Issuu on Google+

Mata Pena disusun

SYA'IR-NAZHAM: TRADISI BERSASTRA ULAMA MINANGKABAU OLEH: APRIA PUTRA (Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pendiri Komunitas Suluah, Penulis buku “Bibliografi Ulama Minangkabau� dan “Biografi Ulama Luak Limopuluah�)

Hampir setiap sore terdengar lantunan nazham dari santrisantri, terdengar merdu dengan ritme dan alunan suara yang khas. Kadangkala mereka melantun nazham alBaiquniyah, karya populer mengenai ilmu Mustalah Hadist, kadangkala nazam Adab al-Thullab, mengenai tata krama menuntut ilmu. Pada hari-hari tertentu dilantunkan nazham istighasah. Sungguh menarik, menggugah hati untuk kembali giat menuntut ilmu agama. Begitulah suasana di tempat saya tinggal, di rantau orang, persis di sebelah Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences, pondok pesantren Mahasiswa khusus pendalaman ilmu Hadist yang dipimpin oleh Prof. DR. KH. Ali Mustafa Ya'qub, imam besar 102

/Desember 2012

Mesjid Istiqlal itu. Seketika itu, teringat hati akan kampung halaman yang jauh di sana, Minangkabau. Demihal mendengar nazham-nazham santri Darus Sunnah, aku terkenang akan surau, akan kitab-kitab tua yang ku baca, dan orang-orang alim di Minangkabau dimasa lalu. Jika kita kembali ke surau, tidak berbeda keadaannya. Surau dengan segala hal ihwalnya telah menjadi lahan tumbuhnya tradisi-tadisi keagamaan yang luar biasa kayanya. Termasuk ber-nazham, dendang ilmu pengetahuan yang mengakar pada sistematika dan estetika sya'ir Arab. Secara umum nazham (secara bahasa berarti susunan) hampir sama dengan sya'ir (dalam istilah sastra Arab dibaca Syi'ir). Ungkapan kalimat yang indah, mempunyai ritme, intonasi teratur dan susunan yang metris. Perbedaannya, Sya'ir lebih kepada ungkapan hati sipenggubah, disertai lompatanlompatan khayal yang terangkum dalam kalimat yang penuh ungkapan majaz. Sedangkan nazham, meskipun

sep erti halnya sya'ir Arab, namun muatannya bersifat ilmiah, sehingga seringkali nazham disebut dengan nazham 'ilmi. Namun untuk konteks nusantara, Minangkabau khususnya, antara nazham dan sya'ir tidak terlalu dibedakan. Bisa saja istilah sya'ir untuk ungkapan bermuatan ilmiah, seperti Sya'ir Burung Nuri (pengajaran ilmu al-Qu'an), dan nazham untuk ungkapan yang penuh khayal seperti Nazham Kanak-kanak. Ulama-ulama silam lebih senang menulis karya dibidang keilmuan agama dengan memakai susunan sastra, salah satunya nazham. Karya-karya ini biasanya ditujukan untuk penuntut-penuntut ilmu pemula. Karya-karya pemula ini dikenal dengan istilah matan. Tapi kita mesti tahu, bahwa walaupun karya-karya itu ditulis ringkas, biasanya para ulama silam memakai kalimat ringkas dan padat, serta simbol-simbol dalam karya itu, sehingga kalau satu karya itu di-syarah (diuraikan) bisa menjadi berjilid-jilid kitab. Banyak kitab matan dalam bentuk nazham yang tersebar di Nusantara,

misalnya matan Zubad (fiqih), matan Alfiyah (gramatikal Arab), matan Baiquniyah (Ilmu Mustalah Hadist), Jauhar al-Maknun (Balaghah-Strilistika), 'Imrithi (Nahwu), nazam al-Maqsud (Sharaf), matan Sullam (mantiqLogika), ad-Durr alYatimah (Nahwu) dan lain-lainnya. Karakteristik Nazham ini sama, memakai susunan sya'ir dan ditulis dalam bahasa Arab. Di Nusantara, selain diajarkan kitab-kitab matan di atas, para ulamanya juga mengadopsi gaya penulisan nazham Arab ini ke dalam tradisi lisan dan tulisan mereka. Tetap bernama nazham, namun telah memakai bahasa Melayu. Setidaknya ada beberapa aspek dari Nazham Arab yang melekat dalam Nazham Melayu, yaitu (1) tata letak penulisannya yang masih serupa dengan sya'ir dan nazham Arab, dengan memakai sathar awal (penggal pertama) dan satar akhir (penggal kedua), (2) memakai jumlah suku kata yang berjumlah sama antar bait, seperti taf'ilah pada Sya'ir Arab, (3) akhir suku kata tiap kalimat yang sama, seperti qawafi pada sya'ir Arab. Kembali kita kepada Minangkabau. Di Minangkabau, ber-nazham )ber-sya'ir( merupakan satu tradisi yang khas dari ulama-ulama surau. Dalam memberikan pelajaran dasar kepada orang-orang siak )baca: santri(, ulama-ulama surau mengarang sya'ir-sya'ir untuk memudahkan penghafalan, selain itu berguna untuk menyemangati muridmurid dengan bersenandung bersama-sama ketika belajar. Selain itu gaya bersya'ir juga digunakan untuk menjelaskan kisah perjalanan, riwayat dan ilmu tasawuf yang tinggi-tinggi. Hal ini membuktikan betapa

/Desember 2012

103


ber-nazham )ber-sya'ir( menempati posisi penting paling tidak dalam dunia tulis menulis kala itu. Kita dapat melihat bahwa betapa karyakarya sya'ir Syekh Daud Sunur Pariaman begitu digemari, sehingga dicetak berulang-ulang kali di berbagai tempat. Atau nazham-nazham karangan Labai Sidi Rajo Sungai Pua tetap dapat pasaran sampai saat ini. Dalam satu katalog kitab-kitab yang dijual di toko kitab Haji Ahmad Chalidi Bukittinggi pada awal abad XX, kita lihat betapa karya-karya sya'ir )nazham( mendominasi dibandingkan karya-karya prosa. Kita dapat mencatat beberapa tokoh ulama besar Minangkabau yang menjadikan nazham sebagai tren karya-karyanya. Di abad XIX tersebut nama ulama terkemuka di Pariaman, Syekh Daud Sunur )kajian tentang sya'ir-sya'irnya telah dilakukan salah satunya oleh Suryadi, Leiden( yang menulis sya'ir populer, sya'ir Sunur dan sya'ir Mekah Madinah. Selain tokoh ini kita catat Syekh Isma'il al-Minangkabawi, ulama yang sukses berkarir di Mekah, beliau banyak menulis Nazham dalam bahasa Arab yang menunjukkan tingkat intelektualnya yang tidak bisa diabaikan. Di antara karyanya Nazham al-Miqat an-Naqsyabandi, Nazham Silsilah Naqsyabandi dan lainnya. Tokoh ulama besar lainnya, Syekh Jalaluddin Cangkiang, menulis Nazham menunjukkan tuah kebesaran Tuanku Koto Tuo. Dan yang terakhir yang kita catat, nazhamnazham Buya Mansuruddin Tuanku Bagindo Lubuak Ipuah, yang konon masih dibaca dan didendangkan oleh komunitas terbatas. Pada awal abad XX terdapat banyak karya-karya Nazham kita temui. Tersedianya informasi yang banyak mengenai nazham-nazham ulama di awal abad XX ini disebabkan karena karya-karya itu dicetak dan diedarkan secara luar di berbagai daerah. Di sini kita catat karya-karya Nazham yang populer, seperti Nazham Darul Mau'izhah tertang apologetis tarekat Naqsyabandiyah karya Syekh Bayang, Nazham Thalaq alShalah karya Qasim Bakri Talawi, Nazham Sifat Dua Puluh yang 104

/Desember 2012

ditulis oleh beberapa tokoh. Syamsul Hidayah karya Syekh Abdul Karim Amrullah. Salah satu ulama yang intens menulis dengan Nazham dalam karya-karyanya ialah Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung, diantaranya Kitab Enam Risalah, Dawa'ul Qulub, Tsamarat al-Ihsan, Sya'ir Yusuf dan Ya'qub dan lain-lainnya. Ulama Tasawuf dan kegemaran ber-Nazham Dalam beberapa manuskrip karya ulama Minangkabau kita temui berbagai nazham )sya'ir( yang ditulis dengan penuh keindahan. Nazham-nazham yang memiliki muatan yang“dalam”, penuh filosofi dan dirangkai dengan katakata indah tersebut biasanya ditulis oleh ulama-ulama sufi untuk menjelaskan pelajaran tasawuf. Kita teringat dengan Sufi besar yang bermakam di Damaskus, yang digelari Syekh Akbar )Guru besar( dan Kibrit Ahmar )Belerang merah(, yaitu Ibnu 'Arabi. Sya'irsya'ir tasawuf-nya telah berpengaruh luas diberbagai belahan dunia, diakui bukan hanya para ulama juga para orientalis yang terpiut dengan karya ini, dan menjadi prestise reputasinya yang memang luar biasa. Sya'irsya'irnya sangat indah menawan, dirangkai dengan kata-kata yang indah, balaghi yang tinggi. Satu hal yang perlu digarisbawahi dari sya'ir-sya'ir yang sufi ini ialah ramziyyah )simbol( yang digunakan. Pembaca yang tidak mengerti akan “rumuz” )simbol( niscaya akan tersesat membaca karya-karyanya ini. oleh karena itu sampai saat ini masih banyak, baik para akademisi yang mencap Ibnu 'Arabi sebagai tokoh yang ghulat )sesat(, karena antologi sya'ir-nya Tarjuman al-Asywaq )diterbitkan oleh RA. Nicholson dalam The Tarjuman al-Ashwaq: a collection of Mystical odes by Muhyiddin Ibn 'Arabi, 1911( yang dianggap menyimpang. Hamka sendiri dalam Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya menyindir “pengajian” Ibn 'Arabi dengan judul “cinta membawa larat”, beliau menyebut sang sufi sebagai pencetus panteis dengan teori wahdah al-wujud. Sampai dimana

kebenaran ungkapan Hamka? Apakah Ibnu 'Arabi meyakini bersatu dua zat yang berbeda??? Sudahkah Hamka membaca Dzakha'ir al-A'laq syarah Tarjuman al-Asywaq )terbit di Beirut, 1891( itu? Kita dapat menduga. Hamzah Fansuri, Sufi besar Aceh sekaligus pujangga mistik Melayu sepanjang masa, juga dikenal dengan sya'ir-sya'ir-nya )nazham( yang penuh simbol, disusun dengan kata-kata sarat estetik dan bermakna dalam. Dalam al-Hubb al-Ilahy fi Tasawuf Islamy, Dr. Muhammad Mustafa Hilmi menyebutkan sebab dibalik kegemaran ulama sufi menulis sya'ir yang indah-indah itu. Beliau mengemukan: “semuanya karna cinta”. Cinta kepada ilahi menjadi menjadi ghayah )tujuan( utama dari hidup kesufian. Cinta menjadikan semuanya indah. Dengan cara apapun, para sufi ingin menyampaikan keindahanNya itu, apakah tulisan-tulisan indah )kaligrafi(, puisi-puisi menawan, untaian kata-kata indah bersayap yang penuh makna. Maka hadirnya karya-karya sastra sufi besar, antologi-antologi sya'ir dalam bertuk matsnawi, ruba'i, qashidah dan lainnya. Begitu pula ulama-ulama sufi di Minangkabau, mereka cenderung bertutur dan menulis dengan kalimat-kalimat sastra; penuh simbol. Ulama-ulama yang produktif menulis nazham )sya'ir( di Minangkabau kebanyakannya ialah ulama-ulama tasawuf belaka. Di sini kita akan melihat ? nazham yang sarat dengan estetik dan simbolik, yaitu Sya'ir Nuraniyyah Rabbaniyyah dan Sya'ir Ma'rifat. Sya'ir Nuraniyyah Rabbaniyyah masih berupa manuskrip yang dtulis dengan Arab Melayu. Penulisannya di-nisbah-kan kepada seorang ulama sufi di Alahan Panjang, Tuanku Syekh Talang Babungo. Sya'ir ini menguraikan tasawuf tingkat tinggi )muntahi(. Di antara cuplikan sya'irnya: Wa fi dubdari alam sempurnanya A'udzubillah penolak balanya Bismillah itu hendak disya'irkannya Supaya 'asyiq segala saudaranya

Tiada sana kenal mengenal[lah] Johan perkasa Syah(i) alam Menentang qaba qausain pada siang dan malam Ke bahrul adam ia tenggelam Bijaksana dzuq-nya dalam Tuanku daulat sultan andar (?) bangsawan Masyhur terbilang lagi perempuan Pengasih penyayang lagi pahlawan Kepada ma'rifat jua tertawan ………… Hendaklah kau pandang kapas dan kain Bangsanya satu namanya berlain Satukah allahumma zhahir dan batin Itulah ilmu kesudahan main ………… Hendaklah engkau pejamkan kedua matamu Gilang gumilang rupa[m]u Itulah cahaya karunia Tuhanmu Bukannya cahaya tubuh dan nyawamu Nur yaqin sangat cahayanya Tanda cahaya dari pada sebenarnya Anbiya' dan auliya' di sanalah hari rayanya Lailatul qadar-pun namanya …………… Sya'ir Ma'rifat Tuanku Aluma Koto Tuo, manuskrip salinan Tuanku Isma'il. Di dalamnya terlihat filosofi yang “dalam” dari sebuah sya'ir ulama Minangkabau: …………… Jalan syari'at sebelum hiasi Dimana dapat jalan mengingati Dinding yang tebal sebelum hanci Mustahil hamba dapat badami Siapa tuan ma'rifat hakikat Jalan yang panjang hendaklah lipat Halus dan kasar jangat bertekat Siapa sanang kita melompat Pandang muntahi bukan melangkah Hanyalah adam sempurna fanah Dari pada mengingati sudahlah lengah

Patutlah ia bernama qadim Halus dan kasar sudahlah licin Dihadirat Allah hanya bermain Apa kehendak sudahlah amin Jalan syari'at sebelum terang Diam disana jadi belarang Tidak siapa tempat berpegang Hanyalah amal tempat menompang Maqam ma'rifat bukanlah begitu

Hanyalah wahid jamaknya satu Zhahir dan batin pandangnya satu Tiada berlarang diam disitu ………… Begitulah ulama tasawuf mengepresikan keindahan dalam bait-bait penuh makna. Di mana menjadi sebuah tren kehidupan Surau Minangkabau di masa lalu. Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung )1871-1970(: Ulama Pujangga nan Ahli Adat Syekh Sulaiman ar-Rasuli ialah salah satu tipikal ulama Pujangga yang produktif. Selain itu beliau juga tercatat sebagai ahli adat, selain sebagai pejuang dan tokoh pendidikan.

Syekh Sulaiman ar-Rasuli atau yang dikenal dengan Angku Canduang nan Mudo dan Inyiak Canduang dilahirkan di Candung pada tahun 1871. Ayah beliau, Syekh Muhammad Rasul, seorang ulama terkemuka yang digelari dengan Angku Mudo Pakan Kamis. Dimasa belianya, Syekh Sulaiman belajar al-Qur'an kepada Tuan Syekh Muhammad Arsyad Batu Hampar. Setelah menamatkan al-Qur'an, beliau kemudian belajar ilmu alat kepada Syekh Tuanku Sami'

Biaro. Beberapa lama di Biaro, beliau menuju Sungayang bersama guru tuo beliau Tuanku Qadhi Salo, ulama yang dituju di Sungayang ialah Tuan Syekh yang dimasyhurkan dengan Tuanku Kolok )nenek dari Prof. Mahmud Yunus(, alim fiqih terutama dalam ilmu Faraidh. Wafat Tuanku Kolok, Syekh Sulaiman melanjutkan pelajarannya kepada Tuan Syekh Abdussalam Banuhampu. Beselang berapa lama, beliau pindah ke Sungai Dareh Situjuah Payakumbuh. Tak berapa lama di Situjuah, Syekh Sulaiman dengan isyarat guru dan ayahanda beliau berangkat ke Halaban. Ulama yang dituju ialah seorang alim yang masyhur dalam tigo luak, yaitu Tuan Syekh Abdullah /Desember 2012

105


“Beliau Halaban” )w. 19?6(. Beliau belajar kepada Syekh Abdullah selama 7 tahun dan mendapat kepercayaan untuk menjadi “guru tuo”, sampai beliau diambil menantu oleh gurunya tersebut. Setelah memperoleh izin dari gurunya Syekh Sulaiman kembali ke kampung halamannya. Beberapa bulan kemudian berangkat ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam ke lima dan menambah ilmu pengetahuan. Di Mekah, Syekh Sulaiman belajar kepada ulamaulama kenamaan, yaitu Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Mukhtar 'Atharid as-Shufi, Sayyid Ahmad Syatha al-Makki, Syekh Usman as-Sarawaki dan Syekh Muhammad Sa'id Ba Bashil Mufti Syafi'i. Adapun vak keilmuan yang beliau dipelajari di Mekah mencakup ilmu 'Arabiyah )ilmu alat(, Fiqih, Tafsir, Hadist, Tasawuf dan lainnya. Keilmuannya kemudian dilengkapi dengan tasawuf setelah kembalinya ke Minangkabau, yaitu dengan mengamalkan tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya dari al-Marhum Syekh Arsyad Batuhampar Payakumbuh. Pada tahun 1907 beliau pulang ke tanah kelahirannya, dan kemudian melakukan langkah perjuangan. Mula-mula beliau melanjutkan Halaqah di kampung halamannya. Halaqah ini berkembang pesat dengan didatangi oleh murid-murid yang ramai dari berbagai penjuru negeri. Pada tahun 19?8, Halaqah ini kemudian beliau ubah menjadi Madrasah dengan nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Perobahan ini diikuti oleh halaqah-halaqah surau lainnya di Minangkabau. Selanjutnya beliau menfasilitasi pertemuan ulama-ulama Minangkabau di Candung pada tahun 19?0. Pertemuan ini menelorkan kesepakatan untuk mendirikan PTI )Persatuan Tarbiyah Islamiyah(, cikal bakal Perti. Organisasi ini mencapai puncak kejayaannya hingga dasawarsa ke 7 abad XX. Mengenai jiwa seni/sastra Syekh Sulaiman ar-Rasuli dapat kita lihat dalam karya-karyanya. Dalam karya-karyanya, di samping ditulis

106

/Desember 2012

dalam bahasa Arab dan bahasa Jawi-Minang, beliau gemar menulis dengan gaya sya'ir layaknya pujangga, sehingga jadilah karyakarya beliau disamping memiliki muatan keagamaan, juga merupakan bentuk sastra yang saat itu sangat laris. Sampai-sampai dalam surat-surat beliau, apakah kepada istri dan anak-anaknya ditulis dengan gaya bersyair ini. salah satunya kita tampilkan disini sebuah sya'ir beliau yang menerangkan keinginan untuk tinggal mengaji di Mekkah, namun mengingat ummi beliau yang tidak mau berpisah dengan beliau, niat itu beliau urungkan: Waktu mengarang faqir khabarkan Di negeri candung tinggallah badan Hati terbang kesubarang lautan Ke negeri Mekah biladul Aman Sungguh nak pindah di dalam hati Tetapi ada seorang ummi Ibuku kandung belahan hati Dimana mungkin meninggalkan negeri Ibuku sakit tidaklah sehat Dimana mungkin dibawa hijrat Jalanpun jauh tidaklah dekat Barangkali sembahyang dijalan tidaklah dapat ………… )muqaddimah Kitab Enam Risalah) Selain itu beliau juga menulis kritik sosial keagamaan terhadap dalam modernis dalam susunan nazham )sya'ir(, tak ketinggalan menasehati kaum muslimin agar tidak terpedaya dengan faham yang seperti itu. Diantara ungkapan beliau ialah: Sekarang ada orang yang ingkar Sudah masyhur didengar khabar Namanya tidak hamba mendengar Entah siapa nama yang mu'tabar Khabarnya sudah hamba dengarkan Ushalli fardhuz zhuhr ianya ingkar Ibarat ulama hambar naqalkan Dibelakang ini hamba tuliskan Wahai sahabat taulan yang nyata Orang yang muqallid namanya kita Mengikut mujtahid yang punya

kata Jangan diikut faham yang dusta Jangan dicari ke dalam Qur'an Hadistnya nabi-pun demikian Mujtahid mutlak punya bahagian Nasi yang masak hendaklah makan Kita nan tidak tahu bertanak Api dan kayu tungkupun tidak Hendaklah makan nasi yang masak Orang yang cerdik janganlah gagak Jikalau batanak tidak bakayu Demikian lagi tidak bertungku Lambek menahun nasinya tentu Itu misalnya fiqir olehmu Karya-karya Syekh Sulaiman arRasuli yang telah teridentifikasi sebanyak ?? buah. Di antara karyakaryanya yang ditulis dalam bentuk nazham )sya'ir( ialah: )1( Tsamaratul Ihsan fi Wiladati Sayyidil Insan (cetakan Drukkerij Agam, 1923), (2) al-Qaulul Kasyif fi Radd 'ala man i'tiradh 'ala Akabir (Drukkerij Agam, 1920), (3) Ibthal Hazzhi Ahlil 'Ashbiyah fi Tahrim Qira'atil Qur'an bi 'Ajamiyah, (4) Izalatul Dhalal fi Tahrim Iza' was Su'a, (5) Dawa'ul Qulub fi Qishah Yusuf wa Ya'qub (cetakan Maktabah Islamiyah Fort de Kock, 1924), (6) Sya'ir Mi'raj, (7) Kisah Mu'az dan Nabi wafat dan lain-lainnya. Satu karya Syekh Sulaiman ar-Rasuli yang ditulis dengan gaya sastra Minangkabau yang sarat dengan nilai-nilai moral dan agama ialah Kisah Muhammad 'Arif: Pedoman Hidup di Alam Minangkabau menurut gurisan adat dan syara' (cetakan Tsamaratul Ikhwan, 1939).

Bukittinggi, salah satu Kota di Sumatera Barat yang masih melestarikan Bendi, alat transportasi tradisional Minangkabau. Dengan menghadirkan Bendi di sekitar objek wisata Kota Bukittinggi, setidaknya pengunjung bisa tahu dan terkenang dengan Minangkabau tempo dulu.

Begitulah ulama Minangkabau tempo doeloe. Sebelum menutup tulisan ini, saya teringat dengan konsep buku “Antologi Sya'ir Ulama Minangkabau: Transkripsi Teks, Profil Tokoh dan Analisis Sastra” yang dulu kami tulis semasa kuliah. Walau belum rampung, suara dendang nazham santri Darussunnah menyemangati lagi, untuk segera menyelesaikannya. Semoga... Ciputat, 29 september 2012

/Desember 2012

107


MAJALAH ANALISIS DAN PEMIKIRAN MAJALAH ANALISIS DAN PEMIKIRAN

Mengucapkan Selamat Kepada BNI atas Peresmian Gedung

Komisaris, Direksi, Staf dan Karyawan

PT. Grafika Jaya Sumbar

KANTOR CABANG UTAMA PADANG Jl. Proklamasi No. 45 Padang

MANARA RINUSIA PT.

CV. LIMAU KUNCI

RUDI MULAWARMAN

KANDRIS ISRIN

President Direktor

Direktur Utama


Cari..

Padang Maju Bersama

Komisaris, Direksi, Staf dan Karyawan

Padang Maju Bersama

Mengucapkan

Selamat atas Terbitnya MAJALAH ANALISIS DAN PEMIKIRAN


Majalah saga edisi ii (halaman 102 110 hal belakang)