Page 5

A5

NEWS

EKONOMIBISNIS SABTU 14 SEPTEMBER 2013

OTOMOTIF DI tengah kondisi makro ekonomi yang kurang mendukung, mobil low cost green car (LCGC) pun menjadi andalan untuk mendongkrak penjualan.

Perang Mobil Murah di Jabar ANTARA AUDY ALW Y

INILAH/SYAMSUDDIN NASOETION

S

ejak aturan low cost green car (LCGC) atau mobil ramah lingkungan/mobil murah dikeluarkan pemerintah, sejumlah produsen kendaraan di Indonesia termasuk Jawa Barat berlomba-lomba memasarkan produknya. Ada yang launching terang-terangan di depan publik, ada pula yang meluncurkannya secara internal. Beberapa Agen Pemegang Merek (APM) yang dikabarkan siap bertempur meraih pasar Indonesia di antaranya Honda, Toyota, Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, dan Tata Motors. Kebijakan LCGC ini tentunya menjadi angin segar bagi para produsen di tengah kondisi makro ekonomi Indonesia yang tidak menentu. Sehingga wajar, jika mobil LCGC kian menjadi andalan. “Mobil LCGC menjadi andalan kami dalam mendongkrak penjualan hingga bisa mencapai target,” ujar Manajer Operasional Honda Bandung Centre (HBC), Eko Kunwisono dalam peluncuran Brio Satya di Bandung, Jumat (13/9). Eko menjelaskan, target penjualan mobil Honda di Jawa Barat pada 2013 lebih dari 11.200. Namun hingga 10 September 2013, mobil yang terjual baru 6.305 atau 56% dari target. Sedangkan sisanya, 44% harus dikejar dalam empat bulan terakhir ini. Mencapai target tersebut tentunya bukan hal mudah. Eko sudah membuat hitunghitungan agar HBC bisa mencapai target. Dalam empat bulan ke depan, setidaknya

HBC harus bisa menjual 1.800 unit Brio, 800 unit Freed, dan 1.100 Jazz. Tiga kendaraan andalan Honda itu menjadi tumpuan HBC untuk mencapai target. “Unit yang harus diraih memang besar, tapi kami optimis bisa mencapai target 11.200-an. Salah satu strateginya dengan peluncuran sejumlah tipe baru baik Brio Satya (LCGC), Brio Sport, ataupun low MPV yang kemungkinan di-launching bulan depan di Bandung,” terangnya. Direktur HBC Iwan Tjandradinata menyatakan, Brio Satya yang dimulai dengan harga Rp108 juta ini menjadi tulang punggung penjualan produk Honda di Jabar. Mobil termurah yang pernah dikeluarkan Honda ini pun, diharapkan mampu meningkatkan market share. Sebab, pasar gemuk di Indonesia berada di kelas menengah ke bawah. “Kami yakin dengan penjualan Brio Satya ini, karena mobil tersebut memiliki kelebihan dibanding kompetitornya,” ungkap Iwan. Seperti, mesin i_VTEC SOHC 1.2 liter dengan 4 silinder, tenaga 88 PS, teknologi Drive by Wire (DBW), grade logic control, dan shift hold control. Selain itu, mobil ini dilengkapi tilt steering, electric power steering, dual airbags, dan lainnya. Selain itu, Operational Manager Auto 2000 Regional Jawa Barat, Ardian Nur mengakui kehadiran mobil LCGC sangat membantu jualan. Apalagi kondisi makro

ekonomi, mulai dari pelemahan rupiah, inflasi, dan lainnya diperkirakan memengaruhi penjualan. “Saya yakin bulan depan harga mobil Toyota akan naik akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Belum lagi kemungkinan kenaikan suku bunga kredit, pastinya akan berpengaruh pada penjualan mobil di Jabar maupun nasional,” imbuh Ardian. Namun dirinya optimistis, target penANTARA/YUDHI MA HAT

MA

jualan Toyota di Jabar pada 2013 sebesar 50.000 akan tercapai. Salah satu yang dijadikan andalan adalah mobil LCGC Toyota Agya. Dia menargetkan penjualan Agya di Jabar sebesar 350-400 unit per bulan. (reni susanti)

Konsumsi BBM Bersubsidi Meningkat PT Pertamina (Persero) mengkhawatirkan upaya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mendorong produksi mobil murah dan ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) bakal mempengaruhi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir menjelaskan, meski produksi LCGC merupakan kebijakan pemerintah, namun yang perlu disadari, masyarakat akan jauh lebih mudah membeli mobil dengan adanya dorongan produksi tersebut. “Populasi mobil akan meningkat drastis dan implikasinya akan membuat kebutuhan BBM bersubsidi meningkat,” kata Ali di Jakarta, Jumat (13/9). Ali menambahkan, dengan adanya produksi LCGC maka masyarakat menengah yang belum memiliki

Hidupkan Kewirausahaan Komunitas di Indonesia

LEMBAGA finansial independen internasional Global Environment Facility (GEF) menyatakan, kewirausahaan komunitas merupakan contoh konkret penerapan ekonomi kerakyatan hijau untuk Indonesia. “Kewirausahaan komunitas adalah contoh konkret ekonomi hijau yang bisa menghidupkan ekonomi rakyat, sekaligus menjamin keberlangsungan kelestarian lingkungan hidup dengan nyata,” kata Koordinator Nasional GEF Small Grants Programme Indonesia, Catharin Dwihastarini seperti dikutip Antara, Jumat (13/9). Kewirausahaan komunitas adalah sebuah usaha kelompok masyarakat. Mereka melihat adanya potensi ekonomi

INILAH/YUDHI MAHATMA

EKONOMI HIJAU: Kewirausahaan komunitas adalah contoh konkret ekonomi hijau yang bisa menghidupkan ekonomi rakyat.

yang muncul belakangan setelah melakukan gerakan dalam menjawab permasalahan baik lingkungan maupun sosial di sekitarnya.

Selain itu, keuntungan ekonomi yang mereka dapatkan tidak pernah untuk keperluan pemodal besar (industri/perusahaan), me-

lainkan dikembalikan kepada kebutuhan ekonomi harian komunitas dan memperluas perbaikan lingkungannya kembali. Salah satu contohnya, Kelompok Perempuan Muara Tanjung, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, yang digerakkan oleh para istri nelayan di Desa Sei Nagalawan. “Delapan tahun lalu mereka berjuang dalam menumbuhkan kembali hutan mangrove di pesisir pantai desa mereka,” tutur Catharin. Dia mengungkapkan, pikiran kelompok perempuan tersebut sederhana. Yakni desa mereka bisa selamat dari hantaman ombak, dan banjir rob, serta memastikan keselamatan dan kenyaman hidup anakanak mereka.

Dalam proses menanam mangrove, mereka sempat dicela, dicibir, bahkan mangrove mereka sempat dirusak. Namun mereka teguh. Kini mangrove yang mereka tanam seluas 12 ha tumbuh subur. Ikan-ikan, kepiting mangrove yang semula tidak ada, kini bermunculan. Contoh lainnya, perempuan dari Yogya yang peduli terhadap kelestarian tenun dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga mendirikan perusahaan sosial yang diberi nama dengan Lawe. Tujuannya sederhana, hanya ingin memastikan tenun yang ada di pelosok Indonesia tidak punah dan para pembuatnya tetap semangat dalam menghasilkan tenun khas mereka tersebut. (ren)

mobil akan dengan mudah memiliki kendaraan. Sehingga tidak menutup kemungkinan, masyarakat yang sudah memiliki mobil juga akan menambah armada transportasinya. “Dengan bertambahnya pemakai mobil ya bisa jadi mereka semua menggunakan BBM bersubsidi. Otomatis kuota BBM bersubsidi juga akan meningkat. Konsekuensinya perlu adanya penetapan dalam kuota kembali dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” tutur Ali. Mengenai pernyataan Menteri Perindustrian MS Hidayat, mobil LCGC wajib menggunakan BBM nonsubsidi, Ali mengaku, Pertamina cukup mengapresiasi kebijakan tersebut. Dengan mengarahkan produksi LCGC ke BBM nonsubsidi maka Pertamina kian aktif meningkatkan layanannya. Bahkan kalau ada kesempatan memperbesar pasar pihaknya akan ambil khusus pada BBM nonsubsidi. (ranto rajagukguk/ren)

SMA Se-Jabar Gratis 2015  

Dari Bandung untuk Indonesia

SMA Se-Jabar Gratis 2015  

Dari Bandung untuk Indonesia

Advertisement