Issuu on Google+

sehari

bersama

6

● M I N G G U , 2 5 F E B R U A R I 2 0 07

FOTO-FOTO: SANTIRTA M (TEMPO)

LUNA MAYA Pesona Mata Rembulan

Gemerlap modeling mengantarkannya ke tangga ketenaran. Ia lebih suka menyendiri.

una Maya bersiap menanti abaaba sutradara. Ia tampak bergeming. Sosoknya yang lampai kian jelas ketika sinar lampu berkekuatan 4.000 watt menyiraminya. Bola mata teduhnya yang bak rembulan terkadang bergerak-gerak lembut sambil sesekali melirik kamera yang siap membidik. Ya, untuk kesekian kalinya Luna kembali memerankan seorang tokoh dalam sebuah sinetron. Kamis dua pekan lalu, ia berakting sebagai Anggun, seorang mahasiswi berkaki cacat, dalam sinetron bertajuk sama dengan nama tokoh yang diperankannya. Dan

L

Luna terlihat begitu menikmati peran yang, menurut dia, cukup menantang itu. Hari-hari Luna kini memang tersita oleh jadwal syuting yang padat. Selain Anggun, yang ditayangkan SCTV saban Selasa malam, ia juga menjalani syuting dua sinetron lainnya. Setidaknya, hingga tiga bulan ke depan, gadis 23 tahun itu hanya punya waktu luang saat akhir pekan. ”Hari Minggu pun terkadang ada syuting tambahan,” katanya di sela-sela syuting Anggun di kampus Universitas Darma Persada, Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Boleh dibilang, Luna termasuk ”anak baru” di dunia hiburan Tanah Air. Gadis kelahiran Seminyak, Bali, 26 Agustus 1983, itu mengawalinya dari dunia model, saat ia terpilih sebagai pemenang ketiga gadis sampul majalah remaja pada 1999. Dari ajang modeling itulah sosok Luna kemudian merambah ke model iklan, klip video, pemain sinetron, dan bintang film. Padahal gadis yang melewati masa kecilnya di Pulau Dewata itu tak pernah bermimpi terjun ke dunia hiburan. Ketertarikannya pada bidang seni mungkin diturunkan dari ayahnya, seorang seniman yang gemar melukis dan main band amatiran. ”Atau, karena dari kecil saya sudah suka nonton film,” kata bungsu dari tiga bersaudara putri almarhum Bambang Sugeng dan Waltraude Mayer itu. Sebetulnya Luna ingin terjun total di film layar lebar. Hingga kini ia telah membintangi delapan film, termasuk Jakarta Undercover, tempat ia jadi pemeran utama, yang akan dirilis pada akhir Maret 2007. Tapi dunia perfilman Indonesia ternyata belum bisa dijadikan ajang mencari sesuap nasi. ”Bisa bermain dua film dalam setahun saja luar biasa,” ujar perempuan dengan tinggi 173 sentimeter dan berat 54 kilogram itu. Apalagi, sejak memutuskan hidup mandiri di Jakarta, ia butuh biaya iniitu. Termasuk biaya sewa apartemen dan kuliahnya di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Paramadina. Alhasil, gadis berdarah campuran Jawa-Austria itu lantas ”mengamen” dengan menjadi model iklan dan bermain sinetron. Toh, Luna selektif dalam memilih


sehari

bersama

7

● M I N G G U , 2 5 F E B R U A R I 2 0 07

mulai menyiksanya sejak 2004. Pemicunya adalah jadwal syuting film Bangsal 13. Hampir sebulan penuh, setiap hari ia syuting film horor itu dari petang hingga pagi menjelang. Saat ini Luna senantiasa sedia tisu dan obat hirup pelega pernapasan di samping tempat tidurnya. Dan bila bepergian, penggemar segala jenis musik itu selalu menyelipkan obat inhalasi di tasnya. Luna juga menerapkan pola hidup sehat. Ia rajin minum air putih banyakbanyak, cukup tidur, dan jarang keluar malam lebih dari pukul 24.00. ”Makanya, bila akhir pekan dan luang, saya lebih banyak tidur, baca buku, atau nonton DVD film di apartemen.” Matahari telah condong ke barat ketika kami tiba di tujuan. Luna yang ramah menyapa para kru sinetron, langsung menuju ruang rias. Sekitar satu jam berselang, syuting pun digelar. Dan syuting sinetron produksi MD Entertainment itu baru selesai pada sekitar pukul 21.30. Setelah syuting, Luna langsung pulang ke apartemen. Tapi, di tengah perjalanan, tiba-tiba telepon selulernya berdering. Sejumlah kawannya mengundang makan malam. ”Kita makan dulu, ya,” katanya. Ia telah ditunggu lima kawannya di restoran Dim Sum Festival, Kemang, Jakarta Selatan.

peran. Ia bersedia main jika karakter tokoh itu belum pernah diperankannya. ”Saya ingin memperkaya pengalaman dunia seni peran yang kini digeluti,” gadis yang pernah bermain di sinetron Kau dan Aku, Rahasiaku, dan Dunia tanpa Koma itu menjelaskan. Yang jelas, apa yang ditapakinya kini telah mengantarkannya ke tangga ketenaran. Dan gadis bermata indah itu memulai harinya dari lantai 19 Apartemen Grand ITC, Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Apartemen Grand ITC, Permata Hijau, Pukul 08.30 Pagi itu suasana apartemen di Jalan Letjen Soepeno, Jakarta Selatan, tersebut telah berdenyut. Luna baru terjaga dari tidurnya. Berkaus putih lengan panjang dan bercelana pendek hitam, ia menyilakan Tempo menunggu di ruang tamu. ”Sebentar, saya mandi dulu, ya,” katanya. ”Kalau mau minum, silakan ambil sendiri, deh.” Sejak hijrah dari Bali pada sekitar tahun 2000, Luna bertekad hidup mandiri di Ibu Kota. Awalnya ia tinggal di rumah neneknya di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah kuliah dan bisa cari duit sendiri, ia memilih menyewa apartemen. ”Sudah hampir setengah tahun saya tinggal di sini,” ujarnya sembari menikmati sarapan bubur sereal. Luna memilih apartemen itu karena harga sewanya terjangkau dan akses ke mana-mana mudah. Plus, suasananya tenang. ”Saya suka menyendiri sehingga butuh suasana tenang,” gadis yang tinggal sendirian itu mengungkapkan. ”Wah, sudah pukul sembilan lewat, nih. Saya harus buru-buru ke kampus,” kata Luna menghentikan perbincangan. Ia segera menyambar tas

kuliahnya dan kemudian turun melalui lift menuju tempat parkir di lantai tujuh gedung apartemen itu. Setiba ia di tempat parkir, muncul masalah: mesin mobilnya ngadat. Menurut sopirnya, untuk menghidupkan mesin, mobil harus didorong. Jadilah kami mendorong Suzuki Baleno abuabu metalik. ”Ya, hitung-hitung olahraga, deh,” ujar Luna seraya terkikik ketika kami mendorong mobil itu. Menurut Luna, sedan itu sebetulnya mobil sewaan. Mobilnya sendiri sedang diperbaiki dan baru beres sekitar dua pekan lagi. ”Pokoknya nanti minta ditukar ya, Pak. Masak dikasih mobil mogok,” katanya kepada sopirnya saat kami meluncur menuju kampus Universitas Paramadina di Mampang, Jakarta Selatan. Sepanjang perjalanan, Luna berkisah tentang namanya. Sewaktu kecil ia tak menyukai namanya yang berarti rembulan itu. Dengan nama itu, ia seolah punya dua nama: Luna dan Maya. Apalagi kalau memakai nama lengkap, Luna Maya Sugeng, ia seperti punya tiga nama. ”Orang kan bisa saja panggil saya Luna, Maya, atau Sugeng,” ia tertawa renyah.

Kampus Universitas Paramadina, Pukul 10.00 Kamis pagi dua pekan lalu, Luna mengikuti dua perkuliahan: Islam dan Dunia Internasional serta Politik dan Pemerintahan Timur Tengah. Menurut dia, pertimbangannya memilih kuliah di jurusan hubungan internasional cukup sederhana. ”Saya menghindari kuliah yang banyak hitung-hitungannya,” katanya saat kami tiba di kampus Universitas Paramadina. Perkuliahan yang dimulai pukul 10 pagi berlangsung sekitar satu setengah jam. Sambil menunggu kuliah berikutnya, yang dimulai pukul 14.00, Luna mengajak makan siang di restoran Izzi Pizza, Pancoran, Jakarta Selatan. Kebetulan ia juga punya janji bertemu dengan seorang ahli feng shui di sana. Luna menyatakan, ia sebetulnya tak pernah berpikir soal rencana ke depan. Apa yang ditempuhnya kini mengalir begitu saja. Hanya, Luna tak ingin salah langkah karena ia berencana menginvestasikan tabungannya. ”Apalagi ibu saya sendiri menyarankan agar berkonsultasi dulu dengan ahli feng shui,” ujarnya ketika kami tiba di restoran waralaba itu. Sembari menikmati hidangan khas Italia, acara konsultasi dengan Mbak Jenny, ahli feng shui, cukup rileks. Sesekali tawa Luna membuncah. Satu jam berselang, tiba-tiba sekitar sepuluh siswi SMA 26 Jakarta menghampiri Luna. Mereka minta berfoto bareng. Para siswi yang ngefans dengan Luna itu juga meminta sang pujaannya menyerahkan kue ulang tahun ke seorang teman mereka yang tengah merayakannya. Dengan santai Luna pun memenuhinya. Dan seketika lagu Happy Birthday mengalun meriah. Setelah makan siang, kami kembali ke kampus. Setiba di kampus, Luna langsung bergegas menuju kelas. Ternyata kuliah hanya berlangsung setengah jam. ”Karena kuliah pertama, dosennya hanya mengisi dengan perkenalan,” katanya. Luna kemudian meminta sopirnya mengarahkan mobilnya ke lokasi syuting sinetron Anggun di kampus Universitas Darma Persada.

Kampus Universitas Darma Persada, Pukul 15.30 Dalam perjalanan menuju lokasi syuting, Luna bercerita tentang asma yang dideritanya. ”Kalau lagi kambuh, sakitnya bukan main,” katanya. Penyakit yang menurun dari ayahnya itu

Apartemen Grand ITC, Permata Hijau, Pukul 23.30

Orang kan bisa saja panggil saya

Luna, Maya, atau Sugeng.

Malam benar-benar larut. Tepat pukul 23.30, Luna tiba di apartemennya. Meski kelelahan mewarnai paras lembutnya, ia tetap antusias ketika bercerita seputar gosip yang kerap menerpanya. ”Terus terang, awalnya saya stres juga menghadapinya,” katanya saat kami duduk di ruang tamu. Luna berkisah tentang wartawan sebuah media yang tak pernah mewawancarainya, tapi besoknya beritanya muncul. Ada lagi berita yang membesar-besarkan tentang perannya sebagai penari striptease dalam film Jakarta Undercover. Diberitakan, ia tampil telanjang di film itu. ”Padahal si wartawannya sendiri belum nonton filmnya.” Lantas bagaimana menyikapinya? ”Untungnya saya tipe orang yang cukup cuek,” ujarnya. Luna menyikapi serentetan berita itu hanya sebagai masukan agar ia lebih berhati-hati. ”Bukankah saya punya hak untuk tidak menanggapinya?” Matanya yang bak rembulan menatap tajam. ● NURDIN KALIM


Luna