Page 64

64 64

KISAH SUKSES

2 Srikandi Entrepreneur Indonesia Paling Berpengaruh Belum lama ini media bisnis dan entrepreneurship Forbes mengeluarkan daftar tentang sejumlah wanita Asia yang memiliki pengaruh besar terutama di bidang ekonomi dan bisnis.

D

alam daftar tersebut, mayoritas memang berasal dari negara besar seperti Jepang dan China, namun ternyata Indonesia juga menyumbang beberapa nama termasuk tiga entrepreneur wanita berikut ini. Ketiganya merupakan sosok yang memiliki pengalaman panjang di bidang bisnis serta dedikasi yang luar biasa untuk mengembangkan usaha. Bahkan, pencapaian dari ketiga entrepreneur wanita ini mampu melampaui banyak pengusaha pria di Indonesia. Siapa saja mereka? Berikut ulasan lengkapnya.

1. Anne Patricia Sutanto Entrepreneur wanita asli Indonesia dengan pengaruh besar yang pertama adalah Anne Patricia Sutanto. Hingga saat ini Anne aktif menjabat sebagai Vice President Director PT Pan Brothers Tbk. Perusahaan PT Pan Brothers Tbk sendiri merupakan unit usaha yang bergerak di bidang produksi garmen terutama beberapa merk ternama seperti Uniqlo, Rebook, dan Nike. Dengan pendapatan mencapai 340 juta dollar, Pan Brothers bisa dibilang menjadi salah satu perusahaan garmen terbesar di Indonesia. Dan menempati posisi strategis sebagai Vice President Director tentu bukan posisi yang sembarangan. Terlebih, ekspansi perusahaan Pan juga semakin besar dengan total pabrik mencapai belasan unit di seluruh Indonesia. Mengenai kehidupan pribadi dari Anne, ia memang terlahir dari keluarga yang berkecukupan dengan background bisnis yang kental dari ayahnya. Pada tahun 1997, Anne mulai bergabung dengan Pan brothers berbekal beberapa saham yang dia miliki. Dari situ perlahan ia berhasil menempati posisi sebagai vice president dan mendapat kepercayaan besar mengembangkan beberapa sektor usaha. Selain berkecimpung di perusahaan Pan Brothers, lulusan Teknik Kimia dari University of Southern California dan MBA dari Loyola Marymount di Los Angeles ini juga memiliki usaha lain yakni

Homeware International. Perusahaan tersebut memproduksi furniture serta aksesoris rumah dengan kualitas ekspor. 2. NONI PURNOMO Entrepreneur wanita yang kedua adalah President Director Blue Bird Group Holding, perusahaan armada taksi populer di Indonesia. Lahir sebagai salah satu anak dari pendiri jaringan taxi Blue Bird, Noni memang sudah diarahkan oleh keluarganya untuk meneruskan bisnis tersebut. Dengan pengalaman serta kedekatan ketika mengenal bisnis keluarga ini, Noni bisa lebih paham bagaimana cara mengembangkan bisnis. Bahkan, ketika perusahaan taksi Blue Bird baru pertama kali berdiri di tahun 1972, pada usia yang masih sangat belia ia sudah sering berinteraksi dengan para pekerja taksi. Tak mengherankan bila kemudian kedekatan tersebut bisa menjadi tambahan semangat serta inspirasi tentang bagaimana mengembangkan bisnis transportasi. Pencapaian terbesar yang pernah dirasakan Noni Purnomo adalah ketika PT Blue Bird Tbk (BIRD) mampu memperoleh pendanaan dalam jumlah yang luar biasa besar ketika pertama kali menjalankan rilis saham secara publik. Lewat keputusan IPO tersebut, Blue Bird mendapat suntikan pendanaan hingga 230 juta dollar. n

Naufal Raziq, Umur Tak Halanginya untuk Menjadi Penemu Nama Naufal Raziq menjadi buah bibir ketika anak 15 tahun asal Kota Langsa, Aceh ini secara otodidak menemukan listrik dari pohon kedondong pagar yang dikenal dengan sebutan “Pohon Energi”.

S

aat ini temuan Naufal tersebut sudah mulai digunakan untuk membantu melistriki Desa Tampur Paloh di Aceh. Naufal didampingi ayahnya Supriaman, dan guru pembimbingnya Jamaliah mendapat kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat. Pada pertemuan tersebut Menteri ESDM berpesan kepada Naufal untuk tetap fokus dan semangat mengembangkan diri sebagai inventor (penemu), sehingga bisa mengembangkan temuannya lebih lanjut. “Apapun penemuannya itu, diharapkan dapat bermanfaat untuk masyarakat dan jangan sampai hanya berfikir untuk kepentingan diri sendiri,” ujar Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Komunikasi Publik, Hadi M. Djuraid, saat mendampingi Naufal memberikan keterangan pers. Hadi menyampaikan bahwa Menteri Jonan juga mengarahkan bahwa ke depan akan ada anggaran dari Kementerian ESDM untuk pengembangan riset Naufal lebih lanjut. “Jadi nanti akan ada pendanaan pengembangan dari temuan dari Naufal ini menggunakan anggaran dari Kementerian ESDM,”

kata Hadi. Kepada Menteri ESDM, Naufal bercerita, penemuannya berawal dari kesukaannya akan pelajaran IPA. Saat SD, Naufal mencoba membuat listrik sederhana dari lempengan tembaga dan logam yang dimasukkan ke dalam kentang yang menghasilkan tegangan. “Jadi terpikir, di buah kan mengandung asam. Tentu saja di pohon juga mengandung asam. Tapi pohon apa?” ungkap Naufal yang saat ini masih duduk di bangku kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Langsa. Dari situlah, lanjut Naufal, ditemukan listrik dari pohon kedondong ini. Sebelum pohon kedondong, Naufal bereksperimen dengan pohon mangga, belimbing, dan juga asam jawa. Waktu yang dibutuhkan meneliti semua itu sekurang-kurangnya 3 tahun. “Kenapa saya menggunakan kedondong pagar, itu karena kedondong pagar memiliki batang yang besar. Mudah tumbuhnya. Jika kita buka kulitnya, dia tidak busuk. Malah menyembuhkan dirinya, recover,” papar Naufal. Menurut Naufal, sebagai sumber penerangan dibutuhkan sekitar 4 pohon kedondong pagar untuk satu lampu, dengan menggunakan jenis lampu Hannoch (jenis lampu emergency). “Strukturnya kita

ubah ke lampu DC dengan menggunakan inverter. Jadi hasil dari pohonnya pun kita sesuaikan dengan lampunya,” ujarnya. Sedangkan untuk pembuatan alat energinya, Naufal menjelaskan tembaga dan logam menjadi kunci penting yang berfungsi untuk mengubah asam menjadi listrik. “Jadi tembaga dan logam itu sebelum dimasukkan ke pohon, kita lapiskan tisu dengan kain, fungsinya itu untuk menyerap asam menjadi listrik. Jadi setelah dibungkus dengan tisu dengan kain, kemudian dilipat jadi satu, dan sudah bisa dipasang ke pohon,” jelas Naufal. Ditanya soal biaya yang dibutuhkan, Naufal menjelaskan untuk sekitar 2 lampu atau 1 rumah membutuhkan sekitar Rp 1.200.000. “Sekarang ini saya dibina oleh Pertamina, jadi fasilitas itu Pertamina semua yang menanggung. Jadi masyarakat tinggal sediakan pohon aja. Alat-alatnya dari kita,” pungkas Naufal. n

Vol.20, Issue 230, July 2017

INDOPOST July 2017  
INDOPOST July 2017  

INDOPOST July 2017 Edition

Advertisement