Page 17

JATENG

SELASA 5 JANUARI 2010

17

RADAR TEGAL

SEMARANG Bank Jateng Tuntut Bank Lain Diperiksa SEMARANG – Bank Jateng tak mau menanggung sendiri kasus pemberian fee (komisi) untuk pejabat. Bank milik Pemprov Jateng tersebut menyetujui pengembalian fee kepada pejabat daerah, asalkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga memeriksa praktik yang sama di bank swasta dan bank pemerintah lain. Direktur Utama (Dirut) Bank Jateng Haryono mengakui, pemberian fee sudah diberikan sejak lama. Namun hal itu tidak hanya dilakukan oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD). Haryono menuding, bank swasta dan bank milik pemerintah lain juga melakukan praktik serupa. ’’Fee itu aturan dari BI (Bank Indonesia) dan semua bank pada waktu itu melakukan hal yang sama,” katanya saat dicegat wartawan usai rapat di kantor Bank Indonesia (BI) Semarang kemarin (4/1). Karenanya, jika para pejabat diminta mengembalikan fee dari BPD (kini berganti nama jadi Bank Jateng), lanjutnya, maka praktik yang sama di bank lain juga wajib diperiksa. ’’Mengapa hanya BPD yang diperiksa. Kami oke fee dikembalikan, tapi semua bank harus diperiksa.” Dia berpendapat, pemberian fee oleh bank swasta kepada pejabat seharusnya juga dianggap bentuk gratifikasi. ’’Kalau saya bank pemerintah, memberikan fee ke bank swasta juga tidak apa-apa. Kan itu bisnis,” kata dia. Haryono mengatakan, di Bank Jateng fee diberikan sejak 2002. Pada 2005, KPK meminta praktik tersebut dihentikan. Sebab dianggap sebagai gratifikasi. Menurutnya, jumlah fee yang sudah diberikan Bank Jateng pada para pejabat selama kurun waktu tersebut bukan Rp 51 miliar seperti disebutkan KPK. ’’Kalau tidak salah hanya Rp 38 miliar,” ujarnya. Menurut Haryono, hampir semua pejabat daerah pada waktu itu menerima fee. Namun, dia membantah gubernur termasuk salah seorang yang menerima. ’’Ya mulai dari bendahara hingga bagian keuangan. Pokoknya campur,” papar Haryono yang mengaku lupa jumlah pejabat yang kecipratan fee tersebut. Menurutnya, data nama-nama pejabat tersebut sudah diberikan ke KPK. (ric/isk/jpnn)

CILACAP Pabrik Gula Rafinasi Terbakar CILACAP - Pabrik gula rafinasi milik PT Dharmapala Usaha Sukses (DUS) Cilacap terbakar Senin (4/1) sekitar pukul 14.30 WIB. Diduga kuat kebakaran yang menimbulkan asap cukup tebal ini akibat gesekan pada bagian conveyer yang merupakan jalur masuk bahan bakar batu bara. Kontan saja kebakaran ini membuat warga sekitar terkejut. Sejumlah orang datang untuk melihat dari deka. Namun, keinginan mereka terhalang pagar ang cukup tinggi serta pintu gerbang pabrik yang ditutup rapat. Bahkan, ketika para wartawan mencoba mengambil pintu gerbang yang semula terbuka sedikit akhirnya di tutup rapat dan dijaga ketat. Namun dari celah terlihat sejumlah mobil pemadam kebakaran dari Holcim, Pertamina dan lainnya yang sibuk memadamkan api dan mendinginkan pabrik yang terbakar. Setidaknya, ada tiga mobil pemadam kebakaran yang ada di dalam pabrik. Selain mobil pemadam, sejumlah petugas keamanan berjaga-jaga di dalam pabrik. Lainnya yakni mengumpulkan data dan mencari tahu penyebab kebakakaran pabrik yang letaknya dai dalam areal pelabuhan indonesia III Tanjung Intan Cilacap tersebut. Sekitar 2,5 jam api berhasil dipadamkan Kapolres Cilacap AKBP Guruh Ahmad Fadianto didampingi Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KP3) AKP Woyo menerangkan, gesekan diduga terjadi antara karet di bawah mesin penggiling batu bara dengan conveyer yang secara rutin bergerak ke atas. ’’Gesekan tersebut menimbulkan percikan api sehingga menyebabkan kebakaran. Namun kebakaran tersebut telah berhasil diatasi. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.’’ (amu/jpnn)

Satpol PP Bongkar Paksa PKL Tiban BANJARNEGARA - Karena sudah melewati batas izin penggunaan, pasar malam di AlunAlun Kota Banjarnegara dibongkar paksa oleh jajaran Satpol PP Senin (4/1). Pembongkaran bedeng PKL serta beberapa arena permainan yang ada tersebut dilakukan karena izin yang diberikan pemkab sudah habis sejak Sabtu (2/1). Namun, sebagian arena permainan dan beberapa gubuk PKL tiban masih berdiri dan beroprasi hingga Senin (4/1). Menurut Kepala Satpol PP Banjarnegara Gatot Y. Setyadi, izin penggunaan Alun-Alun Kota Banjarnegara tersebut diberikan selama 3 hari, yakni terhitung mulai 31 Desember 2009 hingga 2 Januari 2010. Namun, sejak 29 Desember 2009 malam, alun-alun sudah digunakan untuk arena hiburan dan pembangunan gubuk untuk para pedagang. Ironisnya, sebagian gubug dan arena permainan anak tersebut belum dibongkar hingga Senin (4/ 1) kemarin, untuk itulah jajaran Satpol PP mengambil tindakan tegas dengan membongkar paksa bangunan serta arena permainan yang ada. ’’Kita sudah kasih kelonggaran, bahkan panitia penyelenggara sudah melayangkan surat pada pedagang dan pengelola arena permainan tersebut untuk membongkar paling lambat tadi malam (Senin dini hari) jam 00.00 WIB. Namun, hingga hari ini, (kemarin, Red) bangunan masih ada, maka kami mengambil tindakan tegas,” bebernya. Sementara, ketika para petugas mulai menghampiri lokasi lapak dan meminta mereka untuk membongkar, sebagian dari pedagang mengatakan, masih menunggu pemilik dagangan, serta menunggu truk pengangkut yang akan membawa barang dagangan mereka, namun setelah didesak, sebagian dari mereka akhirnya membongkar bedeng yang mereka bangun untuk berjualan. (oel/jpnn)

DOK.RADAR BANYUMAS

DIBONGKAR – Petugas Satpol PP Banjarnegara terpaksa membongkar arena permainan di areal pasar malam Alun-Alun Kota Banjarnegara, karena izin beroperasinya telah habis.

Keluarga Baridin Bertolak ke Jakarta CILACAP - Beberapa anggota Keluarga Ustad Baridin bertolak ke Jakarta untuk menjenguk Ustadz Baridin yang ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror di Banyuasih Cikelet, Garut, Jawa Barat, baru-baru ini. Rombongan yang terdiri dari kerabat Baridin seperti istrinya Dwi Astuti, Arina dan dua anaknya hasil perkawinan dengan Noordin M. Top, Haula dan Daud, Jumiah dan kakaknya yang lain, serta Harun menggunakan Kereta Api (KA) Bisnis Purwojaya jurusan Cilacap-Jakarta yang berangkat dari Stasiun Besar Kroya.

Radar Banyumas (Jawa Pos Group) yang mencoba mencegat rombongan, tidak banyak memeperoleh komentar dari keluarga Baridin sebab begitu datang diantar oleh Bunyamin sekitar pukul 19.45 WIB, Minggu (3/1) langsung masuk ke gerbong dan kereta langsung berangkat. Hanya Arina yang berhasil ditemua dan hanya memberikan pernyataan kalau dirinya sudah tidak lagi sedih dan akan ke Jakarta untuk menjenguk keluarganya. Dia bersama anaknya serta keluarga lainnya sudah lama menunggu informasi terkait penangkapan ayah-

nya di Jawa Barat. Saat Radarmas mminta agar bisa bertemu sebentar untuk memberikan pernyataan, istri ketiga Noordin M. Top ini hanya mengatakan,’’Ini kan sudah ketemu.” Untuk selanjutnya dia berlalu menuju ke gerbong kereta. Terpisah, Bunyamin yang ditemui Radar Banyumas mengaku, dirinya hanya mengantar dan tidak ikut ke Jakarta. Dia juga tidak banyak berkomentar karena belum tahu kondisi paman dan adik keponakannya yang ikut di tangkap. ’’Keberangkatan keluarga ke Jakarta setelah ada kepastian

dari Densus 88 terkait kabar penangkapan Pak Lik Baridin dan Ata Sabik Alim,” kata dia. Dia juga belum tahu apakah nantinya keluarganya bisa langsung bertemu dengan Baridin atau tidak. Yang terpenting kedatangan ke Jakarta sudah diberitahukan dan diharapkan dapat segera bertemu untuk mengetahui kondisi pamannya. ’’Kami semua kan jelas sedih atas penagkapan beliau, apalagi Tante Tuti (panggilan untuk Dwi Astuti) dan Arina tentu mereka lebih sedih dari kami,”ujar dia. Sebelumnya keluarga Baridin di Dusun Mlela, Desa Pasu-

IKLAN BARIS LOKER 7 X 255 MMK

ruhan, Binangun, Cilacap, masih menunggu kabar resmi dari Densus 88 untuk memastikan kapan mereka bisa menengok pendiri Pesantren Al Muaddib itu. Berdasarkan informasi keluarganya seperti istri Barisin Dwi Astuti dan anaknya Arina Rahmah terus menangis mendengar kabar penangkapan Ustad Baridin. Bahkan, sejumlah wartawan yang ingin meminta penryataan mereka terkait dengan penangkapan Ustadz Baridin tidak ditemui dengan alasan ingin menenangkan diri. (yan/jpnn)

Radar Tegal 5 Januari 2010  

Radar Tegal 5 Januari 2010

Advertisement