Selamat pagi vol 1

Page 1


Penyelenggara : Jalan Remaja Youth Coop, Ruang Belajar Kampung Halaman, Gama 55.

Koordinator Reporter Penulis Fotografer Desain GraďŹ s & Tata Letak Editor

: Yusuf Safary : Elinah : Faradilla Totoy & Yusuf Safary : Yoga LGY : Sebelum Masehi : Rachma SaďŹ tri Yogasari & Faradilla Totoy

Penata Artistik Dokumentasi Video Video Editor Koordinator Workshop MC Konsumsi Humas Penata Suara Admin Sosial Media Poster Selamat Pagi Vol.1 Rekan Media

: Yusuf Novantoro & Eman Hermawan : Evania, Vuvut Zery Haryanti, Randy Julihartono : Randy Julihartono & Deden Bangkit : Citta Tresnati & Carolina Astri : Varatisha Abdullah & Deden Bangkit : GAMA 55 : GAMA 55 : Edhita Martono & Amin : Elinah : What Whet Project : Kanaltigapuluh, Bandung Magazine, Kvlt Magz



ME NE

BAR BEN

IH: H

ari Minggu pagi sangat lekat dengan suasana bahagia, karena biasanya kita menghabiskan waktu untuk berkumpul dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga, teman atau siapapun. Namun Minggu juga bisa menjadi hari yang membosankan karena kita hanya pergi ke tempat sama dengan kegiatan yang serupa setiap pekannya. “Itu - itu aja dan begitu begitu saja�. Nah, agar tidak itu –itu saja dan begitu – begitu saja, Selamat Pagi disemai dan disebar kepada siapapun diruang terdekat. Selamat Pagi adalah satu bentuk kegiatan dan ruang bersama

yang hadir di ditengah pembangunan pesat kota Yogyakarta. Selamat pagi memberi ruang berkumpul dengan udara seger, ide yang sederhana dan ramah setiap hari minggu pagi di pekan terakhir setiap bulan. Selamat Pagi Vol.1 29 Maret 2015 terlaksana atas kerja kolaborasi antara Youth Co-op, Yayasan Kampung Halaman dan Gabungan Remaja Krapyak yang bertempat di tepi sungai Kelanduan Dusun Krapyak Wedomartani Sleamn. Cukup banyak cerita dari Selamat Pagi Vol.1. Ada remaja perempuan krapyak yang memasak untuk menyambut

pengisi acara, pemateri dan tim kerja di Selamat Pagi Vol.1. Sementara remaja laki - laki yang punya peran menginformasikan Selamat Pagi di forum - forum warga Krapyak atau dari rumah ke rumah. 7 hari sebelum kegiatan berlangsung. Ada yang berbeda sepekan menjelang Selamat Pagi Vol.1, warung bahkan sekolah di sekitar Krapyak terdapat artwork Selamat Pagi Vol.1 yang dikerjakan oleh What - Whet Project, sebuah Proyek Seni individu berdua yang berkolaborasi di Selamat Pagi Vol.1.


DI BALIK

LAYAR Yusuf Novantoro dan Eman Hermawan sebagai "Art Director" panggung tepi sungai dan kesiapan lokasi, mengaku sangat berkesan dapat terlibat di kegiatan seperti Selamat Pagi karena konsepnya yang tidak biasa.

wadah untuk eksistensi Menurutnya, sangat membantu anak muda anak muda. untuk memunculkan potensi-potensi mereka ke permukaan agar jangan hanya yang sudah populer saja terlibat sebagai pengisi di Selamat Pagi. Melalui kegiatan semacam ini dapat dijadikan sebagai

Ada juga pra acara, Edhita Martono seperti keterlibatannya lelaki dengan rambut gondrong dalam proses dan gimbal yang pembuatan properti, ikut panggung, berkolaborasi bangku serta menjadi sound engineer pagi itu. meja penonton, dan sebagainya. Akan tetapi, Edhi mengaku sebenarnya bukan hanya itu baru pertama yang ia kerjakan. kali Edi juga banyak berkolaborasi dengan Youth berkolaborasi pada persiapan Co-op setelah

Yusuf Nofantoro, Art Director Eman Hermawan, Art Director

Zery, Videografer

Randy Julihartono, Editor Video

banyak diskusi Selamat Pagi,� ucapnya. dengan Yusuf Safary, koordinator Selamat Pagi. “Selamat Pagi menjadi kegiatan yang seru, hingga dapat memunculkan ide – ide baru yang membuat saya tertarik berkolaborasi dengan Youth Co-op dan

Edhita Martono, Sound Engineer

Yusuf Safary, Koor Selamat Pagi

Deden Bangkit, MC dan Editor Video

Amin, Sound Engineer


Fitri, Editor

Citta, Koor Ruang Riang

Elinah, Reporter

Carolina Astri, Koor Lokakarya

“Saat acara, saya yang kebetulan biasanya susah bangun pagi, mau tidak mau harus bangun lebih pagi,” cerita Edhi. Dibantu oleh Mas Amin dan Mas Donnie, Edhie mencoba mengawasi jalannya acara. “Saya mendapatkan pelajaran juga tentang bagaimana mengatur suara di tempat yang terbuka dengan suasana pagi. Ambience seperti apakah yang asyik untuk suasana pagi di tepi sungai yang melibatkan keluarga. Sesudah acara, dengan kondisi yang sudah lelah tentunya, saya merasa lebih segar di dalam,” jelasnya. Menurut Edhi, konsep yang dibawakan sangat segar dan acara dibawakan dengan menyenangkan sehingga acara yang sebenarnya

Evania, Videografer

Dila, Penulis dan Editor

Varatisha, MC

GAMA 55, Konsumsi dan Humas

berlangsung dari pagi sampai siang tidak terasa lama. “Pahitnya itu kalau sound yang saya buat tidak sesuai dengan player. Mereka suka protes atau cerewet. Manisnya ya, kebalikannya, kalau pemain musik cocok dengan sound-nya, itu membuat saya sangat senang,” imbuh Amin. menambahkan cerita. Amin yang menjadikan sound engineering sebagai hobinya ini ternyata salah satu personil band Sastro Moeni, lho! Keren sekali, kan?


RUANGKARYA

D

i ruang unjuk karya ada Mainangrain, hasil karya Yoga. Ada beragam pesan yang ingin disampaikan pemuda berusia 21 ini melalui foto-fotonya. Beberapa karya foto juga berkaitan dengan suasana pagi hari, sesuai dengan tajuk kegiatan ini. Selain itu, ada juga karya foto yang menggambarkan tentang masifnya pembangunan hotel di Yogyakarta. “Foto ini menggambarkan bahwa di balik menjamurnya pembangunan hotel, apartemen dan

pusat perbelanjaan di Yogya, ternyata masih ada tempat yang sederhana dengan aktivitas keseharian,” ucapnya.

“Dibalik pembangunan hotel dan apartemen yang semakin menjamur di Yogyakarta ternyata masih ada tempat yang memiliki kearifan lokal dan asri” -Yoga, Mainangrain-


RUANGKARYA Selain Yoga, ada juga Ahmad Hilmi Widiastomo dan Cicilia Maharani yang berkolaborasi bersama sesepuh warga Krapyak, Bapak Hadi Jasmanto, yang menyelenggarakan pameran foto berbagi memori tentang Krapyak di tahun 1949 pada generasi muda. Ada langgar, rumah Jogoboyo serta kerabatnya yang dijadikan markas tentara. Mereka

bergerilya melawan Belanda yang sering melintas dalam perjalanannya dari Adisutjipto menuju Kaliurang, salah satu markas besar mereka saat itu. Di dapur umum, para perempuan memasak bahan makanan dari warga sekitar untuk ransum para tentara sebelum subuh menjelang. Semoga kisah ini mendekatkan kita pada sejarah kita sendiri

sebagai warga Krapyak. Kemanapun kaki kita melangkah, di situ ada perjuangan para tentara dan warga pendahulu kita.


Panggung

P

anggung Selamat Pagi hari itu dibuka oleh penampilan dari Minggu Pagi. Dengan membawakan empat buah lagu, mereka juga sedikit bercerita tentang kisah-kisah yang ingin disampaikan lewat lagu mereka. Ketika ditanya kenapa Minggu Pagi?, mereka ternyata memiliki alasan yang filosofis. “Karena Minggu adalah awal dari sebuah pekan, dan pagi adalah awal dari sebuah hari.” Mereka mengibaratkan Minggu

Pagi adalah sebuah awal, sama seperti langkah mereka yang merupakan sebuah awal untuk terus membuat dan berbagi karya. Menurut mereka, setiap manusia memiliki rasa yang sama, satu keinginan yang sama, yaitu ingin didengar. Begitu juga dengan Minggu Pagi. “Kenapa kami ingin didengar? Karena kami ingin berbagi cerita, kebahagiaan, keceriaan, dan semangat untuk berkarya.”

“Semua orang itu punya rasa yang sama, satu keinginan yang sama yaitu ingin didengar. Begitu juga dengan kami, kami punya rasa itu. Kami ingin berbagi cerita, kebahagiaan, keceriaan dan semangat untuk berkarya” -Minggu Pagi-


Ruang Riang Sambil menikmati penampilan di panggung tepi sungai, ada kegiatan bertajuk Ruang Riang. Ruang Riang mengajak anak-anak menggambar hal-hal yang mereka lihat disekitar lokasi. Kegiatan ini ingin lebih mendekatkan mereka dengan alam dan peduli terhadap lingkunganya.

“Selamat Pagi bisa menjadi wacana alternatif ruang publik untuk menuangkan karya buat para anak muda di setiap minggu pagi� -Nia-


R

uang iang


Panggung

Sisir Tanah

Penampilan berikutnya di panggung Selamat Pagi adalah Sisir Tanah, sebuah kelompok musik tunggal, yaitu Mas Danto dan gitarnya. Sisir Tanah banyak mengusung pesan-pesan sosial dalam lirik lagunya. Beberapa lagu juga mengusung persoalan cinta, tetapi bukan cinta yang personal, melainkan cinta yang lebih bijaksana seperti kecintaan terhadap lingkungan, terhadap mahkluk-mahkluk lain, dan sebagainya. Menurut Mas Danto, konsep Selamat Pagi sangat menarik karena membuat manusia jadi lebih dekat dengan alam dan siapa saja yang datang dapat berinteraksi

“Saya sangat suka dengan konsep acara Selamat Pagi yang dekat dengan alam, berinteraksi dengan warga disekitarnya dan semua terkelola dengan baik” -Sisir Tanah-

dengan warga di sekitarnya. “Semua terkelola dengan baik…”, tambahnya. Ada satu kejadian lucu saat Sisir Tanah tampil. Lagu kedua berlirik dewasa tak sengaja saat ada banyak anak kecil yang hadir menonton. Dengan sedikit kaget, namun tetap tertawa, Mas Danto berhenti menyanyikan lagu tersebut. “Tapi malah bagus, aku jadi punya pengalaman, harus punya banyak stock lagu yang pas. Ya, aku jadi kayak, waduh… cocoknya seperti naik-naik ke puncak gunung gitu,” ucapnya masih sambil terkekeh.


“Selamat Pagi membuat anak muda lebih bisa bangun pagi dan berkumpul bersama keluarga sambil berkarya lewat apapun� -Edhita-

S

elain Ruang Riang, Selamat Pagi juga memiliki Ruang Wirausaha. Salah satu karya yang mengisi Ruang Wirausaha Selamat Pagi Vol.1 adalah aksesori handmade dengan gaya playful dari Junjung Buih Goods. Sishi, owner Junjung Buih Goods mengaku sangat senang karena dapat membuka lapak

di acara Selamat Pagi. Menurutnya, acara ini memberinya kesempatan untuk menunjukkan bahwa produk Junjung Buih masih eksis, mendorong anak-anak muda untuk menggali potensinya dan menjadikannya bisnis agar bisa mandiri dalam berbagai aspek.


LOKA KARYA

S e t e l a h penampilan dari Sisir Ta n a h u s a i , p a r a pengunjung ke Ruang Lokakarya. Ruang ini yang disemai untuk menumbuhkan minat wirausaha pada siapapun. Ruang Lokakarya Selamat Pagi Vol.1 diisini oleh Pipipo Craft yang mengajari pengunjung menyulam b o n e k a . Pe s e r t a lokakarya ini kebanyakan dari Ibu-ibu di sekitar Krapyak, beberapa remaja dan anak-anak. Rupanya, hari itu juga mer upakan pengalaman baru bagi Ayi, pemilik produk P i pi po C raft, u n t uk mengisi materi dalam s eb u a h l o k a k a r ya . “Selamat Pagi membuka kesempatan bagi remaja untuk menunjukkan

k a r ya nya , t e r m a s u k saya,”ucap Ayi. Senada dengan Sishi, Ayi juga dapat menjual hasil karyanya dengan membuka lapak di acara Selamat Pagi.

“Saat ini sudah jarang anak-anak bikin kerajinan. Ini kan banyak anak-anak kecil yang ikut. Aku inginnya anak-anak bikin kerajinan kayak jaman dulu dan jangan cuma main gadget saja” –Yulia Ratna Sari, Pipipo Craft-


“Bumi adalah kita, kalau kita merusak bumi berarti kita merusak diri kita sendiri” -Merah Bercerita-

Merah Bercerita

Satu jam kemudian seusai, pengunjung kembali lagi turun menuju panggung musik. Penampilan berikutnya adalah Merah Bercerita, kelompok musik yang digawangi oleh Fajar Merah, putra dari Wiji Thukul bersama 3 temannya. Pagi itu, mereka berangkat langsung dari Solo menuju Yogyakarta khusus untuk bernyanyi di panggung tepi sungai Kelanduan. “Sudah lama kita kehilangan kenangan masa kecil seperti bermain di pinggir kali. Ya, kita senang sekali,” jelas Fajar. Lewat lagu-lagunya, Merah Bercerita seolah mengajak pendengar agar tidak melupakan apa yang seharusnya memang tidak boleh dilupakan. Bumi adalah kita, salah satu lagu yang mereka bawakan di “Selamat Pagi Vol. 1, menceritakan bahwa manusia harus memposisikan diri seperti tidak ada jarak dengan bumi. Menurut Fajar, bumi

adalah kita. Bumi akan rusak kalau tidak ada manusia, tapi manusia sendiri tidak bisa hidup jika buminya tidak lestari. “Jadi, sebenarnya, manusia dan bumi saling membutuhkan, posisikanlah diri bumi adalah manusia dan manusia adalah bumi. Jika manusia merusak bumi, sama saja manusia merusak dirinya sendiri” paparnya. Rasanya memang benar, bila merunut cerita dari Fajar. Bersama-sama 'satu dengan alam' kembali menjadi poin penting untuk siapa saja yang datang, tidak hanya untuk pagi itu, tetapi untuk seterusnya.


“Saya sendiri sudah bosan dengan kebisingan kota dan merasa sangat enak sekali begini menyatu dengan alam� -Yusuf Nofantoro-

Penampilan Merah Bercerita siang itu sekaligus menjadi penutup acara Selamat Pagi Vol.1. Para pengisi panggung, pengisi materi, atau siapa saja yang datang pagi itu merasa sangat gembira dan berharap agar acara ini terus diadakan dan Mereka berharap agar Selamat Pagi yang berikutnya hadir dengan konsep yang tetap sederhana, namun semakin kaya dan segar dan dapat diketahui oleh banyak orang. “Harapannya harus tetap diselenggarakan lagi, Selamat Pagi Vol.2 dan selanjutnya. Bahkan kalau bisa sampai vol. 1000 lebih. Memang perlu zaman sekarang acara yang memaksimalkan kekayaan alam seperti ini. Jadi bisa membaur dengan lingkungan, itu akarnya orang dulu,� tukas Mas Fajar mengakhiri perbincangan siang itu.

ruang riang, ruang pamer, ruang lokakarya dan ruang wirausaha. Mari menebar Selamat Pagi .

Semoga Selamat Pagi akan selalu memberi warna di hidup kita dan memacu kita untuk terus berkarya Sekali lagi siapa saja yang datang di Selamat Pagi dapat bersantai pada Minggu pagi sambil menikmati suguhan panggung akustik di tepi sungai,

Sampai Jumpa Di Selamat Pagi Selajutnya...