Page 2

Menggerakkan Tradisi

Sebuah Potret

Perjuangan Kyai Kampung di Urut Sewu

K

yai di kalangan Nahdhiyyin bisa dikategorisasi menjadi kyai pesantren dan kyai kampung. Kyai pesantren biasanya memiliki santri dan mengasuh pesantren beserta institusi pendidikan yang dimilikinya. Baik pendidikan informal yang berbasis pendidikan diniyah [keagamaan] atau formal yang berbasis sekolah umum atau memiliki kedua jenis pendidikan ini sekaligus. Kategori kyai berikutnya adalah kyai kampung. Kyai kampung tidak memiliki pesantren Kehilangan tanah sama dan lembaga pendidikan. seperti kehilangan agama Kyai kampung, penulis kategorikan sebagai kyai dan sejarah. yang mengurus mushola atau langgar dan masjid di desa-desa. Kyai kampung jenis ini bercirikan dekat dengan masyarakat dan hidup di tengah-tengah masyarakat.1 Mengambil posisi kyai kampung jenis inilah, penulis akan mencoba memotret sebuah kesalehan sosial ekologis kyai kampung dengan belajar dari perjuangan Kyai Imam Zuhdi dari Urut Sewu Kebumen. Kyai Imam Zuhdi merupakan kyai sederhana dari Desa Setrojenar Urut Sewu Kebumen. Kyai ini mulai terkenal ketika muncul konflik lahan antara warga dan tentara dan korporasi. Bersama dengan elemenelemen masyarakat sipil lainnya, Kyai Imam Zuhdi berhasil memobilisasi pergerakan petani guna mendapatkan lahannya yang diambil alih oleh Negara dan Korporasi. Tepatnya pada tanggal 16 April 2011, warga Setrojenar mendapatkan serangan tentara dan terjadi bentrok yang tak seimbang. Hingga terjadi penembakan.2 Konflik lahan di Urut Sewu, dalam konteks kontemporer sekarang ini bermula dari tahun 2004, ketika

2

Edisi 12 / Maret 2014

Oleh : Ubaidillah*

masyarakat Urut Sewu mulai mendengar Pemerintah RI (masih) berhutang ke Asian Development Bank (ADB) untuk membangun jalan di kawasan Jawa selatan dengan nama jalan Lintas Selatan. Kabar ini menjadi pembicaraan di langgar-langgar dan masjid-masjid sehingga menjadi kegelisahan para santri kampung. Puncak kegelisahan para santri ini terjadi ketika mereka melihat masyarakat bernegosiasi secara lemah dengan aparat negara yang menjalankan tugas pembebasan tanah. Dari kegelisahan-kegelisahan santri langgar inilah muncul gerakan perlawanan warga melalui media tahlilan dan mujahadah untuk membentuk Korjsena atau Korban Jalan Selatan-Selatan yang kemudian tahun 2006 berubah menjadi Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) dan diketuai oleh santri Kyai Ahmad Zarkoni yang bernama Seniman.3 April 2008, FPPKPS mulai menunjukan tajinya dengan melakukan tracking anggaran pembebasan tanah jalan selatan. Bersama dengan gabungan masyarakat sipil lainnya, FPPKS mempublikasikan temuannya kepada publik. Bahwa masyarakat lemah dalam negosiasi dan diduga terjadi mark up anggaran sehingga proses ini tidak perlu dilanjutkan. April 2009, FPPKS dan elemen masyarkat sipil lainnya bersama dengan Kyai Imam Zuhdi melakukan demonstrasi besar-besaran untuk memprotes adanya bangunan lahan TNI-AD di lahan milik warga dan adanya rencana Peraturan Daerah Tata Ruang dan Tata Wilayah yang menempatkan Urut Sewu sebagai kawasan pertahanan dan

Profile for Jaringan GusDurian

Selasar edisi 12  

Peran Kiai Kampung jarang dikaji secara seksama. Padahal Kiai Kampung inilah yang bersentuhan dan mengurus masyarakat secara langsung. Adala...

Selasar edisi 12  

Peran Kiai Kampung jarang dikaji secara seksama. Padahal Kiai Kampung inilah yang bersentuhan dan mengurus masyarakat secara langsung. Adala...

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded