Page 1

Edisi september 2012

KOMULATF I

komunikasi

Selalu

aktif

Mencari nafkah dilautan sampah


seorang pemulung yang sedang memilih sampah yang masih bisa diolah lagi

Mencari nafkah dilautan sampah Pekanbaru untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka mencari uang dengan cara mengais sampah,dan mencari barang – barang bekas yang nantinya akan di daur ulang dan dijual pada pengepul, selasa (16/10) Pada hari selasa yang begitu cerah, terik matahari yang panas dan suara mobil truk pengangkut sampah lah yang terdengar, terlihat sebuah tumpukan samaph dan menggunung. Bakat yang sangat menyengat tidak memutuskan tekat para pengais barang – barang bekas sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk mendapatkan uang untuk kehidupan sehari harinya. Saritonang ( 40 th) ini merupakan salah satu pengais atau disebut dengan pengepul dari beberapa orng lain barang bekas , seperti plastik .bekasbekas miniman kaleng, dan lainnya bisa ia jual kembali lalu didaur ulang. Semenjak ia diPHK pabrik RGM ia memutuskan untuk menjadi pengais sampah, padahal kalau dilihat dari tingkat pendidikan nya, yaitu lulusan smea dan ibu dari 3 anak ini bisa bekerja lain, tidak tahu harus bekerja ditempat yang tidak layak ini.

Terkadang saritonang tidak dapat menghasilkan barang-barang bekas kalau hari hujan. Sedangkan pendapatan dari penghasilan barang bekas bisa ia dapat sekitar 20-30 ribu perharinya. Seandainya ia tidak dapat yang bisa dilakukan dengan uang. Ia bisa membuat sisa-sisa sayuran yang nantinya akan ia gunakan untuk makanan babi ternaknya. Mungkin yang menjadi keluhan para pengais sampah ini yaitu sering kepanasan, bau, sering dimarahi dari dinas, bahkan diusir tetapi semua ini tidak menjadi kan mereka put us asa. Karena ia lakukan untuk membiyai sekolah anak-anak mereka. Saritonang bekerja sebagai pengais sampah tidak sendiri yang bekerja disana dengan sang suami sebut saja p. Simanjuntak (40 th). Tidak saritonang dan suami saja yang bisa memberikan informasinya disini adapun ibu evi (45 th) yang merupakan warga muara fajar, gunta 2 merupakan warga istri dari Rt 04 pendidikan terakhir yai tu smp dan propesi sang suami sendiri yaitu sebagai kuli bangunan . ia bekerja sebagai pengais sampah juga sama

seperti saritonang yaitu mencari uang dengan mengumpulkan barangbarang bekas untuk dijual lagi. Ia rela bekerja sebagai pengais sampah demi mendapatkan uang sekita 20-35 rbu uang yang tidak begitu banyak ia dapatkan tetapi mereka masih bersyukur dengan yang maha kuasa, saat ia ditanya tentang propesinya ia hanya menjawab “ ini saja yang saya bisa lakukan mau mencari kerja yang lain tidak ada, karna kurangnya lapangan pekerjaan. Di sisi kiri TPA ada tiga kolam fakultatif yang dulu digunakan untuk menetralisir kotoran atau tinja, namun sekarang tidak berfungsi untuk apapun, karena alatnya rusak. Kolam pertama bening dengan nuansa hijau oleh lumut, serta ribuan anak ikan nila yang hidup di dalamnya, kolam kedua agak warna hijau lumut yang ditumbuhi rerumputan dan kolam ketiga hijau kecoklatan karena permukaan air tertutup lumut. Sedangkan disisi kanannya terdapat bangunan berukuran 5 x 7 meter yang dialokasikan untuk proses pembuatan pupuk organik atau kompos.


TPA Muara Fajar sangat penting banget bagi para pemulung disitulah bekerja sebagai pengais sampah, semua samapah Irt dan bekas restoran atau hotel bisa ditampung agar tidak berserakan dimana-mana dan disebarang tempat. Karna sampah dapat mengganggu aktivitas masyarakat setempat, para pengais sampah sangat berarti dan disitulah bisa mendapatkan uang dengan hasil dengan mengais sampah. Tapi masyarakat masih banyak yang membuang sampah sembarangan tempat tapi bagi para pemulung sampah berarti banget sedangkan masyarakat tidak berarti bagi mereka. Pemukiman para pekerja pengais sampah tidak jauh dari TPA muara fajar disitulah mereka bekerja mencari nafkahTPA muara fajar berada di pekanbaru tepatnya dirumbai perbatasan dengan minas disitulah mereka bekerja sampah dikumpulkan dan dipilah-pilah dengan sampah organik dan non organik, sampah organik dapat didaur ulang dan bisa digunakan kembali pada masyarakat. Pemukiman warga pengais sampah lumayan jauh dengan kota, dan anenya lagi walaupun pemukiman pemulung sangat dekat tapi pemulung tidak terkena penyakit malahan sehat, sedangkan warga yang pertama kesana terkejut dengan tumpukan sampah yang begitu banyak, dan tidak tahan bau sampah yang begitu menyengat dan tidak tahu adanya TPA muara fajar tersebut . Para pemulung beraktivitas di TPA muara fajar mulai pagi sampai sore sekitar pukul 09.00-17.00, sebelum memulai bekerja para pemulung mereka menyiapkan tempat duduk dan kaus tangan dan payung untuk melindungi dari trik matahari tapi bagi para pemulung tidak tahu panas yang penting mereka bekerja,dan tangannya trus memilah sampah seperti sayuran dibedakan karna sayuran untuk ternaknya, sedangkan sampah seperti plasik dikumpulkan dan dimasukkan didalam karung biar ngga berserahkan dimana-mana. Terkadang ada masalah sering dihadapi para pemulung adalah

dimarahi oleh dinas apabila hari hujan mereka dilarang untuk bekerja bahkan diusir karna kalau hujan dinas kebersihan tidak bekerja soalnya kalau hujan sampah-sampah terkadang berserahkan susah untuk dibersihkan karna hujan, tapi para pemulung terkadang tidak mengambil kepala pusing, terkadang mereka menunggu hujannya redah untuk memulai aktivitas sehari-hari. Keadaan ekonomi sangat kurang karna mereka hanya bekerja sebagai pemulung, tidak ada pekerjaan yang lain selain menjadi pemulung, mereka mau menjadi petani tapi ngga ada tanah untuk di tanami seperti sayur-sayuran,padi dll. Kurangnya lapangan pekerjaan diindonesia sehingga masyarakatnya menjadi pengangguran dan putus sekolah karna ngga biaya, apapun mereka kerjakan hanya bersyukur dan kerjakan apa adanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kalau ngga kerja maka mereka tidak dapat makan. Nasib para pemulung sangat sederhana saja, dan kurangnya perhatian dari pemerintah masyarakatnya sangat membutuhkan lapangan pekerjaan untuk nafkah hidup. Tapi pemerintah tidak ada perhatian sama sekali hanya sekedar janji pada masyarakatnya, apalagi para pemulung yang membutuhkan lapaangan pekerjaan. Mereka dianggap hanya pekerjaan memulung yang ia bisah kerjakan dan masalah tingkat pendidikan yang rendah, para pemulung tinkat pendidikan terakhir lumayan tinggi seperti Sd,Smp,Smk dan ada juga yang kuliah tapi putus dijalan karna tidak ada biaya. Selangkah demi selangkah memasuki area Tpa Muara Fajar matahari sudah terbit dan menerangi tumpukan sampah yang menunggu para pemulung untuk dipilah- pilah, siang berganti malam sayup-sayup suara jangkrik yang berbunyi terdengar karna badan sudah cape seharian bekerja di Tpa yang sangat bau tapi tidak mengeluh dengan semua itu. Memulung dalam kehidupan sehari-hari itu lah pekerjaan kuh tidak pernah berkata mengeluh karna ngga

ada pekerjaan yang lain hanya itu dia lakukan. Ditpa terdiri ad bangunan dekat pintu masuk sebelah kiri kantor n pos keamanan dan dibelakangnya ada bangunan lain yaitu rumah untuk para pemulung yang ngga punya tempat tinggal dan disediakan mushola untuk para pemulung yang beragama islam, tapi kebanyakan para pemulung bergama non muslim. Semuanya ngga jadi masalah untuk para pemulung yang penting mereka bekerja untuk mencari nafkah. Sebelum mereka melakukan pekerjaan ini mereka sempat bekerja di salah satu pabrik RGM menjadi karyawan, setelah beberapa tahun bekerja dipabrik tersebut, dan akhirnya pabrik mengalami kebangkrutan alias gulung tikar, akhirnya mereka pulang kampung untuk mencari pekerjaan untuk biaya anaknya yang sekolah.

Sampah menjadi sumber kehidupan.


Tugas komjur  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you