Page 8



SELASA 11 DESEMBER 2012

>8 INILAH GRUP : INILAH KORAN ď ŹPORTAL NEWS : WWW. INILAH.COM, WWW. INILAHKORAN.COM, WWW.YANGMUDA.COM, WWW. JAKARTAPRESS.COM ď ŹMAJALAH INILAH REVIEW

Karikatur

Fokus Inilah

Hari Gunung yang Terlupakan BAYANGKAN dunia tanpa gunung. Datar, monoton, gersang dan gerah tanpa embusan angin sejuk. Tanpa gunung, daya imajinasi manusia terbatas. Membayangkan bumi tanpa gunung tidak saja membosankan. Tapi juga mengerikan. Karena tidak akan ada air bersih untuk diminum, tak ada tempat bagi satwa untuk berlindung, tidak akan ada salju, tiada angin, tiada cuaca... Dua puluh tujuh persen dari total permukaan bumi terdiri dari gunung atau pegunungan. Tapi, yang lebih mengerikan lagi, membayangkan gunung tanpa pepohonan. Buram dan menjulang tinggi ribuan meter dari permukaan laut adalah ekspresi murka tiada tara –siap melumatkan apa saja yang ada di bawahnya. Dan, seperti itulah sebagian gunung di Indonesia. Pentingnya keberadaan dan fungsi gunung di muka bumi dikukuhkan Majelis Umum PBB pada 2003 melalui pencanangan Hari Gunung Internasional setiap 11 Desember. Tujuannya, untuk membangkitkan kesadaran tentang pentingnya gunung bagi kehidupan. Bagi Indonesia, pencanangan tersebut mestinya punya makna khusus. Indonesia adalah pemilik gunung terbanyak di dunia. Gunung berapinya saja mencapai sekitar 400, dengan 127 di antaranya masih aktif. Tapi, justru Indonesia-lah yang paling abai. Sejak Hari Gunung Internasional dicanangkan, ia baru sekali saja diperingati secara khusus. Yaitu pada 26 Desember 2005 – terlambat 15 hari -- di Gedung LIPI, Jakarta, dan hanya melibatkan kalangan pendaki gunung. Ironis? Ya. Yang lebih ironis lagi adalah kenyataan bahwa sejak itu kita menciptakan monster-monster buram baru dengan terus mengeksploitasi kawasan gunung dan dataran tinggi tanpa kendali. Akibatnya, di awal musim penghujan ini bencana banjir dan longsor telah terjadi di banyak tempat dan menewaskan banyak warga. Bencana akibat degradasi lahan, terutama di kawasan pegunungan, semakin sering menerpa. Banjir bisa menerjang tempat-tempat yang sebelumnya tak terbayangkan bisa kena. Misalnya, daerah Cipanas, Kabupaten Cianjur. Kenapa? Karena Cipanas itu mirip tempat antah berantah Shangri-La yang dilukiskan dalam novel Lost Horizon (1933) karya James Hilton. Ia elok, asri, sejuk dan mistis. Tak mungkin kena bencana. Namun, ketika Cipanas yang terletak di sabuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diterjang banjir, seperti yang terjadi kemarin, tidak banyak orang yang terkejut. Dengan degradasi lahan TNGGP yang mencapai lebih dari 1,7 juta ha, tidak sulit memprediksi kapan banjir datang. Mengingat ancaman bencana lebih besar bisa datang kapan saja, ada baiknya kita hari ini menghe­ ningkan cipta sejenak untuk memperingati Hari Gunung Internasional yang lama terlupakan. (*)

Surat Pembaca

Dibuat Tak Sakaligus, Jalan Beton Bergelombang SEBAGIAN besar jalan di Kota Bandung saat ini sudah diganti dari jalan aspal menjadi beton. Sayangnya, dengan proses pembuatannya yang tidak sekaligus, jalan-jalan tersebut jadi bergelombang. Gelombang-gelombang tersebut khususnya ada di lokasi sambungan antara jalan beton yang baru dibuat dengan yang sebelumnya. Coba tengok Jalan Margacinta mulai dari pertigaan Kordon hingga Komplek Margahayu Raya. Di lokasi sambungan, tampak tidak rata. Ada beton yang lebih

tinggi dibanding yang lain. Kondisi tidak rata juga berada di dua sisi jembatan, karena memang jembatannya sendiri tidak dibeton. Untuk meratakan titik yang cekung, dinas bina marga melapisinya dengan hotmix. Namun, karena memang ketinggian betonnya berbeda, tetap saja jadinya ada gelombang. Untuk itu, ke depannya jika membuat jalan beton, pihak terkait harus lebih teliti lagi mengukur ketebalan beton yang dibuat, sehingga masyarakat bisa lebih nyaman berkendara.

ILUSTRASI INILAH/KENYO JABAR

ILUSTRASI INILAH/KENYO JABAR

Korupsi dan Budaya Undur Diri D

PENETAPAN Andi Alifian Mallarangeng sebagai tersangka kasus korupsi Hambalang, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Sebelumnya, nama Andi cukup santer disebut-sebut dalam perkara ini. Â Justru, fakta yang lebih mengejutkan adalah aksi pengunduran diri Andi dari jabatan Menpora, pascapenetapan KPK ini.

Maman Wiria Jalan Margacinta Bandung

Kirim artikel opini dan surat pembaca ke Redaksi INILAH KORAN: inilahkoran@inilah.com, redaksijabar@inilah.com. Aspirasi bisa dikirim juga melalui SMS ke 022-7099 1183

INILAH GRUP : ď ŹPORTAL NEWS : WWW. INILAH.COM ď ŹPORTAL NEWS : INILAH JABAR ď ŹMAJALAH INILAH REVIEW ď ŹPORTAL NEWS : WWW. JAKARTAPRESS.COM

alam kasus megakorupsi, Andi adalah menteri aktif pertama yang mengundurkan diri. Publik merespons positif pengunduran ini karena peletakan jabatan di kalangan pemimpin bermasalah belumlah membudaya. Padahal, terkait undur diri, Republik ini telah memiliki aturan, yakni Tap MPR No VI/2001. Ketentuan ini  menyarankan pengunduran diri pada pejabat yang merasa melanggar aturan. Hanya, perangkat hukum ini tidak bersifat memaksa dan lebih menyerupai pesan etik. Tap MPR ini berpijak pada pemikiran bahwa kekuasaan cenderung dianggap sebagai segala-galanya. Ketika seseorang telah mendapatkannya, sering lupa akan hakikat jabatan, dan melulu memikirkan bagaimana menikmatinya hingga puas, sementara pelaksanaan tanggung jawab hanya ala kadarnya. Di Tanah Air, pengunduran diri merupakan aksi langka. Dalam kasus Bank Century, misalnya. Meskipun perkembangan kasus mengarah pada Wapres Budiono, namun sampai detik ini Wapres masih menduduki kursi singgasana dengan nyaman, tak peduli desakan mundur telah marak di berbagai tempat. Asas praduga tak bersalah dalam sistem hukum sering jadi senjata untuk mempertahankan kekuasaan. Sebelum keluar putusan pengadilan berkekuatan tetap, seseorang masih masuk kategori praduga tak bersalah. Padahal, proses penyelesaian hukum memerlukan banyak waktu, sementara kekuasaan yang masih dipegang tersangka berpotensi mempengaruhi independensi pengadilan. Selain itu, ketika tersangka harus menjalani   status sebagai tahanan, maka pelayanan publik yang berkaitan dengan jabatannya akan sangat terganggu. Celakanya, selain enggan meletakkan jabatan, kini muncul tren baru, yakni menolak eksekusi pengadilan, walaupun vonis ber-

Elsya Tri Ahaddini Peminat Hukum dan Politik

salah telah berkekuatan hukum tetap (inkracht). Para pembangkang vonis itu di antaranya adalah mantan Bupati Subang Eep Hidayat, mantan Wali Kota Bekasi Mochtar Mohammad, dan mantan Bupati Bojonegoro HM Santoso. Ketiganya terperosok ke dalam kasus korupsi, namun bersikeras menolak masuk bui. Sebenarnya, dibandingkan pejabat publik di Korea Selatan, Jepang, Jerman, Finlandia, India, dan Brasil, langkah mundur Andi Mallarangeng belumlah apa-apa. Di empat negara tersebut, ketika baru terindikasi saja, para pemimpin langsung meninggalkan jabatan. Respons positif atas mundurnya Andi bukan berarti toleransi atas dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan. Apresiasi lebih ditujukan

ILUSTRASI INILAH/KENYO JABAR

karena selama ini publik sering menjumpai sikap arogan para pejabat yang memiliki masalah hukum. Tak sedikit anggota DPR yang sudah jadi tersangka, tapi enggan melepas jabatan. Gawatnya, kini gejala konyol menjangkiti birokrat negara, yakni merasa percaya diri naik jabatan, kendati baru menjalani hukuman dalam kasus korupsi. Data Kementerian Dalam Negeri dalam lima tahun terakhir menunjukkan 153 PNS masuk penjara karena korupsi. Sebagian dari mereka justru mendapat promosi dan menduduki jabatan eselon II di tingkat provinsi atau kabupaten. Setidaknya, ada 14 PNS eks terpidana korupsi yang justru mendapat promosi jabatan strategis di daerah. Hanya dua orang yang mengundurkan diri. Itu pun setelah mendapat tekanan dahsyat dari publik. Pukulan telak dalam gerakan pemberantasan korupsi bertambah saat sejumlah eks narapidana justru tetap bisa mengemban jabatan-jabatan publik. Peristiwa mutakhir adalah pengangkatan Azirwan yang pernah dipidana 2,5 tahun penjara dalam kasus suap sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau. Pemerintah berpedoman pada UU Pokok Kepegawaian yang menyebutkan, PNS yang dihukum kurang dari empat tahun tidak diberhentikan. Dari sisi hukum, kebijakan ini tidak menyalahi UU. Namun, dari aspek moral dan etika, promosi ini sangat tidak patut. Langkah mundur Andi layak jadi momentum bagi pejabat di negeri ini untuk memahami etika kepublikan secara lebih dalam. Pengunduran diri di awal kemelut kasus merupakan pilihan pejabat publik di negara-negara beradab. Tanpa menunggu datangnya status tersangka, bahkan tak perlu buang energi dengan berkilah bahwa tudingan itu salah kaprah berbungkus fitnah, mereka dengan suka rela melepaskan jabatan. (*)

PENDIRI: Muchlis Hasyim, Syahrial Nasution; PEMIMPIN UMUM/PEMIMPIN REDAKSI: Andi Suruji; WKL PEMIMPIN UMUM/PEMIMPIN PERUSAHAAN: Syahrial Nasution; WKL PEMIMPIN REDAKSI: Zulfirman Tanjung; DEWAN REDAKSI: Muchlis Hasyim, Andi Suruji, Syahrial Nasution, Zulfirman Tanjung, Gin Gin Tigin Ginulur, Fonda Lapod, M Dindien Ridhotulloh, Budi Winoto; REDAKTUR SENIOR: Derek Manangka, Herul Fathony. REDAKTUR PELAKSANA: Gin Gin Tigin Ginulur, Budi Winoto; KOORDINATOR LIPUTAN: Sonny Budhi Ramdhani, Tantan Sulton Bukhawan, Deni Mulyana Sasmita; REDAKTUR: Sirojul Muttaqien, Budi Safa’at, Nurholis, Ricky Reynald Yulman, Ghiok Riswoto, Reni Susanti, Daddy Mulyanto, Ageng Rustandi, Hanhan Husna; EDITOR BAHASA: Suro Udioko Prapanca; REPORTER: Dery Fitriadi Ginanjar, Jaka Permana, Dani Rahmat Nugraha, Ahmad Sayuti, Doni Ramdhani, Dadi Haryadi, Astri Agustina, Riza Pahlevi, Evi Damayanti, Yogo Triastopo, Putra Prima, Yuliantono; FOTOGRAFER: Syamsuddin Nasoetion (Koordinator), Bambang Prasethyo, Dicky Zulfikar Nawazaki; PRODUKSI & ARTISTIK: Agus Sudradjat (Kepala), Tian Rustiana, Sunandar, Harry Santosa, Yoga Enggar Agustha, Ahmad Sulaeman, Eri Anwari, Dicky Hendrianas; GRAFIS: Salman Farist, Kenyo Jabar; BIRO JAKARTA: Ediya Moralia, Tri Juli Sukaryana, Theresia Asteria, Charles Siahaan, Wirasatria, Arief Bayuaji, R Ferdian Andi R, Wahid Ma’ruf, Abdullah Mubarok, Vina Ramitha, Boy Leonard, Ahmad Munjin, Mevi Linawati, Dahlia Krisnamurti, Aris Danu Cahyono, Agus Priatna, Agustina Melani, Aulia Edwin F, Bayu Hermawan, Billy Audra Banggawan, Ferry Noviandi, Irvan Ali Fauzi, Laela Zahra, Mosi Retnani Fajarwati, Rizwan M Dien, Rizki Meirino, Rio Muhaimin, Santi Andriani, Supriyanto, Renny Sundayani, Agus Rahmat, Catur David Hardiansyah, Arie Nugroho; KONTRIBUTOR DAERAH: Benny Bastiandy (Cianjur), Budiyanto (Sukabumi), Andriansyah (Ciamis), Asep Mulyana (Purwakarta), Vera Suciati (Sumedang); Nul Zainulmukhtar (Garut), Dian Prima (Bogor); MANAJER SIRKULASI: Unggung Rispurwo; MANAJER IKLAN: Hendra Karunia; MANAJER HRD & GA: Aris Sandhi; IT: Subhi Sugianto. Ade Kesuma PENERBIT: PT INILAH MEDIA JABAR Alamat Redaksi/Sirkulasi/Iklan: Jalan Terusan Pasteur No 167 Kota Bandung No Telp 022 612 7865 (Hunting), 022 612 7793 (Redaksi), Fax 022 612 7769, Jalan Rimba Buntu No 42 Kebayoran Baru, Jakarta No Telp 0217222338 Fax 021 7222659. *) isi di luar tanggung jawab percetakan INILAH PRINTING

BIDUK ACENG KIAN OLENG  

Dari Bandung untuk Indonesia

BIDUK ACENG KIAN OLENG  

Dari Bandung untuk Indonesia

Advertisement