Page 15

SAMBUNGAN

SABTU 22 FEBRUARI 2014

15

RADAR TEGAL

Hari Penukaran Uang Diperpanjang BAGI masyarakat yang akan menukarkan uang tidak perlu lagi harus menunggu setiap hari Senin atau Kamis. Kini Bank Indonesia (BI) Tegal membuka pelayanan mulai hari Senin sampai Kamis dari pukul 08.00 hingga 11.30. Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Tegal Bandoe Widiarto mengatakan, penambahan hari penukaran uang merupakan

bentuk pelayanan prima BI kepada masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu lagi antri cukup lama untuk bisa menukarkan uang. “Jadi sekarang mau menukarkan uang hari Selasa atau Rabu pun bisa. Sebelumnya pelayanan penukaran hanya dilakukan pada hari Senin dan Kamis saja,” ujarnya, kemarin (21/2). Pelayanan penukaran uang,

sambung Bandoe ada dua metode. Antara lain penukaran didalam kantor dan diluar kantor. Pelayanan diluar kantor dibagi lagi menjadi dua. Yakni di dalam kota dan di luar kota. “Pelayanan diluarkan tor menggunakan mobil kas keliling. Kami mendatangi pasar-pasar tradisional.” Pelayanan penukaran diluar kantor lebih diarahkan kepada pencarian uang-uang yang su-

dah tidak layak edar. Seperti lusuh, rusak, cacat serta uang yang telah ditarik dari peredaran. Upaya ini juga untuk menghindari peredaran uang yang tidak layak edar di masyarakat. Saat membuka pelayanan kas keliling, petugas juga memberikan sosialisasi kepada warga supaya sebisa mungkin menjaga fisik uang. “Kami juga sudah menyurati

Stasiun-stasiun kereta se Karesidenan Pekalongan untuk bisa menukarkan uang ke BI. Dengan harapan uang tidak layak edar yang berada dilingkungan pelayanan stasiun bisa diganti. Termasuk untuk ketersediaan uang recehan buat kembalian konsumen,” ujarnya. Lebih jauh diungkapkan, penambahan hari penukaran dilakukan pula untuk meminima-

lisasi pengembalian uang receh dengan menggantinya menjadi gula-gula (permen). Sebab pada dasarnya hal tersebut tidak boleh terjadi. “Tidak ada alasan tidak ada uang receh. Karena BI menyediakan uang receh untuk ditukarkan. Adapun pengembalian gula-gula itu karena malas tidak mau menukarkan saja,” pungkasnya. (adi)

DOK.RATEG

Bandoe Widiarto

Jangan Pilih Wakil Rakyat Suka Bolos

M SAEKHUN/RATEG

PENUDUH - Sejumlah anggota Lanal Tegal, menanam pohon peneduh di kompleks Gudang Barang, kemarin.

Hijaukan Kota, Tanam Ratusan Pohon PANGKALAN TNI AL (Lanal) Tegal menghijaukan Kota Tegal, dengan menanam ratusan pohon berbagai jenis, kemarin (20/2), di beberapa titik antara lain kompleks Gudang Barang, lapangan PJKA, dan lapangan Tegalsari. Dalam kegiatan ini, Lanal menggandeng Kantor Lingkungan Hidup (KLH).

Komandan Lanal Tegal Letkol Laut (P) Joko Triwanto, melalui Perwira Potensi Maritim Letu (L) Nur Salim mengatakan, aksi penanaman pohon dilakukan karena pencemaran udara cukup memprihatinkan. “Saat ini penanaman kami pusatkan di tiga titik. Jenis pohon yang ditanam, meliputi bin-

taro, trembesi dan lainnya.” Dijelaskannya, Lanal menerima bantuan pohon penuduh dari KLH. Selanjutnya diterjunkan personil guna menanamnya secara berjenjang. Saat ini sengaja difokuskan di tiga lokasi. Target Lanal Tegal, mampu menghijaukan semua wilayah Kota Tegal. Sebelumnya, Lanal juga me-

JADI calon pemimpin yang amanah, harapan semua komponen masyarakat. Untuk itu, harus mempunyai kecerdasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi, termasuk juga kedisiplinan. Jangan sampai sudah duduk sebagai anggota dewan malah suka membolos, tidak mau memperhatikan rakyat. Demikian ditegaskan Anggota DPRD Propinsi Jawa Tengah, Wahyudin Noor Ali kepada Radar, kemarin. “Sifat buruk dan kerap dialami anggota DPRD inilah, yang membuat masyarakat banyak tidak percaya. Sehingga, peran rakyat dalam pemilu legislatif menurun. ‘Pemilu ongkosnya besar, dan menggunakan uang rakyat. Bila kondisi itu tidak diubah, demokrasi di Indonesia tidak berubah,” ungkap lelaki akrab disapa Goyud. Dijelaskan bahwa sejarah pemilu Indonesia tahun 1955, termasuk pesta demokrasi terbaik di Tanah Air. Karena masyarakat berbondong-bondong ke TPS. Bahkan ada 200 lebih parpol. ‘’Namun, perubahan era dan jaman, menjadikan perubahan pada suasana politik. Bahkan masyarakat kadang-kadang salah pilih. Karena mau memilih siapa, dan tidak ada apa-apanya. Berarti salah pilih.” Termasuk pada jaman Presiden Soeharto, adalah pemilu sumir. Hanya ada 3 parpol, dan namanya bukan demokrasi. Sebab pemilih atau masyarakat tidak mempunyai wakil. Suara terbanyak tidak dipakai. Waktu itu hanya ornamen. Itu terjadi

DOK.RATEG

Wahyudin Noor Ali

sekitar 1971 - 1997. “Kemudian tahun 1999, ada perubahan dengan sistem pemilu figur. Sedikit demi sedikit, masyarakat akhirnya memiliki wakil,’’ bebernya. Lebih lanjut Goyud mengungkapkan, pemilu tahun ini pada saat memilih calon A, masyarakat memiliki harapan, ingin dibantu atau pada proses pembangunannya. “Sampai sekarang rakyat belum mempercayai anggota dewan. Meski sudah memiliki wakil rakyat, sejak 2009 hingga saat ini. Anggota dewan terpilih, lupa dengan siapa yang mengusungnya atau rakyat,’’ bebernya. Karena apa? Ketika rapat saja mereka yang jadi anggota DPRD suka membolos. Memperjuangkan hak rakyat tidak pernah. Persoalan inilah yang membuat rakyat kuatir. Hingga muncul ketidakpercayaan tadi. Inilah saatnya masyarakat harus mengubah pola, terhadap dewan seperti itu, termasuk tidak di-

siplin. ‘’Di negara demokrasi, kekuatan terkuat rakyat. Ibarat beli jeruk. Penjualnya sejak tahun 2009. Saat sudah dibeli, ternyata jeruknya busuk. Kondisi ini, jangan salahkan pedagang jeruk, bila jualannya busuk. Tapi pemilih (pembeli, red) yang salah,’’ papar Goyud. Lebih lanjut anggota DPRD Propinsi Jateng, yang menjabat Badan Kehormatan (BK) juga mengaku, belum lama ini dirinya digeruduk wartawan, gara-gara saat menggelar rapat paripurna, yang hadir hanya 17 orang. Hingga pertanyaan dan penyudutan pun berlanjut. “Dengan tegas saya mengatakan, kalau wakil rakyat tidak beres, berarti yang salah rakyat. Rakyat salah memilih. Sebab, dewan yang seperti ini, berarti tidak bisa mengayomi kehidupan masyarakat, yang sebelumnya dibiayai mahal. Namun untuk rapat saja tidak disiplin. Ini riil dan banyak dilakukan.’’ Untuk itu, imbuhnya, masyarakat harus memperhatikan, kalau masa 5 tahun tidak ada perhatian, tidak perlu dipilih lagi. Meskipun ada uang di balik semua itu. Sebab, akan percuma jika dipilih. Karena, hanya momentum pileg, masyarakat diberikan iming-iming. Namun setelah jadi, mereka lupa. ‘’Sekarang saatnya harus cerdas.’’ Kepada komunitas golput, diharapkan tidak perlu teriak. Karena tidak memilih. Namun menyalahkan, ini yang dinamakan tak tanggung jawab. (gus)

nanam 600 pohon peneduh, sepanjang Jalan Proklamasi, Jalan Udang hingga Jalan Pemuda, Jalan Taman Yos Sudarso, dan halaman gedung DPRD. “Ini bentuk kepedulian kami, agar pencemaran udara bisa diminimalisir. Kami juga mengajak semua elemen, ikut melakukan hal sama,” jelasnya. (hun)

Lebihi Tonase, Kendaraan Berat Ditindak KERUSAKAN jalur Pantura Kota Tegal tambah parah. Di beberapa titik terdapat jalan berlubang dan menganga. Walaupun diperbaiki, tidak mampu bertahan lama. Untuk itu, Sat Lantas Polres Tegal Kota merazia kendaraan berat, mengangkut barang melebihi tonase. Kasat Lantas Polres Tegal Kota AKP Budi Fajar, melalui Kanit Turjawali Iptu Dodi Awan S mengatakan, Dir Lantas memiliki 13 prioritas penindakan pelanggaran lalu lintas. Salah satunya terkait pelanggaran

muatan. Akibat kendaraan berat mengangkut melebihi tonase, jalan mengalami kerusakan berat. Dijelaskan Dodi, Kota Tegal tidak mempunyai jembatan timbang. Semua kendaraan berat melintas dan mengangkut muatan cukup tinggi. Petugas menghentikan serta mengecek surat jalan, disesuaikan dengan kir. Kalau jumlah muatan melebihi kir, maka diambil tindakan tegas berupa tilang. “Langkah itu terpaksa dilakukan, sebab kerusakan jalur Pan-

tura Kota Tegal makin parah. Bila dibiarkan, kerusakan tambah memprihatinkan. Meski berulang kali ditangani dengan perbaikan sementara, tidak dapat bertahan lama. Banyak kendaraan berat mengangkut barang melebihi tonase, dengan mudah dan leluasa melintas di situ.” Lebih lanjut dia mengungkapkan, petugas juga berkoordinasi dengan instansi terkait. Soal penindakan kendaraan berat mengangkut barang melebihi tonase. Sehingga semua

kendaraan berat terpaksa dihentikan, untuk diperiksa suratsuratnya. “Tindakan tersebut dilakukan rutin. Para sopir atau pemilik barang akan berpikir lima kali, saat mengangkut barang melebihi tonase, melintas di Pantura. Untuk kerusakan, kami berkoordinasi dengan Bina Marga agar diperbaiki secepatnya. Kalau dibiarkan sangat berbahaya, dan sangat rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas,” imbuhnya. (hun)

Libatkan Seniman, Birokrasi, dan Masyarakat dari halaman 9 Di sisi lain, peran serta kalangan birokrasi, harus nyata seperti menampilkan wayang Tegalan, dalam kegiatan seremonial dan sejenisnya. Dengan begitu gemanya makin terasa. Tak kalah penting, peran serta masyarakat perlu sadar bila wayang merupakan budaya warisan leluhur, dan keberadaannya patut dilestarikan untuk anak cucu. Meski jalan yang dilalui sangat

panjang, dengan dukungan semua pihak, Ki Barep optimis mampu mengangkat wayang Tegalan, jadi budaya arif dan kaya pesan moral. Dengan sedikit sentuhan serta kreativitas, wayang dapat jadi pertunjukan mengasikkan untuk ditonton. Inilah yang terus dikembangkan, supaya setiap pementasan menyedot minat pengunjung kalangan tua maupun muda. “Butuh kerja keras dan kerja sama semua komponen, dengan niat tulus meles-

tarikan budaya,” imbuhnya. Sementara Budi Rahardjo (61), warga Jalan Kapten Ismail Kota Tegal, yang sempat mengalami jaman keemasan dari wayang, mengaku prihatin dengan kondisi saat ini. Menurutnya, saat masih kecil dan remaja, tontonan yang ada banyak berasal dari budaya. Contohnya wayang, kuda lumping, tari-tarian dan sebagainya. Sekarang semuanya terbalik. Budaya yang jadi milik bangsa

sendiri, justru terpojok masuknya budaya impor. Dia setuju dengan niatan para seniman, yang berkarya membangkitkan semangat mencintai budaya sendiri, yang sudah jelas memiliki karakter dan nilai sesuai norma. “Kemajuan jaman dan teknologi, bukan berarti harus mengubah segalanya. Jangan lupakan apa yang menjadi milik kita. Tentu patut diwariskan kembali pada anak cucu,” pungkasnya. (rochman gunawan)

Terhenti, Kendala Akses Jalan dari halaman 9 Kaitannya dengan akses jalan, sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan (RIP) Pelabuhan Niaga Kota Tegal, akan dibuat sepanjang 687,69 meter. Lebarnya 2x7 meter (4 lajur) dengan median 1 meter dan 2 meter. Titik awalnya akses jalan ini dari Jalan Ternate terus ke utara. Lahan yang akan digunakan akses jalan milik PT Pelindo III yang saat ini kondisinya juga ada sejumlah bangunan. Sehingga per-

lu dilakukan pembebasan lahan lebih dulu. Estimasi harga pada 2013, pembebasan lahan itu membutuhkan anggaran sekitar Rp12,4 miliar. Tahun ini, pemkot menyiapkan sejumlah syarat untuk meminta lahan dalam kawasan HPL PT Pelindo III itu menjadi hak pakai, guna pembangunan akses jalan. Syarat pertama, detail engineering design (DED) pelabuhan. Kedua RIP dengan lampiran titik-titik koordinat lahan yang

akan dibebaskan. “Secara lisan PT Pelindo III sudah menyetujui rencana pengajuan HPL menjadi hak pakai. Sebab, PT Pelindo III juga diuntungkan dengan adanya pelabuhan baru ini.” Jika urusan dengan PT Pelindo III selesai, pembebasan lahan baru bisa dilakukan. Adapun anggaran pembebasan akan diajukan pada APBD perubahan mendatang. Yang jelas, sambung Khaerul, pembangunan lanjutan baru

dapat direalisasikan jika sudah ada akses jalan. Pembangunannya ditaksir membutuhkan anggaran sekitar Rp 29,4 miliar. Sementara Wali Kota Tegal H Ikmal Jaya SE Akt MH memastikan, pembangunan pelabuhan dilanjutkan tahun ini. “Kan hanya tinggal menunggu HPL dari Pelindo,” ujarnya sembari menuturkan, pembangunan pelabuhan itu, sesuai dengan program menjadikan Kota Tegal sebagai pusat perdagangan di Pantai Utara (Pantura) Jawa. (adi)

ABIDIN ABROR/RATEG

PENINGGIAN - Sebelum dihijaukan dengan tanaman, lebih dulu daratan pantai ditinggikan.

Penghijauan Pantai Terus Berlangsung PROGRAM penghijauan terus digalakkan. Selain perkotaan, juga Obyek Wisata Pantai Alam Indah. Sasarannya sepanjang bibir pantai, khususnya sebelah timur. Sejauh ini, kondisi lokasi tersebut belum banyak tanaman. Karena itu, untuk menyuburkan kawasan pantai, kemarin, Lanal Tegal meninggikan posisi daratan. Sehingga pantai yang selama ini jadi langganan banjir saat rob, mudah ditanam sejumlah pohon peneduh. Proses peninggian menggunakan alat berat, seperti begho dan truk. Pantai sebelah timur yang rendah, selanjutnya diuruk

tanah. Begitu posisinya agak tinggi, selanjutnya dilakukan penghijuan. Proses penghijaun, rencananya dilaksanakan awal Maret 2104. Lanal Tegal bakal menanam ribuan pohon di kawasan pantai sebelah timur. Dengan aksi tersebut, daerah sekitar lokasi sabuk hijau, nantinya tumbuh ribuan pohon rindang. Sebelumnya, Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) menggelar aksi bersih-bersih pantai sebelah timur, sekitar pukul 08.00. Tumpukan sampah berupa ranting pohon, yang banyak berserakan sepanjang lokasi, pa-

gi itu langsung dibersihkan. Bersamaan dengan itu juga dilakukan penanaman di pantai masuk Kelurahan Panggung. Menurut Kasie Promosi dan Pengembangan Wisata Disporabudpar Ading Abdul Kadir SH, aksi bersih-bersih pantai dari sampah, kelanjutan dari kegiatan sebelumnya. Karena sampah yang terbawa ombak terus berdatangan, dan membanjiri kawasan tersebut. Sehingga perlu diambil langkah antisipasi. Dari aksi bersih-bersih, kondisi pantai akan indah dan sedap dipandang mata. “Semua itu dilakukan, agar pantai tetap bersih.” (din)

Diancam Denda Rp50 M dan Penjara dari halaman 9 “Kami minta kepolisian Kota Tegal dalam memproses pelaku pemalsuan uang yang ditangkapnya dengan UU mata uang. Karena UU tersebut dibuat untuk memberikan efek jera kepada pelakunya,” katanya, kemarin (21/2). Disebutkan Bandoe, jumlah temuan uang palsu hingga Februari ini sudah mencapai Rp44 juta. Pecahan yang mendominasi adalah Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Lebih jauh disampaikan, tindak pemalsuan uang akan selalu ada lantaran unsur ekonomi. Karena itu, UU mata uang diterbitkan untuk menekan tindakan dimaksud. Sesuai UU No.7 tahun 2011 pasal 26 ayat 1, pemberantasan

rupiah palsu dilakukan oleh Badan Penanggulangan dan Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal). Badan tersebut didalamnya terdiri dari sejumlah instansi terkait. Seperti BIN, kepolisian, BI, serta Kejaksaan Agung. Ada dua metode yang dilakukan untuk memberantas uang palsu, yakni preventif dan represif. Preventifnya adalah edukasi kepada masyarakat untuk mengenali ciri uang dengan 3-D. Tingkatkan unsur keamanan dalam fisik uang. “Semakin besar pecahannya semakin banyak keamanannya.” Lalu melakukan kerjasama dengan instansi teknis nasional atau internasional. Untuk represifnya, memberikan hukuman yang setimpal sesuai dengan apa yang ada dalam

UU mata uang. Disinggung latar belakang tindak pemalsuan uang, Bandoe mengindikasikan lebih kepada faktor ekonomi. “Saya rasa pemalsuan uang lebih karena faktor ekonomi bukan politis. Karena apabila politis jumlahnya pasti akan lebih besar,” ujarnya. Pada kesempatan itu Bandoe juga membeberkan trik paling gampang mengenali uang asli atau palsu. Pada pecahan Rp100 ribu pada pojok kiri ada hologram logo BI. Apabila dimiringmiringkan gambar tersebut warnanya akan berubah-ubah. “Kendati kondisi pencahayaan remang-remang tetap akan berubah warna. Kalau yang palsu tidak berubah-ubah warnanya meski dimiring-miringkan.” (adi)

Radar Tegal 22 feb 2014  

Radar Tegal 22 feb 2014

Radar Tegal 22 feb 2014  

Radar Tegal 22 feb 2014

Advertisement