Page 1

Rahasia APU Menyiapkan SDM di Era Globalisasi (I) KOMPAS.com - Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi umat manusia telah membawa dunia kita ke era yang tidak bisa terelakkan lagi, yaitu era globalisasi. Globalisasi telah menjadikan aktivitas di berbagai belahan dunia menjadi satu kesatuan terintegrasi yang saling kait-mengkait. Di era ini, berbagai aktivitas ekonomi dan sosial-budaya disatukan dalam skala sangat luas, mencakup aktivitas di berbagai belahan bumi. Dunia terasa tanpa batas (borderless), laksana sebuah kampung global (global village). Bagi suatu kalangan, globalisasi adalah anugerah. Tetapi di sisi lain, ada yang menyatakan globalisasi bukanlah anugerah, melainkan musibah. Mengapa bisa demikian? Yang berpendapat globalisasi sebagai anugerah didasari oleh alasan adanya benefit. Bahwa, globalisasi telah memberikan berbagai manfaat dan kemudahan dalam kehidupan kita, baik secara ekonomi, teknologi dan sosial budaya. Sementara yang menyatakan globalisasi sebagai musibah didasari alasan, bahwa globalisasi membawa kekhawatiran dan masalah baru bagi mereka. Salah satu kekhawatiran sering mengemuka adalah ketidakmampuan suatu komunitas mengikuti dinamika zaman untuk menjadi pemain utama, tetapi hanya sekedar menjadi korban, objek atau penonton di kancah global. Boleh dikatakan, jika era globalisasi telah menggelinding begitu saja, nyaris tanpa ada rintangan mampu menghalanginya. Pertanyaan penting yang relevan adalah, bagaimana agar kita tidak terlibas menjadi korban perubahan zaman ini? Dalam beberapa literatur para ahli telah mendiskusikan, bahwa betapa pentingnya mempersiapkan diri menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas global, agar tidak terlibas dan menjadi korban perubahan zaman. Sebutlah, Dr Bob Johansen dalam buku karyanya berjudul 'Leaders Make the Future'. Atau, Prof Andrian Done, yang mendiskusikan dalam bukunya berjudul 'Global Trends'. Jadi, salah satu hal terpenting menjadi kunci strategi menghadapi era globalisasi adalah mempersiapkan generasi mendatang menjadi SDM yang memiliki kemampuan bersaing dan bertarung di kancah global. Masalahnya, bagaimana untuk bisa melakukan itu? Banyak teori telah dikemukakan para ahli, termasuk oleh Bob Johansen dan Professor Andrian. Tetapi. tidak ada jawaban mutlak dan pasti, bagaimana dan apa yang mutlak harus dilakukan. Karena semuanya dalam tahap uji dan sedang berpacu dengan dinamika global yang terus menerus berubah.


Yang jelas dan pasti, berbagai institusi pendidikan di berbagai belahan dunia sedang berupaya keras dengan berbagai terobosan, jurus dan resepnya masing-masing untuk mempersiapkan SDM yang siap menjadi pemain dan pemimpin di masa mendatang. Hasil yang mengejutkan Selaku tenaga pendidik di sebuah universitas internasional, yaitu Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang, saya sedikit ingin memaparkan tentang tujuan dan harapan agar karakteristik sistem pendidikan yang diterapkan di APU dan aktivitas pendidikannya bisa menjadi referensi semua kalangan, yaitu tentang bagaimana cara mempersiapkan SDM siap pakai dan sanggup bertarung di kancah global, tentang kondisi lapangan kerja di jepang dan faktor keberhasilannya. Saya mulai dari informasi tentang daya serap pasar terhadap para lulusan APU. Pada 2010 dan 2011, ketika efek badai krisis dunia sedang melanda berbagai negara, lulusan universitas di seluruh Jepang yang terserap lapangan kerja hanya berkisar di angka 60 %. Angka ini berdasarkan laporan Recruit, sebuah konsultan biro jasa lapangan kerja terbesar di Jepang. Pada masa sulit tersebut, lebih dari 95% lulusan APU berhasil diserap dunia kerja. Data lain bisa dijadikan acuan adalah laporan hasil survey yang diterbitkan oleh Nikkei Shimbun pada Maret 2012. Survey dilakukan terhadap 186 perusahaan multinasional yang dipilih secara acak di bursa saham Tokyo, dengan pertanyaan utama, lulusan universitas mana yang menjadi prioritas perekrutan perusahaannya. Hasilnya sangat mengejutkan, terutama pada praktisi pendidikan di Jepang. Hasil suvey itu menyatakan, APU mendapatkan poin tertinggi 8,3 dari 10 point maksimum, disusul berturut-turut oleh universitas-universitas ternama yang telah berumur ratusan tahun seperti Waseda, Keio, Universitas Tokyo dan Universitas Ritsumeikan. Ritsumeikan sendiri merupakan ibu kandung yang telah melahirkan APU pada 12 tahun lalu. Apakah parameter utama yang dijadikan acuan perusahaan multinasional Jepang merekrut tenaga kerja baru itu? Berdasarkan laporan Recruit, sepuluh parameter terpenting berturut-turut adalah kemampuan berkomunikasi, kemandirian, kemampuan berkolaborasi/kerjasama, jiwa petualang untuk mencoba (spirit of challenge), loyalitas, jiwa tanggung jawab, fleksibelitas, kemampuan berlogika, keahlian dan kepemimpinan (leadearship). Hasil ini menunjukkan, kemampuan otak dan keahlian semata, bukanlah faktor terpenting bisa berhasil masuk menjadi tenaga profesional di perusahaan-perusahan multinasional tersebut. Kemampuan komunikasi, kemandirian, kemampuan kerjasama, tanggung jawab dan beberapa jiwajiwa dasar sebagai seorang profesional jauh lebih dianggap sebagai faktor penting.


Dilihat dari tingkat keberhasilan di bursa kerja, mengapa lulusan APU dianggap lebih memenuhi kriteria-kriteria tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, alangkah baiknya kita bahas karakteristik lingkungan dan sistem pendidikan di universitas ini. Karakteristik lingkungan dan sistem pendidikan Skala jumlah seluruh mahasiswa universitas ini tidak begitu besar. Jumlah total mahasiswanya berkisar sekitar 6 ribu orang. Mereka terbagi dalam College of Asia Pacific Studies dan International Management. Sampai di sini, tidak ada jauh bedanya dengan universitas di manapun. Namun. hal yang membuat beda dengan universitas pada umumnya adalah komposisi mahasiswa dan tenaga pendidiknya. Sekitar 40 % dari 6 ribu mahasiswanya adalah orang asing non-Jepang. Mereka datang dari 85 negara. Tenaga pendidiknya juga datang dari 28 negara berbeda. Inilah yang menjadikan lingkungan kampus APU laksana 'kampung global' yang sangat internasional. Bahasa Inggris dan Jepang adalah pengantar resmi dalam kegiatan perkuliahan. Tetapi, di lingkungan kampus ini, setiap hari ada 85 lebih jenis komunikasi bahasa berbeda ditinjau berdasarkan asal negaranya. Bagi mereka yang tertarik bahasa Negara tertentu, mencari teman dari negara tersebut adalah metode paling jitu. Mudah sekali ditemukan, misalnya, anak Korea lancar dan fasih berbahasa Indonesa. Atau, sebaliknya anak Indonesia yang pintar berbahasa Korea setelah satu dua tahun belajar di kampus ini. Hal seperti itu kemungkinan bisa terjadi terhadap bahasa 85 negara asal mahasiswa tersebut. Selain sistem kegiatan perkuliahan di dalam kelas, banyak sekali kegiatan-kegiatan grup diskusi, field study, active learning, internship, dan beberapa aktivitas belajar yang tidak sekedar mengandalkan perkuliahan di dalam kelas. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi seandainya melakukan diskusi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa berbeda-beda? Seru. Itu pasti. Dan, banyak sekali terjadi hal-hal di luar perkiraan, termasuk arah isi diskusinya. Tetapi, itu menjadi arena pembelajaran dan pembentukan mental yang sangat bagus, yaitu bagaimana bisa menghadapi orang dari berbagai latar belakang budaya sangat berbeda. Kondisi kampus APU yang berada di atas bukit jelas membuatnya jauh dari keramaian, namun sebenarnya memiliki andil besar terhadap aktifnya kegiatan-kegiatan non-akademik. Boleh dikatakan, selama 24 jam sehari aktivitas di dalam kampus ini berlangsung tanpa henti. Dari kegiatan-kegiatan ringan, mulai sekedar kumpul-kumpul masak bersama, makan bersama, pertandingan olah raga antarnegara, sampai kegiatan klub-klub olah raga dan seni yang mencapai lebih dari 150 klub.


Kegiatan formal dan informal ini memiliki andil sangat besar dalam mengkondisikan orang-orang dari berbagai negara tersebut ke dalam satu komunitas dalam hubungan satu sama lain yang sangat mencair (melting relation). Aktivitas-aktivitas akademik dan non-akademik tersebut, yang disetting secara sengaja atau tidak sengaja oleh pihak universitas, sebenarnya menjadi arena pembentukan jiwa lulusannya. Dan jiwa-jiwa itulah yang dianggap sedang matching dengan kondisi bursa kerja di era globalisasi ini. Karena itulah, lulusan APU sedang banyak dinantikan perusahaan multi-nasional untuk beraktifitas di arena global. Penulis adalah Vice-Dean of Admissions, Associate Professor, Education Development and Learning Support Center (EDLSC) di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang Editor : Latief

"Indonesian Week" Siap Digelar di Kampus APU Jepang JAKARTA, KOMPAS.com - Rasa cinta dan bangga menjadi Indonesia akan lebih terasa bila kita berada di luar negeri. Rasa itulah yang menggelora di dada para mahasiswa Indonesia di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang, dalam rangkaian 'Indonesian Week'. 'Indonesian Week' merupakan ajang perkenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa di Kampus APU, yang terletak di kota Beppu, wilayah Oita, atau sekitar 1000 km sebelah barat laut kota Tokyo. Sebagai acara tahunan, 'Indonesian Week 2012' digelar dengan menampilkan berbagai penampilan seni dan budaya Indonesia selama sepekan, mulai 3-8 Juli 2012. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selama sepekan, tema Indonesia akan semarak di Kampus APU dengan aneka pertunjukan yang ditampilkan, mulai dari pameran kerajinan, parade seni, konser musik dangdut, festival kuliner, hingga acara puncak berupa Pergelaran Budaya yang menampilkan berbagai atraksi tarian dan seni Indonesia. "Banyak sekali pihak yang khawatir, jika kita banyak berhubungan dengan orang asing berbeda budaya, bukankah identitas kita semakin nyaris hilang tak berbekas. Berdasarkan pengalaman saya, hal itu tergantung diri kita masing-masing. Jika kita ingin larut, memang gampang sekali identitas diri kita hilang larut dalam budaya lain. Tetapi, jika kita pandai-pandai berbuat dan mengemas apa yang kita miliki, justru identitas kita diakui orang lain. Intinya adalah kemauan kita bekerja keras dan mencari strategi jitu mengemasnya," ujar Dahlan Nariman Vice-Dean of Admissions, Associate Professor, Education Development and Learning Support Center (EDLSC) di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Japan, di Fukuoka, Senin (2/7/2012).


Ia menuturkan, dilaksanakan pertama kali sebagai bagian dari Multi-Cultural Week pada 2002, kegiatan ini awalnya hanya sekadar kegiatan sederhana kelompok mahasiswa dari beberapa negara untuk memperkenalkan bahasa dan budayanya ke mahasiswa negara lain. Seiring waktu, kegiatan ini berkembang dengan kegiatan promosi identitas Negara yang semakin kompleks. "Intinya misinya tetap sama, yaitu mempromosikan budaya masing-masing Negara," ujar Dahlan. Terbukti, hal menarik dari pertunjukan tersebut adalah para penari yang tampil bukan hanya mahasiswa Indonesia, namun juga mahasiswa internasional dari berbagai suku bangsa, mulai dari Perancis, Amerika, Ghana, Bolivia, termasuk dari Jepang dan Cina. Untuk Tari Saman sendiri, bahkan hanya dua orang penarinya yang berasal dari Indonesia, selebihnya mahasiswa asing. "Aktivitas-aktivitas akademik dan non-akademik tersebut yang di-setting secara sengaja atau tidak sengaja oleh pihak universitas, sebenarnya menjadi arena pembentukan jiwa lulusannya. Dan jiwajiwa itulah yang dianggap sedang matching dengan kondisi bursa kerja di era globalisasi ini. Karena itulah lulusan APU sedang banyak dinantikan perusahaan multi-nasional untuk beraktifitas di arena global," papar Dahlan. Pada akhirnya, lanjut Dahlan, setiap tahun mahasiswa dari beberapa negara berpikir keras untuk menggali, identitas dan budaya apa yang dimiliki negaranya. Kemudian, mereka bekerja keras mengemas cara agar bisa diterima dan mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh warga "kampung global" di Kampus APU ini. "Mereka juga merekrut orang-orang di luar negaranya untuk mengorganisasi dan bermain bersama di event ini. Jadi, kolaborasi antar negara terjadi juga di sini," kata Dahlan. Tanpa disadari, gelaran Multi-Cultural Week telah menjadi ajang penggugah nasionalisme dan pencarian identitas berbagai orang dari masing-masing nagaranya, termasuk juga menjadi ajang belajar berkolaborasi dengan orang-orang dari latar belakang budaya berbeda. Satu hal paling membanggakan, berdasarkan pengamatannya setiap tahun, Indonesian Cultural Week, menjadi cultural week primadona di Kampus APU. Setiap tahun, lanjut Dahlan, penonton telah berjajar mengantre puluhan meter sejak pukul 3 sore, untuk mendapatkan tempat duduk di hall yang berkapasitas 800 tempat duduk. Padahal, biasanya acara baru dimulai sekitar jam 7 malam. "Ini terbukti dengan antusiasme warga APU menanti dan mengikuti Indonesian Week setiap tahun selama empat tahun terakhir. Nah, seperti apa semaraknya Indonesian Week 2012 ini nantinya? Simak liputan khususnya di Edukasi-Kompas.com! Editor : Inggried Dwi Wedhaswary


Keisha dan Tantangan di "Indonesian Week 2012" KOMPAS.com - Diawali rasa khawatir, akhirnya Fabiola Keisha Kurnia Ridwan mengangguk sanggup saat diminta menjadi Penanggung Jawab Divisi Humas dan Eksternal pada “Indonesian Week 2012” yang digelar di kampusnya, Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang. Tugasnya pada acara tahunan ini cukup sulit, yakni menjelaskan isi program "Indonesian Week” kepada mahasiswa dan masyarakat Jepang. Tak heran jika Keisha –sapaan akrabnya- merasa khawatir. Pasalnya, ia baru dua tahun belajar bahasa Jepang, persis dengan lama waktu ia menempuh studi di Negeri Sakura itu. Singkatnya, di tengah keharusan menjalankan perannya sebagai humas, ia merasa masih belum sempurna dalam menguasai bahasa Jepang. Indonesian Week sendiri merupakan ajang perkenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa di Kampus APU, yang terletak di kota Beppu, wilayah Oita, atau sekitar 1000 km sebelah barat laut kota Tokyo. Layaknya acara tahunan, Indonesian Week tahun ini digelar dengan menyajikan berbagai penampilan seni dan budaya Indonesia selama sepekan, mulai 2-5 Juli 2012. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan aneka pertunjukan yang ditampilkan selama sepekan, tema Indonesia akan semarak di Kampus APU. Mulai dari pameran kerajinan, parade seni, konser musik dangdut, festival kuliner, hingga acara puncak berupa Pergelaran Budaya yang menampilkan berbagai atraksi tarian dan seni asal Indonesia. “Kalau boleh jujur, awalnya saya merasa khawatir apakah saya mampu menjalankan tugas ini. Karena kemampuan berbahasa Jepang sangat diandalkan, dan saya baru dua tahun mempelajarinya. Tapi saya berpikir positif, saya optimistis dapat menjalankannya,” kata Keisha, Senin (2/7/2012). Sadar akan skill berbahasa Jepang yang sedikit belum sempurna, ia pun mulai mengasahnya dengan terus melakukan komunikasi bersama masyarakat lokal dan terjun berorganisasi di dalam kampus. Sejalan dengan itu, ia dengan getol terus menambah ‘stok’ perbendaharaan katanya. Tujuannya hanya satu, ingin menjalankan tugasnya dengan baik, memberikan informasi dan penjelasan secara detail mengenai Indonesian Week kepada mahasiswa dan masyarakat Jepang. “Saya menginjakkan kaki di Jepang pertama kali pada dua tahun lalu dan tanpa basic apapun mengenai bahasa Jepang. Tapi sekarang, saya siasati semuanya dengan banyak berinteraksi langsung besama masyarakat di sini,” ungkapnya. Ia sendiri beranggapan bahwa masyarakat Jepang sangat tertarik dengan kebudayaan Indonesia yang sangat beraneka ragam. Tak lupa, ia juga menyampaikan ketertarikan masyarakat Jepang kepada makanan, tempat wisata, dan juga bahasa Indonesia. Hal itu bukan tanpa bukti, ia memperoleh informasi langsung berdasarkan percakapannya dengan beberapa


mahasiswa Jepang yang di antaranya merupakan partisipan setia Indonesian week. “Pernah saat ‘exchange’ dengan anak-anak SMP di Jepang, ketika saya memperlihatkan gambar nasi goreng, mereka banyak yang terkagum-kagum penasaran karena nasi goreng Indonesia berbeda dengan nasi goreng di Jepang. Banyak yang bertanya kenapa warnanya cokelat dan lain-lain,” (banyak diantara mereka yang bertanya ttg kenapa warnanya coklat, dll). Secara pribadi, ia sangat tertarik dengan kebudayaan Jepang. Khususnya mengenai budaya tepat waktu dan cara pemerintah Jepang mengorganisir semuanya dengan teratur. Ia memberikan apresiasi pada kebersihan lingkungan, dan satu hal yang sangat diakui dari masyarakat Jepang; di mana mereka sangat menghargai ketepatan waktu. “Jujur, pertama kali saya tidak terbiasa dengan keteraturan seperti ini. Namun jika sudah terbiasa, keteraturan sistem di sini akan membuat kita lebih mandiri dan disiplin,” ungkapnya. Sekarang, harapan mahasiswi semester 4 APM International Management, APU ini berharap dapat menjalankan perannya dengan baik. Menjelaskan sejelas-jelasnya mengenai Indonesian Week pada para mahasiswa dan masyarakat pengunjung Indonesian Week 2012


Berita Inaweek 2012 dari Kompas  

Inaweek 2012

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you