__MAIN_TEXT__
feature-image

Page 1

Seri Buku Saku UUDesa

MENGENAL DAN MENGELOLA

ASET DESA Borni Kurniawan & Tim Infest

Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan


Seri Buku Saku UUDesa

MENGENAL DAN MENGELOLA

ASET DESA

Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan


Didukung oleh: Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan

ISBN: 978-602-14743-6-5 Buku ini dikembangkan dan diterbitkan oleh INFEST dengan dukungan dari Program Maju Perempuan Indonesia Untuk Penanggulangan Kemiskinan (MAMPU). Program Mampu merupakan inisiatif bersama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan perempuan. Informasi yang disampaikan dalam buku ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab tim penyusun dan tidak serta merta mewakili pandangan Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Australia. Siapapun bisa mengutip, menyalin, dan menyebarluaskan sebagian atau keseluruhan tulisan dengan menyebutkan sumber tulisan dan jenis lisensi yang sama, kecuali untuk kepentingan komersil.


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa”

SEKAPUR SIRIH

i


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

ii


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa”

Sekapur Sirih

i

Dari Deficit Based menjadi Apreciative Based

1

Makna di balik Nama Desa

4 7 8

11 Tentang Penulis

16

iii


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa”

BAB 1

Dari Deficit Based menjadi Appreciative Based

1


Kita lebih sering melihat sisi kelemahan tapi lupa bahwa di sisi yang lain kita memiliki kekuatan, mempunyai aset berharga yang apabila dioptimalkan maka aset tersebut akan berubah jadi energi perubahan. Di sinilah arti penting mengimbangi analisis masalah dalam perencanaan pembangunan desa dengan pendekatan aset. Dengan pendekatan aset kita dilatih untuk lebih menghargai kondisi dan prestasi desa secara positif. Di sela-sela masalah sejatinya masih ada aset baik dalam bentuk ďŹ sik maupun non ďŹ sik yang perlu diapresiasi, hingga baik untuk dijadikan motivasi untuk mendorong perubahan desa menjadi lebih baik.

Pendekatan Masalah (Problem/Deficit Based Approach)

Pendekatan Aset dan Potensi (Appreciative Based Approach)

2

RPJMDesa dan RKPDDesa Berbasis Potensi dan Aset Desa


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

Ada baiknya model perencanaan pembangunan desa tidak hanya mengumpulkan masalah tapi juga menghimpun aset dan potensi yang desa miliki. Dengan kata lain pendekatan pesimistis harus diimbangi dengan pendekatan optimistik. Jadi, prioritas program pembangunan desa yang direncanakan dalam RPJMDesa dan RKP Desa tidak hanya mencerminkan permasalahan desa semata, tapi proyeksi rencana pembangunan yang didasarkan pada perhitungan dan analisis kekuatan yang ada di desa (strength based approach). Kekuatan-kekuatan tersebut bisa berasal dari aset tangible seperti sumber daya alam dan sumber daya ďŹ sik dan berasal dari aset intangible seperti aset sosial, budaya, dan ekonomi desa.

3


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

BAB 2

Makna di Balik Nama Desa

S

alah satu aset berharga namun tidak bisa dilihat secara kasat mata ataupun diraba dengan indra peraba kita adalah sejarah desa. Siapa bilang sejarah di balik nama desa yang kita tempati hanya sekadar legenda atau mitos yang sama sekali tidak bermanfaat. Mari kita telusuri sejenak sejarah beberapa desa berikut ini.

Buah Maja dan Cikal Bakal Majapahit Cerita sejarah yang melingkupi nama besar sebuah desa pada hakikatnya menyiratkan kekayaan kandungan potensi dan aset desa. Nama besar Majapahit tidak lepas dari potensi hutannya yang kaya dengan pohon maja. Menurut ceritanya, sebelum akhirnya menjadi kerajaan besar, Majapahit

4


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

dulunya adalah sebuah perkampungan yang bermula dari inisiatif Sangrama Wijaya membabat alas Tarik. Para pekerja atau tepatnya para relawan yang sebagian besar berasal dari Madura sangat giat dalam membuka lahan. Pohon-pohon besar ditumbangkan, dibelah dan dibuat menjadi material bangunan hingga perahu. Tanah-tanah yang menggumuk dan legok diratakan menjadi area permukiman dan persawahan. Suatu ketika, jatah pangan untuk para relawan tidak mencukupi sehingga sebagian dari mereka kelaparan. Akhirnya, pilihan mereka jatuh pada pohon maja yang banyak tumbuh di hutan Tarik tersebut. Buahnya yang bulat agak lonjong mencuri perhatian para relawan untuk memetik dan mencicipinya demi mengganjal perut yang lapar. Setelah beberapa orang mencobanya, ternyata hanya rasa pahit yang ada. Bahkan beberapa dari mereka ada yang tumbang dan mabuk karenanya. Prahara tersebut kemudian menyeruak hingga diketahui banyak masyarakat. Lalu perkampungan hasil babat alas Sangrama Wijaya itu terkenal dengan sebutan Majapahit.

Keterangan: Pohon Maja (Aegle Marmelos) merupakan sejenis pohon yang biasanya ditanam untuk menandai perbatasan antarsuatu daerah. Pohon tersebut kebanyak tumbuh di daerah dengan ketinggian 1.000 mdpl. Tingginya bisa mencapai 15 meter, berdaun majemuk tiga serangkai. Kulit batangnya jika diiris akan mengeluarkan getah berwarna putih dan akan berubah menjadi kuning bening jika dibiarkan terkena udara terbuka. Getahnya bisa digunakan untuk menyamak kulit. Kulit akarnya dapat digunakan sebagai obat. Bijinya menghasilkan sejenis perekat. Rasa pahit dari daging buahnya dapat berfungsi sebagai obat penawar desentri, diare dan kolera. (Gamal Komandoko. 2009. “The True History of Majapahit�. Yogyakarta. Diva Press)

5


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

Peradaban Hindu di Balik Candi Wulan dan Candi Mulyo Selain menyiratkan kandungan kekayaan aset dan potensi alam, nama desa biasanya juga menyampaikan pesan adanya kekayaan peradaban masa lalu baik di bidang sosial keagamaan, politik maupun ekonomi. Sebagai contoh ada dua desa yang saling bersebelahan di Kecamatan Kebumen Jawa Tengah yaitu Desa Candi Mulyo dan Desa Candi Wulan. Menurut cerita tutur yang berkembang di tengah masyarakat, ketika peradaban Islam belum masuk, di kedua desa tersebut sudah ada peradaban masyarakat yang beragama Hindu. Menurut cerita masyarakat, di kedua desa tersebut dulu ada candi sebagai tempat peribadatan yang bernama candi Wulan dan candi Mulyo. Meski data-data sejarah tulis tentang kedua desa tersebut masih minim, tapi alat bukti peradaban di kedua desa tersebut masih dapat ditelusuri. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan masih adanya sebuah sisa-sisa bangunan candi yang berupa lingga. Artefak-artefak tersebut kiranya menjelaskan bahwa desa sejak dahulu memiliki kemandirian dan segudang kekayaan yang luar biasa. Keberlimpahan kekayaan tidak hanya berupa kekayaan alam, tapi aset-aset ďŹ sik yang memancarkan tingginya peradaban akal budi masyarakat desa. Karenanya, baik pada saat Indonesia masih berbentuk kerajaan maupun setelah menjadi negara bangsa, desa sudah menjadi simbol kemajuan peradaban dari masa ke masa.

Lingga di Desa Candi Mulyo

6


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa”

BAB 3

Perkembangan Hak Kepemilikan

M

enurut asal-usulnya, proses terbentuknya sebuah desa bermula dari sekelompok orang yang bersepakat menduduki suatu area dengan batasan tertentu. Kelompok masyarakat tersebut biasanya ada yang berasal dari satu garis keturunan, kemudian beranakpinak, hingga membentuk suatu klan yang semakin besar jumlahnya. Di Sumatera disebut marga. Di Jawa di sebut “Desa,” di Papua disebut “Kampung,” di Aceh disebut “Gampong.” Secara geografis mereka mendiami suatu wilayah dengan berbagai kekayaan alam di dalamnya. Untuk membangun harmoni sosial, penduduk desa membuat kelembagaan lokal yang lazim disebut lembaga adat berikut aturannya yang akrab dikenal hukum adat. Kelembagaan tersebut di Jawa disebut “Desa,” di Aceh disebut “Gampong,” di Ambon dan sekitarnyat disebut “Negeri,” di Sumatera Barat dikenal “Nagari”, di Papua di sebut “Kampung,” dan masih banyak lagi ragam sebutannya. Lembaga adat ini menjadi semacam pemerintahan lokal yang bertugas menjaga ketertiban sosial termasuk mengatur pembagian sumber daya desa untuk membangun kesejahteraan bersama. Di dalam hukum adat, masyarakat Indonesia secara umum belum mengenal kepemilikan pribadi. Saat itu yang berlaku adalah kepemilikan kolektif. Salah satu aturan komunalistik yang diatur adalah tanah. Harsono (1999) menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia mengenal hukum pertanahan jauh sebelum lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria. Masyarakat desa menyebutnya hak ulayat. Hak ulayat mengandung hubungan lahir dan batin secara kolektif antara manusia dengan tanah. Karena dalam pandangan masyarakat desa, tanah tersebut merupakan warisan dari nenek moyang yang dianugerahkan kepada anak keturunannya. Jadi, sekalipun secara perorangan warga desa dapat mengusahakan tanah untuk kepentingan perorangan dan keluarganya, hak kepemilikan tanahnya tetap bersifat komunal.

7


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

Peta Perkembangan Kepemilikan Tanah Tanah Pribadi Tanah Ulayat Tanah Komunal

Hak ulayat berlaku ke dalam dan ke luar. Ke dalam artinya membatasi kebebasan usaha seseorang untuk memonopoli dan mengusai sumber daya yang ada, kecuali untuk kepentingan bersama. Berlaku ke dalam mengandung arti bahwa hanya anggota persekutuan adat bersangkutan yang memiliki hak untuk memanfaatkan tanah dan aset lainnya sehingga dari pemanfaatan aset tersebut yang bersangkutan dapat memetik hasilnya. Berlaku keluar artinya, tidak boleh ada orang di luar anggota persekutuan yang dapat mengusahakan apalagi memiliki sumber daya desa kecuali seizin seluruh anggota persekutuan adat (Muhamad, 2002). Tanah bengkok adalah salah satu contoh pelembagaan aset kolektif desa. Ia digunakan sebagai pengganti gaji atau kompensasi kepala desa dan para perangkatnya karena jasanya menjalankan roda pemerintahan desa. Sebagai bagian dari struktur hukum adat Jawa, tanah bengkok adalah lahan garapan milik desa yang tidak boleh diperjualbelikan tapi boleh disewakan kecuali di bawah persetujuan seluruh warga desa. Seiring perubahan zaman, hak ulayat berangsur-angsur mengalami perubahan. Masyarakat hukum adat mulai mengenal hak kepemilikan pribadi. Masyarakat hukum adat berlahan mulai memberikan izin kepada anggota persekutuannya untuk mengusahakan secara individual atas tanah dan sumber daya desa, sepanjang tidak menabrak pakem yang sudah disetujui secara bersama-sama. Pengusahaan secara individual tersebut pada akhirnya berlangsung secara turun temurun dan terus menerus dari satu keturunan ke keturunan lainnya. Perkembangan ekonomi yang kian modern pada akhirnya kepemilikan berkembang hingga kelompok korporasi pun turut mengusai aset-aset terutama tanah. Desa-desa di pedalaman Sumatera dan Kalimantan banyak kehilangan kepemilikan asetnya karena dikuasai para pengusaha tambang dan perkebunan.

8


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa”

Ragam Jenis Aset Aset tentu bukan hanya tanah. Dalam teori aset, dikenal ada dua jenis aset, yaitu aset yang berwujud dan dan aset yang tidak berwujud. Aset berwujud yang dapat dipersepsi dengan indra peraba disebut intangible asset. Sementara untuk aset yang berwujud karenanya dapat dipersepsi dengan indra disebut tangible asset. Secara fisik jenis tangible asset adalah jenis aset yang memiliki nilai ekonomi (economic value), nilai komersial (commercial value) dan nilai tukar (exchange value). Lalu bagaimana dengan intangible asset? Aset jenis ini memang tidak berwujud dan tidak memiliki ukuran secara fisik. Tapi sesungguhnya memiliki energi potensial yang apabila teraktualisasikan akan terlihat nilainya. Pada dasarnya kedua jenis aset tersebut sama-sama memiliki posisi penting dalam pembangunan desa. Keduanya adalah modal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat desa. Sebagai contoh adalah sumber daya alam. Kehidupan masyarakat sejak masih mengenal tradisi meramu dan berladang berpindah-pindah hingga zaman teknologi informasi saat ini, untuk memenuhi kebutuhannya adalah dengan memanfaatkan sumber daya alam.

Asset Intangble Asset

Tangible Asset natural

physical

Human

financial

social

Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumber daya alam atau aset fisik lainnya, tetap membutuhkan sumber daya lainnya, yaitu sumber daya manusia dan sumber daya sosial. Peran sumber daya manusia tidak hanya diketahui dari aspek ekonomi, tapi juga selain aspek ekonomi. Jika melihat manusia dari sudut pandang ekonomi yang sempit, manusia hanya akan ditafsirkan sebagai bagian dari faktor produksi semata. Dengan demikian manusia hanya akan menjadi obyek pembangunan. Padahal manusia adalah subyek pembangunan.

9


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

Human Capital (Sumber Daya Manusia)

Social Capital (Modal Sosial)

Livehood

Natural Capital (Sumber Daya Alam)

Asset

Financial Capital (Modal Keuangan)

Physical Capital (Sumber Daya Fisik)

k

10


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

BAB 4

Manajemen Aset Desa

11


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

desa.

12


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

a. Kekayaan Desa yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa; b. Kekayaan Desa yang diperoleh dari hibah dan sumbangan atau yang sejenis; c. Kekayaan Desa yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/ kontrak dan lain-lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; d. Hasil kerja sama Desa; dan e. Kekayaan Desa yang berasal dari perolehan lainnya yang sah.

13


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

sistem informasi aset desa

inventarisasi

Tahapan kerja manajemen aset

legal audit

optimalisasi penilaian aset

Menurut pendapat Doli D. Siregar, paling tidak ada lima tahapan kerja manajemen aset yang saling berhubungan dan berintegrasi yaitu: 1. Inventarisasi aset. Yaitu melakukan serangkaian kegiatan pendataan, kodiďŹ kasi (mendaftar lalu memberikan kode-kode khusus terhadap aset yang terdata) dan mengelompokkan ke dalam sistem pembukuan desa; 2. Legal audit. Yang termasuk dalam kegiatan ini yaitu: i) inventarisasi status penguasaan aset, ii) identiďŹ kasi masalah dan alternatif solusi atas permasalahan legalitas aset desa, misalnya terkait dengan status penguasaan dan pengalihan aset desa; 3. Penilaian Aset. Kegiatan ini adalah kegiatan penilaian atas aset yang dikuasai desa sehingga dari kegiatan ini diketahui nilai kekayaan maupun informasi untuk penetapan harga bagi aset yang akan dijual. 4. Optimalisasi aset. Kegiatan ini adalah serangkaian upaya untuk mengoptimalkan (potensi ďŹ sik, lokasi, nilai, jumlah/volume, legal dan ekonomi) yang terkandung dalam suatu aset, sehingga kemanfaatannya dapat dirasakan baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang; 5. Pengembangan sistem informasi aset desa. Yaitu suatu upaya untuk melakukan pemantauan dan pengawasan pengelolaan aset agar terjaga akuntabilitas publiknya dengan cara mengintegrasikan ke dalam sistem informasi. Jika desa belum mempunyai sistem informasi desa, apalagi yang terdigitalisasikan, maka pengawasan dan pemantauan pengelolaan aset bisa dengan cara melibatkan masyarakat. 14


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

Daftar Bacaan Harsono Boedi. 1999. Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya. Jakarta: Djambatan.

15


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa�

Tentang Penulis Kharis Fadlan Borni Kurniawan Saat ini, Borni dipercaya sebagai Tenaga Ahli Utama Perencanaan Pembangunan Desa, Ditjen PPMD Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi. Borni juga aktif melakukan kajian tentang good governance dan isu desa. Ia juga aktif sebagai fasilitator serta pendampingan desa. Pria asli Kebumen ini juga aktif menulis buku, jurnal, dan surat kabar. Beberapa buku yang pernah ditulis oleh Borni antara lain: Memanusiakan Perempuan (2005: Indipt Press), Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita (2012: INFID), Desa Mandiri Desa Membangun (2015: Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi).

16


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa”

CATATAN


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa”

CATATAN


“Mengenal dan Mengelola Aset Desa”

CATATAN


Profile for Infest Yogyakarta

Mengenal dan Mengelola Aset Desa (Seri Buku Saku UU Desa)  

Mengenal dan Mengelola Aset Desa (Seri Buku Saku UU Desa)  

Profile for infest
Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded