Page 1

e-mail : himmah_media@mailcity.com, sites : http://lpmhimmahuii.org

Edisi 145 | Tahun Ke-13 | Oktober 2010

Muhammad Robby Sanjaya | KOBARKOBARI

Ketika Pers Mahasiswa Tak Lagi Bebas



KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010


Ketika Pers Mahasiswa Tak Lagi Bebas Sejumlah panitia ajang orientasi fakultas membatasi akses para jurnalis mahasiswa ketika meliput. Diduga mengganggu dan tak menaati peraturan.

Oleh : Zaitunah Dian Sari 34 Peraturan Dasar Keluarga Mahasiswa (PDKM) yang berbunyi, “Lembaga Khusus (LK) adalah lembaga yang memiliki otoritas dalam mengatur rumah tangganya sendiri.” Ia menegaskan bahwa surat tugas yang mereka edarkan valid adanya setelah sebelumnya tidak diakui oleh salah seorang panitia seksi keamanan. Keluhan Adnan bertambah ketika seksi keamanan bersikap tidak kooperatif. “Itu

“Kita ini bebas dalam

mereportase, kalau misalnya dibatasi sama aja kayak zaman orde baru

Kampus Terpadu, Kobar Panitia membatasi kinerja beberapa jurnalis kampus. Ini berlangsung serempak saat ajang orientasi di berbagai Fakultas. Pembatasan yang dimaksud seperti peliputan, distribusi majalah, serta adanya pengawasan yang ketat dari panitia. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Keadilan mengalami hal yang sama. Mereka merasa diintervensi oleh pihak panitia saat berlangsungnya Masa Ta’aruf Penuh Arti (Matahari), 8 Agustus lalu. Adnan Fauzi Siregar, Pemimpin Umum (PU) LPM Keadilan mengungkapkan, anggotanya mengalami gangguan selama dua hari ber-turut-turut. Dalam hal peliputan, para pemandu membuntuti dan menghalang-halangi reporter. “Tapi kita tetap maju walaupun ada halangan,” katanya. Masih menurut Adnan, penggu-naan atribut awak Keadilan juga men-jadi masalah bagi panitia. Panitia mengharuskan setiap orang yang terjun ke lapangan menggunakan jas almamater dan tanda pengenal. Adnan pun berdalih menggunakan Bab VIII bagian 3 pasal

ampe diperiksa baju sama celananya,” ungkapnya. Hal ini juga berlaku bagi orang luar bahkan peserta yang pergi ke kamar kecil. Selain itu untuk hal distribusi majalah Adnan melihat sendiri bahwa pemandu mempengaruhi mahasiswa baru untuk tidak mengambilnya. Adnan

sangat menyesalkan sikap ini. Hal ini tak terjadi pada tahun sebelumnya. “Tahun ini paling nyusahin, tahun ini yang paling bermasalah” keluhnya. Ia merasa hal ini sudah melecehkan mereka (LPM Keadilan), walaupun pihak panitia sudah meminta maaf secara lisan. Ia menganggap masalah ini sudah membatasi ruang kerja mereka. “Kita ini bebas dalam mereportase, kalau misalnya dibatasi sama aja kayak zaman orde baru” ujarnya. Dihubungi via telepon, ketua Steering Committee (SC) Matahari FH, Agus Fadilla Sandi menjelaskan tidak ada peraturan secara tertulis yang mencantumkan pembatasan mahasiswa maupun pihak LPM untuk meliput Matahari. Lebih lanjut ia mengungkapkan saat itu hanya terjadi miskomunikasi antara Keadilan dan seksi keamanan. Seksi ini punya wewenang bertanya kepada siapa saja yang tidak menggunakan tanda pengenal. Apa pertimbangannya? “Karena kita khawatir masuknya Satuan Penertib Lapangan (SPL) di areal kegiatan Matahari,” ujar Agus. Panca Tri Ramadhani dari Komisi A

Anda tahu Liu Xiaobo? Ia adalah seorang aktivis Hak Asasi Manusia peraih nobel perdamaian tahun ini. Ia memperjuangkan kebebasan pers, hak berbicara, hak politik, dan demokrasi konstitusional di China dengan cara yang damai. Perjuangannya tidak mudah, pemerintah harus memenjarakannya selama 11 tahun. Ini karena ia membuat charter 08, sebuah manifesto yang menyerukan kebebasan berbicara. Ia mengadaptasinya dari charter 77 milik Vaclav Havel, pejuang kebebasan Cekoslowakia. Tak hanya di China, kebebasan pers pun menjadi hal yang mahal di kampus kita. Lihat saja apa yang terjadi saat orientasi mahasiswa baru di tingkat fakultas. Meliput saja repotnya minta ampun. Selain dirasa mengganggu oleh pihak panitia, para jurnalis mahasiswa harus terbentur peraturan yang tak substansial. Sebuah tamparan keras bagi kami yang menjadi penggiat jurnalis mahasiswa. Sekaligus menjadi cambukan untuk terus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya jurnalisme. Kita tak perlu masuk penjara untuk menjadi pejuang seperti Liu Xiaobo. Cukup peka terhadap ketidakadilan, dan bersuara melawannya dengan cara yang damai. Meskipun untuk itu harus mengkritik rektorat, dekanat, serta lembaga kemahasiswaan. Semoga semangat dari negeri seberang sampai ke kampus kita.

Dewan Redaksi: M. Jepry Adisaputro, Wening Fikriyati . Pemimpin Redaksi: Anugerah I. R. Pa putungan Sekretaris Redaksi: Lufthy Z. Redaktur Foto: Setiyaji Widiarto. Staf Redaksi: Arya Nugroho, Bayu Hernawan, Nur Haris A., Fajar N. S., Zaitunah Dian S., Deden A. W., M. Hasbi A. Fotografi: Ahmad Ikhwan Fauzi, T. Ichtiar Khudi A., Nuraini A. L., Putri D. A., M Naufal F. Penelitian dan Pengembangan: Rahmi Utami Handayani, Rina Sari Utami., Khairul F. Rancang Grafis: Indira Prydarsini, Robby S., Perdana K. W. J. P., Yusuf W. Perusahaan: Ricky Riadi Iskandar, Siti Maemunah, RR. Flaury Calista D. P., Fitri A., Gesta D. B., Ahmad Muflihin. PSDM: Rama Pratyaksa, A. Pambudi W., Arrofin Damaswara, M. Bachtiar R., Adib Nur S., Yunanda., Adisty A. A. Jaringan Kerja: Wahyu Septianti, Dwi Kartika Sari., Diana W. N. , Bethriq A. Diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa HIMMAH Universitas Islam Indonesia Alamat Redaksi: Jln. Cik di Tiro No.1 Jogjakarta. Telp (0274) 3055069, 085643830277 (Mona, Iklan/Perusahaan), saran dan kritik melalui email: pers_himmah@lycos.com, himmah_media@mailcity.com, http://lpmhimmahuii.org.



KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010


SC punya pandangan sendiri. Ia menilai penggunaan almameter bagi LPM tidak wajib hukumnya. Ini karena lembaga pers merupakan lembaga yang independen, sesuai yang tercantum dalam PDKM. Ia pun membantah ada pembatasan untuk melakukan reportase, “Kita nggak masalah kok, asalkan jelas tujuannya.” Untuk peraturan sendiri, menurut Panca tidak berbeda dengan tahun sebelumnya, hanya saja kepanitiaan yang berubah. Lebih detail ia menjelaskan mekanisme yang mereka buat, yaitu mematuhi, tidak membuat keonaran, dan berlaku baik dalam meliput. KOBARkobari menghubungi Ketua Tim Advokasi Matahari FH, Aditya Dwi Saputra. Aditya menuturkan hal yang sama, bahwa antara panitia dan anggota persma hanya terjadi salah paham. Dia mengungkapkan bahwa panitia dan anggota persma mempunyai aturan masingmasing. “Sebenarnya saling koreksi saja antara LPM dan panitia,” ungkapnya. Tim Advokasi Matahari sendiri turun tangan dengan melakukan konfirmasi kepada PU Keadilan bahwasanya jika memungkinkan anggota Keadilan yang ingin meliput menggunakan kar-tu identitas. “Jadi biar jelas, tidak dipersulit” ungkapnya. Peta FTI Kondisi serupa terjadi di Pekan Taaruf (Peta) FTI. Panitia mengharuskan awak LPM Profesi menggunakan Pakaian Di-nas Lapangan (PDL) ketika meliput. Namun salah seorang personil Profesi tak mengenakan PDL, tapi tetap menggunakan kartu identitas. Panitia pun menegurnya. Ditemui di kantor Profesi, Rani Widiastuti, Pemimpin Umum (PU) Profesi membenarkan hal tersebut. Pihak-pihak panitia. Namun sekjen DPM FTI mengaku telah memberitahu sekretaris umum Profesi, Cahya Adi empat hari sebelumnya. Anehnya, Cahya merasa bahwa empat hari sebelumnya Ia tidak pernah bertemu sekjen tersebut. Rani menambahkan, sepengetahuannya yang menjadi peraturan dari panitia hanya pemakaian jas almameter oleh anggota Profesi di lingkungan stand Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) FTI saja. Sedangkan untuk urusan meliput, pakaian tidak diatur. Ia

Ahmad Ikhwan Fauzi | KOBARkobari

Senin (9/8),lantai 4 gedung FPSB dijadikan ruang pembinaan mahasiswa baru yang beratribut tidak lengkap saat mengikuti kegiatan “serumpun”.Pembinaan bersifat “isolasi”, bahkan Sebelumnya panitia melarang peliputan di ruang pembinaan ini dengan alasan mengganggu kinerja SPL(satuan penertib lapangan).

menyayangkan hal ini, “Ranahnya sudah menyangkut Profesi, sampai pakaian diatur-atur.” Padahal menurutnya tidak ada kejadian seperti ini pada tahun-tahun sebelumnya. Ketua SC Peta FTI, Agung Adityo H. menerangkan bahwa dari awal mereka sudah menetapkan tidak ada yang boleh masuk ke acara selain panitia, kecuali ke stand atau areal yang tidak menjadi acara Peta FTI. Lebih lanjut, Agung menjelaskan bahwa pihaknya juga mengatur tata tertib bagi orang-orang diluar panitia maupun maba-miba. Seperti mengenai penggunaan almameter dan id card bagi peserta yang buka stand. Untuk anggota persma sendiri tidak diwajibkan menggunakan almameter, tetapi menggunakan Pakaian Dinas Lapangan (PDL). Menurutnya, penggunaan PDL itu sebenarnya dalam tata tertib tidak ada, tetapi dari profesi yang meminta langsung kepada ketua DPM bahwa dalam peliputannya tidak memakai almameter dan diganti dengan PDL. “Kalau id card harus dipakai, karena kita membatasi orang-orang yang masuk areal acara yang coba iseng-iseng ikut ke acara kita.” Ditanya apabila ada yang melanggar , Agung menjawab, “Artinya yang pertama akan ada teguran dari kita, kemudian kita suruh pulang untuk memakai almameter.” Tegasnya. Agung mengelak membatasi Pers untuk meliput. “Tapi kita lebih lihat situasi dan kondisi” jelasnya. Untuk itu Jarak antara reporter dan peserta perlu ditegas-

kan oleh pihak panitia. Batasan yang mereka tetapkan yaitu berkisar antara 50cm-1m. Anggota persma tidak boleh terlalu dekat dalam mengambil foto, dan diperbolehkan mewawancara disaat jeda acara. “Kita juga beri kebebasan profesi untuk mereka mencari berita“ tuturnya. KOBARkobari mengkonfirmasi hal ini kepada Ketua Tim Advokasi Peta FTI, Eko Bayu Firdaus. Ia menuturkan bahwa tidak ada tujuan untuk menghalangi Profesi dalam repotase. Lanjutnya, Ia menjelasakan alasan peraturan tersebut bertujuan untuk memblokir senioritas dari pihak di luar kepanitiaan. Karena itu, menurut Bayu panitia butuh atribut untuk mengenali orang-orang yang berada di areal acara. “Ini adalah blokir yang saya lakukan, kalau tidak seperti ini takutnya kacau” imbuhnya. Untuk mengatasi ini, Rani bertemu dengan Tim Advokasi PETA FTI yang juga didampingi oleh Pemimpin Umum LPM Himmah, M. Jepry Adisaputro. Pembicaraan antar lembaga ini akhirnya mengambil titik tengah dengan diberikannya toleransi oleh pihak Advokasi dengan penggunaan pakaian rapi tanpa harus menggunakan PDL. Ini diambil mengingat LPM Himmah sendiri tidak mengenakan PDL ketika meliput. Selain itu untuk kartu identitas yang sebelumnya diwajibkan bisa ditolerir dengan surat tugas dari tiap lembaga yang mendelegasikannya. Bersambung ke halaman 6

KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010




Mengintimidasi

SPL (Satuan “Pembentak� Lapangan) haru biru orientasi mahasiswa baru senioritas mulai berlaku gertakan dan bentakan terdengar merdu ekspresi tawa berubah bisu yang ada hanya raut muka sendu berharap semua ini berlalu Narasi oleh : M.Naufal Fakhri

M Naufal F | KOBARkobari

Sanksi

Panitia Pun Terbentak

Deden A. W. | KOBARkobari



KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010


Meneriaki

M Naufal F | KOBARkobari

Bulan - bulananSPL

Deden A. W. | KOBARkobari Putri D. A. | KOBARkobari

KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010




Miba jurusan Teknik Industri FTI, Hasyrani Windyatri pun ikut merespons perihal ini. Dirinya mengakui memang ada beberapa orang selain panitia dan maba-miba yang ada. Tetapi Hasyrani tidak cukup merasa terganggu dengan adanya orang-orang ini. Dirinya menjabarkan hanya ada orang lain sekitar satu sampai dua orang. “Mereka nggak ganggu ko, mereka hanya liat aja dipinggir” ujarnya. Sama halnya Alfarabi, maba jurusan Teknik Industri FTI, dirinya merasa tidak terganggu dengan orang-orang selain panitia di tempat Peta berlangsung. Menurut lelaki ini hal itu semata karena panitia Peta sudah menjalankan tugasnya dengan baik, “Kebetulan panitianya juga pada bagus-bagus semuanya, terutama masalah keamanan, jadi dikontrol semuanya.” Serumpun FPSB Pembatasan peliputan juga dialami Sulistyawati, PU Red_aksi (klub Jurnalistik jurusan ilmu komunikasi). saat memotret acara Semarak Ta’aruf Mahasiswa Penuh Makna Fakultas Psikologi dan Seni Budaya (Serumpun FPSB). Ia mengaku pada saat itu memotret dengan jarak satu hingga dua meter di dekat maba-miba, tetapi selalu dihalang-halangi oleh panitia. Hal ini cukup membuat tugasnya terhambat. Tidak jauh berbeda, Akhmad Ikhwan Fauzi, Fotografer LPM Himmah bebrapa kali mendapat teguran ketika memotret. Ia mengungkapkan jika sebelumnya ada

kesepakatan dari pihak keamanan untuk pengaturan jarak memotret. Jarak memotret yang diberlakukan yaitu tidak kurang dari dua meter. “Tapi aku ditarik, padahal jarak aku motret itu lebih dari dua meter,” keluh Ikhwan. Sukma Hajar Nur Pambudi, Ketua SC Serumpun mengiyakan bahwa dari panitia memang ada kesepakatan bahwa adanya pembatasan terhadap kinerja pers. Hal ini semata disebabkan panitia tidak mengiginkan acara Serumpun terganggu. Ia mengakui tidak ada batas jelasnya seberapa jarak antar reporter dan mabamiba, tapi Ia mengharapkan setidaknya para reporter sendiri mengetahui batasbatas terluar agar tidak mengganggu panitia. Sukma merasa tak masalah meliput, sejauh tak mengganggu maba dan miba. “Saling tenggang rasa aja sih sebenarnya” ungkapnya. Ketika hal ini dikonfirmasi kepada ketua Tim Advokasi FPSB, Tharen Akla Haadi, pihaknya mengelak bahwa ada batasan kongkret yang dibuat pihak panitia terhadap anggota persma yang ada. Ia pun mengungkapkan duduk permasalahannya. “Setelah saya tanyakan pada beberapa panitia tentang pers ini sendiri itu mereka merasa terganggu ketika temen-temen mengambil angel yang terlalu dekat” tutur mahasiswa jurusan Psikologi ini. Lebih lanjut Tharen menjelaskan, dengan adanya fotografer diluar kepanitiaan yang ada tengah memotret, panitia merasa pecah konsentrasinya dalam mengawasi maba-miba.

Dari pengamatan KOBARkobari didapati beberapa panitia sendiri yang memotret dari jarak yang cukup dekat. Saat hal ini ini ditanyakan kepada Tharen, ia pun menyanggah. “Pubdekdok itu nggak, itu kan job desc (Job Description, Red), bagian dari panitia.” Sama dengan apa yang diungkapkan oleh Sukma bahwa Pubdekdok itu lain hal, karena menurutnya Pubdekdok merupakan bagian dari panitia sehingga hal ini tidak sama. “Pubdekdok taulah batas-batas mana aja dia boleh masuk atau tidak” ujarnya. Melalui Taren, panitia memohon bagi para teman-teman LPM mau mengerti dalam berkinerja. Namun bertolak belakang dengan Sukma, Taren sendiri menegaskan pihaknya tidak pernah membatasi adanya tugas-tugas jurnalistik seperti jarak yang ditetapkan antara reporter atau fotografer kepada mabamiba. Miba jurusan Psikologi FPSB, Estri Vita menuturkan dirinya sempat melihat beberapa fotografer yang sedang bertugas di lapangan FPSB. Meskipun begitu dia mengakui fotografer tersebut memotret dengan jarak yang cukup jauh. Ketika ditanyai apakah merasa terganggu dengan kehadiran mereka Estri mengelak, “Kalau gue sih nggak” imbuhnya.q

Reportase bersama Deden Ardiyawiranata, M. Naufal Fakhri

Ta’aruf ala FTSP FTSP masih mempertahankan Satuan Penertib Lapangan (SPL). Meski bertugas menertibkan, nyatanya masih ada SPL yang tidak tertib.

Oleh: Wening Fikriyati

Arya Zendhy Nugraha| KOBARkobari

Seorang mahasiswa baru (Senin, 9/8) ketika berhadapan dengan salah satu SPL dan mahasiswa senior di parkir gedung Fakultas Teknik dan Perencanaan dalam kegiatan Pekan Ta’aruf di FTSP.



KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010

Kampus Terpadu, Kobar. Lets Explore Our Potention and Keep Exsist Within. Begitulah tema Pekan Ta’aruf Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (Pekta FTSP) 2010. Tema ini mencakup lima konsep yang disusun oleh panitia yaitu keilmuan, kepemimpinan, kelembagaan, keislaman, dan eksistensi. Kegiatan yang dipersiapkan selama lima bulan ini juga mengusung beberapa perubahan.Perubahan tersebut disebutkan Dwindi, salah satunya adalah peran tim advokasi dalam memantau dan mengawasi kegiatan Pekta. Berbeda dengan Pekta sebelumnya, tim yang terdiri dari anggota Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas (LEM F) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPM F) ini berhak menegur SPL maupun panitia divisi lain yang melakukan pelanggaran, “Tapi jangan di depan maba-miba”, lanjutnya. Hal ini, menurut Dwindi, karena sebelumnya tidak ada evaluasi detail terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh panitia.


Perbedaan lain juga diungkapkan oleh Muhammad Bagus Mukti Arrianto selaku ketua Organizing Committee (OC). Bagus menyatakan bahwa Pekta tahun ini lebih terorganisir. “Misalnya dari SPL-nya kita satu minggu tiga kali latihan. Pematangan konsep, pematangan teknis, pematangan improvisasi,” ujar Bagus. Pekta tahun ini pun mengalami peningkatan jumlah peserta. Pada Pekta 2009, dari 409 mahasiswa baru yang terdaftar, hanya 150 orang yang mengikuti kegiatan Pekta di hari pertama. Sedangkan pada Pekta 2010, dari 523 mahasiswa baru yang diterima di FTSP, 281 orang di antaranya hadir dalam kegiatan Pekta hari pertama. Meski demikian penurunan jumlah peserta masih terjadi pada hari kedua, sehingga tersisa 228 peserta yang hadir. Penertib yang Tidak Tertib Kegiatan yang berlangsung pada 89 Agustus ini masih diwarnai dengan pembentakan terhadap maba-miba. Jika Pesta sudah meniadakan SPL, Pekta FTSP justru mengharuskan adanya SPL. “Kalo di FTSP gimana caranya, harus ada SPL,” ujar Dwindi. Menurutnya, selain karena tradisi, SPL diperlukan agar mahasiswa tidak manja dan kegiatan Pekta dapat berlangsung tertib dan sesuai jadwal. Meskipun SPL bertugas untuk menertibkan peserta Pekta, kenyataannya masih ada pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh panitia SPL. Berdasarkan pengamatan KOBARkobari pelanggaranpelanggaran yang masih ditemukan di antaranya jarak panitia SPL yang terlalu

dekat saat membentak maba-miba, padahal jarak minimal antara SPL laki-laki dan maba adalah 30 cm, sedangkan untuk jarak panitia dengan mahasiswa yang berlawanan jenis adalah 50 cm. Selain itu panitia SPL terlihat menghukum mabamiba lebih dari yang ditetapkan, yaitu lima menit. Pelanggaran lainnya yaitu beberapa panitia SPL terlihat menggunakan celana yang sobek atau ketat, memberi hukuman di luar ketentuan yang telah ditetapkan, dan ada juga yang melakukan kontak fisik dengan mendorong tubuh maba yang dianggap melawan. Amin Ridho Wibowo selaku koordinator SPL mengakui bahwa durasi hukuman yang melewati batas ketentuan memang menjadi permasalahan yang muncul tiap tahun. Hal ini karena tidak ada timer di 12 pos penertiban yang tersebar sepanjang boulevard sampai gedung FTSP. Amin juga mengakui bahwa persoalan jarak minimal panitia SPL dengan mabamiba yang dilanggar memang sulit untuk dihilangkan karena terkadang panitia SPL tersulut emosinya saat ada maba yang melawan. Konsep penertiban dari SPL memang tidak hanya berupa bentakan tetapi juga disisipkan materi-materi di dalamnya seperti materi keilmuan yang berlandaskan Islam, kepemimpinan, pemahaman tentang peran dan fungsi sebagai mahasiswa, serta kelembagaan.“ Meski demikian kenyataan di lapangan masih ditemukan hukuman yang mengharuskan maba untuk merayu salah satu panitia SPL. Menanggapi hal ini, Amin menganggap bahwa itu merupakan

improvisasi dari panitia SPL dalam melakukan cooling down. Lebih lanjut mahasiswa yang tahun lalu juga menjadi panitia SPL ini menuturkan bahwa tahun ini pihaknya berusaha membuat perubahan dalam divisi penertib lapangan dengan mengurangi kontak fisik dan adanya intervensi dari mahasiswa senior yang tahun lalu masih banyak terjadi. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh SPL diakui oleh Muhammad Iqbal Fahrudin masih terjadi di hari kedua meskipun sudah dievaluasi pada hari pertama. Koordinator tim advokasi yang juga menjabat sebagai Ketua DPM FTSP ini menyatakan bahwa tim advokasi sudah memberi peringatan pada individu-individu yang melakukan pelanggaran. Terkait dengan pakaian panitia yang masih melanggar peraturan, Iqbal mengaku tahun ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Secara keseluruhan Iqbal mengatakan bahwa tahun ini panitia SPL yang paling memperlihatkan adanya peningkatan. “Alhamdulillah udah beda lah dari tahuntahun kemarin,” tambahnya. Sampai hari kedua Pekta, belum ada pengaduan dari peserta kepada tim advokasi. Senior yang Ikut Menertibkan Sepanjang pengamatan KOBARkobari, ternyata masih ada saja intervensi yang dilakukan oleh mahasiswa FTSP saat penertiban maba-miba meskipun mereka bukan panitia. Panitia SPL pun tidak melarang maupun mencegah saat mahasiswa-mahasiswa ini memberi hukuman pada maba-miba. Menanggapi hal ini Amin menganggap bahwa itu merupakan salah satu cara mengenalkan maba-miba pada mahasiswa-mahasiswa yang sudah lebih dulu berada di FTSP. Meski dirinya tahu bahwa hal itu tidak diperbolehkan, Amin merasa hal tersebut perlu dilakukan agar maba-miba menghormati kakak angkatannya. Berbeda dengan Amin, koordinator tim advokasi justru tidak mengetahui adanya intervensi dari mahasiswa senior yang ikut menghukum maba-miba. Iqbal menyatakan bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan dan tim advokasi telah melakukan upaya mencegah adanya keterlibatan mahasiswa non panitia dengan membicarakannya secara personal. “Tapi mungkin karena tadi tidak ada temen-temen advokasi atau seperti apa, kami kecolongan,” tuturnya. Pendapat lain diutarakan oleh koordinator divisi keamanan, Mitra Eko Hidayat. Mahasiswa Arsitektur 2008 ini mengatakan bahwa pihak-pihak yang tidak diperbolehkan berada di area ke-

Download Kobar-kobari format PDF? klik http://lpmhimmahuii.org

KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010




giatan Pekta adalah orang tua mahasiswa baru, sedangkan mahasiswa senior yang bukan panitia masih diperbolehkan. “ Karena mereka juga mengawasi kinerja dari panitia tersebut,” lanjut Mitra. Biaya Parkir untuk Maba Jika selama masa perkuliahan mahasiswa UII tidak dipungut bayaran untuk parkir kendaraan, pada kegiatan Pekta mahasiswa baru diharuskan untuk membayar dua ribu rupiah. Saat dikonfirmasi ke pihak divisi keamanan, Mitra mengatakan bahwa biaya parkir ini merupakan salah satu bentuk imbalan kepada panitia yang telah menjaga keamanan parkir kendaraan mahasiswa baru. Mitra mengaku kebijakan ini diajukan oleh pihak divisi keamanan yang telah mendapat persetujuan dari SC dan DPM F. Hal ini diamini oleh Dwindi dan Iqbal. Dwindi memaklumi kebijakan yang dikeluarkan oleh divisi keamanan karena tiap pagi panitia keamanan bertanggung jawab terhadap motor-motor yang ditinggalkan oleh maba-miba di pintu masuk UII untuk

kemudian dibawa ke area parkir Prodi Komunikasi. Begitu pula dengan Iqbal yang menganggap biaya parkir tersebut dapat membuat panitia Keamanan lebih bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Uang parkir yang terkumpul ini nantinya akan menjadi biaya operasional divisi Keamanan. Apa Kata Maba? Ginanjar Sidik Fathoni memilih untuk tetap mengikuti Pekta selama dua hari meskipun dirinya tahu kegiatan ini tidak diwajibkan. Ginanjar ingin lebih mengenal kampusnya sebelum masuk kuliah nanti. Meski demikian dirinya menyayangkan panitia SPL yang penampilannya tidak rapi padahal beberapa temannya yang berambut panjang dicukur seadanya saat penertiban pagi hari. “Ya harusnya yang gondrong nggak usah dipilih (menjadi panitia,” lanjut Ginanjar. Maba jurusan Teknik Sipil ini juga kurang setuju dengan pembentakan yang dilakukan oleh SPL. Jarak SPL dengan maba yang terlalu dekat membuat telinga Ginanjar terasa sedikit sakit dan terkadang ludah SPL mengenai

mukanya. Hal ini juga dirasakan oleh Defi Anggraini. Miba asal Jogja ini menyatakan bahwa jarak panitia SPL dengan maba tidak kurang dari satu jengkal. Walau begitu, Defi menganggap peran SPL sudah optimal dan keberadaan SPL diperlukan untuk Pekta tahun berikutnya. Cerita lain datang dari maba asal Ambon, Jamaludin Kelirey. Meskipun selama dua hari mengikuti kegiatan Pekta dirinya kerap kena hukuman, Jamal merasa santai dalam menjalaninya. “ Ya dibawa santai aja, jadi nggak dianggap beban atau apa,” lanjut Jamal. Harapan di Balik Pekta Tak hanya seremonial. Ada harapan di balik kegiatan Pekta 2010. Baik Dwindi maupun Bagus, selaku ketua SC dan OC, Pekta kali ini diharapkan dapat membuat mahasiswa baru lebih aktif di lembaga kemahasiswaan yang ada di FTSP. “Sekarang ni makin ke depan makin sepi, jadi harapannya rame lagi,”ujar Bagus.q

Reportase bersama Nur Haris Ali

Aksi Sosial Menyambut Maba-Miba FIAI Aksi sosial tak hanya memberikan sesuatu kepada yang membutuhkan, ada hal lain yang dapat dilakukan, salah satunya menggalang dana

Oleh Deden Ardiyawiranata Malioboro, Kobar Ta’aruf Mahasiswa (Tamah) di Fakultas Ilmu Agama Islam kali ini berbeda dengan tahun lalu. Mengapa? Karena salah satu isi acaranya terdapat aksi sosial yang bertemakan “Berbagi senyum berbagi empati,” yang baru kali ini diadakan oleh panitia. Panitia mengajak para mahasiswa baru turun ke jalan meminta dana ke masyarakat. Sebagai imbalan maba dan miba tersebut memberikan bunga maupun stiker. Titik pusat penyebaran yaitu dari pusat perbelanjaan Ramayana yang ada di Jalan Malioboro hingga Taman Pintar. Aksi sosial sendiri dimulai pukul satu siang hingga pukul setengah empat sore. Pantia membagi maba dan miba dalam kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari 3 hingga 4 orang. Kemudian kelompok tersebut menyebar di sepanjang titik-titik yang telah ditentukan. Dengan semangat. mereka membawa kotak berbahan kardus dan mendatangi orang-orang di sepanjang jalan tersebut. Ada juga yang mendapat jatah tempat di sekitar lampu merah. Mereka melakukan aksi ketika kendaraan



berhenti. Ahmad Hafi selaku ketua Steering Comitte (SC) mengatakan ide mengenai aksi sosial ini muncul karena selama ini manajemen aksi hanya dilakukan di kampus saja.”Teman-teman dari komisi A punya ide kayaknya konsep aksi diganti dengan sesuatu yang berbeda, akhirnya mereka punya rencana untuk aksi sosial.” ungkapnya. Panitia memikirkan hal ini karena melihat banyak lembaga-lembaga yang menampung anak jalanan tetapi mereka kekurangan dana. Nantinya seluruh hasil dari aksi sosial ini akan diberikan ke lembaga yang menampung anak jalanan. Karena ini baru pertama kali, banyak kekurangan yang dirasakan oleh panitia sendiri. Seperti susahnya berkoordinasi dengan panitia yang lain, serta bagaimana nantinya mengatur maba-miba yang yang akan turun ke jalan. Hal ini diungkapkan kembali oleh Ahmad hafi saat diwawancara di sela-sela aksi sosial tersebut. Menurut Sulung selaku ketua pelaksana, aksi sosial selama ini hanya diarahkan ke masyarakat sekitar. “Biar

KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010

nggak jenuh maba-miba langsung terjun ke lapangan, jadinya bisa merasakan susahnya mencari uang,” tuturnya. Lebih lanjut ditanya mengapa memilih Jalan Malioboro sebagai titik penyebaran, ia mengungkapkan karena tempat tersebut merupakan pusat keramaian. Beberapa peserta mengaku senang dengan adanya aksi sosial tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Fitri, dari jamaah Al-Ghazali. Menurutnya banyak pelajaran dan pengalaman yang diambil olehnya saat aksi sosial.”Kita bisa belajar bagaimana susahnya mencari dana, apalagi kalo dicuekin orang, udah capecape minta eh nggak dikasih,” tuturnya. Maba satu ini mengaku sedikit malu karena memakai atribut ospek.”Sempat malu juga sih, kan kita pake pakaian dan atribut ospek”, lanjutnya. Senada dengan Fitri, Komarudin maba dari jamaah Al-Kholdun menuturkan selama ini ia hanya melihat orang meminta dana. “Selama ini saya hanya melihat, tetapi sekarang saya merasakan bagaimana mencari dana, apalagi dengan penampilan yang berbeda,”ungkapnya.q


Di Balik Melonjaknya Peserta Matahari Untuk meningkatkan jumlah partisipan, panitia orientasi mahasiswa baru fakultas hukum bekerjasama dengan Dekanat.

Oleh : Lufthy Zakariya Taman Siswa, Kobar Minggu 8 Agustus, Fakultas Hukum kembali menggelar kegiatan orientasi kampus bagi mahasiswa baru. Agus Fadhilla Sandi, selaku ketua SC (Steering Commitee), memaparkan bahwa konsep Matahari tahun ini berbeda dengan tahun lalu, yang menggabungkan antara kegiatan kelembagaan dan Malam Keakraban (Makrab). Sedangkan tahun ini berubah konsep, yakni menggabungkan kegiatan kelembagaan dengan kegiatan Prodi (Program Studi) yang memuat penjelasan tentang sistem akademik dan orientasi Kota Yogyakarta. Penggabungan dua kegiatan ini berangkat dari keprihatinan panitia melihat dari tahun ke tahun peserta yang terus menurun. SK Dekan Fakultas Hukum Nomor : 036/SK-Dek/60/ Div.Um&RT/H/VII/2010 pun keluar yang mewajibkan mahasiswa baru mengikuti kegiatan ini. Ditanya mengenai awal mula adanya kerjasama ini, Agus mengaku tidak ikut serta dalam perundingan. Menurutnya, DPM yang memberikan penawaran dan menghubungi langsung pihak dekanat. Kepala Program Studi Ilmu Hukum,

Karimatul Ummah mengaku awalnya DPM dan LEM menginginkan Matahari masuk ke dalam SKS (Sistem Kredit Semester). “Tapi nggak bisa, prosesnya panjang. Nol SKS saja masuk ke kurikulum, dan itu harus dirapatkan bersama Dewan Dosen dan Senat. Harus tunggu tahun 2013,” jelas Karimatul. Dikeluarkannya SK Dekan ini berpengaruh pada melonjaknya jumlah peserta. Berdasarkan data hari pertama, peserta yang hadir sejumlah 518 dari 684 orang yang melakukan registrasi. Naiknya jumlah peserta ini cukup signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar 50 persen dari total peserta. Karimatul mengakui melonjaknya peserta tahun ini adalah bukti suksesnya acara. Hal ini juga diamini oleh Rendy Bayu Saputra, Ketua OC (Organizing Committee) Mataram. “Ada peningkatan yang cukup signifikan,” Jelas Rendy. Dibalik meningkatnya peserta tahun ini, ternyata belum ada kejelasan mengenai sanksi bagi mahasiswa baru yang tidak mengikuti Matahari. Hal ini berbeda dengan konsekuensi pada SK Dekan, yang menyebutkan bahwa bagi mahasiswa

baru yang tidak mengikuti rangkaian acara Matahari diwajibkan mengulang tahun depan. Namun Karimatul punya pendapat lain, “Sanksinya? Masuknya ke pelanggaran mahasiswa, sanksi memang ringan, saya akan beri arahan kepada mahasiswa yang tidak mengikuti Matahari tahun ini,” ungkapnya. Hal ini juga ditanggapi oleh Agus, ia mengatakan nantinya akan ada pembicaraan lebih lanjut mengenai sanksi yang jelas. “Karena ini tahap awal, belum tahu tindak lanjutnya seperti apa. Nanti kita audiensikan ke Dekanat bagaimana baiknya,” jelasnya. Aldila, mahasiswi baru asal Yogyakarta turut angkat bicara mengenai konsep dan jalannya Matahari. Ia menilai kelebihan dan kekurangan acara ini. Ia merasa acara ini bermanfaat karena bisa mengenal angkatan yang lebih tua.“Kurangnya yakni koordinasi antar panitia, jalannya kuarang baik. Misalnya kemarin, informasi acara tidak sesuai dengan jadwal,” papar Aldila. Ia juga menambahkan adanya kewajiban bukan satu-satunya faktor pendorong untuk mengikuti acara ini.q

Sabtu (2/10), Antok (25) mengecat masjid Ulil Albab UII yang merupakan proyek dari Pengelolaan Tanah Bangunan dan Inventaris (PTBI). Proyek ini direncanakan selesai dalam seminggu sejak kamis (30/9).

T. Icthiar Khudi A | KOBARkobari

KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010




Aorta Fakultas Kedokteran Tahun ini Fakultas Kedokteran (FK) menerapkan konsep baru demi menyambut maba-miba. Acaranya pun tak luput dari kendala.

Oleh : B. Kindie Arashie Kampus Terpadu, Kobar Persiapan Aorta pun sempat mengalami masalah. Ini karena Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas (DPM U) terlambat menurunkan dana orientasi pengenalan kampus kepada Dewan Perwakilan Mahasiswa fakultas kedokteran (DPM FK). Dana yang sejatinya turun sejak jauh-jauh hari, baru bisa dicairkan DPM U pada tanggal 4 Agustus. Astri memberikan penjelasan, “Kami sempat bingung soal dana dikarenakan sempat telatnya penurunan dana dari DPM U. Tapi alhamdulilah sejauh ini kami mendapat support penuh dari DPM U, DPM FK, LEM FK dan Dekanat,”ujarnya. Erwin Aritama Ismail, ketua DPM FK membenarkannya. Bahkan beberapa panitia terpaksa merogoh kocek pribadi untuk kegiatan ini. Mereka memanfaatkan dana yang terkumpul untuk membeli peralatan kesehatan, dan sebagai simpanan tak terduga. Erwin menjelaskan dana dari DPM U dihitung berdasarkan presentasi jumlah mahasiswa. Dana tersebut diberikan kepada komisi tiga DPM FK dan selanjutnya ditransfer ke bendahara LEM FK. Jadi sifatnya bila dana acara masih tersisa maka dana tersebut menjadi berkas LEM. Aorta tahun ini membutuhkan dana 11 juta rupiah, sejuta lebih sedikit dibanding dana tahun lalu yang mencapai 12 juta. Sumber dana pun tetap sama, namun nominalnya saja yang berbeda. Dekanat mengucurkan 10 juta rupiah, sedangkan DPM U memberikan 8 juta. “Untuk acara FK sendiri selalu support penuh dan uang tidak ada masalah untuk saat ini” ung-kapnya. Ajang Orientasi dan Ta’aruf Akbar (Aorta), itulah nama orientasi pengenalan kampus di Fakultas Kedokteran. Kali ini panitia mengangkat tema “To Be a Five Star Doctor Plus”. Harapannya FK UII dapat mencetak dokter yang memiliki kompetensi Care Provider, Community Leader, Communicater, Manager, Desicion Maker dan ada nilai tambah yaitu tetap memahami keislaman dalam profesi. Steering Comitee (SC) menawarkan konsep berbeda dibanding tahun sebelumnya. Diantaranya meniadakan SPL (Satuan Penertib Lapangan). Ini karena panitia dan Dewan Perwakilan Mahasiswa FK tidak menghendaki kekerasan fisik dan psikis yang tak sesuai dengan etika kedokteran. “Kami semua panitia ingin menerapkan kekeluargaan, kebersamaan dan keceriaan,” ujar Astri Sulastri Prasasti selaku ketua SC.

10

Konsep yang ditawarkan ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak dekanat. Saat ditemui, Isnatin Miladiyah selaku Dekan FK memberikan komentar. “Pada saat anda ingin dihargai, tolong buat mereka ingin menghargai anda. Kalau seorang senior mulai mengintimidasi adik kelasnya, saya tidak yakin bahwa adik kelas ini tidak akan mengintervensi ke adik kelasnya yang lain,” jelasnya. Ia sangat mendukung penuh bila di fakultas yang dipimpinnya tidak ada tindakan kekerasan dan bentakan. Hal itu tidak mencerminkan profesi seorang dokter. Dari pihak dekanat sendiri mengakui mereka menugaskan tim yang terdiri dari para dosen untuk mengawasi dan memantau jalannya acara. Dalam pembentukan panitia tersaring 57 orang yang mengisi di struktur kepanitian OC, terdiri dari 7 departemen di susunannya. Yaltafit Abror Jeem, selaku ketua Organizing Comitee (OC) memberi penjelasan, bahwa persiapan panitia sempat terkendala oleh ujian remediasi yang sedang berlangsung ketika Aorta dilaksanakan. Mortui Vivos Docent Dari seluruh rangkaian acara AORTA ada salah satu acara yang bernama Mortui Vivos Docent yang dimaksudkan untuk menguji mental maba-miba sebagai seorang calon dokter. Bentuk teknis pelaksanaannya yaitu maba miba harus memasuki ruangan yang di dalamnya

terdapat kadaver (mayat) dan meminta maba-miba melakukan tugas yang diperintahkan oleh panitia. Namun tak semua maba dan miba harus memasuki ruangan. ”Sebelum mabamiba memasuki ruangan tersebut, mereka akan diperiksa terlebih dahulu oleh tim kesehatan yaitu tes tekanan darah, demi mengantisi-pasi hal-hal diluar yang diluar dugaan kami,” jelasnya. Siapa yang tak memenuhi syarat kesehatan maka harus mengurungkan niat. Isnatin Miladiyah selaku dekan FK menanggapi mortui vivos dosen, “Bila adikadik panitia mengadakan acara seperti itu pun tidak masalah. Karena secara mental mereka sudah siap, kecuali kalau mereka masuk FK tanpa kemauannya sendiri”, terangnya. Tidak sedikit maba-miba ketakutan setelah mengikuti tes mental ini. Namun ada juga yang memberikan tanggapan positif. Sintia Dewi Suringgar dari jama’ah Parasitologi menjelaskan, “Ada perasaan takut setelah memasuki ruangan yang ternyata di dalamnya ada kadaver,” ungkapnya. Hal senada diungkapkan oleh Kurniadi Laksono dari jama’ah dermatologi, “Awalnya sih takut banget, tapi setelah itu enggak takut lagi”, ujarnya. Beda lagi dengan yang dikatakan oleh Prety Pranita Citra, “Pertama sih memang deg-degan sebelum masuk ruangan, tapi kalau demi ilmu pengetahuan kedokteran ya nggak apaapa,” ungkapnya.q

Ahmad Ikhwan Fauzi| KOBARKOBARI

Aorta, mahasiswa baru fakultas kedokteran menjalani pengecekan tekanan darah sebelum menjalani mortui vivos docent pada senin (9/8). kegiatan ini berupa pengenalan anatomi tubuh manusia.

KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010


Rumor Semata Menurut panitia, mahasiswa baru Fakultas Ekonomi (FE) wajib mengikuti Semangat Ta’aruf (Semata) sebagai syarat pendadaran. Hadri Kusuma membantahnya.

Oleh : Anugerah I. R. Paputungan

T. Icthiar Khudi A | KOBARkobari

Fakultas Ekonomi UII, Kobar Novia Aldamas menjauhi kerumunan. Ia tak acuh dengan apa yang ada di panggung. Bersama seorang kawannya, ia memilih duduk berdua sambil mengobrol tak jauh dari lapangan sorak. Sementara ratusan temannya yang lain bertepuk tangan dan antusias menyimak perkenalan panitia. Ini hari kedua penyelenggaraan Semangat Ta’aruf (Semata) oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (LEM FE). Novia hanya satu dari ratusan mahasiswa baru yang ikut menjadi peserta. Dengan setelan putih hitam, mereka mengikuti rangkaian acara sedari pagi. Via, sapaan akrabnya, adalah mahasiswa baru asal Pati. Ia berpartisipasi karena sosialisasi peraturan dari panitia yang mewajibkan seluruh mahasiswa baru mengikuti kegiatan Semata. Pada hari pertama, Via tak ikut. Ia memilih mengikuti ujian masuk salah satu perguruan tinggi negeri. Untuk melegalkan keputusannya, surat keterangan sudah disiapkan. Peraturan ini tak main-main, menurut Budi Susilo, ketua Steering Comittee (OC), Semata menjadi syarat pendadaran. Siapa yang tak ikut, maka kelulusannya bisa saja tertunda. Panitia menerapkan aturan ini untuk menjaring peserta. Jika ada yang

berhalangan ikut karena sakit atau hal yang penting, maka wajib menunjukkan surat keterangan. Bagaimana jika tanpa alasan? “Mereka harus mengulang tahun depan,” ujar Budi. Ia mengklaim kebijakan ini telah mendapat persetujuan dari pihak dekanat berupa Surat Keputusan (SK). Muhammad Imaduddin Andri, mahasiswa baru jurusan Ilmu ekonomi tak tahu kalau Semata merupakan syarat pendadaran. “Bilangnya hanya wajib,” tuturnya. Namun Dekan FE, Hadri kusuma membantah telah mengeluarkan Surat Keputusan yang berkaitan dengan Semata. “Kalau ada SK, pasti sudah beredar. Masa percaya sama rumor,” ujarnya via SMS. Sedangkan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM FE), Bayu Brahmo Handoko ketika dihubungi beberapa kali melalui layanan pesan singkat, menolak berkomentar terkait masalah ini. Semata sendiri memiliki konsep yang berbeda tahun ini. Jika beberapa fakultas lain masih menggunakan Satuan Penegak Lapangan (SPL), maka Semata menghapusnya. SPL sendiri merupakan divisi yang erat kaitannya dengan bentakan. Menurut Teuku Aqmarsyah, ketua Organizing Comittee (OC), panitia meniadakan SPl sesuai dengan arahan Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas

(DPM U). Tak hanya itu, panita pun menyesuaikan rangkaian acara. Pada hari pertama, peserta lebih banyak menghabiskan kegiatan di luar kelas. Acaranya pun bersifat santai. Namun di hari kedua, panitia menjejali mereka dengan sejumlah ma-teri. Semuanya dirancang untuk menarik minat para mahasiswa baru. Lantas, apa yang mahasiswa baru dapatkan dari serangkaian materi? Al-Husna Bishiddiq, mahasiswa Akuntansi angkatan 2010 mengaku tak banyak yang ia pahami. “Yang jelas tadi cuma struktur lembaga,” tuturnya. Hal ini berlaku pula bagi Novia Aldamas. Dari serangkaian acara yang ia ikuti, ia mengaku tak banyak mendapat pengalaman dan wawasan. “Ada sih dijelaskan tentang tugas mahasiswa itu apa. Tapi tetap aja aku nggak ngerasa nambah apa-apa.” Ia mengaku acara yang diselenggarakan panitia jauh dari harapannya. Via merasa orientasi pengenalan kampus sebaiknya diisi dengan motivasi. Ini yang menyebabkan Via tak bersemangat mengikuti Semata. Ia masih berharap keinginannya tercapai, lolos seleksi di perguruan tinggi negeri.q

KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010

11


Taaruf MIPA dan FPSB Oleh : Fajar Nursulistyo dan Flaury Callista Kampus Terpadu, Kobar Semarak Taaruf Mahasiswa Penuh Makna (Serumpun) itulah nama ajang pengenalan kampus yang menjadi hajat tahunan FPSB (Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya). Lembaga Eksekutif mahasiswa (LEM) FPSB menyelenggarakan acara ini tanggal 8-9 Agustus 2010. Tujuannya untuk memperkenalkan lingkungan fakultas pada maba-miba. Kali ini panitia mengusung tema :Membangun Kemandirian Intelektulal Muda Muslim dalam Menghadapi Keberagaman Nilai”. Serumpun tahun ini masih mempertahankan adanya penertib. Setelah jeda istirahat dan sholat, mereka berteriak dengan lantang kepada mahasiswa baru yang tidak menggunakan atribut lengkap. Sukma Hajat Nur Pambudi selaku ketua Steering committee (SC) mengaku bahwa penertib bertugas sebagai time keeper, sehingga acara dapat berjalan sesuai jadwal. Menurut Rian Hidayat, mahasiswa baru dari jamaah An-Naas, ia mengikuti pekta agar lebih mengenal teman satu fakultas dan memberi kenangan tersendiri. Lain

halnya dengan Mita, mahasiswi psikologi angkatan 2010 ini mengatakan bahwa dirinya sedang tidak dalam kondisi bugar. “Sempat pingsan tadi, saya asma,” ujarnya dengan raut muka kelelahan. Ia mengatakan tim kesehatan dari panitia cukup membantu dalam memulihkan kondisi fisiknya. Padatnya kegiatan sejak Pesta yang kemudian dilanjutkan dengan Serumpun, menjadi sebab mengapa ia menjadi lelah dan kemudian terserang asma. Tak hanya FPSB, hari itu Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) juga menyelenggarakan Masa Ta’aruf (Masta). Di depan gedung laboratorium terpadu tampak sekumpulan Maba Miba mengenakan atribut yang mencolok. Miba dengan jilbab berwarna merah, toga yang terbuat dari kertas, dan papan identitas berbentuk kubah masjid. Masta kali ini berbeda dengan Masta tahun sebelumnya. Nama jamaah yang digunakan adalah nama-nama ilmuwan Islam. Hal ini tak lepas dari konsep panitia yang mengambil tema keilmuwan. “Konsep ini untuk memperkenalkan ilmuwan muslim karena dari pandangan

SC sendiri ilmuwan muslim itu masih jarang dikenal,” ungkap Pandu Wanetu selaku ketua Steering Committee (SC). Dida , Miba Ibnu Khladun menjelaskan dirinya kurang paham mengenai nama Ilmuwan yang tepampang pada jamaahnya, ia hanya mengetahui bahwa Ibnu Khaldun merupakan Ilmuwan yang ahli di bidang sosial politik. Mahasiswi berkulit sawo matang ini mengaku bahwa acara Masta kali ini sangat bermanfaat bagi dirinya. Lain halnya dengan Muhammad Azril, Maba jurusan Farmasi ini mengaku acara Masta kali ini sangat membosankan “Acaranya sedikit bosen mbak, contohnya aja tadi kita disuruh maju tapi cuma disuruh nunjukin pulsa terkecil, harusnya dibuat yang lebih seru,” ungkap Azril. Reportase bersama Wahyu Septianti. q

Reportase bersama Wahyu Septianti

Bagi kawan-kawan yang ingin mengirimkan tulisan berupa opini, surat pembaca, mempublikasikan suatu kegiatan baik lembaga, organisasi dan sebgainya di KOBARkobari dapat mengirimkan langsung ke sekretariat LPM HIMMAH. jalan Cik Di Tiro no. 1 (utara gramedia), atau melalui e-mail : pers_himmah@lycos.com/himmah_media@mailcity.com. 12

KOBARKOBARI EDISI 145 // XIII // OKTOBER 2010

Kobar Kobari Edisi 145  

Ini adalah Buletin Kobar-Kobari dari LPM HIMMAH UII terbitan elektronik, bebas disebarluaskan.

Advertisement