Page 66

66

Abu Qader, Pencipta Aplikasi

Pendeteksi Kanker Payudara Asal Afganistan

Ketika seseorang sudah mempunyai kecintaan pada sesuatu maka ia bisa melakukan apapun untuk mewujudkan hal tersebut.

H

al ini bisa kita pelajari dari kisah nyata seorang pemuda asal Amerika Serikat bernama Abu Qader.

Belajar secara otodidak, ia yang sudah mulai mencintai dunia programming sejak masih duduk di bangku sekolah menengah akhirnya berhasil mengembangkan #aplikasi unik yang bahkan mampu membuat perusahaan sekelas Google tertarik. Yang berbeda, ia bahkan bukan merupakan warga asli Amerika melainkan imigran dari Afghanistan yang pergi ke negeri Paman Sam untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Seperti apa kisah hidup Abu hingga berhasil mendapat undangan personal dari pimpinan Google? Berikut ulasannya. Masa Kecil Abu Qader Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, terkadang untuk bisa mendapat kesuksesan besar kita harus mencintai terlebih dahulu apa yang kita lakukan. Sederhananya, ketika kita mencintai apa yang kita lakukan maka kita bisa lebih mudah untuk terus melakukan hal tersebut meski terjadi masalah sebesar apapun. Abu Qader, seorang pemuda imigran asal Afganistan telah membuktikannya. Mengulik tentang masa kecil Abu, dirinya dan keluarga mencoba untuk pindah ke Amerika ketika Abu masih balita. Pada waktu itu, kondisi tanah kelahiran yang mulai goyah menjadikan orang tua abu berpikir kembali tentang masa depan yang lebih baik. Dari situ terpikir untuk pindah kewarganegaraan menuju negeri Paman Sam Amerika Serikat. Abu mengatakan bahwa, proses untuk pindah ke Amerika bukan hal yang mudah. Namun, ia percaya bahwa di Amerika masih cukup banyak orang yang bisa memberikan kebaikan kepada sesama. Dan ternyata hal tersebut memang benar. Meskipun tidak memiliki latar budaya yang serupa, namun Abu masih bisa mengambil banyak pelajaran ketika mulai tinggal di Amerika. Belajar Secara Otodidak Lalu bagaimana proses Abu hingga bisa mengembangkan aplikasi yang mampu menarik perhatian #Google? Ini dimulai ketika ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Pada waktu itu, dia menemukan istilah machine learning, yang sangat menarik perhatiannya.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, ia akhirnya tahu apa yang dimaksud dengan machine learning yakni teknologi dimana kita bisa mengajari komputer untuk menganalisa tanda-tanda khusus yang nantinya komputer tersebut bisa memberi prediksi dari tandatanda yang telah diberikan. Sekali melihat, Abu langsung jatuh cinta dan memutuskan untuk mendalami teknologi tersebut. Bak gayung bersambut, pada waktu itu ia mendapat tugas sekolah untuk mengembangkan aplikasi teknologi yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Ketika banyak dari temannya mengembangkan aplikasi sederhana, ia justru tertantang untuk mengembangkan aplikasi dengan fungsi untuk mendeteksi kanker payudara. Hal tersebut tentu bukan teknologi yang umum dibuat oleh anak sekolah pada levelnya. Ini terbukti dari tanggapan sang guru yang justru meminta Abu untuk mengubah konsep aplikasinya tersebut. Sang guru berpikir bahwa konsep aplikasi yang ditawarkan abu terlalu sulit dan rumit. Namun apakah dia berhenti? Tentu tidak. Karena kecintaan, ia terus melakukan proyek tersebut meski tidak secara langsung diterapkan untuk tugas sekolah. Ia mempelajari bagaimana cara menggunakan teknologi machine learning lewat beragam tutorial online maupun video yang diunggah di platform

YouTube. Salah satu teknologi yang dipelajari adalah, teknologi machine learning besutan Google yang bernama Tensorflow. Aplikasi ini memang bukan aplikasi yang mudah, oleh karena itu perlu waktu yang cukup lama bagi Abu untuk mempelajari dan mulai membuat basis pemograman untuk proyek aplikasi pendeteksi kanker payudara buatannya. Dari situlah, aplikasi deteksi kanker payudara buatan Abu berhasil menarik sejumlah perhatian hingga mengantarkan dirinya menjadi salah satu peserta konferensi pengembang Google I/O. Yang lebih membanggakan lagi, undangan yang diterima Abu dikirim langsung oleh CEO Google Sundar Pichai. Ini membuktikan bahwa aplikasi pendeteksi kanker payudara yang dibuat oleh Abu, bukan merupakan aplikasi yang biasa. Google melihat ada potensi dari aplikasi tersebut. Sebagai informasi, pada saat ini Google juga sedang mengembangkan aplikasi yang memiliki fungsi serupa dengan aplikasi besutan Abu Qader. Bagaimanapun, ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua terutama para pemuda yang memiliki ketertarikan di bidang teknologi khususnya pemrograman. n

Vol.20, Issue 230, July 2017

INDOPOST July 2017  

INDOPOST July 2017 Edition

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you