Issuu on Google+

Aug. 20

INTERNALISASI NILAI ISLAM NILAI AKHLAK PERSEORANGAN NILAI AKHLAK DALAM KELUARGA NILAI AKHLAK SOSIAL

OLEH Indra Mulia Syafutra

MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN OLEH DRS. RIZAL DAIRI, MA FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM RIAU

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. 4 : 29) “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS. AlIsra‟24) 0 "Sebagian tanda memuliakan Allah adalah menghormati orang islam yang telah putih rambutny (tua). (HR. Abu Daud)".

indra.msy@gmail.com | No Hp : 081276079321


NILAI AKHLAK PERSEORANGAN Paling tidak, seorang muslim adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Siapapun dia, seorang muslim tentu akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah diperbuat terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itulah, Islam memandang bahwa setiap muslim harus menunaikan etika dan akhlak yang baik terhadap dirinya sendiri, sebelum ia berakhlak yang baik terhadap orang lain. Dan ternyata hal ini sering dilalaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Secara garis besar, akhlak seorang muslim terhadap dirinya dibagi menjadi tiga bagian; terhadap fisiknya, terhadap akalnya dan terhadap hatinya. Karena memang setiap insan memiliki tiga komponen tersebut, dan kita dituntut untuk memberikan hak kita terhadap diri kita sendiri dalam ketiga unsur yang terdapat dalam dirinya tersebut: Terhadap Fisiknya Setiap insan, Allah berikan anugerah berupa fisik yang sempurna. Kesempurnaan fisik manusia ini, Allah katakan sendiri dalam Al-Qur'an (QS. 95 : 4) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kesempurnaan fisik ini, merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Karena Allah hanya memberikannya pada manusia. Adapun salah satu cara dalam mensyukurinya adalah dengan menunaikan hak yang harus diberikan pada fisik kita tersebut, yang sekaligus merefleksikan etika kita terhadap fisik kita sendiri. Diantara hal tersebut adalah: 1. Seimbang dalam mengkonsumsi makanan. Hak yang harus kita penuhi terhadap fisik kita adalah dengan memberikan makanan dan minuman yang baik dan sehat, sehingga fisik kita pun dapat tumbuh dan bekerja dengan baik dan sehat pula. Seorang muslim sangat menyadari hal ini, dan oleh karenanya ia tidak akan menkonsumsi makanan yang akan memberikan madharat terhadap dirinya tersebut. Dan termasuk dalam kategori yang memberikan mudharat adalah mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Islam sendiri telah memberikan larangan kepada para pemeluknya untuk berlebihan dalam menkonsumsi makanan.

Allah berfirman (QS. 7 : 31) "Makan dan minumlah kalian, dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 1


Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bahkan memberikan rincian batasan dalam masalah mengkonsumsi makanan.

Beliau mengatakan: Janganlah seseorang itu mengisi perutnya sesuatu yang buruk baginya. Dan apabila tidak menyulitkan baginya hendaknya ia mengisi sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannnya dan sepertiga lagi untuk dirinya. (HR. Ahmad & Turmudzi) 2. Membiasakan diri untuk berolah raga & hidup teratur. Islam sangat menginginkan terciptanya kondisi yang baik dan teratur bagi para pemeluknya. Bekerja teratur, makan teratur, tidur teratur, belajar teratur dan juga berolah raga secara teratur. Sebagai contoh menyegerakan tidur dan juga menyegerakan bangun. Tidak tidur ba'da subuh, tidak tidur ba'da ashar dan lain sebagainya. Di samping itu, Islam juga menganjurkan pada pemeluknya untuk menjaga fisik dengan membiasakan diri berolah raga. Agar diri seorang mu'min menjadi kuat dan sehat.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan kepada kita: Seorang mu'min yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada seorang mu'min yang lemah. (HR. Muslim)

Jika fisik kaum muslimin kuat, tentulah hal ini akan dapat menggetarkan para musuh-musuh Islam, yang tiada henti-hentinya membuat makar terhadap agama Allah ini. Oleh karenanya kita melihat betapa Allah memerintahkan kita untuk mempersiapkan kekuatan kita. Dan olah raga merupakan salah satu cara untuk mempersiapkan kekuatan tersebut.

Allah berfirman (QS. 8 : 60) Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dapat menggentarkan musuh Allah , musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. 3. Tidak melakukan hal-hal yang memberikan madharat bagi fisik dan kesehatannya. Terkadang manusia senang untuk melakukan hal-hal tertentu yang terlihat menyenangkan dan mengenakkan meskipun hal tersebut akan menimbulkan madharat terhadap dirinya sendiri. Diantara tersebut antara lain, berlebihan dalam menkonsumsi kopi atau teh, tidur terlalu larut

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 2


malam dan merokok. Hal yang terakhir disebut (yaitu rokok) bahkan sudah seperti menjadi "kebiasaan wajib" bagi orang tertentu. Sementara jika dilihat dari aspek syar'inya, rokok merupakan sesuatu yang melanggar syar'i dan hukumnya haram, kecuali menurut sebagian ulama di Indonesia yang cenderung berfatwa bahwa hukumnya adalah makruh. Hal ini bisa dimaklumi karena sebagaian besar ulama di Indonesia masih belum mampu meninggalkan kebiasaan rokoknya. Terdapat beberapa tinjauan dalam menegaskan bahwa rokok secara hukum adalah haram. Diantaranya adalah : Merokok merusak kesehatan (Yadhurru Linafsih) Semua orang sepakat, bahwa rokok akan memiliki dampak negatif terhadap fisik manusia. Terlebih-lebih jika ditinjau dari segi ilmu kesehatan atau kedokteran, rokok memiliki dampak yang begitu besar dalam diri insan yang akan menyebabkan berbagai penyakit. Perokok sendiri akan mengakui hal tersebut. Dan jika demikian, seseorang ketika ia merokok berarti ia memberikan kemadharatan atau merusak bagi dirinya sendiri. Sementara Allah SWT berfirman (QS. 4 : 29) "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." Merokok mendzolimi orang lain (Dzalim) Selain merusak atau merugikan terhadap diri sendiri, rokok juga dapat merugikan atau mendzalimi orang lain yang tidak merokok. Sebab asap rokok yang dihisap perokok tentu akan dikeluarkan lagi. Dan asap inilah yang memiliki potensi untuk dihisap secara langsung melalui nafas orang lain (baca; perokok pasif) yang berada di sekitarnya, yang bisa jadi akan menimbulkan penyakit-penyakit tertentu. Jika hal ini terjadi, berarti perokok 'mendzlimi' orang lain yang tidak merokok. Dan Allah sangat membenci orang-orang yang dzalim. Allah SWT berfirman (QS. 42 : 40) "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orangorang yang zalim."

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 3


Merokok memiliki unsur menghambur-hamburkan harta (Tabdzir) Selain dua tinjauan di atas, rokok juga mengandung unsur menghambur-hamburkan uang (baca' tabdzir). Hampir semua kalangan sepakat, bahwa rokok merupakan salah satu bentuk perbuatan yang mubadzir, karena banyak hal yang lebih bermanfaat dari pada digunakan untuk rokok, seperti membantu fakir miskin, shadaqoh kepada kerabat, atau digunakan untuk membeli makanan yang menambah kesehatan, seperti susu, buah-buahan dan lain sebagainya. Dan jika merokok merupakan salah satu perbuatan tabdzir, maka alangkah kerasnya Allah SWT menegur orang-orang yang menghambur-hamburkan uang. Allah berfirman (QS. 17 : 27 ) : "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." 4. Bersih fisik dan pakaian. Etika seorang muslim terhadap dirinya yang berikutnya adalah membersihkan fisik dan juga pakaiannya. Karena fisik kita memiliki hak untuk dibersihkan dan memakai pakaian yang bersih. Dalam masalah bersih fisik, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan: Bersih mulut dan gigi. Islam sangat menganjurkan kebersihan gigi dan mulut. Karena kedua hal ini merupakan hal yang akan sangat berkaitan dengan orang lain. Ketika gigi dan mulut kita tidak bersih bahkan bau, maka pasti akan memiliki pengaruh negatif terhadap orang yang menjadi lawan bicaranya. Oleh karena itulah, Rasulullah SAW mengatakan kepada kita: "Sekiranya tidak memberatkan bagi umatku, sungguh akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat." (HR. Bukhari Muslim).

Bahkan dalam hadits lain, Rasulullah SAW menerangkan mengenai dampak negatif yang ditimbulkan dari ketidak bersihan mulut dan gigi.

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 4


Beliau mengatakan: Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan yang sebangsa bawang, maka hendaknya mereka jangan mendekati masjid kami ini. Karena sesungguhnya para malaikat 'terganggu' dengan baunya tersebut, sebagaimana terganggunya anak cucu adam." (HR. Muslim)

Bersih rambut. Selain mulut dan gigi, Islam juga menganjurkan kita agar senantiasa membersihkan rambut. Karena rambut juga memiliki hak untuk dibersihkan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memiliki rambut, maka hendaklah ia memuliakan rambutnya tersebut." (HR. Abu Daud)

Adapun

cara

untuk

memuliakan

rambut,

diantaranya

adalah

dengan

senantiasa

membersihkannya, menyisirnya yang rapi serta merawatnya. Dalam sebuah riwayat Imam Malik, Rasulullah SAW suatu ketika sedang berada dalam masjid. Kamudian tiba-tiba masuklah seorang pemuda yang rambut dan jenggotnya acak-acakan. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkannya dengan isyarat agar ia membersihkan rambut dan jenggotnya tersebut. Pemuda itupun kembali pulang, lalu kembali ke masjid dalam keadaan rambut dan jenggotnya yang telah tersisir rapi. Melihat hal tersebut Rasulullah SAW mengatakan, 'bukankah yang demikian lebih baik, dari pada seseorang datang ke masjid dalam kondisi rambut dan jenggotnya acak-acakan, seperti syaitan?' Bersih badan. Hal ini terbukti dengan diperintahkannya kita untuk senantiasa membersihkan diri kita dengan mandi. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW berasbda: Rasulullah SAW bersabda, “Mandilah kalian pada hari jum'at. Bersihkanlah kepala kalian, meskipun tidak sedang junub. Dan sentuhlah dengan wewangian.” (HR. Bukhari)

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 5


Bersih pakaian. Jasad atau fisik kita, juga memiliki hak untuk mendapatkan pakaian yang bersih dan sehat. Pakaian disamping untuk menutupi aurat, namun juga menjaga dirinya dari penyakit-penyakit yang terkait dengan pakaian, seperti gatal-gatal, jamur dan lain sebagainya. Dari Jabir ra, beliau berkata, suatu ketika rasulullah SAW berziarah mengunjungi kami. Lalu beliau melihat seseorang yang memakai pakaian yang kotor. Beliau berkata, Tidakkah ada yang dapat menyucikan bajunya?' (HR. Ahmad dan Nasa'I)

Berpenampilan rapi Berpenampilan rapi juga merupakan salah satu sunnah Rasulullah SAW. Sehingga seseorang akan terlihat terhormat di mata orang lain. Dalam sebuah riwayat dikisahkan ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya sedang berpergian mendatangi saudara mereka, Rasulullah SAW mengatakan: Kalian akan tiba mendatangi saudara kalian. Oleh karena itu, rapikanlah bawaan kalian dan rapikanlah pula pakaian kalian. (HR. Abu Daud)

Berpenampilan rapi seperti ini juga merupakan sunnah para sahabat. Bahkan terkadang ada diantara mereka yang membeli pakaian yang relatif mahal, untuk kemudian digunakannya. Seperti Ibnu Abbas pernah membeli pakaian seharga seribu dirham, lalu beliau mengenakannya. (Hilyatul Aulia' I/ 321). Demikian juga dengan Abdurrahman bin Auf, yang pernah memakai burdah seharga lima ratus atau empat ratus (Thabaqat Ibnu Sa'd III/131). Dan berpenampilan rapi serta mengenakan paiakan yang baik, sesungguhnya tidak identik dengan kesombongan. Karena kesombongan adalah mengingkari kebenaran dan meremehkan manusia. Terhadap Akalnya. Sebagaimana fisik, akal memiliki hak yang harus kita tunaikan. Akal juga membutuhkan 'makanan', sebagaimana fisik membutuhkannya. Namun kebutuhan tersebut jelas berbeda dengan kebutuhan fisik. Oleh karenanya, kita perlu memberikan porsi kepada kita, sebagaimana kita memberikannya pada fisik.

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 6


Berikut adalah diantara hal-hal yang harus kita tunaikan terhadap akal kita: 1.

Menuntut ilmu sebagai kewajiban dan kemuliaan bagi setiap muslim

Hal pertama yang harus kita lakukan bagi setiap muslim terhadap akalnya adalah dengan mengisinya dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Karena disamping sebagai suatu kewajiban, belajar juga merupakan kemuliaan tersendiri bagi dirinya. Karena Allah SWT senantiasa akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Dalam Al-Qur'an Allah mengatakan (QS. 35 : 28) : "Bahwasanya orang-orang yang takut kepada Allah, hanyalah para ulama (orang yang berilmu)" Kemuliaan ini juga telah terwujud, meskipun ketika ia baru dalam proses belajar guna menuntut ilmu sendiri. Dalam sebuah riwayat dikisahkan: "Suatu ketika Safwan bin Assal al-Maradi mendatangi Rasulullah SAW yang sedang berada di masjid. Safwan berkata, Ya Rasulullah SAW, aku datang untuk menuntut ilmu. Rasulullah SAW menjawab, 'selamat datang penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang menuntut ilmu akan dikelilingi oleh para malaikat dengan sayap-sayapnya. Kemudian mereka berbaris, sebagian berada di atas sebagian malaikat lainnya, hingga sampai ke langit dunia, karena kecintaan mereka terhadap penuntut ilmu." (HR. Ahmad, Tabrani, Ibnu Hiban dan Al-Hakim) 2.

Menuntut ilmu hingga akhir hayat.

Terkadang manusia sering puas, manakala telah mencapai tingkatan tertentu dalam dunia pendidikan. Padahal sesungguhnya dalam Islam bahwa proses belajar mengajar merupakan proses yang tiada mengenal kata henti. Karena pada hakekatnya semakin seseorang mendalami ilmu pengetahuan, maka semakin pula ia merasa kurang dan kurang. Salah seorang salafuna shaleh bernama ibnu Abi Gassan – sebagaimana diriwayatkan oleh ibnu Abdil Bar – berkata : “Engkau akan tetap menjadi orang yang berilmu, manakala senantiasa masih mencari ilmu. Namun apabila engkau telah merasa cukup, maka jadilah dirimu orang yang bodoh." 3.

Yang harus dipelajari oleh setiap muslim.

Minimal sekali, setiap muslim perlu mempelajari hal-hal yang memang sangat urgen dalam kehidupannya. Menurut Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi (1993 : 48), hal-hal yang harus dikuasai

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 7


setiap muslim (yang bukan spesialisasi syari'ah) adalah : Al-Qur'an, baik dari segi bacaan, tajwid dan tafsirnya; kemudian ilmu hadits; sirah dan sejarah para sahabat; fikih terutama yang terkait dengan permasalahan kehidupan, dan lain sebagainya. Spesialisasi. Namun demikian, setiap muslim juga harus memiliki bidang spesialisasi yang harus ditekuninya. Spesialisasi ini tidak harus bersifat ilmu syariah, namun bisa juga dalam bidang-bidang lain, seperti ekonomi, tehnik, politik dan lain sebagainya. Dalam sejarahnya, banyak diantara generasi awal kaum muslimin yang memiliki spesialisasi dalam bidang tertentu. Mempelajari bahasa asing Mempelajari bahasa asing juga merupakan suatu kebutuhan yang penting. Apalagi manakala bahsa tersebut merupakan bahasa resmi dalam ilmu pengetahuan seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab, untuk bidang keislaman. Dalam sebuah riwayat dikisahkan: Dari Zaid bin Tsabit ra, bahwa Rasulullah SAW berkata padanya, 'Wahai Zaid, pelajarilah untukku tulisan Yahudi. Karena sesungguhnya aku demi Allah tidak yakin tulisanku pada orang yahudi.' Zaid mengatakan, lalu aku mempelajarinya. Dan belum genap setengah bulan berlalu, aku telah dapat menguasai bahasa Yahudi. Aku senantiasa menulis surat Rasulullah SAW, ketika beliau ingin menujukannya pada mereka. Akupun membacakan surat mereka pada Rasulullah SAW. (HR. Turmudzi) Terhadap Hatinya/ Ruhiyahnya. Hati juga merupakan unsur penting dalam diri setiap insan, yang memiliki hak yang sama sebagaimana akal dan fisik. Hati membutuhkan makanan sebagaimana akal dan fisik membutuhkannya. Oleh karena itulan, setiap muslim dituntut untuk memberikan porsi yang sama terhadap ruhiyahnya sebagaimana ia telah memberikan pada fisik dan akalnya. Berikut adalah beberapa hal yang patut direalisasikan seorang muslim terhadap ruhiyahnya. 1.

Mengisi ruhiyahnya dengan ibadah.

Ibadah merupakan makanan pokok bagi hati dan ruhiyah kita. Bahkan makanan ruhiyah ini tidak memiliki batasan kuantitas. Semakin banyak ibadah seseorang, semakin ia rindu untuk melaksanakan ibadah lainnya. Semakin ia dekat dengan Allah, semakin ia ingin lebih dekat dan dekat lagi. Berbeda dengan makanan fisik, dimana paling banyak seseorang dapat memakan dua sampai tiga piring untuk sekali makannya. Makanan ruhiyah ini akan dapat membersihkan hati

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 8


dan menentramkan jiwa. Seseorang yang memiliki kualitas ibadah yang baik, ia akan senantiasa merasa tenang, sejuk dan damai. Ibadah-ibadah yang harus dilakukannya, selain yang wajib adalah yang sunnah. Diantaranya adalah, memperbanyak membaca dan mentadaburi Al-Qur'an, shalat lail, shadaqah, mendatangi majlis-majlis ilmu, tafakur alam dan lain sebagainya. 2.

Mengikatkan diri dengan tempat-tempat dan teman yang menambah keimanan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah mengatakan, bahwa kadar keislaman seseorang itu, seperti kadar keislaman teman akrabnya. Maka hendaklah seseorang memperhatikan siapa yang akan dijadikan temannya." (HR. Turmudzi & Abu Daud).

Karena teman dan lingkungan memiliki pengaruh yang tidak sedikit terhadap kadar keimanan seseorang. Orang yang bergaul dengan teman-temannya yang shaleh, maka sedikit banyak akan mempengaruhi dirinya untuk menjadi orang shaleh. Demikian juga sebaliknya, jika ia berteman dengan mereka-mereka yang suka mabok-mabokan, judi dan lain sebagainya, maka sedikit banyak ia akan terpengaruh dan akan terbawa pada kebiasaan teman-temannya. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman (QS. 18 : 28) : "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan menharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah kamu mengkuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." 3.

Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT.

Dzikir merupakan penguat ruhiyah seorang muslim yang sangat efektif. Dzikir juga secara langsung dapat menentramkan jiwa pembacanya. Bahkan dengan dzikir inilah, yang membedakan apakah hati seseorang itu hidup atau mati. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Musa ra, Rasulullah SAW bersabda, 'Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir adalah seumpama orang yang hidup dan orang yang mati." (HR. Bukhari) Oleh karenanyalah, setiap muslim seyogyanya senantiasa membiasakan diri dengan dzikir kapanpun dan dimanapun mereka berada. Minimal sekali, dzikir-dzikir pengiring aktivitas tertentu, seperti dzikir hendak makan, sesudah makan, mau tidur, ke kamar mandi dan lain

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 9


sebagainya. Dzikir akan lebih baik lagi manakala kita membiasakan membaca dzikir-dzikir pagi dan petang, sebagaimana yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW.

NILAI AKHLAK DALAM KELUARGA A. Memilih Pasangan Hidup Dalam ajaran agama Islam, terdapat 4 macam kriteria umum dalam menentukan pasangan hidup seseorang, karena dalam menentukan pasangan hidup tidak cukup hanya dengan modal cinta semata, melainkan terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seseorang bila menginginkan pasangan hidup yang dapat membawa kebahagiaan di dunia maupun di akhirat nanti. Dari beberapa uraian diatas maka kita harus berhati-hati dalam menentukan pasangan hidup kita, karena jika kita kurang tepat dalam menentukan pasangan hidup kita, maka akan berdampak bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat. Maka, ikutilah bimbingan yang diberikan oleh Rasulullah saw tentang beberapa kriteria yang dipakai oleh seorang laki-laki dalam menentukan pasangan hidupnya, agar kita bisa memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Dalam salah satu Hadist Rasulullah bersabda : “Seorang wanita dinikahi berdasrkan empat pertimbangan: karena harta, keturunan, kecantikan dan agamanya. Peganglah yang memiliki agama niscaya kedua tanganmu tidak akan terlepas” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

Dimulai oleh Rasulullah saw dengan menyebutkan tiga kriteria yang mengikuti kecendrungan atau naluri setiap laki-laki yaitu kekayaan, kecantikan dan keturunan kemudian diakhiri dengan satu kriteria pokok yang tidak boleh ditawar-tawar yaitu agama. Agama menjadi kriteria pokok dalam menetukan pasangan hidup karena dengan agama (Islam) seseorang dapat mengerti bahwa pernikahan adalah ibadah semata-mata mencari ridho Allah SWT. Meskipun dengan adanya suatu pernikahan banyak hikmah yang bisa diambil, seperti : 1. Penyaluran kebutuhan biologis dan memelihara diri dari dosa, 2. Menjaga masyrakat dari kerusakan dan dekadensi moral, 3. Menjaga kelestarian keturunan umat manusia, dll Dengan ajaran agama Islam seseorang dapat memahami hak dan kewajibannya

masing-masing dalam membina suatu rumah tangga.

Sehingga apabila sepasang suami isteri masing-masing saling memahami apa tujuan dan hikmah suatu pernikahan serta mengerti dan mau menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing dengan penuh rasa tanggung jawab, maka keluarga tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang harmonis, segala sesuatu berjalan dengan lancar, dan tentu saja pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat (insya Allah).

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 10


B. Melakukan Penikahan Nikah adalah adalah akad yang menghalalkan pasangan suami isteri untuk saling menikmati satu sama lainnya. Pada bagian permulaan surat Al Mu'minuun disebutkan bahwa salah satu tanda orang-orang mukmin itu ialah orang yang menjaga kemaluannya, sedang permulaan surat An Nuur menetapkan hukum bagi orang-orang yang tidak dapat menjaga kemaluannya yaitu pezina wanita, pezina laki-laki dan apa yang berhubungan dengannya, seperti menuduh orang berbuat zina, keharusan menutup mata terhadap hal-hal yang ada hubungannya dengan perbuatan zina, menyuruh agar orang-orang yang tidak sanggup melakukan pernikahan menahan diri dan sebagainya.

1. Hukum Nikah

Firman Allah : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa’ 2) “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian[1035] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS. An-Nur 32).

Nikah hukumnya wajib bagi orang yang mampu membiayainya serta merasa khawatir akan terjerumus pada hal-hal yang diharamkan oleh agama, dan nikah hukumnya sunnah bagi orang yang mampu membiayainya tapi dia tidak khawatir terjerumus dalam perbuatan yang diharamkan.

2. Rukun Nikah Sebelum melakukan pernikahan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mensahkan suatu pernikahan, antara lain : a. Wali b. 2 orang saksi c. Akad nikah/sighat d. Mahar/mas kawin.

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 11


C. Hak dan Kewajiban suami 1.

Kewajiban suami kepada isteri Kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang suami terhadap isteri antara lain : a. Mahar Mahar adalah pemberian wajib dari suami untuk isteri, suami tidak boleh menggunakanya tanpa seizin dan seikhlas isteri. Rasulullah bersabda, ”Diriwayatkan dari amir ibn Rabi‟ah bahwa seorang wanita dari Bani Fazarah kawin dengan mahar sepasang sandal.

Lalu Rasulullah bertanya: ”Apakah engkau rela dari diri dan hartamu dengan sepasang sandal?” Perempuan itu menjawab: ”Ya”. Lalu Rasulullah saw membolehkannya.” (HR. Ahmad, Ibn Majah dan Tirmidzi)

b. Nafkah Nafkah adalah menyediakan segala keperluan isteri berupa makanan, minuman, pakaian, rumah, dan lain-lain.

Firman Allah Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. At-Thalaq 7)

c. Ihsan al-„Asyarah Ihsan al-„Asyarah artinya bergaul dengan isteri dengan cara yang sebaik-baiknya. Teknisnya dapat dilakukan menurut pribadi masingmasing. Misalnya : membuat isteri bahagia, selalu berprasangka baik terhadap isteri, membantu isteri apabila ia memerlukan bantuan meskipun dalam urusan rumah tangga, menghormati harta miliknya pribadi dan lain-lain.

Allah berfirman : „…dan bergaullah dengan isterimu secara patut…‟ (An-Nisaa‟ 29).

Rasulullah saw sudah memberikan contoh teladan bagaimana bergaul dengan isteri dengan sebaik-baiknya.

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 12


Rasulullah bersabda : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaqnya. Dan orang orang baik diantara mereka ialah yang paling baik terhadap isterinya.” (HR. Ahmad)

d. Membimbing dan Mendidik Keagamaan Isteri Seorang suami memiliki tanggung jawab dihadapan Allah terhadap isterinya karena suami merupakan pemimpin didalam rumah tangga. Maka, suami berkewajiban mengajar dan mendidik isterinya agar menjadi seorang wanita shalihah. Jika seorang suami tidak mampu mengajarkannya sendiri, dia harus memberikan izin kepada isterinya untuk belajar di luar atau mendatangkan guru ke rumah, atau menyediakan buku-buku bacaan untuk keluarga.

2.

Kewajiban Isteri Terhadap Suami Ada dua kewajiban seorang isteri terhadap suami, antara lain a. Patuh Terhadap Suami Seorang isteri wajib mematuhi segala keinginan suaminya selamatidak untuk hal-hal yang mendekati kemaksiatan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Allah berfirman : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa 34)

Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik

wanita

adalah

yang

apabila

engkau

memandang

kepadanya

menggembirakanmu, apabila engkau suruh dia patuh, apabila engkau beri nafkah dia menerima dengan baik, dan apabila engkau tidak ada disampingnya dia akan menjaga diri dan hartanu” (HR. Nasa‟i)

Suami mendapatkan hak istimewa untuk dipatuhi isteri mengingat posisinya sebagai pemimpin dan kepala keluarga yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah terhadap keluarga.

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 13


b. Ihsan al „Asyarah Ihsan al „Asyarah isteri terhadap suaminya antara lain dalam bentuk : Menerima pemberian suami dengan rasa puas dan terima kasih, serta tidak menuntut hal-hal yang tidak mungkin, serta selalu berpenampilan menarik agar tercipta keharmonisan dalam keluarga.

Demikianlah akhlaq suami isteri yang pembahasannya kita fokuskan pada masalah hak dan kewajiban yang tentu saja semua itu tidak terlapas dari hukum.

D.

Birrul Walidain

Birrul Wlidain terdiri dari kata birru dan al-walidain. Birru artinya kebajikan. Al-walidain artinya dua orang tua atau ibu dan bapak. Birrul Walidain merupakan suatu istilah yang berasal langsung dari Nabi Muhammad saw, yang berarti berbuat kebajikan kepada kedua orang tua. Semakna dengan birrul walidain, Al-Qur‟an Al-Karim menggunakan istilah ihsan (wa bi al-walidaini ihsana),

seperti yang terdapat dalam firman Allah SWT berikut ini: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya...” (QS. Al-Isra‟ 23)

Allah SWT mewasiatkan kepada umat manusia untuk berbuat ihsan kepada kedua orang tua kita,

Allah SWT berfirman: “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibubapaknya…” (QS. Al-Ankabut 8)

Allah SWT juga meletakan perintah berterima kasih kepada kedua orang tua langsung sesudah perintah berterima kasih kepada Allah SWT.

Allah berfirman: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman 14)

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 14


Rasulullah juga mengaitkan bahwa keridhaan dan kemarahan Allah SWT berhubungan dengan keridhaan dan kemarahan kedua orang tua.

Rasulullah bersabda: “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua, dan kemarahan Rabb (Allah) ada pada kemarahan orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Bentuk-bentuk Birrul Waldain 1. Mengikuti keinginan dan saran orang tua. Seorang anak wajib mengikuti segala keinginan kedua orang tua, dengan catatan keinginan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Agama Islam.

Allah berfirman : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…” (QS.Luqman 15)

Juga sesuai dengan sabda dari Rasulullah, “Tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah SWT, ketaatan hanyalah semata dalam hal yang ma‟ruf.” (HR. Muslim)

2. Menghormati dan Memuliakan kedua orang tua Banyak cara yang bisa dilakukan seorang anak untuk menunjukkan rasa hormat kepada kedua orang tua, antara lain memanggilnya dengan panggilan yang menunjukan rasa hormat, berbicara kepadanya lemah lembut, tidak mengucapkan kata-kata yang kasar, pamit jika ingin keluar rumah(bila tinggal serumah), dan lain sebagainya.

Allah berfirman : “…Jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamumengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia” (QS. Al-Isra 23)

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 15


3. Membantu kedua orang tua secara fisik dan materiil. Seseorang dapat membantu kedua orang tua baik sebelum berkeluarga dan belum berpenghasilan maupun apabila anak tersebut sudah berkeluarga dan berpenghasilan. Misalnya, jika seorang anak belum berpenghasilan dapat membantu dengan cara fisik atau tenaga dan atau yang lain. Sedangkan bila anak sudah berpenghasilan dapat membantu secara materi dan atau yang lainnya.

Rasulullah bersabda “Siapakah yang paling berhak aku Bantu dengan sebaik-baiknya? jawab Nabi;”ibumu”. Kemudian siapa; jawab Nabi; “ibumu”. Lalu siapa lagi?jawab Nabi;”bapakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim) 4. Mendo’akan kedua orang tua Seorang anak yang berbakti adalah anak yang selalu mendo‟akan kedua orang tua baik selama mereka masih hidup walaupun mereka telah menghadap sang Khaliq.

Allah berfirman : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra‟24)

Demikianlah Allah SWT dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa sehingga berbuat baik kepada keduanya menempati posisi yang sangat mulia, dan sebaliknya durhaka kepada salah satu atau keduanya juga menempati posisi yang sangat hina. Secara khusus Allah mengingatkan betapa besar jasa dan perjuangan seorang ibu dalam mengandung, menyusui, merawat, dan mendidik anaknya. Kemudian bapak walaupun tidak ikut mengandung, tetapi dia berperan besar dalam mencari nafkah, membimbing, melindungi, membesarkan, dan mendidik anaknya hingga mampu berdiri sendiri, bahkan sampai waktu yang tidak terbatas. Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah wajar apabila seorang anak menghormati dan menyanyangi kedua orang tua setelah cintanya kepada AllahSWT.

E. Silaturrahmi Dengan Karib Kerabat Istilah silaturrahmi terdiri dari dua kata: Shillah (hubungan atau sambungan) dan rahim (peranakan). Istilah ini merupakan sebuah istilah dari hubungan baik penuh kasih sayang antar sesame karib kerabat yang salusulnya berasl dari satu rahim(keluarga).

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 16


Keluarga dalam kosep Islam bukanlah keluarga kecil yang hanya terdiri dari bapak, ibu dan anak. Tetapi adalah keluarga besar yang bisa terdiri dari seluruh aspek dalam suatu keluarga yang sambung-menyambung, seperti kakek, nenek, paman, bibi, dan lain seterusnya.

Allah berfirman : ”Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa 1)

1. Bentuk-bentuk Silaturrahmi Silaturrahmi secara kongkrit dapat ditunjukkan dalam bentuk antara lain : a. Berbuat Baik (ihsan) Berbuat baik atau saling tolong-menolong antar sanak keluarga dapat mempererat tali sillaturrahmi antar sanak keluarga. Allah SWT meletakkan ihsan kepada dzawi al-qurba nomor dua setelah ihsan kepada ibu bapak.

Allah berfirman : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karibkerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa‟ 36).

Karib kerabat harus diprioritaskan untuk dibantu, dibanding dengan pihak-pihak lain, lebih-lebih lagi bila karib kerabat adalah miskin atau yatim.

Rasulullah bersabda : “Sedekah kepada orang miskin bernilai satu yaitu sedekah. Sedangkan sedekah kepada karib kerabat bernilai dua yaitu sedekah dan silaturrahim.” (HR. Tirmidzi).

b. Membagi sebagian dari harta warisan Kita dapat membagi sebagian dari harta warisan kepada karib kerabat yang hadir pada waktu pembagian, tetapi tidak mendapat bagian jika terhalang oleh ahli waris yang lebih berhak.

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 17


Allah berfirman : ”Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang baik.” (QS. An-Nisaa‟ 8).

c. Memelihara dan meningkatkan rasa kasih sayang sesama kerabat. Untuk memelihara dan meningkatkan rasa kasih sayang antar kerabat dapat dilakukan dengan cara antara lain : _ Saling hormat-menghormati, bertukar salam _ Saling kunjung-mengunjungi _ Menyelenggarakan walimahan, dll

2. Manfaat Silaturrahmi Selain meningkatkan hubungan persaudaraan antar kerabat, silaturrahmi juga memberi manfaat lain yang lebih besar baik di dunia maupun di akhirat. Antara lain : a. Mendapatkan Rahmat, Nikmat dan Ihsan dari Allh SWT Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw menggambarkan secara metaforis dialog Allah SWT dengan rahim.

Sabda beliau : ”Sesungguhnya setelah Allah Ta‟ala selesai menciptakan makhluk-Nya rahim bangkit berkata: ”Inilah tempat orang yang meminta perlindungan kepada-Mu dari memutuskan silaturrahim.”

Allah berfirman: “Ya, apakah engkau sudah puas kalau aku menghubungkan orang yang menghubungkanmu dan memutuskan orang yang memutuskanmu.” Rahim menjawab: “Tentu.” Lalu Allah berfirman lagi: “Demikianlah bagimu.”

Kemudian Rasulullah bersabda: “bacalah jika kalian menghendaki:

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 18


b. Masuk Surga dan Jauh Dari Neraka Secara khusus disebut oleh Rasulullah saw bahwa sesudah beberapa amalan pokok, silaturahmi dapat mengantarkan seseorang ke surga dan menjauhkannya dari neraka.

Rasulullah bersabda : “Diriwayatkan oleh Abu Ayyub Khalid ibn Zaid al-Anshari ra, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah saw: ”Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku amalan yang dapat memasukkan aku ke sorga dan menjauhkan aku dari api neraka.” Nabi menjawab: “(yaitu apabila) engkau menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, mendirikan sholat, membayar zakat dan melakukan silaturrahmi.” (H.Muttafaqun „Alaihi)

c. Lapang Rezeki dan Panjang Umur Secara lebih konkret Rasulullah saw menjanjikan rezeki yang lapang dan umur yang panjang bagi orang-orang yang melakukan silaturahmi.

Rasulullah bersabda : “Siapa yang ingin di lapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, hendaklah ia melakukan silaturrahmi.” (H. Muttafaqun „Alaihi)

Demikianlah beberapa manfaat silaturrahmi yang akan didapatkan baik di dunia maupun di akhirat nanti.

NILAI AKHLAK SOSIAL Dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara kita sebagai umat yang senantiasa bersosialisasi, berinteraksi dengan yang lainnya, khususnya umat muslim, sudah sepantasnya kita menampilkan akhlak mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat beliau yang diridloi oleh Allah swt. Berperilaku/berakhlak mulia di dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat di mulai dari kehidupan bertetangga. bertetangga sangat perlu untuk direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai sesama umat yang seakidah kita perlu menjaga keharmonisan persaudaraan yang didasarkan atas kesamaan di dalam berkeyakinan. Islam mengajarkan agar kita selalu menampilkan kemuliaan akhlak dalam tetangga. Di samping itu kita juga harus menampilkan akhlak yang mulia di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 19


1. Bertamu dan Menerima Tamu Islam memberikan tuntunan bagaimana sebaiknya kegiatan bertamu dan bagaimana menerima tamu. • Bertamu Sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah yang bertamu terlebih dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah.

Sebagaiman dijelaskan Allah dalam firmanNYA : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat” (QS. Surat an-nur: 27)

Adab meminta izin : a. Memberi salam kemudian meminta izin b. Memberi tahu nama, sifat, dan kedudukan c. Meminta izin tiga kali d. Jangan mengetuk pintu dengan keras e. Menjauh dari pintu ketika meminta izin f. Jika tuan rumah memerintahkan pulang, maka pulanglah • Menerima Tamu Jika tamu datang dari tempat jauh dan ingin menginap, tuan rumah wajib menerima dan menjamunya maksimal tiga hari tiga malam menurut rasul saw menjamu tamu lebih dari tiga hari nilanya sedekah.

2. Hubungan Baik dengan Tetangga Rasulullah saw mengatakan, bahwa tetangga yang baik adalah salah satu dari tiga hal yang mebahagiakan hidup. “Diantara yang membuat bahagia seorang muslim adalah tetangga yang baik, rumah yang lapang dan kendaraan yang nyaman” (HR. Hakim)

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 20


• Pentingnya hubungan baik dengan tetangga Berkali-kali malaikat jibril memesankan kepada nabi muhammad saw untuk berbuat baik kepada tetangga. Sampai-sampai beliau mengira tetangga akan mendapatkan warisan.

Beliau bersabda yang artinya : “Selalu jibril memesankan kepada ku (untuk berbuat baik) dengan tetangga, sampai aku menduga bahwa tetangga akan menerima warisan” (HR. Mutafaq Alih) • Bentuk-bentuk hubungan baik dengan tetangga Minimal hubungan baik dengan tetangga diwujudkan dalam bentuk tidak mengganggu atau menyusahkan mereka. Rasulullah pernah berpesan kepada abu Dzar: “Jika engkau memasak gulai, perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetanggatetanggamu, dan berilah mereka sepantasnya” (HR. Musli)

3. Hubungan Baik dengan Masyarakat Adab Bergaul Dalam Masyarakat : a. Adab bergaul dengan yang lebih tua Isalm mengajarkan bahwa setelah kita menghormati atau menggauli kedua orang tua dengan penuh kesayangan dan mendo‟akannya. Kitapun dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang tua lainnya dengan penuh hormat dan sopan santun. Karena bagaimanapun mereka adalah merupakan generasi pendahulu kita, yang mewariskan kebudayaan kepada kita sehingga kita dapat menikmati hasil perjuangan mereka.

Dalam hal ini Nabi saw bersabda : "Sebagian tanda memuliakan Allah adalah menghormati orang islam yang telah putih rambutny (tua). (HR. Abu Daud)".

b. Adab bergaul dengan orang yang sebaya Pergaulan dengan orang yang sebaya adalah amat penting, karena dalam mengarungi kehidupan di dunia ini kita tidak luput dari kesulitan. Dan dalam mengatasi kesulitan itu akan lebih cepat tersatasi apabila kita banyak mendapatkan pertolongan orang-orang yang sebaya dengan kita,

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 21


karena sama sama merasakan nasip yang seimbang berdasarkan keseimbangan pengalaman, pengetahuan, usia dan lain sebagainya. Manusia itu tidak akan dapat dengan sempurna tanpa ada pertolongan orang lain.

Firman Allah SWT : "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikaan bersifat lemah". (QS. An Nisa‟ : 28).

c. Adab bergaul dengan yang lebih muda Kita senantiasa dianjurkan untuk bersikap merendah, yakni bersifat sopan santun terhadap sesama orang mukmin, termasuk terhadap orang-orang yang lebih muda dari pada kita. Dalam Alqur‟an Allah SWT berfirman :. "Dan merendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS Al Hijr: 88)".

d. Adab bergaul dengan orang yang berbeda agama Terhadap orang yang berbeda agama pun kita dianjurkan untuk bergaul dengan baik karena pada dasarnya mereka pun sama-sama manusia yang tidak berbeda dengan kita, asal kejadian mereka sama dengan kita. Yang membedakan antara kita dengan orang-orang yang berlainan agama adalah ketaqwaannya .

Firman Allah SWT : "Hai manusia sesunguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesunguhnya orang yang paling mulia diantara kau disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal".

e. Adab berpakaian Pakaian itu dikategorikan kedalam dua fungsi yaitu : 1. Pakaian berfungsi sebagai penutup aurat. 2. Sebagai perhiasan memperindah jasmani manusia.

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 22


Firman Allah SWT : "Hai anak adam sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian taqwa yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat". (QS. Al A‟raf : 26) Dalam hal adab berpakaian bagi wanita telah dijelaskan dalam Al- Qur‟an sebagai berikut: Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu‟min : “Hendaklah mereka menggunakan jilbabnya keseluruh tubuh yang demilian itu supaya mereka mudah untuk dikenali, dan dengan itu merka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

g. Adap Memandang Dalam masalah adab memandang dalam Alquran di jelaskan sebagai berikut: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah kebaikan bagi mereka. Dan Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.

h. Adab Berbicara Sebagai seorang mukmin hendaknya senantiasa membicarakan hal-hal dan masalah-masalah yang membawa kemaslahatan hidup. Cara kita berbicara juga dengan cara yang benar artinya menggunakan sopan santun berbicara serta tidak boleh berbicara dihadapan lawan dengan cara ngotot.

i. Adab Makan dan Minum Adab dalam makan antara lain : 1. Bila hendak makan membaca Basmalah 2. Tidak boleh makan dengan tangn kiri 3. Tidak boleh makan minum sambil berdiri. 4. Tidak boleh mencela makanan. 5. Tidak boleh menghembus minuman. Dalam surat al-hujurat ayat 13 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal.

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 23


4. Kewajiban sosial sesama muslim Adapun kewajiban-kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya : 1. Menjawab salam 2. Mengunjungi orang sakit 3. Mengiringi jenazahnya 4. Memenuhi undangannya 5. Menjawab ketika orang bersin 6. Memberi pertolongan ketika dimintai pertolongan

5. Toleransi Agama Islam mengajarkan kkepada kita untuk bertoleransi, yaitu menghormati keyakinan umat lain tanpa memaksa (QS. Al-Baqarah : 256), kalau berdialog dengan mereka hendaklah dengan cara yang baik (QS. Al-Ankabut : 46) tidak boleh menghina agama dan keyakinan mereka

6. Pergaulan Muda-mudi a. Mengucapkan dan menjawab salam 

Islam mengajarkan kepada sesama muslim untuk saling bertukar salam apabila bertemu (QS. An-Nisa‟ : 86 / bertamu (QS. An-Nur : 27))

Salam yang diucapkan minimal adalah “assalamu‟alaikum”

Mengucapkan salam hukumnya sunnah, tetapi menjawabnya wajib

Bila bertamu, yang mengucapkan salam terlebih dahulu adalah yang bertamu (QS. AnNur : 27)

Salam tidak diucapakan hanya saat saling bertemu, tapi tatkala mau berpisah juga

Jika dalam rombongan, baik yang mengucapkan dan maupun yang menjawab

salam boleh hanya salah seorang dari anggota rombongan tersebut

Rasulullah saw melarang mengucapkan atau menjawab salam ahlul kitab.

Pria boleh mengucapkan salam kepada wanita dan begitu pula sebaliknya

b. berjabatan tangan

Rasulullah bersabda : “ sungguh, jika kepala seorang di antara kamu ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya” (HR. Tabrani dan baihaqi) Dari hadits tersebut seorang pria tidak boleh berjabat tangan dengan seorang wanita yang bukan istri dan bukan mahramnya, begitu pula sebaliknya. Salah satu hikamah larangan tersebut adalah sebagai tindakan preventif dari perbuatan yang lebih besar dosanya, yaitu perzinahan. Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 24


c. Khalwah Khalwah adalah berdua-duaan antara pria dan wanita yang tidak ada hubungan suami istri dan tidak pula mahram tanpa ada orang ketiga dan larangan berkhalwah adalah tindakan pencegahan supaya tidak terjatuh ke lembah dosa yang lebih dalam lagi.

7. Ukhuwah Islamiyah Ukhuwah islamiyah adalah sebuah istilah yang menunjukkan persaudaraan antara sesama muslim di seluruh dunia tanpa adanya perbedaan. Pesaudaraan seiman ini ditegaskan dalam surah Al-Hujurat ayat 10 : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, oleh karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada allah agar kamu mendapat rahmat“

 Menegakkan dan Membina Ukhuwah Islamiyah Empat tiang penyangga ukhuwah islamiyah yaiyu: 1. Ta‟aruf 2. Tafahum 3. Ta‟awun 4. Takaful  Memelihara Ukhuwah Islamiyah Ada enam sikap dan perbuatan yang dilarang leh allah untuk memelihara ukhuwah islamiyah : 1. Memperolok-olokkan orang lain 2. Mencaci orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan 3. Memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang tidak disukai 4. Berburukl sangka 5. Mencari-cari kesalahan orang lain 6. Bergunjing

Indra Mulia Syafutra – Filsafat Kependidikan – FAI – UIR - 2010

Page 25


Internalisasi Nilai Islam