Page 1


Booklet #1

TERSERAK Sekelumit racauan yang mungkin tidak berarti.

Inggit Selvira


Daftar Serakan M e n g e j a,

Dibalik Nama,

Berhitung, Persaingan, Kekurangan.


“Kata kata tidak hanya bisa menggerakan dan mengajak jiwa menuju arah mana saja, tetapi bahkan ia bisa menjadi penggerak terhadap maju dan mundurnya sebuah peradaban� Igsvr


Mengeja Sudah lama aku menanti keadaan seperti ini untuk hanya berdua bersama keinginan ku, tentang mengeja kata, menyusun nya menjadi kalimat, berparagraf, hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa aku sedang benar-benar menulis secara bebas. Semakin hari semakin aku kehilangan gairah untuk merealisasikan keinginan yang satu ini, niat untuk konsisten dalam menulis sudah hadir sedari dulu, tapi usaha ku memang terlalu kecil, aku selalu saja maju mundur, hilang pergi, dan terkadang aku tak mengerti lagi akan kehendak diri. Berbagai macam naskah telah ku buat, tapi dengan pertimbangan yang lain aku begitu saja menghapus sebagiannya meski bahkan kata itu telah tersusun menjadi beberapa lembar, lengkap dengan keterangan dan sebuah gambar, sungguh, setelah ku baca ulang itu terasa tak layak untuk terbit, untuk dibaca publik. Padahal seburuk apapun suatu karya tulis, tidak pernah ada yang bersedia untuk menghakimi, justru mungkin keadaan itu akan mengundang sedikit masukan yang tujuan nya tentu saja bukan menjatuhkan. Tapi aku terlalu malu, aku belum bersedia untuk menerima itu, yang aku mau, tulisan ku menjadi sumber inspirasi, rangsangan untuk menyemangati diri, juga mengandung kebermanfaatan, dan semuanya begitu terasa sulit, apalagi ketika di tengah perjalanan


ide yang sebelumnya berdatangan, menghilang ditelan waktu. Aku meyakini semua orang yang belajar untuk menulis pernah mengalami itu, tapi aku tidak tau bagaimana mereka akhirnya bisa melawan hambatan itu, bagiku sendiri, jika ide sudah hilang dan sesuatu yang perlu ditulis terasa tidak ada, aku lebih suka menjeda lama. Dan aku tau itu bukan solusi, itu bahkan mirip sekali dengan menghindari suatu permasalahan, setidaknya itu menurut apa yang pernah ku baca, ku tanyakan kepada beberapa orang teman, dan ku rasakan sendiri bahwa menjeda lama sembari menanti kembalinya ide-ide adalah sebuah kelalaian. Dengan penantian yang cukup memakan waktu, ada kecenderungan untuk berfikir ulang dan kembali mengatur jalan ide dari awal atau artinya sependek pengetahuan ku, ide yang sebelumnya tertuangkan kedalam tulisan itu sudah tidak menarik lagi, sampai akhirnya deretan huruf yang pernah di susun tidak terselesaikan dan justru begitu mudah untuk dihapuskan. Keadaan tersebut membuat diriku terlalu lelah dengan tingkah ku sendiri, untuk menghapus dan mengeja ulang kata-kata, disaat seperti itu rasanya petuah William Forester terasa begitu manjur; Jangan berfikir- itu nanti saja. Buatlah draf pertama dengan hatimu, tulis ulang dengan nalar mu, langkah awal untuk menulis adalah menulis, bukan berfikir!


Akhirnya akupun mencoba untuk tidak dulu peduli pada kualitas, biarkan bagian bagian kosong ini terisi dulu dengan kata, biarkan jari-jari ku mengeja setiap huruf untuk sampai kepada makna, tidak ada yang benar-benar akan menghentikan ku selain diriku sendiri. Lagipula yang terpenting untuk saat ini adalah bagaimana mengasah konsistensi untuk menulis, baik atau buruk hasilnya nanti tak perlu lagi dirisaukan, semua orang punya cara pandang berbeda untuk menyikapi berbagai macam peristiwa, kehilangan ide bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti, selama kehidupan ini terasakan ide akan selalu ada berdatangan. Pertanyaan mengapa aku ingin menulis secara konsisten memiliki jawaban bahwa mungkin hanya inilah yang mampu ku lakukan dalam kaitannya membuat karya, usiaku yang sudah tua agaknya sudah tak lagi bersedia untuk menekuni bidang yang lain, misalnya seperti bernyanyi, berenang, berlari, dan lain sebagainya, sehingga kesempatan untuk memupuk karya dalam bidang-bidang itu, bagi diriku ku anggap sudah tidak ada. Tapi bukankah hanya dengan mengeja kata, merangkainya menjadi suatu karya tulis, keniscayaan untuk memberikan pengaruh terhadap orang banyak itu terbuka? Lihatlah kembali bagaiman sejarah menceritakan bahwa ketika indonesia mengalami masa penjajahan, perlawan terhadap bangsa kolonial maupun


jepang tidak hanya melalui aksi angkat sejata, tetapi juga diikuti dengan aksi merangkai kata, dengan menggunakan fasilitas pers saat itu para pelopor perjuangan menyemarakan perlawan. Dengan begitu, aku semakin percaya, kata kata tidak hanya bisa menggerakan dan mengajak jiwa menuju arah mana saja, tetapi bahkan ia bisa menjadi penggerak terhadap maju dan mundurnya sebuah peradaban. Tidak terasa akhirnya aku sudah bisa mengeja kata ke dalam beberapa lembaran kosong, sesuatu yang sebenarnya sangat ku inginkan untuk dilakukan setiap hari, tapi mungkin, semuanya belum bisa terwujud, tersebab kegiatan ku dalam ruang belajar formal kerapkali memaksa ku untuk menghabiskan waktu disana, juga kegiatan ku sebagai seorang freelancer membuatku terkadang tak lagi berfikir untuk menulis. Tapi aku akan mencoba meningkatkan usaha ku untuk menulis, setidaknya aku kini telah memiliki target untuk menyelesaikan booklet pertama ini, menyoal mengapa ku berikan judul Terserak adalah tersebab semua rangkaian kata disini tidak diniatkan dengan kesatuan tema, sudah itu saja.


“Keinginan ku untuk berkarya layaknya hembusan angin yang mengalir menuju siapa saja, tanpa perlu menunjukan diriku yang sebenarnya.� Igsvr


Dibaliknama Dibalik nama terkadang ku simpan diriku sendiri, entah mengapa memakai nama pena menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan, itu bukan karena aku tidak mensyukuri nama asli ku sendiri, bagaimana pun juga nama asliku memiliki nilai filosofis yang secara khusus diberikan oleh orang tuaku, ia menjadi amanah yang mestinya terus selalu ku jaga. Setiap orang memiliki kehendak, maksud, alasan dan tujuan nya sendiri untuk membuat dan menggunakan nama pena, termasuk para penulis yang telah masyur dan ahli dalam merangkai makna. Alasan ku sendiri untuk hampir selalu memakai nama pena dalam beberapa tulisan -yang jarang terbit- adalah sebatas aku lebih merasa bebas saja, dengan nya aku menjadi tidak merasa malu ketika karyaku dibaca banyak orang, kadang pula melalui persembunyian ku dibalik nama aku juga merasa lebih fasih untuk mewujudkan keinginan ku untuk berkarya layaknya hembusan angin yang mengalir menuju siapa saja, tanpa perlu menunjukan diriku yang sebenarnya. Sehingga tak perlu lagi rasanya untuk meberitahukan apa nama pena ku kepada siapapun, bagi diriku sendiri nama pena menjadi sesuatu yang mungkin akan lebih seru jika hanya diketahui pribadi atau paling tidak oleh orang-orang yang terdekat sekali, sehingga kerahasiaan itu masih ada, dan perwujudan itu masih benar-benar tersembunyi.


Lalu setelah berfikir kembali, jika setiap karya selalu tersembunyi dibalik nama, bagaimana caranya menunjukan eksistensi diri? Akhirnya aku mengalah pada diriku sendiri, melalui booklet ini, aku mencoba untuk memberanikan diri, menunjukan nama asli, yang kesemuanya ditujukan untuk mewujudkan eksistensi, sekaligus melatih konsistensi dan militansi. Semoga selalu ada catatan yang bisa ku simpan kedalam bentuk tulisan, aku sudah memiliki target untuk membuat banyak booklet, tapi agaknya semua membutuhkan cukup banyak waktu lagi, memori ku yang sedikit sulit untuk sekedar diajak mengingat-ingat tetesan pengetahuan yang telah masuk semakin menambah daftar kesulitan, belum lagi, saat ini tanpa disadari dengan kesibukan yang sebenarnya tidak terlalu membuat diriku menjadi seorang block readers, bayangkan, 2018 sudah 2 bulan berlalu, tapi belum ada satu buku pun yang telah selesai aku baca. Mungkin kita masih ingat bahwa 2 bulan bukan waktu yang sebentar, karena ia sama saja dengan 60 hari, sama saja dengan 1440 jam, dan sama saja dengan 86,400 detik, ini kalau aku tidak salah menghitung. Jika ada salah satu survei menyatakan bahwa minat baca masyarakat indonesia hanyalah 1 paragraf pertahun, mungkin aku adalah salah satu sampel nya ď Š Tapi mudah-mudahan dalam kesempatan waktu sekarang dan yang mungkin akan datang aku bisa menjadi lebih produktif lagi.


“Ilmu adalah bagian dari cahaya Nya, kita perlu meluruskan niat dan tekad supaya mudah menerima serta memelajari, setiap cabang ilmu punya keutamaan nya tersendiri, salah satu keutamaan ilmu hitung adalah mengasah kepekaan diri terhadap segala sandisandi yang diturunkan oleh Ilahi.� Igsvr


Berhitung Sedari kecil jika ada pertanyaan mengenai pelajaran yang paling tidak disukai, dengan yakin dan pasti aku akan memberikan jawaban matematika, ilmu berhitung yang juga mungkin tidak disukai oleh orang-orang berkecenderungan menggunakan otak kanan dalam proses berfikirnya. Berawal dari ketidaksukaan itu, keengganan untuk memelajarinya muncul selama aku duduk dibangku sekolah, belajar matematika seolah menjadi sebuah peperangan yang hampir selalu aku takuti, dengan begitu, nilai-nilai matematika di raport ku tidak pernah sampai kepada rata-rata, jikapun ada, aku pastikan itu hanyalah hasil dari belas kasihan guru. Orang bilang jika ingin memelajari suatu bidang ilmu hal pertama yang harus dibangun adalah keinginan dan kemauan, melalui itulah katanya, kesulitan sebesar apapun akan ternikmati seiring rasa ingin tahu itu terjawab dan terus bermunculan sampai kepada ketidakpuasan untuk terus menekuni bidang tersebut. Pernah ku mencoba untuk berusaha menumbuhkan kemauan belajar matematika, tetapi rupanya, bermatematika bukanlah ilmu yang mudah untuk ditaklukan, ia terlalu sukar untuk sekedar diceritakan dengan kata. Aku pun bertahan dengan keadaan yang seperti itu, kalah oleh rasa malas untuk meladeni, setiap angkaangka itu datang menyapaku di dalam lembaran buku


misalnya, aku selalu enggan untuk melirik, rasanya stereotipe yang sulit itu telah mengakar dalam benakku, membawa dorongan supaya aku tidak pernah menemuinya lagi, tidak pernah mencoba mencari tau tentang nya lagi, bahkan sampai aku lulus dari SMA. Untungnya, nilai Ujian Nasional tidak menjadi angka prioritas untuk mengukur kelulusan, jika saja ia, mungkin saat ini aku masih disana, entah aku akan lulus tahun keberapa. Cintailah sesuatu sewajarnya saja, sebab nanti engkau bisa membenci. Dan bencilah sesuatu sewajarnya saja, sebab nanti engkau bisa mencinta.. Petuah yang datang di dalam salah satu lembaran buku yang entah milik siapa itu, mungkin ada benarnya, kebencian yang berlarut-larut pun nyatanya tidak bisa bertahan lama, ia selalu memiliki celah rasa, entah itu sekedar saja atau bahkan segenap rasa, termasuk kebencian ku terhadap matematika, setelah lulus SMA justru aku semakin tergoda untuk mengetahui segala tentang nya. Semua berawal ketika aku bertemu dengan seorang wanita, berkacamata, ahli statistika, ia datang dengan senyuman nya yang anggun, memberitahuku bahwa sepandai-pandainya aku menghindari ilmu menghitung pada akhirnya aku akan dipertemukan juga, sebagaimana sepandai-pandainya aku menutup diri, pada akhirnya aku akan membuka hati. Dengan caranya yang ku anggap berbeda, ia mengajariku memaknai angka, diawal pertemuan ia


mengutarakan bahwa ilmu adalah bagian dari cahaya Nya, kita perlu meluruskan niat dan tekad supaya mudah menerima serta memelajari, setiap cabang ilmu punya keutamaan nya tersendiri, salah satu keutamaan ilmu hitung menurutnya, adalah mengasah kepekaan diri terhadap segala sandi-sandi yang diturunkan oleh Ilahi. Melalui permulaan seperti itu, aku mulai tertarik untuk mengikuti apa yang diutarakan nya, jika kehidupan ku ingin lebih berarti, maka kunci dari semua itu adalah semakin mendekatkan diri kepada Ilahi, beberapa caranya memang adalah melalui ritual ibadah, tetapi segala aktivitas lain termasuk di dalam nya adalah belajar dengan serius merupakan sebuah cara lain untuk mensyukuri apa yang Allah Subhanahu wa ta’ala anugerahkan kedalam diri. Akhirnya melalui pertemuan ku dengan nya, aku menjadi tau, akulah sendiri yang sebenarnya dulu membatasi diri dalam belajar, aku sendiri yang telah membuat batasan kecenderungan penggunaan otak kiri atau kanan, padahal sesungguhnya, semua cabang ilmu bisa dipelajari dengan kemauan dan ketekunan. Berhitung adalah salah satu bagian penting dalam hidup, mungkin dia ada dimanapun kita ada, untuk mu yang masih tak menyukainya, kurasa sudahi saja, tersebab nanti ketika usiamu sudah beranjak dewasa, dan takdir memutuskan bahwa kau harus bekerja, setidaknya kau harus percaya, bermatematika menjadi


tolak ukur utama untuk selanjutnya kau diterima atau tidak. Untuk itu, selagi kesempatan terbuka begitu lebar, kecanggihan teknologi juga memudahkan ku untuk belajar bersama siapapun, dengan hanya membuka youtobe lalu mengetikan materi apa yang tidak ku pahami, lalu memilih mana yang dirasa akan menjawab semua pertanyaan, rasanya tak ada lagi alasan untuk mengutarakan kesulitan. Akupun mencoba untuk membuka diri untuk tidak hanya terpaku menekuni bidang yang di senangi, lagipula semua cabang ilmu memang penting untuk diketahui dan memeliki ruang kebermanfaatan nya tersendiri, walaupun memang mustahil bagi mahluk yang memiliki keterbatasan seperti kita untuk memelajari semuanya, untuk mengetahui segalanya, tapi setidaknya kita tidak menutup diri terhadap pengetahuan-pengetahuan yang bisa kita gali serta ketahui, meskipun bahkan itu sebatas pengetahuan secara umum nya saja. Mungkin akan lebih baik bagi kita supaya memanfaatkan media seperti smartphone sebagai wahana curhat dan pencitraan, lebih baik manfaatkan sebagai wahana untuk memupuk pengetahuan.


“Kita tidak bisa terus bermalas-malasan sementara orang-orang di luar sana justru sedang berlatih, belajar, menyusun strategi dan melakukan berbagai aktivitas yang terkait dengan memantaskan diri untuk mewujudkan mimpi.� Igsvr


Persaingan Saat ini persaingan dalam dunia usaha sudah terasa begitu ketat, berbagai macam lapangan pekerjaan hampir selalu ramai dikunjungi, keadaan tersebut mendukung banyaknya konsekuensi negatif, diantarnya adalah meningkatnya angka pengangguran dan kriminalitas. Dulu kata orang tua ku, berjalan di jalan raya pada waktu tengah malam bukan merupakan suatu kekhawatiran, walaupun tidak tersedia pos keamanan, tapi kini berjalan ditengah hari di dalam sebuah keramaianpun menjadi sesuatu yang memerlukan kehati-hatian dan kewaspadaan, tersebab bisa jadi kita sedang menjadi sasaran tindakan kejahatan. Keketatan persaingan sebenarnya bukan hanya terjadi di dalam dunia usaha, tetapi bahkan terus berlangsung selama kita hidup, apapun jalan yang kita tempuh, kemana pun kita menuju, kita tak pernah benar-benar sedang sendirian, kita selalu diliputi oleh orang-orang yang memiliki tujuan yang sama. Begitu pula dengan sebuah impian, tanpa disadari kita sejatinya sedang bersaing bersama banyak orang di luar sana, mereka bisa jadi lebih giat dan tekun untuk meraihnya, mereka bisa jadi lebih cekatan, pandai, rajin, dan memiliki semua nilai plus dibandingkan diri kita. Untuk itu, ketika impian masih belum tercapai, kita mestinya tidak berleha-leha bukan? Kita tidak bisa


terus memanjakan rasa malas sementara orang-orang di luar sana justru sedang berlatih, belajar, menyusun strategi dan melakukan berbagai aktivitas yang terkait dengan memantaskan diri untuk mewujudkan mimpi. Dunia ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan sebagian nya untuk bermalas-malasan, tanyakanlah pada seorang yang tengah tua renta apakah masa kecilnya lama? Apakah masa remajanya panjang? Apakah masa mudanya terasa begitu lama juga? Tidak menutup kemungkinan jawaban yang diperoleh adalah sebuah pernyataan bahwa semua berlalu begitu singkat dan cepat. Aku sendiri tak perlu menanyakan itu kepada orang lain, tersebab di usiaku yang tengah memasuki kepala dua, aku tersadar bahwa waktu berlalu begitu cepat menuntun ku menuju waktu yang lain dan berbeda, penyeselan demi penyesalan telah mungkin terasakan begitu rupa, tapi apa makna dari sebuah sesal jika kita hanya menyusun sejarah yang sama, melalui itu semua mestinya kita percaya bahwa hidup kita hanyalah sementara. Waktu terus berputar dan tak berhenti sampai tiba waktunya untuk kita kembali pada Nya, mewujudkan mimpi adalah sebuah sarana untuk meraih makna hidup, tersebab kelak yang membawa arti bukanlah materi, yang memberi bahagia bukanlah harta benda, maka, aku mengajak diriku sendiri untuk menyusun mimpi yang berorientasikan kebermanfaatan untuk sesama.


Layaknya seorang wirausahawan yang memiliki banyak sekali para pesaing, inovasi dan kreatifitas adalah sesuatu yang kita perlu untuk mewujudkan berbagai impian, dengan begitu berfikir dan memunculkan ide-ide adalah aktivitas yang harus kita lakukan, mengambil bunyi petuah lama; Proses tidak akan menghianati hasil. Kita bisa mengambil contoh kepada seorang yang telah sukses hari ini, seperti Ippho Santosa, dan masih banyak lagi, melalui mesin pencari google kita bisa membaca bagaimana ia memaknai waktu, adakah ia seorang yang selalu menghabiskan hari hari nya di atas tempat tidur? Tentu saja tidak, ia adalah seorang yang justru selalu memanfaatkan waktu dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat. Dalam persaingan yang begitu ketat orang yang akan menjadi pemenang adalah orang yang memiliki kualitas, kualitas itu di dapatkan melalui latihan serta pembelajaran yang cukup panjang, siapapun bisa menjadi juara sebagaimana siapa saja bisa terjatuh ke dalam kegagalan. Proses tidak akan menghianati hasil. Semoga sukses dan berhasil.


“Semangat adalah awal dari sebuah kemauan untuk mewujudkan tekad� Igsvr


Kekurangan Mengasah konsistensi memang tidak mudah, ada saja hambatan-hambatan bermunculan, entah hambatan yang datang dari lingkungan, atau bahkan datang dari dalam diri sendiri, bagi seorang newbie seperti ku baragkali hambatan yang sebenarnya teramat kecil sekalipun akan terasa begitu berat dan menyusahkan, apalagi jika hambatan itu mengundang satu hal yang membuat semuanya seolah tak lagi berdaya, yaitu kemalasan. Banyak orang yang dihadapkan dengan suatu hambatan, justru di datangi kemalasan, sehingga mereka berpaling memutar arah, menghilang dan tak lagi melanjutkan apa yang telah ada di dalam niat sebelumnya, mereka pergi tak kembali lagi. Aku khawatir diriku akan seperti itu lagi, memutar haluan, menyusun kembali tujuan, hingga aku tak pernah benar-benar sampai kepada tujuan yang sebenarnya, terlebih ku merasa setiap karya yang sudah pernah ku terbitkan memiliki banyak sekali kekurangan, itu berupa ketidakruntutan, kesewenangwenangan, ketidakjelasan, dan masih jauh memberi makna. Tapi bukankah diawal sudah kusebutkan bahwa aku tidak akan peduli pada kualitas dalam menulis? Entah setelah ku membaca beberapa karya orang lain, aku merasa kualitas menjadi sesuatu yang utama, untuk apa pula berkata-kata jika tak memiliki makna.


Disini ku menulis kidung malam Apa makna sebuah cinta jika kita tak benar benar ada Apa makna sebuah rindu jika kita tak boleh bertemu Aku tak bisa lagi berdaya Hasrat ku begitu bergelora Untuk pergi dan meninggalkan semua

Disana kau menulis kidung pagi Ingat-ingat konsistensi dan militansi Tunjukanlah sebuah eksistensi Biarkan arti menjemput mu sendiri Cinta tak perlu basa basi Rindu tak pernah jemu menunggu

Maaf, aku agak galau, aku lanjutkan lagi ya, untuk menjadi pandai menulis yang kita perlukan adalah terus menulis, kurang lebih begitu apa yang pernah dikatakan seseorang kepadaku, saat ini aku hanya ingin membuktikan kata-katanya, bukan untuk menjadi pandai menulis melainkan menjadi seorang yang mungkin suatu saat nanti bisa memperbaiki semua kekurangan saat ini.


Berkata-kata tanpa makna memang sebuah problematika yang pelik, setiap orang ingin menghindari itu, termasuk aku, walaupun terkadang pada beberapa bagian ketika secara jujur aku membaca kadang aku tak mengerti apa yang sebenarnya aku coba rangkai dan utarakan, apakah itu sebuah cerita? opini? Atau bahkan sebuah syair? Menulis adalah keberanian! Begitu kata Pramoedya Ananta Toer, melalui keberanian ini ku anggap aku sedang menyuarakan sesuatu yang teramat penting, sesuatu yang perlu orang tahu, dan sesuatu yang lahir dari dalam diri sendiri bukan hasil dari karya orang lain. Selanjutnya, ku ingin kembali mengutip apa yang pernah dikatakan Pram, Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari dalam masyarakat dan sejarah! Biarlah ini menjadi serakan catatan kesian, mungkin di lain waktu aku dapat membayar semua kekurangan, namun aku tak mau menganggap ini sebagai hutang, ini hanya sekedar penyemangat diri, karena ku percaya semangat adalah awal dari sebuah kemauan untuk mewujudkan tekad.

Terserak  
Terserak  

Sekelumit racauan yang mungkin tidak membawa arti.

Advertisement