Page 1

SENI Seni Selingan

Pekan (Budaya) Manggaleh

S

etidaknya secara insplisit karakteristik orang Minang sebagai masyarakat adat dan Islam seharusnya menguat pada event Pekan Budaya Sumatera Barat (PBSB). Untuk peningkatan kesan karakteristik ini maka diperlukan pemahaman para pihak (stakeholders) PBSB tanpa mengurangi kepentingannya. Dari tataran ide, spirit dan semangat semua stakeholder kebijakan PBSB ingin dan peduli memunculkan karakter Minang Islami dapat dipujikan. Tetapi secara secara eksplisit implementatif pengakomodasiannya oleh stakeholder dan owner PBSB sampai 2012 ini perlu peningkatan pemahaman dan rekayasa modern penampilan karakteristik itu sesuai dengan tinggi rendahnya kepentingan dan atau tinggi rendahnya pengaruh para pihak serta pertimbangan daya saing, momentum dan pendanaan. Justru ada suara miring tuduhan pengabaian karakteristik itu dan pressure terhadap event PBSB bahwa seni – budaya tenggelam dan yang menonjol event dagang orang manggaleh. Namun secara jernih dari perspektif sistim budaya, manggaleh itu bukankah satu di antara sistim budaya juga?. Manggaleh kalau spiritnya (semangat dan motivasi) bernawaitu menampilkan unggulan daerah/ nagarinya dan mengangkat martabat budaya, tidak terkesan hanya barang pakaian dalam meski secara kaki lima dijual barang itu. Menawarkan lebih banyak sesungguhnya manifestasi cinta tanah air itu sangat Islami. Justru cinta daerah/ tanah air itu bagian dari iman. Tegasnya kita

60

/Desember 2012

mengadakan pekan budaya bukan untuk menarik orang luar untuk datang, tetapi kita mempresentasikan dan memasarkan budaya kita mungkin jadi tontonan dan diharapkan juga tuntunan buat anak nagari, dengan cara itu orang (wisatawan) terpikat untuk melihat dan berminat. Kinerja proses pelaksanaan kebijakan PBSB di Solok 2012 tidak jauh menawarkan inovasi dari PBSB 6-12 Juli 2008. Coba kembali kita bidik PBSB 2008 sebagai banding dari liputan PBSB 2012, secara kategoris PBSB 2008 sudah menjadi tontonan, namun untuk menjadi tuntunan, inilah yang dilirik dalam berbagai perspektif para pihak terutama peminat/ penonton/ pencari tuntunan dalam seni – budaya nuansa Islami dan ritual adat budaya Minang. Thema yang disuguhkan PBSB 2008: “aktualisasi nilai-nilai seni dan budaya sebagai tontonan dan tuntunan bagi masyarakat”. Sejalan dengan thema ini dioperasionalkan tujuan dan sasaran seperti tadi disebut serta arah kebijakan PBSB dalam 3 kategori, yakni (1) kategori pariwisata (profil dan multi efek objek wisata unggulan Sumbar), (2) kategori seni (seni tradisional sebagai aset pariwisata Sumbar) dan (3) katerori budaya (ritual adat khas nagari). Mengisi tiga kategori PBSB itu diselenggarakan program yang mengaktualisasikan seni – budaya Mnang diwujudkan dalam berbagai kegiatan di antaranya: pawai budaya, atraksi seni, festival, lomba dan pagelaran budaya kesenian dan pameran kerajinan tradisional yang sudah digelar di sejumlah daerah dalam

wilayah Sumatra Barat. Setiap daerah menampilkan kesenian tradisional dan pameran seni lukis dan kaligrafi, kerajinan dan promosi wisata daerah masingmasing. Festval, lomba dan pagelaran kesenian tradisional diekspilisitkan antara lain: randai, dendang saluang, busana daerah, nyanyi minang, dan nyanyi gamad, qasidah, nasyid dan salawat dulang dll. Tiga terakhir (qasidah, nasyid dan salawat) tidak saja menguat nilai Islami muncul dalam pesan lagu tetapi juga tereksplisit (mengedepan) dalam simbol busana muslim/ muslimah penyanyinya yang kental menunjukkan seni Islam. Artinya dalam kebijakan Pekan Budaya dalam kinerja proses jelas sekali hendak mengaktualkan nilai Islami dalam perspektif budaya Minang. Nilai itu dapat memandu / menuntun orang Minang dalam tontonannya untuk kukuh memegang dan membudayakan karakteristik Islam sejalan dengan falsafah hidupnya ABS-SBK (adat basandi syara' dan syara' basandi Kitabullah) diaplikasikan dalam SM-AM (syara' mangato adat mamakai/ syara' menggariskan dan adat melaksanakannya). Secara jujur teramati dalam observasi seminggu, melihat mutu tontonan dan tuntunan PBSB 2008, di samping banyak pujian juga tak dapat dinafikan ada suara miring. Pujian di antaranya kegiatan Pekan Budaya ini: (1) dari kategori seni, atraksi seni – budaya sudah menjadi tontonan menarik yang di dalamnya ada tuntunan dari pegelaran seni, pameran, festival dan beraneka lomba dalam sepekan di masa liburan sekolah , (2) dari kategori pariwisata

tereksplisit nilai Islam (a) memberi peluang kepada orang ekonomi lemah mencari nafkah mulai dari menghadirkan wisata kuliner (masakan khas) sampai kepada barang murah yang ditawarkan pedagang kaki lima (PKL), (b) bahkan dari semangat/ spirit mempromosikan unggulan daerah masing-masing dipandang sangat Islami, karena event ini sejalan dengan amanat Islam yang menganjurkan mencintai tanah air/ daerah, dalam nash popular disebut: hubb al-wathan minal iman – äÇãí?Ç äã äØæáÇ ÈÍ (mencintai tanah air bagian dari iman), (3) dalam kategori budaya (ritual adat Minang) seni – budaya Minang memperlihatkan pesan dan simbol-simbol Islam dan berpotensi memperkuat budaya Nasional seperti: (a) tradisi masyarakat agama bentuk turun mandi anak (sebagai bagian hutang ayah kepada anak dan event timbang terima dukun/ bidan kepada orang tua si anak) disemarakan kesenian rabana ditampilkan atraksi Pawai Budaya dari Kota Padang, (b) tradisi manjalang mamak yang menyajikan pakaian adat yang Islami dan kesenian rabana, (c) stand yang menggembirakan memajang simbol Islam, seperti Kota Padang memperlihatkan mukenah serta pusat budaya dan ibadat di samping akses langsung ke data elektroniknya, Padang Panjang Kota Serambi Mekah memamerkan busana muslimah dan mukenah dan masjid tua dan lembaga budaya Islam, Agam memamerkan tokoh kharismatik dalam Islam Buya Hamka dan masjid-masjid, juga 50 Kota memamerkan sentra kegiatan Islam dan peribadatan. Begitu pula Pariaman memamerkan pusat wisata religius Ulakan dengan latar masjid dan komplek pemakaman Syeikh Burhanuddin dll., (d) Lomba qasidah, nasyid dan salawat dan kesenian Islami lainnya yang sarat dengan nilai Islami (pesan Islam) dalam lagu dan secara simbolik tergambar dalam tata busana penyanyi

qasidah, nasyid dan peselawatnya. Pada perinsipnya dalam plus minus kinerja proses PBSB 2008, secara inplisit nilai Islami sudah menguat dan secara eksplisit nilai Islami karakteristik Minang masih perlu ditingkatkan. Gambaran umum karakteristik Islami Minang dalam PBSB penulis gambarakan dalam skema (Yulizal Ynu, 2008) sbb.: Tergambar dalam kegiatan seni – budaya pada PBSB tuntunan Islam dalam tontonan. Dalam tontonan ada: estetika (keindahan) dan erotika (daya tarik), namun melihat control tuntunan etika bersumber adat dan agama dan akomodasi tuntunan nilai Islami lainnya dalam kesenian dan perjalanan/ kunjungan dalam atraksi seni – budaya, memerlukan pemetaan stakeholder kebijakan PBSB. Analisis Pengakomodasian Karakteristik Islami Minang dalam Pekan Budaya Melihat secara kritis pengakomadasian karakteristik Islami Minang dalam dari kanerja proses PBSB 2008 dalam berbagai kegiatan seni – budaya, maka perlu pemetaan stakeholder yang berperan dalam pelaksanaan kebijakan PBSB 2008. Namun pemetaan yang intinya menganalisa stakeholders dan owner pengelola event, memerlukan studi/ penelitian yang mendalam. Sebab masalah kebijakan tidak saja fakta yang eksis di balik kasus, tetapi banyak teretak pada stakeholder. Yang dimaksud dengan stakeholder ialah para pihak yang berkepentingan dan atau terkena dampak atas suatu proyek implementasi kebijakan. Pada perinsipnya analisa stakeholder diikuti analisis posisi untuk mengingidentifikasi posisi dan keterlibatan kelompok yang punya “kepentingan tinggi dan kepentingan rendah dengan pengaruh tinggi dan pengaruh rendah” (UNCHS Habitat, 2001) serta kegiatannya, selanjutnya

mencatat kontribusi stakeholder kepada owner dan kontribusi owner kepada stakeholder, lalu membaca para pihak yang diuntungkan dan dirugikan untuk menentukan kejelasan akomodasi nilai budaya lokal dalam mengakses perubahan sebagai sebuah kinerja. Analisis stakeholder secara konkrit dapat digambarkan dalam sbb.: Dari hasil observasi singkat terlihat peta stakeholder, PBSB 2008 stakeholder utamanya adalah Pemrov/ Disparsenibud dengan owner tidak EO tapi sebuah kepanitiaan ditetapkan dengan SK Gubernur. Kepanitiaan sudah menggambarkan rekrut semua unsur stakehorlder primer (yang memperoleh manfaat kebijakan dan kegiatan) dan stakeholder kunci (pemerintah, masyarakat/ pemuka seni/ agama/ adat, dan swasta) secara perorangan dan belum menguat keterlibatan kelembagaan. Posisi ini dapat dimengerti, karena (1) alasan sistim kegiatan dan penganggaran pemerintah yang berbasis kinerja, (2) akuntabilitas (pertanggungjawaban/ pertanggunggugatan) kinerja anggaran lebih menjamin dengan sistim kepanitiaan bertanggung jawab kepada PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) seterusnya kepada KPA (Kuasan Pengguna Anggaran) dan PA (Pengguna Anggaran) di Pemprov, dan atau mungkin (3) faktor kelembagaan stakeholder kunci (masyarakat) dan stakeholder sekunder (mitra/ swasta/ EO) serta stakeholder rival belum mempunyai kesamaan visi-misi dan belum punya kesiapan green design untuk menawar kegiatan/ event atau kekuatan menyatakan bisa mengedepankan misi seni – budaya orang Minang yang beradat dan Islami dan atau mungkin kegagalan negosiasi anggaran kelembagaan masingmasing stakeholder dari kucuran pemerintah dan founding lainnya. Gambaran keterlibatan stakeholder ini penulis gambarkan dalam skema Yulizal

/Desember 2012

61


SENI Selingan

Yunus (2008) sbb.: Dari pengidentifikasian stakeholder dan owner PBSB 2008 tadi telihat mekanisme yang sederhana, tidak banyak mengoperasionalkan stakeholder sekunder (mitra) terutama stakeholder kunci lainnya (stakeholder masyarakat seni – budaya: antara lain kelembagaan seni – budaya seperti DKSB/ serta lembaga seni yang ada (kecuali pelaksanaan seminar sehari PBSB 2008 ini) dan lembaga-lembaga terkait dengan adat LKAAM dan terkait dengan agama MUI atau lembaga agama lainnya). Fenomena ini sekali lagi dimungkinkan tidak hanya faktor internal stakeholder pemerintah saja tetapi juga faktor internal stakeholder kunci (masyarakat), stakeholder mitra (swasta) dan stakeholder rival (penentang) lainnya belum menunjukkan kesiapan dan daya tawar yang tinggi. Karenanya kalau ada suara miring, pastilah dapat dipahami sakeholder primer dan kunci serta owner PBSB 2008 apalagi Kadisparsenibud Prof. Dr. James Hellyward yang cukup berpengalaman dan sudah banyak makan asam garam menjembatani di antara stakeholder primer, kunci, sekunder dan rival. Suara miring ini tak kini saja, dulu juga didengar (pada Pekan Budaya Sumatra Barat, 8-14 Juli 2007 dibuka Wapres RI Yusuf Kalla ditutup Gubernur Sumatra Barat, Gamawan Fauzi) di antaranya : ini kan pekan budaya birokrat, dagang rang manggaleh, pekannya ada tapi seni – budayanya antara ada dan tiada, menarik juga kalau disimak dengan hati yang lapang oleh stakeholder primer, boleh dicermati untuk advokasi kebijakan dengan mencermati posisi, sikap dasar dan pemikiran tentang permasalahan yang ada dari stakeholder kunci, mitra dan rival (penentang/ sikap berbeda). Namun terlepas dari siapa stakeholder dan owner PBSB

62

/Desember 2012

2008, dalam kepentingan studi ini, karakteristik Islami orang Minang yang penting mengedepan. Kalau tidak, tentulah ada persoalan pada penggiat seni – budaya dalam momentum dan event PBSB ini, meskipun secara mendalam disadari, pengakomodasian karakteristik itu memerlukan komitmen yang kuat, integritas, kapasitas dan kapabilitas para pihak, sejajar dengan tinggi rendahnya kepentingan. Tak dinafikan bahwa penampilan sebuah karakteristik suatu komunitas dapat dianalisis posisi (1) tinggi rendahkan kepentingan para pihak (stakeholders), menguntungkan atau merugikan, (2) tinggi rendahnya pemahaman nilai karakter, (3) momentum dan eventnya yang berbanding modal tersedia dan sebagainya. Sungguh pun demikian Kadisparsenibud Sumatra Barat, Prof. Dr. James Hellyward, dalam eksposenya kepada publik jum'at (13/6) menyebut: Pekan Budaya ini sebagai wadah ekspresi budaya Minangkabau dan event dalam momentum (kesempatan emas) Sumatra Barat satu dari 10 destinasi wisata di Indonesia, untuk mendatangkan wisatawan terutama dari Malaysia yang saat ini lebih 3.000 wisatawannya masuk ke Sumatera Barat, juga menyusul datang wisatawan dari Dubai. James (dalam Yanti, padangkini.com, 2008) menekankan "ciri khas daerah Minang banyak, di samping seni, juga sistim budaya lainnya seperti keterampilan membawa banyak piring berisikan masakan, walau tidak praktis tetapi itu bisa dibaut jadi icon budaya yang menarik dan harus dilestarikan”. Pada akhirnya sebuah rekomendasi, berangkat dari fenomena masalah sebagian daerah sebagai owner yang tidak maju-maju dalam berbagai atraksi seni – budaya seperti baralek gadang, randai dan

pagelaran seni tradisi lainnya dan kurang muncul karakteristik Islami orang Minang disebabkan salah strategi. Di antara strategi, karena mempertimbangkan skop besar Kab/ Kota, penampilan terjebak rekayasa ragam campurcampur dari seluruh nagari, dimungkinkan lebih baik ditampilkan ragam versi satu nagari saja per/ tahun/ PBSB. Fakta itu mungkin disebabkan juga kurang memahami juklak dan atau juknis yang diturunkan dari panitia Provinsi dan masih perlu peningkatan kualitas sosialisasi kebijakan dari atas ke struktur bawah. Untuk memacu kemajuan memunculkan karakteristik Islami dan ritual adat diperlukan ADB (acara duduk basama) seluruh stakeholders kebijakan seni – budaya tingkat Sumatera Barat. Apakah seminar ini berfungsi dalam maksud ini, Bung Harris yang lebih tahu. Di forum stakeholder itu disatukan visi dan persepsi serta green design pengembangan seni – budaya di Sumatera Barat dengan ciri khas Sumbar dan meningkatkan daya tawar, berbagi peran serta memperbesar kran aliran dana penganggaran pembangunan pilar seni – budaya di Sumatera Barat sekilar digambarkan dalam skema Yulizal Yunus, 2008) sbb.:. Dan, penulis yakin nawaitu dan ketulusan juga, bagian dari karakteristik Islami. Kalau semua daerah sebagai owner punya nawaitu dan spirit tulus mengedepankan keunggulan daerahnya itu pun sangat Islami dalam mengimpelementasikan cinta tanah air yakni daerah Minang (SAGA-01). ***

BHAYANGKARI KEMBANGKAN BUDAYA MENULIS POLWAN DAN WANITA TERAMPIL BERPIDATO

Tak sekedar lomba, tapi bagian tugas mulia proses kaderisasi. Bhayangkari ingin, Ketua Bhayangkari Kabupaten/ Kota terampil berpidato memberi arah angota keluarga polri dan polisi wanita pandai menulis plus pintar menuliskan makna kehidupan.

Ketua Bhayangkari Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat, Ny. Elok Indah Pramugari, ketika percakapan dengan SAGA di sela lomba pidato antar Ketua Bhayangkari se Sumatera Barat menyebutkan berbagai kegiatan menarik dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-60. Kegiatan itu tidak saja melibatkan masyarakat seperti penghijauan di Solok, tetapi juga terkandung maksud proses kaderisasi dengan mengasah keterampilan para isteri di jajaran polri dan polwan berbagai kegiatan menarik. Ketua Panitia Ny. Rika Mujiyono menyebutkan di antara kegiatan yang mengasah keterampilan itu, pertama lomba berpidato istri Kapolres Kabupaten/ Kota se Sumatera Barat (12 Oktober 2012)

dan lomba menulis thema “memaknai kehidupan” antar polisi wanita (polwan) dalam jajaran polri se Sumatera Barat, yang hasil karyanya dinilai dewan juri dari 11-19 Oktober 2012. Khusus tulisan para polwan yang diperlombakan ini dapat dikelompok dalam tiga gaya penulisan: (1) berbentuk sistem penulisan penelitian dengan singkatan makalah gaya bahasa populer, (2) dalam bentuk esai/ ilmiah populer dengan gaya retorik dan (3) gaya bercerita. Dewan juri, menilai dari dua sisi (a) content (intrinsic dan ekstrinsik) dan (b) metode/ struktur/ sistimatika penulisan sebagai pencerminan sistim berfikir, dapat diapresiasi. Dewan juri Zaitul Ikhlas Sa'ad Rajo Intan dan YY Dt.Rajo Bagindo, memberikan apresiasi, bahwa dalam lomba berpidato istri para pejabat polri sudah menunjukkan kemampuan memberikan kepastian arah dengan orasi dan materi yang kuat. Dalam lomba menulis para polwan dalam jajaran Polda Sumbar dapat menawarkan tulisan menarik mengenai makna kehidupan. Dewan juri sulit menjatuhkan pilihan, kata Zaitul, karena semua tulisan bagus-bagus, ternyata polwan punya minat kuat menulis, tinggal lagi pembiasaan dan pembudayaan menulis

dengan cara berlatih terus menerus dan memperdalam ilmu dan metodologi. Semua tulisan polwan menawarkan energi positif tentang makna dan pesan kehidupan yang amat berharga dari perspektif pengetahuan dan pengalaman peserta sebagai polisi wanita. Zaitul, menghargai ide mengadakan lomba penulisan memaknai kehidupan ini amat brilyan, patut dihargai, terutama dalam hal melahirkan kader pemimpin di tubuh polisi yang tidak saja pintar berbicara dan orator menjelaskan makna kehidupan aman dan tertib (nyaman), tetapi juga skill dalam menulis, menulsikan secara jujur apa yang dialami dan dipikirkan. Karenanya semua peserta patut diberi reward, di samping pengambilan 3 terbaik (juara I, II dan III), juga diusulkan secara berkelanjutan: (1) dipilih 10 terbaik dipublikasikan pada media cetak kerjasama Bhayangkari dan Media Cetak. Karena tulisan ini kaya dengan pemaknaan kehidupan dalam subkultur Minang, Zaitul mengusulkan diterbitkan Majalah Minangkabau SAGA. Lebih lanjut tulisan polwan ini dihimpun dan diterbitkan setelah melalui pengeditan. Upaya ini bermanfaat sebagai pewarisan pemikiran polisi dalam mengayomi masyarakat dengan pemaknaan kehidupan, kata Zaitul. SAGA01

/Desember 2012

63


SENI Seni Selingan

Peran Pendidikan Melestarikan Budaya Oleh AHMAD MASRUR FIROSAD (Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UNP dan bergiat di Magistra Indonesia)

L

aju globalisasi seiring dengan perkembangan teknologi, mengubah wajah dunia hari ini. Sehingga, bukan hanya jarak yang terasa dekat, tapi juga sekat-sekat antar kebudayaan dan peradaban semakin menipis. Perkembangan itu membuat interaksi antar kebudayaan semakin intensif. Namun persoalannya, terjadi hegemoni terhadap satu kebudayaan terhadap kebudayaan lainnya. Dengan demikian, terjadi pengikisan terhadap budaya tradisional (folk culture). Parahnya, masyarakat kita mengalami Culture Shock dimana terjadi kekacauan budaya dari konfrontasi antar budaya. Menurut Samuel P. Huntington dalam Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia : “Ekspansi Barat mampu menawarkan modernisasi dan westernisasi bagi masyarakatmasyarakat non-barat. Tokohtokoh politik dan intelektual dari masyarakat tersebut memberikan reaksi terhadap pengaruh barat satu atau lebih cara”. Modernisasi sebagai anak kandung renaisans di Eropa, bukan hanya menawarkan mekanisasi produksi untuk meningkatkan hasil ekonomi. Akan tetapi membawa paradigma mekanistik dalam memandang manusia. Sehingga mengantarkan

64

/Desember 2012

manusia pada jurang dehumanisasi, dimana akar spiritual dicerabut dari kemanusiaan. Sementara disisi lain, budaya barat memposisikan non barat sebagai terkebelakang dan mesti dimodernisasi. Dalam Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya, Alo Liliweri mengatakan : “setiap kebudayaan harus memiliki nilainilai dasar yang merupakan pandangan hidup dan sistem kepercayaan dimana semua pengikutnya berkiblat. Nilai dasar itu membuat para pengikutnya melihat diri mereka ke dalam, dan mengatur bagaimana caranya mereka keluar. Nilai dasar itu merupakan filosofi hidup yang mengantar anggotanya ke mana dia harus pergi”. Melihat kebudayaan Sumatera Barat, khususnya Minang, maka kita akan menemukan nilai-nilai luhur yang begitu tinggi. Akan tetapi disisi lain, kita juga akan menemukan beberapa hal yang sudah tidak relevan lagi. Menjadi pertanyaan hari ini adalah, bagaimana melakukan pemilahan terhadap kebudayaan kita sehingga hal-hal yang tidak relevan, ditinggalkan dan hal-hal yang masih relevan tetap dipertahankan. Mencoba menggunakan pisau analisis Nietszche tentang sejarah “Manusia menjadi penentu atas hidup kebudayaannya”. Berdasar

hal demikian, menjadi penting adanya usaha revitalisasi kebudayaan minang melalui jalur pendidikan formal selain usahausaha lainnya. Jika bukan manusia minang sendiri yang menjaga warisannya, maka tidak ada lagi nilai-nilai luhur yang menjadi identitas dan kepribadian. Sekelumit tentang Budaya Kebudayaan lahir dari pengetahuan logika (benarsalah), etika (baik-buruk) dan estetika (indah-jelek) suatu kelompok manusia yang kemudian dibiasakan dari generasi ke generasi. Tiap suku, kaum atau komunitas, membangun kebudayaannya masing-masing selama beberapa generasi. Lebih lanjut, Kebudayaan bagi suatu masyarakat bukan sekedar sebagai frame of reference yang menjadi pedoman tingkah laku dalam berbagai praktik sosial, tetapi lebih sebagai “barang” atau materi yang berguna dalam proses identifikasi diri dan kelompok. Sebagai kerangka acuan kebudayaan telah merupakan serangkaian nilai yang disepakati dan mengatur sesuatu untuk diwujudkan. Kebudayaan ini berkembang sebagai hasil interaksi manusia, alam sekitar dan dengan penciptanya (perkecualian untuk budaya materialisme barat yang

tidak berurusan dengan Tuhan) Budaya minang berakar dari konsep ketuhanannya, yaitu “adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah” yang kemudian diturunkan secara terus menerus sampai sekarang. Setelah Islamisasi pada abad 17, terjadi akulturasi antara budaya lokal dengan ajaran Islam. Islam terdiri dari berbagai ragam penafsiran penganutnya, sehingga penafsiran terhadap Islam ini mempengaruhi pendapat seseorang terhadap akulturasi ini. Sehingga muncul penyikapan yang berbeda, mulai yang paling ekstrim atau paling kooperatif terhadap tatanan klasik, yaitu mengakui kepercayaan pra Islam. Hal ini adalah hal yang sensitif, dan mesti arif dalam bersikap. Pertanyaan hari ini adalah bagimana mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan sehingga lahir generasi manusia Minang Sumatera Barat yang tanggap terhadap perkembangan zaman tapi tidak kehilangan identitas dan nilai keminanganya ?. Membangunan Sektor Pendidikan Secara filosofis hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia dan secara normatif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai sebuah proses, tentu tidak dilihat hasilnya dalam waktu singkat. Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi sebuah bangsa. Berhasil tidaknya proses pendidikan akan mempengaruhi martabat bangsa dimata bangsa lainnya. Sebelum reformasi, pendidikan kita adalah proses penyeragaman cara berpikir. Misalnya dalam pendidikan bahasa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke memulai dengan “ini budi”. Padahal ada banyak tokoh lain yang bisa diangkat. Misalnya Ini Ucok, Ini Tole, Ini Buyung, Ini Denias dan sebagainya. Pelajaran bahasa dan sastra pun itu-itu saja. Seolah-olah tidak ada sastra dari kebudayaan lain. Padahal, Indonesia ini dibentuk

dari sekitar 500-an suku yang memiliki tradisi sastra tersendiri. Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan selalu menggunakan peristilahan yang berbahasa sangsekerta. Padahal, bahasa sangsekerta murninya dari India, bukan bahasa asli Indonesia. Kalaupun ada bahasa yang berasal dari salah satu suku di Indonesia, kita tidak akan menemukan kata dan kearifan lainnya. Seolah-olah nilai dasar kebangsaan yang dibentuk dari kearifan satu suku saja. Dalam kerangka kebangsaan, semua suku harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Semua bahasa dan kearifan lokal harus dihargai, demi membangun generasi bangsa yang menghargai perbedaan dan tidak kehilangan jati diri. Bukan menonjolkan sumpah-sumpahan yang tidak lebih berakar dari hasrat invasi (imperialisme tradisional) belaka. Revitalisasi kebudayaan tentu kita tidak bebankan hanya pada sektor pendidikan formal dengan penjenjangannya (Pendidikan Dasar, Pertama, Menengah dan Tinggi) semata. Tapi juga pendidikan Informal dan Non Formal. Disinilah pentingnya agar semua pihak dapat bersinergi untuk merevitalisasi kebudayaan. Di lain pihak pengambil kebijakan sehubungan dengan pendidikan dapat mentransformasikan nilainilai tersebut melalui pendidikan formal. Pendidikan Sejarah dan Kebudayaan nantinya harus menyelaraskan materi dengan perkembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik dengan tetap memperhatikan aturan-aturan yang ada. Pengembangan materi Pendidikan Sejarah dan Kebudayaan tetap mesti mengacu pada prinsip pengembangan silabus, seperti Ilmiah, Relevan, Sistematis, Konsisten, Memadai, Aktual, Kontekstual, Fleksibel dan Menyeluruh.Agar lebih efektif, selayaknya pendidikan diarahkan pada perkembangan kecerdasan

spiritual. Sehingga nilai-nilai kebudayaan tidak sekedar menjadi pengetahuan kognitif bagi peserta didik. Tawaran Solusi Adalah penting bagi semua pihak untuk bersama menyelamatkan kebudayaan yang menjadikan warisan sejarah sebagai spirit ditengah pertarungan era global ini. Selain penyelamatan aset sejarah dan budaya, perlu juga diadakan transformasi dan sosialisasi nilai melalui berbagai jalur pendidikan dalam rangka pembentukan generasi muda yang siap menghadapi era global tanpa mesti kehilangan identitas sebagai manusia . Pendidikan, sebagai hal yang penting dalam proses pembentukan jati diri, selayaknya memainkan peran aktif dalam proses ini. Pada jalur pendidikan formal, menggagas pelajaran pendidikan sejarah dan budaya minang sebagai kurikulum muatan lokal adalah hal yang layak untuk dipertimbangkan. Pada jalur pendidikan informal, semestinya tiap keluarga menjaga anggotanya dari tayangan yang tidak mendidik seperti infotainment, sinetron dan sebagainya. Dan menggencarkan pesan-pesan moral pada generasi muda. Pada jalur non formal, hendaknya ada media yang senantiasa mengangkat sejarah dan budaya minang kepermukaan, sehingga tidak tenggelam oleh pergeseran zaman. Kiranya tidak dapat berharap banyak kepada suku atau bangsa lain untuk menjaga warisan leluhur kita yang begitu tinggi. Karena hanya pewaris saja yang dapat menjaga dan melestarikan warisannya. Tidak dapat lagi kiranyan menunda lebih lama, karena aset-aset sejarah semakin hari semakin rusak dan tokoh budaya mesti diregenerasi sesuai hukum alam. Jangan sampai generasi muda kehilangan identitas budayanya sendiri[]

/Desember 2012

65


KOLOM

P

olitik itu kotor, politik itu tipu muslihat, politik itu tidak benar, begitu ungkapan katakata yang sering disampaikan oleh beberapa orang, yang secara mudah menuduh bahwa politik itu salah. Padahal jika dilihat dari hasil dan tujuan yang hendak dicapai oleh politik yaitu kekuasaan (power) adalah sesuatu yang sah, benar, penting dan strategis sekali adanya. Image tidak baik terhadap politik, politikus dan partai politik, tidak sepenuhnya benar dan harus bisa dijernihkan oleh mereka yang terlibat dan aktif dalam dunia politik, lebih khusus lagi bagi tokoh umat yang mengabdikan dirinya untuk mengurus kepentingan umat melalui jalur partai politik. Kader Partai Islam tentu harus bisa menunjukkan dan menjelaskan dalam kata dan perbuatan bahwa politik itubaikdanmestidiperjuang-kan. Pilihan paling efektif untuk membangun citra diri, citra partai dan pada akhirnya diikuti pemilih adalah dengan secara nyata pengurus, kader, simpatisan dan semua komponen partai secara bersungguh-sungguh, dengan sepenuh hati, sedalam pikiran, sekuat gerak langkah dan semua “kurenah” disesuaikan sedemikian rupa dengan visi, misi dan khittah iman yang sejak awal sudah ditorehkan oleh founding father partai umat Islam di Indonesia. Sejarah perjuangan Partai Islam sebagai wadah politik umat telah mencatat bahwa spirit kekokohan iman, kesungguhan amal dan kematangan cita-cita telah ikut mewarnai langit kekuasaan dan keselamatan umat. Perjuangan politik Partai Islam di Parlemen yang terus berpihak pada kepentingan dan kemaslahatan umat juga sudah dirasakan umat sebagai wujud keberadaannya. Di masa datang merajut kembali kekuatan umat

66

/Desember 2012

IMAN DALAM POLITIK: MENUHANKAN ALLAH Oleh Duski Samad

pastilah tidak semudah sebelumnya, kini diperlukan upaya reaktulisasi semangat iman, reorentasi visi jihad dan reorganisasi spiritual umat. Reaktualisasi Iman dan Jihad. Secara normative teologis, iman itu sudah ada dalam diri setiap orang, karena bertuhan adalah fitrah manusia. Fitrah adalah potensi menjadi orang baik dan lebih baik yang diamanatkan Allah untuk semua orang. Bahwa bibit menjadi orang baik dan lebih baik (berhasil dan sukses) adalah milik semua orang. Ajaran Islam menegaskan bahwa Allah memberikan potensi dan peluang yang sama (fitrah) untuk bisa tumbuh menjadi sesuatu yang diingininya. Fitrah iman yang melekat dalam diri setiap orang adalah merupakan perjanjian primordial yang dibawanya sejak ia diciptakan, jauh sebelum ia dilahirkan… alastu berabbikum, qalu bala sahidna..(bukankah aku Tuhanmu, jiwa itu menjawab ya..) Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS. AlAraf, 172). Cara paling jitu untuk menumbuhsuburkan bibit fitrah dan ilahi adalah dengan mengisi ruang kesadaran setiap detiknya dengan dzouq ilahi itu. Wujud dari keberadaan dan fungsionalnya Allah dalam kehidupan itu hendaknya benar-benar dapat dirasakan pikiran, perasaan dan dunia realitas empiris. jauhnyo Allah itu dapek ditunjukkan,

ampienya dapek dikakokkan. Pemahaman bahwa iman kepada Allah bukan sekedar symbol dan doktrin harus dipertegaskan dengan menghadirkan keber-Tuhan – an dalam motivasi, misi, aksi dan fungsifungsi aktivitas sehari-hari. Allah bukanlah sekedar diimani dalam hati, tetapi bisa ditunjukkan dalam empiris (pengalaman), rasio (akal) dan perjuangan. Iman kepada Allah dapat dijadikan pemberi semangat untuk berjuang lebih keras. Sunnatullah telah menetapkan, siapa yang menanam banyak, ya akan menuai banyak pula. Siapa berjuang keras ya akan memperoleh kesuksesan. Tidak ada yang terjadi tanpa sebab. Asbab adalah wasilah untuk keberhasilan. Tak ada sebab ya tak ada hasil. Manjada wajada. Allah tidak menurunkan emas dari langit, tetapi ia meletakkan emas di dalam batu di gunung atau sungai, kerja keraslah untuk menambangnya. Allah itu memberi seseorang sesuai keras usahanya. IMAN AKTIF DAN DINAMIS. Seringkali kita menyebut diri sebagai orang percaya kepada Allah. Allah itu maha berkuasa, Allah itu maha tahu dan maha lainnya sangat mudah diucapkan dengan lidah, bahkan sudah banyak sekali orang hafal dengan nama-nama Allah (Asmaul husna)yang begitu indah, namun banyak pula yang tersandera dengan hafalan, dzikir dan doa itu saja. Terbatas sekali orang berusaha mendalami, mencari makna apa yang diucapkan atau di dzikirinya itu. Iman mereka pasif dan lamban, iman tidak mampu membuat ia bergerak cepat dan bertindak tegas dalam menegakkan kebenaran atau memperjuangan yang hak. Keyakinan kepada Allah bukan sekedar yakin dalam artian normative teologis saja, tetapi harus dapat ditampakkan dalam bentuk rasional

dan empiris. iman kepada Allah mesti logis atau masuk akal, tidak boleh iman yang dogmatis atau sekadar dipercayai begitu saja. Iman juga hendaknya empiris, artinya dapat ditunjukkan dalam bentuk pengalaman lahiri. Keberadan dan kekuasaan Allah itu benar-benar bisa diterima akal cerdas dan dapat dibuktikan secara nyata. Pelajarilah firman sucinya. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaanNya.] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. QS. AlBaqarah, 2:255. Iman yang qadari (aktif dan dinamis) adalah misi yang dibawa oleh ayat kursi. Kursi sebagai symbol dari jabatan pasti tidaklah mudah mendapatkannya. Kursi dalam artian keberkuasaan juga tidak mudah untuk merebutnya. Al-qur'an saja menempatkan kata kursi ditengah-tengah ayat yang menegaskan perlunya kelurusan aqidah dan ketangguhan perjuangan. Iman yang tangguh adalah iman yang memiliki akar ilahi yang kokoh. Allah bukan sekadar nama atau symbol keagamaan yang biasa saja. Ia adalah konsep sacral, ritual dan progresif yang akan mengerakkan mata jiwa untuk nyalang merebut peluang hidup. Allah itu tidak pernah ngantuk, tidur, mengurus semesta yang begitu luas dan dahsyat tanpa mengeluh, tahu persis setiap detail kehidupan makhluknya, pernyataan seperti di atas hendaknya dijadikan renungan dan acuan, bahwa makhluknya tidak boleh lemah, lalai dan mudah menyerahkan pada keadaan. Manusia tidak boleh diubah lingkungan, tetapi justru

lingkungan yang diubah manusia. Orang tidak baik kalau cepat menyerah menghadapi tantangan, karena tantangan itu adalah bukti bahwa hidup ini ada. Iman Melekat dan Malaikat Meyakini, merasakan dan menegaskan bahwa Allah tidak saja ia aktif dan dinamis tetapi ia juga hadir dalam setiap ruang kehidupan umat manusia. Kehadiran sang pencipta bukanlah dalam makna fisik tapi dalam artian spiritual, lihat dan rasakan sendiri, tidak ada perbuatan yang dapat dikatakan bebas dari pengaruh Allah. Mulai dari penciptaan, proses hidup, hidup dan akhir kehidupan itu juga sangat bergantung kepada kekuasaannya, lihat penjelasan Allah, swt; Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,. (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (QS. Qaaf, 50:16-19) Kesadaran bahwa Allah itu dekat, lekat dan selalu bersama hamba-Nya, dipastikan akan membuat orang hidup dengan nyaman, aman dan sekaligus mawas diri. Raja' (optimis) dan khauf (mawas diri) hendak dapat disandingkan setiap denyut hidup. Optimitis menjadi api pembakar semangat untuk berkarya, maju dan berjuang untuk yang lebih baik. Mawas diri akan menjadi rem hidup yang dapat menghentikan atau setidak-tidaknya memperlambat jiwa terjerumus kejurang kesalahan. Pengisian ruang pikir dan reluang hati bahwa Allah itu selalu mengawasi (monitoring) setiap sisi kehidupan, melalui aparat Malaikat Raqib dan Atid, tentu akan membuat orang tidak mudah selip jatuh kelembah kejahatan dan keburukan. Allah itu sayang dan senang pada hamba-Nya yang baik dapat terwujud bila Allah dipercayai

menempatkan aparat hukum selalu bersama dalam setiap gerak hidupnya. Akhirnya sebagai bahagian akhir dari tulisan ini ingin ditegaskan bahwa iman bukanlah barang mahal yang tersimpan dalam kemasan berharga, yang seolah-olahnya hanya jadi pajangan saja, ia hanya dibuka ketika ada musibah saja. Pemahaman yang menjadikan iman sebagai kota pandora, lampu aladin, yang simsalabin dapat mengubah apapun yang diinginkan juga patut direvisi. Karena mesin iman baru bisa berproduksi bila ia dihidupkan dengan protapnya yang tepat. Pengertian bahwa iman itu cukup dipakai saat di rumah ibadah, rumah duka, rumah sakit saja, juga harus direformasi, iman juga harus di”on”kan di rumah partai, rumah parlemen, istana dan kantor dan tempat mana saja, karena hanya dengan iman rumahrumah itu bisa aman dari bencana tsunami kufur dan sekuler yang akan meluluhlantakkan kehidupan. Bencana bohong, munafiq, fitnah, mengkhianti perjuangan, mangkir dalam tugas, berbuat maksiat dan zalim, akan terus mengunung jika kader partai Islam masih berpangku tangan dan tidak mencontohkan akhlak mulia politisi Islam yang beriman itu. Politisi Islam dan penyalur aspirasi umat tidak akan didengar, diikuti pidatonya, kampanyenya, apalagi dipilih jika iman tidak menjadi sandaran, pakaian, harakah, fikrah dan aqidah hidupnya. Iman yang kosongtanpa diikuti percakapan, pergaulan, sikap hidup, profil diri, style, dan prilaku social kemasyarakatan- pastilah akan menjadikan seorang kader itu bagaikan wayang tanpa dalang. Ia ada tapi dapat bergerak atau membuat gerakan. Atau bagaikan ondel-ondel Betawi, gagah dalam tampilan, tapi kosong dalam gerakan. Partai Islam harus bangkit menjadi peubah ditengah perubahan yang tidak mudah menerka arahnya. Kader dan Politisi harus bisa membuat umat aman, nyaman dan tenteram di rumah besarnya. Peliharalah rumah ini untuk berteduh dari kehujanan dan berlindung dari panas siapa saja yang singgah disana. Jangan rumah besar ini terasa panas dan membuat penghuninya berkipas-kipas di dalamnya. Iman yang teguh, kukuh dan tangguh dapat manjadikan rumah ini lebih lauas, lapang, besar dan bermanfaat banyak

/Desember 2012

67


Peristiwa Maut di Ngalau Cigak

Jalan-jalan ke Nagari

Wisata Nagari

“ Keindahan Bukitbarisan yang membentang panjang menyuguhkan pemandangan yang hijau dan segar “

68

/Desember 2012

Sumatera Barat terkenal dengan keindahan Bukitbarisan yang membentang panjang menyuguhkan pemandangan yang hijau dan segar. Bukitbarisan itu ditumbuhi berbagai macam pepohonan. Di samping panorama yang hijau itu, juga terlihat menarik dengan batu-batu cadas yang curam. Di beberapa daerah, jalan lintas berada tepat di bawah tebing bukit berbatu itu. Tebingtebing batu itu menjadi hiburan tersendiri bagi pengendara yang melewatinya. Sesekali, terlihat goa. Goa di bukit barisan ini dikenal dengan sebutan “ngalau”. Tempat masyarakat mendulang rupiah. Karena ngalau adalah tempat bersarangnya burung wallet. Namun, di balik keindahan dan nilai ekonomi tersebut, ada ngalau yang mengandung nilai sejarah besar. Di pedalaman Muaro Sijunjung, tepatnya di Silukah, Kenagarian Durian Gadang, ada ngalau yang memakan korban jiwa dalam jumlah ratusan di masa penjajahan Jepang. Masyarakat menyebutnya “Ngalau Cigak”. SAGA Nomor ini akan menyajikan kilasan sejarah Ngalau Cigak menurut penuturan Suratman, seorang Romusa yang masih hidup sampai saat ini. Tahun 1942, Jepang memulai pembangunan rel kereta api dari Muaro Sijunjung sampai ke logas, Riau. Tujuannya untuk mengangkut batu bara dan kepentingan militer. Untuk mengerjakan proyek ini, Jepang mempekerjakan ribuan masyarakat Indonesia. Pada umumnya berasal dari Pulau Jawa. Bekerja tanpa gaji, sakit tidak diobati, rumah inap tak disediakan, itulah romusa. Satu peristiwa yang tak pernah bisa dilupakan Suratman, ketika ia menyaksikan teman-teman senasibnya mati sia-sia akibat ledakan dinamit tentara Jepang. Suatu hari, –Suratman tidak ingat tanggal dan harinya- jam dua siang, Suratman melihat tentara

Jepang memasang dinamit di atas bukit berbatu, teptanya di ngalau cigak. Tidak tahu untuk apa dinamit itu dipasang. Suratman dan romusa lainnya terus bekerja. Karena sistim kerja ketika itu 24 jam nonstop dengan makan hanya diberi dua kali sehari. Pada malamnya, tepat jam dua dini hari, ketika Suratman dan romusa lainnya bekerja merambah kayu dan menyingkirkan pecahan batu di lereng bukit itu, tiba-tiba terjadi ledakan besar di puncak bukit yang tingginya sekitar 40 meter tersebut. Batu-batu bukit berjatuhan, kayu-kayu besar terpental ke bawah. Beruntung, Suratman berhasil lari dan menghindar dari longsor pecahan batu dan pohon tersebut. Berselang beberapa menit, Suratman menyaksikan temantemannya tergeletak bersimbah darah. Ada yang meraung kesakitan, ada yang berteriakteriak minta tolong, dan ada yang tak bergerak sama sekali. Ketika itu, Suratman dan temannya yang masih hidup mencoba melapor kepada tentara Jepang. Tapi apa yang didapat, tentara Jepang menjawab “Bagus, bagus”. Paginya, bau anyir darah menyengat. Semua terlihat jelas. Ada yang kepalanya pecah, terhimpit batu dan meringis menahan sakit. Suratman tidak tahu pasti berapa jumlah yang mati, tapi Ia mengatakan ratusan nyawa melayang ketika itu. Hati Suratman semakin teriris ketika melihat sebahagian mayat dibuang ke aliran Batang Kuantan yang berada tepat di bawah ngalau. Sebahagian yang tertimbun batu, dibiarkan membusuk. Selama dua bulan, bau bangkai manusia menusuk hati nurani. Itulah, cerita pahit dibalik keindahan ngalau cigak. Sekarang, ngalau cigak yang berada 19 Km dari Muaro Sijunjung itu, dijadikan tempat wisata. Kenapa tidak, di sini, jalannya berada

tepat dibawah tebing batu bukit barisan dengan kemiringan mencapai 9o derjat. Di sisi kanan jalan, mengalir air Batang Kuantan dengan dihiasi batu-batu besar. Tepat di seberang sungai, menjulang pula bukit berbatu dengan ketinggian menacapai 100 meter. Pada jarak tertentu, terlihat bangunan beton menyerupai payung dengan bangku. Di tempat ini, kita bisa bersantai sambil menikmati air menghantam batu, tebing terjal dan udara yang damai. [Arjuna Nusantara]

Suratman ( kiri ), Romusa yang masih hidup

/Desember 2012

69


Kolom

FALSAFAH RUMAH GADANG [1]

kalarasan, suatu kalarasan budi caniago, kaduo kalarasan koto pili Datuak parpatiah nan sabatang Lareh nyo budi caniago Kalau barundiang di nan tanang Dapek lah paham ma'ana nyo

Adolah tanjuang nan ampek Sarato lubuak nan tigo Kalau talang kah kanan sasek Dunia akiraik kito binaso

Tuan titah di sungai tarab Kapalo sagalo pakarajaan Di labo usah talampau harok Rugi di muko jan mangasan Indomo di saruaso Payuang panji di koto pili Jan tumbuah cacek binaso Pandai pandai bamain budi

Partamo banamo tanjuang alam Nan kaduo tanjuang sungayang Pandai pandai mamaga alam Supayo rayaik nak nyo sanang

Tuan mangkudun di sumaniak Ambun puro di koto pili Rasio tubuah kok tabatiak Malulah tumbuah pado diri

Di dalam budi caniago

D

i dalam alam minangkabau, sa iliran batang bangkaweh, salilik gunuang marapi, saedaran gunuang Pasaman, sajajaran Sago gunuang Talang, tungku nan tigo sajarangan, tali nan tigo sapilinan, rajo batigo naiak nobaik, suatu rajo dalam buo, kaduo rajo sumpu kuduih, katigo rajo pagaruyuang, kok hanyo rajo dalam buo, mamacik adaik jo limbago, mangganggam bungka jo taraju, pandai ma nimbang samo barek, bijak mangati samo panuah, kalau ma ukua samo panjang, jikok mambagi samo banyak, suluah bendang dalam nagari, palito basa di pangulu, balia u bagala raj o

adaik, jikok nyo rajo sumpu kuduih, mamacik buku kitab allah, manuruik suruahan nabi, manimbang hala jo haram, manjalehan sunaik jo paralu, manantuan nan sah jo nan bata, bijak ba mantiak ba ma'ani, nahu syaraf usah di etoang, hukum pekah mahia sakali, amal ta'at bukan kapalang, nan bagala rajo ibadaik, jikok nyo rajo pagaruyuang, itu lah rajo sya'i alam, rajo nan badiri sandiri nyo, sambahan alam minangkabau, lakek papatah ibaraik nyo, tali nan tigo sapilinan, tungku nan tigo sajarangan, bagala cadiak tau pandai. Jarajak di indo giri Baringin di balai gadang Takalo adaik kabadiri Di pariangan balai roang panjang Panjang saratuih duo puluah, leba nyo tujuah eto makah, buatan datuak tantejo nan gurhano, nan bajangguik putiah, bagombak sirah, jangguik malepai ka turawan, warih nyo tukang siak ole, pandai manarah manilantang, manjangko di bulan kalam, marapek sambia balari, putuih nan indak buang kayu, alah di namoi itu balai, itu lah balai kasat ian, takalo maso disinan, di

dirikan basa jo urang gadang, takalo samaso itu, luakpun di bagi tigo, di bari banamo katigo nyo, suatu luak tanah data, kaduo luak lubuak agam, Oleh MUSRA DAHRIZAL katigo luak KATIK JO MANGKUTO limopuluah, mamakai rantau katigo nyo, detapun di bagi tigo, deta bagamak di Tanahdata, deta bakaruik di luak Agam, deta sabalik di Lumopuluah, paralek an pun tabagi tigo, larak lereang di Tanahdata, alek jamu di luak Agam, cancang tandeh di Limopuluah, rumah gadangpun di bagi tigo, gajah maharam di Tanahdata, rajo babandiang di luak Agam, surambi papek di Limopuluah, dalam tigo bagi nyo rumah gadang, duo pulo langgam di kanduang nyo, suatu rumah gadang caniago, kaduo rumah gadang koto pili, sababkan ba'a dek baitu, di dalam alam minangkabau, mamakai duo

Jikok lareh koto pili Iyolah balanggam tujuah Tagak kok talampau tinggi Alamaik kacapek jatuah

Katigo tanjuang barulak Ka ampek jo tanjuang bingkuang Kalau lah salah tampek tagak Alamaik ka sansai dalam kampuang Kok hanyo lubuak nan tigo Partamo lubuak simauang Di ranah kampuang talawi Nan sipaik baliau urang tuo Pandai mandidik koroang kampuang Tapaga koto jo nagari Kaduo lubuak si punai Di ranah tanjuang ampalu Nan sipaik baliau cadiak Pandai, nagari indak dapek malu Katigo lubuak sikarah Di ranah kampuang silayo Kok mahia adaik jo syarak Badan lah bakeh rang bata nyo Lubuak nan tigo alah tantu Bagian lareh caniago Kalau tapakai nan baitu Kito tapuji salamo nyo Kalauik manjadi riak Karimbo manjadi ribuik Sanang lah hati rakyaik banyak Mancaliak nagari indak kusuik Jikok nyo datuak katumangguangan Iyolah lareh koto piliang Kunci lah biliak ka imanan Nak jan budi tampak dek urang

Tuan kadi di padang gantiang Suluah bendang di koto pili Usah panagak dakek tabiang Jan masuak dayo ibilih Tuan gadang di batipuah Harimau campo koto pili Hiduik di dunia kok tak sungguah Di akiraik badan manyasa i Rajo ibadaik di sumpu kuduih Nak tantu hala jo haram Ibati jo paham haluih haluih Jan padam suluah di nan kalam Rajo adaik di nagari buo Mambedokan langkah nan sumbang Runuik lah kato ka pangka nyo Baru nan salah kito timbang Parpatiah katumangguangan Gadang dek basa ampek balai Walaupun tinggi pamancuangan Kanalah pucuak katakulai Baitu warih nan dijawek Kato pusako nan di ganggam Bakisa dawaik ka karate Lukisan di batu indak hilang. Elok ranah nyo minangkabau, rupo karambia tinggi tinggi, cando pinang nyo lingguyaran, rupo rumpuik nyo ganti gantian, bukik baririk suok kida, gunuang nan anam sajajaran, gunuang marapi jo singgalang, tandikek jo gunuang sago, pasaman jo gunuang talang, jalan

luruih labuah nyo goloang, labuah lacah candai tajelo, labuah panjang siku basiku, labuah kaciak simpang basapiah, sawah batumpak di nan data, ladang babidang di nan lereang, banda baliku turuik bukik, cancang latiah niniak moyang, tambilang basi rang tuo tuo, sawah lah sudah jo lantak nyo, ladang lah cukuik jo ranji nyo, sawah balantak basupadan, ladang di agiah ba bintalak, bukik di bari bakaratau, rimbo di agiah bajiliuang, ka ateh ta ambun jantan, ka bawah takasiak bulan, niniak moyang punyo hulayaik, hak nyato bapu nyo, ganggam nyato bauntuak. Takalo rumah ka di buek, lah rapek niniak jo mamak, jo urang sumando ateh rumah, mambuek etoangan baiak, mancari rundiangan elok, nan jadi niaik jo mungkasuik, duduak baiyo jo batido, baiyo iyo jo adi, batido tido jo kako, andak mambuek rumah gadang, ka untuak anak kamanakan, sapueh batimbang kato, lah bulek jantuang ka kalupak, bulek etoangan dek mupakaik, mako di cari urang tukang. Aluran diri urang tukang, lah tibo di hari nan di bilang, di padan nan ba ukua, lalu bakameh hanyo lai, di cukuikan alaik jo pakakeh, di cari hari nan elok, di caliak kutiko limo, di pandang kutiko tujuah, galah salapan mangatoan, lalu di mulai bakarajo, di mulai bacacak paek, satokok pahek babunyi, sudah pahatan kasado nyo, duo tigo katam di tulak, lah data rasuak jo jariau, manggaratiah bunyi panokok, tando lah sudah atok lakek, mangko lah tagak rumah nan gadang, tujuah tonggak nyo sajajaran, ( 1 ) tonggak tuo rajo batuah, bagala suri dirajo, tonggak pangapik tonggak tuo, di bari banamo kasado nyo, ( 2 ) di suok katumangguangan, ( 3 ) di kida parpatiah nan sabatang, ( 4 ) tonggak panjang rajo ibadaik, barisi kato hakikaik, ( 5 ) tonggak tangah banamo rajo adaik, mamacik bungka jo taraju, ( 6 ) tonggak tapi sabalah suok, banamo bandaro kayo, ( 7 ) tonggak tapi sabalah kida, banamo maharajo basa, ampek tonggak mangunci suduik, banamo basa ampek balai, nak tagok bapasak kungkuang, itu lah sipaik tuan gadang Bersambung ke edisi berikut

70

/Desember 2012

/Desember 2012

71


Nasional

Leha

REVIEW NURUL FADILLA SUKRAN

By. R. Fardinan

Contextualizing Cultural Politics, GERAKAN EKONOMI ABAD PASIFIK DAN KAWASAN NEW ASIANISM

Stephanie Lawson, Culture and Context in World Politics, Palgrave Macmillan, March 2007 ISBN: 978-0-230-00766-6, ISBN10: 0-230-00766-X, 5 1/2 x 8 1/4 inches, 280 pages

Meskipun ide-ide kulturalis merupakan bagian dari pemikiran post-kolonial yang luas pada periode pasca perang dunia II, namun dengan cepat kondisi ini segera berubah melihat pergerakan budaya politik yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini. Perubahan ini menuju ke titik tengah dunia, bukan lagi barat dan bukan hanya timur. Perubahan ini menuju ke suatu titik kawasan Asia Pasifik yang mana di sana terdapat dinamika gerakan ekonomi yang mendorong lahirnya sebutan “Abad Pasifik�. Lahirnya Abad Pasifik ini tentu bukan tanpa alasan. Pergerakan ekonomi yang kuat di kawasan ini memperlihatkan bahwa negara-negara di kawasan Asia-Pasifik telah memainkan peranan penting dalam perekonomian dan budaya politik dunia. Pertemuan dua kutub (Barat dan Timur) menunjukkan suatu

74

/Desember 2012

dinamika baru dalam sistem internasional di mana Barat tidak lagi terlalu mendominasi dan Timur mulai bangkit yang melahirkan suatu bentuk pencitraan kawasan yang disebut “New Asianism�. Bangkitnya perekonomian negara-negara di Asia yang mempengerahui perekonomian global menjadi salah satu kekuatan bagi Asia. Jeffrey D. Sachs, dalam tulisannya Welcome to the Asian Century menyatakan tak kan ragu untuk menyambut datangnya Abad Asia. Mulai tahun 1970 sampai 1995an memasuki tahun 2000, para pemimpin Asia mulai memberdayakan masyarakat keluar dari kemelaratan menuju kemakmuran (from rags to riches). Keberadaan Amerika Serikat yang semula dianggap sebagai negara adidaya yang menguasai politik, ekonomi, sosial dan budaya mulai menyurut. Fenomena mengenai kebangkitan Asia ini merupakan

suatu bentuk dari human spirit yang digerakkan oleh keinginan kuat untuk mencapai kemajuan. Keberadaan Jepang dan Ekonomi Industri Baru (Korea Selatan, Singapura, Taiwan dan Hongkong) serta perkembangan kekuatan China dan India yang berhasil menjadi bagian dari perdagangan global telah menjadi dasar keyakinan para ahli akan adanya The Asian Century. China dan India telah menjelma sebagai magnet terkuat dalam menarik investasi, mencapai perusahaanperusahaan lokal terkemuka, sekaligus menjadi pemain di pasar internasional. Perkembangan nilai-nilai

Konfusian telah menjadi dasar untuk nilai-nilai Asia yang kemudian diproyeksikan lebih luas di seluruh wilayah. Pengkategorian budaya seperti Konfusianisme ini adalah untuk menjadi alternatif dari model demokrasi yang pasca Perang Dingin semakin berkembang. Hal ini meningkatkan isu tentang bagaimana keberagaman budaya dapat di tampung dalam demokrasi dan bagaimana demokrasi dapat masuk ke dalam berbagai konteks budaya yang berbeda. Konfusianisme merupakan penamaan terdapat seperangkat ide-ide yang secara universal diasumsikan berasal dari tokoh sejarah yang dikenal sebagai konfusius atau Kongzi, Kung Ch'iu, Kung Fu Tzu atau K'ung-tzu. Pemikiran konfusianisme menekankan pada kekuatan pribadi dan komunal. Pendekatan Komunitarian memberikan tiga argumen terkait masalah ini. Yang pertama adalah bahwa perkembangan demokrasi adalah khusus untuk Barat dan belum tentu berlaku untuk konteks lain. Kedua, bahwa demokrasi berakar luar Barat, dan harus diubah sesuai dengan konteks budaya lokal dan kadangkadang berubah secara drastis. Dan argumen yang ketiga adalah bahwa di beberapa tempat ada bentuk-bentuk politik yang sudah ada sebelumnya atau dimana masyarakat pribumi pada dasarnya sudah demokratis. Pendekatan komunitarian dapat menjadi alternatif bagi demokrasi libertarian yang selama ini bermunculan. Perspektif ini mencoba menjelaskan kembali kekuatan komunitarian dan menjadi pilar self governing community. Perspektif ini melihat pada kekuatan tradisi komunitas lokal dan kolektifitas yang selama ini terabaikan. New Asianism Apabila membahas tradisi komunitas lokal, akan kembali membahas mengenai identitas lokal yang dalam bab ini akan

menganalis mengenai kebangkitan 'New Asianism'. Konsep 'New Asianism' lebih mengacu pada a way to imagining Asia. Suatu konsep yang terbayangkan mengenai Asia sendiri ini lebih mengacu pada wilayah sub- Pasifik Asia (Asia bagian Pasifik). Perdebatan akan nilai-nilai Asia ini mencakup pada wacana hak asasi manusia dan isu-isu demokrasi dan pada wacana mengenai kebangkitan Asia dalam berbagai urusan dunia. Para pendukung 'Asian Value' ini mencoba untuk melawan wacana hegemoni Barat dan untuk menegaskan kembali sebuak subjektifitas Asia dan modernitas versi Asia yang berdasarkan nilainilai budaya dan moral yang otentik. Konsep 'New' dalam 'New Asianism' ini membedakan fenomena kontemporer dari periode sebelumnya dimana gagasan Asia serta kondep 'PanAsianism' menonjol. Gagasan tersebut terakhir berkembang pada abad kesembilan belas dan pada awal abad kedua puluh satu sampai terjadinya Perang Dunia II. Fokus utama dalam gagasan Asia terdahulu adalah untuk melawan imperialisme Barat dan dapat dilihat sebagai reaksi defensif terhadap tekanan barat dan sebagi bentuk nasionalisme. Sedangkan konsep 'New Asianism' ini berkembang pada abad kedua puluh satu dimana negara-negara Asia merdeka mulai membangun gagasan yang mendasari nilai budaya bersama dan membentuk suatu kondisi ekonomi dan politik kawasan. Fenomena ini seperti yang dijelaskan sebelumnya bermula pada kebangkitan ekonomi negara-negara di Asia di awal tahun 1990-an yang pada awalnya diimpin oleh Jepang dengan ekspor dan investasi di berbagai bidang industri dan teknologi. Berlanjut pada akhir tahun 1960an diikuti oleh 'Four Dragons' atau empat Negara Ekonomi Industri Baru (NIC/NIEs) yaitu Singapura, Hongkong, Taiwan dan Korea

Selatan dan kemudia pada tahun 1980-an oleh Malaysia, Thailand dan Indonesia. Semenjak itu, China pun muncul menjadi pusat perhatian dalam berbagai analisis ekonomi dan terus memainkan peranan yang semakin penting dalam masalah regional dan dunia pada abad kedua puluh satu. Meskipun resesi di Jepang pada awal tahun 1990-an dan krisis keuangan regional pada tahun 1997, pencapaian keseluruhan pertumbuhan ekonomi regional yang dinilai pesimis untuk mencapai pertumbuhan yang signifikan. Banyak para ahli pada awalnya menduga bahwa faktor penyebab kemunduran ekonomi di kawasan ini adalah faktor budaya atau lebih khusus budaya konfusianisme, Weber menjelaskan bahwa kesulitan yang dihadapi China adalah terhadap modernisasi dalam konfusianismenya. Tapi ternyata belakangan terbukti bahwa kunci untuk menjelaskan keajaiban pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut adalah budaya konfusianisme itu. Terdapat pandangan bahwa budaya konfusianisme yang dibawa oleh Asia dmenjadi kekuatan atas penurunan moralitas publik di Barat dan khususnya kritik terhadap individualisme yang berlebihan. Dalam konsep 'New Asianism' semakin jelas digambarkan perbdaan antara kolektivitas budaya Timur dan individualis budaya Barat. Dikotomi antara Barat dan Timur ini saling menunjukkan nilai-nilai yang berbeda satu sama lain. Namun untuk kawasan Asia, kita harus mengakui bahwa Asia merupakan kawasan dengan keberagaraman budaya yang tereduksi. Bahkan Samuel Huntington sendiri mengemukakan bahwa Asia bukanlah kategori kawasan yang dapat merangkum keragaman budaya namun kawasan ini memiliki ciri yang sangat kontras dengan nilai-nilai yang dibawa oleh Barat. Jadi meskipun

/Desember 2012

75


Nasional

Leha

By. R. Fardinan

K E P U N G A N I K L A N DAN MASYARAKAT YANG TAK BERDAYA Oleh NUZUL ISKANDAR Peneliti Magistra-Indonesia, Padang Seorang wanita berpakaian ala suster seksi menyanyi sambil bergoyang. Nyanyian dan goyangannya jauh dari kewajaran, ganjil. Ia meliuk-liuk dan suaranya mendesah, seperti dibuat-buat. Tak lama kemudian, muncul sebuah minuman jenis susu soda di layar kaca. Tayangan tersebut adalah iklan sebuah minuman yang akhir-akhir ini marak di berbagai stasiun televisi Indonesia.

Entah bagaimana menghubungkan antara aksi sang wanita dengan minuman saset yang muncul setelahnya, tapi pemirsa biasanya akan memaklumi maksud iklan tersebut. Ini bukan soal merek minumannya, tapi soal kesadaran khalayak yang sedang didikte oleh tayangan iklan. Soal masyarakat yang tak berdaya oleh kepungan iklan. Biasanya, pemirsa akan mengamini bahwa tayangan itu hendak menawarkan sebuah minuman supaya dibeli dan dikonsumsi. Masyarakat dipaksa patuh olehnya. Bagi yang pernah menonton, gampang mengaitkan ini dengan masalah moralitas, lalu menilai sebagai tayangan berbau porno, utamanya pornoaksi. Tapi, ini bukan sekedar persoalan

72

/Desember 2012

pornoaksi atau porno apapun. Sekali lagi, ini lebih soal kesadaran yang sedang terbius. Bukan sebatas persoalan moralitas, tapi juga soal rasionalitas. Hal yang sama juga terjadi pada sederet tayangan iklan-iklan lainnya. Awalnya, iklan sebatas alat promosi. Lambat laun, ia menjadi potret kesadaran masyarakat. Iklan menjadi ukuran cara berfikir, bertindak, laku dan kesadaran masyarakat. Pada tahap ini, kemunculan sebuah iklan berawal dari bagaimana ia menjawab dan memenuhi kebutuhan masayarakat. Jika iklan telah jauh melampaui batas kesadaran dan masyarakat pun mengamini, maka itulah potret masyarakatnya. Begitu pula sebaliknya.

Perkembangan berikutnya, iklan berevolusi menjadi sumber pemahaman. Di posisi ini, iklan tidak lagi menjadi tafsir atas kebutuhan masyarakat, tapi kebutuhan masyarakatlah yang dibentuk oleh iklan. Ia tidak lagi sebatas piranti komunikasi antara produsen dengan konsumen, sebagaimana prinsip awalnya. Meminjam istilah Wahyu Wibowo (2003), iklan kini telah menjadi berhala-berhala modern. Tidak sebatas itu, iklan kemudian juga menjadi media penebar teror. Katakan misalnya, soal penyakit jantung sebagai pembunuh utama manusia, atau 90% perempuan usia tertentu yang mengalami tulang keropos. Maka, solusinya dikatakan dengan mengonsumsi makanan atau minuman tertentu yang

ditawarkan berikutnya. Kemudian, diiringkan pula dengan testimoni dari berbagai ahli dan profesional, seperti dokter, lembaga ahli, atau pakar kesehatan. Pada tayangan lain, seorang tokoh agama memberikan “taushiyah� untuk memilih kartu ponsel merek tertentu, memilih helm merek tertentu dengan embel-embel 'helm berjuta umat', sampai untuk sekedar memilih minuman kaleng yang mencantumkan gambar ini dan itu. Begitu pula iklan tentang sabun, pembuat iklan tak sekedar memperkenalkan faktor kebersihan sebagai nilai guna sabun, tapi juga satus sosial, bahkan sampai pada harga diri si pemakai. Masyarakat memang dibuat tak berdaya oleh kepungan iklan dengan sejuta intimidasinya. Iklan bukan saja telah menabrak tembok moralitas, tapi lebih jauh telah mengangkangi tapal batas kesadaran manusia. Anehnya, kondisi ini kemudian direkayasa, lalu ditampilkan pula secara memikat. Celakanya lagi, masyarakat memang mampu dibuat terpikat, lalu mengamininya. Inilah pola pembiusan sistematis yang membuat kesadaran masyarakat menjadi tumpul, serta merontokkan nilai-nilai moral darinya. Jika dicermati, fenomena iklan erat kaitannya dengan pola konsumsi masyarakat. Pada awalnya, pola konsumsi hanyalah sebatas kegiatan menghabiskan objek. Ia berangkat dari kebutuhan, yakni kebutuhan konsumen untuk mengonsumsi dan kebutuhan produsen untuk memperoleh untung atas barang yang diproduksi. Lambat laun, pola konsumsi berubah seiring pergeseran nilai-nilai, tidak lagi berangkat dari kebutuhan, tapi juga dari keinginan. Konsumsi tidak lagi menjadi upaya pemenuhan kebutuhan,

tapi juga pemenuhan keinginan. kembali pada soal regulasi. Jika Keinginan inilah yang kemudian ditilik secara detail pada undangdijadikan sasaran tembak oleh undang nomor 8 tahun 1999 pengiklan. Siapa yang mulanya tentang Perlindungan tidak ingin, akan dibuat menjadi Konsumen, masalah ini ingin. Bagi yang sudah punya belum sepenuhnya keinginan akan ditingkatkan diakomodasi. menjadi kebutuhan. Apakah Padah n keinginan tersebut masuk akal gka n a atau tidak, bertentangan itabyawahan. d dengan moral atau tidak, k arang di bebas itu soal berikutnya m e u g yang tidak yanerlindebut k n a dianggap penting. -iklanya bng dis n a Pada akhirnya, l Ik bias ng ya konsumsi menjadi u pay paksaan sosial terhadap masyarakat. al, Iklan-iklan yang jika marak ditayangkan merujuk pada biasanya berlindung di negara-negara maju bawah payung yang yang lebih kapitalis disebut kebebasan. sekalipun, penggunaan iklan Memang, apapun justru lebih terbatas dan diatur semestinya begitu, utamanya jik ketat oleh undang-undang. Di a dikaitkan dengan kebebasan Indonesia, ini terkesan diabaikan. berekspresi. Tak salah dari segi ini. Beriklan adalah sebuah Di Australia, misalnya, ekspresi, dan ekspresi adalah terdapat aturan bahwa iklan bagian dari kebebasan. makanan tidak boleh memberikan penafsiran ganda, Kebebasan adalah hukum alam. Pembuat iklan menjalankan sehingga memberi peluang untuk mengintimidasi masyarakat. Di iklannya adalah atas nama kebebasan. Di sini berlaku hukum Amerika Serikat, setiap iklan makanan mesti mendorong anakalam pertama. Sementara, anak menjadi sadar gizi. Lain lagi individu lain juga memiliki di Denmark, iklan makanan kebebasannya, yaitu kebebasan ringan, minuman ringan dan memilih. Di sini, juga berlaku coklat dilarang mengklaim diri hukum alam kedua. Kedua pihak sebagai pengganti makanan tentu bertindak atas nama pokok. Sementara, Negara Inggris kebebasannya masing-masing. menetapkan bahwa iklan tidak Artinya, telah berlaku dua hukum boleh mendorong perilaku alam secara bersamaan. konsumsi sesering mungkin. Hanya saja, gencarnya Indonesia mestinya membuat serbuan iklan di sekeliling aturan yang lebih pasti dan masyarakat seolah membuat mengakomodasi kebutuhan salah satu pihak merasa segenap bangsa. Jika memang kebebasanya terganggu oleh pendidikan karakter menjadi kebebasan pihak lain. Kebebasan agenda mendesak bangsa hari ini, individu menjadi berkurang maka setiap iklan mesti turut ketika iklan disertakan dengan menyukseskannya. Aturan teror dan bujukan memikat yang tentang periklanan mutlak sebetulnya di luar batas mengakomodasi persoalan ini. kesadaran. Setidaknya, ini turut Iklan-iklan mesti menyuarakan mengganggu orientasi psikologis pembebasan, bukan menciptakan si penonton iklan. pembelengguan. Tayangan iklan Ujung-ujungnya, hal ini

/Desember 2012

73


Nasional beberapa konstruksi identitas atau nilai-nilai nasional masing-masing negara dalam suatu kawasan berbeda dari negara tetangganya, namun tetap cenderung dibangun sebagai oposisi dari nilai-nilai Barat. Meskipun terdapat upaya untuk menekankan atau membesar-besarkan perbedaan antara Asia dan Barat, namun studi perbandingan konstruksi ideasional memang telah menunjukkan beberapa poin perbandingan kesenjangan antara keduanya, diantaranya nilai-nilai yang mendasari terbentuknya organisasi regional di kawasan Asia Pasifik. Di Asia Pasifik, nilainilai kedaulatan suatu negara dimana adanya doktrin tidak akan campur tangan terhadap urusan dalam masing-masing negara sangat menonjol. Selain itu nilai-nilai kolektivitas yang menjadi gagasan dasar terbentuknya konsep 'New Asianism' yang meng-counter kejayaan nilai-nilai individu Barat. Sebenarnya nilai-nilai kolektivitas ini dapat kita temukan pada ideologi konservatif dan sosialisme Eropa yang pada sejarahnya dibangun bertentangan dengan paham kapitalisme yang di bawa Amerika Serikat. The Cultural Politics of Asian Democracy Pluralisme budaya tidak mengesampingkan penerapan universal tentang dasar lembaga pemerintah demokratis konstitusional seperti aspek-aspek konstitusi, parlemen, partai politik, pemilihan umum, dan voting yang hampir di temukan di hampir setiap negara di dunia, bersama dengan norma-norma kedaulatan negara. Tetapi faktor budaya telah lama diidentifikasikan sebagai alasan utama ketidakmampuan banyak negara untuk mempertahankan sistem politiknya dimana budaya atau nilai-nilai oposisi lebih diterima secara luas dan menimbulkan

“

Dalam periode pasca kemerdekaan awal, modernisasi sangat ramai dipromosikan dan disebaluaskan dan nilainilai budaya tradisional dianggap sebagai sikap yang menghambat untuk menciptakan sebuah negara ekonomi yang kuat.

76

/Desember 2012

suatu keadaan persaingan. Adapula anggapan dimana perbedaan budaya politik akan menimbulkan suatu perpecahan seperti yang dialami di Singapura dimana oposisi politik dikutuk sebagai perpecahan dan sebagai penghambat pembangunan. Sistem politik Singapura telah memperlihatkan nilainilai budaya pada umumnya, dan Konfusianisme pada khususnya, sebagai taktik politik terhadap legitimasi oposisi politik. Hal ini harus dipahami dengan latar belakang perubahan ekonomi yang pesat di Singapura sejak kemerdekaannya pada tahun 1965. Dalam periode pasca kemerdekaan awal, modernisasi sangat ramai dipromosikan dan disebaluaskan dan nilai-nilai budaya tradisional dianggap sebagai sikap yang menghambat untuk menciptakan sebuah negara ekonomi yang kuat. Partai politik Singapura pada awalnya menentang dengan menganggap bahwa modernisasi yang dilakukan 'too much westernization'. Namun setelah satu setengah dekade berjalan, perubahan ke arah modernisasi diiringi dengan nilai-nilai konfusian yang ternyata menjadi kunci akan pertumbuhan ekonomi Singapura yang pesat. Modernisasi dilakukan dalam bidang teknologi dan pembangunan namun tetap bersandar atas nilai-nilai konfusian yang mengutamakan kolektivitas. Unsur-unsur harmoni antara konsensus dan masyarakat menjadi esensi penting dari nilai-nilai Asia yang diangkat dan ditekankan tetap sebagai budaya otentik dan secara eksplisit sangan kontras dengan nilai-nilai demokrasi yang dibawa Barat. ***Nurul Fadilla Sukran/ Mahasiswi Hubungan Internasional – FISIP UNPAD Bandung

Leha

RESENSI BUKU

By. R. Fardinan

The Hunger Games dan Cermin Dunia Kita yang Buram Dua belas distrik, satu pengendali. 24 pemuda, satu pertarungan. Trilogi The Hunger Games, menunjukkan pada kita, betapa terkadang sebuah Negara bisa melakukan kekerasan atas nama kemanusiaan.

Terseb utlah, di masa depan, setelah dunia dilantakkan nuklir, sebuah Negara di Amerika Utara lahir. Namanya Panem, memiliki 12 distrik, beribuko ta Capitol. Pada suatu masa, ketika dunia masih sansai oleh perang, 12

Judul

: The Hunger Games Trilogy (terdiri atas tiga judul buku) Ăœ The Hunger Games (cet. Keempat, Maret 2012), 406 halaman Ăœ Catching Fire (cet. Kedelapan, Mei 2012), 420 halaman Ăœ Mockingjay (cet.kedelapan, Mei 2012), 423 halaman

Pengarang Tahun terbit Penerbit Jumlah hal. Resensiator

: Suzanne Collins : 2012 : Gramedia : 406, 420, 323 halaman : Maya Lestari Gf.

dist rik itu, ditambah satu distrik lagi (distrik 13) memberontak melawan tirani Capitol. Pemberontakan itu berhasil ditumpas habis dan Distrik 13 dihancurkan. Untuk memberi pelajaran pada dua belas distrik tersisa, Capitol, dengan

kekuasa annya yang sanga t militeristik menerapka n satu aturan. Setiap tahun, setiap distrik harus memilih sepasang muda-mudi berusia antara 12-18 tahun untuk mengikuti kompetisi Hunger Games. Kompetisi itu akan disiarkan oleh televisi di seluruh

/Desember 2012

77


penjuru negeri. Dibahas oleh para komentator, dan dikemas sedemikian rupa hingga menarik minat ratusan ribu warga Panem untuk menontonnya, dan tentu juga para sponsor (dan ini berarti uang yang banyak!). Setiap peserta akan diurus dengan teramat sangat baik. Diurus oleh satu tim khusus, yang diisi perancang busana, manajer kegiatan hingga cleaning service. Mirip kontes putri sejagad. Para peserta akan disanjung-sanjung, dibahas kelebihan dan kekurangannya, dan tim mereka berupaya untuk mendapatkan sponsor sebanyak mungkin, agar mereka bisa memenangkan pertarungan. Kedengaran menarik? Tunggu sampai kita semua tahu apa Hunger Games sesungguhnya. Hunger Games dibuat untuk memberi pelajaran bagi pembangkangan ke dua belas distrik di masa lalu. Lebih tepatnya, hukuman. Ke dua puluh empat pemuda terpilih diharuskan bertarung sampai mati di arena Hunger Games. Yang menang adalah yang terakhir bertahan hidup. Ironisnya, setiap pertarungan, setiap kesusahan dan penderitaan peserta ditayangkan secara luas di seluruh distrik. Setiap keluarga yang anak-anaknya terpilih mengikuti pertarungan biadab ini, diharuskan menyaksikan sendiri detik-detik saat anaknya dibantai oleh peserta Hunger Games lainnya. Kejam? Tak perlu dipertanyakan lagi. Tapi, bukankah kekejaman macam begini sudah dikenal umat manusia sejak zaman purba, dan kita bisa jadi menikmati membaca kisah-kisah ini dari buku-buku sejarah. Pada zaman Romawi, para pemuda berfisik kuat, dicari, diambil dan dipelihara sebagai gladiator oleh tuan-tuan kaya Romawi. Para pemuda ini berstatus budak, diizinkan memiliki istri bahkan juga anak. Tugas mereka adalah bertarung sampai mati melawan gladiator tuan kaya lainnya. Bahkan,

78

/Desember 2012

terkadang melawan singa. Status sang tuan akan serta merta terangkat bila gladiator miliknya menang. Ia akan banyak dibicarakan orang, dan gengsi pergaulannya juga akan meningkat. Pada suatu masa, gladiator adalah tambang citra dan kuasa para tuan kaya. Itulah sebabnya, para tuan ini rela membeli budak berpuluhpuluh keping emas, untuk mendongkrak gengsi. Kedengaran tak manusiawi? Apa sih yang tak manusiawi jika mata hati sudah buta. Lagi pula, manusiawi atau tak manusiawinya suatu perbuatan, terkadang 'Cuma' ditentukan oleh persepsi saja. Bagi para tuan kaya Romawi kala itu, memerintahkan para budaknya bertarung sampai mati demi mempertahankan nama besar sang tuan kaya, tidak bisa dikategorikan tak manusiawi. Ribuan penonton yang memadati arena pertarungan, mungkin juga berpikiran sama. Pada saat pertarungan, para petaruh beredar, menyetorkan sejumlah uang pada bandar. Para gladiator tidak lagi dipandang sebagai manusia yang berjiwa, tapi sebagai objek pemuas nafsu belaka. Pertarungan dianggap sebagai sesuatu yang menghibur. Suatu hal yang kini bagi kita terlihat mengerikan dan tak masuk akal. Bagaimana bisa ajang pembantaian macam begitu disebut sebagai hiburan. Pertarungan macam beginilah yang mendominasi novel The Hunger Games. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di arena pertarungan, mereka sudah harus saling membunuh hanya untuk mendapatkan pisau, panah atau ransel berisi botol kosong. Apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan benda-benda yang kiranya bisa digunakan untuk bertahan hidup. Sebab, rimba Hunger Games sukar diprediksi. Tanpa ada bekal, mereka bisa mati kehausan, kelaparan atau dihabisi binatang rimba. Itulah sebabnya sebuah botol kosong kecil jadi

terlihat lebih berharga dari nyawa manusia. Di hari pertama Hunger Games saja, tiga belas peserta mati dibantai rekannya sendiri. Di antara para peserta, tersebutlah nama Katniss Everdeen dan Peeta Mellark, muda-mudi dari Distrik 12. Distrik ini termasuk yang termiskin di Panem. Setiap hari Katniss yang masih 16 tahun harus berjuang memberi makan ibu dan adiknya dari hasil berburu di hutan. Ayahnya sudah tiada, tewas dalam kecelakaan tambang batu bara. Meski Distrik 12 sejatinya kaya akan hasil tambang, namun penduduknya melarat bukan kepalang. Hasil tambang dibawa ke Capitol. Distrik 12 hanya kebagian ampasnya. Apakah kisah macam begini terdengar familiar? Ya. Sebab, tragedi seperti ini nyaris selalu berulang sepanjang zaman. Yang kuat merasa bisa menguasai segalanya, termasuk jiwa dan hak milik seseorang. Untuk melegalisasi nafsu menguasai itu, mereka membuat peraturan, undangundang, dan dikemas dalam bahasa manis rupawan. Seolaholah, semua undang-undang itu bisa memutihkan yang hitam, menerangkan yang buram. Untuk kasus Hunger Games, semua peraturan di Panem dikemas dalam bahasa kemanusiaan. Peeta Mellark, tokoh Hunger Games yang lain adalah anak seorang tukang roti di Distrik 12. Setiap hari, ia dan keluarganya terbiasa hidup dengan memakan roti sisa. Sulitnya hidup tak membuat hati Peeta menjadi buta. Suatu kali, ia berani memberikan dua potong roti untuk Katniss yang hampir mati kelaparan. Kelak, kenangan ini menjadi romantisme tersendiri bagi mereka berdua di ajang Hunger Games. Kisah selanjutnya antara Katniss dan Peeta Mellark mudah ditebak. Kisah mudamudi macam begini, biasanya berakhir klise. Kedua belah

Yang membuat karya Collins menjadi fenomenal, karena ia menulisnya dengan cara baru

pihak saling melindungi, jatuh cinta dan selamat. Namun, Suzanne Collins, sang pengarang trilogi ini tak menjadikannya semudah itu, bahkan tak menjadikan kisah cinta ini sebagai perhatian utamanya. Seperti kisah cinta antara Aragorn dan pujaan hatinya dalam novel Lord of the Ring, porsi kisah cinta di Hunger Games bisa dibilang sangat sedikit. Yang menonjol adalah kecamuk spirit kemanusiaan yang menggelora dalam Hunger Games yang akhirnya memicu aksi demonstrasi berujung pemberontakan di seluruh penjuru Panem. Yang mengejutkan, meski Katniss adalah tokoh utamanya, tapi dia tidak diposisikan sebagai tokoh pemberontak utama di sana. Collins tetap memberinya porsi yang pas. Porsi untuk anak perempuan usia 16 tahun yang nyaris tak berdaya menghadapi segenap intrik di sekitar dirinya, dan tetap membutuhkan pertolongan banyak orang di sekitarnya. Meski Katniss diposisikan sebagai seorang hero, tapi dalam beberapa hal Collins menjadikannya antihero. Hunger Games dan Masalah Kemanusiaan Apa yang hendak disampaikan Trilogi Hunger Games sejatinya bukanlah pertarungan itu sendiri. Ada sesuatu bernama masalah kemanusiaan di sana. Meski latar belakang novel itu adalah dunia masa depan yang dikuasai kecanggihan teknologi, namun inti ceritanya sama dengan kisahkisah dari masa silam, yakni tentang kemanusiaan, keadilan sosial dan harapan kebebasan dari penindasan. Ini adalah masalah-masalah klasik dunia yang terus ada

sepanjang zaman. Banyak kita temukan di buku-buku sejarah, kisah mengenai negara-negara yang berdiri dengan menginjak rakyatnya sendiri, lalu hancur ketika rakyat memberontak.Teotihuacan, adalah salah satu contohnya. Negara kota di benua Amerika Tengah ini lenyap sekitar abad 8 M. Kolusi yang dilakukan pemimpin agama dengan penguasa yang memelaratkan rakyat, membikin muak, sehingga rakyat menghancurkan Negara kota itu hanya dalam waktu semalam. Masalah kemanusiaan yang disampaikan Trilogi Hunger Games sebenarnya banyak ditulis sejak zaman dulu. Namun, yang membuat karya Collins menjadi fenomenal, karena ia menulisnya dengan cara baru. Kreativitas macam inilah yang membuat ia menjadi unggul. Tak mengherankan bila novelnya ini meraih beberapa penghargaan, di antaranya 2010 Booklist Editor's Choice, 2010 Kirkus Book of the Year dan Publisher Weekly Best Book of 2010.[]

/Desember 2012

79

Majalah saga edisi ii (halaman 60 79)  
Advertisement