Page 5

METROPOLIS

SELASA 5 JANUARI 2010

5

RADAR TEGAL

Pelabuhan Niaga Mendesak LOMBA Drama Dialek Tegalan TAMAN Bacaan Masyarakat (TBM) Pelangi menggelar lomba drama berdialek tegal. Ajang ini dikhususkan bagi tingkat SMP dan SMA se Kota Tegal. Pendaftaran dibuka hingga tanggal 10 Januari mendatang di TBM Pelangi, Jalan Cendrawasih Lontrong 19 Nomor 14. Yustia selaku panitia menjelaskan masing-masing kelompok tediri dari 3 orang atau lebih. Selain itu naskah drama disesuaikan dengan pilihan tema panitia. ‘’Naskah ini harus menggunakan dialek tegal, sesuai dengan lomba ini,’’ ungkapnya. Sementara tema pilihan bagi peserta lomba diantaranya akeh maca nggawe gaul, ayo bareng-bareng ngatasi global warming, serta aja perek-perek karo narkoba, ya..! Ajang lomba drama dialek tegal ini memperebutkan piala da voucher pendidikan dengan total jutaan rupiah. Untuk juara pertama piala dan piagam penghargaan serta voucher pendidikan senilai Rp 500 ribu. Juara kedua piala dan piagam penghargaan dengan voucher pendidikan senilai Rp 400 ribu. Juara ketiga mendapatkan piala dan piagam penghargaan dengan voucher pendidikan senilai Rp 300 ribu. (ela)

SOSIAL Santuni Anak Yatim MADRASAH Ibtidaiyah (MI) Nurul Hikmah Kelurahan Krandon Kecamatan Margadana memberikan santunan anak yatim. Penyerahan ini akan dilaksanakan Rabu (6/1) besok di kampus setempat. Sebelumnya dilaksanakan pawai taaruf mengeliling Kelurahan Krandon. Kepala MI Nurul Hikmah Rustam Ahmadi SPdI menjelaskan kegiatan ini rutin dilaksanakan tiap tahun. Dalam rangka memperingatu tahun baru Islam 1431 Hijriyah. Kegiatan ini menggandeng seluruh elemen masyarakat di lingkungan MI Nurul Hikmah. Mulai dari siswa, orang tua siswa, pengurus yayasan serta masyarakat lingkungan. ‘’Untuk menggugah kepedulian terhadap sesame,’’ ungkapnya. Jumlah anak yatim yang akan mendapatkan santunan rencananya sekitar 120 anak dari Kelurahan Krandon dan sekitarnya. Sementara untuk pawai taaruf sendiri akan dimeriahkan Drum Band Nurul Hikmah, seluruh siswa MI Nurul Hikmah serta anak yatim yang akan mendapatkan santunan. Selanjutnya digelar pengajian akbar mendatangkan Ustad Mas’ud dari Kota Tegal. Selain kegiatan Muharam, pihaknya juga kerap merayakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Seperti maulud nabi, dan isro mi’raj. ‘’Untuk kegiatan Ramadhan dan Syawal sudah pasti ada,’’ pungkasnya. (ela)

Depag Sertifikatkan 21 Bidang Tanah Wakaf KANTOR Departemaen Agama (Depag) Kota Tegal, baru-baru ini, membantu menyertifikatkan 21 bidang atau 4.920 meter persegi tanah wakaf. Hal ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-64. Selain menyertifikatkan tanah wakaf, dalam perayaan HAB ini Depag juga menggelar beberapa rangkaian acara lainnya. Seperti lomba KUA teladan, kursus calon pengantin, pelatihan juru sembelih halal, pelatihan perawatan jenazah. Kemudian sosialisasi tentang UU RI No 1 tahun 1974 tentang perkawinan, pembagian sembako pada fakir miskin. Serta memberi bantuan pada panti asuhan se-Kota Tegal, pelaksanaan khotmil quran, upacara dan tasyakuran. Kasubbag TU Depag selaku ketua panitia Tohari mengatakan, seluruh rangkaian kegiatan tadi mulai dilaksanakan sejak November 2009 kemarin. Peringatan HAB sebenarnya jatuh pada 3 Januari, namun pelaksanaan upacara dan kegiatan lainnya dilaksanakan Senin (4/ 1). Sebab, pada hari H jatuh

pada hari Minggu sehingga kegiatan di undur satu hari. “Dasar dari pelaksanaan adalah surat Sekjen Depag RI No B.11/1/HM.00/1290/ 2009 tertanggal 16 Desember 2009 perihal peringatan HAB. Kemudian SK Kanwil Depag Jateng No KW.11.1/4/HM.00/ 12088/2009 tertanggal 23 Desember. Serta SK Kandepag No KD.11.35/1/HM.00/ 1266/2009 tertanggal 29 November tentang panitia pelaksanaan. Pelaksanaan ini serentak seluruh Indonesia pada Senin ini,” ujarnya. Dijelaskan Tohari, penyerahan sertifikat tanah wakaf dilakukan di Ruang Adipura Balaikota kepada perwakilan empat kecamatan dan dua organisasi dibawah Depag. Dalam hal ini pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Tema perayaan HAB tahun ini adalah mewujudkan bangsa yang berahlak mulia menuju negara sejahtera. Kegiatan dilaksanakan sejak pukul 07.30 dengan mengadakan upacara yang diikuti oleh 500-an orang dari unsur pendidikan dilingkungan Depag. Serta Unit Pelaksana Tugas (UPT) baik dari negeri ataupun swasta. (cw1)

KEBERADAAN Pelabuhan Niaga dinilai sudah sangat mendesak agar mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dengan akan dibangunnya jalan tol dan dilanjutkannya proyek Jalan Lingkar Utara (Jalingkut), maka Kota Tegal terancam jadi kota mati. Karenanya, masyarakat maritim yang tergabung dalam Himpunan Masyarakat Maritim Tegal (Hikmat), mendesaak Pemerintah Kota (Pemkot) serius menyikapi hal itu. Ketua Hikmat Kota Tegal, Wardjo Rahardjo, Senin (4/1), mengatakan, jika pemkot serius maka sesuai target pada tahun 2011 bisa dilakukan pembangunan fisik pelabuhan niaga. Karena waktu satu tahun (2010) sangat cukup untuk memroses izin. Apalagi, sesuai keterangan walikota, saat ini sudah ada 3 investor yang siap membangun pelabuhan. Namun pemkot perlu lebih proaktif ke pemerintah pusat, dalam hal ini Dirjen Perhubungan Laut. Kalau tidak, bisa jadi pada tahun 2010 izin prinsip tidak keluar. “Ini tantangan sekaligus PR bagi pemkot untuk mewujudkan pembangunan Pelabuhan Niaga. Karena keberadaan pelabuhan sangat berpotensi mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Semua aktifitas perekonomian ada di pelabuhan. Sedangkan keberadaan pelabuhan milik Pelindo saat ini mati suri se-

hingga hampir-hampir tak ada aktifitas sama sekali,” kata Wardjo. Menurutnya, alur masuk pelabuhan saat ini kurang dari 3 meter sehingga kapal tidak bisa masuk. Hal inilah yang membuat keberadaan pelabuhan mati suri’. Idealnya kedalaman alur masuk sekitar 5 sampai 6 meter. Karenanya, kalau perekonomian Kota Tegal ingin maju, keberadaan Pelabuhan Niaga sudah sangat mendesak. Apalagi kalau dilihat dari sisi letak, maka keberadaan pelabuhan Kota Tegal lebih strategis dibandingkan Pelabuhan Niaga Cirebon atau Semarang. “Sebenarnya kebijakan pemerintah membolehkan swasta membangun pelabuhan merupakan program jangka panjang. Karena dengan adanya pelabuhan, semua aktivitas angkutan barang bisa dialihkan lewat jalur laut. Dengan begitu keberadaan pelabuhan dapat menghemat anggaran puluhan triliun rupiah. Anggaran yang digunakan untuk perbaikan atau perawatan jalan bisa dikembalikan,” tuturnya. Sedangkan soal pelabuhan niaga yang dikelola Pelindo, Wardjo menyatakan siap untuk memfasilitasi Pemkot dengan Pelindo agar pengelolaan pelabuhan niaga saat ini bisa dialihkan ke Pemkot. Sehingga, disamping memiliki pelabuhan niaga

M SAEKHUN/RATEG

MATI SURI - Aktivitas pelabuhan yang dikelola PT Pelindo mati suri. Hanya ada beerapa kapal nelayan saja yang ditambat.

sendiri—-yang saat ini dalam perencanaan pembangunanya—pengelolaan pelabuhan niaga Pelindo juga dikelola Pemkot. Sehingga kedua pelabuhan tersebut bisa lebih meramaikan aktifitas pelabuhan. “Kami optimistis pengelolaan pelabuhan bisa diambilalih Pemkot. Karena saat ini kami melihat Pelindo sudah enggan merawat sehingga keberadaanya mati suri,” ujarnya. WALIKOTA OPTIMISTIS Terpisah, Walikota Tegal Ikmal Jaya mengungkapkan dirnya optimistis dalam waktu dekat izin prinsip dari Dirjen Perhubungan Laut bisa keluar. Karena kebetulan Dirjen asli

warga Tegal. Namun demikian, pihaknya akan terus proaktif dan berupaya melakukan lobi agar izin prinsip bisa secepatnya keluar. Sehingga ketakutan imbas dari pembangunan jalan tol dan jalingkut yang menjadikan Kota Tegal menjadi kota mati bisa ditangani dengan keberadaan pelabuhan. “Kami yakin keberadaan pelabuhan akan menjadi daya tarik tersendiri, dan sangat mampu menjalankan kegiatan perekonomian masyarakat Kota Tegal. Dengan demikian, Kota Tegal akan tetap menjadi kota transit walupun sudah ada jalan tol maupun Jalingkut,” ungkap walikota.

Dibenarkan Ikmal, saat ini memang sudah ada 3 investor asal Jakarta, Cina dan Timur Tengah yang siap menjadi investor pembangunan Pelabuhan Niaga milik Pemkot Tegal. Ketiganya sudah menyatakan siap, namun untuk realisasi pembangunannya tetap menunggu izin prinsip. “Untuk pembangunan fisiknya kami targetkan 2011. Sebab pada tahun 2010 kami akan memroses perizinan pembangunan pelabuhan. Sedangkan soal angaran pembangunan masih menunggu perencanaan. Namun untuk luas lahan pelabuhan kami siapkan 9 hektar,” tuturnya. (hun)

Setelah Paceklik, Rajungan dan Kerang Melimpah SETELAH sempat mengalami paceklik sejak dua bulan terakhir, angin segar mulai menyapa nelayan di Muarareja. Khususnya bagi nelayan rajungan dan kerang. Pasalnya hasil laut tersebut sudah banyak ditemui saat ini. ‘’Rajungan sekarang sudah lumayan mbak, baru berangkat dua mingguan ini lah,’’ ungkap Darkasih, nelayan asal Muarareja. Sekali melaut, kapal dengan jumlah ABK 4 orang ini bisa mendapatkan 2 box rajungan atau sekitar 1 kuintal. Tugas mereka juga semakin ringan dengan adanya bantuan bubu, yaitu semacam alat penangkap rajungan dari KUD Karya Mina. ‘’Kami hanya melemparkannya dan menunggu sekitar 4 jam,’’ ungkapnya. Sehingga banyak waktu istirahat yang bisa digunakan dibandingkan ketika mereka menggunakan j a r i n g b a dong. Masing-masing kapal mendapatkan 50 bubu dari KUD Karya Mina. Terkait harga di pasaran, rajungan di Kota Tegal termasuk paling tinggi dibandingkan di Jakarta sekalipun. Tak heran nelayan rajungan disana justru menjual hasil tangkapannya disini. Harga rajungan di kisaran Rp 43 ribu per kilogram. Sedangkan di Jakarta hanya dibandrol Rp 31 ribu, itupun paling tinggi. Pasokan rajungan ini selanjutnya dibawa ke pengepul di Losari dan dikupas sebelum dijual ke Demak. Selain rajungan, hasil laut lainnya yang tengah melimpah adalah kerang laut. Penangkapan dengan sistem one day fishing, atau melaut sehari ini cukup memudahkan nelayan. Dalam sehari mereka mempu memperoleh 2 hingga 3 kuintal kerang laut. ‘’Sebenarnya hampir tiap hari ada kerang, tapi memang sekarang lagi banyak sekali,’’ ungkap Tarjuki, nelayan kerang asal Muarareja. Dia berangkat dari rumah sekitar pukul 06.00 WIB dan kembali merapatkan kapalnya di Sungai Kemiri sekitar pukul 12.00 WIB. Untuk hasil laut lainnya se-

LAELA NURCHAYATI/RATEG

PANGGUL KERANG - Salah satu ABK tengah memanggul kerang yang dikumpulkan dalam waring.

perti ikan, teri, dan rebon hingga saat ini masih minim. Nelayan lebih memilih menggantung jalanya daripada melaut tanpa hasil. Kondisi ini sudah menjadi rutinitas khususnya menjelang musim baratan. ‘’Sekarang sudah musim baratan, tapi ikannya belum banyak juga,’’ tambahnya. Kemungkinan nelayan baru kembali melaut setelah ombak cukup dan hasil ikan banyak. (ela)

Radar Tegal 5 Januari 2010  

Radar Tegal 5 Januari 2010