459


magma. Gunung berapi dapat melepaskan semburan magma keluar ke atas permukaan bumi. Lava adalah magma yang mengalir keluar dari dalam gunung berapi, membentuk batuan-batuan beku akibat perapian (batu berapi) yang disebut plutonic. Batu-batu volkanik membentuk kristal-kristal kecil, sementara jenis plutonic akan membentuk kristal-kristal yang lebih besar. Keduanya adalah jenis batu-batu api. Beberapa karakteristik menentukan kualitas dan nilai belati batu yang digunakan oleh penduduk dataran tinggi Papua. Beberapa dicari karena tampilan mereka yang indah: alur tekstur yang halus dan warna biru atau hijau. Mineral yang berbeda-beda inilah yang memberikan bentuk pada tekstur batuan, selain sifat keras dari batu itu sendiri. Kekerasan batuan akan menentukan kemampuannya dalam menahan benturan yang berulang-ulang saat digunakan untuk memotong pohon. Kemampuan untuk mempertahankan ketajamannya meski tidak seringkali diasah menjadi penting bagi belati yang dipakai sebagai perkakas pemotong atau pembelah. Makin keras batuan yang dijadikan bahan baku, akan makin sulit dan memakan waktu lebih lama untuk membentuknya menjadi belati. Tetapi makin keras batu belati tersebut, tentunya juga akan bertahan lebih lama, termasuk ketajamannya. Untuk mengukur tingkat kekerasan mineral dan material lainnya, ada standar dunia yang disebut skala Mohs. Menurut skala tersebut, mineral yang paling lunak adalah timah atau isi pensil, dinilai dengan skala 1. Mineral terkeras, berlian, dinilai pada skala 10. Kuku jari pada skala 2,5; pisau logam 5,5; dan kikir baja di antara 5 dan 6. Kapak dan beliung orang Papua berkisar antara 4,5 dan 6. Yang paling keras berasal dari kelompok terpencil dari penambangan di dekat Yeineri (baca di bagian bawah). Ketika profesor geologi, Dr. Mark Closs mengunjungi Yeineri, beliau memeriksa salah satu bekas tambang. Beliau menulis bahwa bebatuan di daerah tersebut adalah batuan terkeras di dunia yang pernah dilihatnya. Bahkan amat sulit untuk memecahkan batu tersebut dengan sebuah palu godam. Contoh batu yang dibawanya pulang pun sulit untuk dihancurkan dengan mesin penghancur. Beliau menuliskan bahwa “selama bertahun-tahun saat saya membicarakan perjalanan kami ke tempat penghasil kapak-kapak batu, saya mengatakan 45:

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


bahwa jika anda harus menggunakan kapak batu untuk membangun rumah anda, orang-orang Papua ini telah menemukan lokasi penggalian yang memiliki jenis batu terbaik dari batuan yang ada.� Kapak-kapak batu sangat jarang digunakan dalam peperangan, fungsi utama benda ini adalah sebagai alat pemotong, pembentuk, atau pembelah. Ada dua jenis utama perkakas: kapak dan beliung. Pada jenis kapak, sisi tajamnya sejajar dengan pegangan; sedangkan pada beliung, mata pisaunya menyiku terhadap pegangannya. Umumnya kapak hanya dipakai untuk membelah kayu. Beliung dipakai untuk menebang pohon, membentuk dan menghaluskan kayu. Selain dari fungsi keseharian tersebut, mata pisau tanpa pegangan diberikan dalam pertukaran barang dalam pernikahan dan penguburan, dan juga sebagai benda keramat yang melambangkan roh leluhur. Hampton menemukan sebelas daerah budaya pengguna perkakas batu, dengan kapak dan beliung yang hampir sama-sama eksklusifnya satu terhadap yang lain. Di wilayah timur jauh dataran tinggi, kapak jarang dipakai sedangkan beliung menjadi alat potong multi-guna. Ada tiga daerah penambangan utama di dataran tinggi, menyediakan perkakas setidaknya untuk 18 kelompok pemakai bahasa yang berbeda. Batubatuan yang dipergunakan dari jenis yang berbeda-beda, tetapi semuanya diperdagangkan ke daerah yang cukup jauh jaraknya, dikarenakan kebanyakan daerah tidak memiliki batu-batuan yang cocok dan keahlian yang diperKetika diperlukan pukulan yang lebih keras, beliung sama efisiennya dengan kapak. Setiap budaya memiliki caranya sendiri dalam mengikat mata pisau pada bagian pegangannya. (Foto Petrequin) "#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

45;


Beliung batu masih dipergunakan hingga hari ini, karena alat ini lebih efisien dibandingkan perkakas logam saat digunakan untuk mengolah buah pandan. Akan tetapi kebanyakan beliung yang dibuat sekarang adalah untuk dijual kepada para wisatawan, sedikit saja yang dipergunakan sebagaimana fungsi awalnya.

lukan untuk membuat perkakas. Salah satu sumber adalah pertambangan Yeineri, terdapat di wilayah suku Wano, dekat tepi utara dari pegunungan tengah. Sumber yang lain ada di Tagime, di pinggiran wilayah suku Lani, sangat dekat dengan Lembah Baliem. Sumber ketiga berada di daerah selatan kelompok pengguna bahasa Una. TAMBANG BATU DI LANGDA/SELA Lokasi tambang ini sekitar 200 kilometer ke arah tenggara Wamena, mata belati dari tambang-tambang sini mencapai hingga sejauh wilayah suku Dani melalui serentetan perjalanan. Belati-belati ini juga diperdagangkan menuju wilayah timur, kepada kelompok suku Mek yang lainnya, dan mungkin juga kepada kelompok pengguna bahasa Ok yang menghuni dua wilayah pada perbatasan internasional dengan PNG, dimana belati beliung ini dinamakan ‘fubi’. Tetapi menurut pasangan Petrequins, kemungkinan

45<

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


besar belati â&#x20AC;&#x2DC;fubiâ&#x20AC;&#x2122; tersebut dihasilkan dari tambang Suntamon yang lebih dekat dengan perbatasan wilayah suku Ngalum atau Gunung Ok. Beberapa mata pisau beliung dari Yeineri dan Tangma diperdagangkan jauh sampai ke daerah ini, dibawa dari barat. Belati-belati ini digunakan sebagai batu keramat, bukan sebagai perkakas. Meski tak ada kapak yang dibuat di daerah ini, pertambangan yang ada menghasilkan mata pisau beliung dan alat pahat yang digunakan untuk melubangi kayu pegangan kapak, yang dipakai di sepanjang daerah menuju barat. Pekerja di pertambangan ini berbicara dengan dua bahasa yang berbeda, keduanya termasuk dalam rumpun bahasa Mek. Kelompok suku Langda menggunakan bahasa Una, sementara pekerja dari suku Sela masuk dalam kelompok bahasa Kimyal. Pengaruh dari luar cukup lambat masuk di daerah ini, sebuah landasan pacu permanen di Langda baru dibuka oleh seorang misionaris Belanda pada tahun 1973. Lokasi Langda berada pada ketinggian 1860 meter, dan dari sana, sekitar 800 meter ke bawah terdapat Sungai Ey. Kaum lelaki menuruni satu lereng curam dari tempat hunian mereka yang berada di atas bukit untuk mencari bongkahan granit yang cocok, yang terbawa arus sungai sepanjang 17 kilometer ke arah bawah lembah. Dua jenis batu yang digunakan adalah andesit dan granit, keduanya tipe batuan volkanik. Bongkahan batu besar dengan kualitas tinggi muncul setelah terjadi banjir besar dan bendungan dibangun mengelilingi bongkahan-bongkahan tersebut untuk menghalangi aliran air sungai agar batu-batu tersebut bisa dikeringkan. Sebelum memulai pekerjaan, para lelaki melakukan pengetesan bongkahan yang berpotensi dengan sebuah batu perkusi keramat karena suara yang dipantulkan harus jernih. Kemudian pengapian dibangun di sekeliling bongkahan tersebut, lalu bongkah-bongkah dipecahkan dengan cara melemparkan batu-batu besar ke arah bongkahan raksasa yang panas yang disiram dengan air. Hampton menemukan bahwa beberapa kepercayaan tradisional masih dipakai dalam pembuatan belati-belati batu ini. Satu roh wanita bernama Alim Yongnum (terkadang dipanggil Alim Milmeurum) menguasai tanah di dekat Sungai Ey, sementara satu roh laki-laki menguasai bebatuan yang ada di sungai. Sebagai tanda penghormatan kepada roh-roh ini, dan juga

"#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

45!


bagi roh-roh yang ada di dalam batu-batuan tersebut, lemak babi diurapkan pada bongkahan yang terpilih untuk ditambang. Bagi suku Una, sebagaimana kelompok yang ada di dekat mereka, suku Eipo Mek, babi tidaklah sepenting seperti di daerah dataran tinggi lainnya. Hanya satu dari klan suku Una, klan Balyo, yang memiliki wewenang ritual menyangkut beberapa aspek dalam pengerjaan batu-batu tersebut. Yang menarik, anggota klan Balyo dilarang makan daging babi, demikian halnya dengan beberapa kaum lelaki yang terlibat dalam mengumpulan logam di Biak dan tempat lainnya. Keunikan lain di Langda adalah bahkan setelah dikenalnya perkakas logam, keladi hanya boleh dipotong dengan beliung sebelum dimasak. Sebelum masuknya ubi manis, keladi adalah makanan pokok di daerah pegunungan dan akar umbi ini masih menempati posisi penting dalam ritual di beberapa daerah di dataran tinggi. TAMBANG BATU DI YEINERI Pertambangan paling dikenal di dataran tinggi terletak di tanah suku Wano, sebuah kelompok yang relatif kecil dengan populasi sekitar 3000 hingga 3500 jiwa. Wilayah suku Wano terhampar di daerah utara dan barat laut, dan sekitar tiga hari perjalanan kaki melalui gunung-gunung dari pusat wilayah suku Lani di Mulia (1600 meter). Daerah tempat tinggal suku Wano, di sekitar Yeleme Massif, terbentang mulai ketinggian 3700 meter hingga hampir mencapai area dataran rendah Danau Plains. Mereka tinggal di utara Sungai Yamo, yang mengalir dari timur ke barat di pegunungan tengah sebelum belok ke arah utara dan bergabung dengan Sungai Tariku/Rouffaer. Tetangga terdekat di sebelah selatan mereka adalah suku Lani/Dani dari lembah Sungai Yamo. Wilayah suku Wano tidak merata dan berbukit, tanahnya tidak subur dan daerah perkebunannya kurang luas, hal ini berakibat pada tingkat populasi yang sangat kecil: 0,6 penduduk per kilometer persegi; dibandingkan 40 hingga 60 untuk tetangga di sebelah selatan mereka, suku Lani; dan lebih dari 150 di Lembah Baliem. Meski dalam hal populasi penduduk suku Wano hanya sedikit jumlahnya, tetapi dalam hal keahlian mengerjakan penambangan batu dipastikan bahwa mereka terkenal dan dihormati, di masa lampau.

445

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


Menempatkan api di samping induk kayu akan membantu melepaskan lempeng yang kemudian dapat dibentuk menjadi mata belati. Tambang ini adalah milik kelompok Wano. (Foto Petrequin)

Suku Wano (termasuk para pekerja batu suku Langda) percaya bahwa belati yang mereka buat itu sebelumnya sudah terbentuk di dalam bongkahan besar batu induk. Ini mirip dengan apa yang dikatakan oleh pemahat Italia termasyur, Michelangelo, mengenai pahatan-pahatan marmernya yang indah itu sebenarnya sudah ada dalam blok marmer sebelum dipahatnya: adalah tugasnya untuk mengikis hanya di bagian yang tidak penting dari batu tersebut untuk menyingkap patung yang tertutup bawahnya. Batubatuan spesial suku Wano, di mana belati-belati itu â&#x20AC;&#x2DC;telah adaâ&#x20AC;&#x2122;, diperkecil menjadi bentuk yang diinginkan melalui perkusi, yaitu memukulnya di tempat yang tepat dan sudut yang sesuai: suatu tugas yang memerlukan banyak pengalaman. Suku Wano bukanlah penduduk asli daerah pertambangan ini. Hingga akhir 1930an atau awal 1940an, suku Dubele/Duvle, sebuah kelompok linguistik dari dataran rendah, tinggal di situ. Dengan kedatangan suku Wano, kelompok ini pindah ke daerah endapan Mamberano. Meski beberapa orang Dani, Moni, dan terkadang seorang Me diijinkan masuk "#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

444


wilayah ini, mereka semua harus membayar suku Wano untuk ijin tersebut. Ini karena permukaan perbukitan yang sangat terjal dan hanya beberapa bukit saja yang dapat dilalui sehingga suku Wano dapat mengendalikan pergerakan orang-orang luar yang datang mencari batu-batu terbaik. Belati batu yang paling keras dan beralur paling halus datang dari beberapa tambang di seputar sebuah dusun kecil bernama Yeineri, terletak pada ketinggian sekitar 1200 meter. Lokasi dari beberapa tambang tersebut terpencar sekitar 15 kilometer dan pada ketinggian antara 650 hingga 1500 meter. Daerah pertambangan ini disebut Ye-Le-Me, yang dalam bahasa Wano berarti â&#x20AC;&#x153;Sumber Kapak Batuâ&#x20AC;?. Wilayah penambangan ini terdiri dari sekitar 30 area tambang, dengan tiga lokasi yang paling terkenal di Awigobi (yang berarti Sungai di Malam Hari), Kembe, dan Yeineri. Sumber-sumber pertambangan ini dimiliki secara bersama oleh kelompok-kelompok suku Sungai-sungai membawa bongkahan batu besar yang tepat yang dapat dibelah-belah dengan api dan dibentuk menjadi beliung dan perkakas lainnya. Persembahan dibuat bagi roh-roh sebelum pengerjaan mata batu dimulai. (Foto Petrequin)

446

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


Wano yang tinggal di sekitarnya. Tambang bongkahan yang menghasilkan batu di Ye-Le-Me merupakan jenis yang tidak lazim, dikenal sebagai blueschist. Schist adalah sejenis batu metamorfik yang mengandung mineral-mineral yang tersusun searah akibat adanya tekanan yang disebabkan oleh terjadinya pergeseran tanah. Kebanyakan schist akan dengan mudah dipecah menjadi bentuk lapisanlapisan sejajar. Schist-schist lainnya, seperti yang ada di Ye-Le-Me, hanya dapat dipisahkan dengan upaya yang sangat sulit. Masyarakat Wano memiliki tugas yang berat. Potongan batu-batu blueschist hanya dapat diperoleh dengan cara memanaskan batu secara berulang selama berjam-jam dengan pengapian yang dibuat di sekeliling atau di bawah permukaan batu, dilanjutkan dengan penyiraman air hingga timbul retakan-retakan yang dapat dicongkel dengan ujung-ujung kayu untuk memecahkannya. Pecahan batu yang terlepas cenderung dalam potongan memanjang, lempeng batu ini berlapis-lapis yang disebabkan oleh garisgaris mineral pembentuk batu tersebut. Potongn memanjang ini mengikuti alur pada batu. Hal ini akan menghasilkan mata belati dengan kekuatan maksimum pada bagian tepinya. Benturan dengan batu besar akan memecahkan lempeng besar. Ketika pekerja telah memperoleh potongan-potongan yang relatif lebih kecil, mereka akan langsung berkutat dengan proses yang disebut knapping. Yang artinya memecahkan serpihan-serpihan agar menjadi bentuk yang diinginkan. Keseluruhan tahapan dalam proses ini memerlukan pengalaman panjang, dengan keahliannya orang Wano dapat merasakan batu tersebut ketika melakukan analisa untuk menentukan arah alurnya. Suku Wano menghasilkan mata batu kasar untuk mata pisau, dalam bentuk yang sesuai tetapi masih memerlukan proses lebih lanjut: pemolesan. Untuk proses ini, dipergunakan batu paras kwarsa sebagai penggosok, tetapi batu jenis ini tidak tersedia di dekat pertambangan Yeineri. Tetapi ditemukan di daerah selatan, di Mulia, wilayah suku Lani. Mata batu dari Yeineri dibarter untuk babi dan garam oleh suku Wano dengan suku lainnya, terutama yang dekat yakni suku Lani di Mulia. Suku Wano kaya akan batu tetapi miskin akan babi, kebalikan dengan suku Lani dan Dani. Begitu

"#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

447


memperoleh mata batu tersebut, orang-orang Lani akan menghabiskan banyak waktu untuk memolesnya, pertama dengan batu paras yang ideal untuk pekerjaan awal, kemudian dengan rumput kasar untuk mengkilapkan beberapa bagian pisau. Hal ini akan menambah nilai mata pisau yang telah dipoles dan diasah itu untuk dibarter dengan barang lainnya. Memoles mata pisau kasar adalah pekerjaan yang membosankan, tetapi setelahnya akan menambah nilai tinggi pada batu-batu tersebut. Tapi pekerjaan ini begitu membosankan sampai-sampai harus diadakan ‘pesta memoles’ di pusat-pusat orang Lani tinggal, seperti di Mulia dan Ilaga. Hanya seorang pemimpin perang yang dibebas-tugaskan dari pekerjaan ini. Seorang Pemimpin Besar suku Lani berkata, “Saya benci jika harus terlibat dalam pekerjaan memoles. Semua kapak saya dipoles oleh laki-laki lain. Saya lebih memilih berperang.” Belati Yeineri memiliki beragam warna, dari berbagai corak mulai biru hingga hijau kekuningan. Beberapa diantaranya memiliki warna yang seragam, yang lainnya memiliki bercak titik-titik dengan warna yang berbeda-beda. Semua batu yang ada di pertambangan di daerah ini adalah batu blueschist dari jenis metamorfik yang terbentuk selama terjadinya kondisi yang tidak biasa, dimana tekanan meningkat begitu tinggi, tetapi hanya pada suhu sedang. Batu-batuan ini berasal dari kedalaman 20 hingga 30 kilometer di bawah lempeng besar kerak dasar lautan dan lapisan batuan yang dikenal sebagai lajur ophilite. Lempeng ophilite terdesak naik ke atas dan membentuk panggul pegunungan Papua bagian utara dikarenakan simpanan batuan pada pinggiran lempeng Australia telah mendesak apa yang ada dibawahnya. Batu-batuan blueschist pada tambang tersebut ditemukan dalam sebuah ‘jendela’ (celah) kecil yang memperlihatkan material batuan yang terdesak oleh lajur ophilite sebelum dataran tinggi yang sekarang terbentuk. Batubatuan yang menyelimuti sekeliling jendela telah diubah menjadi batuan lunak yang dinamakan serpentine. Dua tipe mineral memberi warna pada mata pisau batu. Mineral terbanyak yang ada dalam susunan adalah ‘amphibole’; dimulai dengan hornblende yang kaya akan kandungan zat kapur hingga keragaman glauco-

448

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


Beliung-beliung batu yang dihasilkan oleh penambangan Suntamon diperdagangkan tersebar hingga ke daerah yang jauh. Beberapa diantaranya mencapai bagian hulu Sungai Sepik dan Teluk Papua di PNG melalui para pedagang perantara. (Gambar dari Petrequin)

phane yang kaya akan sodium. Hornblende berwarna kehijauan sementara glaucophane berwarna kebiruan. Hornblende dan glaucophane yang relatif berlimpah menjadi alasan utama mengapa mata pisau batu ini memiliki corak berselang-seling mulai warna hijau hingga biru. Mineral glaucophane (dalam bahasa Yunani berarti â&#x20AC;&#x2DC;yang terlihat biruâ&#x20AC;&#x2122;) membuat mata pisau, terutama yang berwarna kebiruan lebih keras, dengan kisaran nilai antara 5 hingga 6 pada skala Mohs. Mineral lainnya adalah epidote, terlihat sebagai hijau kekuningan pada skala 6,5 pada skala Mohs. Lapisan-lapisan dengan kandungan epidote yang berlimpah cenderung memiliki warna kekuningan. Satu formasi khusus yakni berwarna hijau muda dan lapisannya tipis. Mata pisau dari formasi ini, disebut â&#x20AC;&#x2DC;yeâ&#x20AC;&#x2122;, sangat diminati karena panjangnya. Jenis ini panjangnya dapat mencapai lebih dari satu meter. Sangat sulit untuk tidak mematahkannya selama proses pembuatan dan pengangkutannya, sehingga hanya sebagian kecil saja yang dapat mencapai tujuan akhir dalam keadaan utuh. Inilah yang menyebabkan mengapa nilainya begitu tinggi.

"#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

449


Awalnya, sebuah beliung batu memiliki permukaan yang kasar. Diperlukan banyak waktu untuk memolesnya agar menjadi halus hingga mempertinggi nilainya. (Foto Hampton)

44:

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


TAMBANG BATU DI TAGIME Terletak di daerah kekuasaan suku Lani, hanya beberapa jam berjalan kaki dari daerah suku Dani di Lembah Baliem, sumber-sumber tambang ini memasok ke wilayah yang berpenduduk banyak. Argilite adalah mineral utama pada bebatuan yang ditambang di sini dan dipakai untuk kapak dan beliung. Termasuk jenis batu metamorfik, terbuat dari tanah liat hitam halus yang sepenuhnya menghablur (mengkristal) dan partikel endapan lumpur, memiliki alur tesktur yang halus. Argilite tidak sekeras bebatuan yang ditambang di Yeineri. Tetapi pria-pria tua bersikeras pada Hampton bahwa perkakas mereka lebih baik dibandingkan perkakas yang terbuat dari mata pisau Yeineri. Pekerjaan pembuatan mata pisau ini ditemukan di dua lokasi, di sepanjang jarak empat kilometer dari Sungai Tagi. Tak seperti di Yeineri, bebatuan untuk mata pisau ini tidak perlu dilepas dari dinding batu. Bongkahan batu ini ditemukan dalam bentuk batu bulat yang sudah dihaluskan oleh arus air sungai. Melempar batu-batu kecil ke arah bongkahan batu tersebut, terkadang diselingi pembakaran dan siraman air, akan memecahkan bongkahan batu yang besar. Argilite yang digunakan untuk mata pisau tidak memiliki garis-garis alur dari kandungan mineralnya, sehingga batu-batu dengan potongan panjang yang terbentuk oleh pengikisan secara alami inilah yang mereka kumpulkan, dan sebelum diasah diperlukan sedikit penyerpihan (pengikisan). Pembentukan bahan baku untuk mata pisau dengan dua sisi (permukaan) ini tidak memerlukan keahlian knapping yang tinggi. Tidak seperti suku Wano, pekerja batu dari suku Lani di Tagime tidak memperdagangkan mata batu yang berbentuk sangat kasar. Mereka menghaluskan tonjolantonjolan di kedua sisi mata pisau tersebut di atas bongkahan batu paras yang besar dan rata, yang mereka gunakan sebagai lempeng penggerus atau pengasah utama. Lempengan-lempengan ini akan membentuk lekukan dengan ukuran yang tepat untuk mempermudah pengasahan.

"#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

44;


MENGENAI KAPAK DAN BELIUNG BATU Batu-batuan dari dataran tinggi Papua dibuat menjadi dua perkakas yang berbeda tetapi sama-sama multi-fungsi: kapak dan beliung. Kebanyakan kelompok di sini menggunakan salah satu perkakas atau alat yang lainnya. Kapak-kapaknya berukuran besar dengan pegangan panjang yang ada tonjolan berbentuk bujur telur besar di ujungnya. Sebuah lubang dibuat pada tonjolan ini dan dipasangi dengan sebuah mata kapak yang sudah dihaluskan dan diasah. Pegangan itu lebih panjang daripada yang dibutuhkan untuk menggunakan kapak tersebut. Kelebihan panjang tersebut diperlukan untuk mengimbangi berat mata kapak yang besar ketika dibawa di bahu supaya tangan yang membawa bebas bergerak saat berjalan kaki. Beliung jauh lebih kecil dibandingkan kapak, lebih pendek dan tidak besar. Pegangan pada beberapa beliung juga memiliki lubang dekat bagian atas, tetapi batunya tidak langsung dipasangkan. Sebaliknya, lubang itu berfungsi sebagai tempat dimasukkannya sepotong kayu (penjepit batu) dengan posisi melintang pegangan dan menjulur ke depan dan belakang. Kayu penjepit ini biasanya dibelah dan mata pisau batu oval diselipkan dan diikat dengan posisi sedikit menonjol. Berbagai bentuk beliung memiliki kayu penjepit mata pisau batu yang dimasukkan dengan sudut yang berbeda ke dalam pegangannya. Sudut-sudut ini berkisar antara 90 hingga 30 derajat. (Di pesisir utara, beberapa beliung memiliki kayu penjepit yang dapat diubah sudutnya). Di antara suku Lani dari daerah Toli, beliung yang disimpan di rumah khusus laki-laki mewakili setiap prajurit yang tewas. Selain dibuat untuk pemakaian sehari-hari, mata pisau batu juga disimpan untuk keperluan ritual. Beberapa mata pisau schist hijau tersebut, dipisahkan dari bongkahan batu besar dengan api, mencapai panjang 30 cm dan beberapa diantaranya didekorasi dengan sangat luar biasa. Mata pisau lainnya bahkan ada yang lebih panjang. Mata pisau dari batu hitam lunak yang jarang didapat, ditemukan dari wilayah suku Tagi di daerah utara Baliem dekat Pyramid; setelah dipoles panjangnya dapat mencapai hingga 60 cm. Disimpan dalam rumah kaum laki-laki, mata-mata pisau ini hanya sesekali dikeluarkan untuk tujuan khusus yang berkaitan dengan ritual-ritual penting, termasuk penyembahan leluhur. Ada pula batu-batuan laki-laki 44<

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


yang mewakili peperangan dan menuntut balas dendam, juga batu wanita yang dikaitkan dengan kebun dan peternakan babi. Kekuatan magis dari batu-batu tersebut membangkitkan kekuatan para prajurit perang, meningkatkan kesuburan kebun-kebun, dan memperbanyak jumlah babi. Disebut â&#x20AC;&#x2DC;ye-pibitâ&#x20AC;&#x2122;, mata pisau yang dihias dan disemir lemak ini diturunkan dari generasi ke generasi. Banyak legenda yang dikaitkan dengan pisau-pisau ini. Pisau-pisau itu dibakar secara masal saat kelompok-kelompok tersebut meninggalkan kepercayaan leluhur untuk menjadi Kristen. Mata pisau schist hijau dari suku Dani yang panjang (hingga 30 cm), tipis dan dipoles sangat baik dan secara rutin disemir dengan lemak babi, juga termasuk di antara benda-benda tradisional terpenting yang dibakar dalam hebohnya penolakan masa lalu dan rangkulan ajaran misionaris Amerika. Pisau-pisau ini dipakai dalam pertukaran ritual, penetapan mas kawin pengantin wanita, dan pembayaran penguburan. Tidak seperti halnya suku Dani, kelompok-kelompok lain seperti suku Dem, suku Damal, dan suku Moni, memakai batu yang sama sebagai perkakas, khusus untuk penggunaan keseharian. Meskipun batunya sama, kelompok-kelompok yang berbeda telah meninggalkan bekas yang khas pada batu-batu mereka dalam hal bentuk, kilau, dan perawatan yang dilakukan.

Perkakas logam dengan cepat menggantikan pengaruh perkakas batu. Di Lembah Baliem, kapak batu hanya digunakan untuk membelah kayu. Perkakas logam memberi kaum lelaki lebih banyak waktu luang tetapi hanya sedikit berdampak terhadap pekerjaan wanita. (Foto Petrequin) "#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

44!


Tambang batu di Awigobi, dimiliki oleh masyarakat Wano, menghasilkan mata pisau terbaik di kawasan barat dataran tinggi. Mata-mata pisau ini diperdagangkan secara luas. (Sketsa Petrequin)

RUNTUHNYA PERKAKAS BATU: BAJA DAN MISIONARIS Meski beberapa ekspedisi sebelum tahun 1940an meninggalkan beberapa kapak logam di dataran tinggi, diperlukan hubungan yang berkesinambungan dengan dunia luar, dimulai dari masa pasca Perang Dunia II di tahun 1940an, untuk mengakhiri Zaman Batu di Papua. Misionaris penginjil dari Amerika Serikat menggunakan kapak logam (selain juga kulit kerang cowrie) sebagai pembayaran ketika mereka mulai membuka hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat dataran tinggi, dimulai dari wilayah Danau Paniai, terus menuju timur ke Lembah Baliem. Kemudian penginjil-penginjil Amerika ini dan para penganut Protestan dari negara lain memperkenalkan agama mereka lebih jauh lagi menuju timur, ke wilayah perbatasan dengan PNG. Setidaknya pada awalnya, banyak kapak logam yang dibayarkan untuk membangun landasan pesawat di dataran tinggi, sehingga membawa banyak kekayaan bagi masyarakat Papua yang tinggal di dekat lokasi tersebut dan melakukan pekerjaan keras untuk membersihkan dan meratakan tanah. 465

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


Ketika kapak logam menggantikan kapak batu untuk fungsi perkakas sehari-hari, pisau-pisau yang digunakan untuk keperluan ritual dengan sengaja dihancurkan dengan cara dibakar oleh suku Lani/Dani Barat, dan di daerah barat laut Lembah Baliem; pembakaran masal ini terjadi karena iman. Pembakaran tidak dapat memusnahkan mata pisau dari bahan blueschist yang keras, tetapi tak ada yang mengatakan apa yang terjadi terhadap kapak-kapak itu setelah dilemparkan ke dalam api. Jika suku Lani telah menghancurkan pisau keramat mereka, tidak demikian dengan suku Dani. Ini disebabkan oleh karena dua faktor: sifat konservatif yang mendasar dari suku Dani Baliem dan, dalam tingkat yang lebih rendah, pengaruh Gereja Katolik Roma yang tidak banyak menentang aspek-aspek kepercayaan tradisional tersebut. Dalam upayanya untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, misionaris Amerika bahkan menjatuhkan kapak-kapak logam dari pesawat di daerah pegunungan. Meningkatnya ketersediaan kapak-kapak logam di dataran tinggi dan Lembah Baliem, sejak pertengahan hingga akhir 1950an dan setelahnya, berarti akhir dari kepemilikan hak-hak istimewa dari masyarakat Papua yang menguasai sumber pertambangan batu. Misalnya, daerah Yeleme, menjadi hampir terisolasi sepenuhnya pada tahun 1961. Suku Lani di dekat daerah itu menghalangi suku Wano mengadakan kontak yang menguntungkan dengan para misionaris. Di sisi timur Suntamon, pusat penghasil mata pisau batu besar, ketika para Misionaris memperkenalkan kapak-kapak logam di tahun 1970an telah mengakibatkan pembuatan pisau batu terhenti hampir dalam waktu semalam. Di beberapa daerah yang lebih terisolasi, bahkan di akhir tahun 1970an sebuah pisau dengan kualitas baik masih dinilai seharga seekor babi besar. Kemudian, dengan adanya perkakas logam, produksi di pertambangan batu terhenti. Sekitar satu dekade kemudian, produksi batu ini bangkit kembali penjualan kepada turis. Diperkirakan bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun, sejak 1984 hingga 1994, rata-rata sepuluh pisau batu dibawa para turis keluar dari wilayah Wamena, dengan total sekitar 25.000. Pisau-pisau dengan tampilan menarik dijual di pasar-pasar Sentani, dibeli sebagai cindera mata. Tetapi apabila pisau-pisau ini mencapai Eropa, harganya naik "#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

464


berlipat kali. Pedagang Perancis menjual pisau Papua dengan harga 60 kali lipat harga di Sentani. PERTANYAAN Mengapa hanya ada sedikit perkakas logam di dataran tinggi Papua sebelum tahun 1950an? Apa saja kegunaan belati batu? Di mana sajakah pusat pembuatan belati batu tersebut? Berapa lama belati batu ini dapat dipakai? Jelaskan dua metode pembuatan belati batu! Apakah skala Mohs itu?

466

!"#"$"%&#'%(('&)")*"


"#$%&%&'('#)&*&+(*&,&(-+./"(0(%&"&%(.&1()#2+/1*(.&$+()&3/

467


Dataran Tinggi Papua