Issuu on Google+

ISSN: 2085-5621

VOLUME 38

: K I M O ALA K P E I L AS K R A E B PK A M T E E &T K A Y T DA A A W S IHDENGAN L E MBERJAYA


DAFTAR ISI

VOLUME 38 Surat merupakan newsletter berkala empat bulanan yang diterbitkan oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA) sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia seni khususnya seni visual kontemporer di sekitar kita Dipublikasikan oleh: Indonesian Visual Art Archive (IVAA) Jalan Patehan Tengah No. 37 Yogyakarta 55133 INDONESIA Tel. +62 274 375 247 Tel./Fax. +62 274 372 095 Email: ivaa@ivaa-online.org Website: Http://www.ivaa-online.org Mailing list: Http://groups.yahoo.com/group/ivaaonline ISSN: 2085-5621 Penanggungjawab: Direktur Eksekutif Tim Redaksi: Farah Wardani Pitra Ayu Hutomo Yoshi Fajar Kresno Murti

4 Klik, klik, klik, David Copperfield, Digikomik 10 Blogosfer 16 Galeri Koleksi Arsip Komik 22 IVAA: Penyedap Rasa yang Terkunci Pada Mata

32 Bagaimana Mereka dan Kita Mewarta Seni Visual?

Kontributor Hikmat Darmawan Rosa Sekar Mangalandum Yoshi Fajar Kresno Murti

40 Obrolan Ahistoris dan Obrolan Subversif Presentasi-Diskusi Colin Cahill

Dokumentasi foto: Dwi Rahmanto Colin Cahill Inggra Parandaru SERRUM - Prophagraphic Movement

48 IVAA Researchers Exchange Program

IT Programmer: M. Dzulfahmi Yahya

52 Rangkaian Perjalanan IVAA 2010

Desain: Johanes Budi (Barakuda) Ilustrasi: Komik Cover oleh: Aji Prasetyo (Dari Buku “Hidup Itu Indah�, Cendana Art Media, Jakarta 2010, Hal. 31) Drawing Halaman 16 oleh: Feri Pradigdo Komik Halaman 24 oleh: Sunardi

TENTANG INDONESIAN VISUAL ART ARCHIVE Indonesian Visual Art Archive (IVAA) adalah sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Yogyakarta, yang melakukan pemberdayaan infrastruktur seni visual di Indonesia. Bidang utamanya adalah dokumentasi, riset, perpustakaan serta penyelenggaraan program edukasi dan eksplorasi seni visual. Berdiri pada tahun 1995 dengan nama Yayasan Seni Cemeti (YSC). Mulai April 2007, YSC berganti nama menjadi IVAA. Dengan ini IVAA juga berfungsi sebagai sebuah think-tank atau laboratorium kreatif untuk menggagas berbagai pemikiran serta kegiatan yang mendukung perkembangan seni visual dan budaya kontemporer, baik secara praktek maupun wacana.

Terbit Atas Dukungan: Humanist Institute for Co-operation withDeveloping Countries, HIVOS FORD Foundation


PENGANTAR K omik, kini pada akhirnya telah umum menjadi bacaan. Dulu ia dianggap semacam “tulisan” gambar dengan predikat yang tidak baik karena isinya dianggap dangkal, kurang berisi. Dibandingkan tulisan, membaca komik dianggap sebuah praktik kemalasan bagi orang untuk memahami pengetahuan. Belum tuntas wacana fenomena komik yang mengusik perdebatan, perkembangan media digital telah memberi terobosan baru bagi praktik perkomikan Indonesia. Tulisan Hikmat Darmawan “Digikomik” yang ditulis 5 tahun yang lalu (tapi belum dipublikasikan) telah memperbincangkan posisi komik di dalam perkembangan teknologi informasi tersebut. Kini, setelah 5 tahun berjalan tentu saja dibutuhkan pengamatan yang lebih lengkap dan mendalam

untuk memahami fenomena komik tersebut. e-Surat 38 menghadirkan tulisan “Digikomik” untuk membuka diskusi lebih Sigit Soetjipto, Komik Ngisup, ‘Dajjal Alay’ (atas), ‘Dajjal Curhat’ (bawah), 2010. lanjut mengenai dunia komik dan perkembangan masyarakat kerjanya yang menggunakan kontemporer. Komik seperti media teknologi digital sebagai halnya perkembangan teknologi bagian perangkat kerja informasi telah menjadi media dokumentasi seni visual, sebagai bagi orang untuk berkomunikasi, jendela membaca perkembangan mendokumentasikan dan masyarakat kontemporer. mengabstraksikan pengetahuan. Menyambungkan diskusi mengenai Perkembangan komik secara informasi dan seni visual di tidak langsung juga telah edisi e-Surat yang lalu, kali ini memperlihatkan perkembangan e-Surat 38 menurunkan catatan cara kita memahami tulisan, hasil obrolan tema tersebut cara kita membaca dan melihat yang diusung dalam sebuah realitas. diskusi bersama. e-Surat 38 e-Surat kali ini juga juga menurunkan catatan hasil menghadirkan tulisan refleksi diskusi mengenai iconografi dalam mengenai IVAA sebagai lembaga budaya kaos oblong anak muda dokumentasi seni visual jaman sekarang. Indonesia. IVAA membagi sedikit pengalaman melalui dapur Selamat membaca!

3


Hasil peserta WORKSHOP KOMIK bersama AKADEMI SAMALI (AKADEMI SAMALI Vs. FIGHT FOR RICE), Indonesian Visual Art Archive (IVAA), Selasa, 26 Oktober 2010, Yogyakarta

Hikmat Darmawan*

KLIK-KLIK-KLIK, DAVID COPPERFIELD, DIGIKOMIK *Esai ini pernah disampaikan sebagai makalah dalam Seminar “Digital Freedom” Pekan Komik dan Animasi Indonesia V, 25 Juli 2005, di Kampus Maranatha, Bandung. Siapa saja yang ingin menanggapi atau memberi masukan untuk tulisan ini lebih jauh, silakan menghubungi penulis di hikmatdarmawan@gmail. com, atau hikmatdarmawan.facebook. com. Saat ini, penulis sedang meneliti globalisasi subkultur manga (komik Jepang) di Jepang dan Thailand selama setahun, dalam program API (Asian Public Intellectual) Fellowship 2010.

S

ejak kapan hidup kita menjadi serba digital? Sejarah mungkin bisa menyajikan tanggal-tanggal. Tapi dari segi kesadaran kolektif, zap! zap! zap! …semua begitu cepat terjadi. Tahu-tahu tangan kita lekat pada mouse, mata kita terpaku pada layar monitor, pikiran kita menyelami window demi window, dan umat manusia seakan tak bisa lepas lagi dari segala yang serba digital ini.

4

Digital, digit. Kalau dari segi bahasa, akhiran –al di situ membuat “digital” berarti “mengandung sifat digit”. Digit adalah sistem besaran angka. Dalam kata ini, “digit” mengacu pada sistem biner 1-0 yang jadi basis teknologi ini. Dalam sistem ini, nyaris apapun bisa diolah menjadi informasi yang tersusun dari bit-bit 1-0 ini. Sedemikian mendasarnya bit, atau byte, sampai-sampai


banyak yang memperhadapkannya dengan atom, unsur pembangun segala benda di alam. Orang lantas bicara tentang ekonomi berbasis bit, misalnya, dan membandingkannya dengan ekonomi berbasis atom. Malah budaya berbasis bit pun disebutsebut. Misalnya, kalau orang membaca buku yang dicetak –maka tangannya memegang benda yang tersusun dari atom. Lain soal kalau kita membaca e-book di monitor atau ponsel kita –nah, itu budaya berbasis bit. Malah, seperti Nicolas Nigroponte dalam Being Digital, ada juga yang mengunggulkan budaya/ekonomi/peradaban bit di atas budaya/ekonomi/peradaban atom. Negroponte meminta kita membayangkan jika sebotol air murni (semacam Aqua, lah) diimpor dari Prancis ke mejanya. Pasti itu melibatkan proses yang sangat panjang dan mahal: pengepakan, shipment, bisnis retail yang membutuhkan tokotoko dan gudang-gudang, dan sebagainya. Sedang kalau ia ingin edisi koran elektronik terbaru

(misalnya yang diterbitkan oleh Prancis juga), ia cukup membuka koneksi internet, dan dalam sekejap akan tersaji. Tapi bagaimana kalau kita, misalnya di Indonesia ini, memang menginginkan air atau anggur dari Prancis? Cobalah pikirkan, kalau sekarang orang membayangkan rumah digital, kan itu bukan berarti rumah yang sepenuhnya terbangun dari bit, tapi rumah yang tersusun dari atom yang mengandung berbagai perangkat digital canggih? Lha, komputer sendiri, sang wahana segala peradaban digital kini, bukankah itu benda yang tersusun dari atom juga? Tanpa memasuki perdebatan dulu apakah peradaban bit lebih unggul daripada peradaban atom, komik sendiri mengalami persoalan-persoalan khas dalam menghadapi dunia digital ini. Persoalan yang bahkan menyergap di tahap definisi. Paling tidak, jika kita menyimak upaya Scott McCloud mendefinisikan komik. Dalam bukunya yang fenomenal, Understanding

5

Comics, Scott mendefinisikan komik sebagai:

…Juxtaposed pictorial or other image in deliberate sequences… (Imaji piktorial atau lainnya yang dijajarkan dalam urutan yang disengaja.) Walau sejak semula ia tak membatasi bentuk fisik komik sebagai, dalam bukunya itu Scott lebih banyak mengulas komik dalam bentuk buku atau majalah (komik strip pun lazimnya dimuat dalam koran atau majalah). Yang membuat definisi di atas cenderung terterapkan dengan pada komik berbentuk buku atau majalah, menurut hemat saya, adalah kata “urutan yang disengaja” –ungkapan ini masih punya asosiasi dengan logika ruang dalam sebuah halaman buku/majalah. Paling tidak, ungkapan ini masih punya asosiasi urutan ke satu arah.


Scott rupanya butuh definisi yang lebih cair. Ia, misalnya, memikirkan kemungkinan sebuah komik yang progresi ceritanya mengembang ke segala arah (konsep infinite canvas). Kemungkinan ini terbuka, menurut hematnya, dalam dunia digital. Maka pada buku sekuelnya tentang komik, Reinventing Comics, Scott mengajukan definisi ini:

‌(Comics is) a temporal map. ((Komik adalah) sebuah peta waktu.) Dalam definisi ini, Scott memahami bahwa hakikatnya panel komik adalah sebuah time frame (bingkai waktu), di mana setiap panel sebenarnya sedang menangkap momen, dan pergerakan dari satu panel ke panel lainnya adalah hakikatnya pergeseran dari sebuah momen ke momen lainnya dalam waktu.

Hasil peserta WORKSHOP KOMIK bersama AKADEMI SAMALI (AKADEMI SAMALI Vs. FIGHT FOR RICE), Indonesian Visual Art Archive (IVAA), Selasa, 26 Oktober 2010, Yogyakarta

Terus terang, definisi ini memang mengagumkan. Dalam banyak hal, definisi mutakhir tentang komik ini memang membantu kita lebih lentur dalam memahami komik. Definisi ini membuka banyak kemungkinan. Dan mungkin justru di sini masalahnya. Pintu kemungkinan dibuka terlalu lebar oleh definisi ini. Kemungkinan yang meruah itu, di titik tertentu, justru membuat definisi ini abai pada aspek-aspek mendasar pada komik –seperti aspek estetika dan aspek isi.

6

Aneh, memang: ada sesuatu yang disempitkan di sini. Yang disempitkan adalah bahwa pemahaman kita tentang komik kemudian dibatasi hanya pada masalah bentuk (form) saja. Padahal, perlu juga kita memahami, misalnya, komposisi visual dalam komik, atau retorika dan susastra dalam komik, atau sedang menyatakan apa sebuah karya komik. Saya kira, sepanjang kita menempatkan definisi Scott di atas sebagai titik berangkat saja, kita akan aman menjelajah


berbagai kemungkinan dalam komik.

1. Dunia David Copperfield Nah, mari kita membicarakan berbagai kemungkinan yang disediakan dalam dunia digital kepada komik. Dunia digital adalah dunia di mana semua ‘penduduknya’ dapat menjadi David Copperfield. Kita tahu pesulap kelas dunia ini masyhur karena aksi-aksi sulapnya yang mengejutkan. Ia bisa menghilangkan pesawat tempur, menembus tembok Cina, bahkan terbang. Ada yang bilang, itu sihir dan atas bantuan jin. Ada yang bilang, itu penciptaan ilusi yang canggih dan cerdas. Apapun yang benar, prinsip dasarnya boleh dibilang sama: manipulasi. Entah jin membantu David memanipulasi dan membengkokkan hukum-hukum fisika dan logika; entah rekayasa nan mahal dirancang David untuk memanipulasi persepsi kita akan realitas sehingga seolah terjadi keajaiban. Manipulasi adalah kata kunci.

Manipulasi juga adalah salah satu kata kunci dalam dunia digital. Tengoklah karya Rowal, The Alligator, yang diwarnai secara digital oleh Sani (studio Graveyard Shift). Seakan karya itu diwarnai oleh cat air. Manipulasi warna ini atas bantuan programprogram grafis yang banyak tersedia dan murah. Dikerjakan di PC, dan bukan perangkat komputer Mac yang mahal. Soal menghilangkan bendabenda besar atau kecil, dunia digital jagonya. (Gambar) pesawat, misalnya, kan gampang saja dihilangkan –dihapus (delete), atau disembunyikan sementara (dengan menyembunyikan layer yang mengandung gambar pesawat itu). Ingat “manipulasi sejarah” dalam film Forest Gump? (Gambar) Tom Hanks disisipkan secara digital pada dokumentasi sejarah, sehingga seakan ia sedang bercakap-cakap dengan Lennon, Nixon, dan sebagainya. Manipulasi digital pula yang memungkinkan penyanyi Natalie Cole berduet mesra dengan almarhum ayahnya, Nat King

7

Didoth Comics, 2003

Cole, setelah sang ayah meninggal untuk waktu lama. Komik jelas bisa memanfaatkan kemampuan manipulatif dunia digital. Contoh kecil, untuk menajamkan dan merapikan sebuah karya. Saya punya teman muda yang berbakat. Kalau dia menggambar di atas kertas, gambarnya pasti penuh coret-moret yang terkesan kotor. Lantas ia men-scan gambar itu, dan mengolahnya dengan program Photoshop atau Freehand, kadang memberi pula warna secara digital. Kadang, garis-garis dan bentuk-bentuk


yang tak memuaskan dibuang saja dengan mudah. Dan voila!, jadilah karyanya ciamik dan sedap di mata. Jangankan sekadar merapi kan. Manipulasi bentuk secara lebih ekstrim pun bisa dilakukan dengan mudah secara digital. Distorsi? Bukan masalah. Filter? Ada. Alterasi? Gampang. Memberi bayangan? Pencahayaan? Kesan tiga dimensi? Semua tinggal drag dan klik. Dan demikian banyaknya fasilitas manipulasi yang tersedia, hingga kini para artist bisa mencipta bentuk-bentuk figuratif (atau bentuk lain yang nonrepresentatif) yang hanya ada dalam imajinasi dunia digital. Contoh lain, fasilitas ctrl+Z atau “undo”. Fasilitas ini sederhana, tapi dahsyat: ia mampu membentuk mentalitas bahkan modus berkarya. Fasilitas ini membuat para pegrafis atau komikus merasa lebih aman menjelajah. Tapi di tangan yang salah, fasilitas ini malah membuat sembrono –proses kreatif direduksi tak lebih dari proses coba-coba. Jika sudah begini,

sang “manipulator” (pengguna teknologi digital) termanipulasi.

2. Seni Tanpa Tubuh? Seni Tanpa Jiwa? Memang, teknologi digital membuat proses produksi komik lebih cepat, lebih murah, dan lebih mudah. Secara ekonomi, ini bagus sekali. Apakah secara estetik-artistik, ini bagus juga? Sebermula, aktivitas menggambar dan melukis adalah aktivitas yang melibatkan tubuh secara total. Tentu saja, dalam menggambar atau melukis, praktis hanya tangan yang (kelihatan) bekerja. Tapi, seperti terbaca dalam beberapa buku teks pelajaran menggambar, aktivitas tangan itu harus didukung oleh tubuh yang prima. Gurisan dan ayunan kuas atau pena yang terbaik melibatkan disiplin tubuh yang tinggi. Ada sebuah hubungan mesra antara karya dan tubuh sang seniman. Karena hubungan mesra dan intim antara aktivitas berkarya dan tubuh si pembuat karya, terbit sebuah totalitas berkarya.

8

Awas Penguasa Tipu Rakya, Eko Prasetyo dan Terra Bajraghosa 2006

Dengan kata lain, di situlah kita bisa bicara tentang sebuah karya yang berjiwa atau tidak. (Oh, dan jangan kira ini hanya terjadi pada dunia seni rupa saja. Musik juga demikian. Begitu pula –yang ada hubungannya dengan komik—menulis. Seperti ungkap Goenawan Mohamad dalam sebuah esai di jurnal Kalam tentang menyair, dan Rendra dalam beberapa tulisannya, menulis adalah juga sebuah totalitas kerja tubuh.) Karya digital, karya yang diproses teknologi digital, seringkali membuyarkan hubungan karya dan tubuh. Tangan direduksi menjadi kerja jari, tubuh diminta duduk saja. Memang, ada teknologi digital


Wedhar Riyadi, Daging Tumbuh vol1 2000; Aji Prasetyo, Hidup Itu Indah 2010; Suasana WORKSHOP KOMIK bersama AKADEMI SAMALI (AKADEMI SAMALI Vs. FIGHT FOR RICE), Indonesian Visual Art Archive (IVAA), Selasa, 26 Oktober 2010, Yogyakarta

pen yang meniru aktivitas tangan dalam berkarya secara tradisional. Tapi perangkat ringkih ini memerlukan kelunakan tertentu, dan entah bagaimana masih tak bisa mengusir jarak antara tubuh dan karya. Apakah dengan begini, karyakarya yang dihasilkan dalam dunia digital akan kehilangan jiwanya?

3. Gelombang atau Gelembung? Bagaimanapun, proses digital dalam komik maupun karya-karya grafis mutakhir di, misalnya, media massa telah menjadi kenyataan besar. Ia telah menjadi gelombang. Aspek dunia digital selain produksi, yakni aspek

distribusi digital –yang tentu saja menyangkut aspek ekonomi sebuah karya—menjadi persoalan lain. Di satu sisi, internet menjadi artefak esensial dalam dunia baru ini. Sebagai contoh kecil tapi menggembirakan, beberapa komikus kita berhasil menembus pasar internasional, menjual keterampilan mereka ke negerinegeri maju, atas bantuan internet ini. Jika dulu, pada 1980an, hanya Teguh Santosa yang berhasil menembus Amerika, itupun setelah penerbit Marvel bersengaja berburu bakat ke Asia; kini, banyak komikus muda kita enteng saja menawarkan portofolio ke penerbit-penerbit asing melalui jalan tol dunia cyber.

9

Di sisi lain, kita ingat pergeseran mania dotcom menjadi dot-bomb antara akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Ternyata, banyak sekali hip seputar dot-economy tak lebih dari gelembung yang mudah pecah. Bagaimanakah kita mengantisipasi ini? Lagipula, jika kita tak bisa beranjak dari hanya mengolah proses produksi digital dan distribusi digital, bagaimana dengan aspek lain yang lebih mendasar dari janji-janji digital ini: bagaimana penjelajahan kita atas konsep digikomik (komik digital)? Marilah kita menyelami soal ini dalam diskusi kita kali ini.***


BLOGOSFER

http://pragatcomic.com/new/index. php?option=com_frontpage&Itemid=1

K

ali ini BLOGOSFER menurunkan sebagian kecil dari situs-situs Indonesia yang berbasis komik. Ada situs komunitas komik, ada situs berita komik (termasuk di dalamnya artikel komik) dan ada pula situs yang ngomik. Situs komik Indonesia jumlahnya sangat banyak. Ada yang aktif update, ada pula yang jarang update. Ada yang dibuat dengan serius, ada pula yang dibuat baru setengah jalan. Namun, membukai situs-situs komik ini terasa sangat mengasyikkan. Beragam ide, visualisasi, dan cerita terhampar sangat menarik. Situs-situs komik ini tidak saja menjadi “bacaan” yang perlu dan bergizi, mereka secara tidak langsung telah mendokumentasikan sekaligus merekam jejak dan kisah secuil perjalanan kita sebagai bagian dari warga “Indonesia”. Simaklah...

10

http://komikindonesia.com/


http://akademisamali.multiply.com/


http://komikpalsu.blogspot.com/

http://yellowteethcomic.multiply.com/

http://ngomik.com/


http://www.rokkicomic.com/starman/episode_01.html


http://klewang.multiply.com/


http://arixx.blogdetik.com/


GALERI KOLEKSI ARSIP KOMIK

Cover komik “Tersesat di Byzantium”

Surat 38 menurunkan sebagian kecil koleksi komik dari Rak Perpustakaan IVAA. Variasi jenis komiknya sangat beragam. Mulai dari komik sebagai cerita bergambar hingga komik sebagai karya seniman. Komik sebagai bahasa perjalanan hingga komik sebagai kajian. Komik sebagai ekspresi cerita atau biografi hingga komik sebagai media advokasi. Rupanya, ada begitu banyak jendela realitas dan pengetahuan yang terbuka, yang memungkinkan bisa dilihat dari komik. Mari, silakan berkunjung...

Cover komik “Lotif”, Beng Rahardian

Cov


Cover komik Daging Tumbuh “Hijau”

ver komik “Sekar Wangi”

Cover komik “Hidup Itu Indah”, Aji Prasetyo

Cover komik Daging Tumbuh


Cover komik Daging Tumbuh Cover komik Gusdur, Yoga Ad. Attarmizi. dkk

Cover komik “Antara Hak Kekayaan Intelektual dan Seni Tradisi�, Prof.DR Agus Sardjono


Cover komik “Awas Penguasa Tipu Rakyat”, Eko Prasetyo dan Terra Bajraghosa

Cover komik “Presiden vs Komik”, Daging Tumbuh

Cover komik “Dark May”

Cover komik “Damen Anak Punk”, Didoth dan Dem Nomorfan


Cover komik “Perjalanan”, CCF Cover komik Kebut, Komik Indonesia, IndiComic Hand Book

Cover komik “Karpet Biru”


Cover buku “The Complete Comic Strips”, Rodolphe Topffer

Cover komik “Comics, Comix & Graphic Novels”, Roger Sabin

Cover buku “over 50 years of American Comic Books”


IVAA: Penyedap Rasa yang Terkunci Pada Mata Yoshi Fajar Kresno Murti

Ilustrasi Drawing oleh Feri Pradigdo

22

A

pa yang dilihat mata merupakan penyedap rasa. Sejak manusia ada ia telah mengenal dan meracik bumbu dan bahan-bahan lainnya untuk dijadikan penyedap rasa. Penyedap rasa tidak saja memroduksi efek-efek rasa kenikmatan (pleasure), tetapi lebih dari itu, ia memroduksi efek-efek rasa pada sejarah manusia. Melalui kopi, teh, tembakau, candu, gula, merica, pala, dan rempah-rempah lainnya, orang-orang di daratan Eropa bergerak, terstimulasi hingga kemudian mengalami ‘sakau’ pada kolonisasi. Zaman sekarang, penyedap rasa terkunci pada mata. Melalui mata, kotakota baru direproduksi, barangbarang dikemas, dan tingkah laku disajikan. Lalu, banyak orang di pasar berteriak: “Anjrit, ketipu nih,... ternyata rasanya nggak seenak tampilannya!�


Indonesian Visual Art Archive (IVAA) hadir dalam konteks zaman “apa yang dilihat mata merupakan penyedap rasa�. Lebih jelas lagi dapat dikatakan, kehadiran IVAA berada pada konteks perkembangan budaya visual dan visual art. Kata visual art itulah yang menjadi jendela sekaligus fokus kerjanya. Kerja mendokumentasikan dan mencermati tidak saja pada bagaimana seni visual memroduksi efek-efek kenikmatan (estetika dan ekonomi), tetapi lebih dari itu, pada bagaimana seni visual memroduksi efek-efek pada budaya kontemporer masyarakat. Pun pula, IVAA lahir ketika seni visual (yang berarti seni rupa) semakin menjadi satu bidang pengetahuan dan praktik sosial tersendiri di dalam perkembangan masyarakat. Meskipun di dalam gerak perjalanannya, seni rupa (modern) sebagai satu bidang telah menunjukkan dirinya lahir sebagai bagian dari kelahiran dan perkembangan nation state Indonesia. Sejak kelompok Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia)

Foto Koleksi IVAA

sebelum kemerdekaan, lalu SIM (Seniman Indonesia Muda) yang eksis pada masa kemerdekaan, hingga generasi Seni Rupa Baru di masa pembangunan Orde Baru, semua menunjukkan seni rupa di Indonesia telah memroduksi efek-efek sosial budaya pada perkembangan masyarakat. Efekefek yang justru sangat mendasar bagi perkembangan budaya sebuah bangsa. Sebagai lembaga dokumentasi seni visual, IVAA ibarat juru

23

masak yang mengumpulkan bahan, meracik bumbu, mengolah dan menyajikannya kepada orangorang (melalui hasil kerja dan program kerjanya). Sebagai juru masak, ia harus kreatif untuk mengomposisikan penyedap rasa (dalam hal ini visual art) supaya mampu menstimulasi efekefek kenikmatan (dalam hal ini energi kreatif di sekitarnya) dan berdampak meluas (dalam hal ini pada pengetahuan dan praktik seni visual masyarakat).


Foto Koleksi IVAA

Sebagai lembaga dokumentasi seni visual, IVAA bisa dikatakan menjadi representasi perkem bangan budaya, selera dan rasa di negara bekas jajahan yang terus bergerak dan tidak pernah fiks, seperti Indonesia. Sebuah negara bangsa yang tidak pernah bisa menciptakan museumnya dengan benar, yang selalu terengahengah mengabstraksikan sejarah pengetahuannya, dan yang selalu punya siasat untuk mengacak-

acak tatanan fungsinya. Namun, pada semua itulah justru terletak energi kreatif orang-orangnya: membuat hidup (yang berat) menjadi hidup. Sebagai lembaga, IVAA seperti halnya lembagalembaga yang lainnya, juga tidak pernah secara fiks didefinisikan. Sebagai lembaga dokumentasi IVAA juga membangun komunitas, mempunyai jaringan dan melakukan movement (gerakan). Kadang-kadang ia bisa menjadi

24

museum, menjadi tempat pendidikan, tempat pameran, maupun tempat berdiskusi. Di dalamnya ada perpustakaannya, bisa ngenet sepuasnya, ada warung makannya, dan juga ada toko yang menjual barang pernakpernik. Begitulah... di IVAA ada banyak variasi rasa dan penyedap rasa yang muncul dari mata. Dari mata, rasa itu bisa menstimulasi apa saja, sekarang dan juga kelak, di masa yang akan datang.


Kerja: Dokumentasi – Mendidik - Menjelajah dari berbagai sumber dokumen IVAA (Indonesian Visual Art Archive) Setidaknya ada tiga hal kenapa orang tertarik kepada masa lalu: (1) Mandegnya keingintahuan sekaligus tercekam pada pesona tentang eksotika, (2) Sumber pengetahuan dan pencarian solidaritas akan “yang lain”, (3) Sebagai sarana untuk mendefinisikan identitas, meneguhkan batas-batas dan legitimasi... Tetapi, semua itu hanya ilusi! Sebab faktanya, masa lalu tidak lain sebuah reproduksi. (diinterpretasikan kembali dari kutipan artikel “Historical Narratives”, Peter Munz) Percaya atau tidak, pekerjaan mengumpulkan dokumen merupakan pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Selalu ada kemungkinan hal baru ditemukan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Dengan demikian, selalu ada kemungkinan hal baru tersebut didokumentasikan baik pada peristiwa yang terjadi di masa lalu, sekarang maupun masa depan. Kemungkinan tak terbatas

Foto Koleksi IVAA, Pameran Arsip “ Kawan-kawan Revolusi” dalam rangka Jogja Biennale 2009, Gedung Bank Indonesia, Yogyakarta

di IVAA ada banyak variasi rasa dan penyedap rasa yang muncul dari mata dari masalah dokumen dan dokumentasi ini mau tidak mau harus dibatasi dengan dasar-dasar konsepsi yang jelas. Konsepsi tersebut lahir dari keterlibatan secara intens dalam gerak hidup bermasyarakat secara terusmenerus untuk semakin jelas di dalam mengambil posisi diri di setiap konteks atau zaman-nya.

25

Kelahiran IVAA, yang diawali tahun 1995 hingga 2007 dengan nama Yayasan Seni Cemeti, sebagai lembaga dokumentasi seni visual Indonesia, secara khusus telah melengkapi keberadaan lembaga dokumentasi yang lain di Indonesia, seperti: Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin ataupun Pusat Perfileman


Foto Koleksi IVAA, Pameran Arsip “ Kawan-kawan Revolusi� dalam rangka Jogja Biennale 2009, Gedung Bank Indonesia, Yogyakarta

Haji Usmar Ismail. IVAA secara spesifik telah mengambil ranah seni rupa kontemporer sebagai dasar dokumentasinya. Kelahiran IVAA seolah menjadi tonggak hadirnya pengelolaan informasi, data, dokumen, maupun buku teks mengenai wacana dan praktik seni rupa Indonesia yang terlembagakan. Perkembangannya kemudian, keberadaan IVAA bahkan didorong menjadi ruang dan tempat persemaian gagasan-

gagasan kontemporer dalam kehidupan bermasyarakat melalui jendela seni visual. Dengan demikian IVAA tidak hanya menjadi fasilitator informasi dan dokumentasi seni visual untuk masyarakat, tetapi juga melakukan gerakan pendidikan dalam hidup bermasyarakat. Hal ini dioperasikan melalui berbagai program kerja IVAA, seperti: seri penelitian, pertukaran peneliti dan residensi, penerbitan, 26

kursus menulis, pameran arsip, workshop, seminar, dll. Sesuai dengan visi IVAA, setiap program kerja IVAA selalu mengandung 3 hal, yaitu: documenting, exploring, educating. Sampai saat ini IVAA sedang membangun dan terus menyempurnakan IVAA Digital Database and Information Centre. Melalui situsnya di www. ivaa-online.org, IVAA semakin menegaskan dirinya sebagai


lembaga penyedia informasi dan database digital mengenai seni visual Indonesia yang bersifat terbuka, sistematis dan mudah diakses. Pada Bulan Agustus 2009 IVAA Online Archive diluncurkan di Jakarta, dan mendapat tanggapan dan kerjasama yang luas – tidak saja dari kalangan dunia seni rupa, tetapi juga akademisi bahkan pemerintah. Selain Online Archive, IVAA juga telah mulai membangun Perpustakaan Online yang integral. Informasi perpustakaan - tidak saja mengenai informasi koleksi dan informasi kegiatan perpustakaan, tetapi juga wacana terbaru mengenai seni visual dari sudut pandang referensi dan database – secara cepat dan sistematis akan bisa diakses dan tersebar kepada setiap orang dimanapun ia berada. IVAA juga sedang membangun sistem lokal Online Video Archive. Dengan sistem ini IVAA diharapkan dapat menjadi pusat database video seni visual yang bisa dikreasi secara mandiri oleh komunitas penggunanya.

pekerjaan mengumpulkan dokumen merupakan pekerjaan yang tidak akan pernah selesai Melalui berbagai media kerjanya (seri penelitian, penerbitan, forum diskusi, perpustakaan, workshop, warung, pameran, toko, dll), dan melalui jalinan kerjasama dengan berbagai kalangan (seniman, akademisi, pemerintah, aktivis, komunitas-komunitas anak muda, dll), IVAA telah 27

memiliki modal sosial-budaya yang dikenal luas kompetensinya di bidang seni visual, terutama di Kota Yogyakarta, Jakarta dan Bandung. Melalui media reguler kelas menulis kreatif AKSARA dan Bulletin SURAT yang secara rutin dikerjakan IVAA, telah mampu membangun komunitas partisipan dan jaringan audience yang luas.


Foto Koleksi IVAA, Pameran Arsip “ Sanggar Bumi Tarung�, Indonesian Visual Art Archive, Bentara Budaya Yogyakarta, Oktober 2008

Melalui berbagai macam saluran, kerja dan mitra yang telah terjalin selama satu dasawarsa lebih, penyebarluasan ide-ide inspiratif, pengetahuan kritis dan kerja-kerja inovatif IVAA yang berbasis pada seni visual telah dijalankan selama ini. Hal ini terlihat dalam inovasi-inovasi yang dilakukan IVAA misalnya di dalam penyelenggaraan pameran arsip. Bagaimana menyajikan, mengolah, mendekatkan, bahkan mengkritisi arsip dan 28

dokumen seni visual dalam sebuah perhelatan event yang hidup, yang membuka ruang interaksi dengan wacana dan gagasan audiences yang datang, merupakan kerja yang menantang. Pameran arsip Sanggar Bumi Tarung di Bentara Budaya Yogyakarta Bulan Oktober 2008, Pameran iClick. IVAA di Galeri Nasional di Bulan Agustus 2009, Pameran Arsip Biennale Yogya I-X dan Kawankawan Revolusi: Yogyakarta circa 1940-60 di Gedung Bank Indonesia Yogyakarta pada Bulan Desember 2009, merupakan beberapa program ekplorasi dan eksperimentasi pameran arsip IVAA. Dengan demikian, kerja-kerja IVAA baik sebagai lembaga dokumentasi maupun sebagai lembaga riset seni visual, pada akhirnya bermuara pada semangat pendidikan, yaitu bersama-sama menggunakan seni visual sebagai sarana ekspresi, refleksi dan analisa budaya kontemporer dalam masyarakat, bolak-balik antara masa lalu, sekarang dan yang akan datang.


Pameran Arsip IVAA: Media dan Masa Depan Yoshi Fajar Kresno Murti dari interpretasi Diskusi Farah Wardani

15 tahun lebih IVAA telah bergelut dengan arsip-arsip seni visual: mengumpulkan, melacak, memelihara, dan membacanya Ini cerita mengenai pameran arsip. Salah satu kerja IVAA yang sungguh menarik. Pada pameran arsip terletak arsiparsip, produk, maupun peristiwa (event). Bagaimana mengkreasi pameran arsip sebagai produk dan peristiwa?

Pertama-tama, arsip memang harus dikumpulkan, dilacak, dipelihara dan dibaca. Karya seni bisa berharga selangit, bisa juga tak akan dihargai. Namun, ketika karya seni atau apapun menjadi arsip, maka ia akan selalu berharga. Berharga untuk dibuka 29

kembali. Di baca ulang, tak berhenti. Kerja mengumpulkan, melacak dan memelihara arsip serta membacanya merupakan kerja mengkreasi arsip menjadi dokumentasi. Apalagi dokumentasi seni visual Indonesia, bukanlah kerja yang main-main. 15 tahun lebih IVAA telah bergelut dengan arsip-arsip seni visual: mengumpulkan, melacak, memelihara, dan membacanya. Kreasi dokumentasinya bisa dilihat, dibaca, dan ditelusuri di perpustakaannya maupun tersedia secara online, www.onlinearchive.org. Selanjutnya, dari koleksi dokumentasi IVAA, dibuatlah pameran arsip. Pameran bisa diselenggarakan dimana saja. Di kebun atau halaman, di warung, di perpustakan, di galeri, di gedung kesenian, ruang kelas, lorong atau gang, gedung tua, dan lain sebagainya. Format pameran bisa kecil-kecilan, bisa juga skala besar. Kerja mengkreasi pameran, tidak sama dengan kerja mendisplay arsip. Beda dengan


Ilustrasi Komik oleh Sunardi


Foto Koleksi IVAA

museum atau pusat layanan arsip. Pameran arsip mendatangi dan mengajak partisipasi pengunjung. Dalam mengkreasi pameran arsip, banyak sisi dan bidang yang diperhatikan. Misalnya, ia harus bisa menghibur dan rekreatif. Tidak monoton. Selain soal pelestarian dan reklasifikasi hasil pembacaan arsip, pameran arsip dapat dikatakan merupakan presentasi audiovisual. Maka, diperhatikan pula soal artistik, sekaligus edukatif. Ia juga menampilkan perspektif dan metode dari penyelenggara pameran arsip dan ditawarkan kepada pengunjung. Pengunjung

idak saja disuguhi oleh pengetahuan yang disusun dari arsip-arsip, tetapi mereka juga diajak untuk berkomunikasi dan mengkritisinya. Selama ini IVAA telah mengkreasi beberapa pameran arsipnya. Diturunkan dari koleksi dokumentasi IVAA selama ini, sebuah pameran arsip bagi IVAA juga merupakan siklus untuk mengumpulkan, melacak, memelihara dan membaca kembali arsip dan dokumentasinya. Dengan demikian, arsip menjadi hidup. Ia menjadi media. Media untuk apa saja. Dan, sesuai bidang yang 31

digeluti IVAA, sebuah pameran arsip juga menjadi momen untuk mengaitkan praktik sosial seni rupa dengan perkembangan sosial yang terjadi di masyarakat. Bagaimana arsip seni rupa menjadi refleksi perkembangan budaya masyarakat sekaligus prediksi perkembangan kebudayaannya. Itulah yang telah dicoba IVAA dalam mengerjakan pameran arsipnya. Barangkali di tahun 2050 nanti, IVAA akan membuat pameran arsip dari pameranpameran arsipnya selama ini dan yang akan datang. Bagaimana itu dikreasikan dan dibaca kembali?


BAGAIMANA MEREKA DAN KITA MEWARTA SENI VISUAL? Review Diskusi Peluncuran E-Surat Jagad seni visual dibangun di atas jaringan. Jaringan tersebut dibangun oleh seniman, kolektor, pengelola ruang dan kegiatan seni, kurator, termasuk peneliti dan penulis seni. Di dalamnya, mengalir arus informasi, berbagai kabar, dan pengetahuan kesenian. Kabarkabar kesenian disebarluaskan melalui bermacam media dan sarana, mulai dari media tercetak hingga yang on-line, baik sarana yang bersifat publikatif maupun kreatif. Pentingnya media dan informasi telah semakin disadari oleh komunitaskomunitas seni di Yogyakarta. Persoalan inilah yang diangkat sebagai tajuk diskusi publik peluncuran jurnal E-Surat. Bagaimana mengelola kabar-kabar kesenian, terutama seni visual, supaya terwartakan secara meluas sekaligus tetap traceable1? 1 Traceable dipilih sebagai istilah yang ringkas untuk menyatakan bahwa kabarkabar tersebut seperti memiliki “rekam jejak� sehingga dapat didokumentasi atau diarsipkan.

Foto Koleksi IVAA

32


I

ndonesian Visual Art Archive (IVAA) “merayakan” peluncuran edisi elektronik dari jurnal Surat dengan menggelar sebuah diskusi publik. Diselenggarakan di perpustakaan IVAA pada Jumat sore, 18 Juni 2010 pukul 16.00 WIB, diskusi publik ini diberi tema “Seni Visual: Tekstualitas dan Informasi”. Tema tersebut sama dengan tema E-Surat volume 37 yang diluncurkan sore itu. IVAA mengundang tiga orang pembicara: Heri Pemad (Heri Pemad Art Management), Putu Sutawijaya (Sangkring Art Space), dan Titarubi (Indonesian Contemporary Art Network). Suluh Pratitasari (Regol Magazine) diundang pula untuk menanggapi dan melengkapi uraian ketiga pembicara. Bersama moderator Agung Kurniawan dan pewara Ferial Afiff, forum membahas pemanfaatan dan pengelolaan media dalam pewartaan seni visual di Yogyakarta. KOMUNIKASI DAN INFORMASI Heri Pemad mengawali pembicaraan dengan sharing

Foto Koleksi IVAA. Dari kiri ke kanan: Putu Sutawijaya, Heri Pemad, Ferial Afiff

mengenai keprihatinannya. Pada tahun 2006 di Yogyakarta, Pemad mendapati kepincangan dalam perkembangan jagad seni visual. Jumlah galeri dan kurator menurun, berbanding terbalik dengan bertambah banyaknya seniman yang muncul di kota ini. Komunikasi antara seniman dengan galeri, pun dengan kurator, tidak begitu erat. Pengelola event seni dan kurator seolah bersikap tertutup pada seniman. Situasi demikian membuat penyebaran kabar-kabar kesenian kurang merata.

33

Keprihatinan atas situasi tersebut membentuk keberpihakan Pemad pada seniman. Baginya, senimanlah mata rantai utama dalam jaringan yang menyusun jagad kesenian. Ia, dalam pekerjaannya sebagai art manager independen, memberi prioritas pada seniman dengan memilih metode komunikasi secara langsung dengan seniman-seniman yang berjejaring dengannya. Lewat komunikasi langsunglah Pemad mampu menghadirkan ruang rasa untuk menghubungkan


kerja manajerial Heri Pemad Art Management dengan banyak seniman Yogyakarta. Proses berinteraksi dan berdialog secara langsung dan nyata (!) membawa Pemad tidak saja pada semangat, pencerahan, tetapi juga mengenal mentalitas, gaya hidup, gaya berkarya, hingga gaya bicara seniman. Dari antara pencerahan yang diperolehnya, Pemad sampai pada keyakinan bahwa semua kesulitan bisa terjawab dalam ruang komunikasi langsung, ruang rasa. Ketika komunikasi dan pertukaran informasi memang diarahkan kepada seniman (kreator), komunikasi langsung sangat ideal dilakukan. Kesempatan untuk mengenal secara personal dan menjadi lebih memahami seniman bersangkutan lebih mudah diraih. Tetapi, ketika sasaran komunikasi diperluas menjadi publik seni visual, misalnya spektator pameran (reseptor), mesti ditemukan cara dan media yang lebih sesuai. Mengupayakan proses komunikasi secara langsung dengan spektator

Cover Surat, Foto Koleksi IVAA

34


pameran, umpamanya, tidak efisien untuk dilakukan meskipun, bisa jadi, efektif. Sebagai salah satu mata rantai jejaring dalam jagad seni visual, Sangkring Art Space mengabarkan kegiatan-kegiatan keseniannya melalui newsletter Sangkring Art Review. Terbitan berkala ini berfungsi baik sebagai review setelah event maupun sebagai katalog pameran. Bagi spektator pameran, Sangkring Art Review menjalankan fungsi publikatifnya, yakni memberitakan Sangkring Art Space. Bagi redaksinya sendiri, Sangkring Art Review adalah ruang dan kesempatan untuk belajar merekam (mendokumentasi) dan menyebar luaskan kabar-kabar seni visual dari Sangkring Art Space kepada publik. Melalui media tercetak, Sangkring Art Space menjadi bagian dari perputaran informasi di dunia seni visual. MEDIA Media tercetak tidak selalu berupa terbitan berkala. Buku pun, seperti yang dikerjakan

Foto Koleksi IVAA

oleh Indonesian Contemporary Art Network (iCan), adalah media untuk transfer informasi (baca: pengetahuan) serta upaya edukasi. Buku-buku yang diterbitkan iCan adalah bukubuku terjemahan, dirancang berseri dan berukuran handy supaya siapa pun tergerak untuk membaca buku-buku seni visual dengan cara yang menyenangkan (fun). Informasi dan pengetahuan dalam bukubuku tersebut disebarluaskan iCan tidak saja di kota-kota yang menjadi pusat akses informasi

35

Pemad sampai pada keyakinan bahwa semua kesulitan bisa terjawab dalam ruang komunikasi langsung, ruang rasa


Cover Surat, Foto Koleksi IVAA

Kerja mendigitalkan informasi-informasi seni visual pun dilakoni agar proses berbagi pengetahuan boleh berjangkauan seluas-luasnya, bahkan sampai ke taraf internasional

kesenian seperti Yogyakarta,

mempermudah seseorang untuk

Jakarta, Bandung, tetapi sampai ke tingkat daerah seperti Malang, Sumenep, Purwokerto. Pendiri iCan, Titarubi, memilih kotakota kecil sebagai sasaran sebab ia melihat adanya kesulitan distribusi buku dan informasi untuk mencapai kota-kota kecil. Kerja mendigitalkan informasiinformasi seni visual pun dilakoni agar proses berbagi pengetahuan boleh berjangkauan seluasluasnya, bahkan sampai ke taraf internasional. Titarubi mengakui bahwa sistem informasi on-line

berjejaring, untuk membangun koneksi. Maka, dengan berjejaring dan menerbitkan buku-buku seni visual, iCan telah mendorong pekerja-pekerja seni visual untuk mencapai tataran intelektual, tidak terpaku hanya pada tingkat teknis. Di samping menerbitkan buku, iCan bergerak di aras penggarap an proses-proses kreatif yang, kendati multidisiplin, tetap berfokus pada seni visual. Prosesproses kreatif tersebut diwadahi dalam Work in Progress (Wips).

36


iCan merangkul seniman-seniman yang bergabung dengan Wips untuk proses berdiskusi intens serta bekerja kreatif. “Kami menawarkan kepada senimanseniman, di tengah pekerjaan mereka, untuk menjelaskan konsep karya mereka. Kami kemudian mendiskusikannya. Kami membatasi hanya untuk 15 orang sehingga lebih intens untuk membahas persoalan bagaimana membuat konsep, bagaimana merumuskannya, dan juga bagaimana mengkritiknya. Mengkritik diri sendiri, mengkritik teman sehingga budaya kritik tidak jatuh pada memusuhi atau mau menjatuhkan,� demikian jelas Titarubi bahwa jejaringnya dengan para seniman ini diarahkan untuk menginternalisasi praktik dan budaya kritik yang sehat sekaligus membangun. Selangkah dengan Wips iCan, Putu Sutawijaya menggagas sebuah project room untuk seniman. Project room bersifat mengakomodasi dan memfasilitasi kegiatan seni dan seniman yang berkarya progresif.

Foto Koleksi IVAA, Suasana Ngobrol bersama IVAA

Wips dan project room menyediakan ruang, waktu, dan kesempatan sehingga seniman mempunyai tempat untuk mewarta. Mewarta tidak melulu publikatif, bukan saja dengan jurnal, katalog, ataupun newsletter, tetapi juga secara kreatif. Demikianlah proyek seni menampilkan seni visual secara berbeda. Dan baik di tangan penyelenggara ruang seni maupun di tangan seniman sendiri, proyek seni menjadi sarana berinteraksi, berkomunikasi, dan menyebarluaskan informasi.

37

...jelas Titarubi bahwa jejaringnya dengan para seniman ini diarahkan untuk menginternalisasi praktik dan budaya kritik yang sehat sekaligus membangun


Foto Koleksi IVAA, Suasana Pameran iClick IVAA, 19-26 Agustus 2009, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Apa pun bentuk dan sifat sarana mewarta yang dimanfaatkan, lebih penting lagi menetapkan sasaran yang konkret untuk pewartaan itu. Jika tidak, media tersebut akan dibayang-bayangi hambatan dalam distribusinya. Inilah yang patut dipelajari dari pengalaman Suluh Pratitasari mengerjakan media. Semasa mengerjakan media cetak untuk sebuah perusahaan telekomunikasi, ia melihat bahwa konsumen yang disasar oleh perusahaan tersebut telah ditetapkan secara jelas. Di

sisi lain, sebagai pemilik Regol Magazine, ia mesti menghadapi

antusias. Redaksinya pernah menghadapi permintaan agar

pertanyaan bagaimana agar majalahnya sampai ke tangan pembaca yang ia inginkan. Pratitasari mengungkapkan, “Media yang diterbitkan oleh company client saya itu jelas distribusinya, yakni kepada customer—customer dengan beberapa segmen—dan kepada agen mereka. Entah dibaca entah tidak, sesampainya media itu ke tangan mereka, itu jelas pendistribusiannya. Nah, ketika menerbitkan media sendiri [Regol Magazine], saya merasakan kesulitan mendistribusikan supaya [majalah] ini bisa dibaca oleh yang kami inginkan. Karena [majalah] ini tentang Yogyakarta, setidaknya ini dibaca oleh [orang-orang] yang datang ke Yogyakarta. Waktu itu, saya sempat bekerja sama dengan sejumlah hotel, soal distribusi.� Ini menandakan bahwa untuk mewarta, jejaring sungguh penting. Regol Magazine bukan tidak disambut pembaca dengan

Regol terbit dengan dwibahasa, Indonesia dan Inggris. Jika pengalaman Regol ini dibaca secara cerdas dan meluas, terasalah betapa signifikannya bahasa dalam perputaran informasi yang global. Ini pula yang dapat menjadi salah satu jawaban bagi niat Titarubi agar iCan menjangkau dunia internasional. Ketika pemilik informasi mampu mewarta dalam bahasa yang internasional, pintu menuju dunia global telah terbuka baginya.

38

MENJADI ONLINE Di tengah rupa-rupa media seni yang kini begitu bervariasi, ada banyak seniman yang resah. Tidak kunjung ada media cetak yang, secara terpusat, mengelola agenda seluruh kegiatan seni di kota Yogyakarta. Kompas mencoba memberi perhatian pada pengagendaan semacam ini. Namun, hasilnya masih belum komprehensif sebab agenda Kompas melewatkan


event-event yang berskala tidak-besar. Mau tidak mau, publik laiknya dihadapkan pada tumpuk-menumpuk event kesenian. Waktu pelaksanaannya bersamaan, tetapi lokasi dan penyelenggaranya berlainan. Di balik situasi di atas, ternyata terdapat ketidakcocokan metode kerja antara redaksi media cetak dengan komunitas seni. Media cetak berdenyut senantiasa dalam nama tenggat. Di sisi lain, sebagian besar komunitas seni di Yogyakarta cenderung tidak pasti soal perencanaan waktu pelaksanaan event seni mereka. Alhasil, publikasi event komunitas seni selalu ketinggalan derap media cetak. Karenanya, komunitas seni mesti memberitakan sendiri event mereka meski baru sesaat sebelum penyelenggaraannya. Perubahan informasi secara mendadak selalu mungkin terjadi. Pada saat-saat seperti itu, komunitas seni memerlukan sarana komunikasi yang instan sekaligus berjangkauan luas. Maka itu, mereka memanfaatkan

internet. Dengan menjadi on-line, informasi bisa cepat berganti. Media cetak tidak mampu menjadi secepat itu. Sehubungan dengan hal ini, Heri Pemad mempunyai pendapat berbeda. Menurutnya, ketika komunikasi beralih on-line, ruang rasa tereduksi. Mengamati secara langsung suatu karya seni akan memberi makna yang jauh lebih detail, lebih mendalam. Pengamatan langsung, seperti komunikasi langsung, membangkitkan persepsi dan impresi yang berbeda dibanding melihat foto karya, entah tercetak ataupun terunggah ke situs internet. Di tengah-tengah komunitas seniman, konsistensi Pemad untuk komunikasi langsung tentu menempatkannya pada disposisi yang patut dihargai. Kendatipun demikian, menjadi on-line tidak berarti serta-merta menjadi penuh kekurangan. Seperti pada E-Surat, ciri khas kerja media cetak yang serius, sistematis, dan traceable bisa dipertahankan. Kebermaknaan informasinya pun tidak perlu

39

Foto Koleksi IVAA, Suasana Open House IVAA

menjadi berkurang. IVAA sudah membuat langkah untuk meminimalisasi pendangkalan persepsi dan impresi yang membayang-bayangi jurnal on-line-nya. Dengan memilih perangkat lunak tertentu untuk akses E-Surat, IVAA menetapkan siapa sasaran penerima olahan informasinya. Sebagai olahan itu, boleh jadi E-Surat akan membangkitkan persepsi dan impresinya sendiri di antara pembaca. Mari merasakannya! Catatan oleh: Rosa Sekar Mangalandum


OBROLAN AHISTORIS DAN OBROLAN SUBVERSIF

IKONOGRAFI DAN KONTEKS HISTORIS DALAM BUDAYA MENG-KOPI

PRESENTASI-DISKUSI COLIN CAHILL Catatan oleh Rosa Sekar Mangalandum

“Saya lewat sebuah pasar terus ada ibu-ibu pakai kaus “Nirvana” Kurt Cobain terus tulisannya I hate myself and I want to die. Saya merasa, kecil kemungkinannya ibu itu membenci hidupnya dan ingin mati saat itu juga karena dia bawa belanjaan.” Pengalaman tersebut diceritakan Dina, salah seorang peserta diskusi, untuk menanggapi presentasi Colin Cahill pada Kamis sore, 15 Juli 2010 di Warung Mbak Iva, IVAA. Foto Koleksi Colin Cahill


Foto Koleksi IVAA, Suasana ngobrol bersama IVAA

C

olin Cahill mempelajari antropologi di Haverford University, Pennsylvania, Amerika Serikat. Tahun ini, ia menjadi Fulbright Research Fellow untuk masa 10 bulan (hingga Agustus 2010). Ia meneliti di Yogyakarta dengan Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP), Universitas Sanata Dharma sebagai local host. Sebelum mengakhiri masa tinggalnya di kota ini, Cahill bekerja sama Indonesian Visual Art Archive (IVAA) mempresentasikan penelitiannya ke hadapan publik bersama seorang penanggap, Alit Ambara.

DISTRO DAN SENI JALANAN Presentasi yang dibawakan Cahill menuai tanggapan ramai dari audiens. Berjudul “Iconography and Violence: the Value of Historical Context in Copy Culture”1, presentasi Cahill merupakan sebagian dari sebuah penelitian yang lebih luas, yang bertopik seni jalanan (street art), konsepsi ruang publik, dan praktik demokrasi di Kota Yogyakarta. Dalam presentasinya, yang dimunculkan Cahill sebagai permasalahan utama yaitu tampilnya wajah Adolf Hitler di atas banyak kaus distro di Yogyakarta. Dengan mendudukkan

41

Jangan-jangan penggunaan gambar wajah Hitler di atas kaus-kaus distro itu telah menjadi ahistoris. “Ikonografi dan Kekerasan: Nilai Konteks Kesejarahan dalam Budaya Menjiplak” 1


Foto Koleksi IVAA, Suasana Nobrol bersama IVAA

Di Bandung, distro dilahirkan dengan sikap sinis pada segala hasil desain yang tidak kreatif, tidak orisinal, tidak dibuat oleh tangan perancangnya sendiri. Ilham Khoiri, “Mencari Jalan Tengah�, rubrik Seni, Kompas edisi Minggu, 25 Juli 2010. 2

fenomena tersebut sebagai salah satu praktik menjiplak (copying), Cahill lalu mempertanyakan nilai kesejarahan di balik kauskaus Hitler itu. Jangan-jangan penggunaan gambar wajah Hitler di atas kaus-kaus distro itu telah menjadi ahistoris. Walau tidak satu kali pun disinggung Cahill ketika berpresentasi, seni jalanan dan distro punya sejarah. Sejarah awal seni jalanan bermula dari pemberontakan terhadap praktik seni elitis yang dimapankan di galeri atau museum. Pasar dihindari karena cengkeramannya semakin kuat mengarahkan

42

selera seni dan bisa memiskinkan kreativitas. Para seniman jalanan berusaha menumbuhkan praktik seni rupa yang lebih bebas dan menyempal dari arus utama.2 Di Yogyakarta, seni jalanan telah menjadi bagian dari ruangruang kota. Lihatlah grafiti di jembatan Kali Code dan mural di balik lapangan SMA Negeri 3 Padmanaba. Dalam asalmuasalnya untuk memberontak cengkeraman pasar dan kemiskinan kreativitas, distro sejalur dengan seni jalanan. Yogyakarta “mengadopsi� distro dari Bandung. Di Bandung, distro dilahirkan dengan sikap sinis pada


Foto Koleksi Colin Cahill

segala hasil desain yang tidak kreatif, tidak orisinal, tidak dibuat oleh tangan perancangnya sendiri. Sesampainya di Yogyakarta, distro bertahan dengan desain yang “lebih bebas dan menyempal dari arus utama”, misalnya arus desain produk pabrik konveksi atau pusat perbelanjaan (department store). Tetapi, yang dilihat Cahill adalah bahwa baik seni jalanan (yang karyanya memang di jalanjalan) maupun distro sama-sama memanfaatkan ikon. Ikon yang bermacam-macam. Cahill memandang wajah Hitler yang muncul di atas kaus sebagai ikon yang diangkat

distro di Yogyakarta. Ia datang ke dan menemukan banyak kaus berikon Adolf Hitler—wajah Hitler, kumisnya yang khas, posenya, simbol swastika partainya (Partai Nazi). Bagi mereka, melihat Hitler ada pada kaus distro menimbulkan perasaan tidak aman, mengingatkan akan kejahatan genosida yang di masa lalu didalangi Hitler atas kaum Yahudi. “Dari sejarah, dari cerita-cerita, dari film-film, kami bisa menginterpretasikan ikon [Hitler]. Jadi, fungsi sejarah itu adalah memberi konteks untuk menginterpretasikan gambaran,” papar Cahill. Tetapi, sejauh yang diteliti Cahill, orang-orang yang bekerja di distro tidak memahami perasaan tidak aman yang datang pada kawan-kawan Yahudi Cahill. Mereka tidak mengenal Hitler dalam konteks kesejarahan. “Saya sudah ada percakapan dengan orang yang bekerja di

distro dan mereka bilang, ‘Oh ya, saya tidak tahu dia (Hitler) siapa, tapi dia mirip satu orang komedi (pelawak). Saya melihat di televisi,’ atau, ‘Dia hanya lucu karena moustache3-nya aneh.’” Di sini, tampaknya pengetahuan sejarah para pekerja distro sudah luntur dan Cahill mencurigai bahwa budaya menjiplaklah penyebabnya. Apabila membuat jiplakan (copy) wajah Hitler telah demikian mudah untuk dilakukan, arti kesejarahan tiap copy telah berkurang banyak sekali. Cahill pun merumuskan pertanyaannya, “Apakah lebih mudah membuat kaus-kaus yang ada gambaran “keras” dalam budaya fotokopi (copy culture), karena bisa mengambil gambaran-gambaran tanpa pikiran tentang konteks atau tentang isi, tetapi hanya tentang estetika?” Bagi Cahill yang mempunyai banyak kawan berkebangsaan Yahudi, kaus berikon Hitler dan

‘Oh ya, saya tidak tahu dia (Hitler) siapa, tapi dia mirip satu orang komedi (pelawak). 43


Nazi merupakan “a maniacal call for the eradication of the Jewish religion and race”4. Demikian ia mengungkapkan dalam ringkasan topik presentasinya. Ia mengumpamakan gambaran yang anti-PKI dengan yang anti-Yahudi sebagai sama-sama memberi perasaan marjinal bagi kelompok minoritas yang bersangkutan. Karena itu, Cahill merasa perlu bersikap kritis terhadap mengikonnya Hitler pada kaus distro. Ia mempertanyakan bagaimana halnya dengan ikon polisi pada sampul Tempo “Rekening Gendut Perwira Polisi” edisi 28 Juni-4 Juli 2010. Di Indonesia, ikon itu menuai kritik dari pihak tertentu, maka Cahil bertanya, “Kenapa orang seperti ini bisa mengkritik gambaran atau kenapa mereka mereka mengkritik gambaran dan kenapa orang lain tidak bisa?”

kumis ‘seruan maniak agar bangsa dan agama Yahudi dibasmi’ 3 4

44


KONTEKS KESEJARAHAN DAN MASALAH SUDUT PANDANG Sebelum digulirkan ke antara audiens, presentasi Cahill ditanggapi dahulu oleh Alit Ambara. Serang aktivis budaya dan seniman rupa, Ambara berperan sebagai penanggap untuk acara sore itu. Ia mengkritisi kelemahan orang Indonesia dewasa ini, yakni tercerabut dari dan lupa pada sejarah. Maka itu, ketika mengenakan kaus berikon entah Adolf Hitler ataupun kelompok musik Nirvana, orang gagal menangkap dan mengetahui konteks kesearahan di balik gambar dan tulisan itu. Banyak orang pernah melihat wajah Adolf Hitler dalam gambar. Adapun wajah itu mungkin orang cepat menandai kemiripan kumis Hitler dengan kumis pelawak Jojon dan Charlie Chaplin. Meskipun demikian, lebih sedikit yang tahu tentang Nazi, partai sosialis nasional yang dipimpin Hitler pada rentang tahun 19211945 di Jerman. Lebih sedikit pula yang menyadari bahwa

Foto oleh Prophagraphic Movement

pengaruh sosialisme Jerman sempat merambah Belanda, sementara pada saat itu terjadi, Belanda menjajah Indonesia. Fakta yang dikemukakan Ambara ini menunjukkan jejak salah satu saluran masuknya wacana dan gerakan sosialisme ke Indonesia dalam masa-masa pra-Perang Dunia II. Terbilang dua dekade seusai Perang Dunia II, sosialisme menjadi “alergi” bagi penguasa di Indonesia. Seumpama saja para desainer, pedagang, dan pemakai kaus distro bergambar Hitler ikut menyimak tanggapan Ambara, kira-kira apa yang akan mereka pikirkan tentang kaus tersebut? Dalam termin diskusi, dua pokok pembahasan yang muncul

45

adalah keadaan ahistoris dan pemakaian istilah subversif. Soal keadaan ahistoris ini, dipertanyakan apakah memng di Indonesia tokoh Hitler telah “kehilangan” konteks kesejarahannya. Konteks kesejarahan yang dimaksud tentulah yang bersumber dari sejarah Barat. Namun, benarkah kehilangan konteks kesejarahan atau justru mempunyai sejarah tersendiri bagi Indonesia? Mengenai istilah subversif itu pun kurang lebih sama. Apakah topik Cahill subversif dari sudut pandang Indonesia juga ataukah hanya dari sudut pandang Barat? Bukankah perspektif Barat yang menganggap “tabu” Hitler?


Meskipun banyak orang pendukung kebudayaan distro (pendesain kaus, pedagangnya, pembeli, dan pemakai kaus-kaus tersebut) tidak mengeti konteks historis, seperti yang tersirat dalam pengalaman Dina, distro itu sendiri mempunyai sejarah kelahiran, pertumbuhan, dan persebarannya. Sejarah distro dengan desain kausnya yang tidakmainstream inilah yang tidak dituliskan Cahill. Karena sejarah distro tidak disinggung, forum pun tidak sampai pada konteks historis yang ada di balik praktik pengkopian, padahal ini menjadi bagian dari judul presentasi. Lebih dalam lagi, Cahill luput dari memetakan bagaimana sejarah Indonesia (sejak dekade ‘50-an, masa Soeharto) memandang Adolf Hitler. Antropolog Chris Brown yang pada sore itu duduk di antara audiens mendapati kelemahan tersebut. Karenanya, ia mengkritik, “Istilah ahistoris mungkin kurang tepat, Yang ahistoris adalah presentasinya, bukan penggunaan wajah Hitler. [...] Pada umumnya,

sejarahnya selalu ada. Jadi, tidak ada yang ahistoris. Kita harus cari sejarahnya yang relevan saja.” Pada hemat Brown, segala sesuatu yang berkarakter kuat memancarkan daya tarik tersendiri. Di Indonesia pada tahun-tahun 1950-a, Hitler dipandang sebagai sosok pimpinan negara yang kuat. Soekarno memujinya karena sanggup menyatukan Jerman yang pada masa itu dilanda kehancuran. Berdasarkan itu, terpahamilah bahwa Indonesia sesungguhnya tidak asing dengan Hitler sejak dulu. Citra Hitler di Indonesia berbeda dari citra Hitler yang masih saja “tabu” dalam kacamata sejarah Barat. Di samping itu, subversif bagi Cahill dan subversif bagi audiens merupakan persoalan sudut pandang yang berbeda. Meski mengakui bahwa kata subversif bukanlah term pilihannya sendiri, yang subversif bagi Cahill rupanya adalah jika orang-orang mengenakan kaus bergambar Hitler. Ketika “ditodong” dengan pertanyaan, “Would you wear a

46

T-shirt with Hitler’s face on it?”5, Cahill berkata tidak. Menurutnya, mengenakan kaus bergambar Hitler sama seperti memberi dukungan pada diktator Jerman, pada pembantaian terhadap bangsa dan agama Yahudi. Suara yang berbeda datang dari audiens. Di Indonesia, yang dinamakan subversif bukanlah mengenakan kaus bergambar Hitler atau Nazi. Kaus bertuliskan singkatan PKI (Partai Kaus Indonesia) atau mungkin bergambar D. N. Aidit barulah subversif. Berkaca pada ramainya tanggapan untuk presentasi


Foto oleh Prophagraphic Movement

“Iconography and Violence: the Value of Historical Context in Copy Culture”, pembahasan Cahill benar-benar membutuhkan pengayaan, terutama pada bagian menuliskan sejarah yang relevan dengan topik penelitiannya. Jika sejarahnya tidak dituliskan, bagaimana persoalan ahistoris dan subversif itu akan terjawab dan terpahami? Pada presentasi sore itu, tertinggal kesan seakan Cahill melemparkan dua rumusan pertanyaan yang belum selesai ia jawab sendiri. Dina agaknya menyadari hal tersebut. “Apakah penelitianmu sudah selesai?” tanyanya kepada Cahill.

5 Apakah Anda sendiri mau mengenakan kaus bergambar wajah Hitler?

47


Sepanjang tahun 2010 IVAA telah menjadi host institution dari beberapa orang peneliti dan menjadi institusi yang melakukan inisiasi program pertukaran peneliti. Sebuah kerja yang semakin memantapkan IVAA untuk menjadikan databasedokumentasi dan dinamika perkembangan seni visual sebagai jendela untuk melihat perkembangan masyarakat.

IVAA RESEARCHERS

EXCHANGE PROGRAM 2010


Wulan Dirgantoro Sejak Juni hingga Agustus 2010, IVAA kedatangan seorang peneliti yang saat ini sedang menyusun disertasinya untuk School of Asian Languages and Studies, University of Tasmania. Wulan Dirgantoro, salah satu kontributor untuk buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens, (bersama Farah Wardani dan Carla Bianpoen), kali ini memresentasikan temuan-temuan awal dari disertasinya mengenai “strategi alternatif membaca isu gender dalam seni visual”

Grace Samboh Peneliti muda terpilih dalam program pertukaran peneliti yang di sponsori ANA/Art Network Asia. Pertukaran berlangsung antara dua lembaga arsip: IVAA/Indonesian Visual Art Archive (Yogyakarta-Indonesia), dengan AAA/Asia Art Archive (Hong Kong-Pepole’s Republic of China). Sebagai bagian program tersebut, Grace melakukan penelitian selama dua minggu (9-21 Agustus 2010) di Hong Kong dengan tema “Self Archiving Archive”


Wen Yau Seorang seniman lintas media, penulis, peneliti, dan kurator dari Hongkong. Beberapa tahun terakhir Wen Yau mempunyai ketertarikan yang kuat pada performance/live art yang berbasis media, terutama isu perbedaan budaya dan keintiman (intimacy) ruang publik. melakukan riset di Indonesian Visual Art Archive/IVAA, dalam program “Research Exchange IVAA-AAA�, didukung oleh Arts Network Asia/ANA. Selama tiga minggu (antara Bulan Juni – Juli 2010) masa risetnya di Indonesia fokus penelitiannya mengenai perkembangan performance art di Indonesia.


Elly Kent Seorang seniman dan ‘artist educator’, bekerja di National Portrait Gallery (NPG) Australia. Selama tiga bulan (Oktober hingga Desember 2010) Elly menyaksikan, terlibat dan mendokumentasi program-program seni bagi anak-anak. Melalui tema penelitiannya mengenai program seni dan pendidikan, Elly secara intens berinteraksi, berpraktik dan berjaringan bersama komunitas-komunitas yang berpraktik atau menyelenggarakan program seni dan pendidikan anak-anak di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Katerina Valdivia Bruch Seorang kurator lepas dan penari yang tinggal di Berlin, Jerman. Katerina mendapatkan semacam beasiswa kuratorial dari Goethe Institute untuk melakukan riset-kuratorial residensi di IVAA. Dalam rentang waktu dari Bulan Desember 2009 hingga Bulan Maret 2010 Katerina memfokuskan kerja penelitiannya pada tema “performativity in the visual arts in Indonesia and on video art from Indonesia�.


RANGKAIAN

PERJALANAN IVAA 2010


Dhaka, Bangladesh IVAA pada Bulan Maret 2010 diwakili oleh Pitra Hutomo, diundang secara khusus dalam pertemuan mitramitra organisasi seni (art organizations) dan komunitas seniman dari Africa, Asia, Latin America dan Caribbean, yang didukung oleh Prince Claus Fund, Belanda.


Amsterdam, Netherland Pada Bulan Desember 2009, IVAA diundang untuk menghadiri Digital Strategies for Heritage (DISH). DISH merupakan konferensi internasional yang ditujukan bagi organisasi kebudayaan, termasuk di dalamnya para manajer seni, kurator, pustakawan dan perpustakaan, desainer, direktur, akademisi, konsultan, pendidik, museum, galeri, serta pusat-pusat pengembangan pengetahuan dan kearsipan.


CAIRO, MESIR Bulan Oktober IVAA diwakili oleh Farah Wardani menjadi pembicara dalam peristiwa “speak, memory: on archives and other strategies of (re)activation of cultural memory�. Bertempat di Town House Galley, event ini merupakan sebuah peristiwa yang berupa presentasi, diskusi panel, screenings dan juga artists talks yang berlangsung selama tiga hari membahas dan mengeksplorasi beragam metodologi yang bisa membumikan, mengunjungi dan mengaktifkan kembali praktikpraktik artistik di masa lalu.


JEPANG Farah Wardani di sepanjang Bulan Agustus 2010 telah menjadi peserta program JENESYS (Japan - East Asia Network of Exchange for Students and Youths) yang didukung Japan Foundation. Program ini mengundang 20 orang dari berbagai latar belakang, seperti: seniman, desainer, dan orang-orang yang bekerja di ranah kreatif, yang berasal dari berbagai negara di Asia Pasifik (Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand, Brunei, Vietnam, Laos, Myanmar, Cambodia, India, Australia, New Zealand). Mereka diundang untuk mengikuti residensi selama satu bulan lintas institusi di seluruh Jepang.


RUMAH KANTOR IVAA UNDER CONSTRUCTION Saat ini IVAA sedang membangun rumah-kantor yang akan menjadi ruang pusat kerja, perpustakaan dan storage arsip kami secara permanen. Lokasi tempatnya adalah di daerah Keparakan Kidul, Dipowinatan, Yogyakarta. Rumah-Kantor IVAA telah mulai dibangun sejak Agustus 2010 dan direncanakan untuk selesai dibangun April 2011, dengan arsitek Yoshi Fajar Kresna Murti. Kami berterima kasih pada dukungan seluruh KawanIVAA selama ini yang memungkin pelaksanaan pembangunan ini, dan kami mohon doa restu KawanIVAA untuk kelancaran proses pembangunannya.



e-SURAT 38