Page 4

A4

NEWS

EKONOMIBISNIS SABTU 14 SEPTEMBER 2013

SUMBER: INILAH.COM

11/09

12/09

%

IHSG

4321.99

4344

-0.29

Hang Seng

23005.24

22888.1

-0.51

Nikkei

14382.92

14374.54

-0.06

Nasdaq

3725.01

3715.97

-0.24

S&P 500

1689.13

1683.42

-0.34

FTSE

6588.43

6588.98

0.01

S&P 500

1689.13

1766.86

-0.32

KLSE

1772.49

3117.1

-0.34

STI

3127.58

3127.58

0.41

IHSG 4.350,00

4.254,14

4.200,00 4.100,00

4.338,05 4.321,99

4.344

4.150,33

4.075,00

SUMBER: INILAH.COM

KOMODITAS

SUMBER: KURS.BI.GO.ID

12/09

13/09

%

Coklat

2571

2591

0.78

Jagung

470.5

463.5

Gula

17.17

Tepung

646.25

12/09

13/09

AUD

11,106.44

11,006.44

-1.49

CAD

11,625.47

11,518.35

17.18

0.06

CHF

12,899.55

12,761.51

647.5

0.19

EUR

15,970.01

15,796.56

GBP

18,976.91

18,786.96

SUMBER: INILAH.COM

4.050,00 4.025,00 09/09 10/09 11/09 12/09 13/09

MATA UANG

LOGAM MULIA

11/09

12/09

%

HKD

1,546.83

1,534.07

Emas

1357.7

1326.8

-2.28

JPY

12,060.33

11,927.20

SGD

9,471.69

9,369.83

Perak

22.97

22.01

-4.18

Tembaga

325.25

320.55

-1.45

JPY

SGD

SEPTEMBER 12.100,00 11.700,00 11.600,00 11.000,00 10.000,00 9.000,00 09

AUD

10

11

12

13

ANTARA/ANDREAS FITRI ATMOKO

LINTAS BISNIS TRANSPORTASI

Citilink Terapkan Sistem Penerbangan Transit INILAH, Jakarta - Citilink telah menerapkan sistem penerbangan transit (through check-in) untuk 13 rute pe­ nerbangannya. Penerapan sistem tersebut dimulai 9 Sep­ tember 2013. Chief Executive Officer (CEO) PT Citilink Indonesia Arif Wibowo mengatakan, adanya through check-in akan mempermudah Citilinkers karena pada saat berada di bandara penghubung tidak perlu check-in kembali dengan membawa barang bagasi untuk menuju destinasi akhir. Menurut Arif, pada saat check-in di bandara asal, Citil­ inkers akan mendapatkan dua boarding pass serta nomor label bagasi sesuai tujuan akhir. Saat transit, boarding pass Citilinkers akan diperiksa petugas bandara kemudi­ an Citilinkers akan dipersilakan untuk melanjutkan per­ jalanan menuju kota destinasi akhir. “Saat transit, Citilinkers dimungkinkan untuk me­ lanjutkan perjalanan menuju destinasi akhir tanpa harus turun dari pesawat apabila pesawat yang digunakan dari bandara asal untuk menuju bandara di kota destinasi ak­ hir adalah pesawat yang sama,” ujarnya di Jakarta, Jumat (13/9). (seno ts/ren)

SAHAM

5 Saham Kena Dampak BI Rate INILAH/DICKY ZULFIKAR NAWAZAKI

INILAH, Jakarta - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) men­ jadi 7,25%, berdampak negatif terhadap kinerja lima sektor saham. Yakni perbankan, multifinance, semen, konstruksi, dan properti. Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang me­ ngatakan, adanya kenaikan BI Rate menjadi 7,25% be­ berapa waktu lalu dipastikan akan berdampak kepada sektor perbankan karena adanya perlambatan dalam penyaluran kreditnya. “Perbankan menaikkan suku bunga kredit dan deposito, sehingga nantinya penyaluran kredit akan melambat karena bunganya cukup tinggi dari sebe­ lumnya,” kata Edwin saat acara Seminar ‘Capital Mar­ ket Ekonomi Outlook 2013 dan CSA Forum’ di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (13/9). Selain perbankan, sektor multifinance, semen, konstruksi dan properti juga berdampak negatif dari kenaikan BI Rate. “Semua dalam mencari dana, akan meminjam perbankan sedangkan bunga pinjaman naik setelah kenaikan BI Rate,” kata Edwin. Apalagi perusahaan pembiayaan yang tidak dibawahi perbankan akan lebih dalam dampaknya karena penyaluran kredit harus melalui perbankan. (seno ts/ren)

BERBAGAI KENDALA: Persoalan pembiayaan membuat KUMKM belum bisa mewujudkan kemampuan dan peranannya secara optimal dalam perekonomian nasional. Belum lagi mereka berhadapan dengan berbagai kendala dari tahap produksi, pengolahan, pemasaran, sumber daya manusia, dan teknologi.

Koperasi dan UMKM Sulit Berkembang

POTENSI perekonomian di Jabar berkembang pesat berkat dukungan 8.626.671 UMKM. Jumlah tersebut mencapai 98,56% dari total pelaku ekonomi.

Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) di Jawa Barat masih sulit berkembang. Salah satu penyebabnya, terbentur pem­ biayaan. Pasalnya, akses KUMKM terhadap lembaga keuangan dan sumber pembiayaan lainnya masih terbatas. “KUMKM yang eligible dan dike­ nal lembaga keuangan masih ter­ bilang sedikit sehingga gerak bisnis

pelaku tersendat,” ujar Kepala Dinas KUMKM Jabar Anton Gustoni pada acara Expo Pembiayaan di halaman Gedung Sate, Jumat (13/9). Akibat permasalahan pembiaya­ an, KUMKM belum bisa mewujud­ kan kemampuan dan peranannya secara optimal dalam perekonomian nasional. Selain pembiayaan, pelaku juga menghadapi kendala lain yang bersifat eksternal maupun internal mulai dari tahap produksi, pengolah­ an, pemasaran, sumber daya manu­ sia, dan teknologi. Menurutnya, potensi pereko­ nomian di Jabar berkembang pesat berkat dukungan dari 8.626.671 juta UMKM. Jumlah tersebut mencapai 98,56% dari total pelaku ekonomi sedangkan sisanya dari BUMN dan usaha besar. Kontribusi UMKM terhadap PDRB mencapai 54,20%, sementara usaha besar termasuk BUMN yang berjumlah kurang dari 1% menyum­

bang 45,80%. Melihat fakta tersebut, KUMKM perlu didorong dalam permodalan. Untuk membantu para pelaku meng­ atasi masalah pembiayaan, pihaknya menggelar Expo Pembiayaan. Da­ lam kegiatan ini diharapkan terjadi interaksi, konsultasi, dan transaksi pembiayaan. Expo pada tahun ini menjadi yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya digelar pada 2010 dan 2011. Selain expo, Pemprov Jabar juga membantu pembiayaan para pelaku KUMKM melalui program Kredit Cinta Rakyat (KCR). Kredit yang di­ salurkan melalui Bank BJB ini me­ miliki bunga yang terbilang sangat rendah, sekitar 8,3% per tahun. Pihaknya mencatat, realisasi pe­ nyaluran KCR hingga Agustus 2013 sebesar Rp210.288.075.000 yang disalurkan kepada 6.802 debitur. Sedangkan realisasi pengembalian hingga Juli 2013 mencapai Rp51,78

miliar. Sementara itu, Deputi Pembia­ yaan Kementerian KUKM Meliadi Sembiring menyatakan, baru 30% dari 56,4 juta UMKM di seluruh In­ donesia yang telah mengakses pem­ biayaan perbankan. Dari jumlah itu, sebanyak 76,1% mengakses kredit bank, 23,1% nonbank termasuk usa­ ha simpan pinjam seperti koperasi. “UMKM masih sulit akses kredit perbankan karena persoalan jamin­ an,” bebernya. Selain itu, sebagian besar UMKM juga belum bankable dan belum bisa memisahkan keuangan pribadi dan bisnis. Melihat kondisi tersebut, pihak­ nya berupaya meningkatkan akses pembiayaan bagi KUMKM. Peme­ rintah terus meningkatkan pene­ trasi kredit usaha rakyat (KUR). Outstanding KUR saat ini mencapai Rp123,3 triliun meng-cover 9,1 juta debitur. (dadi haryadi/ren)

Penyamak Kulit Garut Olah Limbah Industri Rp113 Miliar ANTARA/DEDENG BUSTOMI

Penyamak Kulit Indonesia wilayah Garut, Jawa Barat, memfinalisasi penanganan penghiliran limbah padat dan cair dari industri penyamakan kulit dengan menganggarkan biaya sebesar Rp115 miliar. Sekretaris Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) wilayah Garut, Yusuf Tojiri mengatakan, penghiliran limbah industri penyamakan kulit akan segera dibentuk dengan sejumlah kajian. “Saat ini, kami tengah menangani penghiliran limbah dengan Balai Besar Kulit dan Plastik Yogyakarta dan Universitas Islam Bandung,” tuturnya seperti dikutip Bisnis, Jumat (13/9). Pengolahan limbah

industri kulit saat ini tengah menjadi fokus pemerintah Garut akibat banyaknya desakan dari sejumlah kalangan, termasuk LSM. Namun, banyak perajin masih belum sadar pentingnya pengolahan limbah sehingga dua sungai di sekitar sentra industri penyamakan di Sukaregang tercemar, yakni Ssungai Ciwalen dan Cigulampeng. Pengelolaan limbah dari industri beromzet Rp50 miliar per bulan ini dibedakan menjadi limbah cair dan padat. Untuk limbah padat industri penyamakan dengan 23 pabrik pengolahan besar bisa mencapai 2 ton per bulan. Namun, untuk limbah cairnya, asosiasi belum menghitung kubikasi limbah tersebut.

OLAH LIMBAH: Untuk mengolah limbah dibutuhkan dana sekitar Rp5 miliar untuk satu pengolahan di tiap pabrik. Jika ada 23 pabrik, maka dana yang dibutuhkan mencapai Rp115 miliar.

Untuk mengolah limbah, Yusuf merinci, dibutuhkan dana sekitar Rp5 miliar untuk satu pengolahan yang ada di satu pabrik. Sehingga, jika ada 23 pabrik yang harus mengelola limbah diperlukan sekitar Rp115 miliar. Dana itu nantinya akan dihimpun dari pemerintah dan kas masingmasing perusahaan. Sementara itu, peneliti dari Balai Besar Kulit dan Plastik Yogyakarta Sri Sutiasmi menuturkan, limbah dari industri penyamakan kulit di Sukaregang akan segera dibentuk. Saat ini penelitian difokuskan untuk pengolahan limbah cair. Secara teknis, sambung Yusuf, limbah cair dari industri penyamakan akan dipisahkan dari air dan senyawa kimia yang

mengikat. Nantinya, limbah yang terbuang hanya berupa air. Adapun senyawa kimia akan digunakan lagi untuk penyamakan. Untuk limbah padat berupa potongan perca kulit, katanya, dapat digunakan untuk bahan asbes dan alat bangunan lainnya. “Kami dan pengusaha setempat akan berusaha menjadikan limbah padat itu lebih berguna di kawasan ini juga,” terang Yusuf tanpa merinci kegunaan barang hasil limbah itu. Adapun untuk tingkat keberhasilan pengolahan limbah di kawasan industri, bisa dilihat dari tidak matinya ekosistem yang ada di sungai. Sedangkan saat ini, masih banyak ikan yang mati akibat perajin membuang limbah cair di dua sungai tersebut. (ren)

SMA Se-Jabar Gratis 2015  

Dari Bandung untuk Indonesia

SMA Se-Jabar Gratis 2015  

Dari Bandung untuk Indonesia

Advertisement